Anda di halaman 1dari 13

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap perusahaan yang menjalankan usaha selalu membutuhkan modal kerja. Modal
kerja merupakan salah satu input penting yang di gunakan untuk menghitung nitai tambah
ekonomi suatu perusahaan dan devisi.
Manajemen keuangan merupakan keseluruhan aktivitas perusahaan yang bersangkutan
dengan usaha mendapatkan dana yang di perlukan dengan biaya minimal dan syarat-syarat
yang paling menguntungkan beserta usaha untuk menggunakan dana tersebut seefisien
mungkin.
Manajemen modal kerja yang efektif dan efisien menjadi sangat penting untuk
pertumbuhan dan kelangsungan perusahaan dalam jangka panjang. Apabila perusahaan
kekurangan modal kerja maka besar kemungkinannya perusahaan tersebut akan kehilangan
pendapatan dan keuntungan. Perusahaan yang tidak memiliki modal kerja yang cukup tetapi
tidak dapat membayar kewajiban jangka pendek pada waktunya maka akan menghadapi
masalah likuiditas.
Perusahaan merupakan lembaga ekonomi yang bertujuan menghasilkan barang dan jasa
melalui penggunaan sumber-sumber ekonomi secara efektif dan efisien. Modal kerja itu
antara lain digunakan untuk pembelian bahan baku, aktiva tetap, pembayaran gaji karyawan
dan pembayaran biaya-biaya lainnya.
Modal kerja ini sangat berhubungan dengan current asset atau aktiva lancar perusahaan.
Pengelolaan modal kerja ini merupakan aspek penting bagi perusahaan. Perusahaan secara
umum harus mempertahankan jumlah modal kerja sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Secara umum aktiva lancar terdiri dari kas, surat-surat berharga atau sekuritas, piutang dan
persedian. Setiap elemen dari aktiva lancar tersebut harus dikelola secara efisien agar bisa
meningkatkan tingkat likuiditas perusahaan pada tingkat yang aman.
Jika kekurangan asset untuk mengembangkan produk dan jasa perusahaan sedangkan
permintaan konsumen semakin besar, maka perusahaan akan kehilangan konsumen. Tetapi
jika terlalu banyak asset yang dimiliki akan mengakibatkan idle fised asset dimana aktiva
tetap yang dimiliki tidak dapat digunakan secara optimal. Oleh karena itu, ketepatan dalam
menggunakan modal kerja dan investasi aktiva tetap akan menguntungkan dan
melangsungkan kehidupan perusahaan.

Dalam menyusun dan menyempurnakan makalah ini penysun mencoba untuk


menyampaikan bahwa modal kerja memiliki arti penting dalam pengaturan jasa-jasa
monopoli yang di beriakan oleh perusahaan-perusahaan. sehingga pembaca dapat mengambil
manfaat yang terkandung dalam makalah ini.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang penulis rumuskan adalah:
1) Apa pengertiam modal kerja?
2) Bagaimana konsep modal kerja?
3) Apa saja jenis modal kerja?
4) Apa saja faktor yang mempengaruhi modal kerja?
5) Bagaimana pengelolaan modal kerja yang efektif?
6) Apa itu manajemen modal kerja?
1.3 Tujuan
Makalah ini kami buat untuk membahas masalah manajemen modal kerja serta hal-hal
yang berkaitan dengannya. Memahami pengertian manajemen modal, pentingnya menejemen
modal bagi pertumbahn dan kelangsungan perusahaan baik dalam jangka waktu pendenk dan
janngka waktu panjang. Semoga dengan adanya makalah ini bisa menambah wawasan ilmu
pengetahuan kita tentang hal ini.

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Modal Kerja
Bambang Riyanto (2007 : 20) menyatakan bahwa pengertian modal kerja dimaksudkan
sebagai jumlah keseluruhan aktiva lancar. Pengertian tersebut sama dengan pengertian
modal kerja yang dinyatakan oleh Susan Irawati (2006 : 89) bahwa modal kerja merupakan
investasi perusahaan dalam bentuk aktiva lancar atau current assets.
Sementara itu menurut J. Fred Weston dan Thomas E. Copeland Modal kerja adalah
selisih antara aktiva lancar dengan hutang lancar. Kemudian menurut keuangan maupun
akuntansi, yang dimaksud dengan modal kerja adalah modal (tidak selalu dalam bentuk kas)
yang dipergunakan untuk menjalankan aktivitas pembentukan jasa/produk yang dijual, di
sepanjang siklus, yang waktu perpuatarannya relatif singkatbiasanya di bawah satu tahun
buku.
Berarti bisa disimpulkan bahwa pengertian modal kerja adalah jumlah kekayaan atau
aktiva lancar, seperti kas atau uang tunai di peti kas dan di bank, piutang usaha dan
persediaan bahan baku, bahan pembantu, dan barang jadi, ditambah kewajiban atau pasiva
lancar, seperti hutang usaha dan pinjaman jangka pendek. Dengan demikian maka
manajemen modal kerja merupakan semua kegiatan dalam rangka pengelolaan aktiva lancar
dan pasiva lancar.
2.2 Konsep Modal Kerja
Modal kerja mengandung dua pengertian, yaitu gross working capital yang merupaka
keseluruhan dari aktiva lancar, dan net working capital yang merupakan selisih antara aktiva
lancar dikurangi hutang lancar. Riyanto (2001:57-58) mengemukakan konsep modal kerja
yang biasa digunakan untuk analisis, yaitu:
1. Modal Kerja Kuantitatif. Konsep ini menitikberatkan pada segi kuantitas dana yang
tertanam dalam aktiva yang masa perputarannya kurang satu tahun. Modal kerja
menurut konsep ini adalah keseluruhan elemen aktiva lancar. Oleh karena semua
elemen aktiva lancar diperhitungkan sebagai modal kerja tanpa memperhatikan
kewajiban-kewajiban jangka pendeknya, maka modal kerja ini sering disebut modal
kerja bruto atau gross working capital.

2. Modal Kerja Kualitatif. Pada konsep ini, modal kerja bukan semua aktiva lancar
tetapi telah mempertimbangkan kewajiban-kewajiban yang segera harus dibayar.
Dengan demikian dana yang digunakan benar-benar khusus digunakan untuk
membiayai operasi perusahaan sehari-hari tanpa khawatir terganggu oleh
pembayaran-pembayaran hutang yang segera jatuh tempo.
3. Modal Kerja Fungsional. Konsep ini lebih menitik beratkan pada fungsi dana dalam
menghasilkan penghasilan langsung atau current income. Dan pengertian modal
kerja menurut konsep ini adalah dana yang digunakan oleh perusahaan untuk
menghasilkan current income sesuai dengan tujuan didirikannya perusahaan pada
satu periode tertentu.
2.3 Jenis Modal Kerja
Menurut WB. Taylor dan Bambang Rianto (1995), modal kerja digolongkan dalam
beberapa jenis, yaitu:
1. Modal Kerja Permanen (Permanent Working Capital)
Modal kerja permanen adalah modal kerja yang selalu harus ada dalam
perusahaan agar dapat menjalankan kegiatannya untuk memenuhi kebutuhan
konsumen. Modal kerja permanen dibagi menjadi dua macam yakni:
a) Modal Kerja Primer. Modal kerja primer adalah jumlah modal kerja minimum
yang harus ada pada perusahaan untuk menjaga kontinuitas usahanya atau
modal kerja yang secara terus menerus diperlukan untuk kegiatan usahanya.
b) Modal Kerja Normal. Merupakan modal kerja yang harus ada agar perusahaan
bisa beroperasi dengan tingkat produksi normal.
2. Modal Kerja Variabel (Variable Working Capital)
Modal kerja variabel adalah modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah sesuai
dengan perubahan kegiatan ataupun keadaan lain yang mempengaruhi perusahaan
atau berfluktuasi berdasarkan volume produksi atau penjualan. Modal kerja variabel
terdiri dari:
a) Modal Kerja Musiman, merupakan sejumlah dana yang dibutuhkan untuk
mengantisipasi apabila ada fluktuasi kegiatan perusahaan, misalnya perusahaan
biscuit harus menyediakan modal kerja lebih besar pada saat musim hari raya.
b) Modal Kerja Siklus, adalah modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah
disebabkan oleh fluktuasi konjungtur.

c) Modal Kerja Darurat. Modal kerja ini jumlahnya berubah-ubah karena adanya
keadaan darurat yang tidak diketahui sebelumnya, misalnya adanya pemogokan
buruh, banjir, perobahan keadaan ekonomi yang mendadak.
Sebuah usaha akan sehat apabila posisi modal kerjanya stabil, artinya dari dua jenis
modal kerja di atas tersedia. Kebutuhan modal kerja dari waktu ke waktu dalam satu periode
belum tentu sama. Hal ini disebabkan oleh berubah-ubahnya proyeksi volume produksi yang
akan dihasilkan oleh perusahaan. Perubahan itu sendiri kemungkinan disebabkan adanya
permintaan yang tidak sama dari waktu ke waktu. Oleh karena itu kebutuhan modal kerja
juga mengalami perubahan.
2.4 Komponen Modal Kerja
Modal kerja yang dibahas disini adalah modal kerja dalam konsep kualitatif, yaitu modal
kerja neto (net working capital) yang merupakan kelebihan antara aktiva lancar di atas utang
lancarnya.
Komponen modal kerja mencakup aktiva lancar dan utang lancar, yang dijelaskan
sebagai berikut:
1. Aktiva Lancar.
Munawir (2004:14) menyatakan bahwa aktiva lancar adalah uang kas dan aktiva
lainnya yang dapat diharapkan untuk dicairkan atau ditukarkan menjadi uang tunai,
dijual atau dikonsumer dalam periode berikutnya (paling lama satu tahun atau dalam
perputaran kegiatan perusahaan yang normal. Yang termasuk aktiva lancar adalah:
a) Kas (Cash). Uang tunai dan alat pembayaran lainnya yang digunakan untuk
membiayai operasi perusahaan. Uang tunai dan alat pembayaran itu terdiri dari
uang logam, uang kertas, cek, dan lain-lain. Kas merupakan bentuk aktiva
yang paling likuid yang bisa dipergunakan segera untuk memenuhi kewajiban
financial perusahaan, karena sifat likuidnya tersebut kas memberikan
keuntungan yang paling rendah.
b) Investasi Jangka Pendek (Temporary Investment). Obligasi pemerintah,
obligasi perusahaan indusri, dan surat-surat utang sejenis, dan saham
perusahaan lain yang dibeli untuk dijual kembali dikenal sebagai investasi
jangka pendek. Surat-surat berharga yang dibeli sebagai investasi jangka
pendek dari dana-dana yang sementara belum digunakan, dan bila surat-surat
berharga tersebut dapat segera dijual, maka dapat dianggap sebagai aktiva
lancar. Surat-surat berharga tersebut dimiliki untuk jangka pendek dengan
5

maksud untuk diperjualbelikan (trading securities). Jenis dari investasi jangka


pendek ini adalah efek (marketable securities).
c) Wesel Tagih (Notes Receivable). Tagihan perusahaan kepada pihak lain yang
dinyatakan dalam suatu promes. Promes tagih adalah promes yang
ditandatangani untuk membayar sejumlah uang dalam waktu tertentu yang
akan datang kepada seseorang atau suatu perusahaan yang tercantum dalam
surat perjanjian tersebut (nama perusahaan yang memegang surat tersebut).
d) Piutang Dagang (Accounts Receivable). Piutang dagang meliputi keseluruhan
tagihan atas langganan perseorangan yang timbul karena penjualan barang
dagangan atau jasa secara kredit. Kebijakan penjualan kredit sengaja dilakukan
untuk memperluas pasar dan memperbesar hasil penjualan. Dengan kebijakan
penjualan kredit ini juga akan menimbulkan resiko bagi perusahaan akan tidak
dapat ditagihnya sebagian atau bahkan mungkin seluruh dari piutang tersebut.
e) Penghasilan Yang Akan Masih Diterima (Account Receivable). Penghasilan
yang sudah menjadi hak perusahaan karena telah memberikan jasa-jasanya
kepada pihak lain, tetapi pembayarannya belum diterima sehingga merupakan
tagihan.
f)

Persediaan Barang (Inventories). Barang dagangan yang dibeli untuk dijual


kembali, yang masih ada di tangan pada saat penyusunan neraca. Untuk
perusahaan industri yang mengolah bahan dasar menjadi barang jadi,
mempunyai tiga persediaan yakni persediaan bahan dasar atau bahan baku,
persediaan barang dalam proses, dan persediaan barang jadi.

g) Biaya Yang dibayar dimuka ( Prepaid Expense). Pengeluaran untuk


memperoleh jasa dari pihak lain, tetapi pengeluaran tersebut belum menjadi
biaya atau jasa dari pihak lain yang belum dinikmati oleh perusahaan pada
periode yang sedang berjalan. Contohnya yaitu biaya sewa yang dibayar di
muka dan biaya iklan yang dibayar di muka.
2. Hutang Lancar
Munawir (2004:18) mengemukakan pengertian hutang lancar sebagai berikut:
Hutang lancar atau hutang jangka pendek adalah kewajiban keuangan perusahaan
yang pelunasannya atau pembayaran akan dilakukan dalam jangka pendek (satu
tahun sejak tanggal neraca) dengan menggunakan aktiva lancer yang dimiliki oleh
perusahaan.

Hutang lancar merupakan kewajiban perusahaan kepada pihak lain yang harus
dipenuhi dalam jangka waktu kurang dari satu tahun, atau utang yang jatuh
temponya masuk siklus akuntansi yang sedang berjalan. Yang termasuk hutang
lancar adalah sebagai berikut:
a) Wesel Bayar (Notes Payable) Wesel bayar adalah promes tertulis dari
perusahaan untuk membayar sejumlah uang atau perintah pihak lain pada
tanggal tertentu yang akan datang yang ditetapkan (utang wesel). Promes dapat
diberikan kepada bank ketika perusahaan meminjam uang atau kepada kreditur
untuk pembelian barang dagangan secara kredit.
b) Hutang Dagang (Account Payable) Hutang Dagang Adalah semua pinjaman
yang timbul karena pembelian barang-barang dagangan atau jasa secara
kredit. Pinjaman tersebut akan dikembalikan dalam waktu satu tahun atau
kurang (jangka waktu operasi perusahaan yang normal).
c) Penghasilan Yang Ditangguhkan (Differed Revenue) Penghasilan yang
diterima terlebih dahulu merupakan penghasilan yang sebenarnya yang belum
menjadi hak perusahaan. Pihak lain telah menyerahkan uang terlebih dahulu
kepada perusahaan sebelum perusahaan menyerahkan barang atau jasanya
(perusahaan berkewajiban untuk memenuhinya). Penghasilan baru direalisasi
bila jasa-jasa telah dipenuhi atau transaksi penjualan telah selesai.
d) Hutang Dividen (Divident Payable) Hutang dividen merupakan bagian laba
perusahaan yang diberikan sebagai deviden kapada pemegang saham, tetapi
belum dibayarkan ketika neraca disusun. Hutang Pajak (Tax Payable) Beban
pajak perseroan yang belum dibayarkan pada waktu neraca disusun.Kewajiban
Yang Masih Harus Dipenuhi (Accrual Payables) Kewajiban yang timbul
karena jasa-jasa yang diberikan kepada perusahaan selama jangka waktu
tertentu, tetapi pembayarannya belum dilakukan.Misalnya: upah, bunga, sewa,
pensiun dan lain-lain.
2.5 Faktor Yang Memengaruhi Modal Kerja
Untuk menentukan jumlah modal kerja yang dianggap cukup bagi suatu perusahaan
bukanlah merupakan hal yang mudah, karena modal kerja yang dibutuhkan oleh suatu
perusahaan tergantung atau dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya sebagai berikut.

1) Sifat umum atau tipe perusahaan. Modal kerja yang dibutuhkan perusahaan jasa
relatif rendah karena investasi dalam persediaan dan piutang pencairannya
menjadikan relatif cepat
2) Waktu yang diperlukan untuk memproduksi atau mendapatkan barang dan ongkos
produksi per unit atau harga beli per unit barang. Jumlah modal kerja bukan
langsung dengan waktu yang dibutuhkan mulai dari bahan baku atau barang jadi
dibeli sampai barang-barang dijual kepada langganan. Makin panjang waktu yang
diperlukan untuk memproduksi barang atau untuk memperoleh barang makin besar
kebutuhan akan modal kerja.
3) Syarat pembelian dan penjualan. Syarat kredit pembelian barang dagangan atau
bahan baku akan memengaruhi besar kecilnya modal kerja. Syarat kredit pembelian
yang menguntungkan akan memperkecil kebutuhan uang kas yang harus ditanamkan
dalam persediaan, sebaliknya bila pembayaran harus dilakukan segera setelah abrang
diterima maka kebutuhan uang kas untuk membelanjai volume perdagangan menjadi
lebih besar.
4) Tingkat perputaran persediaan. Semakin sering persediaan diganti (dibeli dan dijual
kembali) maka kebutuhan modal kerja yang ditanamkan dalam bentuk persediaan
akan semakin rendah.
5) Tingkat perputaran piutang. Kebutuhan modal kerja juga tergantung pada periode
waktu yang diperlukan untuk mengubah piutang menjadi uang kas.
2.6 Sumber Modal Kerja
Munawir (2004:120) menyatakan bahwa pada umumnya modal kerja suatu perusahaan
dapat berasal dari:
1) Hasil Operasi Perusahaan, yakni jumlah net income yang tampak dalam laporan
perhitungan rugi laba ditambah dengan depresiasi dan amortisasi. Jumlah ini
menunjukkan jumlah modal kerja yang berasal dari operasi perusahaan.
2) Keuntungan Dari Penjualan Surat-Surat Berharga (Investasi Jangka Pendek). Surat
berharga yang dimiliki perusahaan untuk jangka pendek adalah salah satu elemen
aktiva lancar yang segera dapat dijual dan menimbulkan keuntungan bagi
perusahaan. Dengan adanya penjualan surat-surat berharga ini mengakibatkan
perubahan dalam unsur modal kerja yaitu dari bentuk surat berharga menjadi uang
kas.

3) Penjualan Aktiva Tidak Lancar. Sumber lain yang dapat menambah modal kerja
adalah hasil dari penjualan aktiva tetap. Investasi jangka panjang dan aktiva tidak
lancar lainnya yang tidak diperlukan lagi oleh perusahaan. Perubahan dari aktiva ini
menjadi kas atau piutang menyebabkan bertambahnya modal kerja sebesar jumlah
penjualan tersebut.
4) Penjualan Saham Atau Obligasi. Untuk menambah dana atau modal kerja yang
diperlukan, perusahaan dapat pula mengadakan emisi saham baru atau meminta
kepada para pemilik perusahan untuk menambah modalnya, disamping itu
perusahaan juga dapat mengeluarkan obligasi atau bentuk utang jangka panjang
lainnya guna memenuhi kebutuhan modal kerjanya. Penjualan obligasi ini
mempunyai konsekuensi bahwa perusahaan harus membayar bunga tetap, oleh
karena itu dalam mengeluarkan utang dalam bentuk obligasi harus disesuaikan
dengan kebutuhan perusahaan.
2.7 Pengelolaan Modal Kerja
Mengelola modal kerja secara efektif adalah krusial bagi setiap usaha apapun usaha yang
dijalankan. Jika salah kelola, bukan hanya bisa membuat operasional perusahaan menjadi
tidak lancar, bahkan bisa bikin bangkrut. Sehingga, bisa dikatakan bahwa pengelolaan modal
kerja sangat menentukan kelangsungan hidup perusahaan.
Pengelolaan modal kerja dipengaruhi oleh elemen-elemen dalam modal kerja, di
antaranya sebagai berikut:
1) Kas. Perusahaan jangan sampai kekurangan kas. Hal dasar ini sering kali membuat
pengelola (entah itu manajer atau pemilik usaha) menyimpan kas sebanyakbanyaknya semata-mata karena takut kekurangan kas. Sehingga manajemen selalu
bertanya apakah kita cukup kas?. Sesungguhnya kecukupan kas saja belum
mencerminkan pengelolaan kas efektif. Ada titik dimana persediaan kas menjadi
terlalu tinggi sehingga menimbulkan apa yang disebut dengan excess-cash atau idlecash (kas menganggur). Intinya adalah bagaimana caranya mengelola kas agar di
satu sisi tidak sampai kekurangan tetapi di sisi lainnya juga tidak menimbulkan
excess-cash yang berlebihan.
2) Piutang. Semua piutang bisa ditagih (minimalkan bad debt). Hal dasar ini sering kali
membuat pengelola menerapkan kebijakan kredit yang begitu ketat semata-mata
9

karena takut jika piutang menjadi tak tertagih. Sehingga pertanyaan yang sering
muncul adalah berapa piutang yang belum tertagih?. Padahal tingkat ketertagihan
sesungguhnya belum mencerminkan efektifitas pengelolaan piutang. Ada titik
dimana kebijakan kredit yang ketat bisa menggerus penjualan. Tantangan utamanya
ada pada menentukan kebijakan kredit yang di satu sisi membuat tingkat
ketertagihan lancar tetapi tidak menganggu penjualan. Dan, seringkali setiap
pelanggan (customer) membutuhkan pendekatan yang berbeda.
3) Surat berharga. Surat berharga yang dibeli dapat dicairkan tepat pada waktunya. Hal
ini seringkali membuat pengelola hanya peduli terhadap waktu pencairan, tanpa
pernah berpikir untuk memilih-milih jenis surat berharga (dari perusahaan tertentu)
yang paling menguntungkan. Bahkan tidak mempertimbangkan pilihan untuk
memutar dana tersebut untuk ekspansi usaha. Diperlukan pengelolaan yang sungguh
cermat.
4) Persediaan. Jangan sampai kekurangan persediaan barang, semua permintaan harus
bisa terpenuhi secepatnya. Hal ini seringkali membuat pengelola memutuskan untuk
menyimpan persediaan sebanyak-banyaknya. Sesungguhnya persediaan barang
berlebihan berpotensi menimbulkan cost bahkan kehilangan. Semakin besar
persediaan semakin besar beban yang harus ditanggung oleh perusahaanmulai dari
gaji pegawai gudang, perawatan, hingga persediaan usang/rusak (obsolete inventory)
yang membengkak. Tak jarang juga terjadi kehilangan. Tantangannya: bagaimana
mengelola persediaan sehingga di satu sisi cukup untuk mensuplai permintaan, di
sisi lainnya beban dan potensi risiko seminimal mungkin.
Besar kecilnya modal kerja tergantung dari dua faktor, yakni:
1) Periode perputaran atau periode terikatnya modal kerja, merupakan keseluruhan atau
jumlah dari periode yang meliputi jangka waktu pemberian kredit beli, lama
penyimpanan bahan mentah di gudang, lamamya proses produksi, lamanya barang di
simpan digudang, jangka waktu penerimaan piutang.
2) Pengeluaran kas rata-rata setiap hari, merupakan jumlah pengeluaran kas rata-rata
setiap hari untuk keperluan bahan mentah, bahan pembantu, pembayaran upah
buruh, dan lain-lain.

10

Modal kerja makin besar jika: 1) Jumlah pengeluaran kas setiap tetap, periode perputaran
lama; 2) Periode perputaran tetap, jumlah pengeluaran kas besar.
2.8 Manajemen Modal Kerja
Manajemen modal kerja adalah kegiatan yang mencakup semua fungsi manajemen atas
aktiva lancar dan kewajiban jangka pendek perusahaan (Syahyunan 2004:36). Manajemen
modal kerja yang efektif menjadi sangat penting untuk pertumbuhan kelangsungan
perusahaan dalam jangka panjang. Apabila perusahaan kekurangan modal kerja untuk
memperluas penjualan dan meningkatkan produksinya, maka besar kemungkinannya akan
kehilangan pendapatan dan keuntungan.
Berikut adalah tujuan dari manajemen modal kerja:
1) Memaksimalkan nilai perusahaan dengan mengelola aktiva lancar sehingga tingkat
pengembalian investasi marjinal adalah sama atau lebih besar dari biaya modal yang
digunakan untuk membiayai aktiva-aktiva tersebut.
2) Meminimalkan biaya modal yang digunakan untuk membiayai aktiva lancar.
3) Pengawasan terhadap arus dana dalam aktiva lancar dan ketersediaan dana dari
sumber hutang, perusahaan selalu dapat memenuhi kewajiban keuangannya pada
saat jatuh tempo.
Berikut adalah manfaat dari manajemen modal kerja:
a) Melindungi perusahaan terhadap krisis modal kerja karena turunnya nilai dari aktiva
lancar.
b) Memungkinkan untuk dapat membayar semua kewajiban-kewajiban tepat pada
waktunya.
c) Menjamin dimilikinya kredit standing perusahaan semakin besar dan memungkinkan
bagi perusahaan untuk dapat menghadapi bahaya-bahaya atau kesulitan keuangan
yang mungkin terjadi.
d) Memungkinkan untuk memiliki persediaan dalam jumlah yang cukup untuk
melayani konsumen.
e) Memungkinkan bagi perusahaan untuk memberikan syarat kredit yang lebih
menguntungkan kepada para langganannya.
f) Memungkinkan bagi perusahaan untuk dapat beroperasi dengan lebih efisien karena
tidak ada kesulitan untuk memperoleh barang atau jasa yang dibutuhkan.
g) Laporan modal kerja akan sangat berguna bagi management untuk mengadakan
pengawasan terhadap modal kerja.
11

BAB 3
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan dpat disimpulkan bahwa modal kerja adalah jumlah

keseluruhan aktiva lancar yang tidak selalu berbentuk dalam kas. Terdapat tiga konsep modal
kerja yaitu Modal Kerja Kuantitatif, Kualitatif dan Fungsional
Ada dua jenis modal kerja yaitu Modal kerja permanen yang terbagi lagi menjadi dua.
Primer dan Normal. Lalu ada juga Modal kerja Variable yang terbagi menjadi tiga. Modal
Kerja Musiman, Siklus dan Darurat
Terdapat beberapa jenis komponen yang ada dalam modal kerja yaitu Aktiva Lancar
dan Hutang Lancar. Juga terdapat lima faktor yang mempengaruhi modal kerja. Yaitu Sifat
umum atau tipe perusahaan, Waktu yang diperlukan untuk memproduksi atau mendapatkan
barang, Syarat pembelian dan penjualan, Tingkat perputaran persediaan, dan Tingkat
perputaran piutang.
Ada empat sumber modal kerja yang bisa didapatkan yaitu Hasil Operasi Perusahaan,
Keuntungan Dari Penjualan Surat-Surat Berharga (Investasi Jangka Pendek), Penjualan
Aktiva Tidak Lancar, dan Penjualan Saham Atau Obligasi.
Cara pengelolaan nya pun terbagi empat yaitu, Kas, Piutang, Surat berharga, dan
Persediaan. Dan adapin tujuan dam ,manfaat dari manajemen modal kerja adalah
Memaksimalkan nilai perusahaan, Meminimalkan biaya modal, Pengawasan terhadap arus
dana dalam aktiva lancar dan ketersediaan dana dari sumber hutang, Melindungi perusahaan
terhadap krisis modal kerja, Memungkinkan untuk dapat membayar semua kewajibankewajiban, Menjamin dimilikinya kredit standing perusahaan semakin besar, Memungkinkan
12

untuk memiliki persediaan dalam jumlah yang cukup, Memungkinkan bagi perusahaan untuk
memberikan syarat kredit, Memungkinkan bagi perusahaan untuk dapat beroperasi, dan
Laporan modal kerja akan sangat berguna bagi management untuk mengadakan pengawasan
terhadap modal kerja.

DAFTAR PUSTAKA

http://akuntansi-sektopublic.blogspot.com/2012/12/mengelolah-aktiva-lancar_5409.html
http://edutekinfo.blogspot.com/2012/03/manajemen-modal-kerja.html
http://mbegedut.blogspot.com/2012/09/pos-kelompok-kebijakan-dalam-aktiva-lancar.html
http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/434/jbptunikompp-gdl-kaerudinni-21698-5-unikom_ki.pdf

13