Anda di halaman 1dari 15

Makalah Sejarah Kebudayaan Islam dan Budaya Lokal

PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN ISLAM PADA


MASA UTSMANIYAH DAN PERKEMBANGAN
KEBUDAYAAN
ISLAM PADA MASA DINASTI SAFAWIYAH

Disusun Oleh Kelompok 9:


Nabila
Siti Fatimah Azzahra
Kristiana Fajariatri

12630002
12630036
12630048

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN
KALIJAGA
YOGYAKARTA

2015
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setelah Khilafah Abbasiyah di Baghdad runtuh akibat serangan tentara
Mongol, kekuatan politik Islam mengalami kemunduran secara drastis. Wilayah
kekuasaannya terpecah-pecah dalam beberapa kerajaan kecil yang satu sama lain
bahkan saling memerangi. Beberapa peninggalan budaya dan peradaban Islam
banyak yang hancur akibat serangan bangsa Mongol itu.
Pada waktu khilafah

Utsmaniyah sudah mencapai puncak kejayaan,

kerajaan Safawi di Persia masih baru berdiri. Gerakan Safawiyah memprakarsai


penaklukan Iran dan mendirikan sebuah baru yang berkuasa dari 1501 sampai
1722. Sang pendiri mengawali gerakannya dengan seruan untuk memburnikan
dan memulihkan kembali ajaran Islam. Makalah ini akan membahas sejarah
berkembangnya khilafah Utsmaniyah

dan dinasti safawiyah serta kemajuan-

kemajuan yang dicapai dan kemunduran kedua dinasti tersebut.


B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana asal-usul berdirinya khilafah Utsmaniyah dan Safawiyah?
2. Bagaimana sejarah kemajuan dan kemunduran khilafah Utsmaniyah
dan Safawiyah ?
3. Bagaimana perkembangan kebudayaan islam pada masa khilafah
Utsmaniyah dan safawiyah ?
C. Tujuan
1. Mengetahui asal-usul berdirinya khilafah utsmaniyah dan safawiyah.
2. Mengetahui sejarah kemajuan dan kemunduran khilafah utsmaniyah
dan safawiyah.
3. Mengetahui perkembangan kebudayaan islam pada masa khilafah
Utsmaniyah dan Safawiyah.

BAB II

PEMBAHASAN
A. Khilafah Utsmaniyah
1. Asal Usul Khilafah Utsmani
Berdirinya Turki Utsmani setelah hancurnya Turki Saljuk yang telah
berkuasa selama kurang lebih 250 tahun (1055- 1300 M). Khilafah Utsmaniyah
didirikan oleh bangsa Turki dari kabilah Oghuz (ughu) yang mendiami daerah
Mongol dan daerah Utara Cina, yang kemudian pindah ke Turki, Persia dan Irak.
Mereka memeluk Islam kira-kira abad IX atau X, yaitu ketika mereka menetap di
Asia tengah. Hal ini karena mereka bertetangga dengan dinasti Samani dan dinasti
Ghaznawi. Karena tekanan-tekanan yang diterima dari bangsa Mongol, mereka
mencari perlindungan kepada saudara perempuannya, dinasti Saljuk. Ketika itu
dinasti saljuk dibawah kekuasaan Sultan Alauddin Kaikobad. Entogrol yang
merupakan pimpinan Turki Utsmani pada waktu itu berhasil membantu Sultan
Saljuk dalam menghadapi Bizantium. Oleh karena jasanya ia mendapat
penghargaan dari Sultan berupa sebidang tanah di Asia kecil yang berbatasan
dengan Bizantium. Sejak itu mereka terus membina wilayah barunya

dan

kota Syukud berperan sebagai Ibu kota. Selain itu Entogrol juga diberikan
wewenang untuk memperluas wilayahnya
Setelah Entogrol meninggal pemimpin Turki Utsmani digantikan oleh
anaknya, Utsman. Tidak beberapa lama setelah itu, dinasti saljuk mendapat
serangan bangsa Mongol. Dinasti ini kemudian terpecah menjadi dinasti-dinasti
kecil. Pada saat itulah Utsman mendeklarasikan kemerdekaan secara penuh atas
wilayah

yang

semula

memproklamasikan

merupakan

berdirinya

pemberian

Sultan

Saljuk

sekaligus

kerajaan Turki Utsmani. Inilah asal mula

mengapa kemudian diberikan nama khilafah utsmaniyah. Utsman, yang dicatat


oleh sejarah sebagai Utsman I, memerintah pada Tahun 1290 M Sampai 1326 M.
Ahmad Al- Usairy membagi masa Utsmaniyyah tersebut ke dalam empat
masa, yaitu :
1.
2.
3.
4.

Masa kesultanan (699-923 H)


Masa khilafah (923-974 H)
Masa kelemahan khilafah Utsmaniyah (9741171 H)
Masa kemunduran dan kemerosotan khilafah Utsmaniyah (11711342 H)

Sebelum menjadi khilafah, Utsmaniyah adalah sebuah pemerintahan dalam


bentuk dinasti. Perbedaan antara keduanya terletak pada cakupan wilayah
kekuasaan. Khilafah adalah sebuah rumah besar bagi umat Islam yang tentunya
ketika menaungi umat ia menjadi pemegang kekuasaan paling atas yang
menguasai beberapa khilafah di bawahnya. Dalam sejarah Islam bahkan di dalam
aturan syari Khilafah tidak boleh ada lebih dari satu dan ia merupakan payung
tunggal untuk semua umat Islam sedunia. Sedangkan khilafah adalah
perpanjangan

tangan kekhilafahan untuk mengatur pemerintahan umat Islam

yang semakin luas.


Pada tahun 923 H,

secara

resmi

Khalifah

Abbasiyah

di

Kairo

mengalihkan kekuasaan Khilafah kepada Ustmaniyah yang pada saat itu di pimpin
oleh Sultan Salim I bin Beyzid (923-926 H) dan pada saat itu pula Sultan Salim I
menjadi Khalifah umat Islam.
Silsilah pemimpin Utsmaniyah:
Utsman I (1299 M)
|
Urkhan (1362 M)
|
Murad I (1359 M)
|
Bayazid I (1389-1401 M)
|
Sulaiman (penuntut)

Muhammad I

Musa (penuntut)

(1403-1410 M)

(1403 M)

(1410-1413)

|
Murad II (1421 M)
|
Muhammad II (1451 M)
|

Bayazid II (1451 M)
|
Salim I (1512 M)
|
Sulaiman I (1520 M)
|
Salim II (1566 M)
|
Murad III (1574 M)
|
Muhammad III (1595 M)
|
Ahmad I (1630 M)
|
Ibrahim (1640 M)
|
Muhammad IV (1648 M)
|
Mustafa II (1695 M)
|
Ahmad III (1703 M)
|
Abd Hamid 1 (1774 M)
|
Mahmud II (1808 M)
|
Abdul Majid I (1839 M)
2. Kemajuan Khilafah Utsmaniyah
a. Bidang militer

Kemiliteran pertama kali yang dimiliki Khilafah Utsmaniyah adalah


angkatan darat yang dibentuk oleh Utsman I dari anggota suku di perbukitan
Anatolia barat pada

akhir abad ke-13.

Seiring dengan kemajuan khilafah

Utsmani, sistem militer pun berubah menjadi organisasi yang rumit. Korps utama
angkatan darat Utsmaniyah meliputi Yanisari, Sipahi, Aknc, dan Mehtern.
Angkatan darat Utsmaniyah pernah menjadi salah satu pasukan tempur termaju di
dunia karena termasuk di antara pengguna pertama senapan lontak dan meriam.
Pasukan Utsmaniyah mulai memanfaatkan falconet, meriam pendek namun lebar,
saat Penaklukan Konstantinopel. Pada abad ke-18, sempat muncul sedikit
keberhasilan melawan Venesia, tetapi pasukan Rusia bergaya Eropa di utara
memaksa Khilafah Utsmaniyah menyerahkan teritorinya. Pada tahun 1826 M,
Sultan Mahmud II menghapus korps Yanisari dan membentuk angkatan darat
modern Utsmaniyah. Pasukannya diberi nama Nizam- Cedid (Orde Baru).
Angkatan

darat

Utsmaniyah

juga

merupakan

lembaga

pertama

yang

mempekerjakan tenaga ahli luar negeri dan mengirimkan para perwiranya ke


pusat pelatihan di negara-negara Eropa Barat.
Tidak kalah dengan angkatan darat, angkatan laut Utsmaniyah juga
berperan penting dalam perluasan wilayah di benua Eropa. Ekspansi ini berawal
dari penaklukan Afrika Utara yang memasukkan Aljazair dan Mesir ke daulah
Khilafah Utsmaniyah pada tahun 1517.

Pada masa khalifah Abdul Aziz, ia

berusaha membangun angkatan laut yang kuat dengan membuat armada terbesar
ketiga di dunia setelah Britania Raya dan Perancis. Galangan kapal di Barrow,
Inggris, membangun kapal selam pertamanya untuk Khilafah Utsmaniyah pada
tahun 1886 M. Akan tetapi, akibat melemahnya ekonomi khilafah Utsmaniyah
tidak dapat mempertahankan armada laut dalam jangka panjang.
Sejarah penerbangan

militer

Utsmaniyah dimulai

ketika

khilafah

Utsmaniyah mulai mempersiapkan para pilot dan pesawat pertamanya. Melalui


pendirian Sekolah Penerbangan (Tayyare Mektebi) diYeilky tanggal 3 Juli 1912,
pemerintah mulai mengajar penerbangnya sendiri. Pendirian Sekolah Penerbangan
mempercepat kemajuan program penerbangan militer, menambah jumlah perwira

terdaftar,

dan

memberi

pilot-pilot

baru

peran

aktif

di Angkatan

darat dan Angkatan Laut Utsmaniyah.


Masa kejayaan ekspansi daulah Islam terjadi khususnya pada masa
khalifah Sulaiman al-Qanuni dan Muhammad II (Al-Fatih). Khalifah Sulaiman alQanuni berhasil melebarkan jalan dakwah Islam ke berbagai wilayah. Begitu pula
halnya dengan khalifah Muhammad II (al-Fatih) yang berhasil menaklukkan
Konstantinopel, kota yang telah dikabarkan oleh Rasulullah akan takluk di tangan
kaum muslimin. Kota yang selama beratus-ratus tahun sejak terlontar dari lisan
Rasulullah menjadi kota yang paling diincar untuk ditaklukkan.
b. Budaya dan Seni
Akibat banyaknya daerah yang ditaklukkan oleh khilafah Utsmaniyah,
maka banyak tradisi, seni, dan institusi budaya yang diserap, lalu menambahkan
dimensi baru ke dalamnya. Berbagai tradisi dan kebudayaan imperium
sebelumnya baik dalam bidang arsitektur, masakan, musik, hiburan, dan
pemerintahan diadopsi oleh kekhilafahan Utsmaniyah. Utsmaniyah

kemudian

mengubahnya ke bentuk-bentuk baru dan menciptakan identitas budaya yang baru


dan sangat berbeda. Pernikahan lintas budaya juga berperan dalam menciptakan
budaya elit Utsmaniyah.
Kebudayaan Utsmaniyyah merupakan perpaduan bermacam-macam
kebudayaan diantaranya adalah kebudayaan Persia, Bizantium dan Arab. Dari
kebudayaan Persia mereka banyak mengambil ajaran-ajaran tentang etika dan tata
krama dalam tempat tinggal khalifah. Dari Bizantium, Utsmaniyah menyerap
bidang organisasi pemerintahan dan kemiliteran. Ajaran tentang prinsip-prinsip
ekonomi, sosial dan kemasyarakatan, keilmuan dan huruf diambil dari Arab.
Dalam bidang Ilmu Pengetahuan, Utsmaniyyah tidak begitu menonjol karena
mereka lebih memfokuskan pada kegiatan militernya sehingga dalam khasanah
Intelektual Islam tidak ada Ilmuan yang terkemuka dari Utsmaniyyah .
Dibidang sastra, dua aliran utama sastra tulis Utsmaniyah adalah syair
dan prosa. Syair sejauh ini merupakan aliran dominan. Hingga abad ke-19, prosa
Utsmaniyah tidak mengandung fiksi. Tidak ada karya yang sebanding

dengan roman, cerita pendek, atau novel Eropa. Genre yang serupa memang ada,
namun dalam bentuk sastra rakyat Turki dan syair Divan.
Arsitektur Utsmaniyah

dipengaruhi oleh arsitektur

Persia, Yunani

Bizantium, dan Islam. Contoh arsitektur Utsmaniyah dari periode klasik selain
terdapat di Istanbul dan Edirne juga dapat ditemukan di Mesir, Eritrea, Tunisia,
Algiers, Balkan, dan Rumania. Di berbagai daerah tersebut banyak ditemukan
masjid,

jembatan, air mancur, dan sekolah Utsmaniyah. Seni dekorasi

Utsmaniyah berkembang seiring banyaknya pengaruh dikarenakan keragaman


etnik di Kesultanan Utsmaniyah. Para pengrajin memperkaya Kesultanan
Utsmaniyah dengan pengaruh seni pluralistik, seperti mencampurkan seni
Bizantium tradisional dengan perpaduan seni Cina.
c. Bidang Ilmu Pengetahuan
Bidang ilmu pengetahuan masa khilafah Utsmaniyah tidak terlalu
menonjol karena para khalifah fokus dalam perkembangan kemiliteran. Akan
tetapi hal ini bukan berarti pendidikan diabaikan oleh para khalifah. Sultan
Muhammad

II

memerintahkan Georgios Amirutzes, seorang cendekiawan

Yunani dari Trabzon untuk menerjemahkan dan menyebarkan buku geografi


Ptolomeus ke lembaga-lembaga pendidikan Utsmaniyah. Di bidang lain, Ali
Qushji, seorang astronom,

matematikawan, dan fisikawan dari Samarkand,

yang menjadi profesor di dua madrasah berhasil memberikan sumbangsihnya


dalam ilmu pengetahuan

tulisan-tulisannya dan aktivitas muridnya. Ia hanya

menghabiskan dua atau tiga tahun di Kesultanan Utsmaniyah sebelum meninggal


dunia di Istanbul. Selain itu, Taqi al-Din membangun Observatorium Taqi al-Din
Istanbul pada tahun 1577. Ia melakukan pengamatan astronomi di sana sampai
1580. Ia menghitung eksentrisitas orbit matahari dan pergerakan tahunan apogeo.
3. Kemunduran Khilafah Utsmaniyah
Setelah wafatnya khalifah Sulaiman al-Qanuni, terdapat perpecahan dalam
kekhilafan Utsmaniyah. Putera khalifah saling berebut kekuasaan untuk
menggantikan peran sang ayah menjadi khalifah. Saat kondisi pemahaman umat
melemah dan ketakwaan mereka pada Allah mulai memudar, serangan-serangan

barat diintensifkan. Pada akhir abad ke-16, para misionaris mulai mengacaukan
pemahaman ummat. Dimulai di Malta, tugas mereka membuat ragu ummat akan
ajaran Islam. Selain itu, pada abad 18-19 Prancis, Inggris, serta Amerika urun
rembuk untuk menabur benih kehancuran dengan menanam paham nasionalisme
pada tubuh kekhilafahan Utsmani. 24. prancis dan inggris, serta amerika urun
rembuk pula pada abad 18-19, menabur benih kehancuran dengan menanam
paham nasionalisme. Paham nasionalisme disebarkan hingga kaum Muslim
mengelompokkan diri sebagai Arab, Turki atau Mesir, daripada menganggap
mereka satu muslim.
Sebab keruntuhan Khilafah

Utsmani selanjutnya juga terkait dengan

serangan fisik, peperangan dan imperialisme serta melalui perjanjian-perjanjian.


Perjanjian karlowitz 1699, passarowitz 1718, Belgrade 1739, Kk Kaynarca
1774, semuanya mengerat habis wilayah Khilafah Utsmani. Rusia

mengerat

wilayah Khilafah di utara sampai berbatasan dengan laut hitam di masa Catherine.
Sementara itu terjadi penjajahan besar-besaran oleh Perancis meliputi wilayah
Mesir pada 1698, Aljazair pada 1830, Tunisia pada 1881, Moroko pada 1912.
Selain Perancis, Inggris pula ikut berebut untuk mengambil wilayah india, cina
barat, sudan, dan akhirnya merebut mesir dari prancis. Kaum Muslim persis
seperti hidangan yang direbutkan.
Ditengah-tengah kekacauan ini internal muslim juga goyah karena
seringnya pemberontakan yang dilakukan oleh pasukan inti Yaniseri. Pembubaran
pasukan Yeniseri oleh Khalifah Mahmud II pada 1826 menambah daftar panjang
penyebab lemahnya Islam dan lemahnya pasukannya. Pembubaran Yanisari
mengakibatkan derasnya pengaruh barat yang masuk dan memaksa kaum muslim
mengadakan pembaruan militer dan hukum. Reformasi inilah yang dinamakan
tanzimat sebuah reformasi yang agaknya lebih cenderung kepada sekuleriasi
Khilafah Islam. Pasca tanzimat ini, Khilafah mulai mengadopsi sistem keuangan,
hukum sipil dan hukum pidana Peranci.
Reformasi militer berdasarkan sistem militer prancis dan swedia, sehingga
militer kaum Muslim mulai dikuasai secara tidak langsung. Bersamaan dengan
itu, benih-benih nasionalisme mulai tumbuh di dunia Islam. Fatatul turk (pemuda

turki), fatatul arab (pemuda arab) merupakan bukti kaum pemuda berlandaskan
nasionalisme ini mulai menyerukan disintegrasi Islam berdasar etnis, semisal
gerakan ittihad wa taraqiy turki. Pemberontakanpun terjadi dimana-mana. Lewat
tangan Inggris, Mustafa Kemal Ataturk berhasil mengganti Khilafah Utsmani
menjadi Republik Turki, dan Khilafah resmi dihapus pada 3 Maret 1924.
B. Dinasti Safawi
1. Asal Usul Dinasti Safawi
Syekh Safuyudin Ishaq seorang guru agama yang lahir dari sebuah
keluarga Kurdi di Iran Utara pada tahun 1252-1334 mendirikan gerakan tarekat di
Ardabil, sebuah kota di Azerbaijan dan diberi nama Dinasti Safawiyah. Gerakan
Dinasti Safawiyah ini awalnya bertujuan untuk memerangi orang-orang ingkar
dan golongan Ahl al-Bidah, namun pada perkembangannya, gerakan ini berubah
menjadi gerakan keagamaan yang mempunyai pengaruh besar di Persia, Syria dan
Anatolia. Di negeri-negeri yang berada di luar Ardabil inilah, Safi al-Din
menempatkan seorang wakil yang diberi gelar Khalifah untuk memimpin muridmurid di daerahnya masing-masing. Gerakan Dinasti Safawi dianggap sebagai
kebangkitan Islam Populer yang menentang dominasi militer yang meresahkan.
Gerakan ini juga memprakarsai penaklukan Iran dan mendirikan sebuah baru yang
berkuasa dari 1501 sampai 1722.
Ketika kerajaan Dinasti Safawi di Persia masih baru berdiri bersamaan
dengan puncak kejayaan kerajaan Turki Usmani. Akan tetapi kerajaan ini dapat
berkembang dengan cepat dan nama Dinasti Safawi ini terus dipertahankan
sampai tarekat Dinasti Safawiyah menjadi gerakan politik dan menjadi sebuah
kerajaan yang disebut kerajaan Dinasti Safawi. Kerajaan Dinasti Safawi
menyatakan sebagai penganut Syiah dan menjadikannya sebagai madzhab
negara.
2. Perkembangan Kerajaan Dinasti Safawi

Bangsa Dinasti Safawi merupakan bangsa yang sangat fanatik terhadap


ajaran-ajarannya yaitu Syiah. Mereka memiliki keinginan untuk berkuasa karena
dengan berkuasa mereka dapat menjalankan ajaran agama yang telah mereka
yakini. Seiring berjalannya waktu

murid-murid tarekat Dinasti Safawiyah

menjadi tentara yang teratur, fanatik dalam kepercayaan dan menentang setiap
orang yang bermazhab selain Syiah.
Pada masa pemerintahan Junaid lebih cenderung perkembangan lebih
condong ke dunia politik. Dinasti Dinasti Safawi memperluas gerakannya dengan
menambahkan kegiatan politik pada kegiatan keagamaan. Perluasan ini
menimbulkan konflik antara Juneid dan Kara Koyunlo (Domba Hitam), Juneid
kalah dan diasingkan kesuatu tempat. Ditempat baru ini ia mendapat perlindungan
dari penguasa Diyar Bakr, AK-Koyunlu (Domba Putih). Pada masa diasingkan,
Juneid menikah dan mempunyai anak yang bernama Haidar. Ia juga tidak tinggal
diam tetapi justru menyusun kekuatan yang besar. Dengan bekerjasama secara
politik dengan Uzun Hasan. Dan berhasil mempersunting salah seorang saudari
perempuan Uzun Hasan. Pada tahun 1459 M Juneid mencoba merebut Ardabil
tetapi gagal. Pada tahun 1460 M ia mencoba merebut Sircassia tetapi pasukan
yang dipimpinnya dihadang oleh pasukan Sirwan, ia terbunuh dalam pertempuran
tersebut.
Kepemimpinan gerakan Dinasti Safawi kemudian dilanjutkan Haidar pada
tahun 1470 M. Sementara itu hubungan Haidar dan Uzun Hasan semakin erat
dengan menikahnya Haidar dengan putri Uzun Hasan. Dari perkawinan ini
lahirlah Ismail yang dikemudian menjadi pendiri kerajaan Dinasti Safawi di
Persia. Kemenangan Ak Koyunlu tahun 1476 M terhadap Kara Koyunlu membuat
gerakan militer Dinasti Safawi yang dipimpin oleh Haidar dipandang sebagai rival
politik oleh AK Koyunlu dalam meraih kekuasaan selanjutnya. Padahal Dinasti
Safawi adalah sekutu AK Koyunlu. AK Koyunlu mencoba melenyapkan
kekuasaan militer dan Dinasti Dinasti Safawi. Karena itu, ketika Dinasti Safawi
menyerang wilayah Sircassia dan pasukan Sirwan, AK Koyunlu mengirimkan

bantuan militer kepada Sirwan, sehingga pasukan Haidar kalah dan terbunuh
dalam peperangan itu.
Ali, putera dan pengganti Haidar melanjutkan kepemimpinan Haidar untuk
menuntut balas, terutama terhadap AK Koyunlu. Akan tetapi AK Koyunlu dapat
menangkap dan memenjarakan Ali dan saudaranya, Ibrahim, Ismail dan ibunya, di
Fars selama empat setengah tahun (1489-1493 M). Mereka dibebaskan oleh
Rustam, putera mahkota AK Koyunlu, dengan syarat mau membantunya
memerangi saudara sepupunya. Setelah saudara sepupunya dapat dikalahkan, Ali
bersaudara kembali ke Ardabil. Akan tetapi, tidak lama kemudian Rustam berbalik
memusuhi dan menyerang Ali bersaudara, dan Ali terbunuh dalam serangan itu.
Kepemimpinan gerakan Dinasti Safawi selanjutnya berada di tangan Ismail.
Ismail, tahun 1501 M, beserta pasukan Qizilbash menyerang dan mengalahkan
AK Koyunlu di Sharur. Dikota ini Ismail memproklamirkan dirinya sebagai raja
pertama dinasti Dinasti Safawi, dan dia disebut dengan Ismail I.
Ismail I berkuasa kurang lebih 23 tahun ( 1501- 1524 M ). Ia berhasil
memperluas kekuasaannya meliputi seluruh Persia dan bagian timur Bulan Sabit
Subur ( fortile Crescent ).
Peperangan dengan Turki Usmani terjadi pada tahun 1514 M di Chaldiran.
Karena keunggulan organisasi militer kerajaan Turki Usmani, dalam perang ini
Ismail I mengalami kekalahan, malah Turki Usmani dibawah pimpinan Sultan
Salim dapat menduduki Tabriz. Kekelahan tersebut menimbulkan kemunduran
bangsa Dinasti Safawiyah. Kondisi memprihatinkan ini dapat diatasi setelah raja
kelima, Abbas I naik tahta. Ia memerintah pada tahun 1588 M sampai dengan
1628 M. Usaha-usaha yang dilakukan Abbas I tersebut berhasil membuat kerajaan
Dinasti Safawi kuat kembali.
3. Masa Kejayaan Kerajaan Dinasti Safawi
Masa kekuasaan Abbas I merupakan puncak kerajaan Dinasti Safawiyah.
Kemajuan-kemajuan yang dicapai antara lain sebagai berikut;
a. Bidang Politik

Abbas I mampu mengatasi berbagai kemelut didalam negeri yang


menganggu stabilitas negara dan berhasil merebut kembali wilayah-wilayah yang
pernah direbut oleh kerajaan lain pada masa kerajaan-kerajaan sebelumnya.
b. Bidang Ekonomi
Pada masa pemerintahan Abass I Stabilitas politik kerajaan Dinasti
Safawi mampu memacu perkembangan perekonomian lebih-lebih setelah
kepulauan Hurmuz dikuasai dan pelabuhan Gumrun diubah menjadi Bandar
Abbas. Dengan dikuasainya bandar ini maka salah satu jalur dagang laut antara
timur dan barat yang biasa diperebutkan oleh Belanda, Inggris, dan Perancis
sepenuhnya menjadi milik kerajaan Dinasti Safawi.
c. Bidang Ilmu Pengetahuan
Dalam sejarah Islam bangsa Persia dikenal sebagai bangsa yang
berperadaban tinggi dan berjasa mengembangkan ilmu pengetahuan. Oleh karena
itu, tidak mengherankan apabila pada masa kerajaan ini tradisi keilmuan sangat
berkembang. Ada beberapa ilmuan yang selalu hadir di majlis Istana, yaitu Baha
Al-Din Al-Syaerazi, generalis ilmu pengetahuan, Sadar Al-Din Al-Syaerazi,
filosof, dan Muhammad Baqir Ibn Muhammad Damad, filosoft, ahli sejarah,
teolog, dan seorang yang pernah mengadakan observasi mengenai kehidupan
lebah-lebah. Bidang Perkembangan Fisik dan Seni. Demikianlah puncak
kemajuan yang dicapai oleh kerajaan Syafawi. Setelah itu kerajaan ini mulai
mengalami kemunduran.

BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan pemaparan tentang kemajuan khilafah Utmaniyah dan


Syafawi dalam kebudayaan maka dapat disimpulkan bahwa khilafah Utsmaniyyah
didirikan oleh bangsa Turki dari kabilah Oghuz (ughu) yang mendiami daerah
Mongol dan daerah Utara Cina, yang kemudian pindah ke Turki, Persia dan Irak.
Mereka memeluk Islam kira-kira abad IX atau X, yaitu ketika mereka menetap di
Asia tengah. Sedangkan dinasti safawiyah didirikan oleh Syekh Safuyudin Ishaq
seorang guru agama yang lahir dari sebuah keluarga Kurdi di Iran Utara pada
tahun 1252-1334. Gerakan Dinasti Safawiyah ini awalnya bertujuan untuk
memerangi orang-orang ingkar dan golongan Ahl al-Bidah, namun pada
perkembangannya, gerakan ini berubah menjadi gerakan keagamaan yang
mempunyai pengaruh besar di Persia, Syria dan Anatolia.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Usairy, Ahmad (2009). Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad
xx, Jakarta: Akbar Media.
Hitti, Philip K (2002). History Of The Arabs, New York : Palgrave Macmillan.
Mubarok, Jaih (2008). Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Islamika.
Siauw, Felix Y (2011). Muhammad Al-Fatih 1453, Jakarta: Alfatih Press.
Yatim, Badri (2006). Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Zallum, Abdul Qodim (2013). Malapetaka Runtuhnya Khilafah, Bogor: Al Azhar
Press.