Anda di halaman 1dari 22

PENGARUH LIGAN TERHADAP WARNA ION KOMPLEKS

(Laporan Praktikum Kimia Anorganik I)

Oleh
Monica
1413023039

LABORATORIUM PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2015

Judul Percobaan

: Pengaruh Ligan Terhadap Warna Ion Kompleks

Tanggal Percobaan

: 14 Desember 2015

Tempat Percobaan

: Laboratorium Pembelajaran Kimia

Nama

: Monica

NPM

: 1413023039

Fakultas

: Keguruan da Ilmu Pendidikan

Jurusan

: Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Program Studi

: Pendidikan Kimia

Kelompok

: 2 (Dua)

Bandar Lampung, 14 Desember 2015


Mengetahui,
Asisten

NPM. 13130230

I. PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Dalam
molekul

ilmu kimia, kompleks atau senyawa


atau

dentitas

yang

koordinasi merujuk

terbentuk

dari

pada

penggabungan

ligan dan ion logam. Pembentukan senyawa kompleks memerlukan dua


jenis spesi yaitu Ion atau molekul yang sekurang kurangnya mempunyai
satu pasang elektron bebas yang memadai untuk membentuk ikatan
kovalen koordinasi. Dan Ion logam atau atom yang mempunyai daya
tarik memadai terhadap elektron untuk membentuk ikatan kovalen
koordinasi dengan gugus yang diikatnya.
Salah satu sifat unsur transisi adalah kemampuannya membentuk berbagai
jenis senyawa, karena unsure ini memiliki beberapa bilangan oksidasi yang
terjadi karena seluruh atau sebagian dari elektron-elektron pada kulit
ketiga dapat digunakan bersma-sama dengan elektron pada kulit 4s untuk
membentuk senyawa-senyawa kompleks yang beraneka warna. Dalam
percobaan ini di pelajari perbedaan warna dengan berbagai jenis logam.
I.2 Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dilakukannya percobaaan ini adalah untuk mempelajari
pengaruh ligan terhadap warna ion kompleks melalui percobaan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Senyawa koordinasi/senyawa kompleks adalah senyawa yang terbentuk melalui


ikatan koordinasi, yakni ikatan kovalen koordinasi antara ion/atom pusat dengan
ligan (gugus pelindung). Disebut juga sebagai senyawa kompleks karena sulit
dipahami pada awal penemuannya. Ikatan kovalen koordinasi yang terjadi
merupakan ikatan kovalen (terdapat pasangan elektron yang digunakan bersama)
di mana pasangan elektron yang digunakan bersama berasal dari salah satu atom.
Ikatan koordinasi bisa terdapat pada kation atau anion senyawa tersebut. Ion/atom
pusat merupakan ion/atom bagian dari senyawa koordinasi yang berada di pusat
(bagian tengah) sebagai penerima pasangan electron sehingga dapat di sebut
sebagai asam Lewis, umumnya berupa logam (terutama logam-logam transisi).
Sedangkan ligan atau gugus pelindung merupakan atom/ion bagian dari senyawa
koordinasi yang berada di bagian luar sebagai pemberi pasangan elektron
sehingga dapat disebut sebagai basa Lewis (Chang,2004).
Dalam pelaksanaan analisis anorganik kualitatif banayk digunakan reaksi-reaksi
yang menghasilkan pembentukan kompleks. Suatu ion (atau molekul) kompleks
terdiri dari satu atom (ion) pusat dan sejumlah ligan yang terikat era dengan atom
(ion) pusat itu. Jumlah relative komponen-komponen ini dalam kompleks yang
stabil Nampak mengikuti stokiometri yang sangat tertentu, meskipun ini tak dapat
ditafsirkan di dalam lingkum konsep valensi yang klasik. Atom pusat ini ditandai
oleh bilangan koordinasi, suatu angka bulat, yang menunjukan jumlah ligan yang
dapat membentuk kompleks yang stabil dengan satu atom pusat.
Bilangan koordinasi menyatakan jumlah ruang yang terbuka sekitar atom atau ion
pusat dalam apa yang disebut bulatan koordinasi yang masing-masing dapat
dihuni satu ligan (monidendrat). Pembentukan kompleks dalam analisis organic
kualitatif sering terlihat dipakai untuk pemisahan atau isentifikasi. Salah satu
fenomena yang paling umu yang muncul bila ion kompleks terbentuk adalah
perubahan warna dalam larutan (Vogel, 1979).

Ion unsur transisi dapat mengikat molekul-molekul atau ion-ion yang memiliki
pasangan elektron tak berikatan (ligan) dengan ikatan kovalen koordinasi yang
membentuk ion kompleks. Ion kompleks adalah gabungan ion (atom pusat)
dengan ion atau molekul lain (ligan) membentuk ion baru.
Berdasarkan ligan yang diikat oleh atom pusat dalam ion kompleks, maka ada dua
macam ion kompleks:
Ion kompleks positif : terbentuk apabila ion logam transisi (atom pusat)
berikatan dengan ligan yang merupakan molekul netral, sehingga ion
kompleks yang terbentuk bermuatan positif.
Ion kompleks negatif : terbentuk apabila ion logam transisi (atom pusat)
berikatan dengan ligan yang merupakan ion negatif.
Teori medan kristal tentang senyawa koordinasi menjelaskan bahwa dalam
pembentukan kompleks terjadi interaksi elektrostatik antara ion logam (atom
pusat) dengan ligan. Jika ada empat ligan yang berasal dari arah yang berbeda
berinteraksi langsung dengan atom pusat/ion logam, maka akan mendapatkan
pengaruh medan ligan lebih besar dibandingkan dengan orbital-orbital lainnya.
Bila pada ion kompleks diberikan energi dalam bentuk cahaya, maka elektron
pada orbital yang lebih rendah energinya dapat tereksitasi ke orbital yang lebih
tinggi

energinya.

Dengan

menyerap

cahaya

yang

energinya

sama.

Suatu larutan memiliki warna tertentu karena menyerap sebagian dari komponen
cahaya tampak. Makin kecil panjang gelombang cahaya yang diserap (makin
besar energinya) maka makin besar harga absorbansinya atau makin kuat ikatan
antara ion logam dan ligan. Ditinjau dari muatan ligannya, maka ion logam
dengan muatan yang lebih besar akan menghasilkan harga absorbansi yang lebih
besar pula karena lebih mudah mempolarisasikan elektron yang terdapat dalam
ligan.

Hampir semua senyawa senyawa kompleks mempunyai warna warna tertentu,


karena zat ini menyerap sinar di daerah tampak atau visible region. Sebab lebih

lanjut ialah karena energi sinar di daerah tampak cocok untuk promosi elektron
yang ada di orbital d, dari energi rendah ke energi tinggi. Besarnya energi untuk
promosi, yaitu , tergantung dari ion pusatnya dan tergantung dari jenis ligan.
Karena itu, senyawa kompleks mempunyai warna berbeda beda, misalnya
[Ti(H2O)6]3+ berwarna ungu sedang [Cu(H2O)6]2+ berwarna biru muda. Untuk
suatu

ion

pusat

warnanya

berbeda

bila

ligannya

berbeda,

misalnya

[Cu(H2O)6]2+ berwarna biru muda, tetapi [Cu(NH3)4(H2O)]2+ berwarna biru


tua.
Bila zat menyerap warna atau panjang gelombang tertentu dari sinar tampak, zat
tersebut akan meneruskan warna komplemennya, yang nampak pada mata kita
sebagai warna. Bila zat menyerap semua warna dari sinar tampak, zat tersebut
berwarna hitam. Sebaliknya bila zat sama sekali tidak menyerap warna dari sinar
tampak, zat tersebut berwarna putih.
Untuk suatu ion pusat, penggantian ligan dari ligan dengan medan lemah ke ligan
dengan medan kuat, akan memberikan yang semakin besar. Sinar yang diserap
panjang gelombangnya semakin pendek.
Di bawah ini dituliskan deret spektrokimia, yaitu daftar daftar ligan yang
disusun berdasarkan perbedaan energi yang dihasilkan dari yang kecil ke yang
besar.
I < Br < S2 < SCN < Cl < NO3 < N3 < F < OH < C2O42 < H2O <
NCS < CH3CN < py < NH3 < en < 2,2-bipiridina < phen < NO2 < PPh3 <
CN < CO (Zainal, 2012).

Ligan adalah spesies yang memiliki atom-atom yang dapat menyumbangkan


sepasang elektron pada ion logam pusat pada tempat tertentu dalam lengkung
koordinasi. Sehingga, ligan merupakan basa lewis dan ion logam adalah asam
lewis. Jika ligan hanya dapat menyumbangkan sepasang elektron (misalnya NH3
melalui atom N) disebut ligan unidentat. Ligan ini mungkin merupakan anion
monoatomik (tetapi bukan atom netral) seperti ion halida, anion poliatomik seperti

NO2-, molekul sederhana seperti NH3 atau molekul kompleks seperti piridin
C5H5N (Petrucci, 1987).
Teori medan kristal tentang senyawa koordinasi menjelaskan bahwa dalam
pembentukan kompleks terjadi interaksi elektrostatik antara ion logam (atom
pusat) dengan ligan. Jika ada enam ligan yang berasal dari arah yang berbeda,
berinteraksi dengan atom/ion logam pusat, langsung dengan ligan akan
mendapatkan pengaruh medan ligan lebih besar dibandingkan dengan orbitalorbital lainnya. Akibatnya, orbital tersebut akan mengalami peningkatan energi
dan kelima sub orbital d-nya akan terpecah (splitting) menjadi dua kelompok
tingkat energi. Kedua kelompok tersebut adalah : 1) Dua sub orbital (dx2-dy2, dan
dz2) yang disebut dy atau eg dengan tingkat energi yang lebih tinggi, dan 2) Tiga
su orbital (dxz, dxy, dan dyz) yang disebut de atau t2g dengan tingkat energi yang
lebih rendah. Perbedaan tingkat energi ini menunjukkan bahwa teori medan kristal
dapat menerangkan terjadinya perbedaan warna kompleks (Hala, 2008).
Kebanyakan ligan adalah anion atau molekul netral yang merupakan donor
elektron. Beberapa yang umum adalah F- , Cl- , Br- , CN- , NH3 , H2O, CH3OH,
dan OH- . Ligan seperti ini, bila menyumbangkan sepasang elektronnya kepada
sebuah atom logam, disebut ligan monodentat (ligan bergigi satu).
Ligan yang mengandung dua atau lebih atom, yang masing masing secara
serempak membentuk ikatan dua donor elektron kepada ion logam yang sama,
disebut ligan polidentat. Ligan ini juga disebut ligan khelat (dari bahasa Latin
untuk kuku atau cakar). Karena ligan ini tampaknya mencengkeram kation di
antara dua atau lebih atom donor. Yang termasuk ligan ini adalah ligan tri ,
kuadri , penta , dan heksadentat. Contoh dari ligan tridentat adalah dietilen
triamin.
Selain itu ada pula yang disebut ligan bidentat, ligan ini yang paling terkenal di
antara ligan polidentat. Ligan bidentat yang netral termasuk diantaranya anion

diamin, diofsin, dieter, dan -ketoenolat, dan yang paling terkenal adalah
etilendiamin, difos, dan glim.
Banyak senyawa kompleks yang digunakan didasarkan pada warna, kelarutan atau
perubahan perilaku kimiawi dari ion logam dan ligan ketika senyawa tersebut
membentuk kompleks.
Klorofil yang merupakan pigmen hijau di dalam tanaman adalah senyawa
kompleks yang mengandung magnesium. Tanaman berwarna hijau disebabkan
klorofil menyerap cahaya kuning dan memantulkan warna komplemennya yaitu
hijau. Energi yang diserap dari matahari digunakan untuk melakukan fotosintesis.
Senyawa kompleks yang dipakai sebagai zat warna lain misalnya kompleks
tembaga (II) Ftalosianin biru. Kompleks ini digunakan sebagai pigmen atau
pencelup kain dalam industri tekstil pada tinta biru, blue jeans, dan cat biru
tertentu.
Zat pengompleks tertentu sering digunakan untuk melunakkan air sadah sebab zat
tersebut dapat mengikat ion ion seperti Ca2+ , Mg2+ , dan Fe2+ yang
menjadikan air bersifat sadah. Zat pengompleks yang dapat mengikat ion ion
logam juga digunakan sebagai obat obatan. Ligan polidentat seperti enterobactin
yang diisolasi dari bakteri tertentu digunakan unttuk mengendalikan kadar besi
dalam darah pasien yang memiliki penyakit seperti anemia Cooley. Obat anti
kanker plationol seperti cis [Pt(NH3)2Cl2] adalah senyawa kompleks platinum
(II), merupakan zat aktif biologi dan dipercaya dapat memutuskan untai DNA,
sehingga suka campur tangan pada pembelahan sel (Haryadi,2012).

III. METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan

Adapun alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah 2 buah gelas ukur
10mL, 1 buah gelas kimia 100mL, 1 buah spatula, 2 buah tabung reaksi besar, 1
buah rak tabung reaksi, dan 3 buah pipet tetes dan penangas air atau hotplate.
Sedangkan bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah larutan
COCl3.6H2O 0,1 M, larutan NiCl2.6H2O 0,1 M dan larutan NH4OH 0,1 M.

3.2 Prosedur Percobaan


Adapun langkah-langkah yang dilakukan pada percobaan ini yaitu:

Tabung Reaksi

Memasukkan 2 mL larutan CoCl3.6H2O 0,1 M ke dalam


tabung reaksi. Kemudian mencatat warna larutan yang ada.
Secara perlahan memasukkan satu tetes larutan amonia ke
dalam tabung reaksi (jangan mengenai dinding tabung reaksi)
lalu mengguncang tabung secara perlahan dan hati hati,
kemudian mengamati apa yang terjadi.
Melanjutkan penambahan larutan amonia tetes yang kedua,
ketiga, keempat dan seterusnya dan setiap penambahan tetesan
amonia ini tabung reaksi diguncang perlahan dan mengamati
apa yang terjadi
Melakukan penambahan larutan amonia sampai tidak ada
perubahan warna larutan dalam tabung reaksi.

Penangas air

Hasil

Memanaskan tabung reaksi setelah langkah 4 dalam penangas


air yang sudah hampir mendidih selama 30 menit. Kemudian
mencatat hasil pengamatan pada setiap 2 menit pengamatan.
Melakukan kegiatan 1 sampai 5 untuk larutan NiCl2.6H2O
mencatat semua pengamatan anda.

IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

IV.1

Hasil Pengamatan

Berikut ini adalah hasil pengamatan yang diperoleh :

No. Perlakuan

Hasil Pengamatan

A
1

2 mL larutan CoCl3.6H2O 0,1 M Warnanya pink bening ( warna larutan


awal)

2 ml CoCl3.6H2O 0,1 M + 1 tetes Warna larutan pink bening dan belum


NH4OH
ada nya endapan
Tetes kedua

Tetes ketiga
Tetes keempat

Tetes kelima
3

Memanaskan tabung selama 30


menit,menit ke

Tidak terjadi perubahan sama seperti


penambahan 1 tetes NH4OH
Warna larutan pink bening dan ada
nya endapan
Warna larutan pink keruh dan
mengendap
Tidak terjadi perubahan sama seperti
tetes ke empat.
Warna larutan pink keruh,serta ada
nya gelembung disekitar diding
tabung

Ke Dua

Tidak terjadi perubahan sama seperti


dua menit pertama

Ke Empat

Warna larutan pink keruh dan


terbentuk endapan ungu

Ke Enam

Larutan berwarna pink bening dan


endapan berada didasar tabung

Ke Delapan

Ada nya endapan seperti gel didasar


larutanyang berwarna ungu

Ke Sepuluh

Larutan berwarna pink bening ( tidak


keruh ).

Ke Dua belas

Tidak ada perubahan hasil


pengamatan sama seperti menit ke
sepuluh

Ke empat belas

Tidak ada perubahan hasil


pengamatan sama seperti menit ke
sepuluh

Ke enam belas

Warna larutan pink bening dan


endapan didasar tabung reaksi
semakin banyak

Ke delapan belas

Warna larutan tetap pink bening dan


endapan semakin pekat serta berwarna
ungu muda

Ke dua puluh

Tidak terjadi perubahan hasil


pengamatan sama seperti menit ke
delapan belas

IV.2

Pembahasan

Percobaan ini dilakukan untuk memperkirakan rumus molekul senyawa


kompleks berdasarkan perubahan warna senyawa yang terbentuk. Langkah
pertama pada bagian A ialah memasukkan 2 mL larutan COCl 3.6H2O 0,1 M
ke dalam tabung reaksi. Warna dari larutan NiCl 2.6H2O 0,1 M Pink bening
(warna larutan awal ). Kemudian Secara perlahan memasukkan satu tetes

larutan amonia ke dalam tabung reaksi (jangan mengenai dinding tabung


reaksi) lalu mengguncang tabung secara perlahan dan hati hati. Langkah
selanjutnya adalah melanjutkan penambahan larutan amonia tetes yang
kedua, ketiga, keempat dan seterusnya dan setiap penambahan tetesan
amonia ini tabung reaksi diguncang perlahan. Setelah diamati ketika
penambahan 1 tetes Warna larutan pink bening dan belum ada nya endapan
Tetes kedua tidak ada perubahan sama seperti tetes pertama Tetes
ketiga Warna larutan pink bening dan ada nya endapan Tetes keempat
Warna larutan pink keruh dan mengendap tetes kelima Tidak terjadi
perubahan sama seperti tetes

ke empat.Perubahan warna setelah

penambahan beberapa tetes larutan amonia (NH3), dikarenakan hadirnya


ligan NH3 yang menyebabkan pemisahan (splitting) tingkat energi pada
orbital orbital yang ada pada senyawa NiCl 2.6H2O. Sehingga sinar sinar
tampak mengeksitasi elektron dari orbital d energi rendah ke orbital d energi
tinggi.
Penggantian ligan dari ligan dengan medan lemah ke ligan dengan medan
kuat, akan memberikan (selisih tingkat energi antara orbital d energi
rendah dengan orbital denergi tinggi) yang semakin besar. Hal ini
mengakibatkan sinar yang diserap panjang gelombangnya semakin pendek,
artinya warna komplemennya atau yang tampak oleh mata akan memudar
atau bahkan berubah tergantung dari ligannya. Ligan air (H2O) memiliki
energi 40,85 kkal/mol yang lebih rendah daripada amonia (NH3) yaitu 46,87
kkal/mol. Hal ini disebabkan oleh ligan H2O bersifat sebagai ligan lemah.
Ligan lemah dalam kompleks menyebabkan elektron memiliki spin tinggi
pada tingkat energi eg . Sedangkan ligan amonia (NH3) bersifat sebagai
ligan kuat. Amonia dalam kompleks menyebabkan elektron spin rendah
karena elektron dapat ditempatkan pada arah energi orbital sebagai elektron
berpasangan. Untuk menghindari adanya gaya tolak menolak antara dua
elektron dalam satu kamar maka diperlukan energi 10 Dq yang lebih besar.
Tidak ada interaksi dengan tingkat energi eg sehingga jarak kedua energi

tersebut lebih menjauh. Maka energi yang dimiliki seutuhnya berada pada
tingkat energi t2g sebagai energi 10 Dq.
Dengan demikian, ligan NH3 dipahami lebih kuat daripada ligan H2O,
sebanding dengan energi 10 Dq yang dimilikinya, berbanding terbalik
dengan panjang gelombang maksimum yang terabsorb. Penggantian ligan
H2O pada NiCl2 dengan ligan NH3menyebabkan perubahan warna dari pink
bening menjadi pink keruh. Sehingga dapat diperkirakan bahwa senyawa
kompleks yang terbentuk adalah [CO(NH3)6Cl3]. Langkah Selanjutnya
melakukan penambahan larutan amonia sampai tidak ada perubahan warna
larutan dalam tabung reaksi. Setelah itu, memanaskan tabung reaksi dalam
penangas air yang sudah hampir mendidih selama 30 menit. Pada saat
pemanasan berlangsung selama 2 menit Warna larutan pink keruh,serta ada
nya gelembung disekitar diding tabung.
Menit keempat Tidak terjadi perubahan sama seperti dua menit kedua, menit
keenam warna larutan pink keruh dan terbentuk endapan ungu,

menit

kedelapan larutan berwarna pink bening dan endapan berada didasar tabung,
menit kesepuluh Ada nya endapan seperti gel didasar larutanyang berwarna
ungu, larutan berwarna pink bening ( tidak keruh ). Menit kedua belas Tidak
ada perubahan hasil pengamatan sama seperti menit ke sepuluh, menit
keempat belas tidak ada perubahan hasil pengamatan sama seperti menit ke
sepuluh, menit keenam belas Warna larutan pink bening dan endapan
didasar tabung reaksi semakin banyak., menit kedelapan belas Warna larutan
tetap pink bening dan endapan semakin pekat serta berwarna ungu muda
Menit kedua puluh Tidak terjadi perubahan hasil pengamatan sama seperti
menit ke delapan belas, menit kedua puluh dua Tidak terjadi perubahan hasil
pengamatan sama seperti menit ke delapan belas, menit kedua puluh empat
Tidak terjadi perubahan hasil pengamatan sama seperti menit ke delapan
belas, menit kedua puluh enam Tidak terjadi perubahan hasil pengamatan
sama seperti menit ke delapan belas, menit kedua puluh delapan Warna

larutan pink bening endapan mengumpul didasar tabung reaksi serta


endapan nya berwarna ungu dan menit ketiga puluh Warna larutan pink
bening endapan mengumpul didasar tabung reaksi serta endapan nya
berwarna ungu Ada nya gelembung udara diatas dan di dinding tabung.
Timbulnya endapan, gelembung gas bahkan warna yang berubah adalah
bagian dari reaksi kembalinya ion kompleks yang terbentuk menjadi reaktan
atau pereaksi. Hal ini dikarenakan reaksi kompleks merupakan reaksi
kesetimbangan, dimana reaksi yang terjadi tidak pernah selesai. Sehingga,
ketika senyawa kompleks yang terbentuk dipanaskan dalam penangas air
maka reaktan atau pereaksinya akan terbentuk kembali.
Pembahasan untuk bagian kedua atau langkah kerja yang bagian B adalah :
Percobaan ini dilakukan untuk memperkirakan rumus molekul senyawa
kompleks berdasarkan perubahan warna senyawa yang terbentuk. Langkah
pertama ialah memasukkan 2 mL larutan NiCl2.6H2O 0,1 M ke dalam
tabung reaksi. Warna dari larutan NiCl2.6H2O 0,1 M adalah hijau bening.
Kemudian Secara perlahan memasukkan satu tetes larutan amonia ke
dalam tabung reaksi (jangan mengenai dinding tabung reaksi) lalu
mengguncang tabung secara perlahan dan hati hati. Langkah selanjutnya
adalah melanjutkan penambahan larutan amonia tetes yang kedua, ketiga,
keempat dan seterusnya dan setiap penambahan tetesan amonia ini tabung
reaksi diguncang perlahan.
Setelah diamati ketika penambahan 1 5 tetes larutan amonia hasil
pengamatan nya adalah sebagai berikut warna larutan lebih bening dari
larutan awal, warna hijau lebih muda dari tetesan pertama, warna hijau lebih
muda dari tetesan kedua, warna hijau lebih muda dari tetesan ketiga dan
warna hijau lebih muda dari tetesan keempat.
Perubahan warna setelah penambahan beberapa tetes larutan amonia (NH3),
dikarenakan hadirnya ligan NH3 yang menyebabkan pemisahan (splitting)
tingkat energi pada orbital orbital yang ada pada senyawa NiCl2.6H2O.

Sehingga sinar sinar tampak mengeksitasi elektron dari orbital d energi


rendah ke orbital d energi tinggi.
Penggantian ligan dari ligan dengan medan lemah ke ligan dengan medan
kuat, akan memberikan (selisih tingkat energi antara orbital d energi
rendah dengan orbital denergi tinggi) yang semakin besar. Hal ini
mengakibatkan sinar yang diserap panjang gelombangnya semakin pendek,
artinya warna komplemennya atau yang tampak oleh mata akan memudar
atau bahkan berubah tergantung dari ligannya. Ligan air (H2O) memiliki
energi 40,85 kkal/mol yang lebih rendah daripada amonia (NH 3) yaitu 46,87
kkal/mol. Hal ini disebabkan oleh ligan H2O bersifat sebagai ligan lemah.
Ligan lemah dalam kompleks menyebabkan elektron memiliki spin tinggi
pada tingkat energi eg . Sedangkan ligan amonia (NH3) bersifat sebagai
ligan kuat. Amonia dalam kompleks menyebabkan elektron spin rendah
karena elektron dapat ditempatkan pada arah energi orbital t2g sebagai
elektron berpasangan. Untuk menghindari adanya gaya tolak menolak antara
dua elektron dalam satu kamar maka diperlukan energi 10 Dq yang lebih
besar. Tidak ada interaksi dengan tingkat energi eg sehingga jarak kedua
energi tersebut lebih menjauh. Maka energi yang dimiliki seutuhnya berada
pada tingkat energi t2g sebagai energi 10 Dq.
Dengan demikian, ligan NH3 dipahami lebih kuat daripada ligan H2O,
sebanding dengan energi 10 Dq yang dimilikinya, berbanding terbalik
dengan panjang gelombang maksimum yang terabsorb. Penggantian ligan
H2O pada NiCl2 dengan ligan NH3 menyebabkan perubahan warna dari
hijau bening menjadi hijau lebih muda. Sehingga dapat diperkirakan bahwa
senyawa

kompleks

yang

terbentuk

adalah

[Ni(NH 3)6Cl2]. Langkah

Selanjutnya melakukan penambahan larutan amonia sampai tidak ada


perubahan warna larutan dalam tabung reaksi. Setelah itu, memanaskan
tabung reaksi dalam penangas air yang sudah hampir mendidih selama 30
menit.Hasil pengamatan untuk pemanasan dari dua menit pertama sampai
tiga puluh menit adalah warna hijau bening, warna tetap hijau bening,

warna larutan hijau bening dan mulai terbentuk endapan, pada bagian atas
larutan berwarna hijau tua dan pada bagian bawah berwarna hijau muda dan
terbentuk endapan, tetap sama seperti menit kedelapan, tetap sama dan
endapan turun kelapisan bawah larutan, warna hijau mulai berkurang dan
endapan tetap ada, tetap sama seperti menit sebelum nya, tetap sama, tetap
sama, tetap sama, tetap sama, tetap sama dan tetap sama pula.
Timbulnya endapan, gelembung gas bahkan warna yang berubah adalah
bagian dari reaksi kembalinya ion kompleks yang terbentuk menjadi reaktan
atau pereaksi. Hal ini dikarenakan reaksi kompleks merupakan reaksi
kesetimbangan, dimana reaksi yang terjadi tidak pernah selesai. Sehingga,
ketika senyawa kompleks yang terbentuk dipanaskan dalam penangas air
maka reaktan atau pereaksinya akan terbentuk kembali.
Persamaan reaksi yang mungkin terjadi dalam semua percobaan adalah :
Pada bagian A
COCl3.6H2O + 6NH3 [ Ni(NH3)6Cl3 ] + 6H2O
Pada bagian B
NiCl2.6H2O + 6NH3 [ Ni(NH3)6Cl2 ] + 6H2O
Reaksi di atas tidak berlangsung sekaligus tetapi bertahap, adapun tahapan
yang terjadi adalah sebagai berikut :
Reaksi pada tahap bagian A
Tahap 1
Tahap 2
Tahap 3
Tahap 4
Tahap 5
Tahap 6

: COCl3.6H2O + NH3 [Ni(NH3)(H2O)5Cl3] + H2O


: [CO(NH3)(H2O)5Cl3] + NH3 [Ni(NH3)2(H2O)4Cl2] + H2O
: [CO(NH3)2(H2O)4Cl3] + NH3 [CO(NH3)3(H2O)3Cl3] +H2O
: [CO(NH3)3(H2O)3Cl3] + NH3 [CO(NH3)4(H2O)2Cl3] + H2O
: [CO(NH3)4(H2O)2Cl3] + NH3 [Ni(NH3)5(H2O)Cl2] + H2O
: [CO(NH3)5(H2O)Cl3] + NH3 [CO(NH3)6Cl2] + H2O

Jika keenam tahap tersebut dijumlahkan akan diperoleh persamaan reaksi :


COCl2.6H2O + 6NH3

[ CO(NH3)6Cl3 ] + 6H2O

Reaksi pada tahap bagian B

Persamaan reaksi yang mungkin terjadi dalam semua percobaan adalah :


NiCl2.6H2O + 6NH3

[ Ni(NH3)6Cl2 ] + 6H2O

Reaksi di atas tidak berlangsung sekaligus tetapi bertahap, adapun tahapan


yang terjadi adalah sebagai berikut :
Tahap 1
Tahap 2
Tahap 3
Tahap 4
Tahap 5
Tahap 6

: NiCl2.6H2O + NH3 [Ni(NH3)(H2O)5Cl2] + H2O


: [Ni(NH3)(H2O)5Cl2] + NH3 [Ni(NH3)2(H2O)4Cl2] + H2O
: [Ni(NH3)2(H2O)4Cl2] + NH3 [Ni(NH3)3(H2O)3Cl2] + H2O
: [Ni(NH3)3(H2O)3Cl2] + NH3 [Ni(NH3)4(H2O)2Cl2] + H2O
: [Ni(NH3)4(H2O)2Cl2] + NH3 [Ni(NH3)5(H2O)Cl2] + H2O
: [Ni(NH3)5(H2O)Cl2] + NH3 [Ni(NH3)6Cl2] + H2O

Jika keenam tahap tersebut dijumlahkan akan diperoleh persamaan reaksi :


NiCl2.6H2O + 6NH3 [ Ni(NH3)6Cl2 ] + 6H2O
Warna larutan dalam tabung berubah setelah tabung dipanaskan dalam
penangas air karena ketika dipanaskan dalam larutan terjadi proses
kembalinya ion kompleks yang terbentuk menjadi reaktan atau pereaksi
karena reaksi yang terjadi merupakan reaksi kesetimbangan
(http://kimiamurungrayacerdas.blogspot.co.id/ 2013/04/laporan-praktikumanorganik-ii.html).

V. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang dapat diperoleh yaitu:


1. Hampir semua senyawa senyawa kompleks mempunyai warna warna
tertentu, karena zat ini menyerap sinar di daerah tampak atau visible region.

Warna yang tampak ialah warna yang dipantulkan atau perpaduan dari warna
warna yang dipantulkan. Dengan begitu, kita dapat memperkirakan rumus
molekul senyawa kompleks berdasarkan perubahan warna senyawa yang
terbentuk.
2. Reaksi pada senyawa kompleks merupakan reaksi kesetimbangan, sehingga
reaksinya tidak akan pernah selesai, akibatnya jika kita memanaskan senyawa
kompleks yang terbentuk, hal ini akan membentuk reaktan atau pereaksinya
kembali.
3. Banyak senyawa kompleks yang digunakan didasarkan pada warna, kelarutan
atau perubahan perilaku kimiawi dari ion logam dan ligan ketika senyawa
tersebut membentuk kompleks. Misalnya, tembaga (II) Ftalosianin biru.
Kompleks ini digunakan sebagai pencelup kain dalam industri tekstil.
4. Ion-ion dari unsur logam transisi memiliki orbital-orbital kosong yang dapat
menerima pasangan electron pada pembentukan ikatan dengan molekul atau
anion tertentu membentuk ion kompleks.
5. Dalam ion kompleks, kation logam unsur transisi dinamakan atom pusat, dan
anion atau molekul netral terikat pada atom pusat dinamakan ligan.

DAFTAR PUSTAKA

Chang, Raymond. 2004. Kimia Dasar. Jakarta. Erlangga.


Fasihah,Novita sari. 2015. Pengaruh Ligan Terhadap Warna Ion. Diunduh pada
http://novitafasihah10.blogspot.co.id/2015/04/pengaruh-ligan-terhadapwarna-ion.html tanggal 08 Desember 2015 pukul 12.30 WIB.

Hala S. Saad El-Dein, Ali Usama F. 2008. Production and Partial Purification of
Cellulase Complex by Aspergillus niger and A. nidulans Grown on Water
Hyacinth Blend. Journal of Applied Sciences Research, 4(7): 875-891.
Haryadi. 2012. Laporan Praktikum Senyawa Kompleks. Diunduh pada
http://haryadikimia.blogspot.co.id/2012/10/laporan-praktikum-senyawakompleks.html tanggal 13 November 2015 pukul 17.00 WIB
Petrucci, H. Ralph dan Suminar. 1987. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern.
Jakarta: Erlangga
Saputra,

Ryan.

2013.

Laporan

Praktikum

Anorganik.

Diunduh

pada

http://kimiamurungrayacerdas.blogspot.co.id/2013/04/laporanpraktikum-anorganik-ii.html

tanggal

13

Desember

2015

pukul

17.00WIB.
Vogel.1979. Analisis Anorganik Kuantitatif Makro dan Semi Mikro. Jakarta:
PT.Kalman Mdia Pustaka.
Zainal, Karim. 2012. Kekuatan Medan Ligan. Diunduh pada http://mrnarchives.blogspot.co.id/2012/06/kekuatan-medan-ligan.html tanggal 08
Desember 2015 pukul 12.30 WIB.

LAMPIRAN

PERTANYAAN PRAKTIKUM

Jelaskan apa yang dimaksud dengan:


1.
2.
3.
4.

Atom pusat
Ligan
Bilangan koordinasi
Ligan monodentat

5. Ligan polidentat
Jawab:
1. Pada pembentukan senyawa kompleks netral atau senyawa kompleks
ionik, atom logam dan ion logam disebut sebagai atom pusat, sedangkan
atom yang mendonorkan elektronnya ke atom pusat disebit atomdonor.
Atom donor dapat berupa suatu ion atau molekul netral. Ion atau molekul
netral yang memiliki atom-atom donor yang dikoordinasikan pada atom
pusat disebut ligan
2. Ion atau molekul netral yang memiliki atom-atom donor yang
dikoordinasikan pada atom pusat disebut ligan.
3. Bilangan koordinasi adalah bilangan yang menyatakan banyaknya jumlah
pasangan elektron ligan yang digunakan dalam membentuk ikatan dengan
atom pusatnya.
4. Ligan monodentat adalah ligan yang jumlah atom donornya memiliki satu
pasang elektron bebas atau mendonorkan satu pasang elektron, contohnya
H2O dan NH3.
5. Ligan polidentat sering disebut sebagai agen chelat yaitu suatu ligan yang
mampu mencengkram kation logam transisi dengan kuat.