Anda di halaman 1dari 30

PROPOSAL PENELITIAN

HUBUNGAN KINERJA KEPALA DESA DENGAN APARAT


DI KABUPATEN ENREKANG

Disusun Oleh :

M AH YU D D I N
NPM : 43101113
PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN
SEKOLAH TINGGI ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK (STISIP)
MUHAMMADIYAH RAPPANG

Halaman Pengesahan
PROPOSAL PENELITIAN

HUBUNGAN KINERJA KEPALA DESA DENGAN APARAT


DI KABUPATEN ENREKANG

Disusun Oleh :
M AH YU D D I N
NPM : 43101113

Enrekang, 10 November 2014


Dosen Pembimbing I

Dosen Pembimbing II

Hj. Andi Astinah Adnan, S.S., S.Pd., M.Si

Kamaruddin Sellang, S.Sos

Ketua Program Studi

Muh. Rohady Ramadhan, S.I.P., M.Si


DAFTAR ISI

Daftar Isi ..ii


BAB I
PENDAHULUAN

A.
B.
C.
D.
E.

Latar Belakang ..1


Rumusan Masalah .3
Tujuan Penelitian ......4
Manfaat Penelitian ...4
Metode Penelitian .5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.

Pengertian Kinerja .....8


Kepala Desa .10
Tugas Kepala Desa ..12
Pengertian Aparat ....15
Tugas dan Kewajiban Aparat ..17
Hubungan Kepala Desa Dengan Aparat ..21
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja .22
BAB III
METODE PENELITIAN

A.
B.
C.
D.
E.
F.

Lokasi Penelitian .26


Jenis Penelitian ....26
Populasi dan Sample ...27
Teknik Pengumpulan Data ..27
Teknik Analisis Data ..30
Defenisi Operasional Variabel ....31
DAFTAR PUSTAKA 34
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Indonesia merupakan suatu negara yang sangat luas. Wilayah Indonesia terbentang
dari sabang sampai merauke. Menurut pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan bahwa negara Indonesia adalah Negara
Kesatuan yang berbentuk Republik. Dengan istilah Negara Kesatuan itu dimaksud, bahwa
susunan negaranya hanya terdiri dari satu negara saja dan tidak dikenal adanya negara di
dalam Negara seperti halnya pada negara federal.
Wilayah negara Republik Indonesia sangat luas meliputi banyak kepulauan yang
besar dan kecil, maka tidak memungkinkan jika segala sesuatunya akan diurus seluruhnya
oleh Pemerintah yang berkedudukan di Ibukota Negara. Untuk mengurus penyelenggaraan
pemerintahan negara sampai kepada seluruh pelosok daerah negara, maka perlu dibentuk

suatu pemerintahan daerah. Pemerintahan daerah menyelenggarakan pemerintahan yang


secara langsung berhubungan dengan masyarakat (HR, Syaukani, 2005:21).
Kedudukan pemerintah daerah bertingkat-tingkat, ada yang tingkatannya di atas
pemerintah daerah lainnya dan ada yang tingkatannya di bawahnya, sehingga suatu
pemerintah daerah dapat meliputi beberapa pemerintahah daerah bawahan. Antara pemerintah
daerah yang satu dengan yang lainnya terdapat pembagian wilayah yang menentukan pula
batas wewenang masing-masing. Dengan demikian maka seluruh wilayah negara tersusun
secara vertikal dan horizontal. Pemerintah daerah administratif dibentuk karena pemerintah
pusat tidak mungkin dapat menyelenggarakan urusan pemerintahan negara seluruhnya dari
pusat sendiri. Untuk itu, maka perlu dibentuk pemerintahan di daerah yang akan
menyelenggarakan segala urusan pusat di daerah. Pemerintah daerah ini merupakan wakil
dari pemerintah pusat dan tugasnya menyelenggarakan pemerintahan di daerah atas perintahperintah atau petunjuk-petunjuk pemerintah pusat. Oleh karena itu tugasnya hanya sebagai
penyelenggara administratif saja, sehingga pemerintah daerahnya disebut Pemerintah Daerah
Administratif.
Setelah Undang-Undang Dasar 1945 diamandemen hingga empat kali sejak 1999
sampai dengan 2002, konsep negara kesatuan yang selama orde baru dipraktekkan secara
sentralistis berubah menjadi desentralistis. Otonomi daerah yang luas menjadi pilihan solusi
diantara tarikan tuntutan mempertahankan negara kesatuan atau berubah menjadi Negara
federal. Perubahan lain yang penting adalah pemberian hak kepada daerah untuk menetapkan
peraturan daerah dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas
pembantuan (Nimatul Huda, 2009:13).
Salah satunya yang memiliki otonomi adalah desa. Desa merupakan pembagian
wilayah administratif di Indonesia di bawah kecamatan yang dipimpin oleh kepala desa.
Terbentuknya desa diawali dengan terbentuknya kelompok masyarakat akibat sifat manusia
sebagai makhluk sosial, dorongan kodrat, atau sekeliling manusia, kepentingan yang sama
dan bahaya dari luar.
Istilah desa berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya tanah tumpah darah, dan
perkataan desa hanya dipakai di daerah Jawa dan Madura, sedang daerah lain pada saat itu
(sebelum masuknya Belanda) namanya berbeda seperti gampong dan meunasah di Aceh, huta
di

Batak,

nagari

di

Sumatera

Barat

dan

lain

sebagainya

(http://www.cari-

ilmuonline.com/sofa/pemdes/index.php, 27 Mei 2009, pukul 19.30 WIB).


Desa merupakan suatu wilayah diberi wewenang untuk mengatur wilayahnya sendiri.
Desa merupakan suatu kenyataan yang masih hidup sebagai daerah tingkat bawahan

berdasarkan hukum. Pemerintahan desa dilakukan atas dasar demokrasi yang berpangkal
pada permufakatan dalam permusyawaratan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan
(http://www.desa-tamblang. blogspot.com/desa/index.php, 28 Mei 2009, pukul 20.00 WIB)
Penyelenggaraan pemerintahan desa merupakan subsistem dari system penyelenggaraan
pemerintahan, sehingga desa memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus
kepentingan masyarakatnya. Kepala desa dalam hal ini bertanggung jawab kepada Badan
Permusyawaratan Desa dan menyampaikan laporan pelaksanaan tersebut kepada bupati.
Desa dapat melakukan perbuatan hukum, baik hukum publik maupun hukum perdata,
memiliki kekayaan, harta benda dan bangunan serta dapat dituntut dan menuntut di
pengadilan. Untuk itu, kepala desa dengan persetujuan Badan Permusyawaratan Desa
mempunyai wewenang untuk melakukan perbuatan hukum dan mengadakan perjanjian yang
saling menguntungkan.
Secara historis desa merupakan cikal bakal terbentuknya masyarakat politik dan
pemerintahan di Indonesia jauh sebelum negara-bangsa ini terbentuk. Suktur sosial sejenis
desa, masyarakat adat dan lain sebagainya telah menjadi institusi sosial yang mempunyai
posisi yang sangat penting. Desa merupakan institusi yang otonom dengan tradisi, adat
istiadat dan hukumnya serta relative mandiri. Hal ini ditunjukkan dengan tingkat keragaman
yang tinggi membuat desa mungkin merupakan wujud bangsa yang paling kongkret (HAW,
Wijaya, 2003:9).
Sejalan dengan kehadiran negara modern, kemandirian dan kemampuan masyarakat
desa mulai berkurang. Kondisi ini sangat kuat terlihat pada masa orde baru yang melakukan
sentralisasi, birokratisasi dan penyeragaman pemerintahan desa. Pemerintahan desa terdiri
atas kepala desa dan aparat/perangkat desa.
Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk mengambil judul
skripsi:

HUBUNGAN

KINERJA

KEPALA

DESA

DENGAN

APARAT

DI

KABUPATEN ENREKANG .
B. RUMUSAN MASALAH
Perumusan masalah diperlukan untuk mengidentifikasi persoalan yang diteliti secara
jelas dan mempermudah pelaksanaan penelitian serta dapat menjadi pedoman bagi tujuan dan
manfaat penelitian dalam rangka mencapai kualitas penelitian yang diharapkan.
Berdasarkan hal tersebut, maka rumusan masalah yang dikaji dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut :
a.

Bagaimana kedudukan dan peran serta Aparat dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa?

b.

Bagaimana hubungan antara Pemerintah Desa dengan Aparat dalam Penyelenggaraan

Pemerintahan Desa?
c. Kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam hubungan antara Kepala Desa dan Aparat?
C. TUJUAN PENELITIAN
1. Tujuan Subyektif
a. Untuk menambah pengetahuan dan wawasan penulis khususnya untuk mengetahui hubungan
dan peran serta Pemerintah Desa dan Aparat dalam pemerintahan desa;
b. Untuk menambah pemahaman dan pengembangan serta kesesuaian antara teori dan
c.

kenyataan yang terjadi dalam praktek kehidupan.


Untuk mengetahui masalah atau hambatan yang dihadapi dalam menjalankan roda
pemerintahan desa dan bagaimana mencari solusi dari masalah yang ditemukan.
2. Tujuan Obyektif

a. Untuk mengetahui kedudukan dan peran serta Aparat dalam penyelenggaraan Pemerintahan
Desa;
b. Untuk mengetahui hubungan antara Pemerintah Desa dengan Aparat dalam penyelenggaraan
pemerintahan desa;
c. Untuk mengetahui hambatan-hambatan yang di alami oleh masing-masing pihak dan cara
menyelesaikannya.
D. MANFAAT PENELITIAN
1. Manfaat Teoritis
a.

Memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu hukum pada umumnya, dan
pengetahuan dibidang Hukum Tata Negara pada khususnya mengenai penyelenggaraan

pemerintahan desa oleh Pemerintah Desa dan Aparat;


b. Dapat bermanfaat juga selain sebagai informasi juga sebagai literature atau bahan informasi
ilmiah yang digunakan untuk mengembangkan teori yang sudah ada dalam bidang Hukum
Tata Negara.
2. Manfaat Praktis
a.
b.
c.
d.

Untuk memberikan jawaban atas masalah yang diteliti;


Sebagai suatu sarana untuk menambah wawasan bagi para pembaca;
Mengenai penyelenggaraan pemerintahan desa oleh Pemerintah Desa dan Aparat;
Untuk memberikan tambahan pengetahuan bagi para pihak yang terkait dan sebagai bahan
informasi dalam kaitannya dengan perimbangan yang menyangkut masalah ini.
E. METODE PENELITIAN
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian sebagai berikut :

1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang. Pemilihan


lokasi penelitian ini di dasarkan atas pertimbangan:
1.

Hubungan antara kepala desa dengan aparat dalam penyelenggaraan pemerintahan

2.

khususnya di kecamatan alla yang selama ini banyak menimbulkan polemik di masyarakat.
Performa kinerja kepala desa dan aparat kurang maksimal disebabkan kurangnya kerja sama

para penyelenggara pemerintah desa.


2. Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah
penelitian yang berupaya mengungkapkan suatu masalah dan keadaan sebagaimana adanya,
untuk itu peneliti dibatasi hanya mengungkapkan fakta-fakta dan tidak menggunakan
hipotesa (Moleong, 2006:11). Penelitian deskriptif bertujuan untuk menggambarkan secara
tepat sifat-sifat individu dan keadaan sosial yang timbul dalam masyarakat khususnya
penyelenggara pemerintah desa untuk dijadikan sebagai obyek penelitian.
3. Populasi dan Sampel
Teknik pengambilan responden adalah secara purposive sesuai dengan tujuan penelitian.
Sumber Data
a.

b.

Data Primer
Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari responden baik melalui wawancara,
observasi maupun dokumentasi.
Data Sekunder
Data Sekunder yaitu data yang diperoleh dengan membaca buku literatur-literatur,dokumen

resmi, peraturan perundangan yang berkaitan.


4. Teknik Pengumpulan Data
Data adalah sesuatu yang belum mempunyai arti bagi penerimanya dan masih
memerlukan adanya suatu pengolahan. Data bisa berwujud suatu keadaan, gambar, suara,
huruf, angka, matematika, bahasa ataupun simbol-simbol lainnya yang bisa kita gunakan
sebagai bahan untuk melihat lingkungan, obyek, kejadian ataupun suatu konsep.
Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam
rangka mencapai tujuan penelitian. Tujuan yang diungkapkan dalam bentuk hipotesis
merupakan jawaban sementara terhadap pertanyaan penelitian.
5. Teknik Analisis Data
Analisa data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikan ke dalam suatu
pola, kategorisasi, dan satuan uraian dasar. Mengingat data yang terkumpul adalah data
kuantitatif, maka dalam mengolah data dan menganalisisnya peneliti menggunakan analisis
data kuantitatif.
Ada tiga komponen pokok dalam tahapan analisa data yaitu:

a.

Data Reduction merupakan proses seleksi, pemfokusan, penyederhanaan dan abstraksi data
kasar yang ada dalam field note. Reduksi data dilakukan selama penelitian berlangsung,
hasilnya data dapat disederhanakan dan ditransformasikan melalui seleksi ketat, ringkasan

b.

serta penggolongan dalam suatu pola.


Data Display adalah rakitan organisasi informasi yang memungkinkan kesimpulan riset yang
dilakukan, sehingga peneliti akan mudah memahami apa yang terjadi dan apa yang harus

c.

dilakukan.
Conclution Drawing dari awal pengumpulan data peneliti harus mengerti apa arti hal-hal
yang ditelitinya, dengan catatan peraturan, pola-pola, pernyataan konfigurasi yang mapan dan
arahan sebab akibat sehingga memudahkan dalam pengambilan kesimpulan (HB Sutopo,
1998:37).
Dari penjelasan di atas, maka penulis menganalisis data serta teori-teori yang telah
ada untuk kemudian dihubungkan dengan ketentuan-ketentuan mengenai penyelenggaraan
pemerintahan desa, kemudian menjawab pertanyaan mengenai bagaimanakah hubungan dan
peran serta Pemerintah Desa dengan Aparat dalam penyelenggaraan pemerintahan desa.

6. Defenisis Operasional Variabel


Definisi operasional adalah suatu unsur penelitian yang memberitahukan bagaimana
cara mengukur suatu variabel. Sedangkan arti dari variabel itu sendiri adalah suatu
karakteristik yang mempunyai variasi nilai atau ukuran.
Untuk menggambarkan dinamika hubungan Kepala Desa dengan Aparat dapat dilihat
1.

dari indikator sebagai berikut :


Kegiatan yang dilakukan oleh Kepala Desa dan Aparat dalam penyelenggaraan pemerintahan

2.

desa.
Penggunaan kekuasaan yang dimiliki oleh Kepala Desa dan Aparat dalam penyelenggaraan

3.

pemerintahan desa.
Penyesuaian diri yang dilakukan oleh Kepala Desa dan Aparat dalam penyelenggaraan
pemerintahan desa.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. PENGERTIAN KINERJA
Kinerja dalam sebuah organisasi merupakan salah satu unsur yang tidak dapat
dipisahkan dalam menjalankan tugas organisasi, baik itu dalam lembaga pemerintahan
maupun swasta. Kinerja berasal dari bahasa job performance atau actual perpormance
(prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang atau suatu institusi).
Pengertian kinerja menurut Sulistiyani (2003,223), kinerja seseorang merupakan
kombinasi dari kemampuan, usaha, dan kesempatan yang dapat dinilai dari hasil kerjanya.
Sedangkan menurut Bernardin dan Russel dalam Sulistiyani (2003,223-224) menyatakan
bahwa kinerja merupakan catatan outcome yang dihasilkan dari fungsi pegawai tertentu atau
kegiatan yang dilakukan selama periode waktu tertentu.
Kinerja adalah penentuan secara periodik efektivitas operasional organisasi, bagian
organisasi dan karyawannya berdasarkan sasaran, standar dan kriteria yang telah ditetapkan
sebelumnya (Srimindarti, 2006).
Simamora (1997) mengemukakan bahwa kinerja karyawan adalah tingkatan dimana
para karyawan mencapai persyaratan-persyaratan pekerjaan. Sedangkan Suprihanto (dalam
Srimulyo,1999 : 33) mengatakan bahwa kinerja atau prestasi kinerja seorang karyawan pada
dasarnya adalah hasil kerja seseorang karyawan selama periode tertentu dibandingkan dengan
kemungkinan, misalnya standar, target atau sasaran atau kinerja yang telah ditentukan
terlebih dahulu dan telah disepakati bersama.
Kinerja mengacu pada prestasi karyawan yang diukur berdasarkan standar atau
kriteria yang ditetapkan perusahan. Pengertian kinerja atau prestasi kerja diberi batasan oleh
Maier (dalam Moh Asad, 2003) sebagai kesuksesan seseorang di dalam melaksanakan suatu
pekerjaan. Lebih tegas lagi Lawler and Poter menyatakan bahwa kinerja adalah "succesfull
role achievement" yang diperoleh seseorang dari perbuatan-perbuatannya (Moh Asad, 2003).
Kinerja sebagai hasil-hasil fungsi pekerjaan/kegiatan seseorang atau kelompok dalam
suatu organisasi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor untuk mencapai tujuan organisasi
dalam periode waktu tertentu (Tika, 2006).
Menurut Rivai dan Basri (2005) pengertian kinerja adalah kesediaan seseorang atau
kelompok orang untuk melakukan sesuatu kegiatan dan menyempurnakannya sesuai dengan
tanggung jawab dengan hasil seperti yang diharapkan.

Menurut Bambang Guritno dan Waridin (2005) kinerja merupakan perbandingan hasil
kerja yang dicapai oleh karyawan dengan standar yang telah ditentukan. Sedangkan menurut
Hakim (2006) mendefinisikan kinerja sebagai hasil kerja yang dicapai oleh individu yang
disesuaikan dengan peran atau tugas individu tersebut dalam suatu perusahaan pada suatu
periode waktu tertentu, yang dihubungkan dengan suatu ukuran nilai atau standar tertentu
dari perusahaan dimana individu tersebut bekerja. Kinerja merupakan perbandingan hasil
kerja yang dicapai oleh pegawai dengan standar yang telah ditentukan (Masrukhin dan
Waridin, 2006).
Kamus bahasa Indonesia. Berikut pengertian kinerja Menurut Awar Prabu Mangku
Negara dalam bukunya yang berjudul evaluasi kinerja sumber daya manusia, kinerja sumber
daya manusia adalah prestasi kerja atau hasil kerja output baik kualitas maupun kuantitas
yang dicapai dalam persatuan periode waktu dalam melaksanakan tugas kerjanya sesuai
dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. (Mangku Negara 2005:9)
Berhasil tidaknya tujuan dan cita-cita dalam organisasi pemerinthan tergantung
bagaimana proses kinerja itu dilaksanakan. kinerja tidak lepas dari faktor-faktor yang
mempengaruhi. Berikut faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja sebagaimana yang
dikemukakan oleh Keith Davis dalam buku Anwar Prabu Mangku Negara.

1. Faktor Kemampuan Ability


Secara psikologis, kemampuan ability terdiri dari kemampuan potensi IQ dan
kemampuan reality knowledge+skill. Artinya pimpinan dan karyawan yang memiliki IQ
superior, very superior, gifted dan genius dengan pendidikan yang memadai untuk jabatan
dan terampil dalam menjalankan pekerjaan sehari-hari
maka akan mudah menjalankan kinerja maksimal.
2. Faktor motivasi Motivation
Motivasi diartiakan sebagai suatu sikap attitude piminan dan karyawan terhadap
situasi kerja situation dilingkungan organisasinya. Mereka yang bersikap positif fro terhadap
situasi kerjanya akan menunjukan motivasi kerja tinggi dan sebaliknya jika mereka berpikir
negatif kontra terhadap situasi kerjanya akan menunjukan pada motivasi kerja yang rendah.
Situasi yang dimaksud meliputi hubungan kerja, fasilitas kerja, iklim kerja, kebijakan
pimpinan, pola kepemimpinan kerja dan kondisi kerja. (Mangku Negara 2005:13)
Berdasarkan pengertian diatas bahwa suatu kinerja dipengaruhi oleh beberapa faktor
pendukung dan penghambat berjalannya suatu pencapaian kinerja yang maksimal faktor

tersebut meliputi faktor yang berasal dari intern maunpun ekstern. Dalam menilai kinerja
apakah sudah berjalan dengan yang direncanakan perlu diadakan suatu evaluasi kinerja
sebagai mana yang dikemukakan oleh Andrew E. Sikula dalam buku Anwar Prabu Mangku
Negara.
Disamping itu juga untuk menentukan kebutuhan pelatihan kerja dengan tepat dan
memberikan tanggung jawab kepada pegawai atau organisasi sehingga dapat meningkatkan
kinerjanya dimasa yang akan datang.
B.

KEPALA DESA
Kepala Desa adalah penyelenggara pemerintahan di desa yang dipilih langsung oleh
dan dari penduduk desa warga Negara Republik Indonesia yang syarat selanjutnya dan tata
cara pemilihannya diatur dengan Perda yang berpedoman kepada peraturan pemerintah. Masa
jabatan Kepala Desa adalah 6 (enam) tahun dan dapat dipilih kembali hanya untuk 1 (satu)
kali masa jabatan berikutnya. Kepala Desa terpilih dilantik oleh Bupati/Walikota paling
lambat 30 (tiga puluh) hari setelah pemilihan. Sebelum memangku jabatannya, kepala desa
mengucapakan

sumpah/janji.

Kepala

Desa

merupakan

pimpinan

penyelengaraan

pemerintahan desa berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama Badan Permusyawaratan


Desa (BPD).
Pemilihan Kepala Desa dalam kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak
tradisionalnya sepanjang masih hidup dan diakui keberadaannya berlaku ketentuan hukum
adat setempat, yang diterapkan dalam Peraturan Daerah dengan berpedoman pada Peraturan
Pemerintah. Kepala Desa pada dasarnya bertanggungjawab kepada rakyat desa yang prosedur
pertanggungjawabannya disampaikan kepada Bupati/Walikota melalui Camat. Kepada BPD,
Kepala Desa wajib memberikan keterangan laporan pertanggungjawaban dan kepada rakyat
menyampaikan informasi pokok-pokok pertanggungjawabannya, namun tetap memberikan
peluang kepada masyarakat melalui BPD untuk menanyakan dan/atau meminta keterangan
lebih lanjut hal-hal yang bertalian dengan pertanggungjawaban dimaksud.
-

Pengertian Desa
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 Desa adalah kesatuan
masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan
mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat
yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 juga mengatur
mengenai :

1. pembentukan desa
Desa dibentuk atas prakarsa masyarakat dengan memperhatikan asal-usul desa dan
kondisi sosial budaya masyarakat setempat.
2. syarat pembentukan
Pembentukan desa harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a)
b)
c)
d)
e)
3.

jumlah penduduk;
luas wilayah;
bagian wilayah kerja;
perangkat; dan
sarana dan prasarana pemerintahan.
kewenangan desa
Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan desa mencakup :

b) Urusan pemerintahan yang sudah ada berdasarkan hak asalusul desa;


c) Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan kabupaten / kota yang diserahkan
pengaturannya kepada desa;
d) Tugas pembantuan dari Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten / Kota;
dan
e) Urusan pemerintahan lainnya yang oleh peraturan perundangundangan diserahkan kepada
-

desa.
Pengertian Pemerintahan Desa
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 Pemerintahan desa adalah
penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan
Desa dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul
dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
Pemerintahan desa terdiri dari Pemerintah desa dan BPD. Hal ini berarti pemerintahan
desa diselenggarakan bersama oleh Pemerintah desa dan BPD.
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 Pemerintah desa adalah Kepala
Desa dan Perangkat Desa sebagai unsur penyelenggara pemerintahan desa.
Perangkat desa sebagaimana disebut di atas terdiri dari :

a.
b.
c.
C.

Sekretariat desa;
Pelaksana teknis lapangan;
Unsur kewilayahan.
TUGAS DAN KEWAJIBAN KEPALA DESA
Dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 35 Tahun 2007 diatur juga mengenai :

1) Tugas kepala desa

Kepala desa mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan, pembangunan, dan


kemasyarakatan.
2) Wewenang kepala desa
Dalam melaksanakan tugasnya kepala desa mempunyai wewenang :
a.

memimpin penyelenggaraan pemerintahan desa berdasarkan kebijakan yang ditetapkan

b.
c.
d.

bersama BPD;
mengajukan rancangan peraturan desa;
menetapkan peraturan desa yang telah mendapat persetujuan bersama BPD;
menyusun dan mengajukan rancangan peraturan desa mengenai APB Desa untuk dibahas dan

e.
f.
g.
h.

ditetapkan bersama BPD;


membina kehidupan masyarakat desa;
membina perekonomian desa;
mengkoordinasikan pembangunan desa secara partisipatif;
mewakili desanya di dalam dan di luar pengadilan dan dapat menunjuk kuasa hukum untuk

i.
3)

mewakilinya sesuai dengan peraturan perundang-undangan; dan


melaksanakan wewenang lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Kewajiban kepala desa Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya kepala desa

a.

mempunyai kewajiban :
memegang teguh dan mengamalkan Pancasila, melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 serta mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara

b.
c.
d.
e.

Kesatuan Republik Indonesia;


meningkatkan kesejahteraan masyarakat;
memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat;
melaksanakan kehidupan demokrasi;
melaksanakan prinsip tata pemerintahan desa yang bersih dan bebas dari Korupsi, Kolusi dan

f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.
p.
q.
r.
4)

Nepotisme;
menjalin hubungan kerja dengan seluruh mitra kerja pemerintahan desa;
menaati dan menegakkan seluuh peraturan perundangundangan;
menyelenggarakan administrasi pemerintahan desa yang baik;
melaksanakan dan mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangan desa;
melaksanakan urusan yang menjadi kewenangan;
mendamaikan perselisihan masyarakat di desa;
mengembangkan pendapatan masyarakat dan desa;
membina, mengayomi dan melestarikan nilai-nilai sosial budaya dan adat istiadat;
memberdayakan masyarakat dan kelembagaan di desa;
mengembangkan potensi sumberdaya alam dan melestarikan lingkungan hidup;
memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan desa kepada Bupati / Walikota;
memberikan laporan keterangan pertanggungjawaban kepada BPD;
menginformasikan laporan penyelenggaraan pemerintahan desa kepada masyarakat.
Pemberhentian kepala desa
Seseorang yang menjabat sebagai Kepala desa dapat berhenti karena :

a.
b.
c.

meninggal dunia;
permintaan sendiri;
diberhentikan.

d.
e.

berakhir masa jabatannya dan telah dilantik pejabat yang baru;


tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan tetap secara berturut-

turut selama 6 (enam) bulan;


f. tidak lagi memenuhi syarat sebagai kepala desa;
g. dinyatakan melanggar sumpah / janji jabatan;
h. tidak melaksanakan kewajiban kepala desa dan / atau melanggar larangan bagi kepala desa.
D. PENGERTIAN APARAT
Aparat merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam suatu lembaga
pemerintahan disamping faktor lain seperti uang, alat-alat yang berbasis teknologi misalnya
komputer dan internet. Oleh karena itu, sumber daya aparat harus dikelola dengan baik untuk
meningkatkan efektivitas dan efisiensi organisasi pemerintahan untuk mewujudkan
profesional pegawai dalam melakukan pekerjaan. Hal ini sejalan dengan pendapat Soeworno
Handayaningrat bahwa: Aparat adalah aspek-aspek administrasi yang diperlukan dalam
penyelenggaraan pemerintahan atau Negara, sebagai alat untuk mencapai tujuan nasional.
Aspek organisasi itu terutama pengorganisasian atau kepegawaian (Soewarno,1982:154).
Pendapat tersebut mengemukakan bahwa aparat merupakan aspek-aspek administrasi
yang diperlukaan oleh pemerintah dalam penyelenggaran pemerintahan atau Negara.
Sedangkan Sarwono mengemukakan lebih jauh tentang aparat pemerintahan bahwa yang
dimaksud tentang aparat pemerintahan ialah orang-orang yang menduduki jabatan dalam
kelembagaan pemerintahan (Soewarno, 1982:154).
Kinerja aparat tidak lepas dari apa yang dinamakan dengan sumber daya manusia.
SDM Merupakan salah satu faktor penunjang dalam menjalankan tugas kepegawaian bagi
aparat. Setiap aparat mempunyai tugas menjalankan fungsi organisasi dan pemerintahan
dengan baik dan terarah, berikut pengertian tentang sumberdaya aparat.
Sumber daya aparat menurut Badudu dan Sutan dalam Kamus Umum Bahasa
Indonesia, adalah terdiri dari kata sumber yaitu, tempat asal dari mana sesuatu datang, daya
yaitu usaha untuk meningkatkan kemampuan, sedangkan aparat yaitu pegawai yang bekerja
di pemerintahan. Jadi, sumber daya aparat adalah kemampuan yang dimilki oleh pegawai
untuk melakukan sesuatu. (Badudu dan Sutan, 1996:1372).
Berdasarkan pendapat di atas, bahwa sumber daya aparat merupakan sesuatu yang
dimiliki seorang pegawai yang berkemampuan untuk melakukan pekerjaan yang telah
dibebankan kepadanya. Sumber daya aparat merupakan faktor penting untuk meningkatkan
kinerja suatu pemerintahan. Untuk itu sumber daya aparat perlu dikelola melalui pemberian
pendidikan dan latihan yang diterapkan oleh pemerintah, untuk mengembangkan sumber
daya aparat. Sehingga kinerja suatu pemerintah dapat mewujudkan profesional pegawai,

kinerja aparat tersebut berdasarkan jabatan dan pekerjaan yang dibebankan kepada aparat
tersebut.
Berkaitan dengan sumber daya aparat di atas, untuk mewujudkan profesional
pegawai. Menurut Jhon M. Echols dan Hassan Shadily dalam Kamus Inggris Indonesia,
bahwa profesional adalah seorang tenaga ahli, pekerjaan yang sesuai di bidangnya, dan
berdasarkan jabatan.(Echols dan Hassan, 1996:449).
Berdasarkan pendapat di atas, bahwa profesional merupakan kinerja seseorang sesuai
dengan jabatan yang diberikan kepadanya. Tugas yang diberikan kepada orang tersebut harus
dipertanggungjawabkan, karena merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan serta
pekerjaan yang diberikan kepadanya tidak boleh ditinggalkan sebelum pekerjaan itu selesai.
KERANGKA PIKIR
Skema Kerangka Pemikiran

Keterangan skema :

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 memberikan kewenangan kepada desa untuk


mengatur dan mengurus wilayahnya sendiri melalui otonomi desa. Desa menyelenggarakan
pemerintahan melalui pemerintahan desa. Pemerintahan desa sendiri diselenggarakan
bersama oleh pemerintah desa dan Badan Permusyawaratan Desa ( BPD ).
E.

TUGAS DAN KEWAJIBAN APARAT DESA


Adapun tugas dan kewajiban aparat desa yaitu sebagai berikut:

1.
a)

Sekretaris Desa
Tugas
Membantu kepala desa dibidang administrasi umum dan keuangan dalam penyelenggaraan

b)
c)
d)
a)
b)
c)
d)
2.
a)
b)
c)
d)
e)
f)

tugas dan wewenang pemerintah desa.


Melaksanakan tugas kepala desa dalam hal kepala desa berhalangan.
Melaksanakan tugas kepala desa apabila kepala desa diberhentikan sementara.
Melasanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh kepala desa
Fungsi
perencanaan kegiatan dibidang administrasi umum dan keuangan
pelaksanaan kegiatan dibidang administrasi umum dan keuangan
penkoordinasian kegiatan dibidang administrasi umum dan keuangan
pengkoordinasian pelaksanaan tugas perangkat desa lainnya
Kepala urusan umum mempunyai tugas membantu tugas-tugas sekretaris desa dibidang :
Mengelola administrasi umum pemerintah desa
Memberikan pelayanan kepada masyarakat dibidang kegiatan surat menyurat
Melaksanakan pengadaan dan pemeliharaan barang-barang inventaris kantor
Melaksanakan pengadaan dan pendistribusian alat-alat tulis kantor
Mengumpulkan, menyusun dan meyiapkan bahan rapat
Melakukan persiapan penyelenggaraan rapat, penerimaan tamu dinas dan kegiatan rumah

g)
3.
a)
b)
c)
d)
e)
f)
4.
a)

tangga pemerintah desa


Melakukan tugas lain yang diberikan oleh sekretaris desa
Kepala urusan keuangan mempunyai tugas membantu tugas-tugas sekretaris desa dibidang :
Mengelola administrasi keuangan desa
Menghimpun pendapatan dan kekayaan desa
Menyiapkan, merencanakan dan mengelola APBD
Menyiapkan bahan laporan keuangan desa
Mengiventarisir sumber pendapatan dan kekayaan desa
Melakukan tugas lain yang diberikan oleh sekretaris desa
Seksi pemerintahan :
Mengumpulkan, mengolah dan menyiapkan data dibidang pemerintahan desa, ketentraman,

b)

ketertiban dan perlindungan masyarakat


Mengumpulkan dan menyiapkan bahan dalam rangka pembinaanwilayah termasuk rukun

warga dan rukuntetangga serta masyarakat


c) Melaksanakan administrasi pelaksanaan pemilihan umum, pemilihan presiden, pemilihan
d)
e)
f)

gubernur, pemilihan bupati, pemilihan kepala desa dan kegiatan sosial politik
Melaksanakan administrasi kependudukan, catatan sipil dan monografi
Melaksanakan tugas dibidang pertanahan
Melakukan administrasi peraturan desa, peraturan kepaladesa, dan keputusan kepala desa

g)
5.
a)
b)
c)
d)
e)

Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh kepala desa


Seksi ketrentaman dan ketertiban
Mengumpulkan, mengolah dan menyiapkan data dibidang ketrentaman dan ketertiban
Melakukan pembinaan ketrentaman dan ktertiban masyarakat
Melakukan pelayanan kepada masyarakat dibidang ketrentaman dan ketertiban
Melaksanakan kegiatan administrasi perlindungan masyarakat
Membantu pelaksanaan pengawasan terhadap penyaluran bantuan kepada masyarakat yang

terkenana bencana alam dan bencana lainnya


f) Mengumpulkan bahan dan meyusun laporan dibidang ketrentaman dan ketertiban
g) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh kepala desa
6. Seksi ekonomi dan pembangunman
a) Mengumpulkan, mengolah dan menyiapkan data dibidang ekonomi dan pembangunan
b) Mengumpulkan dan menyiapkan bahan dalam rangka pembinaan dan pengembangan serta
c)

koordinasi kegiatan dibidang ekonomidan pembangunan


Melakukan administrasi dan membantu pelaksanaan pelayanan dibidang tera ulaang,

prmohonan izin usaha, izin bangunan dan lain-lain


d) Menghimpun data potensi didesanya serta menganalisadan mmelihara untuk dikembangkan
e)
Melakukanadministrasi hasil swadaya masyarakat dalam pembangunan dan hasil
f)

pembangunan lainnya
Melakukan administrasi dan mempersiapkan bahan untuk pembuatan daftar usulan rencana

g)

dan proyek, daftar usulan kegiatan, daftar isian proyek maupun daftar isian kegiatan
Membantu pelaksanaan kegiatan tknis organisasi dan administrasi lembaga pembrdayaan
masyarakat desa maupun lembaga-lembaga dibidang pertanian, perindustrian dan

h)

pembangunan lainnya
Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh kepala desa

7.
a)
b)

Seksi kesejahteraan rakyat


Melaksanakan pelayanan kepada masyarakat dibidang kesejahteraan rakyat
Mengumpulkan, mengolah dan menyiapkan data pendidikan, kesehatan, keagamaan,

c)
d)
e)
8.
a)
b)
c)
d)

kepemudaan, dan olahraga


Membabtu kegiatan administrasi dan perkembangan pemberdayaan kesejahteraan keluarga
Mengumpulkan, mengolah dan menyiapkan data keluarga miskin
Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh kepala desa
kepala dusun
tugas
membantu pelaksanaan tugas kepala desa dalam wilayah kerjanya
melakukan pembinaan dalam rangka meningkatkan swadaya dan gotong royong masyarakat
melakukan kegiatan penerangan tentang program pemerintah kepada masyarakat
membantu kepala desa dalam pembinaan dan mengkoordinasikan kegiatan rw dan rt

e)
a)

diwilayah kerjanya
Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh kepala desa
Fungsi
Melakukan koordinasi terhadap jalannya pemerintah desa, pelaksanaan pembangunan dan
pembinaan masyarakat diwilayah dusun

b)

Melakukan tugas dibidang pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan yang menjadi

tanggung jawabnya
c) Melakukan usaha dalam rangka meningkatkan partisipasi dan swadaya gotong royong
masyarakat dan melakukan pembinaan perekonomian
d) Melakukan kegiatan dalam rangka pembinaan dan pemeliharaan ketrentaman dan ketertiban
masyarakat
e) Melakukan fungsi-fungsi lain yang dilimpahkan oleh kepala desa
F. HUBUNGAN KEPALA DESA DENGAN APARAT
Adapun bentuk hubungan antara Pemerintahan Desa dengan Aparat dapat dijelaskan
dengan bagan sebagai berikut :
Skema Hubungan Pemerintah Desa Dengan Aparat

Berdasarkan tabel diatas, dapat ditunjukkan bahwa hubungan yang dimiliki oleh
Pemerintah Desa dan Aparat bersifat nominasi. Yang dimaksud hubungan nominasi disini

yaitu Pemerintah Desa dalam hal ini adalah Kepal Desa menguasai sepenuhnya atau
memegang kendali penuh atas Aparat/Perangkat Desa.
Kepala desa dalam fungsinya sebagai pemegang kekuasaan tertinggi pada tingkat desa
mempuanyai tugas dan tanggung jawab yang besar sehingga dalam menjalankan amanah
tersebut kepala desa diberikan keringanan dengan adanya aparat yang yang akan bertugas
untuk membantu kepala desa mewujudkan masyarakat yang sejahtera, aman dan damai.
G. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA
Beberapa teori menerangkan tentang faktor-faktor yang memengaruhi kinerja seorang
sebagai individu yang ada dan bekerja dalam suatu lingkungan. Sebagai individu setiap orang
mempunyai ciri dan karakteristik yang bersifat fisik maupun non fisik. Dan manusia yang
berada dalam lingkungan maka keberadaan serta perilakunya tidak dapat dilepaskan dari
lingkungan tempat tinggal maupun tempat kerjanya.
Menurut Gibson yang dikutip oleh Ilyas (2001), secara teoritis ada tiga kelompok
variabel yang memengaruhi perilaku kerja dan kinerja, yaitu: variabel individu, variabel
organisasi dan variabel psikologis. Ketiga kelompok variabel tersebut memengaruhi
kelompok kerja yang pada akhirnya memengaruhi kinerja personel. Perilaku yang
berhubungan dengan kinerja adalah yang berkaitan dengan tugas-tugas pekerjaan yang harus
diselesaikan untuk mencapai sasaran suatu jabatan atau tugas.
Diagram teori perilaku dan kinerja digambarkan menurut Gibson (1987) sebagai
berikut:

Variabel individu dikelompokkan pada sub-variabel kemampuan dan keterampilan,


latar belakang dan demografis. Sub-variabel kemampuan dan keterampilan merupakan faktor
utama yang memengaruhi perilaku dan kinerja individu. Variabel demografis mempunyai
efek tidak langsung pada perilaku dan kinerja individu.
Variabel psikologik terdiri dari sub-variabel persepsi, sikap, kepribadian, belajar dan
motivasi. Variabel ini menurut Gibson (1987), banyak dipengaruhi oleh keluarga, tingkat
sosial, pengalaman kerja sebelumnya dan variabel demografis. Variabel psikologis seperti
persepsi, sikap, kepribadian dan belajar merupakan hal yang komplek dan sulit untuk diukur,
juga menyatakan sukar mencapai kesepakatan tentang pengertian dari variabel tersebut,
karena seorang individu masuk dan bergabung dalam organisasi kerja pada usia, etnis, latar
belakang budaya dan keterampilan berbeda satu dengan yang lainnya.
Variabel organisasi, menurut Gibson (1987) berefek tidak langsung terhadap perilaku dan
kinerja individu. Variabel organisasi digolongkan dalam sub-variabel sumber daya,
kepemimpinan, imbalan, struktur dan desain pekerjaan.
Menurut Kapolmen yang dikutip oleh Ilyas (2001), ada empat determinan utama
dalam produktifitas organisasi termasuk didalamnya adalah prestasi kerja. Faktor determinan
tersebut adalah lingkungan, karakteristik organisasi, karakteristik kerja dan karakteristik
individu. Karakteristik kerja dan karakteristik organisasi akan memengaruhi karakteristik
individu seperti imbalan, penetapan tujuan akan meningkatkan motivasi kerja, sedangkan
prosedur seleksi tenaga kerja serta latihan dan program pengembangan akan meningkatkan
pengetahuan, keterampilan dan kemampuan dari individu. Selanjutnya variabel karakteristik
kerja yang meliputi penilaian pekerjaan akan meningkatkan motivasi individu untuk
mencapai prestasi kerja yang tinggi.
Menurut Stoner yang dikutip oleh Adiono (2002), mengemukakan bahwa prestasi
individu disamping dipengaruhi oleh motivasi dan pengetahuan juga dipengaruhi oleh faktor
persepsi peran yaitu pemahaman individu tentang perilaku apa yang diperlukan untuk
mencapai prestasi individu. Kemampuan (ability) menunjukkan kemampuan seseorang untuk
melakukan pekerjaan dan tugas.
Sedangkan menurut Notoatmodjo (2002), ada teori yang mengemukakan tentang
faktor-faktor yang memengaruhi kinerja yang disingkat menjadi ACHIEVE yang artinya
Ability (kemampuan pembawaan), Capacity (kemampuan yang dapat dikembangkan), Help
(bantuan untuk terwujudnya kinerja), Incentive (insentif material maupun non material),

Environment (lingkungan tempat kerja karyawan), Validity (pedoman/petunjuk dan uraian


kerja), dan Evaluation (adanya umpan balik hasil kerja).
Menurut Davies (1989) yang dikutip oleh Adiono (2002), juga mengatakan bahwa
faktor yang memengaruhi pencapaian kinerja adalah faktor kemampuan (ability) dan faktor
motivasi (motivation). Faktor kemampuan secara psikologik terdiri dari kemampuan potensi
(IQ) dan kemampuan reality, yang artinya karyawan yang memiliki diatas rata-rata dengan
pendidikan yang memadai untuk jabatannya dan keterampilan dalam mengerjakan tugas
sehari-hari maka ia akan lebih mudah mencapai kinerja yang diharapkan.
Menurut teori Atribusi atau Expectancy Theory, dikemukakan oleh Heider,
pendekatan atribusi mengenai kinerja dirumuskan sebagai berikut: K= M x A, yaitu K adalah
kinerja, M adalah motivasi, dan A adalah ability. Konsep ini menjadi sangat populer dan
sering kali diikuti oleh ahli-ahli lain, menurut teori ini, kinerja adalah interaksi antara
motivasi dengan ability (kemampuan dasar).
Kepala Desa dan Aparat memiliki kendala-kendala dalam hubungan yang menjadi
penghambat. Salah satu kendalanya yaitu perbedaan pandangan antara Kepala Desa dan
Aparat.
Ketidakpercayaan juga salah satu kendala. Karena dalam melaksanakan tugas sebagai
pemerintah desa, kepala desa sering kali tidak melibatkan aparatnya yang seharusnya aparat
juga ikut dilibatkan sehingga muncul pikiran negatif dari aparat dan mengakibatkan
hubungan antara kepala desa dengan aparat menjadi kurang harmonis.
Kendala yang lain yang sering terjadi yaitu tarik ulur pekrjaan. Hal ini biasa terjadi
ketika suatu pekerjaan yang seharusnya kepala desa memberikan perintah untuk dikerjakan
oleh aparat namun karena kurangnya komunikasi kepala desa kepada aparat sehingga
pekerjaan tersebut tidak selesai.
Perbedaan pandangan antara kepala desa dengan aparat dapat diatasi dengan merujuk
kepada visi dan misi desa bahwa sebagai pelaksana pemerintah desa keduanya memiliki
tujuan yang sama yaitu untuk kemajuan desa. Baik kepala desa maupun aparat harus lebih
sering duduk bersama untuk membicarakan masalah-masalah yang ada dan mengambil
kebijakan yang tepat.
Ketidakpercayaan dapat diatasi dengan menghindari saling mencurigai antar kepala
desa dan aparat. Selain itu juga baik kepala desa maupun aparat harus menunjukkan kinerja
yang baik agar masyarakat desa percaya kepada mereka.
Tarik ulur pekerjaan dapat diatasi dengan menghindari sekecil mungkin gesekan yang terjadi
antara kedua belah pihak. Sehingga tidak ada alasan bagi masing-masing pihak untuk saling

menjatuhkan. Selain itu pemerintah desa juga harus lebih berkoordinasi dengan aparat begitu
juga sebaliknya agar tidak terjadi gesekan antar keduanya.

BAB III
METODE PENELITIAN
A. LOKASI PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang. Pemilihan
lokasi penelitian di dasarkan atas pertimbangan sebagai berikut:
1. Hubungan antara kepala desa dengan aparat dalam penyelenggaraan pemerintahan khususnya
di kecamatan alla selama ini banyak menimbulkan polemik di masyarakat.
2. Performa kinerja kepala desa dan kurang maksimal.
B. JENIS PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-kuantitatif. Obyek penelitian
adalah pemerintahan desa di Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang.
Jenis atau tipe penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif. Penelitian
deskriptif adalah penelitian yang berupaya mengungkapkan suatu masalah dan keadaan
sebagaimana adanya, untuk itu peneliti dibatasi hanya mengungkapkan fakta-fakta dan tidak
menggunakan hipotesa (Moleong, 2006:11). Penelitian deskriptif bertujuan untuk
menggambarkan secara tepat sifat-sifat individu dan keadaan sosial yang timbul dalam
masyarakat khususnya penyelenggara pemerintah desa pada 5 (lima) desa di Kecamatan Alla
untuk dijadikan sebagai obyek penelitian. Dalam penelitian ini dikhususkan untuk
menggambarkan hubungan kepala desa dengan aparat di Kecamatan Alla Kabupaten
Enrekang.
Dasar penelitian yang dilakukan adalah case study yaitu penelitian yang dilakukan
dengan mengumpulkan dan menganalisis suatu peristiwa atau proses tertentu secara
mendalam dengan memilih data atau ruang lingkup terkait dengan fokus penelitian dengan
sampel yang dianggap representatif.

Ada 2 (dua) jenis sumber data yang yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:
a.

Data Primer
Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari responden baik melalui wawancara,

observasi maupun dokumentasi.


b. Data Sekunder
Data Sekunder yaitu data yang diperoleh dengan membaca buku literatur-literatur, dokumen
resmi, peraturan perundangan yang berkaitan.
C. POPULASI DAN SAMPEL
Metode pengambilan sampel menggunakan purposive randomized sampling.
Purposive sampling digunakan untuk menentukan wilayah (kecamatan) pengambilan
responden dengan mempertimbangkan letak geografis. Randomized sampling (sampel acak)
digunakan untuk pengambilan responden di wilayah (kecamatan) yang telah dipilih
Adapun yang menjadi subjek dalam penelitian ini antara lain :
a.
b.
c.
d.
e.

Kepala Desa
Sekertaris Desa
Kepala Urusan
Kepala Dusun
Tokoh Masyarakat

Jumlah : 5 orang
Jumlah : 5 orang
Jumlah : 5 orang
Jumlah : 7 orang
Jumlah : 10 orang

Dengan demikian jumlah responden adalah 32 (tiga puluh dua) orang dengan teknik
pengambilan responden adalah secara purposive sesuai dengan tujuan penelitian.
D. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Data adalah sesuatu yang belum mempunyai arti bagi penerimanya dan masih
memerlukan adanya suatu pengolahan. Data bisa berwujud suatu keadaan, gambar, suara,
huruf, angka, matematika, bahasa ataupun simbol-simbol lainnya yang bisa kita gunakan
sebagai bahan untuk melihat lingkungan, obyek, kejadian ataupun suatu konsep.
Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam
rangka mencapai tujuan penelitian. Tujuan yang diungkapkan dalam bentuk hipotesis
merupakan jawaban sementara terhadap pertanyaan penelitian.
Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, survey dan observasi. Dalam
penelitian ini, penulis menggunakan data purposive sesuai dengan tujuan penelitian.
Metode pengumpulan data akan dilakukan dengan cara:
1.

Wawancara
Menurut Prabowo (1996) wawancara adalah metode pengmbilan data dengan cara
menanyakan sesuatu kepada seseorang responden, caranya adalah dengan bercakap-cakap

secara tatap muka.Pada penelitian ini wawancara akan dilakukan dengan menggunakan
pedoman wawancara.
Menurut Patton dalam proses wawancara dengan menggunakan pedoman umum
wawancara ini, interview dilengkapi pedoman wawancara yang sangat umum, serta
mencantumkan isu-isu yang harus diliput tampa menentukan urutan pertanyaan, bahkan
mungkin tidak terbentuk pertanyaan yang eksplisit.
Pedoman wawancara digunakan untuk mengingatkan interviewer mengenai aspekaspek apa yang harus dibahas, juga menjadi daftar pengecek (check list) apakah aspek-aspek
relevan tersebut telah dibahas atau ditanyakan. Dengan pedoman demikian interviwer harus
memikirkan bagaimana pertanyaan tersebut akan dijabarkan secara kongkrit dalam kalimat
Tanya, sekaligus menyesuaikan pertanyaan dengan konteks actual saat wawancara
berlangsung (Patton dalam poerwandari, 1998).
2.

Observasi
Disamping wawancara, penelitian ini juga melakukan metode observasi. Menurut
Nawawi & Martini (1991) observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistimatik
terhadap unsur-unsur yang tampak dalam suatu gejala atau gejala-gejala dalam objek
penelitian.
Dalam penelitian ini observasi dibutuhkan untuk dapat memehami proses terjadinya
wawancara dan hasil wawancara dapat dipahami dalam konteksnya. Observasi yang akan
dilakukan adalah observasi terhadap subjek, perilaku subjek selama wawancara, interaksi
subjek dengan peneliti dan hal-hal yang dianggap relevan sehingga dapat memberikan data
tambahan terhadap hasil wawancara.
Menurut Patton (dalam Poerwandari 1998) tujuan observasi adalah mendeskripsikan
setting yang dipelajari, aktivitas-aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam
aktivitas, dan makna kejadian di lihat dari perpektif mereka yang terlihat dalam kejadian yang
diamati tersebut.
Macam-Macam Observasi:
a.

Observasi Partisipatif
Peneliti mengamati apa yang dikerjakan orang, mendengarkan apa yang diucapkan dan

berpartisipasi dalam aktivitas yang diteliti


b. Observasi Terus Terang atau Tersamar
Peneliti berterus terang kepada narasumber bahwa ia sedang melakukan penelitian.
c. Observasi tak Berstruktur
Dilakukan dengan tidak Berstruktur karena fokus penelitian belum jelas
3.
Angket atau kuesioner (questionnaire)

Angket atau kuesioner merupakan suatu teknik pengumpulan data secara tidak
langsung (peneliti tidak langsung bertanya jawab dengan responden). Instrumen atau alat
pengumpulan datanya juga disebut angket berisi sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang harus
dijawab atau direspon oleh responden. Responden mempunyai kebiasaan untuk memberikan
jawaban atau respon sesuai dengan presepsinya.
Kuesioner merupakan metode penelitian yang harus dijawab responden untuk
menyatakan pandangannya terhadap suatu persoalan. Sebaiknya pertanyaan dibuat dengan
bahasa sederhana yang mudah dimengerti dan kalimat-kalimat pendek dengan maksud yang
jelas. Penggunaan kuesioner sebagai metode pengumpulan data terdapat beberapa
keuntungan, diantaranya adalah pertanyaan yang akan diajukan pada responden dapat
distandarkan, responden dapat menjawab kuesioner pada waktu luangnya, pertanyaan yang
diajukan dapat dipikirkan terlebih dahulu sehingga jawabannya dapat dipercaya dibandingkan
dengan jawaban secara lisan, serta pertanyaan yang diajukan akan lebih tepat dan seragam.
Macam-Macam Kuisioner
a.

Kuesioner tertutup
Setiap pertanyaan telah disertai sejumlah pilihan jawaban. Responden hanya memilih

jawaban yang paling sesuai.


b. Kuesioner terbuka
Dimana tidak terdapat pilihan jawaban sehingga responden harus memformulasikan
jawabannya sendiri.
c. Kuesioner kombinasi terbuka dan tertutup
Dimana pertanyaan tertutup kemudian disusul dengan pertanyaan terbuka.
d. Kuesioner semi terbuka
Pertanyaan yang jawabannya telah tersusun rapi, tetapi masih ada kemungkinan tambahan
jawaban.
E. TEKNIK ANALISIS DATA
Analisis data ialah proses mengatur urutan data, mengorganisir ke dalam suatu pola,
kategori dan uraian dasar yang membedakan dengan penafsiran, yaitu memberikan arti yang
signifikan terhadap analisis, menjelaskan uraian-uraian dan mencari hubungan diantara
dimensi-dimensi uraian.
Untuk menganalisa data, maka penyusun menggunakan Analisa data menggunakan
analisa deskriptif, artinya suatu data yang dianalisa dengan tidak menggunakan data statistik,
namun hanya menggunakan pengukuran yang benar, sehingga dapat dipercaya dan valid
hasilnya. Dalam menganalisia data, penyusun akan berpedoman pada langkah-langkah
berikut ini :

1. Pengumpulan data
Disini penyusun akan mengumpulkan data-data yang diperoleh dari penelitian yang
dilakukan.
2. Penilaian data
Dalam tahap ini data yang diperoleh dari berbagai sumber akan diteliti dengan
memperhatikan prinsip validitas, sehingga data yang relevan saja yang akan digunakan.
3. Penafsiran data
Selanjutnya, akan dilakukan analisa data dan interpretasi terhadap berbagai fenomena,
gambaran dan hubungan sebab akibat dari faktor-faktor yang akan diteliti. Dalam
menganalisis data penyusun menggunakan pendekatan interpretative.
F. DEFENISI OPERASIONAL VARIABEL
Definisi operasional adalah suatu unsur penelitian yang memberitahukan bagaimana
cara mengukur suatu variabel. Sedangkan arti dari variabel itu sendiri adalah suatu
karakteristik yang mempunyai variasi nilai atau ukuran.
Untuk menggambarkan dinamika hubungan Kepala Desa dengan Aparat dapat dilihat dari
indikator sebagai berikut :
1. Kegiatan yang dilakukan oleh Kepala Desa dengan Aparat dalam menjalankan roda
pemerintahan desa:
a) Melaksanakan tugas.
b) Menjalin kerja sama yang baik.
2. Penggunaan kekuasaan yang dimiliki Kepala Desa terhadap Aparat dalam melaksanakan
pemerintahan:
a) Memberikan tugas kepada aparat.
b) Mengevaluasi hasil kinerja aparat.
3. Penyesuaian diri yang dilakukan Kepala Desa terhadap Aparat maupun sebaliknya dalam
melaksanakan tugas dan wewenang sebagai pemerintah:
a) Melaksanakan tugas masing-masing pihak sesuai dengan peraturan yang ada.
b) Dalam melaksanakan tugas, masing-masing pihak perlu memperhatikan batasan yang sudah
ditetapkan.
Konsep merupakan unsur pokok dalam penelitian, konsep adalah definisi tersingkat
dari sekelompok fakta dan gejala. Konsep merupakan definisi dari apa yang perlu dicermati,
konsep menentukan antar variabel-variabel mana kita ingin menentukan hubungan empiris.
Definisi konsep dipergunakan untuk memberikan suatu batasan dari berbagai konsep secara
tegas dan tuntas. Untuk mendapatkan batasan defenisi yang lebih jelas dari masing-masing
konsep, maka penulis mengemukakan defenisi dari beberapa konsep yang digunakan yaitu:
1. Dinamika adalah sesuatu yang mengandung arti tenaga, kekuatan, selalu bergerak atau,
dinamis serta dapat menyesuaikan diri secara memadai terhadap keadaan.
2. Pemerintahan Desa
a. Kepala Desa

Kepala Desa adalah penyelenggara pemerintahan di desa yang dipilih langsung oleh dan dari
b.

penduduk desa warga Negara Republik Indonesia.


Aparat
Aparat berkedudukan sebagai unsur pembantu kepala desa dalam penyelenggaraan
pemerintahan desa, semua aparat desa harus melaksanakan tugas baik perintah langsung dari

kepala desa maupun peraturan desa yang ada.


3. Kinerja
Kinerja adalah penentuan secara periodik efektivitas operasional organisasi, bagian
organisasi dan karyawannya berdasarkan sasaran, standar dan kriteria yang telah ditetapkan
sebelumnya (Srimindarti, 2006).
Menurut Mangkunegara (2001), kinerja adalah: hasil kerja secara kualitas dan kuantitas
yang dapat dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung
jawab yang diberikan kepadanya.
Kinerja adalah penampilan hasil karya personel baik kuantitas maupun kualitas dalam
suatu organisasi. Kinerja dapat merupakan penampilan individu maupun kerja kelompok
personel. Penampilan hasil karya tidak terbatas kepada personel yang memangku jabatan
fungsional maupun struktural, tetapi juga kepada keseluruhan jajaran personel di dalam
organisasi (Ilyas, 2001).
Deskripsi dari kinerja menyangkut tiga komponen penting, yaitu: tujuan, ukuran dan
penilaian. Penentuan tujuan dari setiap unit organisasi merupakan strategi untuk
meningkatkan kinerja. Tujuan ini akan memberi arah dan memengaruhi bagaimana
seharusnya perilaku kerja yang diharapkan organisasi terhadap setiap personel. Walaupun
demikian, penentuan tujuan saja tidaklah cukup, sebab itu dibutuhkan ukuran, apakah
seseorang telah mencapai kinerja yang diharapkan. Untuk kuantitatif dan kualitatif standar
kinerja untuk setiap tugas dan jabatan memegang peranan penting.

DAFTAR PUSTAKA
Adiono, 2002. Analisis Kepemimpinan Yang Mendorong Iklim Kerja Dan Motivasi Kerja Serta
Dampaknya Terhadap Kinerja Perawat Di Rumah Sakit Se- Kota Palu.. Tesis FKM UI.
Jakarta.
Asad. Moh., 2003. Psikologi Industri. Libery. Yogyakarta.
Badudu J.S dan Zain, Sutan Mohammad, 1996. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Pustaka Sinar
Harapan. Jakarta.
Echols dan Hassan Shadili, 1996. Kamus Inggris Indonesia, PT. Gramedia. Jakarta.
Gibson. James L., 1997. Organisasi, Perilaku, Struktur, Proses. Edisi kedelapan. Bina Aksara.
Jakarta.
Guritno, Bambang dan Waridin, 2005. Pengaruh Persepsi Karyawan Mengenai Perilaku
Kepemimpinan, Kepuasan Kerja Dan Motivasi Terhadap Kinerja. JRBI.
Hakim. Abdul, 2006. Analisis Pengaruh Motivasi, Komitmen Organisasi Dan IklimOrganisasi
Terhadap Kinerja Pegawai Pada Dinas Perhubungan Dan Telekomunikasi ProvinsiJawa
Tengah. JRBI.
Handyaningrat. Soewarno, 1982. Administrasi Pemerintahan Dalam Pembangunan Nasional.
Gunung Agung. Jakarta.
Ilyas. Y., 2001. Kinerja (Teori, Penilaian dan Penelitian). Cetakan pertama. FKM UI. Jakarta.
Mangku Negara, 2005. Evaluasi Kinerja Sumber Daya Manusia. Jakarta.
Masrukhin dan Waridin, 2006. Pengaruh Motivasi Kerja, Kepuasan Kerja, Budaya Organisasi
Dan Kepemimpinan Terhadap Kinerja Pegawa. EKOBIS.
Moleong Lexi J., 2006. MetodePenelitianKualitatif. PT. Remaja Rosdkarya. Bandung.
Nawawi dan Martini, 1991. Instrument Penelitian Bidang Sosial. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
NiMatul Huda, 2009. Hukum Pemerintahan Daerah. Nusa Media. Bandung.
Notoatmodjo, 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta.
Prabowo, 1996. Memahami Penelitian Kualitatif. Andi Offset. Yogyakarta.
Poerwandari. E.K., 1998. Metode Penelitian Sosial. Universitas Terbuka. Jakarta.
Rivai, Veithzal dan Basri, 2005. Performance Appraisal: Sistem Yang Tepat Untuk Menilai Kinerja
Karyawan Dan Meningkatkan Daya Saing Perusahaan. Rajagrafindo Persada. Jakarta.

Srimindarti, 2006. Balanced Scorecard Sebagai Alternatif untuk Mengukur Kinerja. STIE
Stikubank. http.duniaesai.com. Semarang.
Srimulyo. Koko, 1999. Analisis Pengaruh Faktor-Faktor Terhadap Kinerja Perpustakaan di
Kotamadya Surabaya. Tesis Program Pascasarjana Ilmu Manajemen Universitas Airlangga.
Sulistiyani. Ambar T. dan Rosidah, 2003. Manajemen Sumber Daya Manusia. Graha Ilmu.
Yogyakarta.
Sutopo. H.B., 1998. Metodologi Penelitian Hukum Kualitatif. Bagian II. UNS Press. Surabaya.

Syaukani, 2005. Dasar-dasar Politik Hukum. Rajawali Press. Jakarta.


Tika P., 2006. Budaya Organisasi Dan Peningkatan Kinerja Perusahaan. PT Bumi Aksara. Jakarta.
Widjaja, 2003. Pemerintah Desa/Marga. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
http://www.cari-ilmuonline.com/sofa/pemdes/index.php
http://www.desa-tamblang.blogspot.com/desa/index.php
http://www.ras-eko.com/2013/05/pengertian-aparat-desa.html
Peraturan Perundangan :
Kamus Internasional Populer. 2002
Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 29 Tahun 2006.
Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 Tetang Desa.
Undang-Undang Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah.
.0