Anda di halaman 1dari 27

0

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah


Buruh pada saat ini dianggap oleh kebanyakan orang sama dengan
pekerja, padahal dari dasar pengertiannya buruh berbeda dengan
pekerja. Secara teori,didalam suatu perusahaan terdapat dua kelompok
yaitu kelompok pemilik modal dan kelompok buruh, yaitu orang-orang
yang diperintah dan dipekerjanan yang berfungsi sebagai salah satu
komponen dalam proses produksi. Dalam teori Karl Marx tentang nilai
lebih, disebutkan bahwa kelompok yang memiliki dan menikmati nilai
lebih disebut sebagai majikan dan kelompok yang terlibat dalam proses
penciptaan nilai lebih itu disebut Buruh. Dari segi kepemilikan kapital dan
aset-aset produksi, dapat kita tarik benang merah, bahwa buruh tidak
terlibat sedikitpun dalam kepemilikan aset, sedangkan majikan adalah
yang mempunyai kepemilikan aset. Dengan demikian seorang manajer
atau direktur disebuah perusahaan sebetulnya adalah buruh walaupun
mereka mempunyai embel-embel gelar keprofesionalan.
Buruh sendiri memberikan pengaruh yang besar baik dalam hal
ekonomi maupun politik. Didalam bidang ekonomi misalnya buruh
sebagai unsur penggerak langsung perekonomian, tanpa adanya buruh
mustahil kegiatan perekonomian khususnya di pabrik-pabrik maupun di
perkebunan dapat berjalan dengan baik. Sedangkan pengaruh buruh di
bidang politik berkaitan dengan peran penting mereka sebagai salah satu
kegiatan ekonomi yaitu sadar bahwa peran mereka begitu penting dalam
bidang ekonomi, maka buruh menuntut berbagai tuntutan-tuntutan yang
berkaitan dengan kepentingan mereka. Kepentingan-kepentingan ini
akhirnya dijadikan sebagai jalan bagi buruh menuju kegiatan politik.
Disamping itu, peran buruh dalam politik yang cukup kuat juga
dipengaruhi oleh kuantitas buruh yang cukup signifikan, kuantitas ini
diikuti juga dengan kekompakan dan sifat militan dari buruh,
kekompakan dan sifat militan ini timbul disebabkan adanya kesadaran
bahwa nasib mereka dan kepentingan yang
Dengan adanya peringatan hari buruh tani indonesia,di situ juga
termasuk buruh tani,adalah suatu kekuatan bagi buruh tani indonesia dan
menjadi dasar kekuatan bagi buruh-buruh di indonesia terutama buruh
tani.Di bawah ini ada contoh dan penguraian tentang kekuatan
buruh,terutama buruh tani Jakarta - Peringatan hari buruh Internasional
yang jatuh pada tanggal 1 Mei, tetap diperingati puluhan ribu buruh
dengan turun ke jalan, meskipun sudah di tetapkan sebagai hari libur
untuk memperingati hari buruh Intenasional melalui keputusan Presiden
No. 24 tahun 2013 mereka tetap memperingati haru buruh dengan
demonstrasi di depan Istana Negara (1/05/2014)

1
Pasalnya penetapan 1 Mei sebagai hari libur untuk peringatan
hari buruh Internasional, bukalan semata-mata hadiah dari
pemerintah, tetapi proses panjang perjuangan kaum buruh di
Indonesia sejak tahun 1990 an. Lebih lanjut berbagai persoalan
yang di hadapi oleh buruh semakin kompleks, masalah politik
upah murah, kebebasan berserikat, masih diberlakukannya sitem
kerja kontrak dan outsourcing, dan belum diberikannya jaminan
kesehatan yang sepenuhnya di tanggung oleh Negara, adalah
masalah yang kongret kaum buruh Indonesia dan menjadi fokus
perjuangan saat ini, begitu tegas Rudy HB Daman ketua umum Gabungan
serikat Buruh Independen (GSBI) yang sekaligus Koordinator Front
Perjuangan Rakyat.
Rudy HB Daman menambahkan, bahwa peringatan hari buruh di gelar di
berbagai daerah dan tidak hanya di peringati oleh kaum buruh, Front
Perjuangan Rakyat (FPR) yang merupakan aliansi patriotik yang terdiri
dari buruh tani, mahasiswa, perempuan, buruh migran, dan organisasi
lingkungan (GSBI, AGRA, PMKRI, GRI, FMN, WALHI, ATKI) menegaskan
bahwa peringatan hari buruh ini juga sebagai momentum untuk
mengkampanyekan persoalan seluruh rakyat ditengah ilusi PEMILU akan
perubahan bagi rakyat. Karenanya FPR mengusung tema Gerakan
Rakyat menuntut penghentian perampasan upah, kerja, tanah dan SDA,
serta diberikannya jaminan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang
sepenuhnya ditanggung oleh Negara
kompleks, masalah politik upah murah, kebebasan berserikat, masih
diberlakukannya sitem kerja kontrak dan outsourcing, dan belum
diberikannya jaminan kesehatan yang sepenuhnya di tanggung oleh
Negara, adalah masalah yang kongret kaum buruh Indonesia dan menjadi
fokus perjuangan saat ini, begitu tegas Rudy HB Daman ketua umum
Gabungan serikat Buruh Independen (GSBI) yang sekaligus Koordinator
Front Perjuangan Rakyat.
Rudy HB Daman menambahkan, bahwa peringatan hari buruh di gelar di
berbagai daerah dan tidak hanya di peringati oleh kaum buruh, Front
Perjuangan Rakyat (FPR) yang merupakan aliansi patriotik yang terdiri
dari buruh tani, mahasiswa, perempuan, buruh migran, dan organisasi
lingkungan (GSBI, AGRA, PMKRI, GRI, FMN, WALHI, ATKI) menegaskan
bahwa peringatan hari buruh ini juga sebagai momentum untuk
mengkampanyekan persoalan seluruh rakyat ditengah ilusi PEMILU akan
perubahan bagi rakyat. Karenanya FPR mengusung tema Gerakan
Rakyat menuntut penghentian perampasan upah, kerja, tanah dan SDA,

2
serta diberikannya jaminan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang
sepenuhnya ditanggung oleh Negara
Dalam orasinya, Ridwan Hasanudin pimpinan Pusat AGRA menyampaikan
ucapan selamat atas kemenangan perjuangan kelas buruh Indonesia atas
ditetapkannya 1 Mei menjadi hari libur untuk memperingati hari buruh
Internasional. Ridwan juga menjelaskan, bahwa AGRA sebagai organisasi
tani tingkat nasional, yang menggorganisasikan, petani, nelayan dan suku
bangsa minoritas (Masyarakat Adat) mengambil bagian dalam peringatan
hari buruh serempak di berbagai daerah, keputusan ini dilandasi atas
pandangan bahwa persoalan yang di hadapi oleh kaum buruh tidak bisa
terlepas dari persoalan yang di hadapi oleh petani.
Politik upah murah di Indonesia memiliki basis sosial persoalan di
pedesaan, masifnya perampasan tanah yang melahirkan cadangan tenaga
kerja dan bermigrasi kekota, adalah syarat utama dari diberlakukannua
politik upah murah di Indonesia. Perjuangan kaum tani untuk reforma
Agraria sejati adalah pondasi atas pembangunan industri nasionalsebagai
tuntutan dan cita-cita kelas buruh dan seluruh Rakyat Indonesia, tanpa
reforma Agraria sejati mustahil, Industri naional dapat di bangun di
Indonesia, sebab bagaimana mungkin membangun Industri nasional jika
sumber kekayaan alam di dominasi dan dikuasi oleh Imperialisme yang
bekerja sama dengan borjuasi besar komperador dan tuan tanah besar
melalui pemerintahan boneka.
Karenanya keterlibatan kaum tani dalam peringatan hari buruh
Internasional, merupakan upaya
nyata untuk terus memupuk dan memperkuat aliansi dasar buruh dan
tani, sebagai kekuatan pokok perubahan di Indonesia. Dalam orasi
penutupnya Ridwan menyampaikan pandangan dan sikap AGRA terkait
dengan pemilu bahwa tidak ada sedikitpun syarat akan lahir sebuh
pemerintahan yang anti terhadap Imperialisme dan anti terhadap
Feudalisme dalam pemilu 2014, karenanya hanya terus memperkuan dan
memperluas organisasi untuk memperkeras perjuangan reforma agraria
sejati dan pembangunan industry nasional adalah jaminan kesejahteraan
bagi rakyat Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN
Pengaruh-pengaruh buruh tani terhadap negara indonesia

Pengaruh buruh tani terhadap pertumbuhan ekonomi


negara
Pembangunan Pertanian di Indonesia tetap dianggap terpenting dari keseluruhan
pembangunan ekonomi, apalagi semenjak sektor pertanian ini menjadi penyelamat
perekonomian nasional karena justru pertumbuhannya meningkat, sementara sektor lain
pertumbuhannya negatif. Beberapa alas an yang mendasari pentingnya pertanian di
Indonesia:
(1) potensi sumberdayanya yang besar dan beragam,
(2) pangsa terhadap pendapatan nasional cukup besar,
(3) besarnya penduduk yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini dan
(4) menjadi basis pertumbuhan di pedesaan
Potensi pertanian yang besar namun sebagian besar dari petani banyak yang termasuk
golongan miskin adalah sangat ironis terjadi di Indonesia. Hal ini mengindikasikan bahwa
pemerintah bukan saja kurang memberdayakan petani tetapi sektor pertanian keseluruhan.
Disisi lain adanya peningkatan investasi dalam pertanian yang dilakukan oleh investor PMA
dan PMDN yang berorientasi pada pasar ekspor umumnya padat modal dan perananya kecil
dalam penyerapan tenaga kerja atau lebih banyak menciptakan buruh tani.
Berdasarkan latar belakang tersebut ditambah dengan kenyataan justru kuatnya aksesibilitas
pada investor asing /swasta besar dibandingkan dengan petani kecil dalam pemanfaatan
sumberdaya pertanian di Indonesia, maka dipandang perlu adanya grand strategy
pembangunan pertanian melalui pemberdayaan petani kecil. Melalui konsepsi tersebut, maka
diharapkan mampu menumbuhkan sektor pertanian, sehingga pada gilirannya mampu
menjadi sumber pertumbuhan baru bagi perekonomian Indonesia, khususnya dalam hal
pencapaian sasaran :
(1) mensejahterkan petani,
(2) menyediakan pangan,
(3) sebagai wahana pemerataan pembangunan untuk mengatasi kesenjangan pendapatan antar
masyarakat maupun kesenjangan antar wilayah,
(4) merupakan pasar input bagi pengembangan agroindustri,
(5) menghasilkan devisa,
(6) menyediakan lapangan pekerjaan,
(7) peningkatan pendapatan nasional, dan
(8) tetap mempertahankan kelestarian sumberdaya.
POTENSI AGRIBISNIS INDONESIA

4
Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar dalam pengembangan agribisnis bahkan
dimungkinkan akan menjadi leading sector dalam pembangunan nasional. Potensi agribisnis
tersebut diuraikan sebagai berikut :
1. Dalam Pembentukan Produk Domestik bruto , sektor agribisnis merupakan penyumbang
nilai tambah (value added) terbesar dalam perekonomian nasional, diperkirakan sebesar 45
persen total nilai tambah.
2. Sektor agrbisnis merupakan sektor yang menyerap tenaga kerja terbesar diperkirakan
sebesar 74 persen total penyerapan tenaga kerja nasional.
3. Sektor agribisnis juga berperan dalam penyediaan pangan masyarakat. Keberhasilan dalam
pemenuhan kebutuhan pangan pokok beras telah berperan secara strategis dalam penciptaan
ketahanan pangan nasional (food security) yang sangat erat kaitannya dengan ketahanan
social (socio security), stabilitas ekonomi, stabilitas politik, dan keamanan atau
ketahanan nasional (national security).
4. Kegiatan agribisnis umumnya bersifat resource based industry. Tidak ada satupun negara
di dunia seperti Indonesia yang kaya dan beraneka sumberdaya pertanian secara alami
(endowment factor). Kenyataan telah menunjukkan bahwa di pasar internasional hanya
industri yang berbasiskan sumberdaya yang mempunyai keunggulan komparatif dan
mempunyai konstribusi terhadap ekspor terbesar, maka dengan demikian pengembangan
agribisnis di Indonesia lebih menjamin perdagangan yang lebih kompetitif.
5. Kegiatan agribisnis mempunyai keterkaitan ke depan dan kebelakang yang sangat besar
(backward dan forward linkages) yang sangat besar. Kegiatan agribisnis (dengan besarnya
keterkaitan ke depan dan ke belakang) jika dampaknya dihitung berdasarkan impact multilier
secara langsung dan tidak langsung terhadap perekonomian diramalkan akan sangat besar.
6. Dalam era globalisasi perubahan selera konsumen terhadap barangbarang konsumsi
pangan diramalkan akan berubah menjadi cepat saji dan pasar untuk produksi hasil pertanian
diramalkan pula terjadi pergeseran dari pasar tradisional menjadi model Kentucky. Dengan
demikian agroindustri akan menjadi kegiatan bisnis yang paling attraktif.
7. Produk agroindustri umumnya mempunyai elastisitas yang tinggi, sehingga makin tinggi
pendapatan seseorang makin terbuka pasar bagi produk agroindustri.
8. Kegiatan agribisnis umumnya menggunakan input yang bersifat renewable, sehingga
pengembangannya melalui agroindustri tidak hanya memberikan nilai tambah namun juga
dapat menghindari pengurasan sumberdaya sehingga lebih menjamin sustainability.
9. Teknologi agribisnis sangat fleksibel yang dapat dikembangkan dalam padat modal
ataupun padat tenaga kerja, dari manejement sederhana sampai canggih, dari skala kecil
sampai besar. Sehingga Indonesia yang penduduknya sangat banyak dan padat, maka dalam
pengembangannya dimungkinkan oleh berbagai segmen usaha.

5
10. Indonesia punya sumberdaya pertanian yang sangat besar, namun produk pertanian
umumnya mudah busuk, banyak makan tempat, dan musiman. Sehingga dalam era
globalisasi dimana konsumen umumnya cenderung mengkonsumsi nabati alami setiap saat,
dengan kualitas tinggi dan tidak busuk dan makan tempat, maka peranan agroindustri akan
dominant.
Mengapa Pertanian ?
Studi komprehensif dari berbagai disiplin keilmuan membuktikan betapa proses
perkembangan ekonomi-baik dalam arti sempit industrialisasi maupun arti luas modernisasi
yang terjadi sejak Revolusi Industri di Inggris telah menimbulkan kemerosotan peranan
masyarakat tradisional (golongan petani di perdesaan) yang makin bertambah cepat. Sebagai
akibatnya, ketika terjadi pertumbuhan ekonomi, peranan golongan petani semakin menciut,
dan sebagai gantinya, peranan masyarakat modern semakin meningkat. Sejajar dengan itu
maka peranan golongan buruh industri, pedagang, pengusaha-pokoknya semua golongan
masyarakat kota-juga semakin meningkat.

Pengaruh buruh tani terhadap politik


pengaruh buruh di bidang politik berkaitan dengan peran penting
mereka sebagai salah satu kegiatan ekonomi yaitu sadar bahwa
peran mereka begitu penting dalam bidang ekonomi, maka buruh
menuntut berbagai tuntutan-tuntutan yang berkaitan dengan
kepentingan mereka. Kepentingan-kepentingan ini akhirnya
dijadikan sebagai jalan bagi buruh menuju kegiatan politik.
Disamping itu, peran buruh dalam politik yang cukup kuat juga
dipengaruhi oleh kuantitas buruh yang cukup signifikan, kuantitas
ini diikuti juga dengan kekompakan dan sifat militan dari buruh,
kekompakan dan sifat militan ini timbul disebabkan adanya
kesadaran bahwa nasib mereka dan kepentingan.
Sejak krisis yang dialami oleh Negara-negara barat (Uni Eropa dan
Amerika) 7 tahun yang lalu, perbincangan, perdebatan soal krisis masih
kita dengar lewat pewartaan berbagai media publik, bahkan sampai saat
ini. Dengan berbagai cara pula, Negara-negara liberal terus mencari jalan
keluar dari KRISIS tersebut. Berbagai pertemuan antar Negara di dunia
terus diselenggarakan dengan semangat GLOBALISASI, seperti G-20,
G-8, AC-FTA, KTT ASEAN, Nasional Summit dan sebagainya, telah
menghantarkan Rakyat semesta pada satu keadaan dimana tidak ada lagi
sekat dan batasan antar Negara. Namun, tujuan dari semua upaya itu
adalah tidak lain untuk mempertahankan kekuasaan kelas PEMODAL
yang sejatinya sebagai kelas minoritas dari hantaman krisis untuk terus
menindas
dan
menghisap
rakyat.
NEOLIBERALISME, adalah istilah yang tepat untuk menyimpulkan zaman
ini. Dengan kebijakan Stuctural Ajusment Program (SAP) dan Pasar

6
Bebas. SAP sebagai program perbaikan ekonomi mencakup perubahan
dalam bidang ekonomi mikro dan ekonomi makro (seperti kebijakan fiskal,
monetar dan pasar yang difasilitasi oleh kebijakan politik sebuah negara)
sebagai pagu utama Neoliberalisme. Kebijakan-kebijakan Neo-Liberal
pada prakteknya secara umum adalah : 1) Penerapan prinsip pasar
bebas dalam perspektif ekonomi negara. Mengecilkan sampai
menghilangkan peran negara dalam ekonomi 2) Memotong sampai
menghapuskan subsidi. 3) Swastanisasi (privatisasi) BUMN 4)
Menghapus konsep barang-barang public dan menggantinya dengan
tanggung
jawab
individual.
Keselarasan rezim penguasa antek kaum modal (SBY-BOEDIONO) dalam
menjalankan agenda-agenda liberalisasi yang sudah dimandatkan dalam
konsolidasi klas pemodal dengan para penguasa dari tingkat nasional
sampai tingkat lokal melalui Nasional Summit pada tahun 2009 lalu
sesungguhnya telah memuluskan lahirnya kebijakan-kebijakan yang anti
rakyat, atas dasar menjamin iklim investasi yang kondusif kini kaum
pemodal semakin dipermudah untuk mencaplok tanah-tanah rakyat
dengan di keluarkannya UU Pengadaan Tanah, pendidikan semakin di
kapitalisasi dengan dikeluarkannya UU Perguruan Tinggi, menjual tenaga
kerja produktif dengan menjalankan politik upah murah, mencabut subsidi
publik dengan menaikan harga BBM dan TDL yang semakin mencekik
kebutuhan kehidupan rakyat, merampok sumber daya alam dan kekayaan
alam lainnya dengan program MP3EI (Masterplan Percepatan Perluasan
dan Pembangunan Ekonomi Indonesia) dan seterusnya yang sejatinya
adalah upaya untuk menyelamatkan KRISIS KAPITALISME yang sampai
detik ini masih belum terselamatkan.
Kemunculan perlawan rakyat tani dan buruh dalam 3 tahun terakhir ini,
seperti; perjuangan kaum tani di sinyerang, mesuji, bima, ogan ilir sumsel
dll, yang telah memakan korban jiwa dan dua kali gerakan kaum buruh
melakukan pemogokan nasional dalam perjuangan normatifnya adalah
merupakan efek balik dari pelaksanaan kebijakan-kebijakan anti rakyat
tersebut. Rezim SBY tidak lain merupakan hasil pesta demokrasi borjuasi
2004
dan
2009
yang
telah
terbukti
GAGAL.
Bahkan celakanya lagi, rezim SBY telah meletakan dasar bagi
pemerintahan selanjutnya melalui pemilu 2014 yakni PASAR BEBAS.
Integrasi pasar regional di kawasan ASEAN dengan open akses market
yang nanti dilembagakan lewat MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) atau
ASEAN Economic Community (AEC) akan berlangsung efektif per 31
Desember 2015. Dalam cetak biru MEA, ada 12 sektor prioritas nantinya
yang akan diintegrasikan. Sektor tersebut terdiri dari tujuh sektor barang
yakni industri agro, elektronik, otomotif, perikanan, industri berbasis karet,
industri berbasis kayu, dan tekstil. Sisanya adalah lima sektor jasa yaitu
transportasi udara, pelayanan kesehatan, pariwisata, logistik, serta
industri teknologi informasi (e-Asean). Sektor ini nantinya akan
diimplementasikan dalam bentuk pembebasan arus barang, jasa,

7
investasi, dan juga tenaga kerja terampil. Bentuk kerja sama ini bertujuan
agar terciptanya aliran bebas barang, jasa dan tenaga kerja terlatih, serta
aliran investasi modal yang lebih bebas, disebut bebas karena 4
komponen tersebut (barang, jasa, tenaga kerja dan modal) baik yang
berasal dari luar negeri maupun dalam negeri akan diperlakukan sama.
Kebijakan liberalisasi pasar bebas, terutama pasar tenaga kerja terlatih di
kawasan ASEAN bukan saja menjadi ancaman nyata bagi mayoritas
buruh Indonesia namun juga akan berdampak pada proses penyerapan
lulusan sekolah tinggi dan sekolah menengah kejuruan bagi pemenuhan
pasar tenaga kerja Industri Nasional, sebuah persaingan yang selama ini
tidak terelakkan terjadi diantara para pencari kerja menjadi semakin
menajam dengan diberlakukannya pasar tenaga kerja yang terintegrasi
dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN nantinya. Jika kita bicara soal tenaga
kerja terdidik dan terlatih, tentunya ia tidak akan terlepas dari jenjang
pendidikan sebagai salah satu tolak ukurnya. Faktanya, berdasarkan data
BPS pada Februari 2013, dari jumlah angkatan kerja sebanyak 121,19
juta sebagian besar didominasi lulusan SD kebawah sebanyak 56, 67 juta
(46,7 %), SMP 22,1 juta (18.25%), SLTA 11,03 juta ( 9,10 %) Diploma 3,41
juta (2,81%) dan lulusan universitas 8,36 juta (6,90%). Bisa kita
bayangkan dengan sedikitnya jumlah tenaga kerja terdidik dan terlatih di
Indonesia yang akan bersaing di pasar tenaga kerja, tentunya hanya akan
menghasilkan
LEDAKAN
PENGANGGURAN
di
Indonesia.
Belum lagi dengan persoalan-persoalan konkrit yang dihadapi rakyat
Indonesia saat ini (khususnya kaum buruh), masih langgengnya POLITIK
UPAH MURAH serta system kerja KONTRAK dan OUTSOURCING telah
menjadikan kelas pekerja Indonesia sebagai kaum terhina, tertindas dan
dilecehkan di negerinya sendiri. Kita masih melihat banyaknya fenomena
perjuangan kaum buruh yang menuntut hak-haknya (seperti: status kerja,
upah layak, jaminan sosial tenaga kerja dll), justru mendapatkan tindakan
reaksioner dari pengusaha dengan mem-PHK dan merumahkan kaum
buruh. Bahkan manifestasi dari liberalisasi ketenagakerjaan telah sampai
pada Perusahaan BUMN yang juga menerapkan system kerja kontrak dan
outsourcing.
Ketiga, Kehadiran partai alternatif nanti sekurang-kurangnya harus
mengusung program-program alternatif kerakyatan bagi perubahan
bangsa
dan
rakyat
kedepan,
yakni
:
1. Nasionalisasi aset-aset strategis bangsa dibawah kontrol rakyat, demi
pengadaan sumber-sumber keuangan negara dan kesejahteraan rakyat.
Aset-aset ini berada di berbagai sektor yang semakin dimiliki oleh swasta
dan asing seperti: kehutanan, kelautan, perkebunan, tambang mineral dan
energi, telekomunikasi, perbankan, transportasi, pendidikan dan
kesehatan.
2.

Tangkap,

adili

dan

sita

kekayaan

koruptor.

8
3. Industrialisasi nasional yang ramah lingkungan bagi kemandirian
nasional
dan
pembukaan
lapangan
pekerjaan.
4.

Penghapusan

hutang

5. Reforma agraria sejati; yaitu melakukan tata kelola tanah dan sumbersumber
agraria
yang
modern
dan
berkeadilan.
6. Pemberlakuan upah layak nasional dan penghapusan sistem kerja
kontrak dan outsourcing serta membentuk Undang-Undang Perlindungan
Buruh.
7. Pemberian subsidi bagi rakyat demi : [1]. Pendidikan, kesehatan dan air
minum gratis. [2]. Pangan, energi, perumahan, transportasi dan
komunikasi
murah.
8. Penataan sumber daya alam dan lingkungan hidup yang berkelanjutan
melalui partisipasi rakyat dan teknologi modern tepat guna.
9. Kesetaraan hak sosial, ekonomi, politik dan budaya terhadap
perempuan
Oleh Karena itu, kebutuhan mendesak gerakan rakyat yang anti terhadap
pemerintahan Neo-Liberalisme saat ini adalah membangun kekuatan
politik rakyat sebagai alat perjuangan politik bersama, namun Kebutuhan
akan persatuan perjuangan serta meningkatkan kualitas perjuangan politik
gerakan rakyat haruslah berlandaskan pada kekuatan rakyat itu sendiri
(persekutuan ideologis kaum buruh, tani, miskin kota, mahasiswa,
nelayan, dll). Tidaklah tepat pembangunan gerakan politik rakyat dengan
menyandarkan taktik mendompleng kepada kekuatan partai politik
borjuasi ataupun mendukung calon presiden yang populer pada pemilu
borjuasi 2014 ini, adalah merupakan taktik yang keliru sekalipun hanya
sebagai
proses
pembelajaran
politik.
Keempat, membangun KONFEDERASI ALTERNATIF bagi gerakan buruh.
Bahwa Konfederasi yang hari ini ada belum mampu menjadi pelopor
perjuangan sejati bagi klas buruh bahkan mereka menjadi sekutu bagi elit
borjuasi. Sehingga klas buruh yang sadar dan terus berlawan
membutuhkan alat Konfederasi Alternatif yang berbeda dengan
Konfederasi-konfederasi yang sudah ada. Konfederasi Alternatif ini
dibangun secara nasional dengan menyatukan serikat-serikat, federasifederasi, maupun konfederasi yang telah menginsafi bahwa perjuangan
klas buruh tidak bergandengan tangan dengam elit-elit politik borjuasi,
maka sudah barang tentu perjuangan klas buruh akan semakin besar dan
kuat
dalam
menuntaskan
persoalan-persoalan
perburuhan.

9
Maka menjadi tugas sejarah bagi kita, MEMPERKUAT ORGANISASI dan
MEMBANGUN PERSATUAN RAKYAT untuk menentukan TAKDIR dan
NASIB kita sendiri sebagai Rakyat Indonesia yang terhina, diinjak dan
dilecehkan di atas tanah air kita sendiri. Tanpa lelah terus mengupayakan
pembangunan KONFEDERASI ALTERNATIF gerakan buruh, serta terusmenerus memperluas kesadaran Anggota dan segenap Rakyat,
membangun ALAT POLITIK ALTERNATIF untuk mewujudkan
PEMERINTAHAN TRANSISI di bawah kepemimpinan KELAS BURUH
yang tidak akan pernah berkompromi atau bekerjasama dengan klas
BORJUASI!!!
Sekber
Buruh
Bersama
Komite
Politik
Alternatif:
FPBI (Federasi Perjuangan Buruh Indonesia), SGBN (Sentra Gerakan
Buruh Nasional), GSPB (Gabungan Serikat Perjuangan Buruh), SPKAJ
(Serikat Pekerja Kereta Api Jabodetabek), SBMI (Serikat Buruh Migran
Indonesia), Frontjak (Front Transportasi Jakarta), PPI (Persatuan
Perjuangan Indonesia), KPO-PRP (Kongres Politik Organisasi Perjuangan Rakyat Pekerja), PPR (Partai Pembebasan Rakyat), SMI
(Serikat Mahasiswa Indonesia), PEMBEBASAN (Pusat Perjuangan
Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional), KPOP (Kesatuan Perjuangan
Organisasi Pemuda), SGMK (Sentral Gerakan Muda Kerakyatan),
SeBUMI (Serikat Kebudayaan Rakyat Indonesia), SPRI (Serikat
Perjuangan Rakyat Indonesia), LMND (Liga Mahasiswa Demokrat
Indonesia), GMI (Gerakan Mahsiswa Indonesia), PMKRI (Perhimpunan
Mahasiswa Katolik Republik Indonesia), KPA (Konsorsium Pembaharuan
Agraria),
GRI
(Gerakan
Rakyat
Indonesia)

Pengaruh buruh tani terhadap sosial


Untuk melihat dinamika perlawanan rakyat diperlukan landasan
teoritis dan praktis bagi peran rakyat sipil terorganisir (organized civil
society) dalam transformasi sosial dalam konteks Dunia Ketiga.
Transformasi sosial didefinisikan sebagai penciptaan hubungan ekonomi,
politik, kultural dan lingkungan yang secara mendasar baru dan lebih
baik. Dalam hal ini transformasi sosial dianggap sebagai salah satu model
atau bentuk alternatif tentang perubahan sosial yang merupakan tujuan
utama dari gerakan sosial. Dalam konteks Dunia Ketiga, studi tentang
gerakan sosial dan transformasi sosial tidak bisa dipisahkan dari masalah
pembangunan (Bonner, 1990).
Oleh karena itu studi mengenai transformasi sosial juga
dimaksudkan
untuk
mencari
alternatif
terhadap
gagasan
pembangunan yang selama dua dasawarsa ini telah menjadi agama
sekuler baru bagi berjuta-juta rakyat di negeri Dunia Ketiga. Pada
dasarnya pembangunan diterima oleh birokrat, akademisi maupun aktivis
LSM tanpa mempertanyakan landasan ideologis maupun diskursusnya.
Namun, pertanyaan terhadap ide pembangunan bukanlah semata-mata

10
mengenai soal metodologi ataupun soal pendekatan
serta teknik
pelaksanaan pembangunan Tetapi yang perlu dipertanyakan secara
teoritis justru pembangunan itu sendiri dianggap sebagai suatu gagasan
yang kontroversial1 (Faqih, 1996:29).
Gerakan sosial yang terjadi di Dunia ketiga seringkali berkaitan
secara tidak langsung dengan pendekatan perubahan sosial yang
dominan (mainstream approach), yakni perubahan sosial yang direkayasa
oleh negara, melalui apa yang disebut sebagai pembanguan
(Development). Pada umumnya pelbagai studi tersebut dimaksudkan
memahami watak perlawanan dan kritik terhadap modernisasi, yaitu
suatu skenario yang diasumsikan dan dirancang untuk membawa
kemajuan dan kemakmuran di Dunia Ketiga. Namun pembangunan
dipandang rakyat ternyata justru sebagai penyebab kemacetan ekonomi,
krisis ekologis, serta berbagai kesengsaraaan rakyat di Dunia Ketiga.
Pertumbuhan Jumlah organisasi gerakan sosial di Dunia Ketiga
khususnya LSM di Indonesia, tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan
sejarah diskursus pembangunan. Keberaaan LSM dan organisasi sosial di
Indonesia senantiasa berkaitan dengan masalah-masalah pembangunan.
Sehingga di banyak negara Dunia Ketiga istilah LSM/NGO selalu
berkonotasi organisasi pembangunan non pemerintah (Fakih, 1996).
Konflik antara rakyat (petani) dan perkebunan PTP XII secara
langsung berarti juga masuknya sistem ekonomi kapitalis ke masyarakat
yang berbasis pertanian. Masuknya sistem ekonomi kapitalis ini juga
berarti mulai diperkenal kannya sistem ekonomi uang. Sistem ekonomi
kapitalis dan moneterisasi yang dibawa masuk perkebunan ke masyarakat
pertanian telah banyak mempengaruhi pola hubungan sosial dari
komunalisme ke pola hubungan rasional, seperti terlihat dari cara
persewan tanah memberikan buruh secara upahan dengan uang tunai
(fress money) yang semuanya itu lebih mengedepankan petimbanganpertimbangan legal-formal.
Diintroduksinya sistem ekonomi perkebunan yang kapitalistik ke
kehidupan rakyat petani telah menyebabkan terjadinya perubahan sosial
yang mendasar. Misalnya, munculnya stratifikasi sosial baru, yaitu
pengusaha sebagai kelompok minoritas elit ekonomi-politik dan kelompok
buruh (pekerja)/penduduk pribumi. Mereka terbentuk dalam status ikatan
sosial yang didasarkan pada ikatan ketergantungan antara majikan dan
pekerja sebagai ikatan patron-klien (Kusbandriyo, 1996).

Apakah pembangunan benar-benar merupakan jawaban untuk memecahkan masalah-masalah bagi


rakyat kebanyakan, atau semata-mata merupakan alat untuk menyembunyikan penyakit sebenarnya yang lebih
mendasar. Bagi penganut teori perubahan sosial mainstream, teori perubahan sosial dominan ini dianggap
menjanjikan harapan. Namun banyak para pakar ilmu sosial secara kritis meneliti dampak pembangunan, dan
banyak penulis menganggap bahwa ide pembangunan justru telah menciptakan kesengsaraan ketimbang
memecahlan masalah yang dihadapi rakyat Dunia Ketiga

11
Pihak perkebunan telah mendayagunakan sistem ekonomi modern
yang kapitalistik sementara pada saat yang sama rakyat tetap dengan
sistem ekonomi pertanian yang tradisional. Maka, terbangunlah
sebagaimana dikemukakan Booke-- dualisme ekonomi. Dualisme ekonomi
ini, menurut Paige (1975) dalam bukunya Agrarian Revolution: Social
Movement and Export Agriculture in the Undedevelopment World,
mengakibatkan rendahnya subsistensi petani penggarap dan kemudian
berdampak pada perbedaan-perbedaan konsep secara mendasar antara
pihak perkebunan dan rakyat dalam memandang masalah status tanah
dan pengusahaannya. Dalam sejarah perkebunan yang bersifat
kontraktual dan kapitalistik selain amat jarang terjadi kepentingan petani
diperhatikan sebagaimana semestinya, para petani juga diposisikan
sangat rendah (Lanberger, sebagaimana dikutip Kusbandrijo, 1996).
Menurut Paige (1975), tuntutan ekonomi komersial untuk mengejar
keuntungan cenderung untuk menguasai sebanyak mungkin surplus
keuntungan dari pada berbagi keuntungan dengan petani atau buruh tani.
Perbedaan kepentingan ini sangat rentan terhadap militansi dan
radikalisme petani, baik yang diam-diam maupun terbuka yang
merupakan bentuk mekanisme survival petani untuk mempertahankan
kehidupannya sekaligus menuntut keadilan. Menurut Lanberger (1981)
berbagai tekanan yang dilakukan oleh perkebunan yang menggunakan
model ekonomi kapitalistik tersebut memposisikan rakyat petani sebagai
klas masyarakat pinggiran, marjinal dan inferior yang dalam prosesnya
menjadikan sikap mereka gampang bereaksi secara kolektif. Hal yang
sama juga dikemukakan oleh Scott (1993) bahwa posisi petani yang
terpojokkan akan dengan gampangnya melakukan pembrontakan secara
kolektif.
Ketika ekspansi statis mencapai puncaknya karena keterbatasan
lahan, maka strategi untuk memelihara homogenitas sosial diarahkan
pada dinamika internal komunitas sebagaimana dikemukakan Gerzt 2. Di
tengah proses berbagi kemiskinan ini sesungguhnya mulai berkembang
adanya pelapisan sosial berdasarkan penguasaan tanah juga mulai
kelihatan kata Prof Sayogjo dalam Kata Pengantarnya dalam bukunya
Gerzt. Seiring dengan itu, juga tengah berlangsung adanya perbedaan
akses atas penguasaan tanah main dominan menjadi dasar differensiasi
sosial (Kano, 1984), bahkan konflik di pedesaan kemudian seringkali
berpangkal pada masalah penguasaan tanah (Lyon, 1984).
Dominasi barat dan perubahan yang menyertainya menyebabkan
goyahnya tatanan masyarakat tradisional beserta nilai-nilai tradisinya.
2

Menurut Gerzt, masyarakat Jawa, dibawah tekanan penduduk yang terus bertambah sementara
sumber daya (tanah) tetap, masyarakat desa Jawa tidak terbelah menjadi dua yakni tuan tanah dan tuna kisma;
melainkan tetap mempertahankan homogenitas sosial-ekonominya dsengan cara membagi-bagi kueekonomi yang ada, sehingga bagian yang diperoleh masing-masing makin lama makin kecil. Fenomena inilah
yang kemudian disebut dengan pemerataan kemiskinan (sharred poverrty)

12
Kondisi demikian menjadi ladang sumber bagi munculnya gerakan sosial.
Karena itu, gerakan sosial acapkali merupakan ledakan ketegangan
pertentangan dan permusuhan dalam masyarakat. Sebagai aktifitas
kolektif gerakan sosial bertujuan untuk mewujudkan tatanan masyarakat
yang dicita-citakan dalam (setidaknya) menolak suatu perubahan yang
seringkali dilakukan dengan jalan radikal. (Sartono, 1987: 151-152).
Selain berupa radikalisasi, bentuk perlawanan rakyat juga bis
dilakukan dengan perlawanan terselubung atau pembangkanganpembangkangan (Siahaan, 1997). Termasuk pembangkangan di sini
adalah penipuan, pemalsuan, kebodohan yang dibuat-buat, pembelotan,
pencurian kecil-kecilan, penyerangan, pelanggaran, pembakaran rumah
dengan sengaja, penyelundupan dan pembunuhan secara diam-diam.
Tindakan ini dilakukan sebagai alternatif untuk menentang secara terangterangan dan atau terlalu riskan untuk mengadakan tantangan terbuka
( Scott, 1989).
4.2. TEORI GERAKAN SOSIAL
Setiap gerakan sosial mempunyai ciri hampir sama yakni
kemampuan partisipasinya untuk membangkitkan rasa rela berkorban,
kecenderungan bertindak secara kompak, fanatis, kebencian, antusiasme,
intoleransi dan kesetiaan tunggal. Peserta gerakan sosial adalah orangorang yang kecewa dan tidak puas (Eric Hoffer, 1988). Dalam kondisi
demikian telah terjadi depriviasi relatif, yaitu ketidaksesuaian antara
harapan dan kenyataan yang dihadapi (Sylvia, 1984).
Studi tentang gerakan sosial dapat dianalisis dengan menggunakan
dua perpesktif teori sosiologi: (1) perspektif struktural fungsional dan (2)
perspektif struktural konflik Perspektif pertama terdiri dari pelbagai teori
yang cenderung melihat gerakan sosial sebagai masalah, atau sebagai
gejala penyakit masalah kerakyatan. Herbele (1951), dalam bukunya
Social Movement : An Introduction to Political Sociology, mengkonsepkan
bahwa gerakan sosial pada dasarnya adalah bentuk perilaku politik
kolektif non-kelembagaan yang secara potensial berbahaya karena
mengancam stabilitas cara hidup yang mapan. Sementara itu, Sosiolog
lainnya, misalnya Fruer (1969), cenderung melihat gerakan sosial sebagai
Konflik generasi.
Lipset (1967) dengan analisis sosiologisnya menganggap bahwa
gerakan sosial merupakan bagian generasi baru yang memperjuangkan
pengakuan, dan perlunya menentang orang tua mereka dan
kemapanan yang tidak memberi pengakuan kepada mereka.
Sementara itu Maslow (1962) mencoba menggabungkan analisis
psikologis dan struktural. Ia melihat gerakan mahasiswa dan gerakan
sosial lainnya sebagai mewakili suatu generasi baru dengan kebutuhan
yang lebih tinggi yang, tepatnya karena mereka muncul dalam

13
kesenangan kelas menengah, berada dalam posisi mencari nilai-nilai
pascamateri, berkaitan dengan tujuan pemenuhan kebutuhan diri
(sendiri) dan tujuan yang lebih altruistik yang berhubungan dengan
kualitas hidup. Akhirnya, Keniston (1965) menganggap gerakan
mahasiswa sebagai anggota kelas menengah yang teralienansi.
Berbagai teori mengenai gerakan sosial tersebut berakar dan
dipengaruhi oleh teori sosiologi dominan, fungsionalisme. Fungsionalisme
seringkali juga disebut sebagai fungsionalisme struktural karena
penekanannya pada keperluan, atau kebutuhan sistem sosial
fungsional yang harus dipernuhinya ileh bagoan-bagiannya sebagai upaya
untuk mempertahankan kelangsungan dan struktur yang ada.
Fungsionalisme melihat rakyat dan pranata sosial sebagai sistem dimana
seluruh bagiannya saling bergantung satu sama lain dan bekerja bersama
guna menciptakan keseimbangan. Dengan demikian keseimbangan
merupakan unsur kunci dalam fungsionalisme. Salah satu proposisi
terpenting fungsionalisme adalah, akan selalu ada reorganisasi
dikarenakan kebutuhan memperbaiki keseimbangan. Dalam menganalisis
bagaimana
sistem
sosial
mempertahankan
dan
memperbaiki
keseimbangan, mereka condong menggunakan nilai-nilai yang dimiliki
atau standar sifat yang diterima secara umum sebagai konsep sentral.
Fungsionalisme menekankan kesatuan rakyat dan apa yang dimiliki
bersama
oleh
anggotanya.
Itulah
sebabnya
maka
penganut
fungsionalisme condong melihat gerakan sosial sebagai negatif, yakni
menimbulkan konflik yang akan mengganggu harmoni rakyat.
Meskipun fungsionalisme sebagai aliran pemikiran mengklaim
sebagai teori perubahan, tetapi kalau dilihat asumsi dasarnya maka
sesungguhnya fungsionalisme bersandar kepada gagasan status quo.
Oleh sebab itu fungsionalisme lebih merupakan teori stabilitas sosial dan
konsensus normatif. Doktrin ini dikembangkan berdasarkan asumsi bahwa
rakyat adalah bagian dari suatu sistem yang saling bergantung dan
berkesesuaian satu sama lain, atau sekurang-kurangnya dalam proses
saling penyesuaian diri kembali secara terus-menerus. Dengan alasan ini,
fungionalisme melihat konflik sebagai sesuatu yang harus dihindari.
Talcott Parsons, yang dikenal sebagai bapak fungsionalisme, dalam
berbagai karya awalnya tentang perubahan sosial dengan jelas
menekankan perlunya keseimbangan. Ia menyetujui perubahan di dalam
sistem, dan bukan perubahan sistem sosial. Sesungguhnya gagasan
Parsons adalah tentang perubahan yang bersifat perlahan-lahan dan
teratur yang senantiasa menyeimbangkan kembali (re-equibrium), dan
hal ini menghasilkan suatu keadaan semacam keseimbangan, meknisme
penguasaan, ketegangan dan kekacauan ketika membahas konflik dan
perubahan.

14
Dalam kaitan dengan studi mengenai gerakan sosial dan perubahan
sosial konsep hegemoni dianggap sebagai inti pemikiran politik Gramsci.
Namun masalahnya Gramsci tidak mendefinisikannya dengan jelas dalam
tulisannya. Penggunaan definisi Williams membantu kita untuk
memahami konsep hegemoni Gramsci. Walaupun hegemobi diperoleh
melalui persetujuan dan penggunaan paksaan oleh satu kelas atas yang
lainnya, persetujuan dalam proses hegemonik memainkan peranan
sangat penting. Hegemoni dibakukan melalui banyak cara dimana pranata
rakyat sipil membentuk persepsi tentang realitas sosial. Bagi Gramsci,
hegemoni adalah bentuk kontrol dan kekuasaan yang sangat penting.
Dengan demikian kekuasaan hegemonik lebih merupakan kekuasaan
melalui persetujuan, yang mencakup beberapa jenis penerimaan
intelektual atau emosional atas tatanan sosial-politik yang ada. Menurut
Femia (1975), gagasan Gramsci tentang hegemoni menitik-beratkan pada
superfisialitas persetujuan di dalam sistem kapitalis dimana persetujuan
itu mencangkup bentuk komitmen aktif maupun pasif. Persetujuan
sebagaimana dikonseptualisasi oleh Gramsci, adalah ungkapan intelektual
dan arah modal melalui mana perasaan massa secara tetap terikat
dengan ideologi dan kepemimpinan politik negara sebagai ungkapan
keyakinan dan aspirasinya. (Femia, 1975, hal. 29-48).
Dalam menggambarkan bagaimana hegemoni bekerja, Gramsci
mengambil contoh dari demokrasi di Barat: pengguanan hegemoni yang
normal atas daerah klasik regim parlementer sekarang bercirikan
penggabungan antara kekuatan dan persetujuan, yang keseimbangan
antara satu sama lainnya secara timbal balik, tanpa kekuatan
mendominasi secara luas atas persetujuan. Tentu saja upayanya selalu
dibuat untuk memastikan bahwa kekuatan akan muncul berdasarkan
majoritas. (Gramsci, 1971: 90).
Dalam konteks Dunia Ketiga saat ini, hegemoni mengambil bentuk
dalam konsep Pembangunan. Escobar (1992) berpendapat bahwa ide
Pembangunan berhasil dalam menciptakan keberagaman antagonisme
dan identitas ( kaum petani yang diperbedakan, kaum marginal
perkotaan, kelompok tradisional, perempuan dan lain-lain ) yang,
dalam banyak contoh,menjadi subyek perjuangan dalam bidang nya
masing-masing (Gramsci, 1971: 60).
Oleh karena itu, bagi Gramsci, pendidikan, kultur, dan kesadaran
adalah daerah perjuangan yang penting. Sebenarnya konsep hegemoni
adalah inti teori perubahan sosial Gramsci, karena hegemoni adalah
bentuk kekuasaan kelompok dominan yang digunakan untuk membentuk
kesadaran kelompok subordinat. Bagaimana hegemoni bekerja, dan
bagaimana ideologi hegemonik dimasukkan ke dalam kesadaran
merupakan hal yang rumit. Tetapi Gramsci seperti sepenuh hati percaya
terhadap kuatnya kesadaran kritis individu, dan dia menolak gagasan
determinisme historis ekonomi. Formulasi Gramsci tetap memakai

15
gagasan kelas buruh sebagai pusat gerakan revolusioner, tetapi tetap
membuka kemungkinan memasukkan kelmpok baru dalam kategori kelas
buruh, menciptakan suatu aliansi antara unsur kelas buruh dengan
kelompok lain, dan menekankan transformasi kesadaran sebagai bagian
dari proses revolusioner.
4.3. TEORI CIVIL SOCIETY
Sejarah bangsa Indonesia bisa jadi sejarah kehidupan warganya
yang hampir tidak pernah mengenal kebebasan diri warga itu sendiri.
Mereka hidup dalam sangkar budaya feodalisme, cengkeraman
kolonialisme dan kemudian kekuasaan birokrasi negara. Manusia-manusia
yang menjadi warga negara Indonesia dalam sejarahnya hampir selalu
hidup dalam suasanan terpasung oleh kekuatan-kekuatan sekitarnya
sehingga hampir tidak pernah mampu dan berkesempatan menikmati
kebebasan sebagai manusia (civil right)
Sejak kolonialisme Belanda selain tidak cukup
menyediakan
infrastruktur sosial yang memadai terhadap kemungkinan tumbuhnya
institusi sosial sukarela, pluralisme dan transaksi sosial lintas kultural,
juga ada upaya sistematik menghambat munculnya civil society 3. Meski
setelah politik etis, ada banyak muncul pribumi terdidik, namun
jumlahnya sangat tidak memadai khususnya terhadap gagasan-gagasan
politik kebangsaan Indonesia. Kecuali kesadaran nasionalisme (1928) dan
gagasan nasionalisme generasi kedua (1945) tidak didukung oleh
tersedianya forum dan media yang memungkinkan elemen-elemen
manjemuk dalam civil society berinteraksi dalam kerangka negara bangsa
(nation state) yang modern (Sparringa, 2000).
Baru antara 1950-1958 ada indikasi kuat mulai berlangsungnya
interaksi antar elemen-elemen majemuk dalam rakyat dalam ruang publik
yang amat dinamis karena melibatkan proses-proses negosiasirenegosiasi dan posisi-reposisi di antara nilai-nilai lokal, partikular dan
universal. Perkembangan civil society tersebut terhambat oleh demokrasi
terpimpin (1959-1965), sebab kompetisi antar aliran idiologi (Islam,
tradisional
ortodoks,
nasionalis,
sosial-demokrat
dan
komunis)
tenggelam4 oleh besarnya kehendak negara yang selain mengeliminasi
polarisasi dan devisi sosial di rakyat, juga mengarahkan politik massa ke
elitis (Sparringa, 2001).
Walaupun melalui motivasi yang berbeda, perubahan politiknya
selanjutnya memperburuk perkembangan civil society. Hadirnya rejim
Orde Baru telah amat menghancurkan kemungkinan elemen-elemen
penting dalam Civil Society di Indonesia untuk melanjutkan proses
3
Hal ini misalnya dapat dilihat dari adanya pembedaan pekerjaan dan pemukiman berdasarkan ras dan
etnis antara Kolonial, Arab, Cina dan pribumi.
4
Persaingan antar aliran ideologi dicegah untuk berkembang melalui pengenalan kembali pada
gagasan-gagasan nasionalisme awal republik yang amat diwarnai oleh interpretasi Soekarno yang sampai batasbatas tertentu merupakan usaha sinkretisme atas aliran-aliran ideologi tersebut.

16
pertumbuhannya. Kebijakan yang amat sistematis yang ditempuh oleh
Orde Baru untuk melakukan depolitisasi politik massa dan politik aliran
menggenapkan kesempurnaan proses-proses politik yang dasar-dasarnya
telah diletakkan sebelumnya oleh pemerintahan kolonial. Orde Baru,
dalam pemahaman sosiologis, merupakan fenomena negara yang amat
hegemonik karena amat berhasil mengintegrasikan elemen-elemen
penting civil society
ke dalam wilayah negara. Interaksi di antara
elemen-elemen majemuk yang memungkinkan berkembangnya ruang
publik bagi perkembangan sebuah rakyat plural praktis tidak banyak
berkembang, bahkan hancur, karena adopsi cara pandang Orde Baru yang
melihat kesempatan semacam itu lebih mungkin menghasilkan
disintegrasi sosial daripada stabilitas sosial --sebuah paradigma yang
kemudian diketahui amat menyesatkan karena stabilitas sosial yang
dibangun dengan cara meniadakan kemajemukan itu justru menimbulkan
komplikasi yang amat serius di kemudian hari (Sparringa, 2001).
Sebagaimana diketahui dari kesejarahan bangsa-bangsa yang telah
maju dan demokratis, keberadaan civil society yang kuat merupakan
salah satu landasan pokok bagi ditegakkannya sistem politik demokrasi.
Civil society di sini didefinisikan sebagai wilayah kehidupan sosial yang
terorganisasi dengan ciri-ciri kesukarelaan, keswadayaan, keswasembada
an dan kemandirian berhadapan dengan negara. Dengan tumbuh dan
berkembangnya civil society yang kuat maka dimungkinkan pencegahan
terhadap dampak-dampak negatif dari dua kekuatan tersebut sehingga
kehidupan demokratis rakyat tetap terjaga. Dari pihak negara,
kemungkinan monopoli atau dominasinya akan mengakibatkan hilangnya
kemandirian pribadi dan merosotnya karsa-karsa bebas di dalamnya yang
sebetulnya sangat penting bagi kehidupan demokrasi. Dampak negatif
dari negara yang terlalu intervensionis adalah ketergantungan yang
sangat tinggi dari kelompok-kelompok dalam rakyat dan pribadi-pribadi
kepadanya (Hikam, 1999).
Namun, dampak negatif dari kekuatan ekonomi pasar pada
masyarakat kapitalistik menyebabkan atomisasi dan pasifikasi rakyat
yang mengakibatkan memudarnya perekat komunitas. Kapitalisme yang
pada intinya menuntut individu dibebaskan sepenuhnya agar dapat
mencari kepuasaan, pada gilirannya mendorong terjadinya kompetisi
yang tidak sehat di dalam rakyat serta memungkinkan melebarnya jurang
yang memisahkan antara si kaya dan si miskin. Sistem politik yang
mengabaikan kenyataan seperti ini dan tidak mampu melakukan
pengawasan atasnya, kendatipun di luar tampak demokratis tetapi di
dalam sejatinya mengidap penyakit kronis yaitu alienasi kaum lapis
bawah dan kelangkaan partisipasi yang murni dari mereka.
Karena itu, untuk mengurangi dan mengantisipasi ekses-ekses
tersebut civil society menjadi penting. Ia dapat menjadi benteng yang
menolak intervensi negara yang berlebihan melalui berbagai asosiasi,

17
organisasi dan pengelompokan bebas di dalam rakyat serta keberadaan
ruang-ruang publik yang bebas (the free public sphare). Melalui
kelompok-kelompok mandiri itulah rakyat dapat memperkuat posisinya
vis--vis negara dan melakukan transaksi-transaksi wacana sesamanya.
Sedangkan melalui ruang publik bebas, rakyat sebagai warga negara
yang berdaulat (baik individu
maupun kelompok) dapat melakukan
pengawasan dan kontrol terhadap negara. Pers dan forum-forum diskusi
bebas yang dilakukan para cendekiawan, mahasiswa, pemimpin agama,
dan sebagainya ikut berfungsi sebagai pengontrol kiprah negara.
Dalam pada itu, civil society yang didalamnya bermuatan nilai-nilai
moral tertentu, akan dapat membentengi rakyat dari gempuran sistem
ekonomi pasar. Nilai-nilai itu adalah kebersamaan, kepercayaan,
tanggung jawab, toleransi, kesamarataan, kemandirian dan seterusnya.
Dengan masih kuatnya nilai kepercayaan dan tanggung jawab publik,
misalnya, maka akan dapat dikekang sikap keserakahan individual yang
dicoba untuk dikembangkan oleh sistem ekonomi pasar melalui
konsumerisme. Dengan diperkuatnya nilai toleransi dan kesamarataan,
maka akan dapat dikontrol kehendak eksploitatif yang menjadi motor
kapitalisme.
Civil society baik pada tataran institusional maupun nilai ideal
menjadi landasan kuat bagi bangunan demokrasi partisipatoris dan
substantif, bukan hanya demokrasi prosedural dan formal belaka. Civil
society yang kuat akan mampu mendorong proses politik bukan sebatas
ritual atau rutinitas yang hampa makna, karena ia bukan selalu
mempertanyakan substansi dari setiap proses. Civil society juga akan
mendorong terciptanya sistem ekonomi yang peka terhadap distibusi
bukan hanya pertumbuhan, kesejahteraan umum bukan kesejahteraan
perseorangan atau kelompok tertentu, kelestarian bukan kehancuran
ekosistem, dan tanggap terhadap pengembangan si lemah ketimbang
hanya mendukung pengembangan si kuat.
Keberadaan civil society di dalam rakyat modern tentu tak lepas
dari hadirnya komponen-komponen struktural dan kultural inheren di
dalamnya. Komponen pertama termasuk terbentuknya negara yang yang
berdaulat, berkembangnya ekonomi pasar, tersedianya ruang-ruang
publik bebas, tumbuh dan berkembangnya kelas menengah, dan
keberadaan organisasi-organisasi kepentingan dalam rakyat. Pada saat
yang sama, civil society akan berkembang dan menjadi kuat apabila
komponen-komponen kultural yang menjadi landasannya juga kuat.
Komponen tersebut adalah pengakuan terhadap HAM dan perlindungan
atasnya , khususnya hak berbicara dan berorganisasi, siakp toleran antar
individu dan kelompok dalam rakyat, adanya tingkat kepercayaan publik
(publik trust) yang tinggi terhadap pranata-pranata sosial dan politik,
serta kuatnya komitmen terhadap kemandirian pribadi dan kelompok.

18
Jika kita melihat kondisi di negeri kita, maka jelas kedua komponen
tersebut sudah ada walaupun tidak setara, pertumbuhan dan
perkembangannya,
bahkan terdapat komponenkomponen
yang
mengalami hambatan. Misalnya, pertumbuhan negara dan ekonomi pasar
yang sudah begitu pesat tetapi pada saat yang sama ruang publik bebas
yang masih lemah. Pada tataran kultural, sejatinya telah memiliki
landasan yang kuat. Pengakuan atas pentingnya perlindungan ha-hak
dasar secara eksplisit telah termaktub dalam konstitusi. Begitu pula
dengan berbagai ajaran agama-agama yang dipeluk oleh bangsa
Indonesia dan tradisi-tradisi yang dipraktekkan dalam hal toleransi dan
penghormatan terhadap kemajemukan.
Persoalan pemberdayaan civil society di indonesia antara lain
adalah bagaimana mempetakan secara gamblang elemen-elemen mana
yang harus ditunjang, baik pada tataran struktural maupun kultural.
Dalam hal pemberdayaan elemen struktural, perlu memulainya dari
pemahaman akan kekuatan dan kelemahan sruktur yang mendasari
proses perubahan melalui pembangunan dan modernisasi. Sementara itu
pemberdayaan elemen kultural berarti melakukan penemuan kembali
(recovery) dan penafsiran ulang (reinterpretation) terhadap khazanah
nilai-nilai dan tradisi milik rakyat serta melakukan pengambilan khazanah
kultural dari luar yang relevan sesuai dengan keperluan.
Strategi pemberdayaan civil society di Indonesia, menurut Hikam,
(1999) dapat dikembangkan melalui beberapa tahapan. Tahap Pertama
adalah pemetaan atau identifikasi permasalahan dasar menyangkut
perkembangan civil social, khususnya kelompok-kelompok strategis di
dalamnya yang harus mendapat prioritas. Pada tahap ini diupayakan
penelitian atau kajian yang begitu mendalam baik secara umum maupun
khusus terhadap potensi yang ada dalam rakyat untuk menumbuhkembangkan civil society. Umpamanya pemetaan terhadap segmensegmen kelas menengah yang dianggap menjadi basis bagi tumbuhnya
civil society berikut organisasi di dalamnya. Kajian dan penelitian
semacam ini sangat penting agar dapat dengan segera dilakukan proses
recovery dan penetaan kembali setelah munculnya kesempatan karena
jatuhnya rezim otoriter di bawah Soeharto
Tahap Kedua, adalah menggerakkan potensi-potensi yang telah
ditemukan tersebut sesuai dengan bidang atau garapan masing-masing.
Misalnya bagaimana menggerakkan komunitas pesantren di wilayahwilayah pedesaan agar mereka dapat ikut memperkuat basis ekonomi
dan sosial di lapisan bawah. Dalam tahapan ini, jelas harus terjadi
reorientasi dalam model pembangunan sehingga proses penggerakan
sumber daya di lapisan bawah tidak lagi berupa eksploitasi karena pola
top-down. Justru dalam tahapan ini sekaligus diusahakan untuk
menghidupkan dan mengaktifkan keswadayaan rakyat yang selama ini
terbungkam. Pendekatan-pendekatan partisipatoris harus dipakai dan

19
dalam hal ini bantuan dari lembaga lembaga swadaya masyrakat (LSM)
menjadi sangat krusial. Tentu saja, LSM yang dimaksud disini bukanlah
LSM yang hanya berorientasi kepada program saja tetapi juga pada
pemberdayaan.
Pada tingkat kelas menengah, tahapan kedua ini diarahkan kepada
penumbuhan kembali jiwa enterpreneur yang sejati sehingga akan
muncul sebuah kelas menengah yang mandiri dan tangguh. Potensi
demikian sudah cukup besar dengan semakin bertambah banyaknya
generasi muda yang berpendidikan tinggi dan berpengalaman dalam
bisnis yang berlingkup global.
Sementara itu, untuk memacu transformasi sosial menuju civil
society menurut Zald dan McCharty dalam bukunya Social Movements in
a Organizational Society (1987) dan Tarrow Struggle, Politics and
Reforms (1990) adalah melalui kependidikan terhadap organisasi gerakan
sosial. Istilah organisasi sosial didefinisikan sebagai kelompok yang
memiliki kesadaran diri yang bertindak in concerto untuk mengungkapkan
apa yang dilihatnya sebagai klaim-klaim penentang dengan kelompok elit,
penguasa, atau kelompok lain dengan klaim-klaim tersebut.
Namun, berbeda dengan konsep tersebut, Smelser dalam bukunya
Theory of Collective Behaviour (1962) mendefinisikasn gerakan sosial
sebagai perilaku kolektif dimana rakyat ikut serta dalam usaha
memperbaiki dan menyusun kembali struktur sosial yang telah rusak.
Demikian halnya dengan Mcphail (sebagaimana dikutip Faqih, 1996) pada
makalah yang berjudul Toward Theory of Collecitve Behaviour yang
pernah dipresentasikan dalam Simposium tentang Interaksi Simbolik
mengemukakan bahwa gerakan sosial adalah perilaku kolektif yang
berlangsung spontan dari pada direncanakan, tidak berstruktur
ketimbang diorganisasi, lebih emosional dari pada rasional dan menyebar
dengan kasar, lebih sebagai bentuk komunikasi yang paling dasar seperti
reaksi yang tidak berujung pangkal, rumor, imitasi, penyakit sosial dan
keyakinan yang digeneralisir dari pada jaringan komunikasi formal dan
informal yang telah dibentuk sebelumnya. Dalam buku ini, gerakan sosial
justru dilihat sebaliknya, yaitu sebagai gerakan yang diorganisir dengan
tujuan, strategi dan metodologi yang diformulasikan secara jelas dan
sadar berdasarkan analisis sosial yang kuat.
Dari perspektif Gramscian, konsep organisasi gerakan sosial
dikategorikan sebagai rakyat sipil yang terorganisir. Konsep rakyat sipil
didasarkan pada analisis Gramsci tentang kepentingan konfliktual dan
dialektika atau kesatuan dalam keberbedaan antara negara dan rakyat
sipil. Dalam satu hal, analisis ini meruapakan bagian penolakannya atas
fokus yang sempit dimana unit analisis adalah kontradiksi dialektis antara
buruh dan kapitalis. Ia menggunakan istilah negara (state) dan
rakyat sipil (civil society) dalam analisanya tentang supremasi dan

20
hegemoni. Dalam membahas kaitan antara negara dan rakyat Gramsci
(1971, seperti dikutip Faqih, 2000)) mengatakan:
Apa yang dapat kita kerjakan, sejenak, adalah menyediakan dua aras
superstruktur, satu yang disebut rakyat sipil, yakni ensemble organisme yang
biasanya disebut privat, dan aras yang lain yaitu rakyat politik atau negara.
Dua aras ini pada satu sisi dapat berhubungan dengan fungsi hegemoni dimana
kelomok dominan menjalankan seluruh rakyat dan di sisi lain berhubungan dengan
dominasi langsung atau perintah yang dijalankan melalui negara dan
pemerintahan juridis.
Mayarakat sipil berbeda dengan negara atau rakyat politik, adalah
lingkup privat atau individu. Rakyat sipil terdiri dari berbagai bentuk
organisasi voluntir, dan merupakan dunia politik utama, dimana
semuanya itu berada dalam aktivitas ideologis dan intelektual yang
dinamis maupun konstruksi hegemoni. Selain itu, bagi Gramsci, rakyat
sipil adalah konteks di mana seseorang menjadi sadar, dan dimana
seseorang pertama kali ikut serta dalam aksi politik. Dengan demikian
sipil adalah suatu agregasi atau percampuran kepentingan, dimana
kepentingan sempit ditransformasi menjadi pandangan yang lebih
universal sebagai ideologi dan dipakai atau diubah, bagi Gramsci rakyat
sipil adalah suatu dunia dimana rakyat membuat perubahan dan
menciptakan sejarah (Gramsci, 1971).
Dengan menggunakan konsep rakyat sipil model Gramscian ini bisa
dipergunakan untuk menganalisis keberadaan organisasi gerakan sosial,
mengonstruksi cara alternatif untuk melihat topologi gerakan sosial dan
organisasinya, termasuk didalamnya keberadaann LSM dalam suatu
gerakan
rakyat
dalam
mengkonstruksi
pembangunan.
Sebab,
pembangunan dianggap sebagai bentuk baru hegemoni dominan di Dunia
Ketiga. Guna membentuk hegemoni baru bekerja dalam konteks Dunia
Ketiga, tidak dapat dihindarkan untuk melihat diskursus pembangunan
secara sungguh-sungguh.
Metodologi Gramscian ini juga bisa
dimanfaatkan secara kritis menganalisis posisi idelogis dan politik LSM
serta membuat peta untuk menempatkan gerakan LSM dan organisasi
gerakan sosial lainnya ke dalam dialektika antara rakyat sipil dan negara
menurut perspektif Gramscian. Dalam hal ini secara kritis menelaah peran
organisasi gerakan sosial dalam hubungannya dengan diskursus
pembangunan, yaitu apakah mereka harus dianggap sebagai bagian
hegemoni pembangunan atau tandingannya. Dngan demikian bisa
konstruksi bahwa teori organisasi gerakan sosial sebagai gerakan sosial
kontra-hegemonik (Faqih, 2000).
Jika transformasi diartikan sebagai proses penciptaan hubungan
secara fundamental baru dan lebih baik maka rakyat sipil bagi
transformasi sosial berarti suatu proses perubahan oleh rakyat. Dalam
studi ini peran organisasi gerakan sosial Indonesia, ditempatkan dalam
proses transformasi. Dalam konteks hegemoni Modernisasi dan

21
Developmentalisme,
sebetulnya
penelitian
ini
juga
mencoba
memperhitungkan peran organisasi gerakan sosial dalam melawan
diskursus modernisasi dan pembangunan. Dari titik pangkal ini terlihat
peran kependidikan organisasi gerakan sosial dalam melawan diskursus
pembangunan. Tugas kependidikan utama dari organisasi gerakan sosial
akan bertindak sebagai gerakan kontra-diskursus.
Ada beberapa alasan mengapa organisasi gerakan sosial adalah
sarana yang tepat bagi gerakan kontra-diskursus dan kontra-hegemonik.
Organisasi gerakan sosialyang dalam banyak kasus dimotori LSM-adalah organisasi yang mengajukan perubahan radikal pada aras akar
rumput. Para aktifis LSM juga mengklaim memberdayakan rakyat untuk
mengontrol dan menggunakan pengetahuannya sendiri. Kemungkinan
organisasi gerakan sosial menjadi gerakan kontra-hegemonik maupun
gerakan kontra diskursus tergantung pada komitmen aktifis gerakan
sosial pada rakyat. Hal ini penting untuk melihat bagaimana aktivis
bekerja bersama-sama rakyat menciptakan paradigma dan ideologinya
sendiri maupun diskursus alternatif bagi transformasi sosial.
Untuk itu, perlu kajian tentang peran kelompok inti sebagai aktivis
LSM dalam proses transformasi sosial, komitmen kelompok studi LSM
untuk menciptakan ideologi yang lebih baik, teori dan solusi alternatif
bagi masalah yang diupayakan pemecahannya, maupun diskursus dan
metodologi alternatif bagi transformasi sosial. Selain ituperlu juga
diperhatikan mengenai bagaimana sekelompok aktivis LSM menciptakan
ruang yang memungkinkan memunculkan kesadaran kritis baik pada
kalangan aktifis LSM sendiri maupun pada rakyat.
Memahami landasan teoritis peran kependidikan organisasi gerakan
sosial bermanfaat untuk memahami bahwa teori pendidikan kritis dapat
juga dikelompokkan sebagai teori produksi dalam pendidikan. Teori
produksi pendidikan yang juga sering disebut dengan Teori Perlawanan
adalah teori yang memusatkan perhatian pada cara-cara dimana
perlawanan termasuk didalam proses pendidikan yang menghasilkan
pengertian dan kultur melalui perlawanannya maupun melalui kesadaran
kolektif dan individunya sendiri (Faqih, 1996). Teori yang dikembangkan
Paulo Freire dan Gramsci adalah termasuk dalam katagori teori produksi
ini. Tema utama teori produksi Freire adalah peningkatan kesadaran
kritis dimana manusia merupakan pusat dari pendidikannya untuk
perubahan. Peningkatan kesadaran kritis adalah proses dimana peserta
pendidikan mencapai tingkat kesadaran yang memungkinnya memandang
sistem dan struktur sosial yang kritis (Smith, 1976 sebagaimana dikutip
Faqih, 1999).
Dalam sebuah diskusi yang berlangsung empat tahun lalu di Jakarta, beberapa
penilaian bermunculan tentang istilah tersebut: konsep civil society berasal dari Barat,

22
tidak perlu ada dikotomi antara sipil dengan militer,tradisi kita belum mengenal apa
yang disebut civil culture, dan bahwa pembicaraan tentang civil society ini tampaknya
lebih bersifat teoritis dan banyak sekali data empirisnya tidak ada.1
Konsep atau teori tentang civil society lebih merupakan persoalan modern. Konsep itu
sebenarnya baru tumbuh dan mengikuti perkembangan dari negara-negara modern. Karena
itu studi strategis untuk mengetahui lahirnya civil society harus dilihat berdasarkan proses
evolusi dan pertumbuhan negara (Ali, 1991). Sementara itu, dalam pandangan M. Syafii
Anwar: Untuk konteks Indonesia, saya ragu apakah kebudayaan kita sudah mampu
mengabsorb atau menerima dan memahami civil society Daniel [Dhakidae] bahwa hanya di
Barat-lah konsep negara itu tumbuh dan berkembang Karena itu pembicaraan tentang civil
society ini tampaknya lebih bersifat teoritis dan data empirisnya tidak ada. . Ketika konsep ini
dicoba untuk dibumikan di Indonesia, ia segera dihadapkan oleh hambatan kultural maupun
konstitusional.Lihat tanggapan dan komentar Fachri Ali dan M. SyafiI Anear ini dalam
Laporan Seminar Mencari Konsep dan KeberadaanCivil-Society di Indonesia, tidak
diterbitkan, Jakarta, CESDA-LP3ES, 20September 1994, hlm.21-25.

Pengaruh buruh tani terhadap LSM


Pemberdayaan masyarakat miskin/kurang mampu tidak dapat
dilakukan dengan hanya melalui program peningkatan produksi, tetapi juga
pada upaya peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat miskin.
Terkait dengan upaya tersebut, maka keberadaan Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM) menjadi sangat penting untuk melakukan sinergi dengan
lembaga pemerintah. Dalam proses pendampingan pemberdayaan
masyarakat miskin, LSM masih menghadapi kendala baik eksternal maupun
internal. Peran LSM di Indonesia mengalami perkembangan dan transformasi
fungsi, sesuai dengan paradigma pembangunan. Kondisi dan paradigma yang
ada saat ini adalah terbukanya era globalisasi ekonomi yg diwujudkan
dengan adanya proses internasional produksi, perdagangan, dan pasar uang.
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) merupakan organisasi jasa sukarelawan
untuk membantu sesama dalam mengurangi masalah sosial seperti kemiskinan.
Organisasi jasa sukarelawan ini termasuk ke dalam organisasi nirlaba atau
organisasi non profit. Apa itu organisasi nirlaba atau organisasi non profit?.
Organisasi nirlaba atau organisasi non profit adalah suatu organisasi yang
bersasaran pokok untuk mendukung suatu isu atau perihal di dalam menarik
perhatian publik untuk suatu tujuan yang tidak komersil, tanpa ada perhatian
terhadap hal-hal yang bersifat mencari laba (moneter).
Oleh karena itu, penulis tertarik untuk membahas salah satu bagian
dari organisasi nirlaba atau organisasi non profit, yaitu Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM). Organisasi LSM ini dapat membantu pemerintah untuk
mengurangi masalah sosial yang ada di Indonesia dengan visi dan misi LSM tersebut
1

23

yang dapat mendidik kita sebagai manusia untuk memiliki rasa tolong-menolong
dan solidaritas antar sesama manusia.
Menurut Prof. Dr. Emil Salim, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
yang juga mantan Menteri Lingkungan Hidup, organisasi nirlaba memainkan
peranan penting dalam mengubah perilaku dan pandangan masyarakat. Ada
beberapa faktor yang menyebabkannya, antara lain :
Trust terhadap pemerintah dan pengusaha menurun karena nasib rakyat kerap
kali terabaikan;
Pembangunan terasa timpang karena lebih berat kepada pertimbangan ekonomi
dibandingkan dengan kesetaraan sosial dan lingkungan hidup;
Teknologi informasi menumbuhkan daya kritis dan hubungan jejaring
antarkelompok madani.
Menurut PSAK No. 45 bahwa organisasi nirlaba
memperoleh sumber daya dari sumbangan para anggota dan para penyumbang lain
yang tidak mengharapkan imbalan apapun dari organisasi tersebut. (IAI, 2004:
45.1)
Pada era orde baru, strategi pembangunan LSM di Indonesia menurut
David Korten (1987) dikelompokkan menjadi 3 generasi, yaitu generasi bantuan
dan kesejahteraan, generasi keswadayaan dalam skala lokal, dan generasi
pembangunan yang berkelanjutan. Strategi pembangunan yang dikembangkan oleh
LSM ini tidak terlepas dari kebijakan LSM internasional yang juga mendukung
program yang bersifat karikatif.
Pada pasal 19 UU No. 4 tahun 1982 disebutkan : Lembaga Swadaya
Masyarakat berperan sebagai penunjang bagi pengelolaan Lingkungan Hidup.
Dalam sejarah Barat, partisipasi timbul dari bawah, di kalangan
masyarakat yang gelisah. Gejala itulah yang dilihat oleh Alexis de Tocqueville pada
tahun 30-an abad ke-19, yakni timbulnya perkumpulan dan perhimpunan sukarela
(voluntary association). Perkumpulan dan asosiasi iutlah yang kemudian menjadi
sokoguru masyarakat (civil society). Dan apa yang disebut oleh Tocqueville itu
tak lain adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), yang dalam masyarakat Barat
ini disebut sebagai Non Goverment Organisation (ORNOP, Organisasi Non
Pemerintah) dan perkumpulan sukarela (voluntary association).
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
LSM adalah sebuah organisasi yang didirikan pereorngan ataupun
sekelompok orang yang secara sukarela memberikan pelayanan kepada masyarakat
tanpa bertunjuan untuk memperoleh keuntungan dari kegiatan tersebut. Jenis dan
kategroi LSM, yakni Organisasi Donor, Organisasi Mitra Pemerintah, Organisasi
Profesional, serta Organisasi Oposisi.

24
LSM sebagai suatu organisasi, khususnya organisasi non laba / non
profit, sebenarnya tidak berbeda jauh dengan ormas, koperasi partai, bahkan
dengan perusahaan. Sebagai suatu organisasi maka apa yang diharapkan adalah
mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Untuk mencapai tujuannya
tersebut maka organisasi perlu dikelola dengan baik.
Perjalanan LSM di Indonesia pada awal kemunculannya melalui perspektif
sejarah dan mengacu pada pembagian generasi, ada yang berpendapat bahwa
cikal-bakal LSM di Indonesia telah ada sejak pra-kemerdekaan. Lahir dalam bentuk
lembaga keagamaan yang sifatnya sosial/amal. LSM di Indonesia dalam praktiknya
juga masih terkungkung dalam wacana pembagunanisme (developmentalisme)
yang tidak kritis terhadap masalah-masalah ketimpangan struktural, kelangkaan
partisipasi, dan ketergantungan terhadap kekuatan diluar.
Dalam penjelasannya, LSM mencakup antara lain :
1.
Kelompok profesi yang berdasarkan profesinya tergerak menangani masalah
lingkungan.
2.
Kelompok hobi yang mencintai kehidupan alam terdorong untuk
melestarikannya.
3.
Kelompok minat yang berminat untuk membuat sesuatu bagi pengembangan
lingkungan hidup.
Batasan fungsi dan peran LSM dibandingkan dengan pengertian aslinya (dalam arti
NGO) menjadi teredusir. Karena keberadaan LSM terutama saat ORBA sarat dengan
intervensi pemerintah, maka ada beberapa LSM yang kemudian dalam
pergerakannya memakai bentuk Yayasan, karena Yayasan lebih fleksibel.
Sampai saat ini, peran pemerintah dalam pemberdayaan masyarakat masih
terbatas dan belum mampu sepenuhnya dalam penanggulangan kemiskinan.
Disinilah perlunya peran dan keterlibatan LSM dalam melaksanakan program dan
pemberdayaan masyarakat. Untuk itu, diperlukan pula reposisi LSM di tengah
masyarakat dalam pemberdayaan masyarakat dalam bentuk :
1.
LSM perlu memfasislitasi tumbuh kembangnya kelembagaan rakyat yang kuat,
yang bersifat sektoral, seperti pada organisasi buruh, petani, masyarakat adat, dan
lain-lain.
2.
LSM perlu tampil ke publik luas, dalam arti semakin go public ke masyarakat,
sehingga posisi dan perannya mampu lebih dirasakan oleh masyarakat. Ini bisa
dilakukan melalui penyebaran brosur, pertemuan dengan masyarakat,kerja sama
dengan media cetak-elektronik seluas-luasnya.
3.
LSM perlu semakin aktif dalam membangun hubungan dengan berbagai elemen
masyarakat sipil lainnya. Seperti media massa, mahasiswa, serikat buruh, petani,
partai politik dengan tetap mengedepankan nilai dan sikap non-partisan.

25
4.
Perlunya penguatan LSM sebagai sebuah entitas dan komunitas yang spesifik
di dalam masyarakat sipil, dan penguatan institusionalisasi LSM dalam hal
eksistensi, sumber daya manusia, sarana, dana, dan manajemen. LSM juga perlu
lebih membuka diri untuk menjadi organisasi yang lebih berakar di masyarakat.
5.

LSM juga dituntut untuk senantiasa membenahi kondisi internal dalam tubuh.
Organisasinya, mengingat ini seringkali tidak diperlihatkan dalam forum evaluasi
oleh LSM yang bersangkutan.
Untuk masa mendatang, hubungan antara LSM dengan kelembagaan lokal perlu
dieratkan

karena lembaga di tingkat lokal adalah kekuatan yang potensial bagi LSM sebagai
organisasi yang indenpenden.
Dari refleksi yang dilakukan oleh LSM di Philipina (IIRR,1997) ada
beberapa alasan mengapa kinerja atau kualitas organisasi menjadi penting, yaitu
karena :
1.
Kemampuan berkompetisi atau bersaing dengan LSM lain semakin besar sebagai
akibat semakin mengecilnya jumlah dana dan lembaga donor serta sumberdayasumberdaya lain,
2.
Kemampuan mengadaptasi perubahan lingkungan yang cepat dengan tanpa
kehilangan relevansi atau indentitas masing-masing organisasi,
3.
Meningkatnya kualitas program dan pelayanan yang lebih berfokus, berdampak
dan juga luas atau besar.

26