Anda di halaman 1dari 19

LABORATORIUM PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI

SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2015/2016

MODUL

: Pengolahan Air Limbah Secara Anaerobik

PEMBIMBING

: Herawati Budiastuti, Ph.D.

Tanggal Praktikum : 15 Desember 2015


Tanggal Penyerahan : 23 Desember 2015
(Laporan)

Oleh :
Kelompok

Nama, NIM :

Kelas

7 (Tujuh)
1. Sifa Fuzi Allawiyah

131411027

2. Siti Nurjanah

131411028

3. Suci Susilawati

131411029

4. Dila Adila

131411059

3A

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2015

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Metode pengolahan air limbah secara anaerobik merupakan metode pengolahan untuk air
limbah yang mempunyai kandungan organik tinggi (

2000 mg/L). Dengan tingginya

kandungan organik biasanya pengolahan secara aerobik tidak dapat berlangsung dengan
efisien karena waktu yang dibutuhkan terlalu besar. Pengoalahan anaerobik juga
ditujukan untuk menghasilkan biogas yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi.
Pengolahan anaerobik memebutuhkan bakteri anaerobik yang pertumbuhannya sangat
lambat dan penjagaan kondisi kedap oksigen bebeas yang ketat. Dengan demikian tahap
persiapan penumbuhan bakteri anaerobik (tahap start-up) merupakan salah satu kendala
dalam implementasi pengolahan air limbah secara anaerobik. Penjagaan kondisi kedap
oksigen bebeas membutuhkan penanganan khusus dan biaya yang tidak murah. Maka
dalam aplikasi di industri pengolahan anaerobik biasanya dikombinasi dengan
pengolahan aerobik.
1.2 Tujuan
1. Menentukan konsentrasi awal kandungan organik (COD)
2. Menentukan kandungan Mixed Liquor Volatile Suspended Solid (MLVSS) yang
mewakili kandungan mikroorganisme dalam reaktor.
3. Menghitung efisiensi pengolahan dengan cara menentukan persen (%) kandungan
bahan organik yang didekomposisi selama seminggu oleh mikroorganisme dalam
reaktor terhadap kandungan bahan organik mula mula
4. Menghitung total gas yang dihasilkan setelah proses berjalan selama seminggu untuk
mengetahui efisisensi pembentukan gas.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Proses pengolahan air limbah secara biologi dapat dilakukan secara aerobik dan secara
anaerobik. Pada pengolahan air limbah secara aerobik mikroorganisme pendekomposisi
bahan-bahan organik dalam air limbah membutuhkan oksigen bebas (O 2) dalam sistem
pengolahannya. Dalam pengolahan air limbah secara aerobic, mikroorganisme mengoksidasi
dan mendekomposisi bahan-bahan organik dalam air limbah dengan menggunakan oksigen
yang disuplai oleh aerasi dengan bantuan enzim dalam mikroorganisme. Pada waktu yang
sama mikroorganisme mendapatkan energi sehingga mikroorganisme baru dapat bertumbuh.
Pada dasarnya, pertumbuhan mikroba dalam peralatan pengolah air limbah
terdapat dua macam pertumbuhan mikroorganisme, yaitu pertumbuhan tersuspensi dan
pertumbuhan terlekat. Pertumbuhan tersuspensi (suspended growth) merupakan pertumbuhan
dimana mikroba pendegradasi bahan-bahan organik bercampur merata dengan air limbah
dalam peralatan pengolah limbah, sedangkan pertumbuhan terlekat (attached growth)
merupakan pertumbuhan mikroba yang melekat pada bagian pengisi yang terdapat pada
peralatan pengolah air limbah. Contoh pengolah limbah secara anaerobik yang menggunakan
sistem pertumbuhan mikroba tersuspensi diantaranya yaitu Laguna Anaerobik dan Up-Flow
Anaerobic Sludge Blanket. Sedangkan Filter Anaerobik dan Anaerobic Fluidized Bed Reactor
merupakan contoh peralatan pengolahan air limbah/reaktor yang menggunakan sistem
pertumbuhan mikroba terlekat secara anaerobik. Contoh peralatan pengolahan aerobic
diantaranya yaitu Lumpur Aktif dan Laguna Teraerasi. Sedangkan reaktor yang menggunakan
sistem pertumbuhan mikroba terlekat secara aerobik diantaranya yaitu Trickling Filter dan
Rotating Biological Contactor.
Berdasarkan jumlah tahapan reaksi daldam pengolahan secara anaerobik terdapat
dua macam sistem pengolahan yaitu Pengolahan Satu Tahap dan Pengolahan Dua Tahap.
Dalam Pengolahan Satu Tahap semua reaksi pengolahan secara anaerobik yakni hidrolisis,
asetogenesis, dan metanogenesis berlangsung dalam satu reaktor. Sedangkan dalam
Pengolahan Dua Tahap reaksi hidrolisis berlangsung daldam reaktor pertama dan reaksi
asetogenesis dan metanogenesis berlangsung daldam reaktor kedua. Reaksi hidrolisis dijaga
pada pH 5,8, reaksi asetogenesis dan metanognesis dijaga pada pH netral. Dengan pemisahan
tahapan reaksi yang berlangsung pada rentang pH yang berbeda maka Pengolahan Dua Tahap
diharapkan akan terjadi pengolahan air limbah dengan efisiensi yang lebih tinggi. Secara

skematis tiga tahapan reaksi degradasi air limbah secara anaerobic ditunjukan pada gambar
dibawah ini:

Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap laju pertumbuhan mikroorganisme


baik pada proses aerobik maupun anaerobik. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses
anaerobik antara lain:
1. Temperatur
Gas dapat dihasilkan jika suhu antara 4 60C dan suhu dijaga konstan. Bakteri
akan menghasilkan enzim yang lebih banyak pada temperatur optimum. Semakin tinggi
temperatur reaksi juga akan semakin cepat tetapi bakteri akan semakin berkurang. Proses
pembentukan metana bekerja pada rentang temperatur 30-40C, tapi dapat juga terjadi
pada temperatur rendah, 4C. Laju produksi gas akan naik 100-400% untuk setiap
kenaikan temperatur 12C pada rentang temperatur 4-65C. Mikroorganisme yang
berjenis thermophilic lebih sensitif terhadap perubahan temparatur daripada jenis
mesophilic. Pada temperatur 38C, jenis mesophilic dapat bertahan pada perubahan
temperatur 2,8C. Untuk jenis thermophilic pada suhu 49C, perubahan suhu yang
dizinkan 0,8C dan pada temperatur 52C perubahan temperatur yang dizinkan 0,3C.

2. pH (keasaman)
Bakteri penghasil metana sangat sensitif terhadap perubahan pH. Rentang pH
optimum untuk jenis bakteri penghasil metana antara 6,4 7,4. Bakteri yang tidak
menghasilkan metana tidak begitu sensitif terhadap perubahan pH, dan dapat bekerja pada
pH antara 5 hingga 8,5. Karena proses anaerobik terdiri dari dua tahap yaitu tahap
pambentukan asam dan tahap pembentukan metana, maka pengaturan pH awal proses
sangat penting. Tahap pembentukan asam akan menurunkan pH awal. Jika penurunan ini
cukup besar akan dapat menghambat aktivitas mikroorganisme penghasil metana. Untuk
meningkatkat pH dapat dilakukan dengan penambahan kapur.
3.

Konsentrasi Substrat
Sel mikroorganisme mengandung Carbon, Nitrogen, Posfor dan Sulfur dengan
perbandingan 100 : 10 : 1 : 1. Untuk pertumbuhan mikroorganisme, unsur-unsur di atas
harus ada pada sumber makanannya (substart). Konsentrasi substrat dapat mempengaruhi
proses kerja mikroorganisme. Kondisi yang optimum dicapai jika jumlah mikroorganisme
sebanding dengan konsentrasi substrat. Kandungan air dalam substart dan homogenitas
sistem juga mempengaruhi proses kerja mikroorganisme. Karena kandungan air yang
tinggi akan memudahkan proses penguraian, sedangkan homogenitas sistem membuat
kontak antar mikroorganisme dengan substrat menjadi lebih intim.

4.

Zat Beracun
Zat organik maupun anorganik, baik yang terlarut maupun tersuspensi dapat
menjadi penghambat ataupun racun bagi pertumbuhan mikroorganisme jika terdapat pada
konsentrasi yang tinggi. Untuk logam pads umumnya sifat racun akan semakin bertambah
dengan tingginya valensi dan berat atomnya. Bakteri penghasil metana lebih sensitif
terhadap racun daripada bakteri penghasil asam.
Air limbah beserta mikroba tersuspensi dalam air limbah tersebut biasa disebut
dengan mixed liquor. Untuk mengetahui kuantitas mikroba tersuspensi pendekomposisi
atau pendegradasi air limbah maka ditentukan dengan mengukur kandungan padatan
tersuspensi yang mudah menguap (mixed liquor volatile suspended solids/MLVSS) dalam
reaktor.

BAB 3
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat yang digunakan
2 buah labu erlenmeyer 250 ml
2 buah corong gelas
2 buah cawan porselen
1 buah desikator
1 buah neraca analitis
1
3.1.2 Bahan yang digunakan
Nama bahan
Glukosa
NH4HCO3
KH2PO4
NaHCO3
K2HPO4
Trace Metal Solution
MgSO4.7H2O
Trace Metal Solution
FeCl3
CaCl2
KCl
CoCl2
NiCl2
FAS
Indikator Ferroin
Kertas saring

3.2 Skema Kerja

Tahap Percobaan

1 buah oven
1 buah furnacee
1 buah hach COD digester
2 buah tabung hach
buah buret , klem, dan statif
Konsentrasi
(g/L)
2,0
0,15
0,15
0,5
0,5
5,0
5,0
5,0
5,0
1,0
1,0
( 3 tetes)
-

Volume
(mL)
1
1

Penentuan COD Sampel

Penentuan MLVSS

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Pembahasan oleh Sifa Fuzi Allawiyah (131411027)

4.2

Pembahasan oleh Siti Nurjanah (131411028)


Pada praktikum kali, praktikan melakukan analisis COD (Chemical Oxygen Demand)

menggunakan metoda anaerobik. Sampel yang digunakan adalah air limbah dengan nilai
COD2000 mg/L. Pengolahan anaerobik merupakan pengolahan air limbah

dengan

mikroorganismetanpa menggunakan oksigen (udara) yang dapat menyebabkan pertumbuhan


mikroorganisme pendekomposisi bahan organik dalam air limbah terganggu. COD adalah
jumlah oksigen (mgO2) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik yang ada dalam
sampel air. Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk menentukan konsentrasi akhir
kandungan organik (COD) dalam umpan dan konsentrasi kandungan organik (COD) dalam
efluen, menentukan kandungan MLVSS (Mixed Liquor Vapour Suspended Solid),
menghitung effisiensi, dan menghitung total gas yang dihasilkan setelah proses berjalan
selama seminggu untuk mengetahui efisiensi pembentukan gas.
Peralatan utama yang digunakan pada praktikum ini adalah dua buah reaktor
anaerobik yang berfungsi sebagai tempat terjadinya dekomposisi bahan-bahan organik oleh
mikroorganisme yang terkandung dalam air limbah. Pada praktikum ini dua buah reaktor
anaerobik tersebut disusun secara paralel, dimana kandungan organik dari efluen salah satu
reaktor tidak akan mempengaruhi kandungan organik dari efluen reaktor lainnya.
Hal yang pertama dilakukan adalah pengenceran sampel sebanyak 20 kali untuk
mempermudah penentuan titik akhir titrasi.Selain itu, pengenceran diperlukan agar Hach
COD Digester dapat bekerja secara optimum. Dalam tabung Hach, sebanyak 2,5 mL sampel
ditambahkan 1,5 ml larutan kalium bikromat yang berfungsi sebagai oksidator kuat sumber
oksigen. Setelah dimasukan larutan kalium bikromat selanjutnya ditambahkan juga 3,5 ml
larutan asam sulfat dengan Ag2SO4 untuk menghilangkan gangguan dari klorida dan
mempercepat reaksi. Hal tersebut berlaku juga untuk larutan blanko. Blanko berfungsi
sebagai faktor pengkoreksi untuk menghindari adanya zat organik dari pelarut yang ikut
teroksidasi saat reaksi berlangsung sehingga volume titran yang diperoleh dari proses titrasi
hanya volume titran yang bereaksi dengan sampel. Tabung Hach dimasukkan ke dalam Hach
COD Digester selama 2 jam pada suhu 150oC.Jika telah dilakukan digester, tabung Hach

kemudian didinginkan dan dilakukan titrasi menggunakan larutan FAS 0,1 N dengan
indikator ferroin. FAS bertujuan untuk mengetahui kalium bikromat yang tidak tereduksi.
Berdasarkan hasil percobaan diperoleh nilai COD akhir reaktor 1 dan 2 secara
berurutan adalah 5980 mg/L dan 1840 mg/L sedangkan COD awal reaktor 1 dan 2 secara
berurutan adalah 1200 mg/L dan 600 mg/L sehingga didapatkan nilai effisiensi yang
negative. Hal ini dikarenakan pada penentuan nilai COD akhir, jumlah volume kalium
bikromat dan larutan asam sulfat dengan Ag2SO4tidak sesuai dengan percobaan, dan pada saat
pengenceran dilakukan pada gelas kimia besar sehingga memungkinkan kandungan
organiknya mengendap terlebih dahulu dibawah dan tidak semua terambil saat pengambilan
sampel.
Selain penentuan COD, dalam reaktorakan dihasilkan gas, dimana sebagian besar
berupa gas metana (CH4) atau biogas yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi
alternatif. Volume gas metana yang terbentuk dari proses pengolahan limbah secara anaerobik
ini dapat ditentukan dengan mengukur penurunan volume air dari tabung gas collection,
dimana gas yang tersebut akan mendorong air keluar dari tabung gas collection. Dari hasil
yang didapatkan, pada reactor 1 dihasilkan gas sebanyak 0,3237L dan pada reactor 2 sebesar
48,55L. Pada reactor 2 dihasikan volume gas sangat tinggi, hal ini karena pada minggu
bsebelumnya tidak terjadi penurunan tinggi air dari tabung gas collection karena kurangnya
suplai air dalam tabung.
Setelah penentuan COD dan penentuan gas yang dihasilkan, dilakukan pula
pengukuran nilai MLVSS (Mixed Liquor Volatile Suspended Solid) dari effluent reactor
2untuk mengetahui kuantitas mikroba yang mendekomposisi bahan organik,dimana nilai
MLVSS sama dengan nilai VSS. Nilai VSS merupakan kandungan organik yang mudah
teruapkan, yang nilainya dapat mewakili jumlah mikroorganismeyang ada di dalamnya.
Pengukuran MLVSS dilakukan untuk mengetahui kuantitas mikroba yang mendekomposisi
bahan organik.Dari percobaan tersebut diperoleh nilai MLVSS adalah 439560ppm dan nilai
TSS sebesar 440320 ppm.Dari nilai MLVSS yang diperoleh, nilai tersebut belum memenuhi
baku mutu dan tidak dapat langsung dibuang ke lingkungan. Artinya, proses pengolahan
anaerobik belum optimum untuk menurunkan nilai MLVSS. Namun, terdapat kemungkinan
kesalahan pengukuran MLVSS dikarenakan pada saat proses penyaringan, sebagian sampel
bisa jadi masih tertinggal di dinding gelas atau alat filtrasi sehingga pengukuran MLVSS

kurang akurat.Berdasarkan literatur, nilai TSS yang diperbolehkan adalah sebesar 50 mg/L
(Pergub Bali No. 8 Tahun 2007).

4.3

Pembahasan oleh Suci Susilawati (131411029)

4.4

Pembahasan oleh Dila Adila (131411059)


Pada praktikum ini dilakukan pengolahan air limbah secara anaerobic. Bahan
utama yang digunakan pada praktikum ini yaitu limbah cair yang memiliki kadar COD
2000 mg/L. Sementara itu peralatan utama yang digunakan pada praktikum ini adalah dua
buah reaktor anaerobik yang berfungsi sebagai reaktor tempat terjadinya dekomposisi
bahan-bahan organik

yang terkandung di dalam air limbah yang dilakukan oleh

mikroorganisme. Reaktor anaerobik tersebut disusun secara paralel, dimana kandungan


organik dari efluen salah satu reaktor tidak akan mempengaruhi kandungan organik dari
efluen reaktor lainnya.
Pengolahan anaerobik merupakan pengolahan air limbah dengan mikroorganisme
tanpa menggunakan oksigen (udara). Kehadiran O2 dalam sistem pengolahan dapat
menyebabkan terganggunya pertumbuhan mikroorganisme pendekomposisi bahan bahan
organik dalam air limbah. Dalam sampel limbah, ditambahkan nutrisi sebagai sumber
makanan bagi mikroorganisme yang akan mendekomposisi bahan organik. Penambahan
nutrisi tersebut bertujuan untuk meningkatkan kinerja mikroorganisme dalam
menurunkan kandungan organik dalam air limbah.
Pada percobaan, dilakukan analisis COD efluen masing-masing reaktor untuk
mengetahui kandungan organik dalam sampel. Pengukuran COD dilakukan untuk
mengetahui banyaknya oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi kandungan organik
dalam sampel. Semakin tinggi nilai COD, kandungan organik dalam sampel pun semakin
banyak, dan kualitas air semakin buruk. Dalam analisis COD, reaksi yang terjadi adalah
reaksi redoks dalam keadaan asam.
Sampel efluen perlu diencerkan terlebih dahulu sebanyak 20 kali agar tidak terlalu
pekat, sehingga mempermudah penentuan titik akhir titrasi. Selain itu, pengenceran
diperlukan agar Hach COD Digester dapat bekerja secara optimum. Nilai COD aquades
juga diukur sebagai blanko. Dalam tabung Hach, ditambahkan 2,5 ml sampel dan 3,5 ml
larutan kalium bikromat. Kalium bikromat merupakan oksidator kuat sebagai sumber
oksigen. Selanjutnya ditambahkan juga 1,5 ml larutan asam sulfat dengan Ag2SO4 untuk
menghilangkan gangguan dari klorida dan mempercepat reaksi. Tabung Hach dimasukkan
ke dalam Hach COD Digester selama 2 jam pada suhu 150oC secara duplo.

Efluen dari tabung Hach kemudian didinginkan dan dilakukan titrasi


menggunakan larutan FAS 0,1 N dengan indikator ferroin. Penitrasian dengan larutan
FAS bertujuan untuk mengetahui kalium bikromat yang tidak tereduksi. Blanko berfungsi
sebagai faktor pengkoreksi untuk menghindari adanya zat organik dari pelarut yang ikut
teroksidasi saat reaksi berlangsung sehingga volume titran yang diperoleh dari proses
titrasi hanya volume titran yang bereaksi dengan sampel. Dari percobaan diperoleh nilai
COD reaktor 1 dan 2 secara berurutan adalah 7984 mg/L dan 6144 mg/L. Nilai COD
masih terbilang tinggi dikarenakan kondisi operasi percobaan yang belum optimum,
misalnya temperatur, serta kesalahan saat mengambil sampel dalam tabung Hach. Pada
saat pengambilan sampel sebanyak 2,5 ml, sampel yang telah diencerkan mengalami
pengadukan, sehingga terdapat kemungkinan sebagian mikroorganisme ikut masuk ke
dalam tabung Hach. Selain itu, terjadi kebocoran yang dapat mengganggu jalannya
proses pengolahan anaerobik.
Pada pengolahan anaerobik, akan dihasilkan gas yang sebagian besar berupa gas
metana (CH4). Gas tersebut merupakan biogas yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber
energi alternatif. Volume gas metana yang terbentuk dari proses pengolahan limbah secara
anaerobik ini dapat ditentukan dengan mengukur volume air yang keluar dari tabung gas
collection. Gas metana yang terbentuk tersebut akan mendorong air keluar dari tabung
gas collection sehingga volume air yang keluar dari tabung gas collection tersebut sama
dengan volume gas yang metana yang terbentuk.
Praktikum ini menggunakan pengolahan satu tahap, dimana reaksi pengolahan
yang meliputi reaksi hidrolisis, asetogenesis, dan metanogenesis berlangsung dalam satu
reaktor. Secara teoritis, penurunan kadar organik relatif cepat jika produksi gas metana
stabil. Namun, kadar organik yang terlalu tinggi yang ditunjukkan dari efluen reaktor 1
dan 2 menyebabkan produksi asam berlebih sehingga mengganggu proses metanogenesis.
Fluktuasi kadar organik dapat terjadi karena pengadukan yang kurang optimal sehingga
mikroba tidak tercampur secara merata dan tidak dapat bekerja secara optimal.
Kemudian, dilakukan pengukuran nilai MLVSS (Mixed Liquor Volatile
Suspended Solid) dari efluen reaktor 1 dan 2,dimana nilai MLVSS sama dengan nilai
VSS. Nilai VSS merupakan kandungan organik yang mudah teruapkan, yang nilainya
dapat mewakili jumlah mikroorganismeyang ada di dalamnya. Pengukuran MLVSS
dilakukan untuk mengetahui kuantitas mikroba yang mendekomposisi bahan organik.
Dari percobaan tersebut diperoleh nilai MLVSS dari reaktor 1 dan 2 masing-masing
adalah 0,0228x106 mg/L dan 0,023x106 mg/L. Dari nilai MLVSS yang diperoleh, nilai
tersebut sudah memenuhi baku mutu dan dapat langsung dibuang ke lingkungan. Artinya,

proses pengolahan anaerobik sudah optimum untuk menurunkan nilai MLVSS. Namun,
terdapat kemungkinan kesalahan pengukuran MLVSS dikarenakan pada saat proses
penyaringan, sebagian sampel bisa jadi masih tertinggal di dinding gelas atau alat filtrasi
sehingga pengukuran MLVSS kurang akurat.

BAB 5
SIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA
Budiastuti, Herawati, 2010, Buku Ajar Bioteknologi Lingkungan, Jurusan Teknik Kimia
Polban, Bandung.
Pengajar Pengolahan Limbah Industri (TIM), 2006, Petunjuk Praktikum Pengolahan Limbah
Industri, Jurusan Teknik Kimia Polban, Bandung.

LAMPIRAN
DATA PENGAMATAN
1.

Berat Cawan Petri (berat a)


a.

Setelah di Furnance
No
1

b.

Nama

Setelah disimpan di dalam

Cawan Pijar

Desikator (gram)
31,2554

Setelah Oven t = 1 jam (berat c) berserta endapan


No
1

Nama
Cawan Pijar + Kertas Saring

Berat (gram)
32,3562

beserta endapan
c.

2.

Setelah Furnance t = 2 jam (berat d)


No
1

Berat
a.

Nama
Cawan Pijar +

Berat (gram)
31,2573

Kertas Saring

jam (berat b)

beserta
No
1

endapan
Nama
Kertas Saring

Kertas Saring
Setelah di oven 1

Berat (gram)
0,9880

3.

Normalitas FAS
Normalitas FAS =
Normalitas FAS =
Normalitas FAS = 0.115 N

4.

Hasil Titrasi
No
1
2
3

5.

Nama
Sample 1
Sample 2
Blangko 1

mL FAS
0,50
0,70
1,10

Total Gas yang diproduksi


Gas yang dihasilkan selama satu minggu ini sebanyak 330 mL di reaktor 2 dan
tetap 190 ml di reaktor 1.

PERHITUNGAN
a.

Penentuan Kandungan Organik (COD) Sampel


COD (
Dimana :
a = mL FAS untuk blangko
b = mL FAS untuk sampel
c = Normalitas FAS
d = berat ekivalen O2
P = Pengenceran

b.

Sample 1
COD1 (

COD1 (

COD1 (

= 5980

Sample 2
COD1 (

COD1 (

COD1 (

= 1840

Penentuan Kandungan Mixed Liquor Volatile Suspended Solid (MLVSS)


Data Pengamatan :
A = Berat Cawan Pijar Kosong
B = Berat Kertas Saring
C = Berat Cawan Pijar (Kertas Saring+Endapan) setelah oven
D = Berat Cawan Pijar (Kertas Saring+Endapan) setelah furnance
No
1

Berat (gram)
31,2554
0,9880
32,3562
31,2573

TSS (Total Padatan Tersuspensi)


TSS1 (ppm) =

Nama
A1
B1
C1
D1

= 440320 ppm

VSS (Padatan Tersuspensi yang Mudah Menguap) = MVLSS


VSS1 (ppm) =

= 439560 ppm

FSS (Padatan Tersuspensi yang Telah Menguap)


FSS1 (ppm) = TSS1 VSS1 = (440320-439560) = 760 ppm

c. Menentukan efisiensi pengolahan


1) Reaktor 1
100 %

100 %

2) Reaktor 2
100 %

d. Gas Terbentuk
Penurunan Kolom pertama
Penurunan Kolom kedua

e. Menentukan jumlah gas yang dihasilkan


1) Diameter tabung = 13.69 cm
Tinggi gas Reaktor 1 = 2,2 cm
V= La. t
= x x D2 x t
= x 3.14 x (13.692) x 2,2
=323,7 cm3= 0,3237 L
2) Diameter tabung = 13.69 cm
Tinggi gas Reaktor 2 = 1,4 cm
V= La. t
= x x D2 x t

100 %

= 0 mm
= 330 mm

= x 3.14 x (13.692) x 330


=48550,14 cm3= 48,55 L