Anda di halaman 1dari 17

PERENCANAAN STRUKTUR GEOMETRI JALAN

BAB III
PERHITUNGAN
A. Perhitungan Awal
Spesifikasi rencana jalan:

Fungsi jalan

= Kolektor

Kelas jalan

= II

Klasifikasi Medan

= Gunung

VLHR

= 8.000 smp/hari

Tingkat Pertumbuhan = 4,50 %

Umur rencana

Titik B
X = 590.055,045
Y
=
9.290.055,473
Z = 271,500

= 20 tahun

Titik PI 2
X = 590.217,438
Y
=
9.290.182,044
Z = 271,000

Titik PI 1
X = 590.360,338
Y
=
9.290.085,104
Z = 285,500

Titik A
X = 590.550,258
Y
=
9.290.189,065
Z = 286,000

Gambar 3.1 Peta Jalan Rencana

1. Perhitungan Koordinat (X:Y:Z)


Titik A
(590550,258; 9290189,065; 286000)
PI
Titik
(590360,338; 9290085,104; 285500)
1
Titik PI 2
(590217,438; 9290182,044; 271000)
Titik B
(590055,045; 9290055,473; 271500)
2. Perhitungan Jarak
d A PI 1
= (XP I 1XA)2 +(YP I 1YA)2

d PI 1

= (590360,338590550,258)2 +(9290085,1049290189,065)2
= 216,512 m
2
2
PI 2
= ( XP I 2 XP I 1 ) + ( YP I 2YP I 1)

BAB III PERHITUNGAN

Titik PI 1
X = 590.364,338
Y
=
9.290.089,104
Z = 285,500

PERENCANAAN STRUKTUR GEOMETRI JALAN

PI 2 B

Jumlah total

= (590217,438590360,338)2 +(9290182,0449290085,104)2
= 172,678 m
2
2
= ( XB XP I 2 ) + ( YBYP I 2)
= (590055,045590217,438)2 +(9290055,4739290182,044)2
= 205,893 m
= 216,512 m + 172,678 m + 205,893 m = 595,083 m

3. Perhitungan Sudut Azimuth


A

= Arc tan

( XP I 1XA )
( YP I 1YA )

(590360,338590550,258)
(9290085,1049290189,065)
( XP I 2 XP I 1)
PI 1
= Arc tan
(YP I 2 YP I 1)
(590217,438590360,338)
= Arc tan
(9290182,0449290085,104)
( XBXP I 2 )
PI 2
= Arc tan
(YBYP I 2)
= Arc tan

= Arc tan

(590055,045590217,438)
(9290055,4739290182,044)

= 61,30

= -55,85 + 180 = 124,15

= 52,07

4. Perhitungan Sudut Tikungan


tikungan 1 = PI 1 A = 124,15 - 61,30
tikungan 2 = PI 2 PI 1

= 62,85 (belok kanan)

= 52,07 - 124,15

= -72,08 (belok kiri)

5. Kecepatan Rencana (Vr)


Diketahui:
Fungsi jalan
= Kolektor
Kelas jalan
= II
Klasifikasi medan
= Gunung
VLHR
= 8.000 smp/hari
Tingkat pertumbuhan = 4,50 %
Berdasarkan Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota No.038/T/BM/1997
kecepatan rencana (VR) sesuai klasifikasi fungsi dan klasifikasi medan, didapatkan
nilai VR = 30 50 Km/jam, dalam hal ini diambil VR = 30 Km/jam.

BAB III PERHITUNGAN

31

PERENCANAAN STRUKTUR GEOMETRI JALAN


Tabel 3.1 Kecepatan Rencana

6. Jarak pandang
a. Jarak Pandang Henti
Jarak pandang henti adalah jarak minimum yang diperlukan pengemudi untuk
dapat menghentikan kendaraannya dengan aman begitu melihat halangan di
depannya.
Jh =

[ ]
Vr
3,6

T+

[ ]
Vr
3,6

1
)
2 gf

Keterangan:
Jh = jarak pandang henti minimum (m)
Vr = kecepatan rencana (km/jam)
T = waktu tanggap
= 2,5 detik
g = percepatan gravitasi
= 9,8 m/s2
f = koefisien gesekan
= 0,35 0,55 (Bina Marga)
2
30
1
30
Jh =
x 2,5 + 3,6
x
) = 30,956 m
2 x 9,8 x 0,35
3,6

[ ]

[ ]

Tabel 3.2 Jarak Pandang Henti (Jh) Minimum

Jadi, karena jarak pandang henti yang didapat dari perhitungan lebih besar
daripada ketentuan pada tabel yaitu 30,956 m > 27 m, maka jarak pandang henti
yang diambil adalah 30,956 m
b. Jarak Pandang Menyiap (Mendahului)
adalah jarak pandang yang dibutuhkan pengemudi untuk dapat melakukan gerakan
menyiap dengan aman dan dapat melihat dengan jelas kendaraan dari arah yang
berlawanan.
Jd = d1 + d2 + d3 + d4
Keterangan:
Jd

= jarak pandang mendahului (m)


BAB III PERHITUNGAN

32

PERENCANAAN STRUKTUR GEOMETRI JALAN


d1

= jarak yang ditempuh kendaraan yang hendak menyiap (m)


= 0,278 x T1 x (Vr - m + a.T1/2)

d2

= jarak yang ditempuh dalam penyiapan (m)


= 0,278 x Vr x T2

d3

= jarak bebas (antara 30-100 m)

d4

= jarak yang ditempuh oleh kendaraan yang berlawanan arah (m)


= 2/3 x d2

T1

= 2,12 + 0,026 x Vr
= 2,12 + 0,026 x 30 = 2,90 detik

T2

= 6,56 + 0,048 x Vr
= 6,56 + 0,048 x 30 = 8,00 detik

= 2,052 + 0,0036 x Vr
= 2,052 + 0,0036 x 30 = 2,16 km/s2

= perbedaan kecepatan dari kendaraan yang mendahului dan kendaraan


yang didahului, antara 10-15 km/jam, dipilih 15 km/jam

d1

= 0,278 x T1 x (Vr - m + a.T1/2)


= 0,278 x 2,90 x (30 - 15 + 2,16 x 2,90/2) = 14,618 meter

d2

= 0,278 x Vr x T2
= 0,278 x 30 x 8,00 = 66,72 meter

d3

= antara 30 100 m, diambil = 30 meter

d4

= 2/3 x d2
= 2/3 x 66,72 = 44,48 meter

Jd

= d1 + d2 + d3 + d4
= 14,618 + 66,72 + 30 + 44,48 = 155,818 meter

Tabel 3.3 Panjang Jarak Pandang Mendahului

Jadi, karena jarak pandang mendahului yang didapat dari perhitungan lebih besar
daripada ketentuan pada tabel yaitu 155,818 m > 15 m, maka jarak pandang
mendahului yang diambil adalah 155,818 m.

BAB III PERHITUNGAN

33

PERENCANAAN STRUKTUR GEOMETRI JALAN


B. Perencanaan Alinyemen
1. Perencanaan Tikungan (Alinyemen Horizontal)
a. Tikungan P I 1
Vr
= 30 km/jam
Lebar jalan
= 7 meter (2 x 3,5 meter) (Tabel standar jalan perkotaan)
e max
= 10 %
e min
=2%
tikungan P I 1
= 62,85

Perhitungan jari-jari minimum (Rmin) :


fmaks

= 0,00125 Vr + 0.24
= 0,00125 x 30 + 0.24
= 0,2775

Rmin =

Vr 2
127 ( emaks+fmaks )

30
127 ( 0,1 + 0, 2775 )

= 18,772 m
Tabel 3.4 R minimum terhadap Vr

Jadi, karena Rmin yang didapat dari perhitungan lebih kecil daripada ketentuan
pada tabel yaitu 18,772 m < 30 m, maka Rmin yang diambil adalah 30 m.

Perhitungan super elevasi (e) :


Dd

25
2xxRd

25
2x3,14x 3 0

x 360
x 360

= 47,77
Dmax

181864 (emaks+fmaks)
Vr 2

181864 (0,1+0,2775)
302

= 76,28O
Penentuan Tipe Lengkung Horizontal
Karena > 350 maka menggunakan tikungan dengan jenis spiral-spiral
Menggunakan lengkung spiral spiral
s

= 62,85 = 31,425

BAB III PERHITUNGAN

34

PERENCANAAN STRUKTUR GEOMETRI JALAN


Ls

s x x Rd
90

31,425 x 3,14 x 3 0
90

Ls2
6 x Rd

32,89152
6 x 30

= 32,8915 m

- Rd(1 - cos s)
30(1 cos 31,425 )

= 1,61 m
K

Ls 3
40 x Rd2

= Ls -

Rd sin s

32,89153
= 32,8915
40 x 302

- 30 x sin 31,425

= 16,262 m
L

= 2 x Ls
= 2 x 32,8915
= 65,783 m

Ts

= (Rd + p) tan 1/2

+k

= (30 + 1,61) tan.1/2.31,425 + 16,262 = 25,155 m


Es

= (Rd + p) sec.1/2

-R

= (30 + 1,61) sec.1/2.31,425 30


= 2,837 m
b. Tikungan P I 2
Vr
Lebar jalan
e max
e min
tikungan P I 2

= 30 km/jam
= 7 meter (2 x 3,5 meter) (Tabel standar jalan perkotaan)
= 10 %
=2%
= 72,08

Perhitungan jari-jari minimum (Rmin) :


fmaks

= 0,00125 Vr + 0.24
= 0,00125 x 30 + 0.24
= 0,2775

Vr 2
Rmin =
127 ( emaks+fmaks )

BAB III PERHITUNGAN

35

PERENCANAAN STRUKTUR GEOMETRI JALAN


2

30
=
127 ( 0,1 + 0, 2775 )
= 18,772 m
Tabel 3.5 R minimum terhadap Vr

Jadi, karena Rmin yang didapat dari perhitungan lebih kecil daripada ketentuan
pada tabel yaitu 18,772 m < 30 m, maka Rmin yang diambil adalah 30 m.

Perhitungan super elevasi (e) :


Dd

25
2xxRd

25
2x3,14x 3 0

x 360
x 360

= 47,77
Dmax

181864 (emaks+fmaks)
Vr 2

181864 (0,1 + 0,2775)


302

= 76,28O
Penentuan Tipe Lengkung Horizontal
Karena > 350 maka menggunakan tikungan dengan jenis spiral-spiral
Menggunakan lengkung spiral spiral
s

Ls

=
=

s x x Rd
90

36,04 x 3,14 x 30
90

Ls
6 x Rd

37,7222
6 x 30

= 72,08 = 36,04

= 37,722 m

- Rd(1 - cos s)
30(1 cos 36,04 )

= 2,163 m
K

= Ls -

Ls 3
2
40 x Rd

= 37,722

Rd sin s

37,7223
40 x 302

- 30 x sin 36,04

BAB III PERHITUNGAN

36

PERENCANAAN STRUKTUR GEOMETRI JALAN


= 18,581 m
L

= 2 x Ls
= 2 x 37,722
= 75,444 m

Ts

= (Rd + p) tan 1/2

+k

= (30 + 2,163) tan.1/2.36,04 + 18,581 = 29,044 m


Es

= (Rd + p) sec.1/2

-R

= (30 + 2,163) sec.1/2.36,04 30


= 3,822 m
2. Stationing
Tikungan I
Sta.A
Sta.PI1

= 15 + 300
= Sta.A + d A-PI1
= (15 + 300) + 216,512 m
= 15 + 516,512

Sta.TS

= Sta.PI1 TS
= (15 + 516,512) 25,155
= 15 + 491,357

Sta.ST

= Sta.TS + 2LS
= (15 + 491,357) + 65,783
= 15 + 557,140

Sta.PI2

= Sta.ST + d PI1PI2 TS
= (15 + 557,140) + (172,678) 25,155
= 15 + 704,663

Tikungan II
Sta.PI1
= 15 + 516,512
Sta.PI2
= Sta.PI1 + dPI1dPI2
= (15 + 516,512) + 172,678
= 15 + 689,19
Sta.TS

= Sta.PI2 TS
= (15 + 689,19) 29,044
= 15 + 660,146

Sta.ST

= Sta.TS + 2LS
= (15 + 660,146) + 75,444
BAB III PERHITUNGAN

37

PERENCANAAN STRUKTUR GEOMETRI JALAN


= 15 + 735,590
Sta.PI2

= Sta.ST TS + dPI2B
= (15 + 735,590) 29,044 + 205,893
= 15 + 912,439

3. Diagram Superelevasi
a. Tikungan I

Gambar 3.2 Diagram Super Elevasi Tikungan I

b. Tikungan II

BAB III PERHITUNGAN

38

PERENCANAAN STRUKTUR GEOMETRI JALAN

Gambar 3.3 Diagram Super Elevasi Tikungan II

4. Rencana Pelebaran
Untuk tikungan I dan II
Jalan kelas II (Kolektor) muatan sumbu terberat 8 ton sehingga direncanakan
kendaraan terberat yang melintas adalah kendaraan sedang.
Kendaraan rencana menggunakan kendaraan sedang (menurut TPGJAK 1997),
dengan spesifikasi sebagai berikut:
1). Tonjolan depan kendaraan (A)

= 2,1 m

2). Jarak gandar kendaraan (p)

= 7,6 m

3). Lebar kendaraan rencana (b)

= 2,6 m

Lebar kebebasan samping kiri-kanan kendaraan


C

= 3,5 b
= 3,5 2,6
= 0,9 m

Kecepatan rencana, VR
BAB III PERHITUNGAN

= 30 Km/jam
39

PERENCANAAN STRUKTUR GEOMETRI JALAN


Jari-jari rencana, RD

= 30 m

Lebar perkerasan per lajur, L

= 3,5 m

Jumlah jalur lintasan, n

=2

Lebar perkerasan jalur lurus, Bn

=7m

Gambar 3.3 Kendaraan Sedang

Maka
a. Lebar tambahan perkerasan di tikungan akibat maneuver kendaraan
b"

= RD

= 30

302

2
D

p 2

7,62

= 0,978 m
b. Lebar lintasan kendaraan pada tikungan
b'

= b + b''
= 2,6 + 0,978
= 3,578628564 m

c. Lebar melintang akibat tonjolan depan


Td

=
=

Rd2 +A(2p+A) Rd
302 +2,1 ( 2 x 7,6 + 2,1 )

30

= 0,599 m
d. Lebar tambahan akibat kelainan dalam mengemudi
Z

(0.105 x Vr)
Rd

(0.105 x 30)
30

= 0,575 m
e. Lebar total perkerasan ditikungan
B

= n (b' + c) + (n 1) Td + Z
= 2 (3,578 + 0,9) + (2 1) 0,599 + 0,575
BAB III PERHITUNGAN

40

PERENCANAAN STRUKTUR GEOMETRI JALAN


= 10,130 m
Lebar perkerasan pada jalan lurus 2 x 3,5 = 7 m
Ternyata B > 7 m
10,130 m > 7 m
10,130 7 = 3,130 m
Karena selisih B dan W > 0,6 m maka diperlukan pelebaran perkerasan sebesar
3,130 m
5. Perencanaan Alinyemen Vertikal
Alinyemen Vertikal
Perencanaan alinyemen vertikal ini meliputi alinyemen vertikal cekung dan
alinyemen vertikal cembung. Dalam menentukan panjang lengkung vertikal ini bisa
menggunakan jarak pandang henti (Jh) maupun jarak pandang mendahului (Jd).
a. Lajur Pendakian

Lebar Jalan

= 2 x 3,5 m

Kecepatan (Vr)

= 30 Km/Jam

Tingkat Pertumbuhan

= 4,50 %

VLHR

= 8000 smp/hari

Karena VLHR < 15000/hari, maka tidak diperlukan tambahan lajur pendakian.

Kelandaian maksimum

= 10 %

Tabel 3.6 Kelandaian Maksimum yang Diizinkan

b. Perhitungan Lengkung Vertikal


Grafik elevasi pada setiap stationing di soal

BAB III PERHITUNGAN

41

PERENCANAAN STRUKTUR GEOMETRI JALAN


Tabel 3.7 Stationing dan Elevasi Tempat

Stationing

Elevasi

Sta 15+300

286.000

Sta 15+350

286.500

Sta 15+400

287.500

Sta 15+425

285.500

Sta 15+450

283.000

Sta 15+500

276.500

Sta 15+550

273.500

Sta 15+600

272.000

Sta 15+625

271.000

Sta 15+650

271.000

Sta 15+700

272.500

Sta 15+750

271.500

Sta 15+800

266.500

290.000
285.000
280.000
275.000
270.000
Elevasi 265.000
260.000

Elevasi

255.000

Stationing
Gambar 3.4 Grafik Ketinggian Tanah dari Titik A ke Titik B (Alinyemen Vertikal)

Kelandaian

Elevasi
panjang lintasan

10%

Elevasi
500

BAB III PERHITUNGAN

42

PERENCANAAN STRUKTUR GEOMETRI JALAN


Elevasi

= 500 x 10%
= 50 m

Diambil titik A: Sta. 15+300, elevasi 289,000 m


Maka elevasi di titik B : Sta. 15+800
Kelandaian

A-B
panjang lintasan

10%

289,000-B
500

10% x 500

= 289,000 B

= 289,000 10 % x 500
= 239,000 m

Lajur pendakian

Lebar jalan
Kecepatan (Vr)
Tingkat pertumbuhan
VLHR
Kelandaian maksimum

= 2 x 3,5 m
= 30 km/jam
= 4,5 %
= 8000/hari
= 10 %

Penempatan jalur pendakian harus dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut :


Disediakan pada jalan arteri atau kolektor,
Apabila panjang kritis terlampaui, jalan memiliki VLHR > 15000
SMP/hari, dan persentase truk > 15%.
Karena VLHR yang direncanakan 8000 < 15000, maka tidak dibutuhkan lajur
pendakian.
C. Potongan Melintang
Penampang melintang jalan terdiri atas bagian-bagian sebagai berikut:
1. Jalur lalu lintas
2. Median dan jalur tepian (jika ada)
3. Bahu
4. Jalur pejalan kaki
5. Selokan
6. Lereng.
Berikut dibawah ini adalah gambar-gambar penampang melintang jalan
1

Tikungan PI1 (SS)

BAB III PERHITUNGAN

43

PERENCANAAN STRUKTUR GEOMETRI JALAN

Gambar 3.5 Potongan Melintang

Gambar 3.6 Potongan Melintang

Gambar 3.7 Potongan Melintang

2 Tikungan PI2 (SS)

Gambar 3.8 Potongan Melintang

Gambar 3.9 Potongan Melintang

BAB III PERHITUNGAN

44

PERENCANAAN STRUKTUR GEOMETRI JALAN

Gambar 3.10 Potongan Melintang

D. Galian dan Timbunan


Data galian dan timbunan diperoleh dari grafik sebelumnya, yaitu grafik elevasi pada
setiap stationing.
Terdapat daerah yang memerlukan timbunan dan ada juga daerah yang harus digali,
untuk meratakan daerahnya. Setiap timbunan akan diisi oleh galian dari stationing yang
lain.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari gambar grafik dibawah ini
290.000

1
285.000

II

280.000
275.000

III

270.000
Elevasi

265.000

IV

Elevasi

260.000
255.000

Stationing
Gambar 3.11 Grafik Galian dan Timbunan

Garis berwarna ungu adalah garis kelandaian rencana, dan garis berwarna biru adalah
garis keadaan tanah yang sebenarnya.
Daerah I dan III merupakan daerah kosong yang membutuhkan timbunan.
Daerah II dan IV merupakan daerah berlebih yang harus digali.

BAB III PERHITUNGAN

45

PERENCANAAN STRUKTUR GEOMETRI JALAN


Tabel 3.8 Data Galian dan Timbunan

Galian
(m3)
306,25
493,75
800

Daerah
I
II
III
IV
Jumlah

Timbunan
(m3)
93,75
275
368,75

Jumlah
Blok
3,75
12,25
11
19,75

1 blok = 25 m2
Selisih antara luas tanah galian dengan luas tanah timbunan berarti terdapat kelebihan
tanah 431,25 m2
Volume galian = luas galian x lebar jalan = 800 m2 x 7 m = 5600 m3
Volume timbunan = luas timbunan x lebar jalan = 368,75 m2 x 7 m = 2581,25 m3

BAB III PERHITUNGAN

46