Anda di halaman 1dari 6

THE ROLE OF RHINOSINUSITIS IN SEVERE

ASTHMA
Prevalensi asma adalah sekitar 5% sampai 10% pada populasi. Dari jumlah tersebut,
sekitar 5% sampai 10% adalah penderita asma berat yang berespon buruk terhadap obat asma,
termasuk steroid inhalasi dosis tinggi. Penderita asma yang berat memiliki gejala persisten,
sering eksaserbasi, dan obstruksi jalan napas berat bahkan ketika diberi steroid inhalasi dosis
tinggi. Biaya medis untuk mengobati penderita asma yang berat sebanyak 50% dari total biaya
kesehatan untuk penderita asma. Faktor risiko asma berat adalah genetik dan lingkungan,
termasuk berbagai jenis aeroalergen, -blocker, dan obat anti-inflamasi. Refluks gastroesofagal
dan faktor-faktor seperti penyangkalan, kecemasan, ketakutan, depresi, status sosial ekonomi,
dan konsumsi alkohol dapat memperburuk asma. Rhinitis dan asma biasanya terjadi bersamasama. Ada semakin banyak bukti bahwa rhinitis alergi dan rhinosinusitis dapat mempengaruhi
perjalanan klinis asma. Review ini membahas peran rinosinusitis pada asma berat.
INTRODUCTION
Asma adalah inflamasi kronik jalan nafas yang melibatkan episode susah bernafas dan wheezing
dengan respon jalan nafas berlebihan terhadap stimuli dari lingkungan [1-3]. Prevelansi asma
sekitar 5-10% pada populasi umum. Dimana 5-10%nya itu refraksi asma berat yang jelek dalam
merespon obat-obatan termasuk inhalasi steroid dosis tinggi [4-18]. Asma berat dibedakan
berdasarkan level kontrol klinik terbaru dan resiko asma tidak terkontrol yang dapat
menghasilkan frekuensi kekambuhan berat dan atau reaksi merugikan terhadap pengobatan dan
atau kematian kronis. Asma refraksi berat memiliki gejala-gejala, frekuensi kekambuhan, gejala
dan obstruksi jalan nafas berat, meskipun ketika mengkonsumsi inhalasi streroid dosis tinggi.
Pasien yang tidak mencapai tingkatan kontrol pada langkah 4 dari Global Initiative for Asthma
susah untuk dikontrol. [3]
Asma berat, termasuk asma yang berat tanpa pengobatan, susah untuk pengobatan dan
pengobatan yang resisten. Group pengobatan resisten asma berat meliputi [19]: 1) Asma yang
tidak terkontrol walau dengan level pengobatan tertinggi, dam 2) Asma yang hanya dapat

dikontrol dengan pengobatan tingkat tinggi. Definisi-definisi ini membantu mendukung


pengobatan pasien asma baik dengan klinis terkontrol maupun dengan resiko kerusakan. [19]
Rhinosinusitis diduga berperan dalam menaikan kesulitan kontrol asma. Studi klinis dan
eksperimental mengindikasikan bahwa radang sinonasal dapat menyebabkan pemburukan dari
penyakit jalan nafas bawah, hal ini seara potensial diinduksi oleh post nasal drip, reflek
nasobronchial atau mediator inflamasi. Penanganan medis dan pembedahan yang tepat untuk
sinusitis pada pasien asma diketahui memperbaiki gejala-gejala asma dan sinonasal dengan
kunjungan paramedis yang lebih jarang dan menurunkan kebutuhan untuk medikasi pada
beberapa pasien (21, 22). Ulasan ini mendiskusikan peran rhinosinusitis dalam asma berat.
ASMA BERAT
Asma berat, termasuk asma yang sukar disembuhkan, mewakili 5%-10% dari seluruh kasus asma
dan terkait dengan medikasi obat-obatan, kunjungan rumah sakit dan admisi yang lebih banyak
dari asma sedang. Angka kematian berkisar antara 3% sampai 35% dari kasus-kasus asma berat,
dan biaya medis untuk menangani asma berat dapat mencapai 50% dari total biaya pengobatan
pasien asma (23).
Faktor resiko untuk asma berat dapat berasal dari faktor genetik dan lingkungan, termasuk
banyak jenis alergen udara, -blocker, dan obat-obatan anti inflamasi. Penyakit gastro-esofagal
refluks (GERD) dapat mempengaruhi gejala asma melalui refluk esofagofaringeal dan aspirasi.
Faktor tambahan lainnya seperti psikopatologi, status sosioekonomi, konsumsi alkohol dapat
menyebabkan kekambuhan asma. Diagnosis banding (17) termasuk merokok, penyakit paru
obstruksi kronis, bronkiektasis, aspergilosi alergi bronkopulmoner, infeksi kronis, rhinosinusitis,
disfungsi pita suara, penyakit tiroid dan penyalahgunaan obat (24,25)
RHINOSINUSITIS PADA ASMA
Asma alergi dan rinitis adalah manifestasi dari sindroma atopik dan seringkali terjadi
secara bersamaan (Gbr.1). Diketahui bahwa rinitis alergi adalah faktor resiko yang kuat untuk
onset asma pada pasien dewasa (26). Semakin banyak bukti yang menunjukkan hubungan antara
rinitis alergi dan asma berdasarkan epidemiologis, imunologis dan studi klinis (27). Secara
epidemiologi, hingga 40% pasien dengan rinitis alergi juga memiliki asma, dan 80% pasien asma
mengalami gejala-gejala hidung (27). Rinitis alergi telah diketahui meningkatkan resiko asam

hingga 3x lebih tinggi (27). Lebih dari itu, rinitis alergi berhubungan dengan kondisi penyerta
yang lain, termasuk rhinosinusitis, polip hidung dan otitis media dengan efusi (27).

Rhinitis dan asma biasanya terjadi bersamaan. Terdapat banyak bukti bahwa AR
mempengaruhi perjalanan klinis asma. Prevalensi AR dan asma bervariasi secara global, dengan
AR umumnya dua kali lipat prevaslensi asma [28]. Rhinitis muncul pada lebih dari 80% pasien
dengan asma alergi [29]. Selain itu, 76% pasien dewasa dengan AR dan asma melaporkan
adanya rhinitis sebelum onset asma [29]. Pasien AR tanpa gejala asma seringkali memiliki
hiperresponsivitas bronkus (BHR) terhadap bronkokonstriktor nonspesifik seperti methacoline
atau histamin [30-35].
Beberapa mekanisme telah diselidiki untuk interaksi antara saluran nafas atas dan bawah
pada AR dan asma [30,36]. Pengaruh langsungnya adalah refleks nasobronkial, postnasal drip sel
inflamasi dan/atau mediator dari hidung ke saluran nafas bawah, dan penyerapan sel inflamasi
dan/atau mediator dari hidung ke sirkulasi sistemik dan terutama pada paru-paru [32,36]. Efek
tidak langsungnya adalah obstruksi nasal yang menyebabkan reduksi dalam fungsi filtrasi,
humidifikasi (pelembaban) dan penghangatan oleh hidung [32,36]. AR dan asma ditandai dengan
adanya pola inflamasi yang mirip dimana sel predominannya adalah eosinofil dan limfosit T
[28]. Inflamasu eosinofilik dapat muncul pada pasien dengan AR dan BHR yang bahkan tidak
ada gejala asma [37].

Kami secara retrospektif melibatkan 1.492 pasien asma dari studi kohor Cohort for
Reality and Evolution of Adult Asthma di Korea [38]. Asma tanpa riwayat atopi memiliki rhinitis
yang lebih berat dibandingkan dengan asma dengan riwayat atopi (tingkat keparahan [n=
atopi/tanpa atopi], intermiten ringan = 99/87 dibandingkan dengan intermiten sedang-berat =
59/35 dibandingkan persisten ringan = 232/197 dibandingkan dengan persisten sedang-berat
68/83; p < 0.05).
Pasien usia lanjut dengan asma berat dengan durasi penyakit yang lama, gejala harian
yang lebih sering muncul, penggunaan pelayanan gawat darurat yang lebih sering, sinusitis dan
pneumonia, menunjukkan bahwa asma yang parah ditandai dengan fungsi paru abnormal yang
responsif terhadap bronkodilator, riwayat infeksi sinopulmonary, gejala yang menetap, dan
peningkatan kebutuhan terhadap pelayanan kesehatan [39]. Sensitivitas terhadap aspirin, GERD,
sinusitis dan pneumonia dilaporpan lebih sering disertai dengan asma berat. Para penderita asma
berat dilaporkan lebih banyak memiliki riwayat sinusitis dan membutuhkan tindakan
pembedahan [39]. Rinosinusitis kronis (CRS) ditandai jika dua atau lebih gejala menetap selama
lebih dari 12 minggu, gejala termasuk nyeri wajah / nyeri tekan pada wajah, cairan hidung yang
purulen, hidung tersumbat, dan penurunan indera penciuman selama peradangan kronis yang
dipastikan melalui endoskopi atau radiografi [40, 41]. Secara klinis, CRS dibedakan menjadi
dua, yaitu CRS dengan polip hidung dan CRS tanpa polip hidung [41]. Pasien asma memiliki
skor keparahan rhinosinusitis yang lebih tinggi daripada pasien tanpa riwayat asma, dan
memiliki resiko polip hidung tanpa mempertimbangkan status atopik, hal ini menunjukkan
bahwa terdapat hubungan yang erat antara tingkat keparahan CRS dan penyakit radang saluran
napas kronis, asma, dan polip hidung [42].

Peningkatan derajat keparahan asma

Rhinitis
Sinusitis

Gambar 2. Rhinitis dan rhinosinusitis dapat meningkatkan derajat keparahan asma


Gejala sinusitis kronis adalah kondisi penyerta yang penting pada pasien dengan asma,
keduanya diasosiasikan dengan tingkat keparahan asma yang lebih buruk (43-50). Sinusitis
kronis juga secara independen dikaitkan dengan asma yang lebih parah (43) dan dikaitkan
dengan asma sedang/berat (43-50). Baik pengobatan medis dan pembedahan terhadapa
rinosinusitis kronis dikaitkan dengan perbaikan asma secara subjektif maupun objektif (43).
Sinusitis kronis diduga sebagai penyebab dalam sulitnya mengontrol asma (20).
Penelitian klinis dan eksperimental menunjukkan bahwa inflamasi sinonasal dapat menyebabkan
perburukan pada penyakit saluran nafas bawah (20), terutama dipicu oleh post nasal drip, reflek
nasobronkial atau mediator-mediator inflamasi. Derajat rinitis, dan juga adanya tanda-tanda
rinosinusitis kronis, secara signifikan meningkatkan resiko terjadinya asma dengan berbagai
macam gejala (51).
Penanganan medis dan pembedahan yang tepat untuk sinusitis pada pasien asma telah
menunjukkan adanya perbaikan gejala-gejala asma dan sinonasal dengan tingkat kunjungan
paramedis yang lebih jarang dan menurunkan kebutuhan medikasi pada beberapa pasien (18, 21,
22, 52-54).
Penanganan asma dan rinitis yang berhasil membutuhkan pandangan menyeluruh
terhadap saluran nafas, memahami interaksinya dan pendekatan pengobatan terintegrasi yang
menyasar inflamasi sistemik.
KESIMPULAN
Asma berat mewakili 5% hingga 10% dari seluruh kasus asma, tetapi biayanya dapat
mencapai 50% dari total seluruh biaya penanganan asma. Rinosinusitis dapat menyebabkan

perburukan penyakit saluran nafas bawah (gbr. 2) Penanganan medis dan pembedahan yang tepat
untuk rinosinusitis pada pasien asma menghasilkan perbaikan gejala asma dan sinonasal dengan
tingkat kunjungan paramedis yang lebih jarang dan menurunkan kebutuhan medikasi.
Memahami patofisiologi asma berat dan penyakit penyertanya terutama rinosinusitis, penting
untuk perkembangan pengobatan yang efektif untuk asma berat.
KONFLIK KEPENTINGAN
Tidak ada konflik kepentingan yang relevan untuk dilaporkan dalam artikel ini.
PENGHARGAAN
Penelitian ini didukung oleh Program Riset Sains Dasar melalui Yayasan Riset Nasional
Korea yang didanai oleh Kementrian Pendidikan (2013R1A1A2005465) dan Dana Riset
Universitas Soonshunhyang