Anda di halaman 1dari 3

Legenda Batu Menangis

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Alivia Siregar sebagai Narator Sementara dan Perempuan 2 (Adik Murti)


Dinda Saufia Rahma sebagai Darmi
Harun AlFauzan sebagai Narator dan Pemuda 2 (Andi)
Ita Fadila Sari sebagai Ibu Darmi
Muhammad Daffa Hawarisya sebagai Pemuda 1 (Arif)
Rifka Amalia Harahap sebagai Perempuan 1 (Murti)

Narator : Alkisah, disebuah bukit yang jauh dari desa didaerah Kalimantan hiduplah seorang
janda miskin dan seorang anak gadisnya.Anak gadis janda ibernama Darmi, rupanya ia sangat
cantik jelita. Namun sayang, ia mempunyai perilaku yang amat buruk. Gadis itu amat pemalas, tak
pernah membantu ibunya melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Kerjanya hanya bersolek setiap
hari.Segala permintaannya harus dituruti. Setiap kali ia meminta sesuatu kepada ibunya harus
dikabulkan, tanpa memperdulikan keadaan ibunya yang miskin, setiap hari harus membanting
tulang mencari sesuap nasi.Suatu hari, seperti biasa gadis itu mengurung dirinya di dalam
kamarnya. Ia tak mau matahari merusak kulitnya. Ia enggan debu-debu mengotori wajahnya.
Darmi : Ibuuuu!(Dengan nada yang keras)
Narator : Sang ibu tergesa-gesa menghampiri putrinya.
Darmi : Bukankah sudah berulang kali aku bilang bahwa setiap aku bangun ibu harus sudah
menata kamar ini hingga rapi, menyediakan lulur, air hangat, dan membuatkan minuman sari buah
untukku? (ekspresi marah)
Ibu : (dengan nada pelan) kamu itu sudah besar, nak. Kamu bisa mengerjakan semua itu sendiri.
Darmi :Ibu kan tahu, aku lagi sibuk,
Narator : Sang ibu hanya mengelus dada. Hatinya gelisah. Kesibukan mempercantik diri, hanya
itulah yang selalu dilakukan putrinya yang pemalas itu.
Matahari mulai memancarkan sinarnya . Sang ibu mulai bersiap-siap untuk berangkat ke sawah
untuk bekerja, ia tidak lupa mengajak darmi untuk membantunya di sawah.
Ibu: Darmi . . .Ayo Bantu ibu bekerja di sawah(sambil mengetuk pintu kamar darmi)
Darmi : Tidak bu . . ., nanti kalo kuku dan kulit ku kotor gimana?
Ibu : apa kamu tidak kasihan sama ibu nak ? (dengan nada iba)
Darmi : saya lagi dandan bu . .(sibuk merias wajahnya)
Narator : Akhirnya sang ibu pergi kesawah sendirian.
Ibu : *Lagu Makan-Makan Sendiri,Minum-Minum Sendiri,dll.*
Narator : Setelah Ibu pulang dari sawah . Darmi langsung menghampirinya
Ibu : Ibu pulang . .(dengan nada lelah)
Darmi : Upahnya mana ? (sambil mencari-cari uang upah ibunya di pakaian ibunya ,dan di
temukan uangnya di dalam genggaman tangan ibunya)
Darmi : nahh ini dia. .(dengan wajah senang sambil menunjuk uang)
Ibu: Jangan, Nak! Uang itu untuk membeli beras, ujar sang Ibu.
Darmi : Bedak ku habis bu, mesti beli yang baru (Ambil Uang di Kantong Ibu) *Ngompasin
Mama
Ibu : Jangan Nak! Jangan!
Ibu : kamu itu jadi anak bisanya cuma minta aja, tapi tidak pernah mau bekerja (dengan kesal)

Narator : Meskipun marah, sang Ibu tetap memberikan uang itu kepada Darmi. Keesokan
harinya, ketika ibunya pulang dari bekerja, si Darmi meminta lagi uang upah yang diperoleh
ibunya untuk membeli alat kecantikannya yang lain. Keadaan itu terjadi setiap hari.
Suatu hari, sang ibu mencoba untuk membujuk anaknya agar mulai mengubah tabiat buruknya.
Meskipun marah, sang Ibu tetap memberikan uang itu kepada Darmi. Keesokan harinya, ketika
ibunya pulang dari bekerja, si Darmi meminta lagi uang upah yang diperoleh ibunya untuk
membeli alat kecantikannya yang lain. Keadaan itu terjadi setiap hari.
Suatu hari, sang ibu mencoba untuk membujuk anaknya agar mulai mengubah tabiat buruknya.
Darmi : bu, mana uangnya?
Ibu : nak.. Coba kamu bantu ibu di sawah.
Darmi : apa sih bu?
Ibu : Ibu kan sudah tua, jika ibu dipanggil oleh Tuhan maka Ibu tak khawatir lagi engkau bisa
mengurusi dirimu sendiri. Kita itu orang miskin, kita harus tetap bekerja untuk bisa makan. (di
ruang tamu)
Darmi :(sibuk melentik kan kukunya) siapa suruh jadi orang miskin. Lagi pula Aku tidak pernah
minta kamu jadi ibuku. . (ketus sang gadis) *Suara Petir
Narator : Ibu pun sedih mendengar ucapan yang terlontar dari mulut anaknya sendiri
Ibu : Baiklah, Anakku. Ibu hanya memohon agar kamu tidak mengurung diri di rumah. Kenalilah
lingkunganmu agar ibu tenang jika suatu saat dipanggil Tuhan. ( dengan sabar )
Narator Sementara : Hari berganti hari. Akhirnya sang anak mau menuruti kehendak ibunya. Ia
tidak keberatan untuk ke mana pun bersama sang ibu. . Tapi anaknya ini mengajukan sebuah
syarat bahwa ibunya tidak diperbolehkan untuk mengakui bahwa ia adalah ibunya di depan
umum. Sebagai seorang ibu tentulah hatinya teriris mendengar itu. Namun sang ibupun
menyetujuinya.
Hingga, pada suatu hari anak gadis itu diajak ibunya turun ke desa untuk berbelanja di pasar yang
letaknya jauh dari tempat tinggal mereka. Anak gadis itu berjalan melenggang dengan memakai
pakaian yang bagus dan bersolek agar orang dijalan yang melihatnya akan mengagumi
kecantikannya.
Ketika mereka mulai memasuki desa, orang-orang desa memandangi mereka. Mereka begitu
terpesona melihat kecantikan anak gadis itu, terutama para pemuda desa yang tak puas-puasnya
memandang wajah gadis itu.Namun ketika melihat orang yang berjalan dibelakang gadis itu,
sungguh kontras keadaannya. Hal itu membuat orang bertanya-tanya.
Pemuda 1 (Arif) : eeh eeh , coba liat wanita itu , cantik sekali kan? (sambil mengagumi)
Pemuda 2 (Andi) : iyaiya benar. wanita itu bagai bidadari surga, elok parasnya, tak sanggup aku
menahan untuk menatap keindahannya.
Pemuda 1 (Arif) : iya , bahkan wanita itu lebih cantik daripada bunga mawar
Pemuda 2 (Andi) : rasanya aku tertarik untuk mengenalnya. . *Gruvi-ABC_Cinta
Pemuda 1 (Arif): eeh , tapi yang di belakangnya itu siapa ?
Pemuda 2 (Andi) : entahlah, siapa ya dia itu? (sambil berlari)
Pemuda 1 (Arif) : heh heh, kamu mau kemana?
Pemuda 2 (Andi) : mau kenalan ah!.
Pemuda 1 (Arif) : eh aku ikut, ikut ikut
Narator : Dilain sisi , para perempuan pun turut membicarakan kehadiran mereka
Perempuan 1 (Murti):Murti, kamu liat tidak wanita tua yang di belakang gadis cantik itu ?
Perempuan 2 (Adik Murti) : iya kak aku melihatnya, kasian yaa ....
Perempuan 1 (Murti) : sungguh sangat kasian ya , siapakah dia sambil membawa keranjang
belanjaan di belakang wanita cantik itu?
Perempuan 2 (Adik Murti) :apakah mungkin dia itu . . .(sambil berfikir)

Perempuan 1 (Murti) : ssstt!! Jangan berfikir yang macam-macam, gak boleh. menduga itu tidak
baik!
Perempuan 2 (Adik Murti) : eehm , iya baiklah kak
Perempuan 1 (Murti) : yaudah,lain kali jangan diulangi ya!
Narator Sementara : Di antara orang yang melihatnya itu, seorang pemuda mendekati dan
bertanya kepada gadis itu
Pemuda 1 (Arif) : hay cantik , Siapa yang berjalan dibelakangmu itu? Apakah itu ibumu?
(penasaran)
Darmi : Bukan, bukan,(mendongakan kepalanya) Dia itu budak!( dengan nada lembut kemudian
kencang)
Pemuda 1 (Arif ) : Ahhh,yang betul cantik?
Pemuda 2 (Andi) : Hai, manis. Yakin dia itu bukan ibumu? (penasaran)
Darmi : bukan! Sudah ku bilang dia itu budak! Pergi sana! (Darmi menendang ibu) *Suara
Tendangan
Ibu : *Hancur Hatiku-Olga Syahputra
Perempuan 1 (Murti) : astaga, jangan begitu (perempuan membantu si ibu untuk berdiri)!
Kamu Jahat Sekali!
Perempuan 2 (Adik Murti) : iya! Hargai orang lainlah. Walaupun dia itu budakmu, tapi dia juga
manusia!
Perempuan 1 (Murti) : Benar itu,dik! Adik Kakak ternyata pintar juga ya!
Perempuan 2 (Adik Murti) : Iya,dong kak!
Darmi : Alah! Sudah!
Narator Sementara : Alangkah terlukanya sang ibu mendengar itu. Hatinya menangis dan ia
benar-benar tak berdaya menahan sakit hatinya. Ia berbisik dan memohon kepada Tuhan.
Akhirnya si ibu pun berdoa f
Ibu : *Suara Petir,Ya Tuhan, hamba tak kuat menahan hinaan ini. Anak kandung hamba begitu
teganya memperlakukan diri hamba sedemikian rupa. Ya, Tuhan hukumlah anak durhaka ini !
Hukumlah dia.( sambil menangis dan menjerit )
Narator : Atas kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, perlahan-lahan tubuh gadis durhaka itu berubah
menjadi batu. Perubahan itu dimulai dari kaki. Ketika perubahan itu telah mencapai setengah
badan, anak gadis itu menangis memohon ampun kepada ibunya.
Darmi : *Suara Petir dan Abadi Selamanya,Oh, Ibu..ibu..ampunilah saya, ampunilah
kedurhakaan anakmu selama ini. IbuIbuampunilah anakmu.. (merintih dan menangis/sujud )
Ibu : maafkan ibu nak..
Darmi : Ibuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!
Narator : Anak gadis itu terus meratap dan menangis memohon kepada ibunya. Akan tetapi,
semuanya telah terlambat. Seluruh tubuh gadis itu akhirnya berubah menjadi batu. Sekalipun
menjadi batu, namun orang dapat melihat bahwa kedua matanya masih menitikkan air mata,
seperti sedang menangis. Oleh karena itu, batu yang berasal dari gadis yang mendapat kutukan
ibunya itu disebut Batu Menangis.Kesimpulan yang dapat diambil ialah Janganlah Kita
Durhaka kepada Ibu Kita,Karena dialah kita dapat lahir di dunia dan Ingat Bahwa Ibulah yang
mempertaruhkan nyawanya demi Melahirkan kita ke Dunia,Sekian.