Anda di halaman 1dari 20

BAB II

KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKR DAN HIPOTESIS

A. Kajian Teori
1. Hakekat Permainan Sepak Takraw
Permainan sepak takraw adalah permainan regu atau tim, namun demikian keberhasilan
tim atau regu sangat dipengaruhi keterampilan individu yang bermain dalam regu atau tim
tersebut, Sulaiman (2008:15). Sepak Takraw adalah suatu permainan yang menggunakan bola
yang terbuat dari rotan (takraw), dimainkan di atas lapangan yang datar berukuran panjang 13,40
m dan lebar 6,10 m. Ditengah-tengah dibatasi oleh jaring/net seperti permainan Bulutangkis.
Pemainnya terdiri dari dua pihak yang berhadapan, masing-masing terdiri dari 3 (tiga) orang.
Dalam permainan ini yang dipergunakan terutama kaki dan semua anggota badan kecuali tangan.
Tujuan dari setiap pihak adalah mengembalikan bola sedemikian rupa sehingga dapat jatuh di
lapangan lawan atau menyebabkan lawan membuat pelanggaran atau bermain salah. Definisi
permainan Sepak Takraw sebagaimana tersebut di atas adalah Sepak Takraw Kompetisi. Sepak
Takraw Kompetisi ini dipertandingkan dalam 3 nomor, yaitu : tim, regu dan Double-event
(ketiga nomor ini akan dijelaskan pada bab selanjutnya. Pada tahun 2002 dikembangkan nomor
Sepak Takraw baru yang disebut sepak takraw lingkaran (Circle-game), yaitu sepak takraw yang
dimainkan di lapangan berbentuk lingkaran, masing-masing regu terdiri dari 5 orang pemain,
regu tersebut memainkan bola dengan cara mengoper ke teman secara berhadapan dengan nomor
yang saling berurutan, dengan operan sesuai tingkat kesulitannya (tingkat kesulitan tinggi nilai 3,
tingkat kesulitran rendah nilai 1. Permainan ini di batasi oleh waktu selama 10 menit untuk
masing-masing babak. Regu yang memenangkan perlombaan adalah regu yang paling banyak

mengumpulkan nilai selama waktu 10 menit tersebut. Pada tahun 2006 Sepak Takraw Lingkaran
digantikan dengan nomor baru yaitu : Hoop-Takraw, bentuk permainan nomor ini hampir sama
dengan sepak takraw Lingkaran (circle-game), tetapi pemain yang 5 orang tersebut harus
memasukkan bola ke atas Ring berdiameter 1 meter (bulatan besi) yang dipasang dengan tali
setinggi 4,50 meter untuk puetri dan 4,75 meter untuk putera di tengah bulatan pemain. Pemain
berusaha memasukkan bola ke ring sebanyak-banyaknya dengan pukulan yang telah ditentukan
dalam waktu 30 menit.
Ada nomor Sepak Takraw kompetisi yang baru diperkenalkan mulai tahun 2005 yang
dikenal dengan nama Double-event, nomor ini dimainkan oleh 2 orang dalam satu regunya.
Aturan permainannya sama dengan sepak takraw kompetisi, hanya pemain yang servis tidak dari
daerah circle (tempat tekong biasa servis), tetapi dari garis belakang (base-line) dengan bola
dilambungkan sendiri dan disepak melewati net.
Permainan sepak takraw kompetisi dasarnya adalah dari permainan Sepak Raga yang
dimodifikasi untuk menjadi suatu bentuk permainan yang dipertandingkan. Sedangkan
permainan sepak takraw lingkaran (Circle-game) adalah kembali kepada bentuk sepak raga yang
awalnya muncul secara tradisional yang diperlombakan. Seperti kita ketahui permainan sepak
raga merupakan olahraga tradisional , yaitu suatu permainan rakyat sejak dulu yang terdapat dan
populer di beberapa daerah di Indonesia dan Semenanjung Malaka mulai dari Myanmar sampai
perbatasan Singapura. Permainan ini sangat digemari masyarakat bahkan di Malaysia termasuk
olahraga wajib di sekolah. Permainan Sepak raga di Indonesia dan Malaysia, awalnya dimainkan
oleh beberapa orang (6-9 orang) dalam suatu lingkaran yang disebut permainan Sepak raga
bulatan.
Pada tahun 1945 di Malaysia permainan Sepak raga bulatan kemudian dimodifikasi

menjadi bentuk permainan yang dimainkan di atas lapangan empat persegi panjang dan di
tengah-tengahnya dipasang jaring yang dikenal dengan nama : Sepak raga Jaring . Olahrtaga ini
juga berkembang di laos, Thailand dan Singapura. Dalam musyawarah yang diadakan Federasi
Sepak Takraw Asia (ASTAF) pada tahun 1965 di Malaysia disepakati nama Sepak raga Jaring
diganti namanya menjadi permainan Sepak Takraw. Sepak berasal dari bahasa Malaysia yang
artinya memukul dengan kaki (menendang) dan Takraw dari bahasa Thailand (Takraw = bola
yang terbuat dari rotan), Susnadi (2010:4-5).
2. Perkembangan Sepak Takraw Di Indonesia
Permainan Sepak Takraw sampai sekarang ini masih merupakan salah satu cabang
olahraga yang belum memasyarakat, belum menjadi kegemaran masyarakat dari semua lapisan.
Permainan Sepak Takraw baru merambah kepada masyarakat lapisan menengah ke bawah. Hal
ini disebabkan permainan ini sulit dilakukan, berisiko cidera atau sakit lebih besar, dan masih
ada kelompok masyarakat yang menganggap permainan Sepak Takraw sebagai olahraga yang
kasar. Namun demikian perkembangan permainan Sepak Takraw terjadi sangat pesat sekali. Hal
ini dapat dilihat mulai tahun 1983, seluruh daerah di Indonesia sudah memiliki Pengurus daerah
(Pengda) atau sekarang bernama Pengurus Provinsi (Pengprov) Persatuan Sepak Takraw Seluruh
Indonesia

(PSTI).

Permainan Sepak Takraw secara internasional telah membentuk induk organisasi tingkat asia
sejak 1982, yang perkembangannya secara internasional sekarang ini sangat hebat. Tidak hanya
negara-negara Asia Tenggara yang mengembangkan olahraga ini, tapi hampir seluruh bangsa di
dunia ini mengembangkan permainan Sepak Takraw, seperti Amerika, Australia, dan
sebagainya.
3. Bentuk Permainan Sepak Takraw

Sepak Takraw adalah suatu permainan yang menggunakan bola yang terbuat dari rotan
(takraw), dimainkan di atas lapangan yang datar berukuran panjang 13,40 m dan lebar 6,10 m.
Ditengah-tengah dibatasi oleh jaring/net seperti permainan Bulutangkis. Pemainnya terdiri dari
dua pihak yang berhadapan, masing-masing terdiri dari 3 (tiga) orang. Dalam permainan ini yang
dipergunakan terutama kaki dan semua anggota badan kecuali tangan. Tujuan dari setiap pihak
adalah mengembalikan bola sedemikian rupa sehingga dapat jatuh di lapangan lawan atau
menyebabkan lawan membuat pelanggaran atau bermain salah. Definisi permainan Sepak
Takraw sebagaimana tersebut di atas adalah Sepak Takraw Kompetisi. Sepak Takraw Kompetisi
ini dipertandingkan dalam 3 nomor, yaitu : Tim, Regu dan Double-event (ketiga nomor ini akan
dijelaskan pada bab selanjutnya. Pada tahun 2002 dikembangkan nomor Sepak Takraw baru
yang disebut Sepak Takraw Lingkaran (Circle-game), yaitu sepak takraw yang dimainkan di
lapangan berbentuk lingkaran, masing-masing regu terdiri dari 5 orang pemain, regu tersebut
memainkan bola dengan cara mengoper ke teman secara berhadapan dengan nomor yang saling
berurutan, dengan operan sesuai tingkat kesulitannya (tingkat kesulitan tinggi nilai 3, tingkat
kesulitran rendah nilai 1. Permainan ini di batasi oleh waktu selama 10 menit untuk masingmasing babak. Regu yang memenangkan perlombaan adalah regu yang paling banyak
mengumpulkan nilai selama waktu 10 menit tersebut. Pada tahun 2006 Sepak Takraw Lingkaran
digantikan dengan nomor baru yaitu : Hoop-Takraw, bentuk permainan nomor ini hampir sama
dengan sepak takraw Lingkaran (circle-game), tetapi pemain yang 5 orang tersebut harus
memasukkan bola ke atas Ring berdiameter 1 meter (bulatan besi) yang dipasang dengan tali
setinggi 4,50 meter untuk puetri dan 4,75 meter untuk putera di tengah bulatan pemain. Pemain
berusaha memasukkan bola ke ring sebanyak-banyaknya dengan pukulan yang telah ditentukan
dalam waktu 30 menit.

Ada nomor Sepak Takraw kompetisi yang baru diperkenalkan mulai tahun 2005 yang
dikenal dengan nama Double-event, nomor ini dimainkan oleh 2 orang dalam satu regunya.
Aturan permainannya sama dengan Sepak Takraw kompetisi, hanya pemain yang servis tidak
dari daerah circle (tempat tekong biasa servis), tetapi dari garis belakang (base-line) dengan bola
dilambungkan sendiri dan disepak melewati net.
Permainan Sepak Takraw kompetisi dasarnya adalah dari permainan Sepak Raga yang
dimodifikasi untuk menjadi suatu bentuk permainan yang dipertandingkan. Sedangkan
permainan Sepak Takraw lingkaran (Circle-game) adalah kembali kepada bentuk sepak raga
yang awalnya muncul secara tradisional yang diperlombakan. Seperti kita ketahui permainan
Sepak raga merupakan olahraga tradisional , yaitu suatu permainan rakyat sejak dulu yang
terdapat dan populer di beberapa daerah di Indonesia dan Semenanjung Malaka mulai dari
Myanmar sampai perbatasan Singapura. Permainan ini sangat digemari masyarakat bahkan di
Malaysia termasuk olahraga wajib di sekolah. Permainan Sepak raga di Indonesia dan Malaysia,
awalnya dimainkan oleh beberapa orang (6-9 orang) dalam suatu lingkaran yang disebut
permainan Sepak raga bulatan.
Pada tahun 1945 di Malaysia permainan Sepak raga bulatan kemudian dimodifikasi
menjadi bentuk permainan yang dimainkan di atas lapangan empat persegi panjang dan di
tengah-tengahnya dipasang jaring yang dikenal dengan nama : Sepak raga Jaring . Olahrtaga ini
juga berkembang di laos, Thailand dan Singapura. Dalam musyawarah yang diadakan Federasi
Sepak Takraw Asia (ASTAF) pada tahun 1965 di Malaysia disepakati nama Sepak raga Jaring
diganti namanya menjadi permainan Sepak Takraw. Sepak berasal dari bahasa Malaysia yang
artinya memukul dengan kaki (menendang) dan Takraw dari bahasa Thailand (Takraw = bola
yang terbuat dari rotan), Susnadi (2010:4-5).

4. Teknik Dasar Permainan Sepak Takraw


Menurut Susnadi (2010:6-7) teknik permainan sepak takraw memiliki dua macam teknik
yakni teknik dasar dan teknik khusus. Teknik dasar meliputi :
a) Lawan pasif
Lawan pasif adalah menyepak bola dengan menggunakan kaki bagian dalam gunanya untuk
menerima dan menimang bola, mengumpan dan menyelamatkan smash lawan.

b) Sepak Kuda (Sepak Kura)


Sepak kuda atau sepak kura adalah sepakan dengan menggunakan kura kaki atau dengan
punggung kaki. Digunakan untuk menyelamatkan bola dari smash lawan, memainkan bola
dengan usaha menyelamatkan bola dan mengambil bola yang rendah.
c)

Sepak Cungkil
Sepak cungkil adalah menyepak bola dengan menggunakan kaki (jari kaki). Digunakan

untuk mengambil bola yang jauh, rendah dan bola-bola yang liar pantulan dari bloking.
d) Menapak
Menapak adalah menyepak bola dengan menggunakan telapak kaki. Digunakan untuk :
smash ke pihak lawan, menahan atau membloking smash dari pihak lawan dan menyelamatkan
bola dekat net (jaring).
e)

Sepak Simpuh atau Sepak Badek


Sepak badek adalah menyepak bola dengan kaki bagian luar atau samping luar. Digunakan

untuk menyelamatkan bola dari pihak lawan dan mengontrol bola dalam usaha penyelamatan.

f)

Sundulan (heading)
Sundulan (heading) adalah memainkan bola dengan kepala. Digunakan untuk menerima

bola pertama dari pihak lawan, meyelamatkan bola dari smash lawan.

g) Mendada
Mendada adalah memainkan bola dengan dada, digunakan untuk mengontrol bola untuk
dapat dimainkan selanjutnya.
h) Memaha
Memaha adalah memainkan bola dengan paha dalam usaha mengontrol bola, digunakan
untuk menahan, menerima dan menyelamatkan bola dari smash lawan.
i)

Membahu
Membahu adalah memainkan bola dengan bahu dalam usaha mempertahankan dari smash

pihak lawan yang mendadak, dimana pihak pertahanan dalam keadaan terdesak dan dalam posisi
yang kurang baik. Sedangkan teknik khusus dalam permainan sepak takraw adalah cara bermain
sepak takraw, bagaiman permainan itu dimulai, apa yang harus dilakukan. Setelah bola dikuasai
tindakan apa yang harus dilakukan untuk membuat smash sehingga smash itu mendapatkan hasil
atau nilai bagi regunya.
Adapun teknik khusus dalam permainan sepak takraw adalah :
a) Sepak Mula (Servis)
Sepak Mula (Servis) adalah sepakan yang dilakukan oleh tekong kearah lapangan lawan
sebagai cara memulai permainan. suatu gerak kerja yang penting dalam permainan sepak takraw,

karena point dapat dibuat oleh regu yang melakukan servis. Tujuan suatu servis hendaklah
dipusatkan kepada pengacuan permainan atau pertahanan lawan sehingga kita dapat mengatur
smash yang mematikan dan sulit menerima bola oleh lawan.
b) Smash
Smash adalah pukulan yang utama dalam pnyerangan untuk mencapai usaha dalam
kemenangan. Tujuannya adalah mendapatkan point dari pihak lawan dan mematikan permainan
lawan
c) Block ( Menahan )
Block atau menahan adalah salah satu dari beberapa cara gerak kerja bertahan untuk
menghalangi smash dari lawan yang melakukan smsh. Tujuannya adalah menggagalkan smash
dari lawan untuk mendapatkan angka
5. Hakekat Ketepatan Servis Bawah Dalam Permainan Sepak Takraw
Ketepatan adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan gerakan-gerakan
terhadap suatu sasaran. Sasaran ini dapat merupakan suatu jarak atau objek yang langsung harus
dikenai dengan salah satu bagian tubuh. Misalnya suatu pukulan dalam tinju, tendangan dalam
karate, tembakan dalam bola basket, Ahmadi (2007:66). Ketepatan menurut Poerwanto (dalam
Hadjarati, 2006:76) adalah betul atau lurus (arahnya, jurusannya) misalnya kena benar pada
sasarannya, tujuannya, maksudnya dan sebagainya. Selanjutnya Sajoto (dalam Hadjarati,
2006:73) ketepatan adalah kemampuan sesesorang dalam mengendalikan gerak bebas, terhadap
sesuatu sasaran dapat berupa atau mungkun suatu objek yang langsung harus dikenal misalnya
dalam memasukan bola dalam bola basket. Ketepatan adalah kemampuan sesorang untuk
mengarahkan sesuai dengan sasaran yang dikehendaki Rintulus dkk (dalam Hadjarati, 2006:76).
Menurut Ahmadi (2007:20) servis adalah pukulan bola yang dilakukan dari belakang

garis akhir lapangan permainan melampaui net ke daerah lawan. Servis merupakan pukulan
pembukaan untuk memulai suatu permainan sesuai dengan kemajuan permainan, teknik saat ini
hanya sebagai permukaan permainan, tapi jika ditinjau dari sudut taktik sudah merupakan suatu
serangan awal untuk mendapat nilai agar suatu regu berhasil meraih kemenangan. Menurut
peraturan permainan bola voli (2005:33) servis adalah suatu upaya untuk menetapkan bola ke
dalam permainan oleh pemain kanan belakang yang berada didaerah servis. Mula-mula servis ini
hanya dianggap sebagai pukulan permulaan saja, cara melempar bola untuk memulai permainan.
Tetapi servis ini kemudian berkembang menjadi suatu senjata yang ampuh untuk menyerang.
Adapun macam servis ada dua yaitu : a) servis atas, b) servis bawah. Jadi teknik dasar ini tak
boleh kita abaikan, dan harus kita latih dengan baik terus menerus.
Ketepatan servis adalah kemampuan seseorang untuk menggerakkan sesuatu dengan
sasaran yang dikehendaki. Sajoto (1988:59) menyatakan bahwa : ketepatan servis atau accuracy
adalah kemampuan seseorang dalam mengendalikan gerakan-gerakan bebas terhadap sesuatu
sasaran. Sasaran dapat berupa jarak atau mungkin sesuatu obyek langsung yang harus dikenai,
misalnya menembak, memasukkan bola dalam basket, pichur dalam permainan bola voli dan
lain-lain sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian ketepatan adalah kemampuan
seseorang untuk mengarahkan gerakan ke sasaran, kegunaannya adalah untuk ketepatan servis,
sehingga para pemain berkehendak melakukan servis bola dengan tepat pada sasaran yang
dikehendaki.
Roji (2007:22) mengemukakan servis adalah sebagai tanda dimulainya peraminan dan
sebagai suatu serangan yang pertama kali bagi suatu regu. Servis terdiri dari servis tangan
bawah dan servis tangan atas. Menurut peraturan permainan bola voli (2005:33) servis adalah

suatu upaya untuk menetapkan bola ke dalam permainan oleh pemain kanan belakang yang
berada didaerah servis.
Ahmadi (2007:21) mengemukakan bahwa servis bawah disebut merupakan servis yang
dilakukan dengan posisi awal adalah berdiri dengan posisi melangkah, dengan kaki depan yang
berlawanan dengan kaki yang akan menendang bola. Lestari (2008:90) mengemukakan bahwa
servis bawah merupakan servis yang dilakukan dengan posisi pemain dapat berdiri dimana saja
disepanjang dan dibelakang garis ujung lapangan.
6. Teknik Dasar Melakukan Sevis Bawah
Menurut Sulaiman (2008:22) menjelaskan bahwa teknik dasar melakukan servis bawah
meliputi :
a) Berdiri dengan salah satu kaki berada di dalam lingkaran sebagai kai tumpu, kaki lain
berada di samping belakang badan sebagai awalan. Kaki tumpu diusahakan menghadap
ke arah pelampung (apit).
b) Salah satu lengan menunjuk arah permintaan bola yang akan dilambungkan oleh apit
sebagai pelambung.
c) Saat bola datang, kaki pukul diayunkan dati bawah ke atas menyonsong bola. Perkenan
dengan bola adalah pada kaki bagin dalam di kencangkan.
d) Bola ditendang saat ketinggian bola setinggi lutut.
e) Berusaha bola dipukul melewati atas net.
f) Setelah melakukan sepakan, badan melakukan gerakan lanjutan dengan mengikuti arah
gerak sepakan dan mendarat dengan mengeper.
Selanjutnya ada beberapa keselahan dalam melakukan servis bawah menurut Sulaiman
(2008:23) yakni :

a) Kaki tumpu tidak dihadapkan ke pelambung, sehingga pada saat pukulan bola gerak
lanjutannya terhambat.
b) Kaki pukul tidak dikeraskan pada pergelangan kaki akibatnya pukulan bola tidak
bertenaga dan tidak dapat diarahkan sesuai harapan.
c) Kaki tumpu atau kaki pukul menginjak garis hal ini merupakan kesalahan dalam
peraturan permainan.
7. Hakekat Latihan
Hamidsyah (1995:89) mengatakan bahwa didalam olahraga prestasi, bentuk-bentuk
aktivitas semacam itu belum dapat dikategorikan sebagai suatu latihan. Sebenarnya bila yang
dimaksudkan dengan pengertian latihan seharusnya mempunyai tujuan atau sasaran yang ingin
dicapai dengan menggunakan metode-metode serta pola dan menggunakan prinsip-prinsip
latihan yang mempunyai pengaruh terhadap tubuh. Bompa (1994:3) memberi batasan bahwa
latihan adalah aktivitas olahraga yang sistematis dalam waktu yang lama, ditingkatkan secara
psikologis manusia untuk mencapai sasaran yang ditentukan.
Harsono (1988:101) mengemukakan Latihan adalah proses sistematis berlatih atau
bekerja, yang dilakukan secara berulang-ulang dengan kian hari kian bertambah jumlah beban
latihan atau bekerja.

Bompa (1994:37) mengemukakan Latihan merupakan proses yang

sistematis atau bekerja secara berulang-ulang dalam jangka panjang, yang ditingkatkan secara
bertahap dan individu yang ditujukan pada pembentukan fungsi fisiologis dan psikologis untuk
memenuhi tuntutan tugas
Harsono (1988:100) mengatakan Tujuan serta sasaran dari latihan atau training adalah
untuk membantu atlet meningkatkan keterampilan dan prestasi semaksimal mungkin. Untuk
mencapai hal itu, ada empat aspek latihan yang harus diperhatikan dan dilatih secara seksama

oleh atlet, yaitu latihan fisik, teknik, taktik dan mental. Dalam pelaksanaan latihan Overhead
Throw dan latihan Medicine Ball Throw, latihan dilakukan selama 6 minggu dan frekuensi
latihan 3 kali seminggu. Sesuai yang telah dikemukakan Pate (1993:213) bahwa : "Latihan yang
dilakukan selama 6-8 minggu akan memberikan efek yang cukup dengan kekuatan 10-25%.
Kemudian menurut Sajoto (1988:99) bahwa : "repetisi dengan kontrak maksimal tiap set
hendaknya antara 8-15 kali, sedangkan jumlah set hendaknya 3 kali. Lebih lanjut Sajoto
(1988:35) menyatakan "program latihan 3 kali setiap minggu agar tidak terjadi kelelahan yang
kronis. Penggunaan beban dalam latihan nantinya akan dilakukan secara bertahap dari ringan ke
yang semakin berat.
Latihan adalah suatu proses secara sistematis yang mengarah kepada fungsi fisiologis dan
psikologis untuk mencapai pembentukan perindividual secara keseluruhan dalam meningkatkan
keterampilan gerak untuk berprestasi. Gerakan-gerakan yang dilakukan harus diulang-ulang
dengan konstan, dimaksudkan agar organisasi mekanisme neuorofisiologis akan menjadi
bertambah baik, dan gerakan-gerakan tubuh yang semula dirasakan sukar untuk dilakukan, lama
kelamaan merupakan suatu gerakan yang sistematis dan refleks. Ini berarti semakin kurang kita
menggunakan konsentrasi pusat-pusat syaraf. Dengan demikian kita akan lebih menghemat
tenaga, jumlah tenaga kita kelurkan untuk gerakan-gerakan tambahan yang tidak diperlukan
dapat diperkecil atau diabaikan. Melalui ransangan (stimulasi) maksimal atau hampir maksimal
dari latihan yang kian hari kian bertambah berat, maka perubahan-perubahan dalam tubuh akan
dapat tercapai.
a) Komponen-komponen latihan
Dalam setiap cabang olahraga, kekuatan hal utama karena otot yang kuat, lentur dan
terlatih menghasilkan teknik yang sempurna. Teori di atas diperkuat lagi oleh Rusli Lutan yang

mengatakan bahwa metode bagian atau parsial dapat diterapkan apabila struktur gerak agak
kompleks sehingga kemungkinan untuk memperoleh hasil yang maksimal akan diperoleh jika
komponen-komponen gerakan dilatih. Dalam cabang olahraga bola voli kekuatan dan kelenturan
sangatlah dibutuhkan untuk melakukan suatu smash maupun dengan jenis smash di cabang
olahraga lainnya.
b) Volume Latihan
Volume latihan sering dipandang sebagai komponen utama dalam latihan sebab
menyangkut pada jumlah keseluruhan latihan yang dilakukan dalam latihan atau juga
menyangkut jumlah kerja yang dilakukan selama satu kali latihan. Oleh karena itu komponen ini
dapat dikatakan sebagai syarat penting untuk mendapatkan teknik, taktik dan kondisi fisik yang
diinginkan. Untuk lebih jelas volume latihan dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Waktu atau jangka waktu yang digunakan.
b. Jarak atau jumlah tegangan yang dapat dilakukan persatuan waktu.
c. Jumlah pengulangan bentuk latihan, atau elemen terbaik persatuan waktu.
Volume latihan dapat ditingkatkan melalui :
a. Memperpanjang waktu latihan
b. Meningkatkan jumlah waktu latihan persiklus latihan
c. Menambah jumlah pengulangan pada waktu tertentu
d. Meningkatkan jarak yang harus ditempuh untuk setiap pengulangan latihan.
Akan tetapi peningkatan volume latihan tetap selalu dipertimbangkan, sebab
bagaimanapun juga terlalu tinggi peningkatan volume latihan dapat merusak atlet.
c) Intensitas Latihan

Interaksi latihan merupakan salah satu komponen latihan yang sangat penting berkaitan
dengan kualitas kerja dalam satuan waktu yang diberikan. Lebih banyak kerja diberikan dalam
satuan waktu akan lebih tinggi intensitasnya. Intensitas latihan menunjukkan pada kekuatan
rangsangan syaraf pada waktu latihan dilakukan yang tergantung pada :
a. Beban / kecepatan gerakan
b. Variasi internal istirahat di antara ulangan
c. Tekanan kejiwaan sewaktu latihan

Untuk memperbanyak intensitas latihan dapat melalui beberapa cara :


a. Meningkatkan kekuatan dalam jarak waktu tertentu atau meningkatkan waktunya.
b. Meningkatkan rasio antara intensitas mutlak dengan hasilnya sehingga intensitas
absolutnya dapat dipakai.
c. Mempersingkat istirahat interval di antara masing-masing pengulangan atau set.
d. Meningkatkan intensitas latihan.
e. Meningkatkan jumlah latihan.
d) Prinsip Latihan
Prinsip latihan adalah proses adaptasi menusi terhadap lingkungan. Manusia memiliki daya
adaptasi istimewa terhadap lingkungan, pemain akan beradaptasi terhadap beban latihan yang
diterima saat latihan maupun dalam pertandingan. Prinsip-prinsip latihan menurut Dr.
Sukadiyanto (dalam Andy 2010) adalah :
a) Prinsip Kesiapan ( Readiness )

Pada prinsip kesiapan, materi dan dosis latihan harus disesuaikan dengan usia
olahragawan. Oleh karena usia berkaitan erat dengan kesiapan kondisi fisiologis dan psikologis
dari setiap olahragawan.

Usia 6-10

Usia 11-13

Usia 14-18

Usia

tahun

tahun

tahun

Dewasa

Membangun

Pengayaan

Peningkatan Puncak

kemampuan

keterampilan

latihan

(interest)

gerak

penampilan
atau masa
prestasi

Menyengkan Penyempurnaan Latihan


teknik

khusus

Belajar

Persiapan untuk Frekwensi

berbagai

meningkatkan

keterampilan latihan

kompetisi
diperbanyak

teknik dasar
b) Prinsip Individual
Dalam merespon beben latihan untuk setiap olahragawan tentu akan berbeda-beda,
sehingga beban latihan beban latihan setiap orang tidak dapat disamakan antara orang yang satu
dengan yang lainnya. Beberapa faktor yang menyebabkan perbedaan kemampuan anak dalam
merespon beban latihan diantaranya adalah faktor keturunan, kematangan, gizi, waktu istirahat
dan tidur, kebugaran, lingkungan, sakit cidera dan motivasi. Maka agar seorang pelatih berhasil

dalam melatih perlu menyadari bahwa setiap anak memiliki perbedaan-perbedaan, terutama
dalam merespon beban latihan.
c) Prinsip Adaptasi
Organ tubuh manusia cenderung selalu dapat beradaptasi terhadap perubahan
lingkungannya. Keadaan ini menguntungkan untuk proses berlatih-melatih, sehingga
kemampuan manusia dapat dipengarui dan dapat ditingkatkan melalui latihan. Latihan
menyebabkan proses adaptasi pada organ tubuh, namun tubuh memerlukan jangka waktu tertentu
agar dapat beradaptasi seluruh beban selama proses latihan. Bila beban latihan ditingkatkan
secara progresif, maka organ tubuh akan menyesuaikan terhadap perubahan tersebut dengan
baik. Tingkat kecepatan adaptasi terhadap beban latihan dipengarui usia, kualitas kebugaran otot,
kebugaran energi, dan kualitas latihannya.
Ciri-ciri terjadinya proses adaptasi pada tubuh akibat latihan :
a. Kemampuan fisiologis ditandai dengan membaiknya sistem pernafasan, fungsi
jantung, paru, sirkulasi, dan volume darah.
b. Meningkatnya kemampuan fisik, yaitu ketahanan otot, kekuatan dan power.
c. Tulang. Ligamenta, tendo, dan hubungan jaringan otot menjadi lebih kuat
d) Prinsip Beban Lebih (Overload)
Beban latihan harus melampaui atau mencapai sedikit diatas ambang batas ambang
rangsang. Sebab beban yang terlalu berat akan mengakibatkan tidak mampu diadaptasi oleh
tubuh, sedangkan terlalu ringan tidak berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan fisik,
sehingga beban latihan harus memenui prinsip moderat. Untuk itu pembebanan dilakukan secara
progresif dan diubah sesuai dengan tingkat perubahan atlet.

e) Prinsip Progresif (Peningkatan)


Agar terjadi proses adaptasi tubuh, maka diperlukan prinsip beban lebuh yang diikuti
dengan prinsip progresif. Latihan progresif, artinya dalam pelaksanaan proses latihan dilakukan
dari yang mudah ke yang sukar, sederhana ke kompleks, umum ke khusus, bagian ke
keseluruhan, ringan ke berat, dari kuantitas ke kualitas, serta dilakukan secara ajeg, maju dan
berkelanjutan. Dalam menerapkan prinsip harus dilakukan secara bertahap, cermat, kontinyu,
dan tepat. Artinya setiap tujuan latihan memiliki jangka waktu tertentu untuk dapat diadaptasi
oleh tubuh atlet. Setelah jangka waktu adaptasi tercapai, maka beban latihan harus ditingkatkan.
Bila beban latihan ditingkatkan secara mendadak, tubuh tidak mampu mengadaptasinya bahkan
akan merusak dan berakibat cidera serta rasa sakit.
f) Prinsip Spesifikasi
Setiap bentuk latihan harus sesuai dengan kebutuhan cabang olahraga, prinsip spesifikasi
antara lain :
a. Spesifikasi kebutuhan energi
b. Spesifikasi bentuk dan Model Latihan
c. Spesifikasi ciri gerak dan kelompok otot yang digunakan
d. Waktu periodesasi latihan
g) Prinsip Variasi
Program latihan yang baik harus disusun secara variatif untuk menghindari kebosanan,
keengganan dan keresahan yang merupakan kelelahan secara psikologis. Komponen utama yang
diperlukan untuk memvariasi latihan menurut Martens (1990) adalah :
a. Kerja dan istirahat
b. Latihan berat dan ringan, dari mudah yang sulit, dan dari kuantitas ke kualitas

h) Prinsip Pemanasan
Pemanasan bertujuan untuk mempersiapkan fisik dan psikis atlet memasuki latihan inti,
dan diharapkan atlet dalam memasuki latihan inti dapat terhindar dari kemungkinan terjadinya
cidera atau rasa sakit.Ada 4 macam kegiatan pemanasan, antara lain :
a. Aktifitas yang bertujuan untuk menaikkan suhu badan.
b. Aktifitas

peregangan

(stretching)

baik

yang

pasif

maupun

yang

aktif

(kalestenik/balistik).
c. Aktifitas senam khusus cabang olahraga.
d. Aktifitas gerak teknik cabang olahraga
i) Prinsip Latihan Jangka Panjang (Long Term Training)
Prestasi olahraga tidak dapat dicapai secara instant. Untuk mencapai prestasi terbaik
diperlukan waktu yang lama. Pengaruh beban latihan tidak dapat diadaptasi oleh tubuh secara
mendadak, tetapi memerlukan waktu dan harus bertahap serta kontinyu. Pencapaian prestasi
maksimal harus didukung dengan kemampuan dan keterampilan gerak. Persiapan proses latihan
harus teratur, intensif dan progresif membutuhkan waktu antara 4-10 tahun. Oleh karena itu,
latihan jangka waktu panjang selalu dipengarui oleh pertumbuhan dan perkembangan anak,
peletakkan gerak, serta strategi pembelajaran.
j) Prinsip Berkebalikan (Reversibility)
Artinya, bila atelt berhenti dari latihan dalam waktu tertentu bahkan dalam waktu yang
lama, maka kualitas organ tubuhnya akan mengalami penurunan funsi secara otomatis. Sebab
proses adaptasi yang terjadi sebagai hasil dari latihan akan menurun bahkan hilang.
k) Prinsip Tidak Berlebihan (Moderat)

Keberhasilan latihan jangka panjang sngat ditentukan pembebanan yang tidak berlebihan.
Artinya, pembebanan harus disesuaikan dengan tingkat kemampuan, pertumbuhan, dan
perkembangan atlet, sehingga beban latihan yang diberikan benar-benar tepat.
l) Prinsip Sistematik
Prestasi atlet sifatnya labil dan sementara, sehingga prinsip ini berkaitan dengan ukuran
(dosis) pembebanan dan skala prioritas sasaran latihan. Skala prioritas latihan berhubungan
dengan urutan sasaran dan materi latihan utama yang disesuaikan dengan periodesasi latihan.
Yang memilki tujuan latihan yang berbeda baik dalam aspek fisik, teknik, taktik, maupun
psikologis.
8. Hakikat Latihan Berpasangan
Pada dasarnya latihan sepak sila berpasangan adalah latihan yang dilakukan dua orang
dalam satu kelompok. Latihan sepak sila berpasangan atau dalam bahasa inggrisnya practice
rehearsal pairs adalah strategi sederhana yang dipakai untuk mempraktekan suatu keterampilan
atau prosedur dengan teman belajar. (Zaini 2008:81). Latihan sepak sila berpasangan dalam
permainan sepak takraw pada hakekatnya adalah latihan dilakukan dengan melibatkan dua orang
dalam satu kelompok, dan dua orang tersebut berhadapan dan saling mengoper bola. Teknik
latihan sepak sila berpasangan bertujuan untuk meyakinkan masing-masing pasangan dapat
melakukan keterampilan dengan benar. Langkah-langkah teknik berpasangan adalah sebagai
berikut :
1. Pilih salah satu jenis permainan yang akan dipakai dalam latihan.
2. Buatlak kelompok yang terdiri dari 2 orang. Setiap orang dalam kelompok berpasangan
dan saling berhadapan.
3. Selanjutnya disediakan satu buah bola dalam setiap kelompok.

4. Dua orang dalam kelompok saling mengoper bola yang dilakukan berulang-ulang kali.
B. Kerangka Pikir
Permainan sepak takraw merupakan salah satu bentuk permainan yang cukup merakyat.
permainan ini memiliki beberapa teknik dasar adalah melakukan servis. Salah satu servis yang
ada dalam permainan sepak takraw adalah servis bawah. Tentu untuk bisa melakukan servis
bawah dengan baik dan tepat adalah melakukan latihan dengan baik dan benar pula. Salah satu
latihan untuk membentuk ketepatan servis bawah adalah latihan sepak sila berpasangan. Dimana
latihan sepak sila berpasangan merupakan strategi sederhana yang dipakai untuk mempraktekkan
suatu keterampilan atau prosedur dengan teman belajar.
Jika semakin baik program latihan, makin baik kemampuan seseorang melakukan
servis bawah dalam permainan sepak takraw dan hal ini pemain lawan akan menerima servis
yang kita lakukan. Dalam penelitian ini, hanya dibatasi pada pengaruh latihan sepak sila
berpasangan terhadap ketepatan servis bawah dalam permainan sepak takraw.
D. Pengajuan Hipotesis
Hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah terdapat pengaruh latihan sepak sila
berpasangan terhadap ketepatan servis bawah dalam permainan sepak takraw.