Anda di halaman 1dari 2

Pengukuran absorbansi dari larutan standard dengan rentang konsentrasi 8,

10, 12, 14 dan 16 ppm diplotkan menjadi kurva kalibrasi.. Fungsi rentang
konsentrasi adalah untuk mendapatkan suatu persamaan regresi linier secara
matematika yang nantinya digunakan untuk menentukan kadar suatu sampel
dengan memasukan nilai kedalam persamaan tersebut. Hal-hal yang harus
diperhatikan dalam membuat suatu kurva baku yaitu rentang konsetrasi larutan seri
yang dibuat harus berkisar 50-150% dari kadar analit dalam sampel. Jumlah larutan
standar sudah memenuhi batas minimal untuk pengujian skala kecil yaitu minimal 5
untuk mendapatkan nilai linieritas yang baik. Selanjutnya hasil validasi metode
terhadap obat didapat dari kurva absorbansi terhadap waktu dengan persamaan
garis y = 0.0206x + 0.0898 dengan nilai regresi(R) = 0.9826. Persamaan yang
didapat dapat dikatakan memilliki hubungan linear yang baik. Hubungan linier yang
baik memiliki nilaik koefisien korelasi r pada analisis regresi linier y=bx+a, dimana
hubungan linier yang ideal dicapai jika nilai b=0 dan r mendekati nilai 1. Hasil
analisis kadar obat dalam plasma didapatkan dengan membandingkan puncak area
dengan kurva standar dari hasil validasi. Kadar obat dalam plasma pada 0, 5, 10,
15, 30, 45, 60 dan 90 dapat dihitung yaitu sebesar 137,3608; 131,6295; 123,4191;
127,6812; 121,5906; 127,4935; 127,254 dan 122,8188 dimana dari nilai tersebut
kemudian dibuat suatu grafik ln konsentrasi terhadap waktu. Pola kadar obat yang
diuji dengan asumsi pemberia IV memiliki kadar puncak pada awal pemberian
seperti lazimnya pemberian intravena, diikuti penurunan kadar namun ada fluktuasi
kadar antara menit 15 hingga 90, dimana kadar obat naik pada menit ke 15, 45 dan
90 yang mana pada pemberian Intravena seharusnya kadar obat mengalami
penurunan seiring bertambahnya waktu.
Selanjutnya dilakukan penentuan parameter farmakokinetik. Parameter
farmakokinetika terdiri dari parameter primer, sekunder, dan turunan. Parameter
primer terdiri dari ka, Vd, dan ClT, yang dipengaruhi oleh perubahan salah satu atau
lebih variabel fisiologis. Parameter sekunder meliputi k, t1/2, dan tmaks dimana
parameter-parameter tersebut dipengaruhi oleh perubahan parameter primer yang
dikarenakan adanya perubahan suatu variabel fisiologis, sedangkan parameter
turunan nilainya tidak hanya bergantung pada parameter primer tapi juga
dipengaruhi oleh dosis dan kecepatan pemberian obat, contohnya adalah AUC0-~,
AUMC, Cpmaks, dan MRT.
Dari grafik farmakokinetik antara ln konsentrasi terhadap waktu
menghasilkan suatu persamaan linear
y = -0.0007x + 4.8685 dengan R =
0.2844. Dari persamaan tersebut diperoleh harga K yang dapat diketahui secara
langsung dari nilai B(slope) regresi linier ln Cp (kadar obat dalam plasma) vs t
(waktu) pada titik-titik eliminasi obat atau yang dianggap mewakili titik-titik
eliminasi suatu obat. Konstanta eliminasi(K) didapat yaitu sebesar 0,0016 yang
mana diperoleh dengan membagi slope pada grafik dengan 2.303. Tetapan laju
eliminasi (K) suatu obat merupakan suatu ukuran yang berguna untuk
menggambarkan eliminasi obat dari dalam tubuh. Laju eliminasi dipengaruhi oleh

klirens dan volume distribusi (Hakim, 2011). Laju eliminasi secara langsung
mempengaruhi besarnya waktu paruh eliminasi (t1/2eliminasi) (Shargel, 2005).
Semakin besar nilai K maka semakin singkat waktu paruh eliminasi, semakin kecil
nilai K maka semakin lama waktu paruh eliminasi. Semakin besar klirens, maka nilai
K juga makin besar, sehingga eliminasi obat dari dalam tubuh semakin cepat.
Selanjutnya dilakukan perhitungan nilai volume distribusi(Vd). Vd adalah nilai
volume hipotesis yang diperlukan untuk melarutkan obat yang ditemukan di dalam
darah Nilai Vd yang tinggi menunjukkan obat terdistribusi cukup tinggi di dalam
cairan tubuh dan memiliki penetrasi ke jaringan yang baik(Rowland dan Tozer,
1989). Pada percobaan ini didapat nilai Vd sebesar 20,54 L yang didapat dari
pembagian nilai dosis dengan konsentrasi awal plasma padat=0.
Waktu paruh eliminasi (t1/2) untuk onat yang digunakan pada penelitian ini
yaitu sebesar 7,2 jam, merupakan waktu yang cukup lama untuk mencapai
setengah dari konsentrasi awal. t1/2 menunjukkan lamanya waktu yang diperlukan
oleh sejumlah obat atau konsentrasi obat untuk dapat tereliminasi menjadi
setengahnya (berkurang menjadi setengahnya) (Shargel, 2005). Nilai waktu paruh
eliminasi sangat tergantung kepada laju eliminasi obat, klirens total dan volume
distribusi (Hakim, 2011).
Nilai klirens(Cl) untuk obat yang diuji adalah sebesar = 0,0328 yang mana
nilai tersebut didapat dari hasil kali volume distribusi(Vd)dan konstanta
eliminasi(k).Klirens obat adalah suatu ukuran eliminasi obat dari tubuh tanpa
mempermasalahkan mekanisme prosesnya. Eliminasi obat terdiri dari proses
metabolisme dan ekskresi. Klirens dapat didefinisikan sebagai volume bersihan
suatu obat dari tubuh per satuan waktu (mL/menit atau L/jam) (Shargel, 2005).
Nilai klirens dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor fisiologi, seperti fungsi organ
dalam mengeliminasi obat dan kecepatan alir darah menuju organ eliminasi obat
(Hakim, 2011).
Hakim L. (2011), Farmakokinetik. Yogyakarta: Bursa Ilmu
Rowland, M, Tozer, TN.1989. Clinical Pharmacokinetics: Conceps andApplication.
Philadelphia. Lea and Febiger. Pp 33-47.
Shargel L, Wu-Pong S, Yu ABC. 2005. Applied Biopharmaceutic and
Pharmacokinetics.5thed.Mc. Graw Hill. Company,Inc.USA.pp.37-41