Anda di halaman 1dari 36

BAB II

STATUS PASIEN
1.1

IDENTIFIKASI
Nama

Umur

Tn. FA
20 tahun
Jenis Kelamin

: Laki-laki

Alamat

Desa Karang Melati, Kab Ogan Komering Ulu


Agama

Islam
Pekerjaan

:petani

No. Rekam Medik : 915089


1.2

ANAMNESA (Auto Anamnesa tanggal 07 Oktober 2015)


Pasien datang berobat ke instalasi gawat darurat

RSMH dikarenakan mengalami kesulitan berjalan disertai kesemutan


pada kedua tungkai secara perlahan-lahan.
3 bulan sebelum masuk rumah sakit, penderita mengeluh
tungkai sebelah kanan kesemutan disertai lemas tetapi penderita
masih dapat berjalan. 1/2 bulan kemudian penderita mengeluh
kelemahan pada tungkai kiri disertai kesemutan tetapi pasien masih
dapat berjalan. Rasa kebas (+) dari kedua ujung jari kaki sampai
sepusat. Keluhan demam (-), sakit kepala (-), kejang (-). BAB dan BAK
masih normal tetapi kadang-kadang sulit.
Riwayat batuk lama disangkal. Riwayat trauma duduk disangkal.
Riwayat terbentur setir mobil pada perut 9 bulan sebelum masuk
rumah sakit.
Penyakit ini baru dialami penderita untuk pertama kalinya.

1.3

PEMERIKSAAN FISIK
STATUS PRESENS
Status Internus
Kesadaran

: GCS = (E: 4, M: 6, V: 5)

Gizi

: Cukup

Suhu Badan

: 36,8C

Jantung

: HR 84x/m m(-) g(-)

Nadi
Paru-paru

: 84 x/menit
: ves (+) N R(-) W(-)

Pernapasan

: 20 x/menit

Hepar

tidak teraba
Tekanan Darah

: 110/70 mmHg Lien

: tidak teraba
Berat Badan

: 50 kg

Tinggi Badan

: 170 cm

Status Psikiatrikus
Sikap

:
Ekspresi Muka

Perhatian

wajar,

koperatif

: wajar
: ada

Kontak Psikik

: ada

Status Neurologikus
KEPALA
Bentuk

: normocephali

Deformitas

tidak ada
Ukuran

: normal

Fraktur

Simetris

: simetris

Nyeri fraktur : tidak ada

Hematom

: tidak ada

Pembuluh darah

tidak ada

tidak ada pelebaran


4

Tumor

: tidak ada

Pulsasi

: tidak ada kelainan


LEHER
Sikap
Deformitas
Torticolis

: lurus
: tidak ada
: tidak ada

Tumor

Pembuluh darah

tidak ada
Kaku kuduk : tidak ada
tidak ada kelainan
SYARAF-SYARAF OTAK
N. Olfaktorius
Kanan
Kiri
Penciuman

tidak ada kelainan


tidak ada kelainan

Anosmia

tidak ada
tidak ada

Hyposmia

tidak ada
tidak ada

Parosmia

tidak ada
tidak ada

N.Opticus

Kanan
Kiri

Visus
6/6
6/6
Campus visi

V.O.D
V.O.S

Anopsia

tidak ada
tidak ada

Hemianopsia
tidak ada
tidak ada
Fundus Oculi
Papil edema

tidak diperiksa
tidak diperiksa

Papil atrofi

tidak diperiksa
tidak diperiksa

Perdarahan retina

tidak diperiksa
tidak diperiksa

Nn. Occulomotorius, Trochlearis dan Abducens


Kanan
Kiri
Diplopia

tidak ada
tidak ada

Celah mata

menutup sempurna
menutup sempurna

Ptosis

tidak ada
tidak ada

Sikap bola mata


Strabismus

tidak ada
tidak ada

Exophtalmus

tidak ada
tidak ada

Enophtalmus

tidak ada
tidak ada

Deviation conjugae

tidak ada

tidak ada
Gerakan bola mata

ke segala arah

ke segala arah
Pupil
Bentuknya

bulat
bulat

Besanya

3 mm
3 mm

Isokori/anisokor

isokor
isokor

Midriasis/miosis

tidak ada

tidak ada
Refleks cahaya
Langsung

ada
ada

Konsensuil

ada
ada

Akomodasi

ada
ada

Argyll Robertson

tidak ada

tidak ada
N.Trigeminus
Kanan
Kiri
Motorik

Menggigit

tidak terganggu

tidak terganggu
Trismus

tidak ada
tidak ada

Refleks kornea

ada
ada

Sensorik
Dahi
normal
normal
Pipi
normal
normal
Dagu
normal
normal
N.Facialis

Kanan
Kiri

Motorik
Mengerutkan dahi

simetris
simetris

Menutup mata
lagophtalmus (-)

lagophtalmus (-)

Menunjukkan gigi

simetris
simetris

Lipatan nasolabialis

tidak ada kelainan

tidak ada kelainan

Bentuk Muka
Istirahat
simetris
Berbicara/bersiul
simetris
Sensorik
2/3 depan lidah
tidak ada kelainan
Otonom
Salivasi
tidak ada kelainan
Lakrimasi

tidak ada

kelainan
Chovsteks sign
tidak diperiksa
N. Statoacusticus
N. Cochlearis
Kanan
Kiri
Suara bisikan
tidak dilakukam
Detik arloji
tidak dilakukam
Tes Weber
tidak dilakukan
Tes Rinne
tidak dilakukan
N. Vestibularis

Nistagmus
tidak ada
Vertigo
tidak ada
N. Glossopharingeus dan N. Vagus
Kanan
Kiri
Arcus pharingeus
simetris
Uvula
di tengah
Gangguan menelan
tidak ada
Suara serak/sengau
tidak ada
Denyut jantung
normal
Refleks
Muntah
tidak diperiksa
Batuk
tidak diperiksa
Okulokardiak
tidak diperiksa
Sinus karotikus
tidak diperiksa
Sensorik
1/3 belakang lidah
tidak diperiksa

10

N. Accessorius

Kanan

Kiri
Mengangkat bahu
tidak ada kelainan
Memutar kepala
tidak ada kelainan
N. Hypoglossus

Kanan

Kiri
Mengulur lidah
tidak ada kelainan
Fasikulasi
tidak ada
Atrofi papil
tidak ada
Disartria
tidak ada
MOTORIK
LENGAN

Kanan
Kiri

Gerakan

cukup
cukup

Kekuatan

5
5

11

Tonus
normal
normal
Refleks fisiologis
-

Biceps
normal
normal

Triceps
normal
normal

Radius
normal
normal

Ulna
normal
normal

Refleks patologis
-

Hoffman Tromner

Leri

ada

tidak dilakukan
-

Meyer
tidak dilakukan

TUNGKAI

Kanan
Kiri

Gerakan

kurang
kurang

Kekuatan

2
1

12

Tonus

meningkat
meningkat

Klonus
-

Paha

ada
ada

Kaki

ada
ada

Refleks fisiologis
-

KPR

meningkat

APR

meningkat
meningkat
meningkat

Refleks patologis
-

Babinsky

ada
ada

Chaddock

Oppenheim

Gordon

tidak ada

Schaeffer

tidak ada
tidak ada

Rossolimo

tidak ada
tidak ada

Mendel Bechterew

tidak ada
tidak ada

ada
ada
tidak ada
tidak ada

tidak ada

Refleks kulit perut


-

Atas
tidak dilakukan

Tengah
tidak dilakukan

13

Bawah
tidak dilakukan

Refleks cremaster
tidak dilakukan
SENSORIK

Terdapat hipoestesia dari kedua ibu jari kaki sampai dua jari di bawah
umbilikus.
FUNGSI VEGETATIF
Miksi

retensi urin

Defekasi

: normal
14

KOLUMNA VERTEBRALIS
Kyphosis

: tidak ada

Lordosis

: tidak ada

Gibbus

tidak ada
Deformitas

: tidak ada

Tumor

tidak ada
Meningocele

tidak ada
Hematoma

: tidak ada

Nyeri ketok

: tidak ada

GEJALA RANGSANG MENINGEAL


Kanan
Kiri
Kaku kuduk
tidak ada
Kernig

tidak ada
tidak ada

Lasseque

tidak ada
tidak ada

Brudzinsky
-

Neck
tidak ada

Cheek
tidak ada

15

Symphisis

tidak ada
-

Leg I

tidak ada
tidak ada

Leg II

tidak ada
tidak ada

GAIT DAN KESEIMBANGAN


Gait
Keseimbangan dan Koordinasi
Ataxia

:
Romberg

belum

dapat

dinilai

: belum dapat dinilai

Hemiplegic : belum dapat dinilai

Dysmetri

belum dapat dinilai


Scissor
jari-jari

: belum dapat dinilai

: tidak ada kelainan

Propulsion : belum dapat dinilai

- jari hidung

- tumit-tumit

tidak ada kelainan


Histeric

: belum dapat dinilai

tidak ada kelainan


Limping

: belum dapat dinilai Rebound phenomen: blm dpt dinilai

Steppage

: belum dapat dinilai

Dysdiadochokinesis:

blm dpt dinilai


Astasia-Abasia: belum dapat dinilai

Trunk Ataxia

belum dapat dinilai


Limb Ataxia

: belum dapat dinilai

GERAKAN ABNORMAL
Tremor

: tidak ada

Chorea

: tidak ada

Athetosis

: tidak ada

16

Ballismus

: tidak ada

Dystoni

: tidak ada

Myocloni

: tidak ada

FUNGSI LUHUR
Afasia motorik

: tidak ada

Afasia sensorik

: tidak ada

Apraksia

: tidak ada

Agrafia

: tidak ada

Alexia

: tidak ada

Afasia nominal

: tidak ada

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Hasil Pemeriksaan Laboratorium Tanggal 1 Oktober 2015


Jenis Pemeriksaan
Hematologi

Hasil

Rujukan

Hemoglobin

14

15,2-17,2

Eritrosit

5,20

4,2-4,8

Leukosit

8,6

4,5-11

Hematokrit

43

43-49

Trombosit

248

150-450

Basofil

0-1

Eosinofil

1-6

Neutrofil

65

50-70

Limfosit

24

26-40

Monosit

2-8

Hitung Jenis Leukosit

Faal Hemostasis
PT+INR
Waktu protrombin (PT)
Kontrol
Pasien

14,20
13,0

12-18
17

INR

0,95

APTT
Kontrol

34,5

Pasien

32

27-42

Fibrinogen
Kontrol

282

Pasien

314

200-400

D-dimer

0,22

<0,5

AST/SGOT

13

0-38

ALT/SGPT

0-41

Ureum

16

16,6-48,5

Kreatinin

0,81

0,5-0,9

Kalsium (Ca)

9,1

9,2-11

Phospor

3,2

2,5-5

Magnesium (Mg)

1,92

1,4-2,1

Natrium (Na)

144

135-155

Kalium (K)

2,6

3,6-5,5

Klorida (Cl)

112

96-106

Warna

Kuning

Kuning

Kejernihan

Jernih

Jernih

Berat jenis

1,020

1,003-1,030

pH (urin rutin)

7,0

5-9

Protein

Negatif

Negatif

Glukosa

Negatif

Negatif

Kimia Klinik
Hati

Ginjal

Elektrolit

URINALISIS
Urin lengkap

18

Keton

Negatif

Negatif

Darah

Negatif

Negatif

Bilirubin

Negatif

Negatif

Urobilinogen

0,1-1,8

Nitrit

Negatif

Negatif

Lekosit esterase

Negatif

Negatif

Epitel

Negatif

Negatif

Lekosit

0-2

0-5

Eritrosit

0-1

0-1

Silinder

Negatif

Negatif

Kristal

Negatif

Negatif

Bakteri

Negatif

Negatif

Mukus

Negatif

Negatif

Jamur

Negatif

Negatif

Sedimen Urin:

LIQUOR CEREBROSPINALIS
Warna

: tidak diperiksa

Protein

: tidak diperiksa
Kejernihan: tidak diperiksa

Glukosa

tidak diperiksa
Tekanan

: tidak diperiksa

NaCl

: tidak diperiksa
Sel

: tidak diperiksa

Queckensted

: tidak diperiksa

Celloidal

: tidak diperiksa

Culture

tidak diperiksa
Nonne
tidak diperiksa
Pandy

: tidak diperiksa

19

PEMERIKSAAN KHUSUS

Rontgen thoraks PA:

1.4 RESUME
1.5 DIAGNOSIS

Diagnosis Klinik

: - Paraparese inferior

tipe spastik
- Hipoestesia dari kedua ibu jari kaki sampai
setinggi 2 jari di bawah umbilikus
Diagnosis Topik

Lesi

transversal

parsial setinggi vertebra torakal 12


Diagnosis Etiologi
1.8

: Suspect SOL medula spinalis

PENATALAKSANAAN

Nonfarmakologis
- Edukasi
1. Menginformasikan kepada pasien dan keluarga pasien tentang
penyakit yang dideritanya
2. Menginformasikan kepada pasien dan keluarga pasien tentang
keteraturan minum obat dan kontrol teratur
-

Terapi rehabilitasi berupa latihan fisioterapi, okupasi dan psikoterapi.

Farmakologis
- Neurobion
- Metilprednisolon
- Omeprazole
- Natrium diklofenak 2x50 mg jika nyeri
1.9

PROGNOSIS

20

Quo ad Vitam

: dubia ad bonam

Quo ad Functionam : dubia

A. Penegakkan Diagnosis Etiologi


1. Suspek SOL Medulla Spinalis
Gejala

Pada penderita

Paraparese inferior spastik / flaksid


Gangguan sensibilitas di bawah lesi
Gangguan miksi dan, atau defekasi

Tetraparese flaksid
Tidak ada defisit sensorik
Tidak terdapat gangguan miksi atau

defekasi
Jadi diagnosis etiologi SOL medulla spinalis dapat disingkirkan.
2. Sindrom Guillain Barre (SGB)
Gejala
Didahului infeksi akut 1-2 minggu
sebelumnya (sakit tenggorokan,

Pada penderita
Didahului infeksi akut berupa
batuk dan pilek

bronkhitis, flu, dll).


Didahului

demam

selama

Tidak ada demam sebelumnya.

terjadinya infeksi akut.


Terjadinya

kelemahan

yang

bersifat asendens dan progresif.

Terjadinya

kelemahan

yang

asendens dan progresif.

Penurunan / kehilangan refleks.

Penurunan refleks.

Gejala mempengaruhi kedua sisi

Keluhan dirasakan sama.

tubuh secara merata.


Mati rasa dan kesemutan.

Tidak ada

Tidak ada gangguan pencernaan

Tidak ada retensio urine et alvi

(retensio urine et alvi)


Jadi, kemungkinan diagnosis etiologi Sindrom Guillane Barre dapat
ditegakkan.

21

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi Medula Spinalis
Medulla spinalis dimulai di foramen magnum dalam tengkorak, bersambung
dengan medulla oblongata dan berakhir setinggi tepi bawah vertebra lumbalis I
pada orang dewasa dan berakhir di tepi atas vertebra lumbalis III pada anak kecil.
Medulla spinalis mengecil membentuk conus medullaris. Medulla spinalis

22

menempati dua pertiga atas canalis vertebralis pada columna vertebralis dan
dibungkus oleh tiga lapis meningen, yaitu dura mater, arachnoidea mater, dan pia
mater dan dilindungi oleh cairan serebrospinal yang terletak di dalam ruang
subaraknoid. Terdapat dua pembesaran medulla spinalis secara fusiformis, yaitu
pembesaran cervical dan pembesaran lumbal. Filum terminale berjalan turun dan
menempel pada permukaan posterior os coccygeus yang berasal dari pemanjangan
pia mater (Snell, 2007).
Medulla spinalis terdiri dari substantia grisea sebagai inti dalam dan
substantia alba sebagai bagian luar. Substansia grisea terlihat seperti pilar
berbentuk huruf H dengan columna atau cornu anterior dan columna atau cornu
posterior, yang dihubungkan oleh commisura grisea yang tipis dan berisi canalis
centralis yang kecil. Ukuran substansia grisea paling besar pada pelebaran cervical
dan lumbosakral medulla spinalis, yang masing-masing mempersarafi otot-otot
ekstremitas superior dan ekstremitas inferior. Substansia grisea terdiri atas
campuran sel saraf dan processusnya, neuroglia, dan pembuluh darah. Sel-sel
saraf berbentuk multipolar dan neuroglia membentuk suatu jaringan yang rumit di
sekitar badan sel saraf dan neurit-neuritnya. Substansia alba dibagi menjadi
columna atau funiculus anterior, lateralis, dan posterior. Columna anterior pada
setiap sisi terletak di antara garis tengah dan tempat keluar radix anterior; columna
lateralis terletak di antara tempat munculnya radix anterior dan masuknya radix
posterior; columna posterior terletak di antara tempat masuknya radix posterior
dan garis tengah. Substantia alba medulla spinalis terdiri atas capuran serabut
saraf, neuroglia, dan pembuluh darah. Substantia alba mengelilingi substantia
grisea dan warnanya yang putih disebabkan oleh proporsi serabut saraf bermielin
yang besar (Snell, 2007).

23

Gambar 1. Struktur dari Saraf Perifer Sekitar Medulla Spinalis (Guyton, 1997)

Sumsum tulang belakang manusia terbagi atas 31 segmen yang berbeda.


Pada setiap segmennya terdiri dari pasangan neuron sensorik dan motorik yang
berada di bagian kiri dan kanannya. Sekitar enam hingga delapan akar saraf kecil
(radiks) bercabang dari medulla spinalis dengan urutan yang sangat rapi. Radiks
ini kemudian bergabung menjadi suatu akar saraf. Saraf sensoris selalu berjalan
dari bagian dorsal dan saraf motoris berjalan dari bagian ventral. Kedua akar saraf
ini kemudian bergabung lagi menjadi saraf spinal (ramus) yang mana bagian
sensorik dan motoriknya berjalan bersamaan. Yang disebut susunan syaraf pusat
hanyalah sebatas medulla spinalis. Akar-akar syaraf ini sudah termasuk sebagai
syaraf perifer (Noback et al, 2005).
Serabut masing-masing radiks terdistribusi ulang menjadi beberapa saraf
perifer setelah keluar dari tulang belakang, dan masing-masing saraf mengandung
serabut dari beberapa segmen radikular yang berdekatan. Namun, serabut masingmasing segmen radikular kembali tergabung membentuk kelompokan di bagian
perifer untuk mempersarafi area segmental kulit tertentu yang disebut sebagai

24

dermatom. Masing-masing dermatom mewakili sebuah segmen radikular, yang


dengan demikian mewakili juga sebuah segmen medula spinalis (Noback et al,
2005).

Gambar 2. Gambaran Dermatom


Medulla spinalis berakhir sebagai konus medulla di daerah lumbar 1 atau
lumbar 2. Disebut konus karena bentuknya yang menguncup merupai kerucut.
Setelah medulla spinalis berakhir, lapisan piamater mengalami pemanjangan

25

hingga mencapai bagian koksigeus, disebut sebagai filum terminalis. Serabut


syaraf yang terletak di bawah konus medullaris kemudian membentuk kauda
equina (buntut kuda) dan meneruskan jarasnya menuju ke ekstremitas bagian
bawah. Kauda equina terbentuk dari kenyataan bahwa medulla spinalis berhenti
bertambah panjang sejak umur 4 tahun, namun demikian tulang vertebra terus
bertambah panjang hingga usia remaja (Noback et al, 2005).
Tractus Serabut Saraf
Tractus-tractus spinalis dibagi menjadi tractus ascendens, descendens, dan
intersegmentalis serta posisi relatifnya di dalam substantua alba. Saat memasuki
medulla spinalis, serabut-serabut saraf sensorik dengan berbagai ukuran dan
fungsi di pilah dan dipidahkan menjadi berkas-berkas atau tractus-tractus saraf di
substansia alba (Snell, 2007).

Gambar 3. Ringkasan Tractus Medulla Spinalis5

Tractus Ascendens
Beberapa serabur saraf berperan untuk menghubungkan segmen-segmen
medulla spinalis yang berbeda, sedangkan serabut lain naik dari medulla spinalis

26

ke pusat-pusat yang lebih tinggi sehingga menghubungkan medulla spinalis


dengan otak. Berkas-berkas serabut yang berjalan ke atas ini disebut tractus
ascendens. Tractus-tractus ascendens menghantarkan informasi aferen, baik yang
dapat maupun tidak dapat disadari. Informasi ini dapat dibagi menjadi dua
kelompok utama, yaitu informasi eksteroseptif, yang berasal dari luar tubuh,
seperti nyeri, suhu, dan raba; serta informasi propioseptif, yang berasal dari dalam
tubuh, misalnya dari otot dan sendi (Snell, 2007).
Informasi dari ujung-ujung saraf sensorik perifer dihantarkan melalui sistem
saraf oleh serangkaian neuron. Jaras ascendens untuk kesadaran terdiri dari tiga
neuron. Neuron pertama, yaitu neuron tingkat pertama, memiliki badan sel yang
terletak di dalam ganglion radix posterior saraf tepi. Processus perifer
berhubungan dengan ujung reseptor sensorik, sedangkan processus sentral masuk
ke medulla spinalis melalui radix posterior dan bersinaps dengan neuron tingkat
kedua. Neuron tingkat kedua memiliki akson yang menyilang garis tenfah
(menyilang ke sisi kontralateral) dan naik ke tingkat susunan saraf yang lebih
tinggi, yaitu tempat di mana akson tersebut bersinaps dengan neuron tingkat
ketiga. Neuron tingkat ketiga biasanya berada di talamus dan memiliki tonjolan
serabut yang berjalan ke area sensorik cortex cerebri. Banyak neuron di jaras
ascendens bercabang dan memberikan input utama pada formatio reticularis yang
akan mengaktifkan cortex cerebri untuk mempertahankan kesadaran. Cabangcabang lain menuju neuron motorik dan berpartisipasi dalam aktivitas refleks otot.
Jaras somatosensorik utama untuk kesadaran yang merupakan bagian dari tractus
ascendens akan dipaparkan pada tabel 2.2. Jaras-jaras sensasi sendi otot ke
cerebellum dipaparkan pada tabel 2.3 (Snell, 2007).
Tractus Descendens
Neuron motorik yang terletak di columna grisea anterior medulla spinalis
mengirimkan akson-akson untuk mempersarafi otot rangka melalui radix anterior
nervi spinales. Neuron- neuron motorik ini kadang disebut lower motor neuron
dan merupakan final pathway menuju otot (Snell, 2007).

27

Lower motor neuron menerima impuls-impuls saraf secara terus-menerus


yang turun dari medulla spinalis, pons, mesencephalon, dan cortex cerbri, seperti
impuls yang masuk pada serabut sensorik dari radix posterior. Serabut-serabut
saraf yang turun di dalam substantia alba dari berbagai pusat saraf supraspinalis
dipidahkan dalam berkas-berkas saraf yang disebut tractus descendens. Neuronneuron supraspinal bersama tractus-tractusnya kadang disebut upper motor
neuron dan membentuk jaras-jaras yang berbeda yang dapat mengendalikan
aktivitas motorik. Kontrol aktivitas otot rangka dari cortex cerebri dan pusat-pusat
yang lebih tinggi lainnya dihantarkan melalui sistem saraf oleh serangkaian
neuron. Jaras descendens dari cortex cerebri umumnya dibentuk oleh tiga neuron.
Neuron tingkat pertama mempunyai badan sel di dalam cortex cerebri. Aksonaksonnya berjalan turun dan bersinaps dengan neuron tingkat kedua, yaitu sebuah
neuron internuncial yang terletak di columna grisea anterior medulla spinalis.
Akson-akaon neuron tingkat kedua pendek dan bersinaps dengan neuron tingkat
ketiga lower motor neuron di columna grisea anterior. Akson-akson neuron
tingkat ketiga mempersarafi otot rangka melalui radix anterior dan saraf spinal.
Pada lengkung refleks, akson neuron tingkat pertama langsung berakhir pada
neuron tingkat ketiga. Ringkasan jaras descendens utama di medulla spinalis
diperlihatkan pada tabel 1. (Snell, 2007).

28

Gambar
4. Tractus

Corticospinalis (Guyton et al, 1997)

2.2 Tumor Medula Spinalis


2.2.1 Definisi
Tumor medula spinalis adalah tumor yang berkembang dalam tulang
belakang (bisa terjadi pada daerah cervical pertama hingga sacral) atau isinya dan
biasanya menimbulkan gejala-gejala karena keterlibatan medula spinalis atau
akar-akar saraf (Price & Wilson, 2010).
2.2.2 Epidemiologi

29

Di Indonesia. jumlah penderita tumor medula spinalis belum diketahui


secara pasti. Jumah kasus tumor medula spinalis di Amerika Serikat mencapai
15% dari total jumlah tumor yang terjadi pada susunan saraf pusat dengan
perkiraan insidensi sekitar 0,5-2,5 kasus per 100.000 penduduk per tahun. Jumlah
penderita pria hampir sama dengan wanita dengan sebaran usia antara 30 hingga
50 tahun. Diperkirakan 25% tumor terletak di segmen servikal, 55% di segmen
thorakal dan 20% terletak di segmen lumbosakral (Huff, 2010).
Tumor

intradural

intramedular

yang

tersering

adalah

ependymoma, astrositoma dan hemangioblastoma. Ependimoma lebih


sering didapatkan pada orang dewasa pada usia pertengahan (30-39
tahun) dan jarang terjadi pada usia anak-anak. Insidensi ependidoma
kira-kira sama dengan astrositoma. Dua per tiga dari ependydoma
muncul pada daerah lumbosakral (Harrop, 2009).
Tumor

intradural

ekstramedular

yang

tersering

adalah

schwanoma, dan meningioma. Schwanoma merupakan jenis yang


tersering (53,7%) dengan insidensi laki-laki lebih sering dari pada
perempuan, pada usia 40-60 tahun dan tersering pada daerah lumbal.
Meningioma

merupakan

tumor

kedua

tersering

pada

kelompok

intradural-ekstramedullar tumor. Meningioma menempati kira-kira 25%


dari semua tumor spinal. Sekitar 80% dari spinal meningioma terlokasi
pada segmen thorakal, 25% pada daerah servikal, 3% pada daerah
lumbal, dan 2% pada foramen magnum (Mumenthaler & Mattle, 2006).

2.2.3 Klasifikasi
Berdasarkan asal dan sifat selnya, tumor pada medula spinalis dapat
dibagi menjadi: (Hakim, 2006)

A. Tumor primer: 1) jinak yang berasal dari:


a) tulang; osteoma dan kondroma,
b) serabut saraf disebut neurinoma (Schwannoma),
c) berasal dari selaput otak disebut Meningioma;
d) jaringan otak; Glioma, Ependimoma.
2) ganas yang berasal dari:

30

a) jaringan saraf seperti; Astrocytoma, Neuroblastoma,


b) sel muda seperti Kordoma.
B. Tumor sekunder: merupakan anak sebar (metastase) dari tumor ganas di daerah
rongga dada, perut, pelvis dan tumor payudara.
Berdasarkan lokasinya, tumor medula spinalis dapat dibagi
menjadi dua kelompok, yaitu tumor intradural dan ekstradural. Macammacam tumor medula spinalis berdasarkan lokasinya dapat dilihat
pada Tabel 1.
Gambar
5. (A)
Tumor

intradural-intramedular, (B) Tumor intradural-ekstramedular, dan


(C) Tumor Ekstradural
Tabel 1. Tumor Medula Spinalis Berdasarkan Gambaran
Histologinya
Ekstra dural

Intradural ekstramedular

Chondroblastoma
Chondroma
Hemangioma
Lipoma
Lymphoma
Meningioma
Metastasis
Neuroblastoma
Neurofibroma
Osteoblastoma
Osteochondroma
Osteosarcoma
Sarcoma
Vertebral
hemangioma

Ependymoma, tipe
myxopapillary
Epidermoid
Lipoma
Meningioma
Neurofibroma
Paraganglioma
Schwanoma

31

Intradural
intramedular
Astrocytoma
Ependymoma
Ganglioglioma
Hemangioblastoma
Hemangioma
Lipoma
Medulloblastoma
Neuroblastoma
Neurofibroma
Oligodendroglioma
Teratoma

2.2.4 Etiologi dan Patogenesis


Penyebab tumor medula spinalis primer sampai saat ini belum diketahui
secara pasti. Beberapa penyebab yang mungkin dan hingga saat ini masih dalam
tahap penelitian adalah virus, kelainan genetik, dan bahan-bahan kimia yang
bersifat karsinogenik. Adapun tumor sekunder (metastasis) disebabkan oleh selsel kanker yang menyebar dari bagian tubuh lain melalui aliran darah yang
kemudian menembus dinding pembuluh darah, melekat pada jaringan medula
spinalis yang normal dan membentuk jaringan tumor baru di daerah tersebut
(National Institute of Neurological Disorders and Stroke, 2005).
2.2.5 Manifestasi Klinik
Keluhan pertama dari tumor medula spinalis dapat berupa nyeri radikuler,
nyeri vertebrae, atau nyeri funikuler. Secara statistik adanya nyeri radikuler
merupakan indikasi pertama adanya space occupying lesion pada kanalis spinalis
dan disebut pseudo neuralgia pre phase. Dilaporkan 68% kasus tumor spinal sifat
nyerinya radikuler, laporan lain menyebutkan 60% berupa nyeri radikuler, 24%
nyeri funikuler dan 16% nyerinya tidak jelas. Nyeri radikuler dicurigai disebabkan
oleh tumor medula spinalis bila: (Japardi, 2002).

Nyeri radikuler hebat dan berkepanjangan, disertai gejala traktus piramidalis


Lokasi nyeri radikuler diluar daerah predileksi HNP seperti C5-7, L3-4, L5
dan S1
Tumor medula spinalis yang sering menyebabkan nyeri radikuler adalah

tumor yang terletak intradural-ekstramedular, sedang tumor intramedular jarang


menyebabkan nyeri radikuler. Pada tumor ekstradural sifat nyeri radikulernya
biasanya hebat dan mengenai beberapa radiks (Japardi, 2002).
Tumor-tumor intrameduler dan intradural-ekstrameduler dapat juga
diawali dengan gejala TTIK seperti: hidrosefalus, nyeri kepala, mual dan muntah,
papiledema, gangguan penglihatan, dan gangguan gaya berjalan. Tumor-tumor
neurinoma dan ependimoma mensekresi sejumlah besar protein ke dalam likuor,
yang dapat menghambat aliran likuor di dalam kompartemen subarakhnoid spinal,
32

dan kejadian ini dikemukakan sebagai suatu hipotesa yang menerangkan kejadian
hidrosefalus

sebagai

gejala

klinis

dari

neoplasma

intraspinal

primer

(Mumenthaler & Mattle, 2006).

Bagian tubuh yang menimbulkan gejala bervariasi tergantung letak tumor


di sepanjang medula spinalis. Pada umumnya, gejala tampak pada bagian tubuh
yang selevel dengan lokasi tumor atau di bawah lokasi tumor. Contohnya, pada
tumor di tengah medula spinalis (pada segmen thorakal) dapat menyebabkan nyeri
yang menyebar ke dada depan (girdleshape pattern) dan bertambah nyeri saat
batuk, bersin, atau membungkuk. Tumor yang tumbuh pada segmen cervical dapat
menyebabkan nyeri yang dapat dirasakan hingga ke lengan, sedangkan tumor
yang tumbuh pada segmen lumbosacral dapat memicu terjadinya nyeri punggung
atau nyeri pada tungkai (National Institute of Neurological Disorders and Stroke,
2005).
Berdasarkan lokasi tumor, gejala yang muncul adalah seperti yang terihat
dalam Tabel 2 di bawah ini.
Tabel 2. Tanda dan Gejala Tumor Medula Spinalis
Lokasi
Foramen
Magnum

Tanda dan Gejala


Gejalanya aneh, tidak lazim, membingungkan, dan tumbuh lambat
sehingga sulit menentukan diagnosis. Gejala awal dan tersering adalah
nyeri servikalis posterior yang disertai dengan hiperestesia dalam
dermatom vertebra servikalis kedua (C2). Setiap aktivitas yang
meningkatkan TIK (misal ; batuk, mengedan, mengangkat barang, atau
bersin) dapat memperburuk nyeri. Gejala tambahan adalah gangguan
sensorik dan motorik pada tangan dengan pasien yang melaporkan
kesulitan menulis atau memasang kancing. Perluasan tumor
menyebabkan kuadriplegia spastik dan hilangnya sensasi secara
bermakna. Gejala-gejala lainnya adalah pusing, disartria, disfagia,
nistagmus, kesulitan bernafas, mual dan muntah, serta atrofi otot
sternokleidomastoideus dan trapezius. Temuan neurologik tidak selalu
timbul tetapi dapat mencakup hiperrefleksia, rigiditas nuchal, gaya
berjalan spastik, palsi N.IX hingga N.XI, dan kelemahan ekstremitas.

33

Servikal

Menimbulkan tanda-tanda sensorik dan motorik mirip lesi radikular yang


melibatkan bahu dan lengan dan mungkin juga menyerang tangan.
Keterlibatan tangan pada lesi servikalis bagian atas (misal, diatas C4)
diduga disebabkan oleh kompresi suplai darah ke kornu anterior melalui
arteria spinalis anterior. Pada umumnya terdapat kelemahan dan atrofi
gelang bahu dan lengan. Tumor servikalis yang lebih rendah (C5, C6, C7)
dapat menyebabkan hilangnya refleks tendon ekstremitas atas (biseps,
brakioradialis, triseps). Defisit sensorik membentang sepanjang tepi radial
lengan bawah dan ibu jari pada kompresi C6, melibatkan jari tengah dan
jari telunjuk pada lesi C7, dan lesi C7 menyebabkan hilangnya sensorik
jari telunjuk dan jari tengah.

Torakal

Seringkali dengan kelemahan spastik yang timbul perlahan pada


ekstremitas bagian bawah dan kemudian mengalami parestesia. Pasien
dapat mengeluh nyeri dan perasaan terjepit dan tertekan pada dada dan
abdomen, yang mungkin dikacaukan dengan nyeri akibat gangguan
intratorakal dan intraabdominal. Pada lesi torakal bagian bawah, refleks
perut bagian bawah dan tanda Beevor (umbilikus menonjol apabila
penderita pada posisi telentang mengangkat kepala melawan suatu
tahanan) dapat menghilang.
Suatu situasi diagnostik yang rumit timbul pada kasus tumor yang
melibatkan daerah lumbal dan sakral karena dekatnya letak segmen
lumbal bagian bawah, segmen sakral, dan radiks saraf desendens dari
tingkat medula spinalis yang lebih tinggi. Kompresi medula spinalis
lumbal bagian atas tidak mempengaruhi refleks perut, namun
menghilangkan refleks kremaster dan mungkin menyebabkan kelemahan
fleksi panggul dan spastisitas tungkai bawah. Juga terjadi kehilangan
refleks lutut dan refleks pergelangan kaki dan tanda Babinski bilateral.
Nyeri umumnya dialihkan keselangkangan. Lesi yang melibatkan lumbal
bagian bawah dan segmen-segmen sakral bagian atas menyebabkan
kelemahan dan atrofi otot-otot perineum, betis dan kaki, serta kehilangan
refleks pergelangan kaki. Hilangnya sensasi daerah perianal dan genitalia
yang disertai gangguan kontrol usus dan kandung kemih merupakan tanda
khas lesi yang mengenai daerah sakral bagian bawah.
Menyebabkan gejala-gejala sfingter dini dan impotensi. Tnda-tanda khas
lainnya adalah nyeri tumpul pada sakrum atau perineum, yang kadangkadang menjalar ke tungkai. Paralisis flaksid terjadi sesuai dengan radiks
saraf yang terkena dan terkadang asimetris.

Lumbosakral

Kauda
Ekuina

2.2.6 Pemeriksaan Penunjang


Selain dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik, diagnosis tumor medula
spinalis dapat ditegakkan dengan bantuan pemeriksaan penunjang seperti di
bawah ini: (National Institute of Neurological Disorders and Stroke, 2005)
a. Laboratorium
Cairan spinal (CSF) dapat menunjukkan peningkatan protein dan
xantokhrom, dan kadang-kadang ditemukan sel keganasan. Dalam
34

mengambil dan memperoleh cairan spinal dari pasien dengan tumor


medula spinalis harus berhati-hati karena blok sebagian dapat berubah
menjadi blok komplit cairan spinal dan menyebabkan paralisis yang
komplit.
b. Foto Polos Vertebrae
Foto

polos

seluruh

tulang

belakang

67-85%

abnormal.

Kemungkinan ditemukan erosi pedikel (defek menyerupai mata burung


hantu pada tulang belakang lumbosakral AP) atau pelebaran, fraktur
kompresi patologis, scalloping badan vertebra, sklerosis, perubahan
osteoblastik (mungkin terajdi mieloma, Ca prostat, hodgkin, dan biasanya
Ca payudara.
c. CT-scan
CT-scan dapat memberikan informasi mengenai lokasi tumor,
bahkan terkadang dapat memberikan informasi mengenai tipe tumor.
Pemeriksaan ini juga dapat membantu dokter mendeteksi adanya edema,
perdarahan dan keadaan lain yang berhubungan. CT-scan juga dapat
membantu dokter mengevaluasi hasil terapi dan melihat progresifitas
tumor.
d. MRI
Pemeriksaan ini dapat membedakan jaringan sehat dan jaringan
yang mengalami kelainan secara akurat. MRI juga dapat memperlihatkan
gambar tumor yang letaknya berada di dekat tulang lebih jelas
dibandingkan dengan CT-scan.
2.2.7 Tatalaksana
Penatalaksanaan untuk sebagian besar tumor baik intramedular
maupun ekstramedular adalah dengan pembedahan. Tujuannya adalah
untuk menghilangkan tumor secara total dengan menyelamatkan
fungsi neurologis secara maksimal. Kebanyakan tumor intraduralekstramedular

dapat

direseksi

secara

total

dengan

gangguan

neurologis yang minimal atau bahkan tidak ada post operatif. Tumortumor yang mempunyai pola pertumbuhan yang cepat dan agresif

35

secara histologis dan tidak secara total dihilangkan melalui operasi


dapat diterapi dengan terapi radiasi post operasi. Terapi yang dapat
dilakukan pada tumor medulla spinalis adalah: (Hakim, 2006).
a.

Deksamethason: 100 mg (mengurangi nyeri pada 85 % kasus, mungkin juga

b.

menghasilkan perbaikan neurologis).


Penatalaksanaan berdasar evaluasi radiografik
Bila tidak ada massa epidural: rawat tumor primer (misalnya dengan
sistemik kemoterapi); terapi radiasi lokal pada lesi bertulang; analgesik

untuk nyeri.
Bila ada lesi epidural, lakukan bedah atau radiasi (biasanya 3000-4000
cGy pada 10x perawatan dengan perluasan dua level di atas dan di
bawah lesi); radiasi biasanya seefektif seperti laminektomi dengan

c.

komplikasi yang lebih sedikit.


Penatalaksanaan darurat (pembedahan/ radiasi) berdasarkan derajat
blok dan kecepatan deteriorasi

bila > 80 % blok komplit atau perburukan yang cepat: penatalaksanaan


sesegera mungkin (bila merawat dengan radiasi, teruskan deksamethason
keesokan harinya dengan 24 mg IV setiap 6 jam selama 2 hari, lalu
diturunkan (tappering) selama radiasi, selama 2 minggu.

bila < 80 % blok: perawatan rutin (untuk radiasi, lanjutkan


deksamethason 4 mg selama 6 jam, diturunkan (tappering) selama
perawatan sesuai toleransi.

d.

Radiasi
Terapi radiasi direkomendasikan umtuk tumor intramedular yang tidak
dapat diangkat dengan sempurna. Dosisnya antara 45 dan 54 Gy.

e.

Pembedahan
Tumor biasanya diangkat dengan sedikit jaringan sekelilingnya dengan
teknik myelotomy. Aspirasi ultrasonik, laser, dan mikroskop digunakan
pada pembedahan tumor medula spinalis.
Indikasi pembedahan:

Tumor dan jaringan tidak dapat didiagnosis (pertimbangkan biopsi bila


lesi dapat dijangkau). Catatan: lesi seperti abses epidural dapat terjadi

36

pada pasien dengan riwayat tumor dan dapat disalahartikan sebagai


metastase.

Medula spinalis yang tidak stabil (unstable spinal).

Kegagalan radiasi (percobaan radiasi biasanya selama 48 jam, kecuali


signifikan atau terdapat deteriorasi yang cepat); biasanya terjadi dengan
tumor yang radioresisten seperti karsinoma sel ginjal atau melanoma.

Rekurensi (kekambuhan kembali) setelah radiasi maksimal.

37

DAFTAR PUSTAKA
Guyton, Arthur, C. Hall, John, E. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta
: EGC; 1997.
Hakim, A.A. 2006. Permasalahan serta Penanggulangan Tumor Otak dan
Sumsum Tulang Belakang. Medan: Universitas Sumatera Utara
Harrop, D.S. and Sharan, A.D. 2009. Spinal Cord Tumors - Management of
Intradural
Intramedullary
Neoplasms.
[serial
online].
http://emedicine.medscape.com/article/249306-print. [10 Oktober
2015].
Huff,

J.S.

2010.

Spinal

Cord

Neoplasma.

[serial
http://emedicine.medscape.com/article/779872-print. [10
2015].

online].
Oktober

Mumenthaler, M. and Mattle, H. 2006. Fundamental of Neurology. New York:


Thieme. Page 146-147.
National Institute of Neurological Disorders and Stroke. 2005. Brain and Spinal
Cord
Tumors
Hope
Through
Research.
[serial
online].
http://www.ninds.nih.gov/disorders/brainandspinaltumors/detail_bra
inandspinaltumors.htm. [10 Oktober 2015].

Noback CR, Strominger NL, Demarest RJ, et al. The Human Nervous System
Structure and Function. 6th Edition. New Jersey : Humana Press Inc. 2005.
Snell RS. Pendahuluan dan Susunan Saraf Pusat: Neuroanatomi Klinik Edisi
ke-5. Jakarta: EGC. 2007.

Sylvia A. Price, Alih bahasa Adji Dharma, 2010. Patofisiologi, konsep klinik
proses- proses penyakit ed. 4, EGC, Jakarta

38