Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan teknologi dari masa ke masa merupakan sesuatu
yang tidak dapat dhindarkan lagi. Semakin ke sini perkembangan
teknologi semakin canggih dan kompleks keberadaannya. Di jaman
sekarang ini contohnya, apapun yang ada selalu menggunakan elektronik
dan serba internet. Seperti berkomunikasi, jual beli, dan dalam
pemerintahan pun sekarang banyak yang bergantung kepada yang
namanya internet. Memang tidak dapat dielakkan lagi tantangan terbesar
suatu negara adalah bukan hanya kara perang, namun kesiapan suatu
negara tersebut dalam menghadapi perkembangan ekonomi yang semakin
maju dan terus berkembang pesat.
Globalisasi telah membawa pengaruh pada segala aspek kehidupan
bernegara pada bangsa-bangsa di dunia. Pengaruh tersebut berdampak
pada tatanan politik, ekonomi, sosial dan budaya. Globalisasi yang
mengharuskan pada kompetisi pada tiap-tiap negara ini, telah membuat
perubahan pada segala bidang sebagai bentuk penyesuaian terhadap
tuntutan daripada globalisasi tersebut yang membuat seolah-olah telah
meruntuhkan konsepsi ruang dan waktu antara berbagai negara bangsa di
dunia.
Salah satu perkembangan globalisasi adalah dalam hal pelayanan
publik suatu birokrasi di suatu negara/daerah. Disini contohhnya di negara
kita Indonesia ini, Indonesia sebagai salah satu negara yang sedang
berkembang juga mau tidak mau tidak bisa lepas dari globalisasi. Berbagai
pengaruh baik positif maupun dampak negatifnya turut dirasakan oleh
bangsa ini, yang juga secara lansung atau tidak langsung mempengaruhi
dari birokrasi di Indonesia. Globalisasi diibaratkan sebagai dua sisi mata

uang bagi suatu negara, disatu sisi mendatangkan kebaikan dan satu
sisinya lagi mendatangkan keburukan pada suatu negara. birokrasi di
negara kita diharapkan bisa menyerap dampak positif dari globalisasi itu
sendiri dengan tujuan yaitu untuk lebih memajukan kualitas birokrasi kita.
Telah kita ketahui sendiri bagaimana keadaan birokrasi kita saat
ini. Birokrasi kita dipandang banyak orang jauh dari harapan dan bahkan
dalam titik yang mengkhawatirkan. Birokrasi kita banyak kekotoran dan
banyak patologinya. Banyak korupsi merebak dimana-dimana mulai dari
pejabat tingkat tinggi sampai tingkat bawahpun juga umumnya terlibat
dalam korupsi. Maraknya korupsi, kolusi dan nepotisme di kalangan
pejabat ini bukan hanya karena kejahatan birokrat kita, namun juga
kurangnya pengawasan dari masyarakat sendiri karena akses masyarakat
untuk bisa ikut mengawasi jalannya pemerintahan terbatas.
Dalam era globalisasi ini birokrasi dituntut untuk lebih efisien,
efektif, responsif dan akuntabel. Tetapi walau pun pada kenyataannya pada
masa sekarang ini hal-hal tersebut seolah sangat sulit diwujudkan pada
birokrasi Indonesia. Berbagai polemik muncul dalam birokrasi Indonesia
dari orde baru sampai dengan pasca reformasi. Reformasi yang diharapkan
dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada di negara ini
ternyata malah membawa kepada keadaan yang lebih buruk. Reformasi
yang diharapkan dapat merubah budaya birokrasi Indonesia yang berbelitbelit dan identik dengan Kolusi, Korupsi dan Nepotisme kenyataannya
tidak sama sekali.
Banyaknya korupsi dan kolusi serta nepotisme tersebut terus dicari
solusinya dan mungkin sangat sulit untuk dihilngkan. Dalam makalah
kami ini kami ingin sampaikan tentang bagaimana penerapa e-government
agar dapat menciptakan keterbukaan dari para birokrasi kita karena dalam
penerapan e-government diharapkan semua masyarakat bisa ikut
mengawasi dalam pelaksanaannya melalui dunia online atau melalui
internet. Semua itu diharapkan bisa menjadi jembatan antara pemerintah

dan rakyat dalam hal berhubungan dan keterbukaan agar semua korupsi,
kolusi dan nepotisme bisa dikurangi bahkan dihilangi karena terdapat
pengawasan dari masyarakat dalam hal kebijakan dan anggaran dalam
pemerintahan.
Tantangan untuk mewujudkan suatu kepemerintahan yang baik
menjadi kerja keras bagi birokrasi Indonesia. Selanjutnya pertanyaan yang
akan muncul adalah bagaimana birokrasi Indonesia tetap eksis dalam
menghadapi kemajuan zaman yang semakin mengglobal ini?? Apa yang
seharusnya dilakukan sebagai langkah dan bentuk dari penyesuaian
terhadap arus globalisasi?? Dalam kesemrawutan birokrasi di Indonesia
pertanyaan tersebut seolah mudah dalam konsep teori, akan tetapi sangat
sulit dalam tataran implementasinya.
Ada beberapa konsep yang seharusnya dilakukan ataupun yang
menjadi fokus pemerintah dalam menjawab tantangan dan langkahlangkah sebagi upaya penyesuaian diri terhadap globalisasi, yakni
Penerapan Good governance dalam pemerintahan, Reformasi Birokrasi
secara serius, Pemerintahan yang berbasis elektronik. Ketiga hal tersebut
saling berkaitan antara satu dengan lainnya. Good Governance
menghendaki adanya reformasi dalam birokrasi. Birokrasi Indonesia yang
dinilai gemuk dan inefisiensi harus segera direform menuju birokrasi yang
miskin organisasi akan tetapi kaya akan fungsi. Kemudian untuk
merealisasikan good governance, pemerintahan yang berbasis elektronik
diperlukan guna menciptakan birokrasi yang akuntabel dan responsif
terhadap pelayanan public. Maka dari itu Pemerintah di Indonesia dan
daerah-daerah otonominya diharapkan bisa menggunakan e-government
dengan sebaik-baiknya untuk pelayanan public.

B. Landasan Teori
1. Pengertian Globalisasi
Menurut asal katanya, kata globalisasi diambil dari kata global, yang
maknanya universal. Achmad Suparman menyatakan globalisasi
adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai
ciri dari setiap individulisasi di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah.
Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali defini kerja,
sehingga bergantung dari sisi mana orang melihatnya.

Ada yang

memandang sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau


proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di
dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan
kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan
batas-batas geografis, ekonomi, dan budaya masyarakat.
Di sisi lain ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang
diusung oleh negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang
memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut
pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuk
yang paling mutkhir. Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan
mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak
berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung
berpengerah besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh
terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama. Theodore
Levitte merupakan orang yang pertama kali menggunakan istilah
Globalisasi pada tahun 1985.
Scholte melihat bahwa ada beberapa definisi yang dimaksudkan orang
dengan globalisasi:

Internasionalisasi: Globalisasi diartikan sebagai meningkatnya


hubungan internasional. Dalam hal ini masing-masing negara tetap
mempertahankan identitasnya masing-masing, namun menjadi
semakin tergantung satu sama lain.

Liberalisasi:

Globalisasi

juga

diartikan

dengan

semakin

diturunkankan batas antar negara, misalnya hambatan tarif ekspor


impor, lalu lintas devisa, maupun migrasi.

Universalisasi: Globalisasi juga digambarkan sebagai semakin


tersebarnya hal material maupun imaterial ke seluruh dunia.
Pengalaman di satu lokalitas dapat menjadi pengalaman seluruh
dunia.

Westernisasi:

Westernisasi

adalah

salah

satu

bentuk

dari

universalisasi dengan semakin menyebarnya pikiran dan budaya


dari barat sehingga mengglobal.

Hubungan transplanetari dan suprateritorialitas: Arti kelima ini


berbeda dengan keempat definisi di atas. Pada empat definisi
pertama, masing-masing negara masih mempertahankan status
ontologinya. Pada pengertian yang kelima, dunia global memiliki
status ontologi sendiri, bukan sekadar gabungan negara-negara.

Ciri-Ciri Globalisasi
a. Perubahan dalam konstatin ruang dan waktu. Perkembangan
barang-barang dan telepon genggam, televisi satelit, dan internet
menunjukan bahwa komunikasi global terjadi demikian cepatnya.
Sementara

melalui

pergerakan

massa

semacam

turrisme

memungkinkan kita merasakan banyak hal dari budaya yang


berbeda.
b. Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda
menjadi saling bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan
perdagangan internasional, peningkatan pengaruh

perusahaan

multinasional, dan dominasi organisasi semacam World Trade


Organization (WTO)

c. Peningkatan interaksi kultura melalui perkembangan media massa


(terutama televisi, film, musik, dan transmisi berita dan olahraga
internasional). Saat ini, kita dapat mengkonsumsi dan mengalami
gagasan dan pengalaman baru mengenai hal-hal yang melintasi
beraneka ragam budaya, misalnya dalam bidang fashion, litteratur,
dan makanan.
d. Meningkatnya masalah bersama, misalnya pada bidang lingkungan
hidup, krisis multinasional, inflasi regional dan lain-lain.

Dampak Globalisasi
1. Dampak positif
a. Mudah memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan
b. Mudah melakukan komunikasi
c. Cepat dalam berpergian (mobilitas tinggi)
d. Menumbuhkan sikap kosmopolitan dan toleran
e. Memacu untuk meningkatkan kualitas diri
f. Mudah memenuhi kebutuhan
2. Dampak negatif
a. Informasi yang tidak tersaring
b. Perilaku konsumtif
c. Membuat sikap menutup diri, berpikir sempit

2. Pengertian Birokrasi
Birokrasi berasal dari kata bureaucracy (Bahasainggris bureau +
cracy), diartikan sebagai suatu organisasi yang memiliki rantai
komando dengan bentuk piramida, dimana

lebih

banyak

orang

berada ditingkat bawah dari pada tingkat atas, biasanya ditemui


pada instansi yang sifatnya administratif maupun militer.
Birokrasi adalah pemerintahan de facto/ kekuasaan (kratos)

yang

bekerja dibelakang meja tulis (bureau) kantor-kantor yaitu para


pegawai.

Setiap posisi serta tanggung jawab kerjanya dideskripsikan dengan


jelas dalam strukur organisasi. Organisasi ini pun memiliki aturan dan
prosedur ketat sehingga cenderung kurang fleksibel. Ciri lainnya
adalah biasanya terdapat banyak formulir yang harus dilengkapi
dan

pendelegasian

wewenang

harus

dilakukan

sesuai dengan

hirarki kekuasaan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, birokrasi didefinisikan sebagai
:
1) Sistem pemerintahan yang dijalankan oleh pegawai pemerintah
karena telah berpegang pada hirarki dan jenjang jabatan
2) Cara bekerja atau susunan pekerjaan yang serba lamban, serta
menurut tata aturan (adat dan sebagainya) yang banyak likalikunya dan sebagainya.
Definisi birokrasi ini mengalami revisi, dimana birokrasi selanjutnya
didefinisikan sebagai :
1) Sistem pemerintahan yang dijalankan oleh pegawai bayaran yang
tidak dipilih oleh rakyat, dan
2) Cara pemerintahan yang sangat dikuasai oleh pegawai.
Berdasarkan definisi tersebut, pegawai atau karyawan dari birokrasi
diperoleh dari penunjukan atau ditunjuk (appointed) dan bukan dipilih
(elected).
Birokrasi memiliki ciri yang jelas dan tegas seperti layaknya organisasi
sosial, dalam hal ini Sajogjo dan Pudjiwati Sajogjo menunjuk kepada
ciri yang meliputi organisasi sosial yaitu :
1) Formalitas
Suatu organisasi sosial mempunyai perumusan tertulis yang jelas
dalam hal tujuan, peraturan-peraturan

(berupa anggaran dasar,

anggaran rumah tangga), prosedur, penentuan atau regulasi serta


kebijaksanaan.
2) Hierarki
Suatu organisasi sosial mempunyai pola wewenang (yaitu
kekuasaan yang diakui oleh masyarakat) berbentuk piramida
dengan demikian beberapa orang didudukan dalam posisi yang
lebih tinggi dari anggota lainnya dan peranan pun sedikit berbeda
dengan sangat menonjol.
mengenal

(tiga)

Suatu organisasi paling

sedikit

tingkatanwewenang.

3) Ukuran (size)
Suatu organisasi sosial biasanya memiliki ukuran besar, sehingga
para anggota tidak dapat melakukan relasi sosial yang langsung
(sebagai kelompok disebut kolektivitas). Hubungan yang ada
antara para pelakunya sifatnya bukan pribadi (impersonal) hal
tersebut dikenal dengan gejala birokrasi.
4) Lamanya (duration)
Kehadiran organisasi sosial lebih lama dari keterlibatan anggotaanggotanya, artinya anggota organisasi sosial masuk-keluar atau
meninggal, hal mana tidak mempengaruhiorganisasi itu, kehadiran
organisasi sosial tetap berlangsung (Sajogjo dan pudjiwati
Sajogjo,1982:178).
Birokrasi bertugas untuk melayani yang berasal dari to serve.
pelayanan ini memudahkan segala kepentingan yang
dengan

birokrasi

sehingga

berkaitan

berpedoman pada Asas Umum

Penyelenggaraan Negara. Birokrasi tersebut

berkaitan

dengan

fungsi dan tugas pemerintah yaitu memberikan pelayanan kepada


masyarakat (Hanif Nurcholis,2005:175).

Namun

asas

umum

pemerintahan yang baik sulit untuk di terapkan karena birokrasi

menciptakan kaum birokrat publik yang mempersulit warga Negara


dengan berkedok setia pada hukum dan peraturan yang terbelit-belit,
dimana kaum birokrat publik dengan mudah menjadi makmur
dan membelokkan roda pemerintahan untuk kepentingan pribadi
(ensiklopedi popular

politik,1983).

Sehingga

pemerintah

diartikansebagai sekelompok orang yang bertanggungjawab atas


penggunaan

kekuasaan/exercising

power(Muchlis H,2006:16).

Seharusnya birokrasi yang netral lepas dari kepentingan


politik dan

pribadi yang di ilhami oleh ideologi pelayanan publik

dalam menjalankan tugasnya. Birokrasi dalam organisasi publik


dapat dinilai dari segi ekonomi,. efisiensi, efektivitas, ekuitas, atau
kesinambungan penyediaan layanan(Paolo Rondo,2007:5).
Perkembangan di Eropa terutama sejak RevolusiPerancis, ideologi
tersebut antara lain :
1) Adminitrasi

Negara

adalah

mesin

atau

alat pelaksana

kehendak publik yang ditetapkan oleh legislatif. Pemerintah


merupakan lembaga kepercayaan publik yang digunakan untuk
kepentingan publik bukan kepentingan pribdi atau sekelompok
orang.
2) Pegawai Negeri merupakan abdi masyarakat bukan sebaliknya.
3) pegawai negeri harusnya menjadi perwujudan dari kebaikan
publik. mereka merupakan pegawai yang bekerja keras, jujur, tidak
memihak, bijaksana, adil, dan dapat dipercaya
4) Pegawai

negeri

harus

mematuhi

atasannya

dan

tidak

mengutamakan kepentingan pribadi.


5) Pegawai negeri harus melaksanakan tugasnya secara efisien dan
ekonomis.

6) penempatan

kedalam

jabatan

publik

harus didasarkan

pada kecakapan keahlian bukan pada hak istimewa suatu kelas.


7) pegawai

negeri

harus

tunduk

pada

hukum sebagaimana

wargan egara lainnya (Sri Yuliani,2003:39-40).


3. Pengertian e-Government
Pemerintahan elektronik atau e-government (berasal dari kata
Bahasa Inggris electronics government, juga disebut e-gov, digital
government,

online

government

atau

dalam

konteks

tertentu

transformational government) adalah penggunaan teknologi informasi


oleh pemerintah untuk memberikan informasi dan pelayanan bagi
warganya, urusan bisnis, serta hal-hal lain yang berkenaan dengan
pemerintahan. Electronic government dapat diaplikasikan pada
legislatif, yudikatif, atau administrasi publik, untuk meningkatkan
efisiensi internal, menyampaikan pelayanan publik, atau proses
kepemerintahan yang demokratis. Model penyampaian yang utama
adalah Government-to-Citizen atau Government-to-Customer (G2C),
Government-to-Business (G2B) serta Government-to-Government
(G2G).

Keuntungan

government

adalah

yang

paling

peningkatan

diharapkan
efisiensi,

dari

electronic

kenyamanan,

serta

aksesibilitas yang lebih baik dari pelayanan publik.


Di sisi lan, UNDP (United Nation Development Programme)
mendefenisikan electronic government secara lebih sederhana lagi,
yaitu electronic government is the application of information and
communication technology (ICT) by government agencies.
Janet

Caldow,

direktur

dari

Institute

For

Electronic

Governemnt (IBM Co.) dari hasil kajiannya bersama Kennedy School


Of Government, Havard Universiity, memberikan defenisi, yaitu
electronic

government

is

nothing

short

of

fundamental

transformation of government and governance at a scale we have not


witnessed since the beginning of the industrial era.

Menurut Zweers dan Plangue mendefenisikan electronic


government antara lain: electronic government berhubungan dengan
penyediaan informasi, layanan atau produk yang disiapkan secara
elektronis oleh pemerintah, tidak berbasis tempat dan waktu,
menawarkan nilai lebih untuk partisipasi pada semua kalangan.
The World Bank Group mendefinisikan electronic government
refers to the use by government agencies of information technologies
(such as Wide Area Networks, the Internet, and mobile computing) that
have the ability to transform relations with citizens, businesses, and
other arms of government. (electronic government berhubungan
dengan penggunaan teknologi informasi (seperti wide area network,
internet dan mobile computing) oleh organisasi pemerintah yang
mempunyai kemampuan membentuk hubungan dengan warga negara,
bisnis, dan organisasi lain dalam pemerintahan). 31

Kementrian Komunikasi dan Informasi, berpendapat bahwa:


electronic government adalah aplikasi teknologi informasi yang
berbasis internet dan perangkat lainnya yang dikelola oleh pemerintah
untuk keperluan penyampaian informasi dari pemerintah kepada
masyarakat, mitra bisnisnya, dan lembaga-lembaga lain secara
online.
Setelah melihat bagaimana lembaga-lembaga atau institusiinstitusi mendefinisikan electronic government, ada baiknya dikaji pula
bagaimana sebuah pemerintahan menggambarkannya :
a) Pemerintah Federal Amerika Serikat mendefinisikan electronic
government secara ringkas, padat, dan jelas, yaitu electronic
government refers to the delivery of government information and
services online through the Internet or other digital means.
b) Nevada,

salah

satu

negara

bagian

di

Amerika

Serikat,

mendefinisikan electronic government sebagai: online services that


eradicate the traditional barriers that prevent citizens and
businesses from using government services and replace those
barriers with convenient access; government operations for
internal constituencies that simplify the operational demands of
government for both agencies and employees.
c) Pemerintah New Zealand melihat electronic government sebagai
sebuah fenomena sebagai berikut: Electronic government is a way
for governments to use the new technologies to provide people with
more convenient access to government information and services, to
improve the quality of the services and to provide greater
opportunities to participate in our democratic institutions and
processes.
d) Italy mungkin termasuk salah satu negara yang paling lengkap dan
detail dalam mendefinisikan electronic government, yaitu The use
of modern ICT in the modernization of our administration, which
comprise the following classes of action: Computerization

designed to enhance operational efficiency within individual


departments and agencies; Computerization of services to citizens
and firms, often implying integration among the services of
different departments and agencies; Provision of ICT access to
final users of government services and information.
Ketika mempelajari penerapan electronic government di Asia
Pasifik, Clay G. Wescott (Pejabat Senior Asian Development Bank),
mencoba mendefinisikannya sebagai berikut: E-government is the use
of information and communications technology (ICT) to promote more
efficient and cost-effective government, facilitate more convenient
government services, allow greater public access to information, and
make government more accountable to citizens.
Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa electronic
government adalah upaya untuk penyelenggaraan pemerintah yang
berbasis elektronik dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan
publik secara efektif dan efisien. Definisi menarik dikemukakan oleh
Jim Flyzik (US Departement Of Treasury) ketika diwawancarai oleh
Price Waterhouse Coopers, dimana ia mendefinisikan electronic
government is about bringing the government into the world of the
internet and work on the internet time.

C. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pelaksanaan e-government dalam birokrasi di Indonesia ?
2. Adakah dampak pelaksanaan e-government dalam birokrasi di
Indonesia ?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pelaksanaan e-government dalam birokrasi di Indonesia


E-Government dalam dunia sekarang ini memang sangat diandalkan
salah satunya untuk mempermudah hubungan antara Pemerintah dengan para
stakeholder termasuk rakyatnya agar lebih mudah dalam berhubungan dan
dalam pengawasan dari rakyat kepada kinerja birokrasi kita. Bagaimana egovernment dilaksanakan dan diterapkan ??
Tahap E-Government menurut Inpres no.3 Tahun 2003 tentang
kebijakan dan strategi nasional pengembangan, bahwa penerapan EGovernment dapat dilaksanakan melalui tingkatan sebagai berikut:
1. Tingkat persiapan yang meliputi :
a. Pembuatan situs informasi di setiap lembaga;
b. Penyiapan SDM;
c. Penyiapan sarana akses yang mudah misalnya menyediakan
sarana Multipurpose Community Center, Wernet, dll;
d. Sosialisasi situs informasi baik untuk internal maupun untuk
publik.
Tingkat pematangan yang meliputi :
a. Pembuatan situs informasi publik interaktif;
b. Pembuatan antar muka keterhubungan antar lembaga lain.
3. Tingkat pemantapan yang meliputi :
a. Pembuatan situs transaksi pelayanan publik;
b. Pembuatan interoperabilitas aplikasi maupun data dengan
2.

4.

lembaga lain.
Tingkat pemanfaatan yang meliputi :
a. Pembuatan aplikasi untuk pelayanan yang bersifat G2G
(Government To Government), G2B (Government To Business)

dan G2C (Government To Citizen) yang terintegrasi.


Dari semua fase tersebut, pemerintah bisa menghasilkan web khusus
tiap daerah yang berisi program-program dan visi serta misi tiap tiap daerah.
Penyediaan layanan berupa web khusus pemerintahan tersebut dimaksudkan
agar semua elemen dan semua masyarakat bisa mengakses apa saja yang
menjadi program pemerintah dan supaya masyarakat luas bisa ikut mengawasi

jalannya pemerintahan dengan baik supaya tidak terjadi penyelewengan oleh


para aparat birokrasi kita.
BERIKUT APLIKASI E-GOVERNMENT DI INDONESIA:
1. MANajemen integrasi dan perTukaRAn data (MANTRA)
Aplikasi MANTRA bermanfaat untuk menjembatani pertukaran
data antar instansi pemerintah meskipun berbeda Database, Aplikasi
maupun Sistem Operasinya. Aplikasi MANTRA dapat difungsikan sebagai
GSB (Government Service Bus) dan Web-API (Application Programming
Interface).
GSB merupakan suatu sistem yang mengelola integrasi informasi
dan pertukaran data antar instansi pemerintah. GSB mampu mensinergikan
informasi dari beberapa Web-API (Application Programming Interface).
Web-API dapat dipandang sebagai media Interoperabilitas Sistem
Informasi.
Sampai saat ini aplikasi MANTRA telah digunakan di :
1.

Ditjen Dukcapil, Kementerian Dalam Negeri

2.

BNP2TKI

3.

Kementerian Komunikasi dan Informatika

4.

Ditjen Pajak, Kementerian Keuangan

6.

LKPP

7.

Kementerian Luar Negeri

8.

Pemkab Bangka

9.

Pemkot Pekalongan

10. Pemprov Jawa Barat


Instansi yang ingin menggunakan aplikasi MANTRA dapat
menghubungi Direktorat e-Government untuk selanjutnya mengirimkan
surat

resmi

kepada

Direktur

e-Government

perihal

permohonan

pemanfaatan, bimbingan teknis dan instalasi Aplikasi MANTRA.


2. Administrasi perkantoran MAYA (siMAYA)
Ditjen Aplikasi Informatika telah mengembangkan aplikasi
perkantoran yang diberi nama siMAYA. Aplikasi ini merupakan
digitalisasi dari Peraturan Menteri PAN dan RB Nomor 6 Tahun 2011
tentang Tata Naskah Dinas Elektronik (TNDE) di Lingkungan Instansi
Pemerintah. Aplikasi ini telah disosialisasikan melalui bimbingan teknis di
beberapa instansi pemerintahan baik pusat dan daerah di Indonesia antara
lain di Pemkab Sukoharjo, Pemkab Bangka Tengah, Pemkab Ende,
Pemkab Banyuasin, Pemkot Tegal, Pemkab Pasaman, Direktorat PII
(Ditjen Aplikasi Informatika, Kemkominfo) dan Pemprov Jawa Tengah.
Implementasi siMAYA sendiri dapat dilakukan melalui 2 metode, yaitu
metode cloud computing dan metode non cloud computing.

3. Pegawai Negeri Sipil Mail (PNSMail)


Layanan email yang diperuntukkan bagi Pegawai Negeri Sipil di seluruh
Indonesia dengan kuota mencapai 250 MB.

4. Private Network Security Box (PNSBox)


Untuk membangun jaringan antar instansi pemerintah dengan Sistem
Jaringan Private (Private Network Security), digunakan ISP lokal
dan PNSBoxsebagai router.
Pemanfaatan PNS Box :
1.

Interkoneksi lintas instansi pemerintahan

2.

Interkoneksi lintas data center

3.

Implementasi Content Delivery Network (CDN)

4.

Implementasi High Availability lintas lokasi

5.

Interoperabilitas aplikasi lintas pemerintahan

6.

Disaster Recovery Center(DRC)

7. VoIP dan Video Conference


8.

Pertukaran data secara lokal (file sharing)

Sampai saat ini, PNSBox telah diinstal di :

1. Kementerian Kesehatan
2. Kementerian Luar Negeri
3. Kementerian Keuangan Ditjen Pajak
4. Kementerian Kelautan dan Perikanan
5. Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum & Keamanan
6. Diskominfo Provinsi Jawa Barat
7. Diskominfo Kota Malang
8. Diskominfo Kota Lamongan
9. Diskominfo Kabupaten Demak

10. Diskominfo Kota Surabaya


11. Diskominfo Provinsi Jawa Timur
12. Diskominfo Kabupaten Banyuasin
13. Diskominfo Kota Surakarta
14. Kantor Bupati Kabupaten Padang Pariaman
15. Diskominfo Provinsi Riau
16. Ditjen IKP Kementerian Komunikasi dan Informatika
17. SePP Kementerian Komunikasi dan Informatika
18. Diskominfo Kab. Kutai Kartanegara
19. Dishubkominfo Provinsi DI Yogyakarta
20. Diskominfo Provinsi Sumatera Selatan
21. Diskominfo Provinsi Sumatera Barat
Sumber dari :
(http://kominfo.go.id/index.php/content/detail/3319/Aplikasi+eGovernment/0/e_government#.VW1oIEZJzTm)
Dibalik infrastuktur dan aplikasi diatas yang sudah tergolong kompleks
dan bagus, salah satu yang juga baru marak di lingkungan pemerintahan kita
adalah pengadaan e-budgeting. Pengadaan e-budgeting tersebut sangat bagus
dilaksanakan di jaman sekarang ini. Apalagi diadakan di Indonesia yang
terkenal sebagai negara yang sangat korup bahkan masuk 10 besar negara
terkorup di dunia. Dengan e-budgeting, semua dana yang masuk dan keluar
dalam pemerintahan bisa diketahui oleh masyarakat luas dan semua orang bisa
mengaksesnya secara personal.
Namun entah kenapa malah justru program ini tidak disukai oleh
sebagian birokrat kita. Atau mungkin mereka takut ketahuan dalam rencana
korupsinya. Tapi disisi lain ini sangat bermanfaat dan harus diadakan oleh
setiap imstansi pemerintahan yang ada di Indonesia untuk memangkas angka
korupsi yang terus meningkat di negara kita Indonesia.
Dengan penerapan e-government di negara kita juga bermanfaat untuk
saling tukar pikiran antara pemerintah dan masyarakat. Disini masyarakat bisa
menyampaikan uneg-unegnya kepada pemerintah secara langsung mungkin

melalui e-mail ataupun lewat media social seperti twitter atau facebook dan
kemudian diharapkan pemerintah bisa meresponnya seperti yang dilakukan
oleh Walikota Bandung Ridwan Kamil. Beliau membuka akun twitter
pribadinya untuk umum, jadi masyarakat Bandung jika mempunyai uneg-uneg
tidak perlu datang ke kantor peemrintahan atau mealui demo, tetapi cukup
lewat media social agar pendapatnya bisa sampai ke orang nomor satu di
Bandung tersebut.
B. Dampak pelaksanaan e-government dalam birokrasi di Indonesia
Dalam pelaksanaan e-government tentu memunculkan berbagai
dampak entah itu dampak negative maupun dampak positif yang kemungkinan
dapat

muncul.

Berikut

adalah

dampak-dampak

dari

penerapan

E-

government sebagai berikut.


1. Kepedulian terhadap stakeholder Implementasi e-government
Telah dinilai oleh pengusaha meningkatkan kepedulian pemerintah
terhadap stakeholder, dalam hal ini dunia bisnis. Peningkatan kualitas ini
maupun dalam pemahaman prosedur layanan yang lebih baik oleh petugas,
citra petugas yang lebih baik dalam melayani, dan perbaikan lingkungan
pelayanan. Selain penggunaan sistem informasi yang memudahkan dalam
melayani, Pemerintah Kota Jambi juga memberikan informasi terkait
prosedur layanan baik di situs web maupun di kantor pelayanan dalam
bentuk poster yang ditempel pada dinding. Lingkungan pelayanan juga
ditingkatkan kenyamanannya dengan berbagai tambahan fasilitas.

2. Efektifitas dan efisien


Efektivitas dan efisiensi layanan ini dapat dilihat dari layanan yang
tepat waktu, cepat, sama untuk semua pengguna layanan, termasuk
penerbitan peraturan yang memudahkan pengusaha. Beberapa contoh yang
dapat menunjukkan peningkatan kualitas layanan e-Government untuk

dunia bisnis yang diberikan Pemerintah berdasarkan efektifitas dan


edisiensi kinerja pemerintah adalah:
a) Adanya keadilan untuk mendapatkan layanan, ini ditunjukkan dengan
budaya antri, di mana setiap pelaku bisnis yang datang diwajibkan
mengambil kartu antrian sehingga tidak ada perbedaan pemberian
layanan.
b) Petugas mempunyai kemampuan dalam memberikan layanan, hal ini
ditunjukkan dengan adanya pelatihan kepada pemberi layanan yang
diberikan oleh
c) Layanan yang diberikan sudah cepat karena pada kantor pelayanan
telah dilengkapi dengan perangkat komputer dan petugas tidak perlu
lagi menjelaskan prosedur pelayanan karena prosedur layanan telah
diberitahukan melalui Internet dan ditempelkan di dinding loket
pelayanan.
d) Kedisiplinan petugas dan pemberian layanan tepat waktu meningkat
karena Pemerintahan mempunyai aplikasi sistem informasi yang cukup
baik.
3. Partisipasi masyarakat
Seperti halnya kepedulian kepada staksholder,efektivitas dan
efisiensi, partisipasi masyarakat juga terbukti meningkat secara signifikan
setelah implementasi e-government. Pada pegusaha menilai bahwa setelah
implementasi e-government, pemerintah merasa memerlukan partisipasi
masyarakat yang lebih baik dengan memberikan kesempatan dalam
memberikan saran dalam pengambilan keputusan. Kanal komunikasi pun
telah dipermudah. Contoh inisitiatif e-government untuk dunia bisnis yang
diberikan Pemerintah untuk meningkatkan partisipasi masyarakat adalah:
SMS center dan forum diskusi online. Kedua hal ini memungkinkan
masyarakat memberikan kritis dan saran kepada pemerintah.
4. Akuntabilitas

Para pengusaha menilai bahwa Pemerintah setelah implementasi egovernment, menjadi lebih akuntabel. Akuntabilitas ini ditandai dengan
berbagai indikator, termasuk respon terhadap keluhan , kejelasan program
pemerintah untuk dunia bisnis, standarisasi proses layanan, pembuatan
kebijakan yang relevan, dan perbaikan kualitas

layanan secara

berkesinambungan. Pemerintah memperbaiki layanan dengan berbagai


usaha seperti penambahan aplikasi/sistem informasi. Selain itu pengusaha
menerima laporan tindak lanjut atas keluhan yang dimasukkan kepada
pemerintah.
5. Transparansi
Transparansi juga dinilai meningkat secara signifikan setelah
implementasi e-government. Pengusaha menilai bahwa informasi tentang
hak dan kewajiban, peraturan, persyaratan dan biaya layanan untuk dunia
bisnis dalam diperoleh dengan mudah.juga dinilai aktif menyebarluaskan
informasi. Melalui situs web, Pemerintah memberikan beragam informasi
yang terkait dengan dunis bisnis, seperti peluang investasi dan prosedur
layanan. Selain menggunakan Internet, penyebarluasan informasi juga
dilakukan dilakukan dengan aktif dengan bantuan media elektronik.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

(Dana)
B. Saran
1. Memperkaya studi kajian dengan hasil penelitian terbaru guna
mempermudah proses analisa tingkat kematangan baik dari sisi input
maupun output dari setiap proses dalam menghasilkan kualitas layanan
yang efektif.
2. Menambah tolak ukur baru untuk dijadikan parameter dalam melakukan
analisa tingkat kematangan.
3. Sebaiknya E-Government di Indonesia diterapkan dengan system ICT
(Information and Communication Technology) yang lebih baik, agar
komunikasi antara kalangan masyarakat, bisnis dan pemerintah dengan
efektif dan efisien.
4. Dalam pengimplementasian E-Government sebaiknya lebih berani
melakukan eksperimen baru agar segala hambatan bisa diatasi dan
penerapan E-Government bisa berjalan dengan baik sesuai dengan
kebutuhan.
5. Mengingat teknologi informasi berubah secara cepat maka perlu adanya
upaya untuk mengikuti laju perkembangan tersebut agar kualitas
pelayanan tetap terjaga terutama untuk memastikan agar sumber daya
aparatur

senantiasa

mempunyai

kapasitas

yang

memadai

dalam

mengontrol perkembangan teknologi tersebut


6. Komitmen untuk mengimplementasikan e-government lebih diupayakan
lagi untuk mewujudkan pemberian pelayanan sampai dengan pelayanan
elektronik secara penuh berupa pengambilan keputusan dan full-electronic
delivery service sehingga tidak hanya terbatas pada tingkatan penyediaan
informasi dan layanan fasilitas mendownload formulir yang dibutuhkan.
7. Demi peningkatan terhadap pemberian informasi kepada masyarakat,
pemerintah maupun swasta hendaknya data-data yang ada senantiasa
untuk selalu diperbaharui (Update).
8. Sebaiknya Pemerintah lebih intensif dalam mengadakan kampanye
sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal, mengetahui dan
memanfaatkan fasilitas dari sistem informasi yang tersedia melalui
jaringan internet.

Dari permasalahan dan kebutuhan akan sistem e-government di


Indonesia, maka diharapkan pemerintah lebih memperhatikan pelaksanaan egov dengan penyempurnaan konsep dan strategi. Bila dilakukan lebih serius
dan adanya komitmen dari pemerintah maka pelaksanaan e-gov pada
gilirannnya akan dapat memperbaiki mutu pelayanan publik demi terciptanya
good governance dan clean governance.
Daftar Pustaka
Sajogjo dan Pudjiwati Sajogjo.1982. Sosiologi Pedesaan. jogjakarta: Gadjah
Mada University Press
Hanif Nurcholis. 2005. Teori dan Praktek Pemerintahan dan Otonomi Daerah.
Jakarta. PT.Gramedia.
Muchlis Hamdi. 2006. Memahami Ilmu Pemerintahan. Jakarta. PT.Raja Grafindo
Persada.
Paolo Rondo. 2007. Comparing Regions, Cities, and Communities: Local
Government Benchmarking as an Instrument for Improving Performance and
Competitiveness. The Innovation Journal: The Public Sector Innovation
Journal, Volume 12(3), 2007, article 13.
Sri Yuliani. 2003. Netralitas Birokrasi: Alat Politik atau Profesionalisme.
Jurnal Dinamika. Volume 3 Nomor 2. Surakarta : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik UNS
1. hndryst.blog.binusian.org/files/2014/03/E-Goverment.doc
2. http://www.academia.edu/9484738/makalah_pelayan_Egoverment_di_Indonesia

3. http://kominfo.kotabogor.go.id/post/single/57
4. http://kominfo.go.id/index.php/content/detail/3319/Aplikasi+eGovernment/0/e_government#.VW1oIEZJzTm
(TAMBAHI DEWE CAH DAFPUS KALIAN !!)