Anda di halaman 1dari 43

Schizophrenia

Rahmi Imelisa, S.Kep., Ners.

Kata pasien
Apa yang hilang??
Yaitu kesadaran, kewaspadaan. Keakuan dalam
diriku (the I in me). Egoku. Pembedaku. Bagian
dari diriku yg memberitahukan aku perbedaan
antara aku dan dunia. Itu adalah keakuan
dalam diriku yg selama ini menopangku dan
berkata : You will not fall into this tree, or this
song, or this ocean of water or air, and it will
not fall into you. The I that is gone is the
intelligence that says I am me, and you are
you

Mana yang anda pilih


Sehat Fisik

Gangguan
Fisik

Sehat Jiwa

II

Gangguan
Jiwa

III

IV

Dari 33 provinsi yang ada di


Indonesia hanya punya 35 RSJ.
Bahkan, ada 8 provinsi yang tidak
memiliki RSJ sama sekali, yaitu
Kepulauan Riau, Banten, Kalimantan
Tengah, Gorontalo, Sulawesi Barat,
NTT, Maluku Utara dan Irian Barat.

Schizophrenia merupakan gangguan


mental serius yang mempengaruhi
sekitar tujuh dari 1000 populasi
orang dewasa
kebanyakan dalam rentang usia 15 35 tahun
Insidennya rendah (3/10.000), tp
prevalensi gangguan ini cukup tinggi
karena gangguan ini bersifat kronis
(WHO, 2012)

Gangguan jiwa di Indonesia :


4,6/1000 jiwa (Balitbangkes, 2007).
Angka ini sama dengan angka
prevalensi median gangguan jiwa di
dunia
Di Indonesia diperkirakan sekitar 1
juta penduduk menderita gangguan
jiwa (Depkes, 2012)

Ciri Jiwa Sehat :

1. Menyadarisepenuhnyakemampuan
dirinya,
2. Mampumenghadapistreskehidupan
yangwajar,
3. Mampubekerjasecaraproduktifdan
memenuhikebutuhanhidupnya,
4. Dapatberperansertadlmlingkungan
hidupnya,
5. Menerimadenganbaikapayangada
padadirinya,
6. Merasanyamanbersamadenganorang
lain.

Sumber :
1. WHO- World
Health Report
2001
2. Kebijakan
Nasional
Pembangunan
Keswa
Indonesia 2001

Definisi Schizophrenia
Klien dengan schizophrenia terpisah
dari dunia nyata dan memiliki
dunianya sendiri, seperti pengertian
kata schizophrenia yang diambil dari
bahasa Yunani schizein yang berarti
terbelah dan phren yang berarti
pikiran (Townsend, 2009)

Definisi
The term schizophrenia was coined in
1908 by the Swiss psychiatrist Eugen
Bleuler. The word was derived from
the Greek skhizo and phren.

Definisi schizophrenia terus


diperdebatkan, namun ada 2 faktor
umum yg disetujui oleh para dokter.
1. Skizofrenia bukan gangguan yang
homogen dengan 1 penyebab, tetapi
disebabkan oleh kombinasi dari
predisposisi genetik, disfungsi
biokimia, faktor fisiologis, dan stress
psikologis

2. Tidak ada penanganan tunggal utk


mengatasi gangguan ini.

Definisi
Skizofrenia adalah satu dari kelompok
gangguan yang heterogen dalam
patofisiologi, faktor predisposisi,
stressor pencetus, dan perilaku yang
muncul (APA, 2000 dalam Stuart,
2009)

Psikosis
Kondisi mental di mana klien
merasakan kenyataan berbeda
dengan yang lain. Selama episode
psikosis, pasien tidak menyadari
bahwa orang lain tidak mengalami
hal yang sama dan merasa heran
mengapa orang lain tidak bertindak
hal yang sama (Stuart, 2009)

Kebanyakan orang dengan


schizophrenia memiliki kesulitan
dalam menjalankan pekerjaannya
atau bahkan untuk merawat dirinya
sendiri, maka mereka bergantung
pada bantuan orang lain (NIMH,
2012)

Dampak schizophrenia
1 dari 100 org terkena schizophrenia
3 dari 4 kasus muncul pada usia 1725 thn
95% mengalami schizophrenia
sepanjang hidupnya
Schizophrenia adl penyakit ke 4
terbesar yg menjadi beban dunia. 3
besarnya adalah depresi unipolar,
pengguna alkohol dan bipolar
disorder

Schizophrenia adalah penyakit kronis


25% pasien schizophrenia tdk
berrespon thdp antipsikotik
Percobaan bunuh diri pada pasien
schizophrenia sekitar 20-50%, 9-13%
nya berhasil bunuh diri.

Tanda dan Gejala


-

Hallucination
Delusion (waham)
Disorganized and unusual thinking
Word salad
Incoherence
Avolition (apathy or lack of
motivation)
- Catatonia (motionless in bizzare
position)

Sign and symptom


No one sign is diagnostic of
schizophrenia, and all can occur
in other medical and psychiatric
conditions.[4] The current
classification of psychoses holds
that symptoms need to have
been present for at least ONE
MONTH in a period of at least SIX
MONTHS of disturbed
functioning. A schizophrenia-like

Tanda dan gejala (lanjutan)


Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorders edisi 4 (DSM-IV) membagi gejala
skizoprenia
kategori
GEJALA
POSITIF menjadi
GEJALA3NEGATIF
GEJALA KOGNISI
Delusion (khayalan)

Alogia (Kehilangan
kemampuan berpikir atau
bicara)

Gangguan perhatian

Halusinasi

Perasaan/emosi menjadi
tumpul

Gangguan ingatan

Perilaku aneh, tidak


terorganisir

Avolition (Kehilangan
motivasi)

Gangguan fungsi
melakukan
pekerjaan tertentu

Bicara tidak teratur,


topik melompatlompat tidak saling
berhubungan

Anhedonia/asosiality
(kurangnya kemampuan
untuk merasakan
kesenangan, mengisolasi
diri dari kehidupan sosial

Klasifikasi
Berdasarkan DSM-IV skizofrenia terbagi menjadi 5 klasifikasi,
yaitu :
Tipe Paranoid : Delusi dan halusinasi terjadi, namun gangguan proses
pikir, perilaku aneh dan penurunan afek tidak terjadi (DSM code
295.3/ICD code F20.0)
Tipe Disorganized : Disebut juga tipe hebefrenik skizofrenia. Dimana
gangguan proses fikir dan afek datar terjadi bersamaan (DSM code
295.1/ICD code F20.1))
Tipe Katatonik : The subject may be almost immobile or exhibit
agitated, purposeless movement. Symptoms can include catatonic
stupor and waxy flexibility. (DSM code 295.2/ICD code F20.2)
Undifferentiated type: Gejala psikotik muncul namun kriteria
paranoid, disorganized dan katatonik tidak terjadi (DSM code 295.9/ICD
code F20.3)
Residual type: Dimana gejala positif muncul dengan intensitas ringan
(DSM code 295.6/ICD code F20.5)

Physical health
Individuals with schizophrenia have
higher morbidity and mortality
because of medical illness (Nasrallah
et al, 2005 dlm Stuart, 2009)

Etiologi
Genetik : twin studies, genetic
linkage
Prenatal : neurodevelopmental,
prenatal exposure to infection
Social : urban environment as a risk
factor, abuse, poverty, racial
discrimination, family disfunction
Drug abuse
Schizophrenia as a social construct

Research result propose an


integrative model of schizophrenis as
a complex neurobiological disorder of
brain neurotransmitter circuits,
neuroanatomical deficits,
neuroelectrical abnormalities, and
neurocirculatory dysregulation
involving genetic, viral, and
neurodevelepmental etiologies.

Patofisiologi
Patofisiologi skizofrenia melibatkan sistem
dopaminergik dan serotonergik (more recently :
glutamat). Hipotesis/teori tentang patofisiologi
skizoprenia :
- Pada pasien skizoprenia terjadi hiperreaktivitas
sistem dopaminergik
- Hiperdopaminergia pada sistem mesolimbik
berkaitan dengan gejala positif
- Hipodopaminergia pada sistem mesocortis dan
nigrostriatal bertanggungjawab thd gejala
negatif dan gejala ekstrapiramidal

Phase I : Premorbid phase


The premorbid phase is marked by a period
of normal functioning, although events can
occur that contribute to the development of
the subsequent illness (Lehman et al, 2006
dalam Townsend, 2009)
2 kategori :
Early precursors : family history, perinatal or
obstetric complication, neurobehavior deficit
Personality and behavior : too shy and
withdrawn, poor peer relationship, antisocial
behavior

Phase II : Prodromal phase


Refers to certain signs and
symptoms that precede the
characteristic manifestations of the
acute, fully developed illness. Few
weeks or months / 2-5 years

Phase III : Schizophrenia


Psychotic symptoms are prominent.

Phase IV : Residual Phase


Symptoms of the acute stage are
either absent or no longer prominent.
Negative symptoms may remain, and
flat affect and impairment in role
functioning are common. Residual
impairment often increases between
episodes of active psychosis.

Proses perjalanan penyakit


Fase Prodromal
Berlangsung antara 6 bulan sampai 1
tahun
Gangguan dapat berupa self care,
gangguan dalam akademik, gangguan
dalam pekerjaan, gangguan fungsi
sosial, gangguan pikiran dan persepsi.

Fase Aktif
Berlangsung kurang lebih 1 bulan
Gangguan dpt berupa psikotik;
halusinasi, delusi, disorganisasi proses
berpikir, gangguan bicara, gangguan
perilaku, disertai kelainan neurokimiawi

Fase Residual
Klien mengalami minimal 2 gejala;
gangguan afek dan gangguan peran,
serangan biasanya berulang.

Pemeriksaan Diagnostik
Based on basis symptom
Self-reported experiences of the person
abnormalities in behavior reported by family
members, friends or co-workers
a clinical assessment by a psychiatrist,
social worker, clinical psychologist or other
mental health professional .
Psychiatric assessment includes a
psychiatric history and some form of
mental status examination .

Pedoman Diagnostik
Characteristic symptoms: Two or more of the
following, each present for much of the time during a
one-month period (or less, if symptoms remitted with
treatment).
Delusions
Hallucinations
Disorganized speech, which is a manifestation of
formal thought disorder
Grossly disorganized behavior (e.g. dressing
inappropriately, crying frequently) or catatonic behavior
Negative symptomsaffective flattening (lack or decline in
emotional response), alogia (lack or decline in speech), or
avolition (lack or decline in motivation)

If the delusions are judged to be


bizarre, or hallucinations consist of
hearing one voice participating in a
running commentary of the patient's
actions or of hearing two or more
voices conversing with each other,
only that symptom is required above.
The speech disorganization criterion
is only met if it is severe enough to
substantially impair communication.

Social/occupational dysfunction:
For a significant portion of the time
since the onset of the disturbance,
one or more major areas of
functioning such as work,
interpersonal relations, or self-care,
are markedly below the level
achieved prior to the onset.

Duration: Continuous signs of the disturbance


persist for at least six months. This six-month
period must include at least one month of
symptoms (or less, if symptoms remitted with
treatment).
Schizophrenia cannot be diagnosed if
symptoms of mood disorder or
pervasive developmental disorder are present,
or the symptoms are the direct result of a
general medical condition or a substance, such
as abuse of a drug or medication.

Prognosis
- Prognosis cukup baik jika : onset
lebih lambat, pemicunya
diketahui, sejarah pre-morbid
bagus, dan ada dukungan
keluarga 20-30% mungkin bisa
kembali normal
- Kurang lebih 20-30 % mungkin
akan mengalami gejala sedang
- 40 60% mungkin tidak akan
kembali normal seumur hidupnya

Sasaran Terapi
- Sasaran terapi: bervariasi,
berdasarkan fase dan keparahan
penyakit
- Pada fase akut : mengurangi atau
menghilangkan gejala psikotik dan
meningkatkan fungsi
- Pada fase stabilisasi: mengurangi
resiko kekambuhan dan
meningkatkan adaptasi pasien
terhadap kehidupan dalam

Strategi terapi
Non-farmakologi :
program rehabilitasi : living skills,
social skills, basic education, work
program,supported housing
Psikoterapi : terapi tambahan,
terutama jika pasien sudah
berespon thd obat
Family education

Farmakologi : menggunakan obat


antipsikotik

Diagnosa Keperawatan
Halusinasi (Penglihatan,
pendengaran, dst)
Waham
Risiko Perilaku Kekerasan
Isolasi Sosial
Harga Diri Rendah (Kronis)
Defisit Perawatan Diri (mandi,
berdandan, makan, toileting)
Risti Bunuh Diri

Teori Model Stuart Laraia

42

Tugas Kelompok
Buat 7 kelompok
Deskripsikan 1 kasus nyata klien
dengan schizophrenia
Analisa berdasarkan model Stress
Adaptasi Stuart
Dkumpulkan malam ini via email :
rahmiimelisa@ymail.com