Anda di halaman 1dari 5

SOEKARNO,PRESIDEN AMERIKA

SERIKAT
21 JANUARI 2009
UNTUK pertama kalinya Ketua Mahkamah Agung John Roberts, akan mendapat tugas
rutin tiap empat tahun seumur hidupnya (jika dia tidak mundur): mengambil sumpah
jabatan presiden Amerika Serikat.
Saya, Barack Hussein Obama, bersumpahuntuk melindungi, mempertahankan
Undang-Undang Dasar Amerika Serikat, sebaris kalimat sakti yang menyulap Obama
tepat pada tengah hari 20 Januari 2009, dari orang biasa menjadi orang luar biasa, yang
paling dipandang dan juga dibenci di muka bumi.
Itulah pelantikan presiden AS yang ke 57, sejak George Washington diambil sumpahnya
pertama kali sebagai presiden AS pertama, sekaligus presiden pertama di dunia, di Wall
and Nassau Street, New York City, hampir 220 tahun silam.
Setiap presiden AS punya titah untuk menyebar wewangian nilai-nilai Amerika ke setiap
jengkal pelosok dunia, yang belum pernah atau kurang, menghirup kebebasan. Kalau
untuk ukuran ini saja, ada orang Indonesia yang bisa melakukannya. Orang itu Soekarno,
yang pernah oleh AS selalu diharapkan, dihormati, dipuja dan akhirnya digulingkan,
dibenci, lalu disingkirkan.
Revolusi Indonesia = Revolusi Amerika
Kok bisa bilang Soekarno sebagai presiden Amerika Serikat? Ya bisa aja kalau kita lihat
sepak terjang cara berpikirnya. Meski mungkin penilaian itu tergelincir salah, akibat beda
referensi nilai, budaya dan politik yang jauh antara sini dan sana. Indonesia dan Amerika.
Masa mudaku kupergunakan untuk memuja pahlawan-pahlawan Amerika, begitu
menurut pengakuan Soekarno. Tak aneh ketika Indonesia akan lahir, dia serta segelintir
sahabatnya, menyiapkannya dengan banyak membawa dan menggunakan serta meniru
nilai serta corak Amerika untuk Indonesia, yang sedang dimabuk revolusi.
Kalangan akademisi Indonesia pun berani menyimpulkan bahwa revolusi Indonesia
mengacu pada revolusi Amerika. Bila ini dibicarakan, Soekarno pasti hadir di dalamnya
dengan berdiri ditengah bukan dipinggir.
Dari kepalanya yang selalu tertutup pici, banyak tersimpan cadangan ide, yang keluarnya
sebagai pola pikir la Amerika, yang dicampur dengan konsep-konsep lain hasil serapan
dari bangsa lain. Hasilnya bisa dilihat dari karakter revolusi Indonesia, yang seirama
dengan punya Amerika. Seperti apa?

Lihat saja perubahan politik semasa revolusi, terjadi bersamaan dengan deklarasi
kemerdekaan Indonesia. Didalamnya mencakup sebuah perubahan sosial. Apa
amerikanya? Nah, yang kayak amerikanya, yaitu kenyataan perubahan drastis itu
berlangsung tanpa kekekerasan. Dia bisa menyatukan Indonesia tanpa pertumpahan
darah setetespun, kata Pramoedya Ananta Toer memuji Soekarno, orang yang pernah
memenjarakannya.
Beda sekali revolusi yang terjadi di Prancis, Rusia, Cina atau Iran yang berdarah-darah.
Ciri yang dibawakan Soekarno bertumpu pada kepercayaan bahwa perbaikan secara
bertahap bisa dilakukan dengan membuka kemungkinan, seluas-luasnya, untuk bekerja
sama antar kelompok yang saling bertentangan.
Bukan berarti gagasan-gagasan mutakhir yang dia tiru dari Amerika itu berjalan mulus.
Kadang terkesan unAmerica karena kondisi lokal. Soekarno sangat dramatik,
pragmatik, beraneka ragam, lentur dan berbau mistik, menurut penilaian William
Frederick, seorang guru besar ilmu politik dari universitas di Ohio, AS.
The United States of Indonesia
Bukan itu saja, lembaga-lembaga ketatanegaraan Indonesia yang tercipta, mirip dan
sebangun seperti yang ada di AS. Ini divisualkan dengan baik pada seri perangko
Indonesia diawal masa revolusi kemerdekaan. Prangko itu menggambarkan wajah
Soekarno dengan George Washington, Mohammad Hatta dengan Abraham Lincoln,
Sutan Sjahrir dengan Thomas Jefferson. Agus Salim dengan Benjamin Franklin dan AA
Maramis dengan Alexander Hamilton. Dengar pengakuannya tentang orang-orang suci
Amerika. Aku merasa dekat dan bersahabat dengan Thomas Jefferson, kata Soekarno
yang memajang foto si brewok Abraham Lincoln di ruang tamu Istana Kepresidenan di
Jogjakarta.
Ditambah lagi dalam Konferensi Meja Bundar akhir tahun 1949 (yang hasilnya terlalu
dipaksakan oleh Amerika Serikat), melahirkan negara baru: Indonesia Serikat. Jadilah
model negara Indonesia pas sama seperti AS, meski agak beda runtut sejarahnya.
Pernah dua dari lima astronot AS dalam misi Space Shuttle ke 7 bulan Juni 1983,
Frederick Hauck dan John Fabian, diundang menghadiri HUT RI tahun 1983 di Istana
Merdeka, karena sukses meluncurkan sebuah satelit Indonesia. Si Fabian nyengar-nyengir
waktu ditanya pendapatnya tentang Indonesia. Waktu kecil di sekolah, saya diajarkan
bahwa di dunia ini hanya ada dua negara serikat, yaitu Amerika Serikat dan Indonesia
Serikat.
Jika saja usul Mohammad Hatta diterima, saat perumusan naskah proklamasi dini hari 17
Agustus 1945, maka proklamator Indonesia tak cuma dua orang. Dia minta semua yang
hadir menandatangani naskah proklamasi, agar seperti Deklarasi Kemerdekaan AS. Usul
ini ditolak Soekarni (bukan Soekarno), seorang pemuda yang ikut hadir. Ini sekilas
gambaran bahwa banyak kesamaan yang ingin ditampilkan dalam revolusi Indonesia,
dengan yang dialami AS.

Paul Revere
Gagasan-gagasan orisinil dari Amerika, kembali dipraktekkan Soekarno ketika dia
menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955. Ini sebuah perhelatan
terbesar dan monumental, yang pernah ada antara negara-negara terjajah. Kota yang
dipilihnya adalah Bandung. Kota tempat dia mengawali karir sebagai pembangkang
kolonialisme dan juga tempat romantisme yang ia reguk pertama kali bersama Inggit
Garnasih, mojang priangan yang menjadi istri sekaligus dinamonya untuk menggigit
keangkuhan kolonial.
Tanggal dibukanya KAA pun dipilih Soekarno hari 18 April 1955. Tepat 180 tahun silam
dia mengenang peristiwa seorang pria mengendarai kuda dengan kencang pada malam
hari di pedusunan New Hampshire. Pria itu membangunkan kaum revolusioner Amerika,
karena pasukan kolonial Inggris sudah mendekat. Orang itu adalah Paul Revere.
Tindakan Revere tersebut, seperti membangunkan orang untuk makan sahur, menjadi
sangat patriotik bagi bangsa Amerika. Pagi harinya, pejuang Amerika sudah siap tempur
dan meletuslah perang di medan Lexington. Letusan bedil yang terjadi di situ, menjadi
awal perang kemerdekaan yang menyulap dunia.
Soekarno mengenang dengan baik peristiwa itu, saat dia pidato membuka KAA, untuk
menyiram semangat nasionalisme pada bangsa-bangsa Asia Afrika. Setelah konferensi
dibuka dengan mengheningkan cipta untuk Albert Einstein, yang wafat pada hari itu, dia
bergaya bagai seorang presiden AS, menyebut perang yang dibangunkan oleh Revere itu,
sebagai perang anti-kolonialisme pertama yang berhasil dalam sejarah manusia. Tak lupa
dia membaca sajak dari penyair AS Henry Longfellow tentang Revere, dihadapan hadirin
yang justru kebanyakan anti-Amerika.
Indonesian kiss
Dasawarsa 1950-an menjadi kurun paling liberal dalam sejarah Indonesia, dan juga
paling Amerika, yang menghembuskan budayanya sangat deras. Dan Soekarno membuka
pintunya lebar-lebar. Lihat saja masa itu, misi budaya, seni, sosial, olahraga dari AS
berdatangan, karena menganggap negeri ini tempat nyaman yang dipimpin oleh seorang
yang cinta Amerika.
Seperti Martha Graham, Harleem Globerotters, Helen Keller, dan juga film-film
Hollywood yang merasuk hingga ke kepala tiap orang Indonesia. Hampir 80% film yang
beredar di sini berasal dari Hollywood. Silahkan saja Anda mengekspor sebanyak judul
yang Anda inginkan ke Indonesia, kata Soekarno sambil memberi sejumlah syarat
kepada utusan AMPEA (American Motion Pictures Exporters Association) yang
menemuinya.
Banyak orang tua yang remaja pada masa itu, mengenal baik nama-nama John Wayne,
Rita Hayworth, James Dean, Rhonda Flemming atau Marilyn Monroe. Bahkan ada
seorang bapak tua di Sumatra menamakan semua anak-anaknya dengan nama-nama

aktor/aktris Hollywood. Tak hanya itu, Soekarno pun punya helikopter kepresidenan
Hiller 360 buatan AS, yang dimilikinya tahun 1951, enam tahun sebelum Presiden AS
Dwight Eisenhower punya helikopter untuk kepresidenan.
Eisenhower paham benar kalau Soekarno mendambakan Amerika. Makanya dia tak
hanya mengundang Soekarno, tapi juga menjemputnya dengan mengirim pesawatnya,
Columbine III ke Honolulu, untuk menerbangkan Soekarno. Inilah pertama kali baginya
menginjakkan kaki ke negeri yang dipujanya. Dia melanglang melintas tanah Amerika
selama 19 hari. Kunjungan kenegaraan terlama yang pernah dilakukan kepala negara
asing ke AS. Mirip orang berziarah ke tanah suci.
Saya datang ke sini untuk membuktikan nilai-nilai Amerika yang saya tahu bertahuntahun , kata Soekarno sewaktu disambut dengan wah oleh dua sahabatnya, Wakil
Presiden Richard Nixon dan Menlu John Dulles serta Admiral Arthur Radford, panglima
gabungan (Pangab). Ketika Indonesia Raya dinyanyikan, tangan Nixon pun memegang
pundak si kecil Guntur dengan penuh kebapakan. Sebuah bahasa tubuh yang penuh
makna.
Seperti seorang presiden AS, tuan rumah menyiapkan 2300 tentara dan 10 korps musik
berdiri sepanjang jalan yang dilalui Soekarno dari bandara menuju jantung kota
Washington. Hanya untuk menyambutnya. Tapi tiba-tiba, oh..oh Soekarno minta mobil
Imperial yang ditumpanginya untuk berhenti sejenak. Dinas Rahasia (paspampres AS)
pun tak bisa berbuat banyak.
Ngapain dia? Menyalami beberapa para penyambutnya dan sempat mengelus kepala
bocah lima tahun. Setelah itu dia berjalan pelan menuju ke seorang wanita setengah baya.
Dear Mother, boleh saya cium Anda?, Soekarno memohon. Ceplok! That was an
Indonesian kiss, katanya dengan penuh perasaan saat bibirnya mendarat di wajah Lenore
Coon, si wanita paruh baya itu sambil tersenyum.
Ziarah
Presiden Eisenhower, yang lebih dikenal dengan Ike, sangat menghargai pidato Soekarno
yang mengutip patriotisme Paul Revere, waktu membuka KAA setahun sebelumnya. Dia
bersama istrinya, Mamie, menghadiahkannya sebuah replika piring perak Paul Revere.
Dia juga dipuji Amerika, karena menggelar pemilu paling liberal di dunia tahun 1955
untuk ukuran dunia ketiga, tanpa darah. Sampai kini pemilu itu juga dikenang sebagai
pemilu paling demokratis dalam sejarah Indonesia.
Aku mencintai rakyat Amerika, katanya. Makanya selama di sana, dengan gaya seperti
presiden AS, dia mendatangi tempat-tempat impiannya, yang menjadi icon Amerika di
dunia. Dia sembahyang di Islamic Center Washington. Berkhotbah di Gereja Mormon di
Utah, menikmati air terjun Niagara, berpidato di Kongres, mengunjungi Hollywood,
bermain di Walt Disney bersama Guntur (Soekarno adalah presiden pertama di dunia
yang mengunjungi taman impian itu, justru bukan tuan rumah Presiden Eisenhower),
ngobrol dengan Marilyn Monroe, juga menerima kehormatan Honorius Causa dari dua

universitas ternama, dan mendatangi Lincoln Memorial, untuk menghormati nabinya,


yang sering dia kutip dalam tiap pidato-pidatonya. Juga berziarah ke kuburan Thomas
Jefferson di Monticello, Virginia dan tempat paling suci bagi patriot AS, makam George
Washington di Mt. Vernon. Di sana dia sambil komat-kamit membaca al Fatihah di depan
kuburan mereka.
James Monroe
Siapapun bisa mendapat predikat sebagai presiden AS, selama dia mempunyai otoritas
resmi untuk membawa dan menyampaikan nilai-nilai Amerika kepada dunia. Soekarno
setidaknya sudah melakukannya. Tidak selalu harus orang Amerika asli. Seorang pria
yang berayah dari pedusunan Kenya, Afrika dan berbapak tiri orang Jawa pun, bisa akan
membuktikannya tanggal 20 Januari 2009 mendatang.
AS memang banyak berharap kepada Soekarno. Dialah pemimpin asing, yang sanggup
memberi contoh teladan pahlawan-pahlawan AS kepada dunia melalui pidato. Ketika
Amerika menjauhinya karena tak mendapatkan seperti yang diharapkan darinya,
Soekarno berang. Tak mau didikte! Sebuah sikap sangat Amerika seperti yang dicetuskan
Doktrin Monroe (doktrin Presiden AS ke 5 James Monroe yang menentang dominasi
Eropa di tanah Amerika).
Inilah sikap Soekarno yang paling Amerika. Karena ciri Amerika adalah tak mau dan tak
pernah didikte bangsa lain. Sekaligus bukti, bahwa dia (juga Indonesia) bukanlah piaraan
yang jinak bagi bangsa manapun di dunia.