Anda di halaman 1dari 14

1

BAB I
LATAR BELAKANG
1.1 Latar Belakang
Indonesia dikenal sebagai Negara yang memiliki 30.000 jenis tumbuhan dan
7.000 diketahui manfaat dan khasiatnya sebagai obat. Keanekaragaman hayati ini
perlu diteliti, dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai peningkatan kesehatan
maupun ekonomi bagi masyarakat Indonesia dengan tetap menjaga kelestarian untuk
semua tumbuhan yang ada diindonesia, apalagi yang mulai punah harusnya lebih
dilestarikan keberadaannya, agar keaneka ragaman hayati diindonesia tetap terjaga.
Ada beberapa jenis tumbuhan yang diproduksi menjadi obat tradisional dalam bentuk
minuman.
Produk obat tradisional saat ini telah banyak beredar dipasaran, hal ini
dipengaruhi oleh kepercayaan manusia tentang efek samping obat kimia yang terlalu
banyak sehingga masyarakat lebih memilih bact to nature (kembali kealam), dan
ditambah lagi dengan begitu banyaknya iklan dan promosi yang ada dimedia yang
mendorong masyarakat untuk mengkonsumsi obat tradisional ini, sementara
pengetahuan masyarakat yang belum memadai untuk dapat memilih dan
menggunakan produk

tersebut dengan tepat, benar dan aman. Seiring dengan

berjalannya waktu banyak produk obat tradisional yang diluncurkan oleh perusahaan
baik dari dalam maupun luar negeri dengan berbagai merek dan harga yang murah
sampai yang relatif lebih mahal.
Obat tradisional saat ini telah berkembang sangat pesat, Obat tradisional dapat
digunakan oleh semua orang, baik pria, anak-anak, dewasa, tua maupun muda, obat
tradisional yang ada dipasaran saat ini beragam jenis dan manfaatnya. Salah satu obat
tradisional yang sering digunakan oleh masyarakat adalah obat herbal terstandar
(kiranti).
Saat ini diketahui banyak masyarakat yang tertarik dengan produk obat herbal
terstandar (kiranti), produk kiranti saat ini diproduksi menjadi 2 macam yang satu

untuk meredakan nyeri dan memperlancar haid, dan yang satunya lagi sebagai pegal
linu, namun masyarakat tidak mengetahui efek samping dari obat herbal terstandar
(kiranti), masyarakat harusnya lebih mengetahui cara memilih produk obat herbal
terstandar buat kesehatan dengan memperhatikan efek samping dan kandungan yang
ada dalam produk tersebut. Salah satu penyebab kiranti tidak memberikan manfaat
bagi kita, karena rusaknya produk yang ditimbulkan oleh mikroorganisme.
Terdapatnya mikroorganisme dalam sediaan obat herbal terstandar (kiranti)
yaitu akibat kontaminan, kemungkinan disebabkan oleh cara pengolahan yang tidak
bersih dan sehat, cara pengepakan yang kurang bagus, cara penyimpanan yang tidak
baik dan lain-lain. Sedangkan sumbernya kemungkinan dari udara, tanah, air,
peralatan yang digunakan dalam pengolahan, atau pekerja yang melakukan proses
pembuatan. Pada umumnya sediaan-sediaan tersebut, diproduksi oleh industri secara
besar-besaran dan biasanya memakan waktu yang cukup lama dalam produksi,
penyimpanan, distribusi dan akhirnya sampai ke tangan konsumen. Jadi kemungkinan
dapat terjadi pertumbuhan mikroba di dalamnya. Obat herbal terstandar yang aman
adalah obat herbal yang tidak tercemar, tidak mengandung mikroorganisme atau
bakteri dan bahan bahannya tidak berbahaya bagi kesehatan, sehingga kualitas obat
herbal terstandar harus selalu diperhatikan baik secara bakteriologi, kimia, fisika dan
zat gizinya tidak rusak, serta tidak berbahaya bagi masyarakat.
Menurut Undang-Undang No 7 tahun 1996, keamanan pangan didefinisikan
sebagai suatu kondisi dan upaya yang perlu diperlukan untuk mencegah pangan dari
kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu bagi
kesehatan manusia (Anonim,2015).
Jenis pengujian yang diperlukan untuk produk obat herbal terstandar (kiranti)
adalah diuji cemaran mikrobanya, Uji angka lempeng total merupakan tolak ukur
mikrobiologis untuk mengetahui kebersihan pengolahan dan penanganan produk
makanan dan minuman maupun produk lainnya yang juga merupakan suatu indikasi
layak atau tidak layaknya suatu produk untuk digunakan, sehingga masyarakat yang
mengkonsumsi obat herbal menjadi lebih percaya dengan adanya pengujian tersebut.

Berdasarkan uraian diatas sehingga penulis merasa tertarik untuk menganalisa


cemaran mikroba pada obat herbal terstandar (Kiranti) yang sering dikonsumsi oleh
masyarakat, Terutama oleh kalangan wanita.
1.1 Rumusan masalah
Berapakah jumlah bakteri yang ada pada obat herbal terstandar yang beredar
yang ada dipasar central wilayah kota gorontalo
1.2 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menghitung jumlah bakteri pada obat herbal
terstandar (Kiranti) yang beredar yang ada dipasar central wilayah kota gorontalo.
1.3 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian adalah sebagai berikut :
1. Untuk menambah dan memperdalam pengetahuan peneliti mengenai cemaran
mikroba pada kiranti.
2. Sebagai informasi untuk masyarakat kualitas dari kiranti.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Obat Tradisional

Menurut UU No.36 Tahun 2009 tentang kesehatan menyebutkan, Obat


tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan
hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran bahan yang secara
turun temurun telah digunakan untuk pengobatan dan dapat diterapkan sesuai dengan
norma yang berlaku dimasyarakat. Obat tradisional terbagi atas 3 yaitu Jamu,
Fitofarmaka, dan Obat Herbal Terstandar. Obat herbal terstandar adalah sediaan obat
bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji
prakilinik dan bahan bakunya telah terstandarisasi.
Menurut dr Abidinsyah, 38 jenis OHT tersebut sudah bisa masuk ke layanan
kesehatan karena sudah lulus uji pra klinik dan uji klinik, tapi tentunya dengan
melihat kondisi pasien. Dokter harus bisa membedakan mana kondisi kritis, urgent,
preventif dan promotif.
2.1.1 Kiranti Sehat Datang Bulan
Kiranti Sehat Datang Bulan merupakan minuman tradisional Indonesia
dengan ramuan nenek moyang, yang berkhasiat untuk memperlancar haid, mengatasi
keluhan-keluhan nyeri haid, mual/muntah, mencegah keputihan dan bau badan serta
meningkatkan ketahanan tubuh agar tetap sehat dan aktif dimasa haid. Standarisasi
produksi kiranti sudah dilakukan mulai dari bahan baku sampai produk akhir dan
diformulasikan secara rasional dalam arti:
1. Bahan-bahan yang digunakan sudah teruji khasiatnya secara ilmiah.
2. Menggunakan bahan-bahan tumbuhan obat yang sudah diketahui tingkat
keamanannya dan tidak menimbulkan efek samping negatif.
3. Khasiat dan keamanannya sudah terbukti berdasarkan pengalaman nenek moyang.
Produk kiranti sudah melalui uji klinik berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan R.I
No: 760/Menkes/Per/IX/1992 (Anonim,2015).
2.2 Mikrobiologi
Mikrobiologi ialah telaah mengenai organisme hidup yang berukuran
mikroskopis. Dunia Mikroorganisme terdiri dari lima kelompok mikroorganisme
yaitu : bakteri, protozoa, virus, serta algae dan cawan mikoskopis. Mikroorganisme

sangat erat kaitannya dengan kehidupan kita, beberapa diantranya bermanfaat dan
yang lain merugikan. Banyak diantaranya menjadi penghuni dalam tubuh manusia.
Beberapa mikroorganisme menyebabkan penyakit pada manusia (Pleczar dkk, 2008).
2.2.1 Sejarah mikrobiologi
Sejarah perkembangan mikrobiologi sebelum ilmu pengetahuan dapat dibagi
menjadi tiga perode. Periode pertama dimulai dengan terbukanya rahasia suatu dunia
mikroorganisme melalui pengamatan mikroskopia oleh Leeuwenhoek pada tahun
1679. Hal ini menimbulkan rasa ingin tahu dikalangan para ilmuan mengenai asalmuasal kehidupan namun baru kurang lebih pada pertengahan 1860-an, ketika teori
generasi spontan dibuktikan ketidakbenarannya dan prinsip biogenesis diterima,
pengetahuan mengenaimikroorganisme tidak lagi bersifat spekulatif, semata-mata.
Selama periode berikutnya, anatar 1860 dan 1900, banyak dilakukan penemuan dasar
yang penting. Perkembangan teori natfah penyakit dalama tahun 1876. Hal ini
sekoyong-koyong menimbulkan minat terhadap tehnik dan prosedur laboratorium
untuk mengisolasi dan mencirikan mikroorganisme. Di dalam periode ini ditemukan
banyak mikroorganisme penyebab penyakit serta metode-metode untuk mencegah
dan mendiagnosis serta mengobati penyakit tersebut. Sejak tahun 1900, juga telah
terjadi persekutuan yang dekat antara mikrobiologi, kedokteran dan bidang-bidang
mikrobiologi terapan lainnya. Di samping itu, mikroorganisme telah menjadi system
model untuk mempelajari banyak proses biologis yang mendasar. Penemuanpenemuan bar uterus dibuat, terus ditemukan dan banyak proses biologis sedang
ditelaah melalui mikroorganisme. Mikrobiologi boleh dikata merupakan ilmu yang
masih muda. Dunia jasad renik barulah ditemukan sekitar 300 tahun yang lalu dan
makna yang sesungguhnya mengenai mikroorganisme itu barulah dipahami dan
dihargai 200 tahun kemudian, Selama 40 tahun terakhir, mikrobiologi muncul sebagai
bidang biologi yang sangat berarti.. Kini mikroorganisme digunakan oleh para
peneliti dalam penalaahan hampir semua gejala biologis yang utama (Pleczar dkk,
2008).
2.3 Bakteri

Bakteri beasal dari kata bakterion (Yunani = batang kecil), bakteri


digolongkan dalam Divisio Schizomycetes. Bakteri dari kata lain bacterium (jamak,
bacteria),adalah kelompok raksasa dari organism hidup. Mereka sangatlah kecil dan
kebanyakan uniseluler, dengan struktur sel yang relative sederhana tanpa nucleus/inti
sel, cytoskeleton, dan organel lain seperti mitokondria dan klroplas (Dwidosepputro,
2005).
Bakteri pertama dditemukan oleh Anthony van Leeuwenhoek pada tahun 1679
dengan menggunakan mikroskop buatannya sendiri. Istilah bacterium diperkenalkan
dikemudian hari oleh Ehrenburg pada tahun 1828 (Pleczar dkk, 2008).
2.3.1 Bentuk Bakteri
Bentuk bakteri terdiri atas bentuk bulat (kokus), batang (basil), dan spiral
(spirial), serta terdapat bentukantara kokus dan basil yang disebut kokobasil (Pleczar
dkk, 2008).
1. Kokus
Adalah bakteri yang berbentuk bulat sepertibola-bola kecil. Jumlah

dari

bakteri golongan basil.kelompok ini ada yang bergerombolan dan bergandengangandengan membentuk koloni. Kokus muncul dalam beberapapenataan yang khas
bergantung pada spesiesnya.
2. Basil (Bacillus)
Adalah kelompok bakteri yang berbentuk batang kecil atau tongkat pendek
silinder. Sebagai bakteri berbentuk basil. Basil dapat bergandeng dua-dua atau
terlepas satu sama lain. Ada banyak perbedaan dalam ukuran panjang dan lebar
diantara berbagai jenis basilus.
3. Spiral
Adalah bakteri yang berbentuk lengkung seperti spiral. Bakteri yang
berbentuk nm seperti ini sangatlah sedikit jenisnya dibandingkan dengan golongana
basil dan golongan kokus.
2.3.2 Ukuran Bakteri
Sel bakteri amat beragam panjangnya sel beberapa spesies dapat berukuran
100 kali lebih panjang dari pada spesies yang lain, satuan ukuran bakteri ialah

micrometer (m), yang setara dengan 1/1000 mm atau 10-3 mm. Bakteri yang paling
umum dipelajari dipraktikum mikrobiologi dasar berukuran kira kira 0,5-1,0 x 2,05,0 sampai 1 m dan panjang 2 sampai 3 m. Sel beberapa spesies bakteri amat
panjang. Panjangnya dapat melebihi 100 m dan diameternya berkisar antara 0,1
0,2 m (Dwidoseputro,2005).
2.3.3 Ciri Ciri Bakteri
Bakteri memiliki ciri cirri yang membedakannya dengan makhluk lain yaitu
sebagai berikut :
1 organisme multiseluler
2 prokariatik ( tidak memiliki membran dan inti sel)
3 umumnya tidak memiliki klorofil
4 memiliki bentuk tubuh yang beraneka ragam
5 hidup bebas atau parasit
6 yang hidupnya kosmopolit di berbagai lingkungan dinding selnya mengandung
peptidoglikan
7 yang hidup di lingkungan ekstrim seperti pada mata air panas, kawah atau gambut
dinding selnya tidak megandung peptidoglikan
8 memiliki ukuran tubuh yang bervariasin (Pkeczar dkk, 2008)
2.3.4 Bakteri yang Merusak Minuman
Kerusakan yang paling umum terjadi pada bahan minuman adalah
pembusukan, dan dapat disebabkan oleh bakteri ataupun jamur. Pada umumnya
bahan makanan seperti telur, daging,dan sayuran,dan buah- buahan akan sangat cepat
membusuk kalau dibiarkan/disimpan tanpa aturan. Karena lingkungan dimana bahan
makanan tersebut, dengan mudah kan tercium bau yang khas, sehingga tidak mungkin
untu di konsumsi. Dipihak lain seringkali makanan dan minuman yang mengandung
enterotoksin dalam jumlah cukup banyak utuk bau rasa dan normal,sehingga masih di
konsumsi dan dapat menimbulkan keracunan. Dan adapun bakteri penyakit asal
makan adalah :
1 salmonella

Salmonella adalah infeksi oleh bakteri genus salmonella yang menyerang


saluran gastroinintestin yang mencakup perut, usus halus dan usus besar.
Penjangkitan salmonella eksplosit. Sala satu bakteri garam negatif, berbentuk
batang, tidak berbentuk spora dan bersipat patogen. Bakteri ini dapat tumbuh baik
pada suhu kamar 37 C. beberapa spesies sanmonella dapat menyebabkan infeksi
makanan termasuk didalamnya adalah S.Enteritidisvar thypimurium dan varietas
lainnya adalah S.Cholraesuis. bakteri ini dapat menyebabkan demam entri,
contohnya adalah demam tifus yang disebabkan oleh S.Thypi dan S.pharatypi.
pangan yang sering tercemar oleh bakteri adalah sosis, ikan asap, susu segar, es
krim, coklat susu, dan pangan yang dibuat dari telur ( Irianto, 2006)
2 Eschericia coli
E. coli adalah bakteri berbentuk batang, bersifat garam negatif, tidak
berkapsul dan tidak bergerak aktif. Eschericia coli umumnya diketahui terdapat
secara normal dalam alat pencernaan manusia dan hewan. Eschericia coli yang
menyebabkan penyakit pada manusia disebut Entero Phatogenik Eschericia coli
(EPEC). Pangan yang terkontaminasi oleh bakteri ini adalah susu, air minum, daging,
keju, dan lain - lain (Nurwantoro,1997).
3 Staphylococcus aureus
Peracun yang umumnya terjadi karena termakannya toksin yang dihasilkan
oleh galur galur toksigenetik. Merupakan bakteri garam positif, tidak dapat
bergerak, tidak membentuk spora, selnya berbentuk kokus (bulat). Staphylococcus
aureus menghasilkan toksin yang disebut enterotoksin yang tahan panas dan dapat
menyebabkan gastroenteristis. Disamping cemaran oleh pangan seperti daging
unggas, daging merajh, ikan, susu, namun organism juga disebabkan dari orang yang
mengelola makanan yang merupakan penular.
(Irianto, 2006).
2.4 Pengujian Bakteri

Analisis bakteri khususnya pada bahan makanan dapat dilakukan secara


kualitatif. Analisis kuantitatif bakteri pada bahan pangan penting dilakukan untuk
mengetahui mutu bahan pangan dan menghitung proses pengawetan yang akan
diterapkan pada bahan pangan tersebut (Cahyani wisnu, 2006).
2.4.1 Uji Kualitatif
Dalam analisis kualitatif mikroorganisme diperlukan beberapa tahap untuk
dapat memperbanyak jumlah bakteri-bakteri tersebut sehingga mempermudah untuk
mendeteksi dan mengisolasinya. Tahap-tahap tersebut meliputi:
1. Tahap perbanyakan (Enrichment),yaitu memperbanyak bakteri yang akan diuji,
sedangkan bakteri lainnya di hambat pertumbuhanny. Jika di perlukan tahap ini
dapat diperlukan dalam 2 tahap yaitu preenrichment dan anrichment.
2. Tahap seleksi yaitu memisahkan pada medium selektif sehingga koloni bakteri
yang akan diuji mudah disolasi.
3. Tahap isolasi yaitu memisahkan bakteri yang akan diuji dari mikroba lainnya.
4. Tahap identifikasi primer, yaitu membedakan bakteri yang diuji dari bakteri
bakteri lainnya yang sifat-sifatnya sangat berbeda
5. Tahap identifikasi lengkap, yaitu membedakan bakteri yang diuji dari bakteri yang
lainnya yang sekelompok dengan sifat-sifat yang hamper sama, seperti uji serologi
dan uji biokimia. Uji serologi adalah membedakan bakteri berdasarkan sifat-sifat
antigeniknya. Bersaman dengan uji serologi dapat dilakukan uji biokimia utuk
memperkuat identifikasi tersebut (Pleczar dkk,2008)

2.4.3 Uji Kuantitatif


Metode perhitungan kuantitatif adalah cara perhitungan jumlah sel. Dalam
perhitungan ini yang umum digunakan yaitu hitungan secara mikroskopik, cawan,
dan MPN (Most Probable Number), Hitungan mikroskopik sering digunakan untuk

10

menguji bahan makanan yang mengandung bakteri dalam jumlah yang tinggi (Pleczar
dkk, 2008).
Metode perhitungan cawan adalah metode perhitungan secara tidak langsung
yang didasarkan pada anggapan bahwa setiap sel yang dapat hidup akan berkembang
menjadi satu koloni yang merupakan suatu indeks bagi jumlah organinisme yang
dapat hidup yang terdapat pada sampel (Pleczar dkk, 2008).
Metode perhitungan cawan memiliki prinsip yaitu jika sel jasad renik yang
masih hidup ditumbuhkan pada media agar, maka sel jasad renik tersebut akan
berkembang biak membentuk koloni yang dapat dilihat langsung dan dihitung dengan
mata tanpa menggunkan mikroskop (Pleczar dkk, 2008).
Sebagai salah satu metode perhitungan, hitungan cawan ini memiliki
kelebihan dan kekurangan. Adapun kelebihan dari metode perhitungan cawan :
a. Hanya sel yang masih hidup yang dihitung
b. Beberapa jenis jasad renik yang dapat dihitung sekaligus
c. Dapat digunakan untuk isolasi dan identifikasi jasad karena koloni yang terbentuk
mungkin berasal dari suatu jasad renik yang memiliki penampakan pertumbuhan
spesifik.
Selain keuntungan, perhitungan cawan memiliki kelemahan sebagai
berikut :
a. Hasil perhitungan tidak menunjukan jumlah sel mikroba yang sebenarnya, karena
beberapa sel yang berdekatan mungkin menghasilkan nilai yang berbeda.
b. Medium dan kondisi yang berbeda mungkin menghasilkan nilai yang berbeda.
c. Memerlukan persiapan dan waktu inkubasi beberapa hari sehingga pertumbuga
kuloni dapat dihitung
Dan dapat dihitung seabagai berikut :
Koloni per ml = jumlah koloni x =

1
faktor pengenceran

Cara menghitung koloni dengan metode SPC (standar plate count) :


a. Cawan yang dipilih dan dihitung adalah yang mengandung jumlah koloni
antara 30 dan 300.

11

b. Beberapa koloni yang bergabungmenjadi satu merupakankumpulan koloni


yang besar dimana jumlah koloninya diragukan, dapat dihitung sebagai satu
koloni.
c. Suatu deretan (rantai) yang terlihat sebagai suatu garis tebal dihitung sebagai
satu koloni (peleczar dkk,2008).
Metdode hitungan cawan dapat dibedakan menjadi dua yaitu metode tuang
( pour plate ) dan metode permukaan ( surface spread plate ).
1. Metode tuang
Metode cawan tuang sangat mudah dilakukan karena tidak membutuhkan
keterampilan khusus dengan hasil biakan yang cukup baik. Metode ini dilakukan
dengan pengenceran sumber isolator yang telah diketahui beratnya ke dalam 9 mlm
gram fisiologi (Nacl 0,8 %) atau larutan buffer fosfat. Larutan ini berperan sebagai
penyangga pH agar sel bakteri tidak rusak akibat menurunnya pH lingkungan.
Pengenceran dapat dilakukan beberapa kali agar biakan yang didapatkan tidak terlalu
padat atau memenuhi cawan (biakan terlalu padat akan mengganggu pengamatan)
(Fardiaz,1993).
2. Metode permukaan
Pada permukaan dengan metode permukaan, agar steril terlebih dahulu
dituangkan kedalam cawan petri steril dan biarkan membeku. Setelah membeku
dengan sempurna, kemudian sebanyak 0,1 yang telah diencerkan dipipet pada
permukaan agar tersebut. Sebuah batang gelas molekul (Hocky stick) diselupkan ke
dalam alcohol 95% dan dipijarkan sehingga alcohol habis terbakar. Setelah dingin,
batang gelas tersebut digunakan untuk meratakan medium agar dengan cara
meratakan cawan diatas meja, selanjutnya diinkubasi dilakukan seperti pada metode
tuang (Fardiaz, 1993).

12

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan dilaboratorium mikrobiologi jurusan kesehatan
masyarakat pada bulan april sampai mei 2015, Fakultas FIKK Universitas Negeri
Gorontalo.
3.2 Jenis Penelitian

13

Penelitian ini merupakan experiment laboratorium yaitu untuk mengetahui


jumlah bakteri pada kiranti yang beredar diwilayah kota gorontalo.
3.3 Objek Penelitian
Objek penelitian yaitu kiranti sehat datang bulan dan kiranti pegal linu yang
diperoleh dari 3 toko dipasar central
3.4 Metode Penelitian
3.4.1 Alat
Autoklaf, Bunsen, Colony counter, gelas ukur, Inkubator, dispo 1 ml, Cawan
petri, Tabung reaksi, dan Vortex, Batang pengaduk.
3.4.2 Bahan
Aquadest, Alkohol 70%, Aluminium foil, Natrium Agar (NA), tisu, label, dan
kiranti.
3.5 Cara kerja
Tahap persiapan yang perlu diperhatikan adalah :
1. Sterilisasi alat
Alat dan bahan akan dipakai terlebih dahulu kemudian disterilisasi. Alat-alat
tersebut dicuci dan dikeringkan kemudian dilindungi dengan cara dibungkus
dengan kertas bersih dan diletakkan dibak untuk mencegah kontaminasi kemudian
diletakkan dalam oven selama 2-3 jam pada suhu 1600C, Tetapi ada juga alat dan
bahan tertentuyang disterilkan didalam autoclave pada suhu 121 0C selama 15-20
menit tekanan 15 atm.
2. Pembuatan Media Nutrie Agar (NA)
Menimbang NA sebanyak 4,5 gram kemudian dilarutkan dalam 225 ml aquadest
steril pada gelas beker, selanjutnya dipanaskan diatas kompor gas dan diaduk
secara perlahan-lahan. Setelah NA semua larut, kemudian diangkat dan dituang ke
dalam Erlenmeyer dan ditutup dengan alumunium foil, lalu disterilkan di
autoclave dengan suhu 1210C selama 15 menit, dan media siap digunakan.
3. Pengambilan dan Persiapan Bahan Penelitian
Sampel berupa kiranti yang diambil dari beberapa toko dan sampel yang
digunakan dalam keadaan baik. Adapun tahap-tahap penelitian sebagai berikut :
a. Pengolahan Sampel

14

Ditimbang sejumlah 1 g sampel kiranti kedalam Erlenmeyer atau wadah yang


sesuai, yang telah berisi 9 ml larutan (NaCL fisiologis) hingga diperoleh
pengenceran 1:10. Dikocok dengan baiki kemudian sampel diisi ke dalam
tabung reaksi lalu diambil 1 ml dari tabung reaksi tersebut dan dimasukkan ke
dalam tabung reaksi yang berisi 9 ml sampel (pengenceran 10 -1). Diambil 1 ml
pengemceran 10-2, dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 9 ml air
suling steril, dan dikocok hingga homogeny, (pengenceran 10-2), demikian
seterusnya hingga pengenceran sampai 10-2, demikian seterusnya hingga 10-5.
b. Inokulasi
Cara kerja yang dilakukan dalam perhitungan bakteri adalah menumbuhkan
bakteri pada media Nutrient agar pada cawan petri hingga dengan
menggunakan metode tuang atau pour plate. Dari masing-masing pengenceran
diambil suspense sebanyak 1 ml dengan menggunakan pipet, lalu dipindahkan
kedalam cawan petri kemudian dituangkann Nutrient agar cair sebanyak 10-15
ml. Cawan petri digerakkan perlahan-lahan agar suspense kirantitercampur rata
dalam media, kemudian didiamkan selama 10-15 menit sampai Nutrient agar
menjadi dingin dan padat.
c. Inkubasi
Setelah Nutrient agar menjadi dingin dan padat lalu diinkubasi ke dalam
incubator dengan suhu 370C selama 72 jam dengan cara meletakkan cawan petri
dalam keadaan terbalik.
d. Perhitungan jumlah koloni bakteri
Setelah akhir masa inkubasi koloni yang terbentuk dihitung. Perhitungan
kjumlah koloni dilakukan dengan alat hitung Quebec Coloni Counter. Untuk
menhitung koloni bakteri digunakan rumus sebagai berikut : Koloni per ml =

jumlah koloni x =

1
faktor pengenceran