Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN PRAKTIK PROFESI KEPERAWATAN JIWA

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS RIAU
NAMA
NIM
TANGGAL
RUANGAN
DIAGNOSA

: WILDA OKTAVIANI
: 1111114074
: 9-28 NOVEMBER 2015
: KAMPAR
: ISOLASI SOSIAL

A. Pengertian
Gangguan hubungan sosial merupakan suatu gangguan hubungan interpersonal yang
terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang menimbulkan perilaku
maladaptive dan mengganggu fungsi seseorang dalam berhubungan sosial. Tiap individu
mempunyai potensi untuk terlibat dalam hubungan sosial pada berbagai tingkat hubungan,
yaitu hubungan intim biasa sampai hubungan saling ketergantungan dalam menghadapi dan
mengatasi berbagai kebutuhan setiap hari. Individu tidak mampu memenuhi kebutuhannya
tanpa adanya hubungan dengan lingkungan sosial. Oleh karena itu individu perlu membina
hubungan interpersonal.
Keputusan hubungan dapat dicapai jika individu terlibat secara aktif dalam proses
berhubungan. Peran serta yang tinggi dalam berhubungan diserta respons lingkungan yang
positif akan meningkatkan rasa memiliki, kerjasama, hubungan timbale balik yang sinkron
(Stuart & Laraia, 2005). Pemutusan proses hubungan terkait erat dengan ketidakpuasan
individu terhadap proses hubungan yang disebabkan oleh kurangnya peran serta, respons
lingkungan yang negative. Kondisi ini dapat mengembangkan rasa tidak percaya diri dan
keinginan untuk menghindar dari orang lain.
B. Tanda dan Gejala
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Menyendiri dalam ruangan


Tidak berkomunikasi, menarik diri, tidak melakukan kontak mata
Sedih, afek datar
Perhatian dan tindakan tidak sesuai dengan usia
Apatis
Mengekspresikan penolakan atau kesepian pada orang lain

7. Menggunakan kata kata simbolik


8. Kontak mata kurang, tidak mau menatap lawan bicara
C. Perkembangan Hubungan Sosial
Kemampuan hubungan sosial berkembang sesuai dengan proses pertumbuhan dan
perkembangan individu mulai bayi sampai usia lanjut. Untuk mengembangkan hubungan
sosial yang positif, setiap tugas perkembangan diharapkan dapat dilalui. Tugas-tugas
hubungan sosial menurut tahap perkembangan:
1. Bayi
Bayi sangat tergantung pada orang lain dalam memenuhii kebutuhannya. Bayi
menggunakan komunikasi yang sederhana untuk memenuhi kebutuhannya misalnya
menangis. Respons ibu atau pengasuh terhadap kebutuhan bayi, harus sesuai dengan
harapannya agar bayi berkembang rasa percaya diri terhadap lingkungan dan orang lain.
Kegagalan pemenuhan kebutuhan bayi

tergantung pada orang lain akan

mengakibatkan rasa tidak percaya terhadap diri sendiri, orang lain dan menarik diri
(Riyadi & Purwanto, 2009).
2. Pra sekolah
Anak pra sekolah mulai memperluas hubungan sosialnya diluar lingkungan keluarga.
Anak menggunakan kemampuan yang telah dimiliki untuk berhubungan dengan
lingkungan diluar rumah. Dalam hal ini anak membutuhkan dukungan dan bantuan dari
keluarga khususnya pemberian pengakuan yang positif terhadap perilaku anak yang
adaptif. Hal ini merupakan dasar rasa otonomi anak yang berguna untuk mengembangkan
kemampuan hubungan interpersonal.
Kegagalan anak dalam berhunbungan dengan lingkungan disertai respons keluarga
yang negative akan menyebablan anak menjadi tidak mampu mengontrol diri, tidak
mandiri, pesimis dan takut perilakunya salah.
3. Anak usia sekolah
Anak mulai mengenal hubungan yang lebih luas khususnya lingkungan sekolah. Pada
usia ini anak mulai mengenal bekerjasama, kompetisi, dan kompromi. Konflik sering
terjadi dengan orang tua karena pembatasan dan dukungan yang tidak konsisten. Teman
dengan orang dewasa di luar keluarga merupakan sumber penting pada anak.

Kegagalan dalam membina hubungan dengan teman sekolah, kurang dukungan guru
dan pembatasan dari orang tua mengakibatkan frustasi terhadap kemampuannya, putus
asa, merasa tidak mampu dan menarik diri.
4. Remaja
Pada usia ini anak mengembangkan hubungan intim dengan teman sebaya, lebih
memperhatikan hubungan dengan lawan jenis. Hubungan dengan teman sangat
tergantung, sedangkan hubungan dengan orang tua mulai independen.
Kegagalan membina hubungan dengan teman dan kurangnya dukungan orang tua
akan mengakibatkan keraguan akan identitas, ketidakmampuan mengidentifikasi karir
dan rasa percaya diri yang kurang.
5. Dewasa muda
Pada usia ini individu mempertahankan hubungan interdependen dengan orang tua
dan teman sebaya. Individu belajar mengambil keputusan dengan memperhatikan saran
dan pendapat orang lain, seperti: memilih pekerjaan, memilih karier, melangsungkan
perkawinan.
Kegagalan individu dalam melanjutkan kuliah, pekerjaan, perkawinan akan
mengakibatkan indidvidu menghindari hubungan intim, menjauhi orang lain dan merasa
putus asa.
6. Dewasa Tengah
Individu pada usia dewasa ini, mengalami penurunan ketergantungan pada orang tua,
telah pisah tempat tinggal dengan orang tua, khususnya individu yang telah menikah. Jika
ia telah menikah maka peran menjadi orang tua dan mempunyai hubungan antar orang
dewasa merupakan situasi tempat menguji kemampuan hubungan onterdependen.
Kegagalan dalam tugas perkembangan ini akan menyebabkan produktovitas dan
kreativitas berkurang, individu hanya perhatian terhadap diri sendiri dan kurang perhatian
terhadap orang lain.
7. Dewasa Lanjut
Pada masa ini individu akan mengalami kehilangan fisik, kegiatan pekerjaan,
pasangan hidup, anggota keluarga. Individu memerlukan dukungan orang lain dalam
menghadapi kehilangan.

C. Rentang Respons Sosial


Manusia adalah makhluk social yang dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari
membutuhkan orang lain dan lingkungan sosial. Hubungan dengan orang lain dan lingkungan
sosial akan memnimbulan respons social pada individu. Rentang respons social tersebut
digambarkan pada gambar sebagai berikut: (Riyadi & Purwanto, 2009)
Rentang respons
Respons adaptif

Respons maladaptif

Solitude

Kesepian

Manipulasi

Autonomy

Penarikan diri

Impulsivity

Mutuality

Tergantung

Narcisism

Interdependen

Isolasi sosial
Gambar 1. Rentang respons social

Respons adaptif adalah respons individu dalam menyelesaikan dengan cara yang dapat
diterima oleh norma-norma masyarakat. Respons ini meliputi:
1. Solitude atau menyendiri
Merupakan repons yang dilakukan individu untuk merenungkan apa yang telah terjadi
atau dilakukan dan suatu cara mengevaluasi diri dalam menentukan rencana-rencana.
2. Autonomy
Merupakan kemampuan individu dalam menentukan dan menyampaikan ide, pikiran,
perasaan dalam hubungan sosial. Individu mampu menetapkan diri untuk interdependen
dan pengaturan diri.
3. Mutuality
Merupakan kemampuan indidvidu untuk saling pengertian, saling member dan
menerima dalam hubungan interpersonal.
4. Interdependen
Merupakan suatu hubungan saling ketergantungann saling tergantung antar individu
dengan orang lain dalam membina hubungan interpersonal.

Respon maladaptif adalah respons indidvidu dalam menyelesaikan masalah dengna caracara yang bertentangan dengan norma-norma agama dan masyarakat. Respons maladaptive
tersebut antara lain:
1. Manipulasi
Merupakan gangguan sosial dimana individu memperlakukan orang lain sebagai
obyek, hubungan terpusat pada masalah pengendalian orang lain dan individu cenderung
berorientasi pada diri sendiri. Tingkah laku mengontrol digunakan sebagai pertahanan
terhadap kegagalan atau frustasi dan dapat menjadi alat untuk berkuasa pada orang lain.
2. Impulsivity
Merupakan respons sosial yang ditandai dengan individu sebagai subyek yang tidak
dapat diduga, tidak dapat dipercaya, tidak mampu merencanakan, tidak mampu untuk
belajar dari pengalaman dan miskin penilaian.
3. Narcisism
Respons sosial ditandai dengan individu memiliki tingkah lakuk egosentris, harga diri
yang rapuh, terus menerus berusaha endapatkan penghargaan dan mudah marah jika tidak
mendapat dukungan dari oranng lain.
4. Isolasi sosial
Adalah keadaan di mana seorang individu mengalami penurunan atau bahkan sama
sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain disekitarnya. Pasien mungkin merasa
ditolak, tidak diterima, kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang berarti
dengan orang lain.
D. Pohon Masalah
Gangguan sensori persepsi: halusinasi

Isolasi Sosial

Gangguan konsep diri: harga diri rendah

(Efek)

(Care problem)

(Cause)

E. Proses Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian perlu dikaji faktor predisposisi, faktir presipitasi, perilaku dan mekanisme
koping pada klien dengan gangguan hubungan sosial yaitu:
a. Faktor predisposisi
Beberapa faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubunga sosial yaitu:
1) Faktor Perkembangan
Pada setiap tahap tumbuh kembang terdapat tugas-tugas perkembangan yang
harus terpenuhi. Apabila tugas tersebut tidak terpenuhi maka akan mempengaruhi
hubungan sosial. Misalnya anak yang kurangnya kasih sayang, dukungan, perhatian
dan kehangatan dari orang tua akan memberikan rasa tidak aman dan menghambat
rasa percaya.
2) Faktor biologis
Organ tubuh dapat mempengaruhi terjadinya gangguan hubungan sosial. Misalnya
kelainan struktur otak dan struktur limbik diduga menyebabkan skizofrenia. Pada
klien skizofrenia terdapat gambaran struktur otak yang abnormal: otak atropi,
perubahan ukuran dan bentuk sel limbic dan daerah kortikal.
3) Faktor sosial budaya
Norma-norma yang salah di dalam keluarga atau lingkungan dapat menyebabkan
gangguan hubungan sosial. Misalkan pada pasien lansia, cacat, dan penyakit kronis
yang diasingkan dari lingkungan.
b. Faktor Presipitasi
1. Stresor sosial budaya
adalah stress yang ditimbulkan oleh sosial dan budaya masyarakat. Kejadian atau
perubahan dalam kehidupan sosial-budaya memicu kesulitan berhubungan dengan
orang lain dan cara berprilaku.
2. Stresor psikologis
adalah stress yang disebabkan karena kecemasan yang berkepanjangan dan
terjadinya individu untuk tidak mempunyai kemampuan mengatasinya.

c. Mekanisme Koping
Mekanisme pertahanan diri yang sering digunakan pada masing-masing gangguan
hubungan sosial yaitu regresi, proyeksi, represi dan isolasi.
d. Perilaku
Perilaku pada klien gangguan sosial menarik diri yaitu: kurang sopan, apatis, sedih,
efek tumpul, kurang perawatan diri, komunikasi verbal turun, menyendiri, kurang peka
terhadap lingkungan, kurang energi, harga diri rendah dan sikap tidur seoerti janin saat
tidur. Sedangkan perilaku pada gangguan sosial curiga meliputi tidak mempercayai orang
lain, sikap bermusuhan, mengisolasi diri dan paranoid. Kemudian perilaku pada klien
dengan gangguan sosial manipulasi adalah kurang asertif, mengisolasi diri dari
lingkungan, harga diri rendah, dan sangat tergantung pada orang lain.
2. Diagnosa Keperawatan
Setelah mengumpulkan semua data, perawat kemudian menganalisa data dan
merumuskan siagnosis keperawatan. Subyek dari diagnosis keperawatan ini menyangkut
respons perilaku klien terhadap stress yang diakibatkan dari hubungan sosial. Diagnosis
keperawatan NANDA yang berkaitan dengan gangguan sosial sebagai berikut:
Diagnosis keperawatan NANDA yang terkait dengan masalah gangguan hubungan
sosial sebagai berikut:
Penyesuaian, Gangguan
Ansietas
Koping, Ketidakefektifan
Proses keluarga, Gangguan
Identitas pribadi, Gangguan
Kesepian, Resiko
Performa peran, Ketidakefektifan
Harga diri, Resiko rendah situasional
Hargaa diri, Rendah situasional
Perilaku mencederai diri
Perilaku mencederai diri, Resiko
Interaksi sosial, Hambatan
Isolasi Sosial
Bunuh diri, Risiko
Penatalaksanaan program terapeutik, Ketidakefektifan, ketidakefektifan keluarga.
Proses pikir, Gangguan
Perilaku kekerasan, Risiko terhadap orang lain
Perilaku kekerasan, Risiko terhadap diri sendiri

3. Perencanaan
a. Tujuan umum
Klien mampu mencapai kepuasan interpersonal yang maksimal dengan membina
dan mempertahankan hubungan peningkatan diri dengan orang lain.
b. Tujuan khusus
Berikut ini contoh tujuan khusus pada klien dengan gangguan isolasi sosial
1) Klien mampu:
a) Membina hubungan saling percaya.
b) Menyadari penyebab isolasi sosial.
c) Berinteraksi dengan orang lain.
2) Keluarga mampu merawat klien dirumah
4. Implementasi
Contoh tindakan keperawatan pada klien masalah isolasi sosial
Tujuan
Pasien mampu membina hubungan
saling percaya.

Klien mampu menyadari penyebab


isolasi sosial

Klien mampu berinteraksi dengan


orang lain secara bertahap

Tindakan Keperawatan
Mengucapkan salam setiap kali berinteraksi dengan
klien.
Berkenalan dengan klien.
Menanyakan perasaan dan keluhan klien saat ini.
Membuat kontrak asuhan (topik, waktu dan tempat)
Menjelaskan bahwa perawat akan merahasiakan
informasi yang diperoleh untuk kepentingan terapi.
Menunjukkan sikap empati terhadap pasien.
Memenuhi
kebutuhan
dasar
pasien
bila
memungkinkan.
Menanyakan tentang pendapat klien mengenai
kebiasaan berinteraksi dengan orang lain.
Menanyakan apa yang menyebabkan klien tidak
inigin berinteraksi dengan orang lain.
Mendiskusikan keuntungan bila pasien memiliki
banyak teman dan bergaul akrab dengan mereka.
Mendiskusikan kerugian bila pasien hanya
mengurung diri dan tidak bergaul dengan orang lain.
Menjelaskan pengaruh isolasi sosial terhadap
kesehatan fisik pasien.
Beri kesempatan klien mempraktekkan cara
berinteraksi dengan orang lain.
Mulailah bantu pasien berinteraksi dengan satu
orang (pasien, perawat atau keluarga).
Bila pasien sudah menunjukkan kemajuan,

tingkatkan jumlah interaksi dengan dua, tiga, empat


orang dan seterusnya.
Beri pujian untuk setiap kemajuan interaksi yang
telah dilakukan oleh pasien.
Siap mendengarkan ekspresi perasaan pasien setelah
berinteraksi dengan orang lain. Mungkin pasien akan
mengungkapkan keberhasilan atau kegagalannya.
Beri dorongan terus-menerus agar pasien tetap
semangat meningkatkan interaksinya.

Tindakan keperawatan pada keluarga masalah isolasi sosial


Tujuan
Keluarga mampu merawat klien
dirumah

Tindakan Keperawatan
Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga
dalam merawat klien.
Menjelaskan tentang masalah klien, dampak,
penyebab dan cara merawat klien.
Memperagakan cara merawat pasien isolasi sosial.
Membantu keluarga mempraktekkan cara merawat
yang telah dipelajari.

5. Evaluasi
Evaluasi difokus pada perubahan perilaku klien setelah diberikan tindakan
keperawatan. Keluarga juga perlu dievaluasi karena merupakan sistem pendukung klien.
Sebagai contoh evaluasi pada klien dengan isolasi sosial:
a. Evaluasi kemampuan klien
1) Klien menjelaskan kebiasaan interaksi
2) Klien menjelaskan penyebab tidak bergaul dengan orang lain
3) Klien menyebutkan keuntungan bergaul dengan orang lain
4) Klien menyebutkan kerugian bergaul dengan orang lain
5) Klien memperagakan cara berkenalan dengan orang lain
6) Klien bergaul dan berinterakasi dengan perawat, keluarga dan tetangga
7) Klien menyampaikan perasaannya setelah interaksi dengan orang lain
8) Klien mempunyai jadwal bercakap-cakap dengan orang lain
9) Klien menggunakan obat dengan patuh.

b. Evaluasi kemampuan keluarga


1) Keluarga menyebutkan masalah isolasi sosial dan akibatnya.
2) Keluarga menyebutkan penyebab dan proses terjadinya isolasi sosial
3) Keluarga membantu klien berinteraksi dengan orang lain
4) Keluarga melibatkan klien melakukan kegiatan di rumah tangga.

6. Contoh SP untuk pasien Isolasi Sosial


SP 1 Pasien: Membina hubungan saling percaya, membantu pasien mengenal
penyebab isolasi sosial, membantu pasien mengenal keuntungan berhubungan dan
kerugian tidak berhubungan dengan orang lain, dan mengajarkan pasien berkenalan
Orientasi (Perkenalan):
Assalammualaikum
Saya Fajri Alfiannur.., Saya senang dipanggil fajri , Saya perawat di Ruang kampar
ini yang akan merawat bapak.
Siapa nama bapak? Senang dipanggil siapa?
Apa keluhan P hari ini? Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang keluarga dan teman-teman P?
Mau dimana kita bercakap-cakap? Bagaimana kalau di ruang tamu? Mau berapa lama, P? Bagaimana
kalau 15 menit
Kerja:
(Jika pasien baru)
Siapa saja yang tinggal serumah? Siapa yang paling dekat dengan P? Siapa yang jarang bercakapcakap dengan P? Apa yang membuat P jarang bercakap-cakap dengannya?
(Jika pasien sudah lama dirawat)
Apa yang P rasakan selama P dirawat disini? O.. P merasa sendirian? Siapa saja yang P kenal di
ruangan ini
Apa saja kegiatan yang biasa P lakukan dengan teman yang P kenal?
Apa yang menghambat P dalam berteman atau bercakap-cakap dengan pasien yang lain?
Menurut P apa saja keuntungannya kalau kita mempunyai teman ? Wah benar, ada teman bercakapcakap. Apa lagi ? (sampai pasien dapat menyebutkan beberapa) Nah kalau kerugiannya tidak mampunyai
teman apa ya P ? Ya, apa lagi ? (sampai pasien
dapat menyebutkan beberapa) Jadi banyak juga ruginya tidak punya teman ya. Kalau begitu inginkah P
belajar bergaul dengan orang lain ?
Bagus. Bagaimana kalau sekarang kita belajar berkenalan dengan orang lain
Begini lho P, untuk berkenalan dengan orang lain kita sebutkan dulu nama kita dan nama panggilan
yang kita suka asal kita dan hobi. Contoh: Nama Saya P, senang dipanggil Pi. Asal saya dari dumai, hobi
memasak
Selanjutnya p menanyakan nama orang yang diajak berkenalan. Contohnya begini: Nama Bapak
siapa? Senang dipanggil apa? Asalnya dari mana/ Hobinya apa?
Ayo p dicoba! Misalnya saya belum kenal dengan p. Coba berkenalan dengan saya!
Ya bagus sekali! Coba sekali lagi. Bagus sekali
Setelah p berkenalan dengan orang tersebut S bisa melanjutkan percakapan tentang hal-hal yang
menyenangkan p bicarakan. Misalnya tentang cuaca, tentang hobi, tentang keluarga, pekerjaan dan
sebagainya.
Terminasi:
Bagaimana perasaan P setelah kita latihan berkenalan?
P tadi sudah mempraktekkan cara berkenalan dengan baik sekali

Selanjutnya P dapat mengingat-ingat apa yang kita pelajari tadi selama saya tidak ada. Sehingga P
lebih siap untuk berkenalan dengan orang lain. P mau praktekkan ke pasien lain. Mau jam berapa
mencobanya. Mari kita masukkan pada jadwal kegiatan hariannya.
Besok pagi jam 10 saya akan datang kesini untuk mengajak P berkenalan dengan teman saya, perawat
N. Bagaimana, P mau kan?
Baiklah, sampai jumpa. Assalamualaikum

SP 2 Pasien : Mengajarkan pasien berinteraksi secara bertahap (berkenalan dengan


orang pertama seorang perawat)
Orientasi :
Assalammualaikum P!
Bagaimana perasaan P hari ini?
Sudah dingat-ingat lagi pelajaran kita tetang berkenalan Coba sebutkan lagi sambil bersalaman
dengan perawat !
Bagus sekali, P masih ingat. Nah seperti janji saya, saya akan mengajak P mencoba berkenalan
dengan teman saya perawat N. Tidak lama kok, sekitar 10 menit
Ayo kita temui perawat N disana
Kerja :
( Bersama-sama P saudara mendekati perawat N)
Selamat pagi perawat N, ini ingin berkenalan dengan N
Baiklah P, P bisa berkenalan dengan perawat P seperti yang kita praktekkan kemarin
(pasien mendemontrasikan cara berkenalan dengan perawat N : memberi salam, menyebutkan nama,
menanyakan nama perawat, dan seterusnya)
Ada lagi yang P ingin tanyakan kepada perawat N . coba tanyakan tentang keluarga perawat N
Kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, P bisa sudahi perkenalan ini. Lalu P bisa buat janji
bertemu lagi dengan perawat N, misalnya jam 1 siang nanti
Baiklah perawat N, karena P sudah selesai berkenalan, saya dan P akan kembali ke ruangan P.
Selamat pagi
(Bersama-sama pasien saudara meninggalkan perawat N untuk melakukan terminasi dengan P di tempat
lain)
Terminasi:
Bagaimana perasaan P setelah berkenalan dengan perawat N
S tampak bagus sekali saat berkenalan tadi
Pertahankan terus apa yang sudah P lakukan tadi. Jangan lupa untuk menanyakan topik lain supaya
perkenalan berjalan lancar. Misalnya menanyakan keluarga, hobi, dan sebagainya. Bagaimana, mau
coba dengan perawat lain. Mari kita masukkan pada jadwalnya. Mau berapa kali sehari? Bagaimana
kalau 2 kali. Baik nanti S coba sendiri. Besok kita latihan lagi ya, mau jam berapa? Jam 10? Sampai
besok.

SP 3 Pasien : Melatih Pasien Berinteraksi Secara Bertahap (berkenalan dengan orang


kedua-seorang pasien)
Orientasi:
Assalammualaikum P! Bagaimana perasaan hari ini?
Apakah P bercakap-cakap dengan perawat N kemarin siang
(jika jawaban pasien: ya, saudara bisa lanjutkan komunikasi berikutnya orang lain
Bagaimana perasaan P setelah bercakap-cakap dengan perawat N kemarin siang
Bagus sekali P menjadi senang karena punya teman lagi

Kalau begitu P ingin punya banyak teman lagi?


Bagaimana kalau sekarang kita berkenalan lagi dengan orang lain, yaitu pasien O
seperti biasa kira-kira 10 menit
Mari kita temui dia di ruang makan
Kerja:
( Bersama-sama P saudara mendekati pasien )
Selamat pagi , ini ada pasien saya yang ingin berkenalan.
Baiklah P, P sekarang bisa berkenalan dengannya seperti yang telah P lakukan sebelumnya.
(pasien mendemontrasikan cara berkenalan: memberi salam, menyebutkan nama, nama panggilan, asal
dan hobi dan menanyakan hal yang sama).
Ada lagi yang P ingin tanyakan kepada O
Kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, P bisa sudahi perkenalan ini. Lalu P bisa buat janji
bertemu lagi, misalnya bertemu lagi jam 4 sore nanti
(P membuat janji untuk bertemu kembali dengan O)
Baiklah O, karena P sudah selesai berkenalan, saya dan P akan kembali ke ruangan P. Selamat
pagi
(Bersama-sama pasien saudara meninggalkan perawat O untuk melakukan terminasi dengan P di tempat
lain)
Terminasi:
Bagaimana perasaan P setelah berkenalan dengan O
Dibandingkan kemarin pagi, P tampak lebih baik saat berkenalan dengan O pertahankan apa yang
sudah P lakukan tadi. Jangan lupa untuk bertemu kembali dengan O jam 4 sore nanti
Selanjutnya, bagaimana jika kegiatan berkenalan dan bercakap-cakap dengan orang lain kita
tambahkan lagi di jadwal harian. Jadi satu hari P dapat berbincang-bincang dengan orang lain
sebanyak tiga kali, jam 10 pagi, jam 1 siang dan jam 8 malam, S bisa bertemu dengan N, dan tambah
dengan pasien yang baru dikenal. Selanjutnya P bisa berkenalan dengan orang lain lagi secara
bertahap. Bagaimana P, setuju kan?
Baiklah, besok kita ketemu lagi untuk membicarakan pengalaman P. Pada jam yang sama dan tempat
yang sama ya. Sampai besok.. Assalamualaikum

E. Contoh SP untuk keluarga pasien isolasi sosial


SP 1 Keluarga : Memberikan penyuluhan kepada keluarga tentang masalah isolasi
sosial, penyebab isolasi sosial, dan cara merawat pasien dengan isolasi sosial
Peragakan kepada pasangan saudara komunikasi dibawah ini
Orientasi:
Assalamualaikum Pak
Perkenalkan saya perawat fajri, saya yang merawat, anak bapak, p, di ruang kampar ini
Nama Bapak siapa? Senang dipanggil apa?

Bagaimana perasaan Bapak hari ini? Bagaimana keadaan anak P sekarang?


Bagaimana kalau kita berbincang-bincang tentang masalah anak Bapak dan cara perawatannya
Kita diskusi di sini saja ya? Berapa lama Bapak punya waktu? Bagaimana kalau setengah jam?
Kerja:
Apa masalah yang Bp/Ibu hadapi dalam merawat P? Apa yang sudah dilakukan?
Masalah yang dialami oleh anak P disebut isolasi sosial. Ini adalah salah satu gejala penyakit yang
juga dialami oleh pasien-pasien gangguan jiwa yang lain.
Tanda-tandanya antara lain tidak mau bergaul dengan orang lain, mengurung diri, kalaupun berbicara
hanya sebentar dengan wajah menunduk
Biasanya masalah ini muncul karena memiliki pengalaman yang mengecewakan saat berhubungan
dengan orang lain, seperti sering ditolak, tidak dihargai atau berpisah dengan orangorang terdekat
Apabila masalah isolasi sosial ini tidak diatasi maka seseorang bisa mengalami halusinasi, yaitu
mendengar suara atau melihat bayangan yang sebetulnya tidak ada.
Untuk menghadapi keadaan yang demikian Bapak dan anggota keluarga lainnya harus sabar
menghadapi P. Dan untuk merawat P, keluarga perlu melakukan beberapa hal. Pertama keluarga harus
membina hubungan saling percaya dengan P yang caranya adalah bersikap peduli dengan P dan
jangan ingkar janji. Kedua, keluarga perlu memberikan semangat dan dorongan kepada P untuk bisa
melakukan kegiatan bersama-sama dengan orang lain. Berilah pujian yang wajar dan jangan mencela
kondisi pasien.
Selanjutnya jangan biarkan P sendiri. Buat rencana atau jadwal bercakap-cakap dengan P. Misalnya
sholat bersama, makan bersama, rekreasi bersama, melakukan kegiatan rumah tangga bersama.
Nah bagaimana kalau sekarang kita latihan untuk melakukan semua cara itu
Begini contoh komunikasinya, Pak: P, bapak lihat sekarang kamu sudah bisa bercakap-cakap dengan
orang lain.Perbincangannya juga lumayan lama. Bapak senang sekali melihat perkembangan kamu,
Nak. Coba kamu bincang-bincang dengan saudara yang lain. Lalu bagaimana kalau mulai sekarang
kamu sholat berjamaah. Kalau di rumah sakit ini, kamu sholat di mana? Kalau nanti di rumah, kamu
sholat bersana-sama keluarga atau di mushola kampung. Bagiamana P, kamu mau coba kan, nak ?
Nah coba sekarang Bapak peragakan cara komunikasi seperti yang saya contohkan
Bagus, Pak. Bapak telah memperagakan dengan baik sekali
Sampai sini ada yang ditanyakan Pak
Terminasi:
Baiklah waktunya sudah habis. Bagaimana perasaan Bapak setelah kita latihan tadi?
Coba Bapak ulangi lagi apa yang dimaksud dengan isolasi sosial dan tanda-tanda orang yang
mengalami isolasi sosial
Selanjutnya bisa Bapak sebutkan kembali cara-cara merawat anak bapak yang mengalami masalah
isolasi sosial
Bagus sekali Pak, Bapak bisa menyebutkan kembali cara-cara perawatan tersebut
Nanti kalau ketemu P coba Bp/Ibu lakukan. Dan tolong ceritakan kepada semua keluarga agar mereka
juga melakukan hal yang sama.
Bagaimana kalau kita betemu tiga hari lagi untuk latihan langsung kepada P ?
Kita ketemu disini saja ya Pak, pada jam yang sama
Assalamualaikum

SP 2 Keluarga : Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan


masalah isolasi sosial langsung dihadapan pasien
Orientasi:
Assalamualaikum Pak/Bu
Bagaimana perasaan Bpk/Ibu hari ini?

Bapak masih ingat latihan merawat anak Bapak seperti yang kita pelajari berberapa hari yang lalu?
Mari praktekkan langsung ke P! Berapa lama waktu Bapak/Ibu Baik kita akan coba 30 menit.
Sekarang mari kita temui P
Kerja:
Assalamualaikum P. Bagaimana perasaan P hari ini?
Bpk/Ibu P datang besuk. Beri salam! Bagus. Tolong P tunjukkan jadwal kegiatannya!
(kemudian saudara berbicara kepada keluarga sebagai berikut)
Nah Pak, sekarang Bapak bisa mempraktekkan apa yang sudah kita latihkan beberapa hari lalu
(Saudara mengobservasi keluarga mempraktekkan cara merawat pasien seperti yang telah dilatihkan
pada pertemuan sebelumnya).
Bagaimana perasaan P setelah berbincang-bincang dengan Orang tua P?
Baiklah, sekarang saya dan orang tua ke ruang perawat dulu
(Saudara dan keluarga meninggalkan pasien untuk melakukan terminasi dengan keluarga)
Terminasi:
Bagaimana perasaan Bapak/Ibu setelah kita latihan tadi? Bapak/Ibu sudah bagus.
Mulai sekarang Bapak sudah bisa melakukan cara merawat tadi kepada P
Tiga hari lagi kita akan bertemu untuk mendiskusikan pengalaman Bapak melakukan cara merawat
yang sudah kita pelajari. Waktu dan tempatnya sama seperti sekarang Pak
Assalamualaikum

SP 3 Keluarga : Membuat perencanaan pulang bersama keluarga


Orientasi:
Assalamualaikum Pak/Bu
Karena besok P sudah boleh pulang, maka perlu kita bicarakan perawatan di rumah.
Bagaimana kalau kita membicarakan jadwal P tersebut disini saja
Berapa lama kita bisa bicara? Bagaimana kalau 30 menit?
Kerja:
Bpk/Ibu, ini jadwal P selama di rumah sakit. Coba dilihat, mungkinkah dilanjutkan di rumah? Di rumah
Bpk/Ibu yang menggantikan perawat. Lanjutkan jadwal ini di rumah, baik jadwal kegiatan maupun
jadwal minum obatnya
Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan oleh anak Bapak selama
di rumah. Misalnya kalau P terus menerus tidak mau bergaul dengan orang lain, menolak minum obat
atau memperlihatkan perilaku membahayakan orang lain. Jika hal ini terjadi segera hubungi perawat K
di puskemas Indara Puri, Puskesmas terdekat dari rumah Bapak, ini nomor telepon puskesmasnya:
(0651) 554xxx
Selanjutnya perawat K tersebut yang akan memantau perkembangan P selama di rumah
Terminasi:
Bagaimana Pak/Bu? Ada yang belum jelas? Ini jadwal kegiatan harian P untuk dibawa pulang. Ini
surat rujukan untuk perawat K di PKM Inderapuri. Jangan lupa kontrol ke PKM sebelum obat habis atau
ada gejala yang tampak. Silakan selesaikan administrasinya!

DAFTAR PUSTAKA
Anna, B, K. (2006). Asuhan keperawatan klien gangguan sosial menarik diri, Jakarta ; Fakultas
Issacs. (2004). Panduan belajar keperawatan kesehatan jiwa dan psikiatri, edisi 3. Jakarta: EGC
Kusumawati dan Hartono. (2010). Buku ajar keperawatan jiwa. Jakarta : Salemba Medika
Nita Fitria. (2009). Prinsip dasar dan aplikasi penulisan laporan pendahuluan dan strategi
pelaksanaan tindakan keperawatan untuk 7 diagnosis keperawatan jiwa berat. Jakarta:
Salemba Medika.
Stuart, G. W. (2007). Buku saku keperawatan jiwa. edisi 5 Jakarta: EGC.
Stuart, G. W., & Laraia. (2005). Principles and practice of psychiatric nursing, Elsevier Mosby,
Alih Bahasa Budi Santosa, Philadelphia