Anda di halaman 1dari 24

INDUSTRI PEMBUATAN ASAM SULFAT

PROGRAM STUDI KIMIA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS MATARAM
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Belerang atau sulfur adalah unsur kimia dalam tabel periodik yang
memiliki lambang S dan nomor atom 16. Belerang ditemukan dalam
meteorit. R.W. Wood mengusulkan bahwa terdapat simpanan belerang pada
daerah gelap di kawah Aristarchus. Belerang terjadi secara alamiah di
sekitar daerah pegunungan dan hutan tropis. Sulfur tersebar di alam sebagai
pirit, galena, sinabar, stibnite, gipsum, garam epsom, selestit, barit dan lainlain. Bentuknya adalah non-metal yang tak berasa, tak berbau dan
multivalent. Belerang dalam bentuk aslinya, adalah sebuah zat padat
kristalin kuning. Di alam belerang dapat ditemukan sebagai unsur murni
atau sebagai mineral- mineral sulfide dan sulfate. Ia adalah unsur penting
untuk kehidupan dan ditemukan dalam dua asam amino. Penggunaan
komersilnya terutama dalam fertilizer namun juga dalam bubuk mesiu,
korek api, insektisida dan fungisida. Belerang dikenal masyarakat
(khususnya para petani) adalah sejenis bahan untuk digunakan pembasmi
tikus. Dengan alat khusus, belerang diubah untuk menjadi asap yang
dimasukkan pada lubang-lubang tikus di persawahan, sehingga tikus
dibuatnya semaput. Manfaat belerang padahal cukup banyak khususnya
untuk dunia industri.
Asam sulfat adalah suatu bahan penting untuk berbagai proses
produksi, antara lain industri pupuk, bahan kimia maupun untuk analisa
labotarorium. Asam sulfat merupakan asam anorganik yang bisa diproduksi
secara massal dan dalam kapasitas besar. Pada umumnya setiap pabrik
memiliki unit pabrik pengolahan asam sulfat agar mengurangi biaya
pembelian bahan baku.

2.1

Sejarah Perkembangan Industri Belerang dan asam sulfat


1. Belerang
Belerang mempunyai sejarah yang tidak kalah tua dari bahan kimia
manapun dan telah berkembang dari bahan kuning menjadi suatu bahan
yang sangat bermanfaat dalam peradaban modern. Dalam upacaraupacara praperadaban, bahan ini dibakar untuk mengusir roh-roh jahat
dan bahkan pada masa itu uapnya sudah digunakan untuk memutihkan
kain dan jerami. Selama bertahun-tahun, sebuah perusahaan Perancis
memonopoli perdagangan belerang dunia dengan menguasai sumber
penting yang terdapat di Sisilia. Mungkin karena harganya sangat tinggi
dan mungkin karena di Amerika banyak terdapat pirit, penggunaan
belerang unsur di Amerika Serikat sedikit sekali sebelum tahun 1914.
Walaupun belerang ditemukan di daerah Teluk Meksiko di Amerika
Serikat pada tahun 1869, bahan itu sukar ditambang karena adanya
lapisan penutup yang terdiri dari pasir hanyut.
Penambangan belerang di Texas dan Louisiana dengan proses
Frasch berkembang sejak tahun 1914, sedemikian rupa sehingga
kemudian merupakan sumber terbesar bagi pemenuhan kebutuhan dalam
negeri Amerika Serikat dan juga masuk ke pasaran dunia. Belakangan
ini, sumber utama untuk pembuatan belerang unsur adalah H 2S yang
merupakan hasil sampingan dari desulfurisasi gas bumi asam (artinya
mengandung belerang) dan minyak bumi asam. Kanada, Perancis, dan
Amerika Serikat adalah negara-negara penghasil belerang pulihan yang
terbesar. Pada tahun 1980, produksi belerang dunia, dalam segala
bentuknya, berjumlah 54,6

106 t di antaranya 26,1% diproduksi

dengan cara frasch, 32,2% merupakan hasil pulihan, 5,5% belerang-unsur


lainnya, dan 36,2% didapatkan dari sumber-sumber bukan unsur seperti
pirit dan gas pabrik logam.
2. Asam Sulfat
Asam

sulfat

pertama

kali

ditemukan

di Iran oleh Al-

Razi pada abad ke-9. Pembuatannya melalui pembakaran belerang


2

dengan saltpeter, pertama kali dijelaskan oleh Valentinus pada abad


kelima belas. Pada tahun 1746, Roebuck dari Birmingham (Inggris)
memperkenalkan proses kamar timbal. Proses yang menarik, namun
sekarang sudah kuno.
Proses kontak pertama kali ditemukan pada tahun 1831 oleh
Phillips, seorang Inggris, yang patennya mencakup aspek aspek penting
dari proses kontak yang modern, yaitu dengan melewatkan campuran
sulfur dioksida dan udara melalui katalis, kemudian diikuti oleh absorpsi
sulfur trioksida di dalam asam sulfat 98,5 % sampai 99 %.
Pada tahun 1889, diketahui bahwa proses kontak dapat
ditingkatkan dengan menggunakan oksigen secara berlebihan di dalam
campuran gas reaksi. Dalam periode 1900 sampai 1925, banyak pabrik
asam kontak yang dibangun dengan menggunakan platina sebagai katalis.
Pada tahun 1930, proses kontak ini telah dapat bersaing dengan proses
bilik timbal pada segala konsentrasi asam yang dihasilkan. Sejak
pertengahan tahun 1920-an, kebanyakan fasilitas yang baru dibangun
dengan menggunakan proses kontak dengan katalis vanadium. Berbagai
penyempurnaan telah dilakukan, baik terhadap peralatan maupun
terhadap katalis.
Proses kontak sekarang telah banyak mengalami penyempurnaan
dan dewasa ini telah menjadi suatu proses industri yang murah, kontinu
dan dikendalikan secara otomatis. Semua pabrik asam sulfat yang baru
menggunakan proses kontak.
Salah satu kelemahan proses kamar yang menyebabkan orang
tidak memakainya lagi adalah karena proses ini hanya mampu
menghasilkan asam sulfat dengan konsentrasi sampai 78% saja.
Pemekatannya merupakan suatu operasi yang mahal, sehingga pada
tahun 1980, hanya tinggal satu pabrik saja yang menggunakan proses
kamar yang masih beroperasi di Amerika Serikat.
2.2

Bahan Baku Industri Belerang dan Asam Sulfat


Belerang terdapat dalam keadaan unsur bebas ataupun dalam
senyawa sulfida Bahan baku utama pembuatan asam sulfat adalah sulfur
atau belerang, yang berwarna kuning. Belerang di alam terdapat di kulit
bumi meliputi kira-kira 0,1% dari massa kulit bumi. Belerang dalam
3

keadaan unsur bebas terdapat di alam (daerah gunung berapi dan dalam
tanah). Dalam bentuk senyawa, belerang terdapat pada bijih-bijih seperti
pyrit (FeS2), sfalerit (ZnS), kalkoprit (CuFeS2), galena (PbS), atau pada
garam-garam sulfat seperti gips CaSO4, barium sulfat (BaSO4), maupun
magnesium sulfat (MgSO4). Sekitar 56% belerang diperoleh dengan
penambangan dari sulfur alam, 19% diperoleh dari senyawa-senyawa sulfur
seperti pyrite atau batuan sulfida/ sulfat lainnya, dan dari gas buangan
industri minyak bumi/ batu bara (H2S, SO2) 25%.
Penyebaran penambangan endapan belerang di Indonesia saat ini
baru diketahui terdapat dienam propinsi, dengan total cadangan sekitar 5,4
juta. Untuk belerang tipe sublimasi, karena proses terjadinya didasarkan
kepada aktivitas gunung berapi, maka selama gunung berapi aktif, belerang
tipe ini dapat diproduksi. Dengan demikian sumber daya belerang sublimasi
dapat dianggap tidak terbatas. Saat ini belerang termurah dihasilkan dari
China dan India.
Berikut daerah yang memiliki sumber belerang, antara lain:
1. Jawa barat
: Gunung Tangkuban perahu, Danau Putri,
Galunggung, Ceremai, Telaga bodas
2. Jawa tengah
: Gunung Dieng
3. Jawa timur
: Gunung Arjuno, Gunung Welirang, kawah Ijen.
4. Sumatera utara
: Gunung Namora
5. Sulawesi utara
: Gunung Mahawu, Soputan
6. Maluku
: Pulau Damar
Dari total jumlah sulfur yang diproduksi tersebut, sekitar 70-85%
digunakan untuk pembuatan asam sulfat. Sedangkan asam sulfat banyak
digunakan untuk industri pupuk (37%), industri bahan kimia (18%), industri
bahan warna (8%), pulp dan kertas (7%), besi baja, serat sintetis, minyak
bumi dan lain-lain.
pupuk
Refining minyak bumi
Proses kontak
Sulfur alam pyrite

SO2

H2SO4

Asam fosfat
Alumunium sulfat

Proses bilik

Rayon dan serat

timbal

Pulp
Bahan warna dan lain-lain

Gambar 1. Skema bahan baku dan penggunaan asam sulfat

Karakteristik Bahan baku dari Industri Belerang dan Asam Sulfat


1. Karakteristik Bahan Baku Penambangan dan Pembuatan Belerang
a. Mineral Sulfida
1. Bijih Pyrit (FeS2)
Sistem kristal: isometrik seperti dadu
atau kubus (striated)
Kekerasan : 6 6,5 mohs
Berat jenis : 4,95 5,10
Warna
: emas pucat
2. Sfalerit (ZnS)
Sistem Kristal :
Kekerasan
:
Berat Jenis
:
Warna

isomeristik
3,5 4 mohs
4,0

biasanya
tetapi bisa

hitam
berwarna

coklat,

kuning,

kemerahan, hijau, dan putih atau kurang umum


berwarna.
Sifat

: submetalik

Keberadaan

: Joplin, Missouri, Rosiclare, Illinois, Elmwood,


Tennessee,

Amerika

Serikat,

Broken

Hill,

Australia, Italia, Spanyol, Burma, Peru, Maroko,


Jerman, dan Inggris.
3. Kalkoprit (CuFeS2)
Sistem Kristal : tertragonal
Kekerasan

: 3,5 4 mohs

Berat Jenis

: 4,2

Warna

: kuning keemasan

Sifat

: logam

Keberadaan

: Chile, Peru, Meksiko, Eropa,


dan Afrika Selatan, dan USA.

4. Galena (PbS)

Sistem Kristal : isometrik heksoktahedral


Kekerasan

: 2,5 2,75 mohs

Berat jenis

: 7,58

Warna

: abu abu timah

Sifat

: semikonduktor

Keberadaan

: Perancis, Romania, Austria, Belgium, Italia,


Spanyol, Scotland, Inggris, Australia, Mexico,
Gunung Hermon (Israel sebelah utara), Amerika
Serikat (lembah Mississippi, di bagian tenggara
Missouri dan di Illinois, Iowa dan Wisconsin).

b. Gas Buang Minyak Bumi/ Batu Bara


1. Hidrogen sulfat (H2S)
Berat molekul
: 34.08 g/mol
Auto ignition
: 2600 C
Titik didih
: - 60.20 C
Berat jenis
: 1.189 g/cm3
Kelarutan
: 437 ml/100 ml air pada 0 0C dan 186 ml/100 ml
air pada 40 0C
Sifat
: gas beracun, korosif, dan tidak berwarna
2. Belerang dioksida (SO2)
Berat molekul
: 64,08 g/mol
Titik leleh
: 280 C
Titik didih
: -100 C
Kelarutan
: sekitar 80 volume gas larut dalam satu volume air
Sifat

pada 0oC
: berbau tajam, beracun, dan tidak mudah terbakar
diudara

2.

Karakteristik Bahan Baku Pembuatan Asam Sulfat


Sifat fisik dan kimia:
1. Berat atom
2. Titik leleh

: 32,07 g/mol
: 112,8oC (rhombik)

3. Titik didih
4. Kekerasan
5. Ketahanan

119,0oC (monoklin)
: 446oC
: 1,5 2,5 skala Mohs
: getas/ mudah hancur
(brittle)

6.
7.
8.
9.

Pecahan
Kilap
Gores
Nyala lampu

: berbentuk konkoidal dan tidak rata


: damar
: berwarna putih
: biru dan jika dibakar menghasilkan gas SO2 yang

10. Warna
11. Daya hantar
12. Kelarutan

berbau busuk
: kuning gelap atau kehitaman
: penghantar panas dan listrik yang buruk
: tidak larut dalam air (larut dalam CS2, CCl4,
minyak bumi, minyak tanah, dan anilin).

2.3

Proses Industri Belerang dan Asam Sulfat


1. Penambangan dan Pembuatan Belerang
a) Pengambilan belerang alam dari dalam tanah (Proses Frasch)
Sebelum proses Frasch dikembangkan, belerang unsur
ditambang dengan cara manual, yaitu belerang dalam bijih
dikonsentrasi dengan membakar sebagian belerang itu dalm tumpukan
agar sebagian belerang lainnya meleburdan zat cairnya ditarik keluar,
kemudian dicetak dalam cetakan.
Proses Frasch. Sejak akhir tahun 1890-an, Herman Frasch
telah menciptakan cara yang cerdik untuk melebur belerang di bawah
tanah atau di bawah laut, untuk kemudian dipompakan ke permukaan.

Gambar 2. Skema Penambangan Belerang


Lubang-lubang bor digali sampai ke dasar lapisan yang
mengandung belerang dengan menggunakan peralatan pemboran
minyak biasa, sampai kedalaman 150 750 m. Kemudian suatu
sarangan yang terdiri dari tiga pipa dengan diameter berkisar antara 3
cm sampai 20 cm dilewatkan melelui strata yang mengandung

belerang

dan berhenti di bagian atas

anhidrat

yang

tidak

mengandungnya, seperti pada gambar.


Sebuah pipa 10 cm dimasukkan ke dalam pipa 20 cm,
sehingga terbentuk sebuah ruang anulus di antara keduanya yang
menjangkau sampai hampir ke dasar batuan yang mengandung
belerang, dan duduk pada suatu kalung yang menutup rapat ruang
anulus antara pipa 20 cm dan 10 cm tersebut. Sebuah pipa dengan
diameter 3 cm dijulurkan di tengah-tengah sampai sedikit di atas
kalung. Lubang-lubang dibagian atas digunakan untuk air panas
keluar dan lubang dibagian bawah untuk belerang lebur masuk.
Untuk mengoperasikan proses Frasch ini, air panas bersuhu
160oC dilewatkan melalui ruang anulus antara pipa 20 cm dan pipa 10
cm. Air itu akan keluar melalui perforasi (lubang-lubang) ke dalam
formasi berpori di dasar sumur. Batuan yang mengandung belerang di
sekitar sumur, yang dilalui oleh sirkulasi air panas tersebut akan
menjadi panas dan suhunya naik sampai di atas titik cair belerang,
yaitu kira-kira 115oC. Belerang cair yang lebih berat dari air akan
tenggelam dan membentuk suatu kolam di sekitar dasar sumur,
kemudian masuk melalui perforasi sebelah bawah, lalu naik ke atas
melelui ruang antara pipa 10 cm dan pipa 3 cm. belerang cair itu
didorong ke atas oleh tekanan air panas sampai kira-kira separuh
ketinggian ke permukaan. Udara bekanan air panas dipompakan
melalui pipa 3 cm untuk mengaerasi belerang cair dan menurunkan
densitasnya sehingga naik kepermukaan.
Sedangkan air ditarik keluar dari formasi itu dengan laju aliran
kira-kira sama dengan laju injeksinya, agar tidak terjadi peningkatan
tekanan yang dapat menyebabkan pemasukannya terhenti. Setelah
sampai dipermukaan, belerang cair itu dialirkan melalui pipa-pipa
yang dipanaskan dengan uap ke dalam pemisah (separator), dimana
udara dikeluarkan. Belerang itu kemudian dibiarkan memadat di
dalam tong-tong penimbunan atau tetap dalam keadan cair di dalm
tangki penimbunan yang dipanaskan dengan uap.

b) Pengambilan belerang alam dari gunung berapi (Indonesia)


Deposit sulfur di gunung berapi dapat berupa batuan, lumpur
sedimen atau lumpur sublimasi, kadarnya tidak begitu tinggi (30
60%) dan jumlahnya tidak begitu banyak (600 - 1000 juta ton). Untuk
pemanfaatan sumber alam ini diperlukan peningkatan kadar sulfur
terlebih dahulu, antara lain dengan cara flotasi dan benefication
proses. Dalam flotasi dilakukan penambahan air dan frother, sehingga
sulfur akan terapung dan dapat dipisahkan. Prinsip kerja dari proses
flotasi didasarkan pada perbedaan tegangan permukaan dari mineral di
dalam air (aqua) dengan cara mengapungkan mineral ke permukaan.
Secara garis besar pemisahan dengan cara flotasi dilakukan dalam 2
tahap, yaitu tahap conditioning dan tahap pengapungan mineral
(flotasi). Tahap conditioning bertujuan untuk membuat suatu mineral
tertentu bersifat hidrofobik dan mempertahankan mineral lainnya
bersifat hidrofilik. Pada tahap conditioning ini, ke dalam pulp
dimasukkan beberapa reagen flotasi. Sedangakan tahap flotasi atau
aerasi adalah tahap pengaliran udara kedalam pulp secara mekanis
baik agitasi maupun injeksi udara.

Dari gambar di atas terlihat bahwa pada proses flotasi mineral


yang akan dipisahkan bersama dengan reagen akan menempel pada
gelembung udara dan naik ke permukaan, sedangkan sisanya berupa
pasir halus dan air yang disebut tailing. Sedangkan dalam
benefication proses, sulfur setelah ditambahkan air dan reagenreagen dipanaskan dalam autoklaf selama - jam pada tekanan 3
atm, sehingga setiap partikel kecil sulfur terkumpul, kemudian
dilakukan pencucian dengan air untuk menghilangkan tanah, lalu

dipanaskan kembali dalam autoklaf sehingga sulfur terpisah sebagai


lapisan sulfur dengan kadar 80 90%
c) Pengambilan belerang dari gas buang bahan bakar
Sulfur dapat diperoleh dari gas buang pembakaran batubara
atau pengilangan minyak bumi yang tidak boleh dibuang ke udara
karena dapat menimbulkan pencemaran.
Pengolahan gas buang untuk memperoleh sulfur ini biasa
dilakukan dengan menggunakan proses Claus. Pada proses ini, gas-gas
tersebut (H2S) terlebih dahulu diadsorpsi dengan menggunakan
etanolamin untuk memisahkannya dari gas-gas lain, yang kemudian
akan masuk ke unit Claus. Terdapat dua tahapan pada proses Clause,
yaitu thermal step dan catalityc step.

Gambar 4. Skema pengambilan belerang dari gas buang


Pada thermal step, sebagian gas H2S akan teroksidasi dengan
udara, ini dilakukan dalam tungku reaksi pada suhu tinggi (1000
1400oC ). Sehingga sulfur akan terbentuk dan akan dihasilakan pula
gas SO2, namun beberapa gas H2S tetap tidak bereaksi. Dengan reaksi
sebagai berikut:
H2S + 3O2

2SO2 + 2H2O

- 24,89 kcal

Kemudian pada catalityc step, gas H2S yang belum teroksidasi


pada thermal step direaksikan dengan SO2 pada suhu yang lebih
rendah (sekitar 200 350oC) selama katalis untuk memperoleh
belerang. Dengan reaksi sebagai berikut:
4H2S + 2SO2

S6 +

4H2O

- 42,24 kcal

Pada tahap kedua dibutuhkan katalis untuk membantu gas H2S


bereaksi lebih cepat dengan SO2. Tetapi pada tahap ini tidak semua
10

gas H2S dapat cepat bereaksi sehingga dibutuhkan dua atau tiga tahap
katalitik, seperti yang terlihat pada gambar. Setelah melalui kedua
tahap tersebut masih ada sejumlah kecil gas H 2S yang masih tertinggal
dalam tail gas, dan biasanya dapat ditangani dengan proses unit tail
gas, sehingga secara keseluruhan akan didapatkan sekitar 99,8%
sulfur.
Berikut gambar unit pemulihan belerang proses Claus dalam
industri pada pabrik Okotoks.

Gambar 5. Proses Clause dalam industri pada pabrik okotoks


d) Pengambilan belerang dari batuan sulfide
Sulfur dapat pula diambil dari batuan sulfida atau sulfat,
seperti pyrite FeS2, colcopyrite CuFeS2, covelite CuS, galena PbS, Zn
blende ZnS, gips CaSO4, anglesite PbSO4, dan lain-lain. Proses yang
dapat digunakan untuk pemulihan belerang unsur dari pyrite adalah
proses peleburan-kilat Outokumpu, proses Orkla, dan proses Noranda,
tetapi dewasa ini hanya proses Outokumpu yang masih beroperasi
secara komersial. Pada proses ini akan dihasilkan gas yang
mengandung sulfur dioksida (SO2) cukup tinggi untuk pembuatan
asam sulfat.
Contoh reaksi utama pengolahan pyrite:
FeS2
S2(g) + FeS
2FeS + 3 O2
Fe2O3 + 2SO2
2.

+25,98 kcal
-295,02 kcal

Proses Pembuatan Asam Sulfat


a. Proses kontak
Salah satu cara pembuatan asam sulfat melalui proses industri
dengan produk yang cukup besar adalah dengan proses kontak.

11

Prinsip proses kontak adalah reaksi oksidasi gas SO2 dengan


oksigen dari udara dengan memakai katalis padat dilanjutkan dengan
absorpsi gas SO3 yang dihasilkan untuk membentuk asam sulfat.
Reaksi Utama :
S(s) + O2(g)
SO2(g)
-70,9 kcal
SO2(g)

+ O2(g)

SO3(g)

-23,0 kcal

Pt merupakan katalis yang mula-mula dipakai karena katalis


ini aktif pada suhu di atas 4000C. Reaksinya merupakan reaksi
keseimbangan dan ekoterm sehingga digunakan sejumlah konverter
adiakat yang dipasang secara seri dan dipasang pendingin di antara
masing-masing konverter untuk mendapatkan konversi sampai 95%.
Konversi reaksi harus tinggi karena SO2 yang tak bereaksi
menimbulkan polusi udara.
Proses Kontak dengan Absorpsi Tunggal
Bila menggunakan bahan baku seperti bijih sulfida, asam
bekas pakai atau lumpur asam, diperlukan pemurnian gas yang
cukup ekstensif. Kalor yang dilepas pada waktu reaksi katalitik
dimanfaatkan untuk memanaskan gas SO2 di dalam penukar
kalor sebelum masuk konversi katalitik. Kalor yang keluar
dalam pemanggangan bijih atau dalam pembakaran asam bekas
biasanya dipulihkan dalam bentuk uap bertekanan rendah.
Bahan yang digunakan pada proses ini adalah belerang dan
melalui proses berikut.
a. Belerang dibakar di udara, sehingga bereaksi dengan oksigen
dan menghasilkan gas belerang dioksida.
S(s) + O2

SO2(g)

b. Belerang dioksida direaksikan dengan oksigen dan dihasilkan


belerang trioksida.
SO2(g) + O2(g)

SO3(g)

Reaksi ini berlangsung lambat, maka dipercepat dengan


katalis vanadium pentaoksida (V2O5) pada suhu 450 C.
c. SO3 yang dihasilkan, kemudian dipisahkan, dan direaksikan
dengan air untuk menghasilkan asam sulfat.
12

SO3(g) + H2O(l)

H2SO4(aq)

d. Reaksi tersebut berlangsung hebat sekali dan menghasilkan


asam sulfat yang sangat korosif. Untuk mengatasi hal ini, gas
SO3 dialirkan melalui menara yang di dalamnya terdapat
aliran H2SO4 pekat, sehingga terbentuk asam pirosulfat
(H2S2O7) atau disebut oleum. Asam pirosulfat direaksikan
dengan air sehingga menghasilkan asam sulfat dengan kadar
98%.

Berikut ini adalah diagram alir pabrik asam sulfat


kontak yang menggunakan pembakaran belerang dan
absorpsi tunggal.

Gambar 6. Diagram alir proses kontak absorpsi tunggal

Proses Kontak dengan Absorpsi Ganda


Proses kontak kemudian mengalami modifikasi secara
berangsur-angsur dan menggunakan absorpsi ganda (juga
disebut katalis ganda), sehingga hasilnya lebih tinggi dan emisi
SO2 yang belum terkonversi dari cerobong asap berkurang.
Dalam konfigurasi aliran ini, gas yang keluar dari menara
absorpsi pertama dipanaskan lagi melalui pertukaran kalor
13

dengan gas konverter bawah dan masuk kembali dalam tahap


akhir konverter itu. Oleh karena itu, kadar sulfur trioksidanya
rendah, reaksinya:
SO2(g) + O2(g)

SO3(g)

Reaksi dapat berlangsung lebih jauh pada arah yang


dihendaki dan pemulihan dapat lebih tinggi dan mencapai
98,5%.
Berikut ini adalah diagram alir pabrik asam sulfat kontak
yang menggunakan pembakaran belerang dan absorpsi ganda.

Gambar 7. Diagram alir asam sulfat dengan menggunakan


absorpsi ganda
Berikut adalah jalannya proses dari diagram alir asam sulfat
dengan menggunakan absorpsi ganda:

Sulfur Handling
Alat utamanya adalah Melter

yang berfungsi untuk melebur

belerang degan pemanas Steam tekanan 7 kgf / cm2 dan temperatur


170 C melalui Coil. Untuk meratakan panas dan mengurangi
kotoran maka pada dasar Melter dilengkapi pengaduk sedangkan
untuk mengatasi terjadinya asam bebas ditambahkan serbuk kapur.

14

Sulfur cair yang terbentuk selanjutnya dialirkan ke Filter untuk


disaring kotorannya dan ditambahkan diatomeceous (bahan
precoating) supaya penyaringan dapat baik dan mengcoating dari
Filter. Sulfur cair dari Filter ditampung dalam Storage Tank yang
dilengkapi dengan Steam Coil (4 kgf / cm2) untuk mempertahankan
suhu 130 140 C.

Pembuatan Gas SO2


Peralatan utamanya adalah Furnace yang fungsinya membakar
sulfur cair dengan udara kering sehingga akan terbentuk SO2
gas.Sulfur cair dari Storage Tank dialirkan secara spray kedalam
Sulfur Furnace dengan ditambahkan udara kering dari Drying
Tower, dengan persamaan reaksi sebagai berikut :
S + O2

SO2 + Energi

Gas panas yang dihasilkan 10,5 % volume SO2 temperatur 1042 C


dan dimanfaatkan untuk Steam Superheater. Gas keluar dari Steam
Superheater temperature menjadi 430C .

Pengubah SO2
Peralatan utamanya adalah Converter yang terdiri dari 4 Bed
dengan fungsi mengkonversi SO2 menjadi SO3 dengan bantuan
katalis Vanadium Pentaoksida, dengan reaksi sebagai berikut :
SO2 + O2

SO3 + Energi

Konversi yang terjadi pada bed 1 s/d 3 adalah 94% dengan


temperature 450 C dan didinginkan pada Economizer sampai 220
C yang selanjutnya dimasukkan ke dalam menara Absorber. Sisa sisa gas gabungan dari Heat Exchanger masuk Bed 4 dengan
temperatur 420 C dan terjadi konversi sekitar 99,73 %, dan keluar
Bed 4 masuk ke Economizer untuk didinginkan sampai 190 C,
kemudian masuk menara Absorber .

PengeringanUdara&Penyerapan SO3

15

Udara atmosfer dihisap oleh Air Blower lewat Drying Tower dan
air yang terkandung diserap dengan H2SO4 98,5% dan udara kering
yang dihasilkan dengan suhu 110 C digunakan sebagai udara
pembakar pada Sulfur Furnace. Penyerapan gas SO3dari Bed 3 dan
4 dilakukan di Absorber Tower dengan H2SO4 98,5% yang
merupakan reaksi eksotermis :
SO3 + H2O

H2SO4 + Energi

Asam Sulfat dari Drying Tower dan Absorber Tower ditampung


dalam tanki penampung, apabila konsentrasi asam sulfat masih
terlalu tinggi maka ditambah air sehingga diperoleh H2SO4 98,5% .

Penyimpanan dan Loading


Produk H2SO4 yang dihasilkan disimpan dalam Acid Storage Tank
dan selanjutnya akan di transfer ke unit - unit yang memerlukan
serta sebagian lagi untuk product loading. Produk H2SO4 memiliki
temperatur 45 C, konsentrasi 98,5 % berat (min.), kadar H 2O 2,0
% berat (max.), Fe 100 ppm dan SO2 150 ppm .

b. Proses Bilik Timbal


Proses bilik timbal yang dikembangkan pada pertengahan
kedua abad ke-18, membakar sulfur dalam bejana tanah liat.
Sejumlah kecil SO3 yang dihasilkan (bersamaan dengan SO2 yang
menjadi produk utamanya) diembunkan dan dimasukan ke dalam air
untuk membuat asam sulfat. Suatu penemuan yang tak sengaja
mengungkapkan bahwa penambahan natrium nitrat dan kalium nitrat
meningkatkan rendemen SO3. Garam-garam ini terurai untuk
menghasilkan nitrogen dioksida yang bereaksi dengan SO 2 dan
menghasilkan SO3 :
SO2(g) + NO2(g)

SO3(g)

+ NO(g)

Pada tahun 1736, Joshua Ward mengambil langkah penting


berikutnya dengan mengganti bejana tanah liat tempat sulfur dibakar
dengan botol kaca besar yang disusun berseri, untuk mempercepat
proses.
Pengembangan bilik-timbal (lead chamber) berukuran kamar,
yang digunakan pertama kali oleh John Roebuck pada tahun 1746,

16

secara dramatis memperluas manufaktur asam sulfat. Produk dari


bejana tanah liat yang kuno itu hanya beberapa gram, dan botol kaca
Ward dapat menghasilkan beberapa kilogram. Sebaliknya, biliktimbal dapat memproduk asam sulfat dalam jumlah ratusan pound
hingga berton-ton, menurunkan harga produk karena skalanya yang
besar serta menurunkan biaya tenaga kerja. Dalam proses biliktimbal, campuran sulfur dan kalium nitrat diletakan dalam cedok
(ladle) dan dibakar di dalam bilik besar yang dilapisi timbal,
lantainya digenangi dengan air. Gas mengembun pada dinding dan
diabsorpsi oleh air. Sesudah proses ini diulang beberapa kali, asam
sulfat encer diambil dan dididihkan untuk memekatkannya lebih
lanjut. Pengembangan terakhir meliputi penghembusan uap air untuk
mempercepat reaksi dengan air dan menyebarkan gas serta
memisahkan bilik pembakar dari bilik absorpsi.
Joseph Gay Lussac mengambil langkah maju yang nyata
pada tahun 1835 ketika ia membangun menara untuk mengambil
kembali NO yang sebelumnya telah dihembuskan keluar dan dan
mengkonversinya kembali menjadi NO2 melalui reaksi dengan
oksigen. Tepatnya, dalam menara Gay Lussac, NO dikonversikan
menjadi asam Nitrit (HNO2) yang dilarutkan dalam asam sulfat
berair;
2NO(g)

+ O2(g)

H2O(l)

2HNO2(aq)

Asam nitrit kemudian direaksikan dalam menara kedua yang diberi


nama sesuai dengan pengembangannya, John Glover untuk
mengoksidasi sulfur dioksida :
2HNO2(aq) + SO2(g)
H2SO4(g) + 2NO(g)
Reaksi keseluruhan langkah-langkah ini ternyata :
SO2(g) + O2(g) + H2O(l)
H2SO4(aq)
Pendaur ulangan oksida nitrogen sangat mengurangi konsumsi
natrium nitrat atau kalium nitrat, yang hanya sekarang diperlukan
untuk menggantikan dalam kehilangan dalam proses. Disamping itu,
menara Glover memproduksi asam sulfat yang lebih pekat 75 sampai
85 persen H2SO4 berdasar massa dibandingkan 60 sampai 70 persen

17

yang diperoleh dengan metode terdahulu. Berikut adalah proses


mendapatkan asam sulfat dengan cara bilik timbal.

Gambar 8. Proses Bilik Timbal

c.

Proses Pemekatan Asam Sulfat


Asam encer dapat dipekatkan menjadi asam dengan
konsentrasi yang agak lebih tinggi dengan mencelupkan gelungan
uap pemanas yang terbuat dari timbal, di dalam tangki timbal atau
tangki yang berlapis timbal dan bata.
Berdasarkan gambar konsentrator dengan tiupan uap seperti
gambar dibawah ini. Gas panas pada suhu sekitar 680 oC diperoleh
dari pembakaran minyak atau gas bahan bakar. Gas pembakaran
yang panas ini ditiupkan dari arah yang berlawanan terhadap asam
sulfat itu di dalam kompartemen pada drum pemekat dan air keluar
bersama gelembung-gelembung gas dari asam. Gas keluar paada
suhu 230oC sampai 250oC dari kompartemen pertama drum itu,
18

masuk ke dalam kompartemen kedua, bersama dengan sebagaian gas


panas dari tanur pembakaran. Kemudian gas yang dihasilkan ini
akan keluar pada suhu 170oC sampai 180oC, dan masuk ke dalam
drum pendingin gas, dimana gas tersebut didinginkan lagi menjadi
100oC sampai 125oC sambil menaikkans uhu asam encer ke titik
didihnya. Oleh karena sebagian asam sulfat itu terbawa ikut sebagai
kabut, gas panas dilewatkan melalui pembasuh venture dan separator
siklon, kemudian dicuci dengan asam umpan dan air untuk
menyingkirkan kabut asam, sebelum dibuang ke udara. Cara ini
dapat menurunkan kabut asam sampai sekitar 35 mg/m3 dengan
biaya investor yang lebih rendah dari pada bila menggunakan
prisipitator-kabut elektrostatik. Prosedur ini akan menghasilkan asam
dengan konsentrasi akhir 93%.

Gambar 9. Proses Pemekatan asam sulfat


2.4

Produk dalam Industri Asam Sulfat


Produk asam sulfat yang dihasilkan oleh PT. Dunia Kimia Utama memiliki
konsentrasi 98,5%. Sifat fisik asam sulfat yang dihasilkan yaitu:
No.

Parameter

Sifat Fisik Produk

19

1.

Bentuk

Cairan

2.

Warna

Jernih

3.

Bau

Menyengat

4.

Titik Didih

340oC

5.
Titik Leleh
10,49oC
Sedangkan sifat kimia asam sulfat yang dihasilkan yaitu:
No. Parameter
1. Rumus Molekul

Sifat Kimia Produk


H2SO4

2.

BM

98,08 gr/mol

3.

Densitas

1,84 g/cm3

4.

Spgr

1,834

5.

Kelarutan

Larut dalam air dengan semua perbandingan

6.

Viskositas

26,7 cP (20 C)

Perbandingan produksi dengan menggunakan proses kontak dengan proses


bilik timbal.
No
1
2
3
4

Karakteristik
Tekanan
Suhu
Konversi

Proses Kontak
Proses Bilik Timbal
1 atm
450-5000C
400-6000C
Mencapai 99,5% (dari Konversi
mencapai

Harga

SO2 menjadi SO3)


78%
Rendah, karena dalam Tinggi, karena dengan
satu

5
2.5

Katalis

kali

proses kondisi yang hampir

meningkatkan

sama

hanya

bisa

konsentrasi asam.

menghasilkan

V2O5

konversi yang rendah.


NO2

Kapasitas Produk yang dihasilkan pada Industri Belerang dan Asam


Sulfat
1. Kapasitas Produksi Asam Sulfat di Dunia
1970

1980

1990

Dunia

250,9

430,9

614,5

Amerika Serikat

92,7

152,7

189,1

Eropa

99,1

170,9

200,0

20

Jepang

20,9

27,3

36,4

Kanada

10,0

15,5

22,7

Meksiko

6,8

8,9

5,6

Afrika Utara

4,0

18,6

53+

Brazil

2,3

7,1

16+

Sumber : Monsanto Enviro-Chem


2. Kapasitas Produksi Asam Sulfat di Indonesia
Sekarang ini ada 7 pabrik asam sulfat, diantaranya ada yang
merupakan unit terpadu dengan pabrik-pabrik pupuk yang sudah ada,
rayon, dan detergen. Dengan adanya pabrik-pabrik baru, maka
kapasitas sebesar 253.000 ton/tahun pada tahun1983 akan meningkat
menjadi 841.000 ton/tahun pada tahun 1988. Jumlah kebutuhan pada
tahun 1983/1984 238.000 ton dan pada tahun 1988 diperlukan 800.000
ton. Pemakai dan penghasil terbesar adalah PT. Petrokimia Gresik
yaitu 170.000 ton/tahun untuk unit pupuk ZA((NH4)2SO4)) dan akan
dipoles menjadi 698.000 ton/tahun dengan mulai beroperasinya unit
asam phosport.
2.6

Manfaat Dan Bahaya Produk yang dihasilkan dalam Industri Belerang


dan Asam Sulfat
Manfaat produk yang dihasilkan, yaitu :
1. Belerang
Khasiat belerang bagi tubuh manusia, antara lain:
Mengobati dari luka bekas gigitan binatang berbisa
Obat gatal-gatal pada kulit
Menghilangkan panu/kurap yang menghiasi kulit.
Selain berkhasiat bagi tubuh manusia, lebih dari 90% belerang
yang digunakan dikonversi menjadi asam sulfat, tetapi penggunaan di
industri pun banyak. Di antaranya adalah pembuatan pulp kertas,
karbon

disulfida, insektisida,

fungisida, bahan

pemutih,

karet

vulkanisasi, detergen, produk farmasi dan zat warna.


2.

Asam Sulfat
Kegunaan asam sulfat adalah untuk pembuatan aluminium
sulfat. Alumunium sulfat dapat bereaksi dengan sejumlah kecil sabun
pada serat pulp kertas untuk menghasilkan aluminium karboksilat yang
21

membantu mengentalkan serat pulp menjadi permukaan kertas yang


keras. Aluminium sulfat juga digunakan untuk membuat aluminium
hidroksida.
Asam sulfat juga memiliki berbagai kegunaan di industri kimia.
Sebagai contoh, asam sulfat merupakan katalis asam yang umumnya
digunakan untuk mengubah sikloheksanonoksim menjadi kaprolaktam,
yang digunakan untuk membuat nilon. Ia juga digunakan untuk
membuat asam klorida dari garam melalui proses Mannheim. Banyak
H2SO4 digunakan dalam pengilangan minyak bumi, contohnya sebagai
katalis untuk reaksi isobutana dengan isobutilena yang menghasilkan
isooktana.
Bahaya dari produk yang dihasilkan, yaitu :
1. Belerang
Efek dari gas belerang terhadap manusia sangatlah bervariasi.
Dimana dengan konsentrasi rendah pada 1 ppm yang telah dihirup
manusia akan mengalami pengurangan fungsi paru-paru. Bila
kedapatan selama 20 menit mencapai konsentrasi 8 ppm akan
memerahkan tenggorokan, gangguan pada hidung, dan iritasi pada
tenggorokan. Sekitar 20 ppm merupakan titik kritis dari iritasi
konsentrasi SO2.
Pada beberapa kasus dimana terdapat konsentrasi SO 2 yang
sangat tinggi pada ruangan tertutup, dapat mengakibatkan gangguan
saluran udara, hypoxemia (kekurangan oksigen pada darah), dan
kematian dalam hitungan menit.
2. Asam Sulfat
Asam sulfat dianggap

tidak

beracun

selain

bahaya

korosifnya. Resiko utama asam sulfat adalah kontak dengan kulit


yang menyebabkan luka bakar dan penghirupan aerosol asap.
Paparan dengan aerosol asam pada konsentrasi tinggi akan
menyebabkan iritasi mata, saluran pernafasan, dan membran mukosa
yang parah. Iritasi akan mereda dengan cepat setelah paparan,
walaupun terdapat risiko edema paru apabila kerusakan jaringan
lebih parah. Pada konsentrasi rendah, simtom-simtom akibat paparan
kronis aerosol asam sulfat yang paling umumnya dilaporkan adalah
pengikisan gigi.
22

DAFTAR PUSTAKA

Austin, George T. 1996. Industri Proses Kimia Edisi Kelima Jilid 1. Jakarta :
Erlangga.
Diawati, Chansyanah. 2010. Diktat Kimia Industri. Bandar Lampung : Universitas
Lampung.
Laporan Kerja Praktek Petrokimia Gresik Jurusan Teknik Kimia ITS dengan
bahasa yg disederhanakan dan kata yg diringkas.
Oxtoby, David W. 2003. Kimia Modern Edisi Keempat Jilid 2. Jakarta : Erlangga.

23