Anda di halaman 1dari 47

TUGAS MAKALAH BOILER

D
I
S
U
S
U
N
OLEH
Nama : RIZAL FAUZI
Npm : 1404310040

ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA
2015

Kata Pengantar
Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan atas kehadirat allah SWT yang telah
memberikan kesempatan, kesehatan dan karunia-Nya kepada kami yang tak terhingga
jumlahnya sehingga saya dapat menyelesaikan karya tulis ini tepat pada waktunya. Makalah
Mesin dan Peralatan Dasar ini ynag membahas tentang Mesin Boiler.
Tidak lupa kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada pak
Irfandi yang telah memberikan arahan kepada kami untuk membuat makalah ini, ucapan
terimakasih juga kami ucapkan kepada orang tua dan teman-teman saya yang telah
membantu saya untuk menyelesaikan makalah ini.
Pepatah mengatakan Tak ada gading yang tak retak sama halnya dengan makalah
yang saya buat ini untuk itu kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan, walaupun
demikian kami berharap karya tuis ini dapat bermanfaat baik bagi pembaca maupun bagi
masyarakat umum.

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Boiler adalah bejana tertutup di mana panas pembakaran
dialirkan ke air sampai terbentuk air panas atau steam. Air panas atau steam
pada tekanan tertentu, kemudian digunakan untuk mengalirkan panas ke suatu
proses. Boiler ini dapat dioperasikan dengan sistem pembakaran single firing
maupun double firing yaitu pembakaran menggunakan 2 jenis bahan bakar, fuel
oil dan fuel gas. Bahaya yang paling besar adalah jika terjadi kegagalan pada
sistem supply fuel, dan membutuhkan waktu yang relatif lama untuk mematikan
api dan pengurangan bahan bakar. Untuk menjaga fuel tetap terbakar dengan
sempurna dan untuk menghindari terjadinya banjir di dalam dapur karena fuel
tidak terbakar (tekanan fuel terlalu tinggi atau rendah) maka setiap dapur
mempunyai system safeguard dengan parameter Flow Fuel Oil (High atau Low
Flow). Bahan bakar yang digunakan boiler harus melalui beberapa tahapan
proteksi supaya bahan bakar oiler tersebut sesuai yang diinginkan.

Sering

kali, inputan maupun outputan bahan bakar boiler baik fuel oil dan fuel gas
mengalami perbedaan tekanan dan perbedaan flow. Agar sistem didalamnya
bisa menjalankan fungsinya dengan baik tanpa mengalami adanya suatu
kegagalan, maka beberapa hal

yang mungkin perlu diperhatikan antara lain

tingkat keamanan yang diperlukan untuk mengamankan proses.

BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Boiler
Boiler/ketel uap merupakan bejana tertutup dimana panas pembakaran
dialirkan ke air sampai terbentuk air panas atau steam berupa energi kerja. Air
adalah media yang berguna dan murah untuk mengalirkan panas ke suatu proses.
Air panas atau steam pada tekanan dan suhu tertentu mempunyai nilai energi yang
kemudian digunakan untuk mengalirkan panas dalam bentuk energi kalor ke suatu
proses. Jika air didihkan sampai menjadi steam, maka volumenya akan meningkat
sekitar 1600 kali, menghasilkan tenaga yang menyerupai bubuk mesiu yang
mudah meledak, sehingga sistem boiler merupakan peralatan yang harus dikelola
dan dijaga dengan sangat baik.
Energi kalor yang dibangkitkan dalam sistem boiler memiliki nilai
tekanan, temperatur, dan laju aliran yang menentukan pemanfaatan steam yang
akan digunakan. Berdasarkan ketiga hal tersebut sistem boiler mengenal keadaan
tekanan-temperatur rendah (low pressure/LP), dan tekanan-temperatur tinggi
(high pressure/HP), dengan perbedaan itu pemanfaatan steam yang keluar dari
sistem boiler dimanfaatkan dalam suatu proses untuk memanasakan cairan dan
menjalankan

suatu

mesin

(commercial

and

industrial

boilers),

atau

membangkitkan energi listrik dengan merubah energi kalor menjadi energi


mekanik kemudian memutar generator sehingga menghasilkan energi listrik
(power boilers). Namun, ada juga yang menggabungkan kedua sistem boiler
tersebut, yang memanfaatkan tekanan-temperatur tinggi untuk membangkitkan

energi listrik, kemudian sisa steam dari turbin dengan keadaan tekanan-temperatur
rendah dapat dimanfaatkan ke dalam proses industri.
Sistem boiler terdiri dari sistem air umpan, sistem steam, dan sistem bahan
bakar. Sistem air umpan menyediakan air untuk boiler secara otomatis sesuai
dengan kebutuhan steam. Berbagai kran disediakan untuk keperluan perawatan
dan perbaikan dari sistem air umpan, penanganan air umpan diperlukan sebagai
bentuk pemeliharaan untuk mencegah terjadi kerusakan dari sistem steam. Sistem
steam mengumpulkan dan mengontrol produksi steam dalam boiler. Steam
dialirkan melalui sistem pemipaan ke titik pengguna. Pada keseluruhan sistem,
tekanan steam diatur menggunakan kran dan dipantau dengan alat pemantau
tekanan. Sistem bahan bakar adalah semua perlatan yang digunakan untuk
menyediakan bahan bakar untuk menghasilkan panas yang dibutuhkan. Peralatan
yang diperlukan pada sistem bahan bakar tergantung pada jenis bahan bakar yang
digunakan pada sistem.
Klasifikasi Boiler
Boiler/ketel uap pada dasarnya terdiri dari bumbung (drum) yang tertutup
pada ujung pangkalnya dan dalam perkembangannya dilengkapi dengan pipa api
maupun pipa air. Banyak orang mengklasifikasikan ketel uap tergantung kepada
sudut pandang masing-masing.
Dalam laporan ini ketel uap diklasifikasikan dalam kelas yaitu:
1. Berdasarkan fluida yang mengalir dalam pipa, maka ketel diklasifikasikan
sebagai:
a. Ketel pipa api (fire tube boiler)
Pada ketel pipa api, fluida yang mengalir dalam pipa adalah gas nyala
(hasil pembakaran), yang membawa energi panas (thermal energy), yang
segera mentransfernya ke air ketel melalui bidang pemanas (heating

surface). Tujuan pipa-pipa api ini adalah untuk memudahkan distribusi


panas (kalor) kepada air ketel.
Api/gas asap mengalir dalam pipa sedangkan air/uap diluar pipa
Drum berfungsi untuk tempat air dan uap, disamping itu drum juga
sebagai tempat bidang pemanas. Bidang pemanas terletak di dalam drum,
sehingga luas bidang pemanas yang dapat dibuat terbatas.

Gambar 2.1 diagram sederhana fire tube boiler


b. Ketel pipa air (water tube boiler)
Pada ketel pipa air, fluida yang mengalir dalam pipa adalah air, energi
panas ditransfer dari luar pipa (yaitu ruang dapur) ke air ketel.

Gambar 2.2 water tube boiler


Cara kerja:
Proses pengapian terjadi diluar pipa. Panas yang dihasilkan digunakan
untuk memanaskan pipa yang berisi air. Air umpan itu sebelumnya
dikondisikan terlebih dahulu melalui ecomonizer. Steam yang
dihasilkan kemudian dikumpulkan terlebih dahulu didalam sebuah
steam drum sampai sesuai. Setelah melalui tahap secondary
superheater dan primary superheater, baru steam dilepaskan ke pipa
utama distribusi.
Karakteristik:
-

Tingkat efisiensi panas yang dihasilkan cukup tinggi.

Kurang toleran terhadap kualitas air yang dihasilkan dari plant


pengolahan air. Sehingga air harus dikondisikan terhadap mineral
dan kandungan lain yang larut dalam air.

Boiler ini digunakan untuk kebutuhan tekanan steam yang sangat


tinggi seperti pada pembangkit tenaga.

Menggunakan bahan bakar minyak, dan gas untuk water tube


boiler yang dirakit dari pabrik.

Menggunakan bahan bakar padat untuk water tube boiler yang


tidak dirakit di pabrik.

2. Berdasarkan pemakaiannya, ketel dapat diklasifikasikan sebagai:


a. Ketel stasioner (stationary boiler) atau ketel tetap.
b. Ketel mobil (mobile boiler), ketel pindah atau portabel boiler.
Yang termasuk stasioner adalah ketel-ketel yang didudukan diatas
pondasi yang tetap, seperti boiler untuk pembangkit tenaga, untuk
industri dan lain-lain yang sepertinya.

Gambar 2.3 ketel stasioner (stationary boiler)


Yang termasuk ketel mobil, adalah ketel yang dipasang pada pondasi yang
berpindah-pindah (mobile), seperti boiler lokomotif, loko mobil dan ketel
panjang serta lain yang sepertinya termasuk ketel kapal (marine boiler).

Gambar 2.4 Ketel mobil (mobile boiler)


3. Berdasarkan letak dapur (furnace positition), ketel uap diklasifikasikan
sebagai:
a. Ketel dengan pembakaran di dalam (internally fired steam boiler),
dalam hal ini dapur berada (pembakaran terjadi) di bagian dalam ketel.
Kebanyakan ketel pipa api memakai sistem ini.

Gambar 2.5 Ketel pembakaran di dalam


b. Ketel dengan pembakaran di luar (outernally fired steam boiler),
dalam hal ini dapur berada (pembakaran terjadi) di bagian luar ketel,
kebanyakan ketel pipa air memakai sistem ini.

Gambar 2.6 ketel pembakaran di luar


4. Berdasarkan jumlah lorong (boiler tube), ketel ini diklasifikasikan sebagai:
a. Ketel dengan lorong tunggal (single tube steam boiler).
b. Ketel dengan lorong ganda (multi tube steam boiler).
Pada single tube steam boiler, hanya terdapat satu lorong saja, apakah itu
lorong api atau saluran air saja. Cornish boiler adalah single fire tube
boiler dan simple vertikal boiler adalah single water tube steam boiler.

Gambar 2.7 single tube steam boiler


Multi fire tube boiler misalnya ketel scotch dan multi water tube boiler
misalnya ketel B dan W dan lain-lain.

Gambar 2.8 Multi fire tube boiler


5. Tergantung kepada poros tutup drum (shell), ketel diklasifikasikan
sebagai:
a. Ketel tegak (vertical steam boiler), seperti ketel cochran, ketel
clarkson dan lain-lain sepertinya.

Gambar 2.9 Ketel tegak (vertical steam boiler)


b. Ketel mendatar (horizontal steam boiler), seperti ketel cornish,
lancashire, scotch dan lain-lain.

Gambar 2.10 Ketel mendatar (horizontal steam boiler)


6. Menurut bentuk dan letak pipa, ketel uap diklasifikasikan sebagai:
a. Ketel dengan pipa lurus, bengkok, dan berlekak-lekuk (straight, bent
and sinous tubuker heating surface).

Gambar 2.11 Ketel dengan pipa lurus, bengkok, dan berlekak-lekuk


(straight, bent and sinous tubuker heating surface).
b. Ketel dengan pipa miring-datar dan miring-tegak (horizontal, inclined
or vertical tubuler heating surface).

Gambar 2.12 Ketel dengan pipa miring-datar dan miring-tegak


(horizontal, inclined or vertical tubuler heating surface).
7. Menurut sistem peredaran air ketel (water circulation), ketel uap
diklasifikasikan sebagai:
a. Ketel dengan peredaran alam (natural circulation steam boiler).
b. Ketel dengan peredaran paksa (forced circulation steam boiler).
8. Tergantung kepada sumber panasnya (heat source) untuk pembuatan uap,
ketel uap dapat diklasifikasikan sebagai:
a. Ketel uap dengan bahan bakar alami.
b. Ketel uap dengan bahan bakar buatan.
c. Ketel uap dengan dapur listrik.
d. Ketel uap dengan energi nuklir.
Bagian-Bagian Boiler
Pada garis besarnya water tube boiler terdiri dari:
a) Ruang Bakar (Furnace)

Terdiri dari 2 ruangan, yaitu:


1. Ruang pertama, berfungsi sebagai ruang pembakaran, dimana panas
yang dihasilkan diterima langsung oleh pipa-pipa air yang berada di
dalam ruang dapur tersebut, yang terdiri dari pipa-pipa air dari drum
ke header samping kanan kiri.
2. Ruang kedua, merupakan ruang gas panas yang diterima dari hasil
pembakaran dalam ruang pertama. Dalam ruang ini sebagian besar
panas dari gas diterima oleh pipa-pipa air drum atas ke drum bawah.
b) Forced Draft Fan (Fd Fan)
Dalam ruang pembakaran pertama, udara pembakaran ditiupkan
oleh blower penghebus udara (forced draft fan) melalui kisi-kisi
bagian bawah dapur (fire grates/under roaster).

Gambar 2.13 Fd Fan


c) Drum Atas (Steam Drum)
Drum atas berfungsi sebagai tempat pembentukan uap.

Gambar 2.14 Steam Drum


d) Pipa Uap Pemanas Lanjut (Superheater Pipe)
Uap hasil penguapan di dalam drum atas untuk sebagian turbin
belum dapat dipergunakan, untuk itu harus dilakukan pemanasan
uap lebih lanjut melalui pipa superheater sehingga uap benar-benar
0

kering dengan suhu 260-280 C . Superheater pipe ini dipasang di


dalam ruang bakar kedua.

e) Drum Bawah (Mud Drum)


Drum bawah berfungsi sebagai tempat pemanasan air yang
didalamnya

dipasang

plat-plat

pengumpul

memudahkan pembuangan keluar (blow down)

Gambar 2.15 Mud Drum

endapan

untuk

f) Pipa-Pipa Air (Header)


Pipa-pipa air ini berfungsi sebagai tempat pemanasan air yang
dibuat sebanyak mungkin, sehingga penyerapan panas lebih merata
dengan efisiensi tinggi.
Pipa-pipa air ini terbagi dalam :
1. pipa air yang menghubungkan drum atas dengan header
muka/belakang
2. pipa air yang menghubungkan drum dengan header samping
kanan/samping kiri
3. pipa air yang menghubungkan drum atas dengan drum bawah
4. pipa air yang menghubungkan drum bawah dengan header
belakang

g) Pembuangan Abu (Ash Hopper)


Abu yang terbawa gas panas dari ruang pembakaran pertama,
terbuang/jatuh didalam pembuangan abu yang berbentuk kerucut.

Gambar 2.16 Pembuangan Abu (Ash Hopper)

h) Pembuangan Gas Bekas


Gas bekas setelah ruang pembakaran kedua dihisap oleh blower
isap (induced draft fan) melalui saringan abu (dust collector)
kemudian dibuang ke udara bebas melalui corong asap (chimney).
Pengaturan tekanan didalam dapur dilakukan pada corong
keluar blower (exhaust) dengan klep yang diatur secara otomatis
oleh alat hydrolis (furnace draft controller).

Gambar 2.17 Chimney


i) Pressure Furnace Draft Controller
Pressure Furnace Draft Controller berfungsi untuk pengatur
tekanan permukaan.

Gambar 2.18 Pressure Furnace Draft Controller


j) Induced Draft Fan
Induced Draft Fan berfungsi sebagai penghisap abu dari gas bekas.

Gambar 2.19 Induced Draft Fan

k) Dust Collector
Dust Collector berfungsi sebagai penyaring abu gas bekas.

Gambar 2.20 Dust Collector


l) Alat-Alat Pengaman
1. Katup Pengaman (Safety Valve)
Alat ini bekerja apabila tekanan kerja melebihi dari tekanan
yang telah ditentukan sesuai dengan penyetelan klep pada alat ini.

Gambar 2.21 Savety Valve

2. Gelas Penduga
Gelas penduga adalah alat untuk melihat tinggi air didalam
drum atas guna memudahkan pengontrolan air dalam ketel selama
operasi.

Gambar 2.22 Gelas Penduga


3. Keran Blow down
Keran blow down (blow down valve) berfungsi untuk
membuang endapan yang tidak terlarut (total dissolved solid) pada
mud drum sehingga nilai tds air boiler yang diharapkan dapat
terjaga.
Pola perlakuan blow down lebih baik dengan frekuensi yang
tinggi dari pada dilakukan dengan periode yang lama untuk sekali
blow down.

Gambar 2.23 Keran Blow down


4. Manometer
Manometer adalah alat pengukur tekanan uap didalam boiler
yang dipasang satu buah untuk penunjuk tekanan uap basah
(saturated) dan satu buah untuk tekanan uap kering (superheated).

Gambar 2.24 Manometer

5. Keran Uap Induk


Keran uap induk (main steam valve) berfungsi sebagai alat
untuk membuka dan menutup aliran uap boiler yang terpasang
pada pipa uap induk .

Gambar 2.25 Keran Uap Induk


6. Kontrol Air Umpan
Berfungsi sebagai pengontrol bukaan valve air umpan boiler ke
dalam steam drum yang dapat dilakukan secara otomatis melalui
water level controller.

(a)
(b)
Gambar 2.26 (a) Automatic Feed Regulator (b) Water Level
Controller

7. Soot Blower
Berfungsi sebagi alat penghebus debu yang ada pada bagian
luar pipa-pipa air boiler.

Gambar 2.27 Soot Blower


8. Panel Utama (Main Panel)
Panel Utama (Main Panel) berfungsi sebagai pengontrol
atau alat pengaman semua alat-alat pada boiler.

Gambar 2.28 Panel Utama (Main Panel)

m) Pipa Waterwall
Pada ruang bakar ketel uap komponen yang paling penting
adalah pipa waterwall, dimana panas yang dihasilkan pada
pembakaran bahan bakar diserap waterwall, sehingga air yang
terdapat pada pipa waterwall mengalami penaikan temperatur
sampai berubah menjadi uap. Tube Wall adalah merupakan pipa
yang dirangkai membentuk dinding dan dipasang secara vertikal
pada 4 (empat) sisi, sehingga membentuk ruangan persegi empat
yang disebut ruang bakar.

Fungsi

tube

wall

adalah alat

pemanas air dengan


bidang yang luas sehingga mempercepat proses penguapan.

Gambar 2.29 Wall Tube Boiler


n) Superheater
Superheater adalah piranti penting pada unit pembangkit
uap. Tujuannya adalah untuk meningkatkan temperatur uap jenuh
tanpa menaikkan tekanannya. Biasanya piranti ini merupakan
bagian integral dari ketel, dan ditempatkan dijalur gas asap
panas dari

dapur. Pada dari gas asap ini digunakan untuk memberikan panas
lanjut pada uap.

Gambar 2.30 Superheater.


2.4 Pengoperasian Boiler
Pada umumnya setiap mesin yang diproduksi oleh pabrik selalu
dilengkapi dengan handbook/ buku petunjuk cara pemasangan, perawatan, dan
pengoperasiannya. Begitu juga dengan ketel uap yang ada di PT. PP London
Sumatera sektor Dolok Palm Oil Mill terdapat buku petunjuk tentang
spesifikasi pengoperasian, perawatan, pemasangan, dan lain-lain.
Secara garis besar penulis akan menjelaskan pengoperasian boiler
berdasarkan petunjuk yang ada dari buku petunjuk dan penjelasan dari
operator, diantaranya:
Ketentuan Umum
Sebelum mengoperasikan boiler ada beberapa hal yang harus
diperhatikan demi kelancaran dan keselamatan kerja, diantara:
-

Tekanan ketel uap maksimum yang diijinkan

Tekanan uap yang diperlukan

Kapasitas produksi uap maksimum

Pemeriksaan visual pada bagian luar dan dalam

Tangki air umpan (feed water tank) dalam keadaan penuh

Pompa air umpan (feed water pump) dalam kondisi baik

Seluruh peralatan pengaman boiler dalam kondisi baik

Tinggi permukaan air boiler di dalam drum sesuai dengan batas


yang ditentukan

Dapur dalam keadaan bersih

Bahan bakar cukup tersedia

Urutan menghidupkan boiler


1. Buka keran buangan udara (vent drain) pada drum superheater
(bila menggunakan superheater
2. Drain air pada gelas penduga
3. Hidupkan pompa air umpan dan buka keran buangan air pada
drum (blow down)
4. Kemudian keran tersebut ditutup dan ketinggian air diatur
sampai batas yang ditentukan
5. Hidupkan fuel modulating dan fuel feeder fan
6. Hidupkan pendulum
7. Hidupkan conveyor bahan bakar
8. Isi bahan bakar dan hidupkan api
9. Setelah api cukup besar hidupkan induced draft fan dengan
posisi damper tertutup dan setelah putaran idf normal buka
damper dan atur ampere idf sekitar 125 amp

10. Hidupkan secondary fan


11. Hidupkan forced draft fan dan dijaga agar tekanan udara dalam
ruang bakar (10 30 mm hg)
12. Tutup valve buang udara pada drum superheater
13. Pada tekanan 15 bar kerangan induk steam dapat dibuka secara
perlahan-lahan
14. Naikkan tekanan boiler sampai tekanan kerja (20 bar)
15. Lakukan blowdown secara kontinyu (sesuai dengan kondisi
tds)
16. Pertahankan tekanan steam normal dengan pengaturan bahan
bakar melalui pressure f d controller
17. Lakukan soot blower setiap 3 jam sekali
18. Lakukan penarikan kerak setiap 4 jam sekali
Urutan menghentikan boiler :
1. Turunkan tekanan dengan menutup sliding door bahan bakar
2. Matikan fd fan
3. Matikan secondary fan
4. Buka pintu ruang bakar dan tarik abu keluar
5. Pastikan turbin uap telah berhenti kemudian tutup kerangan
induk steam
6. Matikan id fan
7. Turunkan tekanan dengan melakukan sirkulasi air

8. Tutup keran uap pada deaerator dan feed tank


9. Matikan deaerator pump dan feed water pump
Dalam hal boiler kekurangan air akibat kerusakan pompa air :
1. Hentikan induced draft fan, forced draft fan dan secondary fan
2. Tutup keran induk
3. Tarik api
4. Tutup semua pintu setelah selesai tarik api agar udara dingin
tidak masuk ke dalam dapur
5. Periksa penyebab kerusakan pompa.
Bahan Bakar Boiler
Agar kualitas uap yang dihasilkan dari ketel uap sesuai dengan yang
diinginkan atau dibutuhkan maka dibutuhkan sejumlah panas untuk menguapkan
air tersebut, dimana panas tersebut diperoleh dari pembakaran bahan bakar di
ruang bakar ketel. Untuk mendapatkan pembakaran yang sempurna di dalam ketel
maka diperlukan beberapa syarat, yaitu:
1. Perbandingan pemakaian bahan bakar harus sesuai (cangkang dan fiber)
2. Udara yang dipakai harus mencukupi
3. Waktu yang diperlukan untuk proses pembakaran harus cukup.
4. Panas yang cukup untuk memulai pembakaran
5. Kerapatan yang cukup untuk merambatkan nyala api
6. Dalam hal ini bahan bakar yang digunakan adalah cangkang dan fiber.
Adapun alasan mengapa digunakan cangkang dan fiber sebagai bahan
bakar adalah :
1. Bahan bakar cangkang dan fiber cukup tersedia dan mudah diperoleh dipabrik.
2. Cangkang dan fiber merupakan limbah dari pabrik kelapa sawit apabila tidak
digunakan.

3. Nilai kalor bahan bakar memenuhi persyaratan untuk menghasilkan panas yang
dibutuhkan.
4. Sisa pembakaran bahan bakar dapat digunakan sebagai pupuk untuk tanaman
kelapa sawit.
5. Harga lebih ekonomis.
Cangkang adalah sejenis bahan bakar padat yang berwarna hitam
berbentuk seperti batok kelapa dan agak bulat, terdapat pada bagian dalam pada
buah kelapa sawit yang diselubungi oleh serabut.
Pada bahan bakar cangkang ini terdapat berbagai unsur kimia antara lain :
Carbon (C), Hidrogen (H2), Nitrogen (N2), Oksigen (O2) dan Abu. Dimana unsur
kimia yang terkandung pada cangkang mempunyai persentase (%) yang berbeda
jumlahnya, bahan bakar cangkang ini setelah mengalami proses pembakaran akan
berubah menjadi arang, kemudian arang tersebut dengan adanya udara pada dapur
akan terbang sebagai ukuran partikel kecil yang dinamakan partikel pijar.
Apabila pemakaian cangkang ini terlalu banyak dari fiber akan
menghambat proses pembakaran akibat penumpukan arang dan nyala api kurang
sempurna, dan jika cangkang digunakan sedikit, panas yang dihasilkan akan
rendah, karena cangkang apabila dibakar akan mengeluarkan panas yang besar.
Fiber adalah bahan bakar padat yang bebentuk seperti rambut, apabila
telah mengalami proses pengolahan berwarna coklat muda, serabut ini terdapat
dibagian kedua dari buah kelapa sawit setelah kulit buah kelapa sawit, didalam
serabut dan daging buah sawitlah minyak CPO terkandung.
Panas yang dihasilkan fiber jumlahnya lebih kecil dari yang dihasilkan
oleh cangkang, oleh karena itu perbandingan lebih besar fiber dari pada cangkang.
Disamping fiber lebih cepat habis menjadi abu apabila dibakar, pemakaian fiber
yang berlebihan akan berdampak buruk pada proses pembakaran karena dapat
menghambat proses perambatan panas pada pipa water wall, akibat abu hasil
pembakaran beterbangan dalam ruang dapur dan menutupi pipa water wall,
disamping mempersulit pembuangan dari pintu ekspansion door (pintu keluar
untuk abu dan arang) akibat terjadinya penumpukan yang berlebihan.

Gambar 2.31 Fiber kelapa sawit

Gambar 2.32 Cangkang sawit


Komposisi Bahan Bakar Cangkang dan Fiber
Pada Palm Oil Mill ini menggunakan ketel uap pipa air BOILERMECH
berbahan bakar cangkang dan fiber. Penulis akan mencari nilai kalor dari
cangkang dan fiber tersebut. Adapun data yang diperoleh dari Palm Oil Mill
mengenai kandungan unsur-unsur yang terdapat pada cangkang dan fiber pada

perbandingan 1 : 3 dan komposisi 1 kg bahan bakar cangkang dan fiber adalah


sebagai berikut:
Tabel 2.1 Komposisi dari unsur-unsur kimia bahan bakar
Nama Unsur

Cangkang

Fiber

Karbon (C)

61,34 %

40,00 %

Hidrogen (H2)

3,25 %

4,25 %

Oksigen (O2)

31,16 %

30,29 %

Nitrogen (N2)

2,45 %

22,29 %

Abu

1,80 %

3,17 %

Sumber : Palm Oil

Mill

Maka komposisi 1 kg bahan bakar adalah sebagai berikut :


C

1
4

x 61,34 % )

O2

N2

( x 3,25 % )
4
1

x 31,16 % )

4
1

4
1

= 45,335 %

= 0,45335 kg

3
x 4,25%)
4

= 4%

3
x 30,29 %)
4

= 30,5075 % = 0,305075 kg

3
x 22,29 %)
4

= 17,330 % = 0,17330 kg

3
x 3,17 %)
4

= 2,8275 %

= 0,028275 kg

= 1,00 kg

x 2,45 % )

+
Abu =

40,00%)
4

1
H2

x 1,80 % )

100 %

= 0,04 kg

Siklus Rankine
Siklus Rankine adalah siklus teoritis yang mendasari siklus kerja dari
suatu pembangkit daya uap. Siklus Rankine berbeda dengan siklus-siklus udara
ditinjau dari fluida kerjanya yang mengalami perubahan fase selama siklus pada
saat evaporasi dan kondensasi, oleh karena itu fluida kerja untuk siklus Rankine
harus merupakan uap. Siklus Rankine ideal tidak melibatkan beberapa masalah
irreversibilitas internal. Irreversibilitas internal dihasilkan dari gesekan fluida,
throttling, dan pencampuran, yang paling penting adalah irreversibilitas dalam
turbin dan pompa dan kerugian-kerugian tekanan dalam penukar-penukar panas,
pipa-pipa, bengkokan-bengkokan, dan katup-katup.
Temperatur air sedikit meningkat selama proses kompresi isentropik
karena ada penurunan kecil dari volume jenis air, air masuk boiler sebagai cairan
kompresi pada kondisi 2 dan meninggalkan boiler sebagai uap kering pada
kondisi 3. Boiler pada dasarnya penukar kalor yang besar dimana sumber panas
dari pembakaran gas, reaktor nuklir atau sumber yang lain ditransfer secara
esensial ke air pada tekanan konstan. Uap superheater pada kondisi ke 3 masuk ke
turbin yang mana uap diexpansikan secara isentropik dan menghasilkan kerja oleh
putaran poros yang dihubungkan pada generator lisrik. Temperatur dan tekanan
uap jatuh selama proses ini mencapai titik 4, dimana uap masuk ke kondensor dan
pada kondisi ini uap biasanya merupakan campuran cairan-uap jenuh dengan
kualitas tinggi.
Uap dikondensasikan pada tekanan konstan di dalam kondensor yang
merupakan alat penukar kalor mengeluarkan panas ke medium pendingin.

Gambar 2.33 Diagram alir siklus Rankine sederhana

Gambar 2.34 Diagram T-s siklus Rankine sederhana

Salah satu modifikasi dari siklus Rankine dapat dilihat pada gambar
berikut :

Gambar 2.35 Diagram alir siklus Rankine dengan satu tingkat ekstraksi
Uap panas lanjut dari ketel memasuki turbin, setelah melalui beberapa
tingkatan sudu turbin, sebagian uap diekstraksikan ke deaerator, sedangkan sisanya
masuk ke kondensor dan dikondensasikan didalam kondensor. Selanjutnya air dari
kondensor dipompakan ke deaerator juga. Di dalam deaerator, uap yang berasal dari
turbin yang berupa uap basah bercampur dengan air yang berasal dari kondensor.
Kemudian dari deaerator dipompakan kembali ke ketel, dari ketel ini air yang sudah
menjadi uap kering dialirkan kembali lewat turbin.
Tujuan uap diekstraksikan ke deaerator adalah untuk membuang gas-gas yang
tidak terkondensasi sehingga pemanasan pada ketel dapat berlangsung efektif,
mencegah korosi pada ketel, dan meningkatkan efisiensi siklus.

Untuk mempermudah penganalisaan siklus termodinamika ini, prosesproses tersebut di atas disederhanakan dalam bentuk diagram berikut :

Gambar 2.36 Diagram T-s siklus Rankine dengan satu tingkat ekstraksi

Siklus Rankine terbuka pada boiler yang ada di Palm Oil Mill:

Gambar 2.37 Diagram alir siklus Rankine terbuka

Gambar 2.38 Diagram T-s siklus Rankine terbuka

Proses Pembentukan Uap


Sebagai fliuda kerja di ketel uap, umumnya digunakan air (H2O) karena
bersifat ekonomis, mudah di peroleh, tersedia dalam jumlah yang banyak, serta
mempuyai kandungan entalpi yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan fluida
kerja yang lain.
Penguapan adalah proses terjadinya perubahan fasa dari cairan menjadi
uap. Apabila panas diberikan pada air, maka suhu air akan naik. Naiknya suhu air
akan meningkatkan kecepatan gerak molekul air. Jika panas terus bertambah
secara perlahan-lahan, maka kecepatan gerak air akan semakin meningkat pula,
hingga sampai pada suatu titik dimana molekul-molekul air akan mampu
o

melepaskan diri dari lingkungannya (100 ) pada tekanan 1[kg/cm ], maka air
secara berangsur-angsur akan berubah fasa menjadi uap dan hal inilah yang
disebut sebagai penguapan.

Proses perubahan fasa air menjadi uap dapat digambarkan pada diagram TS seperti gambar dibawah:

Gambar 2.39 Diagram T-S


Keterangan:
1-2

: Pipa-pipa evaporator pipa penguat

2-3

: Pipa-pipa superheater

1-3

: Ketel uap

Metode Pengkajian Efisiensi Boiler


Metode yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan pada skripsi ini
adalah metode langsung. Secara umum skripsi ini akan membahas analisa nilai
kalor bahan bakar dan perhitungan efisiensi boiler.
Efisiensi adalah suatu tingkatan kemampuan kerja dari suatu alat.
Sedangkan efisiensi pada boiler atau ketel uap yang didapatkan dari perbandingan
antara energi yang dipindahkan atau diserap oleh fluida kerja didalam ketel
dengan masukan energi kimia dari bahan bakar.

Terdapat dua metode pengkajian efisiensi boiler :


1) Metode Langsung
Energi

yang

didapat

dari

fluida

kerja

(air

dan

steam)

dibandingkan dengan energi yang terkandung dalam bahan bakar boiler.


Metodologi Dikenal juga sebagai metode input-output karena
kenyataan bahwa metode ini hanya memerlukan keluaran/output (steam)
dan panas masuk/input (bahan bakar) untuk evaluasi efisiensi. Efisiensi ini
dapat dievaluasi dengan menggunakan rumus:

Efisiensi Boiler () =

Efisiensi Boiler () =
Keterangan:

Ws

= kapasitas produksi

uap ( kg uap/jam )

Wf

= konsumsi bahan bakar ( kg/jam )

h3

= entalpi uap ( kJ/kg )

h1

= entalpi air umpan/pengisi ketel ( kJ/kg )

LHV = nilai kalor pembakaran rendah (kJ/kg)


Keuntungan metode langsung
-

Pekerja pabrik dapat dengan cepat mengevaluasi efisiensi boiler

Memerlukan sedikit parameter untuk perhitungan

Memerlukan sedikit instrumen untuk pemantauan

Mudah membandingkan rasio penguapan dengan data benchmark

Kerugian metode langsung


-

Tidak memberikan petunjuk kepada operator tentang penyebab dari


efisiensi sistem yang lebih rendah

Tidak menghitung berbagai kehilangan yang berpengaruh pada


berbagai tingkat efisiensi

2) Metode Tidak Langsung


Efisiensi merupakan perbedaan antar kehilangan dan energi masuk.
Metodologi Standar acuan untuk Uji Boiler di tempat dengan
menggunakan metode tidak langsung adalah British Standard, BS
845:1987 dan USA Standard ASME PTC-4-1 Power Test Code Steam
Generating Units.
Metode tidak langsung juga dikenal dengan metode kehilangan
panas. Efisiensi dapat dihitung dengan mengurangkan bagian kehilangan
panas dari 100 sebagai berikut:
Efisiensi boiler (n) = 100 - (i + ii + iii + iv + v + vi + vii)
Dimana kehilangan yang terjadi dalam boiler adalah kehilangan
panas yang diakibatkan oleh:
i.

Gas cerobong yang kering

ii.

Penguapan air yang terbentuk karena H2 dalam bahan bakar

iii.

Penguapan kadar air dalam bahan bakar

iv.

Adanya kadar air dalam udara pembakaran

v.

Bahan bakar yang tidak terbakar dalam abu terbang/ fly ash

vi.

Bahan bakar yang tidak terbakar dalam abu bawah/ bottom ash

vii.

Radiasi dan kehilangan lain yang tidak terhitung


Kehilangan yang diakibatkan oleh kadar air dalam bahan bakar dan

yang disebabkan oleh pembakaran hidrogen tergantung pada bahan bakar,


dan tidak dapat dikendalikan oleh perancangan.
Data yang diperlukan untuk perhitungan efisiensi boiler dengan
menggunakan metode tidak langsung adalah:

Analisis ultimate bahan bakar (H2, O2, S, C, kadar air, kadar abu)

Persentase oksigen atau CO2 dalam gas buang

Suhu gas buang dalam C (T f)

Suhu awal dalam C (Ta) dan kelembaban udara dalam kg/kg udara

kering
-

LHV bahan bakar dalam kkal/kg

Persentase bahan yang dapat terbakar dalam abu (untuk bahan


bakar padat)

LHV abu dalam kkal/kg (untuk bahan bakar padat)

Keuntungan metode tidak langsung


Dapat diketahui neraca bahan dan energi yang lengkap untuk setiap aliran,
yang dapat memudahkan dalam mengidentifikasi opsi-opsi untuk meningkatkan
efisiensi boiler.
Kerugian metode tidak langsung
-

Perlu waktu lama

Memerlukan fasilitas laboratorium untuk analisis.

Untuk penyusunan skripsi ini penulis menganalisa dengan metode


langsung, dimana penulis mengambil data secara langsung dilapangan meliputi :
- Steam pressure superheater (bar)
o

- Temperatur feed tank ( C)


o

- Temperatur daerator ( C)
o

- Temperatur out let steam ( C)


- Steam flow (ton uap/jam)

Neraca Panas
Proses pembakaran dalam boiler dapat digambarkan dalam bentuk
diagram alir energi. Diagram ini menggambarkan secara grafis tentang bagaimana
energi masuk dari bahan bakar diubah menjadi aliran energi dengan berbagai
kegunaan dan menjadi aliran kehilangan panas dan energi. Panah tebal
menunjukan jumlah energi yang dikandung dalam aliran masing-masing.

Gambar 2.40 Diagram neraca energi boiler


Neraca panas merupakan keseimbangan energi total yang masuk boiler
terhadap yang meninggalkan boiler dalam bentuk yang berbeda. Gambar berikut
memberikan gambaran berbagai kehilangan yang terjadi untuk pembangkitan
steam.

Gambar 2.41 Kehilangan pada Boiler yang Berbahan Bakar Batubara

Kehilangan energi dapat dibagi kedalam kehilangan yang tidak atau dapat
dihindarkan. Tujuan dari Produksi Bersih dan/atau pengkajian energi harus
mengurangi kehilangan yang dapat dihindari, dengan meningkatkan efisiensi
energi. Kehilangan berikut dapat dihindari atau dikurangi:
Kehilangan gas cerobong:
- Udara berlebih (diturunkan hingga ke nilai minimum yang
tergantung dari teknologi burner, operasi (kontrol), dan
pemeliharaan).
- Suhu gas cerobong (diturunkan dengan mengoptimalkan
perawatan (pembersihan), beban; burner yang lebih baik dan
teknologi boiler).
Kehilangan karena bahan bakar yang tidak terbakar dalam cerobong dan
abu (mengoptimalkan operasi dan pemeliharaan; teknologi burner yang
lebih baik),
Kehilangan dari blowdown (pengolahan air umpan segar, daur ulang
kondensat),
Kehilangan kondensat (manfaatkan sebanyak mungkin kondensat)
Kehilangan konveksi dan radiasi (dikurangi dengan isolasi boiler yang
lebih baik).
Nilai kalor (Heating Value)

Nilai kalor merupakan energi kalor yang dilepaskan bahan bakar pada
waktu terjadinya oksidasi unsur-unsur kimia yang ada pada bahan bakar tersebut.
Bahan bakar adalah zat kimia yang apabila direaksikan dengan oksigen (O2) akan
menghasilkan sejumlah kalor. Bahan bakar dapat berwujud gas, cair, maupun
padat. Selain itu, bahan bakar merupakan suatu senyawa yang tersusun atas
beberapa unsur seperti karbon (C), hidrogen (H), belerang (S), dan nitrogen (N).
Kualitas bahan bakar ditentukan oleh kemampuan bahan bakar untuk
menghasilkan energi. Kemampuan bahan bakar untuk menghasilkan energi ini

sangat ditentukan oleh nilai bahan bakar yang didefinisikan sebagai jumlah energi
yang dihasilkan pada proses pembakaran per satuan massa atau persatuan volume
bahan bakar.
Nilai pembakaran ditentukan oleh komposisi kandungan unsur di dalam
bahan bakar. Dikenal dua jenis pembakaran (Ir. Syamsir A. Muin, Pesawatpesawat Konversi Energi 1 (Ketel Uap) 1988:160), yaitu:
1. Nilai Kalor Pembakaran Tinggi
Nilai kalor pembakaran tinggi atau juga dikenal dengan istilah High
Heating Value (HHV) adalah nilai pembakaran dimana panas pengembunan air
dari proses pembakaran ikut diperhitungkan sebagai panas dari proses
pembakaran.
Dirumuskan dengan:
HHV = 33950 C + 144200 (H2 O2/8) + 9400 S kj/kg
2. Nilai Kalor Pembakaran Rendah
Nilai kalor pembakaran rendah atau juga dikenal dengan istilah Low
Heating Value (LHV) adalah nilai pembakaran dimana panas pengembunan
uap air dari hasil pembakaran tidak ikut dihitung sebagai panas dari proses
pembakaran. Dirumuskan dengan:
LHV = HHV 2411 (9H2) kj/kg
Kebutuhan Udara Pembakaran
Kebutuhan udara pembakaran didefinisikan sebagai kebutuhan oksigen
yang diperlukan untuk pembakaran 1 kg bahan bakar secara sempurna yang
meliputi :
a. Kebutuhan udara teoritis (Ut) :
Ut = 11,5 C + 34,5 (H-O/8) + 4,32 S kg/kgBB

b. Kebutuhan udara pembakaran sebenarnya/aktual (Us) :


Us = Ut (1+) kg/kgBB
Gas Asap
Reaksi pembakaran akan menghasilkan gas baru, udara lebih dari sejumlah
energi. Senyawa-senyawa yang merupakan hasil dari reaksi pembakaran disebut
gas asap.
a. Berat gas asap teoritis (Gt)
Gt = Ut + (1-A) kg/kgBB
Dimana A = kandungan abu dalam bahan bakar (ash)
Gas asap yang terjadi terdiri dari:
-

Hasil reaksi atas pembakaran unsur-unsur bahan akar dengan O2


dari udara seperti CO2, H2O, SO2

Unsur N2 dari udara yang tidak ikut bereaksi

Sisa kelebihan udara

Dari reaksi pembakaran sebelumnya diketahui:


1 kg C menghasilkan 3,66 kg CO2
1 kg S menghasilkan 1,996 kg SO2
1 kg H menghasilkan 8,9836 kg H2O
Maka untuk menghitung berat gas asap pembakran perlu dihitung dulu
masing-masing komponen gas asap tersebut (Ir. Syamsir A. Muin,
Pesawat-pesawat konversi 1 (Ketel Uap) 1988:196):
Berat CO2

3,66 C kg/kg

Berat SO2

2 S kg/kg

Berat H2O

9 H2 kg/kg

Berat N2

77% Us kg/kg

Berat O2

23% 20% Ut

Dari perhitungan di atas maka akan didapatkan jumlah gas asap:


Berat gas asap (Gs) = W CO2 + W SO2 + W H2O + W N2 + W O2
Atau
b. Berat gas asap sebenarnya (Gs)
Gs = Us + (1-A) kg/kgBB
Untuk menetukan komposisi dari gas asap didapatkan:
Kadar gas = (W gas tersebut / W total gas) x 100%
Volume Gas Asap
Jumlah oksigen adalah 21% jumlah udara pembakaran. Jadi:
V(o2) = 21% (Va)act ; belum termaksud oksigen yang dikandung dalam bahan
bakar. Oksigen yang terdapat dalam bahan bakar tergantung persentasenya.
Dengan demikian maka volume gas asap basah adalah :

Vg =

1,24 (9 H2) m /kgBB

Dimana :
3

Vg

= Volume gas asap (m /kgBB)

= Nilai carbon bahan bakar

= Nilai Sulfur bahan bakar

H2

= Nilai Hidrogen bahan bakar

Perhitungan Efisiensi Boiler


Daya guna (efisiensi) boiler adalah perbandingan antara konsumsi panas
dengan suplai panas (Ir. Syamsir A. Muin, Pesawat-pesawat konversi 1
(Ketel Uap) 1988:223).

Keterangan:

Ws

= kapasitas produksi

uap ( kg uap/jam )

Wf

= konsumsi bahan bakar ( kg/jam )

h3

= entalpi uap ( kJ/kg )

h1

= entalpi air umpan/pengisi ketel ( kJ/kg )

LHV = nilai kalor pembakaran rendah (kJ/kg)

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Boiler adalah bejana tertutup di mana panas pembakaran
dialirkan ke air sampai terbentuk air panas atau steam. Air panas atau steam pada tekanan
tertentu, kemudian digunakan untuk mengalirkan panas ke suatu proses. Boiler ini dapat
dioperasikan dengan sistem pembakaran single firing maupun double firing yaitu
pembakaran menggunakan 2 jenis bahan bakar, fuel oil dan fuel gas. Bahaya yang paling
besar adalah jika terjadi kegagalan pada sistem supply fuel, dan membutuhkan waktu yang
relatif lama untuk mematikan api dan pengurangan bahan bakar. Untuk menjaga fuel tetap
terbakar dengan sempurna dan untuk menghindari terjadinya banjir di dalam dapur karena
fuel tidak terbakar (tekanan fuel terlalu tinggi atau rendah) maka setiap dapur
mempunyai system safeguard dengan parameter Flow Fuel Oil (High atau Low Flow).
Bahan bakar yang digunakan boiler harus melalui beberapa tahapan proteksi supaya
bahan bakar oiler tersebut sesuai yang diinginkan.