Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Daging adalah suatu kebutuhan yang memiliki peranan besar pada perbaikan gizi
masyarakat, khususnya kebutuhan protein hewani. Badan Food and Agriculture Organization
of The United Nations melaporkan bahwa tingkat konsumsi protein hewani Indonesia
tahun 2013 hanya 15,7 gram/kapita/hari, jika dibandingkan dengan negara tetangga konsumsi
protein hewani Indonesia masih rendah, seperti China 37,0 gram/kapita/hari dan Malaysia
41,5 gram/kapita/hari.
Salah satu faktor rendahnya konsumsi protein hewani di Indonesia adalah masih
rendahnya produksi dan populasi ternak lokal, hal ini mengakibatkan mahalnya harga
pangan sumber protein hewani yang sulit dijangkau oleh daya beli masyarakat. Ternak
yang berpotensial dan mampu memenuhi kebutuhan protein hewani diantaranya adalah
kelinci. Ternak kelinci merupakan salah satu komoditas ternak yang memiliki prospek dan
keunggulan untuk dikembangbiakkan. Kelinci merupakan salah satu komoditas peternakan
yang dapat menghasilkan daging berkualitas dengan kandungan protein tinggi dan
rendah kolesterol. Akan tetapi, dalam pengembangannya itu sendiri ternak kelinci belum
berkembang secara pesat, hal tersebut dikarenakan rendahnya pengetahuan masyarakat
tentang nilai ekonomis atau produk yang bisa dihasilkan dari ternak kelinci (Ridwan dan
Asnawai, 2008).
Ternak kelinci memiliki peluang yang besar sebagai penyedia sumber protein hewani
yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Selain itu ternak kelinci juga berpotensi sebagai usaha
pokok maupun sampingan, skala rakyat maupun industri besar. Menurut Raharjo (2010)
bahwa usaha peternakan kelinci memiliki peluang uasaha yang menguntungkan dengan
margin pendapatan dari 20 200%. Kelinci juga dipelihara secara komersial untuk diambil
daging, fur (kulit-bulu), serta untuk fancy dan hewan percobaan di laboratorium. Hal ini
memberikan nilai tambah bagi komoditas ternak kelinci untuk dikembangkan. Berdasarkan
data Statistika Peternakan dan Kesehatan Hewan (2012) melaporkan bahwa populasi kelinci
nasional pada tahun 2010 mencapai 833.666 ekor, tahun 2011 mengalami penurunan menjadi
760.106 ekor, sedangkan pada tahun 2012 jumlah kelinci mengalami peningkatan mencapai
784.016 ekor. Hal ini menunjukkan bahwa pasar kelinci mulai terbuka bagi pemenuhan
kebutuhan pangan di Indoensia. Saat sekarang ini, usaha ternak kelinci dilakukan secara
komersial dengan pemeliharaan secara intensif dan efisien, disertai tujuan usaha yang jelas
dan promosi untuk mencari pasar, justru usaha ternak kelinci ini akan dapat bersaing dalam
menghadapi era pasar bebas.
Beberapa kendala yang dihadapi dalam melakukan usaha ternak kelinci adalah pasar
yang spesifik dan terbatas, terutama pasar domestik, bibit ternak yang kurang bermutu dan
mortalitas yang masih cukup tinggi. Selain itu permasalahan dalam pengembangan ternak
kelinci adalah kurang populernya daging kelinci di masyarakat, dan adanya anggapan dari
masyarakat bahwa mereka akan mengembangkan usaha ternak kelinci jika menguntungkan
dibandingkan usaha lain. Namun dikarenakan kurangnya pasokan dan kurang fungsi lembaga
pemasaran maka kebutuhan daging tidak lagi dapat terpenuhi.

1.2.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, makan permasalahan yang
didapat diantaranya adalah bagiamana strategi dan kebijakan pemerintah dalam mendukung
pengembangan ternak kelinci di Indonesia.
1.3.

Tujuan
Berdasarkan perumusan masalah yang telah diuraikan di atas, maka tujuan penulisan
makalah ini adalah membahas bagaimana strategi dan kebijakan pemerintah dalam
mendukung pengembangan ternak kelinci di Indonesia.
1.4.

Manfaat
Adapun kegunaan atau manfaat dari makalah ini adalah:
1) Bagi Petani Kelinci
- Sebagai sarana informasi bagi para pelaku petani kelinci untuk pengembangan
ternak kelinci
2) Bagi Pemerintah
- Sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah dan instansi terkait dalam
menetapkan pengembangan strategi dan kebijakan komoditas kelinci
3) Bagi Mahasiswa
- Sebagai ilmu pengetahuan dan pengalaman bagi penulis serta sebagai salah satu
cara dalam menerapkan ilmu yang diperoleh

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Ternak Kelinci


2.1.1. Bibit Kelinci
Pemilihan jenis bibit tergantung kepada tujuan pemeliharaan, Secara umum
keduanya harus punya sifat fertilitas tinggi, tidak mudah gugup (jinak), tidak cacat, mata
bersih, terawat, bulu tidak kusam, dan lincah (aktif bergerak). Untuk peternakan
komersial sebaiknya membeli bibit yang baik dimana penjual bibit yang baik disertai
sertifikat kelahiran dan tato pada telinga sebagai bukti kemurnian bibitnya
(Widagdho,2008).
1.2.2. Pakan Kelinci
Pakan ternak kelinci sebaiknya dalam bentuk pellet karena pakan yang tidak
berbentuk pelet akan ditolak oleh kelinci dan menyebabkan pertumbuhan yang rendah
serta menyebabkan tingginya sisa pakan. Pakan memberikan pengaruh yang besar
terhadap kesehatan kelinci. Kelinci sangat sensitif terhadap faktor palatabilitas
(Bariroh,dkk.,2004).
1.2.3. Sistem Perkandangan Kelinci
Kandang sebagai tempat perkembangbiakan sebaiknya memiliki suhu berkisar
antara 15-20 C, sirkulasi udara lancer, lama pencahayaan ideal 12 jam dan
melindungi ternak dari predator. Kandang berdasarkan kegunaanya 15 dibedakan menjadi
kandang induk, baik induk dewasa maupun induk dengan anak-anakannya, kandang
pejantan dan kadang untuk lepas sapih. Tidak ada ukuran tertentu untuk kandang, ukuran
didasarkan pada skala usaha, iklim, kemudahan pengelolaan dan ukuran ternak itu sendiri
(Widagdho,2008).
1.2.4. Sistem Reproduksi Kelinci
Kelinci mencapai umur dewasa dalam waktu 4 10 bulan, pada saat itulah
kelinci dapat mulai dikawinkan. Perkawinan bisaanya terjadi pada waktu sore maupun
pagi hari, setelah masa perkawinan berhasil kelinci akan memasuki fase bunting 16
selama 30 32 hari. Kebuntingan dapat diketahui setelah 12 14 hari setelah perkawinan
dengan cara meraba perut kelinci betina (Widagdho,2008).

BAB III
PEMBAHASAN

3.1.

Potensi Ternak Kelinci


Kelinci memiliki potensi biologis yang tinggi, diantaranya dapat dikawinkan kapan
saja asal telah dewasa kelamin, beranak banyak, waktu bunting pendek, pertumbuhan cepat.
Mempunyai keragaman genetik yang tinggi antar ras dan dalam ras (lebih dari 20 ras dan tiap
ras memiliki beberapa galur). Selain itu juga mempunyai kemampuan memanfaatkan hijauan
dan produk limbah secara efisien sehingga tidak bersaing dengan manusia. Daerah yang
cocok untuk tumbuh dan berkembangbiaknya kelinci secara umum pada daerah sub tropis
(dingin) sampai tropis dengan suhu agak rendah dan kelembaban tinggi terutama untuk
penghasil kulit dan bulu. Untuk itu daerah yang sesuai adalah daerah dataran tinggi dengan
ketinggian 800 m dpl.
Produk daging yang dihasilkan dari kelinci dapat dimanfaatkan secara maksimal
baik secara langsung maupun melalui tahapan-tahapan pengolahan tertentu. Daging
kelinci mempunyai kualitas yang lebih baik daripada daging sapi, domba atau kambing
karena mengandung protein yang tinggi dan lemak daging rendah. Strukturnya lebih
halus dengan warna dan bentuk fisik yang menyerupai daging ayam (Kartadisastra,
1997). Menurut Schiere (1999) ternak kelinci merupakan salah satu komoditas
peternakan yang dapat menghasilkan daging berkualitas dengan kandungan protein
tinggi dan rendah kolesterol. Pengembangan peternakan kelinci memberian peluang yang
besar dan kelinci memiliki kelebihan diantaranya: menghasilkan daging yang berkualitas
tinggi, makanannya tidak susah didapatkan yaitu bisa dari limbah pertanian dan limbah dapur.
Kepadatan ternak mempunyai peranan penting dalam peternakan kelinci komersial,
sebab kondisi kandang ikut menentukan hasil yang dapat dicapai. Kandang kelinci
harus dibuat berdasarkan rancangan yang baik, sesuai dengan fungsi dan segi-segi
biologis kelinci. Menurut Manshur (2006) bahwa ukuran kandang optimum kelinci adalah
2200 cm2/ekor dengan tinggi 50 cm. Kepadatan kandang maksimum adalah 6 ekor/m 2
(Martens dan Goote. 1984).
Hasil penelitian Onbasilar dan Onbasilar (2007)
mendapatkan berat badan akhir dan konsumsi ransum kelinci yang dipelihara 3 ekor dalam
satu petak kandang (4200 cm2/ekor) lebih baik daripada 1 ekor dalam satu petak (1400
cm2/ekor) dan 5 ekor dalam satu petak (8400 cm2/ekor).
Ternak kelinci bila dipelihara secara intensif dapat beranak sampai 10 kali setahun
dengan kemampuan menghasilkan anak 4-10 ekor per kelahiran, sehingga usahaternak ini
cukup menjanjikan keuntungan. Ternak ini mudah dan sederhana dalam pemeliharaannya
serta tidak memerlukan lahan yang luas, sehingga usahaternak kelinci masih banyak
diusahakan sebagai usaha sambilan. Selain itu daging kelinci mempunyai keunggulan
dibandingkan daging asal ternak lainnya yaitu rendahnya kadar kolesterol, tinggi protein, serta
seratnya pendek dan halus sehingga cocok untuk dikonsumsi oleh anak-anak hingga orang
dewasa. Kelinci juga dipelihara secara komersial untuk diambil daging, fur (kulit-bulu), serta
untuk fancy dan hewan percobaan di laboratorium. Hal ini memberikan nilai tambah bagi
komoditas ternak kelinci untuk dikembangkan.

3.2.

Strategi Awal Pengembangan Ternak Kelinci


Upaya dalam pengembangan ternak kelinci di Indonesia harus memiliki beberapa
strategi atau manajemen yang baik dalam setiap langkahnya. Strategi awal pemerintah
Indonesia diantaranya dengan menetapkan berbagai peraturan manajemen dari setiap
pemeliharaan supaya mendapatkan hasil yang bagus dan berkelanjutan.
3.2.1. Pakan Ternak Kelinci
Abun et al. (2008) menyatakan bahwa keberhasilan budidaya kelinci dipengaruhi
oleh tiga faktor, yaitu genetik, pakan, dan manajemen. Pakan merupakan faktor
terpenting dalam budidaya kelinci karena dapat berpengaruh terhadap produksi,
pertumbuhan, dan kondisi ternak. Pakan memberikan pengaruh yang besar terhadap
kesehatan kelinci. Kelinci sangat sensitif terhadap faktor palatabilitas
(Bariroh,dkk.,2004). Jenis pakan kelinci dapat dibedakan sebagai berikut:
3.2.1.1. Hijauan
Untuk peternak-peternak kelinci tradisional yang hanya memelihara
kelinci sebagai usaha sambilan biasanya hanya memberikan hijauan kepada
ternaknya. Dan macam-macam hijauan itu antara lain berupa rumput lapangan,
daun lamtoro, daun pisang, daun ubi jalar, daun kembang sepatu, daun kacang
panjang, daun pepaya, daun jagung, daun talas, dll. Perlu diperhatikan sebelum
diberikan kepada kelinci hijauan harus dilayukan terlebih dahulu. Hal ini ditujukan
untuk mengurangi kadar air, mempertinggi serat kasar, serta menghilangkan getah
dan racun yang dapat menyebabkan kelinci kembung dan mencret.
3.2.1.2. Biji- bijian
Biji-bijian sangat baik diberikan terutama pada kelinci yang bunting dan
menyusui karena mengandung protein yang tinggi. Jenisnya antara lain adalah
jagung, padi, kacang hijau, kacang tanah, dan gandum. Namun karena harganya
mahal biasanya peternak menggunakan alternatif pengganti yaitu bekatul, ampas
tahu, bungkil kelapa, dan bungkil kacang tanah. Sebelum diberikan kepada kelinci
biji-bijian tersebut harus dihaluskan terlebih dahulu. Pemberian biji-bijian kepada
anak kelinci dapat mempercepat pertumbuhannya sehingga dapat mencapai bobot
maksimal setelah dewasa.
3.2.1.3. Hay
Merupakan pakan cadangan bila menghadapi kemarau panjang sehingga
hijauan sulit dan alternatif pakan untuk kelinci yang terserang mencret. Beberapa
jenis pakan yang dapat dibuat hay antara lain rumput cakar ayam, rumput ginting,
rumput kalamenta, rumput jampang, rumput gajah, pucuk tebu, dll.
3.2.1.4. Sayuran
Limbah sayuran yang dapat diberikan kepada kelinci antara lain
kankung, wortel, daun brokoli, sawi, caisim, dll. Pemberian sayuran ini bertujuan
untuk mengurangi kadar serat berlebih dan memperlancar pencernaan. Jenis
sayuran yang cukup baik untuk kelinci budidaya adalah wortel dan sosim,
sedangkan kangkung dan kubis tidak diberikan karena kadar airnya terlalu tinggi.
3.2.1.5. Umbi- umbian

Dapat diberikan sebagai pakan tambahan atau selingan. Jenisnya antara


lain ubi jalar, uwi, ganyong, talas, dan singkong.
3.2.1.6. Konsentrat
Berfungsi untuk meningkatkan nilai gizi dari pakan. Selain itu pemberian
konsentrat juga mempermudah penyediaan pakan. Terdiri dari pelet (pakan olahan
pabrik), bekatul, ampas tahu, bungkil kelapa, dan bungkil kacang tanah. Jika
kandungan dari pelet sudah mencukupi kebutuhan, maka kelinci dapat juga tidak
diberi hijauan sama sekali. Diantara bahan pakan inkonvensional, daun rami dengan
tingkat pemberian sampai 30 % dan ampas teh dengan tingkat pemberian 40%,
dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan kelinci.
3.2.1.7. Pellet
Pelet kelinci merupakan salah satu konsentrat yang dibutuhkan kelinci.
Pelet biasanya terbuat dari komponen bekatul padi halus, tepung jagung/tepung
terigu, tetes tebu, garam dan lain-lain. Untuk kebutuhan serat bisa ditambah hay
yang diremukkan. Pemberian pelet tidak boleh berlebihan karena berakibat
kegemukan pada kelinci, hal ini akan menganggu kesehatan kelinci itu sendiri.
3.2.1.8. Lain- Lain
Pakan yang lain dapat menggunakan polar, Gemuk A, white brand
.Vitamin dapat diberikan setiap satu bulan, baik dengan injek ( suntik ) maupun
dicampur dengan minuman. Kebutuhan vitamin kelinci dapat dilihat label obat dan
vitamin kelinci.
3.2.2. Pemenuhan Sarana dan Prasarana
3.2.2.1. Bangunan
- Kandang kelinci sapih, kelinci dara, kelinci induk, kandang pejantan dan kandang
karantina
- Gudang penyimpanan pakan
- Gudang peralatan
- Tempat pemusnahan/pembakaran (incinerator) kelinci mati
- Bak dan saluran pembuangan limbah
- Bangunan kantor untuk administrasi.
3.2.2.2. Konstruksi dan Desain Bangunan
- Konstruksi dan desain bangunan harus memerhatikan faktor keselamatan kerja,
keamanan dan kenyamanan serta kesehatan kelinci.
- Bangunan terbuat dari bahan yang kuat, dengan konstruksi dibuat sedemikian rupa
sehingga mudah dalam pemeliharaan, pembersihan dan desinfeksi;
- Konstruksi bangunan gudang pakan dibuat agar kondisi pakan yang disimpan tetap
terjaga mutunya
- Mempunyai ventilasi yang cukup sehingga pertukaran udara dari dalam dan luar
kandang lancar, suhu optimal berkisar 18220C
- Drainase dan saluran pembuangan limbah baik dan mudah dibersihkan
- Kandang harus didesain sesuai dengan jenis kandang dan kapasitas produksi.
3.2.2.3. Tata Letak Bangunan
Penataan bangunan kandang dan bangunan lain di dalam lokasi usaha
pembibitan kelinci, memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
- Bangunan kantor dan mess karyawan harus terpisah dari bangunan perkandangan

- Jarak terdekat antar kandang minimal 5 (lima) meter


- Jarak terdekat antara kandang dengan bangunan lainnya minimal 10 (sepuluh) meter;
- Kandang untuk kelinci sapih, kelinci dara dan kandang induk/pejantan harus terpisah
satu dari lainnya
- Bangunan kandang dan bangunan lainnya harus ditata agar aliran air, udara dan
penghantar lain (tikus, lalat) tidak menimbulkan penyakit dan pencemaran lingkungan
- Bangunan gudang pakan dibuat agar kondisi pakan yang disimpan tetap terjaga
mutunya
- Kandang membujur dari timur ke barat
- Lingkungan kandang dalam keadaan tenang dan tidak bising.
3.2.3. Pelestarian Lingkungan
Dalam usaha pembibitan kelinci harus memperhatikan aspek pelestarian fungsi
lingkungan hidup, sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan di bidang
lingkungan hidup. Upaya pelestarian lingkungan diperlukan perhatian khusus terhadap
beberapa hal sebagai berikut:
- Mencegah timbulnya erosi serta membantu penghijauan di areal usaha peternakan
- Menghindari timbulnya polusi dan gangguan lain yang dapat mengganggu lingkungan
berupa bau busuk, serangga, tikus serta pencemaran air sungai/air sumur dll
- Memiliki dan mengoperasionalkan unit pengolahan limbah (padat dan cair) sesuai
kapasitas produksi limbah yang dihasilkan
- Setiap usaha pembibitan kelinci membuat tempat pembuangan kotoran, penguburan
dan pembakaran bangkai atau menggunakan incinerator
- Bangkai kelinci dikeluarkan dari dalam kandang untuk dibakar dan dikubur
3.2.4. Pengawasan dan Pelaporan
Pengembangan bibit kelinci dilakukan dibawah bimbingan dan pengawasan
dinas yang membidangi fungsi peternakan dan/atau kesehatan hewan setempat,
instansi/lembaga teknis.
3.2.4.1. Pengawasan
1) Sistem Pengawasan Sistem pengawasan terdiri dari pengawasan internal dan
eksternal:
- Pengawasan internal dilakukan oleh pembibit kelinci pada titik kritis dalam proses
produksi bibit
- Pengawasan eksternal dilakukan oleh dinas/instansi yang berwenang dalam bidang
peternakan dan kesehatan hewan
- Pengawasan dilakukan terhadap pelaksanaan manajemen pembibitan dengan
mengacu Pedoman Pembibitan Kelinci Yang Baik (Good Breeding Practice).

2) Sertifikasi
- Sertifikasi dapat diajukan oleh pembibit apabila proses produksi dan produk yang
dihasilkan (bibit kelinci) telah memenuhi standar dan/atau persyaratan teknis
minimal.
- Sertifikat dikeluarkan oleh lembaga sertifikasi atau instansi yang berwenang setelah
dilakukan penilaian.
3) Monitoring dan Evaluasi

Monitoring dan evaluasi di tingkat pusat dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal


Peternakan dan Kesehatan Hewan cq. Direktorat Perbibitan dan di tingkat provinsi
dan kabupaten/kota dilaksanakan oleh instansi yang membidangi fungsi peternakan
dan kesehatan hewan provinsi dan kabupaten/kota
- Monitoring dan evaluasi dilakukan secara periodik sekurang kurangnya setiap 6
(enam) bulan.
3.2.4.2.Pelaporan
Pelaporan Setiap usaha pembibitan kelinci wajib membuat laporan secara
berkala (enam bulanan dan tahunan) dan melaporkan kepada 25 instansi yang
membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan di kabupaten/kota dengan
tembusan kepada dinas provinsi dan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan
Hewan.
3.3.

Strategi dan Kebijakan Pemerintah dalam Pengembangan Ternak Kelinci di


Indoensia
3.3.1. Peluang dan Kendala yang Harus Dihadapi
Pengembangan usaha ternak kelinci mempunyai peluang dan harapan yang besar
dibanding ternak lainnya, untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat karena:
a. Jumlah penduduk Indonesia 220 juta dengan tingkat pertambahan 1,5% dan tingkat
pertumbuhan ekonomi 5%6% membutuhkan konsumsi daging dan kulit yang sangat
besar sedang pemenuhan daging dalam negeri cenderung menurun, sehingga
pengembangan usaha ternak kelinci merupakan salah satu alternatif penyedia daging.
b. Kelinci memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang biak dengan cepat (prolifik)
pada pemeliharaan sederhana maupun intensif dengan kondisi pakan yang murah dan
mudah didapat (memanfaatkan limbah pertanian).
c. Kelinci mempunyai potensi biologis yang tinggi karena dapat dikawinkan kapan saja
asal dewasa kelamin, beranak banyak (612 ekor), waktu bunting pendek sehingga
dalam satu tahun dapat beranak 68 kali setahun, pertumbuhan cepat serta tidak
membutuhkan lahan yang luas.
d. Daging kelinci mempunyai gizi dan rasa yang lebih unggul dibandingkan daging yang
berasal dari ternak lainnya sehingga sangat baik dan aman dikonsumsi anakanak
maupun dewasa serta usia lanjutkarena kandungan protein tinggi (21%) dengan
kandungan kolesterol sangat rendah (0,1%) serta mengandung asam linoleat tertinggi
diantara ternak lainnya (22,5%).

3.3.2. Kendala utama yang dihadapi dalam pengembangan ternak kelinci adalah:
a. Dari segi produksi kendala yang dihadapi adalah rendahnya produktifitas dan mutu
hasil terutama pada pemeliharaan skala kecil yang diakibatkan kurangnya pengetahuan
manajemen pemeliharaan.
b. Kelinci merupakan hewan kesayangan dan bentuknya mirip kucing dan tikus serta
adanya anggapan bahwa daging kelinci tidak halal untuk dimakan, sehingga sangat
sulit untuk memasyarakatkan daging kelinci sebagai sumber pangan alternatif.

c. Pengembangan agribisnis ternak kelinci masih memerlukan promosi yang intensif dan
kemampuan untuk memasuki pasar atau menciptakan pasar .
3.3.3. Pengembangan Usaha Kecil
Pengembangan usaha ternak kelinci peternakan memerlukan pendekatan untuk
mengapresiasikan akan pentingnya peranan, ciri-ciri, sifat-sifat dan nilai ternak kelinci
antara lain:
a. Berorientasi pada peternak sebagai pelaku utama agribisnis peternakan serta mengacu
pada dinamika perkembangan global dan semangat desentralisasi.
b. Menjamin agar produk yang dihasilkan mempunyai daya saing sesuai kebutuhan pasar
dan ramah lingkungan melalui promosi dan pameran ternak. Sedangkan strategi yang
akan dikembangkan adalah mengacu kepada kebijaksanaan pemerintah seperti halnya
pada jenis ternak lainnya dengan membentuk networkingatau keterkaitan dan
keterikatan antar subsistem mulai dari pra-produksi, proses produksi dan pascaproduksi serta sarana
c. Pemberdayaan peternak dengan membentuk kelompok untuk mempermudah akses
memperoleh kredit dengan bunga rendah.
d. Mengembangkan peternakan yang efisien, terintegrasi serta melibatkan masyarakat.
e. Mengembangkan ketersediaan sumber pakan lokal, sehingga biaya pakan murah dan
sumber bibit yang lebih terjamin ketersediaannya.
f. Pengembangan industri kompos dan meningkatkan mutu pengolahan limbah dan
kotoran yang mempunyai nilai tambah.
g. Peningkatan efisiensi pemasaran ternak dan hasil ikutan melalui usaha pemasaran
bersama dan memperpendek rantai pemasaran.
h. Promosi bahwa daging ternak kelinci merupakan organic farming.
i. Pengembangan usaha melalui keterkaitan industri penyamakan kulit dengan budidaya
ternak.

DAFTAR PUSTAKA

Abun, D. Rusmana, dan D. Saefulhadjar. 2008. Kaji Tindak Pembuatan Complete Feed Dalam
Upaya Budidaya Kelinci di Desa Panaragan Kecamatan Cikoneng Kabupaten Ciamis.
Skripsi. Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran.
Hutasuhut, M. 2011. Strategi Pengembangan Usaha Ternak Kelinci Mendukung Agribisnis
Peternakan : Dukungan Kebijakan. Lokakarya Nasional Potensi dan Peluang
Pengembangan Usaha Kelinci. Direktorat Pengembangan Peternakan, Direktorat
Jenderal Peternakan.
Kartadisastra HR. 1994. Pengelolaan pakan Ayam. Kiat Meningkatkan Keuntungan dalam
Agribisnis Unggas. Kanisius Yogyakarta
Raharjo, Y. C. 2010. Prospek, Peluang, dan Tantangan Agribisnis Ternak Kelinci. Prosiding.
Disajikan pada Lokakarya Nasional Potensi dan Peluang Pengembangan Usaha
Kelinci. Balai Penelitian Ternak. Bogor.
Ridwan, M dan A. Asnawi. 2008. Kajian Ekonomi Usaha Ternak Kelinci Di Kelurahan
Salokaraja Kelurahan Salokaraja Kabupaten Soppeng. Laporan Penelitian Dosen
Muda. Fakultas Peternakan/Jurusan Sosial Ekonomi Peternakan Universitas
Hasanuddin.
Sirajuddin, S.N., Nurlaelah, S dan Abriati,R. 2012. Strategi Pengembangan Ternak Kelinci di
Kabupaten Soppeng. JITP. Vol 2 (1): 60 74.