Anda di halaman 1dari 32

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A.Pengertian Malpraktik
Ada berbagai macam pendapat dari para sarjana mengenai pengertian malpraktik. Masing-masing
pendapat itu diantaranya adalah sebagai berikut:
a.

Veronica menyatakan bahwa istilah malparaktik berasal dari malpractice yang pada hakikatnya
adalah kesalahan dalam menjalankan profesi yang timbul sebagai akibat adanya kewajibankewajiban yang harus dilakukan oleh dokter.4

b.

Hermien Hadiati menjelaskan malpractice secara harfiah berarti bad practice, atau praktek buruk
yang berkaitan dengan praktek penerapan ilmu dan teknologi medik dalam menjalankan profesi
medik yang mengandung ciri-ciri khusus. Karena malpraktik berkaitan dengan how to practice
the medical science and technology, yang sangat erat hubungannya dengan sarana kesehatan atau
tempat melakukan praktek dan orang yang melaksanakan praktek. Maka Hermien lebih cenderung
untuk menggunakan istilah maltreatment.5

c.

Menurut J. Guwandi merumuskan pengertian malpraktik medik tersebut, yakni: 6


a.

melakukan sesuatu hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan;

b.

Tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan atau melalaikan kewajiban


(negligence).

c.
d.

Melanggar sesuatu ketentuan menurut atau berdasarkan peraturan perundang-undangan.

Danny Wiradharma memandang malpraktik dari sudut tanggung jawab dokter yang berada dalam
suatu perikatan dengan pasien, yaitu dokter tersebut melakukan praktek buruk.7

e.

Amri Amir menjelaskan malpraktik medis adalah tindakan yang salah oleh dokter pada waktu
menjalankan praktek, yang menyebabkan kerusakan atau kerugian bagi kesehatan dan kehidupan
pasien, serta menggunakan keahliannya untuk kepentingan pribadi.8

Beberapa sarjana sepakat untuk merumuskan penggunaan istilah medical malpractice (malpaktek
medik) sebagaimana disebutkan dibawah ini :
1.

John D. Blum memberikan rumusan tentang medical malpractice sebagai a form of professional
negligence in which measerable injury occurs to a plaintiff patient as the direct result of an act or
ommission by the defendant practitioner (malpraktik medik merupakan bentuk kelalaian profesi
dalam bentuk luka atau cacat yang dapat diukur yang terjadinya pada pasien yang mengajukan
gugatan sebagai akibat langsung dari tindakan dokter).9

2.

Black Law Dictionary merumuskan malpraktik sebagai any professional misconduct,


unreasonable lack of skill or fidelity in professional or judiacry duties, evil practice, or illegal or

immoral conduct (perbuatan jahat dari seorang ahli, kekurangan dalam keterampilan yang
dibawah standar, atau tidak cermatnya seorang ahli dalam menjalankan kewajibannya secara
hukum, praktek yang jelek atau ilegal atau perbuatan yang tidak bermoral). 10
Dari beberapa pengertian tentang malpraktik medik diatas semua sarjana sepakat untuk
mengartikan malpraktik medik sebagai kesalahan tenaga kesehatan yang karena tidak mempergunakan
ilmu pengetahuan dan tingkat keterampilan sesuai dengan standar profesinya yang akhirnya
mengakibatkan pasien terluka atau cacat atau bahkan meninggal dunia.
Akan tetapi menurut penulis, malpraktik medik tidak hanya dilakukan oleh orang-orang dari
kalangan profesi dokter saja. Tetapi juga dapat dilakukan oleh orang-orang yang berprofesi di bidang
pelayanan kesehatan atau biasa disebut tenaga kesehatan.

B. Jenis-Jenis Malpraktik
Ngesti Lestari dan Soedjatmiko membedakan malpraktik medik menjadi dua bentuk, yaitu malpraktik
etik (ethical malpractice) dan malpraktik yuridis (yuridical malpractice), ditinjau dari segi etika profesi dan
segi hukum.11
-Malpraktik Etik
Yang dimaksud dengan malpraktik etik adalah tenaga kesehatan melakukan tindakan yang bertentangan
dengan etika profesinya sebagai tenaga kesehatan. Misalnya seorang bidan yang melakukan tindakan yang
bertentangan dengan etika kebidanan.
-Malpraktik Yuridis
Soedjatmiko membedakan malpraktik yuridis ini menjadi tiga bentuk, yaitu malpraktik perdata (civil
malpractice), malpraktik pidana (criminal malpractice) dan malpraktik administratif (administrative
malpractice).11
1). Malpraktik Perdata (Civil Malpractice)
Malpraktik perdata terjadi apabila terdapat hal-hal yang menyebabkan tidak terpenuhinya isi perjanjian
(wanprestasi) didalam transaksi terapeutik oleh tenaga kesehatan, atau terjadinya perbuatan melanggar
hukum (onrechtmatige daad), sehingga menimbulkan kerugian kepada pasien. Adapun isi daripada tidak
dipenuhinya perjanjian tersebut dapat berupa:11
a. Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatan wajib dilakukan.
b. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan, tetapi terlambat melaksanakannya.
c. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan, tetapi tidak sempurna dalam pelaksanaan
dan hasilnya.
d. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak seharusnya dilakukan
2) Malpraktik Pidana

Malpraktik pidana terjadi apabila pasien meninggal dunia atau mengalami cacat akibat tenaga kesehatan
kurang hati-hati. Atau kurang cermat dalam melakukan upaya perawatan terhadap pasien yang meninggal
dunia atau cacat tersebut.
Malpraktik pidana ada tiga bentuk yaitu:11
a.

Malpraktik pidana karena kesengajaan(intensional), misalnya pada kasus aborsi tanpa insikasi
medis, tidak melakukan pertolongan pada kasus gawat padahal diketahui bahwa tidak ada
orang lain yang bisa menolong, serta memberikan surat keterangan yang tidak benar.

b.

Malpraktik pidana karena kecerobohan (recklessness), misalnya melakukan tindakan yang


tidak lege artis atau tidak sesuai dengan standar profesi serta melakukan tindakan tanpa
disertai persetujuan tindakan medis.

c.

Malpraktik pidana karena kealpaan (negligence), misalnya terjadi cacat atau kematian pada
pasien sebagai akibat tindakan tenaga kesehatan yang kurang hati-hati.

3) Malpraktik Administratif
Malpraktik administrastif terjadi apabila tenaga kesehatan melakukan pelanggaran terhadap hukum
administrasi negara yang berlaku, misalnya menjalankan praktek bidan tanpa lisensi atau izin praktek.
C. Teori-Teori Malpraktik
Ada tiga teori yang menyebutkan sumber dari perbuatan malpraktik yaitu: 9,11
a.

Teori Pelanggaran Kontrak Teori pertama yang mengatakan bahwa sumber perbuatan malpraktik
adalah karena terjadinya pelanggaran kontrak. Ini berprinsip bahwa secara hukum seorang tenaga
kesehatan tidak mempunyai kewajiban merawat seseorang bila mana diantara keduanya tidak
terdapat suatu hubungan kontrak antara tenaga kesehatan dengan pasien.

b.

Teori Perbuatan Yang Disengaja Teori kedua yang dapat digunakan oleh pasien sebagai dasar
untuk menggugat tenaga kesehatan karena perbuatan malpraktik adalah kesalahan yang dibuat
dengan sengaja (intentional tort), yang mengakibatkan seseorang secara fisik mengalami cedera
(asssult and battery)

c.

Teori Kelalaian Teori ketiga menyebutkan bahwa sumber perbuatan malpraktik adalah kelalaian
(negligence). Kelalaian yang menyebabkan sumber perbuatan yang dikategorikan dalam
malpraktik ini harus dapat dibuktikan adanya, selain itu kelalaian yang dimaksud harus termasuk
dalam kategori kelalaian yang berat (culpa lata).

Ada juga teori yang dapat dijadikan pegangan untuk mengadakan pembelaan apabila ia menghadapi
tuntutan malpraktik. Teori-teori itu adalah:10
a. Teori Kesediaan Untuk Menerima Resiko (Assumption Of Risk)
Teori ini mengatakan bahwa seorang tenaga kesehatan akan terlindung dari tuntutan malpraktik,
bila pasien memberikan izin atau persetujuan untuk melakukan suatu tindakan medik dan

menyatakan bersedia memikul segala resiko dan bahaya yang mungkin timbul akibat tindakan
medik tersebut.
b.

Teori Pasien Ikut Berperan Dalam Kelalaian (Contributory Negligence)


Adalah kasus dimana tenaga kesehatan dan pasien dinyatakan oleh pengadilan sama-sama
melakukan kelalaian.

c.

Perjanjian Membebaskan Dari Kesalahan (Exculpatory Contract)


Cara lain bagi tenaga kesehatan untuk melindungi diri dari tuntutan malpraktik adalah dengan
mengadakan suatu perjanjian atau kontrak khusus dengan penderita, yang berjanji tidak akan
menuntut tenaga kesehatan atau rumah sakit bila terjadi misalnya kelalaian malpraktik.

d.

Peraturan Good Samaritan


Menurut teori ini,seorang tenaga kesehatan yang memberikan pertolongan gawat darurat dengan
tujuan murni (setulus hati) pada suatu peristiwa darurat dibebaskan dari tuntutan hukum
malpraktik kecuali jika terdapat indikasi terjadi suatu kelalaian yang sangat mencolok.

e.

Pembebasan Atas Tuntutan (Releas)


Yaitu suatu kasus dimana pasien membebaskan tenaga kesehatan dari seluruh tuntutan malpraktik,
dan kedua belah pihak bersepakat untuk mengadakan penyelesaian bersama.

f.

Peraturan Mengenai Jangka Waktu Boleh Menuntut (Statute Of Limitation)


Menurut teori ini tuntutan malpraktik hanya dapat dilakukan dalam jangka waktu tertentu, yang
biasanya relatif lebih pendek daripada tuntutan-tuntutan hukum yang lain.

g.

Workmens Compensation
Bila seorang tenaga kesehatan dan pasien yang terlibat dalam suatu kasus malpraktik keduanya
bekerja pada suatu lembaga atau badan usaha yang sama, maka pasien tersebut tidak akan
memperoleh ganti rugi dari kasus malpraktik yang dibuat oleh tenaga kesehatan tersebut.Hal ini
disebabkan menurut peraturan workmens compensation, semua pegawai dan pekerja menerima
ganti rugi bagi setiap kecelakaan yang terjadi di situ, dan tidak menjadi persoalan kesalahan siapa
dan apa sebenarnya penyebab cedera atau luka. Akan tetapi walaupun dengan adanya teori-teori
pembelaan tersebut, tidak berarti seorang tenaga kesehatan boleh bertindak semaunya kepada
pasien.
Walaupun terdapat teori-teori pembelaan tersebut, juga harus dilihat apakah tindakan tenaga
kesehatan telah sesuai dengan standar profesi. Apabila tindakan tenaga kesehatan tersebut tidak
sesuai dengan standar profesi, maka teori-teori pembelaan tersebut tidak dapat dijadikan alasan
pembelaan baginya.

D. Pengaturan Malpraktik Dokter


Pada umumnya, apabila ada dugaan terjadi malpraktik yang dilakukan oleh dokter atau rumah
sakit terhadap seorang pasien, dasar dari gugatan pasien terhadap dokter atau rumah sakit yaitu
menggunakan Pasal 1365 KUH Perdata. Di dalam prakteknya untuk menjerat seseorang itu telah

melakukan kesalahan dengan menggunakan Pasal 1365 KUH Perdata seperti tersebut di atas, maka
biasanya digunakan juga Pasal selanjutnya yaitu Pasal 1371 ayat 1 KUHP.
Banyaknya kasus malpraktik yang muncul ke permukaan biasanya hanya diselesaikan dengan
solusi damai pada tingkat Majelis Kehormatan Kode Etik Kedokteran (MKEK). Padahal yang
dipertaruhkan tidak sekedar kompensasi, tetapi yang lebih penting lagi adalah kelangsungan hidup pasien.
E. Pengaturan Malpraktik Dokter dalam Bidang Hukum Perdata
Dokter yang melakukan praktik kedokteran adalah dalam rangka melaksanakan hak dan kewajiban
dalam suatu hubungan hukum dokter pasien. Yang dimaksud dengan hubungan hukum (rechtsbetrekking)
adalah hubungan antardua subjek hukum atau lebih, atau antara subjek hukum dan objek hukum yang
berlaku di bawah kekuasaan hukum, atau diatur/ada dalam hukum dan mempunyai akibat hukum.
Jelasnya, hubungan hukum ada 3 kategori, yaitu: 13
a)

Hubungan hukum antar dua subjek hukum orang dengan subjek hukum orang, misalnya hubungan
hukum dokter-pasien

b) Hubungan hukum antara subjek hukum orang dengan subjek hukum badan, misalnya antara pasien
dengan rumah sakit; dan
c)

Hubungan hukum antara subjek hukum orang maupun badan dengan objek hukum benda berupa
hak kebendaan.
Malpraktik perdata terjadi apabila terdapat hal-hal yang menyebabkan tidak dipenuhinya isi

perjanjian (wanprestasi) dalam transaksi terapeutik, baik oleh dokter maupun tenaga kesehatan lain, atau
terjadinya perbuatan melanggar hukum (onreghmatige daad), sehingga menimbulkan kerugian kepada
pasien.
Ingkar janji atau wanprestasi ini diatur dalam Pasal 1234, Pasal 1239, Pasal 1243 dan Pasal 1320
KUH Perdata. Menurut Pasal 1234 KUH Perdata, disebutkan bahwa: Perikatan ditujukan untuk
memberikan sesuatu, untuk berbuat sesuatu, atau untuk tidak berbuat sesuatu.
Kemudian Pasal 1239 KUHPerdata mengatur pula mengenai akibat hukum bagi pihak yang tidak
melaksanakan isi dari perikatan yang terjadi. Hal ini sebagaimana ditegaskan bahwa:
Tiap-tiap perikatan untuk berbuat sesuatu, atau untuk tidak berbuat sesuatu, apabila si berutang tidak
memenuhi kewajibannya, mendapatkan penyelesaiannya dalam kewajiban memberikan penggantian biaya,
rugi dan bunga.

F. Tanggungjawab Dokter Dalam Kasus MalpraktikMedis (Medical Malpractice)


Banyak persoalan malpraktik atas kesadaran hukum msyarakat diangkat menjadi
masalah

perdata.

Perbuatan

melanggar

hukum

perkembangannya diperluas menjadi 4 (empat) kriteria. 14

(onrechtmatigedaad)

dalam

Pertama, bertentangan dengan kewajiban hukum si pelaku; atau


kedua, melawan hukum hak subjektif orang lain; atau
ketiga, melawan kaidah tata susila; atau
keempat bertentangan dengan kepatutan, ketelitian dan sikap hati-hati yang
seharusnya dimiliki seseorang dalam pergaulan dengan sesama warga masyarakat
atau terhadap harta benda orang lain.
Masalah tanggungjawab dokter dalam kasus malpraktik medik, ada relevansi

dengan perbuatan melanggar hukum Pasal 1366 dan 1364 KUHP, yaitu:16
-

pertama pasien harus mengalami suatu kerugian


kedua, ada kesalahan atau kelalaian (disamping perseorangan, rumah sakit

juga dapat bertanggungjawab atas kesalahan atau kelalaian pegawainya)


ketiga, ada hubungan kausal antara kerugian dan kesalahan; dan
keempat, perbuatan itu melanggar hukum.

Apabila seseorang pada waktu melakukan perbuatan melawan hukum itu tahu
betul perbuatannya akan berakibat suatu keadaan tertentu yang merugikan pihak lain
dapat dikatakan bahwa pada umumnya seseorang tersebut dapat dipertanggungjawabkan.
Syarat untuk dapat dikatakan bahwa seorang tahu betul hal adanya keadaan-keadaan yang
menyebabkan kemungkinan akibat itu akan terjadi.17
Kesalahan bertindak ini terjadi karena kurangnya ketelitian dokter di dalam
melakukan observasi terhadap pasien sehingga terjadilah hal yang tidak diinginkan
bersama. Ketidaktelitian ini merupakan tindakan yang masuk di dalam kategori tindakan
melawan hukum hukum, sehingga menyebabkan kerugian yang harus ditanggung oleh
pasien.17
G. Perlindungan Hukum Korban Malpraktik Dokter
Doktrin adalah pendapat para ahli hukum dan landasan penggunaan doktrin yaitu
asas hukum yang mengedepankan communis opinio doctorum atau seseorang tidak boleh
menyimpang dari pendapat umum para sarjana atau ahli hukum. Doktrin yang berlaku di
dalam ilmu kesehatan yaitu Res Ipsa Loquitur artinya doktrin yang memihak pada
korban. Pembuktian dalam hukum acara perdata yang menentukan bahwa pihak korban
dari suatu perbuatan melawan hukum dalam bentuk kelalaian tidak perlu membuktikan
adanya unsur kelalaian tersebut, cukup menunjukkan faktanya. Tujuannya adalah untuk
mencapai keadilan.

H. Kode Etik Kedokteran


KEWAJIBAN UMUM

Pasal 1

Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah dokter.

Pasal 2

Seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan


standar profesi yang tertinggi.

Pasal 3

Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi oleh
sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi.

Pasal 4

Setiap dokter harus menghindarkan diri dari perbuatan yang bersifat memuji diri.

Pasal 5

Tiap perbuatan atau nasehat yang mungkin melemahkan daya tahan psikis maupun fisik
hanya diberikan untuk kepentingan dan kebaikan pasien, setelah memperoleh persetujuan
pasien.

Pasal 6

Setiap dokter harus senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan dan menerapkan setiap
penemuan teknik atau pengobatan baru yang belum diuji kebenarannya dan hal-hal yang
dapat menimbulkan keresahan masyarakat.

Pasal 7

Seorang dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah diperiksa
sendiri kebenarannya.

Pasal 7a

Seorang dokter harus, dalam setiap praktik medisnya, memberikan pelayanan medis yang

kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya, disertai rasa kasih sayang
(compassion) dan penghormatan atas martabat manusia.

Pasal 7b

Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan sejawatnya,
dan berupaya untuk mengingatkan sejawatnya yang dia ketahui memiliki kekurangan
dalam karakter atau kompetensi, atau yang melakukan penipuan atau penggelapan, dalam
menangani pasien

Pasal 7c

Seorang dokter harus menghormati hak-hak pasien, hak-hak sejawatnya, dan hak tenaga
kesehatan lainnya, dan harus menjaga kepercayaan pasien

Pasal 7d

Setiap dokten harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk
insani.

Pasal 8

Dalam melakukan pekerjaannya seorang dokter harus memperhatikan kepentingan


masyarakat dan memperhatikan semua aspek pelayanan kesehatan yang menyeluruh
(promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif), baik fisik maupun psiko-sosial, serta
berusaha menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yang sebenar-benarnya.

Pasal 9

Setiap dokter dalam bekerja sama dengan para pejabat di bidang kesehatan dan bidang
lainnya serta masyarakat, harus saling menghormati1 13.
KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP PASIEN

Pasal 10

Setiap dokten wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala ilmu dan
ketrampilannya untuk kepentingan pasien. Dalam hal ini ia tidak mampu melakukan
suatu pemeriksaan atau pengobatan, maka atas persetujuan pasien,ia wajib menujuk
pasien kepada dokten yang mempunyai keahlian dalam penyakit tersebut.

Pasal 11

Setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada pasien agar senantiasa dapat

berhubungan dengan keluarga dan penasehatnya dalam beribadat dan atau dalam masalah
lainnya.

Pasal 12

Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang
pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia.

Pasal 13

Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas perikemanusiaan,
kecuali bila ia yakin ada orang lain bersedia dan mampu memberikannya.
KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP TEMAN SEJAWAT

Pasal 14

Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin


diperlakukan.

Pasal 15

Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dan teman sejawat, kecuali dengan
persetujuan atau berdasarkan prosedur yang etis.
KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP DIRI SENDIRI

Pasal 16

Setiap dokter harus memelihara kesehatannya, supaya dapat bekerja dengan baik.

Pasal 17

Setiap dokter harus senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
kedokteran/kesehatan. 12
I. HUBUNGAN DOKTER-PASIEN
Hubungan dokter-pasien merupakan tunjang praktek kedokteran dan asas kepada etika
kedokteran. Deklarasi Geneva menyatakan bahwa seorang dokter harus meletakkan
kesehatan pasiennya sebagai perkara yang paling utama. Kode Etik Medis Internasional
pula menyatakan bahwa seorang dokter wajib memberikan pelayanan terbaik sesuai
sarana yang tersedia atas kepercayaan yang telah diberikan pasien kepadanya. Prinsip

utama moral profesi adalah autonomy, beneficence, non maleficence dan justice. Prinsip
turunannya pula adalah veracity (memberikan keterangan yang benar), fidelity
(kesetiaan), privacy, dan confidentiality (menjaga kerahasiaan).
Hubungan dokter-pasien pada awalnya merupakan hubungan paternalistic dengan
memegang prinsip beneficence sebagai prinsip utama. Namun cara ini dikatakan
mengabaikan hak autonomy pasien sehingga sekarang lebih merujuk kepada teori social
contract dengan dokter dan pasien sebagai pihak bebas yang saling menghargai dalam
membuat keputusan. Dokter bertanggungjawab atas segala keputusan teknis sedangkan
pasien memegang kendali keputusan penting terutama yang terkait dengan nilai moral
dan gaya hidup pasien.
Hubungan dokter-pasien yang baik memerlukan kepercayaan. Maka, dengan
memegang pada dasar kepercayaan pasien terhadap dokter yang merawatnya, seorang
dokter tidak boleh menjalin hubungan di luar bidang profesinya dengan pasien yang
sedang dirawat 12.
MENGHORMATI DAN PELAYANAN SAMA RATA
Isu hak sama rata merupakan suatu hal yang rumit buat dokter. Menurut Deklarasi
Geneva, dokter tidak boleh mendiskriminasi pasien baik secara umur, penyakit, ras, jenis
kelamin, kewarganegaraan, orientasi seksual, maupun status social. Tetapi pada masa
yang sama dokter juga dibenarkan untuk menolak pasien yang datang kepadanya kecuali
pada kasus gawat darurat dengan alasan kurang kemahiran dan penyakit pasien bukan di
dalam bidang kompetensi nya.
Dokter juga harus menyadari bahwa perilaku terhadap pasien turut berpengaruh
dalam hubungan dokter-pasien untuk mewujudkan kepercayaan dalam diri pasien kepada
dokternya. Dokter juga tidak boleh meninggalkan pasien di bawah jagaannya sehingga
Kode Etika Medis Internasional dari World Medical Association(WMA) menyatakan
bahwa dokter hanya boleh meninggalkan pasiennya dengan cara merujuk pasien ke
dokter lain apabila tindakan lanjut yang diperlukan adalah di luar bidang kompetensinya.
Selain itu, dokter juga tidak dibenarkan untuk menolak pelayanan kesehatan
terhadap pasien dengan HIV/AIDS. Ini karena menurut WMA, pasien dengan HIV/AIDS
harus diperlakukan seperti pasien lain dan dokter hanya boleh melepaskan

tanggungjawabnya melalui rujukan ke dokter lain yang lebih kompeten12.

KOMUNIKASI DAN CONSENT


Informed consent merupakan alat paling penting dalam hubungan dokter-pasien pada
masa kini. Informed consent yang benar harus disertai dengan komunikasi baik antara
dokter dan pasien. Keterangan yang dapat diberikan kepada pasien sebelum mendapatkan
informed consent termasuklah menerangkan diagnosis penyakit, prognosis dan pilihan
pengobatan penyakit. Perlu juga kebaikan dan keburukan masing-masing tindakan yang
bakal dilakukan.
Informed consent harus memuatkan pilihan untuk pasien menerima atau menolak
tindakan medik yang bakal dilakukan dokter selain mencantumkan pilihan terapi lain.
Pasien yang kompeten boleh memilih untuk menolak tindakan medik walaupun tanpa
tindakan ini dapat mengancam nyawa pasien. Terdapat dua kondisi di mana informed
consent dikecualikan yaitu:
1. Pasien menyerahkan sepenuhnya keputusan tindakan medik terhadap dirinya
kepada dokter. Apabila pasien menyerahkan semua keputusan kepada dokter yang
merawatnya, dokter tetap harus menerangkan secara lengkap tindakan yang bakal
dilakukan.
2. Keadaan apabila pemberitahuan tentang kondisi penyakit pasien dapat berdampak
besar terhadap pasien secara fisik, psikologis dan emosional. Contohnya adalah
apabila pasien cenderung untuk membunuh diri apabila mengetahui tentang
penyakitnya. Namun, dokter pada awalnya harus menganggap bahwa semua
pasien dapat menerima berita tentang penyakitnya dan memberikan informasi
selengkapnya sesuai dengan hak pasien. 13
INFORMED CONSENT UNTUK PASIEN INKOMPETEN
Pasien inkompeten adalah mereka yang tidak mampu membuat keputusan untuk diri
mereka sendiri seperti anak, individu dengan gangguan psikologi atau neurologi berat dan
pasien yang tidak sadar. Mengikut WMA Declaration on the Rights of the Patients,

apabila pasien tidak mampu membuat keputusan untuk dirinya sendiri, perlulah mendapat
kebenaran dari wakilnya. Apabila tidak dapat ditemukan wakil dan pasien memerlukan
tindak medis segera, dokter perlulah memikirkan bahwa pasien sudah bersetuju dengan
tindakan yang bakal dilakukan melainkan telah tercatat bahwa pasien tidak bersetuju
dengan tindakan tersebut sebelumnya.
Apabila

pasien

adalah

anak,

hak

diberikan

kepada

mereka

yang

bertanggungjawab terhadapnya. Namun, pasien harus ikut serta dalam pembuatan


keputusan dan memahami tindakan yang bakal dilakukan.13
KERAHASIAAN PASIEN
Dasar dari kerahasiaan pasien adalah autonomy, rasa hormat dan kepercayaan pasien.
Kepercayaan adalah bagian paling penting dalam hubungan dokter-pasien sehingga
seorang dokter tidak dibenarkan untuk membuka rahasia pasien tanpa kebenaran dari
pasien itu sendiri kecuali diminta oleh hukum. Dokter juga dibenarkan untuk membuka
rahasia pasien apabila pasien tidak mampu untuk mengambil keputusan sendiri.
Dalam keadaan di mana pasien dapat menimbulkan bahaya kepada orang sekitarnya,
dokter dapatlah memberitahu mereka yang mungkin beresiko terhadap penyakit pasien
tersebut. Contohnya adalah memberitahu pasangan pasien dengan HIV/AIDS tentang
penyakitnya apabila pasien enggan untuk melakukan seks dengan perlindungan 12.
HUBUNGAN DOKTER-TEMAN SEJAWAT
Profesi kedokteran merupakan profesi yang berjalan di bawah satu sistem hirarki baik
secara internal maupun eksternal. Hirarki internal dapat dibagi kepada tiga yaitu
perbedaan kedudukan dokter berdasarkan kepakaran, perbedaan berdasarkan pencapaian
akademik, dan perbedaan kompetensi dan pengalaman dalam menangani pasien. Secara
eksternal pula, dokter sering diletakkan di bagian tertinggi dibanding petugas kesehatan
lain .
Dalam perkembangan ilmu kedokteran, seorang dokter harus menyadari bahwa
dia tidak mampu menangani semua penyakit dan memerlukan kerjasama baik antara
tenaga kesehatan lain seperti perawat, pharmacist, ahli fisioterapi, teknisi laboratorium,
dan lain-lain.13

HUBUNGAN TEMAN SEJAWAT


Hubungan antara dokter dan teman sejawat dinyatakan dalam Declaration of Geneva
yang menyatakan hubungan antara petugas kesehatan adalah seperti saudara. Menurut
Kode Etik Medik Internasional pula, terdapat dua larangan dalam hubungan sesama
dokter yaitu:
1. Membayar atau menerima bayaran dari dokter lain dalam menangani pasien
2. Mengambil alih tugas perawatan pasien dari dokter lain tanpa rujukan dokter
tersebut.
Sering dalam praktek sehari-hari, akan timbul perbedaan pendapat antara dokter tentang
penanganan yang tepat untuk seorang pasien. Dengan menganggap isu yang timbul hanya
untuk kebaikan pasien dan tidak ada penyimpangan dari etika kedokteran, hal ini dapat
diselesaikan dengan cara:
1. Dilakukan secara informal yaitu melalui rundingan dan perbincangan antara pihak
yang terlibat. Perbincangan hanya akan dilakukan secara formal apabila cara
informal tidak member hasil.
2. Opini semua pihak yang terlibat perlu didengarkan dan dipertimbangkan.
3. Pasien berhak menentukan tindakan medis untuk dirinya dan pilihan pasien ini
akan menjadi penunjang utama dalam pengambilan keputusan isu terkait.
4. Apabila semua rundingan tidak disepakati, maka penyelesaian isu dapat
melibatkan pihak wewenang dan hukum.11

HUBUNGAN GURU DAN MAHASISWA KEDOKTERAN


Hubungan antara tenaga pengajar dan mahasiswa kedokteran juga penting dalam etika
kedokteran. Mahasiswa kedokteran harus menghormati dan memanfaatkan ilumu yang
diperoleh sebaiknya. Tenaga pengajar fakultas kedokteran juga harus menghormati
mahasiswa dan membimbing mahasiswa sebaiknya sesuai etika profesi kedokteran 13.
PELAPORAN MALPRAKTEK
Kewajiban melaporkan malpraktek dan praktek tidak kompeten dinyatakan dalam Kode
Etik Medis Internasional yaitu A physician shall report to the appropriate authorities
those physicians who practice unethically or incompetently or who engage in fraud or

deception. Dokter sering kali sulit untuk membuat pelaporan tentang tindakan
malpraktek dokter lain atas dasar simpati atau persahabatan tetapi perlu diingatkan bahwa
pelaporan adalah salah satu tugas professional seorang dokter 10.
Namun, tindakan pelaporan ke pihak wewenang harus menjadi pilihan terakhir apabila
metode lain seperti menegur dan memberi peringatan kepada dokter yang bersangkutan
tidak dapat menyelesaikan tindakan malprakteknya.
HUBUNGAN DOKTER DAN TENAGA PELAYANAN KESEHATAN LAIN
Dokter seharusnya mempunyai hubungan non diskriminasi dan saling hormatmenghormati sesama tenaga pelayanan kesehatan lain. Perlu diingatkan bahwa semua
tenaga pelayanan kesehatan, walaupun berbeda dari tingkat pendidikan, berpegang pada
prinsip yang sama yaitu memberikan pelayanan terbaik untuk kesehatan pasien 13.
HAK PASIEN
WMA telah mengeluarkan Declaration of Lisbon on the Rights of the Patient (1991) yang
menyatakan hak pasien adalah sebagai berikut3:
1. Hak memilih dokter secara bebas
2. Hak klinis dan etis
3. Hak untuk menerima atau menolak pengobatan setelah menerima informasi yang
adekuat
4. Hak untuk dihormati kerahasiaan dirinya
5. Hak untuk mati secara bermartabat
6. Hak untuk menerima atau menolak dukungan spiritual atau moral.
UU Kesehatan pula menyebutkan beberapa hak pasien yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Hak atas informasi


Hak atas second opinion
Hak untuk memberi persetujuan atau menolak suatu tindakan medis
Hak untuk kerahasiaan
Hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan
Hak untuk memperoleh ganti rugi apabila ia dirugikan akibat kesalahan tenaga
kesehatan.

Selain itu, UU Praktik Kedokteran menyatakan hak pasien sebagai berikut:


1. Hak untuk mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis (Pasal
45 ayat (3)). Penjelasan sekurang-kurangnya meliputi diagnosis, tatacara tindakan,

tujuan tindakan medis yang bakal dilakukan, alternative tindakan lain dan
risikonya, risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi dan prognosis terhadap
2.
3.
4.
5.

tindakan yang akan dilakukan.


Hak untuk memeinta pendapat dokter lain
Hak mendapatkan pelayanan sesuai kebutuhan medis
Hak untuk menolak tindakan medis
Hak untuk mendapatkan isi rekam medis 14
Contoh Kasus Malpraktek dan Analisanya

1. Kasus 1
Liputan6.com, Jakarta : Mencuatnya kasus dipidanakannya dokter spesialis
kebidanan dan kandungan, Dewa Ayu Sasiary Prawani dalam kasus malapraktik terhadap
korban Julia Fransiska Makatey (25), masih belum menemukan titik terang.
Untuk mengetahui lebih jelas kronologi kasusnya, berikut ulasan yang diuraikan Ketua
Umum Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Dr Nurdadi Saleh,
SpOG beberapa waktu lalu:

10 April 2010
Korban, Julia Fransiska Makatey (25) merupakan wanita yang sedang hamil anak

keduanya. Ia masuk ke RS Dr Kandau Manado atas rujukan puskesmas. Pada waktu itu,
ia didiagnosis sudah dalam tahap persalinan pembukaan dua. Namun setelah delapan jam
masuk tahap persalinan, tidak ada kemajuan dan justru malah muncul tanda-tanda gawat
janin, sehingga ketika itu diputuskan untuk dilakukan operasi caesar darurat. "Saat itu
terlihat tanda tanda gawat janin, terjadi mekonium atau bayi mengeluarkan feses saat
persalinan sehingga diputuskan melakukan bedah sesar," ujarnya. Tapi yang terjadi
menurut dr Nurdadi, pada waktu sayatan pertama dimulai, pasien mengeluarkan darah
yang berwarna kehitaman. Dokter menyatakan, itu adalah tanda bahwa pasien kurang
oksigen. "Tapi setelah itu bayi berhasil dikeluarkan, namun pasca operasi kondisi pasien
semakin memburuk dan sekitar 20 menit kemudian, ia dinyatakan meninggal dunia,"
ungkap Nurdadi, seperti ditulis Senin (18/11/2013).

15 September 2011
Atas kasus ini, tim dokter yang terdiri atas dr Ayu, dr Hendi Siagian dan dr

Hendry Simanjuntak, dituntut Jaksa Penuntut Umum (JPU) hukuman 10 bulan penjara

karena laporan malpraktik keluarga korban. Namun Pengadilan Negeri (PN) Manado
menyatakan ketiga terdakwa tidak bersalah dan bebas murni.

"Dari hasil otopsi

ditemukan bahwa sebab kematiannya adalah karena adanya emboli udara, sehingga
mengganggu peredaran darah yang sebelumnya tidak diketahui oleh dokter. Emboli udara
atau gelembung udara ini ada pada bilik kanan jantung pasien. Dengan bukti ini PN
Manado memutuskan bebas murni," tutur dr Nurdadi. JPU menyatakan ada beberapa hal
yang perlu dikaji kembali terkait keputusan bebas murni yang dikeluarkan oleh PN
Manado. Di antaranya keberatan mengenai kelalaian yang dilakukan terdakwa; tidak
adanya informed consent; dan tidak dilakukannya prosedur pemeriksaan jantung sebelum
tindakan operasi. Tapi ternyata kasus ini masih bergulir karena jaksa mengajukan kasasi
ke Mahkamah Agung yang kemudian dikabulkan.

18 September 2012
Dr. Dewa Ayu dan dua dokter lainnya yakni dr Hendry Simanjuntak dan dr Hendy

Siagian akhirnya masuk daftar pencarian orang (DPO).

11 Februari 2013
Keberatan atas keputusan tersebut, PB POGI melayangkan surat ke Mahkamah

Agung dan dinyatakan akan diajukan upaya Peninjauan Kembali (PK). Dalam surat
keberatan tersebut, POGI menyatakan bahwa putusan PN Manado menyebutkan ketiga
terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan kalau ketiga dokter tidak bersalah
melakukan tindak pidana. Sementara itu, Majelis Kehormatan dan Etika Profesi
Kedokteran (MKEK) menyatakan tidak ditemukan adanya kesalahan atau kelalaian para
terdakwa dalam melakukan operasi pada pasien.

8 November 2013
Dr Dewa Ayu Sasiary Prawan (38), satu diantara terpidana kasus malapraktik

akhirnya diputuskan bersalah oleh Mahkamah Agung dengan putusan 10 bulan penjara.
Ia diciduk di tempat praktiknya di Rumah Sakit Ibu dan Anak Permata Hati, Balikpapan
Kalimantan Timur (Kaltim) oleh tim dari Kejaksaan Agung (Kejagung) dan Kejari
Manado sekitar pukul 11.04 Wita. Sementara kedua dokter lainnya yakni dr Hendry
Simanjuntak dan dr Hendy Siagian masih dicari. Menurut keterangan Nurdadi, kedua
dokter tersebut sedang melakukan pelatihan.

Analisa kasus
Berdasarkan

Peraturan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

290/MENKES/PER/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan Medik Pasal 1 ayat (1)


dijelaskan bahwa Persetujuan tindakan medik kedokteran adalah persetujuan yang
diberikan oleh pasien atau keluarganya setelah mendapatkan penjelasan secara lengkap
mengenai tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan terhadap pasien.
Pada

Peraturan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

No.

290/MENKES/PER/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan Medik, pengaturan mengenai


informed consent pada kegawatdaruratan lebih tegas dan lugas. Permenkes No.
290/Menkes/Per/III/2008 pasal 4 ayat (1) dijelaskan bahwa Dalam keadaan darurat,
untuk menyelamatkan jiwa pasien dan/atau mencegah kecacatan tidak diperlukan
persetujuan tindakan kedokteran.
Disahkannya
mengggugurkan

Permenkes
Permenkes

No.

290/MENKES/PER/III/2008

sebelumnya

yaitu

pada

sekaligus

Permenkes

No

585/Men.Kes/Per/IX/1989 masih terdapat beberapa kelemahan. Pada pasal 11 hanya


disebutkan bahwa yang mendapat pengecualian hanya pada pasien pingsan atau tidak
sadar.
Jika ditinjau dari hukum kedokteran yang dikaitkan dengan doktrin informed
consent, maka yang dimaksudkan dengan kegawatdaruratan adalah suatu keadaan dimana
:

Tidak ada kesempatan lagi untuk memintakan informed consent, baik dari pasien
atau anggota keluarga terdekat (next of kin)

Tidak ada waktu lagi untuk menunda-nunda

Suatu tindakan harus segera diambil untuk menyelamatkan jiwa pasien atau
anggota tubuh.
Seperti yang telah dijelaskan pada Permenkes No 209/Menkes/Per/III/2008 pada
pasal 4 ayat (1) bahwa tidak diperlukan informed consent pada keadaan gawat
darurat. Namun pada ayat (3) lebih di tekankan bahwa dokter wajib memberikan

penjelasan setelah pasien sadar atau pada keluarga terdekat. Berikut pasal 4 ayat
(3) Dalam hal dilakukannya tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), dokter atau dokter gigi wajib memberikan penjelasan sesegera mungkin
kepada pasien setelah pasien sadar atau kepada keluarga terdekat. Hal ini berarti,
apabila sudah dilakukan tindakan untuk penyelamatan pada keadaan gawat
darurat, maka dokter berkewajiban sesudahnya untuk memberikan penjelasan
kepada pasien atau kelurga terdekat.
Selain ketentuan yang telah diatur pada UU No. 29 Tahun 2004 Tentang Praktik
Kedokteran dan Peraturan Menteri Kesehatan No. 209/Menkes/Per/III/2008, apabila
pasien dalam keadaan gawat darurat sehingga dokter tidak mungkin mengajukan
informed consent, maka KUHP Perdata Pasal 1354 juga mengatur tentang pengurusan
kepentingan orang lain. Tindakan ini dinamakan zaakwaarneming atau perwalian
sukarela yaitu Apabila seseorang secara sukarela tanpa disuruh setelah mengurusi
urusan orang lain, baik dengan atau tanpa sepengetahuan orang itu, maka secara diamdiam telah mengikatkan dirinya untuk meneruskan mengurusi urusan itu sehingga orang
tersebut sudah mampu mengurusinya sendiri.
Dalam keadaan yang demikian perikatan yang timbul tidak berdasarkan suatu
persetujuan pasien, tetapi berdasarkan suatu perbuatan menurut hukum yaitu dokter
berkewajiban untuk mengurus kepentingan pasien dengan sebaik-baiknya. Maka dokter
berkewajiban memberikan informasi mengenai tindakan medis yang telah dilakukannya
dan mengenai segala kemungkinan yang timbul dari tindakan itu.
Kesimpulan
Tindakan dalam kegawatdaruratan medik di perbolehkan tanpa melakukan persetujuan
atau informed consent terlebih dahulu. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia No. 290/MENKES/PER/III/2008 tentang Persetujuan
Tindakan Kedokteran dan diperjelas oleh KUH Perdata pasal 1354.
2. Kasus 2

DETIKNEWS.COM Jakarta - Mahkamah Agung (MA) menolak kasasi jaksa


atas kasus malpraktik dengan terdakwa dr Wida Parama Astiti. MA memutuskan dr Wida
telah melakukan malpraktik sehingga pasien berusia 3 tahun meninggal dunia dan
dijatuhi 10 bulan penjara.
Seperti dilansir dalam website Mahkamah Agung (MA), Jumat (22/3/2013), kasus
tersebut bermula saat dr Wida menerima pasien Deva Chayanata (3) pada 28 April 2010
pukul 19.00 WIB datang ke RS Krian Husada, Sidoarjo, Jatim. Deva datang diantar orang
tuanya karena mengalami diare dan kembung dan dr Deva langsung memberikan
tindakan medis berupa pemasangan infuse, suntikan, obat sirup dan memberikan
perawatan inap.
Keesokan harinya, dr Wida mengambil tindakan medis dengan meminta kepada perawat
untuk melakukan penyuntikan KCL 12,5 ml. Saat itu, dr Wida berada di lantai 1 dan tidak
melakukan pengawasan atas tindakan perawat tersebut dan Deva kejang-kejang. Akibat
hal ini, Deva pun meninggal dunia.
"Berdasarkan keterangan ahli, seharusnya penyuntikan KCL dapat dilakukan dengan cara
mencampurkan ke dalam infuse sehingga cairan KCL dapat masuk ke dalam tubuh
penderita dengan cara masuk secara pelan-pelan," demikian papar dakwaan jaksa.
Lantas, dr Wida diproses secara hukum dan pada 1 Juni 2011 Kejaksaan Negeri Sidoarjo
menuntut dr Wida dijatuhkan hukuman 18 bulan penjara karena melanggar Pasal 359
KUHP. Tuntutan ini dipenuhi majelis hakim Pengadilan Negeri Sidoarjo pada 19 Juli
2011. Namun terkait lamanya hukuman, majelis hakim memutuskan dr Wida harus
mendekam 10 bulan karena menyebabkan matinya orang yang dilakukan dalam
melakukan suatu jabatan atau pekerjannya.
Putusan ini dikuatkan Pengadilan Tinggi Surabaya pada 7 November 2011. Namun jaksa
tidak puas dan melakukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA). "Putusan Pengadilan
Tinggi sangat ringan sehingga tidak memenuhi rasa keadilan yang hidup dalam
masyarakat dan tidak membuat jera pelaku atau orang lain yang akan melakukan
perbuatan yang sama," demikian alasan kasasi jaksa. Namun, MA berkata lain.
"Menolak permohonan kasasi dari Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Sidoarjo,"
demikian putus MA yang diketok olah majelis hakim Dr Artidjo Alkostar, Dr Sofyan
Sitompul dan Dr Dudu D Machmuddin pada 28 September 2012 lalu.

Analisa Kasus
Pasal 359 KUHP yang berbunyi : Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan
matinya orang lain, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan
paling lama satu tahun
Sebagaimana diuraikan di atas, di dalam suatu layanan medik dikenal gugatan ganti
kerugian yang diakibatkan oleh kelalaian medik. Suatu perbuatan atau tindakan medis
disebut sebagai kelalaian apabila memenuhi empat unsur di bawah ini.

Duty atau kewajiban tenaga medis untuk melakukan sesuatu tindakan medis atau
untuk tidak melakukan sesuatu tindakan tertentu terhadap pasien tertentu pada
situasi dan kondisi yang tertentu. Dasar dari adanya kewajiban ini adalah adanya
hubungan kontraktual-profesional antara tenaga medis dengan pasiennya, yang
menimbulkan kewajiban umum sebagai akibat dari hubungan tersebut dan
kewajiban profesional bagi tenaga medis tersebut. Kewajiban profesional
diuraikan di dalam sumpah profesi, etik profesi, berbagai standar pelayanan, dan
berbagai prosedur operasional. Kewajiban-kewajiban tersebut dilihat dari segi
hukum merupakan rambu-rambu yang harus diikuti untuk mencapai perlindungan,
baik bagi pemberi layanan maupun bagi penerima layanan; atau dengan demikian
untuk mencapai safety yang optimum.

Dereliction of the duty atau penyimpangan kewajiban tersebut. Dengan melihat


uraian tentang kewajiban di atas, maka mudah buat kita untuk memahami apakah
arti penyimpangan kewajiban. Dalam menilai kewajiban dalam bentuk suatu
standar pelayanan tertentu, haruslah kita tentukan terlebih dahulu tentang
kualifikasi si pemberi layanan (orang dan institusi), pada situasi seperti apa dan
pada kondisi bagaimana. Suatu standar pelayanan umumnya dibuat berdasarkan
syarat minimal yang harus diberikan atau disediakan (das sein), namun kadangkadang suatu standar juga melukiskan apa yang sebaiknya dilakukan atau
disediakan (das sollen). Kedua uraian standar tersebut harus hati-hati
diinterpretasikan. Demikian pula suatu standar umumnya berbicara tentang suatu
situasi dan keadaan yang normal sehingga harus dikoreksi terlebih dahulu untuk
dapat diterapkan pada situasi dan kondisi yang tertentu. Dalam hal ini harus

diperhatikan adanya Golden Rule yang menyatakan What is right (or wrong) for
one person in a given situation is similarly right (or wrong) for any other in an
identical situation.

Damage atau kerugian. Yang dimaksud dengan kerugian adalah segala sesuatu
yang dirasakan oleh pasien sebagai kerugian akibat dari layanan kesehatan /
kedokteran yang diberikan oleh pemberi layanan. Jadi, unsur kerugian ini sangat
berhubungan erat dengan unsur hubungan sebab-akibatnya. Kerugian dapat
berupa kerugian materiel dan kerugian immateriel. Kerugian yang materiel
sifatnya dapat berupa kerugian yang nyata dan kerugian sebagai akibat kehilangan
kesempatan. Kerugian yang nyata adalah real cost atau biaya yang dikeluarkan
untuk perawatan / pengobatan penyakit atau cedera yang diakibatkan, baik yang
telah dikeluarkan sampai saat gugatan diajukan maupun biaya yang masih akan
dikeluarkan untuk perawatan / pemulihan. Kerugian juga dapat berupa kerugian
akibat

hilangnya

kesempatan

untuk

memperoleh

penghasilan

(loss

of

opportunity). Kerugian lain yang lebih sulit dihitung adalah kerugian immateriel
sebagai akibat dari sakit atau cacat atau kematian seseorang.

Direct causal relationship atau hubungan sebab akibat yang nyata. Dalam hal ini
harus terdapat hubungan sebab-akibat antara penyimpangan kewajiban dengan
kerugian yang setidaknya merupakan proximate cause.

Gugatan ganti rugi akibat suatu kelalaian medik harus membuktikan adanya ke-empat
unsur di atas, dan apabila salah satu saja diantaranya tidak dapat dibuktikan maka
gugatan tersebut dapat dinilai tidak cukup bukti.
3. Kasus 3
Kasus tersebut bermula saat Prita Mulyasari memeriksakan kesehatannya di RS
Internasional Omni atas keluhan demam, sakit kepala, mual disertai muntah, kesulitan
BAB, sakit tenggorokan, hingga hilangnya nafsu makan. Oleh dokter rumah sakit,
dr.Hengky Gosal SpPD dan dr.Grace Herza Yarlen Nela, Prita didiagnosis menderita
demam berdarah, atau tifus. Setelah dirawat selama empat hari disertai serangkaian
pemeriksaan serta perawatan, gejala awal yang dikeluhkan berkurang namun ditemukan

sejenis virus yang menyebabkan pembengkakan pada leher.Selama masa perawatan Prita
mengeluhkan minimnya penjelasan yang diberikan oleh dokter atas jenis-jenis terapi
medis yang diberikan, disamping kondisi kesehatan yang semakin memburuk yang
diduga akibat kesalahan dalam pemeriksaan hasil laboratorium awal menyebabkan
kekeliruan diagnosis oleh dokter pemeriksa. Disebabkan karena pengaduan serta
permintaan tertulis untuk mendapatkan rekam medis serta hasil laboratorium awal yang
tidak dapat dipenuhi oleh pihak rumah sakit Prita kemudian menulis email tentang
tanggapan serta keluhan atas perlakuan yang diterimanya ke sebuah milis.Email tersebut
kemudian menyebar luas sehingga membuat pihak rumah sakit merasa harus membuat
bantahan atas tuduhan yang dilontarkan oleh Prita ke media cetak serta mengajukan
gugatan hukum baik secara perdata maupun pidana dengan tuduhan pencemaran nama
baik.
Saat dirawat Prita Mulyasari tidak mendapat kesembuhan, sebaliknya penyakitnya
menjadi lebih parah dengan beberapa keluhan tambahan yakni pembengkakan di
beberapa bagian tubuhnya. Lanjutnya Ibu Prita menemui kejanggalan pada keterangan
medisnya, dimana trombositnya yang semula 27.000 pada diagnosis pertama menderita
demam berdarah, kemudian secara terpisah dokter menginformasikan adanya revisi
dimana trombosit Ibu Prita menjadi 181.000 dengan diagnosis virus udara dan
gondongan.
Keterangan medis tersebut antara lain, penjelasan medis tentang diagnosis Ibu
Prita yang menderita demam berdarah hingga perubahan diagnosis menderita gondongan
dan virus udara menular, harus dirawat dan dinfus serta diresepkan obat dengan dosis
tinggi. Konsekuensinya, Ibu Prita mengalami pembengkakan di beberapa bagian
tubuhnya seperti lengan, leher, dan mata. Hal ini selaras seperti yang dikeluhkan beliau:
Keluhan: laporan lab yang direvisi dengan trombosit 27.000 menjadi 181.000
Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien
atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan
menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000
(hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke
suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan
tanpa izin pasien atau keluarga pasien

Keluhan: pembengkakan beberapa bagian tubuh dan sesak napas


..Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan,
hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang
dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi. Kondisi saya makin parah dengan
membengkaknya leher kiri dan mata kiri
Analisa Kasus
Melihat kasus tersebut, dapat ditemukan sebuah contoh malpraktik administrasi berupa
pelanggaran dalam rekam medis. Dalam PERMENKES No. 749a/Menkes/XII/89 tentang
RM disebutkan pengertian RM adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen
tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan, dan pelayanan lain kepada
pasien pada sarana pelayanan kesehatan.
Pasal 14 Permenkes no. 749a/1989 tentang tujuan dan fungsi rekam medis yaitu sebagai
dasar pelayanan kesehatan dan pengobatan, pembuktian hukum, penelitian dan
pendidikan, dasar pembiayaan pelayanan kesehatan, dan statistic kesehatan. Maka rekam
medis harus dibuat relevan, kronologis dan orisinil. Data yang diberikan haruslah berupa
data yang sebenarnya dan bukan karangan semata.
Dalam kasus di atas telah terjadi pemalsuan data tentang kondisi pasien sesuai dengan
pengakuan dari pasien atau si penderita yang menyebutkan bahwa Dalam catatan medis
diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya
semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang
diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000. hal ini dinilai telah
melanggar hukum adminitrasi, karena data yang dilaporkan dalam rekam medis pasien
adalah fiktif dan tidak sesuai dengan kenyataannya, bersamaan dengan itu juga tenaga
perawatan dinilai telah lalai dari kewajibannya dalam menyediakan rekam medis pasien.

1.3 Unsur malpraktek

1.

Unsur kesengajaan (intensional)

Unsur kesengajaan (intensional) menyebabkan professional misconducts (melakukan


tindakan yang tidak benar)
Menahan-nahan pasien
Tindak pidana ini menurut pasal 333 KUHP, yaitu barang siapa dengan sengaja
dan melawan hukum merampas kemerdekaan (menahan) orang atau meneruskan
tahanan itu dengan melawan hak. Istilah dari kata menahan dan meneruskan
penahanan dari pasal di atas, adalah:
a. Menahan; menunjukkan aflopende-delicten (delik yang sekilas atau sekejap).
b. Meneruskan penahanan; menunjukkan voor tdurende delicten (delik yang selalu/
terus-menerus diperbuat).
Unsur-unsur dari pasal 333, yaitu:
a. Perbuatan menahan/ merampas kemerdekaan.
b. Yang ditahan orang.
c. Penahanan terhadap orang itu untuk melawan hak.
d. Adanya unsur kesengajaan dan melawan hukum.
Pasal 333 KUHP ini hanya melindungi kemerdekaan badan seseorang, bukan
kemerdekaan jiwa. Jadi, harus adanya perbuatan yang menyentuh badan seseorang
yang ditahan, misalnya diikat tangannya sehingga sulit bergerak.
Membuka rahasia kedokteran tanpa hak
Masalah sanksi merupakan hal yang sentral dalam hukum pidana karena
seringkali menggambarkan nilainilai sosial budaya bangsa. Artinya, pidana
mengandung tata nilai (value) dalam suatu masyarakat mengenai apa yang
amoral serta apa yang diperbolehkan dan apa yang dilarang. Disamping
keberadaannya telah menjadi kecenderungan internasional, sistem pemidanaan
yang bertolak dari ide individualisasi pidana ini merupakan hal yang harus
diperhatikan sehubungan dengan pendekatan humanistik dalam penggunaan
sanksi pidana untuk tujuan perlindungan masyarakat (social defence). Ide
menyangkut konsepsi social defence tersebut ternyata diterima oleh ahli hukum
pidana di Indonesia, terbukti dalam pasal 322 KUHP menyebutkan bahwa
barangsiapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib disimpannya karena
jabatan atau pekerjaannya, baik yang sekarang maupun yang dahulu, diancam
dengan pidana penjara paling lama sembilan ribu rupiah. Jika kejahatan itu
dilakukan terhadap seseorang tertentu, maka perbuatan itu hanya dapat dituntut
atas pergaulan orang itu. Menurut R. Soesilo dokter yang membuka rahasia

dapat dihukum menurut pasal ini, maka elemenelemen di bawah ini harus
dibuktikan :
a. Yang diberitahukan (dibuka) itu harus suatu rahasia.
b. Bahwa orang itu diwajibkan untuk menyimpan rahasia tersebut dan ia harus
betulbetul mengetahui, bahwa ia wajib menyimpan rahasia itu.
c. Bahwa kewajiban untuk menyimpan rahasia itu adalah akibat dari suatu
jabatan atau pekerjaan yang sekarang, maupun yang dahulu pernah jabatan.
d. Membukanya rahasia itu dilakukan dengan sengaja. Yang diartikan dengan
rahasia yaitu barang sesuatu yang hanya diketahui oleh orang yang
berkepentingan, sedang orang lain belum mengetahuinya. Siapakah yang
diwajibkan menyimpan rahasia itu, tiaptiap peristiwa harus ditinjau sendiri
sendiri oleh hakim yang masuk disitu misalnya seorang dokter harus
menyimpan rahasia penyakit pasiennya.
Proses hukum ini perlu dilakukan, agar para dokter lainnya atau para profesional
dalam bidang lainnya, tidak seenaknya saja membuka dan membeberkan rahasia jabatan
di muka umum. Seringkali didengar para dokter yang dengan enteng membeberkan
penyakit dari pasiennya yang sebenarnya termasuk ke dalam rahasia jabatan. Para
profesional ini tahu, tentang adanya rahasia kedokteran, tetapi karena tidak pernah terjadi
adanya pengaduan dari mereka yang dilanggar haknya atas rahasia kedokteran, maka
pelanggaran terhadap hak pasien yang satu ini seringkali terjadi. Tidak dapat dihindarkan
bahwa wajib penyimpan rahasia membandingkan berat ringannya kepentingan
kepentingan yang harus diperhatikan dan yang saling bertentangan. Titik tolaknya adalah
menyimpan rahasianya. Hanya kalau dikehendaki oleh kepentingankepentingan yang
dianggap lebih berat dari pada kepentingan Pemilik Rahasia ditambah dengan
kepentingankepentingan tersebut dan akhirnya pemutusan apakah wajib menyimpan
rahasia menggunakan hak tolaknya atau tidak, dilakukan sendiri oleh wajib penyimpan
rahasia, kalau dirasa perlu setelah berunding dengan satu orang atau lebih yang ia pilih,
rekan atau bukan rekan.
Seorang saksi sebelum memberi kesaksian harus sumpah bahwa ia akan memberi
keterangan tentang segala sesuatu yang benar dan tidak lain dari pada yang benar. Ia tidak
dapat mengungkapkan hanya sebagian dari kebenaran dan menyembuhkan bagian yang
lain, ini akan mendapatkan kedustaan dan demikian sumpah palsu. Jadi seorang dokter

atau wajib penyimpan rahasia lain dihadapkan sebagai saksi menggunakan hak tolaknya,
walaupun diminta dengan sangat oleh pasiennya untuk memberi kesaksian, ada
kemungkinan bahwa dokter tersebut berbuat demikian untuk kepentingan pasiennya.
Menurut undang-undang RI NO. 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran. Pasal 4
berbunyi demikian :
1) Setiap dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktek kedokteran
wajib menyimpan rahasia kedokteran.
2) Rahasia kedokteran dapat dibuka hanya untuk kepentingan kesehatan
pasien, memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka
penegakan hukum, permintaan pasien sendiri, atau berdasarkan ketentuan
perundang-undangan.
3) Ketentuan lebih lanjut mengenai rahasia kedokteran diatur dengan Peraturan
Menteri.
Sanksi yang diberikan dapat sebagai berikut :
1.

Sanksi terhadap pelanggaran dari hukum diterapkan oleh penguasa (orang


atau lembaga yang memegang kekuasaan).

2.

Sanksi terhadap pelanggaran dari etika diterapkan oleh masyarakat.

Aborsi illegal
Naluri yang terkuat pada setiap makhluk bernyawa termasuk manusia adalah
mempertahankan hidupnya. Untuk itu manusia diberi akal, kemampuan berpikir dan
mengumpulkan pengalamannya, sehingga dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan
usaha untuk menghindarkan diri dari bahaya maut. Semua usaha tersebut merupakan
tugas seorang dokter. Ia harus berusaha memelihara dan mempertahankan hidup makhluk
insani.
Banyak pendapat mengenai abortus provocatus yang disampaikan oleh berbagai
ahli dalam berbagai macam bidang seperti agama, kedokteran, sosial, hukum, eugenetika,
dan sebagainya. Pada umumnya setiap negara mempunyai undang-undang yang melarang
abortus provocatus (pengguguran kandungan). Abortus provocatus dapat dibenarkan
sebagai pengobatan, apabila merupakan satu-satunya jalan untuk menolong jiwa ibu dari
bahaya maut (abortus provocatus therapeuticus). Dalam undang-undang No. 23 Tahun
1992 tentang kesehatan diperjelas mengenai hal ini. Indikasi medic ini dapat berubah-

ubah sesuai perkembangan ilmu kedokteran. Beberapa penyakit seperti hipertensi,


tuberkulosis dan sebagainya.Sebaliknya ada pula negara yang membenarkann indikasi
sosial, humaniter, dan eugenetik, seperti misalnya di Swedia dan Swiss yaitu bukan
semata-mata untuk menolong ibu, melainkan juga mempertimbangkan demi keselamatan
anak, baik jasmaniah maupun rohaniah.
Keputusan untuk melakukan abortus provocatus therapeuticus harus dibuat oleh
sekurang-kurangnya dua dokter dengan persetujuan tertulis dari wanita hamil yang
bersangkutan, suaminya dan atau keluarhanya yang terdekat. Hendaknya dilakukan dalam
suatu rumah sakit yang mempunyai cukup sarana untuk melakukannya.
Menurut penyelidikan, abortus provocatus paling sering terjadi pada wanita
bersuami, yang telah sering melahirkan, keadaan sosial dan keadaan ekonomi rendah.
Ada harapan abortus provocatus di kalangan wanita bersuami ini akan berkurang apabila
keluarga berencana sudah dipraktekkan dengan tertib. Setiap dokter perlu berperan serta
untuk membantu suksesnya program keluarga berencana ini.Seperti yang telah diatur
pada pasal 349 KUHP, Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan
kejahatan berdasarkan pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah
satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan
dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk
menjalankan pencarian dalam mana kejahatan dilakukan. dimana dokter dapat
dikenakan sanksi 4 tahun penjara.
Euthanasia
Euthanasia memiliki tiga arti, yaitu :
a. Berpindah ke alam baka dengan tenang dan aman tanpa penderitaan dan bagi
yang beriman dengan nama Allah di bibir.
b. Waktu hidup akan berakhir (sakaratul maut) oenderitaan pasien diperingan dengan
memberi obat penenang.
c. Mengakhiri penderitaan dan hidup pasien dengan sengaja atas permintaan pasien
sendiri dan keluarganya.
Pada suatu saat seorang dokter mungkin menghadapi penderitaan yang tidak
tertahankan, misalnya karena kanker dalam keadaan yang menyedihkan, kurus kering
bagaikan tulang dibungkus kulit, menyebarkan bau busuk, menjerit-jerit dan sebagainya.

orang yang berpendirianpro euthanasia dalam butir c, akan mengajukan supaya pasien
diberi saja morphindalam dosis lethal, supaya ia bebas dari penderitaan yang berat itu. di
beberapa Negara Eropa dan Amerika sudah banya terdengar suara yang pro-euthanasia.
mereka mengadakan gerakan yang
mengukuhkannya dalam undang-undang. Sebaliknya, bagi mereka yang kontra
euthanasia berpendirian bahwa tindakan demikian sama dengan pembunuhan.
Kita di Indonesia sebagai umat yang beragama dan berfalsafah atau berazazkan
Pancasila percaya pada kekuasaan mutlak dari Tuhan Yang Maha Esa. segala sesuatu
yang diciptakannya serta penderitaan yang dibebankan kepada makhlukNya mengandung
makna dan maksud terentu. dokter harus mengerahkan segala kepandaianannya dan
kemampuannya untuk meringankan penderitaan dan
memelihara hidup akan tetapi tidak untuk mengakhirinya.

Memberikan keterangan palsu


Pada pasal 267 KUHP dinyatakan bahwa :
1) Seorang dokter yang dengan sengaja memberikan surat keterangan palsu
tentang ada atau tidaknya penyakit, kelemahan atau cacat, diancam dengan
pidana penjara paling lama empat tahun.
2) Jika keterangan diberikan dengan maksud untuk memasukkan seseorang ke
dalam rumah sakit jiwa atau untuk menahannya di situ, dijatuhkan pidana
penjara paling lama delapan tahun enam bulan.
3) Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa dengan sengaja memakai
surat keterangan palsu itu seolah-olah isinya sesuai dengan kebenaran.
Melakukan praktek tanpa ijin
Pada pasal 2 kodeki, disebutkan bahwa, Seorang dokter harus senantiasa berupaya
melaksanakan profesinya sesuai dengan standar profesi yang tertinggi. Ijazah yang
dimiliki seseorang, merupakan persyartan untuk memperoleh ijin kerja sesuai
profesinya (SID (surat ijin dokter) atau SP (Surat Penugasan)). Untuk melakukan
pekerjaan profesi kedokteran, wajib dituruti peraturan perundangundangan yang
berlaku (SP, yaitu : Surat Ijin Penugasan).
2.

Unsur Pelanggaran
Negligence (kelalaian)

Kelalaian adalah salah satu bentuk dari malpraktek, sekaligus merupakan bentuk
malpraktek yang paling sering terjadi. Pada dasarnya kelalaian terjadi apabila seseorang
dengan tidak sengaja, melakukan sesuatu (komisi) yang seharusnya tidak dilakukan atau
tidak melakukan sesuatu (omisi) yang seharusnya dilakukan oleh orang lain yang
memiliki kualifikasi yang sama pada suatu keadaan dan situasi yang sama. Perlu diingat
bahwa pada umumnya kelalaian yang dilakukan orang-per-orang bukanlah merupakan
perbuatan yang dapat dihukum, kecuali apabila dilakukan oleh orang yang seharusnya
(berdasarkan sifat profesinya) bertindak hati-hati, dan telah mengakibatkan kerugian atau
cedera bagi orang lain.
Kelalaian dapat terjadi dalam 3 bentuk, yaitu:
1.

Malfeasance (pelanggaran jabatan)


Melakukan tindakan yang melanggar hukum atau tindakan yang tidak tepat dan layak
(unlawful/improper). Seperti melakukan tindakan pengobatan tanpa indikasi yang
memadai dan mengobati pasien denga coba-coba tanpa dasar yang jelas.

2. Misfeasance (ketidak hati-hatian)


Melakukan pilihan tindakan medis yang tepat tetapi dilaksanakan dengan tidak tepat
(improper performance). Seperti melakukan tindakan medis dengan menyalahi
prosedur.
3.

Lack of skill (kurang keahlian)


Melakukan tindakan diluar kemampuan atau kompetensi seorang dokter, kecuali pada
situasi kondisi sangat darurat, seperti melakukan pembedahan oleh bukan dokter, dan
mengobati pasien diluar spesialisasinya
Suatu perbuatan atau sikap tenaga medis dianggap lalai apabila memenuhi empat

unsur di bawah ini, yaitu


1.

Duty atau kewajiban tenaga medis untuk melakukan sesuatu tindakan atau untuk
tidak melakukan sesuatu tindakan tertentu terhadap pasien tertentu pada situasi dan
kondisi yang tertentu. Dalam hubungan perjanjian tenaga medis dengan pasien,
tenaga medis haruslah bertindak berdasarkan :
1) Adanya indikasi medis
2) Bertindak secara hati-hati dan teliti

3) Bekerja sesuai standar profesi


4) Sudah ada informed consent.
2.

Dereliction of the duty atau penyimpangan kewajiban tersebut.Apabila sudah ada


kewajiban, maka dokter (atau tenaga medis lainnya) di rumah sakit tersebut harus
bertindak sesuai standar profesi yang berlaku.Jika terdapat penyimpangan dari
standar tersebut, maka ia dapat dipersalahkan.

3.

Damage atau kerugian, yaitu segala sesuatu yang dirasakan oleh pasien sebagai
kerugian akibat dari layanan kesehatan / kedokteran yang diberikan oleh pemberi
layanan.

4.

Direct causal relationship atau hubungan sebab akibat yang nyata. Dalam hal ini
harus terdapat hubungan sebab-akibat antara penyimpangan kewajiban dengan
kerugian yang setidaknya merupakan proximate cause.
Di dalam hukum kedokteran, terdapat rumusan tentang kelalaian yang sudah berlaku universal yang

dapat dipakai sebagai pedoman, yaitu kelalaian adalah kekurangtelitian yang wajar, tidak melakukan apa
yang oleh seorang lain dengan ketelitian serta hati-hati akan melakukannya dengan wajar, atau melakukan
apa yang seorang lain dengan ketelitian yang wajar justru tidak akan melakukannya. Secara sederhana
kelalaian dapat dikatakan merupakan salah satu bentuk kesalahan yang timbul karena pelakunya tidak
memenuhi standar perilaku yang telah ditentukan. Kelalaian itu timbul karena faktor orangnya atau
pelakunya.
Kelalaian menurut hukum pidana terbagi menjadi dua macam. Pertama, kealpaan perbuatan.
Maksudnya ialah apabila hanya melakukan perbuatannya itu sudah merupakan suatu peristiwa pidana,
maka tidak perlu melihat akibat yang timbul dari perbuatan tersebut. Kedua, kealpaan akibat. Kealpaan
akibat ini baru merupakan suatu peristiwa pidana kalau akibat dari kealpaan itu sendiri sudah menimbulkan
akibat yang dilarang oleh hukum pidana, misalnya cacat atau matinya orang lain seperti yang diatur dalam
Pasal 359,360 dan 361 KUHP.
Kealpaan yang disadari terjadi apabila seseorang tidak berbuat sesuatu, padahal dia sadar bahwa
akibat perbuatan (termasuk tidak berbuat) yang dilarang oleh hukum pidana itu pasti timbul. Sedangkan
kealpaan yang tidak disadari ada kalau pelaku tidak memikirkan kemungkinan akan adanya suatu akibat
atau keadaan tertentu, sedangkan ia sepatutnya telah memikirkan hal itu dan kalau ia memang memikirkan
hal itu maka ia tidak akan melakukannya. Dalam pelayanan kesehatan, kelalaian yang timbul dari tindakan
seorang bidan adalah kelalaian akibat, misalnya tindakan seorang dokter yang menyebabkan cacat atau
matinya orang berada dalam perawatannya, sehingga perbuatan tersebut dapat dicelakan padanya.
Sedangkan menurut ukurannya, kelalaian (culpa) dapat dibagi menjadi:
1. culpa lata (gross fault/neglect) yang bersifat kasar, berat , yaitu apabila seseorang dengan sadar dan
dengan sengaja tidak melakukan atau melakukan sesuatu yang sepatutnya tidak dilakukan

2. culpa levis(ordinary fault/neglect), yakni kesalahan biasa.


3. culpa levissima (slight fault/neglect), yang berarti kesalahan sangat ringan atau kecil.
Ukuran kesalahan dalam pelaksanaan tugas profesi berupa kelalaian dalam hukum pidana adalah
kelalaian besar (culpa lata), bukan kelalaian kecil (culpa levis). Kelalaian bukanlah suatu pelanggaran
hukum atau kejahatan, jika kelalaian itu tidak sampai membawa kerugian atau cedera kepada orang lain dan
orang itu dapat menerimanya. Ini berdasarkan prinsip hukum De minimis noncurat lex, yang berarti
hukum tidak mencampuri hal-hal yang dianggap sepele. Jika kelalaian sampai menimbulkan kerugian
materi, mencelakakan dan bahkan merenggut nyawa orang lain, maka kelalaian ini merupakan kelalaian
serius dan dapat dikatakan sudah mengarah ke tindak pidana.
Menurut Yusuf Hanafiah tolak ukur culpa lata adalah:
1. bertentangan dengan hukum
2. akibatnya dapat dibayangkan
3. akibatnya dapat dihindarkan
4. perbuatannya dapat dipersalahkan.
Sedangkan menurut Jonkers kelalaian memiliki tiga unsur, yaitu:
1. peristiwa itu sebenarnya dapat dibayangkan kemungkinan terjadinya (foreseeabilit, voorzienbaarheid).
2. terjadinya peristiwa itu sebenarnya bisa dicegah (vermijdbaarheid).
3. maka si pelaku dapat dipersalahkan karenanya (verwijtbaarheid).

Implikasi dari tindak malpraktek adalah bahwa tindakan tersebut melanggar salah
satu atau beberapa norma yang dianutnya, yaitu norma-norma etik, disiplin profesi,
hukum pidana atau hukum perdata. Masing-masing pelanggaran norma tersebut haruslah
diperiksa, dibuktikan dan kemudian dihukum sesuai dengan domainnya.
2.4 Sanksi malpraktek

1. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)


a. Pasal 359
Barangsiapa karena salahnya menyebabkan matinya orang dihukum penjara
selama-lamanya lima tahun atau kurungan selama-lamanya satu tahun.
b. Pasal 360
Barangsiapa karena salahnya menyebabkan orang luka berat dihukum penjara
selama-lamanya lima tahun atau kurungan selama-lamanya 1 tahun.

c. Pasal 361

Barangsiapa karena salahnya menyebabkan orang menjadi sakit atau tidak dapat
menjalankan

jabatannya

atau

pekerjaanya

sementara,

dihukum

dengan

selamalamanya sembilan bulan atau hukuman selama-lamanya enam bulan atau


hukumkan denda setinggi-tingginya Rp 4.500.000,00.
2. Undang-Undang Praktek Kedokteran
a. Pasal 75 ayat 1
Setiap dokter atau dokter gigi yang dengan sengaja melakukan praktek
kedokteran tanpa memiliki surat tanda registrasi sebagaimana dimaksud dalam
pasal 29 ayat 1 dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 tahun atau denda
paling banyak Rp 100.000.000,00.
b. Pasal 76
Setiap dokter atau dokter gigi yang dengan sengaja melakukan praktek kedokteran
tanpa meliki surat izin praktek sebagaimana dimaksud dalam pasal 36 dipidana
dengan pidana penjara paling lama 3 tahun atau denda paling banyak Rp
100.000.000,00
c. Pasal 79
Dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 tahun atau denda paling banyak
Rp 50.000.000,- setiap dokter atau dokter gigi yang :
1) Dengan sengaja tidak memasang papan nama sebagaimana dimaksud dalam
pasal 41 ayat 1.
2) Dengan sengaja tidak membuat rekam medis sebagaimana dimaksud dalam pasal
46 ayat 1.
3) Dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam pasal
51 huruf a,b,c,d atau e.