Anda di halaman 1dari 67

PT.

PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Indonesia sebagai negara berkembang yang dikaruniai kekayaan alam yang
berlimpah ruah yang tersebar di belasan ribu pulau, baik yang tersimpan di atas
daratan, di dalam lautan, maupun di bawah kulit bumi. Di antara kekayaan alam
itu, terdapat sumber-sumber energi primer dengan potensi yang cukup besar
antara lain tenaga air, batu bara, minyak bumi, gas alam, panas bumi dan lain-lain.
Selain itu kondisi geografis menjadi alasan dibangunnya pusat-pusat listrik
sehingga terciptanya suatu

pembangunan nasional. Dalam hal ini salah satu

energi yang sangat menunjang dalam era globalisasi saat ini adalah energi listrik.
Energi listrik dapat di produksi dari bahan tambang seperti batubara,
uranium, dan masih banyak yang lainnya. Akan tetapi dengan menggunakan
bahan tambang secara terus-menerus dapat menyebabkan sumber energi fosil akan
berangsur-angsur habis dan butuh waktu yang sangat lama untuk diperbaharui
sehingga dalam waktu singkat kita akan mengalami krisis energi. Oleh karena itu,
untuk mencegah kemungkinan tersebut kita perlu memanfaatkan suatu energi
yang dapat diperbaharui (renewable energy) yang sifatnya terus-menerus dan
tidak memerlukan waktu yang lama. Energi tersebut dapat berupa energi air,
matahari, angin, pasang surut, panas bumi dan lain-lain.
Keadaan geografis yang terletak di daerah sekitar pegunungan merapi
memiliki potensi tenaga uap panas bumi. Dimana daerah di sekitar pegunungan
merapi tersebut akan menghasilkan uap panas bumi sehingga energinya dapat
diubah menjadi energi potensial. Hal inilah yang dapat menjadi dasar pemikiran
sehingga dimanfaatkan potensi tenaga panas bumi dari daerah sekitar gunung
merapi untuk menggerakkan suatu alat yang dapat mengubah energi potensial
menjadi energi listrik.

Laporan Praktek Kerja Lapangan

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

Dengan adanya sumber-sumber energi primer yang potensial di berbagai


tempat maka sumber-sumber energi primer tersebut dapat mendukung
pembangunan pembangkit energi listrik tenaga panas bumi (PLTP) yang
memberikan peningkatan perekonomian dan perindustrian di suatu daerah
khususnya di Sulawesi Utara.
Pembangkitan energi listrik merupakan kegiatan yang berlangsung 24 jam
per hari selama tujuh hari dalam sepekan karena energi listrik harus tersedia setiap
hari. Untuk bisa melaksanakan hal ini diperlukan manajemen pembangkitan yang
baik. Secara garis besar manajemen pembangkitan meliputi manajemen
pemeliharaan yang terutama menyangkut pengadaan suku cadang dan
pelaksanaan pemeliharaan.
Berdasarkan uraian di atas, maka kami sebagai peserta Praktek Kerja
Lapangan (PKL) di PLTP Lahendong Unit 1 dan 2 berinisiatif mengambil judul
tentang Kinerja Turbin PLTP LAHENDONG UNIT 1.
1.2 BATASAN MASALAH
Adapun yang menjadi batasan masalah dalam laporan Praktek Kerja
Lapangan ini adalah sebagai berikut :
1. Proses pembentukan uap dalam Perut Bumi.
2. Analisa perhitungan Kualitas Uap.
3. Menerangkan faktor faktor apa saja yang mempengaruhi kinerja turbin
uap PLTP LAHENDONG Unit 1.
4. Membandingkan setiap parameter yang ada untuk mendapatkan
kesimpulan yang akurat.
1.3 TUJUAN DAN MANFAAT KERJA PRAKTEK
Adapun tujuan dan manfaat Praktek Kerja Lapangan adalah sebagai berikut:

Laporan Praktek Kerja Lapangan

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

1. Mengetahui asal mula terjadinya uap dalam perut bumi.


2. Mengetahui dan menerapkan analisa termodinamika untuk mengetahui
Kualitas uap.
3. Mengetahui faktor paling penting yang harus dijaga untuk mendapatkan
hasil daya turbin yang baik.
4. Agar peserta Praktek Kerja Lapangan dapat melengkapi jumlah sks pada
semester VII yang merupakan syarat kelulusan.
1.4 TEMPAT DAN WAKTU PELAKSANAAN
Kerja praktek ini dilaksankan pada PT. PLN (Persero) Sektor Lahendong
Unit Pusat Listrik Tenaga Air Lahendong dari tanggal 22 Juli 2014 sampai dengan
22 september 2014.
1.5 METODE PENULISAN
Dalam mendapatkan data dan informasi guna penyusunan Laporan Praktek
Kerja Lapangan di PT. PLN (Persero) Sektor Lahendong Unit PLTP Lahendong,
penulis menggunakan metode penulisan sebagai berikut :
BAB I

PENDAHULUAN, terdiri dari : Latar Belakang, Batasan


Masalah, Tujuan dan Manfaat Praktek Kerja Lapangan,
Tempat dan Waktu Pelaksanaan, Metode Penulisan dan
Metode Pengambilan Data.

BAB II

: TINJAUAN PERUSAHAAN, terdiri dari : Sejarah


Singkat Unit PLTP Lahendong, Visi dan Misi Unit PLTP
Lahendong, Peta Lokasi Unit PLTP Lahendong, dan
Struktur Organisasi Unit PLTP Lahendong.

Laporan Praktek Kerja Lapangan

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

BAB III

: TINJAUAN UMUM, terdiri dari Bagian-bagian Utama


Sistem Pembangkit Unit PLTP Lahendong dan Komponenkomponen Pendukung Sistem Pembangkit Unit PLTP
Lahendong.

BAB IV

PEMBAHASAN, terdiri dari defenisi turbine, siklus


renkine

pada

uap

terpisah,

perhitungan

analisis

termodinamika dan kinerja turbin.


BAB V

PENUTUP, terdiri dari Kesimpulan serta Saran

1.6 METODE PENGAMBILAN DATA


Metode ini dimaksudkan untuk memperoleh data-data yang merupakan
gambaran nyata yang terjadi pada PLTP Lahendong dengan cara :
1. Peninjauan pustaka yang merupakan data tertulis dari laporan ini
dengan membaca buku-buku manual, referensi laporan, dan berbagai
buku yang berhubungan dengan penyusunan laporan ini.
2. Pengambilan data log sheet, dan heat balance.
3. Wawancara untuk mendapatkan informasi data yang diperlukan dengan
mengadakan wawancara langsung dengan narasumber (pengawas
lapangan dan karyawan PLTP Lahendong) yang memberikan penjelasan
dan data yang berhubungan dengan objek penulisan dalam laporan ini.

Laporan Praktek Kerja Lapangan

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

BAB II
PROFIL UNIT PLTP LAHENDONG
2.1

SEJARAH SINGKAT UNIT PLTP LAHENDONG


Proyek PLTP Lahendong adalah salah satu proyek dilingkungan PT. PLN

(Persero). Proyek pembangunan PLTP Lahendong unit 1 dimulai sejak tahun


1996, COD 21 agustus 2001. Proyek pembangunan PLTP Lahendong Unit 2
dimulai sejak tahun 2006, COD sejak 17 Juni 2007. Dikerjakan oleh kontaktor
suitomo dengan dana pinjaman dari ADB 1982-INO. Proyek pembangunan PLTP
Lahendong Unit 3 dimulai sejak tahun 2007,COD sejak 7 April 2009. Dikerjakan
oleh kontraktor Sumitomo dengan dana pinjaman JBIC IP 452. Proyek
pembangunan PLTP Lahendong unit 4 dimulai sejak tahun 2010, COD sejak 23
Desember 2011. Dikerjakan oleh kontraktor Sumitomo dengan dana pinjaman dari
ADB 1982-INO. Proyek ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan akan listrik di

Laporan Praktek Kerja Lapangan

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

kota Tomohon serta industri yang berkembang seperti dan perusahaan besar
lainnya yang terletak di kota manado.
Proyek PLTP Lahendong dibangun untuk meningkatkan penyediaan
produksi tenaga non-BBM di Sulawesi Utara yaitu dengan memanfaatkan energi
uap panas bumi yang diginakan PLTP Lahendong untuk memproduksi tenaga
listrik dari yang disuplai oleh PT Pertamina lalu di distribusikan ke pembangkit
listrik panas bumi PLTP Lahendong. PLTP Lahendong terdiri dari empat unit
pembangkit dengan kapasitas 4 x 20 MW.
Tenaga listrik yang diproduksi oleh PLTP Lahendong dan akan disalurkan
melalui jaringan transmisi 150 KV, ke sistem Interkoneksi Minahasa - Gorontalo.
Adapun tahap-tahap pelaksanaan proyek pembangunan PLTP Lahendong
adalah sebagai berikut :
1.

Tahap pronouncement, tahun Febuari 1996 Desember


2000

2.

Awal pembangunan fasilitas lapangan pada september 1996


- 2000

3.

Commisioning test, tahun Agustus 2000 - 2001

4.

Operasi Komersial, 21 Agustus 2001

5.

Final Inspection, 21 30 Agustus 2002

6.

Performance test, 6 agustus 2003

7.

Peresmian operasi oleh direktur utama PLN Ir. Eddie


Widiono S. Msc, tanggal 10 Mei 2004

2.2

VISI DAN MISI PERUSAHAAN


Visi Perusahaan
Diakui sebagai perusahaan kelas dunia yang bertumbuh kembang, unggul

dan terpercaya dengan bertumpu pada potensi insani.


Misi Perusahaan

Laporan Praktek Kerja Lapangan

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain terkait, berorientasi pada

kepuasan pelanggan, anggota perusahaan dan pemegang saham.


Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas

kehidupan masyarakat.
Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi.
Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan.

Laporan Praktek Kerja Lapangan

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

2.3

PETA LOKASI PLTP LAHENDONG

Gambar 2.1 Peta Lokasi PLTP Unit 1 & 2 , 3 & 4 Lahendong

Laporan Praktek Kerja Lapangan

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

2.4 STRUKTUR ORGANISASI UNIT PLTP LAHENDONG

Laporan Praktek Kerja Lapangan

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

BAB III

TINJAUAN UMUM
3.1 PRINSIP KERJA PENGOPERASIAN PLTP LAHENDONG
Sistem pembangkitan PLTP Lahendong merupakan sistem pembangkitan yang
memanfaatkan tenaga panas bumi yang berupa uap. Uap tersebut diperoleh dari
sumur-sumur produksi yang dibuat oleh Pertamina. Uap dari sumur produksi mulamula dialirkan ke steam receiving header, yang berfungsi menjamin pasokan uap
tidak mengalami gangguan meskipun terjadi perubahan pasokan dari sumur produksi.
Laporan Praktek Kerja Lapangan

10

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

Selanjutnya melalui flow meter, uap tersebut dialirkan ke Unit 1, Unit 2, Unit 3 dan
Unit 4 melalui pipa-pipa. Uap tersebut dialirkan ke separator untuk memisahkan zatzat padat, silica, dan bintik-bintik air yang terbawa di dalamnya. Hal ini dilakukan
untuk menghindari terjadinya vibrasi, erosi dan pembentukkan kerak pada turbine.
Uap yang telah melewati separator tersebut kemudian dialirkan ke demister yang
berfungsi sebagai pemisah akhir. Uap yang telah bersih itu kemudian dialirkan
melalui main steam valve (MSV)-governor valve menuju ke turbin. Di dalam turbin,
uap tersebut berfungsi untuk memutar single flow condensing yang dikopel dengan
generator, pada kecepatan 3000 rpm. Proses ini menghasilkan energi listrik dengan
arus 3 fasa, frekuensi 50 Hz, dengan tegangan 11 KV. Melalui transformer step-up,
arus listrik dinaikkan tegangannya hingga 150 KV, selanjutnya dihubungkan secara
paralel dengan system penyaluran SULUTENGGO (interkoneksi).
Agar turbin bekerja secara efisien, maka exhaust steam/uap bekas yang keluar dari turbin
harus dalam kondisi vakum, dengan mengkondensasikan uap dalam kondensor kontak
langsung yang dipasang di bawah turbin.
Untuk menjaga kevakuman kondenseor, gas yang tak terkondensi harus dikeluarkan secara
kontinyu oleh system ekstraksi gas. Gas - gas ini mengandung NCG 1%. Disini system
ekstraksi gas terdiri atas first-stage dan second-stage ejector.
Gas-gas yang tidak dapat dikondensasikan, dihisap oleh steam ejector tingkat 1 untuk
diteruskan ke interkondensor, kemudian gas yg tidak terkondensasi di hisap oleh second
ejector dan diteruskan ke aftercondensor dimana gas - gas tersebut kemudian kembali
disiram oleh air yang dipompakan oleh primary pump. Gas - gas yang dapat dikondensasikan
dikembalikan ke kondensor, sedangkan sisa gas yang tidak dapat dikondensasikan di buang
ke udara.

Laporan Praktek Kerja Lapangan

11

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

Exhaust steam dari turbin masuk dari sisi atas kondensor, kemudian terkondensasi sebagai
akibat penyerapan panas oleh air pendingin yang diinjeksikan lewat spray-nozzle. Level
kondensat selalu dijaga dalam kondisi normal oleh dua buah main cooling water pump
(MCWP) lalu didinginkan dalam cooling water sebelum disirkulasikan kembali. Air yang
dipompakan oleh MCWP dijatuhkan dari bagian atas menara pendingin yang disebut kolam
air panas menara pendingin. Menara pendingin berfungsi sebagai heat exchanger (penukar
kalor) yang besar, sehingga mengalami pertukaran kalor dengan udara bebas.
Air dari menara pendingin yang dijatuhkan tersebut mengalami penurunan temperature dan
tekanan ketika sampai di bawah, yang disebut kolam air dingin (cold basin). Air dalam
kolam air dingin ini dialirkan ke dalam kondensor untuk mendinginkan uap bekas memutar
turbin dan kelebihannya (over flow) diinjeksikan kembali kedalam sumur yang tidak
produktif, diharapkan sebagai air pengisi atau penambah dalam reservoir, sedangkan
sebagian lagi dipompakan oleh primary pump, yang kemudian dialirkan kedalan
intercondensor dan aftercondensor untuk mendinginkan uap yang tidak terkondensasi
(noncondensable gas ).
Sistem pendingin di PLTP Lahendong

merupakan system pendingin dengan sirkulasi

tertutup dari air hasil kondensasi uap, dimana kelebihan kondensat yang terjadi direinjeksi ke
dalam sumur reinjeksi. Prinsip penyerapan energi panas dari air yang disirkulasikan adalah
dengan mengalirkan udara pendingin secara paksa dengan arah aliran tegak lurus,
menggunakan 3 fan cooling tower.
Sekitar 70% uap yang terkondensasi akan hilang karena penguapan dalam cooling tower,
sedangkan sisanya diinjeksikan kembali ke dalam reservoir. Reinjeksi dilakukan untuk
mengurangi pengaruh pencemaran lingkungan, mengurangi ground subcidence, menjaga
tekanan, serta recharge water bagi reservoir. Aliran air dari cold basin ke kondensor
disirkulasikan lagi oleh primary pump sebagai media pendingin untuk inter cooler dan
melalui after dan intercondensor untuk mengkondensasikan uap yang tidak terkondensasi di
kondensor, air kondensat kemudian dimasukkan kembali ke dalam kondensor.

3.2 PERALATAN UTAMA UNIT PLTP LAHENDONG


Laporan Praktek Kerja Lapangan

12

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

Untuk memperoleh uap kering yang cukup untuk memutar turbin maka ada
peralatan utama yaitu separator demister yaitu sebagai pemisah uap basah
menjadi uap kering, kemudian dialirkan dan diproses hingga nantinya dapat
digunakan sebagai tenaga untuk memutar turbin.
3.2.1

Separator Demister
Demister adalah sebuah alat yang berbentuk tabung silinder yang berukuran

5,85 m3 didalamnya terdapat kisi-kisi stainles yang berfungsi untuk mengeliminasi


butir-butir air yang terbawa oleh uap dari sumur-sumur panas bumi. Di bagian
bawahnya terdapat kerucut yang berfungsi untuk menangkap air dan partikel-partikel
padat lainnya yang lolos dari separator, sehingga uap yang akan dikirim ke turbin
merupakan uap yang benar-benar uap yang kering dan bersih. Karena jika uap yang
masuk ke turbin tidak kering dan kotor, akan menyebabkan terjadinya vibrasi, erosi
dan pembentukkan kerak pada turbin. Uap masuk dari atas demister langsung
menabrak kisi-kisi stainles, karena perbedaan tekanan dan berat jenis maka butiran air
kondensat dan partikel-partikel padat yang terkandung dalam di dalam uap akan
jatuh. Uap bersih akan masuk ke saluran keluar yang sebelumnya melewati saringan
terlebih dahulu dan untuk selanjutnya diteruskan ke turbin.
Demister ini dipasang pada jalur uap utama setelah alat pemisah akhir (final
separator) yang ditempatkan pada bangunan rangka besi yang sangat kokoh dan
terletak di luar gedung pembangkit.
Adapun spesifikasi demister sebagai berikut:
Type
: SEPARATEUR / DEMISTER
Designed By
: Burgess Manning
Built for
: GEC ALSTOM
Manufacturing serial no
: 7420 Year Built 1997
Fluid
: Steam
Design Temperature
: 200 C
Design Pressure
: 15 Bar G
Radiography
: 10%
Total Weight Empty
: 5850 kg
Corrosion Allowance
: 3 mm
Capacity
: 4850 liters
Laporan Praktek Kerja Lapangan

13

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

Gambar 3.1

Separator Demister Unit 1


Separator PLTP Lahendong
dilengkapi

utama

dengan

katup

steam dan main stop valve

yang berfungsi sebagai menutup jalannya masuk uap ke separator demister apabila
separator demister bermasalah.
Merupakan saluran air menuju penstock dengan diameter 4,5 m dan panjang 6,1 km.
Terbuat dari lingkaran beton bertulang.
3.2.2

Kondensor
Kondensor adalah suatu alat untuk mengkondensasi uap bekas dari turbin dengan

kondisi tekanan yang hampa. Uap bekas dari turbin masuk dari sisi atas kondensor,
kemudian mengalami kondensasi sebagai akibat penyerapan panas oleh air pendingin
yang diinjeksikan melalui spray nozel. Uap bekas yang tidak terkondensasi
dikeluarkan dari kondensor oleh ejektor. Ejektor ini berfungsi untuk mempertahankan
hampa kondensor pada saat operasi normal dan membuat hampa kondensor sewaktu
start awal. Air kondensat dipompakan oleh dua buah pompa pendingin utama (Main
Cooling Water Pump) ke menara pendingin (Cooling Tower) untuk didinginkan ulang
sebelum disirkulasikan kembali ke kondensor.
Pada saat sedang beroperasi normal, tekanan dalam kondensor adalah 0,110 bar, dan
kebutuhan air pendingin adalah 1677 kg/s 29,5 C. PLTP Lahendong menggunakan
kondensor kontak langsung yang dipasang dibawah turbin karena kondensor kontak
langsung memiliki effisiensi perpindahan panas yang jauh lebih besar daripada
kondensor permukaan, sehingga ukuran dan biaya investasinya jauh kecil. Pemakaian
kondensor ini sangat cocok karena pembangkit listrik tenaga panas bumi memiliki
Laporan Praktek Kerja Lapangan

14

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

siklus terbuka sehingga tidak diperlukan sistem pengambilan kembali kondensat


seperti yang dilakukan oleh PLTU konvensional.
Untuk mengatur debit yang masuk dan keluar kondensor dipakai katup katup
(valve) yang bertujuan untuk mempertahankan vakum pada kondensor.

Gambar 3.2

Kondensor Unit 1
Karakteristik

Kondensor :
ALSTOM

Power

Exchange

B.P.

Heat
65-78143

Velizy Cedex, France


Reference standard : HEI
Nominal thermal load : 20 MW
Main turbine steam : 40.36 kg/s; 2257.5 kJ/kg
Average condensing pressure : 110.5 mbar abs.
Cooling water inlet : 1719 kg/s; 29.5 C
Cooling water outlet : 1808 kg/s; 41.5 C
3.2.3 Main Cooling Water Pump (MCWP)
Main Cooling Water Pump (MCWP) adalah pompa pendingin utama yang berfungsi
untuk memompakan air kondensat dari kondensor ke menara pendingin ( cooling tower
) untuk kemudian didinginkan.
Komponen utama dari Main Cooling Water Pump (MCWP) terdiri dari :
a. Barrel berfungsi untuk menampung air dari kondensor.
b. Pump body, pompa vertikal terdiri dari bellmouth, casings, coulomb pipe,
bearing housing, discharge casing, and suction casing.
Laporan Praktek Kerja Lapangan

15

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

c. Impeller bagian yang berfungsi untuk menyedot air dari barrel menuju ke
menara pendingin.
d. Shaft dan Bearing , Shaft berfungsi untuk memutar impeller, sedangkan
bearing merupakan salah satu bagian dari elemen mesin yang memegang
peranan penting, karena berfungsi untuk menumpu sebuah poros agar poros
dapat berputar tanpa mengalami gesekan yang berlebih.
Poros pada MCWP terdiri dari upper shaft dan lower shaft, masing masing
dihubungkan oleh clamp coupling. Shaft terbuat dari stainless steel. Dan
bearing dilengkapi dengan sleeves for preventing wear, dan lower shaft di
dukung oleh upper plane bearing , intermediate plane bearing dan lower
plane bearing.
e. Coupling bagian yang berfungsi untuk menghubungkan motor dengan
pompa.
f. Gland Assembly (mechanical seal) berfungsi untuk menjaga ke vakuman
dari pompa.
Prinsip kerja Main Cooling Water Pump (MCWP) adalah Air dari hasil kondensasi
uap yang berasal dari kondensor mengalir ke barrel pompa CWP untuk ditampung,
setelah itu air disedot oleh impeller melewati pipa kolom dan mengalir ke hot basin
cooling tower setelah didinginkan air memiliki temperatur sekitar 29.5C, dan di
alirkan ke cold basin cooling tower. Dari sini terbentuk siklus karena air pendingin
akan masuk kedalam kondensor lagi.
Karakteristik Main Cooling Water Pump :
Pump
: sentrifugal
Fluid
: cooling tower water
Nominal flow (m3/h) : 3250
Required NPSH at the nominal point (m) : 4.2
Total head (m)
: 30.8
Speed (rpm)
: 740
Motor
: asynchronous
Power
: 350
Voltage
: 380 V ac

Laporan Praktek Kerja Lapangan

16

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

Gambar

3.3 Main

Cooling

Water Pump

3.2.4

Cooling Tower
Cooling tower
(menara pendingin) yang terpasang di PLTP Lahendong merupakan bangunan yang
terbuat dari bangunan beton. Terdiri dari 3 ruang dan 3 kipas untuk unit 1.
Air yang dipompakan dari kondensor didistribusikan ke dalam bak (hot water basin)

yang terdapat di bagian atas menara pendingin. Bak tersebut juga dilengkapi dengan noozle
yang berfungsi untuk memancarkan air sehingga menjadi butiran butiran halus dan
didinginkan dengan cara kontak langsung dengan udara bebas. Setelah terjadi proses
pendinginan, air akan turun karena gaya gravitasi untuk seterusnya menuju bak penampung
air (cool water basin) yang terdapat di bagian bawah dari menara pendingin dan seterusnya
dialirkan ke kondensor yang sebelumnya melewati strainer untuk menyaring kotoran
kotoran yang terdapat didalam air.
Aliran udara yang melewati tiap ruang pendingin di hisap ke atas dengan kipas hisap
paksa tipe aksial. Setiap kipas digerakkan oleh motor listrik asinkron.
Karakteristik Cooling Tower
Circulation flow (m3/h)
Water inlet temperature (C)
Water outlet temperature (C)
Approach (C)
Motor
Power (kW)

:
: 6500
: 41.5
: 29.5
:8
: asynchronous
: 110

Laporan Praktek Kerja Lapangan

17

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

Speed (rpm)
: 1500
Voltage
: 380 V ac 5%
Fan diameter (mm)
: 6706
Peripheral speed at end of blade (m/s) : 58

Gambar 3.4
Cooling
Tower
3.2.5
Intercooler
Intercooler terdiri dari dua buah heat exchanger dengan tipe plat yang paralel, untuk
memindahkan panas dari air secondary ke air primary. Fungsi utama intercooler adalah
sebagai tempat bertukarnya panas antara air dari primary intercooler water system dengan air
dari secondary intercooler water system. Proses pendinginannya tidak dengan direct contact,
tetapi hanya dengan bersinggungan secara berlawanan arah. Sehingga bila air inlet primary
bersuhu rendah maka outletnya akan bersuhu lebih tinggi.
a. Plate exchanger technical characteristics (Primary circuit)
Fluid
: cooling tower water
Inlet temperature (C)
: 29.5
Outlet temperature (C)
: 37.6
Nominal Flow (m3/h)
: 148.8
Pressure losses (m)
: 3.5
b. Plate exchanger technical characteristics (secondary circuit)
Fluid
: industrial water
Inlet temperature (C)
: 34.5
Outlet temperature (C)
: 42.5
Nominal Flow (m3/h)
: 150
Pressure losses (m)
: 3.5
Laporan Praktek Kerja Lapangan

18

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

Gambar
3.5

Heat
Exchanger

3.2.6

Primary
Cooling Water
Pump
Spesifikasi
Kondensor
Pump :
Pump
Fluid
Nominal flow (m3/h)

: centrifugal
: cooling tower water
: 375

Required NPSH at the nominal point (m) : 3


Total head (m)
: 21
Speed (rpm)
: 980
Motor
: asynchronous
Power (kW)
: 30
Voltage
: 380 V ac 5%

Laporan Praktek Kerja Lapangan

19

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

Gambar 3.8
Primary Cooling
Pump
3.2.7

Secondary Cooling Pump


Spesifikasi Kondensor Pump :
Pump
: centrifugal
Fluid
: industrial water
Nominal flow (m3/h)
: 180
Required NPSH at the nominal point (m) : 4
Total head (m)
: 15
Speed (rpm)
: 1450
Motor
: asynchronous
Power (kW)
: 15
Voltage
: 380 V ac 5%

Laporan Praktek Kerja Lapangan

20

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

Gambar 3.9 Secondary Cooling Pump


3.2.8

Turbin Uap
Hampir di semua pusat pembangkit tenaga listrik memiliki turbin sebagai
penghasil gerakkan mekanik yang akan diubah menjadi energi listrik melalui
generator. Turbin yang digunakan disesuaikan dengan keadaan dimana turbin tersebut
digunakan. Pada system PLTP Lahendong mempergunakan turbin jenis silinder
tunggal yang merupakan kombinasi dari turbin aksi (impuls) dan reaksi. Yang
membedakan antara turbin aksi dan reaksi adalah pada proses ekspansi dari uapnya.
Pada turbin aksi, proses ekspansi (penurunan tekanan) dari fluida kerja hanya terjadi
di dalam baris sudu tetapnya saja, sedangkan pada reaksi proses dari fluida kerja
terjadi baik di dalam baris sudu tetap maupun sudu beratnya. Turbin tersebut dapat
menghasilkan daya listrik sebesar 20 MW per unit aliran ganda dengan putaran 3000
rpm. Turbin ini dirancang dengan
memperhatikan efisiensi, dan performanya disesuaikan dengan kondisi dan kualitas
uap panas bumi.
Spesifikasih Turbin
Type
Rated Output

Laporan Praktek Kerja Lapangan

: TC 203 MV 022
: 20.000 kW
21

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

Inlet Steam Pressure


: 8 bar
Inlet Steam Temperature : 171 C

Exhaust Pressure
: 0,115 bar
Rated Speed
: 3000 rpm
Number of blading stage : Reaction stage 8, 6 stage HP and 2 stage LW
Manufacture
: ALSTOM Made in FRANCE

Gambar 3.9 Rotor Turbin

3.2.9

Alat-alat bantu turbin uap meliputi :


Generator
Generator berfungsi untuk mengubah energi mekanik menjadi energi listrik. Konstruksi

generator dengan turbin terhubung langsung melalui kopling untuk menyambungkan antara
ujung poros generator dengan poros turbin sehingga kecepatan putaran poros dan turbin sama
dengan kecepatan poros generator yang selanjutnya diubah menjadi energi listrik.
Spesifikasi teknik generator PLTP Lahendong adalah sebagai berikut :
Type
Tegangan
Kuat arus
Daya keluaran
Frekuensi
Faktor Kerja
Laporan Praktek Kerja Lapangan

: T.180-180 X 3 PHASE
: 11 KV
: 1.312 A
: 25 MVA
: 50 Hz
: 0,8
22

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

Putaran
kelas isolasi
Tegangan Eksitasi
Arus eksitasi
Pabrik pembuat

: 3000 rpm
: IP. 55
: 171 V
: 476 A
: G.E.C. ALSTOM

Gambar 3.10 Rotor

Gambar 3.11 Stator

Laporan Praktek Kerja Lapangan

23

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

Gambar 3.12 Casing Generator

Adapun bagianbagian generator sebagai berikut :


1. Rotor merupakan bagian yang berputar dari generator. Kumparan rotor
diberikan eksitasi dengan tegangan arus dc kemudian dengan bantuan tenaga
air melalui turbin yang di kopel langsung dengan rotor maka rotor berputar
dan terjadilah tegangan induksi ke stator.
2. Stator, adalah bagian yang tidak bergerak yang sekaligus menjadi body
generator. stator berupa kumparan jangkar yang berbahan tembaga .
3. Bearing, merupakan pendukung poros generator yang dilengkapi dengan
sistem pelumasan. Adapun letak-letak bearing tersebut antara lain:
a. Upper bearing, berfungsi menahan pergerakan ke kiri dan ke kanan poros
yang terdapat di atas generator
b. Thrust bearing, berfungsi menahan generator agar tidak bergerak aksial.
c. Lower bearing, berfungsi menahan pergerakan aksial yang terdapat di
bawah generator

Laporan Praktek Kerja Lapangan

24

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

Rem dan dongkrak, rem berfungsi untuk menghentikan putaran generator


sedangkan dongkrak berfungsi menaikkan generator pada saat dilakukan

pemeriksaan unit.
3.2.10 Transformator
Trafo merupakan alat listrik yang berfungsi untuk menaikkan dan
menurunkan tegangan. Trafo utama untuk menaikkan tegangan keluaran
generator. Unit PLTP Lahendong memiliki spesifikasi trafo yang digunakan
adalah :
1. Untuk trafo unit 1
Jenis Tipe

: TTUB/3000

Serial Number
Standard
Frekuensi
Daya
Tegangan
Metode pendinginan
Jumlah
Pabrik pembuat
Tahun Pembuatan

: A.9715212
: IEC 60076
: 50 Hz
: 70 MVA
: 11/150 KV
: Oil Natural Air Forced (ONAF)
: 1 unit
: UNINDO
: 1997

Gambar 3.13 Trafo unit 1


2. Untuk trafo unit 2
Type
Serial Number
Laporan Praktek Kerja Lapangan

: ORS 25/275
: 06P0024
25

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

Standard
Frekuensi
Daya
Tegangan
Metode pendinginan
Jumlah
Pabrik pembuat
Tahun Pembuatan

: IEC 60076
: 50 Hz
: 70 MVA
: 11/150 KV
: Oil Natural Air Natural (ONAN)
: 1 unit
: P.T. PAUWELS TRAFO ASIA
: 2006

Gambar 3.14 Trafo unit 2


Bagian-bagian trafo :
1

Inti besi, sirkuit magnetik dibuat dari besi silicon (grain oriented Silicon Steel)

dan membentuk rangkaian magnetis tertutup


Belitan, dibuat dari tembaga atau aluminium berisolasi dan berkonduktivitas
tinggi dan terendam minyak. Antara belitan dan tangki bawah dibatasi dengan
sekat sebagai tumpuan belitan sekaligus sebagai isolator. Bentuk belitan

adalah konsentris
Sendapan, dilakukan sedemikian rupa sehingga kokoh dan dapat dioperasikan
melalui pengatur-pengatur posisi. Sendapan dipasang dibagian luar tangki
trafo dan dapat dioperasikan dalam keadaan bertegangan tanpa beban.
Sendapan dipasang terendam minyak trafo.

Busing, terdiri dari 2 macam yaitu bushing tegangan primer yang dibuat dari
porselen dengan jarak rambat minimum 430 m, sedangkan bushing yang lain

Laporan Praktek Kerja Lapangan

26

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

yaitu bushing tegangan sekunder yang dibuat dari porselin, dimana dilengkapi
5

dengan terminal untuk menghubungkan pada bagian sekunder.


Tangki trafo, tangki trafo terbuat dari plat baja dan dirancang kedap air dan
udara. Setiap peralatan yang dipasang pada sekeliling tangki yang

berhubungan dengan bagian dalam tangki dilengkapi perapat (karet/gasket)


Minyak Trafo, minyak trafo yang digunakan merupakan minyak alami yang
memenuhi standar SPLN 49-1:1982, fungsi minyak tersebut adalah sebagai

pendingin trafo.
Sistem pengaman, berfungsi sebagai pemutus tegangan yang dipasang pada
sisi sekunder dan di dalam tangki (terendam minyak). Pengaman tersebut

berfungsi sebagai pemutus tegangan jika terjadi tegangan berlebih


Arester. dipasang pada bagian luar tangki yang terhubung dengan terminal
bushing sisi primer.
Tenaga listrik yang dihasilkan dari keluaran trafo selanjutnya dihubungkan ke

rangkaian serandang hubung (switch yard).Selanjutnya dilanjutkan ke gardu induk


(GI).

Gambar 3.15 Transformator Unit PLTP Lahendong


3.3

PERALATAN BANTU UNIT PLTP LAHENDONG

Laporan Praktek Kerja Lapangan

27

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

Bagian-bagian peralatan bantu PLTP Lahendong yaitu :


3.3.1

Sistem Gas Extraksi


Uap yang tidak berhasil terkondensasikan setelah direct contact dengan air dari

system air pendingin akan dihisap oleh inter kondensor dengan ditekan oleh uap dari
ejector tingkat pertama. Pada inter kondensor terjadi kembali pengkondensasian uap
dengan metode direct contact, dimana air yang dipakai berasal dari intercooler water
system. Hasil uap yang berhasil terkondensikan akan dialirkan menuju kondensor
menggunakan metoda barometrik atau pipa u. Dimana dimaksudkan untuk menjaga
tekanan agar kevakuman di kondensor tetap terjaga dan mencegah uap dari
intercondensor masuk kembali ke kondensor.
Uap yang masih belum terkondensasikan kembali dihisap oleh after condensor dengan
ditekan oleh uap dari ejektor tingkat kedua. Pada after kondensor terjadi proses
pengkondensasian tahap akhir, air yang dipakai untuk spray uap masih berasal sistem
yang sama dengan inter kondensor. Dan air kondensat kembali dialirkan menuju
kondensor melalui sistem control valve. Sedangkan uap yang tidak terkondensasikan
akan dibuang langsung ke udara bebas melalui pipa dihisap oleh kipas menara
pendingin untuk dibuang ke udara bebas.
Berikut spesifikasi Non Condensable Gas System
1.

Ejektor first stage


Jumlah
Tekanan
Temperatur
Udara
Uap
Air
NCG

: 2 x 100%
: 8 Bar abs
: 171 C

: 0 kg/s
: 1.72 kg/s
: 0 m3/s
: 0.01 kg/s

Process Inlet
Tekanan
Temperatur
Udara
Uap
Air
NCG

: 0,1 Bar abs


: 34 C

: 0 kg/s
: 0.143 kg/s
: 0.066 kg/s
: 0.24 kg/s

Laporan Praktek Kerja Lapangan

28

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

2.

3.

4.

Process Discharge
Tekanan
Interconderser
Type
Tekanan hisap
Temperature cooling tower
Flow water
Cooling source
Water return
Ejektor Second Stage

: 0,3 Bar abs


: Direct Contact
: 0,3 Bar abs
: 29.5 C

: 29.14 kg/s
: Primary cooling water
: main condensor

Jumlah

: 2 x 100%

Tekanan
Temperatur
Udara
Uap
Air
NCG
Process Inlet
Tekanan
Process Discharge
Tekanan

: 8 Bar abs
: 171 C

: 0 kg/s
: 1.72 kg/s
: 0 m3/s
: 0.01 kg/s
: 0,3 Bar abs
: 1,05 Bar abs

After Condersor
Type
Tekanan hisap
Temperature cooling tower
Flow water
Cooling source
Water return
Process Discharge
Tekanan
Uap
NCG
Water

Laporan Praktek Kerja Lapangan

: Direct Contact
: 0,9 Bar abs
: 29.5 C

: 20.3 kg/s
: Primary cooling water
: main condenser
: 1.05 Bar abs
: 0 kg/s
: 0.25 kg/s
: 0.066 kg/s

29

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

Gambar 3.16 Skema sistem extraksi gas NCG


3.4 Sistem Udara Bertekanan
Berfungsi menyuplai udara bertekanan untuk katup udara (pneumatik) sistem oli dan
udara bertekanan guna untuk

membantu kerja jalannya pengontrolan katup secara

otomatis :
3.4.1 Air compressor
Jumlah
Tipe
Model
Swept volume (m3/h)
Free air delivery at 10 bar (m3/h)
Operating pressure (Maxi) bar
Pressure regulation (bar)
Rotating speed (rpm)
Absorbed power (kW)
Number of cylinders :

Low pressure
Mean pressure

Number of stage

: 2 x 100%
: reciprocating
: NS 89
: 106
: 70
: 10
: 8/10
: 700
: 18
:2
:2

Low pressure cylinder bore (mm)


Mean pressure cylinder bore (mm)

Air temperature after final air cooler (C)


3.4.2 Main accessories
Laporan Praktek Kerja Lapangan

30

: 120
: 60
: 70

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

3.4.3

Air intake filter with H2S trap


Loading / unloading solenoid valve
Non return valve
Safety valve
Regulation pressurestat
Number of driving V-belts
Electric motor
Type
Manufacturer
Power (kW)
Rated speed (rpm)
Voltage (V)
Insulation class
Temperature rise class

: No
: Yes
: Yes
: Yes
: No
:2
: LS 180
: ABB or LEROY SOMER
: 18
: 1500
: 400
:F
:B

3.5 Sistem Pelumasan Oli


Sistem Pelumasan oli pada unit di supplai ke lower bearing, upper bearing, dan
Turbin bearing guna menjaga agar komponen bearing tidak aus, menjaga temperatur dan
menjaga agar poros dan bearing tidak bersinggungan.

3.6 Sistem reinjeksi


Sistem ini berfungsi untuk menginjeksikan ke bumi hasil kondesasi dari cooling tower
dan main condensor.

Laporan Praktek Kerja Lapangan

31

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

BAB IV
PEMBAHASAN

Kualitas uap PLTP LAHENDONG UNIT 1

4.1 Proses terbentuknya uap


Di Indonesia usaha pencarian sumber energi panasbumi pertama kali dilakukan di
daerah Kawah Kamojang pada tahun 1918. Pada tahun 1926 hingga tahun 1929
lima sumur eksplorasi dibor dimana sampai saat ini salah satu dari sumur tersebut,
yaitu sumur KMJ3 masih memproduksikan uap panas kering atau dry steam.
Pecahnya perang dunia dan perang kemerdekaan Indonesia mungkin merupakan
salah satu alasan dihentikannya kegiatan eksplorasi di daerah tersebut.

Kegiatan eksplorasi panasbumi di Indonesia baru dilakukan secara luas pada tahun
1972. Direktorat Vulkanologi dan Pertamina, dengan bantuan Pemerintah
Perancis dan New Zealand melakukan survey pendahuluan di seluruh wilayah
Indonesia. Dari hasil survey dilaporkan bahwa di Indonesia terdapat 217 prospek
panasbumi, yaitu di sepanjang jalur vulkanik mulai dari bagian Barat Sumatera,
terus ke Pulau Jawa, Bali, Nusatenggara dan kemudian membelok ke arah utara
melalui Maluku dan Sulawesi. Survey yang dilakukan selanjutnya telah berhasil
menemukan beberapa daerah prospek baru sehingga jumlahnya meningkat menjadi
256 prospek, yaitu 84 prospek di Sumatera, 76 prospek di Jawa, 51 prospek di
Sulawesi, 21 prospek di Nusatenggara, 3 prospek di Irian, 15 prospek di Maluku
Laporan Praktek Kerja Lapangan

32

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

dan 5 prospek di Kalimantan. Sistim panas bumi di Indonesia umumnya merupakan


sistim hidrothermal yang mempunyai temperatur tinggi (>225 oC), hanya beberapa
diantaranya yang mempunyai temperatur sedang (150225oC).

Laporan Praktek Kerja Lapangan

33

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

Terjadinya
sumber
energi
panasbumi di Indonesia serta
karakteristiknya dijelaskan oleh
Budihardi (1998) sebagai berikut.
Ada
tiga
lempengan
yang
berinteraksi di Indonesia, yaitu
lempeng Pasifik, lempeng India
Australia dan lempeng Eurasia.
Tumbukan yang terjadi antara
ketiga lempeng tektonik tersebut
telah memberikan peranan yang
sangat penting bagi terbentuknya
sumber energi panas bumi di
Indonesia.
Tumbukan antara lempeng IndiaAustralia di sebelah selatan dan lempeng Eurasia di
sebelah utara mengasilkan zona penunjaman (subduksi) di kedalaman 160 210 km
di bawah Pulau Jawa Nusatenggara dan di kedalaman sekitar 100 km (Rocks et. al,
1982) di bawah Pulau Sumatera. Hal ini menyebabkan proses magmatisasi di bawah
Pulau Sumatera lebih dangkal dibandingkan dengan di bawah Pulau Jawa atau
Nusatenggara. Karena perbedaan kedalaman jenis magma yang dihasilkannya
berbeda. Pada kedalaman yang lebih besar jenis
magma yang dihasilkan akan lebih
bersifat basa dan lebih cair dengan
kandungan gas magmatik yang lebih
tinggi sehingga menghasilkan erupsi
gunung api yang lebih kuat yang pada
akhirnya akan menghasilkan endapan
vulkanik yang lebih tebal dan terhampar
luas. Oleh karena itu, reservoir panas
bumi di Pulau Jawa umumnya lebih
dalam dan menempati batuan volkanik,
sedangkan reservoir panas bumi di
Sumatera terdapat di dalam batuan
sedimen dan ditemukan pada kedalaman
yang lebih dangkal.
Sistim panas bumi di Pulau Sumatera umumnya berkaitan dengan kegiatan gunung
api andesitis riolitis yang disebabkan oleh sumber magma yang bersifat lebih asam
dan lebih kental, sedangkan di Pulau Jawa, Nusatenggara dan Sulawesi umumnya
Laporan Praktek Kerja Lapangan

34

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

berasosiasi dengan kegiatan vulkanik bersifat andesitisbasaltis dengan sumber


magma yang lebih cair. Karakteristik geologi untuk daerah panas bumi di ujung utara
Pulau Sulawesi memperlihatkan kesamaan karakteristik dengan di Pulau Jawa.

Akibat dari sistim penunjaman yang berbeda, tekanan atau kompresi yang
dihasilkan oleh tumbukan miring (oblique) antara lempeng IndiaAustralia dan
lempeng Eurasia menghasilkan sesar regional yang memanjang sepanjang Pulau
Sumatera yang merupakan sarana bagi kemunculan sumber sumber panas bumi
yang berkaitan dengan gununggunung api muda. Lebih lanjut dapat disimpulkan
bahwa sistim panas bumi di Pulau Sumatera umumnya lebih dikontrol oleh sistim
patahan regional yang terkait dengan sistim sesar Sumatera, sedangkan di Jawa
sampai Sulawesi, sistim panas buminya lebih dikontrol oleh sistim pensesaran yang
bersifat lokal dan oleh sistim depresi kaldera yang terbentuk karena pemindahan
masa batuan bawah permukaan pada saat letusan gunung api yang intensif dan
ekstensif. Reservoir panas bumi di Sumatera umumnya menempati batuan sedimen
yang telah mengalami beberapa kali deformasi tektonik atau pensesaran setidak
tidaknya sejak Tersier sampai Resen. Hal ini menyebabkan terbentuknya porositas
atau permeabilitas sekunder pada batuan sedimen yang dominan yang pada akhirnya
menghasilkan permeabilitas reservoir panas bumi yang besar, lebih besar
dibandingkan dengan permeabilitas reservoir pada lapanganlapangan panas bumi di
Pulau Jawa ataupun di Sulawesi.

Laporan Praktek Kerja Lapangan

35

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

4.2 Sistem Hidrothermal


Sistim panas bumi di Indonesia umumnya
merupakan sistim hidrothermal yang mempunyai
temperatur tinggi (>225oC), hanya beberapa
diantaranya yang mempunyai temperatur sedang
(150225oC). Pada dasarnya sistim panas bumi jenis
hidrothermal terbentuk sebagai hasil perpindahan
panas dari suatu sumber panas ke sekelilingnya yang
terjadi secara konduksi dan secara konveksi.
Perpindahan panas secara konduksi terjadi melalui
batuan, sedangkan perpindahan panas secara
konveksi terjadi karena adanya kontak antara air
dengan suatu sumber panas. Perpindahan panas
secara konveksi pada dasarnya terjadi karena gaya
apung (bouyancy). Air karena gaya gravitasi selalu
mempunyai kecenderungan untuk bergerak
kebawah, akan tetapi apabila air tersebut kontak dengan suatu sumber panas maka
akan terjadi perpindahan panas sehingga temperatur air menjadi lebih tinggi dan air
menjadi lebih ringan. Keadaan ini menyebabkan air yang lebih panas bergerak ke atas
dan air yang lebih dingin bergerak turun ke bawah, sehingga terjadi sirkulasi air atau
arus konveksi.
Adanya suatu sistim hidrothermal di bawah permukaan sering kali ditunjukkan oleh
adanya manifestasi panasbumi di permukaan (geothermal surface manifestation),
seperti mata air panas, kubangan lumpur panas (mud pools), geyser dan manifestasi
panasbumi lainnya, dimana beberapa diantaranya, yaitu mata air panas, kolam air
panas sering dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk mandi, berendam,
mencuci, masak dll. Manifestasi panasbumi di permukaan diperkirakan terjadi
karena adanya perambatan panas dari bawah permukaan atau karena adanya rekahan
rekahan yang memungkinkan fluida panasbumi (uap dan air panas) mengalir ke
permukaan.

Laporan Praktek Kerja Lapangan

36

PT. PLN (PERSERO) WILAYAH SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
UNIT PLTP LAHENDONG

Berdasarkan pada jenis fluida produksi dan jenis kandungan fluida utamanya,
sistim hidrotermal dibedakan menjadi dua, yaitu sistim satu fasa atau sistim dua fasa.
Sistim dua fasa dapat merupakan sistem dominasi air atau sistem dominasi uap.
Sistim dominasi uap merupakan sistim yang sangat jarang dijumpai dimana
reservoir panas buminya mempunyai kandungan fasa uap yang lebih dominan
dibandingkan dengan fasa airnya. Rekahan umumnya terisi oleh uap dan poripori
batuan masih menyimpan air. Reservoir air panasnya umumnya terletak jauh di
kedalaman di bawah reservoir dominasi uapnya. Sistim dominasi air
merupakan sistim panas bumi yang umum terdapat di dunia dimana reservoirnya
mempunyai kandungan air yang sangat dominan walaupun boiling sering terjadi
pada bagian atas reservoir membentuk lapisan penudung uap yang mempunyai
temperatur dan tekanan tinggi.

Dibandingkan dengan temperatur reservoir minyak, temperatur reservoir panasbumi


relatif sangat tinggi, bisa mencapai 3500C. Berdasarkan pada besarnya temperatur,
Hochstein (1990) membedakan sistim panasbumi menjadi tiga, yaitu:
1. Sistim panasbumi bertemperatur rendah, yaitu suatu sistim yang reservoirnya
mengandung fluida dengan temperatur lebih kecil dari 1250C.

Laporan Praktek Kerja Lapangan

37

PT. PLN (PERSERO) WIL. SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
PLTP LAHENDONG

2. Sistim/reservoir bertemperatur sedang, yaitu suatu sistim yang


reservoirnya mengandung fluida bertemperatur antara 1250C dan
2250C.
3. Sistim/reservoir bertemperatur tinggi, yaitu suatu sistim yang
reservoirnya mengandung fluida bertemperatur diatas 2250C.
Sistim panasbumi seringkali juga diklasifikasikan berdasarkan entalpi fluida
yaitu sistim entalpi rendah, sedang dan tinggi. Kriteria yang digunakan
sebagai dasar klasifikasi pada kenyataannya tidak berdasarkan pada harga
entalphi, akan tetapi berdasarkan pada temperatur mengingat entalphi
adalah fungsi dari temperatur. Pada Tabel dibawah ini ditunjukkan klasifikasi
sistim panasbumi yang biasa digunakan.
Muffer
& Cataldi
Sistim
panasbumi
Sistim
panasbumi
Sistim
panasbumi

Benderiter
& Cormy

Haenel,
Rybach &

Hochestei
n

<90oC

<100oC

<150oC

<125oC

90150oC

100200oC

125225oC

>150oC

>200oC

>150oC

>225oC

4.3 Energi Panas Bumi Ramah Lingkungan


Energi panas bumi merupakan energi yang ramah lingkungan karena
fluida panas bumi setelah energi panas diubah menjadi energi listrik, fluida
dikembalikan ke bawah permukaan (reservoir) melalui sumur injeksi.
Penginjeksian air kedalam reservoir merupakan suatu keharusan untuk
menjaga keseimbangan masa sehingga memperlambat penurunan tekanan
reservoir dan mencegah terjadinya subsidence. Penginjeksian kembali fluida
panas bumi setelah fluida tersebut dimanfaatkan untuk pembangkit listrik,
serta adanya recharge (rembesan) air permukaan, menjadikan energi panas
bumi sebagai energi yang berkelanjutan (sustainable energy).
Emisi dari pembangkit listrik panasbumi sangat rendah bila dibandingkan
dengan minyak dan batubara. Karena emisinya yang rendah, energi
panasbumi memiliki kesempatan
untuk memanfaatkan Clean
Development Mechanism (CDM) produk Kyoto Protocol. Mekanisme
ini menetapkan bahwa negara maju harus mengurangi emisi gas rumah kaca
(GRK) sebesar 5.2% terhadap emisi tahun 1990, dapat melalui pembelian
energi bersih dari negara berkembang yang proyeknya dibangun diatas
tahun 2000. Energi bersih tersebut termasuk panas bumi.
Laporan Praktek Kerja Lapangan

38

PT. PLN (PERSERO) WIL. SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
PLTP LAHENDONG

1200

CO2 Emmision (Kg/MWh)

1000

800

600

400

200

0
Coal

Diesel

Oil

Natural Gas

Geothermal

Source: IPCC and Indonesia's First Communication Report

4.4 Turbin

Laporan Praktek Kerja Lapangan

39

PT. PLN (PERSERO) WIL. SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
PLTP LAHENDONG

Sistem turbin uap merupakan salah satu jenis mesin panas yang
mengkonversi sebagian panas yang diterimanya menjadi kerja. Sebagian panas
lainnya dibuang ke lingkungan dengan temperatur yang lebih rendah.

Gambar 4.1 Turbin PLTP LAHENDONG UNIT 1


4.4.1 Bagian-bagian turbin
Komponen-komponen utama pada turbin uap yaitu
Cassing adalah sebagai penutup (rumah) bagian-bagian utama
turbin.
Rotor adalah bagian turbin yang berputar terdiri dari:
a. Poros berfungsi sebagai komponen utama

tempat

dipasangnya cakram-cakram sepanjang sumbu.


b. Sudu turbin atau deretan sudu berfungsi sebagai alat yang
menerima gaya dari energi kinetik uap melalui nosel.
c. Cakram berfungsi sebagai tempat sudu-sudu dipasang secara
radial pada poros.
d. Nosel berfungsi sebagai media ekspansi uap yang merubah
energi potensial menjadi energi kinetik.
e. Bantalan (bearing) merupakan bagian yang berfungsi uuntuk
menyokong kedua ujung poros dan banyak menerima beban.
f. Perapat (seal) berfungsi untuk mencegah kebocoran uap,
perapatan ini terpasang mengelilingi poros. Perapat yang
digunakan adalah :
1. Labyrinth packing

Laporan Praktek Kerja Lapangan

40

PT. PLN (PERSERO) WIL. SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
PLTP LAHENDONG

2. Gland packing
g. Kopling berfungsi sebagai penghubung antara mekanisme
turbin uap dengan mekanisme yang digerakkan.
4.4.2 Prinsip Kerja Turbin Uap
Prinsip kerja turbin uap,terletak pada perubahan energi panas yang
terkandung di dalam uap air (keseluruhan sampai energi panas dalam uap air
di sisi exhaust turbin) yang dikonversikan menjadi energi mekanik yang
ditransmisikan ke rotor turbin. Hal ini terjadi di beberapa stage turbin uap
yang berbeda. Satu stage turbin selalu terdiri atas bagian sudu-sudu melingkar
yang diam/stasioner dan bagian sudu-sudu yang berputar/berotasi. Energi
panas di dalam uap air ditunjukkan oleh besaran entalpi (h).

Gambar 4.2 Nozzle pada Turbin


Pertama, energi panas harus dikonversikan menjadi energi kinetik, proses ini
terjadi pada nozzle (lihat gambar di atas). Pada turbin uap, nozzle terpasang di sisi
casing (sudu-sudu stator turbin) dan ditambah pada sisi sudu-sudu rotor, yang
selanjutnya dikenal dengan reaction stage/sisi reaksi. Pada nozzle, uap air
mengalami penambahan kecepatan/akselerasi, dan akselerasi ini menyebabkan
diferensial tekanan antara sisi sebelum nozzle dengan sesudah nozzle. Kedua,
energi kinetik ditransformasikan menjadi energi putar dari rotor turbin yang hanya
terjadi pada sisi sudu-sudu yang berputar/rotor.

Laporan Praktek Kerja Lapangan

41

PT. PLN (PERSERO) WIL. SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
PLTP LAHENDONG

4.5 Jenis-jenis Uap


Proses pembentukan uap terbagi atas dua jenis, yaitu :
4.5.1 Uap air
yaitu uap yang terbentuk diatas permukaan air sebagai akibat dari
penurunan tekanan di atas permukaan air sampai tekanan penguapan yang
sesuai dengan temperatur permukaan air tersebut pada titik didih dan pada
tekanan di bawah tekanan atmosfir bumi. Penurunan tekanan ini
diantaranya disebabkan karena adanya tekanan uap jenuh yang sesuai
dengan temperatur permukaan air maka akan terjadi penguapan.
4.5.2 Uap panas
yaitu uap yang terbentuk akibat mendidihnya air , aliran mendidih
bila tekanan dan temperatur berada pada kondisi didih. Misalnya bila air
tekanan 1 bar maka air tersebut akan mendidih pada suhu didih
(99,630 C).
Uap yang terbentuk pada tekanan dan temperatur didih disebut uap jenuh
saturasi (saturated steam). Apabila uap jenuh dipanaskan pada tekanan
tetap, maka uap akan mendapat pemanasan lanjut (temperatur naik). Uap
yang demikian disebut uap panas lanjut (uap adi panas) atau superheated
steam.
Menurut keadaannya uap ada tiga jenis, yaitu :
Uap jenuh
Uap jenuh merupakan uap yang tidak mengandung bagian-bagian
air yang lepas dimana pada tekanan tertentu berlaku suhu tertentu.
Uap kering
Uap kering merupakan uap yang didapat dengan pemanas lanjut
dari uap jenuh dimana pada tekanan terbentuk dan dapat diperoleh
beberapa jenis uap kering dengan suhu yang berlainan.
Uap basah
Uap basah merupakan uap jenuh yang bercampur dengan bagianbagian air yang halus yang temperaturnya sama.

Laporan Praktek Kerja Lapangan

42

PT. PLN (PERSERO) WIL. SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
PLTP LAHENDONG

4.6 Siklus Rankine


Siklus Rankine adalah sebuah siklus yang mengkonversi energi panas
menjadi kerja / energi gerak. Dikembangkan oleh William John Macquorn
Rankine pada abad ke-19 dan sejak saat itu banyak diaplikasikan pada mesinmesin uap. Saat ini, siklus rankine digunakan pada pembangkit-pembangkit listrik
dan memproduksi 90% listrik dunia. Pada PLTP sendiri menggunakan uap dari
perut bumi yang terjadi secara alami, apabila fluida panas bumi keluar dari kepala
sumur sebagai campuran fluida dua fasa (fasa uap dan fasa cair) maka terlebih
dahulu dilakukan proses pemisahan pada fluida. Hal ini dimungkinkan dengan
melewatkan fluida ke dalam separator atau demister, sehingga fasa uap akan
terpisahkan dari fasa cairnya. Fraksi uap yang dihasilkan dari separator inilah
yang kemudian dipakai pada perhitungan daya turbin. Oleh karena itu, sistem
konversi energi ini dinamakan Siklus Uap Hasil Pemisahan (Gambar 3 dan
Gambar 4). Siklus ini banyak digunakan pada reservoir panas bumi dominasi air.

Gambar 4.3 Skema diagram Siklus uap hasil pemisahan

Laporan Praktek Kerja Lapangan

43

PT. PLN (PERSERO) WIL. SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
PLTP LAHENDONG

Gambar 4.4
Diagram T-S Untuk Sistem Konversi Uap Hasil Pemisahan
Penjelasan Diagram T-S sebagai berikut :
1). Titik 1 merupakan keadaan fluida di permukaan atau di kepala sumur. Terlihat
pada diagram T-s di atas bahwa fluida di kepala sumur merupakan fluida dua fasa
(campuran air dan uap) dengan kandungan air sangat tinggi (bisa lebih dari 90%).
2). Titik 2 merupakan keadaan fluida di separator atau alat pemisah antara air dan
uap. Fluida pada keadaan ini telah mengalami flashing dimana telah terjadi
penurunan tekanan yang bersamaan juga dengan penurunan temperatur. Terlihat
pada diagram T-s di atas bahwa pada titik 2, fluida merupakan fluida dua fasa
dengan kandungan uap yang lebih banyak dibandingkan dengan keadaan semula
di titik 1. Pada titik 2 ini, dilakukan pemisahan antara air dan uap. Air dibawa ke
titik 3 untuk selanjutnya menuju sumur injeksi sedangkan uap dibawa ke titik 4
untuk selanjutnya masuk ke turbin.
3). Titik 3 merupakan keadaan air yang telah terpisahkan dari uap, sebagai mana
dijelaskan pada point 2 di atas. Air hasil pemisahan ini selanjutnya akan
dikembalikan ke dalam perut bumi melalui sumur injeksi.
4). Titik 4 merupakan keadaan uap yang telah terpisahkan dari air, sebagai mana
dijelaskan pada point 2 di atas. Titik 4 ini merupakan titik masuk turbin. Adanya
penurunan tekanan (pressure losses) sepanjang pipa alir dari separator ke turbin

Laporan Praktek Kerja Lapangan

44

PT. PLN (PERSERO) WIL. SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
PLTP LAHENDONG

menyebabkan titik 4 jatuh tidak segaris dengan titik 2, andaikan tidak ada pressure
losses maka titik masuk turbin akan jatuh segaris dengan titik 2, yaitu di titik 4.
5). Titik 5 merupakan titik keluar turbin. Titik ini sekaligus merupakan titik masuk
ke kondensor. Adanya rugi-rugi daya yang terjadi selama uap memutar turbin,
seperti heat losses akibat gesekan antar komponen, menyebabkan entropi keluar
turbin lebih besar dibandingkan dengan entropi saat masuk turbin. Andaikan
proses ini ideal, maka entropi keluar turbin akan sama dengan entropi saat masuk
turbin (isentropis) atau titik keluar turbin akan jatuh di titik 5. Semakin proses ini
mendekati isentropis maka akan semakin tinggi efisiensi yang diperoleh.
6). Terlihat pada diagram T-s di atas bahwa keadaan fluida keluar turbin, yaitu di
titik 5, adalah fluida dua fasa. Biasanya fraksi uap pada keadaan ini di atas 80%.
Fluida yang keluar dari turbin ini harus diinjeksikan kembali ke dalam perut bumi.
Namun, menginjeksikan fluida dua fasa dominasi uap seperti ini bukanlah perkara
mudah. Hal ini karena massa jenis uap sangat kecil dibandingkan dengan air
sehingga uap lebih cenderung bergerak ke atas. Oleh karena itu, fluida di titik 5
harus dikondensasikan menjadi air jenuh terlebih dahulu sebelum diinjeksikan.
Proses kondensasi ini terjadi di dalam kondensor dan keadaan fluida keluar
kondensor adalah titik 6, yaitu keadaan air jenuh. Fluida di titik 6 ini selanjutnya
diturunkan lagi temperaturnya di menara pendingin sebelum akhirnya diinjeksikan
kembali ke dalam perut bumi melalui sumur injeksi kondensat.
Besarnya daya listrik yang dapat dibangkitkan sebanding dengan perbedaan antara
temperatur masuk dan temperatur keluar turbin atau sebanding dengan (T4-T5).
Temperatur keluar turbin biasanya terbatas pada kisaran 39-46 0C. Temperatur
masuk turbin bergantung pada temperatur fluida panas bumi yang keluar dari
reservoir. Sehingga semakin tinggi temperatur reservoir maka akan semakin besar
daya listrik yang bisa dihasilkan.

Laporan Praktek Kerja Lapangan

45

PT. PLN (PERSERO) WIL. SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
PLTP LAHENDONG

Gambar 4.5
Untuk Sistem

Diagram T - S
Konversi Uap
Kering

Titik 1 fasa fluida panas bumi berupa uap sedangkan pada titik 2 fluida berupa dua
fasa. Proses yang dijalani fluida dari titik 1 ke titik 2 dianggap proses isentropik
sehingga entropi pada titik 1 sama dengan entropi pada titik 2.
Laju alir masa uap yang di butuhkan untuk memasok PLTP berkapasitas W
ditentukan dengan menggunakan persamaan berikut:
m=

W
( h h)

Dimana :
m = laju alir masa uap (kg/s)
W = daya listrik (kW)
= effisiensi isentropik turbin.
h1 = entalpi uap pada tekanan masuk MSV (kJ/kg)
h2 = entalpi uap pada tekanan kondensor (kJ/kg)
h2 = hf2 + X2 hfg2
X2 =

Laporan Praktek Kerja Lapangan

S Sf
Sg

46

PT. PLN (PERSERO) WIL. SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
PLTP LAHENDONG

Proses yang dijalani fluida dari titik 1 ke titik 2 dianggap proses


isentropik sehingga entropi pada titik 1 sama dengan entropi
pada titik 2, sehingga S1 = S2 dimana S1 adalah entropi uap pada
tekanan masuk turbin
4.7 Analisa data log sheet
4.7.1 Menentukan Effisiensi Isentropik
Sebelum uap panas bumi masuk ke turbin uap di ekstraksi terlebih dahulu
di separator dan demister, maka terbentuk siklus uap kering sebagai berikut.

Sebelum mengetahui performa turbin, penyusun akan mencari efisiensi isentropik


turbin.
Dari data test performa di dapat data
Tekanan uap utama

: 8,35 bar

Suhu uap utama

: 172 C

Tekanan kondensor

: 0,118 bar

Pada saat P = 8,35 bar didapat entalpi dan entropi sebagai berikut
H1

= 2770,8 kJ/kg

S1

= 6,6487 kJ/(kg K)

Laporan Praktek Kerja Lapangan

47

PT. PLN (PERSERO) WIL. SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
PLTP LAHENDONG

Pada saat tekanan kondensor = 0,118 dari tabel didapat


Sg = 8,1067 kj/(kg K)
Sf = 0.6822 kj/(kg K)
Untuk mencari kualitas uap yang masuk turbin dapat dihitung dengan rumus
X=

S 1Sf 2
Sg 2Sf 2

X=

6,64870,6822
8,10670,6822

= 0,8036

Jadi kualitas uap yang masuk ke dalam turbin adalah 80,36% uap dan 19,64%
adalah air

Pada saat tekanan 0,118 bar di dalam kondensor dari tabel uap didapat
Hf

= 202,55 kJ/kg

Hfg

= 2358,3 kJ/kg

Untuk menghitung h2 menggunakan rumus


H2

= hf + x.hfg

H2

= 202,55 kJ/kg + 0,8036.2358,3 kJ/kg


= 2097,67 kJ/kg

W turbin = H1 H2

Wts turbin

= 2770,8 2097,67
= 673,13 kj/kg

Pada data heat balance didapat


H1

= 2768,9 kj/kg

H2

= 2257,6 kj/kg

W turbin

= H1 H2

Laporan Praktek Kerja Lapangan

48

PT. PLN (PERSERO) WIL. SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
PLTP LAHENDONG

= 2768,9 kj/kg 2257,6 kj/kg


= 511,3 kj/kg
Untuk mencari effisiensi isentropik turbin digunakan rumus:
isentropik

W turbin
= W ts turbin

isentropik =

X 100%

511,3 kj/kg
652,27 kj/ kg

X 100%

= 0,7839 X 100% = 78,39%


1.

Pengambilan data
Pada perhitungan performa turbin kami menggunakan data dari test performa awal
operasi dan data sekarang ini dari operasi, oleh karena itu dibutuhkan beberapa
variable data untuk menghitung kualitas uap yang masuk ke turbin.
Parameter

Satuan

Tekanan uap utama

Bar

Suhu uap utama

Flow uap

ton/h

Tekanan kondensor

Bar

Suhu kondensor

Effisiensi isentropik

2.

Perhitungan kualitas uap


Data control room sebagai berikut pada tanggal 31 Desember 2001
P1

= 8,3 bar

T1

= 180 C

Flow uap

= 154 t/h = 42,78 kg/s

Laporan Praktek Kerja Lapangan

49

PT. PLN (PERSERO) WIL. SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
PLTP LAHENDONG

P2

= 0,1 bar

Perhitungan untuk mencari H1 diambil dari Table A-3 Properties of


Saturated Water (LiquidVapor): Pressure Table

Perhitungan Untuk mencari S 1 diambil dari Table A-3 Properties of


Saturated Water (LiquidVapor): Pressure Table

Pada saat tekanan 0,1 bar di dalam kondensor dari tabel uap didapat
hf2

= 191,83 kJ/kg

hfg2

= 2392,8 kJ/kg

hg2

= 2584,3 kJ/kg

Sf2

= 0,6493 kJ/kgK

Sg2

= 8,1502 kJ/kgK

Dari data interpolasi diatas didapat kualitas uap yang masuk ke turbin

Laporan Praktek Kerja Lapangan

50

PT. PLN (PERSERO) WIL. SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
PLTP LAHENDONG

X =

S Sf
Sg Sf

6,7060,72
8,0660,72

6,65070,6493
8,15020,6493

0,80

Dari hasil diatas didapat h2


h2

= hf2+X hfg2
= 191,83kJ/kg + 0,80. 2392,8 kJ/kg
= 2106,07 kJ/kg

Jadi kualitas uap yang masuk ke dalam turbin adalah 80% Uap dan 20% adalah air
Kerja turbin

= (h1 h2) x isentropik turbin


=(2770,5 kj/kg - 2106,07 kj/kg) x 0,80
= 531,54 kj/kg

Jadi daya turbin yang dihasilkan :


Daya Turbin = kerja turbin x laju aliran massa uap
= 531,54 Kj/kg x 42,78 kg/s
= 22,74 MW
Jika diketahui daya output adalah 20 MW, maka
Efisiensi turbin

daya output
daya input

20
= 22,74

x 100%

x 100%

= 88%
Laporan Praktek Kerja Lapangan

51

PT. PLN (PERSERO) WIL. SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
PLTP LAHENDONG

Jadi efisiensi turbin berada dikisaran 90%


Data control room pada tanggal 04 Agustus 2015
Dari data yang diperoleh pada log sheet banyak instrument yang kurang akurat
lagi khususnya instrument pada flow, Jadi analisis berikut kami akan mencoba
mencari flow dengan menggunakan software program pascal dengan
menggunakan pendekatan pada saat unit 1 beroperasi pertama kali:
P1

= 7,97 bar

Perhitungan untuk mencari H1 dan S1 diambil dari Table T-3 Properties of


Saturated Water (LiquidVapor): Pressure Table

Pada saat tekanan 0,1 bar di dalam kondensor dari tabel uap didapat
hf2

= 191,83 kJ/kg

hfg2

= 2392,8 kJ/kg

hg2

= 2584,3 kJ/kg

Sf2

= 0,6493 kJ/kgK

Sg2

= 8,1502 kJ/kgK

Dari data interpolasi diatas didapat kualitas uap yang masuk ke turbin

Laporan Praktek Kerja Lapangan

52

PT. PLN (PERSERO) WIL. SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
PLTP LAHENDONG

Dari hasil diatas didapat h2

Jadi kualitas uap yang masuk ke dalam turbin adalah 80,2% Uap dan 29,8%
adalah air
Dari data diatas didapat nilai flow dengan mnggunakan data active power pada
generator dan data efisiensi turbin :

Laporan Praktek Kerja Lapangan

53

PT. PLN (PERSERO) WIL. SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
PLTP LAHENDONG

Jadi flow uapnya adalah 136 ton/h

Laporan Praktek Kerja Lapangan

54

PT. PLN (PERSERO) WIL. SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
PLTP LAHENDONG

4.7.2 Hasil analisa data :


Data pada tahun 31 Desember 2001

Laporan Praktek Kerja Lapangan

55

PT. PLN (PERSERO) WIL. SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
PLTP LAHENDONG

Laporan Praktek Kerja Lapangan

56

PT. PLN (PERSERO) WIL. SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
PLTP LAHENDONG

Data pada tahun 04 Agustus 2015

Laporan Praktek Kerja Lapangan

57

PT. PLN (PERSERO) WIL. SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
PLTP LAHENDONG

Laporan Praktek Kerja Lapangan

58

PT. PLN (PERSERO) WIL. SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
PLTP LAHENDONG

4.8 Grafik hasil analisa


25
20
15
Daya Generator (MW)

10
5
0
153.5 154 154.5 155 155.5 156 156.5
Flow (t/h)

Gambar 4.8.1 Grafik hubungan antara laju aliran massa terhadap daya generator
pada tahun 2001
18.00
17.80
17.60
Daya Generator (MW)

17.40
17.20
17.00
16.80
132 133 134 135 136 137 138 139
Flow (t/h)

Gambar 4.8.2. Grafik hubungan antara laju aliran massa terhadap daya generator
pada tahun 2015

Laporan Praktek Kerja Lapangan

59

PT. PLN (PERSERO) WIL. SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
PLTP LAHENDONG

160
155
150
145
140
Flow (t/h) 135

flow 2001

130

flow 2015

125
120

Waktu Operasi

Gambar 4.8.3 Grafik perbandingan flow 2001 dan flow 2015 terhadap waktu
operasi
22.6
22.5
22.4
Daya Turbin (MW)

22.3
22.2
22.1
22
6.65

6.65

6.65

6.65

6.65

6.66

Entropy (kJ/kg K)

Gambar 4.8.4 Grafik hubungan Daya turbin dan entropi pada tahun 2001

Laporan Praktek Kerja Lapangan

60

PT. PLN (PERSERO) WIL. SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
PLTP LAHENDONG

20
19.8
19.6
19.4
Daya turbin (MW) 19.2
19
18.8
18.6
6.66

6.66

6.67

6.67

entropy (kJ/kg

6.67

6.67

6.67

K)

Gambar4.8.5 Grafik hubungan Daya turbin dan entropy pada tahun 2015
6.67
6.67
6.66
6.66
Entropy (kJ/kg K

6.65
s 2001

6.65

s 2015

6.64
6.64

waktu operasi

Gambar 4.8.6 Grafik perbandingan entropy tahun 2001 dan entropy tahun 2015

Laporan Praktek Kerja Lapangan

61

PT. PLN (PERSERO) WIL. SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
PLTP LAHENDONG

0.8
0.8
0.8
0.8
0.8
0.8
0.8

X 2001
X 2015

0.8
0.8
0.8
0.8

Gambar 4.8.6 Grafik perbandingan Kualitas uap tahun 2001 dan Kualitas uap
tahun 2015
4.8 Pembahasan
Dari grafik diatas pada tahun 2001 sampai 2015 didapatkan kualitas uap
berbanding lurus dengan kenaikan entropynya namun akibat kenaikan entropy
tanpa di barengi dengan continuitas tekanan dan temperature yang masuk turbin,
maka mempengaruhi kinerja turbin itu sendiri karena entropy bergerak bebas dan
mengalami perubahan yang sangat cepat.
Entropi adalah salah satu besaran termodinamika yang mengukur energi dalam
sistem per satuan temperatur yang tak dapat digunakan untuk melakukan usaha.
Mungkin manifestasi yang paling umum dari entropi adalah (mengikuti hukum
termodinamika), entropi dari sebuah sistem tertutup selalu naik dan pada kondisi
transfer panas, energi panas berpindah dari komponen yang bersuhu lebih tinggi
ke komponen yang bersuhu lebih rendah. Pada suatu sistem yang panasnya
terisolasi, entropi hanya berjalan satu arah (bukan proses reversibel/bolak-balik).
Entropi suatu sistem perlu diukur untuk menentukan bahwa energi tidak dapat
dipakai untuk melakukan usaha pada proses-proses termodinamika. Proses-proses
ini hanya bisa dilakukan oleh energi yang sudah diubah bentuknya, dan ketika
energi diubah menjadi kerja/usaha, maka secara teoritis mempunyai efisiensi
maksimum tertentu. Selama kerja/usaha tersebut, entropi akan terkumpul pada
sistem, yang lalu terdisipasi dalam bentuk panas buangan.

Laporan Praktek Kerja Lapangan

62

PT. PLN (PERSERO) WIL. SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
PLTP LAHENDONG

Pada termodinamika klasik, konsep entropi didefinisikan pada hukum kedua


termodinamika, yang menyatakan bahwa entropi dari sistem yang terisolasi selalu
bertambah atau tetap konstan. Maka, entropi juga dapat menjadi ukuran
kecenderungan suatu proses, apakah proses tersebut cenderung akan
"terentropikan" atau akan berlangsung ke arah tertentu. Entropi juga menunjukkan
bahwa energi panas selalu mengalir secara spontan dari daerah yang suhunya
lebih tinggi ke daerah yang suhunya lebih rendah.
Hukum kedua termodinamika terkait dengan entropi, dan mengatakan, entropi
semesta meningkat dalam proses spontan. Entropi berkaitan dengan jumlah kalor
yang dihasilkan; itu adalah sejauh mana energi telah terdegradasi. Bahkan, jumlah
gangguan tambahan yang disebabkan oleh jumlah tertentu q kalor tergantung pada
suhu. Jika sudah sangat panas, sedikit panas tambahan tidak menciptakan
gangguan yang berarti, tetapi jika suhu sangat rendah, jumlah panas yang sama
akan menyebabkan peningkatan dramatis dalam gangguan. Oleh karena itu, lebih
tepat untuk menulis,
ds = dq / T

Laporan Praktek Kerja Lapangan

63

PT. PLN (PERSERO) WIL. SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
PLTP LAHENDONG

Berdasarkan pengamatan level molekuler kita bisa memperkirakan entropi zat


akibat pengaruh:
a.

Perubahan temperatur

b. Keadaan fisik dan perubahan fasa


Ketika fasa yang lebih teratur berubah ke yang kurang teratur,
perubahan entropi positif. Untuk zat tertentu So meningkat manakala
perubahan zat dari solid ke liquid ke gas.
c. Pelarutan solid atau liquid
Entropi solid atau liquid terlarut biasanya lebih besar dari solut murni,
tetapi jenis solut dan solven dan bagaimana proses pelarutannya
mempengaruhi entropi overall

Laporan Praktek Kerja Lapangan

64

PT. PLN (PERSERO) WIL. SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
PLTP LAHENDONG

d. Pelarutan gas
e.

Ukuran atom atau kompleksitas molekul

Laporan Praktek Kerja Lapangan

65

PT. PLN (PERSERO) WIL. SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
PLTP LAHENDONG

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan

Pembangkit panas bumi merupakan energy baru dan terbarukan


yang memberikan potensi yang sangat besar untuk industry

Laporan Praktek Kerja Lapangan

66

PT. PLN (PERSERO) WIL. SULUTTENGGO


SEKTOR PEMBANGKITAN MINAHASA
PLTP LAHENDONG

pembangkitan karena berlansung secara terus menerus selama


bumi masih ada.

Kualitas uap PLTP LAHENDONG tetap dalam kondisi yang baik.

Setiap unsure dan senyawa yang terkandung dalam uap


mempengaruhi setiap aspek dalam proses pembangkitan.

5.2 Saran
Setiap perlakuan setiap indicator penggunaan bahan kimia perlu di kaji
lebih lagi apakah sesuai SOP atau tidak dan perlu di tinjau lebih lagi.
Setiap parameter-parameter yang ada perlu ditinjau lebih lanjut, apakah masih
layak dipertahankan atau perlu diganti.

Laporan Praktek Kerja Lapangan

67