Anda di halaman 1dari 13

FENOMENOLOGI

PENELITIAN FENOMENOLOGI

PENELITIAN FENOMENOLOGI
Pengertian dan Latar Belakang
Ketika sebuah studi narasi melaporkan sebuah kehidupan dari seorang individu tunggal, studi
fenomenologi mendeskripsikan makna bagi sejumlah individu mengenai pengalaman hidup
mereka mengenai sebuah konsep atau sebuah gejala. Para peneliti fenomenologi fokus pada
penggambaran apa yang dimiliki oleh semua partisipan secara umum seperti yang mereka
alami mengenai sebuah gejala (misalnya, kegagalan adalah pengalaman universal). Tujuan
utama fenomenologi adalah untuk mengurangi pengalaman individu dengan sebuah gejala
untuk sebuah gambaran inti yang universal (sebuah pemahaman mengenai sangat alaminya
sesuatu, Van Manen, 1990, hlm. 177). Untuk tiba pada batas akhir ini, para peneliti kualitatif
mengidentifikasi sebuah gejala (sebuah objek pengalaman manusia, Van Manen, 1990, hlm.
163). Pengalaman manusia ini mungkin saja gejala seperti insomnia, tersisihkan, kemarahan,
kesedihan, mengalami pembedahan langsung arteri koroner (Moustakas, 1994). Para
penyelidik kemudian mengumpulkan data dari pribadi-pribadi yang mengalami gejala tersebut
dan mengembangkan sebuah deskripsi campuran mengenai inti pengalaman bagi semua
individu. Deskripsi ini terdiri dari apa yang mereka alami dan bagaimana mereka
mengalaminya (Moustakas, 1994).
Di depan semua prosedur ini, fenomenologi memiliki sebuah komponen filosofi yang
kokoh mengenainya. Ia menggambarkan dengan kental dalam sebuah tulisan tentang ahli
matematika berkebangsaan Jerman bernama Edmund Husserl (1859-1938) dan siapa yang
ikut memengaruhi pandangannya, seperti Heidegger, Sartre dan Merleau-Ponty (Spiegelberg,
1982). Fenomenologi populer di bidang ilmu sosial dan kesehatan, khususnya dalam sosiologi
(Borgatta dan Borgatta, 1992; Swingewood, 1991), Psikologi (Giorgi, 1995; Polkinghorne,
1989), keperawatan dan ilmu kesehatan (Nieswiadomy, 1993; Oiler, 1986), dan pendidikan
(Tesch, 1988; Van Mannen, 1990). Gagasan Husserl adalah abstrak dan seperti pada tahun
1945, Merleau-Ponty (1962) masih memunculkan pertanyaan, APA ITU FENOMENOLOGI?.

Faktanya, Husserl telah dikenal menangani semua proyek baru-baru ini dibawah model
FENOMENOLOGI (Natanson, 1973).
Para penulis fenomenologi mengikuti langkah-langkah Husserl juga kelihatannya
untuk menunjukkan perbedaan argumen filosofis untuk penggunaan fenomenologi saat ini
(bandingkan, sebagai contoh, dasar filosofis yang dinyatakan dalam karya Moutakas, 1994;
dalam karya Stewart dan Mickunas, 1990; dan dalam karya Van Mannen, 1990). Melihat ke
arah semua perspektif ini, bagaimanapun, kita dapat mengerti bahwa asumsi-asumsi filosofis
bersandar pada sejumlah landasan/ dasar umum: studi mengenai pengalaman seseorang,
memandang bahwa semua pengalaman ini merupakan sebuah kesadaran (Van Mannen, 1990),
dan sebuah pengembangan deskripsi tentang inti pengalaman-pengalaman ini, tidak
menjelaskan atau menganalisa (Moustakas, 1994). Pada batasan paling luas, Stewart dan
Mickunas (1990) menekankan empat perspektif filosofis dalam fenomenologi:
-

Kembali ke tugas tradisional filosofi. Pada akhir abad ke 19, filosofi telah menjadi
terbatas untuk menunjukkan sebuah dunia dengan arti empiris, yang disebut
Saintisme. Kembali pada tugas-tugas lama filosofi yang telah ada sebelumnya menjadi
memikat bersama ilmu empiris yang merupakan kembalinya ke konsepsi Yunani

mengenai filosofi sebagai sebuah usaha pencarian kebebasan.


Filosofi tanpa presupposisi. Pendekatan fenomenologi adalah untuk menyingkirkan
semua penilaian mengenai apa yang nyata- atribut alami- hingga mereka menjumpai

dalam sebuah dasar yang lebih khusus. Suspensi ini disebut epos oleh Husserl.
Dalamnya kesadaran. Gagasan ini adalah bahwa kesadaran selalu mengarah kepada
sebuah objek. Realitas sebuah objek, kemudian adalah kemampuan eksternal terkait
kesadaran seseorang mengenainya. Kemudian, realitas menurut Husserl, tidak terbagi
ke dalam subjek dan objek, tetapi ke dalam dual alam Cartesian mengenai subjek dan
objek, seperti kehadirannya dalam kesadaran.

Penolakan dikotomi subjek-objek. Tema ini mengalir secara alami dari dalamnya
kesadaran. Realitas sebuah objek adalah hanya difahami dalam pengertian pengalaman
dari seseorang individu.

Sebuah penulisan individu tentang fenomenologi akan diizinkan untuk tidak memuat
sejumlah diskusi tentang presupposisi filosofis fenomenologi sepanjang metode-metode yang
digunakan masih dalam bentuk penyelidikan ini. Moustakas (1994) telah menyediakan lebih
dari seratus halaman untuk asumsi-asumsi filosofis sebelum ia kembali ke arah penjelasan
mengenai metode-metode.

Jenis-Jenis Fenomenologi
Dua pendekatan terhadap fenomenologi menyoroti diskusi di bawah ini:
Fenomenologi Hermenetik (Van Mannen, 1990) dan empirik, transendental, atau
fenomenologi psikologi (Moustakas, 1994). Van Mannen (1990), karyanya sering dikutip
secara luas dalam literatur kesehatan (Morse dan Field, 1995). Selaku pendidik, Van Mannen
telah menulis sebuah buku pengajaran dalam fenomenologi hermenetik dimana ia
mendeskripsikan penelitian sebagai orientasi ke arah pengalaman hidup (fenomenologi) dan
menafsirkan teks kehidupan (hermenetik) (Van Mannen, 1990, hlm. 4). Meskipun Van
Mannen tidak mendekati fenomenologi dengan sekumpulan aturan atau metode, ia
mendiskusikan penelitian fenomenologi sebagai sebuah dinamika kegiatan internal di antara
kelima kegiatan penelitian. Pertama kali para peneliti harus mengarah kepada sebuah
fenomena (gejala), sebuah konsentrasi yang berkesinambungan (hlm. 31), yang secara serius
menarik minat mereka (misalnya, membaca, berlari, mengemudi, dan pengasuhan). Dalam
prosesnya, mereka merefleksi pada tema penting apa yang mengangkat kealamiahan
pengalaman hidup ini. Mereka menulis sebuah deskripsi mengenai fenomena, memperbaiki
hubungan yang kokoh terkait topik penyelidikan dan mengimbangi bagian-bagian dari

penulisan keseluruhannya. Fenomenologi bukan hanya sekedar deskripsi, tetapi juga sebagai
sebuah proses penafsiran di mana para peneliti membuat sebuah penafsiran (misalnya para
peneliti memediasi antara perbedaan makna; Van Mannen, 1990, hlm. 26) makna pengalaman
hidup.
Fenomenologi transendental atau transendental karya Moustakas (1994) kurang fokus
dalam penefsiran-penafsiran para peneliti dan lebih fokus pada deskripsi pengalaman
partisipan. Sebagai tambahan, Moustakas fokus pada satu konsep milik Husserl, yaitu epos
(atau pengurungan/ pengucilan), dimana para investigator meletakkannya di samping
pengalaman mereka sebanyak mungkin untuk mengambil perspektif yang segar ke arah gejala
yang berada dalam pengawasan. Sebab itu, transendental berarti dimana segala sesuatu
dipersepsikan secara segar (asli) seperti ketika ia hadir untuk pertamakalinya (Moustakas,
1994, hlm. 34). Moustakas mengizinkan bahwa tahap ini jarang diperoleh secara sempurna.
Bagaimanapun, penulis melihat para peneliti yang menggunakan gagasan ini ketika mereka
memulai sebuah proyek dengan menggambarkan pengalaman milik mereka sendiri tentang
sebuah gejala dan menghadirkan pandangan-pandangan mereka sebelum melanjutkan dengan
pengalaman-pengalaman lainnya.
Disamping pengisolasian, empirik, fenomenologi transendental tergambar dalam
Dusquesne Studies in Phenomenology Psychology (misalnya, Giorgi, 1985) dan prosedur
analisis data karya Van Kaam (1966) dan Colaizzi (1978).

Prosedur-prosedur tersebut

digambarkan oleh Moutakas (1994) terdiri dari pengidentifikasian sebuah fenomenologi


terhadap studi, menghadirkan pengalaman seseorang dan mengumpulkan data dari sejumlah
individu yang mengalami gejala-gejala tersebut. Para peneliti kemudian menganalisa data
dengan mengurangi informasi terhadap pernyataan-pernyataan penting atau mengutip dan
menggabungkan pernyataan-pernyataan tersebut ke dalam tema-tema. Menindaklanjuti hal
tersebut, para peneliti mengembangkan sebuah deskripsi tekstural mengenai pengalaman
pribadi tersebut (apa yang dialami partisipan), dan juga sebuah deskripsi struktural

pengalaman mereka (bagaimana mereka mengalaminya dalam istilah kondisi, situasi atau
konteks) dan sebuah gabungan deskripsi tekstural dan struktural untuk membawa sebuah inti
keseluruhan dari pengalaman.

Prosedur-Prosedur Pelaksanaan Penelitian Fenomenologi


Penulis menggunakan pendekatan psikologis karya Moustakas (1994) karena memiliki
langkah-langkah yang sistematis dalam prosedur analisis data dan memberikan panduanpanduan untuk mengumpulkan deskripsi tekstual dan struktural. Pelaksanaan fenomenologi
psikologis telah terwujud dalam sejumlah penulisan, termasuk dalam karya Dukes (1984),
Tesch (1990), Giorgi (1985, 1994), Polkinghorne (1989) dan belakangan dalam karya
Moustakas (1994). Langkah-langkah prosedur utama dalam proses akan digambarkan sebagai
berikut:
-

Para peneliti menentukan jika permasalahan penelitian diuji dengan cara terbaik
dengan menggunakan sebuah pendekatan fenomenologi. Jenis permasalahan baiknya
disesuaikan untuk bentuk penelitian ini yang merupakan sebuah hal dimana ia penting
untuk memahami sejumlah pengalaman umum individu atau pengalaman berbagi
mengenai sebuah gejala. Hal tersebut akan menjadi penting untuk memahami
pengalaman umum ini agar dapat mengembangkan praktik-praktik atau kebijakan,
atau untuk mengembangkan sebuah pengalaman terdalam tentang fitur-fitur

fenomenologi.
Sebuah gejala kepentingan studi seperti rasa marah, profesionalisme, apakah sesuatu
yang dilakukan itu berarti menjadi ringan atau apakah artinya menjadi sesosok pegulat
merupakan sesuatu yang harus diketahui. Moustakas (1994) menyediakan sejumlah

contoh mengenai fenomena yang sedang distudi.


Para peneliti menyadari dan mengkhususkan asumsi filosofis luas dari fenomenologi.
Sebagai contoh, seseorang dapat menulis tentang gabungan realitas objek dan
pengalaman individu. Pengalaman-pengalaman hidup ini lebih jauh merupakan

kesadaran dan mengarah pada sebuah objek. Untuk secara penuh menggambarkan
bagaimana partisipan melihat sebuah fenomena, para peneliti harus menampilkannya
-

sebanyak mungkin pengalaman-pengalaman milik mereka.


Data dikumpulkan dari para individu yang memiliki pengalaman mengenai gejala.
Seringkali pengumpulan data dalam studi fenomenologi terdiri dari wawancara
mendalam dan wawancara ganda dengan para partisipan. Polkinghorne (1989)
menyarankan bahwa para peneliti meneliti dari 5 sampai 25 individu yang memiliki
semua penbgalaman-pengalaman tentang sebuah fenomena tertentu. Bentuk-bentuk
lain dari data mungkin dapat dikumpulkan seperti observasi, jurnal, seni, puisi, musik
dan bentuk lain dari seni. Van Mannen (1990) menyebutkan rekaman percakapan,
tulisan resmi, sejumlah pengalaman yang dialami oleh orang lain dalam drama, film,

puisi dan novel.


Para partisipan ditanya tentang dua hal umum yaitu pertanyaan umum (Moustakas,
1994): Apa yang telah anda alami dalam istilah yang terkait dengan sebuah
fenomenologi? Konteks atau situasi apa yang secara khas berpengaruh atau
berdampak pada pengalaman anda mengenai sebuah gejala fenomena? Pertanyaanpertanyaan buka tutup lainnya dapat juga ditanyakan, akan tetapi yang kedua secara
khusus fokus pada perhatian dalam pengumpulan data yang membimbing dan
puncaknya menyediakan sebuah pemahaman pengalaman-pengalaman umum dari

para partisipan.
Langkah-langkah analisis data fenomenologi umumnya serupa bagi semua pakar
fenomenologi psikologis yang mendiskusikan metode-metode (Moustakas, 1994;
Polkinghorne, 1989). Berdasarkan data dari pertanyaan penelitian pertama dan kedua,
analisis data berjalan melewati data-data (misalnya transkrip wawancara) dan
menyoroti pernyataan-pernyataan penting, kalimat-kalimat atau kutipan-kutipan yang
menyediakan sebuah pemahaman tentang bagaimana partisipan mengalami gejalagejala tersebut. Moutakas (1994) menyebut langkah ini dengan horisontalisasi.

Selanjutnya, para peneliti mengembangkan kelompok makna dari pernyatan-

pernyataan penting ini ke dalam tema-tema.


Pernyataan-pernyataan dan tema penting ini kemudian digunakan untuk menulis
sebuah deskripsi dari apa yang dialami oleh para partisipan (tekstual deskripsi).
Mereka juga menggunakannya untuk menulis tentang pengalaman mereka sendiri.
Penulis lebih suka menyingkat prosedur milik Moustakas dan merefleksikan
pernyataan pribadi ini pada awal pembahasan fenomenologi atau menyertakannya

dalam sebuah diskusi metode dari peran para peneliti (Marshall dan Rossman, 2006)
Dari deskripsi tekstural dan struktural, para peneliti kemudian menulis sebuah
deskripsi gabungan yang menyajikan inti dari sebuah gejala yang biasa disebut
esensial, struktur invarian (atau inti). Utamanya, tinjauan ini fokus pada pengalamanpengalaman umum dari para partisipan. Sebagai contoh, itu dapat berarti bahwa semua
pengalaman memiliki sebuah struktur yang dikedepankan (pengalaman adalah sama
ketika mencintai seekor anjing, burung betet atau seorang anak). Ia adalah sebuah
pesan yang bersifat deskripsi, sebuah atau dua paragraf panjang, dan para pembaca
harus menjauh dari (penelitian) fenomenologi dengan ungkapan perasaan Saya
memahami lebih baik apa yang disukai seseorang untuk dialami, (Polkinghorne,
1989, hlm. 46)

Tantangan-Tantangan
Sebuah penelitian fenomenologi menyediakan sebuah pemahaman yang mendalam mengenai
sebuah gejala sebagai pengalaman oleh sejumlah individu. Mengetahui sejumlah pengalaman
umum dapat menjadi berharga bagi sebuah kelompok seperti para pemberi terapi, para guru,
personel kesehatan dan pembuat kebijakan. Fenomenologi dapat melibatkan sebuah bentuk
garis haluan pengumpulan data dengan menyertakan hanya wawancara ganda atau tunggal
dengan para partisipan. Dengan menggunakan pendekatan Moustakas (1994) uuntuk
menganalisis data membantu menhyediakan sebuah pendekatan terstruktur bagi para peneliti

pemula. Dengan istilah lain, penyelidikan fenomenologi sekurang-kurangnya adalah sejumlah


pemahaman terkait asumsi-asumsi filosofis yang luas dan ini harus diidentifikasi oleh para
peneliti. Para partisipan yang terlibat dalam studi perlu berhati-hati untuk memilih peran
individu yang memiliki semua pengalaman tentang sebuah fenomena yang diajukan dalam
pertanyaan-pertanyaan penelitian, dengan demikian para peneliti pada akhirnya dapat
menempa sebuah pemahaman umum. Pengisolasian pengalaman pribadi mungkin sulit bagi
para peneliti ketika dalam tahap implementasi. Sebuah pendekatan penafsiran terhadap
fenomenologi akan menunjukkan hal ini sebagai hal yang mustahil (Van Mannen, 1990)- bagi
para peneliti menjadi bagian yang terpisah dari teks. Mungkin kita perlu sebuah definisi baru
epos atau pengisolasian, seperti menggantungkan pemahaman kita dalam sebuah gerak
refleksi yang memperkuat keingintahuan (LeVasseur, 2003). Kemudian, para peneliti perlu
menentukan bagaimana dan dengan cara apa pemahaman individunya akan mengantarnya ke
dalam studi.

Bacaan Pengaya
Terdapat sejumlah bacaan yang dapat memperluas ulasan singkat dari masing-masing kelima
pendekatan penyelidikan ini. Pada bab 1, penulis telah menyajikan buku-buku utama yang
akan digunakan untuk memahami diskusi tentang setiap pendekatan. Di sini penulis
menyediakan daftar yang lebih melimpah terkait rujukan yang juga menyertakan kegiatankegiatan-kegiatan utama.
Dalam penelitian narasi, penulis akan mendasarkan pada karya Denzin (1989a,
1989b), Czarniawska (2004), dan khususnya karya Clandinin dan Conelly (2000). Penulis
juga menambahkan dalam daftar buku ini tentang sejarah hidup (angrosino, 1989a), metodemetode humanistik (Plummer, 1983), dan sebuah buku pegangan yang komprehensif dalam
penelitian narasi (Clandidnin, 2006).

Angrosino, M.F. (1989a). Documents of interaction: Biography, and life history in social
science perspective. Gainesville: university of Florida Press
Clandinin, D,J., dan Conelly (Ed). (2006). Handbook of narrative inquiry; Mapping a
methodology. Thousand Oaks, CA: Sage.
Clandinin, D,J., dan Conelly, F.M. (2000). Narrative inquiry: Experience and story in
qualitative research. San Fransisco: Josey-Bass
Czarniawska, B. (2004). Narrative in social science research, London: Sage
Denzin, N.K. (1989a). Interpretive biography. Newburry Park, CA: Sage
Denzin, N.K. (1989b). Interpretive interactionism. Newburry Park, CA: Sage
Elliot, J. (2005). Using narrative in social research: Qualitative and quantitative approaches.
London: Sage
Plummer, K. (1983). Documents of life: An introduction to the problems and litarature of a
humanistic method. London: George Allen & Unwin
Untuk fenomenologi, buku-buku mengenai metode penelitian fenomenologi oleh Moustakas
(1994) dan sebuah pendekatan hermenetik oleh Van Mannen (1990) akan menyediakan
sebuah landasan bab-bab selanjutnya. Panduan prosedural lain untuk penyelidikan meliputi
Giorgi (1985), Polkinghorne (1989), Van Kaam (1966), Colaizzi (1978), Spiegelberg (1982),
Dukes (1984), Oiler (1986) dan Tesch (1990). Untuk perbedaan-perbedaan mendasar antar
hermenetik dan empiris atau fenomenologi transendental, lihat Lopez dan Willis (2004) dan
untuk sebuah diskusi tentang permasalahan lebih spesifik dan mendalam, lihat LeVasseur
(2003). Sebagai tambahan, untuk mengkaji lebih mendalam landasan yang kuat dalam
(memahami bahwa) asumsi filosofis itu penting dan seseorang mungkin akan memeriksa
karya Husserl (1931, 1970), Marleau-Ponty (1962), Natanson (1973), dan Stewart dan
Mickunas (1990) untuk latar belakang ini.
Colaizzi, P.F. (1978). Psychological research as the phenomenologist views it. In R. Vaile &
M. King (Eds), Existential phenomenological alternatives for psychology (pp. 48-71). New
York: Oxford University Press.
Dukes, S. (1984). Phenomenological methodology in the human sciences, Journal of Religion
and Health, 23, 197-203.

10

Giorgi, A. (Ed). (1985). Phenomenology and psychological research. Pitsburgh, PA:


Duquesne University Press.
Husserl, E. (1931). Ideas: General introduction to pure phenomenology (D. Carr, Trans).
Evanston, IL: Northwestern University Press
Husserl, E. (1970). The crisis of European sciences and transcendental phenomenology (D.
Carr, Trans). Evanston, IL: Northwestern University Press
LeVasseur, J.J. (2003). The problem with bracketing in phenomenology. Qualitative Health
Reaserch, 31 (2), 408-420
Lopez, K. A, & Willis, D. G. (2004). Descriptive versus interpretive phenomenology: Their
contribution to nursing knowledge. Qualitative Health Research, 14 (5), 726-735.
Merleau-Ponty, M. (1962). Phenomenology of perception (C. Smith, Trans). London:
Routledge & Kegan Paul.
Moustakas, C. (1994). Phenomenological research methods. Thousand Oaks, AC: Sage.
Natanson, M. (Wd). (1973). Phenomenology and the social sciences. Evanston, IL:
Northewstern University Press
Oiler, C. J. (1986). Phenomenology: The method. In P. L. Munhall & C. J. Oiler (Eds).,
Nursing reaserch: A qualitative perspective (pp. 69-82). Norwalk, CT: Appleton-CemturyCrofts.
Polkinghorne, D.E. (1989). Phenomenological research methods. In R. S. Valle & S. Halling
(Eds.), Existential-phenomenological perspectives in psychology )pp. 41-60). New York:
Plenum.
Spiegelberg, H. (1982). The phenomenological movement (3rd ed). The Hague, Netherlands:
Martinus Nijhoff
Stewart, D., & Mickunas, A. (1990). Exploring phenomenology: A guide to the field and its
literature (2nd wd). Athens: Ohio University Press
Tesch, R. (1990). Qualitative research: Analysis types and software tools. Bristol, PA: Falmer
Press
Van Kaam, M. (1966). Existential foundations of psychology. Pitsburgh, PA: Dusquesne
University Press
Van Mannen, M. (1990). Researching lived experiences: Human sciences for an action
sensitive pedagogy. Albany: State University of New York Press.
Dalam penelitian teori dasar, periksa buku karya Strauss dan Corbin (1990) yang sangat
dianjurkan sebelum meninjau karyanya yang lain Glaser dan Strauss (1967), Glaser (1978),
Strauss (1978), Glaser (1992), atau edisi terbaru karya Strauss dan Corbin (1998). Apa yang

11

tersedia pada buku karya Strauss dan Corbin (1998) yang penulis yakin (memiliki) sebuah
panduan prosedural terbaik daripada buku karya mereka yang diterbitkan pada tahun 1998.
Untuk ulasan metodologi yang gamblang mengenai teori dasar, periksa karya Charmaz
(1983), Strauss dan Corbin (1994) dan Chenitz dan Swanson (1986). Khususnya karya yang
sangat membantu, yaitu buku-buku Charmaz (2006) mengenai penelitian teori dasar ditinjau
dari perspektif kontruksionis dan perspektif postmodern dalam karya Clarkes (2005).
Charmaz,K. (1983). The grounded theory method: An explication and interpretation. In R.
Emerson (Ed), Contemporary field research (hlm. 109-126). Boston: Little, Brown
Charmaz, K. (2006). Constructing grounded theory. London: Sage.
Chenitz, W. C, & Swanson, J. M. (1986). From practice to grounded theory: Qualitative
research in nursing. Menlo Park, CA: Addison-Wesley.
Clarke, A. E. (2005). Situational analysis: Grounded theory after the postmodern turn.
Thousand Oaks, CA: Sage
Glaser, B. G. (1978). Theoretical sensitivity. Mill Valley, CA: Sosiology Press
Glaser, B.G. (1992). Basics of grounded theory analysis. Mill Valley, CA: Sosiology Press
Glaser, B.G., & Strauss, A. (1967). The discovery of grounded theory. Chicago: Aldine.
Strauss, A. (1987). Qualitative analysis for social scientists. New York: Cambridge University
Press
Strauss, A., & Corbin, J. (1990). Basics of qualitative research: Grounded theory procedures
and techniques. Newbury Park, CA: Sage
Strauss, A., & Corbin, J. (1994). Grounded theory methodology: An overview. In N. K.
Denzin & Y. S. Lincoln (Eds), Handbook of Qualitative research (hlm. 273-285). Thousand
Oaks, CA: Sage.
Strauss, A., & Corbin, J. (1998). Basics of qualitative research: Grounded theory procedures
and techniques (2nd ed.). Newbury Park, CA: Sage

Sejumlah buku-buku terkini yang membahas tentang etnografi akan menyediakan landasan
bagi bab-bab berikutnya: Atkinson, Coffey dan Delamont (2003); volume pertama dalam
rangkaian sarana para etnografi, Disain dan Pelaksanaan Penelitian Etnografi, sama baiknya

12

dengan enam volume lainnya dalam rangkaian karya LeCompte dan Schensul (1999); dan
Wolcott (1994b, 1999). Sumber lain tentang etnografi termasuk Spradley (1979, 1980),
Fetterman (1998), dan Madison (2005).
Atkinson, P., Coffey, A., & Delamont, S. (2003). Key themes in qualitative research:
Continuities and changes. Walnut Creek, CA: Alta Mira
Fetterman, D. M. (1998). Ethnography: step by step (2nd ed). Thousand Oaks, CA: Sage
LeCompte, M. D., & Schensul, J.J. (1999). Designing and conducting ethnographic research
(Ethnographers toolkit, Vol. 1). Walnut Creek, CA: Alta Mira
Madison, D. S. (2005). Critical ethnography: Method, ethics, and performance. Thousand
Oaks, CA: Sage.
Spradley, J. P. (1980). Participant Observation. New York: Holt, Rinchart & Winston.
Wolcott, H. F. (1994b). Transforming
an interpretations. Thousand Oaks, CA: Sage

qualitative

data:

Description,

analysis

Wolcott, H. F. (1999). Ethnography: A way of seeing. Walnut Creek, CA: Alta Mira
Dan akhirnya, untuk penelitian studi kasus, silahkan merujuk pada karya Stake (1995) atau
buku-buku terkini seperti karya Lincoln dan Guba (1985), Merriam (1988), dan Yin (2003).
Lincoln, Y. S., & Guba, E. G. (1985). Naturalistic inquiry. Beverly Hills, CA: Sage.
Merriam, S. (1988). Case study research in education: A qualitative approach. San Fransisco:
Jossey- Bass
Stake, R. (1995). The art of case study research. Thousand Oaks, CA: Sage
Yin, R. K. (2003). Case study Research: design and method (3rd ed). Thousand Oaks, CA.
Sage.

13