Anda di halaman 1dari 14

GROUNDED THEORY

PENELITIAN GROUNDED THEORY

GROUNDED THEORY (Penelitian Teori Dasar)


Meskipun sebuah fenomenologi menekankan makna sebuah pengalaman bagi sejumlah
individu, maksud dari sebuah studi teori dasar adalah untuk bergerak melampaui deskripsi
dan untuk melakukan jeneralisir atau mengungkap sebuah teori, sebuah analitis abstrak yang
menggambarkan sebuah proses (atau tindakan atau interaksi, Strauss dan Corbin, 1998).
Selurus partisipan dalam studi semuanya akan mengalami proses, dan pengembangan teori
yang mungkin ikut membantu menjelaskan praktik atau menyediakan sebuah kerangka kerja
untuk penelitian selanjutnya. Gagasan utamanya adalah bahwa pengembangan teori ini tidak
datang dengan sendirinya, tetapi lebih merupakan generalisir atau dasar/landasan dalam data
dari para partisipan yang memiliki pengalaman proses (Strauss dan Corbin, 1998). Kemudian,
teori dasar adalah sebuah disain penelitian kualitatif dimana para penyelidik menjeneralisir
sebuah penjelasan umum (sebuah teori) dari sebuah proses, tindakan atau interaksi yang
terbentuk oleh pandangan-pandangan terhadap sejumlah besar partisipan (Strauss dan Corbin,
1998).
Disain kualitatif telah dikembangkan pada tahun 1967 oleh dua peneliti, yaitu Barney
Glaser dan Anselm Strauss, sosok yang merasakan bahwa teori-teori yang digunakan dalam
penelitian seringkali tidak memadai dan kurang sesuai untuk partisipan dalam sebuah studi.
Mereka memperluas gagasan mereka melalui sejumlah buku yang ditulis (Glasser, 1978;
Glaser dan Strauss, 1967; Strauss dan Corbin, 1990, 1998). Hal ini berlawanan dengan
orientasi a priori (berdasar teori daripada kenyataan yang sebenarnya), orientasi teoritis dalam
sosiologi, teori dasar berpegangan bahwa teori harus berlandas pada data yang berasal dari
lapangan, khususnya dalam tindakan-tindakan, hubungan atau proses melalui antarhubungan
kelompok-kelompok informasi berdasarkan data yang dikumpulkan dari para individu.
Walaupun kolaborasi awal antara Strauss dan Glaser yang menghasilkan sejumlah
kerja seperti dalam karya Awareness of Dying (kesadaran akan kematian) (Glaser dan Strauss,
1965) dan Time for Dying (Glaser dan Strauss, 1968), dua pengarang pada puncaknya tidak

sepakat tentang pemaknaan dan prosedur teori dasar. Glaser telah mengkritik pendekatan
Strauss terhadap teori dasar sebagai terlalu kaku dan terstruktur (Glaser, 1992). Dan lebih
baru lagi, karya Charmaz (2006) yang telah membela para kontruktifis teori dasar, kemudian
memperkenalkan perspektif lain ke dalam pembicaraan tentang prosedur. Melalui penafsiranpenafsiran yang berbeda ini, teori dasar telah memeroleh popularitas dalam sejumlah bidang
seperti sosiologi, keperawatan, pendidikan dan psikologi, sama baik dengan bidang ilmu
sosial lainnya.
Perspektif teori dasar lainnya yaitu yang berasal dari Clarke (2005) yang, sama
lamanya dengan Charmaz, mencari cara untuk menegaskan kembali teori dasar dari pondasi
positifismenya (hlm. xxiii). Clarke bagaimanapun juga melangkah lebih jauh dibanding
Charmaz yang menyarankan bahwa situasi sosial harus berasal dari unit analisis kita dalam
teori dasar dan bahwa tiga mode sosiologi dapat bermanfaat dalam penganalisaan situasi ini,
dunia/arena sosial, dan peta kartograpi posisional untuk pengumpulan dan penganalisaan data
kualitatif. Ia lebih jauh memperluas teori dasar dalam after the postmodern turn (setelah
giliran posmodern) (hlm. xxiv) dan berdasarkan perspektif posmodern (misalnya, lingkungan
politis peneliti dan para penafsir, refleksi dalan bagian-bagian peneliti, memahami
permasalahan penyajian ulang informasi, pertanyaan legitimasi dan otoritas dan memosisikan
kembali para peneliti jauh dari kesan Mengetahui semua analis kepada posisi mengakui posisi
partisipan, (hlm, xxvii, xxviii). Clarke dengan sering mengarahkan pada penulis posmodern
dan posstruktural yaitu Michael Foucalt (1972) untuk membantu mengarahkan wacana teori
dasar.

Jenis Studi Teori Dasar


Terdapat dua pendekatan populer terhadap teori dasar yaitu prosedur sistematisnya Strauss
dan Corbin (1990, 1998) dan pendekatan kontruktifisnya Charmaz (2005, 2006). Dalam
keadaan yang lebih sistematis lagi, adalah prosedur analitisnya Strauss dan Corbin (1990,

1998), para investigator mencari secara sistematis cara untuk mengembangkan sebuah teori
yang menjelaskan proses, tindakan atau interaksi pada sebuah topik (misalnya, proses
pengembangan sebuah kurikulum, keuntungan tarapetik dari berbagi hasil tes psikologi
dengan klien).
Para peneliti secara khusus melaksanakan 20 hingga 30 wawancara berdasarkan pada
sejumlah kunjungan ke lapangan penelitian untuk mengumpulkan data wawancara untuk
menjenuhkan pengelompokkan (atau untuk menemukan informasi yang dapat melanjutkan
penambahan informasi kepada mereka hingga tidak ada lagi yang dapat ditemukan). Sebuah
pengelompokkan menyajikan sebuah unit informasi yang berisi peristiwa, kejadian, dan
sejumlah peristiwa (Strauss dan Corbin, 1990). Para peneliti juga mengumpulkan dan
menganalisa pengamatan dan dokumen, tetapi bentuk data ini seringkali tidak digunakan.
Ketika para peneliti mengumpulkan data, ia mulai menganalisa. Kesan penulis mengenai
pengumpulan data dalam studi teori dasar adalah sebuah proses zigzag, keluar lapangan
penelitian untuk mengumpulkan data, terus ke kantor untuk menganalisa data, kembali lagi ke
lapangan untuk mengumpulkan lebih banyak lagi data, ke kantor lagi untuk melakukan
analisa dan demikian seterusnya. Para partisipan yang diwawancarai secara teoritis dipilih
(disebut dengan istilah sampling teoritis) untuk membantu para peneliti bagi menemukan
sebentuk teori. Seberapa banyak lintasan yang dibuat seseorang bergantung pada kategori
apakah informasi menjadi jenuh dan apakah sebuah teori dielaborasi dengan semua
kerumitannya. Proses ini mengambil informasi yang berasal dari pengumpulan dan
pembandingan datanya untuk memunculkan kategori yang disebut data constant comparative/
perbandingan tetap analisis data.
Para peneliti mulai dengan membuka kode, pengkodean data kategori informasi
utama. Dari pengkodean ini, pengkodean poros memunculkan dimana para peneliti
mengidentifikasi sebuah kategori pengkodean terbuka untuk fokus pada (disebut Inti
fenomena) dan kemudian kembali ke data dan membuat kategori sekitar fenomena inti ini.

Strauss dan Corbin (1990) mensyaratkan jenis kategori harus mengidentifikasi sekitar
fenomena inti. Ia terdiri dari kondisi penyebab (faktor-faktor apa yang menimbulkan
fenomena inti), strategi (tindakan yang diambil dalam merespon fenomena inti), kontekstual
dan kondisi campurtangan (faktor situasional khusus dan luas yang memengaruhi strategi) dan
konsekensi (hasil dari penggunaan strategi). Kategori ini terkait dan mengitari fenomena inti
dalam sebuah model visual yang disebut paradigma pengkodean secara poros. Langkah akhir,
kemudian adalah pengkodean selektif, dimana para peneliti mengambil model dan
mengembangkan proposisi (atau hipotesa) yang menghubungkan kategori dalam sebuah
model atau mengumpulkan sebuah kisah yang mengambarkan kedekatan kategori dalam
sebuah model. Teori ini, dikembangkan oleh para peneliti kemudian diartikulasikan ke arah
akhir sebuah studi dan dapat mengasumsikan sejumlah bentuk seperti sebuah pernyataan
narasi (Strauss dan Corbin, 1990), sebuah gambar visual (Morrow dan Smith, 1995) atau
sebuah rangkaian hipotesa atau proposisi (Cresswell dan Brown, 1992).
Dalam diskusi mereka mengenai teori dasar, Strauss dan Corbin (1998) menggunakan
sebuah model yang selangkah lebih maju untuk mengembangkan sebuah matriks kondisional.
Mereka mengembangkan matrik kondisional sebagai sebuah saluran pengkodean untuk
membantu para peneliti membuat hubungan antara kondisi makro dan kondisi mikro yang
memengaruhi fenomena. Matriks ini adalah sebuah serangkaian lingkaran pusat
pengembangan dengan label yang dibangun sisi luar dari individu, kelompok dan organisasi
terhadap komunitas, wilayah, negara dan dunia global. Dalam pengalaman penulis, matrik ini
jarang digunakan dalam penelitian teori dasar dan para peneliti secara khusus mengakhiri
studi mereka dengan sebuah pengembangan teori dalam pengkodean selektif, sebuah teori
yang mungkin dilihat sebagai sebuah substansi, teori tingkat rendah dibanding sebuah abstrak,
teori dasar (misalnya, lihat Cresswell dan Brown, 1992). Meskipun membuat hubungan antara
teori subtantif dan implikasinya yang luas bagi sebuah komunitas, negara, dan dunia dalam
matriks kondisional adalah hal penting (misalnya, sebuah model alur kerja di sebuah rumah

sakit, kekurangan sarung tangan dan garis panduan nasional dalam kasus AIDS mungkin
seluruhnya terkait; lihat contoh ini seperti yang disediakan oleh Strauss dan Corbin, 1998).
Para pakar teori dasar jarang memiliki data, waktu atau sumber untuk disertakan dalam
matrik kondisional.
Sebuah varian kedua dari teori dasar ditemukan dalam sebuah tulisan pakar
kontruktifis, Charmaz (lihat Charmaz, 2005, 2006). Daripada mengambil sebuah studi dari
sebuah proses tunggal atau kategori inti seperti dalam pendekatan Strauss dan Corbin (1998),
Charmaz mendukung sebuah perspektif kontruktifis sosial yang menyertakan penekanan
ragam dunia lokal, realitas ganda dan kompleksitas dunia khusus, pandangan dan tindakan.
Teori dasar kontruktifis menurut pandangan Charmaz (2006) menggariskan secara jujur dalam
pendekatan interpretif terhadap penelitian dengan garis panduan yang fleksibel, fokus pada
pengembangan teori yang bergantung pada pandangan peneliti, mempelajari tentang
pengalaman yang dilekatkan di dalam, jaringan tersembunyi, situasi dan hubungan dan
membuat hirarki yang dapat dilihat terhadap kekuasaan, komunikasi dan kesempatan.
Charmaz menempatkan lebih banyak penekanan pada pandangan, nilai, keyakinan, perasaan,
asumsi dan ideokogi individu dibanding pada metode penelitian, meskipun ia tidak
menggambarkan praktik-praktik pengumpulan data yang banyak, pengkodean data, proses
memo dan penggunaan sampel teoritis (Charmaz, 2006). Ia menyarankan bahwa jargon atau
istilah yang rumit, diagram, pemetaan konsep, dan pendekatan sistematik (seperti Strauss dan
Corbin, 1990) dikurangi dari teori dasar dan mewakili sebuah usaha untuk memeroleh
kekuatan dalam penggunaannya. Ia juga mendukung penggunaan kode aktif seperti frasa
kalimat berbasis gerund seperti recasting life. Selain itu bagi Charmaz sebuah prosedur teori
dasar tidak mengurangi peran seorang peneliti dalam sebuah proses. Para peneliti membuat
keputusan mengenai kategori melalui proses, membawa pertanyaan-pertanyaa yang diajukan
terhadap data dan mengembangkan nilai-nilai individu, pengalaman dan prioritas. Sejumlah

kesimpulan yang dibangun oleh ahli teori dasar menurut Charmaz (2005) antara lain sugesti,
ketidaksempurnaan dan tidak meyakinkan.

Prosedur Pelaksanaan Penelitian Teori Dasar


Meski pendekatan interpretif Charmaz memiliki banyak elemen menarik (misalnya
reflektifitas, menjadi fleksibel dalam struktur, seperti didiskusikan dalam bab 2), penulis
menyandarkan pada pandangan Strauss dan Corbin (1990, 1998) untuk menggambarkan
prosedur teori dasar karena pendekatan sistematik mereka membantu para individu
mempelajari tentang dan menerapkan penelitian teori dasar.
-

Para peneliti perlu memulai dengan menentukan jika teori dasar adalah sangat cocok
untuk studi permasalahan penelitiannya. Teori dasar merupakan sebuah disain bagus
untuk digunakan ketika sebuah teori tidak tersedia untuk menjelaskan sebuah proses.
Literatur mungkin memiliki ketersediaan model tetapi ia dibangun dan diuji pada
populasi dan sampel lain daripada hal tersebut merupakan kecendrungan terhadap
peneliti kualitatif. Juga teori tersebut mungkin wujud namun ia tidak sempurna karena
ia tidak diarahkan secara potensial memiliki variabel bernilai kecendrungan untuk para
peneliti. Pada sisi praktis, sebuah teori mungkin perlu dijelaskan bagaimana orang
mengalami sebuah fenomena/gejala dan teori dasar dibangun oleh para peneliti yang

akan menyediakan sejumlah kerangka kerja umum.


Pertanyaan-pertanyaan penelitian yang diajukan penyelidik terhadap partisipan akan
fokus dalam memahami bagaimana individu mengalami proses dan mengidentifiikasi
langkah-langkah dalam proses (apa itu proses? Bagaimana hal itu terungkap?) setelah
awalnya mengemukakan permasalahan-permasalahan ini, para peneliti kemudian
kembali kepada partisipan dan mengajukan pertanyaan lebih rinci yang membantu
untuk membentuk fase pengkodean poros, pertanyaan seperti: apa titik pusat proses?
(fenomena inti). Pengaruh dan dampak apa yang terjadi pada fenomena ini? (kondisi

penyebab); strategi apa yang disertakan selama proses berlangsung? (strategi); apa
-

efek yang terjadi? (konsekuensi)


Pertanyaan-pertanyaan ini secara khusus diajukan dalam wawancara meskipun bentuk
data lain juga dikumpulkan seperti pengamatan, dokumentasi dan bahan-bahan
audiovisual. Titik poinya adalah mengumpulkan informasi yang cukup untuk secara
penuh membangun (kejenuhan) sebuah model. Hal ini mungkin mencakup 20 hingga

30 wawancara atau 50 hingga 60 wawancara.


Analisis data berjalan dalam tahapan-tahapan. Dalam pengkodean terbuka, para
peneliti membentuk kategori informasi mengenai fenomena yang sedang dipelajari
oleh segmentasi informasi. Dalam setiap kategori, para investigator menemukan
sejumlah properti (sifat) atau subkategori dan mencari data untuk mengukur atau
menunjukkan kemungkinan-kemungkinan ekstrim dalam sebuah kesinambungan

properti (sifat).
Dalam pengkodean poros, para investigator mengumpulkan dalam banyak cara setelah
pengkodean terbuka. Penyajian ini menggunakan sebuah paradigma pengkodean atau
diagram logis (misalnya, model visual) dimana para peneliti mengidentifikasi sebuah
fenomena pusat (misalnya kategori pusat mengenai fenomena), menyelidiki kondisikondisi penyebab (misalnya pengelompokan kondisi-kondisi yang memengaruhi
fenomena), strategi khusus (misalnya tindakan atau interaksi yang merupakan hasil
dari fenomena pusat) mengenali konteks dan mengintervensi kondisi-kondisi
(misalnya, kondisi luas dan sempit yang memengaruhi strategi itu) dan menjelaskan

konsekuensi-konsekuensi (misalnya hasil dari strategi) untuk fenomena ini.


Dalam pengkodean selektif, para peneliti mungkin menulis sebuah garis cerita yang
menghubungkan kategori-kategori. Secara pilihan, proposisi atau hipotesis secara

khusus menyatakan prediksi keterkaitan


Akhirnya, para peneliti mungkin mengembangkan dan melukiskan secara visual
sebuah matrik kondisi yang menguraikan aspek sosial, sejarah dan kondisi yang
memengaruhi fenomena pusat. Ia merupakan sebuah langkah pilihan dan sebuah hal

dimana penyelidik kualitatif berfikir tentang model dari perspektif terkecil sampai
-

terluas.
Hasil dari proses pengumpulan data da analisis ini adalah sebuah teori, teori tingkat
subtansi, diitulis oleh para peneliti dekat dengansebuah permaslahan khusus atau
populasi masyarakat. Teori muncul dengan bantuan dari proses pememoan, sebuah
proses dimana para peneliti menulis gagasan tentang pengembangan teori melalui
sebuah proses terbuka, poros dan pengkodean selektif. Teori tingkat subtansi mungkin
diuji mengikuti verifikasi empiriknya dengan data kuantitatif untuk membatasi jika ia
dapat diterapkan ke populasi dan sampel (lihat prosedur disain metode campuran,
Cresswell dan Plano Clark, 2007), secara alternatif, studi mungkin berakhir pada poin
ini dengan penerapan sebuah teori sebagai tujuan penelitian.

Tantangan-Tantangan
Sebuah studi teori dasar menantang para peneliti untuk menyertakan alasan-alasan. Para
investigator perlu mengatur kesamping, sebanyak mungkin, gagasan-gagasan teoritis atau
pikiran dengan demikian analitis teori subtantif dapat muncul. Meskipun mengembang, sifat
alami induksi dari bentuk penyelidikan kualitatif ini, para peneliti harus menyadari bahwa ini
adalah sebuah pendekatan sistematis terhadapa penelitian dengan langkah-langkah khusus
dalam analisis data, bila dilihat dari perspektif pendekatan dari Strauss dan Corbin (1990).
Para peneliti menghadapi kesulitan penentuan ketika kategori-kategori mengalami kejenuhan
atau ketika sebuah teori telah rinci secara memadai. Sebuah strategi yang mungkin dapat
digunakan untuk bergerak ke arah kejenuhan adalah menggunakan sampel diskriminasi,
dimana para peneliti mengumpulkan informasi tambahan dari para individu, mirip dengan
orang yang awalnya diwawancarai untuk menentukan jika sebuah teori memegang kebenaran
bagi para partispan ini. Para peneliti perlu menyadari bahwa hasil utama dari studi ini adalah
sebuah teori dengan komponen khusus; sebuah fenomena pusat, kondisi penyebab, strategi,

kondisi, konteks dan konsekuensi. Semua ini memastikan kategori informasi dalam teori,
dengan demikian pendekatan Strauss dan Corbin (1990, 1998) mungkin tidak memiliki
fleksibilitas yang diingini sejumlah peneliti kualitatif. Dalam kasus ini, pendekatan Charmaz
(2006), yang kurang terstruktur dan lebih mudah diadaptasi mungkin dapat digunakan.

Bacaan Pengaya
Terdapat sejumlah bacaan yang dapat memperluas ulasan singkat dari masing-masing kelima
pendekatan penyelidikan ini. Pada bab 1, penulis telah menyajikan buku-buku utama yang
akan digunakan untuk memahami diskusi tentang setiap pendekatan. Di sini penulis
menyediakan daftar yang lebih melimpah terkait rujukan yang juga menyertakan kegiatankegiatan-kegiatan utama.
Dalam penelitian narasi, penulis akan mendasarkan pada karya Denzin (1989a,
1989b), Czarniawska (2004), dan khususnya karya Clandinin dan Conelly (2000). Penulis
juga menambahkan dalam daftar buku ini tentang sejarah hidup (angrosino, 1989a), metodemetode humanistik (Plummer, 1983), dan sebuah buku pegangan yang komprehensif dalam
penelitian narasi (Clandidnin, 2006).
Angrosino, M.F. (1989a). Documents of interaction: Biography, and life history in social
science perspective. Gainesville: university of Florida Press
Clandinin, D,J., dan Conelly (Ed). (2006). Handbook of narrative inquiry; Mapping a
methodology. Thousand Oaks, CA: Sage.
Clandinin, D,J., dan Conelly, F.M. (2000). Narrative inquiry: Experience and story in
qualitative research. San Fransisco: Josey-Bass
Czarniawska, B. (2004). Narrative in social science research, London: Sage
Denzin, N.K. (1989a). Interpretive biography. Newburry Park, CA: Sage
Denzin, N.K. (1989b). Interpretive interactionism. Newburry Park, CA: Sage
Elliot, J. (2005). Using narrative in social research: Qualitative and quantitative approaches.
London: Sage

10

Plummer, K. (1983). Documents of life: An introduction to the problems and litarature of a


humanistic method. London: George Allen & Unwin
Untuk fenomenologi, buku-buku mengenai metode penelitian fenomenologi oleh Moustakas
(1994) dan sebuah pendekatan hermenetik oleh Van Mannen (1990) akan menyediakan
sebuah landasan bab-bab selanjutnya. Panduan prosedural lain untuk penyelidikan meliputi
Giorgi (1985), Polkinghorne (1989), Van Kaam (1966), Colaizzi (1978), Spiegelberg (1982),
Dukes (1984), Oiler (1986) dan Tesch (1990). Untuk perbedaan-perbedaan mendasar antar
hermenetik dan empiris atau fenomenologi transendental, lihat Lopez dan Willis (2004) dan
untuk sebuah diskusi tentang permasalahan lebih spesifik dan mendalam, lihat LeVasseur
(2003). Sebagai tambahan, untuk mengkaji lebih mendalam landasan yang kuat dalam
(memahami bahwa) asumsi filosofis itu penting dan seseorang mungkin akan memeriksa
karya Husserl (1931, 1970), Marleau-Ponty (1962), Natanson (1973), dan Stewart dan
Mickunas (1990) untuk latar belakang ini.
Colaizzi, P.F. (1978). Psychological research as the phenomenologist views it. In R. Vaile &
M. King (Eds), Existential phenomenological alternatives for psychology (pp. 48-71). New
York: Oxford University Press.
Dukes, S. (1984). Phenomenological methodology in the human sciences, Journal of Religion
and Health, 23, 197-203.
Giorgi, A. (Ed). (1985). Phenomenology and psychological research. Pitsburgh, PA:
Duquesne University Press.
Husserl, E. (1931). Ideas: General introduction to pure phenomenology (D. Carr, Trans).
Evanston, IL: Northwestern University Press
Husserl, E. (1970). The crisis of European sciences and transcendental phenomenology (D.
Carr, Trans). Evanston, IL: Northwestern University Press
LeVasseur, J.J. (2003). The problem with bracketing in phenomenology. Qualitative Health
Reaserch, 31 (2), 408-420
Lopez, K. A, & Willis, D. G. (2004). Descriptive versus interpretive phenomenology: Their
contribution to nursing knowledge. Qualitative Health Research, 14 (5), 726-735.
Merleau-Ponty, M. (1962). Phenomenology of perception (C. Smith, Trans). London:
Routledge & Kegan Paul.

11

Moustakas, C. (1994). Phenomenological research methods. Thousand Oaks, AC: Sage.


Natanson, M. (Wd). (1973). Phenomenology and the social sciences. Evanston, IL:
Northewstern University Press
Oiler, C. J. (1986). Phenomenology: The method. In P. L. Munhall & C. J. Oiler (Eds).,
Nursing reaserch: A qualitative perspective (pp. 69-82). Norwalk, CT: Appleton-CemturyCrofts.
Polkinghorne, D.E. (1989). Phenomenological research methods. In R. S. Valle & S. Halling
(Eds.), Existential-phenomenological perspectives in psychology )pp. 41-60). New York:
Plenum.
Spiegelberg, H. (1982). The phenomenological movement (3rd ed). The Hague, Netherlands:
Martinus Nijhoff
Stewart, D., & Mickunas, A. (1990). Exploring phenomenology: A guide to the field and its
literature (2nd wd). Athens: Ohio University Press
Tesch, R. (1990). Qualitative research: Analysis types and software tools. Bristol, PA: Falmer
Press
Van Kaam, M. (1966). Existential foundations of psychology. Pitsburgh, PA: Dusquesne
University Press
Van Mannen, M. (1990). Researching lived experiences: Human sciences for an action
sensitive pedagogy. Albany: State University of New York Press.
Dalam penelitian teori dasar, periksa buku karya Strauss dan Corbin (1990) yang sangat
dianjurkan sebelum meninjau karyanya yang lain Glaser dan Strauss (1967), Glaser (1978),
Strauss (1978), Glaser (1992), atau edisi terbaru karya Strauss dan Corbin (1998). Apa yang
tersedia pada buku karya Strauss dan Corbin (1998) yang penulis yakin (memiliki) sebuah
panduan prosedural terbaik daripada buku karya mereka yang diterbitkan pada tahun 1998.
Untuk ulasan metodologi yang gamblang mengenai teori dasar, periksa karya Charmaz
(1983), Strauss dan Corbin (1994) dan Chenitz dan Swanson (1986). Khususnya karya yang
sangat membantu, yaitu buku-buku Charmaz (2006) mengenai penelitian teori dasar ditinjau
dari perspektif kontruksionis dan perspektif postmodern dalam karya Clarkes (2005).
Charmaz,K. (1983). The grounded theory method: An explication and interpretation. In R.
Emerson (Ed), Contemporary field research (hlm. 109-126). Boston: Little, Brown

12

Charmaz, K. (2006). Constructing grounded theory. London: Sage.


Chenitz, W. C, & Swanson, J. M. (1986). From practice to grounded theory: Qualitative
research in nursing. Menlo Park, CA: Addison-Wesley.
Clarke, A. E. (2005). Situational analysis: Grounded theory after the postmodern turn.
Thousand Oaks, CA: Sage
Glaser, B. G. (1978). Theoretical sensitivity. Mill Valley, CA: Sosiology Press
Glaser, B.G. (1992). Basics of grounded theory analysis. Mill Valley, CA: Sosiology Press
Glaser, B.G., & Strauss, A. (1967). The discovery of grounded theory. Chicago: Aldine.
Strauss, A. (1987). Qualitative analysis for social scientists. New York: Cambridge University
Press
Strauss, A., & Corbin, J. (1990). Basics of qualitative research: Grounded theory procedures
and techniques. Newbury Park, CA: Sage
Strauss, A., & Corbin, J. (1994). Grounded theory methodology: An overview. In N. K.
Denzin & Y. S. Lincoln (Eds), Handbook of Qualitative research (hlm. 273-285). Thousand
Oaks, CA: Sage.
Strauss, A., & Corbin, J. (1998). Basics of qualitative research: Grounded theory procedures
and techniques (2nd ed.). Newbury Park, CA: Sage

Sejumlah buku-buku terkini yang membahas tentang etnografi akan menyediakan landasan
bagi bab-bab berikutnya: Atkinson, Coffey dan Delamont (2003); volume pertama dalam
rangkaian sarana para etnografi, Disain dan Pelaksanaan Penelitian Etnografi, sama baiknya
dengan enam volume lainnya dalam rangkaian karya LeCompte dan Schensul (1999); dan
Wolcott (1994b, 1999). Sumber lain tentang etnografi termasuk Spradley (1979, 1980),
Fetterman (1998), dan Madison (2005).
Atkinson, P., Coffey, A., & Delamont, S. (2003). Key themes in qualitative research:
Continuities and changes. Walnut Creek, CA: Alta Mira
Fetterman, D. M. (1998). Ethnography: step by step (2nd ed). Thousand Oaks, CA: Sage
LeCompte, M. D., & Schensul, J.J. (1999). Designing and conducting ethnographic research
(Ethnographers toolkit, Vol. 1). Walnut Creek, CA: Alta Mira

13

Madison, D. S. (2005). Critical ethnography: Method, ethics, and performance. Thousand


Oaks, CA: Sage.
Spradley, J. P. (1980). Participant Observation. New York: Holt, Rinchart & Winston.
Wolcott, H. F. (1994b). Transforming
an interpretations. Thousand Oaks, CA: Sage

qualitative

data:

Description,

analysis

Wolcott, H. F. (1999). Ethnography: A way of seeing. Walnut Creek, CA: Alta Mira
Dan akhirnya, untuk penelitian studi kasus, silahkan merujuk pada karya Stake (1995) atau
buku-buku terkini seperti karya Lincoln dan Guba (1985), Merriam (1988), dan Yin (2003).
Lincoln, Y. S., & Guba, E. G. (1985). Naturalistic inquiry. Beverly Hills, CA: Sage.
Merriam, S. (1988). Case study research in education: A qualitative approach. San Fransisco:
Jossey- Bass
Stake, R. (1995). The art of case study research. Thousand Oaks, CA: Sage
Yin, R. K. (2003). Case study Research: design and method (3rd ed). Thousand Oaks, CA.
Sage.

14