Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN KASUS

PRESBIOPIA, HIPERMETROPIA, ASTIGMATISMA

Penyusun:
Rafli Elzandri
406151078
Pembimbing
dr. Djoko Heru S, Sp. M

KEPANITERAAN KLINIK STASE MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
2015

STATUS PASIEN
A. IDENTITAS PASIEN

Nama

: Tn. AC

Umur

: 63 tahun

Alamat

: Jekulo 02/09

Pekerjaan

: Guru

Status Menikah

: Menikah

Agama

: Islam

Tanggal masuk

No. CM

: 16 Desember 2015
: 586330

B. ANAMNESIS
Dilakukan secara Autoanamnesis pada tanggal 16 Desember 2015 jam 10.30 WIB di
Poli Mata RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus
Keluhan Utama
Penglihatan mata kanan dan kiri buram
Keluhan tambahan
mata sakit
Pusing di kepala
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus dengan keluhan
penglihatan mata kanan dan kiri buram sejak 2 tahun yang lalu. Menurut keterangan
pasien mata terasa buram saat melihat jauh ataupun melihat dekat terutama saat
membaca, keluhan bertampah parah sejak beberapa bulan yang lalu. Pasien juga
mengeluhkan matanya terasa sakit apabila membaca terlalu lama. Tidak terdapat
keluhan gatal,panas,perih,berair,mata merah pada pasien.

Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat Hipertensi

: disangkal

Riwayat Diabetes Mellitus

: disangkal

Riwayat kelainan mata sejak lahir

: disangkal

Riwayat adanya trauma pada mata seperti mata terkena bahan-bahan kimia,

terbentur benda tumpul atau benda tajam : disangkal

Riwayat alergi

: pensilin

Riwayat memakai kacamata

: +3

Riwayat operasi mata

: disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat hipertensi dan diabetes mellitus :disangkal

Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan serupa

Riwayat Sosial Ekonomi


Pasien menggunakan BPJS kesehatan.
C. PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Keadaan umum
Kesadaran
Status Gizi
Nadi
Tensi
RR
Suhu
Kepala
Telinga
Hidung
Tenggorokan
Thorax
Cor
Pulmo
Abdomen
Ekstremitas

: Baik
: Compos mentis
: Cukup
: 70 x/menit
: 90/70 mmHg
: 16 x/menit
: 36,2 oC
: normocephali, deformitas (-),
: normotia, serumen (-), sekret (-)
: deviasi septum (-), sekret (-)
: tonsil T1/T1 tidak hiperemis, faring tidak hiperemis.
: BJ I/II murni, reguler, murmur (-), gallop (-)
: SN vesikuler, ronki -/-, wheezing -/: datar, supel, BU (+) N
: akral hangat, oedem -/-

OD

OS

Keterangan:
Lensa OD jernih (+)

Lensa OS jernih (+)

Arcus senilis (+)

Arcus

Status Ophtalmicus
OCULI DEXTRA(OD)
6m/15m
dikoreksi
Gerak bola mata normal,

PEMERIKSAAN
Visus Jauh
Koreksi

OCULI SINISTRA(OS)
6m/18m
dikoresi
Gerak bola mata normal,

enoftalmus (-), eksoftalmus (-),

Bulbus okuli

enoftalmus (-), eksoftalmus (-),

strabismus (-)
Edema (-), hiperemis(-),

strabismus (-)
Edema (-), hiperemis(-),

nyeri tekan(-),

nyeri tekan (-),

blefarospasme (-), ptosis (-)

Palpebra

blefarospasme (-), ptosis (-)

lagoftalmus (-),

lagoftalmus (-)

ektropion (-), entropion (-)


injeksi konjungtiva (-),

ektropion (-), entropion (-)


injeksi konjungtiva (-),

injeksi siliar (-), infiltrat (-),


Putih
Bulat, edema (-),
infiltrat (-), sikatriks (-)

Konjungtiva
Sklera

injeksi siliar (-), infiltrat (-),


Putih
Bulat, edema (-),

Kornea

infiltrat (-), sikatriks (-)

Keratik presipitat (-)

Keratik presipitat (-)

Kedalaman cukup

Camera Oculi Anterior

Kedalaman cukup

hipopion (-), hifema (-)


warna hitam (+), edema(-),

(COA)

hipopion (-), hifema (-)


warna hitam (+), edema(-),

synekia (-),
bulat, diameter : 3mm, sentral,

Iris

synekia (-),
bulat, diameter : 3mm, sentral,

refleks pupil langsung (+),

Pupil

refleks pupil langsung (+),

Lensa

refleks pupil tak langsung (+)


jernih (+)

refleks pupil tak langsung (+)


Jernih (+)

-Papil N. II : Bulat batas tegas, Retina

-Papil N. II : Bulat batas tegas,

warna merah jingga ,CDR = 0.3

warna merah jingga ,CDR = 0.3

-aa/vv retina :

-aa/vv retina :

Warna merah

Warna merah

Avr 2:3

Avr 2:3

-Retina:

-Retina:

Perdarahan

(tidak

Perdarahan

ditemukan)
edema

(tidak

ditemukan)

retina

(tidak

edema

ditemukan)

retina

(tidak

ditemukan)

-Makula :

-Makula :

Reflek Fovea (+)

Reflek Fovea (+)

Eksudat (-)

Eksudat (-)

Edema (-)

Edema (-)

Merah jingga cemerlang (+)

Reflek Fundus

Normal
Epifora (-), lakrimasi(+)

TIO
Sistem Lakrimasi

Merah jingga cemerlang (+)


Normal
Epifora (-), lakrimasi(-)

A. RESUME
Subyektif

Pasien mengeluh penglihatan mata kanan dan kiri buram sejak 2 tahun yang
lalu

Pasien mengatakan penglihatan terasa buram saat melihat dekat ataupun jauh

Pasien mengatakan bahwa mata terasa sakit saat membaca terlalu lama

Obyektif
OCULI DEXTRA(OD)
6m/15m
dikoreksi
Kedalaman cukup

PEMERIKSAAN
Visus Jauh
Koreksi
Camera Oculi Anterior

OCULI SINISTRA(OS)
6m/18m
dikoresi
Kedalaman cukup

hipopion (-), hifema (-)


warna hitam (+), edema(-),

(COA)

hipopion (-), hifema (-)


warna hitam (+), edema(-),

synekia (-),
bulat, diameter : 3mm, sentral,

Iris

synekia (-),
bulat, diameter : 3mm, sentral,

refleks pupil langsung (+),

Pupil

refleks pupil langsung (+),

refleks pupil tak langsung (+)


Jernih (+)

Lensa

refleks pupil tak langsung (+)


jernih (+)

Merah jingga cemerlang (+)

Reflek Fundus

Normal

TIO

Merah jingga cemerlang(+)


Normal

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
FUNDUSKOPI :
-Reflek Fundus : (+)
-aa/vv retina : mikroaneurisma (-)
Papil N. II

: bulat tegas, warna merah jingga

Makula

: reflek fovea (+)

E. DIAGNOSA DIFFERENSIAL
OD :

Presbiopia

Hipermetropia

Astigmatisma

Myopia

OS :

Presbiopia

Hipermetropia

Astigmatisma

Myopia

F. DIAGNOSA SEMENTARA
ODS : presbiopia dengan astigmatisma
Dasar diagnosis :
Anamnesis :

Pasien mengeluh penglihatan mata kanan dan kiri buram sejak 2 tahun yang
lalu

Pasien mengatakan penglihatan terasa buram saat melihat dekat ataupun jauh
Pasien mengatakan bahwa mata terasa sakit saat membaca terlalu lama

Pemeriksaan Oftalmologi
OCULI DEXTRA(OD)
6m/15m
dikoreksi
Kedalaman cukup

PEMERIKSAAN
Visus Jauh
Koreksi
Camera Oculi Anterior

OCULI SINISTRA(OS)
6m/18m
dikoresi
Kedalaman cukup

hipopion (-), hifema (-)


warna hitam (+), edema(-),

(COA)

hipopion (-), hifema (-)


warna hitam (+), edema(-),

synekia (-),
bulat, diameter : 3mm, sentral,

Iris

synekia (-),
bulat, diameter : 3mm, sentral,

refleks pupil langsung (+),

Pupil

refleks pupil langsung (+),

refleks pupil tak langsung (+)


Jernih (+)

Lensa

refleks pupil tak langsung (+)


jernih (+)

Merah jingga cemerlang (+)

Reflek Fundus

Normal

TIO

Merah jingga cemerlang(+)


Normal

G. TERAPI
OD : penggunaan lensa +
OS : penggunaan lensa cyl
H. PROGNOSIS
OCULUS DEXTER (OD)
Quo Ad Vitam

OCULUS SINISTER (OS)

dubia ad bonam

ad bonam

Quo Ad Fungsionam :

dubia ad bonam

ad bonam

Quo Ad Sanationam :

dubia ad bonam

ad bonam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
PRESBIOPIA
Definisi
Makin berkurangnya kemampuan akomodasi mata sesuai dengan makin meningkatnya
umur. Kelainan ini terjadi pada mata normal berupa gangguan perubahan
kencembungan lensa yang dapat berkurang akibat berkurangnya elastisitas lensa
sehingga terjadi gangguan akomodasi.
Etiologi
Gangguan akomodasi pada usia lanjut dapat terjadi akibat:

Kelemahan otot akomodasi

Lensa mata yang tidak kenyal atau berkurang elastisitasnya akibat sklerosis

lensa
Patofisiologi
Pada mekanisme akomodasi yang normal terjadi peningkatan daya refraksi mata karena
adanya perubahan keseimbangan antara elastisitas matriks lensa dan kapsul sehingga
lensa menjadi cembung. Dengan meningkatnya umur maka lensa menjadi lebih keras
(sklerosis) dan kehilangan elastisitasnya untuk menjadi cembung, dengan demikian
kemampuan melihat dekat makin berkurang.

Gejala Klinis
Akibat gangguan akomodasi ini maka pada pasien berusia lebih dari 40 tahun, akan
memberikan keluhan setelah membaca yaitu berupa mata lelah, berair dan sering terasa
pedas.
Karena daya akomodasi berkurang maka titik dekat mata makin menjauh dan pada
awalnya akan kesulitan pada waktu membaca dekat huruf dengan cetakan kecil.

Dalam upayanya untuk membaca lebih jelas maka penderita cenderung menegakkan
punggungnya atau menjauhkan obyek yang dibacanya sehingga mencapai titik dekatnya
dengan demikian obyek dapat dibaca lebih jelas.
Pemeriksaan
Kartu Snellen
Nilai

Ukuran lensa yang memberikan ketajaman penglihatan sempurna merupakan ukuran


lensa yang diperlukan untuk adisi kacamata baca. Hubungan lensa adisi dan umur
biasanya: 40 sampai 45 tahun 1.0 dioptri
45 sampai 50 tahun 1.5 dioptri
50 sampai 55 tahun 2.0 dioptri
55 sampai 60 tahun 2.5 dioptri
60 tahun 3.0 dioptri
Penatalaksanaan
Diberikan penambahan lensa sferis positif sesuai pedoman umur yaitu umur 40 tahun
(umur rata rata) diberikan tambahan sferis + 1.00 dan setiap 5 tahun diatasnya
ditambahkan lagi sferis + 0.50
Lensa sferis (+) yang ditambahkan dapat diberikan dalam berbagai cara:
kacamata baca untuk melihat dekat saja
kacamata bifokal untuk sekaligus mengoreksi kelainan yang lain
kacamata trifokus mengoreksi penglihatan jauh di segmen atas, penglihatan
sedang di segmen tengah, dan penglihatan dekat di segmen bawah
kacamata progressive mengoreksi penglihatan dekat, sedang, dan jauh, tetapi
dengan perubahan daya lensa yang progresif dan bukan bertingkat.

HIPERMETROPIA
A. Definisi:
Adanya perbedaan kekuatan refraksi dan panjang axial bola mata sehingga cahaya
yang masuk memilki titik fokus di belakang retina, sinar jatuh berada di belakang makula
lutea.
B. Epidemiologi :
20% terkena pada usia 20-30 tahun >1D
C. Etiologi:
Sumbu bola mata yang terlalu pendek
kekuatan akomodasi lensa kurang
Lensa tidak ada (aphakia)
Post operatif katarak tanpa diikuti pemasangan IOL
D. Patofisiologi:

S in a r j a t u h d i
b e l a k a n g le n s a

B o la m a ta
pendek

K e l a in a n
k o n g e n it a l

K e ku ata n
re fra ksi
m e n u ru n
K e ku a ta n
a ko m o d a si ya n g
m e n u ru n

E.Klasifikasi:

Jenis hipermetropia
Hipermetropia kongenital : bola mata pendek
Hipermertopia simple : lanjutan hipermetrope pada anak yang tidak berkurang
pada saat perkembanganganya
Hipermetropia di dapat : post operatif kataran tanpa pemasangan IOL
Hipermetropia axial dan refraktin
Hipermetropia laten : derajat hipermetrop yang diatasi oleh akomodasi
Hipermetropia absolut : kelainan refraksi yang tidak di imbangi dengan
akomodasi
Hipermetropia fakultatif
Hipermetropia total

Derajat hipermetropia

Ringan

: +0,25 D - +3,00 D

Sedang

: +3,25 D - +6,00 D

Berat

: >+6,25D

F.Gejala
1. mata kabur
2. mata mudah lelah
3. sakit kepala

4. rasa terbakar pada mata


5. nyeri pada mata
6. silau
G. Pemeriksaan:

Snellen chart

Ophtalmoskopik
optic disc suram dan meningkat
microphtalmus
m.siliaris menegang.

H. Penanganan Hipermetrop:
Pengangan hipermetrop menggunakan lensa positif (+) atau convex. Lensa positif
yang digunakan yang paling kuat dan memberikan visus normal, penggunaan lensa positif
yang paling kuat bertujuan untuk merelasasikan otot m.siliaris yang terus berkontraksi akibat
dari akomodasi. Pada pasien anak-anak lakukan watch and wait karena biasanya pada anak
-anak hipermetrop akan mengalami perbaikan.
H.komplikasi

Presbiopia

Mata juling ( esotiopia dan eksoforia)

Acute angle close glaucoma

ASTIGMATISME
Definisi
Astigmatisme adalah suatu kelainan refraksi dimana sinar sejajar dengan garis
pandang oleh mata tanpa akomodasi dibiaskan tidak pada satu titik tetapi lebih dari satu titik.
Astigmatisme mencegah berkas cahaya jatuh sebagai suatu fokus titik di retina karena
perbedaan derajat refraksi di berbagai meridian kornea atau lensa kristalina.

Gambar : Perbedaan mata normal dan astigmatisme


Epidemiologi
Prevalensi global kelainan refraksi diperkirakan sekitar 800 juta sampai 2,3 milyar. Di
Indonesia prevalensi kelainan refraksi menempati urutan pertama pada penyakit mata. Kasus
kelainan refraksi dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Ditemukan jumlah
penderita kelainan refraksi di Indonesia hampir 25% populasi penduduk atau sekitar 55 juta
jiwa. ngka kejadian astigmat bervariasi antara 30%-70%.
Etiologi
Etiologi kelainan astigmatisme adalah sebagai berikut:

Adanya kelainan kornea dimana permukaan luar kornea tidak teratur. Media
refrakta yang memiliki kesalahan pembiasan yang paling besar adalah kornea,
yaitu mencapai 80% s/d 90% dari astigmatismus, sedangkan media lainnya adalah
lensa kristalin. Kesalahan pembiasan pada kornea ini terjadi karena perubahan
lengkung kornea dengan tanpa pemendekan atau pemanjangan diameter anterior
posterior bolamata. Perubahan lengkung permukaan kornea ini terjadi karena

kelainan kongenital, kecelakaan, luka atau parut di kornea, peradangan kornea


serta akibat pembedahan kornea.
Adanya kelainan pada lensa dimana terjadi kekeruhan pada lensa. Semakin
bertambah umur seseorang, maka kekuatan akomodasi lensa kristalin juga
semakin berkurang dan lama kelamaan lensa kristalin akan mengalami kekeruhan
yang dapat menyebabkan astigmatismus.
Klasifikasi
Berdasarkan posisi garis fokus dalam retina Astigmatisme dibagi sebagai berikut:
Astigmatisme Reguler
Dimana didapatkan dua titik bias pada sumbu mata karena adanya dua bidang yang
saling tegak lurus pada bidang yang lain sehingga pada salah satu bidang memiliki daya
bias yang lebih kuat dari pada bidang yang lain. Astigmatisme jenis ini, jika mendapat
koreksi lensa cylindris yang tepat, akan bisa menghasilkan tajam penglihatan normal.
Tentunya jika tidak disertai dengan adanya kelainan penglihatan yang lain.
Bila ditinjau dari letak daya bias terkuatnya, bentuk astigmatisme regular ini dibagi
menjadi 2 golongan, yaitu:
Astigmatisme With the Rule
Bila pada bidang vertical mempunyai daya bias yang lebih kuat dari pada bidang
horizontal.sering ditemukan pada anak-anak dan orang muda.
Astigmatisme Against the Rule
Bila pada bidang horizontal mempunyai daya bias yang lebih kuat dari pada bidang
vertikal. Serinng ditemukan pada orang tua.

Astigmatisme Irreguler
Dimana titik bias didapatkan tidak teratur.

Berdasarkan letak titik vertical dan horizontal pada retina, astigmatisme dibagi sebagai
berikut:

Astigmatisme Miopia Simpleks


Astigmatisme jenis ini, titik A berada di depan retina, sedangkan titik B berada tepat
pada retina (dimana titik A adalah titik fokus dari daya bias terkuat sedangkan titik B
adalah titik fokus dari daya bias terlemah). Pola ukuran lensa koreksi astigmatisme
jenis ini adalah Sph 0,00 Cyl -Y atau Sph -X Cyl +Y di mana X dan Y memiliki angka
yang sama.

Gambar : Astigmatisme Miopia Simpleks

Astigmatisme Hiperopia Simpleks

Astigmatisme jenis ini, titik A berada tepat pada retina, sedangkan titik B berada di
belakang retina.

Astigmatisme Hiperopia Simpleks

Astigmatisme Miopia Kompositus

Astigmatisme jenis ini, titik A berada di depan retina, sedangkan titik B berada di
antara titik A dan retina. Pola ukuran lensa koreksi astigmatisme jenis ini adalah Sph

-X Cyl -Y.
Gambar : Astigmatisme Miopia Kompositus

Astigmatisme Hiperopia Kompositus

Astigmatisme jenis ini, titik B berada di belakang retina, sedangkan titik A berada di
antara titik B dan retina. Pola ukuran lensa koreksi astigmatisme jenis ini adalah Sph
+X Cyl +Y.
Gambar : Astigmatisme Hiperopia Kompositus

Astigmatisme Mixtus

Astigmatisme jenis ini, titik A berada di depan retina, sedangkan titik B berada di
belakang retina. Pola ukuran lensa koreksi astigmatisme jenis ini adalah Sph +X Cyl
-Y, atau Sph -X Cyl +Y,

Gambar : Astigmatisme Mixtus


Berdasarkan tingkat kekuatan Dioptri :
1. Astigmatismus Rendah
Astigmatismus yang ukuran powernya < 0,50 Dioptri. Biasanya astigmatismus rendah tidak
perlu menggunakan koreksi kacamata. Akan tetapi jika timbul keluhan pada penderita maka
koreksi kacamata sangat perlu diberikan.
2. Astigmatismus Sedang
Astigmatismus yang ukuran powernya berada pada 0,75 Dioptri s/d 2,75 Dioptri. Pada
astigmatismus ini pasien sangat mutlak diberikan kacamata koreksi.
3. Astigmatismus Tinggi
Astigmatismus yang ukuran powernya > 3,00 Dioptri. Astigmatismus ini sangat mutlak
diberikan kacamata koreksi.
Tanda Dan Gejala
Pada umunya, seseorang yang menderita astigmatismus tinggi menyebabkan gejala-gejala
sebagai berikut :
1. Memiringkan kepala atau disebut dengan titling his head, pada umunya
keluhan ini sering terjadi pada penderita astigmatismus oblique yang tinggi.
2. Memutarkan kepala agar dapat melihat benda dengan jelas.

3. Menyipitkan mata seperti halnya penderita myopia, hal ini dilakukan untuk
mendapatkan efek pinhole atau stenopaic slite. Penderita astigmatismus juga
menyipitkan mata pada saat bekerja dekat seperti membaca.
4. Pada saat membaca, penderita astigmatismus ini memegang bacaan mendekati
mata, seperti pada penderita myopia. Hal ini dilakukan untuk memperbesar
bayangan, meskipun bayangan di retina tampak buram.
Sedang pada penderita astigmatismus rendah, biasa ditandai dengan gejala-gejala
sebagai berikut :
1. Sakit kepala pada bagian frontal.
2. Ada pengaburan sementara / sesaat pada penglihatan dekat, biasanya penderita
akan mengurangi pengaburan itu dengan menutup atau mengucek-ucek mata.
Diagnosis
Selain dari anamnesis, diagnosis astigmatisme dapat dilakukan dengan melakukn beberapa
pemeriksaan diantaranya :
Pemeriksaan pin hole

Uji lubang kecil ini dilakukan untuk mengetahui apakah berkurangnya tajam penglihatan
diakibatkan oleh kelainan refraksi atau kelainan pada media penglihatan, atau kelainan retina
lainnya. Bila ketajaman penglihatan bertambah setelah dilakukan pin hole berarti pada pasien
tersebut terdapat kelainan refraksi yang belum dikoreksi baik. Bila ketajaman penglihatan
berkurang berarti pada pasien terdapat kekeruhan media penglihatan atau pun retina yang
menggangu penglihatan.

Uji refraksi

Subjektif
Optotipe dari Snellen & Trial lens
Metode yang digunakan adalah dengan Metoda trial and error Jarak pemeriksaan 6
meter/ 5 meter/ 20 kaki. Digunakan kartu Snellen yang diletakkan setinggi mata
penderita, Mata diperiksa satu persatu dibiasakan mata kanan terlebih dahulu
Ditentukan visus / tajam penglihatan masing-masing mata. Bila visus tidak 6/6
dikoreksi dengan lensa sferis positif, bila dengan lensa sferis positif tajam penglihatan
membaik atau mencapai 5/5, 6/6, atau 20/20 maka pasien dikatakan menderita
hipermetropia, apabila dengan pemberian lensa sferis positif menambah kabur
penglihatan kemudian diganti dengan lensa sferis negatif memberikan tajam

penglihatan 5/5, 6/6, atau 20/20 maka pasien menderita miopia. Bila setelah
pemeriksaan tersebut diatas tetap tidak tercapai tajam penglihatan maksimal mungkin
pasien mempunyai kelainan refraksi astigmat. Pada keadaan ini lakukan uji
pengaburan (fogging technique).
Objektif
Autorefraktometer
Yaitu menentukan myopia atau besarnya kelainan refraksi dengan menggunakan
komputer. Penderita duduk di depan autorefractor, cahaya dihasilkan oleh alat dan
respon mata terhadap cahaya diukur. Alat ini mengukur berapa besar kelainan
refraksi yang harus dikoreksi dan pengukurannya hanya memerlukan waktu
beberapa detik.

Uji pengaburan

Setelah pasien dikoreksi untuk myopia yang ada, maka tajam penglihatannya dikaburkan
dengan lensa positif, sehingga tajam penglihatan berkurang 2 baris pada kartu Snellen,
misalnya dengan menambah lensa spheris positif 3. Pasien diminta melihat kisi-kisi
juring astigmat, dan ditanyakan garis mana yang paling jelas terlihat. Bila garis juring
pada 90 yang jelas, maka tegak lurus padanya ditentukan sumbu lensa silinder, atau
lensa silinder ditempatkan dengan sumbu 180. Perlahan-lahan kekuatan lensa silinder
negatif ini dinaikkan sampai garis juring kisi-kisi astigmat vertikal sama tegasnya atau
kaburnya dengan juring horizontal atau semua juring sama jelasnya bila dilihat dengan
lensa silinder ditentukan yang ditambahkan. Kemudian pasien diminta melihat kartu
Snellen dan perlahan-lahan ditaruh lensa negatif sampai pasien melihat jelas.

Gambar : Kipas Astigmat.

Diagnosis Banding
1. Miopia
2. Hipermetropia
3. Katarak
4. Age Related Macular Degeneration (ARMD)
Terapi

Koreksi lensa
Astigmatismus dapat dikoreksi kelainannya dengan bantuan lensa silinder. Karena dengan
koreksi lensa cylinder penderita astigmatismus akan dapat membiaskan sinar sejajar tepat
diretina, sehingga penglihatan akan bertambah jelas.

KOMPLIKASI
Astigmatisme yang tidak dirawat pada orang dewasa dapat menyebabkan ketidaknyamanan
pada mata, mata menjadi penat dan terkadang sakit kepala. Rabun pada anak-anak
memerlukan perhatian khusus dan penjagaan mata benar. Hal ini disebabkan karena apabila
mata tidak dirawat dengan benar dapat menyebabkan terjadinya ambliopia (mata malas).

PROGNOSIS
Sekitar 30 % dari semua orang memiliki Silindris . Dalam sebagian besar kasus, kondisi tidak
berubah banyak setelah usia 25 tahun. Astigmatisme progresif dapat terjadi pada trauma
kornea , infeksi berulang dari kornea, dan penyakit degeneratif seperti keratoconus.

Daftar Pustaka
1. Ilyas, S. 2004. Hipermetropia dalam Kelainan Refraksi dan Koreksi Penglihatan.
Jakarta: Penerbit FKUI. hal: 35-45.
2.

Riordan, Paul, Whitcher, John P. 2000. Vaughan & Asbury Oftalmologi Umum. Jakarta: EGC. Hal:
401-402.

3. James, Bruce,Chris C., Anthony B..2005. Lecture Notes Oftalmologi. Jakarta :


Erlangga. Hal: 35.Jane O, Lorraine C. Ophthalmology at a glance. Blsckwell sciene.
2005.
4. Khurana A K. 2007. Chapter 3 Optics and Refraction,Comprehensive Ophtamology,
fourth edition. New Age international, New Delhi