Anda di halaman 1dari 18

AKUNTANSI SOSIAL

Dipersembahkan dalam Forum Diskusi Mata Kuliah


AKUNTANSI KEPERILAKUAN
Semester VII program strata 1
Disusun oleh :
KELOMPOK SIAPA
Nama : Asniar Firdayanti

(10800112021)

Besse Ulfira

(10800112035)

Rosmiati

(10800112007)

Sunarti N.

(10800112010)

Muh. Faisalrahmat

(10800112012)

Sukman

(10800112033)

Fauzul Iman

(10800112019)

Achmad Dhani R

(10800111005)

Rini Suciati L.

(10800111106)

Jurusan : Akuntansi

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR


2015
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb
Puja puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT, yang telah
melimpahkan rahmat, taufiq, serta hidayahnya kepada kami, sehingga penulis
dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah tentang Akuntansi Sosial. Dan
tidak lupa Sholawat beserta Salam tetap kami curahkan kepada junjungan kita
Nabi besar Muhammad S.A.W. yang telah membawa kita dari alam kegelapan
menuju alam terang benderang yakni agama Islam.
Ucapan terima kasih kami sampaikan pula kepada Bapak Sultan Syah selaku
pembimbing kami sehingga kita dapat mengerti tentang Akuntansi Keperilakuan.
Dan kami menyadari bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini, apabila
ada kesalahan dalam penulisan atau dari pembaca terdapat kesalahan makalah ini
guna perbaikan dalam pembuatan makalah kami yang selanjutnya.
Akhir kata, semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.
Wassalam

Makassar,

Desember 2015

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR......................................................................................... i

DAFTAR ISI....................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang.

1.2

Rumusan Masalah........................................................................

1.3

Tujuan Penulisan Makalah...........................................................

1.4

Manfaat Penulisan

BAB II PEMBAHASAN
2.1

Pendahuluan.............

2.2

Latar Belakang Sejarah.

2.3

Permasalahan Sosial Indonesia.

2.4

Tanggapan Perusahaan...

2.5

Akuntansi untuk Manfaat dan Biaya Sosial..

2.6

Pelaporan Kinerja Sosial....

2.7

Arah Riset.

BAB III PENUTUP


3.1

Kesimpulan..................................................................................

DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Akuntansi sosial dan lingkungan telah lama menjadi perhatian akuntan.

Akuntansi ini menjadi penting karena perusahaan perlu menyampaikan informasi


mengenai

aktivitas

sosial

dan

kepada stakeholder perusahahaan.

perlindungan

Perusahaan

tidak

terhadap
hanya

lingkungan

menyampaikan

informasi mengenai keuangan kepada investor dan kreditor yang telah ada serta
calon investor atau kreditor perusahaan, tetapi juga perlu memperhatikan
kepentingan sosial di mana perusahaan beroperasi. Bentuk tanggung jawab
perusahaan dan kepada siapa perusahaan bertanggung jawab dapat dijelaskan oleh
beberapa teori.
Dengan demikian, tangung jawab perusahaan tidak hanya kepada investor
atau kepada kredior, tetapi juga kepada pemangku kepentingan lain, misalnya
karyawan, konsumen, suplier, pemerintah, masyarakat, media, organisasi industri,
dan kelompok kepentingan lainnya.
Sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan, akuntansi berfungsi untuk
memberikan informasi untuk pengambilan keputusan dan pertangungjawaban.
Selama ini, laporan keuangan hanya difokuskan kepada kepentingan investor dan
kreditor sebagai pemakai utama laporan keuanga. Hal ini tertuang mulai
dari Standar Financial Accounting Concepts (SFAC) No.1. Kalau diperhatikan,
pemakai informasi tidak hanya pihak-pihak tersebut.
Banyak pihak lain yang juga memerlukan informasi keuangan, yang
mendapatkan perhatian yang sama. Selama ini perusahaan hanya menyampaikan
informasi mengenai hasil operasi keuangan perusahaan kepada pemakai, tetapi
mengabaikan eksternalitas dari operasi yang dilakukannya, misalnya polusi udara,
pencemaran air, pemutusan hubungan kerja, dan lainnya.
1.2
Rumusan Masalah
1. Bagaimana latar belakang sejarah akuntansi sosial?
2. Apa permasalahan sosial di Indonesia?
3. Bagaimana tanggapan perusahaan?
4. Bagaimana tanggapan akuntansi untuk manfaat biaya sosial?

5. Bagaimana pelaporan kinerja sosial?


6. Bagaimana arah riset?
1.3

Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui bagaimana latar belakang sejarah akuntansi sosial?


2. Untuk mengetahui apa permasalahan sosial di Indonesia?
3. Untuk mengetahui bagaimana tanggapan perusahaan?
4. Untuk mengetahui bagaimana tanggapan akuntansi untuk manfaat biaya
sosial?
5. Untuk mengetahui bagaimana pelaporan kinerja sosial?
6. Untuk mengetahui bagaimana arah riset?
1.4

Manfaat Penulisan
Manfaat dari pada penyusunan makalah ini adalah mahasiswa mamahami

Aspek Sosial dan mampu mengaplikasikan dan mengimplementasikan dalam


kehidupan dunia kerja nantinya secara baik dan benar.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Pendahuluan
Akuntansi sosial didefenisikan sebagai penyusunan, pengukuran, dan

analisis terhadap konsekuensi-konsekuensi sosial dan ekonomi dari perilaku yang

berkaitan dengan pemerintah dan wirausahawan. Dalam hal ini, akuntansi sosial
berarti identifikasi, mengukur dan melaporkan hubungan antara bisnis dan
lingkungannya. Lingkungan bisnis meliputi sumber daya alam, komunitas dimasa
bisnis tersebut beroperasi, orang-orang yang dipekerjakan, pelanggan, pesaing,
dan perusahaan serta kelompok lain yang berurusan dengan bisnis tersebut. Prose
pelaporan dapat bersifat baik internal maupun eksternal.
Selama ini, perusahaan dianggap sebagai lembaga yang dapat memberikan
banyak keuntungan bagi masyarakat. Menurut pendekatan teori akuntansi
tradisional, perusahaan harus memaksimalkan labanya agar dapat memberikan
sumbangan yang maksimum kepada masyarakat. Model-model akuntansi dan
ekonomi tradisional berfokus pada produksi dan distribusi barang dan jasa kepada
masyarakat. Akuntansi sosial memperluas model ini dengan memasukkan
dampak-dampak dari aktivitas perusahaan terhadap masyarakat. Suatu pabrik
kertas, misalnya tidak hanya menghasilkan bubur kayu dan produk kertas,
melainkan juga limbah padat dan pencemaran udara serta air. Di lain pihak, pabrik
tersebut

mungkin

memberikan

kontribusi

kepada

komunitas

dengan

memperbolehkan karyawan mengambil waktu luang untuk pekerjaan sosial atau


dengan mendanai beasiswa universitas untuk siswa-siswa yang berprestasi.
Ditinjau dari perspektif ini, akuntansi sosial dapat dilihat sebagai pendekatan yang
berguna untuk mengukur dan melaporkan kontribusi suatu perusahaan kepada
komunitas.
Namun seiring dengan perjalanan waktu, masyarakat semakin menyadari
adanya dampak-dampak sosial yang ditimbulkan oleh perusahaan dalam
menjalankan operasinya untuk mencapai laba yang maksimal yang semakin lama
semakin besar dan semakin sulit untuk dikendalikan. Oleh karena itu, masyarakat
pun menuntut agar perusahaan senantiasa memperhatikan dampak-dampak sosial
yang ditimbulkannya dan berupaya mengatasinya. Aksi protes terhadap
perusahaan sering dilakukan oleh para karyawan dan buruh dalam rangka
menuntut kebijakan upah dan pemberian fasilitas kesejahteraan karena yang
berlaku sekarang dirasakan kurang mencerminkan keadilan. Aksi yang serupa
juga tidak jarang dilakukan oleh pihak masyarakat, baik masyarakat sebagai

konsumen maupun masyarakat di lingkungan sekitar pabrik. Masyarakat sebagai


konsumen sering kali melakukan protes terhadap hal-hal yang berkaitan dengan
mutu produk sehubungan dengan kesehatan, keselamatan, dan kehalalan suatu
produk bagi konsumennya, sedangkan protes yang dilakukan masyarakat di
sekitar pabrik biasanya berkaitan dengan pencemaran lingkungan yang
disebabkan limbah pabrik.
Laba besih telah dianggap secara tradisional sebagai kontribusi perusahaan
kepada komunitas. Akuntan sosial memandang hal ini sebagai fokus yang terlalu
sempit. Mereka beranggapan bahwa untuk mengukur kontribusi sosial suatu
perusahaan dengan memadai, baik biaya maupun laba harus dimasukkan. Laba
hanya ada karena beberapa biaya sosial, seperti polusi air, tidak dimasukkan
dalam perhitungan laba perusahaan tersebut.
Deskripsi-deskripsi di atas menunjukkan adanya ketidakselarasan sosial
antara perusahaan dan masyarakat. Banyak keluhan telah dilontarkan kepada
perusahaan dan perusahaan dituntut untuk lebih meemperhatikan tanggung jawab
sosialnya kepada masyarakat. Adanya pergeseran dari arah pandangan tradisional
ke arah kesejahteraan sosial ini telah mendorong lahirnya akuntansi sosial yang
merupakan subdisiplin akuntansi yang memfokuskan perhatiannya terhadap
dampak sosial yang ditimbulkan oleh perusahaan kepada masyarakat, baik biaya
sosial (social cost) maupun manfaat sosial (social benefit).
2.2

Latar Belakang Sejarah


Akuntansi sosial berkepentingan dengan identifikasi dan pengukuran

manfaat sosial dan biaya sosial konsep yang biasanya di abaikan oleh para
akuntan tradisional. Untuk memahami perkembangan akuntansi sosial, seseorang
harus mengetahui bagaimana manfaat dan biaya sosial telah diperlakukan dimasa
lalu.
Pada awal tahun1900, para ekonomi telah mencoba untuk memasukkan
manfaat dan biaya sosial dalam model-model teori ekonomi mikro neo-klasik.
Meskipun mereka berusaha, manfaat dan biaya sosial dianggap sebagai anomaly
dan sebagian besar, diabaikan oleh mayoritas ekonom. Akan tetapi, kemajuan

telah dilakukan dalam analisis, pengukuran, serta penyajian masalah manfaat dan
biaya sosial.
Model akuntansi dasar (baik untuk tujuan keuangan dan manajerial)
menggunakan teori ekonomi mikro untuk menentukan apa yang harus
dimasukkan atau dikeluarkan dari perhitungan akuntansi.
Beberapa gerakan massa pada tahun 1960-an, terutama yang ditujukan
untuk membuat pemerintah dan bisnis lebih responsif terhadap kebutuhan
masyarakat, memiliki andil dalam memfokuskan perhatian pada biaya dan
manfaat sosial.
Pada tahun 1960-an juga terdapat pertumbuhan dalam gerakan lingkungan
ketika lebih banyak orang menyadari dampak dari industrialisasi pada kualitas
udara, air, dan tanah. Undang-undang disahkan untuk melindungi sumber daya
alam ini dan mengendalikan pembuangan limbah beracun. Hukum menetapkan
standar untuk emisi polusi dan mengenakan denda kepada siapa pun yang
melanggarnya. Para pelaku bisnis diminta untuk mengendalikan emisi polusi dan
bekerja sama dengan pemerintah untuk mengembangkan dan menerapkan rencana
untuk mengurangi polusi.
Konsumen

menjadi

lebih

tegas

pada

tahun

1960-an,

sehingga

menimbulkan gerakan hak-hak konsumen. Kelompok-kelompok konsumen


berusaha untuk membuat para pelaku bisnis dan produk-produk mereka lebih
responsif terhadap kebutuhan konsumen. Usaha-usaha dilakukan untuk membuat
produk-produk yang berbahaya atau tidak sehat diperbaiki atau ditarik dari pasar.
Pesan teliti sebelum membeli tidak lagi dianggap sebagai praktik bisnis normal.
Berbagai buku mengenai keselamatan produk dan mutu membantu mendorong
undnag-undang perlindungan hak konsumen.
Dengan menetapkan undang-undang dibidang ini, pemerintah memaksa
individu dan para pelaku bisnis untuk menjadi lebih responsive terhadap
kebutuhan sosial. Walaupun pelaksanaan undang-undang ini cenderung lemah,
fakta bahwa undang-undang tersebut ada dan mengenakan sanksi mendorong
kepatuhan. Secara bertahap, undang-undang tersebut telah membawa dampak
positif. Terdapat banyak perusahaan yang peka akan lingkungan. Hal ini tampak

dari munculnya akun-akun yang terkait dengan kegiatan sosial pada laporanlaporan keuangannya.
2.3

Permasalahan Sosial Indonesia


Jika dilihat dari kondisi Indonesia pada saat ini, krisis yang

berkepanjangan telah menempatkan bangsa ini pada krisis multi-dimensi yang


mencakup hamper seluruh aspek kehidupan. Jika dilihat secara lebih seksama dari
sudut pandang aspek ekonomi, sendi-sendi perekonomian (investasi, produksi,
dan distribusi) lumpuh sehingga menimbulkan kebangkrutan dunia usaha,
meningkatnya jumlah pengangguran, menurunnya pendapatan perkapita dan daya
beli masyarakat, dan pada akhirnya bermuara pada meningkatnya angka jumlah
penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan. Dengan tingginya suku bunga
yang mencapai 60 persen pada puncak krisis saat itu, sangat sulit bagi sektor
perbankan untuk menyalurkan kredit. Hal ini semakin dipersulit dengan ketatnya
aturan likuiditas di sektor perbankan sebagai akibat dari akumulasi kredit macet
bank-bank bermasalah, yang mendorong pemerintah melakukan likuidasi,
restrukturisasi dan rekapitalisasi perbankan.
Krisis ekonomi yang melanda bangsa Indonesia mengakibatkan timbulnya
berbagai hal yang tidak pasti, sehingga indikator-indikator ekonomi seperti tingkat
suku bunga, laju inflasi, fluktuasi nilai tukar rupiah, indeks harga saham
gabungan, dan sebagainya sangat rentan terhadap masalah-masalah sosial. Hal ini
membuktikan bahwa aspek sosial dan aspek politik dapat mengundang dua
sentiment pasar yang bermuara pada instabilitas ekonomi. Kondisi seperti ini
tentunya berdampak buruk bagi peta bisnis dan iklim investasi di Indonesia,
terutama untuk mendapatkan kepercayaan investor asing untuk menanamkan
modalnya di Indonesia. Upaya-upaya pemerintah untuk meyakinkan dunia
internasional akan stabilitas sosial, politik, dan keamanan belum menunjukkan
tanda-tanda yang berarti karena tidak didukung oleh data dan fakta yang
sebenarnya. Bahkan, para investor asing berencana untuk melakukan realokasi
bisnis dan investasinya ke negara-negara Asia Tenggara lainnya, seperti Vietnam,
Thailand, dan Kamboja yang dianggap lebih kondusif untuk investasi.

Gambaran ini tentunya merupakan cerita buruk bagi dunia bisnis


Indonesia, sehingga investor asing mengalami trauma untuk investasi di negara
ini. Selain itu, beberapa contoh kasus pada table berikut juga menggambarkan
betapa rentannya dunia usaha terhadap konflik dan berbagai masalah sosial
lainnya. Maraknya aksi demonstrasi buruh, penjarahan gudang, perusakan gedung
dan pabrik, dan penggarapan liar atas lahan milik perusahaan oleh masyarakat
yang meyakini bahwa tanah dan hak-hak mereka yang dirampas oleh penguasa
pada masa lalu dapat digarap kembali semakin memperkuat fakta akan stabilitas
sosial yang tidak kondusif, dan tentunya bermuara pada lambatnya laju
pertumbuhan ekonomi, terpuruknya dunia usaha, dan tidak menentunya iklim
investasi.
Contoh permasalahan sosial pada dunia bisnis di Indonesia
No.
1.

Contoh Kasus
Lokasi
Permasalahan Sosial
PT. Inti Indorayon Porsea, Prof. Sumatera Dihentikan operasinya karena
Utama

Utara

masalah lingkungan dan masalah


kemasyarakatan di sekitar industry

2.

PT Exxon Mobil

3.

PT

Lhokseumawe,

tersebut
Aceh Menghentikan kegiatan produksi

Utara, Prov. DI Aceh


Ajinomoto Prov. DKI Jakarta

Indonesia

karena faktor stabilitas ekonomi.


Penarikan
distribusi
dan
penghentian

aktivitas

produksi

karena masalah sertifikasi halal


4.

Beberapa perusahaan Prov. Riau

oleh MUI
Mendapatkan

kertas di Riau

masyarakat setempat sehubungan

protes

dari

dengan masalah limbah industry


5.

PT Maspion Indonesia

Sidoarjo,

dan pencemaran lingkungan.


Surabaya, Permasalahan demonstrasi buruh

Prov. Jawa Timur


6.

PT Telkom Indonesia

dan

masalah

karyawan
Divre IV, Prov. Jawa Serikat karyawan
Tengah dan DIY

menolak

penjualan

kesejahteraan
PT Telkom
Divre

IV

7.

PT BCA

8.

PT

Prov. DKI Jakarta

Kereta

Api Prov. DKI Jakarta

Indonesia

kepada PT Indosat
Serikat pekerja menolak divestasi
saham BCA
Serikat
pekerja

menolak

kembalinya dewan direksi lama


karena

dianggap

jawab

atas

bertanggung

beberapa

kasus

kecelakaan kereta api yang terjadi


9.

Bank

Internasional Prov. DKI Jakarta

Indonesia
10.

PT Gudang Garam

Kediri, Jawa Timur

di Indonesia
Tuntutan

karyawan

atas

peningkatan

gaji,

dan

upah,

kesejahteraan pekerja.
Mogok kerja missal

karena

karyawab menuntut perbaikan gaji


dan kesejahteraan pekerja

2.4

Tanggapan Perusahaan
Sebelum tahun 1960-an, beberapa perusahaan telah dianggap sebagai

warga Negara yang baik. Perusahaan-perusahaan tersebut memperoleh reputasi


ini dengan menghasilkan produk-produk berkualitas, memperlakukan pekerja
dengan rasa hormat, memberikan kontribusi kepada komunitas, atau membantu
fakir miskin.
Dipihak lain, banyak perusahaan dan asosiasi industri berperang untuk
mengubah peraturan pemerintah yang baru atau mencoba untuk mengikisnya
melalui ketidakpatuhan. Dalam kasus ini, manajemen mungkin merasa bahwa
beberapa dari peraturan tersebut, seperti undang-undang perlindungan lingkungan,
akan memiliki dampak ekonomi negatif terhadap perusahaan mereka karena biaya
untuk mematuhi undang-undang tersebut jika tidak sesuai dengan manfaatnya.
Tanggapan Profesi Akuntan

Dengan diberlakukannya undang-undang yang menetapkan programprogram sosial pemerintah, bebrapa akuntan merasa bahwa mereka sebaiknya
menggunakan keahlian mereka untuk mengukur efektivitas dari program tersebut.
Secara ringkas, literatur awal dari akuntansi sosial menyatakan bahwa para
akuntan diperlukan untuk menghasilkan data mengenai tanggung jawab
perusahaan dan bahwa ada pihak-pihak lain yang berkepentingan (selain
perushaan) yang akan tertarik dengan data-data ini.
2.5

Akuntansi untuk Manfaat dan Biaya Sosial


Dasar bagi kebanyakan teori akuntansi sosial datang dari analisis yang

dilakukan oleh A.C. Pigou terhadap biaya dan manfaat sosial. A.C.Pigou adalah
seorang ekonom neo-klasik yang memperkenalkan pemikiran mengenai biaya dan
manfaat sosial kedalam ekonomi mikro pada tahun 1920. Titik pentingnya adalah
bahwa optimalitas-Pareto (titik dalam ekonomi kesejahteraan dimana adalah
mungkin untuk meningkatkan kesejahteraan seseorang tanpa mengurangi
kesejahteraan dari orang lain) tidak dapat dicapai selama produk sosial neto dan
produk pribadi neto tidak serata.
Suatu analisis yang serupa dapat dibuat dalam hal biaya. Bagi Pigou, biaya
sosial terdiri atas seluruh biaya untuk menghasilkan suatu produk, tanpa
mempedulikan siapa yang membayarnya. Biaya yang di bayarkan oleh produsen
disebut sebagai biaya pribadi. Selisih antara biaya sosial dan biaya pribadi
(disebut sebagai biaya sosial yang tidak dikompensasikan) dan disebabkan oleh
banyak faktor.
Menurut Pigou, optimalitas-Pareto hanya dapat dicapai jika manfaat sosial
marginal sama dengan biaya sosial marginal. Perbedaan antara Pigou dengan
model ekonomi tradisional- dimana pendapatan marginal setara dengan biaya
marginal- berasal dari perbedaan antara manfaat sosial dan pribadi dengan biaya
sosial dan pribadi.
Dengan demikian, ketika akuntan mengukur manfaat pribadi (pendapatan)
dan biaya pribadi (beban) serta mengabaikan yang lainnya, mereka bersikap
konsisten dengan teori ekonomi tradisional. Gerakan kearah akuntansi sosial,

sebagian besar terdiri dari usaha-usaha untuk memasukkan biaya sosial dan biaya
sosial yang tidak terbagi kedalam model akuntansi.
1. Teori Akuntansi Sosial
Berdasarkan analisis Pigou dan gagasan mengenai suatu kontrak sosial,
K.V.Ramanathan (1976) mengembangkan suatu kerangka kerja teoritis untuk
akuntansi atas biaya dan manfaat sosial.
Terdapat dua masalah utama dengan pendekatan Ramanathan. Pertama,
untuk menentukan kontribusi neto kepada masyarakat, beberapa jenis system nilai
harus ditentukan. Bagaimana entitas tersebut menentukan apa yang merupakan
kontribusi atau apa yang merupakan kerugian bagi masyarakat?. Beberapa
kerugian seperti polusi secara universal dibenci dan memasukkannya dalam suatu
laporan akuntansi dan dibenarkan dengan relative mudah.
Masalah utama kedua berkaitan dengan pengukuran. Adalah teramat sulit
untuk menguantifikasi jumlah pos yang akan dimasukkan dalam laporan
kontribusi neto kepada masyarakat.
2. Pengukuran
Salah satu alasan utama dari lambatnya kemajuan akuntansi sosial adalah
kesulitan dalam mengukur kontribusi dan kerugian. Proses tersebut terdiri atas
tiga langkah, yaitu :
1) Menentukan apa yang menyusun biaya dan manfaat sosial.
2) Mencoba untuk menguantifikasi seluruh pos yang relevan.
3) Menempatkan nilai moneter pada jumlah akhir.
3. Menetukan Biaya dan Manfaat Sosial
Cara lain untuk mengidentifikasi asal dari biaya dan manfaat sosial adalah
dengan memeriksa proses distribusi dan produksi perusahaan individual guna
mengidentifikassi bagaimana kerugian dan kontribusi serta menentukan
bagaimana hal itu terjadi. Jika satu bagian dari proses produksidan distribusi
diperiksa mungkin ditemukan produk sampingan yang negative diciptakan

bersama-sama dengan produk yang berguna. Pada titik ini dalam proses produksi
biaya sosial, seperti polusi udara dan air, kemungkinan besar akan muncul yang
mengarah pada dampak negarif yang tidak dikompensasikan terhadap umat
manusia.
4.

Kuantifikasi terhadap Biaya dan Manfaat


Ketika aktivitas yang menimbulkan biaya dan manfaat sosial ditentukan

dari kerugian serta kontribusi tertentu diidentifikasikan, maka dampak pada


manusia dapat dihitung. Untuk mengukur suatu kerugian dibutuhkan informasi
mengenai variable-variabel utama, yaitu waktu dan dampak.
1) Waktu
Beberapa peristiwa yang menghasilkan biaya sosial membutuhkan waktu
beberapa tahun untuk menimbulkan suatu akibat. Dalam hal pengukuran, adalah
penting untuk menentukan lamanya waktu tersebut. dampak jangka panjang
sebaiknya diberikan bobot yang berbeda dengan dampak jangka pendek.
2) Dampak
Orang-orang dapat dipengaruhi secara ekonomi, fisik, psikologis, dan
sosial oleh berbagai kerugian. Untuk mengukur biaya sosial tersebut adalah perlu
untuk

mengidentifikasikan

kerugian-kerugian

tersebut

dan

menguantifikasikannya.
Biaya-biaya tersebut dapat diklasifikasikan sebagai kerugian ekonomi,
fisik, psikologis, atau sosial.
1) Kerugian ekonomi
Biaya-biaya ini meliputi tagihan pengobatan dan rumah sakit yang tidak
dikompensasi, hilangnya produktivitas, dan hilangnya pendapatan yang diderita
oleh pekerja. Jelaslah, perhitungan ganda atas hilangnya pendapatan dan
produktivitas harus duhindari.
2) Kerugian fisik
Menghitung nilai dari kehidupan atau kesehatan manusia adalah hal yang
sulit untuk dilakukan, tetapi seringkali dicoba dalam analisis biaya-manfaat yang
tradisional.

3) Kerugian psikologis
Kerugian-kerugian ini juga sulit untuk dikuantifikasi dan harus
didiskontokan pada tingkat bunga yang sesuai.
4) Kerugian sosial
Dalam keluarga pekerja, perubahan peran dapat terjadi sebagai akibat dari
penyakit tersebut. keluarga tersebut dapat menjadi begitu trauma sehingga terjadi
perpecahan. Nilai sekarang dari seluruh dampak ini bagaimanapun juga harus
dihitung.
2.6

Pelaporan Kinerja Sosial


Kerangka kerja akuntansi sosial belum secara penuh dikembangkan dan

terdapat masalah pengukuran yang serius mengenai biaya dan manfaat. Meskipun
demikian, sejumlah penulis telah menyarankan agar perusahaan melaporkan
kinerja akuntansi sosialnya baik secara internal maupun secara eksternal.
Pendekatan-pendekatan tersebut meliputi :
1. Audit Sosial
Audit sosial mengukur dan melaporkan dampak ekonomi, sosial, dan
lingkungan dari program-program yang berorientasi sosial dan operasi perusahaan
yang reguler.
Audit sosial adalah serupa dengan audit keuangan dalam hal bahwa audit
sosial mencoba untuk secara independen menganalisis suatu perusahaan dan
menilai kinerja. Setelah audit sosial diselesaikan, perusahaan harus memutuskan
apakah akan menginformasikannya kepublik.
2. Laporan-laporan Sosial
David Linowes telah mengembangkan laopran operasi sosio-ekonomi
untuk digunakan sebagai dasar untuk melaporkan informasi akuntansi sosial.
Linowes membagi laporannya kedalam tiga kategori :
1) Hubungan dengan manusia
2) Hubungan dengan lingkungan
3) Hubungan dengan produk

3. Pengungkapan dalam Laporan Tahunan


Ditemukan bahwa secara umum, jumlah perusahaan yng mengungkapkan
informasi sosial dan jumlah pengungkapan meningkat dengan stabil. Sekitar 90
persen dari perusahaan yang termasuk dalam laporan tahunan bersifat sukarela
dan selektif, dapat diargumentasikan bahwa informasi tersebut memiliki nilai
yang dipertanyakan dan seseorang tidak dapat menilai kinerja sosial dari
perusahaan tersebut berdasarkan laporan tahunannya.
4. Perkembangan luar negeri
Bentuk pelaporan model Eropa yang telah digunakan oleh sejumlah
perusahaan

adalah

bentuk

yang

dikembangkan

serta

digunakan

oleh

DeutscheShell (perusahaan minyak Shell di Jerman). Serupa dengan laporan dari


perusahaan-perusahaan di Prancis, laporan Deutsche Shell menekankan pada
hubungan perusahaan dengan karyawannya. Akan tetapi, laporan tersebut juga
memberikan informasi mengenai sejumlah bidang lainnya yang berurusan dengan
tanggung jawab sosial perusahaan.

2.7

Arah Riset
Riset dalam akuntansi sosial telah cukup ekstensif dan berfokus pada

berbagai subjek yang berkisar dari pengembangan kerangka kerja teoretis sampai
mensurvei pngguna potensial dari data akuntansi sosial bagi investor.
Studi mengenai kegunaan informasi sosial bagi investor dapat dibagi menjadi dua
bidang utama, yaitu :
1) Survey atas investor potensial
2) Pengujian empiris terhadap dampak pasar dari pengungkapan akuntansi sosial.
Studi mengenai reaksi pasar modal terhadap pengungkapan informasi sosial
menyarankan

agar

investor

menyesuaikan

perkiraan

mereka

terhadap

pengungkapan informasi akuntansi sosial. Tidak terdapat kesimpulan yang jelas


dari riset mengenai hubungan antara kinerja sosial, kinerja ekonomi, dan
pengungkapan sosial.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Walaupun dimensi-dimensi akuntansi sosial masih banyak menyimpan
berbagai permasalahan, namun hal tersebut bukan merupakan alas an utama untuk
tidak

meneruskan

pencarian-pencarian

penting

untuk

menyelesaikan

permasalahan-permasalahan tersebut. Aspek keprilakuan terutama oleh pihak


investor, akan sangat menentukan perkembangan akuntansi sosial dimasa akan
datang. Terlepas dari itu semua ,akuntansi sosial telah menjadi salah satu cabang
akuntansi yang mencoba menguraikan dampak dari berdirinya suatu entitas bisnis.
Baik bagi lingkungan internalnya maupun eksternalnya.
Selain itu, banyak pihak yang meyakini bahwaaspek-aspek keuangan
belum mencukupi untuk digunakan sebagai landasan bagi keputusan bisnis.
Banyak bukti yang mengungkapkan fenomena tersebut. hal ini ditunjukkan oleh

banyaknya perusahaan yang secara keuangan layak untuk dimiliki investor, tetapi
belum dilirik oleh mereka. Pihak investor masih menunggu aspek-aspek lainnya
yang melindungi entitas tersebut. Pengalaman menunjukkan bahwa aspek seperti
politik, budaya, dan kondisi ekonomi makro sangat berperan dalam mendukung
entitas bisnis.

DAFTAR PUSTAKA
Lubis, Arfan Ikhsan, 2010. Akuntansi Keperilakuan. Salemba Empat: Jakarta.
http://kaukesbokan.blogspot.co.id/2013/05/akuntansi-sosial.html Diakses tanggal
14 Desember 2015
http://irma-yuni.blogspot.co.id/2012/06/akuntansi-sosial.html Diakses tanggal 14
Desember 2015