Anda di halaman 1dari 12

Faktor Penghambat Qatar Menjadi

Tuan Rumah Piala Dunia 2022


Oleh:
Sonia Regina F.
Dicky Efraim
Ladies Lathifah
Ushamah

(1202045057)
(1202045051)
(1202045058)
(1202045050)

Latar Belakang
Piala Dunia FIFA, atau sering disebut Piala Dunia saja,
adalah kompetisi sepak bola internasional yang diikuti oleh
tim nasional putra senior anggota Fdration Internationale
de Football Association (FIFA), badan pengatur sepak bola
dunia. Kejuaraan ini telah diselenggarakan setiap empat
tahun sekali sejak turnamen 1930, kecuali pada tahun 1942
dan 1946, yang tidak diselenggarakan karena Perang Dunia
II.
Piala Dunia adalah salah satu kompetisi olahraga yang
paling banyak disaksikan di dunia, bahkan melampaui
Olimpiade; diperkirakan 715,1 juta orang di seluruh dunia
menyaksikan pertandingan final Piala Dunia FIFA 2006 yang
digelar di Jerman.Dua Piala Dunia berikutnya akan
diselenggarakan di Rusia pada 2018 dan di Qatar pada
2022.

Rumusan Masalah

"Apa saja faktor-faktor penghambat


Qatar menjadi tuan rumah Piala
Dunia 2022?"

Proses Pemilihan
Pada awalnya, Piala Dunia diselenggarakan oleh negara-negara
yang dipilih melalui kongres FIFA. Pemilihan lokasi ini seringkali
kontroversial karena Amerika Selatan dan Eropa, dua pusat kekuatan
utama sepak bola, berjarak sangat jauh dan perjalanannya
menghabiskan waktu tiga minggu dengan kapal laut.
Dua Piala Dunia berikutnya diselenggarakan di Eropa. Keputusan
FIFA yang memilih Perancis sebagai tuan rumah Piala Dunia 1938
dikecam negara-negara Amerika Selatan telah sepakat bahwa lokasi
Piala Dunia akan bergantian antara dua benua tersebut. Akibatnya,
Argentina dan Uruguay memboikot Piala Dunia FIFA 1938.
Sejak 1958, untuk menghindari boikot atau kontroversi yang
mungkin terjadi pada masa depan, FIFA mulai menerapkan pola tuan
rumah bergiliran antara Eropa dan Amerika, yang tetap digunakan
hingga Piala Dunia FIFA 1998. Piala Dunia FIFA 2002, yang
diselenggarakan bersama-sama oleh Korea Selatan dan Jepang,
adalah Piala Dunia pertama yang digelar di Asia, dan satu-satunya
turnamen yang dituan rumahi oleh lebih dari satu negara.

Saat ini, negara tuan rumah dipilih melalui pemungutan suara oleh Komite
Eksekutif FIFA. Pemilihan ini dilakukan dengan menggunakan sistem surat suara
lengkap. Asosiasi sepak bola nasional di negara yang ingin menjadi tuan rumah
Piala Dunia menerima "Perjanjian Penyelenggaraan" dari FIFA. Asosiasi sepak bola
yang mengajukan pencalonan juga menerima sebuah formulir berupa konfirmasi
resmi dari si pencalon. Setelah itu, panitia yang ditunjuk oleh FIFA akan
mengunjungi negara calon tuan rumah untuk menilai apakah negara tersebut
memenuhi persyaratan untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia, dan kemudian
membuat laporan untuk dikirim pada Komite Eksekutif FIFA. Meskipun demkian,
ada situasi saat tuan rumah Piala Dunia mendatang diumumkan pada waktu yang
bersamaan, misalnya dalam pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022,
yang masing-masingnya diberikan kepada Rusia dan Qatar.

Proses Terpilihnya Qatar

Tahapan pemilihan tuan rumah Piala Dunia FIFA 2018 dan 2022 dimulai sejak
Januari 2009, dimana asosiasi nasional memiliki waktu hingga 2 Februari 2009
untuk mendaftarkan diri. Pada awalnya, tujuh negara mengajukan penawaran
untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA 2018, tetapi Meksiko kemudian
mengundurkan diri. Penawaran Indonesia ditolak oleh FIFA pada Februari 2010
karena tidak adanya dukungan tertulis dari pemerintah. Selama proses pemilihan,
negara-negara non-UEFA secara bertahap mundur dari pemilihan tuan rumah
2018, sementara negara-negara UEFA mundur dari pemilihan tuan rumah 2022.
Sehingga, tersisa lima penawaran untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA
2022: Australia, Jepang, Qatar, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Dua puluh
dua anggota Komite Eksekutif FIFA bertemu di Zrich pada 2 Desember 2010
untuk memberikan suaranya dalam memilih tuan rumah kedua turnamen
tersebut.

Pemilihan Tuan Rumah Piala Dunia FIFA


2022 (Mayoritas 12 Suara)
Calon Tuan
Rumah

Suara
Putaran 1

Putaran 2

Putaran 3

Putaran 4

11

10

11

14

AMERIKA
SERIKAT

KOR-SEL

JEPANG

QATAR

Tersingkir
2
Tersingkir

Tersingkir

Tersingkir

Tersingkir

AUSTRALIA

Tersingkir

Kelebihan Qatar Sebagai Tuan Rumah


Piala Dunia 2022
Jarak stadion antara satu dan yang lainnya lebih
dekat, sehingga para penonton dapat menikmati
lebih dari satu laga perhari.
Adanya jaringan kereta api modern yang
diharapkan orang-orang akan dapat bepergian ke
berbagai tempat tanpa banyak kesulitan
Semua stadion dirancang tidak hanya dengan
desain yang mengagumkan, tapi juga bebas
karbon.
Fakta bahwa Qatar adalah negara yang sangat
kaya juga sangat membantu.

Faktor - Faktor Penghambat Qatar


Sebagai Tuan Rumah Piala Dunia
1.Faktor
2022 Cuaca
Panasnya suhu gurun tetap menjadi sebuah
masalah, seperti yang telah disebutkan oleh tim
pemeriksa FIFA dalam laporan teknisnya. Selama
musim panas suhu bisa mencapai setinggi 50
derajat celcius.
Menanggapi masalah ini, sebanyak 54 anggota
UEFA memberikan dukungan mereka agar Piala
Dunia digelar saat musim dingin. Namun, masalah
baru bisa kembali muncul karena pada musim
dingin kompetisi domestik diberbagai negara
terutama negara-negara Eropa masih berlangsung.

2. Isu Hak Asasi Manusia


Qatar juga tak lepas dari kritikan terkait kondisi tidak
manusiawi para pekerja konstruksi. Sebuah laporan dari
Konfederasi Persatuan Dagang Internasional, Maret lalu,
mengklaim sebanyak 1.200 pekerja telah kehilangan nyawa
saat membangun stadion-stadion yang dipersiapkan untuk
Piala Dunia 2022.
Tak hanya itu, sebuah situs Inggris, London Loves Business,
juga mengunggah data yang menunjukkan tingginya tingkat
kematian pekerja dalam pengerjaan konstruksi persiapan Piala
Dunia Qatar, dibandingkan dengan pengerjaan konstruksi even
olahraga lainnya, seperti Olimpiade di London.
Akan tetapi, sebuah email yang dikirimkan pihak Qatar kepada
London Loves Business, menepis semua data tersebut dan
mengklaim tidak ada satupun korban dalam persiapan Piala
Dunia.
Namun, yang perlu ditekankan lagi para buruh-buruh bekerja
bukan hanya untuk persiapan Piala Dunia semata banyak
diantara dari mereka merupakan buruh yang dipekerjakan jauh
sebelum persiapan piala dunia dimulai. Dan semenjak Qatar
terpilih permintaan akan buruh pun menjadi lebih banyak.

3. Isu Politik
Dari segala isu yang ada, isu politik adalah isu yang paling bisa
megancam staus Qatar sebagi tuan rumah Piala Dunia 2022.
Isu ini berawal ketika FIFA menghadapi tuduhan korupsi baru atas
keputusan mereka memilih Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022.
Dalam jutaan dokumen rahasia - termasuk surel, surat, dan bukti transfer yang mengindikasikan bukti bahwa pejabat sepak bola Qatar yang telah
dipecat, Mohamed Bin Hammam, membayar US$5 juta (Rp58 miliar)
kepada FIFA sebagai imbalan karena terpilih sebagai tuan rumah piala
dunia. Panitia Qatar 2022 dan Bin Hammam selalu membantah melakukan
lobi dengan mantan wakil presiden FIFA menjelang Klik pengumuman
dilakukan pada Desember 2010.
Namun menurut surel yang diterima Sunday Times dan dilihat juga
oleh BBC, jelas menunjukan bahwa Bin Hammam, 65, melakukan lobi
untuk negaranya setidaknya setahun sebelum keputusan dibuat. Sejumlah
dokumen juga menunjukan bagaimana Bin Hammam melakukan
pembayaran langsung ke pejabat resmi di Afrika.Tuduhan baru ini semakin
menekan FIFA untuk segera menggelar undian ulang bagi tuan rumah Piala
Dunia 2022. Kepala penyelidik FIFA Michael Garcia sudah melakukan
pemeriksaan atas dugaan korupsi dan kesalahan dalam penentuan tuan
rumah Piala Dunia 2018 dan 2022. Jika terbukti maka status Tuan Rumah
Qatar dapat dicabut dan akan dilkukan pemilihan ulang.

Anda mungkin juga menyukai