Anda di halaman 1dari 5

Pemicu 1:

Elsa dan Ana adalah teman sekelas di SMP, mereka sedang menjalani puasa di bulan syawal,
di Sekolah mereka berolahraga basket, setelah 15 menit elsa dan Ana merasa kelelahan dan
meminta ijin untuk tidak mengikuti kegiatan olahraga. Pada saat sahur Elsa makan nasi dan
tempe goreng, sedangkan Ana sahur dengan Soto daging.

Dalam Keadaan Kenyang, Terjadi Penyimpanan Bahan Bakar Metabolik


Selama beberapa jam setelah makan, ketika produk-produk pencernaan diserap, pasokan
bahan bakar metabolik berlimpah. Pada keadaan ini, glukosa adalah bahan bakar utama untuk
oksidasi di sebagian besar jaringan; hal ini teramati sebagai peningkatan kuosien respirasi
(rasio karbon dioksida yang diproduksi terhadap oksige n yang dikonsumsi) dari sekitar 0,8
dalam keadaan puasa hingga mendekati 1
Ambilan glukosa oleh otot dan jaringan adiposa dikontrol oleh insulin yang disekresikan oleh
sel B pankreas sebagai respons terhadap peningkatan kadar glukosa di darah porta. Dalam
keadaan puasa, transporter glukosa di otot dan jaringan adiposa (GLUT-4) berada di vesikel
intrasel. Respons dini terhadap insulin adalah migrasi vesikel-vesikel ini ke permukaan sel,
tempat vesikelvesikel tersebut menyatu dengan membran plasma dan memajankan
transporter glukosa aktif. Jaringan yang pekainsulin ini hanya menyerap glukosa dari aliran
darah dalam jumlah signifikan jika terdapat hormon ini. Sewaktu sekresi insulin berkurang
dalam keadaan puasa, reseptor kembali diinternalisasi sehingga ambilan glukosa berkurang.
Ambilan glukosa oleh hati tidak bergantung pada insulin, tetapi hati memiliki suatu isoenzim
heksokinase (glukokinase) dengan Km tinggi sehingga ketika kadar glukosa yang masuk ke
hati meningkat, laju sintesis glukosa 6-fosfat juga meningkat. Hal ini melebihi kebutuhan hati
akan metabolisme pembentuk-energi, dan digunakan terutama untuk membentuk glikogen. Di
hati dan otot rangka, insulin bekerja untuk merangsang glikogen sintetase dan menghambat
gliliogen fosforilase. Sebagian glukosa yang masuk ke hati juga dapat digunakan untuk
lipogenesis dan karenanya untuk sintesis triasilgliserol. Di jaringan adiposa, insulin
merangsang penyerapan glukosa, konversinya menjadi asam lemak, dan esterifikasinya
menjadi triasilgliserol. Insulin menghambat lipolisis intrasel dan pelepasan asam lemak
bebas.
Produk pencernaan lipid masuk ke sirkulasi sebagai kilomikron, yaitu lipoprotein plasma
terbesar yang kaya akan triasilgliserol (lihat Bab 25:). Di jaringan adiposa dan otot rangka,
lipoprotein lipase ekstrasel disintesis dan diaktifkan sebagai respons terhadap insulin; asam
lemak tidak-teresterifikasi yang terbentuk sebagian besar diserap oleh jaringan dan digunakan
untuk sintesis triasilgliserol, sementara gliserol tetap berada di dalam darah dan diserap oleh
hati serta digunakan untuk glukoneogenesis dan sintesis glikogen atau lipogenesis. Asam
lemak yang menetap di dalam darah diserap oleh hati dan direesterifikasi. Sisa kilomikron
yang lipidnya sudah berkurang dibersihkan oleh hati, dan triasilgliserol yang tersisa dielapor,
bersama dengan triasilgliserol yang disintesis di hati, dalam bentuk lipoprotein berdensitas
sangat-rendah (VLDL).
Pada keadaan normal, laju katabolisme protein jaringan relatif konstan sepanjang hari;
peningkatan laju katabolisme protein hanya terjadi pada keadaan kahelrsia yang disebabkan
oleh kanker stadium lanjut dan penyakit lain. Pada keadaan puasa terjadi katabolisme protein
netto dan sintesis protein netto pada keadaan kenyang ketika laju sintesis meningkat sebesar
20-25o/o. Peningkatan laju sintesis protein sebagai respons terhadap peningkatan

ketersediaan asam amino dan bahan bakar metabolik juga merupakan resPons terhadap kerja
insulin. Sintesis protein adalah suatu proses yang menghabiskan banyak energi; sintesis ini
dapat memerlukan hingga 20% pengeluaran energi saat istirahat setelah makan, tetapi hanya
9o/o pada keadaan puasa.

PadaKeadaan Puasa Terjadi Mobilisasi Cadangan Bahan Bakar Metabolik


Pada keadaan puasa terjadi penurunan ringan kadar glukosa plasma, kemudian perubahan
kecil sewaktu puasa berlanjut menjadi kelaparan. Asam lemak bebas plasma bertambah
pada keadaan puasa, tetapi kemudian bertambah sedikit pada keadaan kelaparan; sewaktu
puasa berlanjut, kadar plasma badan keton (asetoasetat dan B-hidroksibutirat) sangat
meningkat
Pada keadaan puasa, ketika kadar glukosa di darah porta menurun) sekresi insulin menurun
dan otot rangka serta jaringan lemak menyerap lebih sedikit glukosa. Peningkatan sekresi
glukagon oleh sel o pankreas menghambat glikogen sintetase, dan mengaktifkan glikogen
fosforilase di hati.
Glukosa 6-fosfat yang terbentuk kemudian dihidrolisis oleh glukosa 6-fosfatase, dan glukosa
dibebaskan ke dalam aliran darah untuk digunakan oleh otak dan eritrosit.
Glikogen otot tidak dapat memberi kontribusi langsung bagi glukosa plasma karena otot tidak
memiliki glukosa 6-fosfatase, dan kegunaan utama glikogen otot adalah menyediakan suatu
sumber bagi glukosa 6-fosfat untuk metabolisme penghasil energi di otot itu sendiri.
Namun, asetil-KoA yang terbentuk melalui oksidasi asam lemak di otot menghambat piruvat
dehidrogenase yang menyebabkan akumulasi piruvat. Sebagian besar piruvat ini mengalami
transaminasi menjadi alanin, dengan mengorbankan asamasam amino yang berasal dari
penguraian cadangan protein 'labil' yang terbentuk pada keadaan kenyang. Alanin, dan
sejumlah besar asam-asam keto yang dihasilkan dari transaminasi ini dikeluarkan dari otot,
dan diserap oleh hati tempat alanin mengalami transaminasi untuk menghasilkan piruvat.
Asam-asam amino yang terbentuk sebagian besar diekspor kembali ke otot, dan menyediakan
gugus amino untuk membentuk lebih banyak alanin, sementara piruvat adalah substrat utama
untuk glukoneogenesis di hati.
Di jaringan adiposa penurunan insulin dan peningkatan glukagon menyebabkan terhambatnya
lipogenesis, inaktivasi lipoprotein lipase, dan pengaktifan lipase peka-hormon intrasel (Bab
25). Hal ini menyebabkan peningkatan pelepasan gliseroi (yaitu substrat untuk

glukoneogenesis di hati) dan asam lemak bebas dari jaringan adiposa yang digunakan oleh
hati, jantung, dan otot rangka sebagai bahan bakar metabolik yang lebih disukai sehingga
glukosa dapat dihemat.
Meskipun dalam keadaan puasa otot cenderung menyerap dan memetabolisme asam lemak
bebas, namun jaringan ini tidak dapat memenuhi semua kebutuhan energinya melalui
oksidasi-p. Sebaliknya, hati memiliki kapasitas lebih besar untuk oksidasi-p daripada
kapasitas yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan energinya sendiri, dan ketika keadaan
puasa berlanjut, hati membentuk lebih banyak asetil-KoA daripada yang dapat dioksidasinya.
Asetil-KoA ini digunakan untuk membentuk badan keton (Bab 22), yaitu bahan bakar
metabolik utama untuk otot rangka dan jantung serta dapat memenuhi sebagian kebutuhan
energi otak. Dalam keadaan kelaparan berkepanjangan, glukosa membentuk kurang dari
10o/o keseluruhan metabolisme penghasil-energi tubuh. Jika tidak ada sumber glukosa lain,
glikogen hati dan otot akan habis setelah puasa sekitar 18 jam. Jika berpuasa berlanjut,
semakin banyak jumlah asam amino yang dibebaskan akibat kataboiisme protein yang
digunakan oieh hati dan ginjal untuk glukoneogenesis