Anda di halaman 1dari 16

-

Bahan restorasi merupakan salah satu bahan yang


banyak dipakai dibidang kedokteran gigi. Bahan restorasi
berfungsi untuk memperbaiki dan merestorasi struktur gigi
yang rusak.Tujuan restorasi gigi tidak hanya membuang
penyakit dan mencegah timbulnya kembali karies, tetapi juga
mengembalikan fungsinya. Bahan-bahan restorasi gigi yang
ideal pada saat ini masih belum ada meskipun berkembang
pesat. Syarat untuk bahan restorasi plastis yang baik adalah :
Harus mudah digunakan dan tahan lama
Kekuatan tensil cukup
Tidak larut ileh saliva dalam rongga mulut serta tidak
korosi di salam rongga mulut
Tidak toksik dan iritatif baik pada pulpa maupun pada
gingival
Mudah dipotong dan dipoles
Derajat keausan sama dengan email
Mampu melindungi jaringan gigi sekitar dari karies
sekunder
Koefisien muai termis sama dengan enamel / dentin
Daya penyerapan airnya rendah
Bersifat adhesive terhadap jaringan gigi
Radiopaq
Untuk dapat diterima secara klinis, kita harus mengetahui
sifat-sifat bahan yang akan kita pakai sehingga jika bahanbahan baru keluar di pasaran, kita dapat segera mengenali
kebaikan dan keburukan dibanding dengan bahan yang lama.
Dua sifat yang sangat penting yang harus dimiliki oleh bahan
restorasi adalah harus mudah digunakan dan tahan lama.
Berikut adalah klasifikasi kavitas menurut Black yang juga
menentukan penggunaan dari bahan restorasi plastis yang
sesuai :
Kavitas kelas I : kavitas meliputi pit dan fissure
permukaan oklusal gigi posterior, permukaan palatal / lingual
gigi insisivus, groove bukal & lingual/palatal gigi molar.
Kavitas kelas II : kavitas pada permukaan proksimal gigigigi posterior

Kavitas kelas III : Kavitas pada permukaan proksimal gigi


anterior tanpa mengenai bagian insisal
Kavitas kelas IV : Kavitas pada permukaan proksimal gigi
anterior yang sudah mengenai insisal
Kavitas kelas V : kavitas pada gingival third semua gigi
bagian bukal/labial/lingual
Kavitas kelas VI : Kavitas pada insisal edge & cusp karena
abrasi, atrisi, dan erosi
Secara garis besar bahan restorasi gigi dapat dibedakan
menjadi dua kelompok, yaitu bahan restorasi plastis dan non
plastis atau rigid. Yang termasuk dalam kelompok bahan
plastis adalah amalgam, composite dan glass ionomer
cement (GIC), sedangkan kelompok non plastis (rigid) adalah
inlay dan onlay, mahkota full veneer, mahkota logam
porselen, dan mahkotan jaket porselen.
Dari sekian banyak jenis bahan restorasi, bahan plastis
seperti amalgam, komposit dan GIC merupakan bahan
restorasi yang paling banyak digunakan dalam dunia
kedokteran gigi.

2.1 Dental Amalgam


Merupakan bahan yang paling banyak digunakan oleh
dokter gigi, khususnya untuk tumpatan gigi posterior. Sejak
pergantian abad ini, formulasinya tidak banyak berubah, yang
mencerminkan bahwa bahan tambalan lain tidak ada yang
seideal amalgam. Komponen utama amalgam terdiri dari
liquid yaitu logam merkuri dan bubuk/powder yaitu logam
paduan yang kandungan utamanya terdiri dari perak, timah,
dan tembaga. Selain itu juga terkandung logam-logam lain
dengan persentase yang lebih kecil. Kedua komponen
tersebut direaksikan membentuk tambalan amalgam yang
akan mengeras, dengan warna logam yang kontras dengan
warna gigi.
Kelemahan utama amalgam memang terletak pada
warnanya dan tidak adanya adhesi terhadap jaringan gigi.
Walaupun sifat fisik dan kimia bahan tumpatan amalgam
sebagian
besar
telah
memenuhi
persyaratan
ADA
2

specification no. l, perlekatannya dengan jaringan dentin gigi


secara makromekanik seperti retention and resistence form,
dan undercut tidak dapat melekat secara kimia.
Prinsip retention and resistance form (dove tail, box
form dan retention
groove)
pada
lesi
karies
daerah
interproksimal, selain mengangkat jaringan karies juga
mengangkat jaringan yang sehat untuk memperoleh retensi
pada kavitas. Pada kavitas kelas II dengan isthmus dan garis
sudut bagian dalam yang lebar, akan melemahkan kekuatan
terhadap beban kunyah. Akibatnya, pasien banyak yang
mengeluh karena seringkali adanya fraktur pada tumpatan
kelas II, baik pada tumpatan MO (Mesial Oklusal), DO (Distal -,
Oklusal), maupun MOD (Mesial - Oklusal - Distal).
Kelebihan Amalgam :
Dapat dikatakan sejauh ini amalgam adalah bahan tambal
yang paling kuat dibandingkan dengan bahan tambal lain
dalam melawan tekanan kunyah, sehingga amalgam dapat
bertahan dalam jangka waktu yang sangat lama di dalam
mulut (pada beberapa penelitian dilaporkan amalgam
bertahan hingga lebih dari 15 tahun dengan kondisi yang
baik) asalkan tahap-tahap penambalan sesuai dengan
prosedur.
Ketahanan terhadap keausan sangat tinggi, tidak seperti
bahan lain yang pada umumnya lama kelamaan akan
mengalami aus karena faktor-faktor dalam mulut yang saling
berinteraksi seperti gaya kunyah dan cairan mulut.
Penambalan dengan amalgam relatif lebih simpel dan
mudah dan tidak terlalu technique sensitive bila
dibandingkan dengan resin komposit, di mana sedikit
kesalahan dalam salah satu tahapannya akan sangat
mempengaruhi ketahanan dan kekuatan bahan tambal resin
komposit.
Biayanya relatif lebih rendah
Kekurangan Amalgam :
Secara estetis kurang baik karena warnanya yang kontras
dengan warna gigi, sehingga tidak dapat diindikasikan untuk

gigi depan atau di mana pertimbangan estetis sangat


diutamakan.

Dalam jangka waktu lama ada beberapa kasus di mana


tepi-tepi tambalan yang berbatasan langsung dengan gigi
dapat menyebabkan perubahan warna pada gigi sehingga
tampak membayang kehitaman

Pada beberapa kasus ada sejumlah pasien yang ternyata


alergi dengan logam yang terkandung dalam bahan tambal
amalgam. Selain itu, beberapa waktu setelah penambalan
pasien terkadang sering mengeluhkan adanya rasa sensitif
terhadap rangsang panas atau dingin. Namun umumnya
keluhan tersebut tidak berlangsung lama dan berangsur
hilang setelah pasien dapat beradaptasi.

Hingga kini issue tentang toksisitas amalgam yang


dikaitkan dengan merkuri yang dikandungnya masih hangat
dibicarakan. Pada negara-negara tertentu ada yang sudah
memberlakukan larangan bagi penggunaan amalgam sebagai
bahan tambal.
Indikasi : Gigi molar (geraham) yang menerima beban kunyah
paling besar, dapat digunakan baik pada gigi tetap maupun
pada anak-anak.
2.2 Komposit
Generasi resin komposit yang kini beredar mulai dikenal di
akhir tahun enam puluhan. Sejak itu, bahan tersebut
merupakan bahan restorasi anterior yang banyak dipakai
karena pemakaiannya gampang, warnanya baik, dan
mempunyai sifat fisik yang lebih baik dibandingkan dengan
bahan tumpatan lain. Sejak akhir tahun enam puluhan
tersebut, perubahan komposisi dan pengembangan formulasi
kimianya relatif sedikit. Bahan yang terlebih dulu diciptakan
adalah bahan yang sifatnya autopolimerisasi (swapolimer),
sedangkan bahan yang lebih baru adalah bahan yang
polimerisasinya dibantu dengan sinar. Resin komposit
mempunyai derajat translusensi yang tinggi. Warnanya
tergantung pada macam serta ukuran pasi dan pewarna yang
dipilih oleh pabrik pembuatnya, mengingat resin itu sendiri
4

1.
2.
3.
4.

sebenarnya transparan. Dalam jangka panjang, warna


restorasi resin komposit dapat bertahan cukup baik.
Biokompabilitas resin komposit kurang baik jika dibandingkan
dengan bahan restorasi semen glass ionomer, karena resin
komposit merupakan bahan yang iritan terhadap pulpa jika
pulpa tidak dilindungi oleh bahan pelapik. Agar pulpa
terhindar dari kerusakan, dinding dentin harus dilapisi oleh
semen pelapik yang sesuai, sedangkan teknik etsa untuk
memperoleh bonding mekanis hanya dilakukan di email
perifer. 2.1.1 indikasi restorasi komposit
Resin komposit dapat digunakan pada sebagian besar
aplikasi klinis. Secara umum, resin komposit digunakan untuk:
Restorasi kelas I, II, III, IV, V dan VI
Fondasi atau core buildups
Sealant dan restorasi komposit konservatif (restorasi resin
preventif)
Prosedur estetis tambahan
Partial veneers
Full veneers
modifikasi kontur gigi
penutupan/perapatan diastema

5.
Semen (untuk restorasi tidak langsung)
6.
Restorasi sementara
7.
Periodontal splinting
8.
Restorasi kavitas klas I komposit
9.
10. The American Dental Association (ADA) mengindikasikan
kelayakan resin komposit untuk digunakan sebagai pit and
fissura sealant, resin preventif, lesi awal kelas I dan II yang
menggunakan modifikasi preparasi gigi konservatif, restorasi
kelas I dan II yang berukuran sedang, restorasi kelas V,
restorasi pada tempat-tempat yang memerlukan estetika, dan
restorasi pada pasien yang alergi atau sensitif terhadap
logam.

11. ADA tidak mendukung penggunaan komposit pada gigi


dengan tekanan oklusal yang besar, tempat atau area yang
tidak dapat diisolasi, atau pasien yang alergi atau sensitif
terhadap material komposit. Jika komposit digunakan seperti
yang telah disebutkan sebelumnya, ADA menyatakan bahwa
"ketika digunakan dengan benar pada gigi-geligi desidui dan
permanen, resin berbahan dasar komposit dapat bertahan
seumur hidup sama seperti restorasi amalgam kelas I, II, dan
V.
12. 2.3 Semen Ionomer Kaca (SIK)
13. Semen Ionomer Kaca (SIK) merupakan salah satu bahan
restorasi yang banyak digunakan oleh dokter gigi karena
mempunyai beberapa keunggulan, yaitu preparasinya dapat
minimal, ikatan dengan jaringan gigi secara khemis, melepas
fluor dalam jangka panjang, estetis, biokompatibel, daya larut
rendah, translusen, dan bersifat anti bakteri.
14. Komposisi semen ionomer kaca (SIK) terdiri atas bubuk dan
cairan. Bubuk terdiri atas kaca kalsium fluoroaluminosilikat
yang larut asam dan cairannya merupakan larutan asam
poliakrilik. Reaksi pengerasan dimulai ketika bubuk kaca
fluoroaluminosilikat dan larutan asam poliakrilik dicampur,
kemudian menghasilkan reaksi asam-basa dimana bubuk kaca
fluoroaluminosilikat sebagai basanya.
15. Pada proses pengadukan kedua komponen (bubuk dan
cairan) ion hidrogen dari cairan mengadakan penetrasi ke
permukaan bubuk glass. Proses pengerasan dan hidrasi
berlanjut, semen membentuk ikatan silang dengan ion Ca2+
dan Al3+ sehingga terjadi polimerisasi. Ion Ca2+ berperan
pada awal pengerasan dan ion Al3+ berperan pada
pengerasan selanjutnya. Secara garis besar terdapat tiga
tahap dalam reaksi pengerasan semen ionomer kaca, yaitu
sebagai berikut.
16. (1)
Dissolution
17.
Terdekomposisinya 20-30% partikel glass dan lepasnya ion-ion
dari partikel glass (kalsium, stronsium, dan alumunium) akibat
dari serangan polyacid (terbentuk cement sol).
6

18. (2)
Gelation/ hardening
19.
Ion-ion kalsium, stronsium, dan alumunium terikat pada
polianion
pada
grup
polikarboksilat.
* 4-10 menit setelah pencampuran terjadi pembentukan
rantai kalsium (fragile & highly soluble in water).
* 24 jam setelah pencampuran, maka alumunium akan terikat
pada matriks semen dan membetuk rantai alumnium (strong
& insoluble).
20. (3)
Hydration of salts
21.
Terjadi proses hidrasi yang progresive dari garam matriks
yang akan meningkatkan sifat fisik dari semen ionomer kaca.
22. Retensi semen terhadap email dan dentin pada jaringan
gigi berupa ikatan fisiko-kimia tanpa menggunakan teknik
etsa asam. Ikatan kimianya berupa ikatan ion kalsium yang
berasal dari jaringan gigi dengan gugus COOH (karboksil)
multipel dari semen ionomer kaca.
23. Adhesi adalah daya tarik menarik antara molekul yang tidak
sejenis pada dua permukaan yang berkontak. Semen ionomer
kaca adalah polimer yang mempunyai gugus karboksil (COOH)
multipel sehingga membentuk ikatan hidrogen yang kuat.
Dalam hal ini memungkinkan pasta semen untuk membasahi,
adaptasi, dan melekat pada permukaan email. Ikatan antara
semen ionomer kaca dengan email dua kali lebih besar
daripada ikatannya dengan dentin karena email berisi unsur
anorganik lebih banyak dan lebih homogen dari segi
morfologis.
24. Secara fisik, ikatan bahan ini dengan jaringan gigi dapat
ditambah dengan membersihkan kavitas dari pelikel dan
debris. Dengan keadaan kavitas yang bersih dan halus dapat
menambah ikatan semen ionomer kaca. Air memegang
peranan penting selama proses pengerasan dan apabila
terjadi penyerapan air maka akan mengubah sifat fisik SIK.
Saliva merupakan cairan di dalam rongga mulut yang dapat
mengkontaminasi SIK selama proses pengerasan dimana
dalam periode 24 jam ini SIK sensitif terhadap cairan saliva
7

sehingga
perlu
dilakukan
perlindungan
agar
tidak
terkontaminasi. Kontaminasi
dengan
saliva
akan
menyebabkan SIK mengalami pelarutan dan daya adhesinya
terhadap gigi akan menurun. SIK juga rentan terhadap
kehilangan air beberapa waktu setelah penumpatan. Jika tidak
dilindungi dan terekspos oleh udara, maka permukaannya
akan retak akibat desikasi. Baik desikasi maupun kontaminasi
air dapat merubah struktur SIK selama beberapa minggu
setelah penumpatan. Untuk mendapatkan hasil yang
maksimal maka selama proses pengerasan SIK perlu
dilakukan perlindungan agar tidak terjadi kontaminasi dengan
saliva dan udara, yaitu dengan cara mengunakan bahan
isolasi yang efektif dan kedap air. Bahan pelindung yang biasa
digunakan adalah varnis yang terbuat dari isopropil asetat,
aseton, kopolimer dari vinil klorida, dan vinil asetat yang akan
larut dengan mudah dalam beberapa jam atau pada proses
pengunyahan.
25. Penggunaan varnish pada permukaan tambalan glass
ionomer bukan saja bermaksud menghindari kontak dengan
saliva tetapi juga untuk mencegah dehidrasi saat tambalan
tersebut masih dalam proses pengerasan. Varnish kadangkadang juga digunakan sebagai bahan pembatas antara glass
ionomer dengan jaringan gigi terutama pulpa karena pada
beberapa kasus semen tersebut dapat menimbulkan iritasi
terhadap pulpa. Pemberian dentin conditioner (surface
pretreatment) adalah menambah daya adhesif dentin.
Persiapan ini membantu aksi pembersihan dan pembuangan
smear layer, tetapi proses ini akan menyebabkan tubuli dentin
tertutup. Smear layer adalah lapisan yang mengandung
serpihan kristal mineral halus atau mikroskopik dan matriks
organik.
26. Lapisan smear layer terdiri dari 2 (dua) bagian yaitu lapisan
luar yang mengikuti bentuk dinding kavitas dan lapisan dalam
berbentuk plugs yang terdapat pada ujung tubulus dentin.
Sedangkan plugs atau lapisan dalam tetap dipertahankan
untuk menutup tubulus dentin dekat jaringan pulpa yang
mengandung air.
8

27. Bahan dentin conditioner berperan untuk mengangkat


smear layer bagian luar untuk membantu ikatan bahan
restorasi adhesif seperti bahan bonding dentin. Hal ini
berperan dalam mencegah penetrasi mikroorganisme atau
bahan-bahan kedokteran gigi yang dapat mengiritasi jaringan
pulpa sehingga dapat menghalangai daya adhesi. Permukaan
gigi dipersiapkan dengan mengoleskan asam poliakrilik 10%.
Waktu standart yang diperlukan untuk satu kali aplikasi
adalah 20 detik, tetapi menurut pengalaman untuk
mendapatkan perlekatan yang baik pengulasan dentin
conditioner pada dinding kavitas dapat dilakukan selama 1030 detik. Kemudian pembilasan dilakukan selama 30 detik
pembilasan merupakan hal penting untuk mendapatkan hasil
yang diinginkan, setelah itu kavitas dikeringkan.
28. Indikasi Semen Ionomer Kaca
29. a. Lesi erosi servikal
30. Kemampuan semen glass ionomer untuk melekatkan
secara kimiawi dengan dentin, menyebabkan semen glass
ionomer saat ini menjadi pilihan utama dalam merestorasi lesi
erosi servikal. Bahan ini juga memiliki kekerasan yang cukuo
untuk menahan abrasi akibat sikat gigi.
31. b. Sebagai bahan perekat atau luting (luting agent)
32. Karena semen glass ionomer ini memiliki beberapa
keunggulan seperti ikatannya dengan dentin dan email.
Aktivitas kariostatik, flow yang lebih baik, kelarutan yang lebih
rendah dan kekuatan yang lebih besar maka sebagai luting
agent semen ini diindikasikan untuk pasien dengan frekuensi
karies tinggi atau pasien dengan resesi ginggiva yang
mememrlukan kekuatan dan aktifitas kariostatik misalnya
pada pemakai mahkota tiruan ataupun gigi tiruan jembatan.
33. c. Semen glass ionomer dapat digunakan sebagai base atau
liner di bawah tambalan komposit resin pada kasus kelas I,
kelas II, kelas III, kelas V dan MOD. Bahan ini berikatan secara
mikromekanik dengan komposit resin melalui etsa asam dan
member perlekatan tepi yang baik. Perkembangan dentin
bonding agents yang dapat member perlekatan yang baik
antara dentin dan resin hanya dapat digunakan pada lesi erosi
9

servikal. Bila kavitasnya dalam atau luas, bonding sering kali


gagal. Untuk memperbaiki mekanisme bonding dan
melindungi pulpa dari irirtasi, semen glass ionomer digunakan
sebagaibahan sub bonding
34. d. Sebagai base yang berikatan secara kimiawi di
bawahrestorasi amalgam mempunyai kerapatan tepi yang
kurang baik sehingga dengan adanya base glass ionomer
dapat mencegah karies sekunder terutama pada pasien
dengan insidens karies yang tinggi. Dalam keadaan sperti ini,
proksimal box diisi dengan semen cermet sampai ke dalam 2
mm dan sisanya diisi amalgam.
35. e. Untuk meletakkan orthodontic brackets pada pasien
muda yang cenderung mengalami karies melalui etsa asam
pada email. Dengan adanya perlepasan fluor maka semen
glass ionomer dapat mengurangi white spot yang umumnya
nampak disekeliling orthondontic brackets.
36. f. Sebagai fissure sealant karena adanya pelepasan fluor.
Rosedur ini memerlukan perluasan fissure sebelum semen
glass ionomer diaplikasikan.
37. g. Semen glass ionomer yang diperkuat dengan logam
seperti semen cermet dapat digunakan untuk membangun inti
mahkota pada gigi yang telah mengalami kerusakan mahota
yang parah.
38. h. Restorasi gigi susu.
39. Penggunaan semen glass ionomer pada gigi susu sangat
berguna dalam mencegah terjadinya karies rekuren dan
melindungi email gigi permanen.
40. i. Untuk perawatan dengan segera pasien yang mengalami
trauma fraktur. Dalam hal ini semen menyekat kembali dentin
yang terbuk dalam waktu yang singkat
41. Kelebihan Semen Ionomer Kaca:
42. 1. Bahan tambal ini meraih popularitas karena sifatnya
yang dapat melepas fluor yang sangat berperan sebagai
antikaries. Dengan adanya bahan tambal ini, resiko
kemungkinan untuk terjadinya karies sekunder di bawah
tambalan jauh lebih kecil dibanding bila menggunakan bahan
tambal lain
10

43. 2. Biokompatibilitas bahan ini terhadap jaringan sangat baik


(tidak menimbulkan reaksi merugikan terhadap tubuh)
44. 3. Material ini melekat dengan baik ke struktur gigi karena
mekanisme perlekatannya adalah secara kimia yaitu dengan
pertukaran ion antara tambalan dan gigi. Oleh karena itu pula,
gigi tidak perlu diasah terlalu banyak seperti halnya bila
menggunakan bahan tambal lain. Pengasahan perlu dilakukan
untuk mendapatkan bentuk kavitas yang dapat memegang
bahan tambal.
45.
46.
47. Kekurangan Semen Ionomer Kaca:
48. 1. Kekuatannya lebih rendah bila dibandingkan bahan
tambal lain, sehingga tidak disarankan untuk digunakan pada
gigi yang menerima beban kunyah besar seperti gigi molar
(geraham)
49. 2. Warna tambalan ini lebih opaque, sehingga dapat
dibedakan secara jelas antara tambalan dan permukaan gigi
asli
50. 3. Tambalan glass ionomer cement lebih mudah aus
dibanding tambalan lain
BAHAN TUMPATAN
1. Komposit
Komposit biasanya dibagi menjadi 3 jenis berdasarkan ukuran,
jumlah, dan komposisi pengisi anorganik :
a.
Komposit konvensional
memiliki jumlah yang lebih tinggi dari keausan awal pada area
oklusal daripada microfill atau jenis hibrida. Komposisi pengisi
anorganik dalam konvensional komposit juga mempengaruhi
tingkat permukaan kekasaran .
b.
Komposit microfil
Bahan ini yang dirancang untuk menggantikan permukaan kasar
karakteristik komposit konvensional dengan halus, permukaan
berkilau mirip dengan enamel gigi
c.

Komposit Hybrid.
11

Dalam upaya untuk menggabungkan karakteristik sifat fisik dan


mekanik yang menguntungkan komposit konvensional dengan
mulus permukaan khas dari komposit microfill , hybrid
komposit dikembangkan . Bahan-bahan ini umumnya memiliki
kandungan filler anorganik sekitar 75 % sampai 85 % berat .
Filler ini biasanya campuran microfiller dan filler partikel kecil
yang menghasilkan Rata-rata ukuran partikel jauh lebih kecil
( 0,4-1 mm ) dibandingkan dengan komposit konvensional .
Karena isi relatif tinggi pengisi anorganik , fisik dan
karakteristik mekanis umumnya unggul orang-orang dari
komposit konvensional . Selain itu, kehadiran partikel
microfiller submicrometer berukuran diselingi antara partikel
yang lebih besar menyediakan halus " patinalike " tekstur
permukaan dalam restorasi selesai . hibrida komposit adalah
dominan restorasi estetik langsung bahan yang digunakan ,
hampir secara universal klinis penerapan , dan bahan utama
disebut sebagai komposit seluruh buku ini .
Roberson T.M, Heymann H.O, Swift EJ. Art and science of
operative dentistry. Elseiver. USA: 2006

Indikasi
Untuk pemulihan ringan sampai sedang kelas I dan kelas II
persiapan gigi dari semua gigi
Restorasi kelas III, IV, dan V prepartion dari semua gigi
khususnya bila estetika penting
Estetik improvemen pricedures seperti laminasi, veneers, dan
penutupan diastema
Sebagai pit dan fisura sealent
Untuk belat periodontal gigi melemah atau gigi ponsel
Untuk perbaikan mahkota keramik retak
Untuk ikatan applianes ortodontik

Kontraindikasi
Ketika isolasi lapangan operasi sulit
Di mana tekanan oklusal yang sangat tinggi yang hadir

Ketika dokter tidak melewati keterampilan teknis yang


diperlukan untuk restorasi
12

Ketika lesi memperpanjang sampai ke permukaan akar


Pasien dengan karies tinggi kerentanan
Ketika persiapan meluas subgingiva
Pasien dengan kebersihan mulut yang buruk 12

Kelebihan :
1.
Estetik
2.
Digunakan secara universal
3.
Lebih estetis
4.
Mempertahankan struktur gigi
5.
Berikatan pada struktur gigi dengan bahan bonding,
menutup margin restorasi dan memperkuat sisa struktur gigi
6.
Radiopak, mengevaluasi kontur, marginal adaptasi dan
membedakan antara restorasi, lesi karies dan struktur gigi
sehat. 13,14
Kerugian :
1.
Terjadi pengerutan saat polimerisasi
2.
Terjadinya lesi karies sekunder
3.
Dapat mengabsorbsi air 13
4.
Dapat menunjukkan keausan oklusal yang lebih besar
didaerah tinggi oklusal atau ketika semua kontak oklusal gigi
berada dimaterial komposit 15
2.

Amalgam
Amalgam adalah jenis logam campur yang mengandung
merkuri sebagai salah satu konstituennya. Merupakan bahan
yang paling banyak digunakan oleh dokter gigi, khususnya
untuk tumpatan gigi posterior. Sejak pergantian abad ini,
formulasinya tidak banyak berubah, yang mencerminkan
bahwa bahan tambalan lain tidak ada yang seideal amalgam.
Komponen utama amalgam terdiri dari liquid yaitu logam
merkuri dan bubuk/powder yaitu logam paduan yang
kandungan utamanya terdiri dari perak, timah, dan tembaga.
Selain itu juga terkandung logam-logam lain dengan
persentase yang lebih kecil. Kedua komponen tersebut
direaksikan membentuk tambalan amalgam yang akan
13

mengeras, dengan warna logam yang kontras dengan warna


gigi. 16
Sifat-sifat klinis dari restorasi didasari pada sifat fisik
amalgam. Oleh karena itu, mengenal sifat-sifat dan
pengontrolnya perlu untuk bisa memahami pentingnya
berbagai factor menipulasi yang akan dibahas berikut ini

Perubahan dimensi :
Amalgam dapat mengembang dan mengerut , tergantung pada
manipulasinya.

Kekuatan :
Cukupnya kekuatan untuk menahan fraktur adalah persyaratan
utama untuk bahan restorasi. Kekuatan amalgam biasanya
diukur dengan memberikan tekanan kompresi pada potongan
bahan. 6
Komposisi amalgam
- merkuri dan amalgam alloy
- perak dan timah
- tembaga
- seng 6,17
Indikasi amalgam
1.
Untuk klas I dan klas II yang restorasi besar (terutama
termasuk restorasi berat oklusi yang tidak dapat diisolasi
dengan baik atau yang memperpanjang permukaan akar)
2.
Gigi molar (geraham) yang menerima beban kunyah
paling besar, dapat digunakan baik pada gigi tetap maupun
pada anak-anak.
3.
The American Dental Association (ADA) mengindikasikan
kelayakan resin komposit untuk digunakan sebagai pit and
fissura sealant, resin preventif, lesi awal kelas I dan II yang
menggunakan modifikasi preparasi gigi konservatif, restorasi
kelas I dan II yang berukuran sedang, restorasi kelas V,
restorasi pada tempat-tempat yang memerlukan estetika, dan
restorasi pada pasien yang alergi atau sensitif terhadap
logam. 18
14

Kontarindikasi amalgam

Gigi yang memerlukan estetika yang tinggi terutama pada


gigi anterior 2
kelebihan
- Kemudahan manipulasi
- Chaacteristics fisik amalgam adalah enamel dan dentin
comarabe
- Teknik kurang sensitif
- Penyegelan diri
- biokompatibel
- ketahanan aus yang baik
- murah
- berikata dengan struktur gigi
kekurangan
1.

Secara estetis kurang baik karena warnanya yang


kontras dengan warna gigi, sehingga tidak dapat diindikasikan
untuk gigi depan atau di mana pertimbangan estetis sangat
diutamakan.
2.
Dalam jangka waktu lama ada beberapa kasus di mana
tepi-tepi tambalan yang berbatasan langsung dengan gigi
dapat menyebabkan perubahan warna pada gigi sehingga
tampak membayang kehitaman
3.
Pada beberapa kasus ada sejumlah pasien yang
ternyata alergi dengan logam yang terkandung dalam bahan
tambal amalgam. Selain itu, beberapa waktu setelah
penambalan pasien terkadang sering mengeluhkan adanya
rasa sensitif terhadap rangsang panas atau dingin. Namun
umumnya keluhan tersebut tidak berlangsung lama dan
berangsur hilang setelah pasien dapat beradaptasi.
4.
Hingga kini issue tentang toksisitas amalgam yang
dikaitkan dengan merkuri yang dikandungnya masih hangat
dibicarakan. Pada negara-negara tertentu ada yang sudah
memberlakukan larangan bagi penggunaan amalgam sebagai
bahan tambal.
15

3.GIC ( glass ionomer cement)/ Semen Ionomer Kaca (SIK)


Semen Ionomer Kaca (SIK) merupakan salah satu bahan
restorasi yang banyak digunakan oleh dokter gigi karena
mempunyai beberapa keunggulan, yaitu preparasinya dapat
minimal, ikatan dengan jaringan gigi secara khemis, melepas
fluor dalam jangka panjang, estetis, biokompatibel, daya larut
rendah, translusen, dan bersifat anti bakteri.
indikasi
- Restorasi clas V, III dan persiapan gigi kelas I kecil
- Restoratif gigi sulung
- Untuk lutting inlay, onlay, mahkota, veeners, pin dan posting
- sebagai pelindung bawah komposit dan amalgam
- Perawatan membangun
- Dalam teknik restoratif lainnya seperti teknik sandwich
perawatan restoratif atraumatik dan restorasi berikat
kontraindikasi
- Di daerah bantalan stres seperti kelas I, II dan IV persiapan
- Dalam kasus penggantian cuspal
- Pada pasien dengan xerostomia
- Bernapas melLui mulut karena pemulihan dapat menjadi
buram, rapuh dan facture
- Di daerah yang membutuhkan estetika seperti pelapisan gigi
anterior
Kelebihan :
1.
Biokompatible karena molekul asam polyakrilic berukuran
besar mencegah bentuk asam menghasilkan respon pulpa
Kekurangan:
1.
Resistensi fraktur rapuh dan rendah
2.
Ketahanan aus rendah
3.
Radiopak tidak inheren
4.
Sensivitas air selama fase pengaturan mempengaruhi sifat
fisik dan estetika

16