Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG


Staphylococcus aureus merupakan spesies staphylococcal yang
paling virulen, dan menyebabkan tingkat morbiditas dan mortalitas yang
tinggi di seluruh dunia. Organisme ini merupakan patogen yang pluripoten
dan menimbulkan penyakit melalui mekanisme toksin maupun non-toksin.
S. aureus bertanggungjawab terhadap infeksi nosokomial maupun yang
didapat di masyarakat, yang beragam mulai dari infeksi ringan seperti
pada kulit dan jaringan lunak, sampai infeksi sistemik yang mengancam
nyawa.1
Staphylococcus aureus telah berkembang mengalami resistensi
terhadap beberapa antibiotik, yang lebih dikenal dengan methicillinresistant Staphylococcus aureus (MRSA). MRSA merupakan patogen
yang sering dijumpai di tempat perawatan kesehatan, yakni sebagai
infeksi akibat pajanan dari rumah sakit, fasilitas rehabilitasi atau rumah
rawat (nursing home), pusat dialisis, kateter vena sentral, serta
paramedis. Namun, dalam dua dekade terakhir ini terdapat perubahan
epidemiologi pada infeksi MRSA, dimana MRSA telah menjadi patogen
penyebab infeksi yang didapat di masyarakat (community-associated
MRSA/CA-MRSA).1

Infeksi CA-MRSA dilaporkan telah terjadi di seluruh dunia, baik di


daerah rural maupun urban, dengan 5-10% nya merupakan infeksi yang
serius dan mengancam nyawa. Faktor risiko terjadinya infeksi antara lain
anak usia kurang dari 2 tahun, atlet, pengguna obat, hubungan intim
antara pria dengan pria, personel militer, tinggal di tempat dengan sanitasi
jelek, dokter hewan serta peternak babi dan pemelihara hewan, pasien
infeksi kulit dan jaringan lunak, pasien pneumonia berat, riwayat kolonisasi
atau infeksi CA MRSA, riwayat konsumsi antibiotik tahun sebelumnya
terutama golongan kuinolon atau makrolid.2
Tingginya angka kejadian infeksi MRSA telah mengakibatkan
berbagai dampak negatif, yaitu peningkatan angka morbiditas dan
mortalitas, peningkatan biaya antibiotik alternatif, waktu perawatan yang
lebih lama, serta kehilangan produktivitas. Oleh karena itu, pencegahan
penyebaran MRSA serta penggunaan antibiotik yang bijak sebagai
penerapan pengendalian infeksi dibutuhkan untuk mencegah berbagai
dampak negatif ini.2

I.2 TUJUAN
Tujuan dari penulisan referat ini adalah untuk memberikan
pemahaman mengenai infeksi MRSA, baik yang berkaitan dengan
iatrogenik maupun yang didapat di masyarakat. Diharapkan ilmu
pengetahuan ini dapat diaplikasikan di dunia nyata oleh dokter umum
dalam menghadapi pasien yang terinfeksi MRSA, sehingga dapat
mendiagnosis lebih awal serta memberikan penanganan yang tepat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 STAPHYLOCOCCUS AUREUS


Staphylococcus, merupakan bakteri kokus gram positif dari famili
Micrococcaceae dan berbentuk seperti kumpulan anggur pada pewarnaan
Gram. Organisme ini berdiameter 1 m, non-motil, dan bersifat aerob
serta anaerob fakultatif. Staphylococcus dapat bertahan hidup di
lingkungan dengan berbagai kondisi dalam jangka waktu yang lama. 1

Gambar 1. Struktur Staphylococcus aureus1

S. aureus dibedakan dengan spesies staphylococcus lain karena


dapat memproduksi koagulase, yaitu merupakan enzim permukaan yang
mengubah fibrinogen menjadi fibrin. Bakteri ini memfermentasi manitol,

protein A positif, dan menghasilkan DNAse. Pada agar darah, S. aureus


membentuk koloni hemolitik keemasan. Genom staphylococcus terdiri
dari kromosom melingkar ( 2800 bp). Gen-gen yang akan menentukan
virulensi dan resistensi terhadap antibiotik ditemukan pada kromosom
ini.1,2
S. aureus merupakan patogen komensal dan oportunistik. Manusia
merupakan reservoir alamiah untuk S. aureus. Tiga puluh persen orang
sehat terkolonisasi oleh S. aureus, dengan 10-20% terkolonisasi secara
persisten. Tingkat kolonisasi meningkat pada pasien diabetes bergantunginsulin, pasien terinfeksi HIV, pasien yang menjalani hemodialisis,
pengguna jarum suntik, dan individu dengan kerusakan kulit. Nares
anterior dan orofaring merupakan tempat tersering kolonisasi pada
manusia, walaupun kulit, vagina, aksila, dan perineum juga dapat
terkolonisasi. S. aureus juga merupakan flora normal pada saluran nafas
atas, kulit, saluran cerna, dan vagina.Transmisi S. aureus paling sering
melalui kontak personal langsung. Penyebaran melalui sekresi nasal atau
droplet saluran pernafasan juga pernah dilaporkan. 1
S. aureus merupakan penyebab utama infeksi yang berkaitan
dengan perawatan kesehatan. Bakter ini merupakan penyebab tersering
infeksi pada luka operasi serta sering menyebabkan bakteremia. S.
aureus juga menyebabkan infeksi pada kulit dan jaringan lunak, infeksi
saluran pernafasan, dan penyebab endokarditis infektif pada pengguna
jarum suntik.1

II. 2 RESISTENSI BAKTERI


Definisi dan Klasifikasi
Resistensi

bakeri

adalah

kemampuan

mikroorganisme

untuk

bertahan dari pengaruh suatu antibiotik. Resistensi bakteri dapat


diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu resistensi alami dan
resistensi didapat.3
P
R
s
e
s
e
s
i
u
i
s
d
s
t
o
t
e
e
n
r
n
s
e
s
i
s
i
i
S
e
B
s
S
D
R
A
m
b
a
t
l
i
e
b
p
a
k
a
d
l
s
u
g
t
n
m
a
o
r
i
e
c
n
i
p
t
l
n
a
r
e
g
a
i
u
a
n
i
f
t

Gambar 2. Skema Klasifikasi Resistensi Bakteri3

Resistensi alami merupakan sifat dari antibiotik tersebut yang


memang kurang atau tidak aktif terhadap suatu kuman, contohnya
Pseudomonas aeruginosa yang tidak sensitif terhadap chloramphenicol,
dan Streptococcus pneumonia yang 25% resisten terhadap antibiotik
golongan makrolid (erythromycin, clarithromycin, dan azithromycin).
Resistensi didapat yaitu apabila bakteri tersebut sebelumnya sensitif
terhadap suatu antibiotik, namun kemudian berubah menjadi resisten.
Contohnya adalah Pseudomonas aeruginosa yang resisten terhadap
ceftazidime dan ciprofloxacin, Haemophillus influenzae yang resisten

terhadap imipenem dan amphicillin, dan Escherichia coli yang resisten


terhadap amphicillin. Resistensi didapat bisa bersifat relatif atau absolut. 3
Resistensi didapat yang bersifat relatif yaitu apabila peningkatan
minimal inhibitory concentration (MIC) suatu kuman terhadap antibiotik
tertentu didapat secara bertahap, yaitu contohnya resistensi yang didapat
pada gonokokus dan pneumokokus. Resistensi didapat yang bersifat
absolut terjadi apabila terjadi mutasi genetik selama atau setelah terapi
antibiotik, sehingga kuman tersebut yang sebelumnya sensitif berubah
menjadi resisten dengan peningkatan MIC yang sangat tinggi yang tidak
dapat dicapai dengan pemberian antibiotik dengan dosis terapi. 3
Pseudo-resistance terjadi apabila pada test sensitivitas didapat hasil
resisten, namun antibiotik tersebut masih efektif saat di dalam tubuh (in
vivo), contohnya E. coli dan K. pneumonia yang resisten terhadap
ampicillin sulbactam, P. aeruginosa yang resisten terhadap aztreonam. 3
Resistensi silang terjadi pada berbagai antibiotik yang mempunyai
struktur kimia yang sama atau mempunyai mekanisme kerja yang sama.
Resistensi silang ini dapat berupa resistensi silang sempurna, yaitu
apabila suatu bakteri resisten terhadap antibiotik yang memiliki struktur
kimia tertentu, maka bakteri tersebut resisten terhadap semua antibiotik
yang memiliki struktur kimia yang sama, contohnya pada polimiksin B dan
E. Sedangkan, resistensi silang sebagian contohnya pada antibiotik yang
mempunyai cincin beta laktam, dimana tidak semua mikroba yang resisten
terhadap penisilin dan ampisilin juga resisten terhadap sefalosporin. 3,4

Resistensi bakteri terhadap antimikroba terjadi melalui banyak


mekanisme dan cenderung semakin rumit pendeteksiannya. Berbagai
mekanisme genetik ikut terlibat, termasuk di antaranya mutasi kromosom,
ekspresi gen-gen resisten kromosom laten, didapatnya resistensi genetik
baru melalui pertukaran langsung DNA, bakteriofag, atau plasmid DNA
ekstrakromosom,
transformasi.

ataupun

Penyebab

didapatnya
terjadinya

DNA

melalui

mekanisme

resistensi

bakteri

ini

adalah

penggunaan antibiotik yang tidak tepat, misalnya penggunaan dengan


dosis dan rute pemberian yang tidak memadai, pemakaian yang tidak
teratur atau tidak kontinu, serta waktu pengobatan yang tidak cukup lama.
Maka, untuk mencegah atau memperlambat timbul resistensi mikroba,
harus diperhatikan cara-cara penggunaan antibiotik yang tepat. 4

Mekanisme
Terdapat 5 cara mikroorganisme yang menyebabkan terjadinya
resistensi terhadap antimikroba, yaitu: 4
1. Mikroorganisme menghasilkan enzim yang merusak obat aktif.
Contohnya adalah Staphylococcus yang resisten terhadap penisilin G.
Staphylococcus menghasilkan enzim beta-laktamase yang dapat
merusak obat tersebut. Beta-laktamase juga dihasilkan oleh bakteri
gram negatif. Selain itu, bakteri gram negatif yang resisten terhadap
aminoglikosida menghasilkan enzim adenilisasi, fosforilasi, atau
asetilasi yang merusak obat ini. Bakteri gram negatif juga mungkin

resisten

terhadap

chloramphenicol,

jika

menghasilkan

enzim

chloramphenicol-asetil transferase.4
2. Mikroorganisme merubah permeabilitasnya terhadap obat. Contohnya
adalah bakteri yang resisten terhadap tetrasiklin, tidak memiliki
mekanisme untuk transport aktif obat tersebut melintasi membran sel.
Streptokokus

mempunyai

sawar

permeabilitas

alami

terhadap

aminoglikosida. Resistensi terhadap polimiksin mungkin disertai


dengan perubahandalam permeabilitas terhadap obat tersebut. 4
3. Mikroorganisme mengembangkan suatu perubahan struktur sasaran
bagi

obat.

Contohnya

adalah

resistensi

kromosom

terhadap

aminoglikosida disertai perubahan protein spesifik pada subunit 30S


ribosom bakteri. Organisme yang resisten terhadap eritromisin
memiliki reseptor yang telah berubah pada subunit 50S ribosom
bakteri, akibat metilasi RNA ribosomal 23S. Resistensi terhadap
penisilin mungkin akibat perubahan pada penicillin binding protein
(PBP).4
4. Mikroorganisme mengembangkan perubahan lintasan metabolisme
yang memintas reaksi yang dihambat oleh obat ini. Contohnya adalah
beberapa

bakteri

yang

resisten

terhadap

sulfonamide

tidak

membutuhkan PABA ekstrasel, namun dapat menggunakan asam


folat yang telah dibentuk sebelumnya.4
5. Mikroorganisme mengembangkan suatu enzim yang telah berubah
yang kurang dipergunakan oleh obat dibandin enzim di dalam kuman
yang

rentan,

namun

masih

tetap

dapat

melakukan

fungsi

metabolisme. Contohnya adalah pada beberapa bakteri yang sensitif


terhadap sulfonamide, dihidropteroat sintetase memiliki afinitas yang

jauh lebih tinggi untuk sulfonamide daripada untuk PABA. Pada mutan
yang resisten terhadap sulfonamide, terjadi hal yang sebaliknya. 4

II.3 METHICILLIN-RESISTANT STAPHYLOCOCCUS AUREUS


(MRSA)
Definisi
Segera setelah ditemukan penicillin, bakteri Staphylococcus telah
mampu memproduksi laktamase. Resistensi terhadap makrolid,
tetrasiklin, dan chloramphenicol juga terjadi setelah pemakaian obat-obat
tersebut. Lebih dari 80% strain S. aureus menghasilkan penisilinase, dan
penicillinase-stable

betalactam

seperti

methisillin,

cloksasillin,

dan

fluoksasillin yang telah digunakan sebagai terapi utama dari infeksi S.


aureus selama lebih dari 35 tahun. Strain yang resisten terhadap
kelompok penisillin dan beta-laktam ini muncul tidak lama setelah
penggunaan agen ini untuk pengobatan. S. aureus yang resisten terhadap
antibiotik -laktam, termasuk penicillinase-resistant penicillins (methicillin,
oxacillin, nafcillin) dan sefalosporin disebut dengan methicillin-resistant
Staphylococcus aureus (MRSA).1,5
Methisillin merupakan penicillinase-resistant semisynthetic penicillin,
pertama kali diperkenalkan pada tahun 1959. Methicillin digunakan untuk
mengatasi infeksi yang disebabkan oleh S. aureus resisten terhadap
penisillin. Namun, di Inggris pada tahun 1961 telah dilaporkan adanya
isolat S. aureus yang resisten terhadap methisillin. Kemudian infeksi
MRSA secara cepat menyebar di seluruh negara-negara Eropa, Jepang,

Australia, Amerika Serikat, dan seluruh dunia selama berpuluh-puluh


tahun serta menjadi infeksi yang multidrug-resistant.5

Epidemiologi
Saat ini diperkirakan sekitar 2-3% populasi umum telah terkolonisasi
oleh MRSA. Jumlah ini akan meningkat lagi menjadi 5% pada populasi
yang berkelompok seperti militer dan penjara. Orang yang terkolonisasi
akan mudah untuk terjadi infeksi, walaupun sebagian besar akan tetap
asimtomatik.5
Di Amerika Serikat, selama 13 tahun (1993-2005) infeksi MRSA
sangat berkembang. Pada tahun 2005, terdapat 368.600 kasus MRSA di
rumah sakit seluruh AS. Keadaan ini menunjukkan adanya peningkatan
sebesar 30% dibandingkan pada tahun 2004. 1
Di Inggris sampai dengan tahun 2004 didapatkan data prevalensi
bahwa: (1) MRSA menjadi masalah yang predominan pada usia lanjut
(82% pada usia di atas 60 tahun), (2) strain MRSA yang ada 92% resisten
terhadap fluorokuinolon dan 72% resisten terhadap makrolid, (3) sebagian
besar isolat masih sensitif terhadap tetrasiklin, asam fusidat, rifampisin,
dan gentamisin, dan (4) strain MRSA yang telah diuji 12% resisten
terhadap mupirosin.5
Di Asia, prevalensi infeksi MRSA kini mencapai 70%, sementara di
Indonesia pada tahun 2006 prevalensinya berada pada angka 23,5%. 5

Healthcare-associated MRSA dan Community-associated MRSA

10

Healthcare-associated MRSA (HA-MRSA) didefinisikan sebagai


infeksi MRSA yang terdapat pada individu yang pernah dirawat di rumah
sakit atau menjalani tindakan operasi dalam 1 tahun terakhir, memiliki alat
bantu medis permanen dalam tubuhnya, bertempat tinggal di fasilitas
perawatan jangka panjang, atau individu yang menjalani dialisis. HAMRSA secara tipikal dihubungkan dengan seseorang yang memiliki faktor
risiko perawatan di rumah sakit atau panti, dialisis, mendapat terapi
antibiotik, atau terpapar oleh alat atau prosedur yang invasif. HA-MRSA
memiliki

resistensi

yang

sangat

tinggi

dan

merupakan

penyakit

nosokomial yang penting. Transmisinya berpindah dari satu pasien ke


pasien lainnya melalui alat medis yang tidak diperhatikan sterilitasnya.
Transmisinya dapat pula melalui udara maupun fasilitas ruangan,
misalnya selimut atau kain tempat tidur. Faktor risiko independen untuk
memprediksi infeksi HA-MRSA adalah pada pasien dengan luka operasi,
ulkus

dekubitus,

dan

kateter

intravena

yang

sebelumnya

telah

terkolonisasi. Pasien yang dirawat di ICU (intensive care unit) memiliki


risiko lebih tinggi untuk timbulnya MRSA dibanding dengan pasien yang
dirawat di ruangan biasa.5,6
Pada awal 1990-an telah muncul MRSA yang didapatkan pada
individu yang sebelumnya tidak memiliki faktor risiko yang berhubungan
dengan HA-MRSA. Keadaan ini disebut sebagai community-associated
MRSA (CA-MRSA). CA-MRSA lebih sering menyebabkan infeksi pada
kulit dan jaringan ikat. Penularan utama CA-MRSA adalah melalui kontak
langsung antar orang per orang, biasanya dari tangan orang yang

11

terinfeksi atau terkolonisasi. Faktor risiko yang dihubungkan dengan


penyebaran CA-MRSA adalah kulit yang terbuka, kondisi tempat tinggal
yang kumuh, kontak dari kulit ke kulit yang frekuen, kegiatan praktik
dengan higiene yang rendah, dan pemakaian alat-alat secara bergantian.
Beberapa faktor lain yang mempengaruhi terjadinya MRSA pada
komunitas adalah pasien MRS yang keluar rumah sakit, MRSA pada
perawatan rumah, penyebaran MRSA ke pasien yang tidak dirawat di
rumah sakit, dan transfer gen mec dari Staphylococcus koagulase
negatif.5,7
Secara genetik dan fenotipe, strain HA-MRSA berbeda dengan strain
CA-MRSA. CA-MRSA memiliki komposisi yang lebih kecil, mengalami
kejadian virulensi yang lebih tinggi, dan jarang terjadi multidrug resistant
pada antimikroba non -laktam (misalnya terhadap tetrasiklin, trimetoprimsulfametoksazol [TMP-SMX], rifampisin, klindamisin, dan fluorokuinolon). 8
Strain CA-MRSA secara tipikal mengandung eksotoksin yang
dinamakan toksin Panton-Valentine Leukodin (PVL). PVL sering terdapat
pada pasien yang imunokompeten tanpa adanya faktor risiko yang dapat
diidentifikasi. Strain CA-MRSA yang mengandung PVL ini mempunyai
kemampuan untuk menimbulkan kerusakan jaringan dan leukosit yang
parah. PVL masuk melalui lubang pada membran sel kemudian
menghasilkan lesi pada permukaan kulit dan di dalam mukosa saluran
pernapasan.8
Dua komponen dari PVL, yaitu LukS-PV dan LukF-PV disekresi dari
S. aureus sebelum mereka berkumpul pada cekungan berbentuk

12

heptamer dari membran leukosit polimorfonuklear (PMN). Peningkatan


konsentrasi PVL menyebabkan lisis dari PMN, sedangkan rendahnya
konsentrasi PVL akan mempengaruhi alur apoptosis PMN dengan
langsung berikatan pada membran mitokondrial. Nekrosis jaringan dapat
merupakan hasil pelepasan reactive oxygen spesies (ROS) dari PMN
yang lisis. Kemungkinan lainnya adalah pelepasan granul dari PMN yang
lisis akan menimbulkan respon inflamasi yang pada akhirnya akan
menimbulkan nekrosis jaringan. PVL tidak dapat menimbulkan nekrotik
jaringan secara langsung pada sel epitel.8

Identifikasi

Metode dilusi
Terdapat dua metode dilusi, yaitu dilusi agar dan mikrodilusi kaldu.
Dilusi agar menggunakan media Mueller-Hinton atau agar Columbia
dengan NaCl 2%, sedangkan mikrodilusi kaldu menggunakan MuellerHinton dengan NaCl 2% sebagai media. Setelah ditanam di agar,
kemudian diinkubasi selama 24 jam dengan suhu berkisar antara 3035 C.9

Tabel 1. Perbedaan Standar Minimum Inhibitory Concentration pada


Metode Dilusi Agar9
BSAC
NCCLS/CLSI
Hasil
MIC 4 mg/L
MIC 2 mg/L
Sensitif methicillin
MIC > 4 mg/L
MIC > 2 mg/L
Resisten methicillin
BSAC: British Society for Antimicrobial Chemotherapy
NCCLS: National Committee for Clinical Laboratory Standards
CLSI: Clinical Laboratory Standards Institute
MIC: Minimum inhibitory concentration
13

Metode penapisan agar


Metode ini direkomendasikan oleh NCCLS untuk penapisan isolasi
koloni pada media rutin dan untuk konfirmasi akan kecurigaan adanya
resistensi pada metode difusi piringan. Pada metode ini menggunakan
media MH yang mengandung 4% NaCl dan 6 mg/L oxacillin.
Kemudian diinkubasi selama 24 jam pada suhu 35C. Adanya
pertumbuhan mengindikasikan resistensi. 9

Metode difusi piringan


Saat ini metode penggunaan cefoxitin lebih banyak direkomendasikan
dibandingkan dengan oxacillin. Hal ini dikarenakan pada cefoxitin
tidak diperlukan media dan temperature inkubasi khusus, serta tidak
terpengaruh adanya hiper-produksi dari penisilinase sehingga tidak

terjadi positif palsu MRSA.9


Aglutinasi lateks
Metode ini mengekstraksi PBP2a (penicillin binding protein) dari
suspensi koloni dan deteksinya oleh aglutinasi dengan partikel lateks
yang dilapisi oleh antibodi terhadap PBP2a. Uji ini sangat sensitif dan
spesifik terhadap S. aureus, sangat cepat (hanya 10 menit untuk 1

uji), dan tidak memerlukan alat khusus. 9


Metode molekuler
Identifikasi MRSA menggunakan metode molekuler dapat berasal dari
kultur darah atau dari aspirasi endotrakhea dan sampel klinik lainnya.
Identifikasi kultur darah yang positif mengandung kokus gram positif
(Gram-positive cocci in cluster [GPCC]) menggunakan sistem
otomatis di bawah mikroskop, dilanjutkan dengan kultur secara
konvensional untuk mendeteksi adanya MRSA. Metode ini merupakan

14

diagnosis cepat untuk MRSA dan dapat menentukan terapi yang


tepat.9
Diagnosis
Setiap

dokter

atau

penyedia

layanan

kesehatan

harus

mempertimbangkan infeksi MRSA pada diagnosis bandingnya pada


semua pasien dengan adanya gambaran infeksi kulit dan jaringan lunak
[skin and soft tissue infection (SSTI)] atau manifestasi gejala lainnya dari
infeksi staphylococcus disertai adanya faktor risiko untuk terjadinya
MRSA. Gambaran klinik dari SSTI itu biasanya digambarkan dan
didiagnosis sebagai gigitan serangga atau laba-laba. 9
Tampilan klinis strain CA-MRSA yang mengandung PVL biasanya
tampak sebagai SSTI, seperti bisul, jerawat, furunkel, dan abses kulit.
Namun saat ini telah dilaporkan adanya infeksi yang invasif seperti
necrotizing pneumonia dan fasciitis, osteomielitis, artritis septik, toxic
shock syndrome, bakteriemia, limfadenitis, dan miositis.9
Walaupun jarang, CA-MRSA juga dihubungkan dengan communityacquired pneumonia (CAP) yang biasanya ditemukan setelah influenzatype illness. Salah satu cara untuk membedakan pneumonia yang
disebabkan

oleh

CA-MRSA adalah

terjadinya

hemoptisis

setelah

influenza-like syndrome.9
Kultur bakteri aerobik harus didapatkan pada keadaan ketika: (1)
SSTI yang disebabkan oleh strain resisten methicillin atau sensitif
methicillin tidak dapat dibedakan dengan gambaran klinik, (2) dibutuhkan
identifikasi dari spesies dan sensitifitas antibiotiknya yang akan membantu

15

pemilihan antibiotik. Kultur harus diperoleh dari luka yang telah kering, pus
yang diaspirasi dari infeksi jaringan lunak, dan aspirasi dari cairan yang
diduga terinfeksi. Kultur darah harus dilakukan pada pasien yang demam
dengan kecurigaan infeksi MRSA, dan jika diperlukan pada pasien
pengguna obat injeksi atau endokarditis yang secara klinis juga dicurigai. 10
Hasil kultur yang positif baik dari darah dan cairan tubuh yang steril
(misalnya cairan sendi, pleura, dan serebrospinal) merupakan diagnosis
pasti dari infeksi MRSA. Kultur positif dari sumber-sumber yang non-steril
(misalnya dari drainase luka dan luka terbuka) merupakan indikasi adanya
infeksi bakteri atau kolonisasi dan harus diinterpetasikan dalam bentuk
gejala klinik pasien.10

Penatalaksanaan
Vancomisin
Vancomisin merupakan drug of choice untuk terapi MRSA. Namun,
pemakaian vancomisin telah menimbulkan Staphylococcus yang resisten
terhadap

vancomisin,

dimana

kasus

vancomycin

intermediate

Staphylococcus aureus (VISA) pertama kali dijumpai di Jepang pada


tahun 1997, sedangkan kasus vancomycin resistant Staphylococcus
aureus (VRSA) pertama kali dijumpai di Amerika Serikat pada tahun 2002.
VISA dan VRSA perlu dicurigai pada pasien MRSA yang mendapat terapi
vancomisin yang sering dan lama, pasien yang gagal terapi vancomisin,
dan pada pasien vancomycin resistant enterococcus (VRE).1,5

16

Vancomisin bekerja menghambat biosintesis dinding sel bakteri,


yaitu dengan mekanisme berikatan dengan prekursor D-alanyl-D-alanine
dinding sel sehingga menghambat polimerisasi glikopeptida. Vancomisin
tidak dapat diabsorbsi dengan baik pada pemberian oral, sehingga
sediaan yang ada dalam bentuk injeksi dan pemberiannya secara
intravena. Pemberian vancomisin adalah 15-20 mg/kgBB setiap 8-12 jam
selama 4-6 minggu. Penyesuaian dosis harus dilakukan pada pasien
dengan gangguan fungsi ginjal. 1
Daptomisin
Daptomisin, suatu agen bakterisidal parenteral dengan aktivitas
antistaphylococcal,

digunakan

untuk

penatalaksanaan

bakteremia

(termasuk endokarditis) dan infeksi kulit berkomplikasi. Obat ini tidak


efektif untuk infeksi respiratori. Daptomisin memiliki mekanisme kerja
merusak membran sitoplasma; obat ini berikatan dengan membran bakteri
dan menyebabkan depolarisasi cepat potensial membran, sehingga terjadi
inhibisi sintesis protein, DNA, dan RNA serta kematian sel bakteri. Dosis
yang diberikan 6 mg/kgBB IV setiap 24 jam.1
Linezolid
Linezolid, merupakan oxazolidinone pertama dengan mekanisme
bakteriostatik terhadap Staphylococcus, yaitu dengan cara berikatan
dengan rRNA 23S bakterial pada subunit 50S sehingga mencegah
translasi protein. Obat ini mempunyai kemampuan distribusi jaringan yang
sama baiknya antara pemberian oral dan injeksi. Dosis yang diberikan
adalah 600 mg setiap 12 jam per oral atau intravena. Efek samping serius

17

yang

pernah

dilaporkan

pada

penggunaan

linezolid

antara

lain

trombositopenia, neutropenia, dan neuropati optik perifer.1


Ceftaroline
Ceftaroline merupakan sefalosporin generasi kelima dengan aktivitas
bakterisidal

melawan

MRSA (termasuk

strain

dengan

penurunan

kepekaan terhadap vancomisin dan daptomisin). Sefalosporin betalaktam


ini juga memiliki aktivitas melawan bakteri gram positif dan gram negatif,
baik aerob maupun anaerob. Obat ini digunakan pada pneumonia
nosokomial serta infeksi kulit dan jaringan lunak. Dosis yang diberikan
adalah 600 mg IV tiap 12 jam.1
Teicoplanin
Teicoplanin adalah antibiotik lipoglikopeptida yang memiliki efek
bakterisidal atau bakteriostatik pada mikroorganisme gram positif yang
sensitif,

tergantung

konsentrasi/kadar

pada

obat.

kepekaan
Teicoplanin

organisme
menghambat

tersebut

dan

pertumbuhan

mikroorganisme dengan jalan mengganggu sintesis dinding sel pada sisi


yang berbeda oleh penghambatan beta laktam. Teicoplanin efektif
melawan kuman Staphylococcus (termasuk yang resisten terhadap
methisillin atau beta laktam) dan Streptococcus. Teicoplanin dapat
berpenetrasi ke cairan eksudat dan tulang, namun sangat jelek
penetrasinya

ke

cairan

serebrospinal

dan

sel

darah

merah.

Kontraindikasinya adalah hipersensitivitas terhadap obat ini. 11


Dosis yang dapat diberikan pada orang dewasa dengan kasus
septikemia dan osteomielitis adalah 400-800 mg IV setiap 12 jam untuk 3

18

dosis pertama diikuti dengan dosis rumatan 400 mg setiap hari selama 2-4
minggu (pada septikemia) dan 3-6 minggu (pada osteomielitis). Pada
kasus arthritis septik diberikan 800 mg IV setiap 12 jam untuk 3 dosis
pertama diikuti dosis rumatan 800 mg setiap hari selama 3-6 minggu. 11

BAB III
KESIMPULAN

Infeksi MRSA telah menjadi problem dalam dunia kesehatan di


seluruh

dunia

selama

beberapa

dekade. Beberapa faktor dapat

menyebabkan timbulnya resistensi ini, diantaranya adalah salah pemilihan


dan penggunaan dari agen antibiotik. Berbagai institusi kesehatan di luar
negeri telah banyak yang menerbitkan pedoman dalam pencegahan,
kontrol, dan penanganan MRSA yang disesuaikan dengan keadaan dan
strain MRSA yang ada. Setiap dokter atau penyedia layanan kesehatan

19

harus mempertimbangkan infeksi MRSA pada diagnosis bandingnya pada


semua pasien dengan adanya gambaran infeksi kulit dan jaringan lunak
atau manifestasi gejala lainnya dari infeksi staphylococcus disertai adanya
faktor risiko untuk terjadinya MRSA.1,3,5

DAFTAR PUSTAKA
1. Lowy, F. D. (2015) Staphylococcal Infections dalam Kasper, D.L.,
Fauci, A.S., Hauser S.L., Longo, D.L., Jameson, J.L., dan Loscalzo J.
(ed.). Harrisons Principles of Internal Medicine, 19th ed., San
Franscisco: The McGraw-Hill Companies, p. 954-963
2. Longmore, M., Wilkinson, I.B., Baldwin, A., dan Wallin, E. (2014)
Oxford Handbook of Clinical Medicine, 9th ed., Oxford: Oxford
University Press
3. Hadi, U. (2009) Resistensi Antibiotik dalam Sudoyo A.W., Setiyohadi,
B., Alwi, I., Simadibrata, M.K., dan Setiati, S. (ed.). Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam Jilid I, ed. 5, Jakarta: Interna Publishing, p. 2760-2763

20

4. Perdana, R. (2015) Mekanisme Resistensi Bakteri, Kongres Nasional


Petri XXI 2015, p. 36-46
5. Somia, I.K.A. dan Merati K.T.P. (2015) The Emergence of GramPositive Resistant Pathogen, Kongres Nasional Petri XXI 2015, p. 8489
6. Rolain, J.M., Abat, C., Brouqui, P., dan Raoult, D. (2015) Worldwide
Decrease in Methicillin-Resistant Staphylococcus Aureus: Do We
Understand Something?, Clinical Microbiology and Infection, vol. 21,
no. 6, p 515-517
7. Williams, V., Simor, A.E., Kiss, A., McGeer, A., Hirji, Z., Larios, O.E.,
Moore, C., dan Weiss, K. (2015) Is The Prevalence of AntibioticResistant Organisms Changing in Canadian Hospitals? Comparison of
Point-Prevalence Survey Results in 2010 and 2012, Clinical
Microbiology and Infection, vol. 21, no. 6, p 553-559
8. Lindqvist, M., Isaksson, B., Swanberg, J., Skov, R., Larsen, A.R.,
Larsen, J., Petersen, A., dan Hllgren, A. (2015) Long-term
Persistence

of

Multi-Resistant

Methicillin-Susceptible

Staphylococcus Aureus (MR-MSSA) Clone at A University Hospital in


Southeast Sweden, without Further Transmission within the Region,
European Journal Clinical Microbial Infection, vol. 34, p. 1415-1422
9. Mahmudah, R., Soleha, T.U., dan Ekowati, C.N. (2013) Identifikasi
Methicillin-Resistant Staphylococcus Aureus (MRSA) pada Tenaga
Medis dan Paramedis di Ruang Intensive Care Unit (ICU) dan Ruang
Perawatan Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek,
Medical Journal of Lampung University, vol. 2, no. 4, p. 70-78
10. Anonim (2011) Infeksi Community-Acquired MRSA, Cermin Dunia
Kedokteran, vol. 38, no. 2, p. 117

21

11. Humardewayanti, R. (2015) Teicoplanin for Gram-Positive Resistant

Pathogen, Kongres Nasional Petri XXI 2015, p. 90-96

22