Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan kuasa NYA
penulis dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah Pengantar manajemen dengan judul
Dinamika Perilaku Dalam Organisasi.
Makalah ini dibuat berdasarkan sumber buku yang telah diresensikan sehingga
menghasilkan karya yang dapat dipertanggung jawabkan hasilnya. Penulis berterimakasih
kepada pihak-pihak yang telah membantu penyusunan makalah ini.
Penulis sangat menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah
ini, oleh karena itu penulis meminta maaf dan menerima kritik dan saran yang bersifat
membangun untuk kemajuan ilmu pengetahuan ini. Penulis juga berharap agar makalah ini
dapat dijadikan referensi oleh pembaca serta bermanfaat bagi pembaca.

BandarLampung, November 2015


penyusun

DAFTAR ISI

COVER............................................................................................................. i
KATA PENGANTAR...................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah............................................................................. 1
1.3 Tujuan Penulisan............................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Perilaku Organisasi......................................................................

2.2.Sikap Kerja yang Berkinerja Tinggi ................................................................ 5


2.3. konflik di Antara sikap.................................................................................

2.4. Persepsi.......................................................................................................

2.5. Selektivitas Perseptual...............................................................................

2.6.Pengatributan............................................................................................

2.7.Kepribadian dan Perilaku...........................................................................

2.8. Kecerdasan Emosional..............................................................................

2.9.Kepatutan Orang-pekerjaan.....................................................................

10

2.10.Pembelajaran........................................................................................

10

2.11. Stres dan Manajemen stres..................................................................

10

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan....................................................................................... 11
3.2 Saran.....................................................................................................11
Daftar Pustaka

BAB I
2

PEDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG
Perilaku Organisasi adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang perilaku tingkat

individu dan tingkat kelompok dalam suatuorganisasi serta dampaknya terhadap kinerja (baik
kinerja individual, kelompok, maupun organisasi). Perilaku organisasi juga dikenal
sebagai studi tentang organisasi. Studi ini adalah sebuah bidang telaah akademik khusus yang
mempelajari organisasi,dengan memanfaatkan metode-metode dari ekonomi, sosiologi, ilmu
politik, antropologi dan psikologi.
Disiplin-disiplin lain yang terkait dengan studi ini adalah studi tentang sumber daya
manusia dan psikologi industri.Organisasi dalam pandangan beberapa pakar seolah-olah
menjadi suatu binatang yang berwujud banyak, namun tetap memiliki kesamaan
konseptual. Atau dengan kata lain, rumusan mengenai organisasi sangat tergantung kepada
konteks dan perspektif tertentu dari seseorang yang merumuskan tersebut.
Setiap manusia mempunyai tujuan yang berbeda dalam hidupnya, karena pengaruh
pengetahuan dan pengalamannya yang berbeda. Namun setiap manusia akan sama dalam satu
hal yaitu ingin mempertahankan hidup dan memenuhi kebutuhan hidupnya.
Bagi masyarakat pada era industrialisasi sekarang ini, pekerjaan merupakan suatu aspek
kehidupan yang sangat penting. Bagi masyarakat modern bekerja merupakan suatu tuntutan
yang mendasar, baik dalam rangka memperoleh imbalan berupa uang atau jasa, ataupun
dalam rangka mengembangkan dirinya.
Komunikasi mengacu pada tindakan, oleh satu orang atau lebih, yang mengirim dan
menerima pesan, terjadi dalam suatu konteks tertentu, mempunyai pengaruh tertentu, dan ada
kesempatan untuk melakukan umpan balik. hal Ini mengandung elemen-elemen yang ada
dalam setiap tindak komunikasi, terlepas dari apakah itu bersifat intrapribadi, antarpribadi,
kelompok kecil, pidato terbuka, atau komunikasi masa. Dalam komunikasi ini kita juga akan
menyinggung sedikit tentang Perhatian, Pemahaman dan Mengingat Informasi.

2.1 RUMUSAN MASALAH

Masalah-masalah yang akan di pecahkan dalam makalah ini yaitu sebagai berikut:
1) Apakah pengertian dari PERILAKU ORGANISASI ?
2) Penjelasan elemen-elemen penting yang ada didalam PERILAKU ORGANISASI ?

1.2

TUJUAN DAN MANFAAT


Tujuan dalam pembuatan makalah ini dibagi kedalam dua tujuan yakni dilihat dari

tujuan secara umum dan secara khusus.

Tujuan secara umum yaitu untuk memberikan pemahaman mengenai Perilaku

Organisasi
Tujuan secara khusus yaitu Tujuan dibuatnya makalah ini yaitu untuk memenuhi salah
satu tugas mata Perilaku Organisasi. Yang diharapakan mahasiswa dapat
memahaminya secara mendalam.

Manfaat pembuatan makalah ini yaitu:


1) Bagi penulis manfaatnya yakni menambah wawasan serta dapat memahami tentang
Perilaku organisasi.
2) Manfaat dibuatnya makalah ini diharapkan dapat digunakan untuk menambah
wawasan ilmu pengetahuan tentang Perilaku Organisasi

BAB II
PEMBAHASAN

BAB 15 Dinamika Perilaku Dalam Organisasi

PERILAKU ORGANISASI
Perilaku organisasi (organizational behavior) adalah bidang interdisipliner yang didekasikan
untuk pembelajaran sikap, perilaku, dan kinerja manusia dalam sebuah organisasi. Perilaku
organisasi mengambil konsep dari banyak disiplin ilmu, antaranya psikologi, sosiologi,
antropologi budaya, teknik industry, ekonomi, etika, dan konseling kejuruan, serta
manajemen. Konsep dan prinsip perilaku organisasi adalahhal yang penting bagi manajer
karena dalam setiap organisasi manusia pada akhirnya akan mengambil keputusan yang
mengontrol bagaimana organisasi mendapatkan dan menggunakan sumber daya.

SIKAP
Sikap (attitude) adalah evaluasi baik positif atau negative yang member kecenderungan pada
seseorang untuk bertindak dengan para tertentu. Memahami sikap pegawai adalah hal penting
bagi manajer karena sikap dapat menentukan bagai orang-orang menafsirkan lingkungan
kerja mereka, berinteraksi dengan yang lain dan berperilaku dalam bekerja. Penelitian
menunjukkan pentingnya sikap positif untuk kesuksesan individu maupun organisasi.
Misalnya, penelitian telah mengungkapkan bahwa karakteristik yang biasanya ada di diri
eksekutif-eksekutif puncak adalah sikap optimis.

Unsur-Unsur Penyusun Sikap


Ilmuwan perilaku menyatakan bahwa sikap terdiri atas tiga unsur: kognitif (pemikiran),
afektif (perasaan), dan perilaku. Unsur kognitif yang membentuk suatu sikap adalah
keyakinan, opini, dan informasi yang dimiliki seseorang tentang objek dari sikapnya, seperti
pengetahuan tentang apa yang dituntut dari suatu pekerjaan, atau opini tentang kemampuan
diri. Unsur afektif adalah emosi atau perasaan seseorang terhadap objek dari sikapnya, seperti
benci atau suka pada suatu pekerjaan. Unsur perilaku adalah maksud seseorang untuk
berperilaku terhadap objek dari sikapnya dalam cara tertentu.
5

Sikap Kerja yang Berkinerja Tinggi


Sikap yang menarik bagi para manajer adalah sikap-sikap yang berhubungan dengan
pekerjaan, terutama sikap-sikap yang memengaruhi kinerja para pegawai. Dua sikap yang
berhubungan dengan penciptaan kinerja tinggi adalah kepuasan terhadap pekerjaan seseorang
dan komitmen pada perusahaan.
Sikap positif terhadap pekerjaan disebut kepuasan kerja (job satisfaction). Secara umum,
orang-orang mengalami sikap ini ketika pekerjaan mereka sesuai dengan kebutuhan dan
kepentingan mereka, ketia kondisi kerja dan penghargaan (misalnya bayaran) memuaskan
bagi mereka, ketika mereka menyukai rekan kerja mereka, dan ketika mereka mempunyai
hubungan positif dengan supervisor.
Kepuasan Kerja sikap positif terhadap pekerjaan disebut kepuasaan kerja ( job satisfaction ).
Sebagian besar manajer yakin bahwa kepuasan kerja adalah yang penting karena mereka pikir
bahwa para pegawai yang merasa puas akan bekerja dengan lebih baik.
Komitmen pada organisasi (organizational commitment) adalah kesetiaan dan ketertarikan
pegawai pada organisasi. Seorang pegawai yang memiliki tingkat komitmen yang tinggi pada
organisasi akan cenderung mengatakan kita saat ia sedang membicarakan perusahaan.

Konflik di Antara Sikap


Terkadang seseorang mengetahui sendiri bahwa sikap-sikapnya saling bertentangan satu sama
lain, atau bahwa sikap-sikapnya tidak tercermin dalam perilaku. Misalnya, tingkat komitmen
seorang pegawai yang tinggi pada organisasinya mungkin bertentangan dengan komitmennya
pada anggota keluarganya. Jika seorang pegawai bekerja secara rutin pada malam hari dan di
akhir pecan, waktu dan dedikasinya pada pekerjaan dapa menciptakan disonansi kognitif
(cognitive dissonance), yaitu ketidaknyamanan psikologis yang terjadi ketika seseorang
mengenali adanya ketidakkonsistenan dalam sikap dan perilaku mereka.

PERSEPSI
Persepsi (perception) adalah proses kognitif yang digunakan seseorang untuk memahami
lingkungannya dengan menyeleksi, mengatur, dan menafsirkan informasi dari lingkungannya.
Oleh karena adanya perbedaan sikap, kepribadian, nilai, dan kepentingan tiap individu, setiap
orang sering kali melihat hal yang sama dengan cara yang berbeda.
Selektivitas Perseptual
Selektivitas perseptual (perceptual selectivity) adalah proses yang dilakukan oleh para
individu untuk menyaring dan memilih berbagai objek dan stimulus yang bersaing untuk
merebut perhatian mereka.
Orang-orang yang biasanya berfokus kepada stimulus yang memenuhi kebutuhan mereka
serta sesuai dengan sikap, nilai-nilai, dan kepribadian mereka. Misalnya, para pegawai yang
membutuhkan umpan balik positif agar merasa bangga akan diri mereka akan menyimak
pernyataan-pernyataan positif dari seorang supervisor, tetapi akan mengabaikan komentarkomentar negatif.

Distorsi Perseptual
Hal yang perlu diperhatikan di lingkungan kerja adalah distorsi perseptual (perceptual
distortions), yaitu gala dalam penilaian perseptual yang muncul akibat kekeliruan dalam
bagian proses perseptual tertentu. Salah satu galat perseptual adalah stereotip (stereotyping),
yaitu kecenderungan untuk mengelompokkan seseorang ke dalam suatu kelompok atau
kategori luas (misalnya perempuan, berkulit hitam, lanjut usia; atau laki-laki, berkulit putih,
menyandang cacat) dan menyifatkan berbagai generalisasi tentang kelompok tersebut kepada
orang itu.
7

Efek Halo ( halo effect ) timbul ketika pemersepsi mengambil kesan keseluruhan terhadap
seseorang atau sebuah situasi berdasarkan satu karateristik, baik karateristik baik maupun
tidak baik.
Proyeksi ( projection ) adalah kecenderungan pemersepsi untuk melihat karakter mereka
sendiri dalam diri orang lain. Artinya, mereka memproyeksikan kebutuhan, perasaan, nilai,
dan sikap mereka sendiri dalam penilaian mereka terhadap orang lain.
Pertahanan Perseptual ( perceptual defense ) adalah kecenderungan pemersepsi untuk
melindungi mereka dari ide-ide , objek-objek, atau orang-orang yang mengancam.
Pengatributan
Pengatributan (attributions) adalah penilaian tentang hal-hal yang menyebabkan perilaku
seseorangseseorang tentang orang itu aatau tentang situasi yang ada. Pengatributan
Internal mengatakan bahwa karaterisitik orang itulah yang menyebabkan perilakunya.
Pengatributan Eksternal mengatakan bahwa sesuatu tentang situasilah yang menyebabkan
perilaku orang itu.

Para ahli ilmu sosial telah mempelajari pengatributan yang dilakukan oleh orang-orang dan
mengenali tiga factor yang menentukan apakah suatu pengatributan bersifat eksternal atau
internal.
1. Kejelasan. Apakah perilaku tersebut tidak lazim untuk orang itu (berkebalikan dengan
seseorang yang menampilakan perilaku serupa di berbagai situasi). Jika perilakunya sangat
jelas, pemersepsi akan melakukan pengatributan eksternal.
2. Konsistensi. Apakah orang yang diamati memiliki riwayat perilaku serupa. Orang
biasanya melakukan pengatributan internal terhadap perilaku yang konsisten.
3. Konsensus. Apakah orang lain cenderung merespons situasi serupa dengan perilaku yang
sama.
8

4. Seseorang yang mengamati bahwa orang lain menangani situasi uang sama dengan
perilaku serupa kemungkinan besar akan melakukan pengatributan eksternal. Artinya,
kelihatannya situasi tersebut menghasilkan jenis perilaku yang tengah diamati.
Saat mengevaluasi orang lain, kita cenderung meremehkan pengaruh faktor-faktor
eksternal dan terlalu mementingkan pengaruh faktor-faktor internal. Kecenderungan ini
disebut Galat pengatributan dasar ( fundamental attribution error ).
Bias Kepentingan Sendiri ( self-serving bias )
Berarti bahwa orang terlalu membanggakan diri atas hal-hal baik yang mereka kerjakan
dan terlalu mempersalahkan kekuatan-kekuatan eksternal saat mereka gagal.

KEPRIBADIAN DAN PERILAKU


Kepribadian (personality) seseorang adalah serangkaian karaketristik yang mendasari pola
perilaku yang relative stabil dalam merespons ide-ide, objek-objek, atau orang-orang di
lingkungan.
Faktor-faktor kepribadian lima besar (big five personality factors) menggambarkan sikap
ekstrover, keramahan, kehati-hatian, stabilitas emosional, dan sikap terbuka terhadap
pengalaman:
1. Sifat ekstrover. Sejauh mana seseorang bersikap supel, ramah, asertif, dan merasa nyaman
dengan hubungan interpersonal.
2. Keramahan. Sejauh mana seseorang dapat bergaul dengan orang lain dengan berperangai
baik, disukai, kooperatif, memaafkan, memahami, dan memercayai.

3. Kehati-hatian. Sejauh mana seseorang focus terhadap sejumlah tujuan, sehingga


berperilaku secara bertanggung jawab, dapat diandalkan, gigih, dan berorientasi prestasi.
4. Stabilitas emosional. Sejauh mana sesorang bersikap tenang, antusias, dan percaya diri,
berkebalikan dengan bersikap tegang, tertekan, murung, dan gelisah.
5. Sikap terbuka terhadap pengalaman. Sejauh mana seseorang memiliki minat yang luas
imajinatif, kreatif, peka terhadap seni, dan bersedia mempertimbangkan ide-ide baru.
Kecedarasan Emosional
Kecerdasan emosional (EQ) mencakup empat unsure dasar:
1. Kesadaran diri. Unsur ini, sadar akan apa yang kita rasakan, merupakan dasar bagi semua
unsur lain.
2. Manajemen diri. Kemampuan untuk mengendalikan emosi yang meluap dan merusak
serta menyeimbangkan suasana hati sehingga kecemasan, kegelisahan, kekuatan, atau
kemarahan tidak menutupi pemikiran dan menghambar hal-hal yang perlu dilakukan.
3. Kesadaran sosial. Kemampuan memahami orang lain dan menunjukkan empati, yang
berarti mampu merasakan perasaan orang lain, mengetahui perasaan mereka tanpa harus
mengatakannya.
4. Manajemen hubungan. Kemampuan menjalin hubungan dengan orang lain, membina
hubungan yang positif, merespons emosi yang lain, dan memengaruhi orang lain.

Sikap dan Perilaku yang Dipengaruhi oleh Kepribadian


Seseorang berbeda berkenaan dengan apa yang cenderung ia akui sebagai sebab-sebab
kesuksesan dan kegagalan dirinya. Lokus kontrol (locus of control) dirinya menentukan
apakah ia menempatkan tenggung jawab utama di tangannya sendiri atau pada kekuatan luar.
Dimensi

kepribadian

yang

dapat

membantu

memahami

perilaku

kerja

adalah

Machivellianism, yang dicirikan pemerolehan kekuasaan dan manipulasi terhadap orang lain
untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Manajer juga harus menyadari bahwa setiap orang
dapat mengatasi masalah dan membuat keputusan dengan cara yang berbeda. Pendekatan
yang dapat digunakan untuk memahami gaya pemecahan masalah muncul dari hasil kerja
secara psikolog, Carl Jung.
Kepatutan Orang-Pekerjaan

10

Tanggung jawab yang penting bagi manajer adalah mencoba menyesuaikan pegawai dan
karakteristik pekerjaan sehingga pekerjaan dilakukan oleh orang yang memang pas untuk
mengerjakannya.Kesesuaian kemampuan dan kepribadian seseorang dengan sebuah
pekerjaan disebut dengan kepatutan orang-pekerjaan (person-job fit).

PEMBELAJARAN
Pembelajaran (learning) adalah perubahan yang terjadi dalam perilaku atau kinerja yang
terjadi sebagai hasil dari pengalaman.
Proses Pembelajaran
Pertama, seseorang berhadapan dengan pengalaman yang nyata. Peristiwa ini diikuti oleh
pemikiran dan pengamatan reflektif, yang menghasilkan konseptualisasi abstrak, dan pada
akhirnya, pada eksperimentasi aktif. Hasil dari eksperimentasi ini menghasilkan pengalaman
baru, dan siklus ini pun berulang.Orang-orang secara terus-menerus mengetes konseptualisasi
mereka dan mengadaptasinya sebagai hasil dari refleksi dan pengamatan pribadi mereka
tentang pengalaman yang mereka alami.

Gaya Belajar
Individu-individu mengembangkan gaya belajarnya sendiri yang beragam, dalam artian
seberapa besar penekanan mereka dalam tiap siklus pembelajaran. Perbedaan ini terjadi
karena proses pembelajaran diarahkan oleh kebutuhan dan tujuan pribadi. Misalnya,
seseorang teknisi mungkin membutuhkan penekanan yang besar terhadap konsep abstrak,
sedangkan seoarng penjual mungkin akan menekankan pada pengalaman yang nyata atau
konkret. Oleh karena preferensi ini, gaya belajar pribadi biasanya memiliki poin yang kuat
dan yang lemah.

STRES DAN MANAJEMEN STRES


Jika didefinisikan secara formal, stres (stress) adalah respons psikologis dan emosional dari
seorang individu terhadap pemicu eksternal yang memberikan tuntutan fiskk atau psikologis
11

pada individu tersebut dan menciptakan ketidakpastian serta kurangnya kontrol diri ketika
hasil yang penting dipertaruhkan.
Perilaku Tipe A dan Tipe B
Peneliti mengamati bahwa sebagian orang bersifat lebih rapuh daripada orang lain saat
berhadapan dengan dampak buruk dari stres. Penelitian penyakit jantung yang berhubungan
dengan stres menyatakan bahwa orang-orang yang memiliki pola perilaku yang disebut Tipe
A dan Tipe B. Pola perilaku Tipe A (Type A behavior) terdiri atas daya bersaing yang
ekstrem, tidak sabaran, agresif, dan kesetiaan pada pekerjaan. Sebalikanya, pola perilaku Tipe
B (Type B behavior) menunjukkan perilaku-perilaku di pola A, tetapi dengan kadar yang
sangat rendah.

Penyebab Stres Kerja


Satu cara untuk mengenali factor pembuat stres adalah untuk memikirkan stres yang
diciptakan oleh tuntutan pekerjaan dan stres yang diciptakan oleh tekanan dan konflik
antarorang.

Tuntutan pekerjaan adalah factor pembuat stres yang berasal dari tugas yang harus

dikerjakan oleh seseorang yang memegang pekerjaan tertentu.


Tuntutan interpersonal adalah factor penyebab stres yang berhubungan dengan
hubungan-hubungan di organisasi.

Respons Inovatif terhadap Manajemen Stres

12

Organisasi yang ingin memberikan tantangan pada para pegawainya dan tetap memiliki daya
saing pastinya tidak akan bebas dari stres, tetapi tempat kerja yang sehat dapat mendorong
kesehatan fisik dan emosi pegawai mereka. Manajer memiliki kontrol langsung terhadap
banyak hal yang membuat orang-orang stres, termasuk perilakunya sendiri.
Berikut ini adalah beberapa pendekatan proaktif yang dilakukan manajer untuk melawan
tingkat stres yang makin tinggi di tempat kerja saat ini:

Istirahat adalah investasi berharga di mana para pegawai dapat bekerja kembali dengan

energy yang telah diperbarui dan perspektif yang segar.


Program kesehatan memberikan akses pada konsultasi gizi dan fasilitas olahraga.
Programpelatihan dan konferensi dapat membantu orang-orang mengidentifikasi stres dan
mengajari mereka mekanisme dalam menghadapi stres. Melatih manajer untuk mengenali

sinyal peringatan adalah hal penting.


Intervensi manajer adalah tren yang makin tumbuh di perusahaan-perusahaan yang baik.
Inisiatif keseimbangan pekerjaan dan kehidupan pribadi, yang di antaranya pilihan keja
fleksibel seperti telecommuniting dan jam kerja fleksibel, serta keuntungan-keuntungan
kerja, seperti tempat pengasuhan anak atau perawatan orang tua di tempat kerja, pusat
kebugaran, serta layanan pribadi seperti jemputan dan pengantaran cucian.

Bekerja pada bos yang jahat adalah penyebab utama terciptanya stres di tempat kerja. Berikut
ini adalah hal-hal yang biasa dilakukan oleh bos yang jahat untuk menciptakan stres bagi para
bawahanya.
1) Memberikan tuntutan yang tidak masuk akal dan beban kerja yang terlalu banyak.
2) Tidak mengizinkan pegawai memberikan pendapat mengenai bagaimana mereka
mengerjakan tugas.
3) Menciptakan keraguan terus-menerus tentang seberapa baik kinerja pegawai.
4) Menolak untuk terlibat dalam konflik di antara pegawai, membiarkan para
pegawai menyelesaikanya sendiri.
5) Tidak memberikan penghargaan pada pegawai atas kontribusi dan pencapaianya.
6) Terus membuat para pegawai menebak apa yang dirinya harapkan dari mereka.
7) Menganggu dan menggusik pegawai agar tetap tunduk pada dirinya.

13

8) Tidak mengizinkan para pegawai untuk membentuk komunitas; mengatakan pada


mereka bahwa, kantor bukanlah klub sosial.

Intervensi Manajer adalah tren yang makin tumbuh di perusahaan-perusahaan yang


baik.Di Boston Cosulting Group misalnya, bos ikut terlibat jika ia melihat
pegawainya yang bekerja terlalu keras atau yang menunjukkan tanda-tanda stres yang
berlebih. Mark Ostermann mengatakan, rasanya senag sekali ( memiliki bos yang
memberikan dukungan langsung ) Saya jadi tidak usah mengeluh pada setiap orang.

Mereka proaktif dalam berhubungan dengan saya.


Inisiatif Keseimbangan pekerjaan dan kehidupan pribadi, yang diantaranya pilihan
kerja fleksibel, serta keuntungan-keuntungan seperti tempat pengasuhan anak atau
perawatan orang tua di tempat kerja, pusat kebugaran, serta layanan pribadi seperti
jemputan dan pengantaran cucian. Flextime harian dianggap sebagai praktik kerja
yang paling efektif oleh para pegawai, yang berarti memberikan kebebasan pada
pegawai untuk bekerja di jam-jam yang mereka bisa, seperti pulang lebih awal untuk
mengantar orang tua belanja atau libur sehari untuk menghadiri kegiatan sekolah
anaknya

BAB III
PENUTUP

3.1

KESIMPULAN
Perilaku Organisasi adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang perilaku tingkat

individu dan tingkat kelompok dalam suatuorganisasi serta dampaknya terhadap kinerja (baik
kinerja individual, kelompok,Kinerja merupakan penampilan hasil kerja pegawai baik secara
kuantitas maupun kualitas.
Motivasi adalah kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi ke arah tujuan
organisasi.
Setiap pekerjaan memerlukan suatu keterampilan tertentu sesuai dengan bidang nya
masing-masing. Sukar tidaknya suatu pekerjaan serta perasaan seseorang bahwa keahliannya

14

dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan tersebut, akan meningkatkan atau mengurangi


kepuasan kerja.
Komunikasi adalah kegiatan perilaku atau kegiatan penyampaian pesan atau

informasi

tentang pikiran atau perasaan (Roben.J.G).


Kelompok Kerja adalah kelompok yang terutama berinteraksi untuk membagi informasi
dan mengambil keputusan untuk membantu tiap anggota dalam bidang tanggung jawabnya.
Tujuan Berbagi info, Tanggung Jawab. Individual, Keterampilan Beragam/acak.
3.2

SARAN

Makalah ini bermaksud untuk setiap individu atau mahasiwa selalu berprilaku organisasi
untuk mencapai tujuan bersama secara cepat, tepat dan efisien. Adapun saran yang yang lain
semoga makalah ini berguna bagi individu atau kelompok dalam kehidupan berorganisasi dan
segala krtik dan saran tentang makalah ini kami terima dengan lapang dada.

DAFTAR PUSTAKA

Daft L Richard. 2010.Manajemen Buku 2 Edisi 9. Jakarta : Salemba Empat

15