Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KASUS

OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS DEXTRA TIPE AMAN FASE TENANG

Pembimbing:
dr. H. Hamsu Kadriyan, Sp.THT-KL, M.Kes
Disusun Oleh:
Dzaky Ahmada
(H1A 010 011)

Dalam Rangka Mengikuti Kepaniteraan Klinik Madya


Bagian / SMF Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorokan
Rumah Sakit Umum Provinsi Nusa Tenggara Barat
Fakultas Kedokteran Universitas Mataram
Mataram
2015

BAB 1
PENDAHULUAN
Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah,
tuba Eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid. Otitis media terbagi atas otitis
media supuratif dan otitis media non supuratif disebut juga otitis media serosa atau otitis
media sekretoris.1
Masing-masing golongan mempunyai bentuk akut dan kronis yaitu otitis media
supuratif akut atau otitis media akut dan otitis media supuratif kronis. Begitu pula otitis
media serosa terbagi menjadi otitis media serosa akut dan otitis media supuratif kronis. 1
Yang akan dibahas di sini hanyalah otitis media supuratif kronis.
Otitis media supuratif kronis (OMSK) merupakan penyakit infeksi kronis di
bidang THT di Indonesia yang masih sering menimbulkan ketulian dan kematian.2
OMSK merupakan kelanjutan dari proses otitis media akut (OMA), dimana proses ini
minimal berlangsung selama lebih dari 2 bulan. Sebagian besar OMSK berawal dari
infeksi akut telinga tengah atau otitis media akut (OMA), yang sering terjadi pada bayi
dan anak-anak dan jika tidak diobati dengan cepat dan tepat akan berlanjut menjadi
OMSK pada anak dan dewasa.2
Diagnosis dan terapi pada OMSK berbeda berdasarkan tipe OMSK itu sendiri
sehingga perlu dibedakan antara kedua tipe OMSK tersebut. Terapi OMSK dibedakan
menjadi 2 yaitu terapi konservatif dengan medikamentosa untuk OMSK tipe benigna
dan bersifat berbahaya atau tipe maligna dilakukan pembedahan.2

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi Telinga
2.1.1 Anatomi Telinga Luar
Telinga luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membran timpani.
Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Liang telinga berbentuk huruf S,
dengan rangka tulang rawan pada sepertiga bagian luar,sedangkan dua pertiga bagian
dalam rangkanya terdiri dari tulang. Panj8iangnya kira-kira 2,5-3 cm.1
Pada sepertiga bagian luar kulit telinga terdapat banyak kelenjar serumen
(kelenjar keringat) dan rambut. Kelenjar keringat terdapat pada seluruh kulit liang
telinga. Pada dua pertiga bagian dalam hanya dijumpai sedikit kelejar serumen. 1
Diujung dalam liang telinga terdapat bayangan penonjolan bagian bawah maleus
pada membrane timpani disebut sebagai umbo. Dari umbo bermula suatu reflek cahaya
(cone of light) kearah bawah yaitu pukul 7 untuk membrane timpani kiri dan pukul 5
untuk membrane timpani kanan. Di membran timpani terdapat 2 macam serabut sirkuler
dan radier. Serabut inilah yang menyebabkan timbulnya reflek cahaya yang berupa
kerucut itu. Secara klinis, reflek cahaya ini dinilai misalnya bila terdapat reflek cahaya
mendatar berarti didapatkan gangguan pada tuba eustachius. 1
Membrane timpani dibagi dalam 4 kuadran, dengan menarik garis searah dengan
prosesus longus maleus dan garis yang tegak lurus pada garis itu di umbo, sehingga
didapatkan bagian supero-anterior, supero-posterior, infero-anterior serta inferoposterior, untuk menyatakan letak perforasi membrane timpani. 1
2.1.2
-

Anatomi Telinga Tengah


Telinga tengah berbentuk kubus dengan batas-batasnya adalah sebagai berikut1:
Batas luar: membrane timpani
Batas depan: tuba eustachius
Batas bawah: vena jugularis (bulbus jugularis)
Batas belakang: aditus ad antrum, kanalis facialis pars vertikalis
Batas atas: tegmen timpani (meningen/otak)
Batas dalam: berturut-turut dari atas ke bawah kanalis semisirkularis horizontal,
kanalis facialis, tingkap lonjong (oval window), tingkap bundar (round window) dan
promontorium.
Telinga terngah terdiri dari suatu ruang yang terletak antara membrane timpani

dan kapsul telinga dalam, tulang-tulang dan otot yang terdapat didalamnya beserta
penunjangnya, tuba eustachius dan sistem sel-sel udara mastoid. Bagian ini dipisahkan
dari dunia luar oleh suatu membrane timpani dengan diameter kurang lebig setengah
inci. 1
3

Sel-sel udara mastoid sebagai cadangan udara telinga tengah, mempunyai


peranan penting pada regulasi tekanan telinga tengah. Fungsi sel-sel udara mastoid
adalah menangkap suara, resonansi suara, isolasi suara, cadangan udara, melindungi
dari kekerasan luar, meringankan tengkorak. sistem sel-sel udara mastoid berperan pada
patofisiologi penyakit inflamasi telinga tengah.
Didalam telinga tengah terdapat tulang-tulang pendengaran yang tersusun dari
luar kedalam yaitu, maleus, inkus dan stapes. Tulang pendengaran didalam telinga
tengah saling berhubungan. Prosesus longus melekat pada membrane timpani, maleus
melekat pada inkus, dan inkus melakt pada stapes. Stapes terletak pada tingkap lonjong
yang berhubungan dengan koklea. Hibungan antara tulang-tulang pendengaran
merupakan persendian. Tuba eustachius termasuk dalam telinga tengah yang
menghubungkan daerah nasifaring dengan telinga tengah.4

Gambar 1. Anatomi Telinga

2.1.3

Anatomi Telinga Dalam


Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) yang berupa dua setengah

lingkaran dan vestibuler yang terdiri dari 3 buah kalanalis semisirkularis. Ujung atau
puncak koklea disebut helikotrema, menghubungkan perilimfa skala timpani dengan
skala vestibuli. 1
Kanalis semisirkularis saling berhubungan secara tidak lengkap dan membentuk
lingkaran yang tidak lengkap. Pada irisan melintang koklea tampak skala vestibuli
sebela atas, skala timpani di sebelah bawah dan skala media (duktus koklearis)
diantaranya. Skala vestibuli dan skala timpani berisi perilimfe, sedangkan skala media
berisi endolimfe. Ion dan garam yang terdapat pada perilimfe berbeda dengan endo

limfe. Dasar skala vestibuli disebut sebagai membran vestibuli (membran reissner)
sedangkan dasar skala media adalah membran basalis. Pada membran ini terletak organ
korti.2
Pada skala media terdapat bagian yang berbetuk lidah yang disebut membran
tektoria, dan pada membran basal melekat sel rambut yang terdiri dari sel rambut dalam,
sel rambut luar dan kanalis korti, yang membentuk organ korti.3
2.2 Fisiologi telinga
Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga
dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang ke koklea. Getaran
tersebut menggetarkan membran timpani diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian
tulang pendengaran yang akan mengamplifikasikan getaran melalui daya ungkit tulang
pendengaran dan perkalian perbandingan luas membran timpani dan tingkap lonjong. 1
Energi getar yang telah diamplifikasi ini akan diteruskan ke stapes yang
menggerakkan tingkap lonjong sehingga perilimfa pada skala vestibuli bergerak.
Getaran diteruskan melalui membran reissner yang mendorog endolimfe, sehingga akan
menimbulkan gerak relatif antara membran basilaris dan membran tektoria. Proses ini
merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan terjadinya defeksi stereosilia sel-sel
rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi pelepasan ion bermuatan listrik dari
badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut, sehingga
melepaskan neurotransmitter ke dalam sinapsis yang akan menimbulkan potensial aksi
pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius sampai ke korteks
pendengaran (area 39-40) lobus temporalis. 1
2.3 Terminologi
Otitis media adalah peradangan pada telinga tengah. Banyak ahli membuat
pembagian dan klasifikasi otitis media. Secara mudah, otitis media terbagi atas otitis
media supuratif dan otitis media non supuratif (=otitis media serosa, otitis media
sekretoria, otitis media musinosa, otitis media efusi/OME).1
Otitis media supuratif kronis adalah infeksi kronis di telinga tengah dengan
perforasi membran timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah terus menerus
atau hilang timbul. Sekret yang keluar mungkin encer atau kental, bening atau berupa
nanah. Otitis media akut dengan perforasi membran timpani dapat menjadi otitis media
supuratif kronis bila prosesnya sudah lebih dari 2 bulan. Bila proses infeksi kurang dari
2 bulan, disebut sebagai otitis media supuratif subakut.1

2.4 Epidemiologi
Otitis media lebih sering timbul di musim dingin daripada musim semi. Di
beberapa penelitian disebutkan penyakit ini banyak diderita laki-laki, sementara diantara
anak-anak Amerika kulit putih dan kulit hitam tidak ada perbedaan.3
Data epidemiologi OMSK bervariasi, prevalensi tertinggi didapatkan pada anakanak Eskimo, Indian Amerika, dan Aborigin Australia (7-46%). Negara industri seperti
Amerika Serikat dan Inggris prevalensinya kurang 1%. 3
Secara umum, prevalensi OMSK di Indonesia adalah 3,8% dan pasien OMSK
merupakan 25% dari pasien-pasien yang berobat di poliklinik THT rumah sakit di
Indonesia. Tahun 2008 kunjungan baru penderita OMSK sebanyak 208 dengan
perbandingan laki-laki dan perempuan hampir sama.3
2.5 Etiologi
Terjadi OMSK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang pada anak,
jarang dimulai setelah dewasa. Faktor infeksi biasanya berasal dari nasofaring
(adenoiditis, tonsilitis, rinitis, sinusitis), mencapai telinga tengah melalui tuba
Eustachius.3
Penyebab OMSK antara lain4,5:
1. Lingkungan
2. Genetik
Faktor genetik masih diperdebatkan sampai saat ini, terutama apakah insiden
OMSK berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan sebagai faktor
genetik. Sistem sel-sel udara mastoid lebih kecil pada penderita otitis media, tapi
3.
4.
5.
6.

belum diketahui apakah hal ini primer atau sekunder.


Otitis media sebelumnya.
Infeksi
Infeksi saluran nafas atas
Autoimun
Penderita dengan penyakit autoimun akan memiliki insiden lebih besar terhadap

otitis media kronis.


7. Alergi
Penderita alergi mempunyai insiden otitis media kronis yang lebih tinggi dibanding
yang bukan alergi. Yang menarik adalah dijumpainya sebagian penderita yang
alergi terhadap antibiotik tetes telinga atau bakteria atau toksin-toksinnya, namun
hal ini belum terbukti kemungkinannya.
8. Gangguan fungsi tuba eustachius.

Pada otitis kronis aktif, dimana tuba eustachius sering tersumbat oleh edema tetapi
apakah hal ini merupakan fenomena primer atau sekunder masih belum diketahui.
Pada telinga yang inaktif berbagai metode telah digunakan untuk mengevaluasi
fungsi tuba eustachius dan umumnya menyatakan bahwa tuba tidak mungkin
mengembalikan tekanan negatif menjadi normal.
Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan perforasi membran timpani menetap
pada OMSK 4,5,6:
Infeksi yang menetap pada telinga tengah mastoid yang mengakibatkan produksi

sekret telinga purulen berlanjut


Berlanjutnya obstruksi tuba eustachius yang mengurangi penutupan spontan pada

perforasi
Beberapa perforasi yang besar mengalami penutupan spontan melalui mekanisme

migrasi epitel
Pada pinggir perforasi dari epitel skuamous dapat mengalami pertumbuhan yang
cepat diatas sisi medial dari membran timpani. Proses ini juga mencegah penutupan
spontan dari perforasi.

2.6 Patogenesis
Banyak penelitian

pada hewan percobaan dan preparat tulang temporal

menemukan bahwa adanya disfungsi tuba Eustachius, yaitu suatu saluran yang
menghubungkan rongga di belakang hidung (nasofaring) dengan telinga tengah (kavum
timpani), merupakan penyebab utama terjadinya radang telinga tengah ini (otitis
media).1
Pada keadaan normal, muara tuba Eustachius berada dalam keadaan tertutup dan
akan

membuka

bila

kita

menelan.

Tuba

Eustachius

ini

berfungsi

untuk

menyeimbangkan tekanan udara telinga tengah dengan tekanan udara luar (tekanan
udara atmosfer). Fungsi tuba yang belum sempurna, tuba yang pendek, penampang
relatif besar pada anak dan posisi tuba yang datar menjelaskan mengapa suatu infeksi
saluran nafas atas pada anak akan lebih mudah menjalar ke telinga tengah sehingga
lebih sering menimbulkan OM daripada dewasa.1
Pada anak dengan infeksi saluran nafas atas, bakteri menyebar dari nasofaring
melalui tuba Eustachius ke telinga tengah yang menyebabkan terjadinya infeksi dari
telinga tengah. Pada saat ini terjadi respons imun di telinga tengah. Mediator
peradangan pada telinga tengah yang dihasilkan oleh sel-sel imun infiltrat, seperti
netrofil, monosit, dan leukosit serta sel lokal seperti keratinosit dan sel mastosit akibat

proses infeksi tersebut akan menambah permiabilitas pembuluh darah dan menambah
pengeluaran sekret di telinga tengah. Selain itu, adanya peningkatan beberapa kadar
sitokin kemotaktik yang dihasilkan mukosa telinga tengah karena stimulasi bakteri
menyebabkan terjadinya akumulasi sel-sel peradangan pada telinga tengah.1
Mukosa telinga tengah mengalami hiperplasia, mukosa berubah bentuk dari satu
lapisan, epitel skuamosa sederhana, menjadi pseudostratified respiratory epithelium
dengan banyak lapisan sel di antara sel tambahan tersebut. Epitel respirasi ini
mempunyai sel goblet dan sel yang bersilia, mempunyai stroma yang banyak serta
pembuluh darah. Penyembuhan OM ditandai dengan hilangnya sel-sel tambahan
tersebut dan kembali ke bentuk lapisan epitel sederhana.2
2.7 Klasifikasi
OMSK dapat dibagi atas 2 jenis, yaitu OMSK tipe aman (tipe mukosa = tipe
benigna) dan OMSK tipe bahaya (tipe tulang = tipe maligna).1
Berdasarkan aktifitas sekret yang keluar dikenal juga OMSK tipe aktif dan
OMSK tenang. OMSK aktif adalah OMSK dengan sekret yang keluar dari kavum
timpani secara aktif, sedangkan OMSK tenang adalah yang keadaan kavum timpaninya
terlihat basah atau kering. 1
Proses peradangan pada OMSK tipe aman terbatas pada mukosa saja, dan
biasanya tidak mengenai tulang. Perforasi terletak disentral. Umumnya OMSK tipe
aman jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Pada OMSK tipe aman tidak
terdapat kolesteatoma. Kolesteatom adalah suatu kista epiterial yang berisi deskuamasi
epitel (keratin).
Yang dimaksud OMSK tipe maligna adalah OMSK yang disertai dengan
kolesteatom. OMSK ini dikenal juga dengan OMSK tipe bahaya atau OMSK tipe
tulang. Perforasi pada OMSK tipe bahaya letaknya marginal atau di atik, kadangkadang terdapat juga kolesteatom pada OMSK dengan perforasi subtotal. Sebagian
besar komplikasi yang berbahaya atau fatal timbul pada OMSK tipe bahaya.1
Bentuk perforasi membran timpani adalah1 :
1. Perforasi sentral
Lokasi pada pars tensa, bisa antero-inferior, postero-inferior dan postero-superior,
kadang-kadang sub total.
2. Perforasi marginal
Terdapat pada pinggir membran timpani dengan adanya erosi dari anulus fibrosus.
Perforasi marginal yang sangat besar digambarkan sebagai perforasi total. Perforasi
pada pinggir postero-superior berhubungan dengan kolesteatom.
8

3. Perforasi atik
Terjadi pada pars flasida, berhubungan dengan primary acquired cholesteatoma.
Menurut luasnya perforasi4
a) Perforasi kecil
b) perforasi sedang
c) perforasi luas ( subtotal -- total)

2.8 Diagnosis
2.8.1 Anamnesis
Penyakit telinga kronis ini biasanya terjadi perlahan-lahan dan penderita
seringkali datang dengan gejala-gejala penyakit yang sudah lengkap. Gejala yang paling
sering dijumpai adalah telinga berair, adanya sekret di liang telinga yang pada tipe
tubotimpanal sekretnya lebih banyak dan seperti berbenang (mukous), tidak berbau
busuk dan intermiten, sedangkan pada tipe atikoantral, sekretnya lebih sedikit, berbau
busuk, kadangkala disertai pembentukan jaringan granulasi atau polip, maka sekret yang
keluar dapat bercampur darah. Ada kalanya penderita datang dengan keluhan kurang
pendengaran atau telinga keluar darah1.
Adapun gejala klinisnya sebagai berikut,
Telinga berair (otorrhoe)
Sekret bersifat purulen (kental, putih) atau mukoid (seperti air dan encer)
tergantung stadium peradangan. Sekret yang mukus dihasilkan oleh aktivitas kelenjar
sekretorik telinga tengah dan mastoid. Pada OMSK tipe jinak, cairan yang keluar
mukopus yang tidak berbau busuk yang sering kali sebagai reaksi iritasi mukosa telinga
tengah oleh perforasi membran timpani dan infeksi. Keluarnya sekret biasanya hilang
timbul. Meningkatnya jumlah sekret dapat disebabkan infeksi saluran nafas atas atau
kontaminasi dari liang telinga luar setelah mandi atau berenang2.
Pada OMSK stadium inaktif tidak dijumpai adannya sekret telinga. Sekret yang
sangat bau, berwarna kuning abu-abu kotor memberi kesan kolesteatoma dan produk
degenerasinya. Dapat terlihat keping-keping kecil, berwarna putih, mengkilap. Pada
OMSK tipe ganas unsur mukoid dan sekret telinga tengah berkurang atau hilang karena
rusaknya lapisan mukosa secara luas. Sekret yang bercampur darah berhubungan
dengan adanya jaringan granulasi dan polip telinga dan merupakan tanda adanya
kolesteatom yang mendasarinya. Suatu sekret yang encer berair tanpa nyeri mengarah
kemungkinan tuberkulosis3.
Gangguan pendengaran
9

Ini tergantung dari derajat kerusakan tulang-tulang pendengaran. Biasanya


dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran. Gangguan pendengaran
mungkin ringan sekalipun proses patologi sangat hebat, karena daerah yang sakit
ataupun kolesteatom, dapat menghambat bunyi dengan efektif ke fenestra ovalis. Bila
tidak dijumpai kolesteatom, tuli konduktif kurang dari 20 db ini ditandai bahwa rantai
tulang pendengaran masih baik. Kerusakan dan fiksasi dari rantai tulang pendengaran
menghasilkan penurunan pendengaran lebih dari 30 db2.
Beratnya ketulian tergantung dari besar dan letak perforasi membran timpani
serta keutuhan dan mobilitas sistem pengantaran suara ke telinga tengah. Pada OMSK
tipe maligna biasanya didapat tuli konduktif berat karena putusnya rantai tulang
pendengaran, tetapi sering kali juga kolesteatom bertindak sebagai penghantar suara
sehingga ambang pendengaran yang didapat harus diinterpretasikan secara hati-hati2.
Penurunan fungsi koklea biasanya terjadi perlahan-lahan dengan berulangnya
infeksi karena penetrasi toksin melalui jendela bulat (foramen rotundum) atau fistel
labirin tanpa terjadinya labirinitis supuratif. Bila terjadinya labirinitis supuratif akan
terjadi tuli saraf berat, hantaran tulang dapat menggambarkan sisa fungsi kohlea.
Otalgia ( nyeri telinga)
Nyeri tidak lazim dikeluhkan penderita OMSK, dan bila ada merupakan suatu
tanda yang serius. Pada OMSK keluhan nyeri dapat karena terbendungnya drainase pus.
Nyeri dapat berarti adanya ancaman komplikasi akibat hambatan pengaliran sekret,
terpaparnya durameter atau dinding sinus lateralis, atau ancaman pembentukan abses
otak. Nyeri telinga mungkin ada tetapi mungkin oleh adanya otitis eksterna sekunder.
Nyeri merupakan tanda berkembang komplikasi OMSK seperti Petrositis, subperiosteal
abses atau trombosis sinus lateralis2.
Vertigo
Vertigo pada penderita OMSK merupakan gejala yang serius lainnya. Keluhan
vertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel labirin akibat erosi dinding
labirin oleh kolesteatom. Vertigo yang timbul biasanya akibat perubahan tekanan udara
yang mendadak atau pada panderita yang sensitif keluhan vertigo dapat terjadi hanya
karena perforasi besar membran timpani yang akan menyebabkan labirin lebih mudah
terangsang oleh perbedaan suhu. Penyebaran infeksi ke dalam labirin juga akan
meyebabkan keluhan vertigo. Vertigo juga bisa terjadi akibat komplikasi serebelum.
Fistula merupakan temuan yang serius, karena infeksi kemudian dapat berlanjut dari
telinga tengah dan mastoid ke telinga dalam sehingga timbul labirinitis dan dari sana

10

mungkin berlanjut menjadi meningitis. Uji fistula perlu dilakukan pada kasus OMSK
dengan riwayat vertigo. Uji ini memerlukan pemberian tekanan positif dan negatif pada
membran timpani, dengan demikian dapat diteruskan melalui rongga telinga tengah2,3,4.
2.8.2

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Rutin telinga hidung dan tenggorokan diperlukan untuk

menegakkan diagnosis dan mengetahui asal infeksi disekitar telinga. Dapat digunakan
pemeriksaan dengan otoskopi. Pemeriksaan otoskopi akan menunjukan adanya dan
letak perforasi. Dari perforasi dapat dinilai kondisi mukosa telinga tengah1.
2.8.3

Pemeriksaan penunjang

1. Pemeriksaan audiologi1
Evaluasi audiometri, pembuatan audiogram nada murni untuk menilai hantaran
tulang dan udara, penting untuk mengevaluasi tingkat penurunan pendengaran dan
untuk menentukan gap udara dan tulang. Audiometri tutur berguna untuk menilai
speech reception threshold pada kasus dengan tujuan untuk memperbaiki
pendengaran.
Pemeriksaan penala adalah pemeriksaan sederhana untuk mengetahui adanya
gangguan pendengaran. Untuk mengetahui jenis dan derajat gangguan pendengaran
dapat dilakukan pemeriksaan audiometri nada murni, audiometri tutur (speech
audiometry) dan pemeriksaan BERA (brainstem evoked responce audiometry) bagi
pasien anak yang tidak kooperatif dengan pemeriksaan audiometri nada murni.
2. Pemeriksaan radiologi1
Radiologi konvensional, foto polos radiologi, posisi Schller berguna untuk
menilai kasus kolesteatoma, sedangkan pemeriksaan CT scan dapat lebih efektif
menunjukkan anatomi tulang temporal dan kolesteatoma.
3. Pemeriksaan bakeriologik dengan media kultur pada OMSK1
Identifikasi kuman didasarkan pada morfologi koloni kuman yang tumbuh pada
media kultur (agar darah) dan uji biokimia. Identifikasi bakteriologik dalam tubuh
manusia (dalam hal ini sekret telinga penderita OMSKBA) masih mengandalkan
teknik kultur murni. Pemeriksaan penunjang lain berupa uji resistensi kuman dari
sekret telinga.
2.9 Penatalaksanaan
Terapi OMSK tidak jarang memerlukan waktu lama, serta harus berulang-ulang.
Sekret yang keluar tidak cepat kering atau selalu kambuh lagi. Keadaan ini antara lain
disebabkan oleh satu atau beberapa keadaan yaitu: adanya perforasi membran timpani
11

yang permanen, sehingga telinga tengah berhubungan dengan dunia luar; terdapat
sumber infeksi di faring, nasofaring, hidung dan sinus paranasal; sudah terbentuk
jaringan patologik yang irreversibel dalam rongga mastoid dan ; gizi dan higiene yang
kurang.1
Prinsip terapi OMSK tipe aman adalah konserfatif atau dengan medikamentosa.
Bila sekret yang keluar terus-menerus, maka diberikan obat pencuci telinga, berupa
larutan H2O2 3% selama 3-5 hari. Secara oral diberikan antibiotika dari golongan
ampisilin atau eritromisin (bila pasien alergi terhadap ampisilin) sebelum hasil tes
resistensi diterima. Pada infeksi yang dicurigai penyebebnya telah resisten terhadap
ampisilin dapat diberikan ampisilin asam klavulanat.1
Bila sekret telah kering, tetapi perforasi masih ada setelah diobservasi selama 2
bulan maka idealnya dilakukan meringoplasti atau timpanoplasti. Operasi ini bertujuan
untuk menghentikan infeksi secara permanen, memperbaiki membran timpani yang
perforasi, mencegah terjadinya komplikasi dan kerusakan pendengaran yang lebih berat,
serta memperbaiki pendengaran.1
Bila terdapat sumber infeksi yang menyebabkan sekret tetap ada, atau terjadinya
infeksi berulang, maka sumber infeksi itu harus diobati terlebih dahulu, mungkin juga
perlu dilakukan pembedahan, misalnya adenoidektomi atau tonsilektomi.1
Prinsip terapi OMSK tipe bahaya adalah pembedahan, yaitu mastoidektomi.
Jadi, bila terdapat OMSK tipe bahaya, maka terapi yang tepat adalah dengan melakukan
mastoidektomi dengan atau tanpa timpanoplasti. Terapi konservatif dengan medika
mentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan. Bila
terdapat abses periosteal retroaurikuler, maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri
sebelum mastoidektomi. 1
Untuk mencapai hasil terapi antimikroba yang optimal pada OMSK, harus
dilakukan isolasi kuman penyebab dan uji kepekaan terhadap antimikroba. Meskipun
demikian, tidak semua OMSK berhasil diatasi dengan terapi antimikroba, walaupun
terapi yang diberikan telah sesuai dengan uji kepekaan.
Jeni pembedahan pada OMSK1
1.Mastidektomi Sederhana
Operasi ini dilakukan pada OMSK tipe benigna yang dengan pengobatan
konservatif tidak sembuh. Dengan tindakan operasi ini dilakukan pembersihan ruang
mastoid dari jaringan patologik. Tujuannya ialah supaya infeksi tenang dan telinga tidak
berair lagi. Pada operasi ini fungsi pendengaran tidak diperbaiki.

12

2.Mastoidektomi radikal
Operasi init dilakukan pada OMSK maligna dengan infeksi atau kolesteatoma
yang sudah meluas. Pada operasi ini rongga mastoid dan kavum timpani dibersihkan
dari semua jaringan patologik. Dinding batas antara telinga luar dan telinga tengah
dengan rongga mastoid diruntuhkan sehingga ketiga daerah anatomi tersebut menjadi
satu ruangan. Tujuan operasi ini ialah untuk membuang semua jaringan patologik dan
mencegah

komplikasi

ke

intracranial.

Fungsi

pendengaran

tidak

diperbaiki.

Keburukannya ialah pasien tidak diperbolehkan berenang seumur hidupnya. Pasien


harus datang dengan teratur untuk control, supaya tidak terjadi infeksi kembali.
Pendengaran berkurang sekali sehingga dapat menghambat pendidikan atau karier
pasien.
3.Mastoidektomi radikal dengan modifikasi
Operasi ini dilakukan pada OMSK dengan kolesteatoma di daerah atik, tetapi
belum merusak kavum timpani. Seluruh rongga mastoid dibersihan dan dinding
posterior liang telinga direndahakan. Tujuan operasi ini ialah untuk membuang semua
jaringan patologik dari rongga mastoid dan mempertahankan pendengaran yang masih
ada.
4.Miringoplasti
Operasi ini merupakan jenis timpanoplasti yang paling ringan, dikenal juga
dengan timpanoplasti tipe I. Rekontruksi hanya dilakukan pada membran timpani.
Tujuan operasi untuk mencegah berulangnya infeksi telinga tengah pata OMSK tipe
benigna dengan perforasi yang menetap. Operasi ini dilakukan pada OMSK tipe
benigna yang sudah tenang dengan ketulian ringan yang disebabkan oleh perforasi
membran timpani.
5.Timpanoplasti
Operasi ini dikerjakan pada OMSK tipe benigna dengan kerusakan yang lebih
berat atau OMSK tipe benigna yang tidak dapat ditenangkan dengan pengobatan
medikamentosa. Tujuan operasi ini untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki
pendengaran.
Pada operasi ini selain rekontruksi membran timpani sering dilakukan juga
rekontruksi tulang pendengaran. Berdasarkan bentuk rekontruksi tulang pendengaran
yang dilakukan maka dikenal istilah timpanoplasti tipe II, III, IV dan V.
Sebelum rekontruksi dikerjakan, lebih dahulu dilakukan eksplorasi kavum
timpani degan atau tanpa mastoidektomi untuk membersihkan jaringan patologis. Tidak
jarang pula operasi ini terpaksa dilakukan 2 tahap dengan jarak waktu 6 s/d 12 bulan.
13

6.Pendekatan ganda timpanoplasti atau combined approach tympanoplasty


Merupakan tehnik operasi timpanoplasti yang dikerjakan pada kasusu OMSK
tipe maligna. Tujuan operasi untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki
pendengaran tanpa melakukan tehnik radikal mastoidektomi (tanpa meruntuhkan
dinding posterior liang telinga).
Membersihkan kolesteatoma dan jaringan granulasi di kavum timpani,
dikerjakan melalui 2 jalan (combined approach) yaitu melalui liang telinga gan rongga
mastoid dengan melakukan timpanotomi posterior. Tehnik ini belum disepakati oleh
para ahli oleh karena sering terjadi kekambuhan terbentuknya kolesteatoma.
2.10

Komplikasi

Komplikasi OMSK dapat dibagi atas:5,6


1. Komplikasi intratemporal (komplikasi ekstrakranial) terdiri dari parese n. Fasial
dan labirinitis.
2. Komplikasi ekstratemporal (komplikasi intrakranial) terdiri dari abses
ekstradural, abses subdural, tromboflebitis sinus lateral, meningitis, abses otak,
hidrosefalus otitis. Pada radang telinga tengah menahun ini walaupun telinga
berair sudah bertahun-tahun lamanya telinga tidak merasa sakit, apabila didapati
telinga terasa sakit disertai demam, sakit kepala hebat dan kejang menandakan
telah terjadi komplikasi ke intrakranial.

14

BAB 3
LAPORAN KASUS
I. Identitas Pasien
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Agama
Alamat
Suku
No. RM
Tgl. MRS
Tgl. Pemeriksaan
II.

: Tn MJ
: 20 tahun
: Laki-laki
: Islam
: Sumbawa
: Samawa
: 123204
: 5 Oktober 2015
: 5 Oktober 2015

Anamnesa
Keluhan utama : Pendengaran menurun
Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke poli THT RSUP NTB mengeluh
mengalami pendengaran menurun sudah bertahun-tahun lamanya sejak dia kecil,
keluhan pendengaran menurun awalnya pada telainga kanan saja, namun saat ini
telinga kiri juga mengalami penurunan, terutama dirasakan pada telinga kanan.
telinga berdenging (+), muncul tidak tentu. Pasien sering mengeluhkan pusing
berputar(+) yang datang sewaktu-waktu. Nyeri kepala (-), nyeri belakang telinga (-),
demam (-) disangkal untuk 1 bulan terakhir. Gangguan hidung dan tenggorokan
disangkal.
Riwayat Penyakit Dahulu: keluhan serupa (+), Pasien mengaku ketika duduk di
sekolah dasar hingga SMP telinga kanan pasien pernah mengeluarkan cairan berbau,
berwarna putih, terkadang juga berwarna hijau kekungingan, keluhan tersebut
muncul dua kali dan selalu disertai batuk pilek dan nyeri telinga (-), HT (-), DM (-),
Asma (-)
Riwayat Penyakit Keluarga: Menurut pasien tidak ada keluarga yang mempunyai
keluhan yang serupa dengan pasien.
Riwayat Pengobatan: saat keluhan telinga keluar cairan pasien membawanya ke
dokter dan sembuh..
Riwayat Alergi : Riwayat alergi disangkal oleh pasien.

III.

Pemeriksaan Fisik
KU : Baik
Nadi : 96x/m
Status Lokalis
Bagian Telinga

Suhu : 36,1C

Kesadaran : CM
R : 18x/m

Telinga Kanan

Telinga Kiri

15

Aurikula :
- Deformitas
- Hiperemis
- Edema
Daerah preaurikula :
- Hiperemis
- Edema
- Fistula
- Nyeri tekan
Daerah retroaurikula :
- Hiperemis
- Edema
- Fistula
- Nyeri tekan
MAE :
- Serumen
- Edema
- Hiperemis
- Furunkel
- Otore
Membran timpani :
- Intak
- Cone of light
Gambar :

Tes Garputala
Rinne
Weber
Scwabach
Rinoskopi Anterior
Mukosa
Septum :
- Deviasi
- Deformitas
- Hematoma
Konka media & inferior :
- Hipertrofi
- Hiperemis
Meatus media & inferior
- Sekret serous
- Polip

(-)
(-)
(-)

(-)
(-)
(-)

(-)
(-)
(-)
(-)

(-)
(-)
(-)
(-)

(-)
(-)
(-)
(-)

(-)
(-)
(-)
(-)

(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

(+)
(-)
(-)
(-)
(-)

(-)
(-)

(+)
(-)

+
Lateralisasi ke kanan
memendek
Memendek
Kavum Nasi Dekstra
Kavum Nasi Sinistra
Edema (-), hiperemi (-)
Edema (-), hiperemi (-)

(-)
(-)
(-)

(-)
(-)
(-)

(-)
(-)

(-)
(-)

(-)
(-)

(-)
(-)

16

Gambar :

Bagian
Mukosa bukal
Gigi dan gingiva
Palatum durum & palatum mole
Mukosa Faring
Tonsil
Gambar :

Keterangan
Warna mukosa merah muda, hiperemis (-), massa (-)
Warna mukosa merah muda, hiperemis (-), karies (+)
Hiperemis (-), massa (-)
Hiperemis (-), edema (-),massa(-), granul (-), ulkus (-)
Hiperemis (-), ukuran (T1-T1), dedritus (-)

Pembesaran kelenjar getah bening (-)


IV.

Pemeriksaan Penunjang
Audiometri

17

V.
VI.
VII.
-

Rerata Hasil (500-1K-2K-4K):


Kanan : 20 dB
Kiri : 12,5 dB
Kesimpulan: telinga kanan dan kiri didapatkan hasil normal
Diagnosis
Otitis media supuratif kronik Dextra tipe aman fase tenang
Usulan Pemeriksaan
Rontgen mastoid
Penatalaksanaan
Vitamin dan mencegah tinitus dan vertigo jika muncul kembali
o Kombinasi B1, B12 2x1 tab
o Betahistin tablet 1x1 (bila pusing berputar)
KIE
o Telinga yang berlubang mungkin bisa menutup kembali
o jangan mengorek telinga, air jangan masuk ke telinga sewaktu mandi,
dilarang berenang.
o Bila terjadi gangguan batuk, pilek, atau rasa nyeri pada dahi, dan
samping hidung segera memeriksakan diri untuk mencegah perforasi
memrban timpani memburuk

18

BAB 4
PEMBAHASAN
Otitis media supuratif kronik (OMSK) merupakan peradangan atau infeksi
kronis yang mengenai mukosa dan struktur tulang di dalam kavum timpani, ditandai
dengan perforasi membran timpani, sekret yang keluar terus-menerus atau hilang
timbul. Berdasarkan

anamnesis

dan

pemeriksaan

fisik,

pasien

didiagnosis

menderita OMSK. Berdasarkan anamnesa, pasien memiliki riwayat keluarnya cairan


dari telinga kanan, namun saat ini sudah tidak mengeluarkan cairan lagi. Pasien juga
mengeluhkan pusing berputar dan nyeri pada telinga kanan. Pasien juga mengeluhkan
pendengaran pada menurun.
Penurunan pendengaran

pada

pasien

OMSK

tergantung

dari

derajat

kerusakan tulang-tulang pendengaran yang terjadi. Biasanya dijumpai tuli konduktif,


namun dapat pula

terjadi

tuli

persepsi

yaitu

bila

telah

terjadi

invasi

ke

labirin, atau tuli campuran.


Gangguan pendengaran mungkin tidak ada atau terjadi ringan sekalipun proses
patologi sangat hebat. Beratnya ketulian tergantung dari besar dan letak perforasi
membran timpani serta keutuhan dan mobilitas sistim pengantaran suara ke telinga
tengah.
Pada pasien ini dari hasil pemeriksaan didapatkan perforasi sentral pada
membran timpani. Dalam

proses

penyembuhannya

dapat

terjadi

penumbuhan

epitel skuamosa ke dalam telinga tengah. Kadang-kadang perluasan lapisan


tengah ini ke daerah atik mengakibatkan pembentukan kantong dan kolesteatom.
Pembentukan kolesteatom ini akan menekan tulang-tulang di sekitarnya sehingga
mengakibatkan terjadinya destruksi tulang, yang ditandai dengan sekret yang kental dan
berbau.
Prinsip

pengobatan

pasien

OMSK

benigna tenang

adalah tidak

memerlukan pengobatan, dan dinasehatkan untuk jangan mengorek telinga, air jangan
masuk ke telinga sewaktu mandi, dilarang berenang dan segera berobat bila menderita
infeksi saluran nafas atas. Bila fasilitas memungkinkan sebaiknya dilakukan operasi
rekonstruksi (miringoplasti, timpanoplasti) untuk mencegah infeksi berulang serta
gangguan pendengaran.

19

Daftar Pustaka
1. Djaafar H Z. Otitis Media. Dalam Nurbaiti I dan Efiaty A S, eds. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Telinga Hidung dan Tenggorok. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia 2012.
2. Paparella MM, Adams

GL,

Levine

SC.

Penyakit

telinga

tengah

dan

mastoid. Dalam: Effendi H, Santoso K, Ed. BOIES buku ajar penyakit THT. Edisi 6.
Jakarta: EGC, 1997
3. Pracy R, Siegler and PM Stell, eds. Pelajaran Ringkas Telinga Hidung dan
Tenggorok. Jakarta : PT Gramedia 1989.
4. Cody T R, Kern E B and Pearson B W. Otore dan Pruritus di Telinga. In Petrus
Andrianto, ed. Penyakit Telinga Hidung dan Tenggorok. Jakarta : EGC 1991
5. Helmi. Komplikasi otitis media supuratif kronis dan mastoiditis. Dalam: Soepardi
EA, Iskandar N, Ed. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher.
Edisi kelima. Jakarta: FKUI, 2012
6. Berman S. Otitis media in developing countries. Pediatrics. July 2006. Available

from URL: http://www.pediatrics.org/

20