Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa lepas dari yang namanya
masyarakat. Begitu pula dengan remaja, mereka memerlukan interaksi dengan
orang lain untuk mencapai kedewasaannya. Yang perlu dicermati adalah
bagaimana remaja itu bergaul, dengan siapa, dan apa saja dampak pergaulannya
itu bagi dirinya, orang lain, dan lingkungannya. Untuk itu, kita lihat terlebih
dahulu pengertian pergaulan. Pergaulan berasal dari kata gaul, yang artinya
persahabatan atau bermasyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Namun, tidak
demikian di kalangan kebanyakan remaj saat ini. Gaul menurut dimensi remajaremaja yang katanya modern itu adalah ikut mode, trend, dan hal lain yang
berhubungan dengan keglamoran hidup. Mereka harus masuk ke dalam genggeng, sering nongkrong, dan bepergian ke berbagai tempat seperti mall, tempat
wisata, game center, dan lain-lain. Yangmana akhirnya akan membawa mereka
pada budaya konsumtif.
Yang patut disayangkan pula pada dimensi pergaulan remaja saat ini
adalah standar nilainya diambil dari tradisi budaya atau cara hidup masyarakat
non-muslim. Contoh, baju yang dipakai itu modelnya harus sesuai dengan modemode yang berkembang didunia internasional saat ini. Dan bisa kita lihat bajubaju tersebut kurang cocok dengan kriteria pakaian yang pantas secara islam.
Solidaritas dan kesetia-kawanan sering dijadikan landasan untuk masuk
kedunia hura-hura. Dengan kesetia-kawanan itu pula kebanyakan remaja mulai
minum minuman keras, mengkonsumsi rokok, memakai nakoba, bahkan seks
bebas. Dan jika tidak mengikuti kegiatan geng atau teman nongkrong maka akan
dianggap tidak setia kawan. Paradigma seperti itulah yang menggerayangi fikira
sebagian remaja saat ini. Sebenarnya dengan tindakan seperti itu mereka telah
merusak makna solidaritas atau kesetiakawanan itu sendiri.

BAB II
PEMBAHASAN
ETIKA PERGAULAN MUDA-MUDI DALAM PANDANGAN ISLAM

1. Definisi Pergaulan dan Etika


1.1 Pergaulan
Pergaulan berasal dari kata gaul. Orang gaul adalah orang yang berakhlak
islami yang mana dengan kesupelannya memudahkannya untuk beradaptasi
sehingga diperoleh kemudahan dalam berdakwah kepada orang lain (VOAISLAM.COM). Jadi, dapat dikatakan pula bahwa pergaulan adalah proses
interaksi yang dilakukan oleh individu dengan individu, dapat juga oleh individu
dengan kelompok. Juga, pergaulan merupakan salah satu cara seseorang untuk
berinteraksi dengan alam sekitarnya. Pergaulan merupakan fitrah manusia sebagai
makhluk social yang tak mungkin bisa hidup sendirian. Manusia juga memiliki
sifat tolong-menolong dan saling membutuhkan satu sama lain. Interaksi dengan
sesame manusia juga menciptakan kemaslahatan besar bagi manusia itu sendiri
dan juga lingkungannya. Berorganisasi, bersekolah, dan bekerja merupakan
contoh-contoh aktivitas bermanfaat besar yang melibatkan pergaulan antar
manusia. Namun, pergaulan tanpa dibentengi iman yang kokoh akan mudah
membuat seorang muslim terjerumus. Kita lihat di zaman sekarang, banyak
kejadian yang dapat membuat kita mengelus dada. Pergaulan bebas, video mesum,
perkosaan, dan berbagai bentuk perilaku penyimpangan lainnya. Semua itu
bersumber

dari

pergaulan

yang

salah

dan

tidak

dilandaskan

pada

kepatuhanterhadap ajaran Al-Quran.


Menurut Imam (2011 : 20) Bergaul bukan hanya asal tancap gas atau
berbuat langsung semau kita. Ada etika dan tata cara yang harus diperhatikan,
apalagi kita seorang remaja muslim
Oleh karenanya, adalah suatu hal yang sangat penting mengetahui dan memahami
pergaulan-pergaulan dalam islam. Bagi sebagian orang yang tidak terbiasa dengan
tata cara pergaulan dalam islam, mereka akan merasa canggung atau barangkali

malah merasa tertekan karena pergaulan dalam islam itu terlihat begitu kaku dan
tidak seperti pergaulan yang umum ditemui di masyarakat.
Islam adalah agama yang syamil (menyeluruh) dan mutakamil (sempurna).
Agama mulia ini diturunkan dari Allah Sang Maha Pencipta, Yang Maha
Mengetahui tentang seluk beluk ciptaan-Nya. Dia turunkan ketetapan syariat agar
manusia hidup tenteram dan teratur. Diantara aturan yang ditetapkan Allah SWT
bagi manusia adalah aturan mengenai tata cara pergaulan antara pria dan wanita.
Seperti ungkapan terdahulu bahwa adanya tata cara pergaulan dalam islam itu
sebenarnya bukan untuk membatasi namun untuk menjaga harkat dan martabat
manusia itu sendiri agar tidak sama dengan tata cara dan tatanan para hewan
dalam bergaul. Bila satu tutunan itu diambil dengan kerendahan hati dan
keinginan untuk berbakti kepada ilahi, maka tak ada hal sulit untuk mengikuti
tuntunan yang baik itu.Terkesan sulit karena melihatnya dari sisi nafsu dan
kepentingan duniawi. Bila memang belum mampu menjalankan tuntunan yang
sebenarnya, jangan ditantang tuntunan itu. Cukup campkan dalam hati bahwa diri
akan selalu berusaha sekuat tenaga mengikuti aturan yang sesungguhnya. Kalau
menentang atau bahkan menantang, itulah tanda kesombongan diri terhadap Sang
Maha Kuasa.
1.2 Etika
Berikut macam-macam pengertian etika menurut para ahli, antara lain :
a. Drs. O.P Simorangkir etika atau etik dapat diartikan sebagai pandangan
manusia dalam berperilaku menurut ukuran dan nilai baik.
b. Drs. Sidi Gajabla dalam sistematika filsafat mengartikan etika sebagai teori
tentang tingkah laku, perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk
sejauh yang dapat ditentukan oleh akal.
c. Drs. H. Burhanudin Salam berpendapat bahwa etika merupakan cabang filsafat
yang berbicara mengenai nilai dan norma yang menentukan perilaku manusia
dalam hidupnya. Jadi, dapat disimpulkan bahwa etika adalah suatu ajaran yang
berbicara tentang baik-buruknya perilaku manusia. Ukuran baik-buruknya atau
dengan istilah lain tentang ajaran kebaikan dan keburukan, yang menyangkut peri

kehidupan manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, sesama manusia dan


dengan alam. Dari segi etimologi, etika berasal dari bahasa Yunani, ethos yang
berarti watak kesusilaan atau adat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, etika
diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang azaz-azaz (akhlak) moral. Dari
pengertian kebahasaan ini terlihat bahwa etika berhubungan dengan upaya
menentukan tingkah laku manusia.
Adapun arti etika dari segi istilah, telah dikemukakan para ahli dengan
ungkapan yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandangnya. Menurut para
ulama etika adalah ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa
yang seharusnya dilakukan oleh manusia, menyatakan tujuan yang harus dituju
oleh manusia di dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk
melakukan apa yang seharusnya diperbuat.
1.3. Etika Memiliki Peranan Atau Fungsi diantaranya:
a) Dengan etika seseorang atau kelompok dapat menegemukakan penilaian
tentang perilaku manusia
b) Menjadi alat kontrol atau menjadi rambu-rambu bagi seseorang atau
kelompok dalam melakukan suatu tindakan atau aktivitasnya sebagai
mahasiswa
c) Etika dapat memberikan prospek untuk mengatasi kesulitan moral yang
kita hadapi sekarang.
d) Etika dapat menjadi prinsip yang mendasar bagi mahasiswa dalam
menjalankan aktivitas kemahasiswaanya.
e) Etika menjadi penuntun agar dapat bersikap sopan, santun, dan dengan
etika kita bisa di cap sebagai orang baik di dalam masyarakat.

2. Adab Pergaulan dalam Islam


Rasulullah. Beliau adalah sosok yang menyenangkan. Wajahnya
sumringah di hadapan sahabat-sahabatnya. Beliau amat baik kepada keluarganya

dan amat penyayang kepada anak-anak. Nah, kita sendiri yang juga muslim ini
bagaimana? Bisa tidak seperti beliau?
2.1 Moral Respek Komunikatif
Menjadi gaul yang islami insyaallah bisa kita lakukan dengan minimal tiga
kunci, yaitu:
a) Moral, artinya selalu berkomitmen kepada aturan-aturan dan nilai-nilai
Islam
b) Respek, artinya menghargai orang lain
c) Komunikatif, Pandai menjalin komunikasi.
2.2 Pergaulan Sesama Muslim
Dari Abi Hurairah ra. Berkata : Rasulullah SAW. bersabda : Ada lima
kewajiban seorang muslim untuk memenuhi hak muslim yang lain, yaitu
menjawab salam, memenuhi undangan, menghadiri kematian, menengok
orang sakit, dan mendoakan orang yang bersin ketika memuji Allah. (H.R.
Ibnu Majah).
Sesama muslim adalah bersaudara, seperti tubuh yang satu dan seperti satu
bangunan yang kokoh dan saling mendukung antar bagiannya.Pergaulan
sesama muslim dibalut dengan ukhuwah islamiyah. Ada banyak hak saudara
kita atas diri kita, diantaranya sebagaimana dalam hadits Nabi diatas :

1) Jika Diberi Salam hendaknya Dijawab


Hal ini diperkuat pula dengan beberapa hadist yang mengatakan tentang
salam, diantaranya :
(1.a) Cara Memberi Salam ,
Imron bin Hushoin r.a. berkata : seorang datang kepada Nabi saw. dan
mengucapkan : Assalamu alaikum. Maka dijawab oleh Nabi saw.
Kemudian ia duduk . Nabi bersabda : Sepuluh. Kemudian datang pula
orang lain memberi salam : Assalamualaikum warahmatullah. Dan

setelah dijawab oleh nabi saw ia duduk. Nabipun berkata : Dua puluh.
Kemudian orang ketiga dating dan mengucapkan : Assalamualaikum
warahmatullah wabarakatuh. Maka dijawab oleh Nabi saw. dan Nabi
berkata : Tiga puluh ( H.R. Abu Dawud, Attirmidzi).
(1.b) Aturan Salam
Abu Hurairah r.a. berkata : Rasulullah saw bersabda : Orang yang
berkendaraan member salam kepada yang berjalan, dan yang berjalan
memberi salam kepada yang duduk. Dan rombongan yang sedikit memberi
salam kepada yang banyak. (Bukhari, Muslim).
2) Jika Ada yang Bersin Hendaknya Kita Doakan
Dikatakan pula dengan hadist sebagai berikut,
Abu Hurairah r.a. berkata ; Bersabda Nabi saw. : Jika bersin salah
seorang kamu hendaknya membaca : Alkhamdulillah. Hendaklah
saudaranya atau temannya menjawab : Yarhamukallah (Semoga Allah
mengasihimmu). Dan jika saudaranya mengucapkan Yarhamukallah maka
hendaklah ia mengucapkan : Yahdikumullah wa yuslihu balakum (Semoga
Allah menunjukimu dan memperbaikimu).
3) Jika Diundang Hendaknya Menghadirinya
Dalil wajibnya menghadiri undangan pernikahan sebagai berikut :
Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma, bahwa Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam bersabda : Jika salah seorang dari kalian
diundang ke acara walimahan (resepsi penikahan ), maka hendaknya dia
datang. (H.R. Albukhari).
Dari Jabir radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam bersabda : Jika kalian diundang ke acara jamuan makan,
maka hendaknya dia mendatanginya. (Setelah dia datang) jika dia mau
maka silakan makan, & jika dia mau maka dia boleh meninggalkannya
(tidak makan). (H.R. Muslim).
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata : Seburuk-buruk jamuan
adalah jamuan dlm pesta pernikahan, dimana yang diundang ke pesta
tersebut hanyalah orang-orang kaya saja dgn mengabaikan orang-orang

miskin. Dan siapa yang tak mendatangi undangan (pernikahan) tersebut,


maka sungguh dia telah durhaka kepada Allah & Rasul-Nya. (H.R.
Muslim).
4) Jika Ada yang Sakit Hendaknya Kita Jenguk
Tiada seorang muslim pun yang membesuk saudaranya yang sakit,
melainkan Allah mengutus baginya 70.000 malaikat agar mendoakannya
kapan pun di siang hari hingga sore harinya, dan kapan pun di sore hari
hingga pagi harinya (Musnad Ahmad).
Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda :
Sesungguhnya pada hari kiamat Allah SWT berfirman,
Hai Anak Adam, Aku Sakit, tetapi kamu tidak menjenguk-Ku.
Dia berkata, Wahai Rabb-Ku, bagaimana saya menjenguk-Mu, padahal
Engkau adalah Rabb semesta alam?
Dia berfirman, Tidak tahukah kamu bahwa hamba-Ku, fulan, sakit, tetapi
kamu tidak menjenguknya. Tidak tahukah kamu, jika kamu menjenguknya,
kamu akan mendapati Aku berada disisinya. (H.R. Muslim)
5) Jika Ada yang Meninggal Hendaknya Kita Sholatkan dan Kita Antar ke
Pemakamannya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa melayat jenazah muslim karena
iman dan ikhlas, ia menyertainya hingga shalat jenazah dan
menyelenggarakan pemakamannya, maka dia membawa pahala dua
qirath, satu qirath semisal bukit uhud. Dan barangsiapa ikut shalat
jenazah kemudian pulang sebelum jenazah itu dimakamkan, maka ia
membawa pulang pahala satu qirath (Bukhari)
Dari Abu Hurairah r.a, bahwasanya Rasulullah Shalallahu Alaihi wa
Sallam beliau bersabda : barang siapa mengikuti jenazah seorang
mukmin

karena

keimanan

dan

mengharap-harap

pahala

dari

Allah sedangkan sebelumnyadiamenyertainya bahkanhingga dia disholatk


an dan selesai dari menguburkanya maka sesungguhnya dia kembali

dengan pahala dua qirat, tiap-tiap qirat semisal gunung uhud, dan barang
siapa mensholati jenazah kamudian kembali sebelum dikuburkan maka
sesungguhnya dia kembali dengan membawa satu qirat(Imam Bukhari).
2.3 Pergaulan Antar Lawan Jenis
Sudah menjadi fithrah, laki-laki tertarik kepada wanita dan demikian pula
sebaliknya. Islam telah mengatur bagaimana rasa tertarik dan rasa cinta
diantara dua jenis manusia itu dapat disalurkan. Bukan dengan pacaran dan
pergaulan bebas. Tetapi dengan ikatan yang kuat (mitsaq ghaalizh):
pernikahan. Jadi, ada batasan-batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan
diluar pernikahan.
2.3.1 Rambu-rambu Islam tentang Pergaulan :
Islam adalah agama yang syamil (menyeluruh) dan mutakamil
(sempurna). Agama mulia ini diturunkan dari Allah Sang Maha
Pencipta, Yang Maha Mengetahui tentang seluk beluk ciptaan-Nya. Dia
turunkan ketetapan syariat agar manusia hidup tenteram dan teratur.
Diantara aturan yang ditetapkan Allah SWT bagi manusia adalah
aturan mengenai tata cara pergaulan antara pria dan wanita. Berikut
rambu-rambu yang harus diperhatikan oleh setiap muslim agar mereka
terhindar dari perbuatan zina yang tercela:
Pertama, hendaknya setiap muslim menjaga pandangan matanya
dari melihat lawan jenis secara berlebihan. Dengan kata lain hendaknya
dihindarkan berpandangan mata secara bebas. Perhatikanlah firman
Allah berikut ini, Katakanlah kepada laki-laki yang beriman;
hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya;
yang demikian itu adalah lebih baik bagi merekakatakanlah kepada
wanita-wanita

yang

beriman;

hendaklah

mereka

menahan

pandangannya dan menjaga kemaluannya (QS. 24: 30-31).


Awal dorongan syahwat adalah dengan melihat. Karena itu jagalah
mata agar terhindar dari tipu daya syaithan. Tentang hal ini Rasulullah
bersabda, Wahai Ali, janganlah engkau iringkan satu pandangan

(kepada wanita yang bukan mahram) dengan pandangan lain, karena


pandangan yang pertama itu (halal) bagimu, tetapi tidak yang kedua!
(HR. Abu Daud).
Kedua, hendaknya setiap muslim menjaga auratnya masing-masing
dengan cara berbusana islami. Secara khusus bagi wanita Allah SWT
berfirman, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya,
kecuali yang biasa nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka
menutupkan kain kerudung ke dadanya (QS. 24: 31)
Dalam hal menjaga aurat, Nabi menegaskan sebuah tata krama yang
harus diperhatikan, beliau bersabda: Tidak dibolehkan laki-laki
melihat aurat (kemaluan) laki-laki lain, begitu juga perempuan tidak
boleh melihat kemaluan perempuan lain. Dan tidak boleh laki-laki
berkumul dengan laki-laki lain dalam satu kain, begitu juga seorang
perempuan tidak boleh berkemul dengan sesama perempuan dalam
satu kain. (HR. Muslim).
Ketiga, tidak berbuat sesuatu yang dapat mendekatkan diri pada
perbuatan zina (QS. 17: 32) misalnya berkhalwat (berdua-duaan)
dengan lawan jenis yang bukan mahram. Nabi bersabda, Barangsiapa
beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah berkhalwat
dengan

seorang

wanita

(tanpa

disertai

mahramnya)

karena

sesungguhnya yang ketiganya adalah syaithan (HR. Ahmad).


Keempat, menjauhi pembicaraan atau cara berbicara yang bisa
membangkitkan selera. Arahan mengenai hal ini kita temukan dalam
firman Allah, Hai para istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti
perempuan lain jika kamu bertaqwa. Maka janganlah kamu tunduk
dalam berbicara hingga berkeinginan orang yang ada penyakit dalam
hatinya. Dan ucapkanlah perkataan yang maruf. (QS. 33: 31)
Berkaitan

dengan

suara

perempuan

Ibnu

Katsir

menyatakan,

Perempuan dilarang berbicara dengan laki-laki asing (non mahram)


dengan ucapan lunak sebagaimana dia berbicara dengan suaminya.
(Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3).

Kelima, hindarilah bersentuhan kulit dengan lawan jenis, termasuk


berjabatan tangan sebagaimana dicontohkan Nabi saw, Sesungguhnya
aku tidak berjabatan tangan dengan wanita. (HR. Malik, Tirmizi dan
Nasai). Dalam keterangan lain disebutkan, Tak pernah tangan
Rasulullah menyentuh wanita yang tidak halal baginya. (HR. Bukhari
dan Muslim). Hal ini dilakukan Nabi tentu saja untuk memberikan
teladan kepada umatnya agar melakukan tindakan preventif sebagai
upaya penjagaan hati dari bisikan syaithan. Wallahu alam. Selain dua
hadits di atas ada pernyataan Nabi yang demikian tegas dalam hal ini,
beliau bersabda: Seseorang dari kamu lebih baik ditikam kepalanya
dengan jarum dari besi daripada menyentuh seorang wanita yang tidak
halal baginya. (HR. Thabrani).
Keenam, hendaknya tidak melakukan ikhtilat, yakni berbaur antara
pria dengan wanita dalam satu tempat. Hal ini diungkapkan Abu Asied,
Rasulullah saw pernah keluar dari masjid dan pada saat itu
bercampur baur laki-laki dan wanita di jalan, maka beliau berkata:
Mundurlah kalian (kaum wanita), bukan untuk kalian bagian tengah
jalan; bagian kalian adalah pinggir jalan (HR. Abu Dawud). Selain itu
Ibnu Umar berkata, Rasulullah melarang laki-laki berjalan diantara
dua wanita. (HR. Abu Daud).
2.3.2 Beberapa Trik Bergaul yang Baik menurut Imam (2011 : 23), yaitu:
a. Menghormati dan menghargai orang lain.
Sebelum ingin dihargai, kita harus bisa menghargai orang lain. Kita
harus bisa menghargai pendapat orang lain, sehingg orang juga akan
memberikan hormat kepada kita.
b. Bercanda atau bergurau
Bercanda merupakan sesuatu yang bisa melepas penat dan alamiah,
apalagi remaja. Akan tetapi, hal yang perlu diperhatikan adalah jangan
sampai berlebihan.
c. Bisa dipercaya

10

Memegang amanah memang tidak mudah, namun jika kita berhasil


menjaganya dan kit sudah benar-benar sudah dipercaya, maka orng
akan senag pada kita. Sehungan dengan itu, kita perlu menanamkan
nilai-nilai kebaikan.
d. Tampil berani
Para pemuda dan para sahabat di zaman Rosulullah SAW gagah
beraniberada di garda terdepan untuk menyiarkan Islam. Dalam konteks
Sajah Madiyah1, keberanian tidak dimaksudkan atas selain nama
keluhuran dan keberanian umat dan bangsa, sekaligus kehormatan diri
dan keluarganya.
e. Mempermudah urusan orang lain
Dalam Al-Quran, Allah telah menegaskan bahwa seseorang yang
mempermudah urusan oorang lain. Maka Allah akan mempermudah
urusan orang lain.
f. Tanpa pamrih
Ketika pamrih sudah mengakar, hal itu akan bersifat sumah
(menceritakan kebaikan dirinya). Para pemuda sebaiknya berlombalomba dalam kebaikan.
g. Qanaah
Qanaah adalah sikap menerima dengan senang hati takdir Allah
tanpa mengeluh dan menggerutu. Qanaah bukan pasif tanpa ikhtiar,
melainkan motivasi mental untuk bekerja semaksimal mungkin, berdoa,
dan tawakal.
Sebagai generasi yang diharapkan, para remaja harus terbiasa
berikhtiar, berdoa, serta menerima apa adanya yang telah diberikan
Allah melalui orang tua kita. Sebagaimana tercantum dalam Al-Quran,
Dan,

(ingatlah

juga),

tatakala

Tuhanmu

memaklumkan,

1 Sajah Madiyah : (2011: 28) keberanian membela diri, keluarga, dan tanah air dari marabahaya
yang mengancam.Imam, Kam. 2011. Renungan-renungan Islam Harian untuk Remaja.
Jogjakarta : DIVA Press.

11

Sesungguhnya, jika kamu bersyukur, pasti kami akan menmbah


(nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka
sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (QS. Ibrahim. 14 : 7)
2.3.3 Kunci Mewujudkan Ukhuwah Islamiyah, yaitu :
a. Taaruf.
Apa jadinya ketika seseorang tidak mengenal orang lain?
Mungkinkah mereka akan saling menyapa? Mungkinkah mereka akan
saling menolong, membantu, atau memperhatikan? Atau mungkinkah
ukhuwah islamiyah akan dapat terwujud? Begitulah, ternyata taaruf
atau saling mengenal menjadi suatu yang wajib ketika kita akan
melangkah keluar untuk bersosialisasi dengan orang lain. Dengan
taaruf kita dapat membedakan sifat, kesukuan, agama, kegemaran,
karakter, dan semua ciri khas pada diri seseorang.
b. Tafahum.
Memahami, merupakan langkah kedua yang harus kita lakukan
ketika kita bergaul dengan orang lain. Setelah kita mengenal seseorang
pastikan kita tahu juga semua yang ia sukai dan yang ia benci. Inilah
bagian terpenting dalam pergaulan. Dengan memahami kita dapat
memilah dan memilih siapa yang harus menjadi teman bergaul kita dan
siapa yang harus kita jauhi, karena mungkin sifatnya jahat. Sebab,
agama kita akan sangat ditentukan oleh agama teman dekat kita. Masih
ingat ,Bergaul dengan orang shalih ibarat bergaul dengan penjual
minyak wangi, yang selalu memberi aroma yang harum setiap kita
bersama dengannya. Sedang bergaul dengan yang jahat ibarat bergaul
dengan tukang pandai besi yang akan memberikan bau asap besi ketika
kita bersamanya. Tak dapat dipungkiri, ketika kita bergaul bersama
dengan orang-orang shalih akan banyak sedikit membawa kita menuju
kepada kesalihan. Dan begitu juga sebaliknya, ketika kita bergaul
dengan orang yang akhlaknya buruk, pasti akan membawa kepada
keburukan perilaku ( akhlakul majmumah ).

12

c. Taawun.
Setelah mengenal dan memahami, rasanya ada yang kurang jika
belum tumbuh sikap taawun (saling menolong). Karena inilah
sesungguhnya yang akan menumbuhkan rasa cinta pada diri seseorang
kepada kita. Bahkan Islam sangat menganjurkan kepada ummatnya
untuk saling menolong dalam kebaikan dan takwa. Rasullulloh SAW
telah mengatakan bahwa bukan termasuk umatnya orang yang tidak
peduli dengan urusan umat Islam yang lain.

2.4 Pergaulan Antar Umat Beragama


Allah SWT menciptakan umat manusia di muka bumi ini, diawali dengan
seorang laki-laki dan seorang perempuan. Dari sini kemudian lahir berbagai
umat manusia yang berkelompok dalam berbagai suku dan bangsa. Itu semua
adalah kodrat Allah, sunnatullah, dan memberikan pelajaran yang sangat
berharga bagi kita. Juga merupakan suatu ciptaan Allah yang bagi umat
beriman mengandung suatu ujian, bagaimana menyikapi perbedaan dan
menyikapi adanya berbagai suku dan bangsa khususnya dalam kontek bangsa
Indonesia.
Islam adalah agama yang sangat toleran. Rasulullah SAW telah memberi
contoh bagaimana bersikap toleran dalam mengarungi kehidupan ini. Dalam
kaitan yang berhubungan dengan antar sesama manusia yang berbeda suku,
bangsa, bahkan berbeda agama. Karena itulah maka pada zaman Rasulullah
SAW Islam dikenal agama yang sangat toleran dan agama yang dihargai oleh
para ilmuwan yang tahu persis tentang Islam. Karena memang Allah SWT
menjadikan Islam sebagai rahmat di alam ini. (QS Al Ambiya : 107) dan
Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi
semesta alam.

13

Islam mengajarkan agar kita menjamin keselarasan kehidupan dengan


lingkungan, apalagi dengan sesama manusia. Toleransi yang dicontohkan oleh
Rasulullah SAW terhadap agama-agama lain sangat jelas sebagaimana
terungkap dalam sejarah. Pernah suatu saat para pendeta dari agama Nasrani
datang kepada Rasulullah SAW untuk mengetahui tentang agama Islam. Dalam
beberapa hari mereka hidup bersama umat Islam. Pada suatu saat sampailah
mereka pada hari Ahad, hari dimana bagi orang Nasrani adalah hari beribadah
untuk mengagungkan Tuhannya. Rasulullah SAW memberi kesempatan seluasluasnya untuk melakukan itu. Namun di lingkungan umat Islam itu tidak ada
gereja untuk mereka gunakan melakukan ritual ibadah, maka problem seperti
ini disampaikan kepada Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW
merelakan dan mempersilakan para pendeta itu untuk melakukan ibadah sesuai
dengan keyakinannya di masjid.
Itulah sikap yang dicontohkan Rasulullah dan para sahabatnya.
Persoalannya adalah ketika kita sebagai bangsa Indonesia, ada dua sisi yang
menyikapi perbedaan agama, dengan sikap yang sama-sama ekstrim. Di satu
sisi, mereka melihat orang lain mengikuti agama kita, misalnya ketika hari
Raya Idul Fitri, banyak orang lain yang mengikuti, dengan cara menghormati
dengan

mendatangi

ke rumah-rumah.

Mereka

mengucapkan

selamat

merayakan Hari Raya Idul Fitri. Dalam kondisi yang seperti itulah, maka ada
kebingungan di antara umat Islam, yang tidak faham betul tentang aqidah,
maka dia juga ingin melakukan hal yang sama, di saat orang lain merayakan
hari rayanya, dia datang ke tempatnya. Sisi lainnya, juga ada sebagian umat
Islam, yang menganggap, bahwa saling menghormati dan saling menghargai
suatu agama adalah hal yang wajar, bahkan mungkin sampai-sampai
menganggapnya, semua agama datangnya dari Tuhan dan semua itu merupakan
suatu kebenaran, maka semuanya adalah suatu kebenaran. Maka terjebaklah
mereka dalam konsep pluralisme. Pluralisme dalam kontek aqidah tidak
dibenarkan dalam Islam. Pluralisme sebagai aliran filsafat menganggap, bahwa
semua agama benar, semua bentuk ubudiyah yang dilakukan masing-masing

14

pemeluk agama adalah jalan yang menuju kepada titik yang sama.
Sebagai umat Islam diajari dengan tegas mana hal yang terkait dengan
aqidah, dan ubudiyah, dan mana yang terkait dengan persoalan social dan
budaya. Terkait dengan aqidah Allah mengajarkan dengan tegas sikap umat
Islam dengan umat yang lainnya. Sebagaimana diterangkan dalam Al-Quran
surah Al Kaafiruun : 1-6 yang maknanya : 1. Katakanlah: "Hai orang-orang
kafir, 2. aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. 3. dan kamu
bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.4. dan aku tidak pernah menjadi
penyembah apa yang kamu sembah, 5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi
penyembah Tuhan yang aku sembah. 6. untukmu agamamu, dan untukkulah,
agamaku."
Sebagaimana ditegaskan pada ayat di atas, bahwa dalam memahami
pluralitas kehidupan, kita harus melihat bahwa hubungan dengan umat lain
adalah sebagai komunikasi sosial. Sesama umat manusia boleh mendatangi
umat lain ketika diundang dalam pernikahan. Dengan umat lain, kita boleh
membantu ketika mereka membutuhkan bantuan sosial, bahkan sebagaimana
dicontohlan Rasulullah SAW mereka dilindungi, dan dijamin keamanannya
walaupun hidup dalam komunitas umat Islam. Inilah yang disebut dengan
Islam rahmatan lilaalamiin. Ayat di atas adalah sikap yang harus diambil umat
Islam yang diajarkan Allah SWT, yang pada saat itu dengan dalih toleransi
Rasulullah SAW diminta oleh kaum Kafir Quraisy untuk sehari melakukan
ibadah sesuai ajaran Islam, dan sehari kemudian menyembah sesembahan
mereka. Tetapi, dengan tegas menolak itu dan surat Al Kafiruun jawabannya.
Karena itu, dalam kontek keyakinan, umat Islam harus tegas, tetapi dalam
hal sosial, maka umat Islam harus toleran. Maka di sinilah batasan-batasan
toleransi itu. Terkait dengan kemanusiaan, pemahaman boleh, bahkan
mengajak mereka untuk berdialog untuk mencari titik temu, tentang mana yang
boleh kita lakukan dan tidak. Maka ketika ada orang lain, mengajak untuk
mengikuti ibadahnya, atau mereka mengikuti ibadah kita, kita juga harus tegas
menolak dan melarangnnya. Jadi tidak ada istilah basa-basi atau sungkan,
15

dalam kaitannya dengan aqidah. Tetapi dalam bahasa sosial, kita harus bisa
menjadi orang yang menghormati orang lain, melindungi orang lain, walaupun
mereka berbeda keyakinan. Karena dengan sikap seperti yang dicontohkan oleh
Rasulullah SAW inilah yang menjadikan Islam tersebar ke seluruh penjuru
dunia. Bahkan tidak sampai dua abad, Islam telah tersebar ke dua pertiga
dunia. Hal ini disebabkan oleh ketegasan Rasulullah SAW dan karena sikap
toleransi Rasulullah SAW.

3. Penyimpangan
3.1 Penyebab Rusaknya Perilaku Pemuda Pemudi
Perilaku pemuda pemudi di zaman sekarang ini sangat
menghawatirkan.

Perilaku

mereka

telah

tercampur

oleh

budaya barat yang masuk ke negara kita. Ada beberapa faktor


yang mempengaruhi perilaku mereka yaitu :
a. Faktor Ekonomi
Dari

keadaan

ekonomi

yang

pas-pasan

bahkan

kurang mereka akan melakukan tindakan apa saja untuk


memenuhi kebutuhan mereka walaupun hal yang mereka
lakukan itu bertentangan dengan agama mereka dan hukum
yang berlaku. Tapi mereka tidak memperdulikan itu semua,
yang mereka inginkan hanyalah kebutuhan mereka itu
tercukupi.
b. Faktor Akhlak
Akhlak

merupakan

faktor

yang

paling

penting

pengaruhnya terhadap semakin meningkatnya krisis.

16

c. Faktor Kejiwaan

3.2 Macam-macam perilaku yang menyimpang, yaitu:


a. Tindakan kriminalitas dan kejahatan
b. Kenakalan remaja
c. Penyimpangan seksual.

3.3 Solusi Penyimpangan


a. Kesadaran Diri Sendiri
Setiap orang pasti memiliki niatan untuk berbuat baik, ketika ia
dihadapkan pada masalah yang membuatnya harus memilih namun tidak
sesuai dengan hati nuraninya. Hati nurani itulah sesatu yang bisa merubah
seseorang bisa berbuat baik. Kesadaran bahwa kita selalu diawasi oleh Allah
juga akan membuat kita ragu utuk melakukan perbuatan yang menyimpang
dari perintah-nya.
b. Lingkungan
Lingkungan merupakan factor terpenting yang mempengaruhi
perilaku manusia, maka untuk menciptakan generasi yang baik kita harus
menciptakan lingkungan yang baik dengan cara lebih banyak berkumpul
dan bergaul dengan orang-orang sholeh, memillih teman yang dekat dengan
sang Khalik dan masih banyak cara lain yang bisa kita lakukan. Jika hal ini
bisa kita lakukan, maka peluang bagi remaja atau anak untuk melakukan hal
yang negatif akan sedikit berkurang.

17

c. Keluarga
Keluarga juga punya andil dalam membentuk pribadi seseorang.
Jadi, untuk memulai pebaikan, maka kita harus mulai dari diri sendiri dan
keluaga. Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Mulailah perbaikan
dari sikap yang paling kecil, seperti

selalu berkata jujur meski dalam

gurauan. Jangan sampai ada kata-kata bohong, membaca doa setiap


melakukan hal-hal kecil, memberikan bimbingan yang baik pada keluarga
dan masih banyak lagi hal yang harus kita lakukan. Memang tidak mudah
melakukan dan membentuk keluarga yang baik tapi kita bisa lakukan itu
dengan perlahan dan sabar.
d. Sekolah atau Kampus
Sekolah atau Kampus adalah lembaga pendidikan formal yang
memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan remaja. Ada banyak hal
yang bisa kita lakukan disekolah atau kampus untuk memulai perbaikan
remaja. Diantaranya yakni, melakkukan program mentoring pembinaan
lewat kegiatan keagamaan seperti rohis, patrol keamanan sekolah dan lain
sebagainya. Jika kita optimalisasikan komponen organisasi ini, maka
kemungkinan terjadinya kenakalan remaja ini akan semakin berkurang dan
teratasi.

BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Dalam pergaulan sehari-hari, kita memerlukan etika guna membatasi
perilaku kita, menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, apa yang harus
dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan.

18

Dalam bergaul, hendaknya memperhatikan adab-adab yang telah


ditentukan oleh agama, sehingga tercipta masyarakat yang madani.
Perilaku pemuda pemudi di zaman sekarang ini sangat menghawatirkan.
Perilaku mereka telah tercampur oleh budaya barat yang masuk ke negara kita.
Maka dari itu, kita harus membiasakan diri membangun pergaulan yang baik
sedini mungkin.
2. Saran
Dan diharapkan, dengan diselesaikannya makalah ini, baik pembaca
maupun penyusun dapat menerapkan etika bergaul yang baik dan sesuai dengan
ajaran islam dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun tidak sesempurna Nabi
Muhammad S.A.W, setidaknya kita termasuk kedalam golongan kaumnya.

DAFTAR PUSTAKA
ALQURAN
Annawawy, Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf. 1987. Tarjamah RIADHUS
SHALIHIN II. Dialihbahasakan oleh Bahreisj, Salim. Bandung : P.T. AL
MAARIF.

19

Imam, Kam. Renungan-renungan Islam Harian untuk Remaja. 2011. Jogjakarta :


DIVA Press.
Masithoh, Siti. 2012. Akhwat Gaul, Seperti Apa Sih?.VOA-ISLAM.COM.
Diunduh pada 14 Oktober 2013.
Matsna, Moh. Quran Hadist Madrasah Aliyah kelas Tiga. 1996. Semarang : P.T.
KARYA PUTRA TOHA.
Permana, Yoga. 2011. /writing-and-speaking/2165154-pengertian-norma- danpenjelasannya. http//id.shvoong.com Diunduh pada 13 Oktober 2013.

BIOGRAFI PENULIS
Sultani lahir di Pemalang pada tanggal 20 Oktober 1992. Saya adalah
anak dari terakhir dari lima bersaudara dan semuanya berjenis kelamin laki-laki.
Saya menempuh pendidikan di SD TASIKREJO 03 2004/2005, SMP N 1
ULUJAMI 2007/2008, dan selang dua tahun saya fokus bekerja, akhirnya saya

20

melanjutkan di SMA Alternatif sambil bekerja juga di PKBM MAHARDHIKA


ULUJAMI dan lulus pada tahun ajaran 2012/2013. Nomor hp

Setifani lahir di Batang pada tanggal

21