Anda di halaman 1dari 19

A.

KONSEP DASAR PENYAKIT ASMA


1.

DEFINISI / PENGERTIAN
Asma adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respons trakhea dan
bronchus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan
napas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah secara spontan maupun sebagai hasil
pengobatan (The American Thoracis Society, 2008).
Asma adalah penyakit jalan napas obstruktif intermiten, reversible dimana trakea
dan bronki berespons dalam secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu (Brunner &
Suddart, 2009).
Asma didefinisikan sebagai suatu penyakit dari system pernafasan yang meliputi
peradangan jalan nafas dan gejala-gejala bronkospasme yang bersifat reversible
(Crackett, Antony. 2008).
Asma adalah suatu keadaan di mana saluran nafas mengalami penyempitan karena
hiperaktivitas

terhadap

rangsangan

tertentu,

yang

menyebabkan

peradangan;

penyempitan ini bersifat sementara (wikipedia.com).

2.

ETIOLOGI / PENYEBAB
Faktor-faktor yang dapat menimbulkan serangan asma atau sering disebut sebagai
faktor pencetus adalah:
1. Allergen
Allergen adalah zat-zat tertentu yang bila diisap atau dimakan dapat
menimbulkan serangan asma misalnya debu rumah, tengau debu rumah
(Dermatophagoides pteronissynus), spora jamur, bulu kucing, bulu binatang,
beberapa makanan laut dan sebagainya.

2. Infeksi saluran pernapasan

Infeksi saluran pernapasan terutama disebabkan oleh virus. Virus influenza


merupakan salah satu faktor pencetus yang paling sering menimbulkan asma.
Diperkirakan, dua pertiga penderita asma dewasa serangan asmanya ditimbulkan oleh
infeksi saluran pernapasan (Sundaru,2006)
3. Tekanan jiwa
Tekanan jiwa bukan penyebab asma tetapi pencetus asma, karena banyak orang
yang mendapat tekanan jiwa tetapi tidak menjadi penderita asma. Faktor ini berperan
mencetuskan serangan asma terutama pada orang yang agak labil kepribadiannya. Hal
ini lebih menonjol pada wanita dan anak-anak (Yunus, 2011).
4. Olahraga atau kegiatan jasmani yang berat
Sebagai penderita asma akan mendapatkan serangan asma bila melakukan
olahraga atau aktivitas fisik yang berlebihan. Lari cepat dan bersepeda adalah dua
jenis kegiatan paling mudah menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena
kegiatan jasmani (exercise induced asma-EIA) terjadi setelah olahraga atau aktivitas
fisik yang cukup berat dan jarang serangan timbul beberapa jam setelah olahraga.
5. Obat-obatan
Beberapa klien dengan asma sensitive atau alergi terhadap obat tertentu seperti
penisilin, salisilat, beta blocker, kodein, dan sebagainya.
6. Polusi udara
Klien asma sangat peka terhadap udara berdebu, asap pabrik atau kendaraan,
asap rokok, asap yang mengandung hasil pembakaran dan oksidasi fotokemikal, serta
bau yang tajam.
7. Lingkungan kerja
Lingkungan kerja diperkirakan merupakan faktor pencetus yang menyumbang
2-15% klien dengan asma (Sundaru, 2006).
3.

MANIFESTASI KLINIS
Biasanya pada penderita yang sedang bebas serangan tidak ditemukan gejala
klinis, tapi pada saat serangan penderita tampak bernafas cepat dan dalam, gelisah, duduk
dengan menyangga ke depan, serta tanpa otot-otot bantu pernafasan bekerja dengan
keras. Gejala klasik dari asma adalah sesak nafas, mengi ( whezing ), batuk, dan pada
sebagian penderita ada yang merasa nyeri di dada. Gejala-gejala tersebut tidak selalu
dijumpai bersamaan. Pada serangan asma yang lebih berat , gejala-gejala yang timbul

makin banyak, antara lain : silent chest, sianosis, gangguan kesadaran, hyperinflasi dada,
tachicardi dan pernafasan cepat dangkal .
4.

PATOFISIOLOGI

Asma akibat alergi bergantung kepada respon IgE yang dikendalikan oleh limfosit
T dan B serta diaktifkan oleh interaksi antara antigen dengan molekul IgE yang berkaitan
dengan sel mast. Sebagian besar allergen yang mencetuskan asma bersifat airbone dan
agar dapat menginduksi keadaan sensitivitas, alergen tersebut haru tersedia dalam jumlah
banyak untuk periode waktu tertentu. Akan tetapi, sekali sensitivitas telah terjadi, klien
akan memperlihatkan respons yang sangat baik, sehingga sejumlah kecil alargen yang
mengganggu udah dapat menghasilkan eksaserbasi penyakit yang jelas.
Obat yang paling sering berhubungan dengan induksi episode akut asma adalah
aspirin, bahan pewarna seperti tartazin, antagonis beta adrenergik, dan bahan sulfat.
Sindrom pernapasan sentitif aspirin khususnya terjadi pada orang dewasa, walaupun
keadaan ini juga dapat dilihat pada masa kanak kanak. Masalah ini biasanya berawal
dari rhinitis vasomotor perennial yang diikuti olh rhinosinusitis hiperplastik dengn polip
nasal. Baru kemudian muncul asma progresif.
Klien yang sensitif terhadap aspirin dapat didesentisasi dengan pemberian obat
setiap hari. Setelah menjalani bentuk terapi ini, toleransi saling juga akan terbentuk
terhadap agen anti inflamasi non steroid lain. Mekanisme yang menyebabkan
bronkospasme karena penggunaan apirin dan obat lain tidak tidak diketahui, tetapi
mungkin berkaitan dengan pembentukan leukotrien yang diinduksi secara khusus oleh
aspirin.
Antagonis B adrenergik biasanya menyebabkan obstruksi jalan napas pada klien
asma, sama halnya dengan klien lain, dapat menyebabkan peningkatan reaktivitas jalan
napas dan hal tersebut harus dihindarkan. Obat sulfat, seperti kalium metabisulfit, kalium
dan natrium bisulfit, natrium sulfit dan sulfat klorida, yang secara luas digunakandalam
industri makanan dan farmasi sebagai agen sanitasi serta pengawet dapat menimbulkan
obstruksi jalan npas akut pada klien yang sensitive. Pajanan biasanya terjadi setelah

menelan makanan atau cairan yang mengandung senyawa ini, seerti salat, buah segar,
kentang, kerang, dan anggur.
Pencetus pencetus serangan diatas ditambah dengan pencetus lainnya dari
internal klien akan mengakibatkan timbulnya reaksi antigen dan antibody. Reaksi antigen
antibody ini akan mngeluarkan substansi pereda alegi yang sebetulnya merupakan
mekanisme tubuh dalam menghadapi serangan. Zat yang dikeluarkan dapat berupa
histamine, bradikinin, dan anafilatoksin. Hasil dari reaksi tersebut adalah timbulnya tiga
gejala, yaitu berkontraksinya otot polos, peningkatan permeabilitas kapiler, dan
peningkatan secret mucus.

5.

PATHWAY

Faktor pencetus serangan asma


Alergen, infeksi saluran napas, tekanan jiwa,
olahraga/kegiatan jasmani yang berat, obat-obatan,
polusi udara, dan lingkungan kerja

Reaksi antigen dan antibodi


Dikeluarkan substansi vasoaktif
( histamine, bradikinin, dan anafilaktosin)

Hipereaktifitas
bronkhus

Edema mukosa dan


dinding bronkhus

Hipersekresi mukus

Peningkatan usaha dan frekuensi pernapasan,


penggunaan otot bantu pernapasan

Ketidakefektifan pola
napas

Ketidakefektifan bersihan
jalan napas

Keluhan sistemis, mual, intake


nutrisi tidak adekuat, malaise,
kelemahan, dan keletihan fisik

Ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan
tubuh

Keluhan psikososial,
kecemasan, ketidaktahuan
akan prognosis

Kurang
pengettahuan

Intoleransi aktifitas

6.

Ansietas

KLASIFIKASI
Tipe asma berdasarkan penyebabnya terbagi menjadi alergi, idiopatik, dan
nonalergik atau campuran(mixed).
1. Asma Alergik/Ekstrinsik, merupakan suatu bentuk asma dengan allergen seperti
bulu binatang, debu, ketombe, tepung sari, makanan, dan lain lain. Alergen
terbanyak adalah airborne dan musiman (seasonal). Klien dengan asma alergik
biasanya mempunyai riwayat penyakit alergi pada keluarga dan riwayat pengobatan
eksim atau rhinitis alergik. Paparan terhadap alergik akan mencetuskan serangan
asma. Bentuk asma ini biasanya dimulai sejak kanak kanak.
2. Idiopatik atau Nonalergik Asma/Intrinsik, tidak berhubungan secara langsung
dengan allergen spesifik. Faktor factor seperti common cold, infeksi saluran napas

atas, aktivitas, emosi/stress, dan polusi lingkungan akan mencetuskan serangan.


Beberapa agen farmakologi, seperti antagonis Badrenergik dan bahan
sulfat(penyedap makanan) juga dapat menjadi factor penyebab. Serangan dari asma
idiopatik atau nonalergik menjadi lebih berat dan sering kai dengan berjalannya
waktu dapat berkembang menjadi bronchitis dan emfisema. Pada beberapa kasus
dapat berkembang menjadi asma campuran. Bentuk asma ini biasanya dimulai ketika
dewasa(> 35 tahun)
3. Asma Campuran(Mixed Asma), merupkan bentuk asma yang paling sering.
Dikarakteristikkan dengan bentuk kedua sejenis asma alergi dan idiopatik atau
nonalergi.
7.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK / PENUNJANG


a) Pengukuran fungsi paru (spirometri)
Pengukuran ini dilakukan sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator aerosol
golongan adrenergic. Peningkatan FEV atau FVC sebanyak lebih dari 20%
menunjukkan diagnosis asma.
b) Tes provokasi bronchus
Tes ini dilakukan pada spirometri internal. Penurunan FEV sebesar 20% atau lebih
setelah tes provokasi dan denyut jantung 80-90% dari maksimum dianggap bermakna
bila menimbulkan penurunan PEFR 10% atau lebih.
c) Pemeriksaan kulit
Untuk menunjukkan adanya antibodi IgE hipersensitif yang spesifik dalam tubuh.
d) Pemeriksaan laboratorium
1.
Analisa Gas Darah (AGD/astrup)
Hanya dilakukan pada serangan asma berat karena terdapat hipoksemia,
hiperkapnea, asidosis respiratorik.
2.
Sputum
Adanya badan kreola adalah karakteristik untuk serangan asma yang berat, karena
hanya reaksi yang hebat saja yang menyebabkan transudasi dari edema mukosa,
sehingga terlepaslah sekelompok sel-sel epitel dari perlekatannya. Pewarnaan
gram penting untuk melihat adanya bakteri, cara tersebut kemudian diikuti kultur
dan uji resistensi terhadap beberapa antibiotic.
3.
Sel eosinofil
Sel eosinofil pada klien dengan status asmatikus dapat mencapai 1000-1500/mm 3
baik asma intrinsic ataupun ekstrinsik, sedangkan hitung sel eosinofil normal

4.

antara 100-200/mm3. Perbaikan fungsi paru disertai penurunan hitung jenis sel
eosinofil menunjukkan pengobatan telah tepat.
Pemeriksaan darah rutin dan kimia
Jumlah sel leukosit yang lebih dari 15.000/mm 3 terjadi karena adnya infeksi.
SGOT dan SGPT meningkat disebabkan kerusakan hati akibat hipoksia atau
hiperkapnea.

e) Pemeriksaan radiologi
Hasil pemeriksaan radiologi pada klien dengan asma biasanya normal, tetapi prosedur
ini harus tetap dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya proses patologi di
paru atau komplikasi asma seperti pneumothoraks, pneumomediastinum, atelektasis
dan lain-lain.
8.

PENATALAKSANAAN MEDIS
1. Pengobatan nonfarmakologi
a. Penyuluhan
Penyuluhan ini ditujukan untuk peningkatan pengetahuan klien tentang penyakit
asma sehingga klien secara sadar menghindari faktor-faktor pencetus, menggunakan
obat secara benar, dan berkonsultasi pada tim kesehatan.
b. Menghindari faktor pencetus
Klien perlu dibantu mengidentifikasi pencetus serangan asma yang ada pada
lingkungannya, diajarkan cara menghindari dan mengurangi fakror pencetus,
termasuk intake cairan yang cukup bagi klien.
c. Fisiotherapi
Dapat digunakan untuk mempermudah pengeluaran mucus. Ini dapat dilakukan
dengan postural drainase, perkusi, dan fibrasi dada.
2. Pengobatan farmakologi
a. Agonis beta: metaproterenol (alupent, metrapel). Bentuknya aerosol, bekerja sangat
cepat, diberikan sebanyak 3-4 kali semprot, dan jarak antara semprotan pertama dan
kedua adalah 10 menit.
b. Metilxantin, dosis dewasa diberikan 125-200 mg 4 x sehari. Golongan metilxantin
adalah aminofilin dan teofilin. Obat ini diberikan bila golongan beta agonis tidak
memberikan hasil yang memuaskan.
c. Kortikosteroid, jika agonis beta dan metilxantin tidak memberikan respon yang baik,
harus diberikan kortikosteroid. Steroid dalam bentuk aerosol dengan dosis 4 x
semprot tiap hari. Pemberian steroid dalam jangka yang lama harus diawasi dengan
ketat.
d. Kromolin dan iprutropioum bromide ( atroven ).Dosis iprutropioum bromide
diberikan 1-2 kapsul 4xsehari ( Kee dan Hayes, 1994 ).

A. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


I.

PENGKAJIAN
1. Anamnesis
Pengkajian mengenai nama, umur, dan jenis kelamin perlu dilakukan pada pasien
dengan asma. Serangan asma pada usia dini memberikan implikasi bahwa sangat
mungkin terdapat status atopik. Serangan pada usia dewasa memungkinkan adanya
faktor non-aktif. Tempat tinggal menggambarkan kondisi lingkungan tempat klien
berada. Berdasarkan alamat tersebut, dapat diketahui pula faktor yang memungkinkan
menjadi pencetus serangan asma. Status perkawinan dan gangguan emosional yang
timbul dalam keluarga atau lingkungan merupakan faktor pencetus serangan asma.
Pekerjaan serta suku bangsa juga perlu dikaji untuk mengetahui adanya pemaparan
bahan allergen. Hal ini yang perlu dikaji dari identitas klien ini adalah tanggal masuk
rumah sakit (MRS), nomor rekam medis, asuransi kesehatan, dan diagnosis medis.
Keluhan utama meliputi sesak napas, pernapasan terasa berta pada dada dan
adanya keluhan sulit untuk bernapas.
2. Riwayat penyakit saat ini

Klien dengan serangan asma mencari pertolongan terutama dengan keluhan sesak
napas yang hebat dan mendadak, kemudian diikuti dengan gejala-gejala lain seperti
wheezing, penggunaan otot bantu pernapasan, kelelahan, gangguan kesadaran,
sianosis, dan perubahan tekanan darah.
Serangan asma mendadak secara klinis dapat dibagi menjadi 3 stadium. Stadium
pertama ditandai dengan batuk-batuk berkala dan kering. Batuk ini terjadi karena
iritasi mukosa yang kental dang mengumpul. Pada stadium ini terjadi edema dan
pembengkakan bronchus. Stadium kedua ditandai dengan batuk diserta mucus yang
jernih dan berbusa. Klien merasa sesak napas, berusaha untuk bernapas dalam,
ekspirasi memanjang diikuti bunyi mengi (wheezing). Klien lebih suka duduk dengan
tangan diletakkan pada pinggir tempat tidur, tampak pucat, gelisah, dan warna kulit
mudah membiru. Stadium ketiga ditandai dengan hamper tidak terdengarnya suara
napas karena aliran udara kecil, tidak ada batuk, pernapasan menjadi dangkal dan tidak
teratur, irama pernapasan meningkat karena asfiksial.
Perawat perlu mengkaji obat-obatan yang biasa diminum klien dan memeriksa
kembali setiap jenis obat apakah masih relevan untuk digunakan kembali.

3. Riwayat penyakit dahulu


Penyakit yang pernah diderita pada masa-masa dahulu seperti adanya infeksi
saluran pernapasan atas, sakit tenggorokan, amandel, sinusitis, dan polip hidung.
Riwayat serangan asma, frekuensi, waktu, dan alergen-alergen yang dicurigai sebagai
pencetus serangan, serta riwayat pengobatan yang dilakukan untuk meringankan gejala
asma.
4. Riwayat penyakit keluarga
Pada klien dengan serangan asma perlu dikaji tetang riwayat penyakit asma atau
penyakit alergi yang lain pada anggota keluarganya karena hipersensitivitas pada
penyakit asma ini lebih ditentukan oleh faktor genetik dan lingkungan (Hood
Alsagaf,1993).
5. Pengkajian psiko-sosio-kultural
Kecemasan dan koping yang tidak efektif sering didapatkan pada klien dengan
asma. Status ekonomi berdampak pada asuransi kesehatan dan perubahan mekanisme
peran dalam keluarga. Gangguan emosional sering dipandang sebagai salah satu
pencetus bagi serangan asma baik gangguan itu berasal dari rumah tangga, lingkungan
sekitar sampai lingkungan kerja. Seorang dengan beban hidup yang berat lebih

berpotensial mengalami serangan asma. Berada dalam keadaan yatim piatu,


mengalami ketidakharmonisan hubungan dengan orang lain, sampai mengalami
ketakutan tadak dapat menjalankan peran seperti semula.
a. Pola resepsi dan tata laksana hidup sehat
Gejala asma dapat membatasi manusia untuk berprilaku hidup normal sehinggan
klien dengan asma harus mengubah gaya hidupnya sesuai kondisi yang tidak akan
menimbulkan serangan asma.
b. Pola hubungan dan peran
Gejala asma sangat membatasi klien untuk menjalani kehidupannya secara normal.
Klien perlu menyesuaikan kondisinya dengan hubungan dan peran klien, baik di
lingkungan rumah tangga, masyarakat, ataupun lingkungan kerja serta perubahan
peran yang terjadi setelah klien mengalami serangan asma.
c. Pola persepsi dan konsep diri
Perlu dikaji tentang persepsi klien terhadap penyakitnya. Persepsi yang salah dapat
menghambat respons kooperatif pada diri klien. Cara memandang diri yang salah juga
akan menjadi stressor dalam kehidupan klien. Semakin banyak stressor yang ada pada
kehidupan klien dengan asma dapat meningkatkan kemungkinan serangan asma
berulang.
d. Pola penanggulangan stres
Stress dan ketegangan emosuonal merupakan faktor intrinsic pencetus serangan asma.
Oleh karena itu, perlu dikaji penyebab terjadinya stres. Frekuensi dan pengaruh stress
terhadap kehidupan klien serta cara penanggulangan terhadap stressor.
e. Pola sensorik dan kognitif
Kelainan pada pola persepsi dan kognitif akan mempengaruhi konsep diri klien dan
akhirnya mempengaruhi jumlah stressor yang dialami klien sehingga kemungkinan
terjadi serangan asma berulang pun akan semakin tinggi.
f. Pola tata nilai dan kepercayaan
Kedekatan klien pada sesuatu yang diyakininya di dunia dipercaya dapat
meningkatkan kekuatan jiwa klien. Keyakinan klien terhadap tuhan dan mendekatkan
diri kepada-Nya merupakan metode penanggulangan stress yang konstruktif.
II.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan bronkhokontriksi, edema
mukosa dan dinding bronchus, serta sekresi mucus yang kental ditandai dengan batuk
tak efektif dan tidak mampu untuk mengelurkan sekresi jalan napas.

2. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan penurunan ekspansi paru ditandai


dengan perubahan frekuensi atau pola napas.
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual,
intake nutrisi tidak adekuat ditandai dengan kelemahan, kehilangan masa otot, tonus
otot buruk, dan berat badan 10%-20% di bawah ideal.
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik umum ditandai dengan
takikardi sebagai respon terhadap aktivitas.
5. Ansietas berhubungan dengan factor psikologis ( efek hipoksemia ) ditandai dengan
menyatakan masalah sehubungan dengan perubahan kejadian hidup.
6. Kurang pengetahuan berhubugan dengan ketidaktahuan akan prognosis ditandai
dengan adanya permintaan informasi.

III.
No
Dx
1

INTERVENSI KEPERAWATAN
Tujuan dan kriteria
hasil
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama x 24 jam
diharapkan bersihan jalan
napas kembali efektif
dengan kriteria hasil :
- Klien mampu
melakukan batuk
efektif
- Pernapasan klien
normal (16-20 x/menit)
- Tanpa ada penggunaan
otot bantu napas.

Intervensi

Rasional

1. Kaji warna, kekentalan,


dan jumlah sputum
2. Atur posisi semifowler
3. Ajarkan cara batuk
efektif
4. Pertahankan intake
cairan sedikitnya
2500ml / hari kecuali
tidak di indikasikan
5. Lakukan fisioterapi dada
dengan teknik postural
drainase, perkusi dan
fibrasi dada

1. Karakteristik sputum
dapat menunjukkan berat
ringannya obstruksi
2.Meningkatkan exspansi
dada
3. Batuk yang terkontrol
dan efektif dapat
memudahkan
pengeluaran secret yang
melekat dijalan napas
4. Hidrasi yang adekuat
membantu
mengencerkan secret dan
mengefektifkan
pembersihan jalan napas
5. Fisioterapi dada
merupakan strategi untuk
mengeluarkan secret

Kolaborasi :
6.Pemberian obat
bronkodilator golongan
B2
- Nebulizer (via inhalasi)
dengan golongan
terbutalini 0,25mg,

Kolaborasi :
6. Pemberian bronkodilator

fenoterol HBr 0,1 %


solusion, orchiprenalini
sulpur 0,75mg
- Intravena dengan
golongan theophyline
ethilenediamine
(aminofilin) bolus IV 56 mg/kg BB.
7. Agen mukolitik dan
ekspektoran
8. Kortikosteroid

via inhalasi akan


langsung menuju area
bronchus yang
mengalami spasme
sehingga lebih cepat
berdilatasi. Pemberian
secara intravena
merupakan usaha
pemeliharaan agar
dilatasi jalan napas dapat
optimal.
7. Agen mukolitik
menurunkan kekentalan
dan perlengketan secret
paru untuk memudahkan
pembersihan. Agen
ekspektoran akan
memudahkan secret
lepas dari perlengketan
jalan napas
8. Kortikosteroid berguna
pada keterlibatan luas
dengan hipoksemia dan
menurunkan reaksi
inflamasi akibat edema
mukosa dan dinding
bronkhus

Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama x 24 jam
diharapkan klien mampu
mempertahankan fungsi
parunya dengan kriteria
hasil :
- Irama napas regular
- Frekuensi napas 1620x/menit

1.Identifikasi factor
penyebab
2. Kaji kualitas, frekuensi
dan kedalaman
pernapasan serta
melaporkan setiap
perubahan yang terjadi
3.Baringkan klien dalam
posisi yang nyaman,
dalam posisi duduk,
dengan kepala tempat
tidur ditnggikan 60-90o

1.Dengan
mengidentifikasikan
penyebab,kita dapat
menentukan jenis
tindakan yang tepat
2. Dengan mengkaji
kualitas, frekuensi, dan
kedalaman pernapasan
kita dapat mengetahui
sejauh mana perubahan
kondisi klien
3. Penurunan diafragma

Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama x 24 jam
diharapkan kebutuhan
nutrisi klien terpenuhi
dengan kriteria hasil :
- menunjukan
peningkatan berat
badan menuju tujuan
yang tepat

(semi fowler)
4.Observasi tanda-tanda
vital
5.Lakukan auskultasi suara
napas tiap 2-4 jam
6.Bantu dan ajarkan klien
untuk batuk dan napas
dalam yang efektif
7.Kolaborasi dengan tim
medis lain untuk
pemberian O2 dan obatobatan.

dapat memperluas
daerah dada sehingga
ekspansi paru bisa
maksimal.
4. Peningkatan frekuensi
napas dan takikardi
merupakan indikasi
adanya penurunan fungsi
paru
5. Auskultasi dapat
menentukan kelainan
suara napas pada bagian
paru
6. Batuk efektif dapat
membantu mengeluarkan
secret,
7. Pemberian O2 dapat
menurunkan beban
pernapasan dan
mencegah terjadinya
sianosis akibat
hipoksemia

1.Kaji kebiasaan diet,


masukan makanan saat
ini. Catat derajat ksulitan
makan. Evaluasi berat
badan dan ukuran tubuh.
2.Auskultasi bunyi usus
3.Berikan perawatan oral
sering, buang secret,
berikan wadah khusus
untuk sekali pakai dan
tisu.
4.Dorong periode istirahat
semalam jam sebelum
dan sesudah makan.
Berikan makan porsi
kecil tapi sering.

1.Pesien distres pernafasan,


sering anoreksia karena
dispnea dan produksi
sputum
2.Penurunan/hipoaktif
bising usus menunjukan
penurunan motilitas gaster
yang berhubungan dengan
pembatasan pemasukan
cairan, pilihan makanan
buruk, dan hipoksemia
3.Rasa tak enak, bau dan
penampilan adalah
pencegahan utama

5. Hindari makanan yang


sangat panas atau sangat
dingin.
6. Timbang berat badan
sesuai indikasi
Kolaborasi:
7.Konsul ahli gizi/nutrisi
pendukung tim untuk
memberikan makanan
yang mudah cerna,
secara nutrisi seimbang,
mis: nutrisi tambahan
oral/selang, nutrisi
parenteral ( rujuk ke DK:
Dukung Nutrisi Total,
hal.1039).
8. Kaji pemeriksaan
laboratorium, mis :
albumin, serum
transferin, profil asam
amino, besi pemeriksaan
keseimbangan nitrogen,
glukosa, pemeriksaan
fungsi hati, elektrolit.
Berikan
vitamin/elektrolit sesuai
indikasi.

Setelah dilakukan

1.Evaluasi respons pasien

terhadap napsu makan dan


dapat membuat mual dan
muntah dengan
peningkatan kesulitan
napas.
4. Membantu menurunkan
kelemahan selama waktu
makan dan memberikan
kesempatan untuk
meningkatkan masukan
kaloro total.
5. Hindari makanan yang
sangat panas atau sangat
dingin.
6. Bergunakan untuk
menentukan kebutuhan
kalori, menyusun tujuan
berat badan, dan evaluasi
keadekuatan rencana
nutrisi. Catatan :
penurunan berat badan
dapat berlanjut, meskipun
masukan adekuat sesuai
teratasinya edema.
7. Metode makan dan
kebutuhan kalori di
dasarkan pada
situasi/kebutuhan individu
untuk memberikan nutrisi
maksimal dengan upaya
minimal
pasien/penggunaan energy
8.Mengevaluasi/ mengatasi
kekurangan dan
mengawasi keefektifan
terapi nutrisi.
1. Menetapkan

tindakan keperawatan
selama x 24 jam
diharapkan intoleransi
aktivitas teratasi dengan
kriteria hasil :
- melaporkan/
menunjukan
peningkatan toleransi
terhadap aktivitas yang
dapat diukur dengan
tak adanya dipsnea,
kelemahan berlebihan,
dan takikardi.

terhadap aktivitas. Catat


laporan dipsnea,
peningkatan
kelemahan/kelelahan
atau perubahn tanda vital
selama dan setelah
aktivitas.
2.Berikan lingkungan
tenang dan batasi
pengunjung selama fase
akut sesuai indikasi.
3. Jelaskan pentingnya
istirahat dalam rencana
pengobatan dan perlunya
keseimbangan aktivitas
dan istirahat.
4. Bantu pasien memilih
posisi nyaman untuk
istirahat atau tidur.
5. Bantu aktivitas
perawatan diri yang di
perlukan. Berikan
kemajuan peningkatan
aktivitas selama fase
penyembuhan.

kemampuan/kebutuhan
pasien dan memudahkan
pilihan intervensi.
2. Menurunkan stres dan
rangsangan berlebihan,
meningkatkan istirahat
3. Tirah baring di
pertahankan selama fase
akut untuk menurunkan
kebutuhan metabolic,
menghemat energy untuk
penyembuhan.
Pembatasan aktivitas dan
perbaikan kegagalan
pernapasan.
4. Pasien mungkin nyaman
dengan kepala tinggi,
tisur di kursi, atau
menunduk kedepan meja
atau bantal.
5. Meminimalkan kelelahan
dan membantu
keseimbangan suplai dan
kebutuhan oksigen.

Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama x 24 jam
diharapkan pasien
menyatakan kesadaran
terhadap ansietas dengan
kriteria hasil :
- pasien tampak rileks
- melaporkan ansietas
menurun sampai tigkat
dapat ditangani

1. Observasi peningkatan
kegagalan pernapasan,
agitasi, gelisah, emosi
labil.
2. Pertahankan lingkungan
tenang dengan sedikit
rangsang. Jadwalkan
perawatan dan prosedur
untuk memberikan
periode istirahat tak
terganggu.
3. Identifikasi persepsi
pasien terhadap
ancaman yang ada oleh
situasi.

1. Memburuknya
hipoksemia dapat
menyebabkan atau
meningkatkan ansietas.
2. Meurunkan ansietas
dengan menigkatkan
relaksasi dan penghemat
energy.
3. Membantu pengenalan
ansietas/takut dan
mengidentifikasi
tindakan yang dapat
membantu untuk
individu.
4.Langkah awal dalam

4. Dorong pasien untuk


mengakui dan
menyatakan perasaan.
5. Bantu orang terdekat
untuk berespons positif
pada pasien/situasi.
Kolaborasi:
6.Berikan sedatif sesuai
indikasi dan awasi efek
merugikan..

mengatasi perasaan
adalah terhadap
identifikasi dan ekspresi.
Mendorong penerimaan
situasi dan kemampuan
diri untuk mengatasi.
5. Meningkatkan penurunan
ansietas melihat orang
lain tetap tenang. Karena
ansintas dapat menular,
bila orang terdekat/staf
memperlihatkan ansietas
mereka, kemampuan
koping pasien dapat
dengan mudah di
pengaruhi.
Kolaborasi :
6. Mungkin diperlukn untuk
membantu menangani
ansietas dan
meningkatkan istirahat.
Namun efek samping
seperti depresi
pernapasan dapat
membatasi atau
kontraindikasi untuk
menggunakannya.

Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama x 24 jam klien
menyatakan pemahaman
proses
penyakit/prognosis dan
kebutuhan pengobatan
dengan kriteria hasil :
- klien tidak bertanyatanya tetang
penyakitnya

1. Kaji kemampuan pasien


untuk belajar, contoh
tingkat takut, masalah,
kelemahan, tingkat
partisifasi, lingungan
terbaik dimana pasien
dapat belajar, seberapa
banyak isi, media
terbaik, siapa yang
terlibat.
2. Identifikasi gejala yang
harus dilaporkan

1. Belajar tergantung pada


emosi dan kesiapan fisik
dan ditingkatkan pada
tahapan individu
2. Dapat menunjukan
kemajuan atau
pengaktifan ulang
penyakit atau efek obat
yang memerlukan
evaluasi lanjut.
3. Informasi tertulis
menurunkan hambatan

keperawat, contoh
hemoptisis, nyeri dada,
demam, kesulitan
bernapas.
3. Berikan instruksi dan
informasi tertulis khusus
pada pasien untuk
rujukan contoh jadwal
obat.
4. Jelaskan dosis obat,
Frekuensi pemberian,
Kerja yang di harapkan,
Dan alasan pengobatan
lama. Kaji potensial
interaksi dengan
obat/substansi lain.
5. Dorog pasien/orang
terdekat untuk
menyatakan
takut/masalah. Jawab
pertanyaan secara nyata.
Catat lamanya
penggunaan
penyangkalan

pasien untuk mengingat


sejumlah besar
informasi. Pengulangan
menguatkan belajar.
4.Meningkatkan kerjasama
dalam program
pengobatan dan
mencegah penghentian
obat sesuai perbaikan
kondisi pasien.
5. Memberikan kesempatan
untuk memperbaiki
kesalahan
konsepsi/peningkatan
ansietas. Ketidak
adekuatan
keuangan/penyangkalan
lama dapat
mempengaruhi koping
dengan/manajemen tugas
untuk
meningkatkan/memperta
hankan kesehatan.

IV.

IMPLEMENTASI
Pada tahap ini untuk melaksanakan intervensi dan aktivitas yang telah dicatat dalam
rencana perawatan pasien. Agar implementasi/pelaksanaan perencanaan ini dapat tepat
waktu dan efektif maka perlu mengidentifikasi prioritas perawatan, memantau dan
mencatat

respon

pasien

terhadap

setiap

intervensi

yang

dilaksanakan

serta

mendokumentasikan pelaksanaan perawatan. Pada pelaksanaan keperawatan diprioritaskan


pada upaya untuk mempertahankan jalan nafas, mempermudah pertukaran gas,
meningkatkan masukan nutrisi, mencegah komplikasi, memperlambat memperburuknya
kondisi, memberikan informasi tentang proses penyakit (Doenges Marilynn E, 2000,
Remcana Asuhan Keperawatan).
V.

EVALUASI
Diagnosa 1 :
Diagnosa 2 :
Diagnosa 3 :
Diagnosa 4 :

Klien mampu melakukan batuk efektif


Pernapasan klien normal (16-20 x/menit)
Tanpa ada penggunaan otot bantu napas.
Irama napas regular
Frekuensi napas 16-20x/menit
menunjukan peningkatan berat badan menuju tujuan yang tepat
-

Diagnosa 5 :
Diagnosa 6 :
-

melaporkan/ menunjukan peningkatan toleransi terhadap aktivitas


yang dapat diukur dengan tak adanya dipsnea, kelemahan berlebihan,
dan takikardi.
pasien tampak rileks
melaporkan ansietas menurun sampai tigkat dapat ditangani
klien tidak bertanya-tanya tetang penyakitnya

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito-Moyet, Linda Juall. 2006. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 10. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC
Doenges,Marilyn.dkk.2010.Rencana Asuhan Keperawatan.Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran
EGC
Muttagin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika
Santosa, Budi. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda 2005-2006. Prima Medika
Smeltzer, Suzanne C., dan Bare, Brenda G. 2009. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah,
Brunner and Suddarth. Edisi 8. Vol. 1, Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Somantri, Irma. 2009. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan.
Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika
http://therizkikeperawatan.blogspot.com/2009/05/laporan-pendahuluan-asma.html