Anda di halaman 1dari 60

3

1.1.5

Pengamatan transpirasi tumbuhan


Transpiransi dapat diartikan sebagai proses kehilangan air dalam bentuk uap

dari jaringan tumbuhan melalui stomata. Kemungkinan kehilangan air dari


jaringan tanaman melalui bagian tanaman yang lain dapat terjadi, tetapi porsi
kehilangan tersebut sangat kecil dibandingkan dengan yang hilang melalui
stomata. Oleh sebab itu, dalam perhitungan besarnya jumlah air yang hilang dari
jaringan tanamannya umumnya difokuskan pada air yang hilang melalui stomata.
1.1.6

Pengamatan fotosintesis tumbuhan


Fotosintesis merupakan rangkaian dari proses penangkapan energy cahaya,

aliran electron dan penggunaan energi yang dilepaskan untuk menghasilkan zat
organik. Dengan fotosintesis tumbuhan menyediakan makanan bagi organisme
baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung proses fotosintesis
ini berguna untuk menyusun zat gula yang akan disalurkan kedalam organ
tersebut. Dan secara tidak langsung mahluk hidup yang membutuhkan tumbuhan
untuk kelangsungan hidupnya.
1.2 Tujuan Dan Kegunaan
1.2.1 Pengenalan dan penggunaan mikroskop
Tujuan praktikum ini yaitu untuk memperkenalkan komponen - komponen
mokroskop dan cara menggunakanya serta mempelajari cara menyiapkan
bahan bahan yang akan diamati dibawah mikroskop.
Kegunaan praktikum ini yaitu untuk dapat mengenal alat yang sangat
berguana bagi pengamatan benda benda kecil dan dapat membantu mahasiswa
dalam praktikum.

1.2.2 Pengamatan sel


Tujuan pratikum ini yaitu agar kita dapat mengenal bentuk dan struktur sel
secara umum dan maupun membandingkan berbagai jenis sel dan berbagai jenis
organisme serta mampu memahami sifat semipermeabilitas membran sel, Serta
mampu menggambarkan sel tumbuhan, hewan protozoa dan mikroorganisme.
Kegunaan dari praktikum ini yaitu agar kita dapat mengenal sel dan dapat
membedakan antara sel hewan dan sel tumbuhan serta dapat mengetahui nama
fungsi dari bagian bagian sel.
1.2.3

Pengamatan tumbuhan
Tujuan praktikum ini yaitu setelah menjelaskan praktikum, mahasiswa dapat

memahami struktur morfologi, anatomi, dan histilogi, sistem organ pada


tumbuhan serta dapat membandingkan struktur morfologi dan anatomi akar,
batang, dan daun pada tumbuhan monokotil dan dikotil. Kegunaan dari praktikum
ini yaitu agar praktikan dapat membedakan struktur tubuh morfologi dan anatomi
tumbuhan serta dapat mengetahui fungsinya
1.2.4

masing masing.

Memahamai konsep hukum mendel


Tujuan dari praktikum tentang konsep hukum Mendel yaitu agar

praktikan dapat memahami angka-angka perbandingan dalam hukum mendel


melalui hukum kebetulan. Kegunaan dari praktikum konsep hukum mendel yaitu
agar para praktikan mudah memahami dan mengerti angka- angka perbandingan
dalam hukum mendel.

1.2.5

Pengamatan transpirasi tumbuhan


Tujuan dari praktikum tentang pengamatan transpirasi tumbuhan yaitu agar

mahasiswa dapat mengetahui faktor- faktor yang mempengaruhi transpirasi pada


tumbuhan. Kegunaan dari praktikum pengamatan transpirasi tumbuhan yaitu agar
mahasiswa praktikan dapat mengetahui proses terjadinya transpirasi.
1.2.6

Pengamatan fotosintesis
Tujuan dari praktikum tentang pengamatan yaitu untuk membuktikan

terbentuknya amilum pada proses fotosintesis oleh tumbuhan hijau. Kegunaan


praktikum ini agar praktikan dapat mengerti dan memahami bagaimana proses
terjadinya fotosintesis serta kegunaannya.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Pengenalan dan Penggunaan Mikroskop


2.1.5 Sejarah mikroskop

Kata mikroskop (microscope) berasal dari bahasa Yunani, yaitu kata


micron=kecil dan scopos=tujuan, yang maksudnya adalah alat yang digunakan
untuk melihat obyek yang terlalu kecil untuk dilihat oleh mata telanjang. Dalam
sejarah, yang dikenal sebagai pembuat mikroskop pertama kali adalah 2 ilmuwan
Jerman, yaitu Hans Janssen dan Zacharias Janssen pada tahun 1590. Temuan
mikroskop saat itu mendorong ilmuan lain, seperti Galileo Galilei (Italia), untuk
membuat alat yang sama. Galileo menyelesaikan pembuatan mikroskop pada
tahun 1609, dan mikroskop yang dibuatnya dikenal dengan nama mikroskop
Galileo. Mikroskop jenis ini menggunakan lensa optik, sehingga disebut
mikroskop optik. Mikroskop yang dirakit dari lensa optic memiliki kemampuan
terbatas dalam memperbesar ukuran obyek. Hal ini disebabkan oleh limit difraksi
cahaya yang ditentukan oleh panjang gelombang cahaya. Secara teoritis, panjang
gelombang cahaya ini hanya sampai sekitar 200 nanometer. Untuk itu, mikroskop
berbasis lensa optik ini tidak bisa mengamati ukuran di bawah 200 nanometer
(Herry, 2010).
Untuk melihat benda berukuran di bawah 200 nanometer, diperlukan
mikroskop dengan panjang gelombang pendek. Dari ide inilah, di tahun 1932 lahir
mikroskop elektron. Sebaygaimana namanya, mikroskop elektron menggunakan
sinar elektron yang panjang gelombangnya lebih pendek dari cahaya. Karena itu,
mikroskop elektron mempunyai kemampuan pembesaran obyek (resolusi) yang
lebih tinggi dibanding mikroskop optik. Sebenarnya, dalam fungsi pembesaran
obyek, mikroskop elektron juga menggunakan lensa, namun bukan berasal dari
jenis gelas sebagaimana pada mikroskop optik, tetapi dari jenis magnet. Sifat

medan magnet ini bisa mengontrol dan mempengaruhi elektron yang melaluinya,
sehingga bisa berfungsi menggantikan sifat lensa pada mikroskop optik.
Kekhususan lain dari mikroskop elektron ini adalah pengamatan obyek dalam
kondisi hampa udara (vacuum). Hal ini dilakukan karena sinar elektron akan
terhambat alirannya bila menumbuk molekul-molekul yang ada di udara normal.
Dengan membuat ruang pengamatan obyek berkondisi vacuum, tumbukan
6
elektron-molekul bisa terhindarkan (Sutanto, 2009).
2.1.2

Jenis-jenis mikroskop

Pada prinsipnya, mikroskop ini meggunakan cahaya untuk melihat


spesimen, memiliki dua buah lensa yaitu Lensa Obyektif (lensa yang dekat
dengan spesimen) dan Lensa Okuler (lensa yang dekat dengan mata). Mikroskop
cahaya bisa dikelompokkan kembali menjadai beberapa jenis, yakni mikroskop
medan terang, mikroskop medan gelap, mikroskop Fase kontras, mikroskop
fluoresensi (Sutarno, 2009).

Menurut Jurnal Advances in Dental Research (1997) oleh Duchner


dikatakan bahwa mikroskop konfokal perlahan sudah mulai digunakan dalam
penelitian di Kedokteran Gigi. Biasanya digunakan untuk mempelajari struktur
enamel dan dentin (Rofix, 2009).

Mikrokop electron ditemukan pertama kali oleh Knoll dan Ruska (1932),
mempergunakan electron sebagai pemantul bayangan obyek (yatim, 1987).
Mikroskop elektron adalah sebuah mikroskop yang mampu untuk melakukan
pembesaran objek sampai 2 juta kali, yang menggunakan elektro statik dan elektro
magnetik untuk mengontrol pencahayaan dan tampilan gambar serta memiliki

kemampuan pembesaran objek serta resolusi yang jauh lebih bagus daripada
mikroskop cahaya. Mikroskop elektron ini menggunakan jauh lebih banyak energi
dan radiasi elektromagnetik yang lebih pendek dibandingkan mikroskop
cahaya.dibagi menjadi Transmission Electron Microscopy, Scanning Electron
Microscopy, Scanned Probe Microscopy (sutrian, 2009).
Menurut Wheeler (1988), mikroskop pender ini dapat digunakan untuk
mendeteksi benda asing atau Antigen (seperti bakteri, ricketsia, atau virus) dalam
jaringan. Dalam teknk ini protein anttibodi yang khas mula-mula dipisahkan dari
serum tempat terjadinya rangkaian atau dikonjungsi dengan pewarna pendar
(Sutarno, 2011).

2.1.3

Bagian-bagian dan fungsi komponen mikroskop


"Stand" (alas atau dasar mikroskop), yaitu fondasi yang memberikan

stabilitas pada alat."Handle" (lengan mikroskop), yaitu bagian alat untuk dipegang

sewaktu mikroskop dibawa atau dipindahkan. "Stage" (meja obyek), yaitu alas
horizontal yang berlubang tempat meletakkan obyek/spesimen yang akan diamati
(pada object glass). "Clisp" (jepitan), yaitu alat penjepit yang dapat digerakkan
untuk menahan object glass (Sutarsono, 2008).
"Kondensor", yaitu lensa yang ditaruh di bawah meja obyek yang berguna
untuk memfokuskan sinar pada obyek yang akan diamati. "Diafragma Iris", yaitu
alat yang diletakkan di bawah kondensor untuk mengatur jumlah sinar yang
masuk ke kondensor (dalam beberapa mikroskop terdapat juga alat seperti ini
yang diletakkan tepat di bawah meja objek). "Body Tube"(tabung atau tubus
mikroskop), yaitu tabung silinder yang kosong tempat sinar akan melaluinya dari
lensa obyektif di bagian bawah ke lensa okuler (eyepiece) di bagian atas, sehingga
terjadi pembesaran obyek yang diamati. Body tube ini dilengkapi dengan "draw
tube" yang dapat digerakkan untuk mengatur jarak antara lensa okuler dengan
lensa obyektif. "Revolver" ("nosepiece"), yaitu cakram (disk) yang dapat berputar
pada bagian bawah body tube, tempat mengikat lensa obyektif. Lensa Obyektif,
yaitu lensa kecil untuk membesarkan obyek yang diamati pertama kali. Pada
umumnya terdapat 3 buah lensa obyektif yang masing-masing mempunyai jarak
fokus 16,4 dan 1,8 mm, pembesarannya masing-masing adalah 10,44 dan 95 kali
garis tengah obyek yang diamati (Kamajaya. 2005).
Lensa 16 mm dan 4 mm dapat digunakan secara kering, sedangkan lensa 1,8
mm penggunaannya harus dicelupkan ke dalam minyak yang mempunyai indeks
refraksi yang sama dengan gelas, agar dapat meneruskan sinar sebanyak mungkin.
Minyak yang digunakan disebut minyak imersi (David, 2008).

10

Lensa okuler ("eyepiece"), yaitu lensa yang diletakkan di bagian atas body
tube untuk memperbesar obyek yang dilihat kedua kalinya (setelah diperbesar
oleh lensa obyektif). Pada umumnya terdapat 4 buah lensa okuler yang digunakan
yaitu masing-masing yang dapat memperbesar 5; 7,5; 10 dan 12,5 kali. Pengatur
kasar ("coarse adjustment"), yaitu suatu alat mekanis (sekerup) yang berguna
untuk menaik-turunkan body tube beserta lensanya dengan cepat, agar yang
diamati masuk ke dalam fokus lensa. Pengatur halus ("fine adjustment"), yaitu
suatu alat mekanis (sekerup) untuk menaik-turunkan body tube secara lambat,
agar obyek yang diamati betul-betul masuk ke dalam fokus lensa
(Meghy, 2009).
2.1.4

Sifat lensa pada mikroskop

Baik lensa objektif maupun lensa okuler keduanya merupakan lensa


cembung. Secara garis besar lensa objektif menghasilkan suatu bayangan
sementara yang mempunyai sifat semu, terbalik, dan diperbesar terhadap posisi
benda mula-mula, lalu yang menentukan sifat bayangan akhir selanjutnya adalah
lensa okuler. Pada mikroskop cahaya, bayangan akhir mempunyai sifat yang sama
seperti bayangan sementara, semu, terbalik, dan lebih lagi diperbesar. Pada
mikroskop elektron bayangan akhir mempunyai sifat yang sama seperti gambar
benda nyata, sejajar, dan diperbesar. Jika seseorang yang menggunakan mikroskop
cahaya meletakkan huruf A di bawah mikroskop, maka yang ia lihat adalah huruf
A yang terbalik dan diperbesar (Himawan, 2009).
2.2 Pengamatan Sel

11

2.2.1

Pengertian sel

Sel adalah unit terkecil dari mahluk hidup, yang


dapat melaksanakan kehidupan. Tiap sel dikelilingi oleh
nukleus dan membran plasma. Sel protozoa, semua zat
hidup terdapat di dalam membran plasma tunggal. Mahluk
hidup seperti ini dianggap sebagai uniseluler yaitu hewan
yang bersel satu atau aseluler, dengan tubuh yang tidak
terdiri atas sel-sel (Claude, 2005).
Menurut Fahn (2004), sel adalah satuan yang
menyusun organisme, dan pada tahun 1665 Robert Hooke
menggunakan istilah cellulah untuk memberikan nama
pada ruang yang dibatasi oleh dinding yang dihat pada
gabus. Setelah beberapa tahun kemudian, pada tahun
1980, Henstein menemukan protoplasma di dalam
tumbuhan. Protoplasma terdiri dari komponen-komponen
yang bersifat membran dan bukan membran (Franson,
2005).
Kata sel barasal dari bahasa latin Cella yang
berarti sangat kecil. Dalam biologi khususnya hewan
istilah sel banyak digunakan untuk suatu individu dari
struktur ruang dimana sel tersebut terdapat (Franson,
2005).

12

2.2.2

Sel hewan

Sel hewan mempunyai ciri sebagai berikut Kimball, (1992), yaitu:tidak


memiliki dinding sel,tidak memiliki plastid,memiliki lisosom, memiliki
sentrosom,timbunan zat berupa lemak dan glikogen, bentuk tidak tetap, pada
hewan tertentu memiliki vakuola, ukuran kecil, sedikit (Tuti 2010).
2.2.3

Sel tumbuhan
Sel tumbuhan adalah bagian terkecil dari setiap organ tumbuhan. Sel

tumbuhan adalah penggerak dari suatu tumbuhan itu sendiri. Sel tumbuhan cukup
berbeda dengan sel organisme eukariotik lainnya. Sel tumbuhan adalah sel
eukariotik, atau sel dengan inti yang terikat membran. Tidak seperti sel
prokariotik, DNA dalam sel tanaman terletak di dalam inti. Selain memiliki inti,
sel-sel tumbuhan juga mengandung organel lain membran-terikat, atau struktur
selular kecil, yang melaksanakan fungsi-fungsi khusus yang diperlukan untuk
operasi sel normal. Organel memiliki berbagai tanggung jawab yang mencakup
segala sesuatu dari memproduksi hormon dan enzim untuk menyediakan energi
untuk sel tanaman (Larasti, 2015).
2.2.4 Organel-organel sel

13

Retikulum Endoplasma (RE) Merupakan kantung-kantung pipih dan tabung


dua lapis membran yang meluas dan menutupi sebagian besar sitoplasma dan
berhubungan dengan membran inti. Terbagi atas Retikulum Endoplasma Halus
(REH) dan Retikulum Endoplasma Kasar (REK). Fungsi sebagai alat transportasi
zat-zat di dalam sel (Herry, 2006).
Ribosom Merupakan butiran kecil nukleoprotein yang tersebar di dalam
sitoplasma. Fungsinya yaitu untuk melangsungkan sintetis protein. Badan Golgi
merupakan kantung pipih bertumpuk yang tersusun dari ukuran besar hingga
ukuran kecil dan terikat pada membran. Fungsinya yaitu untuk memproses protein
dan molekul lain yang akan dibawa keluar sel atau ke membran sel dan
membentuk lisosom (Herry, 2006).
Mitokondria Merupakan organel bermembran rangkap, tersusun atas
membran luar, membran dalam yang berlekuk-lekuk (krista) dan matriks
mitokondria. Fungsinya sebagai tempat respirasi aerob untuk pembentukan ATP
sebagai sumber energi sel. Lisosom Berbentuk kantong-kantong kecil dan
umumnya berisi enzim pencernaan (hidrolisis) yang berfungsi dalam peristiwa
pencernaan intra sel. Berfungsi sebagai penghasil dan penyimpan enzim
pencernaan seluler (Herry, 2006).
Sentrosom (Sentriol) Berbentuk bintang yang berfungsi dalam pembelahan
sel (Mitosis maupun Meiosis). Sentrosom merupakan organel yang disusun oleh
dua sentriole. Sentriole berbentuk seperti tabung dan disusun oleh mikrotubulus
yang terdiri atas 9 triplet, terletak di dekat salah satu kutub inti sel. Fungsi

14

berperan dalam proses pembelahan sel dengan membentuk benang spindel


(Herry, 2006).
Plastida Merupakan organel yang umumnya berisi pigmen. Lekoplas
(Plastida berwarna putih berfungsi sebagai penyimpan makanan), Kloroplas yaitu
plastida berwarna hijau. Plastida ini berfungsi menghasilkan klorofil dan sebagai
tempat berlangsungnya fotosintesis (Herry, 2006).
Pada beberapa spesies dikenal adanya vakuola kontraktil dan vakuola non
kontraktil. Pada tumbuhan vakuola berukuran sangat besar dan umumnya
termodifikasi. Berisi alkaloid, pigmen anthosianin, tempat penimbunan sisa
metabolisme, ataupun tempat penyimpanan zat makanan. Pada sel hewan
vakuolanya kecil atau tidak ada, kecuali hewan bersel satu (Herry, 2006).
Mikrotubulus Berbentuk benang silindris, dan kaku. Fungsinya untuk
melindungi dan memberi bentuk sel dan berperan dalam pembentukan sentriol,
silia, maupun flagela. Fungsi peran dalam proses pergerakan sel, endositosis, dan
eksositosis (Herry, 2006).
Peroksisom (Badan Mikro) Merupakan kantong kecil yang berisi enzim
katalase, organel ini banyak ditemui pada sel hati. Fungsinya yaitu untuk
menguraikan peroksida (H2O2) yang merupakan sisa metabolisme yang bersifat
toksik menjadi air dan oksigen (Handoko, 2006).
Glioksisom adalah badan mikro pada tumbuhan, berperan dalam proses
pengubahan senyawa lemak menjadi sukrosa. Inti Sel (Nukleus) Organel yang
mengatur semua kegiatan dalam sel. Fungsinya yaitu untuk mengatur semua

15

aktivitas (kegiatan) sel, karena di dalam inti sel terdapat kromosom yang berisi
ADN yang mengatur sintesis protein (Hesty, 2006).

2.3 Pengamatan tumbuhan


2.3.1 Tumbuhan monokotil
Berdasarkan letak bijinya, tumbuhan biji diklasifikasikan manjadi dua
golongan yaitu tumbuhan biji terbuka dan biji tertutup. Tumbuhan monokotil
adalah tumbuhan yang memiliki biji berkeping satu. pada tumbuhan monokotil,
epidermis terdiri atas suatu lapisan sel, korteks terdiri atas beberapa lapisan sel,
sel stele terbagi atas xilem dan empelur yang ada di tengah. Sedangkan pada
tumbuhan dikotil, banyak lapisan sel pada bagian epidermis dan korteks sama
dengan monokotil (Harun, 2009).
Pada tumbuhan monokotil sebagian batangnya terdiri dari empelur yang
dikelilingi dari lapisan tipis jaringan yang lebih keras. Sistem pembuluh yang
kelihatannya sebagai titik pembuluh yang terpisah secara panjang pada potongan
melintang bekas pembuluh ini, kelihatannya sebagai titik yang terserat dalam
jaringan empelur, sedangkan sistem ini dapat berupa sebagai suatu silinder yang
utuh atau kelihatannya sebagian terbagi-bagi dan sebagian utuh
(Sastrodinoto, 2009).

16

Tanaman monokotil jika dilihat dari morfologinya khususnya pada batang,


dapat dilihat kenampakan yang menonjol yaitu tidak mempunyai cabang dan
kulit batang, sedangkan akrnya nampak serabut. Akarnya berfungsi masingmasing pada transportasi. Pada daun nampak yang menonjol adalah ujung daun
dan tepi daun.Tumbuhan monokotil memiliki tulang daun yang sejajar, batangnya
tidak berkambium, akarnya serabut, memiliki tudung akar, jumlah kelopak bunga
umumnya adalah kelipatan tiga, memiliki biji berkeping satu, pada
akar dan batang sulit untuk berkembang menjadi besar karena tidak memiliki
kambium (Indra, 2009).
Berikut ini adalah klasifikasi tumbuhan monokotil klasifikasi dari sububi
kayu (Manihot esculenta) terdiri dari Regnum, plantae, Spermatophyta, Sub
Divisio, Magnoliophyta, Classis, Magnoliopsida, Ordo, Malpighiales, Famili,
Euphorbiaceae, Genus, Manihot, Spesies, Manihot esculenta
(Dyah 2008).
2.3.2

Tumbuhan dikotil
Tumbuhan dikotil adalah tumbuhan yang memiliki biji berkeping dua. Pada

tumbuhan dikotil ditemukan ciri-ciri yaitu daun menyirip, batang berkambium,


akar tunggang, serta batangnya bercabang (Slamet, 2009).
Sususnan dikotil menurut dua klasifikasi yang telah mapan adalah artifilasi,
dalam arti kelompok besar. Suku ini dicirikan berdasarkan suatu sifat yaitu daun
buah atau yang bebas (Harun, 2009).
Secara umum dapat pula dikatakan bahwa tumbuhan dikotil memiliki ciri
berupa akar tunggang, bentuk tulang daun menjari, tidak di temukannya tudung

17

Berikut ini adalah klasifikasi tumbuhan dikotil Klasifikasi mangga


(mangifera indica) adalah sebagai berikut Regnum, Plantae, Divisio,
Spermatophyta Sub Divisio, Angiospermae, Classis, Dycotilae, Ordo, Rutales,
Family, Rutaceae, Genus Mangifera, Spesies, Mangifera indica (Estiti B, 2005).

2.3.3

Organ-organ tumbuhan
Metamorfosis dari bagian-bagian tumbuhan yang terpenting meliputi bunga,

batang, akar, dan daun serta organ-organ lainnya. Organ metamorfosis tersebut
merupakan organ-organ terpenting, dalam melanjutkan perkawinan meliputi
organ-organ pada putik dan benang sari (Kusmawati, 2010).
Secara anatomi dan morfologi daun merupakan organ tumbuhan yang paling
bervariasi. Batasan secara menyeluruh dari semua tipe daun yang terlihat pada
tumbuhan disebut filom (Sudarso,2009).
Pada umumnya tumbuhan hanya dapat menghasilkan bunga, bila mana telah
dewasa, cukup besar dan mengandung banyak zat-zat cadangan. Tanaman yang
baru berkecambah atau masih terlalu muda biasanya tidak berbunga ia harus
tumbuh vegetatif dulu, yaitu membentuk vegetatif seperti akar, batang dan daun
(Indra, 2009).
Salah satu organ penting pada tumbuhan adalah batang. Batang terdiri atas
beberapa tipe yaitu batang rumput-rumputan (jagung) yang bersifat herbal, dan
batang yang berkayu pada perdu. Selain itu ada pula tipe batang yang

18

menyimpang dari kelaiman meliputi umbi lapis seperti pada tumbuhan bawang
(Indra, 2009).
2.3.4 Reproduksi pada tumbuhan

Reproduksi pada tumbuhan ada secara vegetatif dan generatif.


Salah satu contoh reproduksi secara vegetatif adalah
dengan cara perkecambahan. Diawal masa pertumbuhan
kecambah kacang hijau (Vigna radiata) disebut
perkecambahan epigeal, pada perkecambahan epigeal hipokkotil tumbuh
memanjang akibat plumula dam kotiledon terdorong keluar permukaan tanah
(Kusman, 2009).
Kotiledon yang terkena sinar matahari akan mengembang klorofil dan dapat
menadakan fotosintesis tetapi sebelum hal itu terjadi, suplai makanan diambil dari
endosperma. Kotiledon hanya sementara berfungsi sebagai daun tempat
berfotosintesis (Kusman, 2008).
Bunga merupakan organ perkembangbiakan pada tumbuhan tingkat tinggi.
Bunga (Flos) dapat dipandang sebagai suatu batang atau cabang pendek yang
berdaun telah mengalami perubahan bentuk. Pada bunga kembang sepatu
(Hibiscus rossa sinensis), bunga mawar (Rossa hybryda), dan bunga kamboja
(Pluimera acuminate) mempunyai beberapa ruas yang pendek dan berbuku. Pada
tiap buku (Nodus) melekat rangkaian daun yang masing-masing keadaannya
berlainan. Rangkaian daun yang pertama terletak paling bawah biasanya berwarna
hijau dan disebut kelopak (Calix). Rangkaian daun yang kedua, terletak diatas

19

tampaknya lebih halus, lebih besar dan lebih indah warnanya dinamakan tajuk
atau mahkota. Rangkaian daun yang ketiga, semuanya masih berbuluh yang
disebut benang sari (Stamen), rangkaian daun yang keempat yang terletak
paling atas berdeketan menjadi satu dinamakan putik (Plastilium) (Harun, 2009).
Reproduksi pada tumbuhan tingkat tinggi terjadi melalui pembuahan yang
didahului dengan penyerbukan. Penyerbukan adalah peristiwa jatuhnya serbuk
sari pada kepala putik (Angiospermae) atau pada tetes penyerbukan
(gymnospermae). Setelah terjadi penyerbukan kemudian dilanjutkan dengan
pembuahan. Pembuahan merupakan peristiwa bertemunya sel kelamin jantan
dengan sel telur. Pembuahan disebut juga fertilisasi. Pembuahan pada tumbuhan
di bedakan menjadi dua, yaitu pembuahan tunggal (pada Gymnospermae) dan
pembuahan ganda (pada Angiospermae). Pada tumbuhan biji tertutup
(Angiospermae), setelah serbuk sari mencapai kepala putik, dinding serbuk sari
akan membentuk bulu serbuk sari (Harun, 2009).
Bulu ini terus memanjang menembus jaringan tangkai putik dan membentuk
saluran menuju bakal biji. Sementara itu, inti serbuk sari (inti sperma) mengalami
pembelahan menjadi inti vegetatif dan inti generatif (Harun, 2009).
Inti vegetatif lebih besar dari pada inti generatif dan terletak di bagian
ujung depan buluh serbuk sari. Inti ini berfungsi, mengatur pertumbuhan buluh
serbuk,melindungi inti generatif, danmengantarkan inti generatif memasuki ruang
bakal biji, melalui celah kecil yang disebut mikrofil (Harun, 2009).
Inti generatif berperan dalam perbuahan. Dalam proses pembuahan, inti
generatif membelah menjadi dua spermatozoid, disebut inti generatif 1 dan inti

20

generatif 2.Bersamaan dengan pembentukan dua jenis spermatozoid, di dalam


ruang bakal bji terjadi pembelahan kandung lembaga berulang-ulang. Hasil
pembelahan ini adalah satu sel telur (ovum), dua senergid, tiga anak inti yang
membentuk antipoda, dan inti kandung lembaga sekunder (Harun, 2009).
Setelah inti generatif memasuki ruang bakal biji, terjadilah pembuahan. Inti
genertif 1 melebur dangan sel telur membentuk zigot. Inti generatif 2 melebur
dangan kandung lembaga sekunder membentuk cadangan makanan
(endosperm).Jelaslah bahwa pada angiospermae terjadi dua macam pembuahan
sehingga disebut pembuahan ganda. Sebaliknya pada gymnospermae hanya
terdapat pembuahan tunggal karena dua inti generatif hanya membuahi sel-sel
telur saja (Harun, 2009).
Dengan demikian, pada reproduksi generatif, individu yang baru merupakan
hasil penggabungan dua jenis sel kelamin yang diawali dengan proses
penyerbukan, pembuahan, dan pembentukan biji yang lama kelamaan
berkembang membentuk buah. Sifat yang diturunkan pada individu baru
merupakan sifat dari kedua sel kelamin. Hal ini menimbulkan keturunan yang
bervariasi (Harun, 2009).
2.4 Pengamatan Konsep Hukum Mendel

2.4.1

Hukum mendel

Cabang biologi yang mempelajari pewarisan sifat-sifat dari induk kepada


keturunannya (hereditas) serta gejala seluk beluknya secara ilmiah disebut

21

genetika.Pada mulanya pengetahuan ilmu genetika hanya berdasarkan hasil


pengalaman sehari-hari. Baru pada /bad ke-18 genetika diselidiki secara sistematis
oleh seorang pendeta Austria yaitu Gregor Johan Mendel (Soetipto, 2009).
Berdasarkan penelitiannya, Mendel mengemukakan dua hukum, yaitu
Hukum Mendel I atau Hukum pemisahan gen yang sealel (Segregasi) dan Hukum
Mendel II atau Hukum pengelompokan gen secara bebas (Asortasi). Dalam
Hukum Mendel I dikemukakan bahwa dua gen berpisah pada saat
pembentukan gamet. Dalam hukum mendel II dijelaskan bahwa gen-gen
yang telah terpisah akan tergabung dengan gen-gen dari induk lainnya pada saat
perkawinan. Penggabungan gen tersebut terjadi secara acak dan bebas
(Soetipto, 2009).
2.4.2

Sifat dominan dan resesif

Sifat dominan dan sifat resesif tentunya berbeda. Sifat dominan adalah sifat
yang lebih kuat dari pada sifat yang lain. Jika keduanya ada bersama-sama, faktor
yang dominan akan menutup faktor yang lain. Faktor dominan diberi simbol
dengan huruf besar misalnya warna Biru (B) akan menutupi warna putih (b).Sifat
resesif adalah sifat yang lebih lemah dari pada sifat yang lain. Jika keduanya ada
secara bersama-sama faktor resesif akan tertutupi oleh faktor yang lain. Faktor
resesif biasanya diberi simbol huruf kecil misalnya warna putih (b) akan tertutupi
oleh warna merah (B) (Sutarno, 2010).
2.4.3

Sifat intermediet

22

Selain sifat dominan dan resesif, ada pula yang disebut sifat intermediet.
Sifat intermediet adalah sifat dominan yang tidak mampu menutupi sifat resesif
secara sempurna. Misalnya persilangan antara bunga yang berwarna putih dan
bunga yang berwarna merah maka akan menghasilkan bunga berwarna merah
muda (Soetipto, 2009).

2.5 Pengamatan Transpirasi Tumbuhan

2.5.1 Pengertian transpirasi

Transpirasi adalah suatu proses dimana terjadinya penguapan pada


tumbuhan dengan keluarnya uap air pada tubuh tumbuhan, air yang keluar yaitu
melalui stomata, kutikula dan lentisel. Manfaat dari Transpirasi itu sendiri adalah
membantu penyerapan mineral dari tanah dan menghilangkan panas pada daun
(Handris. 2012).
Transpirasi berlangsung melalui bagian yang berhubungan dengan udara
luar, yaitu luka jaringan epidermis pada daun, batang, cabang, ranting, bunga,
buah, dan bahkan akar (Handris, 2012).

23

Cepat lambatnya proses transpirasi ditentukan oleh adanya faktor-faktor


yang mampu merubah wujud air sebagai cairan ke wujud air sebagai uap atau gas
dan faktor-faktor yang mampu menyebabkan pergerakan suatu uap atau gas
(Hasanudin, 2009).
2.5.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi laju transpirasi

Adapun faktor yang mempengaruhi transpirasi


antara

lain

sebagai

berikut

Faktor

luar,

meliputiKelembaban. Gerakan uap air dari udara ke dalam


daun akan menurunkan laju neto dari air yang hilang,
dengan demikian seandainya faktor lain itu sama,
transpirasi

akan

menurun

dengan

meningkatnya

kelembaban udara.Kenaikan suhu dari 180 sampai 200 F


cenderung untuk meningkatkan penguapan air sebesar dua
kali. Suhu daun di dalam naungan kurang lebih sama
dengan suhu udara, tetapi daun yang terkena sinar
matahari mempunyai suhu

100 200F lebih tinggi dari

pada suhu udara. Jadi semakin tinggi suhu maka


transpirasi semakin cepat. Cahaya mempengaruhi laju
transpirasi melalui dua cara yaitu, Sehelai daun yang
terkena sinar matahari langsung akan mengabsorbsi energi
radiasi. Cahaya tidak usah selalu berbentuk cahaya
langsung dapat pula mempengaruhi transpirasi melalui

24

pengaruhnya terhadap buka-tutupnya stomata, dengan


mekanisme tertentu. Jadi, semakin banyak intensitas
cahaya maka transpirasi semakin giat. Angin cenderung
untuk meningkatkan laju transpirasi, baik didalam
naungan atau cahaya, melalui penyapuan uap air. Akan
tetapi di bawah sinar matahari, pengaruh angin terhadap
penurunan

suhu

daun,

dengan

demikian

terhadap

penurunan laju transpirasi, cenderung menjadi lebih


penting daripada pengaruhnya terhadap penyingkiran uap
air. Jadi, semakin kencang angin maka transpirasi akan
semakin cepat.Jika kandungan air tanah menurun, sebagai
akibat penyerapan oleh akar, gerakan air melalui tanah ke
dalam akar menjadi lebih lambat. Hal ini cenderung untuk
meningkatkan defisit air pada daun dan menurunkan laju
transpirasi lebih lanjut (Hasanuddin, 2009).
Faktor dalam meliputi, ukuran (luas) daun,tebal
tipisnya daun,ada tidaknya lapisan lilin pada permukaan
daun, jumlah stomata dan jumlah bulu akar (trikoma)
(Hasanuddin, 2009).

25

2.6 Pengamatan Fotosintesis

2.6.1

Pengertian fotosintesis

Fotosintesis berasal dari kata Fotos (cahaya) dan Sintesis (membuat bahan
kimia, memasak) jadi, Fotosintesis yaitu peristiwa pengunaan energi cahaya
matahari untuk membentuk senyawa dasar karbohidrat dari karbon dioksida dan
air (Hudi, 2011).
Persamaan reaksinya yaitu :
6CO2 + 6H2O + Cahaya matahari C6H12O6 + 6O2
Klorofil
2.6.2 Percobaan sachz
Pada tahun 1860, sachz membuktikan bahwa proses fotosintesis
menghasilkan amilum. Daun yang sebagian dibungkus kertas timah dipetik di sore
hari , setelah terkena sinar matahari sejak pagi hari.daun tersebut di rebus untuk
mematikan sel-selnya. Selanjutnya daun tersebut di masukan ke dalam alkohol,
agar klofilnya larut sehingga daun tersebut menjadi pucat. Saat daun itu di tetesi
dengan yodium, bagian yang tertutup oleh kertas timah tetap pucat, sedangkan

26

yang tidak tertutup warnaya menjadi biru kehitaman. Biru kehitaman menandakan
bahwa di daun tersebut terdapat amilum, (Kurniawan 2009).

2.7.3. Percobaan igenhousz


Pada tahun 1860, sachz membuktikan bahwa proses fotosintesis
menghasilkan amilum. Daun yang sebagian dibungkus kertas timah dipetik di sore
hari , setelah terkena sinar matahari sejak pagi hari daun tersebut di rebus untuk
mematikan sel-selnya. Selanjutnya daun tersebut di masukan ke dalam alkohol,
agar klofilnya larut sehingga daun tersebut menjadi pucat (Kurniawan 2009).

27

III.

METODE PRAKTEK

III.1 Waktu dan Tempat


Praktikum mata kuliah Biologi dilaksanakan pada hari kamis, 15 Oktober
2015 sampai 12 November 2015. Dimulai pada pukul 14.00 WITA sampai dengan
selesai.
Di tempat Laboraturium Hortikultura, Laboraturium Agronomi,
Laboratorium Hama, Laboraturium Penyakit, dan Laboraturium Agroteknologi,
Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako Palu.
III.2 Alat dan Bahan
Mikroskop, gelas objek, gelas penutup, pipet, silet/cutter, pinset, cawan
petri, tusuk gigi, botol erlenmeyer, stoples, mikrometer skrup, preparat, kardus,
alat tulis, pemanas listrik, gelas piala 100 ml, corong kaca, tabung reaksi, ertas
grafik, dan gelas ukur.

28

Potongan kertas yang bertulis huruf d, butir-butir pati kentang, pewarna


(eosin atau metilen blue), bawang merah, alium cepa, epthelium rongga mulut,
cuka, telur, sirup, akar tanaman jagung (monokotil), akar tanaman mangga
(dikotil), air, daun jagung, daun mangga, batang tanaman jagung, batang tanaman
mangga, akar tanaman mangga, akar tanaman jagung, bibit jagung, bibit mangga,
kecambah kacang hijau, kancing, alkohol 96%, larutan lugol,
alumunium foil, daunsingkong, tumbuhan Hydrilla verticilatta, plastik
26 tanaman tomat, dan minyak
warna merah, hijau, putih, ungu, tanaman cabai,

kelapa.
3.3

Cara Kerja

3.3.1 Pengenalan dan Penggunaan Mikroskop


Hal yang pertama dilakukan dalam pratikum ini adalah menyiapkan
mikroskop, kemudian mencari tempat pencahayaan yang baik, dengan tujuan
mendapatkan pencahayaan yang baik. Langkah berikutnya dengan menyiapkan
preparat yang akan diamati di bawah mikroskop. Apabila preparat sudah terfokus
maka bila akan menggunakan pembesaran yang lebih kuat, hanya pengatur halus
yang boleh digunakan, pada pembesaran dari bayangan dari suatu objek dapat
diketahui dari angka pembesaran pada objek dan okuler.
Sedangkan pada pengamatan huruf d, pertama-tama huruf d dibuat
sekecil mungkin setelah itu huruf d tersebut diletakkan di atas deck glass

29

kemudian ditutupi dengan cover glass dan setelah itu diamati dengan mikroskop
sehingga didapat bayangan dari huruf d tersebut.
Pada pengamatan butir-butir pati kentang, cara melakukannya yaitu,
pertama-tama mengerik sekerat kentang dengan cutter untuk mendapatkan
cairannya, lalu meneteskan cairan tersebut pada gelas obyek dan menutupinya
dengan cover glass, kemudian diamati di bawah mikroskop. Selanjutnya
menggambar bayangan yang terbentuk pada mikroskop.

3.3.2 Pengamatan Sel


Pada kegiatan pertama yaitu mengamati struktur sel umbi lapis bawang
merah (Allium cepa) sebagai gambaran sel tumbuhan dengan bagianbagiannya. Potonglah siung bawang merah segar. Mengambil salah satu lapisan
siung yang berdaging. Kemudian mematahkan lapisan tersebut, sehingga bagian
yang cekung tampak adanya epidermis tipis. Dengan menggunakan pinset untuk
epidermis tersebut dan melepaskan dari umbinya dengan perlahan-lahan.
Meletakkan potongan kecil epidermis pada gelas objek dan jaga jangan sampai
terjadi lipatan atau kerutan. Menambah satu atau dua tetes air, kemudian
menutup dengan gelas penutup. Lalu diamati dibawah mikroskop dengan
pembesaran 10x, kemudian digambar beberapa sel dan bagian-bagiannya.
Ditetesi satu zat warna yodium di salah satu tepi gelas penutup dan isap dengan
kertas isap pada sisi berlawanan, kemudian diamati lalu gambar sel tersebut.
Kegiatan kedua adalah Pengamatan struktur sel selaput rongga mulut
(Epitelium mocosa), sebagai gambaran sel hewan. Dengan menggunakan ujung

30

tumpul skalpel atau ujung jari atau sebuah tusuk gigi, keruklah epitel pada bagian
dalam dinding pipi. Tebar epitel yang diperoleh ke dalam setetes air pada kaca objek.
Tutup sediaan tersebut dengan kaca penutup. Amati preparat tersebut dibawah
mikroskop dengan pembesaran lemah 10 x, Gambar struktur sel epitel rongga mulut.
Kegiatan tiga adalah pengamatan sifat permeabilitas membrane sel. Pertamatama mengukur dan mencatat garis tengah telur di sekeliling bagian tengahnya,
kemudian mencatat bagaimana bentuk telur. Memasukkan telur ke dalam staples,
jangan sampai kulitnya pecah. Menuangkan cuka ke dalam stoples sampai seluruh telur
terendam kemudian stoples ditutup. Mengamati perubahan yang terjadi pada telur
secara periodik selama 72 jam. Keluarkan telur setelah 72 jam dan ukur garis
tengahnya. Membandingkan bentuk dan ukuran telur sebelum dan sesudah direndam di
dalam cuka. Setelah mencatat perubahan yang terjadi kemudian membuka kulit telur,
jangan sampai selaput telur ikut terbuka. Memasukkan telur tersebut kedalam stoples
yang telah berisi sirup. Tutup stoples dan biarkan selama 72 jam. Membandingkan
bentuk dan ukuran telur sebelum dan sesudah kulit telur dibuka.
3.3.3 Pengamatan Tumbuhan
Pada pengamatan tumbuhan dikotil, mula-mula memisahkan bagian-bagian
bibit mangga (Mangifera indica L) dari akar, batang, dan daun lalu mengamati
dan menggambarkan struktur morfologi ketiga bagian tersebut secara lengkap.
Pada pengamatan tumbuhan monokotil, mula-mula memisahkan bagianbagian pohon jagung (Zea mays), yaitu akar, batang, dan daun kemudian
mengamati struktur morfologi ketiga bagian tersebut dan menggambarkannya
secara lengkap.

31

Pada pengamatan bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis) mulamula menyiapkan bunga kembang sepatu lengkap, dan membelahnya sehingga
tampak struktur anatomi dari bunga tersebut, kemudian mengamati dan
menggambarkan struktur morfologi serta anatomi dari bunga tersebut.
Pada pengamatan bunga kamboja (Plumeria acuminata), mula-mula
menyiapkan bunga kamboja lengkap, dan membelahnya sehingga terlihat struktur
anatomi dari bunga tersebut, kemudian menggambarkan struktur morfologi dan
anatomi dari bunga tersebut
Pada pengamatan bakal buah, baik itu bunga kembang sepatu (Hibiscus
rosa sinensis), bunga kamboja (Plumeria acuminata), mula-mula mengambil
bakal buah yang terletak di dasar bunga, kemudian membelahnya, lalu mengamati
struktur anatominya di bawah lup.
Pada pengamatan struktur anatomi daun, batang, dan daun, baik itu dikotil
maupun monokotil, mula-mula menyiapkan preparat sesuai dengan kebutuhan,
lalu mengamati preparat yang telah disiapkan di bawah mikroskop.
3.3.4 Memahami konsep hukum mendel
Pada pengamatan Konsep Hukum Mendel, pertama-tama menempatkan
dalam dua buah kotak masing masing 50 butir model gen merah dan 50 butir
gen putih. Mengandaikan kotak kotak itu masing masing kotak (A) Induk
jantan, dan katak (B) Induk betina. Kemudian mengocok butir model gen merah
dan gen putih dalam kotak agar isinya bercampur. Setelah itu membuat pasangan
gen gen dari induk jantan dengan gen gen dari induk betina. Dengan cara

32

menutup mata setiap kali mengambil setiap butir gen dari kotak jantan dan sebutir
dari kotak betina.
3.3.5 Pengamatan Transpirasi
Potonglah batang tumbuhan di bawah permukaan air,kemudian masukkan
tiga tumbuhan kedalam masing-masing gelas ukur 10 ml dengan 5 ml air, satu
tabung tanpa tumbuhan hanya berisi air(kontrol), ketinggian air harus sama
dengan control, kemudian tetesi dengan minyak kelapa agar air tidak menguap
dari dalam tabung reaksi. Setelah itu satu rangkaian gelas ukur di letakkan di
lapangan terbuka dengan pancaran sinar matahari. Catat air yang hilang/menguap
setiap 10 menit selama 1 jam.Jumlah air yang menguap pada setiap 10 menit
dapat di hitung dengan menambahkan sejumlah air hingga mencapai tinngi
permukaan semula.
3.3.6 Pengamatan Fotosintesis (percobaan Sach)
Kegiatan pertama pengamatan fotosintesis percobaan sach. Pertama-tama
pilihlah tumbuhan yang ada disekitarmu dengan daun yang baik dan segar. Daun dari
tanaman singkong biasanya memberikan hasil yang lebih baik. Pada sore hari
tutuplah bagian tengah daun dengan kertas alumunium foil, lipat dan beri
penjepit agar tidak terlepas. Pada keesokan harinya, setelah daun terkena cahaya
matahari selama beberapa jam, petiklah daun tersebut dan buka kertas timah,
dimasukkan kedalam air mendidih hingga agak layu. Masukkan daun kedalam
alkohol panas sampai warna daun agak putih/pucat. Hati-hati dalam memanaskan
alkohol karena mudah tebakar. Dengan menggunakan pinset, daun dipindahkan

33

kedalam cawan petri, kemudian daun ditetesi dengan larutan lugol hingga merata.
3.3.7 Pengamatan Fotosintesis (percobaan Ingenhousz)
Kegiatan kedua pengamatan fotosintesis percobaan ingenhousz
menguunakan tumbuhan Hydrilla verticillata. Susun rangkaian yang sudah
dijelaskan pada modul, stelah itu masukkan tanaman Hydrilla verticillata kedalam
gelas tabung. Kemudian ditutup dengan plastik berwarna merah, hijau, putih, dan
ungu. Letakkan di daerah yang terkena cahaya matahari. Pada gelas tabung, amati
dan catat mana yang banyak menghasilkan gelembung oksigen.

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Pengenalan dan Penggunan Mikroskop


IV.1.1 Hasil
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan pada praktikum pengenalan dan
pengamatan mikroskop adalah sebagai berikut :

Keterangan
1. Lensa okuler
2. Lensa objektif
3. Tabung mikroskop
4. Revoler
5. Pengatur kasar
6. Pengatur halus
7. Meja objek
8. Penjepit
9. Diafragma
10. Cermin
11. Dasar mikroskop
12. Lengan mikroskop
13. Kondensor
Gambar 1. Mikroskop beserta komponen-komponennya

32

34

Gambar 2. Preparat huruf d sebelum di amati menggunakan mikroskop.

Gambar 3. Preparat huruf d setelah diamati menggunakan mikroskop dengan


perbesaran 10 kali

Gambar 4. Bentuk butir-butir pati kentang sebelum di warnai yang di amati pada
mikroskop dengan pembesaran 10 kali

Gambar 5. Bentuk butir-butir pati kentang (solarium tuberosum) setelah di


warnai yang di amati pada mikroskop dengan pembesaran 10 kali
4.1.2 Pembahasan

35

Mikroskop merupakan alat yang digunakan untuk mengamati benda-benda


yang berukuran sangat kecil atau mikrokopis yang tidak dapat diamati oleh mata
telanjang atau kasat mata .Secara garis besar, mikroskop dapat dibedakan menjadi
dua yaitu mikroskop cahaya dan mikroskop electron (Hayati, 2010).
Dalam mengamati preparat huruf d dengan menggunakan mikroskop.
Maka hasil pengamatan tersebut didapatkan preparat huruf d berubah menjadi
huruf p bentuk huruf p tersebut tampak lebih besar dari huruf d ini berarti
disebabkan karena cermin yang digunakan adalah datar (Hayati, 2010).
Maka dari hasil pengamatan itu sifat bayangan yang dihasilkan adalah
maya, terbalik, dan diperbesar. Dan apabila preparat huruf d tersebut digeser
baik kekanan maupun kekiri maka arahnya akan selalu berlawanan. Hal itu karena
adanya lensa cekung pada mikroskop sehingga membentuk bayangan terbalik dan
diperbesar dan dapat diambil sebagi sifat dari lensa cekung tersebut
(Hayati, 2010).
Dalam pengamatan butir pati kentang dihasilkan nampak gelembunggelembung udara dari amilum, hal tersebut terjadi karena adanya lensa cekung
sehingga benda yang sangat kecil tampak lebih besar (Daroji, 2011).
Mikroskop yaitu sebuah alat untuk melihat objek yang terlalu kecil untuk
dilihat dengan mata kasar. Ilmu yang mempelajari benda kecil dengan
menggunakan alat ini disebut mikroskopi, dan kata mikroskopi berarti sangat
kecil, tidak mudah terlihat oleh mata (veegy, 2012).
Lensa Obyektif, yaitu lensa kecil untuk membesarkan obyek yang diamati
pertama kali. Pada umumnya terdapat 3 buah lensa obyektif yang masing-masing

36

mempunyai jarak fokus 16,4 dan 1,8 mm, pembesarannya masing-masing adalah
10,44 dan 95 kali garis tengah obyek yang diamati (Kamajaya, 2005).
Lensa okuler ("eyepiece"), yaitu lensa yang diletakkan di bagian atas body
tube untuk memperbesar obyek yang dilihat kedua kalinya (setelah diperbesar
oleh lensa obyektif) (Kamajaya, 2005).

IV.2 Pengamatan Sel

4.2.1 Hasil
Berdasarkan pengamatan pada praktikum biologi umum tentang
pengamatan sel dilaboratorium Agronomi, diperoleh hasil sebagai berikut :

Keterangan :
Seperti kristal dan
Intisel kecil

37

Gambar 6. Preparat bawang merah (Allium ascalonium) sebelum diamati pada


mikroskop

Keterangan :
Memiliki intisel agak
Besar

Gambar 7. Pengamatan preparat bawang merah (Allium ascalonicum) pada


perbesaran 10 kali

Keterangan :
1. Membran sel
2. Inti sel
3. Sel epitel

Gambar 8. Pengamatan struktur sel selaput rongga mulut dengan menggunakan


mikroskop pada perbesaran 10 kali
Permeabilitas membran Sel

38

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari praktikum biologi umum ini tentang
permeabilitas membran sel dapat dituinjukkan dengan tabel sebagai berikut :
Tabel 1.Perubahan diameter telur yang direndam dengan larutan cuka.
Lama perendaman telur (jam)
24
48
59
72
Telur yang direndam Diameter telur
13,4
14 cm
14,5
14,6 cm
dengan cuka
(cm)
cm
cm
Telur yang direndam Diameter telur 14 cm 13,8
13,5
13,3 cm
dengan sirup
(cm)
cm
cm
4.2.2 Pembahasan
Pengertian sel itu adalah merupakan unit terkecil pada mahluk hidup. Tetapi
menurut teori, sel diartikan sebagai satuan struktural dan fungsional organisme
hidup (Istamar,2006).
Pada umbi sel lapis bawang merah (Allium ascolanicum) terdapat bagian
sel seperti dinding sel dan inti sel, jaringan gabus, dan sitoplasma. Lapisan
bawang merah yang telah ditetesi dengan air terlihat jelas sel bawang merah
beserta bagian-bagiannya, hasil pengamatan tampak susunan oval serta pada
tengahnya tampak titik yang kecil yang merupakan inti sel serta bagian lainnya.
Fungsi zat warna pada praktikum untuk menemukan inti sel (nukleus)
(Istamar,2006).
Pengamatan pada selaput rongga mulut (Epitelium mucosa) dapat terlihat
struktuer penyusun seperti nukleus, membran plasma, sitoplasma, nukleolus,
flagela dan ribosom. Bentuk sel pada selaput rongga mulut menyerupai amoeba
yang tidak tetap, karena amoeba itu memiliki sifat yang dapat berubah-ubah.Sel
pada hewan mempunyai bagian yang tidak selamanya dimiliki oleh sel tumbuhan
(Franson, 2005).

39

Menurut Fahn (2004), sel adalah satuan yang


menyusun organisme, dan pada tahun 1665 Robert Hooke
menggunakan istilah cellulah untuk memberikan nama
pada ruang yang dibatasi oleh dinding yang dihat pada
gabus. Setelah beberapa tahun kemudian, pada tahun
1980, Henstein menemukan protoplasma di dalam
tumbuhan. Protoplasma terdiri dari komponen-komponen
yang bersifat membran dan bukan membran (Franson,
2005).
Kata sel barasal dari bahasa latin Cella yang
berarti sangat kecil. Dalam biologi khususnya hewan
istilah sel banyak digunakanuntuk suatu individu dari
struktur ruang dimana sel tersebut terdapat (Franson,
2005).

IV.3 Pengamatan Tumbuhan


IV.3.1 Hasil

40

Berdasarkan

pengamatan

pada

praktikum

biologi

umum

tentang

pengamatan tumbuhan dilaboratorium Agronomi,diperoleh hasil sebagai berikut


Keterangan :
a. Pangkal akar(Collum
radicalis)
b. Cabang akar(Corpus
radicalis)
c. Akar serabut(Fibrilia)

Gambar 9. Morfologi akar (Radix), tumbuhan monokotil pada tanaman jagung


(zea mays)
Keterangan :
a) Pangkal akar
(Collum radicalis)
b) Ujung akar(Apex
radicalis)
c) Akar tunggang

Gambar 10. Morfologi akar (Radix), tumbuhan dikotil pada tanaman mangga
(Mangifera indica).

Keterangan :
1. Ujung daun(Apex folii)

41

2. Tulang daun(Nevudo)
3. Tepi daun(Margin folii)

Gambar 11. Morfologi daun (Follium), tumbuhan monokotil pada tanaman


jagung (Zea mays)
Keterangan :
1. Ujung daun(Apex folii)
2. Tepi daun(Margin folii)
3. Pangkaldaun(Basissfolii)
4. Tulang daun(Nevudo)
Gambar 12. Morfologi daun (Follium), tumbuhan dikotil pada tanaman cabai
(Capsicum annum).
Keterangan :
Batang

Gambar 13. Morfologi batang (Caulis), tumbuhan monokotil pada tanaman


jagung (Zea mays)

Keterangan :
Batang

42

Gambar 14. Morfologi batang (Caulis), tumbuhan dikotil pada tanaman mangga
(Magnifera indica)

Keterangan:
1. Xilem
2. Floem

Gambar 15. Anatomi tumbuhan pada akar monokotil jagung (Zea mays)

Keterangan:
1. Xilem
2. Floem

Gambar 16. Anatomi tumbuhan dikotil pada akar mangga (Magnifera indic)

Keterangan:
1. Xilem

43

2. Floem
3. Epidermis
4. Empulur
Gambar 17. Anatomi tumbuhan monokotil pada batang jagung (Zea mays)

Keterangan :
1. Xilem
2. Floem
3. Epidermis
4. Empulur
Gambar 18. Anatomi tumbuhan dikotil pada batang mangga (Mangifera indica).

Keterangan :

Gambar 19. Anatomi tumbuhan monokotil pada daun jagung (Zea mays)

Keterangan:
a.
b.
c.
d.
e.

Benang sari
Mahkota bunga
Kepala putik
Kelopak bunga
Tangkai bunga

44

Gambar 20. Struktur bunga lengkap pada bunga kembang sepatu


(Hibiscus rosa-sinensis)
Keterangan:
a. Mahkota bunga
b. Kepala putik
c. Tangkai bunga

Gambat

21.

Struktur bunga tak


(Plumeria acuminata)

lengkap

pada

bunga

kamboja

4.3.2 Pembahasan
Tumbuhan terdiri dari tumbuhan monokotil dan dikotil. Tumbuhan
monokotil memiliki akar serabut, batang beruas dan tidak bercabang, dan daun
yang menjari. Tumbuhan dikotil berakar tunggang, batang bercabang serta
berkerut memanjang, dan daun menyirip. Daun lengkap adalah daun yang
mempunyai pelepah, tangkai, dan helaian daun. Sedangkan daun yang tidak
lengkap adalah daun yang hanya terdiri dari tangkai dan helaian daun, pada daun
yang digunakan untuk bahan praktikum ini, perbedaan bentuk-bentuk dari bangun
daun, tepi daun, daging daun, dan permukaan daun serta warna daun
(Nizar, 2009).
Pada Morfologi bunga yaitu pada bunga kamboja dan bunga mawar
merupakan bunga tunggal karena pada satu tangkai hanya terdapat satu bunga,

45

sedangkan pada bunga kembang sepatu merupakan bunga majemuk karena pada
satu tangkai terdapat lebih dari satu (Wildan, 2007).
Pada Morfologi akar yaitu akar mangga merupakan akar tunggang.
Sedangkan akar jagung berbentuk serabut. Bagian-bagian akar jagung yaitu
serabut akar, akar tunggang, dan tudung akar. Akar terbagi atas dua yaitu akar
tunggang dan akar serabut. Sedangkan Marfologi batang pada jeruk yaitu
kambium, cabang dan batang. Batang pada jagung yaitu kambium, empiler dan
batang (Iwan, 2007).
Pada pengamatan anatomi akar jagung pada pembesaran 10 kali dapat
dilihat dan ditemukan pembuluh xylem, floem, dan jaringan epidermis.
Sedangkan pada anatomi daun dan batang jagung (Zea mays) juga ditemukan
jaringan dan pembuluh yang sama. Pada pengamatan anatomi bunga dengan
menggunakan luv ditemukan carpel Septum, dan locule (Iwan, 2007).
Tumbuhan monokotil adalah tumbuhan yang memiliki biji berkeping satu.
Pada tumbuhan monokotil, epidermis terdiri atas suatu lapisan sel, korteks terdiri
atas beberapa lapisan sel, sel stele terbagi atas xilem dan empelur yang ada di
tengah. Sedangkan pada tumbuhan dikotil, banyak lapisan sel pada bagian
epidermis dan korteks sama dengan monokotil (Pratiwi, 2007).
Pada tumbuhan monokotil sebagian batangnya terdiri dari empelur yang
dikelilingi dari lapisan tipis jaringan yang lebih keras. Sistem pembuluh yang
kelihatannya sebagai titik pembuluh yang terpisah secara panjang pada potongan
melintang bekas pembuluh ini, kelihatannya sebagai titik yang terserat dalam
jaringan empelur, sedangkan sistem ini dapat berupa sebagai suatu silinder yang

46

utuh atau kelihatannya sebagian terbagi-bagi dan sebagian utuh


(Sastrodinoto, 2009).
Tanaman monokotil jika dilihat dari morfologinya khususnya pada batang,
dapat dilihat kenampakan yang menonjol yaitu tidak mempunyai cabang dan kulit
batang, sedangkan akrnya nampak serabut.Akarnya berfungsi masing-masing
pada transportasi.Pada daun nampak yang menonjol adalah ujung daun dan tepi
daun (Brotowijoyo,2007).
IV.4 Memahami Konsep Hukum Mendel
4.4.1 Hasil
Berdasarkan hasil dari pengamatan tentang hukum mendel dilaboratorium
Hama dan Penyakit Tumbuhan maka diperoleh hasil persilangan yang
digambarkan pada table sebagai berikut :
Tabel 2. Memahami Konsep Hukum Mendel
Macam Pasangan

Ijiran

Perbedaan Genotif

Perbedaan Fenotif

Merah-Merah

IIII IIII

9 MM

Merah

Merah-Putih

IIII III

7 Mm

Merah-Putih

Putih-Putih

IIII IIII

9 mm

Putih

Keterangan:
Merah : M

47

Putih : m
Perbandingan fenotipnya :
Merah-Merah : Merah-Putih : Putih-Putih
9

4.4.2 Pembahasan
Dengan menggunakan konsep hukum Mendel perbandingan fenotip seperti
pada percobaan yang telah dilakukan jugadapat diperoleh dengan cara
menyilangkan antara gen merah (M) dengan gen putih (m) seperti berikut ini :

Parental (P1) :

Genotip

: MM

mm

Fenotip

: Merah

Putih

Gamet

: M

Filial (F1)

: MM

mm

P2

: F1
Mm

Gamet

F1

Mm

: M dan m

M dan m

Dari dasil percobaan praktikum dapat diketahui bahwa perbandingan


Fenotif anatara merah-merah, merah-putih, putih-putih, yakni 9 : 7: 9. Sehingga
hasil percobaan yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa berlaku hukum
mendel.

Hal

ini

dikarenakan

bahwa

perbandingan

fenotifnya

lebih

banyak.Dihasilkan dari persilangan antara kancing merah-putih yang jumlah

48

keseluruhannya 25 sedangkan pada kancing merah-merah perbandingannya


adalah 9. Karena hukum mendel I menyatakan bahwa ketika berlangsung sel
secara bebas setiap gamet mengandung salah satu alel yang dikandung oleh
induknya, peristiwa ini dapat dikenal melalui persilangan monohibrit.
Penyimpangan semu muncul karena adanya perbandingan yang tidak sesuai
dengan hukum mendel I. disebut hukum penyimpangan semu karena sebenarnya
prinsip segregasi tetapberlaku,tetapi kinerja gen-gen bahwa sifat memiliki ciri-ciri
tertentu itu sebabnya di sebut hukum penyimpangan semu (Khaerul, 2012).
Cabang biologi yang mempelajari pewarisan sifat-sifat dari induk kepada
keturunannya (hereditas) serta gejala seluk beluknya secara ilmiah disebut
genetika (Khaerul, 2012).
Berdasarkan penelitiannya, Mendel mengemukakan dua hukum, yaitu
Hukum Mendel I atau Hukum pemisahan gen yang sealel (Segregasi) dan Hukum
Mendel II atau Hukum pengelompokan gen secara bebas (Asortasi).Dalam
Hukum Mendel I dikemukakan bahwa dua gen berpisah pada saat pembentukan
gamet. Dalam hukum mendel II dijelaskan bahwa gen-gen yang telah terpisah
akan tergabung dengan gen-gen dari induk lainnya pada saat perkawinan.
Penggabungan gen tersebut terjadi secara acak dan bebas (Khaerul, 2012).

IV.5 Pengamatan Transpirasi Tumbuhan


4.5.1 Hasil

49

Berdasarkan pengamatan pratikum biologi umum tentang Transpirasi


Tumbuhan dilakukan dengan 2 tempat, yaitu di dalam ruangan dan di luar
ruangan, hasilnya adalah sebagai berikut :
Tabel 3. Pengamatan selisih tinggi air pada proses transpirasi di dalam ruangan
Menit ke
Jenis tumbuhan
Tomat
Cabai
Jagung
Kontrol
Grafik 1. Laju transpirasi di dalam ruangan

Tabel 4. Pengamatan selisih tinggi air pada proses transpirasi di luar ruangan
Menit ke
Jenis tumbuhan
Tomat
Cabai
Jagung

50

Kontrol
Grafik 2. Laju transpirasi di luar ruangan

4.5.2 Pembahasan
Dilihat dari hasil pengamatan yang di dalam ruangan dperoleh dapat
diketahui bahwa laju transpirasi pada tiga tumbuhan tersebut berbeda antara
tumbuhan yang satu dengan tumbuhan yang lain. Itu dikarenakan adanya faktor
yang mempengaruhi laju transpirasi pada ketiga tumbuhan tersebut seperti
intensitas cahaya dan suhu, pengamatan dilakukan didalam ruangan untuk
membuktikan bahwa laju transpirasi dipengaruhi oleh intensitas cahaya dan suhu
(Hartono, 2006).
Pengamatan yang dilakukan di dalam dan di luar ruangan memiliki hasil
yang berbeda yang diperoleh dapat diketahui bahwa laju transpirasi hasil pada ke
dua tempat tersebut berbeda, transpirasi tumbuhan yang dilakukan di dalam lebih

51

sedikit kehilangannya air dari pada di lakukan di luar. Ini diakibatkan karena
faktor suhu, intensitas cahaya, kelembaban, dan angin (Hartono, 2006).
Transpirasi adalah hilangnya air dalam bentuk penguapan air dari daun dan
cabang tanaman (jaringan hidup tanaman) melalui pori-pori daun yakni melalui
stomata, lubang kutikula, dan lentisel oleh proses fisiologi tanaman
(Hasanudin, 2009).
Transpirasi berlangsung melalui bagian yang berhubungan dengan udara
luar, yaitu luka jaringan epidermis pada daun, batang, cabang, ranting, bunga,
buah, dan bahkan akar (Hasanudin, 2009).
Cepat lambatnya proses transpirasi ditentukan oleh faktor-faktor yang
mampu merubah wujud air sebagai cairan ke wujud air sebagai uap atau gas dan
faktor-faktor yang mapu menyebabkan pergerakan uap atau gas
(Hasanudin, 2009).

IV.6 Pengamatan Fotosintesis (Percobaan Sachs)

4.6.1 Hasil
Berdasarkan pratikum biologi umum mengenai pengamatan fotosintesis
percobaan sachs hasilnya sebagai berikut :

52

Keterangan :
Daun berwarna pucat

Gambar 22. Daun ubi kayu (manihot esculenta) yang dibungkus kertas
alumunium foil sesbelum ditetesi cairan iodium.

Keterangan :
Daun berwarna pucat
Amilum

Gambar 23. Daun ubi kayu (manihot esculenta) yang dibungkus kertas
alumunium foil sesudah ditetesi cairan iodium.

4.6.2 Pembahasan
Dilihat dari hasil pengamatan fotosintesis percobaan sach yang diperoleh
dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan warna antara daun yang ditutupi
dengan daun yang tidak ditutupi kertas timah. Bagian daun yang ditutupi kertas
timah mengalami perubahan warna, dari warna hijau menjadi pucat. Hal ini

53

dikarena daun yang tidak ditutupi mengalami fotosintesis pada pagi harinya
sedangkan pada daun yang tertutupi tidak mengalami fotosintesis. Pada daun yang
ditutupi warnanya pucat sengkan pada daun yang tidak ditutupi warnanya tetap
hijau (Kurniawan 2009).
Pada tahun 1860, sachz membuktikan bahwa proses fotosintesis
menghasilkan amilum. Daun yang sebagian dibungkus kertas timah dipetik di sore
hari , setelah terkena sinar matahari sejak pagi hari. Daun tersebut di rebus untuk
mematikan sel-selnya. Selanjutnya daun tersebut di masukan ke dalam alkohol,
agar klofilnya larut sehingga daun tersebut menjadi pucat. Saat daun itu di tetesi
dengan yodium, bagian yang tertutup oleh kertas timah tetap pucat, sedangkan
yang tidak tertutup warnaya menjadi biru kehitaman. Biru kehitaman menandakan
bahwa di daun tersebut terdapat amilum (Kurniawan 2009).

IV.7 Pembahasan Fotosintesis (Percobaan Ingenhousz)


4.7.1 Hasil
Pengamatan fotosintesis percobaan ingenhousz hasilnya sebagai berikut:
Tabel 5. Jumlah gelembung oksigen pada percobaan ingenhousz

54

Warna plastik pelapis

Jumlah gelembung

pada gelas

oksigen (O2)

Putih

375 O2

Menghasilkan gelembung

10 O2

O2
Paling sedikit

Merah

keterangan

menghasilkan gelembung
Hijau

564 O2

O2
Paling banyak
menghasilkan gelembung

Ungu

56 O2

O2
Menghasilkan gelembung
O2

4.7.2 Pembahasan
Hasil dari pengamatan fotosintsis percobaan ingenhousz dapat disimpulkan
bahwa gelas yang dilapisi plastik berwana putih lebih banyak menghasilkan
gelembung oksigen. Hal ini dikarenakan warna putih bersifat transparan sehingga
cahaya lebih mudah menembus plastik untuk melakukan fotosintesis. Faktor
intensitas cahaya yang cukup akan membuat proses fotosintesis menjadi cepat.
Hasil gelembung oksigen yang paling sedikit adalah merah, hal ini dikareaan
merah susah tembus oleh cahaya ((Arhan, 2009).
Gelembung yang dihasilkan pada percobaan itu merupakan gas oksigen/O2.
Gas ini terbentuk karena proses fotolisis dimana air diuraikan menjadi gas oksigen
yang akan muncul berupa gelembung-gelembung dengan persamaan reaksi
sebagai berikut:
2H2O 4H+ + O2

55

Dari persamaan tersebut nampak dihasilkan molekul gas O2 dari penguraian


air (Arhan, 2009).

V.

KESIMPULAN DAN SARAN

.1 Kesimpulan

Kesimpulan praktikum Biologi tentang pengenalan dan penggunaan


mikroskop, pengamatan sel, pengamatan tumbuhan, memahami konsep hukum

56

Mendel, pengamatan transpirasi tumbuhan, pengamatan fotosintesis (percobaan


Sach), dan pengamatan fotosintesis (percobaan Ingenhousz), sebagai berikut:
1. Kegiatan peraktikum ini dapat memperkenalkan komponen-komponen
mikroskop dan cara menggunakannya dan mempelajari cara menyiapkan
bahan-bahan yang akan diamati di bawah Mikroskop. Dan telah ditemukan
Ada tiga sistem lensa yang terdapat pada mikroskop yakni Lensa objektif
bekerja dalam menentukan banyaknya struktur dan bagian renik yang akan
terlihat padabayangan akhir. Lensa okuler berfungsi memperbesar
bayangan yang dihasilkan oleh bayangan objektif. dan kondensor berfungsi
untuk mendukung terciptanya pencahayaan pada obyek yang akan difokus
sehingga bila pengaturannya tepat akan diperoleh daya pisah yang
maksimal. Pada pengamatan objek huruf d dengan mikroskop bentuk
bayangan yang terjadi ialah besar dan terbalik, jika preparat digeser kekiri
bayangan bergeser kekanan dan jika preparat digeser ke belakang bayangan
bergeser ke depan, setelah menggunakan pembesaran yang lebih kuat maka
bayangan objek terlihat semakin besar. Dan butir-butir pati kentang yang
dapat diamati ialah dinding sel, inti sel (nukleus) dan sitoplasma.
2. Dari pengamatan sel kami dapat Mengenal bentuk sel dan struktur sel
secara umum dan mampu membandingkan berbagai jenis sel dari berbagai
jenis organisme. Serta mampu memahami sifat semipermeabilitas dari
membran sel. Sel adalah bagian terkecil dari mahluk hidup, atau sebagai
individu yang menyelenggarakan seluruh aktivitas untuk
kehidupannya.Telah diamati Sel hewan terdiri dari membran sel,
ektoplasma, endoplasma, dan nukleus. Sel hewan memiliki bentuk yang

57

sama dan melakukan suatu fungsi tertentu. seperti pada jaringan hewan
terdiri dari 1) jaringan epitel, 2) jaringan ikat, 3) jaringan otot, dan 4)
jaringan syaraf. Berbagai jenis jaringan tersebut menyatu dalam berbagai
organ dan memunculkan fungsifungsi tertentu pada organ tersebut.
Sementara Sel tumbuhan ditunjukkan dari adanya kloroplas, sel yang
dewasa memiliki vakuola sentral yang besar yang berfungsi membantu
memelihara turgiditas sel, serta adanya dinding sel pada sel tumbuhan.
Dinding sel tumbuhan terutama disusun oleh selulosa. Kebanyakan sel
tumbuhan, khususnya sel yang memberikan kekuatan, memiliki dua lapis
dinding sel, dinding primer dan sekunder. Pada dinding sel ada bagianbagian yang tetap tipis disebut noktah, melalui noktah inilah aliran
sitoplasma sel-sel yang berdampingan (plasmodesmata) dapat saling
berhubungan. Plasmodesmata merupakan saluran komunikasi dan sirkulasi
di antara sel-sel tumbuhan yang berdampingan.

3. Dari pengamatan tumbuhan dapat diketahui struktur morfologi, anatomi

dan histologi sistem organ pada tumbuhan dan dapat membandingkan


struktur akar, batang dan daun pada tumbuhan monokotil dan dikotil.
Tumbuhan Monokotil ialah tumbuhan yang berkeping biji satu, misalnya
kelapa, salak, jagung dan padi. Sementara tumbuhan dikotil ialah tumbuhan
yang berkeping biji dua, misalnya kacang tanah, mangga, rambutan dan jeruk.
Tubuh tumbuhan terdiri dari akar dan tajuk yang dihubungkan secara

58

kontinyu oleh jaringan pembuluh. Akar berfungsi sebagai penopang


berdirinya tumbuhan, pengabsorbsi air dan mineral, serta tempat
menyimpan cadangan makanan. Tajuk terdiri dari batang dan daun, serta
bung (bunga merupakan adaptasi untuk reproduksi tumbuhan angiospemae).
Batang adalah bagian tumbuhan yang terdapat di atas tanah, mendukung
daun-daun dan bunga. Pada pohon, batang meliputi batang pokok dan
semua cabang-cabang, termasuk ranting-ranting yang kecil. Batang
mempunyai buku sebagai tempat melekatnya daun, juga mempunyai ruas
yang terdapat di antara dua buku. Daun merupakan tempat utama
berlangsungnya proses fotosintesis, terdiri dari helai daun yang melebar
(lamina) dan tangkai daun (petiol) yang menghubungkan helai daun dengan
batang. Pada ujung batang terdapat tunas yang belum berkembang, disebut
tunas ujung (tunas apikal). Pada ketiak daun terdapat tunas lateral yang
nantinya dapat tumbuh membentuk cabang atau bunga. Sistem perakaran
pada tumbuhan monokotil berbentuk serabut dan tidak memiliki akar
tunggang, sedangkan perakaran pada tumbuhan dikotil memiliki akar
tunggang. Sementara Sistem pertulangan pada daun tumbuhan monokotil
berbentuk menyirip seperti pita sedangkan pada daun tumbuhan dikotil
berbentuk cabang.
4. Pada kegiatan pemahaman konsep hukum mendel dapat dipahami

angka-

angka perbandingan dalam hukum mendel. Hukum pewarisan Mendel


adalah hukum mengenai pewarisan sifat pada organisme yang dijabarkan
oleh Gregor Johann Mendel dalam karyanya 'Percobaan mengenai
Persilangan Tanaman'. Hukum ini terdiri dari dua bagian: Hukum segregasi

59

bebas (hukum pertama Mendel) menyatakan bahwa pada pembentukan


gamet, kedua gen yang merupakan pasangan alela itu akan memisah
sehingga tiap-tiap gamet menerima satu gen dari alelanya. Hukum kedua
Mendel menyatakan bahwa bila dua individu mempunyai dua pasang atau
lebih sifat, maka diturunkannya sepasang sifat secara bebas, tidak
bergantung pada pasangan sifat yang lain. Dengan kata lain, alel dengan gen
sifat yang berbeda tidak saling memengaruhi. Hal ini menjelaskan bahwa
gen yang menentukan e.g. tinggi tanaman dengan warna bunga suatu
tanaman, tidak saling memengaruhi. Dari hasil percobaan praktikum dapat
diketahui bahwa perbandingan Fenotatif anatara merah-merah, merah-putih,
putih-putih, yakni 14 : 22 : 14. Sehingga hasil percobaan yang telah
dilakukan dapat diketahui bahwa berlaku hukum mendel. Hal ini
dikarnakan bahwa perbandingan fenotifnya lebih banyak. Dihasilkan dari
persilangan antara kancing merah-putih yang jumlah keseluruhanya 22,
sedangkan pada kancing merah-merah perbandinganya adalah 14. Karena
hukum mendel I menyatakan bahwa ketika berlangsung sel secara bebas
setiap games mengandung salah satu alal yang dikandung oleh induknya ,
peristiwa ini dapat dikenal melalui persilangan monohybrid.
5. Transpirasi adalah hilangnya uap air dari permukaan tumbuhan. Air diserap
ke dalam akar secara osmosis melalui rambut akar, sebagian besar bergerak
menurut gradien potensial air melalui xilem. Air dalam pembuluh xilem
mengalami tekanan besar karena molekul air polar menyatu dalam kolom
berlanjut akibat dari penguapan yang berlangsung di bagian atas. Sebagian
besar ion bergerak melalui simplas dari epidermis akar ke xilem, dan

60

kemudian ke atas melalui arus transportasi. Dari pengamatan transpirasi


dapat diketahui Faktor-faktor yang mempengaruhi laju transpirasi. Pada
pengamatan transpirasi yang di lakukan di dalamini dapat dilihat bahwa air
yang ada di tiap tabung reaksi tanaman jagung dalam waktu 20 menit
menguap sebanyak 0,025ml, tabung tomat 0,025 ml dan tumbuhan cabai
0,025 ml. Pada pengamatan transpirasi yang dilakukan di luar pada tanaman
cabai kehilangan airnya sebanyak 0,075 ml dan tanaman tomat 0,05 ml.
Sebagian besar transpirasi berlangsung melalui stomata sedang melalui
kutikula daun dalam jumlah yang lebih sedikit. Dari hasil pengamatan di
atas, terlihat bahwa terjadi perbedaan hasil penguapan. Hal tersebut karena
dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal dari tanaman tersebut,
faktor internal yang mempengaruhi transpirasi antara lain, ukuran daun
(lebar atau kecil), ketebalan daun(tebal atau tipis daun), jumlah somata dan
ada tidaknya lapisan lilin pada permukaan daun.
6. Fotosintesis adalah suatu proses biokimia yang dilakukan tumbuhan, alga,
dan beberapa jenis bakteri untuk memproduksi energi terpakai (nutrisi)
dengan memanfaatkan energi cahaya. Hampir semua makhluk hidup
bergantung dari penergi yang dihasilkan dalam fotosintesis. Akibatnya
fotosintesis menjadi sangat penting bagi kehidupan di bumi. Fotosintesis
juga berjasa menghasilkan sebagian besar oksigen yang terdapat di atmosfer
bumi. Organisme yang menghasilkan energi melalui fotosintesis (photos
berarti cahaya) disebut sebagai fototrof. Fotosintesis merupakan salah satu
cara asimilasi karbon karena dalam fotosintesis karbon bebas dari CO2
diikat (difiksasi) menjadi gula sebagai molekul penyimpan energi. Cara lain

61

yang ditempuh organisme untuk mengasimilasi karbon adalah melalui


kemosintesis, yang dilakukan oleh sejumlah bakteri belerang. Dari
pengamatan fotosintesis dapat dibuktikan terbentuknya oksigen oleh
tumbuhan hijau dan dapat diketahui bagaimana proses dari pada fotosintesis
dari daun ubi kayu dari proses fotosintesis fases terang dan gelap.
Pada pecobaan Sach yang menggunakan daun ubi kayu diperoleh
pembahasan bahwa daun yang dibungkus dengan aluminium Nampak layu
dan mengeluakan keringat. Hal ini diakibatkan karna daun tersebut tidak
dapat terkena cahaya matahari sehingga daun tersebut tidak dapat
melakukan proses fotosintesis dengan baik, sedangkan daun yang tidak
dibungkus tanpak masih segar dan berwarna hijau, ini karna daun tersebut
dapat melakukan proses fotosintesis dengan baik tanpa ada yang meghalangi
sinar matahari dengan daun tersebut.
7. Hasil dari pengamatan fotosintsis percobaan ingenhousz dapat disimpulkan
bahwa gelas yang dilapisi plastik berwana putih lebih banyak menghasilkan
gelembung oksigen. Hal ini dikarenakan warna putih bersifat transparan
sehingga cahaya lebih mudah menembus plastik untuk melakukan
fotosintesis. Faktor intensitas cahaya yang cukup akan membuat proses
fotosintesis menjadi cepat. Hasil gelembung oksigen yang paling sedikit
adalah merah, hal ini dikareaan merah susah tembus oleh cahaya
5.2 Saran
Sebelum praktikum dimulai harus dapat dipastikan bahan dan alat yang
digunakan dalam praktikum harus lengkap agar kegiatan berjalan dengan lancar,

62

meskipun di dalam buku panduan sudah tertera namun terkadang peraktikan


belum mengerti seutuhnya.