Anda di halaman 1dari 16

Proposal Ilmiah

TUGAS PENGENALAN TEKNIK MESIN


Disusun Oleh:
Muhammad Reza Nazarsyah
1504102010073

JURUSAN TEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH
2015

Pembangkit Listrik Tenaga Pasang Surut

abstrak
Pembangkit listrik pasang surut yaitu memanfaatkan energi lautan menjadi energi listrik
melalui turbin dan generator. Potensi energi potensial yang terkandung dalam perbedaan
pasang dan surut air laut dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin air dan bila turbin air
ini dihubungkan dengan generator dapat menjadi pembangkit listrik. Potensi energi pasang
surut di Sulawesi Utara menurut hasil pengamatan dan perhitungan dalam penelitian yang
dilakukan mempunyai tinggi maksimum (head) sebesar 207,676 cm yang dapat digunakan
untuk perancangan pembangkit listrik pasang surut. Untuk ujicoba maka dibuat prototipe
dam/bendungan menggunakan kayu dan papan dua lapis yang diisi dengan karung plastik
berisi pasir dan dilengkapi dengan 2 pintu air, dimana pada pintu keluar dipasang turbin
air. Prototipe turbin air yang dibuat menggunakan model turbin propeller tipe undershot
dan terbuat dari bahan baja tahan karat. Hasil analisis data potensi energi listrik yang dapat
dihasilkan sebesar 85,56 kilo Joule dan daya listrik sebesar 30,38 kW, yang cukup untuk
digunakan oleh masyarakat di daerah pesisir pantai atau di pulau-pulau terpencil dan pulau
di daerah perbatasan yang belum terjangkau listrik PLN.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Krisis energi adalah masalah yang sangat fundamental di Indonesia, khususnya masalah
energi listrik. Energi listrik merupakan energi yang sangat diperlukan bagi manusia
jaman sekarang. Potensi energi pasang surut lautdapat dimanfaatkan untuk mengatasi
krisis energi listrik melalui pembangunan pembangkit listrik pasang surut. Pembangkit
listrik pasang surut yaitu memanfaatkan energi lautan menjadi energi listrik melalui
turbin dan generator. Potensi energi potensial yang terkandung dalam perbedaan pasang
dan surut air laut digunakan untuk menggerakkan turbin air dan bila turbin ini
dihubungkan dengan generator dapat menjadi
pembangkit listrik. Pasang surut lautan adalah salah satu bentuk energi yang dapat
diperbarui (renewable) dan nyata keuntungannya jika dibandingkan dengan sumber
energi lainnya, yang sulit diprediksi, seperti angin dan energi cahaya matahari.
Berdasarkan data dari Kementerian ESDM, potensi energi terbarukan dari fenomena
pasang surut air laut mencapai 240.000 MW, namun belum ada instalasi yang terpasang.
Prinsip sederhana pemanfaatan energi pasang surut adalah memakai energi kinetik untuk
memutar turbin
yang selanjutnya menggerakkan generator untuk
menghasikan listrik adalah seperti Gambar 1.

Gambar 1. Pemanfaatan Energi Pasang Surut

Laut merupakan sumber kehidupan yang bisa memberikan manfaat tersendiri di


berbagai aspek-aspek kehidupan misalnya saja kondisi pasang surut air laut yang
dimafaatkan untuk membangkitkan suatu energi listrik yang besar, sehingga bisa
digunakan dalam kehidupan kita yang sangat diperlukan sekali adanya listrik.
Secara umum, potensi energi laut yang dapat menghasilkan listrik dapat di bagi
kedalam 3 bentuk potensi energi, yaitu ombak atau gelombang (wave energy), energi
pasang surut (Tindal energy), dan hasil konversi energi panas laut(ocean thermal energy
conversion).
Oleh kerena itu dengan adanya suatu ide-ide yang bisa membangkitkan suatu
energi listrik sangatlah diperlukan sekali. Dalam hal ini akan dibahas masalah
pembangkit tenaga listrik pasang surut baik dari alat pembangkitnya, bahan baku untuk
memperlancar proses pembangkitan maupun cara kerja dari pada pembangkit sehingga
bisa membangkitkan energi listrik.
1.2.

Perumusan Masalah
Isu pemanasan global yang terjadi yang membuat orang mulai berfikir untuk beralih
menggunakan energi yang lebih ramah lingkungan. Salah satu penyebab utama
terjadinya pemanasan global ini diduga karena adanya dampak negatif yang luar biasa
akibat hasil gas buang dari pemakaian energi fosil yang sudah lama menjadi sumber
energi utama di bumi. Terlalu bergantungnya manusia terhadap penggunaan energy fosil
juga mengakibatkan semakin menipisnya sumber energi fosil hingga mengakibatkan
terjadinya krisis energy yang menyebabkan kenaikan inflasi dimana-mana. Padahal
selain energi fosil masih banyak sekali sumber energi yang dapat diperbaharui serta lebih
ramah lingkungan yang bisa dimanfaatkan dan memiliki potensi sebagai sumber energi
utama dimasa yang akan datang karena selain ramah lingkungan sumber energi ini dapat
diperbaharui karena 70,8% permukaan bumi diliputi air dan arus pasang surut memiliki
gelombang yang sangat besar, maka energi yang dihasilkannya juga besar. Dari sini
timbulah pertanyaanpertanyaan tentang pembangkit listrik tenaga pasang surut yaitu :
1. Apakah energi pasang surut itu ?
2. Daerah mana yang bisa diterapkan energi pasang surut itu ?
3. Apa yang mempengaruhi air laut menjadi pasang dan surut ?
4. Bagaimana cara kerja dari pada sistem pembangkit listrik tenaga pasang surut?
5. Bagaimana urutan proses operasi turbin-pompa ?

1.3.

Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum


Tujuan dari penelitian ini adalah menemukan sumber energi alternatif selain energi fosil
yaitu sumber energi yang dapat meminimalkan dampak negatif bagi lingkungan.

Selain untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, penggunaan energi ini
juga bisa dijadikan energi alternatif untuk masa depan sebagai pengganti fosil.

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Mengatasi permasalahan krisis energi yang terjadi sekarang ini.
2. Dengan adanya sumber energi baru diharapkan dapat menekan kenaikan inflasi yang
terjadi sekarang ini yang terjadi karena adanya krisis energi.
3. Diharapkan setelah dapat dikembangkan potensi energi pasang surut dapat tercipta
pula lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat.
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Peneliti
Penelitian ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan wawasan tentang sumbersumber energi dan potensi-potensi pengolahannya, serta meningkatkan pemahaman
tentang penelitian.
1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan pengetahuan serta dapat
menjadi salah satu referensi dan wawasan bagi mahasiswa dan peneliti yang relevan.
1.4.3 Bagi Masyarakat
Penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk membuka wawasan masyarakat akan
pentingnya penerapan sumber energi baru yang lebih ramah terhadap lingkungan.

1.5. Batasan Penelitian


Kendala utama penerapan teknologi PLPS ini ada dua yaitu: Pertama, pemerintah belum
pernah memanfaatkan energi pasang surut ini untuk menghasilkan listrik, sehingga
tenaga ahli Indonesia yang telah menguasai teknolgi pembangkit listrik tenaga air belum
pernah merancang dan menerapkan atau membangun secara langsung dari awal. Kedua,
untuk pembangunan ini akan merendam wilayah yang luas, apalagi bila harus merendam
beberapa desa di sekitar muara atau kolam. Di sini kemudian akan muncul masalah
sosial, bukan hanya masalah teknologi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pasang Surut
Pasang-surut (pasut) merupakan salah satu gejala alam yang tampak nyata di laut,
yakni suatu gerakan vertikal (naik turunnya air laut secara teratur dan berulang-ulang) dari
seluruh partikel massa air laut dari permukaan sampai bagian terdalam dari dasar laut.
Gerakan tersebut disebabkan oleh pengaruh gravitasi (gaya tarik menarik) antara bumi dan
bulan, bumi dan matahari, atau bumi dengan bulan dan matahari. Pasang-surut laut
merupakan hasil dari gaya tarik gravitasi dan efek sentrifugal, yakni dorongan ke arah luar
pusat rotasi. Hukum gravitasi Newton menyatakan, bahwa semua massa benda tarik
menarik satu sama lain dan gaya ini tergantung pada besar massanya, serta jarak di antara
massa tersebut. Gravitasi bervariasi secara langsung dengan massa, tetapi berbanding
terbalik terhadap jarak. Sejalan dengan hukum di atas, dapat dipahami bahwa meskipun
massa bulan lebih kecil dari massa matahari tetapi jarak bulan ke bumi jauh lebih kecil,
sehingga gaya tarik bulan terhadap bumi pengaruhnya lebih besar dibanding matahari
terhadap bumi. Kejadian yang sebenarnya dari gerakan pasang air laut sangat berbelitbelit,sebab gerakan tersebut tergantung pula pada rotasi bumi, angin, arus laut dan keadaankeadaan lain yang bersifat setempat. Gaya tarik gravitasi menarik air laut ke arah bulan dan
matahari dan menghasilkan dua tonjolan (bulge) pasang surut gravitasional di laut. Lintang
dari tonjolan pasang surut ditentukan oleh deklinasi, yaitu sudut antara sumbu rotasi bumi
dan bidang orbital bulan dan matahari.
Pasang-surut purnama (spring tides) terjadi ketika bumi, bulan dan matahari
berada dalam suatu garis lurus (matahari dan bulan dalam keadaan oposisi). Pada saat itu,
akan dihasilkan pasang tinggi yang sangat tinggi dan pasang rendah yang sangat rendah,
karena kombinasi gaya tarik dari matahari dan bulan bekerja saling menguatkan. Pasangsurut purnama ini terjadi dua kali setiap bulan, yakni pada saat bulan baru dan bulan
purnama (full moon). Sedangkan pasang-surut perbani (neap tides) terjadi ketika bumi,
bulan dan matahari membentuk sudut tegak lurus, yakni saat bulan membentuk sudut 90
dengan bumi. Pada saat itu akan dihasilkan pasang tinggi yang rendah dan pasang rendah
yang tinggi. Pasang-surut perbani ini terjadi dua kali, yaitu pada saat bulan 1/4 dan .
Pasang-sumt laut dapat didefinisikan pula sebagai gelombang yang dibangkitkan
oleh adanya interaksi antara bumi, matahari dan bulan. Puncak gelombang disebut pasang

tinggi (High Water/RW) dan lembah gelombang disebut surut/pasang rendah (Low
Water/LW). Perbedaan vertikal antara pasang tinggi dan pasang rendah disebut rentang
pasang-surut atau tunggang pasut (tidal range) yang bisa mencapai beberapa meter hingga
puluhan meter. Periode pasang-surut adalah waktu antara puncak atau lembah gelombang ke
puncak atau lembah gelombang berikutnya. Harga periode pasang-surut bervariasi antara 12
jam 25 menit hingga 24 jam 50 menit.
Menurut WIBISONO (2005), sebenarnya hanya ada tiga tipe dasar pasang-surut
yang didasarkan pada periode dan keteraturannya, yaitu sebagai berikut:
1. Pasang-surut tipe harian tunggal (diurnal type): yakni bila dalam waktu 24 jam terdapat 1 kali
pasang dan 1 kali surut.
2. Pasang-surut tipe tengah harian/ harian ganda (semi diurnal type): yakni bila dalam waktu 24
jam terdapat 2 kali pasang dan 2 kali surut.
3. Pasang-surut tipe campuran (mixed tides): yakni bila dalam waktu 24 jam terdapat bentuk
campuran yang condong ke tipe harian tunggal atau condong ke tipe harian ganda.
Tipe pasang-surut ini penting diketahui untuk studi lingkungan, mengingat bila di
suatu lokasi dengan tipe pasang-surut harian tunggal atau campuran condong harian tunggal
terjadi pencemaran, maka dalam waktu kurang dari 24 jam, pencemar diharapkan akan
tersapu bersih dari lokasi. Namun pencemar akan pindah ke lokasi lain, bila tidak segera
dilakukan clean up. Berbeda dengan lokasi dengan tipe harian ganda, atau tipe campuran
condong harian ganda, maka pencemar tidak akan segera tergelontor keluar. Dalam sebulan,
variasi harian dari rentang pasang-surut berubah secara sistematis terhadap siklus bulan.
Rentang pasang-surut juga bergantung pada bentuk perairan dan konfigurasi lantai
samudera. Pasang-surut (pasut) di berbagai lokasi mempunyai ciri yang berbeda karena
dipengaruhi oleh topografi dasar laut, lebar selat, bentuk teluk dan sebagainya.
Di beberapa tempat, terdapat beda antara pasang tertinggi dan surut terendah
(rentang pasut), bahkan di Teluk Fundy (Kanada) bisa mencapai 20 meter. Proses terjadinya
pasut memang merupakan proses yang sangat kompleks, namun masih bisa diperhitungkan
dan diramalkan. Pasut dapat diramalkan karena sifatnya periodik, dan untuk meramalkan
pasut, diperlukan data amplitudo dan beda fasa dari masing-masing komponen pembangkit
pasut. Ramalan pasut untuk suatu lokasi tertentu kini dapat dibuat dengan ketepatan yang
cukup cermat .
Pasut tidak hanya mempengaruhi lapisan di bagian teratas saja, melainkan seluruh
massa air yang bisa menimbulkan energi yang besar. Di perairan pantai, terutama di teluk
atau selat sempit, gerakan naik turunnya muka air akan menimbulkan terjadinya arus pasut.

Jika muka air bergerak naik, maka arus mengalir masuk, sedangkan pada saat muka air
bergerak turun, arus mengalir ke luar. NONTJI (2005) mengatakan bahwa pengetahuan
mengenai pasut sangat diperlukan dalam pembangunan pelabuhan, bangunan di pantai dan
lepas pantai, serta dalam hal lain seperti pengelolaan dan budidaya di wilayah pesisir,
pelayaran, peringatan dini terhadap bencana banjir air pasang, pola umum gerakan massa air
dan sebagainya. Namun yang paling penting dari pasut adalah energinya dapat
dimanfaatkan untuk menghasilkan tenaga listrik.
2.2. Gaya Pasang Surut Air Laut

Banyak gaya dan kekuatan yang mempengauhi lautan dipermukaan bumi. Salah satu
kekuatan yang bekerja terhadap air bumi adalah pengaruh massa bulan yang mengakibatkan
adanya gaya tarik, sehingga menjelma suatu gejala yang dikenal sebagai pasang
surut.Dalam waktu 24 jam, terdapat dua kali pasang dan dua kali surut. Beda tinggi antara
permukaan laut pasang dan surut dapat mencapai 5 sampai 6 meter atau lebih, bahkan ada
beberapa tempat yang melampaui 10 meter.
Gaya tarik gravitasi akan terbesar, bilamana baik matahari maupun bulan ada pada sisi yang
sama terhadap bumi. Dilain pihak bilamana bulan dan matahari berada pada sisi yang
berlainan, pengaruh gaya tarik gravitasi kurang lebih akan saling menghapuskan.

Pemanfatan energi potensial yang terkandung dalam perbedaan pasang dan surut lautan
antara lain dapat dilakukan misalnya jika terdapat suatu teluk yang agak cekung dan dalam,
teluk ini dibendung sehingga terbentuk suatu waduk.

Bulb Turbine

Rim Turbine

Tubular Turbine
Pada waktu laut pasang, maka permukaan air laut tinggi, mendekati ujung atas bendungan.
Waduk diisi dengan air laut, dengan mengalirkannya melalui sebuah turbin air. Dengan
sendirinya turbin ini di kopel dengan sebuah generator, sehingga pada proses pengisian
waduk dari laut generator akan menghasilkan energi listrik. Hal ini dapat dilakukan hingga
tinggi permukaan air dalam waduk akan sama tingginya dengan tinggi permukaan laut. Pada
saat laut surut terjadi sebaliknya , waduk dikosongkan. Dengan sendirinya air mengalir lagi
melalui turbin yang dikopel generator listrik. Ada kekhususan bahwa turbin harus berputar
dua arah, dan hal ini akan dilakukan berganti-ganti.
Sering juga waduk ini dibentuk dari muara sungai, untuk sekaligus dapat memanfaatkan air
sungai dalam membangkitkan tenaga listrik.
Siklus Pembangkit Listrik Tenaga Pasang Surut adalah sebagai berikut :

Keterangan Gambar :
KB :Katup Buka
M : Menunggu
G : Generator Bekerja
E : Jumlah energi yang dibangkitkan waktu 1 s.d 7 adalah 12,5 jam
2.3. Kerjasama Sistem Kolam Ganda
Bagian ini ditandai oleh dua kolam dengan tinggi yang berbeda dan dihubungkan
melalui turbin. Pintu air pada kolam yang tinggi tingkat airnya dan pada kolam yang rendah
tingkat airnya, menghubungkan kolam-kolam itu dengan laut. Yang pertama disebut pintu air
jalan masuk dan yang kedua pintu air jalan keluar.
Pengoperasian ini dilakukan dengan pintu air jalan masuk yang ditutup. Kolam atas
yang sudah penuh sebelumnya segera memindahkan airnya melalui turbin-turbin ke kolam

bawah. Tingkat permukaan air kolam atas turun, sedangkan tingkat permukaan kolam bawah
meningkat.
Pada saat permukaan air kolam atas mendekati ketinggian permukaan kolam bawah,
pintu air keluar pada kolam bawah segera dibuka, sehingga tingkat permukaan kolam bawah
mencapai tingkat paling rendah. Kemudian pintu jalan keluar ditutup dan waktunya diatur
bersamaan dengan datangnya masa naik air pasang dan bila tinggi air pasang dari laut sudah
menyamai tinggi permukaan air kolam atas. Maka pintu jalan air masuk pada kolam atas
dibuka sehingga tinggi permukan kolam atas mencapai titik tertinggi dan saat itu pintu air
jalan masuk ditutup. Setelah itu daur kedua yang sama pun dimulai. Dengan sistem ini masa
putar (operasi) pembangkitan dapat diatur lebih lama.
Syarat-syarat untuk memilih lokasi pembuatan pembangkit energi listrik pasang surut
ini adalah:
1. Tinggi air pasang pada lokasi harus memadai sepanjang tahun.
2.

Kuala atau estu arium harus mempunyai geomorfologi yang dengan tanggul yang relatif
pendek dapat dikembangkan sebagai kolam penampung air.

3.

Lokasi yang diusulkan tersebut tidak mempunyai endapan yang luar biasa jika membawa
endapan lumpur ke dalam laut diperlukan usaha untuk mengangkat endapan ke atas suatu
kolam penampungan.

4. Lokasi yang dipilih harus bebas dari serangan ombak besar.


5.

Lokasi yang dipilih harus sedemikian rupa sehingga tidak timbul masalah akibat
pembendungan kuala, seperti perubahan pola air pasang surut.

2.4. DAM Pasang Surut (tidal Baragges)


Dam ini biasanya dibangun di muara sungai dimana terjadi pertemuan antara air sungai
dengan air laut. Ketika ombak masuk atau keluar (terjadi pasang atau surut), air mengalir
melalui terowongan yang terdapat di dam. Aliran masuk atau keluarnya ombak dapat
dimanfaatkan untuk memutar Turbin Pembangkit listrik tenaga pasang surut (PLTPs) terbesar
di dunia terdapat di muara sungai Rance di sebelah utara Perancis. Pembangkit listrik ini
dibangun pada tahun 1966 dan berkapasitas 240 MW. PLTPs La Rance didesain dengan
teknologi canggih dan beroperasi secara otomatis, sehingga hanya membutuhkan dua orang
saja untuk pengoperasian pada akhir pekan dan malam hari. PLTPs terbesar kedua di dunia
terletak di Annapolis, Nova Scotia, Kanada dengan kapasitas hanya 16 MW. Kekurangan
terbesar dari pembangkit listrik tenaga pasang surut adalah mereka hanya dapat menghasilkan
listrik selama ombak mengalir masuk (pasang) ataupun mengalir keluar (surut), yang terjadi
hanya selama kurang lebih 10 jam per harinya. Namun, karena waktu operasinya dapat
diperkirakan, maka ketika PLTPs tidak aktif, dapat digunakan pembangkit listrik lainnya
untuk sementara waktu hingga terjadi pasang surut lagi.

2.5. Turbin Lepas Pantai (offshore turbines)


Turbin ini menyerupai pembangkit listrik tenaga angin versi bawah laut. Keunggulannya
dibandingkan dengan DAM pasang surut yaitu: lebih murah biaya instalasinya, dampak
lingkungan yang relatif lebih kecil daripada pembangunan dam, dan persyaratan lokasinya
pun lebih mudah sehingga dapat dipasang di lebih banyak tempat. Beberapa perusahaan
yang mengembangkan teknologi turbin lepas pantai adalah: Blue Energy dari Kanada, Swan
Turbines (ST) dari Inggris, dan Marine Current Turbines (MCT) dari Inggris. Teknologi
MCT bekerja seperti pembangkit listrik tenaga angin yang dibenamkan di bawah laut. Dua
buah baling dengan diameter 15-20 meter memutar rotor yang menggerakkan generator
yang terhubung kepada sebuah kotak gir (gearbox). Kedua baling tersebut dipasangkan pada
sebuah sayap yang membentang horizontal dari sebuah batang silinder yang diborkan ke
dasar laut. Turbin tersebut akan mampu menghasilkan 750-1500 kW per unitnya, dan dapat
disusun dalam barisan-barisan sehingga menjadi ladang pembangkit listrik. Demi menjaga
agar ikan dan makhluk lainnya tidak terluka oleh alat ini, kecepatan rotor diatur antara 1020 rpm (sebagai perbandingan saja, kecepatan baling-baling kapal laut bisa berkisar hingga
sepuluh kalinya). Dibandingkan dengan MCT dan jenis turbin lainnya, desain Swan
Turbines memiliki beberapa perbedaan, yaitu: baling-balingnya langsung terhubung dengan
generator listrik tanpa melalui kotak gir. Ini lebih efisien dan mengurangi kemungkinan
terjadinya kesalahan teknis pada alat. Perbedaan kedua yaitu, daripada melakukan
pemboran turbin ke dasar laut ST menggunakan pemberat secara gravitasi (berupa balok
beton) untuk menahan turbin tetap di dasar laut. Adapun satu-satunya perbedaan mencolok
dari Davis Hydro Turbines milik Blue Energy adalah poros baling-balingnya yang vertikal
(vertical-axis turbines). Turbin ini juga dipasangkan di dasar laut menggunakan beton dan
dapat disusun dalam satu baris bertumpuk membentuk pagar pasang surut (tidal fence)
untuk mencukupi kebutuhan listrik dalam skala besar.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Untuk menentukan kelayakan perencanaan pembangkit listrik tenaga pasang surut
diperlukan analisa potensi energi pasang surut di lokasi perencanaan serta analisa finansial
untuk menunjang studi kelayakan perencanaan pembangkit. Analisa potensi energi yang
dilakukan meliputi perencanaan pembangkit, penentuan turbin dan generator, penentuan
dimensi pipa pesat, energi potensial yang terkandung dalam air laut, energi yang dapat
dikonversi, dan daya listrik terbangkit per jam.
3.1. WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN
Penelitian dilakukan di Laboratorium Teknik Mesin Universitas Syiah Kuala dan
Laboratorium pendukung lainnya yang berada di lingkungan Universitas Syiah Kuala,
Banda Aceh. Penelitian berlangsung dari September 2018 sampai Juni 2019.

3.2. ALAT DAN BAHAN


3.2.1. Model Peralatan
Alat yang digunakan adalah prototipe Gelombang Laut dengan model mikrohidro system
dengan kincir sebagai pembuat gelombang yang nanti nya air akan di samping dalam
sebuah penampungan sehingga air yang nantinya telah tertampung akan mengalir secara
keras menggerakkan mikrohidro System

Keterangan gambar:
A. Motor penggerak
B. Tiang dan generator
C. Turbin Mikrohidro
D. Lampu Indikator
E. Flywheel penngerak papan
F. Papan penggerak air
G. Kerangka
H. Kolam

3.2.2. Peralatan Ukur


Peralatan yang digunakan yaitu:
- Avometer/multimeter adalah alat yang dipergunakan untuk mengukur kuat arus, tegangan
AC/DC, dan tahanan listrik

3.3. VARIABEL PENELITIAN


Variabel dalam penelitian ini adalah :
3.3.1. Variabel bebas :
Tinggi gelombang/Amplitudo
Kecepatan gelombang
3.3.1. Variabel terikat :
Putaran Kincir (rpm)
Putaran poros (rpm)
Arus listrik (ampere)
tegangan listrik (Volt)
Efisiensi PLTGMH(%)

3.4. METODE
3.4.1. Generator arus pasang surut
Generator arus pasang surut (tidal stream) menggunakan energi kinetik dari air laut untuk
menggerakan turbin, seperti halnya turbin angin yang digerakkan oleh angin. Generator jenis
ini dapat dibangun di fasilitas atau infrastruktur yang telah ada, seperti jembatan. Fitur lepas
pantai tertentu seperti selat atau teluk dapat mempercepat gerakan air laut. Bentuk turbin
dapat berupa vertikal maupun horizontal, terbuka maupun terlindung pipa, dan umumnya
diletakkan dekat dengan dasar air.
3.4.2. Dinding pasang surut
Dinding pasang surut (tidal barrage) memanfaatkan energi potensial berdasarkan perbedaan
tinggi permukaan laut. Ketika pasang, air laut masuk ke dalam teluk, delta sungai, atau fitur
lepas pantai lainnya dan tertampung karena adanya dinding. Ketika surut, air laut dilepaskan.
Energi ini lalu diubah menjadi energi mekanik seperti halnya turbin pada bendungan
pembangkit listrik tenaga air.Barrages are essentially dams across the full width of a tidal
estuary.

3.4.3. Pasang surut dinamis

Tampak atas bendungan pasang surut, warna biru dan merah menunjukkan beda tinggi dari
permukaan air laut akibat pasang surut.
Pasang surut dinamis (dynamic tidal power) merupakan metode yang masih bersifat
eksperimen, yang melibatkan interaksi antara energi kinetik dan energi potensial dari aliran
air laut. Metode ini mengandalkan bendungan yang sangat panjang, hingga puluhan
kilometer, yang dibangun menjauh dari bibir pantai. Beda tinggi air laut antara sisi sebelah
kanan dan sebelah kiri bendungan dimanfaatkan untuk menghasilkan energi.
3.4.4. Laguna pasang surut
Metode ini mirip dengan metode dinding pasang surut, namun tidak melibatkan fitur alam.
Bak penampung dibangun di sekitar dinding dengan turbin untuk menghasilkan energi ketika
air laut dilepaskan.

3.5. JADWAL KEGIATAN


Tabel Jadwal kegiatan penelitian

Kegiatan
Persiapan Peralatan
Rancangan Penelitian
Penelitian
Analisis
Penyusunan Laporan

Bulan ke
1

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Hasnan. Pengenalan Potensi Pemanfaatan Arus Laut Sebagai Energi Terbarukan dan
Berkelanjutan di Indonesia. http://oke.or.id/wpcontent/uploads/2010/12/wave-dan-tidalenergy.pdf (diunduh tanggal 5 Desember 2015)
Edhi Budiharso. 2012. Energi Listrik dari Pasang Surut Air Laut .
http://teknotrek.blogspot.com/2012/12/energi-listrik-dari-pasang-surut-air.html (diunduh
tanggal 5 Desember 2015).
Linda Purdianti, dkk. 2012. Energi Pasang Surut Air Laut.
http://id.scribd.com/document_downloads/direct/94580506?extension=pdf&ft=13
62402199&lt=1362405809&uahk=VCf9bYbhFkmbPr3eXOsKrvbGn6k (di unduh
tanggal 5 Desember 2015)
Meiki. 2012. Tidal Energy (Energi Pasang Surut).
http://meikieruputra.blogdetik.com/2012/11/03/tidal-energy-energi-pasang-surut/
(diunduh tanggal 5 Desember 2015)
Nawawi,R.A.2011. Pembangkit Tenaga Listrik Tenaga Gelombang Laut (online).
(http://rendyafriansyah 132.wordpress.com/divisi-elektro/09/11/pembangkit-listrik tenaga
gelombang-laut/, diakses 5 Desember 2015)
Niken.2009. Pembangkit Listrik Tenaga Ombak (online).
(http://niken11.wordpress.com/2009/09/11/pembangkit-listrik-tenaga-ombak/, diakses 5
Desember 2015).