Anda di halaman 1dari 82

Post navigation

Previous Next

Spesifikasi Batu Gerinda ( Grinding Wheels )


Posted on 25 September 2007 by Handi
Pada saat anda melihat detail produk dari batu gerinda di Perkakasku.com, anda akan melihat
informasi mengenai spesifikasi dari batu grinda (spec) dalam bentuk serangkaian huruf dan
angka seperti A24SBF, A30RBF dan lain sebagainya. Kode-kode tersebut tercantum di atas
setiap batu grinda untuk menyatakan kandungan material batu gerinda, tingkat kekasarannya,
tingkat kekerasan materialnya dengan mengetahui hal tersebut, kita dapat mengetahui batu
gerinda tersebut dapat digunakan untuk menggerinda atau memotong material apa.
Untuk mengenali hal-hal tersebut, maka kita perlu mengenali kode spesifikasi tersebut :

Huruf paling depan menyatakan kandungan material utama, yang umum digunakan
adalah :
o A : Aluminium Oxide (Biasanya untuk Metal dan Stainless Steel)
o WA : White Aluminium Oxide (Biasanya untuk Stainless Steel)
o C : Silicone Carbide (Biasanya untuk Batu dan Bahan Bangunan)
o GC : Green Silicone Carbide (Biasanya untuk Kaca, Keramik, dan bahan
bangunan lainnya)

Angka menyatakan ukuran atau kekasaran dari batu Gerinda, semakin kecil nilainya
maka semakin kasar, sebaliknya semakin besar maka semakin halus.
o Angka 8 24: Bisa disebut sebagai kasar / coarse
o Angka 30 60 : Bisa disebut sebagai sedang / medium
o Angka 70 220 : Bisa disebut sebagai halus / fine
o Angka 220 800 : Bisa disebut sebagai sangat halus / very fine
o Angka 1000 atau lebih : Bisa disebut sebagai ultra halus / ultra fine

1 berikutnya menyatakan tingkat kekerasan atau kekuatan dari perekatan material,


biasanya diwakili oleh urutan huruf dari D hingga Z . Dimana D menyatakan sangat
lunak sedangkan Z sangat keras.
o Huruf D,E,F,G : Bisa disebut sebagai sangat lunak / very soft
o Huruf H,I,J,K : Bisa disebut sebagai lunak / soft
o Huruf L,M,N,0 : Bisa disebut sebagai sedang / medium
o Huruf P,Q,R,S : Bisa disebut sebagai keras / hard
o Huruf T hingga Z : Bisa disebut sebagai sangat keras / very hard

1 atau 2 huruf berikutnya menyatakan jenis perekatan yang digunakan, yang umum
digunakan adalah :
o B : menyatakan Resinoid, atau perekatan menggunakan bahan resin
o BF : menyatakan Resinoid Reinforced, atau perekatan menggunakan bahan resin
yang diperkuat
o V : menyatakan Vitrified, atau perekatan dengan memanaskan material hingga
titik cair
o S : menyatakan Sillicate, atau perekatan menggunakan bahan silika

Sebagai contoh, kita ambil kode A24SBF, yang merupakan spesifikasi dari batu gerinda tangan
Nippon Resibon, dengan kode produk kami BT045.

A : Menyatakan bahwa meterial utama dari batu gerinda ini adalah Aluminium Oksida

Angka 24 : Menyatakan tingkat kekasaran batu gerinda yang berada pada tingkat kasar (
coarse)

S : Menyatakan kekuatan rekat dari batu gerinda ada pada tingkat keras ( hard )

BF: Menyatakan jenis perekatan material menggunakan bahan resin yang diperkuat

Dengan mengerti kode spesifikasi batu gerinda, tentunya ada akan mengetahui batu gerinda
mana yang sesuai untuk kebutuhan anda. Semoga artikel ini dapat membantu anda untuk
berbelanja batu gerinda tangan. Selamat berbelanja!
This entry was posted in Tips Beli by Handi. Bookmark the permalink.

Profile
Sign in with Twitter Sign in with Facebook
or
Name

Email

Not published

Website

Comment

49 Replies

49 Comments

0 Tweets

0 Facebook

0 Pingbacks

Last reply was 24 October 2013

1.

Handi
20 April 2012
@eko: biasanya kasus tersebut terjadi bila pada saat pemotongan operator menekan
mesin terlalu keras. Atau mungkin juga ada cacat pada batu sebelum digunakan akibat
cacat pabrik atau terjatuh atau terbentur benda lain.

2.

vincent
9 May 2012
maaf mas.. mau tanya, bagaimana cara menggerinda material berjenis hardmetal? apa
jenis batu yg dgunakan? penggerindaan yg saya maksud surface grinding..

3.

Nugroho
30 October 2012
mau tanya nih mas, batu gerinda jenis apa yang cocok untuk menggerinda roll karet jenis
NBR. Thanks.

4.

aditya
15 November 2012
artikel ini sangat membantu mas.trimakasih..saya mau tanya mas,alat apa yg digunakan
untuk memoles/membuat plat besi tipis menjadi mengkilat?selain melalui proses
electroplating tentunyaapa semacasm gerinda jg atau bagaimana.?terimakasih..

5.

Komeng
17 December 2012
Mohon bantuannya,mendingan pakai apa gerinda gws 7-100 T atau gws 5-100,rencana sy
pakai untuk kperluan hobi,listrik d rumah sy 900 w,tlng ulasan nya mas?

6.

Handi
22 December 2012
@komeng: untuk hobbi bisa pakai yg gws5-100.

7.

Dedi
27 December 2012

Salam semuanya, Pak Handi sy dedi procurement dari salah satu perushaan kontraktor
nasional, sy butuh price list dari batu gerinda nippon resibon atau merk lainnya yg bp.
jual, kalau ada harga mesin gerinda,ok juga. tolong diemail di dedi.muhaidir@gmail.com.
Terima kasih

8.

Yusman Siantar
25 January 2013
Nama saya Yusman siantar ,
saya punya batu WA.60,80,100
berapa mikron untuk grinding material SKD11 yang sudah threatment 60 HRC

9.

sumaryo
24 October 2013
Saat saya sedang mencari batu gerinda dengan ukuran : 125x19x12,7mm
Kalau ada minta tolong kabari saya di email : maryo.sum69@gmail.com

Comment navigation
Older Comments
Proudly powered by WordPress
http://darikami.perkakasku.com/2007/09/25/spesifikasi-batu-grinda-grinding-wheels/

Cahaya Ilmu Teknik


SELAMAT DATANG DI WACANA ILMU KETEKNIKAN

Beranda

Teknik Pemesinan
o Bubut
o Frais / Milling

o Gerinda
o Las

Download
o Materi
o Soal
o Software

Grafis

IT Center
o PC dan OS

Windows

Linux

Mac OS

o Mobile Phone
o Software
o Games

Pendidikan

Kesehatan
o Info Medis
o Tips Kesehatan

Pengetahuan Umum

PROSES GERINDA
Jumat, Mei 16, 2014

No comments

BAB I
MESIN GERINDA
A. Pengertian Mesin Gerinda
Mesin gerinda adalah suatu alat yang ekonomis untuk menghasilkan permukaan yang
halus dan dapat mencapai ketelitian yang tinggi. Mesin Gerinda merupakan salah satu jenis
mesin perkakas dengan mata potong jamak, dimana mata potongnya berjumlah sangat banyak
yang digunakan untuk mengasah/memotong benda kerja dengan tujuan tertentu. Prinsip kerja
mesin gerinda adalah batu gerinda berputar bersentuhan dengan benda kerja sehingga terjadi
pengikisan, penajaman, pengasahan, atau pemotongan.
B.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Fungsi Utama Mesin Gerinda


Memotong benda kerja yang ketebalanya yang tidak relatif tebal.
Menghaluskan dan meratakan permukaan benda kerja.
Sebagai proses jadi akhir ( finishing ) pada benda kerja.
Mengasah alat potong agar tajam.
Menghilangkan sisi tajam pada benda kerja.
Membentuk suatu profil pada benda kerja ( baik itu elips, siku, dan lain-lain )

C.
1.

2.

D.
1.

Kelebihan dan Kekurangan Mesin Gerinda


Kelebihan
Dapat mengerjakan benda kerja yang telah dikeraskan.
Dapat menghasilkan permukaan yang sangat halus hingga N6.
Dapat mengerjakan benda kerja dengan tuntutan ukuran yang sangat presisi.
Kekurangan
Skala pemakanan ( depth of cut ) harus kecil.
Waktu yang diperlukan untuk mengerjakan cukup lama.
Biaya yang diperlukan untuk pengerjaan cukup mahal.
Jenis-Jenis Mesin Gerinda
Mesin Gerinda Permukaan ( Surface Grinding )
Merupakan jenis mesin gerinda yang digunakan untuk menggerinda permukaan rata atau
untuk memperoleh hasil permukaan yang datar dan rata. Pada umumnya mesin ini di gunakan
untuk menggerinda permukaan yang meja mesinnya bergerak horizontal bolak-balik. Meja ini
dapat diopersikan manual maupun otomatis. Pencekaman benda kerja dengan cara diikat pada
kotak meja magnetik. Hasil pengerjaan mesin gerinda permukaan antara lain : Parallel block,

Jangka Sorong, Bed Mesin, dan lain-lain. Menurut sumbunya, mesin ini dibagi menjadi 4 jenis,
yaitu:

Mesin gerinda permukaan horizontal dengan gerakan meja bolak-balik.


Mesin ini digunakan untuk menggerinda benda-benda dengan permukaan rata dan
menyudut.

Mesin gerinda permukaan horizontal dengan gerakan meja berputar.


Mesin jenis ini digunakan untuk menggerinda permukaan rata poros.

Mesin gerinda permukaan vertikal dengan gerakan meja bolak-balik.


Mesin ini digunakan untuk menggerinda benda kerja dengan permukaan rata dan lebar
serta menyudut.

Mesin gerinda permukaan vertikal dengan meja berputar


Fungsi mesin ini sama dengan mesin gerinda datar horizontal meja bolak-balik yaitu
dipergunakan untuk menggerinda permukaan rata poros.

Bagian-bagian utama mesin gerinda permukaan :


1. Spindel pemakanan batu gerinda Penggerak pemakanan batu gerinda.
2. Pembatas langkah meja mesin
3. Sistem hidrolik Penggerak langkah meja mesin.
4. Spindel penggerak meja mesin naik turun
5. Spindel penggerak meja mesin kanan-kiri
6. Tuas pengontrol meja mesin
7. Panel kontrol Bagian pengatur prises kerja mesin.A
8. Meja mesin Tempat dudukan benda kerja yang akan digerinda.
9. Kepala utama Bagian yang menghasilkan gerak putar batu gerinda dan gerakan pemakanan.
Berdasarkan prinsip kerjanya mesin gerinda datar dibagi menjadi dua macam yaitu :
1) Mesin gerinda datar semi otomatis, proses pemotongan dapat dilakukan
secara manual (tangan) dan otomatis mesin.
2) Mesin gerinda datar otomatis, proses pemotongan diatur melalui program
(NC/Numerical Control dan CNC/Computer Numerically Control).

Untuk merk dan type terkadang letak posisi spindel, tuas dan panel kontrol mesin
berbeda. Perlengkapan yang digunakan pada mesin gerinda permukaan :
a.

Meja magnet listrik


Pencekaman terjadi akibat adanya medan magnet yang ditimbulkan oleh aliran listrik.
Pada mesin gerinda datar yang berfungsi sebagai pencekam benda kerja adalah meja mesin
gerinda itu sendiri. Proses pencekaman benda kerja menggunakan meja magnet listrik, sebagai
berikut :

Permukaan meja magnet dibersihkan dan magnet dalam posisi OFF. Benda kerja diletakkan
pada permukaan meja magnet dan diatur pada posisi garis kerja medan magnet. Pencekaman
menggunakan prinsip elektromagnetik. Batangan-batangan yang di ujungnya diatur sehingga
menghasilkan kutub magnet utara dan selatan secara bergantian bila dialiri arus listrik.Supaya
aliran medan magnet melewati benda kerja digunakan logam nonferro yang disisipkan pada plat
atas pencekam magnet.Melepas benda kerja dilakukan dengan memutuskan aliran listrik yang
menuju pencekam magnet dengan menggunakan tombol on/off.
Meja magnet permanen

b.

Pencekaman terjadi akibat adanya magnet permanen yang terdapat pada pencekam. Pada
mesin gerinda jenis ini, magnet yang mengaliri meja bersifat permanen, proses pencekaman
benda kerja menggunakan mesin yang dilengkapi dengan meja jenis ini hampir sama dengan
proses pencekaman benda kerja pada mesin gerinda datar pada umumnya. Akan tetapi, ada
beberapa hal yang membedakan mesin jenis ini dengan mesin gerinda pada umumnya.
Perbedaan tersebut sebagai berikut :

Perbedaannya terletak pada sumber magnet yang telah dimiliki, tanpa


menggunakan aliran arus listrik (lempengan magnet permanen).

Lempengan-lempengan magnet permanen terletak di antara logam anti


magnet yang dipasang di antara plat atas dan bawah.

Plat atas mempunyai plat sisipan anti magnet yang berfungsi mengarahkan
aliran medan magnet.

Posisi tuas ON, posisi lempengan magnet sebidang dengan kutub


sisipan
luar

di

plat

atas.

(plat

atas)

dan

Medan
melewati

magnet
benda

plat bawah sehingga benda kerja akan tercekam.

mengalir
kerja

dari

kutub

diteruskan

ke

selatan

ke

kutub

utara

kutub
dan

Benda kerja diatur pada posisi garis kerja aliran medan magnet yang
terdapat pada pencekam magnet.

Posisi
net

dan

sisipan

tuas

OFF,

sisipan
akan

tidak

menutupi

aliran

magnet

segaris

kerja

aliran

yang

dipindahkan
aliran

medan

menuju

ke

karena

lempengan

magnet.

Plat

benda

kerja

atas

magdan

sehingga

benda kerja tidak tercekam.


Ragum mesin presisi

c.

Pencekaman menggunakan ragum mesin presisi adalah benda kerja yang semua bidang
digerinda, di mana antara satu dengan yang lainnya saling tegak lurus dan sejajar. Adapun proses
pengikatan/pencekaman benda kerja menggunakan ragum presisi sebagai berikut :

Untuk menggerinda benda kerja tegak lurus, ragum diputar 90 tanpa


harus membuka penjepitan benda kerja, dengan syarat permukaan benda kerja lebih tinggi dari
d.

permukaan rahang ragum.


Meja sinus
Meja sinus dapat digunakan untuk mencekam benda kerja dalam penggerindaan yang
membentuk sudut dengan ketelitian mencapai detik Adapun proses pencekaman benda kerja
dengan ragum sinus sebagai berikut :

Meja ini dicekam pada meja magnet.Kemiringan sudut yang dikehendaki diatur dengan cara
mengganjal pada bagian bawah memakai slip-gauges.Benda kerja dipasang pada bidang atas
meja sinus dengan sistem pencekaman meja magnet.
Meja sinus universal

e.

Meja sinus universal digunakan untuk membentuk sudut ke arah vertikal dan ke arah
horizontal.
f.

Blok pencekam khusus


Berfungsi untuk meneruskan aliran medan magnet dari sumber magnet ke benda kerja.
Ada tiga bentuk standar blok penghantar, yaitu persegi, segitiga dan alur V, atau Blok V.

g.

Pengasah batu gerinda/ dresser


Dresser digunakan untuk mengasah batu gerinda. Adapun cara penggunaan dresser untuk
mengasah

batu

gerinda

sebagai

berikut

Dresser

Saat menggerinda jangan lupa hidupkan pendingin agar


batu gerinda tidak terjadi panas berlebih.Dressing dilakukan satu kali langkah sudah cukup
untuk membersihkan batu gerinda dan menajamkanya.
2. Mesin Gerinda Silinder ( Cylindrical Grinding )
Adalah jenis mesin gerinda dengan benda kerja yang mampu di kerjakan adalah benda
dengan bentuk silinder. Hasil benda yang dapat dikerjakan dari mesin ini antara lain : Shaft,
Poros / As, Spindle Mesin, Test Bar, Bearing, Collet, Sleeve, dan lain-lain. Jenis mesin ini dibagi
menjadi 4 macam, yaitu:

Mesin gerinda silindris luar


Mesin Gerinda silindris luar berfungsi untuk menggerinda diameter luar benda kerja yang
berbentuk silindris dan tirus.
Mesin gerinda silindris dalam.
Mesin Gerinda silindris jenis ini berfungsi untuk menggerinda benda-benda dengan diameter
dalam yang berbentuk silindris dan tirus.
Mesin gerinda silindris universal

Sesuai

namanya,

Mesin

Gerinda

jenis

ini

mampu

untuk

menggerinda

benda

kerja dengan diameter luar dan dalam baik bentuk silindris.


Mesin gerinda silindris luar tanpa senter
Mesin Gerinda silindris jenis ini digunakan untuk menggerinda diameter luar dalam jumlah yang
banyak/massal baik panjang maupun pendek.
Bagian bagian mesin gerinda silinder:
Perlengkapan mesin gerinda silinder :
1) Cekam rahang 3 : Berfungsi untuk mencekam benda yang akan di gerinda

) Collet : Berfungsi untuk mencekam benda yang akan di gerinda tetapi memiliki permukaan yang halus

) Face plat : Berfungsi mencekam benda dengan permukaan dalam yang akan digerinda
lathe dog : Untuk mencekam benda kerja dengan pencekaman beetwen senter

) Senter ulir : Sebagai penyangga ujung benda kerja pada pencekaman beetwen senter dan dipasang di spindel
utama
6) Senter konus : Sebagai penyangga pada tail stok.

ekam magnet : Untuk mencekam dengan diameter lebar dan pendek. Prinsip kerjanya sama dengan meja magnet
pada mesin gerinda ratal

al indikator : Untuk mengecek kesenteran/ kelurusan meja mesin terhadap sumbu gerinda

angga tetap : Untuk menyangga benda kerja yang panjang agar tidak terjadi defleksi pada saat proses
penggerindaan

da/ dresser : Untuk mengasah batu gerinda jika sudah tidak rata.
3. Mesin Gerinda Alat Potong ( tool grinding machine )
Mesin ini hanya digunakan untuk pekerjaan presisi, yaitu menajamkan (mengasah)
berbagai jenis cutting tool seperti mata pahat bubut, mata bor, dan lain-lain. Juga digunakan
memperhalus (finishing) bentuk silinder, taper, internal, dan surface dari benda kerja yang
mengharuskan ketelitian. Mesin gerinda ini dibagi menjadi dua, yaitu :
1.

Mesin gerinda untuk pengasahan perkakas potong seperti pisau frais, reamer, dan sejenisnya.
Perlengkapan mesinnya untuk pengasahan dapat diputa-putar atau digeser sesuai dengan bentuk
benda kerja yang diasah. Batu gerinda pada waktu pengasahan digerakkan dengan tangan
melalui handelnya secara bolak-balik. Benda kerjaq diputar dengan tangan melalui perlengkapan
penjepitnya.
Mesin gerinda untuk pengasahan perkakas potong seperti pahat potong mesin

bubut dan

pengasahan mata bor. Prinsip kerjanya benda kerja didorong ke arah batu gerinda yang berputar.

Mesinnya tidak mempunyai meja, diganti dengan perlengkapan lain yang dapat digeser
derajatnya sesuai dengan sudut-sudut pada benda kerja yang diasah.
4. Mesin gerinda tangan ( Hand Grinding )
Mesin gerinda tangan merupakan mesin gerinda dengan gaya penggerak diteruskan dari
engkol ke roda gerinda melalui transmisi roda gigi. Biasanya dipergunakan pada bengkel kecil
atau untuk keperluan rumah tangga. Rata-rata fungsi utama mesin ini sebagai alat pemotong saja.
BAB II
RODA GERINDA
A. Macam-Macam Bentuk Batu Gerinda
1. Flat wheels, untuk melakukan penggerindaan alat-alat potong seperti handtap, countersink, mata
bor, dan sebagainya.
2. Cup wheels, untuk melakukan penggerindaan alat-alat potong seperti cutter, pahat bubut, dan
sebagainya.
3. Dish grinding wheels, untuk melakukan penggerindaan profil pada cutter.
4. Shaped grinding wheels, untuk memotong alat potong ataupun material yang sangat keras,
seperti HSS, material yang sudah mengalami proses heat treatment.
5.

Cylindrical grinding wheels, untuk melakukan penggerindaan diameter dalam suatu jenis
produk.

6.

Saucer Grinding Wheels, Gerinda ini biasa digunakan untuk mengerinda bergelombang dan
gerinda pemotong. Ini menemukan penggunaan yang luas di non-mesin daerah, karena hal ini
filers bertemu digunakan oleh roda piring untuk menjaga bilah gergaji.

7. Diamond Grinding Wheels, Dalam roda berlian berlian industri tetap terikat ke tepi. Digunakan
untuk mengerinda bahan-bahan keras seperti beton, batu permata dll. Sebuah melihat menggorok
dirancang untuk mengiris batu permata seperti bahan keras.
B. Spesifikasi Batu Gerinda

Pada setiap batu gerinda pasti terdapat simbol/ tanda yang menyebutkan identitas batu
gerinda tersebut. Indentitas batu berisi informasi, antara lain:
1. Jenis bahan asah
2. Ukuran butiran asah
3. Tingkat kekerasan
4. Susunan butiran asah
5. Jenis bahan perekat
Sebagai contoh:

35

60

15

Artinya:
35
: prefix, kode pabrik
: jenis abrasive, terdiri dari dua simbol yaitu A (aluminium oksida atau alundun) dan C (silikon

karbida atau crystolon)


60
: ukuran abrasivenya sedang
R
: tingkat kekerasannya keras
8
: susunan abrasivenya renggang
S
: jenis bond/perekatnya Silikat
Cara membaca kode diatas adalah, batu gerinda dengan bahan abrasive silikon karbida
dengan ukuran 60 mesh dengan susunan keras dan menggunakan perekat sodium silikat.
1. Jenis Bahan Asah
a. Bahan abrasive alami
Bahan abrasive alami berupa batu pasir, emery, quartz, dan korundun. Bahan abrasive ini masih
sering digunakan pada industri umah tangga yang sederhana, seperti industri alat-alat pertanian
yang diproduksi secara tradisional. Sedangkan pada industri-industri di negara maju sudah tidak
menggunakan bahan pengasah ini.
b. Bahan abrasive buatan
Bahan abrasive buatan merupakan bahan abrasive yang dihasilkan oleh industri. Bahan abrasive
ini bisa digunakan secara efektif, karena besar butir, bentuk butir, dan kemurnian butir bisa diatur
dengan baik sesuai dengan kebutuhan yang ada. Beberapa bahan abrasive yang dihasilkan oleh

industri, antara lain:


Oksida Alumunium (Al2O3), (A)
Paling banyak di aplikasi sebagai bahan pembuatan batu gerinda. Digunakan untuk menggerinda
material dengan tegangan tarik tinggi seperti baja karbon, baja paduan, HSS.

Silikon karbida (SiC), (C)


Butiran yang sangat keras dan mendekati kekerasan intan. Digunakan untuk menggerinda
material dengan tegangan tarik rendah. Seperti besi tuang kelabu, grafit, alumunium, kuningan,

dan karbida.
Diamond/ intan (D)

Butiran sangat keras, digunakan untuk menggerinda material dengan kekerasan sangat tinggi.

Seperti carbida semen, keramik, kaca, granit, marmer, batun permata.


Boron nitride (BN), (CBN)
Kristal bahan ini berbentuk kubus. Bahan ini digunakan untuk menggerinda benda kerja yang
sangat keras seperti karbida, baja perkakas dengan kekerasan diatas 65 HRC.

2. Ukuran Butir Asahan


Ukuran butir asah dinyatakan dalam bentuk angka. Dimana semakin kecil angka
menunjukan semakin besar ukuran butir abrasive dan semakin besar angka maka ukuran butir
abrasive semakin kecil. Batu gerinda dengan butir kasar (angka kecil) memiliki kemampuan
potong yang baik tetapi hasilnya kasar sedangkan batu gerinda dengan butir halus (angka besar)
memiliki kemampuan daya bentuk yang baik dan hasil penggerindaan yang baik.
Tingkat kekasaran
Kasar
Sedang
Halus
Sangat halus
Tepung

Ukuran butir (mesh)


12, 14,16,20,24
30,36,46,56,60
70,80,90,100,120
150,180,220,240
280,320,400,500,800,1200

Angka-angka ini
di dapat dari proses
penyaringan,

dimana

saringan

tersebut

memiliki lubang-lubang. Dimana Ukuran lubang didapat dari banyaknya lubang dalam saringan
seluas 1 inchi2 , ukuran lubang dinamakan dengan mesh.
Sebagai contoh:
1. Jika dalam 1 inchi2 terdapat 120 lubang, berarti butiran yang dapat melewati/ lolos berukuran
120 mesh atau lebih kecil lagi.
2. Jika dalam 1 inchi terdapat 56 lubang, berarti butiran yang dapat melewati/ lolos berukuran 56
mesh atau lebih kecil lagi. Dan jika butiran yang tertahan diatas saringan berarti memiliki besar
butir 1 step lebih tinggi ( ukuran butir yang lebih kecil).
3. Tingkat Kekerasan batu gerinda
Tingkat kekerasan tidak dilihat dari kerasnya butiran abrasive yang digunakan tetapi
dilihat dari kuatnya bond (perekat) untuk mengikat butiran abrasive dari tekanan tertentu ketika
melakukan proses penggerindaan. Tingkat kekerasan dinyatakan dalam simbol huruf alfabet.
Kekerasan batu gerinda dapat dilihat pada tabel dibawah :
Tingkat kekerasan
Sangat lunak
Lunak

Simbol
E,F,G
H,I,J

Sedang
Keras
Sangat keras

L,M,N,O
P,Q,R,S
T,U,V,W

4. Susunan batu gerinda


Struktur batu gerinda di pengaruhi dan di tentukan oleh perbandingan 2 faktor, yaitu
ukuran butiran dan perekat yang digunakan. Perbandingan perekat dengan butir asah dalam batu
gerinda berkisar antara 10-30 % dari volume total batu gerinda. Dilihat dari perbandingan
tersebut, terdapat 2 jenis batu gerinda, yaitu:
a) Struktur terbuka/ batu gerinda lunak
Jenis ini memiliki sifat mudah melepaskan butir asah dalam tekanan tertentu karena
memiliki Jumlah perekat sedikit. Jenis ini di gunakan untuk menggerinda benda yang keras,
karena sifat yang mudah melepas butir asah, maka permukaan benda kerja selalu mendapatkan
butiran asah yang baru dan massih tajam. Percikan bunga api yang dihasilkan banyak karena
selain partikel benda kerja, gesekan yang terjadi juga melepaskan butiran asah.
b) Struktur tertutup/ batu gerinda keras
Jenis ini memiliki sifat yang sulit melepaskan butir asah dalam tekanan tertentu karena
memiliki perekat yang banyak. Jenis ini cocok di gunakan untuk menggerinda benda yang lunak,
karena sifat benda kerja yang lunak, maka mata asah dapat lebih awet karena partikel benda kerja
akan terkikis terlebih dahulu dari pada terlepasnya butiran asah. Percikan bunga api yang
dihasilkan oleh penggerindaan sedikit.
5. Jenis-jenis Bahan Perekat pada Batu Gerinda
Tembikar / vitrified (V)
Memiliki sifat yang tidak mudah terpengaruh oleh air, minyak, ataupun perubahan suhu.
Silikat / silicate (S)
Digunakan untuk menggerinda material yang sensitif terhadap panas.
Bakelit/ resinoid (B)
Digunakan untuk menggerinda dengan kecepatan putar tinggi
Karet / rubber (R)
Digunakan pada roda gerinda yang elastis
Embalau / shellac (E)
Digunakan untuk hasil penggerindaan yang sangat halus
Perekat logam/ metal bond
Di gunakan untuk mengikat abrasive boron nitride dan intan.
C. Beberapa Faktor yang Perlu Diperhatikan Dalam Pemilihan Batu Gerinda
Besarnya busur singgung antara roda gerinda dan benda kerja, busur singgungan besar berarti
luasan gesekan juga luas, maka roda gerinda cepat aus. Untuk itu gunakan roda gerinda lunak

dengan butiran yang besar. Sedangkan untuk busur singgungan kecil atau sedikit, gunakan roda
gerinda yang keras dengan butiran halus.
Ukuran butir pengasah: besarnya butir (grain) menentukan jenis finishing dari benda kerja yang
digerinda.
Grade merupakan tingkat kekerasan roda gerinda, yang ditentukan olehkekuatan ikatan
(kepadatan ikatan antara butiran dan pengikat), dimana dalam aplikasi pemilihannya dipengaruhi
beberapa faktor, antara lain :
a. Jenis penggerindaan : gerinda dipilih sesuai dengan mesin yang digunakan serta bentuk yang
sesuai dengan pengerjaan.
b. Luasan kontak : grade lunak digunakan untuk luasan kontak benda kerja yang lebih besar,
sedangkan luasa yang lebih kecil digunakan roda gerinda yang lebih luas.
c. Struktur bahan pengasah dan ukuran butiran : dipilih roda gerinda yang sesuai dengan standar
yang dikeluarkan oleh pabrik pembuat roda gerinda yang bersangkutan.
d. Material benda kerja : roda gerinda yang keras (kepadatan tinggi) digunakan pada benda kerja
yang lunak (soft), sedangkan roda gerinda yang lunak (kepadatan rendah) digunakan pada benda
kerja yang keras.
e. Banyak bahan yang digerinda : batu gerinda dengan butiran pengasah kasar dgunakan untuk
bahan yang cukup besar, sedangkan batu gerinda dengan butiran pengasah halus digunakan
untuk pekerjaan penyelesaian dan pengasahan alat-alat potong dengan penggerindaan tipis.
f. Permukaan/hasil akhir yang diinginkan : roda gerinda dengan butiran pengasah kasar dan struktur
terbuka menghasilkan permukan yang kasar, dan butiran pengasah yang halus dengan struktur
tertutup akan menghasilkan permukaan yang halus.
g. Kecepatan roda gerinda : semakin cepat putaran roda gerinda terhadap benda kerja, semakin
lunak grade roda gerinda. Roda gerinda yang berputar pelan akan lebih cepat aus, sehingga
direkomendasikan untuk menggunakan grade keras pada kecepatan rendah.
h. Kecepatan benda kerja : makin cepat gerak benda kerja akan mengakibatkan ausnya/terkikisnya
roda gerinda, sehingga untuk kecepatan benda kerja yang lebih tinggi diperlukan batu gerinda
dengan perekat yang lebih keras.
D. Pemeriksaan Batu Gerinda
Berikut ini merupakan beberapa metode manual sederhana untuk memeriksa kerataan
permukaan batu gerinda antara lain sebagai berikut :
1. Pengamatan Langsung ( Visual )

Batu gerinda dicek dan diperiksa secara keseluruhan dengan mata apakah ada bagaian
yang mengalami retak atau pecah. Cara ini merupakan cara sederhana dan cepat dalam
pemeriksaan batu gerinda karena dengan metode visual.
2. Pengecekan suara ( sound test )
Pada metode ini pemeriksaan batu gerinda menggunakan metode sound yaitu dengan cara
dipukul sedikit. Untuk mengetahui bagian retak pada batu gerinda dengan metode sound ini
dengan mengidentifikasi suara. Apabila suara saat dipukul nyaring berati batu gerinda rata dan
tidak mengalami retak begitu pula sebaliknya.
E. Penyetimbangan Batu Gerinda
1. Penyebab Ketidakseimbangan Batu Gerinda
Ketidaksimetrisan dari elemen rotasi tersebut ( meliputi : bentuk, penempatan, rapat jenis )
Ketidaksimetrisan yang terjadi pada waktu elemen rotasi tersebut dalam keadaan berputar
( misalnya : distorsi & perubahan yang terjadi karena adanya tegangan atau stress, perubahan
temperature )
Material yang tidak homogeny : adanya lubang lubang dari inklus pada benda cor-coran,
distribusi kerapatan butiran yang tidak merata.
Toleransi didalam proses fabrikasi meliputi : pengecoran, pengerjaan, perakitan
2. Keuntungan Melakukan Balancing
Mengurangi keausan yang terjadi pada bagian penyekat / seal
Mengurangi kerusakan yang terjadi karena gejala kelelahan ( fatique ) sehingga akan menambah
umur pakai.
Kualitas permukaan lebih halus
Tidak menimbulkan getaran
F. Penyimpanan Batu Gerinda ( Storing )
Batu gerinda memerlukan penanganan khusus dalam penyimpanannya. Setiap kiriman
penyimpanan harus dicek secara visual, bila muncul keraguan jangan gunakan batu gerinda
tersebut. Batu gerinda harus diletakkan dirak yang aman dan jauh dari kerusakan dari batu
gerinda lain maupun benda lain saat berdekatan. Adapun syarat darea untuk penyimpanan roda
gerinda yaitu :
1. Kering

2. Bebas embun
3. Bebas dari perubahan suhu yang besar
4. Bebas dari getaran
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan batu gerinda antara lain
sebagai berikut :

Batu gerinda yang rata dan ringan ( tipis ) ditempatkan pada permukaan yang datar dan tanpa

antara.
Batu gerinda rata dan besar diposisikan berdiri tetapi harus ada penahan agar tidak

menggelinding.
Roda gerinda mangkuk ukuran kecil dipisahkan dengan yang ukuran besar.
Batu gerinda yang ukuranya kecil ditempatkan ditempat yang sesuai ukuranya.
Batu gerinda yang perekatnya jenis vitrified dapat disimpan dalam waktu yang relative lama.
Sedangkan jenis perekat resinoid hanya dapat disimpan selama 2-3 tahun.
BAB III
PROSES MESIN GERINDA
A. Definisi Menggerinda
Kemampuan menajamkan alat potong dengan mengasahnya dengan pasir atau batu telah
ditemukan oleh manusia primitif sejak beberapa abad yang lalu. Alat pengikis digunakan untuk
membuat batu gerinda pertama kali pada zaman besi dan pada perkembangannya dibuat lebih
bagus untuk proses penajaman. Di awal tahun 1900-an, penggerindaan mengalami
perkembangan yang sangat cepat seiring dengan kemampuan manusia membuat butiran abrasive
seperti silikon karbida dan aluminium karbida. Selanjutnya dikembangkan mesin pengasah yang
lebih efektif yang disebut mesin gerinda. Mesin ini dapat mengikis permukaan logam dengan
cepat dan mempunyai tingkat akurasi yang tinggi sesuai dengan bentuk yang diinginkan.
Menggerinda sejatinya merupakan suatu proses pengerjaan mekanik yang pengerjaanya
dengan menggesekkan atau menyentuhkan benda kerja ke batu gerinda yang sedang berputar
secara perlahan dan kontinyu terus-menerus hingga sesuai hasil akhir yang diinginkan dengan
depth of cut sangat kecil.
Alasan mengapa mesin gerinda dapat mengerjakan benda kerja dengan ketelitian tinggi
dikarenakan depth of cut ( DOC ) yang digunakan dapat diatur sekecil mungkin, yaitu sekitar 2-5
mikron. Sedangkan alas an yang menyebabkan mesin gerinda dapat menghasilkan permukaan

yang sangat halus karena roda gerinda yang digunakan mempunyai sisi potong yang banyak
dengan teknik penyayatannya sedikit demi sedikit ( proses finishing ) sehingga lebih tepatnya
disebut dengan pengkikisan. Sisi potong pada roda gerinda terbentuk oleh butiran-butiran bahan
asah dalam roda gerinda tersebut. Seperti halnya cutter pisau frais apabila semakin banyak sisi
potongnya maka hasil permukaanya semakin halus.
B.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Peralatan dalam Menggerinda


Kacamata Pelindung
Sarung Tangan
Masker Pelindung Mulut
Pelindung Telinga ( Headphone )
Collet
Bevel Protector dan Bevel Transfer
Angle Gauge
Jangka Sorong
Pendingin atau Air

C. Jenis-Jenis Penggerindaan
1. Penggerindaan Kering
Penggerindaan kering merupakan suatu penggerindaan yang pengerjaanya tanpa
menggunakan cairan pendingin. Untuk penggerindaan kering biasanya dipasang alat bantu
penyedot udara sebagai penyaring debu agar tidak beterbangan. Pada penggerindaan kering
biasanya digunakan dalam pengasahan mata bor untuk membuat sudut puncaknya, untuk
mengasah chisel dan untuk mengasah cutter mesin milling. Bisanya hal ini dikarenakan adanya
a.
b.
c.
d.

faktor-faktor yang mempengaruhi yaitu :


Jenis benda kerja.
Jenis proses pengerjaan.
Jenis Mesin Gerinda
Roda Gerinda ( jenis batu gerinda ).
Beberapa akibat dari penggerindaan kering yaitu :

a.
b.
c.
d.

Suhu pengerjaan yang terjadi menjadi lebih tinggi.


Chip atau debu yang dihasilkan akan beterbangan.
Batu gerinda lebih awet.
Biaya yang diperlukan lebih murah.

2. Penggerindaan Basah
Penggerindaan basah merupakan suatu proses penggerindaan yang mengguanakan cairan
pendingin. Biasanya pada penggerindaan basah digunakan untuk pengasahan pahat bubut yang
tip pahatnya berasal dari bahan karbid. Hal ini dilakukan agar tip pahat karbid tidak mudah

gosong. Pada penggerindaan basah biasanya dipasang alat bantu semacam penutup pada batu
gerinda agar chip yang keluar tidak berceceran kemana-mana. Beberapa akibat dari
a.
b.
c.
d.

penggerindaan kering antara lain :


Suhu pengerjaan yang terjadi menjadi lebih rendah.
Chip atau debu yang dihasilkan tidak beterbangan.
Batu gerinda cepat habis.
Perlu biaya tambahan untuk pendinginnya.

D. Proses Pengasahan Alat Potong


1. Pengasahan Twist Drill
Ada beberapa kriteria dalam pengasahan twist drill yang harus terpenuhi dalam mengasah twist
drill yaitu:
a) Sudut Puncak ( )
Sudut puncak adalah sudut yang dibentuk oleh kedua sisi potong pada mata potong
primer. Besarnya sudut puncak dipengaruhi oleh material yang akan dikerjakan. Rumusan
standar untuk menentukan besarnya sudut puncak ini tidak ada. Data tersebut diperoleh melalui
caraeksperimen dimana ditemukan geometri yang paling cocok untuk pengerjaan material
tersebut, kemudian dibakukan dalam standar DIN1414. Pemilihan sudut puncak ini erat
kaitannya dengan type twist drill yang dipakai. Adapun datanya sebagai berikut:
a. Type N
Baja dan baja tuang dengan kekuatan tarik sampai 700 N/mm2, = 118.
Paduan CuZn, nickel, stainless steel , = 140.
b. Type H
Paduan CuZn 40 , = 118.
Baja kekuatan tinggi > St 70 , = 140.
Plastik cetakan , batu , = 80.
c. Type W
Aluminium, copper = 140.
Zinc alloys , = 118.
b) Sisi Potong Sama Panjang
Tuntutan kedua dalam pengasahan twist drill adalah sisi potong yang sama panjang.
Ukuran ini diambil dari ujung pembentuk diameter sampai pada chisel edge. Perbedaan panjang

pada sisi potong akan mengakibatkan munculnya gaya radial pada saat pengeboran sehingga
memungkinkan adanya perubahan center lubang dan ukuran yang dihasilkan. Paduan material
pada twist drill memungkinkan adanya kelenturan hal ini dimaksudkan untuk menghindari
kepatahan pada twist drill. Posisi sisi potong terhadap center memang miring maka
memungkinkan sekali munculnya gaya radial tersebut. Gaya radial yang muncul pada masingmasing sisi potong akan beresultan menjadi gaya aksial apabila besar dan arahnya tidak sama.
c) Sudut Bebas ( )
Bidang bebas pada twist drill berupa bidang lengkung, sehingga pengukurannya cukup
menyulitkan sehingga ada toleransi yang agak besar untuk itu. Sudut bebas twist drill diukur
dengan cara mencari titik singgung pertama pada punggung

dari ujung mata potongnya.

Besarnya clearence yang diminta adalah 10 - 12. Besar kecilnya sudut bebas ini dipengaruhi
oleh laju pemakanan ( feed ), semakin cepat maka dibutuhkan sudut yang besar pula, dan
sebaliknya. Jika kita membesarkan sudut bebasnya perlu diperhitungkan ketegaran pada twist
drill dan kecenderungan twist drill untuk tertancap pada benda kerja dan akhirnya patah, karena
sudut bebas juga berfungsi untuk membatasi laju pemakanan ( secara manual ).
d) Chisel Edge Angle
Chisel edge juga merupakan mata potong, Pada pengeboran awal ( predrill ) bagian ini
menghabiskan kira-kira 2/3 gaya potong yang diberikan saat proses pengerjaan, untuk
mengurangi kerugian tersebut maka ditemukan efisiensi maksimal pengeboran dengan chisel
edge angle 55. Bagian chisel edge juga bekerja seperti mata potong utamanya saat pengeboran
awal ( predrill ), agar tidak terlalu berat dan mempengaruhi kesentrisannya maka dibentuklah
chisel edge angle ( bekerja dalam arah gaya yang berbeda ).
Pada bagian ini mempunyai geometri sudut potong yang buruk dimana sudut garuknya
terlalu kecil dan sudut bebas terlalu besar. Pada beberapa modifikasi untuk mengatasi kondisi
tersebut, yang akan dibahas pada bagian berikutnya.
e) Kesebidangan
Kesebidangan bukan hanya merupakan syarat secara penampilan saja, tetapi akan
menyangkut mengenai ketepatan akan sudut potongnya juga umur pakai mata potongnya.
Mengasah secara manual dengan tuntutan sebanyak ini tidaklah gampang, perlu banyak latihan

agar kemampuan yang kita miliki dapat mencapainya. Sebetulnya daerah yang harus sebidang
adalah daerah yang dekat dengan sisi potong karena hanya daerah itu yang efektif bekerja.
f)

Cara Pengasahan Twist Drill


Pada cara manual, hanya dibutuhkan mesin gerinda jenis bangku misalnya Vitax. Kriteria
pengasahan dicapai dengan kemampuan operator tanpa alat bantu, sehingga memang dituntut
ketrampilan pengerjaan manual yang baik. Pengerjaan ini memakai batu gerinda type I atau form
A, dengan cara memanfaatkan kelengkungan diameter luarnya.

2. Pengasahan Pahat Bubut


Mengasah pahat adalah bagian dari tekhnik dan juga bagian dari seni. Pahat bubut HSS
dijual dalam keadaan blank(belum dibuat sisi potongnya). Ukuran yang tersedia biasanya mulai
dari 5/16",3/8",1/2" dst (penampang) dan panjangnya 2",4",6"dst. Ada empat langkah yang harus
ditempuh untuk membuat sebuah pahat bubut muka kanan,yaitu:

I.

menggerinda di bagian ujung

menggerinda sisi kirinya

menggerinda sisi atasnya

membulatkan ujungnya

Pertama menggerinda bagian depan batang HSS ini (bagian yang berwarna kuning dari model
diatas). Gunakan batu gerinda kasar.Posisikan pahat agak miring ke kiri 10-15 derajat. Hal inni
akan membuat sudut pembebas,agar tidak semua bagian pahat bersentuhan dengan benda kerja
nantinya.

Proses pengerindaan membuat pahat menjadi panas,maka kita perlu sesekali


mencelubkan ke cairan pendingin selama kurang lebih 15 detik. Di bawah ini adalah gambar
setelah proses penggerindaan pertama.

II.

Langkah kedua,kita akan menggerinda sisi potongnya,karena pahat yang kita buat pahat
kanan maka sisi potongnya ada di sebelah kiri(ditunjukkan warna merah pada model). Prosedur
dasarnya adalah sama kecuali bahwa kita memegang alat dengan sisi sekitar sudut 10 derajat ke
roda gerinda.

III.

Langkah ketiga,kita akan membuat sudut pembuangan tatal pada sisi atas,pada model
ditunjukkan warna biru. Pada langkah ini,kita harus lebih berhati-hati,jangan sampai bagian sisi
potongnya yaitu pertemuan sisi kiri dan atas, ikut tersapu batu gerinda. Jika terjadi maka
ketinggian sisi potongnya akan berkurang atau lebih rendah dari badan pahat itu sendiri,masih
bisa dipakai memang,namun mungkin akan membutuhkan plat ganjal tambahan saat menyetel.

IV.

Langkah keempat atau terakhir adalah membulatkan ujung sisi potongnya. Untuk tugas
membubut yang normal, ujung sisi potong yang terlalu tajam seperti gambar diatas tidak akan
bertahan lama. Karena itu kita harus membuatnya memiliki radius kecil agar bisa digunakan
dalam pemakanan yang cukup dalam. Kurang lebih bentuknya seperti gambar 4.b.

3. Pengasahan Pisau Frais ( Cutter )


1. Menyiapkan pisau frais yang akan digerinda/diasah.
2. Menyiapkan kolet disesuaikan diameternya dengan
3. diameter lubang pisau frais.
Memeriksa kondisi mesin gerinda alat, roda gerinda
4. gerinddan perlengkapannya untuk keperluan
menggerinda pisau frais.
5. Bila roda gerinda yang terpasang bentuknya
6. belumsesuai dengan yang dibutuhkan, maka gantilah
dengan bentuk roda gerinda yang sesuai.
7. Memasang pisau frais profil pada kolet, kepala putar,
8. dan kepala lepasnya
Mengatur posisi/kedudukan pisau frais baik terhadap
9. roda gerindanya maupun sudut mata potongnya.
Mengatur sudut mata potong sebesar 8 - 10.
Menghidupkan mesin gerinda kemudian mendekatkan
10. batu gerinda ke celah pisau frais secara perlahan-lahan
11. sampai menyentuhnya.
Melakukan penggerindaan dengan menggeser meja
secara manual ke arah kanan dan kiri perlahan lahan.
Ketebalan pemotongan di batasi hanya sampai 10
mikron saja untuk satu profil gigi setiap kali
pemotongan.
Lakukan proses yang sama untuk profil gigi berikutnya
sampai selesai.
Jika telah selesai proses dan profil gigi belum tajam
maka lakukan penambahan pemotongan dan kerjakan
proses pengasahan seperti yang telah dilakukan.
E. Pengasahan Batu Gerinda ( Truing and Dressing )
Truing berfungsi untuk Membuat bentuk / form yang diinginkan, menjaga permukaan
batu gerinda agar tetap rata dan memperbaiki putaran yang eksentris Sedangkan
dresser digunakan untuk mengasah batu gerinda. Adapun cara penggunaan dresser untuk
mengasah batu gerinda sebagai berikut :
a.

Dresser diletakkan di atas meja magnet tepat di bawah batu gerinda,


sesuai tempat batu gerinda yang akan diasah.

b. Sentuhkan batu gerinda pada dresser dengan menaikkan meja mesin

sedikit saja.
c.

Saat menggerinda jangan lupa hidupkan pendingin agar batu gerinda


tidak terjadi panas berlebih.

d. Dressing dilakukan satu kali langkah sudah cukup untuk membersihkan


batu gerinda dan menajamkanya.
CARA MENGASAH PAHAT BUBUT RATA

1.
2.

1.
2.
3.

1.

2.

Pahat bubut digunakan sebagai alat potong mesin bubut untuk menyayat benda kerja
menjadi bentuk yang diinginkan.Pahat bubut harus disesuaikan dengan jenis pekerjaan dan jenis
bahan benda kerja yang akan dibubut.
Material dari pahat bubut harus mempunyai sifat-sifat :
Keras, sehingga sisi potong tahan untuk memotong benda kerja; ulet, agar sisi potong tidak
mudah patah;
Tahan panas; dan secara ekonomis lebih lambat menguntungkan.
Bebrapa material pahat bubut yang sering digunakan adalah baja perkakas bukan paduan
(unalloyed tool steel ), Baja paduan ( alloy tool steel ) termasuk didalam HSS, Cemented carbide,
Diamond tips danceramis.
Pahat bubut harus gerinda untuk mengasah sisi potong. Ini bertujuan supaya sisi potong
mempunyai sisi potong mempunyai bentuk dan lokasi yang benar terhadap tangkainya.Selain itu
bentuk dari sisi potong harus dapat menusuk benda kerja secara efisien untuk memperoleh
efesiensi yang tinggi dalam penyayatan logam.Pahat yang digerinda akan menghasilkan
beberapa permukaan. Permukaan ini meliputi :
Permukaan atas
Sisi, dan
Muka
Permukaan ujung yang merupakan sisi potong didapatkan dari pertemuan ketiga
permukaan tersebut dan radius G. Permukaan-permukaan ini perlu diketahui untuk mengasah
pahat dengan sudut yang sesuai dengan pekerjaan yang diingankan .
FUNGSI SUDUT PAHAT
Terdapat 6 sudut utama yang memegang peranan penting dalam pemesinan menggunakan pahat
bubut.Sudut sudut tersebut adalah :
SUDUT RAKE SISI (SIDE RAKE ANGLE )
Istilah rake sisi menunjukan permukaan bagian atas yang digerinda miring dengan
membentuk sudut terhadap permukaan potong sisi. Sudut ini ditunjukan dengan sudut A. Sudut
rake menentukan sudut ketika tatal meninggalkan benda kerja dalam arah menjauhi permukaan
potong sisi.
SUDUT RAKE BELAKANG ( BACK RAKE ANGLE )
Istilah rake belakang menunjukan permukaan atas yang digerinda miring dengan
membentuk sudut terhadap permukaan ujung. Sudut ini diperlihatkan sebagai sudut B.Sudut rake
belakang secara total juga ditentukan oleh pemegang pahat bubut. Besar sudut ini mempengaruhi
sudut dimana tatal meninggalkan benda kerja dalam arah menjauhi permukaan ujung.Fungsi
utama dari sudut rake adalah mengarahkan aliran tatal meninggalkan permukaan benda kerja dan

d.

mengatur gaya potong. Gaya potong ini harus didistribusikan secara merata pada masing
masing permukaan sisi dan permukaan depan.
SUDUT BEBAS SISI ( SIDE CLEARANCE ANGLE )
Istilah bebas sisi (side relief )menunjukan permukaan samping yang digerinda miring
dengan membentuk sudut terhadap permukaan sis ipotong. Sudut ini diperlihatkan sebagai sudut
C. bebas sisi ini mengkonsentrasikan gaya tusuk yang timbul pada suatu daerah yang kecil
didekat sisi potong.
SUDUT BEBAS MUKA (FRONT CLEARANCE ANGLE )
Istilah bebas muka (end relief )berarti permukaan depan dari pahat yang digerinda
miring dengan membentuk sudut terhadap permukaan ujung. Bebas muka mengkonsentrasikan
gaya tusuk
SUDUT SISI POTONG SAMPING (SIDE CUTTING EDGE ANGLE )
Istilah sisi potong samping menunjukan permukaan samping yang digerinda miring
membentuk sudut terhadap permukaan sisi dari pahat.
LANGKAH KERJA / PENGASAH PAHAT
Check ukuran benda kerja dan dipersiapkan alat alat perlengkapan mesin gerinda yang akan
digunakan
Jalan mesin gerinda, periksa apakah ada kesalahan
Mulailah menggerinda pada permukaan bidang sebelah kiri dengan susut bebas 12 dan sudut
mata potong 10 sebagai acuan
Gerinda permukaan bagian depan dengan sudut bebas muka 10 dan sudut bebas 80

e.
f.
g.
h.
i.
j.

Melanjutkan penggerindaan pada permukaan atas dengan rake angle 12


Ulangi penggerindaan untuk menghaluskan ketiga sudut di atas
Periksa masing masing sudut bebas pada tiap permukaan pahat.
Pasang pahat pada pemegang pahat kiri .
Cek ukuran dengan alat ukur sudut ( busurbaja )
Serah hasil pekerjaan anda kepada instruktur.

3.

4.

5.

a.
b.
c.

1.
2.

LANGKAH KERJA / PENGASAHAN PAHAT BUBUT RATA


Gerinda bagian sisi pahat dengan sudut 12 - 15
Gerinda sudut bebas sisi dengan sudut 8 - 10

3.
4.
5.

Gerinda sisi sebelah kanan sehingga terbentuk puncak pahat 80


Gerinda bagian sudut bebas muka dengan sudut 8 - 10
gerinda sudut tatal ( bagian atas ) sebesar 12 - 20

BAB IV
KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu mesin gerinda memiliki
beragam jenis sesuai dengan kebutuhan yang dikehendaki. Segala jenis bentuk batu gerinda
memiliki bentuk yang berbeda-beda, hal ini juga dikarenakan mempunyai fungsinya masingmasing. Pengecekan batu gerinda sebelum digunakan sangatlah penting karena berkaitan dengan
keselamatan kerja dan hasil akhir penggerindaan yang dilakukan. Sebelum menggerinda
tentunya penggunaan alat-alat keselamatan perlu diperhatikan karena chip yang dihasilkan
berupa debu yang sangat halus. Menggerinda merupakan proses pengikisan karena depth of
cutnya kecil hanya sekitar 2-5 mikron. Dalam pengasahan alat potong perlu diperhatikan dalam
pembuatan sudut-sudut potongnya karena hal itu berpengaruh ketika alat potong tersebut
digunakan dalam proses pemesinan.
DAFTAR PUSTAKA
http://dunia-pemesinan.blogspot.com/2012/03/mesin-gerinda.html ( 13:28 / 5 Nov 2013 )

http://adityaptmfkip2011.blogspot.com/2013/07/mesin-gerinda_2108.html ( 11 : 00 / 5 Nov 2013


)
http://dc373.4shared.com/doc/f-BhczyL/preview.html ( 12 : 05 / 5 Nov 2013 )
http://sigitsafety.files.wordpress.com/2010/07/mesin-gerinda.png ( 14 : 02 / 5 Nov 2013 )
http://materi-tik-ptd.blogspot.com/2011/11/jenis-jenis-batu-gerinda.html ( 16 : 25 / 5 Nov 2013 )
http://an-tika.blogspot.com/2011/07/cara-mengasah-pahat-bubut.html ( 19 : 04 / 5 Nov 2013 )
http://m-edukasi.net/online/2008/pengerindaan/langkahgerinda.html ( 19 : 40 / 5 Nov 2013 )
http://www.scribd.com/doc/127488392/Menggerinda-Pahat-Dan-Alat-Potong#download ( 19 :
54 / 5 Nov 2013 )
Sumardiyono, ST. 2006. Panduan Praktek Tool Grinding 1. Surakarta : Atmipress Solo.
Sumardiyono, ST. 2006. Panduan Praktek Gerinda 2. Surakarta : Atmipress Solo.
Triyanto, Ant. 2009. Teknik Gerinda 2. Surakarta : Kolese Mikael Surakarta.
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook
Reaksi:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda


0 komentar:
Poskan Komentar
Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Social Profiles

Search

Popular

Tags

Blog Archives

Fish

http://sandisuryaptmstaff.blogspot.co.id/2014/05/proses-gerinda.html

SAYA

CONTACT

Save to delicious

Home

Spare Part

MESIN INDUSTRI
o Bubut
o Milling
o Grinding
o Drilling
o Wire Cut
o EDM
o Sawing
o Superdrill
o Taping Centre
o Puch dan Dies
o Stamping
o Forging
o Injection

o Mold dan Dies


o Hobbing
o Broaching
o Foundry

Perancangan Mesin dan Mekanik


o Software Design
o Design
o Analisis
o Perhitungan

Mekatronika
o Software Elektro
o Perangkat

Ilmu pendukung

Bonus

Subscribe Via RSS

Follow me
Add me

Follow @ESTPR

SURFACE GRINDING MACHINE

a. Pengertian

Mesin Surface Grinding adalah mesin gerinda yang mengacu pada pembuatan
bentuk datar dan permukaan yang rata pada sebuah benda kerja yang berada di bawah
batu gerinda yang berputar. Mesin surface grinding bisa kita jumpai di ATMI pada mesin
Brand dan Magerle. Pada umumnya mesin gerinda digunakan untuk penggerindaan
permukaan yang meja mesinnya bergerak horizontal bolak-balik. Benda kerja dicekam
pada meja magnetik, digerakkan maju mundur di bawah batu gerinda. Meja pada mesin
gerinda datar dapat dioperasikan secara manual atau otomatis yang dapat diatur pada
bagian tuasnya.
b. Klasifikasi
Mesin surface grinding berdasarkan pergerakan meja dan spindlenya dibagi menjadi 4
macam, yaitu:
1. Mesin gerinda datar horizontal dengan gerak meja bolak-balik
Mesin gerinda ini digunakan untuk menggerinda benda-benda dengan
permukaan rata dan menyudut. Mengenai panjang langkah pada meja dan gerakan
melintang batu gerinda dapat disetting pada tuas dimeja mesin gerinda sesuai dengan
sifat dan karakter benda kerja yang akan dikerjakan.

2. Mesin gerinda datar horizontal dengan gerak meja berputar


Mesin jenis ini dipergunakan untuk menggerinda permukaan rata pada benda
kerja silindris. Tepatnya dibagian sisi permukaan rata benda kerja tersebut dengan
gerakan berputarnya meja mesin surface grinding.

3. Mesin gerinda datar vertical dengan gerak meja bolak-balik


Mesin jenis ini digunakan untuk menggerinda benda-benda berpermukaan rata,
lebar, dan menyudut. Penggerindaan berlangsung pada sisi samping roda gerinda
sehingga ketika proses harus berhati-hati dalam pemakanan (DOC) dengan cara lebih
sedikit-sedikit. Cara ini dilakukan agar benda kerja tidak gosong ketika menerima
beban dan luas penampang yang terlalu besar pada sisi potong batu gerinda.

4. Mesin gerinda datar vertical dengan gerak meja berputar


Mesin jenis ini dipergunakan untuk menggerinda permukaan rata poros dan
lubang. Bisa juga untuk membuat lubang yang presisi bila memang tidak ada mesin
universal grinding dalam bengkel Anda saat diperlukannya penggerindaan lubang
dalam seperti gambar disebaliknya.

Berdasarkan prinsip kerjanya mesin gerinda datar dibagi menjadi dua macam, yaitu:
1. Surface grinding semi otomatis, proses pemotongan dapat dilakukan secara manual
(tangan) dan otomatis mesin.
2. Surface grinding otomatis, proses pemotongan diatur melalui program (NC/Numerical
Control dan CNC/Computer Numerically Control).
Berdasarkan prinsip pendingin (coolant) mesin gerinda datar dibagi menjadi dua
macam, yaitu:
1. Penggerindaan kering
Sesuai dengan tujuannya, penggerindaan kering dilakukan tanpa menggunakan cairan
pendingin. Agar debu yang timbul dari penggerindaan tidak beterbangan dan terhisap
oleh orang yang bekerja, maka mesin dilengkapi dengan penyedot debu. Karena
apabila tidak disedot, maka debu akan mengendap pada bagian-bagian mesin.
2. Penggerindaan basah
Pada penggerindaan basah digunakan cairan pendingin untuk mencegah debu yang
timbul dari penggerindaan. Hal ini perlu dijaga agar tidak sampai mengenai operator,
dan tidak pula berserakan keluar mesin maupun kena lantai. Untuk itu mesin ini operlu
dilengkapi perisai untuk menahan cairan pendingin. Pada penggerindaan basah, kita
dapat mempertahankan sifat logam, karena tidak mengalami kenaikan suhu akibat
gesesekan pada proses pemotongan.

Prinsip kerja utama dari mesin surface grinding adalah gerakan bolak-balik benda kerja,
dan gerak rotasi dari tool. Dilihat dari prinsip kerja utama mesin tersebut, mesin gerinda
datar secara garis besar mempunyai tiga gerakan utama, yaitu:
1) Gerak putar batu gerinda.
2) Gerak meja memanjang dan melintang.
3) Gerak pemakanan
c. Macam-macam pencekaman pada mesin surface grinding
1. Meja magnet listrik
Pencekaman ini paling sering digunakan sebagian besar mesin surface grinding. Benda
kerja tipis yang tidak mampu dilakukan pada pencekaman biasa sangatlah cocok untuk
pencekaman ini. Pencekaman terjadi akibat adanya medan magnet yang ditimbulkan
oleh aliran listrik. Pada mesin gerinda datar yang berfungsi sebagai pencekam benda
kerja adalah meja mesin gerinda itu sendiri. Proses pencekaman benda kerja
menggunakan meja magnet listrik, harus mempunyai syarat yaitu permukaan meja
magnet dibersihkan dan magnet dalam posisi on.

Benda kerja diletakkan pada

permukaan meja magnet dan diatur pada posisi garis kerja medan magnet. Tentu saja
benda kerja harus dalam kondisi bersih juga. Pencekaman menggunakan prinsip
elektromagnetik. Batangan-batangan yang di ujungnya diatur sehingga menghasilkan
kutub magnet utara dan selatan secara bergantian bila dialiri arus listrik. Supaya aliran
medan magnet melewati benda kerja digunakan logam nonferro yang disisipkan pada
plat atas pencekam magnet. Ketika melepas benda kerja dilakukan dengan
memutuskan aliran listrik yang menuju pencekam magnet dengan menggunakan
tombol on/off.

2. Meja magnet permanen

Pencekaman terjadi akibat adanya magnet permanen yang terdapat pada


pencekam. Pada mesin gerinda jenis ini, magnet yang mengaliri meja bersifat
permanen, proses pencekaman benda kerja menggunakan mesin yang dilengkapi
dengan meja jenis ini hampir sama dengan proses pencekaman benda kerja pada
mesin gerinda datar pada umumnya. Akan tetapi, ada beberapa hal yang membedakan
mesin jenis ini dengan mesin gerinda pada umumnya.

Perbedaan tersebut sebagai berikut.


a. Teori ini seperti halnya magnetic yang berada di Stand Dial indicator. 2 kutub bekerja
dan mengadung magnetis bila ada 2 kutub yang berbeda didekatkan (utara-selatan), 2
kutub tidak bekerja bila ada 2 kutub yang sama didekatkan.
b. Perbedaannya terletak pada sumber magnet yang telah dimiliki, tanpa menggunakan
aliran arus listrik (lempengan magnet permanen).
b. Lempengan-lempengan magnet permanen terletak di antara logam anti magnet yang
dipasang di antara plat atas dan bawah.
c.

Plat atas mempunyai plat sisipan anti magnet yang berfungsi mengarahkan aliran
medan magnet.

d.

Posisi tuas ON, posisi lempengan magnet sebidang dengan kutub sisipan di plat atas.
Medan magnet mengalir dari kutub selatan ke kutub luar (plat atas) dan melewati benda
kerja diteruskan ke kutub utara dan plat bawah sehingga benda kerja akan tercekam.

e. Benda kerja diatur pada posisi garis kerja aliran medan magnet yang terdapat pada
pencekam magnet.

f. Posisi tuas OFF, aliran magnet dipindahkan karena lempengan magnet dan sisipan
tidak segaris kerja aliran medan magnet. Plat atas dan sisipan akan menutupi aliran
yang menuju ke benda kerja sehingga benda kerja tidak tercekam.
3. Swivel vice
Pencekaman digunakan ketika benda kerja yang semua bidang telah digerinda,
di mana antara satu dengan yang lainnya saling tegak lurus dan sejajar. Adapun proses
pencekaman benda kerja menggunakan vice ini sebagai berikut.

Permukaan benda kerja yang dijepit oleh vice ini menghasilkan bidang yang akan
tergerinda mempunyai kesikuan dan kesejajaran yang baik dengan syarat vice
sudah disetting siku dan kerataannya.

vice dicekam dengan menggunakan pencekam magnet dalam posisi yang bisa dirubah
rubah sesuai dengan penggerindaan yang diinginkan. Bidang-bidang dari vice
digunakan sebagai bidang dasar dan penahan.

Permukaan bidang pencekam dan yang tercekam harus bersih dari kotoran-kotoran
yang mengganggu pencekaman dan ketelitian penggerindaan.

Untuk menggerinda benda kerja tegak lurus, vice diputar 90 tanpa harus membuka
penjepitan benda kerja, dengan syarat permukaan benda kerja lebih tinggi dari
permukaan rahang ragum. Untuk sudut kemiringan yang lain juga bisa dilakukan
dengan menyeting sebelumnya kedudukan benda kerja menggunakan bevel transfer
yang sudah di setel pada bevel protactor.

3. Meja sinus
Meja sinus dapat digunakan untuk mencekam benda kerja dalam penggerindaan
yang membentuk sudut dengan ketelitian mencapai satuan sudut dalam detik,

Adapun proses pencekaman benda kerja dengan ragum sinus sebagai berikut.
Meja ini dicekam pada meja magnet (permukaan meja sinus juga mengadung magnet
yang berguna untuk meletakkan benda kerja pada bagian atasnya).
Kemiringan sudut yang dikehendaki diatur dengan mengendorkan kunci yang biasanya
di setel dengan kunci L. Kemudian diposisikan pada sudut yang diinginkan lalu
dikencangkan lagi.
Benda kerja dipasang pada bidang atas meja sinus dengan system pencekaman meja
magnet juga.
4. Meja sinus universal

Tidak dipungkiri bahwa benda kerja mempunyai bentuk yang kompleks. Hal itu
tergantung faktor benda kerja tersebut dengan pasangannya nanti ketika dissembling.
Untuk ukuran yang mempunyai tuntutan kemiringan, meja ini sangat cocok untuk
pencekamannya. Meja sinus universal digunakan untuk membentuk sudut ke arah
vertical dan ke arah horizontal. Berfungsi untuk meneruskan aliran medan magnet dari
sumber magnet ke benda kerja. Ada tiga bentuk standar blok penghantar, yaitu persegi,
segitiga dan alur V, atau Blok V. masing-masing sumbu mempunyai keterangan sudut
sehingga kita dapat memutar-mutar meja ini.
Blok V
Blok persegi
5. Pencekaman khusus
Blok penghantar medan magnet (packing berlapis), digunakan untuk mencekam benda
kerja yang tidak memungkinkan dicekam langsung pada meja magnet.

Blok penghantar medan magnet beralur V, digunakan untuk mencekam benda kerja
menyudut dengan sudut istimewa.

d. Bagian-Bagian Utama Mesin Surface Grinding


Column
Bagian ini berfungsi untuk menopang unit kepala gerinda.
Tuas Pembalik Arah Meja
berfungsi untuk membalik arah gerak penyayatan meja. Dilengkapi dengan stopper
sebagai batas pergerakan meja mesin surface grinding.
Handle Memanjang
berfungsi untuk menggerakan meja dengan arah memanjang yang bisa disetting
panjang langkahnya.
Handle Melintang
berfungsi untuk meja dengan arah melintang yang bisa disetting panjang langkahnya.
Control Box
Letak dimana tombol-tombol pengendali yangdi gunakan sebagai pusat kendali mesin.
Coolant Box
Tempat cairan pendingin. Tempat ini harus sering-sering di chek karena bila sampai
kelalaian bisa membuat chip yang berupa serbuk mengendap dan dapat menghampat
sirkulasi coolant.
Alas Mesin
Alas mesin disebut juga bed merupakan kotak terbuat dari besi tuang dan di dalamnya
ditempatkan unit penggerak hidrolik. Pada bagian atas bed terdapat alur berbentuk V
sebagai tempat eretan melucur.
Eretan
Eretan disebut juga sadel. Eretan bergerak bolak-balik dalam arah memanjang atau
melintang di atas bed.
Meja
Meja ini terpasang pada permukaan bagian atas eretan. Perlengkapan meja kerja
dilengkapi dengan tiga buah alur T untuk menempatkan baut pengikat. Permukaan
meja digerinda dengan presisi pada waktu mesin dirakit. Di atas meja dapat
ditempatkan magnet untuk mencekam benda kerja.
Kepala Gerinda

Unit kepala gerinda terbuat dari besi tuang, di dalamnya terdapat sumbu roda grinda
dan peluru penahan gesekan. Sumbu atau poros gerinda terbuat dari baja campuran
dan digerinda sangat presisi. Di salah satu ujung sumbu terpasang sebuah motor atau
puli.

e. Benda kerja yang dihasilkan


Contoh hasil dari mesin surface grinding adalah Parallel block, V-Block, Caliper,
Bed Mesin, dll.

Label: Grinding
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

BUKU TAMU

Copyright 2010 Ilmu Teknik [dot] info |

Blognya anak nagari

Rabu, 21 November 2012


laporan surface grinding

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Sehubung dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan eraglobalisasi seperti sekarang
ini, sehingga menuntut sitiap orang harus memiliki keterampilan dan ilmu pengetahuan yang
lebih sehingga bisa menjadi sumber daya manusia yang berkualitas. Dalam upaya memperoleh
keterampilan dan ilmu pengetahuan di perlukan pendidikan, baik pembelajaran secara tertulis
maupun tidak tertulis sehingga bisa di maanfaatkan dalam dunia kerja.
Dengan banyaknya tuntutan untuk menciptakan SDM yang berkualitas, Politeknik
merupakan salah satu lembaga pendidikan yang memberikan bimbingan dan pelatihan-pelatihan

yang berbentuk praktek, sehingga menciptakan SDM yang berkualitas dan siap terjun kedalam
dunia industri.
B. Tujuan
Adapun tujuan dalam melaksanakan praktek ini adalah :

Menghasilkan mahasiswa yang memiliki kemampuan profesional dan terampi.


Menanamkan sifat etos kerja dalam diri mahasiswa.
Melatih mahasiswa menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam praktek.
Mahasiswa diharapkan dapat mengoperasikan mesin gerinda dengan baik dan benar
Mahasiswa dapat bertanggung jawab terhadap pekerjaannya.

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Landasan teori
Mesin Surface Grinding adalah mesin gerinda yang mengacu pada pembuatan bentuk
datar dan permukaan yang rata pada sebuah benda kerja yang berada di bawah batu gerinda yang
berputar. Pada umumnya mesin gerinda digunakan untuk penggerindaan permukaan yang meja
mesinnya bergerak horizontal bolak-balik. Benda kerja dicekam pada meja magnetik, digerakkan
maju mundur di bawah batu gerinda. Meja pada mesin gerinda datar dapat dioperasikan secara
manual atau otomatis yang dapat diatur pada bagian tuasnya.
Jenis jenis mesin gerinda berdasarkan pergerakan meja:

Mesin gerinda datar horizontal dengan gerak meja bolak-balik


Mesin gerinda ini digunakan untuk menggerinda benda-benda dengan permukaan rata
dan menyudut. Mengenai panjang langkah pada meja dan gerakan melintang batu gerinda dapat
disetting pada tuas dimeja mesin gerinda sesuai dengan sifat dan karakter benda kerja yang akan
dikerjakan.

Mesin gerinda datar horizontal dengan gerak meja berputar


Mesin jenis ini dipergunakan untuk menggerinda permukaan rata pada benda kerja
silindris. Tepatnya dibagian sisi permukaan rata benda kerja tersebut dengan gerakan berputarnya
meja mesin surface grinding.

Mesin gerinda datar vertical dengan gerak meja bolak-balik

Mesin jenis ini digunakan untuk menggerinda benda-benda berpermukaan rata, lebar, dan
menyudut. Penggerindaan berlangsung pada sisi samping roda gerinda sehingga ketika proses
harus berhati-hati dalam pemakanan (DOC) dengan cara lebih sedikit-sedikit. Cara ini dilakukan
agar benda kerja tidak gosong ketika menerima beban dan luas penampang yang terlalu besar
pada sisi potong batu gerinda.

Mesin gerinda datar vertical dengan gerak meja berputar


Mesin jenis ini dipergunakan untuk menggerinda permukaan rata poros dan lubang. Bisa
juga untuk membuat lubang yang presisi bila memang tidak ada mesin universal grinding dalam
bengkel Anda saat diperlukannya penggerindaan lubang dalam seperti gambar disebaliknya.

B. Bagian-bagian utama mesin surface grinding

Column
Bagian ini berfungsi untuk menopang unit kepala gerinda.

Tuas Pembalik Arah Meja


Berfungsi untuk membalik arah gerak penyayatan meja. Dilengkapi dengan stopper sebagai batas
pergerakan meja mesin surface grinding.

Handle Memanjang
Berfungsi untuk menggerakan meja dengan arah memanjang yang bisa disetting panjang
langkahnya.

Handle Melintang
Berfungsi untuk meja dengan arah melintang yang bisa disetting panjang langkahnya.

Control Box
Letak dimana tombol-tombol pengendali yangdi gunakan sebagai pusat kendali mesin

Coolant Box
Tempat cairan pendingin. Tempat ini harus sering-sering di chek karena bila sampai kelalaian
bisa membuat chip yang berupa serbuk mengendap dan dapat menghampat sirkulasi coolant.

Alas Mesin
Alas mesin disebut juga bed merupakan kotak terbuat dari besi tuang dan di dalamnya
ditempatkan unit penggerak hidrolik. Pada bagian atas bed terdapat alur berbentuk V sebagai
tempat eretan melucur.

Eretan
Eretan disebut juga sadel. Eretan bergerak bolak-balik dalam arah memanjang atau melintang di
atas bed.

Meja
Meja ini terpasang pada permukaan bagian atas eretan. Perlengkapan meja kerja dilengkapi
dengan tiga buah alur T untuk menempatkan baut pengikat. Permukaan meja digerinda dengan
presisi pada waktu mesin dirakit. Di atas meja dapat ditempatkan magnet untuk mencekam benda

kerja.
Kepala Gerinda
Unit kepala gerinda terbuat dari besi tuang, di dalamnya terdapat sumbu roda grinda dan peluru
penahan gesekan. Sumbu atau poros gerinda terbuat dari baja campuran dan digerinda sangat
presisi. Di salah satu ujung sumbu terpasang sebuah motor atau puli.

C. Keselamatan kerja

Keselamatan operator
Berdo`alah sebelum memulai pekerjaan.
Pelajari prinsip-prinsip kerja mesin gerinda.
Pakailah alat pelindung diri.
Berkonsentrasi saat bekerja.
Gunakan mesin sesuai dengan prosedurnya.
Pastikan batu gerinfa dalam keadaan off saat akan mengambil benda kerja.
Keselamatan mesin
Pastikan mesin dalam keadaan baik saat akan digunakan.
Jangan meninggalkan mesin saat sedang bekerja.
Gunakan mesisi sesuai dengan fungsinya.
Bersihkan mesin setelah selesai bekerja.
Keselamatan lingkungan
Jangan buang sampah sembarangan.
Jangan biar ada air atau oli bertumpahan dilantai.
Pastikan lingkungan nyaman saat bekerja.
Bersihkan lingkungan sesudah bekerja

BAB III
PROSES PENGERJAAN

A. Gambar kerja

Gambar 1. Gambar mesin gerinda

Gambar 2. Gambar tombol-tombol pengendali

B. Alat dan bahan


Adapun alat yang digunakan adalah :

Mesin surface grinding


Mikrometer
Lap pembersih
Dan bahan yang kita gunakan adalah besi ST 37

C. Langkah kerja

Persiapkan mesin gerinda yang akan digunakan.


Bersihkan benda kerja sebersih mungkin sehingga tidak ada debu yang menempel, begitu juga

dengan meja magnet.


Cekam benda kerja dengan magnet chuck, dengan car menekan tombol pengaktifan magnet.
Hidupkan tombol hidrolik.

Atur panjang langkah melintang dan memanjang meja gerinda sesuai dengan ukuran benda
kerja.
Hidupkan roda gerinda.
Turunkan batu gerinda ke permukaan benda kerja untuk mencari titik nol benda kerja.
Atur besar pemakanan benda kerja sesuai dengan yang diinginkan.
Hidupkan saklar air coolant untuk mendinginkan roda gerinda.
Lakukan pemakanan otomatis gerinda.
Setelah menggerinda selesai, matikan pemakanan otomatis mesin gerinda.
Matikan gerakan bolak balik gerinda.
Matikan roda gerinda.
Keluarkan meja gerinda agar mudah mengambil benda kerja.
Matikan magnet meja gerinda.
Tarik benda kerja keluar.
Kembalikan meja gerinda ke dalam.
Matikan hidrolik gerinda.
Bersihkan mesin gerinda.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil setelah melakukan praktek surface grinding ini
adalah kita dapat mengetahui cara kerja mesi surface grinding ini yaitu Pada umumnya mesin

gerinda digunakan untuk penggerindaan permukaan yang meja mesinnya bergerak horizontal
bolak-balik. Benda kerja dicekam pada meja magnetik, digerakkan maju mundur di bawah batu
gerinda. Meja pada mesin gerinda datar dapat dioperasikan secara manual atau otomatis
yangdapat diatur pada bagian tuasnya.
Dalam melaksanakan praktek surface grinding ini yang sangat di perlukan ialah
kebersihan dan kesabaran operatornya dalam melakukan praktek,karena mesin ini bekerja
dengan besar makan nya maksimal 3 mm,oleh karena itu praktek ini dapat meningkatkan
kesabaran dan ketelitian serta emosi yang stabil dari operatornya.
B. Saran
Adapun saran dalam melaksanakan praktek ini adalah :

Berdo`a sebelum bekerja.


Perhatikan saat instruktur memberikan penjelasan.
Gunakanlah alat pelindung diri.
Gunakan alat dan mesin sesuai fungsinya.
Berkonsentrasilah saat bekerja.
Bersihkan mesin setelah selesai bekerja.

DAFTAR PUSTAKA
Joob sheet teknik bengkel. Semester III. 2012. Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Padang.
http://tehnikmesinindustri.blogspot.com/2012/02/surface-grinding-machine.html
http://www.scribd.com/doc/100197779/Laporan-Surface-Grinding

Diposkan oleh ferdy maisa di 08.53


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Anime Android

Anime Android

Cari Blog Ini


Memuat...

Arsip Blog

2015 (1)

2013 (2)

2012 (15)
o Desember (2)
o November (13)

... KISAH NYATA KEAJAIBAN - KEAJAIBAN DI JALUR GAZ...

makalah nikel

Laporan CNC 1

laporan surface grinding

makalah tembaga

Pembelaan seorang perokok

macam-macam gaya tidur

anak gaul

hal terbesar bagi karyawan

Tata tertib kerja agar bisa sukses

gambar otak ngeres

Hati-hati kalo nanya..

status lucu buat facebook

Mengenai Saya

ferdy maisa
Lihat profil lengkapku

Google+ Badge
Template Simple. Diberdayakan oleh Blogger.
http://ferdymp.blogspot.co.id/2012/11/laporan-surface-grinding.html

Teknik_Mesin
Kumpulan Tulisan dari awal kuliah sampai saya Wisuda

Kamis, 07 Juni 2012


Laporan laboratorium
Diposkan oleh Deka Firmansyah di Palembang Kamis, Juni 07, 2012 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Semester 5

Tugas Semester 4 Deka Firmansyah


===================================================================

LAPORAN
CYLINDRICAL & SURFACE GRINDING

Dibuat Untuk Melengkapi Tugas Pada Praktek Mata Kuliah Bengkel


Sesi Kerja Cylindrical & Surface Grinding

Oleh :
Deka Firmansyah

(0609 3020 0127)

Doni Rismadha

(0609 3020 0128)

Imam Munandar

(0609 3020 0130)

Iqbal Septiawan

(0609 3020 0131)

JM. Mahmudi Saputra

(0609 3020 0132)

M. Febriansyah

(0609 3020 0133)

Kelas 4 MC

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA


PALEMBANG
2011
===================================================================

KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah
SWT, karena dengan limpahan rahmat dan karunia-Nya laporan ini dapat terselesaikan.
Laporan ini disusun dalam rangka untuk memenuhi nilai tambah praktek. Adapun
pembuatan laporan ini bertujuan untuk menambah wawasan penulis.
Dalam penyusunan laporan ini, Penulis banyak mendapat bantuan baik moril
maupun materil serta saran dan petunjuk dari berbagai pihak yang secara langsung
maupun tak langsung telah memberi sumbangannya dalam penyususan laporan ini . untuk
itu Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya terutama kepada pihak
yang telah membantu menyelesaikan laporan ini.
Penulis menyadari bahwa laporn ini masih banyak terdapat kekurangan, untuk itu
penulis berharap datangnya saran dan keritik yang sifatnya membangun dari pembaca
guna penyempurnaan laporan ini dimasa yang akan datang.
Akhir kata, semoga laporan ini dapat memberi manfaat yang sebesar besarnya,
baik bagi penulis maupun bagi orang lain yang membacanya.

Palembang, Juli 2011

Penulis

====================================================================
==

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................................................. i
KATA PENGANTAR...........................................................................................................ii
DAFTAR ISI........................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Tujuan Praktek Bengkel...................................................................................1
1.2. Teori Dasar ......................................................................................................1
1.3. Alat dan Bahan..................................................................................................7
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Langkah Kerja Cylindrical Grinding.................................................................8
2.2 Data Hasil Pengerjaan ....................................................................................11
2.3 Surface Grinding..............................................................................................13
A. Pengertian .....................................................................................................13
B. Klasifikasi .......................................................................................................13
C. Macam-Macam Pencekam pada Mesin Surface Grinding.............................16
D. Bagian-Bagian Utama pada Mesin Surface Grinding ...................................20
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ........................................................................................................22
3.2 Saran ..................................................................................................................22

====================================================================
====
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Tujuan Praktek Bengkel
Alasan penulisan laporan ini karena minimnya tingkat pengetahuan tentang roda
gerinda dan cara pengopersasian mesin gerinda khususnya gerinda silindris. Dan di dalam
laporan ini dijelaskan bahan-bahan dasar pembuatan roda gerinda, jenis-jenis pengasah
dan perekat. laporan ini dapat menjadi referensi untuk mengetahui roda gerinda lebih
mendalam.
Laporan ini ditulis dengan tujuan agar masyarakat pada umumnya dapat tahu
banyak tentang roda gerinda, karena telah mempunyai dasar pengetahuan dan
bermanfaat untuk mencegah kecelakaan kerja, memudahkan penggerindaan dengan
penggunaan roda gerinda yang sesuai dengan material benda kerja yang akan digerinda.
Selain itu kita dapat mempelajari cara-cara mengoperasikan mesin gerinda silindris.
1.2 Teori Dasar
Penggerindaan adalah proses pemotongan/pengasahan logam. Roda gerinda
mempunyai beribu-ribu sisi-sisi potong yang sangat kecil sebagai pengganti sisi potong
yang lebar dari pisau-pisau potong yang berputar.
1. Bagian-Bagian dari Roda Gerinda
Setiap roda gerinda mempunyai dua komponen :
- Abrasive berfungsi sebagai pemotong/pengasah.
- Bond berfungsi sebagai perekat yang mengikat butiran-butiran abrasive selama
pemotongan.

Diantara abrasive dan bond terdapat bagian-bagian kosong atau pori-pori dalam
ukuran dan jumlah yang beraneka ragam, mempengaruhi roda-roda gerinda dalam
pengasahannya.
2. Pembuatan roda-roda gerinda
Butiran-butiran abrasive dan perekat dicampur, kemudian dicetak/dibentuk dan
dikeringkan dalam cetakan pada tekanan yang tinggi dan suhu antara 42- 45 C.
Ukuran terakhir dan bentuknya dibuat setelah proses pengeringan. Perekat roda
gerinda kemudian di vitrify kan pada suhu antara 1200- 1300C dan didinginkan
dengan perlahan-lahan sekali. Proses pendinginan kadang-kadang maksimum lamanya
120 hari. Sebagai tindakan pencegahan demi keamanan, pemeriksaan yang teliti diadakan
setelah proses pendinginan.
3. Aksi Potong (pemotongan)
Proyeksi dari permukaan roda gerinda akan terlihat beribu-ribu butiran tajam.
Apabila diputar dengan kecepatan tinggi dan dipertemukan dengan benda kerja, akan
memotong beram-beram. Beram-beram menjadi merah dan panas karena gesekan yang
keras.
4.Bahan Asah/Pengasah
Amril (ampelas), corundum, silicon carbide, alumunium oxide, boron nitride, dan
intan yang dihancurkan adalah bahan-bahan asah yang digunakan sampai sekarang.
Bahan-bahan tersebut beraneka ragam dalam kekerasan dan kerapuhan ,mempunyai sifat
dan bentuk yang berbeda-beda.
-

Amril adalah kristal dari alumunium oksida dan besi oksida dengan persentase

campuran yang bermacam-macam.


-

Corundum

adalah alumunium oksida dengan bermacam-macam tingkat

kemurniannya. Amril dan corundum adalah sebagian besar digunakan dalam pembuatan
kertas pengasah dan kain pengasah.
-

Silicon carbide adalah kombinasi kimia dari karbon dan silicon yang dibuat dari

dapur tinggi listrik. Pekerjaan ini memakan waktu 36 jam pada temperatur 2000C.

Setelah itu silicon carbide diambil dalam bentuk kristal-kristal yang banyak. Silicon
carbide berwarna hitam kehijau-hijauan.
-

Alumunium oxide yang mula-mula berasal dari bauksit, juga dibuat dalam dapur

tinggi listrik. Bauksit lebur dalam temperatur 2100C. Batangan-batangan dipatahkan,


dihancurkan dan digiling menjadi butiran-butiran kecil.
-

Boron nitride adalah hasil produksi buatan General Electrik Corp. Barang tersebut

mempunyai bentuk kristal berbentuk kubus keras seperti silicon carbide, suhunya stabil
hingga 1400C.
-

Intan adalah bahan asah yang terkeras. Carbon yang murni, sekarang ini dibuat

untuk pembuatan proses industri.


5. Perekat
Perekat harus mengikat butiran-butiran pengasah bersama-sama dan melengkapi
roda gerinda dengan kekuatan dan kekerasan. Ada beberapa tipe perekat yang digunakan
dan masing-masing tipe mempunyai kegunaan tersendiri.
- Vitrified bonds adalah suatu campuran dari tanah liat, feldspar dan kwrsa dicampur pada
suhu kira-kira 1100-1350C. Roda gerinda ini sensitif terhadap hentakan dan pukulan
tapi tidak berubah karena panas atau dingin dan tidak dapat dipengaruhi oleh air, asam
atau oli. Roda gerinda ini tidak dibuat dalam bentuk yang tipis seperti roda gerinda
gerinda untuk memotong karena tidak dapat menerima beban dari samping. Perekat ini
dicampur dalam bermacam-macam persentase yang baik sehingga mendapatkan
bermacam-macam tingkatan. Kepadatan dari roda gerinda dapat dengan mudah
ditentukan oleh proses vitrified.
-

Silicate bonds (mineral bond) komponen ini digunakan silicate dari soda (water

glass). Oksida seng ditambahkan sebagai bahan anti air. Campuran butiran-butiran
pengasah dan perekatnya dipadatkan didalam cetakan besi dan dibakar pada temperatur
260C selama 2 - 4 hari. Dengan perekat ini butiran-butiran pengasah lebih mudah lepas
dari pada vitrified bond dan roda gerinda ini disebut pulder acting yang digunakan
khusus untuk mengasah alat-alat potong.
-

Shellac bonds (organik bond) Roda gerinda shellac dapat dibuat tipis 3 mm atau

kurang.Serbuk shellac dicampur dengan butiran-butiran pengasah dan dipanaskan

sampai shellacnya meleleh dan menyelimuti setiap butiran pengasah. Campuran ini diroll
menjadi lembaran dan dipotong. Perekat ini baik untuk pengerjaan halus dan ketahanan
terhadap panas rendah..
-

Rubber bonds (organik bond) untuk membuat roda gerinda ini, karet murni

dicampur dengan sulfur sebagai komponen pemanas. Roda gerinda ini dapat digunakan
juga sebagai pemotong.
-

Synthetic resin bond bakelite adalah salah satu perekat yang digunakan untuk

pembuatan roda gerinda potong yang tipis. Perekat ini elastis dan ulet. Digunakan untuk
menghilangkan kerak-kerak besi tuang dan menggerinda las.
6. Penandaan Roda Gerinda
Bila memesan roda gerinda,keterangan yang harus ditunjukkan :
Kualitas (macam-macam bahan asah),ukuran (garis tengah, lebar, lubang), bentuk,
ukuran butiran, tingkat dan struktur.
Perserikatan industri bahan asah telah menyesuaikan sistem penandaan untuk roda
gerinda dengan British Standardised. Contoh :
A 46 K 15 V
Bahan asah

Ukuran butiran

A = Aluminium oxide

8 600

C = Silicon carbide

Tingkat

Struktur

A Z

1 15

Macam-macam susunan batu


V =Vitrified
B =Resionid
R =Rubber
E =Shellac
S =Silicate

7. Pemilihan roda gerinda


Syarat utama yang diperhatikan dalam pemilihan roda gerinda ialah :
A. Sifat fisik dari material yang akan digerinda mempengaruhi pemilihan dari bahan
asah. Gunakan roda gerinda alumunium oksida untuk material-material berkekuatan
tarik yang tinggi. Seperti contoh baja karbon, baja campuran, baja kecepatan tinggi, besiI
tempa, perunggu dll.

Gunakan roda gerinda silicon carbide untuk material berkekuatan tarik yang
rendah. Seperti contoh besi kelabu, kuningan dan perunggu, alumunium dan tembaga,
granite, karet, kulit dll.
Gunakan roda gerinda keras untuk material yang lunak dan gunakan roda gerinda
lunak untuk material yang keras. Bila menggerinda material keras, butiran-butiran lebih
cepat tumpul dari material lunak, maka lunaknya perekat diperlukan untuk memudahkan
butiran-butiran membelah atau meninggalkan roda gerinda dengan tujuan memunculkan
butiran-butiran baru sebagai penggantinya.Material lunak kurang cepat penumpulan
butiran-butirannya. Perekat kuat memungkinkan pemegangan butiran-butiran lebih lama.
B. Banyaknya material yang dihilangkan dan hasil akhir yang diminta mempengaruhi
Pemilihan dari ukuran butiran, struktur dan tipe perekat. Gunakan roda gerinda yang
kasar dan berpori-pori untuk pemkanan banyak. Gunakan roda gerinda berbutiran halus
untuk penyelesaian yang baik.
Gunakan roda gerinda berbutiran kasar untuk material liat dan berbutiran halus
untuk material keras.Disini kecepatan produksi bukan faktor yang penting,gunakan roda
gerinda elastis untuk penyelesaian yang terbaik.

1. Putaran Roda Gerinda :


rpm

2. Putaran Benda Kerja :


..rpm

3. Gerakan Meja Melintang :


m/ min
..m/ min

gerinda silinder
gerinda rata

4. Gerakan Meja Memanjang

Lc = Sr..mm/ langkah

5. Pemakanan Roda Gerinda

0.00250.003..Kasar
0.0010.002Halus

gerinda rata

Tabel Tirus
TSCHUDIN HTG 610

1.3 Alat dan Bahan

Mesin gerinda silinder TSCHUDIN HTG 610

Mesin Surface Grinding

Dial indicator

Mikrometer Sekrup

Jangka sorong digital

Lap bersih

3 buah benda kerja 49 x 400 mm

1 buah benda kerja 300 x 60 x 60 mm

===================================================================
=====

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Langkah Kerja Cylindrical Grinding
2.1.1. Menggerinda silinder rata

Setting batu gerinda agar seimbang ketika dipasang pada mesin.

Pasang benda kerja pada mesin. Gunakan head dog pada ujung benda kerja.

Setting mesin gerinda dengan menyetel panjang langkah jalan benda kerja, jarak batu
terhadap benda kerja, putaran benda kerja, putaran mesin gerinda, kelurusan meja
gerinda dengan menggunakan dial indicator.

Hidupkan mesin gerinda pada posisi satu, kemudian tarik ke kanan sedikit. Tunggu
hingga mesin utama hidup. Kemudian tarik panel kerja pada posisi satu, lanjutkan posisi
dua, lalu posisi akhir.

Lakukan proses penggerindaan dengan sangat hati-hati dengan memutar handel


pemakanan ke arah kanan. Kemudian perhatikan apakah batu gerinda telah menyentuh
benda kerja dengan ditandai bunga api. Setelah terdapat bunga api, anggap titik itu
adalah titik nol pemakanan.

Lakukan terus proses pemakanan dengan hati-hati hingga didapat ukuran kerja yang
sesuai dengan gambar kerja.

Lepas benda kerja, kemudian letakkan di atas V-Blok.

2.1.2. Menggerinda silinder

tirus

Ukur benda kerja dari dimensi panjang, diameter awal dan diameter akhir, dan hitung
pula sudut tirusnya dengan menggunakan rumus phytagoras.

Pasang benda kerja pada mesin. Gunakan head dog pada ujung benda kerja.

Setting mesin gerinda dengan menyetel panjang langkah jalan benda kerja, jarak batu
terhadap benda kerja, putaran benda kerja, putaran mesin gerinda, kemiringan meja
gerinda dengan menggunakan dial indicator.

Hidupkan mesin gerinda pada posisi satu, kemudian tarik ke kanan sedikit. Tunggu
hingga mesin utama hidup. Kemudian tarik panel kerja pada posisi satu, lanjutkan posisi
dua, lalu posisi akhir.

Lakukan proses penggerindaan dengan sangat hati-hati dengan memutar handel


pemakanan ke arah kanan. Kemudian perhatikan apakah batu gerinda telah menyentuh
benda kerja dengan ditandai bunga api. Setelah terdapat bunga api, anggap titik itu
adalah titik nol pemakanan.

Lakukan terus proses pemakanan dengan hati-hati hingga didapat ukuran kerja yang
sesuai dengan gambar kerja.

Lepas benda kerja, kemudian letakkan di atas V-Blok.

2.1.3. Menggerinda silinder bertingkat

Setting batu gerinda agar seimbang ketika dipasang pada mesin.

Pasang benda kerja pada mesin. Gunakan head dog pada ujung benda kerja.

Setting mesin gerinda dengan menyetel panjang langkah jalan benda kerja, jarak batu
terhadap benda kerja (langkah jalan benda kerja hanya sepanjang tingkatan yang telah
dipilih), putaran benda kerja, putaran mesin gerinda, kelurusan meja gerinda dengan
menggunakan dial indicator.

Hidupkan mesin gerinda pada posisi satu, kemudian tarik ke kanan sedikit. Tunggu
hingga mesin utama hidup. Kemudian tarik panel kerja pada posisi satu, lanjutkan posisi
dua, lalu posisi akhir.

Lakukan proses penggerindaan dengan sangat hati-hati dengan memutar handel


pemakanan ke arah kanan. Kemudian perhatikan apakah batu gerinda telah menyentuh
benda kerja dengan ditandai bunga api. Setelah terdapat bunga api, anggap titik itu
adalah titik nol pemakanan.

Lakukan terus proses pemakanan dengan hati-hati hingga didapat ukuran kerja yang
sesuai dengan gambar kerja.

Lepas benda kerja, kemudian letakkan di atas V-Blok.

2.2. Data Hasil Pengerjaan


1. Menggerinda silinder rata
Dik

: ketelitian pemakanan pada mesin/ garis


Ukuran awal

= 0.01 mm

= 49.625 mm

Ukuran akhir
Dit

= 49.200 mm

: Berapa garis pemakanan.

Jawab :
Garis pemakanan

= 42.5 garis

2. Menggerinda silinder tirus

Dik

: d1
d2
L

Dit

= 48.5 mm
= 48.2 mm

: ..
= r1 r2
= 24.25 mm 24.1 mm
= 0.15 mm

Tan = d / L
= 0.15 mm / 370 mm

= 370 mm

Jawab :
d

= arc tan 0.15 / 370

= 0.020

3. Menggerinda silinder bertingkat


Dik

Dit

: ketelitian pemakanan pada mesin/ garis

= 0.01 mm

Ukuran awal

= 38.800 mm

Ukuran akhir

= 38.500 mm

: Berapa garis pemakanan.

Jawab :
Garis pemakanan

= 30 garis
2.3. Surface Grinding
2.3.1. Pengertian
Mesin Surface Grinding adalah mesin gerinda yang mengacu pada pembuatan
bentuk datar dan permukaan yang rata pada sebuah benda kerja yang berada di bawah
batu gerinda yang berputar. Mesin surface grinding bisa kita jumpai di ATMI pada mesin
Brand dan Magerle. Pada umumnya mesin gerinda digunakan untuk penggerindaan
permukaan yang meja mesinnya bergerak horizontal bolak-balik. Benda kerja dicekam
pada meja magnetik, digerakkan maju mundur di bawah batu gerinda. Meja pada mesin
gerinda datar dapat dioperasikan secara manual atau otomatis yang dapat diatur pada
bagian tuasnya.

2.3.2.Klasifikasi

Mesin surface grinding berdasarkan pergerakan meja dan spindlenya dibagi menjadi 4
macam, yaitu:
1.

Mesin

gerinda

datar

horizontal

dengan

gerak

meja

bolak-balik

Mesin gerinda ini digunakan untuk menggerinda benda-benda dengan permukaan rata
dan menyudut. Mengenai panjang langkah pada meja dan gerakan melintang batu gerinda
dapat disetting pada tuas dimeja mesin gerinda sesuai dengan sifat dan karakter benda
kerja yang akan dikerjakan.
2.

Mesin

gerinda

datar

horizontal

dengan

gerak

meja

berputar

Mesin jenis ini dipergunakan untuk menggerinda permukaan rata pada benda kerja
silindris. Tepatnya dibagian sisi permukaan rata benda kerja tersebut dengan gerakan
berputarnya meja mesin surface grinding.
3.

Mesin

gerinda

datar

vertical

dengan

gerak

meja

bolak-balik

Mesin jenis ini digunakan untuk menggerinda benda-benda berpermukaan rata, lebar, dan
menyudut. Penggerindaan berlangsung pada sisi samping roda gerinda sehingga ketika
proses harus berhati-hati dalam pemakanan (DOC) dengan cara lebih sedikit-sedikit. Cara
ini dilakukan agar benda kerja tidak gosong ketika menerima beban dan luas penampang
yang
4.

terlalu
Mesin

gerinda

besar
datar

pada
vertical

sisi
dengan

potong
gerak

batu
meja

gerinda.
berputar

Mesin jenis ini dipergunakan untuk menggerinda permukaan rata poros dan lubang. Bisa
juga untuk membuat lubang yang presisi bila memang tidak ada mesin universal grinding
dalam bengkel Anda saat diperlukannya penggerindaan lubang dalam seperti gambar
disebaliknya.
Berdasarkan prinsip kerjanya mesin gerinda datar dibagi menjadi dua macam, yaitu:
1. Surface grinding semi otomatis, proses pemotongan dapat dilakukan secara manual
(tangan) dan otomatis mesin.

2. Surface grinding otomatis, proses pemotongan diatur melalui program (NC/Numerical


Control

dan

CNC/Computer

Numerically

Control).

Berdasarkan prinsip pendingin (coolant) mesin gerinda datar dibagi menjadi dua macam,
yaitu:
1. Penggerindaan kering
Sesuai dengan tujuannya, penggerindaan kering dilakukan tanpa menggunakan cairan
pendingin. Agar debu yang timbul dari penggerindaan tidak beterbangan dan terhisap
oleh orang yang bekerja, maka mesin dilengkapi dengan penyedot debu. Karena apabila
tidak disedot, maka debu akan mengendap pada bagian-bagian mesin.

2. Penggerindaan basah
Pada penggerindaan basah digunakan cairan pendingin untuk mencegah debu yang timbul
dari penggerindaan. Hal ini perlu dijaga agar tidak sampai mengenai operator, dan tidak
pula berserakan keluar mesin maupun kena lantai. Untuk itu mesin ini operlu dilengkapi
perisai untuk menahan cairan pendingin. Pada penggerindaan basah, kita dapat
mempertahankan sifat logam, karena tidak mengalami kenaikan suhu akibat gesesekan
pada

proses

pemotongan.

Prinsip kerja utama dari mesin surface grinding adalah gerakan bolak-balik benda kerja,
dan gerak rotasi dari tool. Dilihat dari prinsip kerja utama mesin tersebut, mesin gerinda
datar

secara

garis

besar

mempunyai

1) Gerak putar batu gerinda.


2) Gerak meja memanjang dan melintang.
3) Gerak pemakanan

tiga

gerakan

utama,

yaitu:

2.3.3Macam-macam pencekaman pada mesin surface grinding


1. Meja magnet listrik
Pencekaman ini paling sering digunakan sebagian besar mesin surface
grinding. Benda kerja tipis yang tidak mampu dilakukan pada pencekaman biasa
sangatlah cocok untuk pencekaman ini. Pencekaman terjadi akibat adanya medan magnet
yang ditimbulkan oleh aliran listrik. Pada mesin gerinda datar yang berfungsi sebagai
pencekam benda kerja adalah meja mesin gerinda itu sendiri. Proses pencekaman benda
kerja menggunakan meja magnet listrik, harus mempunyai syarat yaitu permukaan meja
magnet dibersihkan dan magnet dalam posisi on. Benda kerja diletakkan pada permukaan
meja magnet dan diatur pada posisi garis kerja medan magnet. Tentu saja benda kerja
harus dalam kondisi bersih juga. Pencekaman menggunakan prinsip elektromagnetik.

Batangan-batangan yang di ujungnya diatur sehingga menghasilkan kutub magnet utara


dan selatan secara bergantian bila dialiri arus listrik. Supaya aliran medan magnet
melewati benda kerja digunakan logam nonferro yang disisipkan pada plat atas pencekam
magnet. Ketika melepas benda kerja dilakukan dengan memutuskan aliran listrik yang
menuju pencekam magnet dengan menggunakan tombol on/off.
2. Meja magnet permanen
Pencekaman terjadi akibat adanya magnet permanen yang terdapat pada pencekam. Pada
mesin gerinda jenis ini, magnet yang mengaliri meja bersifat permanen, proses
pencekaman benda kerja menggunakan mesin yang dilengkapi dengan meja jenis ini
hampir sama dengan proses pencekaman benda kerja pada mesin gerinda datar pada
umumnya. Akan tetapi, ada beberapa hal yang membedakan mesin jenis ini dengan mesin
gerinda pada umumnya.
Cara Kerja Mesin :
a. Teori ini seperti halnya magnetic yang berada di Stand Dial indicator.
2 kutub bekerja dan mengadung magnetis bila ada 2 kutub yang berbeda didekatkan
(utara-selatan), 2 kutub tidak bekerja bila ada 2 kutub yang sama didekatkan.
b. Perbedaannya terletak pada sumber magnet yang telah dimiliki, tanpa menggunakan
aliran arus listrik (lempengan magnet permanen).
c. Lempengan-lempengan magnet permanen terletak di antara logam anti magnet yang
dipasang di antara plat atas dan bawah.
d. Plat atas mempunyai plat sisipan anti magnet yang berfungsi mengarahkan aliran
medan magnet.
e. Posisi tuas ON, posisi lempengan magnet sebidang dengan kutub sisipan di plat atas.
Medan magnet mengalir dari kutub selatan ke kutub luar (plat atas) dan melewati benda
kerja diteruskan ke kutub utara dan plat bawah sehingga benda kerja akan tercekam.

f. Benda kerja diatur pada posisi garis kerja aliran medan magnet yang terdapat pada
pencekam magnet.
g. Posisi tuas OFF, aliran magnet dipindahkan karena lempengan magnet dan sisipan
tidak segaris kerja aliran medan magnet. Plat atas dan sisipan akan menutupi aliran yang
menuju ke benda kerja sehingga benda kerja tidak tercekam.
3. Swivel vice
Pencekaman digunakan ketika benda kerja yang semua bidang telah digerinda, di mana
antara satu dengan yang lainnya saling tegak lurus dan sejajar. Adapun proses
pencekaman

benda

kerja

menggunakan

vice

ini

sebagai

berikut.

Permukaan benda kerja yang dijepit oleh vice ini menghasilkan bidang yang akan
tergerinda mempunyai kesikuan dan kesejajaran yang baik dengan syarat vice sudah
disetting siku dan kerataannya.
vice dicekam dengan menggunakan pencekam magnet dalam posisi yang bisa dirubah
rubah sesuai dengan penggerindaan yang diinginkan. Bidang-bidang dari vice digunakan
sebagai bidang dasar dan penahan.
Permukaan bidang pencekam dan yang tercekam harus bersih dari kotoran-kotoran
yang

mengganggu

pencekaman

dan

ketelitian

penggerindaan.

Untuk menggerinda benda kerja tegak lurus, vice diputar 90 tanpa harus membuka
penjepitan benda kerja, dengan syarat permukaan benda kerja lebih tinggi dari
permukaan rahang ragum. Untuk sudut kemiringan yang lain juga bisa dilakukan dengan
menyeting sebelumnya kedudukan benda kerja menggunakan bevel transfer yang sudah di
setel pada bevel protactor.
3. Meja sinus
Meja sinus dapat digunakan untuk mencekam benda kerja dalam penggerindaan yang
membentuk

sudut

dengan

ketelitian

mencapai

satuan

sudut

dalam

detik,

Adapun proses pencekaman benda kerja dengan ragum sinus sebagai berikut.
Meja ini dicekam pada meja magnet (permukaan meja sinus juga mengadung magnet
yang

berguna

untuk

meletakkan

benda

kerja

pada

bagian

atasnya).

Kemiringan sudut yang dikehendaki diatur dengan mengendorkan kunci yang biasanya

di setel dengan kunci L. Kemudian diposisikan pada sudut yang diinginkan lalu
dikencangkan lagi.
Benda kerja dipasang pada bidang atas meja sinus dengan system pencekaman meja
magnet juga.
4. Meja sinus universal
Tidak dipungkiri bahwa benda kerja mempunyai bentuk yang kompleks. Hal itu
tergantung faktor benda kerja tersebut dengan pasangannya nanti ketika dissembling.
Untuk ukuran yang mempunyai tuntutan kemiringan, meja ini sangat cocok untuk
pencekamannya. Meja sinus universal digunakan untuk membentuk sudut ke arah vertical
dan ke arah horizontal. Berfungsi untuk meneruskan aliran medan magnet dari sumber
magnet ke benda kerja. Ada tiga bentuk standar blok penghantar, yaitu persegi, segitiga
dan alur V, atau Blok V. masing-masing sumbu mempunyai keterangan sudut sehingga kita
dapat memutar-mutar meja ini.
V Blok persegi
5. Pencekaman khusus
Blok penghantar medan magnet (packing berlapis), digunakan untuk mencekam benda
kerja

yang

tidak

memungkinkan

dicekam

langsung

pada

meja

magnet.

Blok penghantar medan magnet beralur V, digunakan untuk mencekam benda kerja
menyudut dengan sudut istimewa.

2.3.4. Bagian-Bagian Utama Mesin Surface Grinding


Column
Bagian ini berfungsi untuk menopang unit kepala gerinda.
Tuas Pembalik Arah Meja
berfungsi untuk membalik arah gerak penyayatan meja. Dilengkapi dengan stopper
sebagai batas pergerakan meja mesin surface grinding.

Handle Memanjang
berfungsi untuk menggerakan meja dengan arah memanjang yang bisa disetting
panjang langkahnya.
Handle Melintang
berfungsi untuk meja dengan arah melintang yang bisa disetting panjang langkahnya.
Control Box
Letak dimana tombol-tombol pengendali yangdi gunakan sebagai pusat kendali mesin.
Coolant Box
Tempat cairan pendingin. Tempat ini harus sering-sering di chek karena bila sampai
kelalaian bisa membuat chip yang berupa serbuk mengendap dan dapat menghampat
sirkulasi coolant.
Alas Mesin
Alas mesin disebut juga bed merupakan kotak terbuat dari besi tuang dan di dalamnya
ditempatkan unit penggerak hidrolik. Pada bagian atas bed terdapat alur berbentuk V
sebagai tempat eretan melucur.
Eretan
Eretan disebut juga sadel. Eretan bergerak bolak-balik dalam arah memanjang atau
melintang di atas bed.
Meja
Meja ini terpasang pada permukaan bagian atas eretan. Perlengkapan meja kerja
dilengkapi dengan tiga buah alur T untuk menempatkan baut pengikat. Permukaan meja
digerinda dengan presisi pada waktu mesin dirakit. Di atas meja dapat ditempatkan
magnet untuk mencekam benda kerja.
Kepala Gerinda
Unit kepala gerinda terbuat dari besi tuang, di dalamnya terdapat sumbu roda grinda dan
peluru penahan gesekan. Sumbu atau poros gerinda terbuat dari baja campuran dan
digerinda sangat presisi. Di salah satu ujung sumbu terpasang sebuah motor atau puli.
===================================================================
====

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dengan melakukan praktik kerja gerinda silinder ini memerlukan ketelitian yang
extra, dan diharapkan agar praktikan dapat melaksanakan kegiatan praktik dengan sabar,
teliti , bertanggung jawab serta mematuhi peraturan yang telah ditetapkan oleh instruktur
hal ini bertujuan agar sesuatu yang tidak diinginkan tidak dapat terjadi . kecelakaan kerja
tidak akan terjadi jika praktikan mematuhi ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan
kecuali atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.

3.2 Saran
1.Hati-hati dalam penggunaan peralatan dan mesin gerinda, karena sangat
berbahaya
2.Selalu perhatikan gambar atau petunjuk pada saat pengerjaan
3.Bekerjalah dengan sungguh-sungguh
4.Mintalah bantuan pada instruktur apabila ada yang tidak dimengerti

Diposkan oleh Deka Firmansyah di Palembang Kamis, Juni 07, 2012 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Tugas Semester 4 Deka Firmansyah
Beranda
Langganan: Entri (Atom)

Daftar Posting,,,
Mengenai Saya

Deka Firmansyah
Lihat profil lengkapku

Selamat Datang ,,,


copyright Deka Firmansyah. Template Awesome Inc.. Diberdayakan oleh Blogger.
http://teknikmesin291291.blogspot.co.id/

MANUFACTURIING
PROCESSES
-- AMEM 201
Lecture 10: Machining Processes
DR. SOTIRIS L. OMIROU

Grinding and other Abrasive Machining Processes


2

Abrasive Machining
Abrasive machining uses tools that are made of tiny, hard
particles of crystalline materials.
Abrasive particles have irregular shape and sharp edges.
The workpiece surface is machined by removing very
tiny amounts of material at random points where a particle
contacts it.
By using a large number of particles, the effect is averaged

over the entire surface, resulting in very good surface


finish and excellent dimension control, even for hard,
brittle workpieces.
Abrasive machining is also used to machine brittle
materials. Such materials cannot be machined easily
by conventional cutting processes since they would
fracture and crack in random fashion.
2
3

The main uses of grinding and abrasive machining


1. To improve the surface finish of a part manufactured
by other processes.

Examples:
(a)A steel injection molding die is machined by milling.
The surface finish must be improved for better plastic flow,
either by manual grinding using shaped grinding tools,
or by electro-grinding.
(b) The internal surface of the cylinders of a car engine are
turned
on a lathe. The surface is then made smooth by grinding,
followed by honing and lapping to get an extremely good,
mirror-like finish.
(c) Sand-paper is used to smooth a rough cut piece of wood.
4

The main uses of grinding and abrasive machining


2. To improve the dimensional tolerance of a part
manufactured by other processes

Examples:

(a)ball-bearings are formed into initial round shape by a forging


process; this is followed by a grinding process in a specially
formed grinding die to get extremely good diameter control
( 15m).
(b) Knives are made from forged steel; the steel is then
hardened;
finally, a grinding operation is used to give a sharp cutting
edge.
3
5

The main uses of grinding and abrasive machining


3. To remove unwanted materials of a cutting process

Examples:
(a)Drilling and milling often leave tiny, sharp chips along the
outer edges of the surface created by the tool these are
called
burrs. Tapered grinding wheels are used to remove the burr
(the
process is called deburring).
6

The main uses of grinding and abrasive machining

4. To cut hard brittle materials

Examples:
(a)Most semiconductor IC chips are made from silicon; the
starting point is a long bar of a crystal of silicon (the diameter
is usually
8cm, 15cm or 30cm, and length up to 200 cm). This rod must
by
sliced into thin circular slices; each slice is used to make a
large
number of ICs. A diamond abrasive wheel is used to cut the
rod
into slices.
4
7

Abrasive Materials
Common abrasive materials are Aluminum Oxide and Silicon
Carbide. For harder materials and high precision applications,
superabrasives (Cubic Boron Nitride and diamond powder),
which are extremely hard materials, are used.
Abrasive materials have two properties: high hardness, and
high friability. Friability means that the abrasive particles are
brittle, and fracture after some amount of use, creating new
sharp edges that will again perform more abrasion.
8

Several types of abrasive tools. They all contain abrasive grains


that are glued together using resin or hardened rubber. Sometimes,
the abrasive particles may be embedded in metal or ceramic.

Abrasive Tools
5
9

It is important for the bonding material to be softer than the


abrasive. Also, the bonding material is selected to release the
abrasive particles and wear away after some amount of use this
keeps exposing fresh abrasive particles to the workpiece
continuously.

Abrasive Tools
The mean size of abrasive particle used in each tool determines
the rate at which it will cut, and the quality of surface finish it
will provide. Low material removal rate leads to better surface,
which is achieved by using very fine grains. Grain size is
expressed using numbers, small numbers like 10 mean large
grains, and large numbers, e.g. 100 mean fine grain. You can
see this in the grades of sand-paper.
10

Schematic illustration of a physical model of a grinding


wheel, showing its structure and wear and fracture
patterns.

Physical Model of a Grinding Wheel


6
11

_ Some common
types of grinding
wheels made
with conventional
abrasives. Note
that each wheel
has a specific
grinding face.
Grinding on
other surfaces is
improper and
unsafe.

Common Types of Grinding Wheels


12

_ Variables in surface grinding. In actual grinding, the wheel


depth of cut d, and contact length, l, are much smaller than the
wheel diameter, D. The dimension t is called the grain depth of
cut.

Variables in Surface Grinding


7
13

There are several types of grinding machines. The main ones are
surface or flat grinders, grinding wheels, cylindrical grinders and
centerless grinders. The figure below shows examples of a few of
these.

Grinding machines
14

Surface or flat grinders produce flat


surfaces. The part is held on the flat
table (steel parts can be held by a
magnetic force this is called
magnetic chucking). The table
moves in a reciprocating motion
(}X-axis), and the rotating wheel is
lowered (Z-axis) so that it just
scrapes along the surface. After each
reciprocating cycle, the part is fed by
a small amount along the Y-axis.

Grinding machines
8
15

_ Schematic illustration of a horizontal-spindle surface


grinder. The majority of grinding operations are done
on such machines.

Horizontal--Spindle Surface Grinder


16

Horizontal--Spindle Surface Grinder


9
17

Grinding video
18

_Schematic illustration of surface-grinding operations:


_ (a) Traverse grinding with a horizontal-spindle surface
grinder.
_(b) Plunge grinding with a horizontal-spindle surface
grinder, producing a groove in the workpiece.
_(c) Vertical-spindle rotary-table grinder

Surface--Grinding Operations
10
19

Surface--Grinding Operations
20

To improve dimension control on


cylindrical parts, centerless grinders,
which use long cylindrical wheels, are
employed. The axis of the regulating
wheel and grinding wheel are slightly
misaligned, causing the part to travel
slowly in the axial direction, and after
some time, the part automatically moves
beyond the length of the wheel.
Controlling the angle of misalignment
can control the time that the part is
subjected to grinding.

Grinding machines
11
21

_ Schematic illustration of centerless-grinding


operations.

Centerless--Grinding Operations
22

Rounded external grinding machine


12
23

RoundedA berxatseirvnea ml garcihnidniiinngg- m1machining


24

(a) cylindrical surfaces, (b) conical surfaces, (c) fillets on a


shaft, (d) helical profiles, (e) concave shape, (f) cutting off
or slotting with thin wheels, and (g) internal grinding.

Grinding Operations for various workpiece geometries


13
25

Honing
Honing is a finishing operation used to improve the form
tolerance of an internal cylindrical surface in particular, it
is used to improve the cylindricity. The honing tool is a

metal bar
holding a set of grinding stones arranged in a circular
pattern. The tool brushes along the cylindrical part surface
by rotating, and moving up-and-down along its axis. You
can identify a honed surface by looking for the helical
cross-hatched scratch marks on the part surface.
26

_ Schematic illustration of a honing tool to improve the


surface finish of bored or ground holes.

Honing Tool
14
27

Honing machining
28

_ Schematic illustration of the superfinishing process


for a cylindrical part: (a) cylindrical microhoning;
(b) centerless microhoning.

Superfinishingof a Cylindrical Part


15
29

Lapping
Lapping is a finishing operation. The lapping tool is made
of metal, leather, or cloth, impregnated with very fine
abrasive particles. For preparing the surface of silicon
wafers, lapping operations use a flat metal disc that
rotates a small distance above the part. The gap is filled
with a slurry containing fine abrasive grains. The rotation
of the disc causes the slurry to flow relative to the part
surface, resulting in very fine surface finish. This process
gives dimensional tolerances of 0.5m, and surface
finish of up to 0.1 m.
30

_ (a) Schematic illustration of the lapping process.


_ (b) Production lapping on flat surfaces.
_ (c) Production lapping on cylindrical surfaces.

Lapping Process
http://staff.fit.ac.cy/eng.os/Microsoft%20PowerPoint%20-%20LECTURE10.pdf

Anda mungkin juga menyukai