Anda di halaman 1dari 27

1

LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA FISIKA
TERMODINAMIKA

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 1
1.
2.
3.
4.
5.
6.

ACHDISSSAM NOOR HABIBI


AMELIA LESTARI
FATHUL AZIZ
NITA AMALIA
NUR ESTIQOMAH
RISDA FAUJIAH

14046901
14046903
15046902
14046911
14046914
14046916

LABORATURIUM TEKHNOLOGI FARMASI TERPADU


PROGRAM STUDI S1 FARMASI
SEKOLAH TINGGI FARMASI MUHAMMADIYAH
TANGERANG

2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa karena atas
rahmat dan hidayahNya kami dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada
waktunya.
Laporan ini merupakan hasil penyusunan literatur yang diperoleh dari bukubuku maupun jurnal dan internet yang berkaitan. Tak lupa kami ucapkan terima
kasih kepada Dosen Pembimbing atas bimbingan dan arahan dalam pelaksanaan
praktikum hingga laporan ini dapat terselesaikan dengan baik, serta kepada rekanrekan yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini.
Kami harap, laporan ini dapat memberi manfaat bagi kita semua, dalam hal
ini menambah wawasan dan pengetahuan bagi kita.
Memang laporan ini masih jauh dari sempurna, maka kami mengharapkan
kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih baik.

Tangerang, 07 Desember 2015


Penyusun,

Kelompok 1

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..........................................................................i
DAFTAR ISI.....................................................................................ii
DAFTAR TABEL..............................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN....................................................................1
A. Latar Belakang................................................................1
B. Tujuan Praktikum............................................................1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.............................................................2
A. Termodinamika...............................................................2
B. Hukum-Hukum Dasar Termodinamika............................4
C. Kalor...............................................................................5
D. Kalorimetri......................................................................7
BAB III METODOLOGI...................................................................10
A. Alat dan Bahan Praktikum............................................10
B. Prosedur Kerja..............................................................10
C. Skema kerja.................................................................12
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN.................................................14
A. Hasil.............................................................................14
B. Pembahasan................................................................21
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN.................................................23
A. Kesimpulan..................................................................23
B. Saran............................................................................23
DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Suhu air pada suhu ruang ber AC per menit dalam
kalorimeter......................................................................14
Tabel 2. Suhu air panas dan suhu air ketika pencampuran per
menit dalam kalorimeter.................................................14
Tabel 3. Suhu campuran etanol dan air dalam kalorimeter.......17
Tabel 4. Suhu HCl dann NaOH sebelum pencampuran..............19
Tabel 5. Suhu campuran HCl dan NaOH dalam kalorimeter......19

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Termodinamika adalah ilmu tentang energi, yang secara spesifik
membahas tentang hubungan antara energi panas dengan kerja. Energi dapat
berubah dari satu bentuk ke bentuk lain, baik secara alami maupun hasil
rekayasa teknologi. Selain itu energi di alam semestambersifat kekal,
tidak dapat dibangkitkan atau dihilangkan, yang terjadi adalah perubahan
energi dari satu bentuk menjadi bentuk lain tanpa ada pengurangan atau
penambahan. Hal ini erat hubungannya dengan hukum hukum dasar pada
termodinamika. Dalam makalah ini kami akan membahas tentang hukum 3
termodinamika dan tentang sistem tenaga uap rankine.
Efek magnetokalorik di pakai untuk menurunkan temperatur senyawa
paramagnetik hingga sekitar 0.001 K. Secara prinsip, temperatur yang lebih
rendah lagi dapat dicapai dengan menerapkan efek magnetokalorik berulangulang. Jadi setelah penaikan medan magnetik semula secara isoterm,
penurunan medan magnetik secara adiabat dapat dipakai untuk menyiapkan
sejumlah besar bahan pada temperatur T, yang dapat dipakai sebagai tandon
kalor untuk menaikan tandon kalor secara isoterm ynag berikutnya dari
sejumlah bahan yang lebih sedikit dari bahan semula. Penurunan medan
magnetik secara adiabat yang kedua dapat menghasilkan temperatur yang
lebih rendah lagi, T, dan seterusnya. Maka akn tibul pertanyaan apakah efek
magnetokalorik dapat dipakai untuk mendinginkan zat hingga mencapai nol
mutlak.
B. Tujuan Praktikum
a. Untuk mempelajari perubahan energi pada reaksi kimia
b. Untuk mengukur perubahan kalor dengan percobaan sederhana

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Termodinamika
1

Termodinamika (bahasa Yunani: thermos = 'panas' and dynamic =


'perubahan') adalah fisika energi , panas, kerja, entropi dan kespontanan
proses. Termodinamika berhubungan dekat dengan mekanika statistik di
mana banyak hubungan termodinamika berasal (Musyrafah, 2012). Pada
sistem di mana terjadi proses perubahan wujud atau pertukaran energi,
termodinamika klasik tidak berhubungan dengan kinetika reaksi (kecepatan
suatu proses reaksi berlangsung). Karena alasan ini, penggunaan istilah
"termodinamika" biasanya merujuk pada termodinamika setimbang. Dengan
hubungan ini, konsep utama dalam termodinamika adalah proses kuasistatik,
yang diidealkan, proses "super pelan".
Proses termodinamika bergantung-waktu dipelajari dalam termodinamika
tak-setimbang. Karena termodinamika tidak berhubungan dengan konsep
waktu, telah diusulkan bahwa termodinamika setimbang seharusnya
dinamakan termostatik.
a. SistemTermodinamika
Sistem termodinamika

adalah

bagian

dari

jagat

raya

yang

diperhitungkan. Sebuah batasan yang nyata atau imajinasi memisahkan


sistem dengan jagat raya, yang disebut lingkungan. Klasifikasi sistem
termodinamika berdasarkan pada sifat batas sistem-lingkungan dan
perpindahan materi, kalor dan entropi antara sistem dan lingkungan
(Chang, 2004).
Ada tiga jenis sistem berdasarkan jenis pertukaran yang terjadi antara
sistem dan lingkungan:
1) sistem terisolasi: tak terjadi pertukaran panas, benda atau kerja dengan
lingkungan. Contoh dari sistem terisolasi adalah wadah terisolasi,
seperti tabung gas terisolasi.
2) sistem tertutup: terjadi pertukaran energi (panas dan kerja) tetapi tidak
terjadi pertukaran benda dengan lingkungan. Rumah hijau adalah
contoh dari sistem tertutup di mana terjadi pertukaran panas tetapi tidak
terjadi pertukaran kerja dengan lingkungan. Apakah suatu sistem terjadi
pertukaran panas, kerja atau keduanya biasanya dipertimbangkan
sebagai sifatpembatasnya:

pembatas adiabatik: tidak memperbolehkan pertukaran panas.


pembatas rigid: tidak memperbolehkan pertukaran kerja.
3) sistem terbuka: terjadi pertukaran energi (panas dan kerja) dan benda
dengan lingkungannya. Sebuah pembatas memperbolehkan pertukaran
benda disebut permeabel. Samudra merupakan contoh dari sistem
terbuka.
Dalam kenyataan, sebuah sistem tidak dapat terisolasi sepenuhnya
dari lingkungan, karena pasti ada terjadi sedikit pencampuran, meskipun
hanya penerimaan sedikit penarikan gravitasi. Dalam analisis sistem
terisolasi, energi yang masuk ke sistem sama dengan energi yang keluar
dari sistem.
b. Keadaan Termodinamika
Ketika sistem dalam keadaan seimbang dalam kondisi yang
ditentukan, ini disebut dalam keadaan pasti (keadaan sistem). Untuk
keadaan termodinamika tertentu, banyak sifat dari sistem dispesifikasikan.
Properti yang tidak tergantung dengan jalur di mana sistem itu membentuk
keadaan tersebut, disebut fungsi keadaan dari sistem (Chang, 2004).
Bagian selanjutnya dalam seksi ini hanya mempertimbangkan properti,
yang merupakan fungsi keadaan. Jumlah properti minimal yang harus
dispesifikasikan untuk menjelaskan keadaan dari sistem tertentu
ditentukan oleh Hukum fase Gibbs. Biasanya seseorang berhadapan
dengan properti sistem yang lebih besar, dari jumlah minimal tersebut.
Pengembangan hubungan antara properti dari keadaan yang berlainan
dimungkinkan. Persamaan keadaan adalah contoh dari hubungan tersebut.
c. Usaha Luar
Usaha luar

dilakukan

oleh

sistem,

jika

kalor

ditambahkan

(dipanaskan) atau kalor dikurangi (didinginkan) terhadap sistem. Jika kalor


diterapkan kepada gas yang menyebabkan perubahan volume gas, usaha
luar akan dilakukan oleh gas tersebut. Usaha yang dilakukan oleh gas
ketika volume berubah dari volume awal V1 menjadi volume akhir V2 pada

tekanan p konstan dinyatakan sebagai hasil kali tekanan dengan perubahan


volumenya.
W = pV= p(V2 V1)
Tekanan dan volume dapat diplot dalam grafik p V. jika perubahan
tekanan dan volume gas dinyatakan dalam bentuk grafik p V, usaha yang
dilakukan gas merupakan luas daerah di bawah grafik p V. hal ini sesuai
dengan operasi integral yang ekuivalen dengan luas daerah di bawah
grafik.
Gas dikatakan melakukan usaha apabila volume gas bertambah besar
(atau mengembang) dan V2 > V1. sebaliknya, gas dikatakan menerima
usaha (atau usaha dilakukan terhadap gas) apabila volume gas mengecil
atau V2 < V1 dan usaha gas bernilai negatif.
d. Energi Dalam
Suatu gas yang berada dalam suhu tertentu dikatakan memiliki energi
dalam. Energi dalam gas berkaitan dengan suhu gas tersebut dan
merupakan sifat mikroskopik gas tersebut. Meskipun gas tidak melakukan
atau menerima usaha, gas tersebut dapat memiliki energi yang tidak
tampak tetapi terkandung dalam gas tersebut yang hanya dapat ditinjau
secara mikroskopik.
B. Hukum-Hukum Dasar Termodinamika
Menurut Oxtoby (2001) terdapat empat Hukum Dasar yang berlaku di dalam
sistem termodinamika, yaitu:
a. Hukum Awal (Zeroth Law) Termodinamika
Hukum ini menyatakan bahwa dua sistem dalam keadaan setimbang
dengan sistem ketiga, maka ketiganya dalam saling setimbang satu dengan
lainnya.
b. Hukum Pertama Termodinamika
Hukum ini terkait dengan kekekalan energi. Hukum ini menyatakan
perubahan energi dalam dari suatu sistem termodinamika tertutup sama

dengan total dari jumlah energi kalor yang disuplai ke dalam sistem dan
kerja yang dilakukan terhadap sistem.
c. Hukum Kedua Termodinamika
Hukum kedua termodinamika terkait dengan entropi. Hukum ini
menyatakan bahwa total entropi dari suatu sistem termodinamika terisolasi
cenderung untuk meningkat seiring dengan meningkatnya waktu,
mendekati nilai maksimumnya.
d. Hukum Ketiga Termodinamika
Hukum ketiga termodinamika terkait dengan temperatur nol absolut.
Hukum ini menyatakan bahwa pada saat suatu sistem mencapai temperatur
nol absolut, semua proses akan berhenti dan entropi sistem akan mendekati
nilai minimum. Hukum ini juga menyatakan bahwa entropi benda
berstruktur kristal sempurna pada temperatur nol absolut bernilai nol.
C. Kalor
Kalor adalah berbentuk energi yang menyebabkan suatu zat memiliki
suhu. Jika zat menerima kalor, maka zat itu akan mengalami suhu hingga
tingkat tertentu sehingga zat tersebut akan mengalami perubahan wujud,
seperti perubahan wujud dari padat menjadi cair. Sebaliknya jika suatu zat
mengalami perubahan wujud dari cair menjadi padat maka zat tersebut akan
melepaskan sejumlah kalor. Dalam Sistem Internasional (SI) satuan untuk
kalor dinyatakan dalam satuan kalori (kal), kilokalori (kkal), atau joule (J)
dan kilojoule (kj).
1 kilokalori= 1000 kalori
1 kilojoule= 1000 joule
1 kalori = 4,18 joule
1 kalori adalah banyaknya kalor yang diperlukan untuk memanaskan 1
gram air sehingga suhunya naik sebesar 1 oC atau 1K. jumlah kalor yang
diperlukan untuk menaikkan suhu 1oC atau 1K dari 1 gram zat disebut kalor
jenis Q=m.c. T, satuan untuk kalor jenis adalah joule pergram perderajat
Celcius (Jg-1oC-1) atau joule pergram per Kelvin (Jg-1oK-1) (Petrucci, 1987).

Pengukuran jumlah kalor reaksi yang diserap atau dilepaskan pada suatu
reaksi kimia dengan eksperimen disebut kalorimetri. Dengan menggunakan
hukum Hess, kalor reaksi suatu reaksi kimia dapat ditentukan berdasarkan
data perubahan entalpi pembentukan standar, energi ikatan dan secara
eksperimen. Proses dalam kalorimetri berlangsung secara adiabatik, yaitu
tidak ada energi yang lepas atau masuk dari luar ke dalam kalorimeter
(Aminah, 1998).
Kalor yag dibutuhkan untuk menaikan suhu kalorimeter sebesar 10oC
pada air dengan massa 1 gram disebut tetapan kalorimetri.
Dalam proses ini berlaku azas Black, yaitu:
Qlepas=Qterima
Qair panas= Qair dingin+ Qkalorimetri
m1 c (Tp-Tc)= m2 c (Tc-Td)+ C (Tc-Td)
Keterangan:
m1 = massa air panas
m2 = massa air dingin
c = kalor jenis air
C = kapasitas kalorimeter
Tp = suhu air panas
Tc = suhu air campuran
Td = suhu air dingin
Sedang hubungan kuantitatif antara kalor dan bentuk lain energi disebut
termodinamika. Termodinamika dapat didefinisikan sebagai cabang kimia
yang menangani hubungan kalor, kerja, dan bentuk lain energi dengan
kesetimbangan dalam reaksi kimia dan dalam perubahan keadaan.
Kalor reaksi dapat diperoleh dari hubungan maka zat (m), kalor jenis zat
(c) dan perubahan suhu (T), yang dinyatakan dengan persamaan berikut :
q = m.c.T
Keterangan:
q = jumlah kalor (Joule)
m = massa zat (gram)
T = perubahan suhu (takhir-tawal)
C = kalor jenis
D. Kalorimetri

Kalorimeter adalah jenis zat dalam pengukuran panas dari reaksi kimia
atau perubahan fisik. Kalorimetri termasuk penggunaan kalorimeter. Kata
kalormetri berasal dari bahasa latin yaitu calor, yang berarti panas.
Kalorimetri tidak langsung (indirect calorimetry) menghitung panas pada
makhluk hidup yang memproduksi karbon dioksida dan buangan nitrogen
(ammonia, untuk organisme perairan, urea, untuk organisme darat) atau
konsumsi oksigen. Lavoisier (1780) menyatakan bahwa produksi panas dapat
diperkirakan dari konsumsi oksigen dengan menggunakan regresi acak. Hal
ini membenarkan teori energi dinamik. Pengeluaran panas oleh makhluk
hidup ditempatkan di dalam kalorimeter untuk dilakukan langsung, di mana
makhluk hidup ditempatkan di dalam kalorimeter untuk dilakukan
pengukuran. Jika benda atau sistem diisolasi dari alam, maka temperatur
harus tetap konstan. Jika energi masuk atau keluar, temperatur akan berubah.
Energi akan berpindah dari satu tempat ke tempat yang disebut dengan panas
dan kalorimetri mengukur perubahan suatu tersebut. Bersamaan dengan
kapasitas dengan kapasitas panasnya, untuk menghitung perpindahan panas
(Keenan, 1980).
Pengukuran kalorimetri suatu reaksi dilakukan dengan menggunakan alat
yang disebut kalorimeter. Ada beberapa jenis kalorimeter seperti: kalorimeter
termos, kalorimeter bom, kalorimeter thienman, dan lain-lain. Kalorimeter
yang lebih sederhana dapat dibuat dari sebuah bejana plastik yang ditutup
rapat sehingga bejana ini merupakan sistim yang terisolasi. Cara kerjanya
adalah sebelum zat-zat pereaksi direaksikan di dalam kalorimeter, terlebih
dahulu suhunya diukur, dan usahakan agar masing-masing pereaksi ini
memiliki suhu yang sama. Setelah suhunya diukur kedua larutan tersebut
dimasukkan ke dalam kalorimeter sambil diaduk agar zat-zat bereaksi dengan
baik, kemudian suhu akhir diukur.
Jika reaksi dalam kalorimeter berlangsung secara eksoterm maka kalor
yang timbul akan dibebaskan ke dalam larutan itu sehingga suhu larutan akan
naik, dan jika reaksi dalam kalorimeter berlangsung secara endoterm maka
reaksi itu akan menyerap kalor dari larutan itu sendiri, sehingga suhu larutan

akan turun. Besarnya kalor yang diserap atau dibebaskan reaksi itu adalah
sebanding dengan perubahan suhu dan massa larutan jadi :
Qreaksi= mlarutan. Clarutan. T
Kalorimetri yang lebih teliti adalah yang lebih terisolasi serta
memperhitungkan kalor yang diserap oleh perangkat kalorimeter (wadah,
pengaduk, termometer). Jumlah kalor yang diserap/dibebaskan kalorimeter
dapat ditentukan jika kapasiatas kalor dari kalorimeter diketahui. Dalam hal
ini jumlah kalor yang dibebaskan /diserap oleh reaksi sama dengan jumlah
kalor yang diserap/dibebaskan oleh kalorimeter ditambah dengan jumlah
kalor yang diserap/dibebaskan oleh larutan di dalam kalorimeter. Oleh karena
energi tidak dapat dimusnahkan atau diciptakan, maka :
Qreaksi= (-Qkalorimeter- Qlarutan)
Pengukuran kalor reaksi, setara kalor reaksi pembakaran dapat dilakukan
dengan menggunakan kalorimeter pada tekanan tetap yaitu dengan
kalorimeter sederhana yang dibuat dan gelas stirofoam. Kalorimeter ini
biasanya dipakai untuk mengukur kalor reaksi yang reaksinya berlangsung
dalam fase larutan (misalnya reaksi netralisasi asam-basa/netralisasi,
pelarutan dan pengendapan) (Syukri, 1999).

BAB III METODOLOGI


A. Alat dan Bahan Praktikum
1. Alat Praktikum
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Buret 50 ml
Corong
Gelas arloji
Gelas Kimia 250 ml
Gelas ukur 50 ml
Gelas ukur 100 ml
Kalorimeter

h. Pipet tetes
i. Sendok
j. Termometer
k. Statif
l. Stopwatch
m. Timbangan analitik
n. Tissue

o.
2. Bahan Praktikum
a. Aquades (H2O)
b. Etanol 96% (C2H5OH)
c. Larutan Asam Klorida)
8

d. Larutan Natrium Hidroksida (NaOH) 2,05 M


e. Larutan Tembaga (II) Sulfat (CuSO4) 0,5 M
f. Padatan Sengn(Zn)
p.
B. Prosedur Kerja
1. Penentuan Tetapan Kalorimeter
a. Dimasukan 40 ml air ke dadam calorimeter dengan
buret, catat suhunya.
b. Dipanaskan 40 ml air dalam gelas kimia 25-30OC di
suhu kamar, catat suhunya.
c. Dicampurkan air panas ke dalam kalorimeter , aduk
selama 10 menit selang 1 menit setelah pencampuran.
q.
r.
s.
2. Penetuan Kalor PelarutbEtanol dalam Air
a. Dimasukkan 18 cm3 air kedalam calorimeter dengan
menggunakan gelas ukur.
b. Diukur suhu air dalam kalorimeter selama 2 menit
dengan selang waktu menit.
c. Diukur suhu 50 ml etanol dalam buret, dimasukkan
dengan tepat 29 cm3 stanol kedalam gelas kimia
menggunakan buret.
d. Dikocok mcampuran dalam kalorimeter, dicatat suhu
selama 4 menit dengan selang waktu menit.
3. Penentuan kalor penetralan HCl dan NaOH
a. Dimasukkan 20 cm3 HCl 2 M kedalam kalorimeter. Suhu
HCl.
b. Diukur 20 cm3 NaOH 2.05 m, dicatat suhu (atur
sedemikian rupa hingga suhunya sama dengan suhu
HCl).
c. Dicampurkan basa ini ke dalam kalorimeter dan catat
suhu campuran selama 5 menit dengan selang waktu
menit.
t.
u.
v.

w.
x.
y.
z.
aa.
ab.
ac.
ad.
ae.
af.
ag.
ah.
ai.
C. Skema kerja
1. Penentuan Tetapan Kalorimeter
aj.
ak. Masukkan 40 ml air
al. Dalam kalorimeter

Panaskan 40 ml
Dalam Gelas
Beker(50C)

am.

Catat Suhunya @3Xpengukuran

an.
ao.
ap.

aq.
Dicampurkan air panas ke
ar.
dalam kalorimeter
as.
at.
au.
av.
aw.

aduk selama 10 menit selang 1


menit setelah pencampuran
diukur suhunya.

ax.
ay.
az.
2. Penentuan Kalor Pelarut Etanol dalam Air

10

ba.

Masukkan 18 cm3

29cm3 etanol ke dalam


gelas kimia

bb. Dalam kalorimeter

bc.
bd.
Catat Suhunya @3Xpengukuran

be.
bf.
bg.

Digojoj campuran (kalorimeter)


bi.

bh.

Catat suhu selama 4 menit tiap


menit
3. Penentuan kalor penetralanHCL
dan NaOH 0,1 N
bj.
Dimasukkan 20cm3 HCL
Diukur 20cm3NaOH 2 M
bk.
2M ke dalam kalorimeter
kalorimeter
bl.
bm.
Catat Suhunya @3Xpengukuran

bn.
bo.
bp.
bq.

Digojoj campuran (kalorimeter)

br.

Catat suhu selama 5 menit tiap


menit

bs.
bt.

bu.

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN


bv.

A. Hasil
1. Termodinamika
a. Penentuan Tetapan Kalorimeter pada air dan air panas
bw.
Pen
gukuran
per menit
bz.
I

bx.
T by.
0
( C)
T (0K)
ca.
6

2 cb.
299
11

cc.

ci.

dz.

II

cd.
2 ce.
6
299
cf.
III
cg.
2 ch.
6
299
Tabel 1. Suhu air pada suhu ruang ber AC per menit dalam kalorimeter
cj.
ck.
Pen
cl.
T
gukuran
cm.
T (0K)
0
( C)
per menit
cn.
Air co.
5 cp.
323
Panas
0
cq.
Campuran (air panas + air)
cr.
I
cs.
3 ct.
309
6
cu.
II
cv.
3 cw.
308
5
cx.
III
cy.
3 cz.
308
5
da.
IV
db.
3 dc.
307
4
dd.
V
de.
3 df.
307
4
dg.
VI
dh.
3 di.
306
3
dj.
VII dk.
3 dl.
306
3
dm. VIII dn.
3 do.
306
3
dp.
IX
dq.
3 dr.
306
3
ds.
X
dt.
3 du.
306
2
dv.
Tot dw.
3 dx.
dy.
al
38
3069
306,8
Tabel 2. Suhu air panas dan suhu air ketika pencampuran per menit dalam
kalorimeter
ea.
1) Menghitung massa air
air x Vair
eb. M air =
gr
ec.
= 1 ml x 40 ml
ed.

= 40 gr
12

ee.
ef.
eg.
2) Suhu campuran
eh.
ei.
ej.

Tcamp =
=

T
n

338 C
10

= 33,8 C + 273 K
ek.
= 306,8 K
3) Perubahan suhu air dingin
T 1
el.
=
Tcamp Ta1
em.
= 306,8 K 299 K
en.
= 7,8 K
4) Perubahan suhu air panas
T 2
eo.
=
Ta2 Tcamp
ep.
= 323 K - 306,8 K
eq.
= 16,2 K
5) Kalor yang diserap air dingin
q1 = Ma2 x Sair x T 1
er.

es.

= 40 gr x 4,2

J
g.k

x 7,8 K

et.
= 1.310,4 J
6) Kalor yang dilepas air panas
eu. q2 = Ma2 x Sair x T
J
ev.
= 40 gr x 4,2 g . k

x 7,8 K

ew.
= 2.721,6 J
7) Menghitung kalor yang diterima kalorimeter
ex. q3 = q2 q1
ey.
= 2.721,6 1.310,4
ez.
= 1.411,2 J
fa.
fb.
fc.
fd.
8) Menghitung tetapan kalorimeter

13

fe.

K =

ff.

fg.

q3
T 1
1.411,2 J
7,8 K

= 180,92

J
K

9) Kalor yang diserap kalorimeter


fh.
Qk
=
K x T 2
J
fi.
= 180,92 K x 16,2 K
fj.
10)
fk.
fl.

= 2.930,904 J
Kalor yang dihasilkan pada larutan
Qlarutan
=
q1 + q2 + qk
=
1.310,4 J + 2.721,6 J + 2.930,904 J

fm.

= 6.962,904

11)

fq.

Entalpi pelarutan (

fn.

fo.

qlarutan
0,5

fp.

6.962,904
0,5

= 13.925,808

J
mol

fr.
fs.
ft.
fu.
fv.
fw.
fx.
fy.
fz.
14

)
qlarutan
mol

ga.
gb.
b. Penentuan kalor pelarutan etanol dalam air

hh.

gc.
Pen
gd.
gukuran per
ge.
T (0K)
T (0C)
30 detik
gf.
I
gg.
gh.
305
32
gi.
II
gj.
gk.
305
32
gl.
III
gm.
gn.
304
31
go.
IV
gp.
gq.
304
31
gr.
V
gs.
gt.
303
30
gu.
VI
gv.
gw.
303
30
gx.
VII gy.
gz.
303
30
ha.
VIII hb.
hc.
302
29
hd.
Tota he.
hf.
hg.
3
l
245
2429 03,625
Tabel 3. Suhu campuran etanol dan air dalam kalorimeter
hi.

1) Menghitung massa etanol


etanol x Vetanol
hj.
Metanol
=
gr
hk.
= 0,79 ml x 18 ml
hl.
= 14,22 gr
2) Menghitung suhu campuran
T
hm.
Tcamp =
n
hn.

245 C
8

ho.
= 30,625 C + 273 K = 303,625 K
3) Perubahan suhu air dingin
T 1 =
hp.
Tcamp Ta1

15

hq.

= 303,625 K 299 K

hr.
= 4,625 K
4) Perubahan suhu air panas
T 2 =
hs.
Ta2 Tcamp
ht.
= 323 K 303,625 K
hu.
= 19,375 K
5) Kalor yang diserap air dingin
hv. q1 = Ma1 x Sair x T 1
J
hw.
= 18 ml x 4,2 gr . k x 4,625 K
hx.
= 349,65 J
6) Kalor yang dilepas air panas
hy. q2 = Ma2 x Setanol x
hz.

= 29 ml x 1,92

J
gr . k

x 19,375 K

ia.
= 1.078,8 J
7) Menghitung kalor yang diterima kalorimeter
ib. q3 = q2 q1
ic.
= 1.078,8 349,65
id.
= 729,5 J
8) Menghitung tetapan kalorimeter
q3
ie. K
= T 1
if.
ig.

729,5 J
4,625 K
= 157,654

J
K

9) Kalor yang diserap kalorimeter


ih.
qk = K x T 2
J
ii.
= 157,654 k x 19,375 K
ij.
10)
ik.
il.
im.
11)

= 3.054,546 J
Kalor yang dihasilkan pada larutan
Q larutan
=
q1 + q2 + qk
=

349,65 J + 1.078,8 J + 3.054,546 J

=
4.482,996 J
Entalpi pelarutan ( H

16

in.

qlarutan
mol

io.

qlarutan
0,5

ip.

4.482,996
0,5

iq.

8.965,992

J
mol

ir.
is.
c. Penentuan kalor penetralan HCl dan NaOH
it.
Pen
gukuran
per menit
iw.
HCl
ix.
I
ja.

II

jd.

III

iu.
T iv.
0
( C)
T (0K)
iy.
5
jb.
5
je.
5

2 iz.
298
2 jc.
298
2 jf.
298

jg.
jh.

jq.

NaOH
I
ji.
2 jj.
5
298
jk.
II
jl.
2 jm.
5
298
jn.
III
jo.
2 jp.
5
298
Tabel 4. Suhu HCl dann NaOH sebelum pencampuran
jr.
js.
Pen
gukuran
per 30
detik
jv.
I

jt.

T
0

( C)
jw.
6

ju.

T (0K)

2 jx.

299

jy.

II

jz.
2

ka.299

kb.

III

kc.
2

kd. 2
99

17

ld.

ke.

IV

kf.
2

kg. 2
99

kh.

ki.
2

kj. 299

kk.

VI

kl.
2

km. 2
99

kn.

VII

ko.
2

kp. 2
99

kq.

VIII

kr.
2

ks.299

kt.

IX

ku.
2

kv.299

kw.

kx.
2

ky. 299

kz.
Tot la.
2 lb.
lc.
al
60
2990
299
Tabel 5. Suhu campuran HCl dan NaOH dalam kalorimeter
le.
1) Suhu mula mula ( Tm )
THcl +TNaoh
lf.
Tm
=
2
lg.

298 K +298 K
2

lh.
=
298 K
2) Suhu akhir ( Ta )
T
li.
Ta =
n
lj.

260 C
10

lk.
=
26 C + 273 K = 299 K
ll.
3) Perubahan suhu akhir ( Ta )

18

Ta
lm.
=
Ta Tm
ln.
=
299 K + 298 K
lo.
=
1
4) Perhitungan suhu T 2
T
lp.
=
TNaOH - Tcamp
lq.
=
298 K 299 K
lr.
=
-1 K
5) Volume larutan
ls.
Vlarutan =
VHCl + VNaOH
lt.
= 20 + 20
lu.
= 40 ml
6) Massa larutan
lv.
M larutan
=
VL x L
gr
lw.
= 40 ml x 1,03 ml
lx.
= 41,2 gr
7) Kalor yang diserap ( q1 )
ly. q1 = massa larutan x SL x Ta
J
lz.
= 41,2 gr x 3,96 gr x 1 K
ma.

J
K

163,152

8) Kalor yang diserap kalorimeter


mb. q2 =
k x T 2
massa larutan x S L x T
J
41,2 x 3,96 gr x (-1 K)

mc.

md.

me.

= - 163,152

J
K

9) Kalor yang dihasilkan reaksi (q3)


mf. q3 =
q1 + q2
mg.
=
163,152 K + (-163,152 K)
mh.
= 0
10)
Kalor penetralan / entalpi ( H )
q3
H =
mi.
mol

19

0J
0,05

mj.

mk.

= 6540,8

J
mol

ml.
B. Pembahasan
mm.Praktikum termodinamika yang bertujuan untuk mempelajari
perubahan energi pada reaksi dan untuk mengukur perubahan kalor dengan
percobaan yang sederhana menggunakan beberapa jenis cairan baik yang
bersifat netral, basa maupun asam.
mn.
mo. Pertama, pada saat penentuan tetapan kalorimeter pada air. Pada
percobaan ini dicampurkan antara aquades yang suhunya sama seperti suhu
ruang dengan aquades yang telah dipanaskan hingga 50 oC. Hasilnya adalah,
pada campuran aquades dingin dan aquades panas terjadi perubahan
temperature dimana panas atau kalor yang tinggi pada air panas tadi mulai
menurun dikarenakan air dingin. Hal ini disebabkan karena adanya kalor
yang diserap oleh aquades dingin terhadap aquades panas dan ada kalor yang
di lepaskan oleh aquades panas di dalam kalorimeter, sehingga kalor yang
dilepaskan aquades panas dan kalor yang diserap aquades dingin adalah
sama. Hal ini sesuai dengan hukum termodinamika I yang menyatakan
energi dalam sistem tersekat adalah tetap (asas kekebalan energi). Berlaku
juga asas black karena jika dua benda yang suhunya berbeda dicampur maka
benda yang lebih panas melepas kalor kepada benda yang lebih dingin dan
sebuah benda untuk menurunkan akan melepaskan kalor yang sama dengan
banyaknya kalor yang dibutuhkan benda tersebut untuk menaikkan suhunya
sebesar itu juga. Mengenai tetapan kalorimeter yang akan diperoleh melalui
percobaan ini tidak langsung dapat diukur, yang langsung dapat diukur adalah
temperaturnya, dari temperatur ini kemudian dapat diperoleh tetapan
kalorimeter dengan membuat perbandingan antara kalor yang diterima atau
diserap dan perubahan suhu yang diserap kalorimeter. Pada percobaan ini
diperoleh hasil tetapan kalorimeter 7,84 J/K.
20

mp.
mq. Pada percobaan kedua dapat disimpulkan bahwa hubungan antara
perbandingan mol air dan etanol, semakin besar, maka semakin besar pula
perbandingan mol air dan mol etanol. Pada percobaan ini juga terdapat suhu
yang turun, hal ini dapat disebabkan karena pengaruh suhu atau
ketidakpastian dalam melihat hasil pengamatan. Dapat dilihat bahwa jika
volume air diperbesar dan volume etanol diperkecil maka nilai akan besar
dan jika volume air diperkecil dan volume etanol diperbesar maka nilai akan
kecil. Jadi apabila etanol dilarutkan dalam air yang volumenya besar maka
dapat dikatakan dalam keadaan maksimum.
mr.
ms. Pada percobaan terakhir yaitu penentuan kalor penetralan Hcl dan
NaOH. Percobaan ini menggunakan hasil NaOH (Basa Kuat) yang
direaksikan dengan Hcl (Asam Kuat). Reaksinya adalah :
mt.
mu.

NaOH (aq) + Hcl (aq)

NaCl (aq)

mv.
mw. Penetralan adalah reaksi antara asam dan basa yang menghasilkan
garam dan air yang bersifat netral. Jika basa kuat dan asam kuat direaksikan
maka akan terbentuk garam (NaCL) yang bersifat netral. suhu campurannya
meningkatkan karena pada saat itu mengalami perubahan reaksi pada
permukaan luar kalorimeter suhu hangat, disebabkan kalor mengalir dari
sistem ke lingkungan yang disebut reaksi eksoterm.
mx.
my.
mz.
na.
nb.
nc.

nd.

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN


ne.

A. Kesimpulan

21

nf. Dari percobaan yang telah dilakukkan dapat disimpulkan bahwa :


1. Perubahan energi pada reaksi kimia terdapat dua jenis reaksi yang dapat
terjadi, yaitu reaksi eksoterm, reaksi yang melepas kalor sistem ke
lingkungan dan reaksi endoterm, reaksi yang menyerap kalor dari
lingkungan ke sistem.
2. Untuk mengukur perubahan kalor reaksi dapat dilakukan berdasarkan
hukum hess, data kalor pembentukan dan data energi ikatan.
ng.
B. Saran
1. Praktikan diharapkan lebih teliti dan hati- hati dalam mengambil bahan
yang akan digunakan saat praktikum.
2. Gunakan selalu alat pelindung diri dalam ruang laboratorium untuk
menjaga kesehatan dan keselamatan pada saat praktikan bekerja.
nh.
ni.

nj. DAFTAR PUSTAKA


nk.
nl. Aminah, Siti. 1998. Ilmu Kimia Dasar. Mataram: Universitas Mataram
nm.

Anonim,

2015

http://salminm0inti.wordpress.com/2011/06/11/makalahtermodinamika/ diakses tanggal 07 Desember 2015


nn.

Anonim,

2015,

http://muji-

rachman.blogspot.com/2010/01/makalah-termodinmikafisika.html diakses tanggal 07 Desember 2015


no.

Anonim, 2015, http://id.wikipedia.org/wiki/Termodinamika


diakses tanggal 07 Desember 2015

np.

Anonim,

2015,

http://aktifisika.wordpress.com/2009/02/25/termodinamika
/ diakses tanggal 07 Desember 2015

22

nq.

Anonim,

2015,

http://basicsphysics.blogspot.com/2009/09/termodinamika
.html diakses tanggal 07 Desember 2015
nr.

Anonim,

2015,

http://basistik.blogspot.com/2011/05/materi-fisikatermodinamika.html diakses tanggal 07 Desember 2015


ns. Chang, Rymond. 2004. Kimia Dasar. Jakarta: Erlangga
nt.

Keenan. 1980. Kimia untuk Universitas Jilid 1. Jakarta: Erlangga.


nu. Oxtoby. 2001. Prinsip Kimia Modern. Jakarta : Erlangga

nv.

Petrucci, Ralph H. 1987. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Jilid
2 Edisi 4. Jakarta: Erlangga.

nw.

Syukri, S. 1999. Kimia Dasar 1. Bandung: ITB.

nx.
ny.

23