Anda di halaman 1dari 33

QBL SERI 1

Kelompok H

DATA QBL A1
Seorang wanita berusia 45 tahun datang berobat ke Puskesmas dekat
rumahnya dengan keluhan sering terbangun pada malam hari untuk BAK
(>3x) yang memberat sejak 2 minggu. Saat ditanyakan lebih lanjut, pasien
memang sering haus dan minum cukup banyak sehingga sering BAK sejak 6
bulan terakhir yang dirasakan memberat sehingga mengganggu tidur pasien. Ia
juga merasa sering lapar dan dirasakan tidak ada kenaikan berat badan walaupun
makannya sudah banyak. Sebelumnya pasien tidak pernah ada keluhan dan
hampir tidak pernah memeriksakan diri ke dokter. Pasien memiliki 3 orang anak,
suami pasien bekerja sebagai guru SMA negeri.
Dari pemeriksaan fisis didapatkan tekanan darah 160/90 mmHg. Berat
badan saat ini 60 kg; tinggi badan 155 cm. Hasil glukosa darah sewaktu
254 mg/dL pada pemeriksaan dengan glukometer.

ANAMNESIS YANG PERLU


DITANYAKAN
Identitas

(pekerjaan, pendidikan, suku)

Keluhan

lemah, kesemutan, pandangan buram, baal, gatal di kemaluan,


luka yang lambat sembuh

Riwayat

penyakit dahulu (hipertensi, penyakit jantung koroner)

Pola

makan (frekuensi, jenis, jumlah)

Pola

aktivitas

Penggunaan

obat-obatan lain

Riwayat

penggunaan kontrasepsi dan riwayat kehamilan (GDM,


melahirkan bayi >4 kg)

Riwayat

penyakit keluarga

Power AC. Diabetes Mellitus: Diagnosis, Classification, and Pathophysiology. In: Longo D, Kasper D, Jameson J, Fauci A, Hauser S,
Loscalzo J. Harrisons Priciple of Internal Medicine. 19th ed. USA: McGraw-Hill Company; 2015

PEMERIKSAAN FISIK YANG


PENTING
Tanda
TB,

vital (TD, nadi, suhu, pernapasan)

BB, IMT

Funduskopi
Pemeriksaan

gigi-mulut (risiko penyakit periodontal)

Pemeriksaan

saraf (sensoris)

Pulsasi

perifer

ABI
Ekstremitas
Kulit

(deformitas, ulkus)

(bekas suntikan insulin, ruam)

Power AC. Diabetes Mellitus: Diagnosis, Classification, and Pathophysiology. In: Longo D, Kasper D, Jameson J, Fauci A, Hauser S,
Loscalzo J. Harrisons Priciple of Internal Medicine. 19th ed. USA: McGraw-Hill Company; 2015

MASALAH PASIEN DAN


PENGKAJIANNYA
DM

Tipe 2

Atas dasar:
Anamnesis: terdapat gejala klasik (polifagi, polidipsi, poliuri).
Pemeriksaan fisik: TD: 160/70 mmHg (hipertensi) dan overweight (IMT: 24,97
kg/m2) faktor risiko DM tipe 2
Pemeriksaan penunjang: Hasil pemeriksaan GDS: 254 mg/dl (>200 mg/dl).

PERKENI. Konsensus Pengendalian dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia. 2011

Susp.

Hipertensi stage II

Atas dasar:

Pemeriksaan fisik: TD: 160/90 mmHg (160mmHg)


Dipikirkan sebagai bagian dari sindrom metabolic
Diperlukan pemeriksaan tekanan darah kembali dalam 1 bulan

Overweight

Atas dasar:

Pemeriksaan fisik: IMT: 25 kg/m2


Dipikirkan sebagai bagian dari sindrom metabolik

Chobanian AV, et al. The seventh report of Joint National Committee on prevention,detection, evaluation, and
treatment of high blood pressure. Hypertension. 2003; 42: 1206-52
WHO expert. Appropriate body-mass index for Asian populations and its implications for policy and intervention
strategies. The Lancet. 2004; 363: 157-63

Jelaskan apakah pemeriksaan glukosa

reduksi di urin dan TTGO masih


diperlukan untuk menegakkan
diagnosis
pasien?
Tidak, karena diagnosis DM tipe 2 ditegakkan dengan terdapatnya
keluhan klasik DM (polifagi, polidipsi, dan poliuri) serta hasil
pemeriksaan GDS yang >200mg/dl

PERKENI. Konsensus Pengendalian dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia. 2011

Pasien tidak percaya hasil


pemeriksan dengan stik sehingga
meminta periksa laboratorium.
Berikan saran dan edukasi pada
Kadar gula darah yang terdapat diperiksa dengan stik merupakan kadar
pasien!
gula darah di kapiler sedangkan kadar gula darah yang diperiksa di
laboratorium merupakan kadar gula di vena. Kesalahan pada pemeriksaan
gula

darah

menggunakan

stik

dapat

terjadi

pada

pasien

dengan

hemoglobin yang abnormal dan pasien hipoperfusi. Berdasarkan penelitian


yang ada, didapatkan perbedaan hasil pemeriksaan kadar gula darah di
kapiler dan vena. Namun, perbedaan itu tidak terlalu signifikan dan yang
biasanya lebih rendah adalah kadar gula darah di kapiler. Gula darah vena
=1,1 x gula darah kapiler
Tirimacco R, et al. Should capillary blood glucose measurements be used in population surveys? International Journal of
Diabetes Mellitus 2. 2010: 24-7
American Diabetes Association. Standard of medical care in diabetes 2015. Diabetes Care. 2015; 38 (suppl): S1-92

Oleh

karena itu, untuk penegakan diagnosis sebenarnya sudah

bisa

ditegakkan

melalui

pemeriksaan

gula

darah

sewaktu

menggunakan stik. Selain itu, hasil pemeriksaan gula darah stik


sesuai

dengan

gejala

yang

dialami

pasien.

Akan

tetapi,

pemeriksaan kadar gula darah di laboratorium tetap dapat


dilakukan

sesuai

keinginan

pasien.

Pasien

perlu

diberitahu

mengenai harga pemeriksaan di laboratorium yang lebih mahal


dan prosedur pemeriksaan gula darah di vena (GDP dan GDPP2).
Tirimacco R, et al. Should capillary blood glucose measurements be used in population surveys? International Journal of
Diabetes Mellitus 2. 2010: 24-7
American Diabetes Association. Standard of medical care in diabetes 2015. Diabetes Care. 2015; 38 (suppl): S1-92

Jelaskan penunjang yang diperlukan


jika fasilitas lengkap dan tujuannya!
Profil

lipid (menilai penyulit dyslipidemia yang meningkatkan risiko


penyakit kardiovaskular)

Kreatinin

serum melihat fungsi ginjal pasien

Urinalisis

(glukosa, albumin,keton, sedimen, protein)

Rontgen
EKG

dada pasien DM rentan TBC paru

DM faktor risiko penyakit jantung koroner

Funduskopi

(komplikasi retinopati)

Power AC. Diabetes Mellitus: Diagnosis, Classification, and Pathophysiology. In: Longo D, Kasper D, Jameson J, Fauci A, Hauser S,
Loscalzo J. Harrisons Priciple of Internal Medicine. 19th ed. USA: McGraw-Hill Company; 2015

Jelaskan tatalaksana komprehensif


dan kapan pasien harus kontrol?
Tujuan

akhir: menurunkan morbiditas dan mortalitas DM

Evaluasi

medis lengkap (riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, dan

laboratorium; rujuk sesuai kebutuhan)


Evaluasi
Pilar

medis berkala

penatalaksanaan DM (edukasi, terapi gizi medis, latihan jasmani,

intervensi farmakologis). Dimulai dengan pengaturan makan dan latihan


jasmani (2-4 minggu). Jika belum terkontrol, dilakukan intervensi
farmakologi
PERKENI. Konsensus Pengendalian dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia. 2011

Edukasi

Pemantauan glukosa darah mandiri


Tanda dan gejala hipoglikemi serta cara mengatasi

Terapi

nutrisi medis

Gizi seimbang sesuai kebutuhan kalori dan zat gizi masing-masing


individu
Keteraturan dalam hal jadwal makan, jenis, dan jumlah makanan
Karbohidrat (45-65% total asupan energi), lemak (<30% total asupan
energi), protein (10-20% total asupan energi)
Kebutuhan kalori berdasarkan berat badan ideal, jenis kelamin, umur,
aktivitas fisik

PERKENI. Konsensus Pengendalian dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia. 2011

Latihan

jasmani

Teratur (3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit)


Aerobic (jalan kaki, bersepeda santai, jogging, berenang)

Terapi

farmakologis

Diberikan bersama dengan pengaturan makan dan latihan jasmani


Obat hipoglikemik oral dan insulin

KAPAN

KONTROL?

2 minggu sejak kunjungan pertama. Untuk mengevaluasi latihan


jasmani dan pengaturan pola makan yang dilakukan

PERKENI. Konsensus Pengendalian dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia. 2011

DATA QBL A2
Setahun kemudian, pasien dibawa Puskesmas oleh keluarganya karena cenderung
mengantuk sejak pagi. Terdapat luka di telapak dan punggung kaki kanan pasien
yang tidak sembuh sejak seminggu. Pasien baru menyadari ada luka setelah
diberitahu oleh suaminya dan hanya diobati sendiri dengan kompres Rivanol.
Selama ini pasien enggan kontrol DM ke dokter karena setelah minum obat DM
dari dokter puskesmas, pasien merasa sangat lemas sehingga memilih berobat
alternatif atas anjuran tetangganya.
Dari pemeriksaan fisis didapatkan E3M6V4; tekanan darah 90/50mmHg;
frekuensi nadi 112x/menit, isi kurang; frekuensi napas 28x/menit, cepat dan
dalam; suhu 38,2C; konjungtiva pucat; sklera tak ikterik; cor, pulmo, dan
abdomen dalam batas normal; tidak edema pitting pretibial kedua tungkai.
Glukosa darah sewaktu 400 mg.

Jelaskan pelaporan status


lokalis luka pada pasien!
Lokasi,

jenis lesi, warna, ukuran (dalamnya diukur pada ulkus),


bentuk, tepi, persebaran, pulsasi

Jelaskan daftar masalah


beserta pengkajiannya!
Ketoasidosis

diabetik

Atas dasar:

Anamnesis: pasien tampak mengantuk sejak pagi, terdapat riwayat DM tetapi


jarang kontrol,
Pemeriksaan fisik: GCS: E3M6V4, nafas kusmaul yang merupakan tanda
asidosis metabolik, hipotensi, takikardi, luka di kaki yg tidak sembuh 1
minggu (sumber infeksi)
Pemeriksaan penunjang: GDS 400mg/dl
Perlu dilakukan anamnesis lebih lanjut, identifikasi adanya fruity odor
breathing, pemeriksaan keton, pemeriksaan pH darah, dan pemeriksaan
serum bikarbonat
Diagnosis banding: status hiperglikemi hiperosmolar

Tarigan TJE. Ketoasidosis diabetik. In: Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW, Simadibrata M, Setiyohadi B, Syam AF, editor. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam. 6th ed. Jakarta: Interna Publishing; 2014
Power AC. Diabetes Mellitus: Management and therapies. In: Longo D, Kasper D, Jameson J, Fauci A, Hauser S, Loscalzo J. Harrisons
Priciple of Internal Medicine. 19th ed. USA: McGraw-Hill Company; 2015

DM

tipe 2 tidak terkontrol dengan komplikasi neuropati perifer

Atas dasar:
Anamnesis: riwayat DM tipe 2 sebelumnya, jarang kontrol, luka yang tidak
disadari
Pemeriksaan penunjang: GDS 400 mg/dl

Ulkus

diabetikum

Atas dasar:
Anamnesis: riwayat DM, luka yang tidak disadari (akibat neuropati perifer),
luka tidak sembuh selama seminggu
Pemeriksaan fisik: status lokalis luka
Perlu dilakukan pemeriksaan ABI untuk menilai apakah terdapat penyakit
vaskular perifer

Power AC. Diabetes Mellitus: Complications. In: Longo D, Kasper D, Jameson J, Fauci A, Hauser S, Loscalzo J.
Harrisons Priciple of Internal Medicine. 19th ed. USA: McGraw-Hill Company; 2015

Gambarkan kerangka masalah


DM tipe II
tidak
terkontrol
Neuropati
diabetik

Ulkus
diabetik

Ketoasidos
is diabetik

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan

dasar gula darah

Elektrolit
Analisis
Keton

gas darah (pH, HCO3)

darah dan urin

Osmolalitas

serum

Darah

perifer lengkap dengan hitung jenis

Anion

gap

EKG
Foto

polos dada

Tarigan TJE. Ketoasisdosis Diabetik. In: Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW, Simadibrata M, Setyohadi B, Syam AF, editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 6 th ed.
Jakarta: Interna Publishing; 2014.

Tatalaksana awal pada pasien


Cairan

Salin isotonik (NaCL 0.9%) dg dosis 15-20 cc/kgBB/jam


pertama
intravena dosis rendah 0.1-1.15 unit/jam diharapkan
penurunan glukosa plasma 50100mg/dl setiap jam

Insulin

Sampai

200mg/dl kemudian insulin diturunkan menjadi 0,02-0,05


unit/kgbb/jam glukosa 150-200 infus dekstrose untuk
mencegah hipoglikemia

Pemberian
Koreksi

kalium tergantung dari nilai kalium pasien

bikarbonat jika pH<6.9

fosfat jika serum fosfat<1 mg/dL disertai disfungsi


kardiak, anemia, atau depresi nafas, akibat kelemahan otot

Koreksi

Tarigan TJE. Ketoasisdosis Diabetik. In: Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW, Simadibrata M, Setyohadi B, Syam AF, editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 6 th ed.
Jakarta: Interna Publishing; 2014.

Kapan pasien dirujuk dan


bagaimana cara merujuknya
diabetikum(3B) rujuk dengan ditegakkan terlebih
dahulu diagnosisnya dan diberikan terapi pendahuluan

Ketoasidosis
Rujuk

saat kondisi tanda vital pasien stabil

Pemantauan

tanda vital pasien selama dalam perjalanan ke


tempat rujukan.

Patofisiologi/patogenesis yg
membawa pasien berobat saat ini

Tariga TJE. Ketoasisdosis Diabetik. In: Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW, Simadibrata M, Setyohadi B, Syam AF, editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 6 th ed. Jakarta:
Interna Publishing; 2014.

Patofisiologi kondisi sgt lemas setelah minum obat


DM dari puskesmas setahun yll dan sbg dokter
apa yg harus dilakukan jika pasien mengeluhkan
hal tsb saat kontrol

Keadaan hipoglikemi adalah suatu keadaan yg disebabkan oleh menurunnya kadar


glukosa dalam darah sempai pada tingkat tertentu sehingga memberikan keluhan
dan gejala.

Hipoglikemi terjadi ketika tubuh gagal mempertahankan kadar normal glukosa


darah(GD) oleh penyebab dari luar ataupun dalam tubuh. Keadaan ini disebabkan
oleh ketidakmampuan tubuh mengatur regulasi glukosa melalui rangkaian beberapa
proses yang seimbang. Keseimbangan tsb dipengaruhi oleh beberapa hormon
penting yakni insulin, glukagon, epinefrin(adrenalin), kortisol, dan growth hormon.

Kemungkinan penyebab hipoglikemia pada pasien ini adalah karena penggunaan


obat diabetes pemicu sekresi insulin seperti golongan sulfonilurea yang berlebihan
atau pemakaiannya yang salah.

Pertama harus dipastikan terlebih dahulu cara pemakaian obat sudah benar/belum.
Jika sudah benar, tetapi masih menyebabkan keluhan ini, maka dilakukan
penggantian obat diabetes golongan lain.

Manaf A. Hipoglikemi : Pendekatan Klinis dan Penatalaksanaan. In: Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW, Simadibrata M, Setyohadi B, Syam AF, editor. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam. 6th ed. Jakarta: Interna Publishing; 2014.

Data QBL A3
Pasien pulang perawatan rumah sakit 3 minggu kemudian dan melanjutkan perawatan
luka dua hari sekali di puskesmas terdekat. Menurut pasien saat ini ia harus
menyuntikkan 2 jenis insulin, yaitu yang disuntikkan 30 menit sebelum maka (15 unit
per kalinya) dan yang disuntikkan 1x sehari pada pukul 21.00 (8 unit), serta
mendapatkan simvastatin 1x10 mg yang diminum malam hari dan captopril 3x25 mg
yang diminum sebelum makan. Pasien mengeluh batuk kering sejak seminggu. Dari
pemeriksaan fisis didapatkan berat badan 55 kg; tekanan darah 120/80 mmHg; tanda
vital lain dalam batas normal. Konjungtiva agak pucat; sklera tak ikterik; faring
tak hiperemis; cor, pulmo, dan abdomen dalam batas normal. Ibu jari kaki kanan
pasien telah diamputasi, kondisi luka baik, terdapat jaringan granulasi, tidak ada
pus. Refleks achiles menurun pada kedua tungkai.

Hasil laboratorium terakhirsaat di RS menunjukkan: A1C 8,5%; Hb 10 g/dL; leukosit


8.000/mm3; trombosit 250.000/mm3; hitung jenis 0/1/5/65/24/5; MCV 85 fl; MCH 28
pg; ureum 45mg/dL; kreatinin 1,7mg/dL; kolesterol total 280; LDL 150; HDL 35;
trigliserida 240; SGOT 30 U/L; SGPT 35 U/L. Urin lengkap protein urin +1. Protein
urin kuantitatif 24 jam: 500 mg, dan hasil pemeriksaan kedua 400 mg/24 jam. Hasil

Data QBL A3

Komplikasi DM yang terjadi pada pasien beserta


patofisiologinya

Berawal dari
hiperglikemia
berkepanjangan

Manifestasi patologis
berupa
glomerulosklerosis dg
penebalan membran
basalis di glomerulus
dan ekspanasi
mesangial serta
peningkatan
penimbunan MES

Berakibat tjd
peningkatan aktivitas
jalur poliol, sintesis
AGEs, pembentukan
radikal bebas dan
PKC.

Disebabkan oleh
perubahan metabolik
yakni pembentukan
AGEs sbg konsekuensi
hiperglikemia &
peningkatan jalur
aldolase

Aktivitas tsb berujung


pada kurangnya
vasodilatasi shg
aliran darah ke saraf
menurun, dan
rendahnya mioinositol

Disebabkan oleh
perubahan
hemodinamik yakni
peran vasokonstriktor
dalam perkembangan
dan perburukan
komplikasi
mikrovaskular

Neuropati
Diabetik

Nefropati
Diabetik

Retinopati
Diabetikum

Terjadi melalui lima


proses di tingkat kapiler
yakni (1)pembentukan
mikroaneurisma
(2)peningkatan
permeabilitas
(3)penyumbatan
(4)neovaskularisasi
(5)kontraksi jar.fibrosis
kapiler dan vitreus

Hendromartono. Nefropati diabetik. In: Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW, Simadibrata M, Setyohadi B, Syam AF, editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 6 th ed. Jakarta: Interna Publishing; 2014.
Subekti I. Neuropati diabetik. In: Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW, Simadibrata M, Setyohadi B, Syam AF, editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 6 th ed. Jakarta: Interna Publishing; 2014.
Pandelaki K. Retinopati Diabetik. In: Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW, Simadibrata M, Setyohadi B, Syam AF, editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 6 th ed. Jakarta: Interna Publishing; 2014.

Patofisiologi abnormal lipid


Abnormal

lipid terjadi akibat resistensi insulin disertai dengan


disfungsi enzim lipoprotein lipase. Disfungsi enzim ini
mengakibatkan (1)peningkatan kadar TG-VLDL, hasil dari
metabolisme FFA di hati akibat dari peningkatan lipolisis dan
(2)persistent-prolonged chylomicron-TG dalam darah

Prinsip penatalaksanaan kaki DM


Penatalaksanaan

tergantung dari stadium kaki diabetes.

Penatalaksanaan

holistik mencakup kontrol luka dan kontrol infeksi

yang terjadi.

Hal

yang tetap harus dikendalikan untuk optimalisasi pengelolaan


kaki diabetes yakni
Mechanical control-pressure control
Metabolic control
Vascular control
Educational control
Wound control
Microbiologic control-infection control

Waspadji S. Kaki Diabetes. In: Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW, Simadibrata M, Setyohadi B, Syam AF, editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 6 th ed. Jakarta: Interna
Publishing; 2014.

Prinsip pemilihan, penentuan


dosis, dan pemantauan terapi
Indikasi
Terapi Insulin
insulin
Indikasi Mutlak
DMT 1
Indikasi Relatif
Gagal mencapai target dengan penggunaan kombinasi OHO dosis optimal 3-6 bulan
DMT2 rawat jalan dengan :
- kehamilan
- infeksi paru (tuberkulosis)
- kaki diabetik terinfeksi
- fluktuasi glukosa darah yang tinggi
- riwayat ketoasidosis berulang
- riwayat pankreotomi
Selain indikasi di atas, kondisi tertentu yang memerlukan pemakaian insulin yakni
penyakit hati kronis, gangguan fungsi ginjal, dan terapi steroid dosis tinggi

Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. Petunjuk praktis terapi insulin pada pasien diabetes mellitus. Jakarta : Pusat penerbitan Ilmu penyakit dalam; 2011

Prinsip pemilihan, penentuan


dosis, dan pemantauan terapi
insulin(2)
Penentuan dosis

Insulin basal : u/ pertahankan kadar GDP atau sebelum makan selalu dalam
batas normal
Pada awal pemberian diberikan 10 unit/hari, diberikan sebelum tidur(kerja
menengah/panjang) atau pagi hari(kerja panjang)
Untuk dosis harian, dapat dinaikkan 2 unit setiap 3 hari jika kadar GD belum
tercapai(antara 70-130 mg/dL)
Dapat juga dinaikkan 4 unit setiap 3 hari jika kadar GDP masih di atas 180 mg/dL

Insulin prandial : u/menekan kadar GD setelah makan agar tetap dalam


batas normal

Inisiasi pemberian insulin 4 unit setiap sebelum sarapan, makan siang, dan
makan malam. Kemudian cek GDS hingga <160-180 mg/dL. Jika belum mencapai
target, naikkan 2 unit setiap 3 hari. Jika sudah sesuai, total dosis dibagi tiga

Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. Petunjuk praktis terapi insulin pada pasien diabetes mellitus. Jakarta : Pusat penerbitan Ilmu penyakit dalam; 2011

Prinsip pemilihan, penentuan


dosis, dan pemantauan terapi
insulin(3)
Pemantauan terapi insulin

Kontrol rutin
Pemantauan gula darah rutin
Edukasi tanda hipoglikemia dan penatalaksanaan awalnya

Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. Petunjuk praktis terapi insulin pada pasien diabetes mellitus. Jakarta : Pusat penerbitan Ilmu penyakit dalam; 2011

Kemungkinan penyebab batuk


Penyebab

batuk yang terjadi pada pasien kemungkinan akibat obat


antihipertensi golongan ACE-inhibitor yakni captopril yang mana
memiliki efek samping batuk.

Rencana selanjutnya sebagai


dokter puskesmas dan edukasi
yang diberikan
Rencana

Rujuk ke spesialis Penyakit dalam untuk tatalaksana komplikasi DM nya.


Evaluasi lengkap termasuk pemeriksaan untuk faktor penyebab lain, penilaian fungsi ginjal,
ada/tidaknya hubungan dengan faktor komorbid lain, pemeriksaan rutin ada tidaknya penyakit jantung
koroner
Kontrol gula darah, profil lipid
Mencegah progesivitas dengan kontrol tekanan darah, kontrol glikemik yg intensif, berhenti merokok,
penurunan BB dan restriksi protein
Perawatan umum/kaki
Pemantauan terapi insulin

Edukasi

Tentang penyakit dan komplikasi yang dialami pasien


Pentingnya menjaga kebersihan/perawatan kakinya
Pentingnya memantau kadar gula darah
Pentingnya pemakaian obat yang teratur
Edukasi modifikasi latihan untuk melatih kakinya