Anda di halaman 1dari 125

KATA PENGANTAR

Buku ini adalah salah satu bentuk tugas untuk memenuhi syarat kelulusan mata kuliah
SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum). Dalam waktu satu semester, akhirnya buku ini dapat
terselesaikan. Semoga tujuan pengerjaan tugas ini, yakni untuk menambah pemahaman mahasiswa
dapat dicapai dengan baik. Dukungan berbagai pihak sangat membantu saya dalam menyelesaikan
tugas ini dengan baik. Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada:
1. Allah yang telah memberi kemudahan dan kesehatan,
2. Ibu, Ayah, Kakak, dan keluarga atas segala dukungan baik moral, materi, maupun
doanya,
3. Bapak Alfan selaku dosen mata kuliah yang senantiasa memberikan ilmu,
4. Bapak Bowo selaku dosen pembimbing,
5. Teman-teman dan sahabat-sahabat atas kebersamaan, kritik, saran dan keceriaannya,
Sebagaimana peribahasa menyebutkan bahwa tiada gading yang tak retak, begitupun
dengan penyusunan buku ini. Oleh karenanya, saya dengan senang hati menerima segala kritik dan
saran yang membangun untuk kemajuan yang lebih baik, silahkan menghubungi saya melalui
ayunoerss@gmail.com.

Surabaya, 25 Desember 2014

Ayu Noer Annisa

1|AYU NOER ANNISA/ 3312 100 085

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

DAFTAR GAMBAR

DAFTAR TABEL

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


1.2 MAKSUD DAN TUJUAN
1.3 RUANG LINGKUP

8
9
9

BAB 2

11

GAMBARAN UMUM

11

2.1 GEOGRAFI
2.2 TOPOGRAFI
2.3 HIDROLOGI DAN KLIMATOLOGI

11
12
13

BAB 3

15

TINJAUAN PUSTAKA

15

3.1 PROYEKSI PENDUDUK


3.2 METODA PROYEKSI PENDUDUK
3.3 PROYEKSI FASILITAS
3.4 KEBUTUHAN AIR DAN FLUKTULASINYA
3.4.1 KEBUTUHAN DOMESTIK
3.4.2 KEBUTUHAN NON DOMESTIK
3.4.3 KEBOCORAN AIR
3.4.4 FLUKTUASI KEBUTUHAN AIR
3.5 SISTEM DISTRIBUSI AIR
3.6 SISTEM JARINGAN INDUK DISTRIBUSI
3.7 SISTEM PERPIPAAN DISTRIBUSI
3.8 JENIS PIPA DAN PERALATANNYA
3.8.1 JENIS PIPA
3.8.2 TEKANAN KERJA PIPA
3.8.3 PERLENGKAPAN PIPA
3.8.4 SAMBUNGAN PIPA DAN PERLENGKAPANNYA

15
15
17
18
18
20
21
22
24
24
26
27
27
28
29
32

2|AYU NOER ANNISA/ 3312 100 085

3.9 HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM PERENCANAAN


3.9.1 KECEPATAN ALIRAN
3.9.2 SISA TEKANAN
3.9.3 KEHILANGAN TEKANAN
3.10 PERHITUNGAN DIMENSI PIPA
3.10.1 HARDY-CROSS
3.10.2 PROGRAM EPANET
3.11 RESERVOIR DAN POMPA
3.11.1 VOLUME RESERVOIR
3.11.2 SISTEM POMPA
3.11.3 KAPASITAS POMPA
3.11.4 HEAD SISTEM POMPA

35
35
35
35
36
36
37
40
40
41
41
41

BAB 4 KRITERIA PERENCANAAN

42

4.1 AREA DAN BLOK PELAYANAN


4.2 PROYEKSI PENDUDUK
4.3 KEBUTUHAN AIR BERSIH
4.4 SISTEM DISTRIBUSI
4.5 PERPIPAAN DAN TEKANAN DALAM PIPA
4.6 POMPA DAN RESERVOIR

42
ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED.
42
43
43
ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED.

BAB 5

44

PERHITUNGAN PROYEKSI PENDUDUK DAN KEBUTUHAN AIR BERSIH

44

5.1 PROYEKSI PENDUDUK


5.1.1 METODE ARITMATIKA
5.1.2 METODE BERGANDA (GEOMETRIK)
5.1.3 METODE SELISIH KUADRAT MINIMUM (LEAST SQUARE)
5.2 PROYEKSI FASILITAS
5.3 PENENTUAN AREA PELAYANAN DAN TOTAL KEBUTUHAN AIR
5.3.1 KEBUTUHAN AIR BERSIH DOMESTIK
5.4 PEMBAGIAN BLOK PELAYANAN DAN KEBUTUHAN AIR BERSIH TIAP BLOK

44
45
46
48
52
58
58
64

BAB 6

68

PERENCANAAN DAN PERHITUNGAN PIPA, RESERVOIR, DAN POMPA

68

6.1 ANALISA JARINGAN PIPA


6.1.1 ANALISA HARDY CROSS
6.1.2 ANALISA DENGAN KOMPUTER (PROGRAM EPANET)
6.2 PERHITUNGAN RESERVOIR
6.3 PEMILIHAN POMPA DISTRIBUSI GRUNDFOS

68
68
71
84
86

BAB 7

91

3|AYU NOER ANNISA/ 3312 100 085

DETAIL JUNCTION

91

7.1 SIMBOL DETAIL JUNCTION


7.2 PERHITUNGAN DETAIL JUNCTION

91
93

BAB 8

108

BILL OF QUANTITY (BOQ) DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB)

108

8.1 BOQ PERPIPAAN


8.2 BOQ AKSESORIS PIPA
8.3 BOQ PENANAMAN PIPA
8.4 BOQ PEMBETONAN TRUST BLOCK
TRUST BLOCK UNTUK BEND 90
TRUST BLOCK UNTUK INCREASER DAN REDUCER
8.5 BOQ RESERVOIR

108
108
110
115
116
117
121

BAB 9

124

PROFIL HIDROLIS SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM

124

DAFTAR PUSTAKA

125

4|AYU NOER ANNISA/ 3312 100 085

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Peta Batas Administrasi Kabupaten Bojonegoro
11
Gambar 2.2 Peta Kecamatan Bojonegoro
12
Gambar 3.1 Pola Jaringan Distribusi cabang
25
Gambar 3.2 Pola Jaringan Distribusi Loop
26
Gambar 3.3 Gate Valve
29
Gambar 3.4 Air Release Valve
29
Gambar 3.5 Blow Off Valve
30
Gambar 3.6 Cek Valve ( Non Return Valve)
30
Gambar 3.7 Trust Blok untuk Tee All Flange
31
Gambar 3.8 Pelintasan pipa melewati sungai
31
Gambar 3.9 Manhole
31
Gambar 3.10 Meter Tekanan
32
Gambar 3.11 Meter Air
32
Gambar 3.12 Clam Saddle
32
Gambar 3.13 Bell dan Spigot
33
Gambar 3.14 Flange Joint
33
Gambar 3.15 Bend
33
Gambar 3.16 Increaser dan Reducer
34
Gambar 3.17 Tee
34
Gambar 3.18 Tapping Band
34
Gambar 3.19 G-Bault Join
34
Gambar 3.20 Menentukan satuan dimensi dalam Epanet
38
Gambar 3.21 Menentukan satuan dimensi dalam Epanet (meter)
38
Gambar 3.22 Mengatur mengenai dasar-dasar jaringan pipa pada Epanet
38
Gambar 3.23 Mengatur mengenai satuan debit, formula headloss, maximum trial dan deman multiplier
pada Epanet
39
Gambar 5.1 Pipa Utama Kecamatan Bojonegoro
64
Gambar 5.2 Blok Pelayanan Air Minum Kecamatan Bojonegoro Tahun 2024
67
Gambar 6.1 Memasukkan Peta Pada Program Epanet
72
Gambar 6.2 Peta Bojonegoro pada Program Epanet
72
Gambar 6.3 Menentukan Satuan Dimensi dalam Epanet (meter) Kota Bojonegoro
73
Gambar 6.4 Menentukan Default Dimensi Debit, Headloss Formula, Maximum Trial dan Demand
Multiplier dalam Epanet Kota Bojonegoro
73
Gambar 6.5 Toolbar Browser Data Options Hydraulics pada Epanet
74
Gambar 6.6 Toolbar Hydraulics pada Epanet
74
Gambar 6.7 Toolbar Times Option pada Epanet
75
Gambar 6.8 Jaringan Pipa Induk
75
Gambar 6.9 Memasukkan Data Pipa pada Jaringan Induk
76
Gambar 6.10 Run Data Epanet
78
Gambar 6.11 Tampilan Nodes dan Links Hasil Run
78
Gambar 6.12 Memasukkan Data Head dan Debit Pompa
79
Gambar 6.13 Toolbar Browser Data-Pump
80
Gambar 6.14 Memasukkan Kurva Pompa ke Data Pompa
80
Gambar 6.15 Membuka WebCAPS pada Aplikasi Grundfos
87
Gambar 6.16 Default setting untuk Product Range
87
Gambar 6.17 Default setting untuk User Defined
88
Gambar 6.18 Catalog pada WebCAPS
88
Gambar 6.19 Jenis Pompa yang Dipilih
88
Gambar 6.20 Memasukkan Kriteria Pompa
89
Gambar 6.21 Pilihan Pompa sesuai Kriteria yang Diperlukan
89
Gambar 6.22 Grafik Pilihan Pompa Sesuai Kriteria yang Diperlukan
90
Gambar 6.23 Dimensi Pompa Sesuai Kriteria yang Diperlukan
90
Gambar 7.1 Simbol Valve yang Ada di Autocad
91
Gambar 8.1 Penggalian Pipa
110
Gambar 8.2 Potongan A-A
110
Gambar 8.3 Potongan B-B
111
Gambar 8.2 Trust Block untuk bend 45
115
Tabel 8.6 BOQ Pembetonan Trust Blok Bend 45 0
116

5|AYU NOER ANNISA/ 3312 100 085

Gambar 8.3 Trust Block untuk bend 90


Gambar 8.4 Trust Block untuk Increaser dan Reducer
Gambar 8.5 Trust Block untuk Tee All Flange
Gambar 8.8 Ground Reservoir dan Elevated
Gambar 8.9 Potongan A-A Ground Reservoir
Gambar 8.10 Potongan B-B Ground Reservoir dan Elevated

116
117
119
121
121
121

6|AYU NOER ANNISA/ 3312 100 085

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Luas Tanah Kering dan Tanah Sawah Masing-Masing Kelurahan
Tabel 2.2 Nama, Panjang, dan Debit Air Sungai di Kabupaten Bojonegoro
Tabel 3.1 Kebutuhan Air Bersih Untuk Domestik Berdasarkan Kategori Kota
Tabel 3.2 Kebutuhan Air Domestik Berdasarkan P3KT
Tabel 3.3 Kebutuhan Air Non Domestik
Tabel 3.4 Faktor Hari Maksimum dan Faktor Jam Puncak Berdasarkan Kategori Kota
Tabel 5.1 Data Penduduk Kota Bojonegoro Tahun 2000 - 2010
Tabel 5.2 Perhitungan Nilai Korelasi Metode Aritmatik
Tabel 5.3 Perhitungan Nilai Korelasi Metode Geometri
Tabel 5.4 Perhitungan Nilai Korelasi Metode Least Square
Tabel 5.5 Hasil Perhitungan Nilai Korelasi (r)
Tabel 5.6 Perhitungan Rata-rata Prosentase Tambahan Penduduk Pertahun
Tabel 5.7 Proyeksi Penduduk Kota Bojonegoro Hingga Tahun 2024
Tabel 5.8 Data Jumlah Fasilitas di Kota Bojonegoro pada Tahun 2013
Tabel 5.9 Proyeksi Fasilitas Pendidikan Kota Bojonegoro Hingga Tahun 2024
Tabel 5.10 Hasil Proyeksi Fasilitas Kesehatan Kota Bojonegoro Hingga Tahun 2024
Tabel 5.11 Hasil Proyeksi Fasilitas Peribadahan Kota Bojonegoro Hingga Tahun 2024
Tabel 5.12 Hasil Proyeksi Fasilitas Perindustrian Kota Bojonegoro Hingga Tahun 2024
Tabel 5.13 Besar Unit Konsumsi Berdasarkan Jumlah Penduduk
Tabel 5.14 Besar Unit Konsumsi Berdasarkan Instansi
Tabel 5.15 Proyeksi Kebutuhan Air Bersih Kota Bojonegoro 2012-2024
Tabel 5.16 Prosentase Jumlah Penduduk Masing-Masing Kelurahan Tahun 2024
Tabel 5.17 Proyeksi Kebutuhan Air Masing-Masing Kelurahan Tahun 2024
Tabel 5.18 Pembagian Blok dan Kebutuhan Air Bersih Tiap Blok Kota Bojonegoro
Tabel 6.1 Perhitungan Hardy Cross Iterasi 1
Tabel 6.2 Perhitungan Hardy Cross Iterasi 2
Tabel 6.3 Perhitungan Hardy Cross Iterasi 3
Tabel 6.4 Perhitungan Hardy Cross Iterasi 4
Tabel 6.5 Hasil Perhitungan Junction dengan Program Epanet
Tabel 6.6 Hasil Perhitungan Pipes dengan Program Epanet
Tabel 6.7 Daftar Ukuran Diameter Pipa HDPE merek Vinilon
Tabel 6.8 Fluktuasi Pemakaian Air
Tabel 6. 9 Hasil Fluktuasi Pengaliran Air dari IPAM ke Ground Reservoir
Tabel 7. 1 Simbol Detail Junction
Tabel 7.2 Diameter tapping untuk Masing-Masing Blok
Tabel 7.3 Detail Junction Masing-Masing Tapping
Tabel 8.1 BOQ Pipa
Tabel 8.2 BOQ Aksesoris Pipa
Tabel 8.3 Standar Urugan yang Diperkenankan
Tabel 8.4 Perhitungan Galian Normal Pipa SPAM
Tabel 8.5 Dimensi A,B,C,D pada Trust Blok Bend 45 0
Tabel 8.7 Dimensi A,B,C,D pada Trust Blok Bend 90 0
Tabel 8.8 BOQ Pembetonan Trust Blok Bend 90 0
Tabel 8.9 Dimensi A,B,C,D pada Trust Blok Increaser/Reducer
Tabel 8.11 Dimensi Trust Blok Tee All Flange
Tabel 8.12 BOQ Pembetonan Trust Blok Tee All Flange
Tabel 8.13 Perhitungan BOQ Reservoir
Tabel 9. 1 Kedalaman Instalasi Pipa

13
14
19
20
20
23
44
45
47
48
49
49
51
53
54
55
56
57
58
59
60
61
63
65
70
70
71
71
81
82
82
85
85
91
93
95
108
108
111
113
115
116
117
117
119
120
123
124

7|AYU NOER ANNISA/ 3312 100 085

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Berbeda dengan negara-negara maju yang pada umumnya memiliki gradien pertumbuhan
penduduk negatif, Indonesia mempunyai gradien pertumbuhan penduduk yang cenderung positif.
Hal tersebut menunjukkan dari waktu ke waktu jumlah penduduk Indonesia hampir selalu
bertambah. Hal tersebut juga dapat diartikan bahwa semakin lama jumlah penduduk di Indonesia
diperkirakan akan semakin banyak. Kecamatan Bojonegoro adalah salah satu kecamatan yang ada di
Indonesia dengan gradien pertumbuhan penduduk yang positif.
Jumlah penduduk yang semakin banyak akan diikuti oleh pembangunan infrastruktur yang
semakin banyak pula. Sebagaimana kita ketahui bahwa pembangunan infrastruktur akan
mempengaruhi struktur tanah dibawahnya. Tanah ditopang salah satunya oleh air tanah.
Pengambilan air tanah yang melebihi batas kemampuan maksimum akan menyebabkan air tanah
cepat habis, sedangkan kita tahu bahwa pengimbuhan air tanah secara alami membutuhkan waktu
yang sangat lama. Jika air tanah diambil tanpa diisi ulang dengan tepat, dikhawatirkan kecamatan
yang ada di atasnya akan turun dan bisa saja suatu saat nanti akan tenggelam. Penyediaan air
minum terpusat adalah salah satu solusi yang dapat digunakan untuk menyelamatkan keberadaan
air tanah, sehingga tidak akan mengancam bangunan yang berada di atasnya. Selain itu, dengan
keberadaan sungai yang sangat banyak dan curah hujan yang tinggi dapat menjadi suatu potensi
yang sangat berharga.
Penyediaan air minum terpusat juga diharapkan dapat menjadi obat penenang bagi
konsumen karena khawatir mendapatkan air dengan kondisi yang tercemar. Setelah air permukaan
(sungai) diolah menjadi air minum, diperlukan suatu sistem yang dapat menyalurkan air dari
penghasil ke tangan konsumen. Sistem penyediaan air minum diharapkan dapat menjadi solusi akan
kebutuhan air minum di masa mendatang. Di dalam buku ini, akan direncanakan jalur-jalur pipa
yang akan ditanam untuk melayani penduduk kecamatan Bojonegoro. Selain itu semakin banyaknya
jumlah penduduk berarti semakin banyak juga jumlah pencemar, baik secara domestik maupun non
domestik. Maka dari itu diperlukan sistem penyaluran air limbah agar limbah yang dihasilkan dapat
disalurkan ke tempat yang tepat sehingga dapat diolah (IPAL) dan tidak mencemari lingkungan.
Sebagai negara yang mempunyai curah hujan yang tinggi tidak jarang kita temui bahwa di
beberapa kota besar di Indonesia mengalami banjir. Bahkan banjir tersebut meluap hingga ke jalan
raya dengan ketinggian tertentu yang tentu saja menimbulkan kerugian yang tidak sedikit.

8|AYU NOER ANNISA/ 3312 100 085

Perencanaan sistem drainase perkotaan tentu saja wajib direncanakan dengan baik agar tidak
menimbulkan kerugian besar yang tidak diinginkan di kemudian hari.

1.2 Maksud dan Tujuan


Maksud dari sistem pendistribusian air minum ke konsumen adalah untuk menyediakan air
minum dan menyalurkannya secara merata ke seluruh daerah pelayanan perencanaan, sehingga
kebutuhan masyarakat akan air bersih dapat terpenuhi tanpa harus mengambil air yang berlebih dari
air tanah. Sedangkan maksud tugas ini secara khusus untuk mahasiswa adalah agar mahasiswa dapat
lebih memahami perencanaan sistem penyediaan air minum dalam suatu kota. SPAM adalah salah
satu tugas 3S (SPAM, SPAL, dan SDRAIN yang diberikan untuk mahasiswa semester 5 Jurusan Teknik
Lingkungan FTSP ITS. Diharapkan melalui tugas ini mahasiswa dapat lebih mendalami materi yang
telah diberikan di kelas.

1.3 Ruang Lingkup


Tugas Perencanaan Sistem Penyediaan Air Bersih Kecamatan Bojonegoro ini mencakup
beberapa hal, yaitu:
1. Teori teori
Teori teori tersebut berhubungan dan mendukung perhitungan penyediaan air
bersih.
2. Gambaran Umum Wilayah
Gambaran umum wilayah Kecamatan Bojonegoro baik keadaan fisik, topografi,
demografi dan juga fasilitas penduduk yang ada di Kecamatan Bojonegoro.
3. Daerah Proyek/Perencanaan
Daerah proyek merupakan daerah yang dipilih untuk dijadikan daerah
perencanaan.
4. Daerah Pelayanan
Daerah pelayanan adalah sebagian dari daerah proyek yang benar-benar
mendapatkan pelayanan air minum. Daerah pelayanan ditentukan dengan
pertimbangan faktor sosial ekonomi dan kemungkinan pengembangan serta tata
guna lahan.
5. Proyeksi Penduduk

9|AYU NOER ANNISA/ 3312 100 085

Jumlah penduduk diproyeksikan untuk mengetahui jumlahnya pada tahun yang


direncanakan supaya dapat diketahui jumlah kebutuhan air yang harus dilayani dan
didistribusikan pada tahun yang direncanakan tersebut.
6. Pemilihan Jaringan Distribusi Air Bersih
Jaringan distribusi air bersih menggunakan sistem melingkar atau loop yang
direncanakan disesuaikan dengan kondisi jalan yang ada dan perkembangan
daerah pelayanan.
7. Perhitungan Kebutuhan Air
Kebutuhan air dihitung berdasarkan proyeksi jumlah penduduk pada tahun
perencanaan yang meliputi kebutuhan domestik dan non domestik termasuk juga
untuk kebocoran dan pemadam kebakaran.
8. Perhitungan Dimensi Pipa
Dimensi pipa direncanakan sesuai dengan kebutuhan air pada tahun perencanaan,
untuk mendistribusikan air perlu dihitung dimensi pipa yang dipakai.
9. Perhitungan Reservoir dan Pompa
Perhitungan reservoir digunakan untuk menentukan volume dan dimensi reservoir
yang digunakan, sedangkan perhitungan pompa digunakan untuk menentukan
debit dan jenis pompa yang digunakan.
10. Gambar-Gambar
Gambar-gambar yang diperlukan dalam prencanaan sistem penyediaan air bersih.

10 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

BAB 2
GAMBARAN UMUM

Kecamatan Bojonegoro termasuk wilayah Kabupaten Bojonegoro, yang juga merupakan


Pusat Pemerintahan Kabupaten Bojonegoro dan terdiri dari 18 (delapan belas) Desa/ Kelurahan.
Wilayah Kecamatan Bojonegoro 100% adalah dataran rendah. Dengan luas wilayah keseluruhan
25,71 Km2, 35 Ha wilayah Bojonegoro merupakan wilayah hutan Rakyat, 950,757 Ha berikutnya
berupa lahan sawah yang sebagian besar berada di sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo.
Sebanyak 1160,496 Ha merupakan tanah kering dan sisanya 4,85% adalah perkebunan dan lain-lain.
Sedangkan grafis wilayah administrasi, kepadatan, dan tata guna lahan Kecamatan Bojonegoro dapat
dilihat pada peta berikut :
Gambar 2.1 Peta Batas Administrasi Kabupaten Bojonegoro

Kecamatan Bojonegoro memiliki luas wilayah sebesar 25,71 Km2 terdiri dari dataran rendah dan
berada di sisi selatan aliran bengawan solo, serta dihuni oleh 26.879 kepala keluarga, berpenduduk
90588 jiwa terdiri dari
Laki-laki

: 44439

Perempuan

: 46149

2.1 Geografi
Secara administrasi Kecamatan Bojonegoro dibagi menjadi 18 Kelurahan dengan luas
wilayah keseluruhan adalah 25,71 Km2. Batas-batas administrasi Kecamatan Bojonegoro adalah :

Sebelah Utara : Kabupaten Tuban/ Kecamatan Trucuk

Sebelah Timur : Kabupaten Tuban/ Kecamatan Trucuk

11 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Sebelah Selatan : Kecamatan Kapas/ Kecamatan Dander

Sebelah Barat : Kecamatan Dander/ Kecamatan Trucuk

Secara geografis, Kabupaten Bojonegoro berada pada koordinat 6o59sampai 7o37 Lintang
Selatan dan 112o25 sampai 112o09 Bujur Timur,dengan jarak + 110 km dari ibu kota propinsi.
Gambar 2.2 Peta Kecamatan Bojonegoro

(Sumber google earth)


Secara geografis, Kabupaten Bojonegoro dilalui oleh sungai Bengawan Solo. Sungai Bengawan Solo
yang mengalir dari selatan, menjadi batas alam dari Provinsi Jawa Tengah, kemudian mengalir ke
arah timur, di sepanjang wilayah utara Kabupaten Bojonegoro. Bagian utara merupakan Daerah
Aliran Sungai Bengawan Solo yang cukup subur dengan pertanian yang ekstensif. Kawasan pertanian
umumnya ditanami padi pada musim penghujan, dan tembakau pada musim kemarau. Bagian
selatan adalahpegunungan kapur, bagian dari rangkaian Pegunungan Kendeng. Bagian barat laut
(berbatasan dengan Jawa Tengah) adalah bagian dari rangkaian Pegunungan Kapur Utara.
2.2 Topografi
Topografi Kecamatan Bojonegoro menunjukkan bahwa di sepanjang daerah aliran sungai
Bengawan Solo merupakan daerah dataran rendah. Bengawan Solo mengalir dari Selatan, menjadi
batas alam dari Provinsi Jawa Tengah, kemudian mengalir ke arah Timur, di sepanjang wilayah Utara
Kecamatan Bojonegoro. Bagian Utara merupakan Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo yang cukup
subur dengan pertanian yang ekstensif. Kawasan pertanian umumnya ditanami padi pada musim
penghujan dan tembakau pada musim kemarau

12 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Tabel 2.1 Luas Tanah Kering dan Tanah Sawah Masing-Masing Kelurahan

Sumber: Kecamatan Bojonegoro Dalam Angka 2013

a. Dataran rendah: 100 %


b. Sungai: Bengawan solo
c. Jenis penggunaan tanah:
a. Sawah

e. perkebunan

b. Kering

f. Tanah kep. Fas umum

c. Basah

g. Tanah Kep. Fas sosial

d. Hutan
e. Perkebunan
2.3 Hidrologi dan Klimatologi
Kondisi Hidrologi di Kabupaten Bojonegoro dijelaskan berdasarkan sumber air yang terdapat di
Kabupaten Bojonegoro yaitu air sungai, mata air, air tanah. Selain itu jenis sumber daya alam diatas
juga terdapat sumber daya alam air yang telah termanfaatkan dan dikelola oleh Pemerintah dan
Masyarakat yang diwujudkan dalam bentuk pemanfaatan waduk dan saluran irigasi.
Dareah Aliran sungai yang terdapat di Kabupaten Bojonegoro terbagi dalam beberapa ordo
sungai yang membedakan antara sungai besar, sungai dan anak sungai. Dimana pada kabupaten
wilayah Bojonegoro terdapat satu sungai yang menjadi hulu dari semua sungai yaitu Sungai
Bengawan Solo.
Sungai ini merupakan sungai besar yang menjadi induk sungai dari seluruh sungai di
kabupaten Bojonegoro. Sementara sungai lainnya terklasifikasi sebagai anak sungai. Lebih jelas
nama, panjang dan debit air sungai di Kabupaten Bojonegoro dijelaskan pada tabel 2.5. sebagai
berikut. Tabel 2.5. Nama, Panjang dan Debit Air Sungai di Kabupaten Bojonegoro

13 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Tabel 2.2 Nama, Panjang, dan Debit Air Sungai di Kabupaten Bojonegoro

Kecamatan Bojonegoro memiliki musim penghujan antara April s.d Oktober. Dari pantauanstasiun
pengamat hujan diperoleh hari hujan pada tahun 2009 sebesar 92 hari dengan curah hujan rata-rata
150 mm, sedangkan pada tahun 2010 naik menjadi 134 hari dengan curah hujan mencapai 221 mm
dan pada Tahun 2011 turun menjadi 99 hari dengan curah hujan rata-rata sebesar 146 mm.

14 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

BAB 3
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Proyeksi Penduduk
Proyeksi jumlah penduduk dan fasilitas-fasilitas yang ada sangat diperlukan untuk
kepentingan perencanaan dan perancangan serta evaluasi penyediaan air bersih. Kebutuhan akan air
bersih semakin lama semakin meningkat sesuai dengan semakin berkembangnya jumlah penduduk
dimasa yang akan datang. Untuk suatu perencanaan diperlukan suatu proyeksi penduduk (termasuk
juga fasilitas-fasilitas umum). Walaupun proyeksi bersifat ramalan dimana keberadaannya dan
ketelitiannya bersifat subjektif, namun bukan berarti tanpa pertimbangan dan metoda.
Dalam proyeksi penduduk ada beberapa faktor yang mempengaruhi, yaitu:
1. Jumlah populasi peduduk dalam suatu area
Bila perkembangan penduduk pada masa lampau tidak terdapat penurunan, maka proyeksi
penduduk akan semakin teliti.
2. Kecepatan pertambahan penduduk
Apabila angka kecepatan pertambahan penduduk pada masa lampau semakin besar, maka
proyeksi penduduk akan berkurang petelitiannya.
3. Kurun waktu proyeksi
Semakin panjang kurun waktu proyeksi, maka proyeksi penduduk akan semakin berkurang
ketelitiannya.
Data penduduk masa lampau sangat penting untuk menentukan proyeksi penduduk pada
masa yang akan datang. Jadi pada dasarnya proyesi penduduk pada masa yang akan datang sangat
bergantung pada data penduduk saat sekarang ataupun masa lampau.

3.2 Metoda Proyeksi Penduduk


a. Metoda Rata-Rata Aritmatik
Metode ini sesuai untuk daerah dengan perkembangan penduduk yang selalu naik secara
konstan, dan dalam kurun waktu yang pendek. Rumus yang digunakan :
(3.1)
Dimana :
Pn

= jumlah penduduk pada akhir tahun periode

Po

= jumlah penduduk pada awal proyeksi

r = rata-rata pertambahan penduduk tiap tahun

15 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

dn

= kurun waktu proyeksi

b. Metoda Selisih Kuadrat Minimum (Least Square)


Metoda ini digunakan untuk garis regresi linier yang berarti bahwa data perkembangan
penduduk masa lalu menggambarkan kecenderungan garis linier, meskipun perkembangan
penduduk tidak selalu bertambah. Dalam persamaan ini data yang dipakai jumlahnya harus
ganjil.
Rumusnya adalah :
(3.2)
Dimana :
t = tambahan tahun terhitung dari tahun dasar
a={
b={

} {

} {

c. Metoda Berganda (Geometric)


Proyeksi dengan metoda ini menganggap bahwa perkembangan penduduk secara otomatis
berganda, dengan pertambahan penduduk . Metoda ini tidak memperhatikan adanya suatu
saat terjadi perkembangan menurun dan kemudian mantap, disebabkan kepadatan
penduduk mendekati maksimum. Rumus yang digunakan :
(3.3)
Dimana :
Po

= Jumlah Penduduk mula-mula

Pn

= Penduduk tahun n

dn

= kurun waktu

= rata-rata prosentase tambahan penduduk pertahun

Untuk menentukan metode yang dipakai untuk proyeksi penduduk, terlebih dahulu mencari
nilai koefisien korelasi (r) untuk tiap - tiap metode. Untuk metode yang mempunyai nilai koefisien
korelasi yang mendekati nilai 1 (satu), sesuai atau tidaknya analisa yang akan dipilih ditentukan
dengan menggunakan nilai koefisien korelasi yang berkisar antara 0 (nol) sampai 1 (satu) maka
metode itulah yang dipakai untuk memproyeksikan penduduk.
Persamaan yang dipakai adalah sebagai berikut:

}{

(3.4)

16 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Proyeksi penduduk dibagi menjadi dua, yaitu:


a. Proyeksi domestik adalah proyeksi tentang jumlah penduduk yang ada pada suatu daerah
tertentu.
b. Proyeksi non domestik adalah proyeksi tentang jumlah fasilitas yang ada dalam suatu daerah
dan digunakan oleh penduduk di tempat tersebut.
Dalam melaksanakan proyeksi penduduk ini perlu diketahui rencana perkembangan
aktifitasnya. Proyeksi non domestik adalah fasilitas tempat ibadah, perkantoran, pendidikan,
kesehatan, komersial dan industri.
Dalam menentukan metode proyeksi penduduk yang terpilih dari ketiga metode di atas
dilaksanakan pengujian angka korelasi. Angka korelasi yang mendekati atau sama dengan nol berarti
lemah. Metode proyeksi penduduk yang dipilih adalah yang mempunyai angka korelasi mendekati
atau sama dengan satu.

3.3 Proyeksi Fasilitas


Jumlah serta jenis fasilitas yang ada pada daerah pelayanan menentukan besarnya
kebutuhan air non domestik. Adanya pertambahan penduduk akan menyebabkan pertumbuhan
fasilitas. Perlu diketahui bahwasanya jumlah fasilitas yang sudah ada tidak dapat diproyeksikan.
Namun jumlah fasilitas yang ada tersebut dapat diperkirakan untuk tahun yang akan datang.
Sehingga tidak ada data proyeksi fasilitas, namun yang ada adalah perkiraan jumlah fasilitas pada
tahun yang akan datang.
Selain pertambahan penduduk, pertambahan fasilitas juga dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut ini:
Jenis fasilitas
Perluasan fasilitas yang ada
Perkembangan sosial ekonomi

Proyeksi fasilitas dapat dilakukan dengan pendekatan perbandingan jumlah penduduk:

(3.5)

Dalam menentukan kebutuhan air non domestik, selain melalui proyeksi fasilitas, ada juga
yang langsung diasumsikan sebesar 25 % dari kebutuhan domestik yang telah diketahui dari proyeksi
penduduk. Namun cara ini kurang representatif karena tidak memperhatikan jenis fasilitas yang ada

17 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

pada daerah pelayanan tersebut, meskipun pertambahan penduduk dianggap sebanding dengan
pertambahan fasilitas.

3.4 Kebutuhan Air dan Fluktulasinya


Kebutuhan air merupakan jumlah air yang diperlukan oleh suatu unit konsumsi air dimana
kehilangan air dan kebutuhan air untuk pemadam kebakaran juga ikut dipertimbangkan. Kebutuhan
dasar dan kehilangan air tersebut berfluktuasi dari waktu ke waktu, dengan skala jam, hari, bulan,
selam kurun waktu satu tahun. Sedangkan untuk pemadam kebakaran, tidak berfluktuasi, karena
penggunaannya hanya secara insidentil. Besarnya air yang digunakan untuk berbagai jenis
penggunaan tersebut dikenal dengan pemakai air. Besarnya konsumsi air yang digunakan,
dipengaruhi oleh:

Ketersediaan air, baik dari segi kuantitas, kualitas dan kontinyuitas.

Kebiasaan penduduk setempat.

Pola dan tingkat kehidupan.

Harga air.

Faktor teknis ketersediaan air, seperti :

Fasilitas distribusi

Fasilitas penyambungan limbah yang dapat memperngaruhi kualitas air bersih

Kemudahan dalam mendapatkannya

Keadaan sosial ekonomi setempat.

3.4.1 Kebutuhan Domestik


Kebutuhan dasar domestik ditentukan oleh adanya konsumen domestik, yang dapat
diketahui dari data penduduk yang ada. Kebutuhan domestik ini antara lain : mandi, minum,
memasak dan lainnya. Kecenderungan meningkatnya kebutuhan air dasar ditentukan oleh kebiasaan
dan pola hidup serta taraf hidup yang didukung oleh perkembangan sosial ekonomi. Jenis pelayanan
air memberikan pengaruh terhadap konsumsi air, yang dikenal dua katagori fasilitas penyediaan air
minum, yaitu :
a.

Kebutuhan Sambungan Rumah (SR)


Sambungan rumah adalah jenis sambungan pelanggan yang menyediakan air langsung ke

rumah-rumah dengan menggunakan sambungan pipa-pipa distribusi air melalui water meter dan

18 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

instalasi pipa yang dipasang di dalam rumah. Pelayanan air minum dengan menggunakan
sambungan rumah ditujukan bagi warga yang telah menempati rumah permanen. Golongan
masyarakat ini akan sanggup membayar air untuk mendapatkan air bersih demi kesehatan. Biasanya
yang termasuk golongan ini adalah golongan ekonomi kelas menengah hingga atas.
b.

Kebutuhan Air Hidran Umum


Hidran umum adalah jenis sambungan yang menyediakan air melalui kran yang dipasang di

suatu tempat tertentu agar mudah dipergunakan oleh masyarakat umum untuk mencukupi
kebutuhan mandi, cuci dan minum. Pelayanan air minum ini ditujukan bagi masyarakat dengan
golongan ekonomi bawah atau menempati rumah non permanen yaitu rumah yang terbuat dari
bambu atau kayu. Golongan ini berpenghasilan rendah dan lebih mengutamakan penggunaan air
tanah yang bebas biaya sehingga tingkat penggunaan air dengan sumber air permukaan akan
menjadi sangat rendah karena memerlukan biaya.
Tabel 3.1 Kebutuhan Air Bersih Untuk Domestik Berdasarkan Kategori Kota

19 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Sumber : Ditjen Cipta Karya, Dep. PU, 2000

NO

Tabel 3.2 Kebutuhan Air Domestik Berdasarkan P3KT


Penyediaan Air
Jumlah Penduduk
Kategori Kota
(liter/orang/hari) Kehilangan Air
(orang)
SR
HU

Metropolitan

>1.000.000

120

30

15-25%

Besar

500.000-1.000.000

100

30

15-25%

Sedang

100.000-500.000

90

30

15-25%

Kecil

20.000-100000

60

30

15-25%

IKK

3000-20000

45

30

15-25%

Sub IKK

<20000

30

30

15-25%

Sumber : P3KT
3.4.2 Kebutuhan Non Domestik
Kebutuhan dasar air non domestik ditentukan banyaknya konsumen non domentik yang
meliputi fasilitas-fasilitas :

Perkantoran (pemerintah dan swasta)

Pendidikan ( TK,SD, SMP,SMA, Perguruan Tinggi)

Tempat-tempat ibadah (mesjid, gereja,dll)

Kesehatan (RS,Puskesmas, BKIA,dll)

Komersial (Toko, Hotel, Bioskop)

Umum ( Terminal, Pasar, dll)

Industri
Tabel 3.3 Kebutuhan Air Non Domestik

Sumber : Ditjen Cipta Karya, Dep. PU, 2000

20 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

3.4.3 Kebocoran Air


Kehilangan air adalah besarnya selisih air yang diproduksi dengan air yang didistribusikan.
Nilai ini perlu diperhitungkan dalam pengolahan air karena dijadikan pedoman untuk melihat
performance dari suatu instalasi pengolahan air minum. Semakin besar tingkat kehilangan air maka
semakin buruk pula performance dari instalasi pengolahan. Penyediaan air minum dengan jaringan
besar biasanya memiliki tingkat kehilangan air yang besar dan sebaliknya.
Menurut Djamal, Z., dkk (2009) kehilangan air bersih perpipaan atau air PAM sering disebut
sebagaiNon-Revenue-Water (NRW), atau ada juga yang menggunakan istilah Unacounted For Water
(UFW) terutama jika komponen air yang sah dipakai atau digunakan oleh pemakai tetapi tidak
tertagih (unbilled authorized consumption) dapat diabaikan karena tidak terlalu signifikan besarnya.
Sederhananya adalah air bersih hasil olahan yang tidak menjadi pendapatan (revenue) pengelola
karena kesalahan pengelolaan dan sebab-sebab lain disebut secara umum sebagai kebocoran.
Selanjutnya Djamal, Z., dkk (2009) kehilangan Air (Water Losses) adalah selisih antara jumlah air yang
dipasok kedalam jaringanperpipaan air dan jumlah air yang dikonsumsi.
Kehilangan Air = Jumlah Air yang dipasok - Jumlah Air yang dikonsumsi

(3.)

Kehilangan air adalah selisih antara banyaknya air yang disediakan (water supply) dengan air
yang dikonsumsi (water consumtion). Dalam kenyataanya, kehilangan air dalam suatu perencanaaan
sistem distribusi selalu ada. Kehilangan air tersebut dapat bersifat teknis maupun non teknis. Yang
misanya kebocoran pipa itu sendiri. Sedangkan yang bersifat non teknis misalnya pencurian air dari
pipa distribusi. Dalam merencanakan sistem distribusi air minum harus juga diperhitungkan
kebutuha air untuk kebocoran dengan maksuk agar titik-titik pelayanan tetap dapat terpenuhi
kebutuhan airnya.Pengertian mengenahi kehilangan air ada tiga macam, yaitu :
1. Kehilangan air rencana
Kehilangan air rencana dialokasikan untuk kelancaran operasidan pemeliharan fasilitas
penyediaan air bersih. Kehilangan air ini akan diperhitungkan dalam penetapan harga air, yang mana
biayanya akan dibebankan pada pemakai air (konsumen).
2. Kehilangan air percuma.
Kehilangan air percuma menyangkut aspek penggunaan fasilitas penyediaan air bersih dan
pengelolaannya. Hal ini sangat tidak diharapkan, dan harus diusahakan untuk ditekan dengan cara
penggunaan dan pengelolaan fasilitas air bersih secara baik dan benar. Kehilangan air percuma ini
terbagi dua, yaitu leakage dan wastage. Leakage adalah kehilangan air percuma pada komponen
fasilitas yang tidak dikendalikan dengan baik oleh pengelola, sedangkan wastage adalah kehilangan
air percuma pada saat pemakaian fasilitas oleh konsumen.
3. Kehilangan air insidentil

21 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Kehilangan air insidentil adalah kehilangan air diluar kekuasaan manusia, seperti bencana
alam. Dalam perhitungan perencanaan penyediaan air bersih, dipakai istilah kehilangan air rencana
dengan anggapan bahwa kehilangan air percuma dan insidentil telah termasuk di dalamnya.
Besarnya kehilangan air rencana ini diperkirakan sebanyak 15 % sampai 25 % dari total kebutuhan
air domestik. Dalam perencanaan ini besarnya kehilangan air diambil sebanyak 20 % dari kebutuhan
air total (kebutuhan domestik + kebutuhan non-domestik).
Penyebab kehilangan air terbagi menjadi dua macam yaitu :

Fisik. Kehilangan air disebabkan oleh jaringan pipa yang sudah rusak, tua dan bocor,
kerusakan meter air dan pengaliran air tidak tercatat oleh meter air.

Administrasi. Kehilangan air disebabkan oleh keberadaan sambungan ilegal dan


ketidakakuratan dalam pencatatan administrasif.

3.4.4 Fluktuasi Kebutuhan Air


Dalam perencanaan suatu sistem penyediaan air bersih, dikenal istilah fluktuasi pemakaian
air. Data tentang fluktuasi pemakaian air bersih ini merupakan data yang sangat penting. Hal ini
dikarenakan kapasitas sistem harus mencukupi untuk mengatasi kebutuhan air saat hari maksimum
maupun pada jam puncak. Data fluktuasi pemakaian air bersih juga dapat digunakan untuk
menghitung kapasitas dari bak penampung atau reservoir.
Fluktuasi pemakaian ini dapat dibedakan menjadi dua (2) jenis yaitu fluktuasi pemakaian pada waktu
hari maksimum dan pada saat jam puncak. Fluktuasi pemakaian air bersih di tiap daerah dapat
berbeda-beda dipengaruhi oleh beberapa hal. Diantaranya adalah:

Kebiasaan konsumen dalam penggunaan air.

Tingkat sosial ekonomi di daerah pelayanan.

Untuk menghitung kebutuhan air bersih, diperlukan pula angka faktor pengali tertentu yaitu
faktor maksimum harian (fm) dan faktor jam puncak (fp) sehingga akan diperoleh kebutuhan air
maksimum dan kebutuhan air puncak.
a. Kebutuhan air rata-rata harian (Qav)
Adalah jumlah air yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan domestik, non domestik dan
kehilangan air
b. Kebutuhan air hari maksimum (Qhm)
Yang dimaksud dalam fluktuasi hari maksimum adalah fluktuasi yang dapat terjadi dari hari ke
hari yang bervariasi namun terdapat satu hari dimana pemakaian air lebih besar dibanding hari
lainnya dalam satu tahun tadi. Kebutuhan air maksimum harian dihitung dari kebutuhan rata-rata

22 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

dikalikan dengan faktor maksimum harian. Faktor ini merupakan perbandingan antara pemakaian
pada hari terbesar dengan pemakaian air rata-rata selama satu tahun
Perhitungan kebutuhan air hari maksimum dapat dihitung berdasarkan rumus berikut :
(3.6)
Dimana:
Fhm

= faktor harian maksimum = 115 % - 120 %


Untuk perencanaan ini diambil Fhm = 120%

c. Kebutukan air jam maksimum (Qjm)


Jam puncak merupakan jam dimana terjadi pemakaian air terbanyak dalam 24 jam. Faktor jam
puncak (fp) mempunyai nilai yang berbanding terbalik dengan jumlah penduduk. Semakin tinggi
jumlah penduduk maka besarnya faktor jam puncak akan semakin kecil. Hal ini terjadi karena
dengan bertambahnya jumlah penduduk maka aktivitas penduduk tersebut pun akan semakin
beragam sehingga fluktuasi pemakaian akan semakin kecil pula.
Faktor lain yang juga dapat mempengaruhi kebutuhan jam puncak adalah perkembangan dari kota
yang bersangkutan. Perkembangan yang terjadi dapat menentukan karakteristik kota. Namun secara
garis besar, untuk kota besar nilai fp akan sebesar 1,3, kota sedang sekitar 1,5, dan untuk kota kecil
adalah 2. Perhitungan kebutuhan air jam maksimum dapat dihitung berdasarkan rumus berikut :

(3.7)

Dimana :
Fjm

= faktor jam maksimum = 150 % - 210%


Untuk perencanaan ini diambil Fjm = 200 %

Nilai faktor hari maksimum dan faktor jam puncak telah ditetapkan oleh Departemen Pekerjaan
Umum Direktorat Cipta Karya. Nilai-nilai tersebut seperti terdapat pada Tabel berikut ini.
Tabel 3.4 Faktor Hari Maksimum dan Faktor Jam Puncak Berdasarkan Kategori Kota

23 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

3.5 Sistem Distribusi Air


Distribusi air yang disuplai melalui pipa akan melalui dua alternatif sistem,yaitu:
1. Continous system (sistem berkelanjutan)
Dalam sistem ini, air minum yang ada akan disuplai dan didistribusikan kepada konsumen
secara terus menerus salama 24 jam. Sistem ini biasanya diterapkan bila pada setiap waktu
kuantitas air baku dapat mensuplai seluruh kebutuhan konsumen di daerah tersebut.
Keuntungan :
Konsumen akan mendapatkan air minum setiap saat.
Air minum yang diambil dari titik pengambilan di dalam jaringan pipa destribusi
selalu didapatkan dalam keadaan segar.
Kerugian :
Pemakaian air akan cenderung lebih boros
Bila ada sedikit kebocoran saja, jumlah air yang terbuang besar.
2. Intermitten Sistem
Dalam sistem ini, air minum yang ada akan disuplai dan didistribusikan kepada konsumen
hanya selama beberapa jam dalam satu harinya, biasanya 2 sampai 4 jam pada pagi hari dan
2 sampai 4 jam pada sore hari. Sistem ini biasanya diterapkan bila kuantitas dan tekanan air
yang cukup tidak tersedia dalam sistem.
Keuntungan :
Pemakaian air cenderung lebih hemat
Bila ada kebocoran maka air yang terbuang relatif kecil
Kerugian :
Bila terjadi kebakaran pada saat tidak beroperasi maka air untuk pemadam
kebakaran tidak tersedia.
Setiap rumah perlu menyediakan tempat penyimpanan air yang cukup agar
kebutuhan air dalam sehari dapat disimpan.
Dimensi pipa yang dipakai akan lebih lebih besar karena kebutuhan air yang akan
disuplai dan didistribusikan dalam sehari hanya ditempuh dalam jangka waktu yang
pendek.
3.6 Sistem Jaringan Induk Distribusi
Sistem jaringan induk distribusi yang dipakai dalam pendistribusian air bersih ada dua macam, yaitu:
1. Sistem Cabang atau Branch

24 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Pada sistem ini air hanya mengalir dari satu arah dan pada setiap ujung pipa akhir daerah
pelayanan terdapat titik akhir (dead end), serta pipa distribusi tidak saling berhubungan.
Area konsumen disuplai air melalui satu jalur pipa utama. Sistem ini biasanya digunakan
pada daerah dengan sifat sifat sebagai berikut :

Perkembangan kota ke arah memanjang.

Sarangan jaringan tidak saling berhubungan.

Keadaan topongrafi dengan kemiringan medan yang menuju satu arah.

Keuntungan sistem jaringan induk ini:


Jaringan distribusi relatif lebih sederhana.
Pemasangan pipa lebih merah.
Penggunaan pipa lebih sedikit karena pipa distribusi hanya dipasang pada daerah
yang paling padat penduduknya.
Kerugian sistem jaringan induk ini:
Kemungkinan terjadinya penimbunan kotoran dan pengendapan diujung pipa tidak
dapat dihindari, sehingga dilakukan pembersihan yang intensif untuk mencegah
timbulnya bau.
Bila terjadi kerusakan dan kebakaran pada salah satu bagian sistem, supply air akan
terganggu.
Kemungkinan tekanan air yang diperlukan tidak cukup bila ada sambungan baru.
Keseimbangan sistem pengaliran kurang terjamin terutama terjadinya tekanan kritis
pada bagian pipa yang terjauh.
Gambar 3.1 Pola Jaringan Distribusi cabang

25 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

2. Sistem Melingkar atau Loop


Pada sistem ini jaringan pipa induk distribusi saling berhubungan satu dengan yang lain
membentuk lingkaran-lingkaran, sehingga pada pipa induk tidak ada titik mati (dead end)
dan air akan mengalir kesuatu titik yang dapat melalui beberapa arah.
Sistem ini diterapkan pada :
Daerah dengan jaringan jalan saling berhubungan.
Daerah dengan perkembangan kota cenderung ke segala arah.
Keadaan topografi yang relatif datar.
Keuntungan sistem jaringan induk ini :
Kemungkinan terjadinya penimbunan kotoran dan pengendapan kotoran dan
pengendapan lumpur dapat dihindari (air dapat disirkulasi dengan bebas).
Bila terjadi kerusakan, perbaikan atau pengambilan air untuk pemadam kebakaran
pada bagian tertentu, maka supply air pada sistem bagian lainnya tidak terganggu.
Kerugian sistem jaringan induk ini :
Sistem perpipaan lebih rumit.
Perlengkapan pipa yang dipergunakan sangat banyak.
Gambar 3.2 Pola Jaringan Distribusi Loop

3.7 Sistem Perpipaan Distribusi


Macam-macam pipa yang pada umumnya ada dan akan dipakai dalam perencanaan sistem
distribusi air minum adalah sebagai berikut:

26 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

1. Pipa Primer atau Pipa Induk (Supply Main Pipe)


Pipa primer merupakan pipa yang berfungsi membawa air minum dari induk instalasi
pengolahan dari reservoir distribusi ke suatu daerah pelayanan. Pipa primer ini mempunyai
diameter yang relatif besar.
2. Pipa Sekunder (Arterial Main Pipe)
Pipa sekunder merupakan pipa yang disambung langsung pada pipa primer dan mempunyai
diameter yang sama atau kurang dengan diameter pipa primer.
3. Pipa Tersier
Pemasangan langsung pipa servis pada pipa primer tidak menguntungkan mengingat dapat
terganggunya pengaliran air dalam pipa dan lalu lintas di daerah pemasangan. Pipa tersier
dapat disambungkan langsung pada pipa sekunder.
4. Pipa Servis atau Pipa Pemberi Air (Service Connection)
Pipa sekunder atau tersier, yang dihubungkan pada sambungan rumah (konsumen). Pipa
servis ini mempunyai diameter relatif kecil.
3.8 Jenis Pipa Dan Peralatannya
3.8.1 Jenis Pipa
Beberapa jenis pipa yang umumnya digunakan dalam pekerjaan sistem distribusi air minum
adalah :
1. Cast Iron Pipe (CIP)
Karakteristik CIP adalah mempunyai kekuatan tinggi dan sangat cocok dipasang di daerah
yang sulit, serta dapat disambungkan dengan berbagai cara.
2. Ductile Iron Pipe (DIP)
Merupakan kombinasi antara daya tahan terhadap korosi CIP dan sifat mekanik dari pipa
baja.
3. Galvanized Iron Pipe (GIP)
Pipa ini terbuat dari salah satu bahan mild karbon baik berupa welded pipe maupun stainless
pipe. Keuntungan dari pipa ini antara lain kuat, tidak mudah rusak akibat pengangkutan
kasar dan tahan terhadap tegangan.
4. Asbes Cement Pipe (ACP)
Karakteristik ACP adalah sangat ringan sehingga mudah dalam transportasi dan dalam
pemotongan dan penyambungan.
5. Polivinil Chloride (PVC)

27 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Karakteristik PVC adalah bebas dari korosi, ringan sehingga mempermudah dalam
pengangkutan, mudah dalam penyambungan dan mempunyai umur yang relatif lama.
6. Poly Ethylene (PE)
Karakteristik pipa PE adalah memiliki fleksibilitas tinggi, memiliki kemampuan dalam
menahan benturan, memiliki ketahanan akan temperatur rendah bahkan temperatur air
beku, ringan, mudah dalam penanganan dan transportasi, metode penyambungan cepat dan
mudah, tahan terhadap korosi dan abrasi, permukaan halus sehingga akan meminimalisir
hilangnya tekanandan jangka waktu pemakaian cukup lama sekita 50 tahun.

Perencanaan sistem distribusi air minum perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

Pemilihan bahan pipa


Bahan pipa yang akan dipakai dan dipasang tergantung pada faktor-faktor harga pipa,
tekanan air dalam sistem, korosifitas terhadap air dan tanah, kondisi lapangan (beban lalu
lintas, letak saluran air kotor, dan kepadatan daerah pemukiman)

Kedalaman dan peletakan pipa


Tergantung oleh karakteristik pipa itu sendiri sesuai dengan yang terdapat dalam brosur.

3.8.2 Tekanan Kerja Pipa


Pada kenyataannya, pipa yang ditanam dalam tanah memperoleh dua tekanan yang datang
dari dalam pipa itu sendiri akibat aliran fluida, dan tekanan lain yang bekerja pada pipa merupakan
gaya luar, yaitu gaya berat tanah pelindung dan beban lain yang melewati jalan dimana pipa
tersebut ditanam.
Tekanan karena fluida yang berada dalam pipa (dalam hal ini adalah air), yang paling
berpengaruh adalah tekanan statisnya, sedangkan tekanan dinamis sangat kecil sehingga dapat
diabaikan. Tekanan statis terjadi karena beda muka air yang terjadi, yaitu muka air tertinggi dengan
muka air terendah.
Tekanan yang bekerja pada dinding pipa yang berasal dari luar, dipengaruhi oleh beberapa
hal, antara lain:
1. Berat beban diatas tanah, yang terdiri dari beban hidup dan beban mati (akibat berat tanah
itu sendiri).
2. Homogenitas lapisan tanah (pasir pelapis).
3. Konsentrasi tekanan pada pipa.

28 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Pipa akan lebih mudah pecah bila pada dinding, bekerja tanah terpusat (misal dengan
adanya batu atau benda keras lainnya pada dinding pipa). Tekanan kerja pipa yang diizinkan telah
disebutkan oleh produsen atau pabrik pembuat pipa tersebut.
3.8.3 Perlengkapan Pipa
Beberapa perlengkapan pipa yang umumnya dipasang dalam sistem distribusi air minum
adalah:
1. Gate Valve
Mempunyai fungsi untuk mengontrol aliran dalam pipa. Gate Valve dapat menutup suplai air
bisa diinginkan dan membagi lainnya di dalam jaringan distribusi. Gate Valve diletakkan pada
:

Setiap titik persilangan atau cabang pipa (2 buah valve untuk tee dan 3 buah valve untuk
cross)

Sistem pengurasan (sebagai blow off valve)

Pipa tekan setelah pompa dan check valve (untuk melindungi pompa terhadap (back
flow)
Gambar 3.3 Gate Valve

2. Air Release Valve (Katup Angin)


Berfungsi untuk melepaskan udara yang selalu ada dalam aliran. Air release valve ini
dipasang pada setiap bagian jalur pipa tertinggi dan mempunyai tekanan lebih dari 1 atm,
karena udara cenderung akan terakumulasi.
Gambar 3.4 Air Release Valve

29 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

3. Blow off Valve (katup pembuang Lumpur)


Blow Off Valve ini sebenarnya, merupakan gate valve yang dipasang pada setiap titik mati
atau titik terendah dari suatu jalur pipa. Berfungsi untuk mengeluarkan kotorankotoran
yang mengendap dalam pipa serta untuk mengeluarkan air bila ada perbaikan.
Gambar 3.5 Blow Off Valve

4. Cek Valve ( Non Return Valve)


Dipasang bila pengaliran air didalam pipa diinginkan menuju satu arah. Biasanya cek valve
dipasang pada pipa tekan diantara pompa dan gate valve, dengan tujuan menghindari
pukulan akibat arus balik yang dapat merusak pompa saat pompa mati.
Gambar 3.6 Cek Valve ( Non Return Valve)

5. Trush Blok (Angker Blok Beton)


Trush blok ini diperlukan pada pipa yang mengalami beban hidrolik yang tidak seimbang,
misalnya pada pergantian diameter, akhir pipa, belokan. Gaya yang terjadi harus ditahan
oleh trush blok untuk menjaga agar fitting tidak bergerak. Umumnya lebih praktis memasang
trush blok setelah saluran ditimbun dengan tanah dan dipadatkan, sehingga menjamin
mampu menahan getaran atau gaya hidrolik atau beban lainnya. Trush blok hendaknya
dipasang pada sisi parit, maka dari itu diperlukan perataan sisi parit atau menggali sebuah
lubang masuk ke dalam diding parit untuk menahan gaya gesek.

30 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Gambar 3.7 Trust Blok untuk Tee All Flange

6. Bangunan Pelintasan Pipa


Bangunan ini diperlukan bila jalur pipa memotong sungai, rel kereta api, dan jalan untuk
memberi keamanan pada pipa .
Gambar 3.8 Pelintasan pipa melewati sungai

7. Manhole
Berfungsi sebagai tempat pemeriksaan atau perbaikan bila terjadi gangguan pada valve.
Manhole biasanya ditempatkan pada tempat aksesoris yang penting dan pada jalur pipa
pada setiap jarak 300 sampai 600 meter, terutama pada diameter besar.
Gambar 3.9 Manhole

31 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

8. Meter Tekanan
Alat ini dipasang pada pompa agar dapat diketahui besarnya tekanan kerja pompa. Kontrol
pada meter tekanan ini perlu dilakukan untuk menjaga keamanan distribusi dari tekanan
kerja pipa dan untuk menjaga kontinuitas air.
Gambar 3.10 Meter Tekanan

9. Meter Air
Berfungsi untuk mengetahui jumlah pemakaian air dan juga sebagai alat pendeteksi besarnya
kebocoran air. Meteran air ini terpasang pada setiap sambungan rumah dan dipasang secara
kontinu.
Gambar 3.11 Meter Air

9. Clamp Saddle (Saddle Tapping).


Alat ini berfungsi untuk tapping air, sehingga pengukuran debit dapat dilakukan pipa
distribusi. Clamp saddle ini, tidak boleh langsung dipasang pada pipa primer, karena untuk
menjaga pemerataan pemakaian air dan tekanan air yang tersedia.
Gambar 3.12 Clam Saddle

3.8.4 Sambungan Pipa Dan Perlengkapannya


Sambungan dan perlengkapan pipa yang sering digunakan dalam pekerjaan penyambungan pada
sistem distrivbusi air antara lain :

1. Bell dan Spigot

32 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Spigot dari suatu pipa dimasukkan ke dalam bell (Socket) pipa lainnya. Untuk menghindari
kebocoran dan menahan pipa serta memungkinkan terjadinya defleksi (berubahnya sudut
sambungan), maka sambungan biasanya dilengkapi dengan gasket.
Gambar 3.13 Bell dan Spigot

2. Flange Joint.
Biasanya dipakai pada pipa betekanan tinggi, untuk sambungan yang dekat dengan instalasi
pompa . Sebelum kedua flange disatukan mur-baut, maka diantara flange disisipkan packing
untuk mencegah kebocoran.
Gambar 3.14 Flange Joint

3. Bend.
Merupakan belokan pipa, dengan sudut belokan 90o, 45o, 22,5o, 11,5o.
Gambar 3.15 Bend

4. Increaser dan Reducer


Increaser digunakan untuk menyambung pipa berdiameter kecil ke diameter besar (arah
aliran daru diameter kecil ke diameter besar), sedangkan reducer digunakan untuk
menyambung pipa berdiameter besar ke berdiameter kecil.

33 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Gambar 3.16 Increaser dan Reducer

5. Tee
Pipa yang digunakan untuk menyambung pipa pada percabangan.
Gambar 3.17 Tee

6. Tapping Band
Dipasang pada tempat yang perlu disadap, untuk dialirkan ke tempat lain. Dalam hal ini pipa
distribusi dibor dan tapping band dipasang dengan baut disekeliling pipa dengan memeriksa
agar cincin melingkar penuh pada sekeliling lubang dan tidak menutupi lubang tapping.
Gambar 3.18 Tapping Band

7. G-bault Join
Aksesoris untuk menyambungkan antar pipa yang mudah untuk dilepas atau disambung
kembali
Gambar 3.19 G-Bault Join

34 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

3.9 Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Perencanaan


3.9.1 Kecepatan Aliran
Nilai kecepatan aliran dalam pipa yang diijinkan adalah sebesar 0,3 2,5 m/det pada debit
jam puncak. Kecepatan yang terlalu kecil menyebabkan endapan yang ada dalam pipa tidak dapat
terdorong sehingga dapat menyumbat aliran pada pipa. Selain itu juga merupakan pemborosan
biaya, karena diameter pipa yang digunakan besar. Sedangkan kecepatan yang terlalu besar dapat
mengakibatkan pipa cepat aus dan mempunyai headloss yang tinggi, sehingga pembuatan elevated
reservoir meningkat. Untuk menentukan kecepatan aliran dalam pipa, dapat digunakan rumus :
(3.8)

Dimana :
Q = debit aliran (m3/det)
V = kecepatan aliran (m/det)
D = diameter pipa (m)
3.9.2 Sisa Tekanan
Nilai sisa tekanan minimum pada setiap titik jaringan pipa induk yang direncanakan adalah
sebesar 10 meter kolom air. Hal ini dimaksudkan agar air dapat sampai di konsumen dengan tekanan
yang cukup. Untuk mendapatkan tekanan minimum ini dapat dengan cara antara lain dengan
menaikkan elevated reservoir, mengatur nilai kecepatan aliran dalam pipa serta headloss total.
3.9.3 Kehilangan Tekanan
Kehilangan tekanan air dalam pipa (Hf) terjadi akibat adanya friksi antara fluida dengan fluida
dan antara fluida dengan permukaan dalam pipa yang dilaluinya. Kehilanan tekanan maksimum 10
m/km panjang pipa.
Kehilangan tekanan ada dua macam, yaitu :
1. Mayor Losses
Yaitu kehilangan tekanan sepanjang pipa lurus, dapat dihitung dengan persamaan Hanzenwilliam:
[

(3.9)

35 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

dimana :
Hf

= mayor losses sepanjang pipa lurus (m)

= panjang pipa (m)

= debit aliran (L/det)

= diameter pipa (cm)

= koefisien Henzen-William (tergantung jenis pipa)

2. Minor Losses
Yaitu kehilangan tekanan yang terjadi pada tempat-tempat yang memungkinkan adanya
perubahan karakteristik aliran, misalnya pada belokan, valve, dan aseksoris lainnya.
Persamaan yang digunakan :
(

(3.10)

Dimana :
Hfm = minor losses (m)
K = konstanta konstraksi (sudah tertentu) untuk setiap jenis peralatan pipa
berdasarkan diameternya.
V = kecepatan aliran (m/det)
Pengaturan kehilangan tekanan aliran dapat diusahakan dengan pemilihan diameter. Untuk
mengetahui tekanan dan kecepatan aliran yang ada dalam pipa, selain besarnya debit aliran
dan panjang pipa, diperlukan juga penentuan elevasi tanah pada titik-titik tertentu (node)
dari daerah pelayanan.
3.10 Perhitungan Dimensi Pipa
Metoda perhitungan dimensi pipa dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu secara
manual dan dengan menggunakan program komputer. Penggunaan metoda secara manual yaitu
dengan menggunakan persamaan Hardy-Cross, sedang dengan menggunakan program komputer
digunakan program Epanet.
3.10.1 Hardy-Cross
Langkah-langkah perhitungan analisa jaringan pipa induk secara manual, yaitu sebagai berikut
1. Mengasumsikan kecepatan aliran (min 0,3 m/s) dan debit yang mengalir pada setiap pipa
2. Mencari diameter pipa dengan menggunakan persamaan kontinuitas
3. Menghitung head loss dengan persamaan Hazen Williams
4. Menghitung Hf/Q untuk mencari Q

36 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

(3.11)

Dimana :

Hf

Headloss (m)

Selisih debit (L/detik)

Jika belum mendekati 0, maka Q harus dikoreksi dengan rumus :


Qkoreksi

= Q+Q

(3.12)

Melakukan trial beberapa kali hingga Q mendekati 0.


3.10.2 Program Epanet
Untuk perhitungan dimensi menggunakan komputer, program yang digunakan pada
perencanaan ini adalah Epanet2. Program ini dipilih karena murah (merupakan software gratis) dan
cukup mudah untuk digunakan. Berikut cara penggunaannya :
1. Membuka program Epanet2
2. Setelah muncul tampilan program Epanet2, yang pertama kali dilakukan adalah mengeset
dimension dan default-nya sesuai satuan dan persamaan yang kita gunakan. Untuk
membuka dimension, klik view pada toolbar, pilih dimension (gambar 2.3) Selanjutnya akan
muncul tampilan seperti gambar 2.4. Pilihlah map units dalam meter. Ini menunjukkan
satuan yang dipakai nanti adalah dalam meter.

37 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Gambar 3.20 Menentukan satuan dimensi dalam Epanet

Gambar 3.21 Menentukan satuan dimensi dalam Epanet (meter)


3. Dengan cara yang sama pada toolbar Project default , akan muncul tampilan (Gambar
2.5) untuk mengatur mengenai pipa, satuan aliran yang digunakan, dan lain-lain yang perlu
untuk diperhatikan. Untuk satuan debit digunakan LPS (Liter Per Second), Headloss Formula
H-W (Hazen-William), Maximum trial (lebih banyak lebih baik) 1000 kali, demand multiplier 1
untuk Qaverage, 1,5 untuk Q jam puncak mengikuti faktor jam puncak yang digunakan
(gambar 2.6).
Gambar 3.22 Mengatur mengenai dasar-dasar jaringan pipa pada Epanet

38 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Gambar 3.23 Mengatur mengenai satuan debit, formula headloss, maximum trial dan deman
multiplier pada Epanet

4. Memasukkan peta daerah perencanaan melalui perintah pada toolbar, View backdrop Load, kemudian pilih peta yang akan dimasukkan (Gambar 2.7). Peta yang akan dimasukkan
harus dalam format bmp (dapat dikonversikan dari program paint).

5. Kemudian membuat loop jaringan pipa distribusi dengan memasang node, reservoir/pompa,
dan pipa, atau aksesoris lain yang diperlukan pada peta (Gambar 2.9).

39 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

6. Membuka Property masing-masing node, pipa dan reservoir dengan meng-kliknya dua kali
(Gambar 2.10 s.d Gambar 2.12). Memasukkan data-data mengenai node, pipa dan reservoir:

8. Untuk node perlu diisi data mengenai elevasi dan kebutuhan air
9. Untuk pipa perlu diisi data mengenai panjang dan asumsi diameter
10. Untuk reservoir perlu diisi data mengenai total head (elevasi+ketinggian reservoir)
11. Setelah semua diisi, menjalankan program (run), bila sistemnya benar dan air dapat
mengalir, maka run akan sukses. Akan tetapi tidak semudah itu, karena air yang mengalir
harus memenuhi kriteria yaitu dengan velocity minimal 0,3 dan pressure minimal 10 m.
Jika masih belum sesuai maka, diameter pipa atau ketinggian dari resevoir dapat diubah
ubah hingga dapat memenuhi kriteria.

12. Untuk menampilkan nilai dari pressure, velocity, base demand, diameter, panjang pipa,
elevasi di layar, dapat di klik kanan, pilih option, pilih notation, dan klik node value dan links
value. Kemudian klik pada data atau map dan me-klik apa yang diinginkan
Jika menginginkan data berupa tabel, klik pada report, pilih table, pilih network table links
atau network table nodes, kemudian pilih apa yang anda ingin masukkan dalam tabel.
Perhatian :
Bila pada data yang diperoleh terdapat pressure negatif dan ada juga yang velocitynya
kurang dari 0,3 m/det maka perlu diperbaiki. Kita dapat mengecek pada tiap node dan pipa yang
perlu perubahan khususnya untuk elevasi dan debit tapping (pada node) dan diameter & panjang
(untuk pipa) tanpa merubah semua data inputnya kemudian data di RUN-kan dan lihat kembali pada
TABLE.
3.11 Reservoir dan Pompa
Reservoir diperlukan dalam sistem distribusi air minum karena konsumsi air yang
berfluktuasi oleh konsumen. Pada saat pemakaian air dibawah konsumsi air rata-rata maka supply
air yang berlebih akan ditampung dalam reservoar, yaitu untuk mengimbangi pemakaian air yang
besar dari pemakaian rata-rata (kebutuhan konsumen). Berdasarkan keadaan topografi, reservoir
terletak di atas permukaan tanah sebagai elevated reservoar atau dibawah permukaan tanah
sebagai ground reservoar.
3.11.1 Volume Reservoir
Kapasitas/volume reservoar dapat ditentukan berdasarkan analisa fluktuasi pemakaian air
dan pengalirannya (supply and demand analysis) yang terjadi dalam satu hari. Kapasitas reservoar
dapat ditentukan dengan 2 metoda, yaitu secara analisis dan grafis.

40 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Sebelum menentukan kapasitas reservoar dengan menggunakan metode tersebut,


sebelumnya disajikan data kebutuhan air yang menjadi dasar perhitungan kapasitas reservoar.
Kapasitas reservoar dapat ditentukan dari kebutuhan hari maksimum atau hari rata-rata. Dimana
nilai diatas merupakan hasil rumus, yaitu :
Kapasitas Reservoar = %Pengisian Maks - %Pengosongan Maks

(3.13)

3.11.2 Sistem Pompa


Dalam memilih suatu pompa untuk tujuan tertentu harus tersedia data-data mengenai
sistem pemompaan maupun data-data pompa yang ada di pasaran., yang dapat dari brosur pompa
di suatu pabrik. Data mengenai sistem pemompaan yang harus tersedia adalah sebagai berikut :
1. Kapasitas sistem
2. Head sistem yang didasarkan pada kondisi suction dan discharge
3. Daya/energi yang tersedia
3.11.3 Kapasitas Pompa
Dalam menentukan kapasitas pompa, perlu diketahui kondisi sistem perpompaan. Pada
sistem distribusi air minum, kapasitas yang harus dialirkan tergantung dari kebutuhan air suatu
daerah pelayanan dimana kebutuhan air ini berfluktulasi tergantung dari pemakaiannya. Dalam
merencanakan sistem pompa distribusi dan menentukan kapasitas pompa distribusi diperlukan data
perkiraan kebutuhan air maksimum, kebutuhan air rata-rata dan kebutuhan air minimum sehingga
diharapkan sistem dapat melayani kebutuhan air daerah pelayanan.
3.11.4 Head Sistem Pompa
Head menunjukkan energi atau kemampuan untuk usaha persatuan massa. Dalam pompa
head adalah ukuran energi yang diberikan ke air pada kapasitas dan kecepatan operasi tertentu,
sehingga air dapat mengalir dari tempat rendah ke tempat tinggi. Persamaan untuk head total
pompa adalah :
(3.14)
Dimana :
H

= Head Total

Hs

= Head Statik Pompa

Hp

= perbedaan tekanan

Hf

= head akibat belokan (minor losses)

41 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

BAB 4
KRITERIA PERENCANAAN
Dalam perencanaan suatu sistem penyediaan air minum, diperlukan beberapa kriteria dasar
dan acuan perencanaan. Tujuan dari pengajuan beberapa kriteria prencanaan adalah untuk
mendapatkan suatu hasil perencanaan yang sesuai dengan kondisi daerah perencanaan. Secara
umum dasar-dasar yang dipergunakan sebagai kriteria umum pada perencanaan sistem penyediaan
air minum yaitu :
Perkiraan perkembangan kota dan tata guna lahan berdasarkan kondisi kota pada waktu
sekarang dan prospeknya pada masa yang akan datang.
Kondisi fisik kota seperti topografi, geografi, pola jaringan jalan dll.
Kepadatan penduduk pada awal perencanaan dan proyeksi pertambahan penduduk kota
dalam waktu perencanaan.
Diusahakan perencanaan seekonomis mungkin tanpa meningggalkan fungsinya.
4.1 Area dan Blok Pelayanan

Penentuan daerah pelayanan dibagi menjadi beberapa blok dimana kebutuhan air per blok
hampir sama

Pembagian blok pelayanan disesuaikan berdasarkan jalan hal ini dikarenakan untuk
memudahkan dalam jaringan distribusi perpipaan penyediaan air minum nantinya
4.2 Kebutuhan Air Bersih

Kebutuhan Air Domestik


Sambungan Rumah (SR): 150 L/orang/hari

Kebutuhan Air Non Domestik


Pendidikan

: 2 m/unit/hari

Kesehatan

: 2 m/unit/hari

Peribadatan

: 3 m/unit/hari

Industri

: 8 m/unit/hari

1.

Kebocoran/kehilangan air diasumsikan sebesar 20% dari total produksi .

2.

Fluktuasi pemakaian air.

Pemakaian air pada hari maksimum = (1,1) x Qtotal

42 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5


3.

Pemakaian air pada jam maksimum = (1,5) x Qtotal

Target pelayanan dalam perencanaan Sistem Penyediaan Air Minum ini adalah pada
tahun 2024 telah terlayani 100% pada masing-masing kelurahan.

4.3 Sistem Distribusi


1. Sistem yang digunakan adalah continuous system (sistem berkelanjutan).
2. Sistem yang digunakan adalah sistem Loop atau sistem melingkar
3. Debit aliran setiap tapping mimiliki aliran yang hampir sama.
4.4 Perpipaan dan Tekanan dalam Pipa
1. Tekanan air dalam pipa:
a. Tekanan maksimum direncanakan sebesar 100 m kolom air
b. Tekanan minimum direncanakan sebesar 10 m kolom air
2. Kecepatan pengaliran dalam pipa 0,3 2,5 m/detik.
Kecepatan yang terlalu kecil menyebabkan endapan yang ada dalam pipa tidak dapat
terdorong sehingga dapat menyumbat aliran pada pipa.
3. Jenis pipa yang digunakan adalah jenis PE dengan koefisien kekasaran Hazen-Williams
140.

43 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

BAB 5
PERHITUNGAN PROYEKSI PENDUDUK DAN KEBUTUHAN AIR BERSIH

5.1 Proyeksi Penduduk


Semakin maju suatu negara, semakin mudah pula akses masyarakatnya ke air bersih
maupun air minum. Dalam rangka memeratakan suplai kebutuhan akan air bersih, maka diperlukan
rencana saluran penyediaan air minum. Perencanaan penyediaan air minum Bojonegoro berikut ini
adalah sampai tahun 2024. Dalam merencanakan hal tersebut, hal pertama yang umum dilakukan
adalah memperkirakan jumlah penduduk di masa yang akan datang dalam waktu yang direncanakan
akan dihitung.
Perhitungan proyeksi penduduk dapat dihitung menggunakan lima metode, yakni.
Namun dalam perhitungan kali ini akan dihitung menggunakan tiga metode, yakni. Koefisien korelasi
dari ketiga metode tersebut dipilih yang mendekati 1 (grafik linier) sehingga dapat ditentukan
metode/rumus mana yang akan digunakan menghitung proyeksi penduduk kota Bojonegoro. Dalam
menghitung nilai korelasi digunakan rumus sebagai berikut :

{[

] [

]}

Dari data Biro Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk dari tahun 2000 sampai tahun
2010 kota Bojonegoro yang dapat dilihat pada Tabel .
Tabel 5.1 Data Penduduk Kota Bojonegoro Tahun 2000 - 2010
Jumlah
Tahun
Penduduk
2004

77823

2005

78923

2006

79921

2007

83011

2008

83628

2009

84537

2010

82933

2011

90538

2012

99526

2013

97764

Jumlah

858604

44 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Sumber : BPS Jawa Timur


Maka dapat dihitung persentase pertambahan penduduk rata-rata per tahun, yaitu :

Langkah selanjutnya adalah menghitung nilai koefisien korelasi dan pertumbuhan penduduk dengan
menggunakan metode-metode sebagai berikut.

5.1.1 Metode Aritmatika


Metode ini sesuai untuk daerah dengan perkembangan penduduk yang selalu naik
secara konstan, dan dalam kurun waktu yang pendek. Perhitungan proyeksi penduduk dengan
metode Aritmatik dapat dihitung dengan yaitu rumus sebagai berikut :

Dimana:
Pn

= jumlah penduduk pada akhir tahun periode

Po

= jumlah penduduk pada awal proyeksi

= rata-rata pertambahan penduduk tiap tahun

dn

= kurun waktu proyeksi

Perhitungan Koefisien korelasi ( r ) dengan metode aritmatik menggunakan rumus :


{[

] [

]}

Dan Perhitungan Koefisien korelasi ( r ) dengan metode aritmatik dapat dilihat pada pada Tabel .
Tabel 5.2 Perhitungan Nilai Korelasi Metode Aritmatik
ARITMATIK
Tahun

Jumlah
Penduduk

xy

x2

y2

2004

77823

2005

78923

1100

1100

1210000

2006

79921

998

1996

996004

2007

83011

3090

9270

9548100

2008

83628

617

2468

16

380689

2009

84537

909

4545

25

826281

2010

82933

-1604

-9624

36

2572816

45 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

2011

90538

7605

53235

49

57836025

2012

99526

8988

71904

64

80784144

2013

97764

-1762

-15858

81

3104644

JUMLAH

858604

45

19941

119036

285

157258703

0,2976147

Sumber : Hasil Perhitungan


Keterangan :
X

= urutan tahun

= pertambahan penduduk
2

= urutan tahun dikuadratkan

= pertambahan penduduk dikuadratkan

X
Y

= jumlah data

Maka dapat dihitung nilai korelasi (r) metode aritmatik sebagai berikut :

{[
{[

] [
] [

]}

]}

5.1.2 Metode Berganda (Geometrik)


Proyeksi dengan metoda ini menganggap bahwa perkembangan penduduk secara
otomatis berganda, dengan pertambahan penduduk. Metoda ini tidak memperhatikan adanya suatu
saat terjadi perkembangan menurun dan kemudian mantap, disebabkan kepadatan penduduk
mendekati maksimum. Perhitungan proyeksi penduduk dengan metode Geometri dapat dihitung
dengan rumus sebagai berikut :

Dimana :
Po

= Jumlah Penduduk mula-mula

Pn

= Penduduk tahun n

dn

= kurun waktu

= rata-rata prosentase tambahan penduduk pertahun

46 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Perhitungan Koefisien korelasi ( r ) dengan metode geometrik menggunakan rumus :

{[

] [

]}

Perhitungan Koefisien korelasi ( r ) dengan metode Geometri dapat dilihat pada pada Tabel .

Tabel 5.3 Perhitungan Nilai Korelasi Metode Geometri

GEOMETRI
Jumlah
Tahun
Penduduk
2004
77823
2005
78923
2006
79921
2007
83011
2008
83628
2009
84537
2010
82933
2011
90538
2012
99526
2013
97764
JUMLAH
858604
r

xy

x2

y2

0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
45

11,26219
11,27623
11,28879
11,32673
11,33413
11,34494
11,32579
11,41352
11,50817
11,49031
113,5708

0
11,27623
22,57759
33,98019
45,33653
56,72472
67,95473
79,89467
92,06539
103,4128
513,2229

0
1
4
9
16
25
36
49
64
81
285

126,8369753
127,1533173
127,4368683
128,2947764
128,4625861
128,7077677
128,2734813
130,2685514
132,4380733
132,0272627
1289,89966

0,9193877

Sumber : Hasil Perhitungan

Keterangan :
X

= urutan tahun

= ln jumlah penduduk

X2

= urutan tahun dikuadratkan

Y2

= ln jumlah penduduk di kuadratkan

= jumlah data

Maka

dapat

dihitung

nilai

korelasi

{[
{[

(r)

metode

] [
] [

Geometri

sebagai

berikut

]}
]}

47 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

5.1.3 Metode Selisih Kuadrat Minimum (Least Square)


Metoda ini digunakan untuk garis regresi linier yang berarti bahwa data perkembangan
penduduk masa lalu menggambarkan kecenderungan garis linier, meskipun perkembangan
penduduk tidak selalu bertambah. Dalam persamaan ini data yang dipakai jumlahnya harus ganjil.
Perhitungan proyeksi penduduk dengan metode Least Square dapat dihitung dengan rumus sebagai
berikut :

Dimana :
t = tambahan tahun terhitung dari tahun dasar
a={
b={

} {

} {

Perhitungan Koefisien korelasi ( r ) dengan metode Least Square menggunakan rumus :


{[

] [

]}

Dan perhitungan koefisien korelasi ( r ) dengan metode aritmatik dapat dilihat pada pada Tabel .
Tabel 5.4 Perhitungan Nilai Korelasi Metode Least Square
LEAST SQUARE
Jumlah
Tahun
x
y
xy
x2
y2
Penduduk
2004
77823
1
77823
77823
1
6056419329
2005
78923
2
78923
157846
4
6228839929
2006
79921
3
79921
239763
9
6387366241
2007
83011
4
83011
332044
16
6890826121
2008
83628
5
83628
418140
25
6993642384
2009
84537
6
84537
507222
36
7146504369
2010
82933
7
82933
580531
49
6877882489
2011
90538
8
90538
724304
64
8197129444
2012
99526
9
99526
895734
81
9905424676
2013
97764
10
97764
977640
100
9557799696
JUMLAH
858604
55
858604 4911047
385
74241834678

0,909642

Sumber : Hasil Perhitungan

Keterangan :
X = urutan tahun
Y = jumlah penduduk

48 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

X2 = urutan tahun dikuadratkan


Y2 = jumlah penduduk dikuadratkan

Maka

dapat

dihitung

nilai

korelasi

(r)

{[

metode

Least

sebagai

berikut

] [

{[

Square

] [

]}
]}

Kemudian dibandingkan nilai koefisien korelasi (r) pada setiap metode. Nilai koefisien korelasi (r)
untuk setiap metode dapat dilihat pada Tabel.
Tabel 5.5 Hasil Perhitungan Nilai Korelasi (r)
Metode
Korelasi (r)
Aritmatika
0,297614700
Geometri
0,919387705 paling mendekati 1
Least Square
0,909641956
Sumber : Hasil Perhitungan
Berdasarkan hasil perhitungan korelasi dengan ketiga metode tersebut, maka nilai koefisien korelasi
yang dipilih dalam perenanaan ini adalah nilai koefisien korelasi pada metode Geometrik, yaitu r =
0,919387705 karena nilai ini yang paling mendekati 1. Sehingga untuk perhitungan proyeksi
penduduknya menggunakan metode Geometrik.
Dalam menghitung proyeksi penduduk menggunakan metode geometrik, perlu diketahui
rata-rata prosentase tambahan penduduk pertahunnya. Hasil perhitungan rata-rata prosentase
tambahan penduduk pertahun dapat dilihat pada Tabel.
Tabel 5.6 Perhitungan Rata-rata Prosentase Tambahan Penduduk Pertahun
Jumlah
Penduduk
2004
77823
2005
78923
2006
79921
2007
83011
2008
83628
2009
84537
2010
82933
2011
90538
2012
99526
2013
97764
Jumlah
858604
Jumlah
Rata-rata per tahun
Tahun

Pertumbuhan Penduduk
Jiwa
%
0
0
1100
1,413463886
998
1,26452365
3090
3,866317989
617
0,743274988
909
1,086956522
-1604
-1,89739404
7605
9,170052934
8988
9,927323334
-1762
-1,770391656
19941
23,80412761
47,60825521
5,289806135

Sumber : Hasil Perhitungan

49 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Kemudian dilakukan perhitungan proyeksi penduduk Kota Bojonegoro hingga tahun 2024
menggunakan metode geometrik.
Contoh perhitungan proyeksi penduduk dengan menggunakan metode geometri:
Kelurahan Jetak
Pn

= Po (1+r)n

P2013

= P2012 (1+r) (2014-2013)

Pn

= 2876 (1+ 0,052898061)1

Pn

= 3028 jiwa

Hasil perhitungan selanjutnya dapat dilihat pada Tabel berikut.

50 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Tabel 5.7 Proyeksi Penduduk Kota Bojonegoro Hingga Tahun 2024


No

Kelurahan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Jetak
Pacul
Sukorejo
Sumbang
Klangon
Kepatihan
Mojokampung
Kadipaten
Ngrowo
Karangpacar
Campurejo
Semanding
Kalirejo
Mulyoagung
Banjarejo
Ledok Wetan
Kauman
Ledok Kulon
JUMLAH

Data asli
2012
2876
5173
12400
5257
4017
2474
4440
4096
5549
5211
5317
1338
2418
3407
7298
4901
3542
10874
90588

2013
3028
5447
13056
5535
4229
2605
4675
4313
5843
5487
5598
1409
2546
3587
7684
5160
3729
11449
95380

2014
3188
5735
13747
5828
4453
2743
4922
4541
6152
5777
5894
1483
2681
3777
8091
5433
3927
12055
100425

2015
3357
6038
14474
6136
4689
2888
5183
4781
6477
6082
6206
1562
2822
3977
8518
5721
4134
12693
105738

2016
3535
6358
15239
6461
4937
3040
5457
5034
6820
6404
6534
1644
2972
4187
8969
6023
4353
13364
111331

2017
3722
6694
16046
6803
5198
3201
5745
5300
7180
6743
6880
1731
3129
4409
9444
6342
4583
14071
117220

Tahun
2018
2019
3918
4126
7048
7421
16894
17788
7162
7541
5473
5762
3371
3549
6049
6369
5581
5876
7560
7960
7100
7475
7244
7627
1823
1919
3294
3469
4642
4887
9943
10469
6677
7031
4826
5081
14815
15599
123421 129950

2020
4344
7813
18729
7940
6067
3737
6706
6187
8381
7871
8031
2021
3652
5146
11023
7402
5350
16424
136824

2021
4574
8227
19720
8360
6388
3934
7061
6514
8825
8287
8456
2128
3845
5418
11606
7794
5633
17293
144061

2022
4816
8662
20763
8802
6726
4143
7434
6858
9291
8725
8903
2240
4049
5705
12220
8206
5931
18208
151682

2023
5070
9120
21861
9268
7082
4362
7828
7221
9783
9187
9374
2359
4263
6007
12866
8640
6245
19171
159706

Sumber : Hasil Perhitungan

51 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

2024
5339
9602
23017
9758
7457
4592
8242
7603
10300
9673
9870
2484
4488
6324
13547
9097
6575
20185
168154

5.2 Proyeksi Fasilitas


Di dalam suatu kota, kebutuhan air tidak hanya untuk aktivitas rumah tangga akan tetapi juga untuk melakukan aktivitas-aktivitas sosial
maupun perindustrian. Jika kebutuhan air pada rumah tangga dapat dihitung berdasarkan jumlah penduduk yang diketahui, maka dalam proyeksi
kebutuhan air minum untuk aktifitas dapat dihitung dengan perhitungan proyeksi fasilitas-fasilitas umum sebagai berikut.

Dimana :
Pn

= Jumlah penduduk tahun ke-n

Po

= Jumlah penduduk tahun mula-mula (2010)

Fn

= Jumlah fasilitas tahun ke-n

Fo

= Jumlah fasilitas tahun mula-mula (2010)

Contoh perhitungan proyeksi fasilitas pendidikan:


Kelurahan Jetak

Pn Fn
Po Fo
=
=
F2024 = 1,86

52 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Jumlah fasilitas dibulatkan menjadi 2


Tabel 5.8 Data Jumlah Fasilitas di Kota Bojonegoro pada Tahun 2013
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Kelurahan
Jetak
Pacul
Sukorejo
Sumbang
Klangon
Kepatihan
Mojokampung
Kadipaten
Ngrowo
Karangpacar
Campurejo
Semanding
Kalirejo
Mulyoagung
Banjarejo
Ledok Wetan
Kauman
Ledok Kulon
TOTAL

Jumlah Fasilitas 2013 (Unit)


Pendidikan Kesehatan Peribadatan Perindustrian
1
6
9
6
12
6
17
12
16
9
39
65
17
6
38
6
9
3
21
10
11
3
14
2
5
4
15
1
17
3
18
1
8
4
14
8
4
7
12
11
7
4
18
67
4
3
9
4
6
4
11
16
7
4
13
72
9
6
23
69
8
3
18
21
9
4
12
10
11
11
26
114
161
90
327
495

Hasil perhitungannya selanjutnya dapat dilihat pada Tabel 5.9 Proyeksi Fasilitas Pendidikan Kota Bojonegoro Hingga Tahun 2024

53 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Tabel 5.9 Proyeksi Fasilitas Pendidikan Kota Bojonegoro Hingga Tahun 2024
FASILITAS PENDIDIKAN

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Kelurahan
Jetak
Pacul
Sukorejo
Sumbang
Klangon
Kepatihan
Mojokampung
Kadipaten
Ngrowo
Karangpacar
Campurejo
Semanding
Kalirejo
Mulyoagung
Banjarejo
Ledok Wetan
Kauman
Ledok Kulon
TOTAL

Data
2012

2013

2014

2015

2016

2017

1
12
16
17
9
11
5
17
8
4
7
4
6
7
9
8
9
11
161

1
13
17
18
9
12
5
18
8
4
7
4
6
7
9
8
9
12
170

1
14
19
20
11
13
6
20
9
5
8
5
7
8
11
9
11
13
188

1
15
20
21
11
14
6
21
10
5
9
5
7
9
11
10
11
14
198

1
16
21
22
12
14
6
22
10
5
9
5
8
9
12
10
12
14
208

1
16
22
23
12
15
7
23
11
5
10
5
8
10
12
11
12
15
219

Proyeksi
2018
2019
1
17
23
24
13
16
7
24
11
6
10
6
9
10
13
11
13
16
231

2
18
24
26
14
17
8
26
12
6
11
6
9
11
14
12
14
17
243

2020

2021

2022

2023

2024

2
19
25
27
14
17
8
27
13
6
11
6
10
11
14
13
14
17
256

2
20
27
28
15
18
8
28
13
7
12
7
10
12
15
13
15
18
270

2
21
28
30
16
19
9
30
14
7
12
7
11
12
16
14
16
19
284

2
22
30
32
17
20
9
32
15
7
13
7
11
13
17
15
17
20
299

2
23
31
33
18
21
10
33
16
8
14
8
12
14
18
16
18
21
315

54 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Tabel 5.10 Hasil Proyeksi Fasilitas Kesehatan Kota Bojonegoro Hingga Tahun 2024
FASILITAS KESEHATAN

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Kelurahan
Jetak
Pacul
Sukorejo
Sumbang
Klangon
Kepatihan
Mojokampung
Kadipaten
Ngrowo
Karangpacar
Campurejo
Semanding
Kalirejo
Mulyoagung
Banjarejo
Ledok Wetan
Kauman
Ledok Kulon
TOTAL

Data
2012

2013

2014

2015

2016

2017

6
6
9
6
3
3
4
3
4
7
4
3
4
4
6
3
4
11
90

6
6
9
6
3
3
4
3
4
7
4
3
4
4
6
3
4
12
95

7
7
10
7
3
3
4
3
4
8
4
3
4
4
7
3
4
12
100

7
7
11
7
4
4
5
4
5
8
5
4
5
5
7
4
5
13
105

7
7
11
7
4
4
5
4
5
9
5
4
5
5
7
4
5
14
111

8
8
12
8
4
4
5
4
5
9
5
4
5
5
8
4
5
14
116

Proyeksi
2018
2019
8
8
12
8
4
4
5
4
5
10
5
4
5
5
8
4
5
15
123

9
9
13
9
4
4
6
4
6
10
6
4
6
6
9
4
6
16
129

2020

2021

2022

2023

2024

9
9
14
9
5
5
6
5
6
11
6
5
6
6
9
5
6
17
136

10
10
14
10
5
5
6
5
6
11
6
5
6
6
10
5
6
17
143

10
10
15
10
5
5
7
5
7
12
7
5
7
7
10
5
7
18
151

11
11
16
11
5
5
7
5
7
12
7
5
7
7
11
5
7
19
159

11
11
17
11
6
6
7
6
7
13
7
6
7
7
11
6
7
20
167

55 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Tabel 5.11 Hasil Proyeksi Fasilitas Peribadahan Kota Bojonegoro Hingga Tahun 2024
FASILITAS PERIBADAHAN

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Kelurahan
Jetak
Pacul
Sukorejo
Sumbang
Klangon
Kepatihan
Mojokampung
Kadipaten
Ngrowo
Karangpacar
Campurejo
Semanding
Kalirejo
Mulyoagung
Banjarejo
Ledok Wetan
Kauman
Ledok Kulon
TOTAL

Data
2012

2013

2014

2015

2016

2017

9
17
39
38
21
14
15
18
14
12
18
9
11
13
23
18
12
26
327

9
18
41
40
22
15
16
19
15
13
19
9
12
14
24
19
13
27
344

10
19
43
42
23
16
17
20
16
13
20
10
12
14
25
20
13
29
363

11
20
46
44
25
16
18
21
16
14
21
11
13
15
27
21
14
30
382

11
21
48
47
26
17
18
22
17
15
22
11
14
16
28
22
15
32
402

12
22
50
49
27
18
19
23
18
16
23
12
14
17
30
23
16
34
423

Proyeksi
2018
2019
12
23
53
52
29
19
20
25
19
16
25
12
15
18
31
25
16
35
446

13
24
56
55
30
20
22
26
20
17
26
13
16
19
33
26
17
37
469

2020

2021

2022

2023

2024

14
26
59
57
32
21
23
27
21
18
27
14
17
20
35
27
18
39
494

14
27
62
60
33
22
24
29
22
19
29
14
17
21
37
29
19
41
520

15
28
65
64
35
23
25
30
23
20
30
15
18
22
39
30
20
44
548

16
30
69
67
37
25
26
32
25
21
32
16
19
23
41
32
21
46
576

17
32
72
71
39
26
28
33
26
22
33
17
20
24
43
33
22
48
607

56 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Tabel 5.12 Hasil Proyeksi Fasilitas Perindustrian Kota Bojonegoro Hingga Tahun 2024
FASILITAS PERINDUSTRIAN

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Kelurahan
Jetak
Pacul
Sukorejo
Sumbang
Klangon
Kepatihan
Mojokampung
Kadipaten
Ngrowo
Karangpacar
Campurejo
Semanding
Kalirejo
Mulyoagung
Banjarejo
Ledok Wetan
Kauman
Ledok Kulon
TOTAL

Data
2012

2013

2014

2015

2016

2017

6
12
65
6
10
2
1
1
8
11
67
4
16
72
69
21
10
114
495

6
13
68
6
11
2
1
1
8
12
71
4
17
76
73
22
11
120
521

7
13
72
7
11
2
1
1
9
12
74
4
18
80
76
23
11
126
549

7
14
76
7
12
2
1
1
9
13
78
5
19
84
81
25
12
133
578

7
15
80
7
12
2
1
1
10
14
82
5
20
88
85
26
12
140
608

8
16
84
8
13
3
1
1
10
14
87
5
21
93
89
27
13
148
641

Proyeksi
2018
2019
8
16
89
8
14
3
1
1
11
15
91
5
22
98
94
29
14
155
674

9
17
93
9
14
3
1
1
11
16
96
6
23
103
99
30
14
164
710

2020

2021

2022

2023

2024

9
18
98
9
15
3
2
2
12
17
101
6
24
109
104
32
15
172
748

10
19
103
10
16
3
2
2
13
17
107
6
25
115
110
33
16
181
787

10
20
109
10
17
3
2
2
13
18
112
7
27
121
116
35
17
191
829

11
21
115
11
18
4
2
2
14
19
118
7
28
127
122
37
18
201
873

11
22
121
11
19
4
2
2
15
20
124
7
30
134
128
39
19
212
919

Sumber : Hasil Perhitungan

57 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

5.3 Penentuan Area Pelayanan dan Total Kebutuhan Air


Wilayah yang akan dilayani dalam perencanaan ini bergantung pada jumlah
penduduk pada tahun 2024. Sedangkan, prosentase pelayanannya adalah 100%.
Penentuan area-area pelayanan tentu saja tetap memperhatikan tata guna lahan (dapat
dilihat pada peta di gambaran umum). Perkiraan tata guna lahan untuk 10 tahun
kedepan didasarkan pada RTRW Bojonegoro. Standar-standar yang akan digunakan
adalah standar PU (keterangan lebih lanjut dapat dilihat di penjelasan tabel).
5.3.1 Kebutuhan Air Bersih Domestik
Berdasarkan gambar peta area pelayanan terlampir, area pelayanan sistem
penyaluran air ini mencakup sekitar 75% Kota Bojonegoro yang didasarkan pada tata
guna lahan dan kemudahan dalam menyalurkan air ke IPAL. Penentuan kebutuhan air
bersih pada Kota Bojonegoro didasarkan pada tabel 4.12 berikut.
Tabel 5.13 Besar Unit Konsumsi Berdasarkan Jumlah Penduduk

58 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Tabel 5.14 Besar Unit Konsumsi Berdasarkan Instansi

Perencanaan penyediaan air minum di kota Bojonegoro berikut hanya


menggunakan sambungan rumah. Hal ini dilakukan atas pertimbangan bahwa daerah
yang bersangkutan akan lebih maju baik dalam bidang ekonomi, sosial, maupun
pendidikan. Sehingga pemilihan sambungan rumah diharapkan adalah pilihan yang
dapat memenuhi kebutuhan di masa mendatang. Prosentasi wilayah terlayani
perencanaan pada 5 tahun mendatang (tahun 2019) adalah 50% dan pada tahun-10
(tahun 2024) adalah 100%. Perhitungan proyeksi kebutuhan air untuk pertama kali
dilakukan untuk seluruh kota (komunal). Kemudian, untuk prosentase perencanaan
kebutuhan air yang akan direncanakan untuk masing-masing kelurahan (detail wilayah
yang akan dilayani yang tersedia adalah kelurahan) adalah didasarkan pada prosentase
jumlah penduduk di kelurahan yang bersangkutan.
Kriteria-kriteria yang digunakan:

Sambungan Rumah berdasarkan Ditjen PU Tahun 2000

Fasilitas Pendidikan berdasarkan Ditjen PU Tahun 2000 (10 L/murid/hari)


dimana diasumsikan bahwa setiap unit memiliki murid sebanyak 200 orang.
Sehingga diperoleh dalam sehari kebutuhan untuk pendidikan adalah 2 m3.

Fasilitas Kesehatan dan Peribadatan berdasarkan Ditjen PU Tahun 2000

Fasilitas Industri berdasarkan asumsi

Kriteria lain berdasarkan Ditjen PU Tahun 2000

59 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Tabel 5.15 Proyeksi Kebutuhan Air Bersih Kota Bojonegoro 2012-2024

2017
104527
47
49128

Tahun
2018
107563
49
52706

2019
110686
50
55343

2020
113900
60
68340

2021
117208
70
82045

2022
120611
80
96489

2023
124114
90
111702

2024
127718
100
127718

44
45
46
42207
44420
46726
5
5
5
8441
8884
9345
100
100
130
48,85
51,41
70,30
Kebutuhan Non Domestik

47
49128
5
9826
130
73,92

49
52706
5
10541
130
79,30

50
55343
5
11069
130
83,27

60
68340
5
13668
130
102,83

70
82045
5
16409
130
123,45

80
96489
5
19298
130
145,18

90
111702
5
22340
130
168,07

100
127718
5
25544
130
192,17

166
2
3,835

175
2
4,061

181
2
4,179

186
2
4,300

191
2
4,425

197
2
4,554

202
2
4,686

208
2
4,822

214
2
4,962

221
2
5,106

227
2
5,254

234
2
5,407

90
2
2,083

93
2
2,144

95
2
2,206

98
2
2,270

101
2
2,336

104
2
2,404

107
2
2,474

110
2
2,546

113
2
2,619

116
2
2,696

120
2
2,774

123
2
2,854

127
2
2,937

Unit
m3/unit.hr
L/dtk

327
3
11,354

336
3
11,684

346
3
12,023

356
3
12,372

367
3
12,732

377
3
13,101

388
3
13,482

400
3
13,873

411
3
14,276

423
3
14,691

435
3
15,117

448
3
15,556

461
3
16,008

Unit
m3/unit.hr
L/dtk
L/dtk
L/dtk
%
L/dtk
L/dtk
L/dtk
L/dtk

11
8
1,019
18,18
60,12
20
12,02
72,15
108,22
79,36

11
8
1,048
18,71
65,10
20
13,02
78,13
117,19
85,94

12
8
1,079
19,37
68,22
20
13,64
81,86
122,80
90,05

12
8
1,110
19,93
71,34
20
14,27
85,61
128,42
94,17

12
8
1,142
20,51
90,81
20
18,16
108,98
163,47
119,88

13
8
1,175
21,11
95,02
20
19,00
114,03
171,04
125,43

13
8
1,209
21,72
101,02
20
20,20
121,23
181,84
133,35

13
8
1,244
22,35
105,62
20
21,12
126,74
190,12
139,42

14
8
1,281
23,00
125,82
20
25,16
150,99
226,48
166,09

14
8
1,318
23,67
147,11
20
29,42
176,54
264,81
194,19

15
8
1,356
24,35
169,53
20
33,91
203,44
305,16
223,78

15
8
1,395
25,06
193,13
20
38,63
231,76
347,64
254,93

16
8
1,436
25,79
217,96
20
43,59
261,55
392,32
287,70

No

Uraian

Satuan/ Unit

1
2
3

Jumlah Penduduk
Prosentase Pelayanan
Penduduk Terlayani

Sambungan Rumah (SR)


Prosentase Pelayanan
Penduduk Terlayani
Penduduk per sambungan
Jumlah Sambungan
Unit Konsumsi
Pemakaian Rata-rata

Fasilitas Pendidikan
Jumlah Pelanggan
Unit Konsumsi
Pemakaian Rata-rata
Fasilitas Kesehatan
Jumlah Pelanggan
6
Unit Konsumsi
Pemakaian Rata-rata
Fasilitas Peribadatan
Jumlah Pelanggan
7
Unit Konsumsi
Pemakaian Rata-rata
Fasilitas Perindustrian
Jumlah Pelanggan
8
Unit Konsumsi
Pemakaian Rata-rata
Q Non Domestik Total
Q Domestik + Q non domestik
5

Q Kebocoran
Q Rata-rata
Q Jam Puncak
Q Hari Maksimum

Orang
%
Orang

2012
90588
40
36235

2013
93219
43
40084

2014
95926
44
42207

%
Orang
Org/SR
Unit
L/org.hr
L/dtk

40
36235
5
7247
100
41,94

43
40084
5
8017
100
46,39

Unit
m3/unit.hr
L/dtk

161
2
3,727

Unit
m3/unit.hr
L/dtk

2015
2016
98711
101578
45
46
44420
46726
Kebutuhan Domestik

60 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Tabel 5.16 Prosentase Jumlah Penduduk Masing-Masing Kelurahan Tahun 2024


JUMLAH PENDUDUK
No

2024

Kelurahan
JIWA

Jetak

2876

3,17

Pacul

5173

5,71

Sukorejo

12400

13,69

Sumbang

5257

5,80

Klangon

4017

4,43

Kepatihan

2474

2,73

Mojokampung

4440

4,90

Kadipaten

4096

4,52

Ngrowo

5549

6,13

10

Karangpacar

5211

5,75

11

Campurejo

5317

5,87

12

Semanding

1338

1,48

13

Kalirejo

2418

2,67

14

Mulyoagung

3407

3,76

15

Banjarejo

7298

8,06

61 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

16

Ledok Wetan

4901

5,41

17

Kauman

3542

3,91

18

Ledok Kulon

10874

12,00

90588

100

JUMLAH

62 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Tabel 5.17 Proyeksi Kebutuhan Air Masing-Masing Kelurahan Tahun 2024


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Kelurahan
Jetak
Pacul
Sukorejo
Sumbang
Klangon
Kepatihan
Mojokampung
Kadipaten
Ngrowo
Karangpacar
Campurejo
Semanding
Kalirejo
Mulyoagung
Banjarejo
Ledok Wetan
Kauman
Ledok Kulon
TOTAL

Penduduk
(%)
3,17
5,71
13,69
5,80
4,43
2,73
4,90
4,52
6,13
5,75
5,87
1,48
2,67
3,76
8,06
5,41
3,91
12,00
100

Fasilitas (%)
Pd
0,62
7,45
9,94
10,56
5,59
6,83
3,11
10,56
4,97
2,48
4,35
2,48
3,73
4,35
5,59
4,97
5,59
6,83
100

K
6,67
6,67
10,00
6,67
3,33
3,33
4,44
3,33
4,44
7,78
4,44
3,33
4,44
4,44
6,67
3,33
4,44
12,22
100

P
2,75
5,20
11,93
11,62
6,42
4,28
4,59
5,50
4,28
3,67
5,50
2,75
3,36
3,98
7,03
5,50
3,67
7,95
100

I
1,21
2,42
13,13
1,21
2,02
0,40
0,20
0,20
1,62
2,22
13,54
0,81
3,23
14,55
13,94
4,24
2,02
23,03
100

Q Domestik +
Q kebocoran
(L/s)

Q Non Domestik Total (L/s)


Pd

235,76

5,41

2,94

16,01

1,44

235,76

5,41

2,94

16,01

1,44

Q Non Domestik (L/s)


Pd
0,03
0,40
0,54
0,57
0,30
0,37
0,17
0,57
0,27
0,13
0,24
0,13
0,20
0,24
0,30
0,27
0,30
0,37
5,41

K
0,20
0,20
0,29
0,20
0,10
0,10
0,13
0,10
0,13
0,23
0,13
0,10
0,13
0,13
0,20
0,10
0,13
0,36
2,937

P
0,44
0,83
1,91
1,86
1,03
0,69
0,73
0,88
0,69
0,59
0,88
0,44
0,54
0,64
1,13
0,88
0,59
1,27
16,01

I
0,017
0,035
0,189
0,017
0,029
0,006
0,003
0,003
0,023
0,032
0,194
0,012
0,046
0,209
0,200
0,061
0,029
0,331
1,44

Q
Domestik Q ratarata
+Q
kebocoran
7,48
8,17
13,46
14,93
32,27
35,20
13,68
16,33
10,45
11,91
6,44
7,60
11,56
12,59
10,66
12,21
14,44
15,55
13,56
14,54
13,84
15,28
3,48
4,17
6,29
7,21
8,87
10,08
18,99
20,82
12,76
14,06
9,22
10,27
28,30
30,63
235,76
261,55

Keterangan
Pd: Pendidikan
K: Kesehatan
P: Peribadahan
I: Industri

Berdasarkan Q rata-rata maka dapat dihitung Q jp dan Q HM (sudah ada pada tabel) Q jp: 261,55 x 1,5 = 392,32 dan Q HM : 261,55 x 1,1 = 287,70

63 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

5.4 Pembagian Blok Pelayanan dan Kebutuhan Air Bersih Tiap Blok
Pembagian blok adalah hal yang harus dilakukan saat kita akan merencanakan
sistem penyediaan air minum di suatu kota. Hal tersebut bertujuan agar pengecekan
debit air dan kebocoran pipa mudah dilakukan (dibanding tidak ada blok). Akan tetapi,
sebelum membuat blok, pada perencanaa SPAM Bojonegoro berikut ini dilakukan
perencanaan pipa utama. Perencanaan pipa utama disini mempertimbangkan paling
utama adalah tersedianya akses menuju daerah pelayanan ( adanya jalan raya/ jalan
milik pemerintah). Hal tersebut dilakukan agar pemasangan pipa lebih mudah dan tidak
akan ada sengketa lahan di kemudian hari.
Pipa utama yang akan direncanakan berikut ini adalah pipa utama yang
berbentuk loop dan bercabang. Pipa loop digunakan agar tekanan air di dalam loop
tersebut dapat tetap sama. Sedangkan pipa bercabang dimaksudkan untuk daerah yang
peruntukkannya tidak hanya untuk permukiman penduduk (misal: sawah). Peruntukkan
masing-masing wilayah dapat dilihat di gambaran umum (lihat peta dari google earth).
Peta tersebut menggambarkan daerah yang sebenarnya dan terkini, yaitu Oktober 2014.
Gambar 5.1 Pipa Utama Kecamatan Bojonegoro

64 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Blok

Kelurahan

Tabel 5.18 Pembagian Blok dan Kebutuhan Air Bersih Tiap Blok Kota Bojonegoro
Q (L/s)
% blok
Q domestik
Q non domestik
Q kebocoran Q total
Q rata-rata harian
100

23,067

2,33

5,08

25,40

30,48

33,53

45,72

Ledok Wetan

17

1,77

0,22

0,40

1,99

2,39

2,63

3,58

24,83

2,55

5,48

27,39

32,87

36,15

49,30

Ledok Wetan

83

8,63

1,09

1,94

9,72

11,66

12,82

17,49

Kauman

100

7,514

1,05

1,71

8,56

10,28

11,30

15,41

Kepatihan

100

5,248

1,16

1,28

6,41

7,69

8,46

11,53

Klangon

100

8,521

1,46

2,00

9,98

11,97

13,17

17,96

29,91

4,75

6,93

34,66

41,60

45,76

62,39

Total Q blok

Karangpacar

100

11,054

0,98

2,41

12,04

14,44

15,89

21,67

Kadipaten

100

8,689

1,55

2,05

10,24

12,29

13,52

18,44

Mojokampung

100

9,419

1,04

2,09

10,45

12,55

13,80

18,82

Ngrowo

58

6,827

0,64

1,49

7,47

8,96

9,86

13,45

35,99

4,21

8,04

40,20

48,24

53,07

72,36

Total Q blok
4

Qjp

Ledok Kulon

Total Q blok

Qhm

Ngrowo

0,71

0,07

0,15

0,77

0,93

1,02

1,39

Sukorejo

100

26,30

2,93

5,85

29,23

35,08

38,59

52,62

27,01

3,00

6,00

30,01

36,01

39,61

54,01

Total Q blok

65 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Sumbang

100

11,15

2,64

2,76

13,80

16,56

18,21

24,83

Jetak

100

6,10

0,69

1,36

6,79

8,15

8,96

12,22

Pacul

100

10,97

1,47

2,49

12,44

14,93

16,42

22,39

28,23

4,80

6,60

33,02

39,63

43,59

59,44

Total Q blok

Ngrowo

36

4,24

0,40

0,93

4,64

5,56

6,12

8,35

Campurejo

51

5,75

0,73

1,30

6,49

7,78

8,56

11,68

Banjarejo

100

15,48

1,82

3,46

17,31

20,77

22,84

31,15

25,47

2,96

5,69

28,43

34,12

37,53

51,17

Total Q blok

Campurejo

49

5,53

0,71

1,25

6,23

7,48

8,23

11,22

Semanding

100

2,84

0,68

0,70

3,52

4,23

4,65

6,34

Kalirejo

100

5,13

0,92

1,21

6,05

7,26

7,98

10,88

Mulyoagung

100

7,23

1,21

1,69

8,44

10,13

11,14

15,19

Total Q blok

20,72

3,52

4,85

24,24

29,09

32,00

43,63

Total seluruh blok

192,17

25,79

43,59

217,96

261,55

287,70 392,32

66 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Gambar 5.2 Blok Pelayanan Air Minum Kecamatan Bojonegoro Tahun 2024

67 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

BAB 6
PERENCANAAN DAN PERHITUNGAN PIPA, RESERVOIR, DAN POMPA

6.1 Analisa Jaringan Pipa


Sebelum melakukan analisa jaringan pipa, terlebih dahulu membuat jaringan pipa induk
untuk melayani blok blok pelayanan. Pembuatan jaringan induk pipa air bersih diusahakan
mencakup daerah pelayanan pada tahun perencanaan. Jaringan pipa induk dibuat dengan sistem
loop agar air bersih terdistribusi secara merata. Pipa induk yang dibuat diusahakan tidak melewati
sungai maupun rel kereta api agar biaya yang dibutuhkan tidak terlalu mahal. Tetapi pada
kenyataannya, ditengah Kota Bojonegoro dilewati sungai dan rel kereta api sehingga perlu dibangun
bangunan tambahan untuk dapat tetap lancar mendistribusikan air bersih tersebut. Desain jaringan
pipa induk juga mempertimbangkan daerah-daerah yang nantinya akan berkembang sehingga
dipasangi tapping (titik pengambilan air) untuk memenuhi kebutuhan air daerah tersebut.
Analisa jaringan pipa induk dapat dilakukan dengan cara manual dan cara menggunakan
program komputer. Cara manual digunakan untuk menganalisa kesesuaian diameter rencana untuk
mengalirkan debit minimum (Qmin) dengan kontrol kecepatan. Sedangkan dengan program
komputer digunakan untuk mendapatkan dimensi pipa yang tepat, efisien dan ekonomis seuai
dengan kriteria perencanaan yang digunakan/dipakai. Peta jaringan pipa induk dapat dilihat pada
Gambar terlampir
6.1.1 Analisa Hardy Cross
Analisa Hardy-Cross dilakukan untuk mendapatkan dimensi pipa yang tepat, tetapi lebih
baik menggunakan program Epanet untuk mempermudah pengerjaan. Dalam perencanaan ini,
Analisa Hardy-Cross dilakukan hingga Q 0,01. Analisa Hardy-Cross digunakan dengan
pertimbangan :
- Keakuratan hasil perhitungan
- Kemudahan dalam penggunaan
- Umum digunakan
Adapun persamaan-persamaan yang digunakan dalam metode Hardy-Cross antara lain :
1.

Persamaan Mass Balance


Untuk mengasumsi arah aliran, dengan persamaan ini debit aliran masuk sama dengan debit
aliran keluar (Qin = Qout).

2.

Persamaan Hazen William

68 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Dimana :

3.

Hf

= Headloss (m)

= panjang pipa (m)

= debit aliran (m3/s)

= koefisien Hazen-William untuk kekasaran pipa

= diameter pipa (m)

Koreksi debit Hazen William

: debit koreksi (m3/s)

Cara perhitungan :
a.

Mengasumsikan arah dan debit aliran setiap pipa dalam sistem jaringan dengan jumlah debit
masuk pada tiap sambungan sama dengan debit keluar sambungan pipa.

b.

memilih loop per loop dalam sistem dan hitung headloss berdasarkan debit asumsi dengan
memperhatikan arah aliran :

arah aliran searah jarum jam = +

arah aliran berlawanan arah jarum jam = -

c.

Tanpa memperhatikan tanda, hitunglah nilai Hf/Q1

d.

Menghitung debit koreksi dengan persamaan Q dan koreksi nilai Q tiap loop

e.

Mengulangi prosedur di atas untuk setiap loop, sehingga headloss yang diperoleh nilainya
kecil sekali (Q 0,01)

Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.

69 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Tabel 6.1 Perhitungan Hardy Cross Iterasi 1


Loop

Pipa

AB
BC
CD
DE
AZ
EZ

Panjang
(m)
1423
1456
271
1096
896
754

ED
DG
GF
FE

1096
1421
1132
1645

CD
DG
GH
HI
IC

271
1421
2122
3880
1243

Arah
+
+
+
JUMLAH
+
+
JUMLAH
+
+
JUMLAH

Debit
(L/s)
66,78
66,78
20
110
66,78
200

ITERASI 1
D terpakai
Vcek
(mm)
290,6
1,007
290,6
1,007
290,6
0,302
409,2
0,836
290,6
1,007
409,2
1,521

110
110
90
90

368,2
368,2
204,6
327,4

1,033
1,033
2,738
1,069

20
90
180
46,78
46,78

290,6
368,2
409,2
204,6
290,6

0,302
0,845
1,369
1,423
0,705

Headloss
(m)
-5,762
-5,895
0,118
2,113
-3,628
4,393
-8,660
-3,532
-4,579
43,892
6,476
42,257
-0,118
3,159
10,175
-44,837
-2,605
-34,226

Hf/Q

86,276
88,277
5,896
19,210
54,324
21,967
275,951
32,108
41,629
487,688
71,954
633,380
5,896
35,101
56,527
958,457
55,688
1111,669

0,017

Q koreksi
(L/s)
66,763
66,763
20,017
110,017
66,763
200,017

-0,036

110,036
110,036
89,964
89,964

0,017

19,983
90,017
180,017
46,763
46,763

Tabel 6.2 Perhitungan Hardy Cross Iterasi 2


Loop

Pipa

AB
BC
CD
DE
AZ
EZ

Panjang
(m)
1423
1456
271
1096
896
754

ED
DG
GF
FE

1096
1421
1132
1645

CD
DG
GH
HI
IC

271
1421
2122
3880
1243

Arah

Debit
(L/s)
66,76
66,76
20,02
110,02
66,76
200,02

+
+
+
JUMLAH
110,04
110,04
+
89,96
+
89,96
JUMLAH
19,98
+
90,02
+
180,02
46,76
46,76
JUMLAH

ITERASI 2
D terpakai
Vcek
(mm)
290,6
1,007
290,6
1,007
290,6
0,302
409,2
0,837
290,6
1,007
409,2
1,521
368,2
368,2
204,6
327,4

1,033
1,033
2,736
1,069

290,6
368,2
409,2
204,6
290,6

0,301
0,845
1,369
1,422
0,705

Headloss
(m)
-5,759
-5,892
0,118
2,114
-3,626
4,394
-8,651
-3,534
-4,582
43,859
6,471
42,214
-0,118
3,160
10,177
-44,807
-2,603
-34,191

Hf/Q

86,257
88,258
5,901
19,212
54,313
21,969
275,910
32,117
41,641
487,522
71,930
633,210
5,892
35,107
56,531
958,167
55,671
1111,368

0,017

Q koreksi
(L/s)
66,746
66,746
20,034
110,034
66,746
200,034

-0,036

110,072
110,072
89,928
89,928

0,017

19,967
90,033
180,033
46,747
46,747

70 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Tabel 6.3 Perhitungan Hardy Cross Iterasi 3


Loop

Pipa

AB
BC
CD
DE
AZ
EZ

Panjang
(m)
1423
1456
271
1096
896
754

ED
DG
GF
FE

1096
1421
1132
1645

CD
DG
GH
HI
IC

271
1421
2122
3880
1243

Arah

Debit
(L/s)
66,75
66,75
20,03
110,03
66,75
200,03

+
+
+
JUMLAH
110,07
110,07
+
89,93
+
89,93
JUMLAH
19,97
+
90,03
+
180,03
46,75
46,75
JUMLAH

ITERASI 3
D terpakai
Vcek
(mm)
290,6
1,006
290,6
1,006
290,6
0,302
409,2
0,837
290,6
1,006
409,2
1,521
368,2
368,2
204,6
327,4

1,034
1,034
2,735
1,068

290,6
368,2
409,2
204,6
290,6

0,301
0,846
1,369
1,422
0,705

Headloss
(m)
-5,756
-5,890
0,118
2,114
-3,624
4,395
-8,643
-3,536
-4,585
43,827
6,466
42,172
-0,118
3,161
10,178
-44,778
-2,602
-34,157

Hf/Q

86,239
88,239
5,905
19,215
54,301
21,970
275,869
32,126
41,652
487,356
71,905
633,040
5,888
35,112
56,536
957,878
55,654
1111,067

0,017

Q koreksi
(L/s)
66,729
66,729
20,051
110,051
66,729
200,051

-0,036

110,108
110,108
89,892
89,892

0,017

19,950
90,050
180,050
46,730
46,730

Tabel 6.4 Perhitungan Hardy Cross Iterasi 4


Loop

Pipa

AB
BC
CD
DE
AZ
EZ

Panjang
(m)
1423
1456
271
1096
896
754

ED
DG
GF
FE

1096
1421
1132
1645

CD
DG
GH
HI
IC

271
1421
2122
3880
1243

Arah

Debit
(L/s)
66,73
66,73
20,05
110,05
66,73
200,05

+
+
+
JUMLAH
110,11
110,11
+
89,89
+
89,89
JUMLAH
19,95
+
90,05
+
180,05
46,73
46,73
JUMLAH

ITERASI 4
D terpakai
Vcek
(mm)
290,6
1,006
290,6
1,006
290,6
0,302
409,2
0,837
290,6
1,006
409,2
1,521
368,2
368,2
204,6
327,4

1,034
1,034
2,734
1,068

290,6
368,2
409,2
204,6
290,6

0,301
0,846
1,369
1,421
0,705

Headloss
(m)
-5,753
-5,887
0,118
2,115
-3,623
4,396
-8,634
-3,538
-4,588
43,794
6,462
42,130
-0,117
3,162
10,180
-44,748
-2,600
-34,122

Hf/Q

86,220
88,220
5,909
19,217
54,289
21,972
275,828
32,135
41,664
487,190
71,881
632,870
5,884
35,118
56,540
957,582
55,637
1110,761

0,017

Q koreksi
(L/s)
66,712
66,712
20,068
110,068
66,712
200,068

-0,036

110,144
110,144
89,856
89,856

0,017

19,933
90,067
180,067
46,713
46,713

6.1.2 Analisa dengan Komputer (Program Epanet)


Analisa dengan program Epanet dapat mempercepat dan mempermudah pengerjaan
dibandingkan dengan menghitung secara manual. Untuk lebih mempermudah, biasanya
mengerjakan analisa jaringan pipa induk dengan menggunakan program Epanet terlebih dahulu
kemudian analisa jaringan pipa dengan cara manual (Hardy-Cross). Program Epanet ini dipilih karena

71 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

murah (merupakan software gratis) dan cukup mudah untuk digunakan. Berikut ini akan dijelaskan
secara rinci langkah - langkah penggunaan program epanet adalah sebagai berikut.
A. Membuka Program dan Setting Program Epanet 2
1. Menjalankan program Epanet
Start Program Epanet 2.0
2. Setelah muncul Program Epanet, kemudian klik File lalu klik New untuk membuat lembar
kerja baru.
3. Membuat file gambar untuk peta dasar yang akan dibuat jaringan pipa induk dengan file
BMP atau WMF yang akan dimasukkan dalam Epanet.
4. Memasukkan gambar peta dalam bentuk WMF, yaitu klik View Backdroop Load tekan
file gambar rencana.
Gambar 6.1 Memasukkan Peta Pada Program Epanet

Gambar 6.2 Peta Bojonegoro pada Program Epanet

72 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

5. Setelah muncul peta Bojonegoro sebagai backdrop, kemudian mengatur dimension dan
default-nya sesuai satuan dan persamaan yang kita gunakan. Untuk membuka dimension,
klik view pada toolbar, pilih dimension. Pilihlah map units dalam meter. Ini menunjukkan
satuan yang dipakai nanti adalah dalam meter.
Gambar 6.3 Menentukan Satuan Dimensi dalam Epanet (meter) Kota Bojonegoro

6. Dengan cara yang sama pada toolbar Project default , akan muncul tampilan untuk
mengatur mengenai pipa, satuan aliran yang digunakan, dan lain-lain yang perlu untuk
diperhatikan. Untuk satuan debit digunakan LPS (Liter Per Second), Headloss Formula H-W
(Hazen-William), Maximum trial (lebih banyak lebih baik) 1000 kali, demand multiplier 1
untuk Q average yang digunakan.
Gambar 6.4 Menentukan Default Dimensi Debit, Headloss Formula, Maximum Trial dan Demand
Multiplier dalam Epanet Kota Bojonegoro

7. Kemudian sebelum membuat jaringan suatu sistem, terlebih dahulu menyamakan ukuran
satuan debit dan penentuan formula/rumus headloss, yaitu klik pada Toolbar Browser :
-

Data Options Hydraulics

73 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Gambar 6.5 Toolbar Browser Data Options Hydraulics pada Epanet

Pada Hydraulics klik 2 kali, kemudian isi Flow unit (LPS); Headloss Formula (H-W);
Maximum Trial 1000; Demand Multiplier 2 : untuk Q average yang dimasukkan dalam
data; Status Report (Yes).
Gambar 6.6 Toolbar Hydraulics pada Epanet

Data Options Times, kemudian isi Total duration 24 jam.

74 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Gambar 6.7 Toolbar Times Option pada Epanet

B. Membuat Jaringan Pipa Induk


Membuat loop jaringan pipa distribusi dengan memasang node, reservoir/pompa, dan pipa, atau
aksesoris lain yang diperlukan pada peta dengan menggunakan Toolbars Map yang tersedia
dalam program Epanet.
-

Klik Toolbar Reservoir dan letakkan pada gambar rencana

Klik Toolbar Node/Juction dan letakkan pada gambar rencana

Klik Toolbar Pipa dan hubungkan antar junction (tekan junction untuk node kemudian
letakkan pada gambar rencana)

Kemudian diteruskan untuk Reservoir, Pipa, Pompa dll.


Gambar 6.8 Jaringan Pipa Induk

75 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

C. Memasukkan Data
1. Setelah membuat jaringan sistem, kemudian mengisi masing-masing data pada junction,
pipe, reservoirs, pump, tanks dll.
2. Mengisi data Junctions. Pada Junction properties yang harus diisi antara lain:
-

Nama Junction (Junction ID) misal N1 (agar lebih cepat pengerjaannya, nama otomatis
yang telah diberikan oleh EPANET tidak perlu diganti).

Elevasi (Elevation) dalam meter

Debit (Base Demand) dalam L/s (Debit yang dimasukkan adalah debit rata-rata)

Isi angka saja (tanpa satuan) dan jika koma diperlukan penggunaannya digantikan titik
(.).

Note : untuk mengisi dengan cara klik 2 kali.


3. Mengisi data Pipa (Pipe). Pada Pipe properties yang harus diisi antara lain:
-

Nama Pipa (Pipe ID) misal P1 (agar lebih cepat pengerjaannya, nama otomatis yang
telah diberikan oleh EPANET tidak perlu diganti).

Panjang pipa (Length) dalam meter

Diameter Pipa dalam mm. Pengisian diameter menggunakan diameter dalam pipa PE.

Koefisien kekasaran pipa (roughness) 140 untuk pipa HDPE

Isi angka saja (tanpa satuan) dan jika koma diperlukan penggunaannya digantikan titik
(.).

Note : untuk mengisi dengan cara klik 2 kali.


Gambar 6.9 Memasukkan Data Pipa pada Jaringan Induk

4. Mengisi data Reservoir. Pada Reservoir properties yang harus diisi antara lain:
-

Nama Reservoir (Reservoirs ID) misal R1

Head Total (Total Head) dalam meter (pengisian secara trial sebelum diberikan pompa)

76 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

5. Mengisi jam puncak:


-

Klik Data, pilih pattern, klik 2 kali pada pattern

Maka akan muncul dialog seperti berikut

D. Run Data dan Model


1.

Setelah semua selesai, tekan RUN (berbentuk gambar kilat). Bila sistemnya benar dan air
dapat mengalir, maka run akan sukses. Jika masih belum sesuai maka, diameter pipa atau
ketinggian dari resevoir dapat diubah ubah hingga dapat memenuhi kriteria.

2.

Apabila RUN SUCCESSFULL maka dilanjutkan dengan penampilan data dan pengecekan data
apakah sudah memenuhi kriteria yaitu dengan velocity minimal 0,3 dan pressure minimal 10
m.

77 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Gambar 6.10 Run Data Epanet

3.

Penampilan hasil Run dalam bentuk tabel


-

Klik Report Table Type (network node dan network links) Columns (dipilih data
yang akan ditampilkan) OK
Gambar 6.11 Tampilan Nodes dan Links Hasil Run

4.

Pengecekan Data
Data yang dicek meliputi kecepatannya, headloss, pressure tiap node maupun pipa. Apabila
masih terdapat data yang tidak sesuai dengan standar maka isian untuk junction dan pipa
dapat diubah hingga didapatkan data yang sesuai dengan standar. Kemudian dilakukan RUN
dan ditampilkan lagi hasil entri data. Bila BELUM SUCCESS dicari kekurangannya, bisa dalam
penambahan pompa pada pipa, peningkatan debit, pengubahan diameter pipa.

5.

Penambahan Pompa
Penambahan pompa diperlukan untuk memenuhi head pipa induk. Head awal yang
dimasukkan adalah head total dimana jumlah head pompa dengan elevasi tinggi reservoar
(50 m). Elevasi tinggi di reservoar 22 m maka head pompa sebesar 28 m.

78 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Klik Toolbar browser Data Curves


Mengisi Curve ID misal Pump 1
Mengisi Flow (Debit) dalam L/s
Mengisi Head pompa dalam m
Gambar 6.12 Memasukkan Data Head dan Debit Pompa

Delete pipa antara reservoar dan P1

Menambahkan node antara reservoar dan P1 misal N1


Klik Toolbar Node/Juction dan letakkan antara reservoar dan P1

Menambahkan pompa antara reservoar dan node baru N1


Klik Toolbar Pump dan letakkan antara reservoar dan N1

Menambah pipa antara N1 dan 1 (node pertama)


Klik Toolbar Node/Juction dan letakkan antara N1 dan 1

Memasukkan kurva pompa ke data pompa dengan cara :


Klik Toolbar browser Data Pump

Running Data yang sudah diberikan pompa

79 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Gambar 6.13 Toolbar Browser Data-Pump

Gambar 6.14 Memasukkan Kurva Pompa ke Data Pompa

80 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Data kemudian ditampilkan dengan cara yang sama dalam bentuk tabel. Hasil running epanet
selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 6.5 Hasil Perhitungan Junction dengan Program Epanet

Sumber : Program Epanet

81 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Tabel 6.6 Hasil Perhitungan Pipes dengan Program Epanet

Sumber : Program Epanet


Diameter yang dimasukkan dalam perhitungan EPANET adalah diameter dalam. Diameter tersebut
sebelumnya telah dicocokkan dengan diameter yang ada di pasaran (pipa HDPE merek Vinilon).
Berikut dicantumkan diameter dalam dan luar pipa Vinilon.
Tabel 6.7 Daftar Ukuran Diameter Pipa HDPE merek Vinilon
OD
SDR
ID SDR
ID SDR
SDR 11
(mm)
13,6
11
13,6
20

2.3

20.4

25

2.3

20.4

82 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

32

26

40

3.7

32.6

50

4.6

3.7

40.8

42.6

63

5.8

4.7

51.4

53.6

75

6.8

5.6

61.4

63.8

90

8.2

6.7

73.6

76.6

110

10

8.1

90

93.8

125

11.4

9.2

102.2

106.6

160

14.6

11.8

130.8

136.4

180

16.4

13.3

147.2

153.4

200

18.2

14.7

163.6

170.6

225

20.5

16.6

184

191.8

250

22.7

18.4

204.6

213.2

315

28.6

23.2

257.8

268.6

355

32.2

26.1

290.6

302.8

400

36.3

29.4

327.4

341.2

450

40.9

33.2

368.2

383.6

500

45.4

36.8

409.2

426.4

630

57.2

46.3

515.6

537.4

710

52.2

605.6

800

900

1000

1200

Sumber : Brosur Pipa

Sehingga berdasarkan analisis menggunakan program EPANET 2.0, dapat diketahui bahwa diameter
terpasang masing-masing pipa adalah sebagai berikut (diurutkan dari ukuran terkecil hingga
terbesar).
SDR 11
ID

OD

(mm)

(mm)

102.2

125

83 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

184

225

204.6

250

290.6

355

327.4

400

368.2

450

409.2

500

515.6

630

6.2 Perhitungan Reservoir


Reservoir distribusi diperlukan dalam suatu sistem distribusi air minum karena konsumsi
air yang berfluktuasi. Pada saat pemakaian air dibawah konsumsi air rata-rata, maka suplai air yang
berlebihan akan ditampung dalam reservoir untuk mengimbangi pemakaian air yang lebih besar dari
pemakaian air rata-rata. Selain itu reservoir distribusi juga dipakai untuk memberikan tekanan yang
cukup pada setiap titik agar air dapat memancar dengan tekanan yang diinginkan.
Kapasitas reservoir ditentukan oleh fluktuasi pemakaian air dan pengaliran yang terjadi
dalam 1 hari yang dapat ditentukan dengan metode analisis yang didasarkan pada akumulasi
kuantitas, baik pengaliran maupun pemakaian sehari-hari. Dalam perencanaan ini, terdapat hanya
terdapat 1 macam reservoir, yaitu ground reservoir saja. Ground reservoir menerima suplai air
langsung dari Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) kemudian dipompa, lalu mengalirkannya
menuju area pelayanan.
Pada reservoir ini, besarnya suplai air dari IPAM adalah 100% dengan anggapan aliran
air mengalir secara kontinyu selama 24 jam sehingga dapat ditentukan prosentase air per jamnya,
yaitu:
Presentase pengaliran air per jam

= Besar suplai : 24 jam


= 100% : 24 jam
= 4.17 % / jam

84 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Tabel 6.8 Fluktuasi Pemakaian Air

Sumber Ditjen Cipta Karya PU


Berdasarkan kurva fluktuasi pemakaian air dalam 24 jam diatas, maka dapat ditentukan faktor jam
puncak. Sehingga volume reservoir akan dapat dihitung.
Tabel 6. 9 Hasil Fluktuasi Pengaliran Air dari IPAM ke Ground Reservoir
Jam
a
00.00 - 01.00
01.00 - 02.00
02.00 - 03.00
03.00 - 04.00
04.00 - 05.00
05.00 - 06.00
06.00 - 07.00
07.00 - 08.00
08.00 - 09.00
09.00 - 10.00
10.00 - 11.00
11.00 - 12.00
12.00 - 13.00
13.00 - 14.00
14.00 - 15.00
15.00 - 16.00
16.00 - 17.00
17.00 - 18.00
18.00 - 19.00
19.00 - 20.00
20.00 - 21.00
21.00 - 22.00
22.00 - 23.00
23.00 - 24.00

%
Pengaliran
b
4,17
4,17
4,17
4,17
4,17
4,17
4,17
4,17
4,17
4,17
4,17
4,17
4,17
4,17
4,17
4,17
4,17
4,17
4,17
4,17
4,17
4,17
4,17
4,17

Kumulatif
Pengaliran
c
4,17
8,33
12,50
16,67
20,83
25,00
29,17
33,33
37,50
41,67
45,83
50,00
54,17
58,33
62,50
66,67
70,83
75,00
79,17
83,33
87,50
91,67
95,83
100,00

Faktor
%
Pemakaian Konsumsi
d
e
0,27
1,13
0,38
1,58
0,42
1,75
0,51
2,13
1,00
4,17
1,40
5,83
1,50
6,25
1,46
6,08
1,32
5,50
1,30
5,42
1,25
5,21
1,22
5,08
1,20
5,00
1,20
5,00
1,22
5,08
1,29
5,38
1,35
5,63
1,40
5,83
1,10
4,58
0,90
3,75
0,70
2,92
0,50
2,08
0,33
1,38
0,30
1,25

Kumulatif
Konsumsi
f
1,13
2,71
4,46
6,58
10,75
16,58
22,83
28,92
34,42
39,83
45,04
50,13
55,13
60,13
65,21
70,58
76,21
82,04
86,63
90,38
93,29
95,38
96,75
98,00

Selisih

Volume

b-e
3,04
2,58
2,42
2,04
0,00
-1,67
-2,08
-1,92
-1,33
-1,25
-1,04
-0,92
-0,83
-0,83
-0,92
-1,21
-1,46
-1,67
-0,42
0,42
1,25
2,08
2,79
2,92

c-f
3,04
5,63
8,04
10,08
10,08
8,42
6,33
4,42
3,08
1,83
0,79
-0,13
-0,96
-1,79
-2,71
-3,92
-5,38
-7,04
-7,46
-7,04
-5,79
-3,71
-0,92
2,00

Sumber : Hasil Perhitungan

85 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Kemudian dapat dihitung dimensi ground reservoir dengan menggunakan persentase


kumulatif terbesar dan terkecil dari tabel diatas. Perhitungannya adalah sebagai berikut:

Kumulatif terbesar

= 10,08 %

Kumulatif terkecil

= -7,46 %

Jadi berdasarkan pada data di atas dapat diketahui kapasitas reservoir, yaitu:
Kapasitas reservoir = 10,08 % + 7,46 % = 17,54%
Maka volume reservoir tersebut adalah :
V = 17,54% x Q hari maksimum = 17,54% x 287,7 L/s
= 50,46 L/s x 1/1000 m 3 / L x 86400 s/hari x 1 hari
= 4360,4 m 3
Volume reservoir yang diperoleh sebesar 4360,4 m 3, sehingga dapat dihitung dimensi reservoir.
Perhitungan dimensi ground reservoir sebagai berikut.

Tinggi total reservoir (T)

= 5 m

Tinggi free board (fb)

= 0,3 m

Panjang : lebar

=3:2

= 3/2 L

= 3/2 L2

Volume reservoir (V)

= 4360,4 m 3

Maka dapat dihitung dimensi panjang dan lebar reservoir:

= V / (T fb)
= 4360,4 m 3/ (5 0,3) = 927,8 m2

3/2 L 2

= 927,8 m2

= 37,4 m

= 60 m

Jadi dimensi reservoir :

= 60 m

= 37,4 m

= 5 m

Free board

= 0,3 m

6.3 Pemilihan Pompa Distribusi Grundfos


Pada perencanaan ini, untuk mengetahui karakteristik pompa yang akan dipakai dalam
sistem

penyediaan

air

minum,

digunakan

aplikasi

yang

tersedia

pada

alamat

web

86 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

www.grundfos.com . Head yang akan digunakan pada pompa adalah 24 m, dan debit 287,71 L/s.
Berikut ini adalah langkah-langkah menggunakan aplikasi di alamat web grundfos tersebut.
a. Membuka alamat web www.grundfos.com kemudian mengetik WebCAPS pada alat pencarian
maka akan muncul Launch WebCAPS pada kolom sebelah kiri (klik link) atau dapat langsung
mengetikkan alamat berikut
(http://net.grundfos.com/Appl/WebCAPS/custom?userid=GMAtotal).
Gambar 6.15 Membuka WebCAPS pada Aplikasi Grundfos

b. Akan muncul tab pada seperti pada gambar 4.19, kemudian sebelum memilih karakteristik
pompa yang akan digunakan, terlebih dahulu melakukan settings
c. Pada tab default setting, product range diganti menjadi international (gambar 4.20). Sedangkan
units diganti menjadi user defined (gambar 4.21). Pada setting user defined, satuan flow diganti
menjadi L/s, dan head menjadi m.
Gambar 6.16 Default setting untuk Product Range

87 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Gambar 6.17 Default setting untuk User Defined

d. Setelah setting selesai, maka tutup tab default setting, kemudian pilih catalog. Klik pressure
boosting dan kemudian dipilih jenis pompa HS pada tab catalog application (gambar 4.23)
Gambar 6.18 Catalog pada WebCAPS

Gambar 6.19 Jenis Pompa yang Dipilih

88 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

e. Setelah memilih jenis pompa HS, maka karakteristik pompa yang kita perlukan dimasukkan pada
aplikasi WebCAPS. Pada kolom Flow (Q) dimasukkan 727,32 L/s dan pada kolom head (H)
dimasukkan 32 m, kemudian di enter.
Gambar 6.20 Memasukkan Kriteria Pompa

f.

Kemudian akan muncul seluruh pompa yang sesuai dengan kriteria yang kita perlukan. Pada
kriteria ini, terdapat 4 jenis pilihan pompa. Dari keempat jenis pompa tersebut, dipilih pompa
dengan persen efisiensi tertinggi, dan energi cost terendah untuk menghemat biaya operasional.
Kemudian dipilih pompa dengan product number 96793603.
Gambar 6.21 Pilihan Pompa sesuai Kriteria yang Diperlukan

89 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

g. Kemudian dipilih Efficiency yang paling tinggi dan Energy cost yang terendah, dari software yang
ada di web resmi grundfoss didapat spesifikasi dan dimensi pompa sebagai berikut
Gambar 6.22 Grafik Pilihan Pompa Sesuai Kriteria yang Diperlukan

Gambar 6.23 Dimensi Pompa Sesuai Kriteria yang Diperlukan

90 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

BAB 7
DETAIL JUNCTION

7.1 Simbol Detail Junction


Ada banyak aksesoris yang digunakan dalam pemasangan pipa air minum, di dalam
autocad aksesoris tersebut digambarkan dengan simbol-simbol tertentu. Seperti misalnya valves
yang disimbolkan pada gambar yang tercantum di bawah ini.
Gambar 7.1 Simbol Valve yang Ada di Autocad

Berikut akan diberikan beberapa simbol yang sering digunakan dalam perencanaan SPAM ini. Simbol
ini hanya sedikit dari simbol yang ada.
Tabel 7. 1 Simbol Detail Junction
No

Nama

Fungsi
Digunakan bila ada percabangan

All flange tee


2

Digunakan untuk belokan 450

91 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Bend flange 45o

Digunakan untuk belokan 900

Bend flange 90o


4

Dipakai sebagai penyambung yang kuat dan


fleksibel, agar mudah melepas aksesoris
didekatnya bila ada kerusakan
Giboult Joint

Mengatur debit air yang keluar/mengalir

Gate valve
6

Untuk sambungan pipa dipekecil atau diperbesar

Reducer

Increaser
7

Sambungan pipa yang masuk tembok, agar


pegangan pipa kuat pada tembok

Flange with thrust


8.

Mengetahui besarnya debit air yang mengalir

Meter air
9.

Mengetahui besarnya kecepatan air yang


mengalir

Quadrina

92 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

7.2 Perhitungan Detail Junction

Gambar detail junction menunjukkan jenis-jenis aksesoris yang digunakan pada tiap
node yang ada pada saluran distribusi air minum Kota Bojonegoro. Detail Junction termasuk juga
tapping (titik pengambilan air). Perincian setiap detail junction dapat dilihat pada gambar berikut.
Terlebih dahulu harus diketahui diameter dari tapping yang diinginkan, berikut adalah contoh
perhitungan diameter tapping untuk salah satu tapping yang ada pada blok 1 (blok 1 mempunyai 3
titik tapping :
Debit (Q)

= 12,74 L/detik = 0,01274 m3/detik

Kecepatan aliran (v)

= 0,46 m/detik

Diameter pipa (D)

4 xQ
4 x0,01274

xV
3,14 x0,6

= 127 mm
Kemudian dari diameter di atas dicocokkan dengan diameter yang ada di pasaran. Masing-masing
diameter tapping perencanaan SPAM Bojonegoro disajikan pada tabel di bawah ini.
Tabel 7.2 Diameter tapping untuk Masing-Masing Blok
ID terpasang
Q (L/s) v (m/s) ID (mm)
V cek
(mm)

Blok

Tapping

1a

12,74

127

130,8

0,95

160

1b

12,74

127

130,8

0,95

160

1c

12,74

127

130,8

0,95

160

2a

12,64

127

130,8

0,94

160

2b

12,64

127

130,8

0,94

160

2c

12,64

127

130,8

0,94

160

3a

12,71

127

130,8

0,95

160

3b

12,71

127

130,8

0,95

160

3c

12,71

127

130,8

0,95

160

4a

12,72

127

130,8

0,95

160

4b

12,72

127

130,8

0,95

160

4c

12,72

127

130,8

0,95

160

5a

12,6

127

130,8

0,94

160

5b

12,6

127

130,8

0,94

160

OD (mm)

93 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

5c

12,6

127

130,8

0,94

160

6a

12,7

127

130,8

0,94

160

6b

12,7

127

130,8

0,94

160

6c

12,7

127

130,8

0,94

160

7a

12,8

128

130,8

0,95

160

7b

12,8

128

130,8

0,95

160

7c

12,8

128

130,8

0,95

160

Sumber : Hasil Perhitungan

94 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Tabel 7.3 Detail Junction Masing-Masing Tapping


No
Node

1a

Node

Detail Junction

Keterangan
1. 2. Tee All Flange 125 mm x 125 mm (3
buah)
3. Reducer 125 x 110
4. Increaser 110 x 160
5. Pipa 160 mm
6. Gate Valve 125 mm (4 buah)
7. Giboult Joint 125 mm (2 buah) dan
165 mm (1 buah)
8. Flange with Thrust 125 mm (2 buah)
9. Bend All Flange 90o 125 mm (2 buah)
10. Pipa 125 mm
11. Meter air

95 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

1b

1. Pipa 125 mm
2. Giboult Joint 125 mm
3. Gate valve 125 mm
4. Increaser 110 x 125
5. Reducer 160 x 110
6. Tee all flange 160 mm (3 buah)
7. Reducer 200 x 160
8. Reducer 250 x 200
9. Tee all flange 250 mm
10. Pipa 250 mm
11. Reducer 355 x 250
12. Reducer 400 x 355
13. Gate valve 400 mm
14. Giboult joint 400 mm
15. Pipa 400 mm
16. Elbow 45 160 mm (3 buah)
17. Gate valve 16 mm (3 buah)
18. Giboult Joint 160 mm (3 buah)
19. Pipa 160 mm
20. Flange with Thrust 160 mm (2 buah)
21. Meter air

96 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

1c

1. Pipa 450 mm
2. Giboult Joint 450 mm
3. Gate valve 450 mm
4. Tee all flange 450 mm
5. Reducer 450 x 315 (2 buah)
6. Reducer 315 x 250 (2 buah)
7. Pipa 250 mm
8. Tee all flange 450 mm
9. Reducer 450 x 400
10. Gate valve 400 mm
11. Giboult joint 400 mm
12. Pipa 400 mm
13. Reducer 250 x 160
14. Elbow 45 160 mm
15. Gate valve 150 mm (4 buah)
16. Giboult joint 160 mm
17. Pipa 160 mm (2 buah)
18. Flange with thrust 160 mm (2 buah)
19. Tee all flange 160 mm (2 buah)
20. Meter air

97 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

2a

1. Pipa 630 mm
2. Giboult joint 630 mm
3. Gate valve 630 mm
4. Reducer 630 x 450
5. Tee all flange 450 mm
6. Increaser 450 x 500
7. Pipa 500 mm
8. Tee all flange 450 mm
9. Gate valve 450 mm
10. Giboult joint 450 mm
11. Pipa 450 mm
12. Reducer 450 x 315
13. Reducer 315 x 200
14. Reducer 200 x 160
15. Elbow 45 160 mm (3 buah)
16. Gate valve 160 mm (3 buah)
17. Giboult joint 160 mm (2 buah)
18. Pipa 160 mm (2 buah)
19. Flange with thrust (2 buah)
20. Tee all flange 160 mm (2 buah)
21. Meter air

98 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

2b

1. Pipa 500 mm
2. Giboult joint 500 mm
3. Gate valve 500 mm
4. Reducer 500 x 355
5. Tee all flange 355 mm
6. Elbow 90 355
7. Gate valve 355
8. Giboult joint 355 mm
9. Increaser 355 x 450
10. Pipa 450 mm
11. Reducer 355 x 250
12. Reducer 250 x 160
13. Elbow 45 160 mm
14. Gate valve 160 mm
15. Giboult joint 160 mm
16. Pipa 160 mm (2 buah)
17. Thrust with flange 160 mm (2 buah)
18. Tee all flange 160 mm
19. Elbow 90 160 mm (2 buah)
20. Meter air

99 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

2c

1. Pipa 250 mm
2. Giboult joint 250 mm
3. Gate valve 250 mm
4. Increaser 250 x 315
5. Increaser 315 x 450
6. Tee all flange 450 mm
7. Tee all flange 450 mm
8. Pipa 450 mm
9. Gate valve 355
10. Giboult joint 355 mm
11. Pipa 450 mm
12. Reducer 450 x 315
13. Reducer 315 x 250
14. Gate valve 160 mm
15. Giboult joint 160 mm
16. Pipa 160 mm (2 buah)
17. Thrust with flange 160 mm (2 buah)
18. Tee all flange 160 mm
19. Elbow 90 160 mm (2 buah
20. Meter air
21. Reducer 250 x 160

3a

1. Flange with thrust 450 mm (2 buah)


2. Tee all flange 450 mm (3 buah)
3. Gate valve 450 mm (4 buah)
4. Giboult joint 450 mm
5. Elbow 90 450 mm (2 buah)
6. Pipa 450 mm (2 buah)
7. Increaser 450 x 500
8. Pipa 500 mm
9. Reducer 450 x 315
10. Reducer 315 x 250
11. Reducer 250 x 160

100 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

3b

12. Gate valve 160 mm


13. Giboult joint 160 mm
14. Pipa 160 mm
15. Pipa 450 mm
16. Meter air
1. Pipa 500 mm
2. Giboult joint 500 mm
3. Gate valve 500 mm
4. Reducer 500 x 400
5. Tee all flange 400 mm
6. Tee all flange 400 mm
7. Gate valve 400 mm
8. Giboult joint 400 mm
9. Pipa 400 mm
10. Reducer 400 x 315
11. Reducer 315 x 200
12. Reducer 400 x 315
13. Reducer 315 x 200
14. Gate valve 160 mm
15. Giboult joint 160 mm
16. Pipa 160 mm
17. Flange with thrust 160 mm (2 buah)
18. Tee all flange 160 mm
19. Elbow 90 160 mm
20. Meter Air
21. Reducer 200 x 160
22. Elbow 45 160 mm
23. Reducer 200 x 160
24. Reducer 160 x 110
25. Increaser 110 x 125
26. Pipa 125 mm

101 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

3c

1. Pipa 250 mm
2. Giboult joint 250 mm
3. Gate valve 250 mm
4. Tee all flange 250 mm
5. Pipa 250 mm
6. Tee all flange 250 mm
7. Gate valve 250 mm
8. Reducer 250 x 160
9. Reducer 160 x 110
10. Increaser 110 x 125
11. Giboult joint 125 mm
12. Pipa 125 mm
13. Reducer 250 x 160
14. Elbow 45 160 mm
15. Gate valve 160 mm
16. Giboult Joint 160 mm (3 buah)
17. Pipa 160 mm
18. Flange with Thrust 160 mm (2 buah)
19. Tee all flange 160 mm
20. Elbow 90 160 mm
21. Meter air

102 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

4a

1. Pipa 355 mm (3 buah)


2. Giboult joint 355 (2 buah)
3. Gate valve 355 (2 buah)
4. Tee all flange 355 (2 buah)
5. Reducer 355 x 250
6. Reducer 250 x 160
7. Elbow 45 160 mm
8. Gate valve 160 mm (4 buah)
9. Giboult joint 160 mm (2 buah)
10. Pipa flange 160 mm
11. Flange with thrust 160 mm (2 buah)
12. Tee all flange 160 mm (2 buah)
13. Elbow 90 160 mm (2 buah)
14. Meter air
15. Pipa 160 mm

103 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

4b

5a

1. Pipa 355 mm
2. Giboult joint 355
3. Gate valve 355
4. Reducer 355 x 250
5. Tee all flange 250 mm
6. Tee all flange 250 mm
7. Gate valve 250
8. Giboult joint 250
9. Pipa 250 mm
10. Reducer 250 x 225
11. Pipa 255
12. Reducer 250 x 160
13. Elbow 45 160
14. Gate valve 160 (4 buah)
15. Giboult joint 160 mm (2 buah)
16. Pipa 160 mm
17. Thrust with flange (2 buah)
18. Tee all flange 160 mm
19. Elbow 90 160 mm
20. Meter air
1. Pipa 630 mm
2. Giboult joint 630 mm (2 buah)
3. Gate valve 630 (2 buah)
4. Tee all flange 630
5. Reducer 630 x 400
6. Reducer 450 x 315
7. Reducer 315 x 200
8. Reducer 200 x 160
9. Gate valve 160 mm (4 buah)
10. Giboult joint 160 mm (2 buah)
11. Pipa 160 mm
12. Thrust with flange 160 mm
13. Tee all flange 160 mm (2 buah)

104 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

5b

14. Elbow 90 160 mm (2 buah)


15. Meter air
16. Pipa 160 mm
1. Pipa 355 mm
2. Elbow 90 355
3. Tee all flange 355
4. Gate valve 355
5. Giboult joint 355
6. Reducer 355 x 250
7. Reducer 250 x 160
8. Elbow 45 160
9. Gate valve 160 (4 buah)
10. Giboult joint 160 (2 buah)
11. Pipa 160
12. Flange with thrust 160 (2 buah)
13. Tee all flange 160 (2 buah)
14. Elbow 90 160 mm (2 buah)
15. Meter air

105 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

6a

6b

1. Pipa 250 mm
2. Giboult joint 250
3. Gate valve 250
4. Tee all flange 250
5. Reducer 250 x 160
6. Elbow 45 160 mm
7. Gate valve 160 (4 buah)
8. Giboult joint 160 (2 buah)
9. Pipa 160 mm
10. Flange with thrust 160 mm
11. Tee all flange 160 mm (2 buah)
12. Elbow 90 160 mm
13. Meter air

1. Pipa 250 mm
2. Tee all flange 250 mm
3. Reducer 250 x 160
4. Gate valve 160 (4 buah)
5. Giboult joint 160 mm (2 buah)
6. Pipa 160 mm
7. Flange with thrust 160 mm (2 buah)
8. Tee all flange 160 mm (2 buah)
9. Elbow 90 160 mm (2 buah)
10. Meter air

106 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

1. Pipa 250 mm
2. Tee all flange 250 mm
3. Reducer 250 x 160
4. Gate valve 160 (4 buah)
5. Giboult joint 160 mm (2 buah)
6. Pipa 160 mm
7. Flange with thrust 160 mm (2 buah)
8. Tee all flange 160 mm (2 buah)
9. Elbow 90 160 mm (2 buah)
10. Meter air
11. Reducer 400 x 315
12. Reducer 315 x 250

6c

Keterangan: detail junction yang tipikal hanya digambarkan salah satu

107 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

BAB 8
BILL OF QUANTITY (BOQ) DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB)

BOQ atau

Bill of Quantity merupakan perincian jumlah dari seluruh peralatan dan pekerjaan yang

dibutuhkan di dalam perencanaan sistem penyediaan air minum Kota Bojonegoro, sedangkan RAB adalah
biaya-biaya yang diperlukan dalam pengadaan peralatan dan biaya pembayaran tenaga kerja. Berikut
merupakan hasil perhitungan dari peralatan dan pekerjaan yang akan digunakan dalam perencanaan sistem
penyediaan air minum Kota Bojonegoro.
8.1 BOQ Perpipaan
Dalam perencanaan ini digunakan pipa PE. Data masing masing diameter dan panjang pipa diketahui
dari analisa epanet. Setiap batang pipa PE sepanjang 6 m dengan harga satuan per 6 m agar didapat harga
yang lebih ekonomis. Berikut ini perincian jumlah (BOQ) perpipaan dapat dilihat pada tabel 7.1.
Tabel 8.1 BOQ Pipa
No
1
2
3
4
5
6
7
8

Diameter
mm
125
225
250
355
400
450
500
630

Satuan

material

L saluran

m
HDPE SDR 11
12
HDPE SDR 11
12
HDPE SDR 11
12
HDPE SDR 11
12
HDPE SDR 11
12
HDPE SDR 11
12
HDPE SDR 11
12
HDPE SDR 11
12
Sumber : Hasil Perhitungan

m
3135
758
12731
5289
2054
1892
2182
1172

Jumlah
pipa
buah
261
63
1061
441
171
158
182
98

8.2 BOQ Aksesoris Pipa


Dalam perencanaan ini, aksesoris pipa menggunakan material PE dan Cash Iron untuk aksesoris
tertentu. Penyambungan aksesoris dengan pipa dapat dilakukan dengan cara pengelasan (Sistem Butt
Welding) maupun dengan sambungan (Sistem Compression Fitting). Aksesoris pipa digunakan pada junction
/ node dan pada Quadrina case. Berikut ini perincian jumlah (BOQ) aksesoris pipa dapat dilihat pada tabel
berikut.
Tabel 8.2 BOQ Aksesoris Pipa
No
1

Aksesoris
Reducer /
Increaser

Jumlah

108 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

D1
D2
125
110
160
110
200
160
250
160
250
200
250
225
315
200
315
250
355
250
400
315
400
355
450
315
450
355
450
400
500
355
500
400
500
450
630
400
630
450
Giboult Joint
125
160
250
355
400
450
500
630
Gate valve
125
160
250
355
400
450
500
630
Flange with
Thrust
125
160
450
Bend 90
125
160

4
4
5
16
1
1
4
7
5
3
1
7
1
1
1
1
2
1
1
Jumlah
4
36
7
7
3
3
2
3
Jumlah
5
59
8
7
3
6
2
3
Jumlah
2
20
2
Jumlah
3
22

109 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

355
450
Bend 45
160
Tee
125
160
250
355
400
450
630
Meter air

3
2
Jumlah
6
18
Jumlah
3
32
10
7
5
2
9
1
Jumlah
8
20
Sumber : Hasil Perhitungan
8.3 BOQ Penanaman Pipa
Penggalian pipa direncanakan pada keadaan tanah stabil (normal) seperti gambar. Penanaman pipa dari
muka tanah direncanakan sesuai dengan diameter pipa yang dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar 8.1 Penggalian Pipa

Gambar 8.2 Potongan A-A

Tanah Urug

Pasir Urug
Pipa Beton

b
D
c

GALIAN NORMAL

110 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Gambar 8.3 Potongan B-B


a

b
d
c

L pipa

Adapun nilai a,b,c,d dan w diatur dalam standar Departemen Pekerjaan Umum pada tabel berikut :

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Tabel 8.3 Standar Urugan yang Diperkenankan


L
h pipa
h tanah
Diameter (mm)
abcd
w
a
50 -100
100 -115
55 - 60
65 - 75
150 - 200
120 - 125
65 -70
75
250 - 300
130 - 135
75 -80
75
350 - 400
140 -150
85 - 95
75
500 - 600
160 -170
100 -110
75
600 -700
180 - 190
120 -130
75
700 - 900
190 - 200
140 - 150
75
900 - 1100
200 - 210
160 -170
75
1100 - 1300
210 - 220
180 -190
75
Sumber : Departemen Pekerjaan Umum

h pasir
b
15
15
15
15
15
15
15
15
15

c
15
15
15
15
15
15
15
15
15

Adapun contoh dari perhitungan untuk penggalian Pipe5 dengan diameter 400 mm dapat dilihat sebagai
berikut :

Volume galian tanah

Lebar

= 1,2 m

Kedalaman pipa (w)

= 0,7 m

Panjang pipa

= 1678 m

Volume galian/m

= Lebar x kedalaman pipa x panjang pipa


= 1,2 x 0,7 x 1678 m3
= 1409,52

Volume Urugan Tanah


Berikut adalah contoh perhitungan urugan tanah untuk pipa P12 dengan diameter 400 mm dapat dilihat

sebagai berikut :

Lebar

= 1,2 m

111 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Kedalaman tanah (a)

= 0,75 m

Panjang pipa

= 1678 m

Volume tanah/m

= Lebar x kedalaman tanah x panjang pipa


= 1,2 x 0,75 x 1678 m3
= 1510,2

Volume Urugan Pasir


Berikut adalah contoh perhitungan urugan tanah untuk pipa P12 dengan diameter 400 mm dapat dilihat

sebagai berikut :

Lebar

= 1,2 m

Kedalaman pasir (b)

= 0,15 m

Panjang pipa

= 1678 m

Volume pasir/m

= Lebar x kedalaman pasir x panjang pipa


= 1,2 x 0,15 x 1678 m3
= 302,4 Volume Tanah Dibuang

Volume tanah yang dibuang adalah volume penggalian tanah dikurangi dengan volume urugan tanah.
Berikut adalah contoh perhitungan urugan tanah untuk pipa P12 dengan diameter 400 mm dapat dilihat
sebagai berikut :

Volume galian/m

= 1409,52 m3

Volume urugan tanah/m

= 1012.5 m3

Volume tanah dibuang

= Volume galian/m - Volume urugan tanah/m


= 1409,52 m3 1510,2 m3 = -100,68 m3

Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut

112 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

L
No

Pipa

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

Pipe 5
Pipe 7
Pipe 8
Pipe 9
Pipe 11
Pipe 12
Pipe 13
Pipe 14
Pipe 16
Pipe 20
Pipe 10
Pipe 22
Pipe 23
Pipe 24
Pipe 4
Pipe 2
Pipe 6
Pipe 18
Pipe 25
Pipe 26
Pipe 27
Pipe 15
Pipe 17
Pipe 30

ID

Tabel 8.4 Perhitungan Galian Normal Pipa SPAM


OD
L
h pipa h tanah h pasir

mm

mm

volume
galian (m)

1678
856
1421
1096
1423
1456
271
1243
1457
896
758
1532
1132
789
253
1036
1086
658
1765
1764
634
1214
2341
2156

102,2
368,2
368,2
409,2
290,6
290,6
290,6
290,6
102,2
290,6
184,0
102,2
204,6
361,8
515,6
368,2
409,2
204,6
204,6
204,6
204,6
204,6
204,6
204,6

125
450
450
500
355
355
355
355
125
355
225
125
250
400
630
450
500
250
250
250
250
250
250
250

1,20
1,60
1,60
1,60
1,50
1,50
1,50
1,50
1,20
1,50
1,30
1,20
1,30
1,50
1,80
1,60
1,60
1,30
1,30
1,30
1,30
1,30
1,30
1,30

0,70
1,00
1,00
1,00
0,75
0,75
0,75
0,75
0,70
0,75
0,75
0,70
0,75
0,95
1,30
1,00
1,00
0,75
0,75
0,75
0,75
0,75
0,70
0,75

0,75
0,75
0,75
0,75
0,75
0,75
0,75
0,75
0,75
0,75
0,75
0,75
0,75
0,75
0,75
0,75
0,75
0,75
0,75
0,75
0,75
0,75
0,75
0,75

0,15
0,15
0,15
0,15
0,15
0,15
0,15
0,15
0,15
0,15
0,15
0,15
0,15
0,15
0,15
0,15
0,15
0,15
0,15
0,15
0,15
0,15
0,15
0,15

1409,52
1369,60
2273,60
1753,60
1600,88
1638,00
304,88
1398,38
1223,88
1008,00
739,05
1286,88
1103,70
1124,33
592,02
1657,60
1737,60
641,55
1720,88
1719,90
618,15
1183,65
2130,31
2102,10

volume
urugan
tanah
(m)
1510,20
1027,20
1705,20
1315,20
1600,88
1638,00
304,88
1398,38
1311,30
1008,00
739,05
1378,80
1103,70
887,63
341,55
1243,20
1303,20
641,55
1720,88
1719,90
618,15
1183,65
2282,48
2102,10

volume
urugan
pasir
(m)
302,04
205,44
341,04
263,04
320,18
327,60
60,98
279,68
262,26
201,60
147,81
275,76
220,74
177,53
68,31
248,64
260,64
128,31
344,18
343,98
123,63
236,73
456,50
420,42

volume
pembuangan
tanah (m)
-100,68
342,40
568,40
438,40
0,00
0,00
0,00
0,00
-87,42
0,00
0,00
-91,92
0,00
236,70
250,47
414,40
434,40
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
-152,17
0,00

113 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

25
26
27
28
29

Pipe 31
Pipe 32
Pipe 33
Pipe 1
Pipe 21

1265
1213
986
165
754

327,4
204,6
204,6
515,6
515,6

400
250
250
630
630

0,75
1,50
0,95
0,75
0,75
1,3
0,75
0,75
1,3
1,3
0,75
1,8
1,3
0,75
1,8
Sumber : Hasil Perhitungan

0,15
0,15
0,15
0,15
0,15

1802,63
1182,68
961,35
386,10
1764,36

1423,13
1182,68
961,35
222,75
1017,90

284,63
236,54
192,27
44,55
203,58

379,50
0,00
0,00
163,35
746,46

114 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

8.4 BOQ Pembetonan Trust Block


Pemasangan trust block digunakan untuk membantu menyangga pipa. Setiap belokan, pertigaan
dan increaser/reducer diberikan trust block karena pada titik titik tersebut kecepatan pipa
meningkat karena terjadi gesekan yang terbesar.
Gambar 8.2 Trust Block untuk bend 45

Tabel 8.5 Dimensi A,B,C,D pada Trust Blok Bend 450


ND
A
B
C
D
mm
cm
cm
cm
cm
160
50
50
40
20
200
70
70
60
20
250
90
90
80
20
300
100
100
80
20
350
120
120
100
20
400
140
140
100
20
450
150
150
120
20
500
160
160
120
20
Contoh perhitungan:
Pembetonan untuk Trust block bend 450 untuk diameter 160 mm

A1

= A x B = 0,5 m x 0,5 m = 0,25 m2

A2

= d x D = 0,16 m x 0,2 m = 0,032 m2

= C - D = 0,4 m 0,2 m = 0,2 m

Volume Beton = Volume beton keseluruhan Volume pipa


[

(
[

(
[

)]
]

)]

Karena ada 1 Bend 450 diameter 280 maka volume total = 18 x 0,026 m3 = 0,470 m3
Perhitungan selengkapnya tersaji dalam tabel berikut.

115 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Tabel 8.6 BOQ Pembetonan Trust Blok Bend 450


NO

JENIS

A1

A2

160

0,5

0,5

0,4

0,2

0,25

0,032

0,2

NO

JENIS

Jumlah

160

18

Vol
Beton
Total
(m3)
0,028

Vol
Pipa
(m3)

Vol
Beton
(m3)

0,0020

0,026

Vol
Total
(m3)
0,470
Sumber : Hasil Perhitungan

Trust Block untuk bend 90


Gambar 8.3 Trust Block untuk bend 90

Tabel 8.7 Dimensi A,B,C,D pada Trust Blok Bend 900


ND
A
B
C
D
mm
cm
cm
cm
cm
160
70
70
60
25
200
95
95
80
25
250
120
120
80
25
300
140
140
80
25
350
160
160
100
25
400
180
200
100
25
450
200
240
120
25
500
220
280
120
25
Contoh perhitungan:
Pembetonan untuk Trust block bend 900 untuk diameter 125 mm

A1

= A x B = 0,7 m x 0,7 m = 0,49 m2

A2

= d x D = 0,125 m x 0,25 m

= 0,031 m2

= C - D = 0,6 m 0,25 m

= 0,35 m

Volume Beton = Volume beton keseluruhan Volume pipa


[

)]

116 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

]
)]

Karena ada 3 Bend 90 maka volume total = 3 x 0,088 m = 0,264 m3


Tabel 8.8 BOQ Pembetonan Trust Blok Bend 900
NO

JENIS

1
2
3
4

125
160
355
450

0,7
0,7
1,6
2

0,7
0,7
1,6
2,4

NO

JENIS

Jumlah

1
2

125
160

3
22

0,6
0,6
1
1,2
Vol
Total
(m3)
0,264
1,979

3
4

355
450

3
2

2,787
4,297

A1

A2

0,25
0,25
0,25
0,25

0,49
0,49
2,56
4,8

0,031
0,040
0,089
0,113

0,35
0,35
0,75
0,95

Vol
Beton
Total
(m3)
0,090
0,092
0,941
2,168

Vol
Pipa
(m3)

Vol
Beton
(m3)

0,0015
0,0025
0,0124
0,0199

0,088
0,090
0,929
2,148

Sumber : Hasil Perhitungan

Trust Block untuk Increaser dan Reducer


Gambar 8.4 Trust Block untuk Increaser dan Reducer

a
D1
a

D1

D1

D2
c

Tabel 8.9 Dimensi A,B,C,D pada Trust Blok Increaser/Reducer


D1(mm)
D2 (mm)
a (cm)
b (cm)
710
630
10
20
710
500
10
20
630
400
10
20
500
450
10
20
500
355
10
20
450
355
10
20
450
315
10
20
400
355
10
20

117 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

400
400
355
355
355
315
315
315
280
250
250
225
225
200

315
280
315
280
250
280
250
225
225
200
160
160
140
140

10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10

20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20

Contoh perhitungan:
Pembetonan untuk Trust block Increaser/reducer untuk diameter 225 x 200 mm

D1

= 125 mm

= 0,125 m

D2

= 110 mm

= 0,110 m

= 0,01 m

= 0,02 m

Volume Beton = Volume beton keseluruhan Volume pipa


[(

[(

)
)

Karena ada 4 Increaser/reducer untuk diameter 125 x 110 mm maka


volume total = 4 x 0,13 m3 = 0,518 m3
Tabel 8.10 BOQ Pembetonan Trust Blok Reducer/Increaser
No

D1(m)

D2 (m)

a (m)

b (m)

Volume
beton (m)

1
2
3
4
5
6
7
8

0,125
0,16
0,2
0,25
0,25
0,25
0,315
0,315

0,110
0,110
0,160
0,160
0,200
0,225
0,200
0,250

0,1
0,1
0,1
0,1
0,1
0,1
0,1
0,1

0,2
0,2
0,2
0,2
0,2
0,2
0,2
0,2

0,13
0,1419
0,1577
0,1742
0,1765
0,1781
0,1967
0,2002

Jumlah

Volume
beton total
(m)

4
4
5
16
1
1
4
7

0,518
0,568
0,789
2,787
0,176
0,178
0,787
1,402

118 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19

0,355
0,4
0,4
0,45
0,45
0,45
0,5
0,5
0,5
0,63
0,63

0,250
0,315
0,355
0,315
0,355
0,400
0,355
0,400
0,450
0,400
0,450

0,1
0,1
0,1
0,1
0,1
0,1
0,1
0,1
0,1
0,1
0,1

0,2
0,2
0,2
0,2
0,2
0,2
0,2
0,2
0,2
0,2
0,2

0,2120
0,2305
0,2347
0,2438
0,2480
0,2533
0,2605
0,2659
0,2725
0,2948
0,3015

5
3
1
7
1
1
1
1
2
1
1

1,060
0,691
0,235
1,707
0,248
0,253
0,261
0,266
0,545
0,295
0,301

Sumber : Hasil Perhitungan

Gambar 8.5 Trust Block untuk Tee All Flange

Tabel 8.11 Dimensi Trust Blok Tee All Flange


ND
A
B
C
D
mm

cm

cm

cm

cm

250
300
350

100
100
120

100
100
120

80
100
100

35
40
40

400

120

120

120

45

450

140

140

120

45

500
710

140
160

140
160

140
160

60
80

800
900

180
180

180
180

160
180

80
100

Contoh perhitungan:
Pembetonan untuk Trust block Tee All Flange untuk diameter 125 mm

A1

=AxB=1mx1m

= 1 m2

119 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

A2

= d x D = 0,125 m x 0,35 m

= 0,044 m2

= C - D = 0,8 m 0,35 m

= 0,45 m

Volume Beton = Volume beton keseluruhan Volume pipa


Volume Beton =

)
)

]
]

[
[

)]

)]

Karena ada 3 Tee All Flange maka volume total = 3 x 0,306 m3 = 0,91 m3

NO

JENIS

1
2
3
4
5
6
7

125
160
250
355
400
450
630

1
1
1
1,2
1,2
1,4
1,6

Tabel 8.12 BOQ Pembetonan Trust Blok Tee All Flange


Vol
Beton
B
C
D
A1
A2
H
Total
(m3)
0,35
1
0,044 0,45
0,308
1
0,8
0,35
1
0,056 0,45
0,314
1
0,8
0,35
1
0,088 0,45
0,327
1
0,8
0,4
1,44 0,142 0,6
0,695
1,2
1
0,45 1,44 0,180 0,55
0,654
1,2
1
0,45 1,96 0,203 0,95
1,753
1,4
1,4
0,8
2,56 0,504 0,8
2,212
1,6
1,6

NO

JENIS

Jumlah

Vol Total
(m3)

1
2
3
4
5
6
7

125
160
250
355
400
450
630

3
32
10
5
2
9
1

0,917372
9,93215
3,189097
3,375265
1,252156
15,45713
2,08761

Vol
Pipa
(m3)

Vol Beton
(m3)

0,0021
0,0035
0,0086
0,0198
0,0283
0,0358
0,1246

0,306
0,310
0,319
0,675
0,626
1,717
2,088

Sumber : Hasil Perhitungan

120 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

8.5 BOQ Reservoir


Gambar 8.8 Ground Reservoir dan Elevated

B
b

Gambar 8.9 Potongan A-A Ground Reservoir


1m
a

1m
1m

1m

Gambar 8.10 Potongan B-B Ground Reservoir dan Elevated


1m
a

1m
1m

1m

Pada perencanaan ini, reservoir digunakan satu ground reservoir dengan dimensi masing-masing
yaitu panjang 60 m, lebar 37,4 m, kedalaman 5 m dan tinggi free boar 0,3 m. Berikut ini perhitungan
BOQ reservoar meliputi penggalian tanah, urugan pasir dan tanah, pembetonan, bekisting :
Satu Dimensi ground reservoar
Panjang

= 60 m

Lebar

= 37,4 m

121 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

Kedalaman

=5m

Free board

= 0,3 m

Pekerjaan Beton Lantai Reservoir


Tebal lantai R

=1m

Luas dasar R

= 60 m x 37,4 m = 2244 m

Volume beton lantai R

= Tebal lantai x luas dasar reservoir


= 1 m x 3600 m = 2244 m

Pekerjaan Beton Spesi Dinding


Tebal dinding

=1m

Luas dinding R

= (2 x 60 m x 5,3 m) + (2 x 37,4 m x 5,3 m) = 252136 m

Volume spesi dinding R

= Tebal dinding x luas sisi dinding


= 1 m x 252136 m = 252136 m

Pekerjaan Beton Atap Reservoir


Tebal atap

=1m

Luas atap 1 R

= 60 m x 37,4 m = 2244 m

Volume beton atap R

= Tebal atap x luas atap


= 1 m x 2244 m = 2244 m

Pekerjaan Beton Sekat Dinding Reservoir


Tebal sekat dinding

= 0,5 m

Jumlah sekat

= 5 buah

Luas sekat dinding R

= 20 m x 4 m x 5 buah = 400 m

Volume sekat dinding R

= tebal dinding x luas sekat


= 0,5 m x 400 m

= 200 m3

Pekerjaan Bekisting
Volume Bekisting untuk Lantai
Volume bekisting untuk lantai adalah 25% dari Volume beton lantai reservoir.
Volume

= 25 % x Volume beton lantai


= 0,25 x 2244 m3
= 561 m3

Volume Bekisting untuk Dinding


Volume bekisting untuk dinding adalah 80% dari Volume beton dinding reservoir.
Volume

= 80 % x Volume beton dinding


= 0,80 x (Vol dinding + vol sekat dinding)

122 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

= 0,80 x (252136 m3 + 200 m3 )


= 201869 m3
Volume Bekisting untuk Atap

Volume bekisting untuk atap adalah 100% dari Volume beton atap reservoir.

Volume

= 100% x Volume beton atap


= 1 x 2244 m3
= 2244 m3

Pekerjaan Pemasangan Keramik


Pemasangan Keramik Lantai
Luas keramik untuk lantai adalah luas lantai ground reservoir bagian dalam, yakni:
Luas keramik

= 2244 m2

Pemasangan Keramik Dinding


Luas keramik untuk dinding adalah luas dinding reservoir bagian dalam, yakni:
Luas keramik

= 252136 m2

Pemasangan Keramik Sekat Reservoir


Luas keramik untuk sekat adalah luas 5 sekat bagian dalam reservoir, yakni:
Luas keramik

= Luas sekat R
= 200 m2

Berdasarkan perhitungan-perhitungan diatas, maka untuk memudahkan dalam pembacaan


, dapat dilihat hasilnya pada tabel berikut dibawah ini mengenai perhitungan BOQ reservoir yang
merupakan rangkuman dari hasil-hasil perhitungan diatas dan Tabel 8.8 mengenai harga jenis
pekerjaan berdasarkan SNI tahun 2007.

Tabel 8.13 Perhitungan BOQ Reservoir


No
Jenis Pekerjaan
1
Pekerjaan beton lantai
2
Pekerjaan beton spesi dinding
3
Pekerjaan beton atap
4
Pekerjaan beton sekat dinding
5
Pekerjaan bekisting lantai
6
Pekerjaan bekisting dinding
7
Pekerjaan bekisting atap
8
Pekerjaan keramik lantai
9
Pekerjaan keramik dinding
10
Pekerjaan keramik sekat dinding
Sumber : Hasil Perhitungan

Volume (m3)
2244
252136
2244
200
561
201869
2244
-

Luas (m2)
2244
252136
200

123 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

BAB 9
PROFIL HIDROLIS SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM

Instalasi pipa, bak pipa transmisi maupun distribusi sedapat mungkin dipasang didalam
tanah untuk menghindari dari kerusakan yang disebabkan oleh alam (pohon tumbang, cuaca, tanah
longsor) atau hewan dan manusia. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menginstalasi antara
lain: lebar galian, kedalaman penanaman pipa, serta perlu tidaknya lapisan pasir sebagai alas dan
penutup.
Lebar galian dimaksudkan untuk memudahkan pelaksanaan pekerjaan. Untuk jenis pipa kecil
yang memungkinkan penyambungan setelah pemasangan, lebar galian tersebut tidak terlalu
dipermasalahkan. Untuk pipa denan diameter yang lebih besar, lebar galian adalah diameter pipa
ditambah ruang kerja secukupnya di kiri dan kanan.
Kondisi lahan yang dilalui pipa sangat menentukan kedalaman pipa. Kedalaman diukur dari
bagian atas pipa sampai muka tanah asal. Pada tabel di bawah ini disajikan persyaratan kedalaman
dengan kondisi lahan yang berbeda-beda.
Tabel 9. 1 Kedalaman Instalasi Pipa

Sumber: Direktorat Jendral Cipta Karya 1998


Profil Hidrolis dapat dilihat pada gambar terlampir.

124 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5

DAFTAR PUSTAKA
AL-Layla, M.A., Ahmad, S., dan Middlebrooks, E.J. (1977). Water Supply Engineering Design. Ann
Arbor Science publishers, Inc., Michigan.
BPS Kota Bojonegoro. (2011). Kota Bojonegoro dalam Angka 2010. Bojonegoro : BPS.
Fair, G.M., J.C., dan Okun, D.A.(1966). Water and waste water engineering. John Wiley dan Sons,
M.C., NewYork.
Mangkoedihardjo, S. (1985). Penyediaan Air bersih. Institut Teknologi Sepuluh Nopember,
Surabaya. Surabaya : Jurusan Teknik Lingkungan ITS.
Marsono, B.D. (1984). Hidrolika Teknik Penyehatan dan Lingkungan. Surabaya : Teknik
Penyehatan FTSP-ITS.
Noerbambang, Soufyan M, dan Takeo Morimura, 1996, Perancangan dan Pemeliharaan Sistem
Plambing. Jakarta : PT. Pradnya Paramita.

125 | A Y U N O E R A N N I S A / 3 3 1 2 1 0 0 0 8 5