Anda di halaman 1dari 11

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN BERBASIS

MASALAH DENGAN BLENDED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN


MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS XI
SMA NEGERI 4 MALANG

Ety Kumala Dewi, Hadi Suwono, Amy Tenzer


Universitas Negeri Malang
E-mail: ety_kumala.dewi@yahoo.com
ABSTRAK: Penelitian dan pengembangan ini bertujuan untuk mengembangkan
perangkat pembelajaran berbasis masalah dengan blended learning berupa
silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), bahan ajar dan instrumen
penilaian untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar Biologi siswa kelas XI
IA 6 SMAN Malang. Penelitian dan pengembangan ini menggunakan tahapan
four-D model yang dikembangkan oleh Thiagarajan dkk. Penelitian dan
pengembangan yang dilakukan dalam tiga tahap yaitu pendefinisian (define),
perancangan (design) dan pengembangan (develop). Kemudian produk
pengembangan divalidasi dan dilanjutkan dengan uji coba produk untuk
mengetahui keefektifan produk yang telah dikembangkan. Hasil dari penelitian
dan pengembangan ini yakni produk yang berupa perangkat pembelajaran
berkualifikasi valid dan layak untuk digunakan serta dapat meningkatkan
motivasi dan hasil belajar siswa kelas XI materi Sistem Regulasi.
Kata Kunci: Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM), blended learning,
motivasi belajar, hasil belajar
ABSTRACT: This research and development is purpose to expand set of
learning based problem with blended learning that are syllabus, plan of
realization learning, matter for study and instrument grader to increase
motivation and Biology learning achievement of eleven student XI IA 6 SMAN
Malang. This research and development use four-D model by Thiagarajan et al.
This research and development just do till third stage that are define, design and
develop. Then this develop product must be validation and then step for
experiment product to know effective this product. Result from this research and
development is this product kind of set of learning have valid qualification and
can be proper to use and also increase motivation and learning achievement of
eleven student subject Regulation System
Key Words: Problem Based Learning (PBL), blended learning, motivation,
learning achievement

Proses pembelajaran yang tercantum dalam Peraturan Menteri Nomor 81A


terdiri dari lima pengalaman belajar pokok, yaitu mengamati, menanya,
mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan. Lima
pengalaman belajar tersebut yang sering dikenal dengan pendekatan saintifik.
Pemerintah menuntut penerapan pendekatan saintifik harus dapat diterapkan pada
semua matapelajaran termasuk Biologi. Kegiatan mengamati dilakukan untuk
memfasilitasi siswa dalam melatih memperhatikan (melihat, membaca,
mendengar) dari kegiatan tersebut, akan muncul rasa ingin tahu siswa. Kegiatan

selanjutnya yakni menanya. Saat siswa memiliki rasa ingin tahu, siswa akan
memberikan perhatian lebih pada objek yang diamati. Perhatian siswa dapat
diungkapkan dalam bentuk berbagai pertanyaan yang berhubungan dengan objek
tertentu. Lanjutan dari perhatian lebih yang dimiliki siswa, akan diungkapkan
dalam kegiatan mengumpulkan informasi seputar jawaban atas pertanyaan yang
ingin diketahui oleh siswa. Siswa tentu memiliki beberapa dugaan sementara yang
terpikir. Dengan adanya dugaan-dugaan tersebut, siswa mencoba untuk
menghubungkan dugaan siswa dengan literatur yang ada (mengasosiasikan).
Kegiatan terakhir yakni mengkomunikasikan. Dengan adanya kegiatan
mengkomunikasikan, siswa akan menyampaikan serangkaian informasi jawaban
dari rumusan masalah yang telah di diskusikan dengan kelompok kepada
temannya. Informasi yang dimiliki oleh siswa menjadi lebih bermakna dalam
proses pembelajaran.
Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk membantu
keterlaksanaan pendekatan saintifik adalah PBL (Problem Based Learning). PBL
adalah model pembelajaran yang menggunakan masalah nyata sebagai suatu
konteks belajar bagi siswa berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah
untuk memperoleh pengetahuan dan konsep esensial dari materi pelajaran
(Sugiharto dkk, 2010). Model pembelajaran PBL ini juga dilakukan dengan
blended learning. Blended learning adalah kegiatan pembelajaran yang
mengkombinasikan tatap muka di kelas dengan kegiatan belajar menggunakan
media internet (Stepp-Greany, 2000).
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan pengajar serta siswa
di SMAN 4 Malang pada bulan Oktober 2013 diketahui bahwa motivasi siswa
pada saat proses pembelajaran berlangsung masih sangat kurang. Hal ini
dibuktikan dengan rendahnya minat siswa untuk menjawab pertanyaanpertanyaan yang diberikan oleh guru mereka. Mereka juga mengatakan bahwa
mereka lebih suka ditunjuk terlebih dahulu oleh guru daripada menjawab dengan
sukarela. Ini berarti siswa mengalami masalah dengan keaktifan dalam proses
pembelajaran, keaktifan dalam hal ini adalah kurangnya keterampilan
berkomunikasi pada saat pembelajaran berlangsung. Hal tersebut menunjukkan
bahwa motivasi belajar siswa masih kurang.
Dari hasil observasi juga diketahui bahwa para peserta didik tidak
keberatan jika tugas yang diberikan guru mengharuskan mereka ke warnet atau
rental komputer. SMA Negeri 4 Malang memiliki fasilitas wifi yang jangkauannya
ke seluruh wilayah sekolah. 94% responden menyatakan bahwa fasilitas wifi atau
hotspot tersebut menunjang siswa dalam mencari sumber belajar. Siswa juga
diperkenankan memanfaatkan komputer atau laptop yang tersedia di sekolah yang
menjadikan penggunaan fasilitas wifi atau hotspot lebih efektif. Meski demikian
dalam pembelajaran Biologi hanya 40% yang senang dan berusaha untuk
memecahkan permasalahan yang ada secara logis berdasarkan konsep dalam suatu
materi dan 91% siswa menyatakan bahwa mereka hanya paham pada materi yang
disukai saja.
Pembelajaran gabungan antara online learning dengan pembelajaran
konvensional/tradisional sudah banyak dilakukan yang hasilnya antara lain bahwa
Blended Learning dapat membantu meningkatkan proses pembelajaran yang
berpusat pada siswa, dapat mengubah pembelajaran yang berpusat pada guru
menjadi berpusat pada siswa, dapat meningkatkan minat siswa terhadap

pembelajaran (Collis, 2003). Penerapan blended learning ini memungkinkan


siswa belajar dari berbagai cara yakni dengan online, offline dan pembelajaran
tatap muka.
Perangkat pembelajaran merupakan sekumpulan alat penunjang
keberhasilan suatu pembelajaran yang telah direncanakan sebelumnya untuk
digunakan dalam proses pembelajaran yang terdiri atas silabus, RPP, bahan ajar
dan instrumen penilaian. Perangkat pembelajaran Biologi berbasis masalah
dengan blended learning merupakan perangkat pembelajaran (silabus, RPP, bahan
ajar, instrumen penilaian) Biologi berbasis masalah yang disusun oleh guru
sebagai wujud perencanaan pembelajaran yang dapat membantu pelaksanaan
pembelajaran dan dengan kegiatan blended learning yang dilakukan di luar kelas
maupun di dalam kelas. Kelayakan perangkat pembelajaran adalah hasil penilaian
perangkat pembelajaran dari validator yang memberikan penilaian dan
masukan/saran dalam angket yang disediakan.
METODE
Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian dan
pengembangan ini mengadopsi model 4D yang dikembangkan oleh Thiagarajan
dkk (1974) yang disesuaikan dengan kondisi penelitian dan pengambangan yang
dilakukan. Tahapan-tahapan pengembangan model 4D adalah terdiri dari define
(pendefinisiain), design (perancangan), develop (pengembangan) dan disseminate
(penyebarluasan). Pengembangan model 4D hanya akan dilakukan oleh peneliti
hingga tahap develop (pengembangan).
Tahap pertama yaitu pendefinisian (define), tahap ini dilakukan dengan
tujuan untuk mendefinisikan masalah dasar, syarat-syarat dan informasi masalah
yang muncul dalam pembelajaran sebagai dasar pengembangan yang akan
dilakukan. Pada tahap ini ada lima langkah yang harus dilakukan yaitu 1) analisis
awal-akhir (front-end analysis) ditetapkan permasalah dasar pada kegiatan
pembelajaran Biologi di SMAN 4 Malang, 2) analisis karakteristik siswa (learner
analysis) siswa SMAN 4 Malang memiliki karakteristik sebagai manusia dewasa
awal yang mulai ingin mengetahui dan memahami permasalahan dengan logika,
3) analisis tugas (task analysis) bertujuan untuk mengidentifikasi keterempilanketerampilan utama yang diperlukan dalam pembelajaran sesuai dengan
kurikulum, 4) analisis konsep (concept analysis) langkah analisis konsep ini
diidentifikasi konsep utama yang akan diajarkan kemudian dijabarkan dalam
konsep-konsep yang lebih khusus, 5) perumusan tujuan pembelajaran (specifying
instructional objectives) langkah ini akan ditentukan tujuan pembelajaran
berdasarkan indikator yang telah ditetapkan.
Tahap kedua yaitu perencanaan (design), tahap ini merupakan tahap untuk
mendesain prototype produk pengembangan yang akan dihasilkan. Langkahlangkah dalam tahap ini adalah 1) penentuan kriteria tes acuan (constructing
criterion-referenced test) penyusunan kriteria dan tes acuan didasarkan pada
indikator pembelajaran yang telah ditetapkan, 2) pemilihan media (media
selection) langkah pemilihan media dilakukan penetapan media pengembangan
yang tepat dan sesuai dengan permasalahan yang muncul dalam pembelajaran
biologi materi sistem regulasi di SMAN 4 Malang, karakteristik siswa dan situasi
pembelajaran di sekolah, 3) pemilihan format (format selection) langkah
pemilihan format disesuaikan dengan media yang dipilih untuk siswa, 4)

rancangan awal (initial design) langkah ini dirancang konsep dasar yang
ditampilkan dalam perangkat pembelajaran kemudian dikembangkan sesuai
kebutuhan.
Tahap ketiga yaitu pengembangan (develop), tahap ini bertujuan untuk
memodifikasi lebih lanjut bentuk perangkat pembelajaran yang telah
dikembangkan menjadi perangkat pembelajaran yang siap pakai. Produk
pengembangan yang siap pakai melalui uji validasi terlebih dahulu. Tahapantahapan yang perlu dilakukan adalah penilaian oleh ahli (expert appraisal) dan
pengujian hasil pengembangan (developmental testing). Penilaian oleh ahli
dilakukan oleh tiga validator yaitu validator ahli perangkat pembelajaran (Drs.
Triastono Imam Prasetyo, M.Pd), validator ahli materi (Nuning Wulandari, S.Si.,
M. Si) dan validator praktisi lapangan (Dra. Listijo Kapti P. S).
Setelah produk pengembangan selesai maka tahap selanjutnya yaitu uji
coba produk. Pada tahap ini ada 3 uji yang akan dilakukan yaitu uji kelayakan
oleh validator, uji kepraktisan oleh siswa dan uji keefektifan oleh peneliti untuk
mengetahui peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa setelah menggunakan
produk yang telah dikembangkan. Uji coba produk dilakukan untuk mendapatkan
data yang akan digunakan untuk perbaikan atau revisi sehingga dihasilkan produk
pengembangan dengan kelayakan dan efektifitas yang tinggi. Uji coba produk
dilakukan melalui tahapan sebagai berikut: 1) desain uji coba, produk berupa
silabus, RPP, bahan ajar dan instrumen penilaian yang dikembangkan akan diuji
tingkat kelayakan, keefektifan dan kepraktisannya, 2) subjek uji coba, dalam
penelitian dan pengembangan perangkat pembelajaran Biologi ini terdiri dari
subjek uji coba lapangan terbatas yaitu siswa kelas XI-IA 6 SMA Negeri Malang
sebanyak 32 siswa, 3) jenis data, jenis data dalam penelitian ini berupa data
kuantitatif dan kualitatif berupa skor penilaian angket dan tanggapan atau saran
yang diberikan melalui angket, 4) instrumen pengumpulan data yang digunakan
untuk memperoleh data penelitian adalah angket validasi oleh validator (dosen
dan guru), lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran oleh observer dan
angket untuk uji kepraktisan setelah menggunakan bahan ajar oleh siswa, angket
motivasi.
Tahap selanjutnya setelah dilakukan uji coba adalah analisis data yang
telah diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan. Teknik analisis data yang
dilakukan diperoleh dari hasil validasi, hasil belajar dan keterlaksanaan modul
pembelajaran Biologi berbasis Blended Learning. Data penelitian dan
pengembangan ini adalah hasil penilaian oleh tim validasi yang memberikan
penilaian dan masukan/saran dalam angket yang disediakan, validasi pada
penelitian ini digunakan untuk mengetahui tingkat kelayakan dari perangkat
pembelajaran yang telah dikembangkan. Motivasi belajar siswa diketahui dari
skor angket motivasi siswa sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran dan
juga dari lembar observasi oleh observer selama tindakan berlangsung. Motivasi
siswa yang diukur pada penelitian ini meliputi 4 aspek, yakni attention, relevance,
confidence dan satisfaction yang diukur menggunakan angket motivasi ARCS dan
lembar observasi oleh observer. Hasi belajar siswa yang dinilai ada tiga aspek
yaitu aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotor. Hasil belajar kognitif
diukur melalui perbandingan skor pretes dan postes siswa, hasil belajar afektif
diukur pada setiap pertemuan oleh observer yang terdiri dari lima aspek perilaku
siswa yaitu 1) menerima, individu yang telah mencapai tingkat ini merasa sadar

untuk menerima rangsangan/gejala (misalnya petunjuk guru, buku


pelajaran,kegiatan kelas), 2) partisipasi, tidak hanya memberikan perhatian tetapi
juga memberikan reaksi terhadap suatu gejala, 3) menghargai dan penentuan
sikap, 4) pengorganisasian, 5) kepercayaan diri, fikiran, ide dan sikap ke dalam
pandangan hidup.dan hasil belajar psikomotor siswa akan diukur melalui kegiatan
praktikum.
HASIL
Uji Kelayakan
Produk yang sudah dikembangkan kemudian akan di uji coba. Uji coba
produk ini ada tiga yaitu uji kelayakan, uji kepraktisan dan uji keefektifan. Uji
kelayakan dilakukan oleh validator. Uji kepraktisan diketahui melalui siswa dari
angket yang disebarkan kepada siswa setelah menggunakan bahan ajar yang telah
dikembangkan. Uji keefektifan diketahui dari peningkatan motivasi dan hasil
belajar siswa setelah menggunakan perangkat pembelajaran yang telah
dikembangkan. Kualifikasi yang didapat dari uji kelayakan oleh validator adalah
silabus (Tabel 4.1), RPP (Tabel 4.2) dan instrumen penilaian (Tabel 4.3)
berkualifikasi sangat baik dan berkualifikasi baik untuk bahan ajar (Tabel 4.5).
Tabel 4.1 Data Hasil Validasi Silabus
Komponen Silabus
Validator 1
Validator 2
1. Kelengkapan komponen
3,9
3,7
silabus
2. Indikator
3,5
3,7
3. Materi pembelajaran
4
4
4. Kegiatan pembelajaran
3,8
3,5
5. Penilaian hasil belajar
3,7
3,7
6. Alokasi waktu
4
3
7. Sumber belajar
4
4
Jumlah
26,9
25,6
Nilai rata-rata silabus
3,8
3,7
Catatan: validator 1 (Dra. Listijo Kapti P. S)
validator 2 (Drs. Triastono Imam Prasetyo, M.Pd)
Tabel 4.2 Data Hasil Validasi RPP
Komponen RPP
Validator 1
1. Kelengkapan komponen
3,9
RPP
3,8
2. Indikator
3,7
3. Tujuan Pembelajaran
4
4. Materi pokok
3
5. Metode pembelajaran
3,6
6. Kegiatan pembelajaran
4
7. Penilaian hasil belajar
3
8. Alokasi waktu
4
9. Sumber belajar
Jumlah
33
Nilai rata-rata RPP
3,7

Rata rata
3,8

Kualifikasi
Sangat layak

3,6
4
3,6
3,7
3,5
4
26,2
3,7

Sangat layak
Sangat layak
Sangat layak
Sangat layak
Sangat layak
Sangat layak

Validator 2
4
3,5
3,7
4
3,7
3,7
4
3
4

Rata rata
3,9
3,7
3,7
4
3,3
3,7
4
3
4

Kualifikasi
Sangat layak
Sangat layak
Sangat layak
Sangat layak
Layak
Sangat layak
Sangat layak
Layak
Sangat layak

33,6
3,7

33,3
3,7

Sangat layak

Tabel 4.3 Data Hasil Validasi Instrumen Penilaian


Kriteria yang dinilai
Validator 1
Validator 2
Komponen rubrik penilaian
3,3
4
Jumlah
3,3
4

Rata-rata
3,7
3,7

Sangat layak

Kualifikasi
Sangat layak

Nilai rata-rata rubrik penilaian

3,3

3,7

Sangat layak

Tabel 4.5 Data Hasil Validasi Bahan Ajar Materi Sistem Regulasi
Kriteria yang dinilai
Validator 1
Validator 2
Rata rata
1. Kebenaran konsep
4
3,3
3,7
2. Validitas
3
3
3
3. Penyajian isi materi
3,7
2,9
3,3
pembelajaran
Jumlah
10,7
9,2
10
Nilai rata-rata validasi materi
3,7
3,1
3,3
Catatan : validator 1 (Dra. Listijo Kapti P. S)
validator 2 (Nuning Wulandari, S.Si., M.Si)

Kualifikasi
Sangat layak
Layak
Layak

Layak

Uji kepraktisan diketahui dari hasil skor angket yang telah dibagikan
kepada siswa setelah menggunakan model pembelajaran dan bahan ajar yang telah
dikembangkan. Rata-rata skor yang di dapatkan dari hasil perhitungan angket 3,3
untuk kualitas bahan ajar, 3 untuk isi ahan ajar, 2,9 untuk menunjang
pembelajaran dan 3,1 untuk website yang digunakan dalam men-download bahan
ajar yang telah disediakan. Selengkapnya dapat anda lihat pada Tabel 4.6
Tabel 4.6 Data Hasil Skor Angket Uji Kepraktisan
Kriteria yang dinilai
1. Kualitas bahan ajar
2. Isi bahan ajar
3. Menunjang pembelajaran
4. Website untuk download
Jumlah
Nilai rata-rata

Rata-rata
3,3
3
2,9
3,1
12,3
3,1

Kualifikasi
Sangat layak
Layak
Layak
Layak
Layak

Motivasi Belajar
Motivasi dapat didefenisikan sebagai daya penggerak dari seseorang untuk
melakukan aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Salah satu tujuan
pengembangan modul pembelajaran berbasis masalah dengan blended learning
adalah untuk meningkatkan motivasi. Setelah penelitian dilakukan maka diperoleh
data dari pengisian angket pada Tabel 4.8, selain itu data yang diperoleh melalui
lembar observasi juga menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa kelas XI-IPA 6
telah meningkat yang dapat dilihat pada Tabel 4.9.
Tabel 4.8 Data Jawaban Angket Motivasi Siswa Berdasarkan Indikator
Indikator
Siswa
Attention
Relevance
Confidence
Awal
Akhir
Awal
Akhir
Awal
Akhir
32
57,14
108,13
59,30
104,8
62,04
106,91
Rata2
1,79
3,38
1,85
3,28
1,94
3,34
cukup
Sangat
cukup
Sangat
cukup
Sangat
Kategori
baik
baik
baik

Satisfaction
Awal
Akhir
58,70
110,67
1,83
3,46
cukup
Sangat
baik

Tabel 4.9 Data Motivasi Siswa yang Diperoleh dari Lembar Observasi
Sub Bab I
Sub Bab II
Sub Bab III

Indikator Rerata
Rerata
Rerata
Siswa
%
Ket
%
Ket
%
Ket
skor
skor
skor
Sangat
32
Attention
1,63
54,2 Kurang
2,50
83,3
Baik
2,72
90,6
baik

Relevance

1,56

52,1

Kurang

2,22

74

Baik

2,28

76

Confidence

2,34

78,1

Baik

2,53

84,4

Baik

2,72

90,6

Satisfaction

66,7

Cukup

2,59

86,5

Sangat
baik

2,75

91,7

Baik
Sangat
baik
Sangat
baik

Berdasarkan Tabel 4.8 dapat diketahui bahwa motivasi belajar siswa


secara klasikal pada akhir pembelajaran dibandingkan dengan awal pembelajaran
mengalami peningkatan pada setiap indikatornya. Indikator attention mengalami
peningkatan dari nilai rata-rata 1,79 menjadi 3,38 yang berarti mengalami
peningkatan sebesar 39,75%, indikator relevance mengalami peningkatan dari
nilai rata-rata 1,85 menjadi 3,28 yang berarti mengalami peningkatan sebesar
35,75%, indikator confidence mengalami peningkatan dari nilai rata-rata 1,94
menjadi 3,34 yang berarti mengalami peningkatan sebesar 35% dan indikator
satisfaction mengalami peningkatan dari nilai rata-rata 1,83 menjadi 3,46 yang
berarti mengalami peningkatan sebesar 40,75%. Berdasarkan Tabel 4.9 dapat
diketahui bahwa motivasi belajar siswa berdasarkan data lembar observasi
mengalami peningkatan mulai dari Sub Bab I, Sub Bab II dan Sub Bab III.

Hasil Belajar
Pada mata pelajaran Biologi di SMA Negeri 4 Malang nilai KKM Biologi
adalah 78. Nilai rata-rata pretes sebelum penelitian adalah 44 dan setelah
menerapkan perangkat pembelajaran berbasis masalah dengan blended learning
dapat mencapai nilai rata-rata 83. Persentase peningkatan yang diperoleh adalah
88%.
Berdasarkan data yang telah diperoleh diketahui bahwa siswa sudah mulai
konsisten dengan sikap yang diukur oleh peneliti, yaitu 93,75% sangat baik dan
6,25% baik. Hal ini bisa dibandingkan bahwa sebelum diujicobakan perangkat
pembelajaran berbasis masalah dengan blended learning Data yang diperoleh dari
penelitian ini telah menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran berbasis masalah
dengan blended learning ini dapat meningkatkan hasil belajar afektif siswa.
Hasil belajar psikomotor diukur melalui kegiatan praktikum yang
dilakukan pada saat kegiatan pembelajaran. Nilai rata-rata yang diperoleh siswa
pada kegiatan praktikum 1 adalah 79,84 dan praktikum 2 adalah 85,91. Hal ini
menunjukkan bahwa hasil belajar psikomotor mengalami peningkatan sebesar
6,10%.

PEMBAHASAN
A. Uji Kelayakan
Perangkat pembelajaran yang telah divalidasi oleh validator ahli
pendidikan yaitu dosen Biologi dan ahli penerapan lapangan yaitu guru Biologi
SMA. Nilai rata-rata validasi silabus yaitu 3,7 yang dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Nilai rata-rata menunjukkan hasil yang sangat layak, sehingga dapat dikatakan
bahwa silabus sudah layak. Data kualitatif yang diperoleh berupa tanggapan dan
saran tentang silabus yang divalidasi. Saran yang diperoleh dari validator yaitu
tugas online yang diberikan kepada siswa agar lebih ditampakkan. Nilai rata-rata
validasi RPP adalah 3,7 yang dapat dilihat pada Tabel 4.2. Nilai rata-rata

menunjukkan hasil yang sangat layak, sehingga dapat dikatakan bahwa RPP
sudah layak dan tidak memerlukan revisi. Data kualitatif yang diperoleh berupa
tanggapan dan saran tentang RPP yang divalidasi. Saran yang diperoleh dari
validator yaitu antara tugas dan pertanyaan lebih di sesuaikan, indikator sebaiknya
dibuat lebih spesifik, tujuan pembelajaran harus disesuaikan antara tujuan dan
cara yang akan digunakan dalam pencapaiannya. Nilai rata-rata validasi rubrik
penilaian adalah 3,7 seperti tertera pada Tabel 4.3. Nilai rata-rata ini menunjukkan
hasil yang baik, sehingga dapat dikatakan bahwa rubrik penilaian sudah layak dan
tidak memerlukan revisi lagi. Data kualitatif yang diperoleh berupa tanggapan dan
saran tentang rubrik penilaian yang telah divalidasi. Menurut validator, rubrik
penilaian yang dibuat sudah sangat baik sehingga bisa langsung digunakan tanpa
melakukan revisi.
Data hasil perhitungan rata-rata dari validator pada bahan ajar materi
Sistem Regulasi dapat dilihat pada Tabel 4.5 dan data validasi secara keseluruhan
bahan ajar materi Sistem Regulasi dari validator dapat dilihat di Lampiran 6. Nilai
rata-rata validasi bahan ajar Sistem Regulasi adalah 3,3. Nilai rata-rata tersebut
menunjukkan bahwa materi yang disajikan dalam bahan ajar sudah baik dan
memenuhi kriteria atau layak untuk di ujicobakan.
B. Motivasi Belajar
Hasil perhitungan dan analisis angket ARCS serta lembar observasi oleh
observer menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa telah meningkat, hal ini
menunjukkan bahwa produk yang telah dikembangkan sudah efektif. Salah satu
faktor motivasi siswa dapat meningkat adalah guru menerapkan model
pembelajaran yang tepat sesuai dengan kebutuhan siswa, dikarenakan guru
menerapkan perangkat pembelajaran berbasis masalah dengan blended learning.
Keller (2008) mengatakan bahwa agar siswa termotivasi, rasa ingin tahu mereka
harus dibangkitkan dan berkelanjutan, instruksi harus dianggap relevan dengan
nilai-nilai pribadi atau tujuan yang diinginkan, mereka harus memiliki keyakinan
pribadi bahwa mereka akan berhasil dan konsekuensi dari pengalaman belajar
harus konsisten dengan insentif pribadi dari siswa. Sesuai dengan pernyataan
tersebut guru berusaha untuk memberikan motivasi kepada siswa dengan cara
menerapkan cara belajar berbasis masalah dan menyediakan forum untuk diskusi
online serta siswa dapat bebas melakukan chatting dengan guru untuk membahas
materi pelajaran. Motivasi dapat di defenisikan sebagai daya penggerak dari
seseorang untuk melakukan aktifitas tertentu demi mencapai suatu tujuan
(Poulsen, et al, 2008). Menurut Sanjaya (2008) motivasi adalah dorongan yang
dapat menimbulkan perilaku tertentu yang terarah kepada pencapaian suatu tujuan
tertentu.
Motivasi akan menyebabkan terjadinya perubahan energi pada diri
seseorang yang berhubungan dengan persoalan kejiwaan, perasaan dan juga emosi
untuk kemudian bertindak atau melakukan sesuatu. Semua ini didorong karena
adanya tujuan, kebutuhan atau keinginan. Berkaitan dengan aktivitas belajar,
Dimyati dan Mujiono (2002) mengatakan bahwa motivasi belajar merupakan
dorongan mental yang memiliki motivasi yang tinggi akan mempunyai banyak
energi untuk melakukan kegiatan belajar.

C. Hasil Belajar
Hasil belajar dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa dari tiga ranah,
yakni ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor. Berdasarkan hasil
analisis data hasil belajar siswa pada ranah kognitif maka dapat diketahui
ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal. Ketuntasan belajar secara klasikal
dapat dilihat dari banyaknya siswa yang tuntas mencapai KKM yang telah
ditetapkan yakni 75. Dari siswa yang tuntas tersebut dapat diketahui ketuntasan
belajar secara klasikal dengan ketetapan persentase klasikal sebesar 75%.
Ketuntasan belajar klasikal siswa pada penelitian ini adalah 93,75%.
Peningkatan yang terjadi tersebut dikarenakan siswa sudah mulai terbiasa
dengan menggunakan model pembelajaran PBL dipadu dengan blended learning.
Penerapan model pembelajaran PBL dipadu dengan blended learning mampu
meningkatkan hasil belajar siswa. PBL (Problem Based Learning) memberikan
kesempatan siswa melakukan penemuan sendiri, hal ini sangat efektif untuk siswa
yang beragam karena siswa memilih sendiri permasalahan dan metode
pemecahannya berdasarkan tingkatan masalah yang diminati dan memiliki tujuan
pendidikan yang sangat luas. Pembelajaran PBL (Problem Based Learning) juga
meningkatkan kemampuan menjawab pertanyaan terbuka dengan banyak
alternatif jawaban benar sehingga pada akhirnya siswa mampu meningkatkan
kemampuan berpikir kritis berupa peningkatan dari pemahaman ke aplikasi,
sintesis dan analisis serta menjadikan mereka sebagai siswa mandiri (Ibrahim dan
Nur, 2000).
Pembelajaran blended learning juga dikenal sebagai pembelajaran hybrid.
Menurut Susilo (2011) melalui pembelajaran hybrid siswa dapat lebih sukses
mencapai tujuan pembelajaran dibandingkan pembelajaran tradisional, serta
adanya peningkatan interaksi dan kontak antar siswa dan antara siswa dengan
guru. Hal ini terjadi karena mereka telah belajar lebih serius karena meningkatnya
rasa ingin tahu mereka. Pendidik atau ahli pendidik dengan jarak jauh dapat
menjadikan adanya kesempatan interaksi yang aktif dalam konteks belajar jarak
jauh (Roosman, 1999). Susilo (2011) juga menyatakan bahwa tujuan
dikembangkan hybrid supaya siswa lebih mendalami materi yang mereka pelajari
tidak hanya dengan pembelajaran tatap muka, tetapi juga bisa melalui online
berupa chatting facebook yang selalu siswa kunjungi setiap harinya. Hal itu akan
membuat siswa lebih banyak belajar sehingga dapat meningkatkan motivasi dan
hasil belajar siswa.
Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima
pengalaman belajarnya (Sudjana, 1995). Kemampuan tersebut dapat meliputi
pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, dan
keterampilan (Suprijono, 2011), sehingga siswa menjadi lebih baik dari
sebelumnya. Menurut Bloom (2011), hasil belajar dapat meliputi tiga ranah, yaitu
kognitif, afektif, dan psikomotor. Hasil belajar dalam ranah kognitif meliputi
pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Hasil belajar
dalam ranah afektif meliputi penerimaan, partisipasi, menghargai dan penentuan
sikap, organisasi, karakteristik. Sedangkan hasil belajar dalam ranah psikomotor
meliputi selalu teliti dalam melaksanakan kegiatan praktikum serta selalu aktif
dalam kegiatan yang dilakukan, memfokuskan diri pada kegiatan praktikum,
membersihkan meja praktikum setelah kegiatan selesai dan mengambalikan alat
dalam keadaan rapi dan bersih.

10

PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan paparan data dan pembahasan tentang pengembangan
perangkat pembelajaran berbasis masalah dengan blended learning dapat
disimpulkan bahwa: , 1) hasil validasi produk oleh validator menunjukkan bahwa
perangkat pembelajaran berbasis masalah dengan blended learning yang
dikembangkan telah layak untuk diujicobakan, 2) pengembangan perangkat
pembelajaran berbasis masalah dengan blended learning dapat meningkatkan
motivasi belajar Biologi siswa kelas XI SMA Negeri 4 Malang, 3) pengembangan
perangkat pembelajaran berbasis masalah dengan blended learning dapat
meningkatkan hasil belajar Biologi ranah kogitif, afektif dan psikomotor siswa
kelas XI SMA Negeri 4 Malang
Saran
Berdasarkan hasil pembahasan dapat dikemukakan saran-saran adalah: 1)
Sebaiknya pada penelitian selanjutnya dilakukan uji keefektifan lebih dari satu
kelas untuk mengetahui secara signifikan perbedaan hasil dari perangkat
pembelajaran yang telah dikembangkan, 2) Perangkat pembelajaran berbasis
masalah dengan blended learning dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar
siswa, oleh sebab itu perlu dilakukan kerjasama untuk guru matapelajaran Biologi
untuk mampu mengembangkan perangkat pembelajaran berbasis masalah dengan
blended learning, 3) Sebaiknya pada kegiatan online seperti menyampaikan
pendapat atau bertanya pada chatting, guru harus memberikan reward kepada
siswa agar siswa lebih termotivasi untuk melakukan kegiatan chatting.
DAFTAR RUJUKAN
Bloom, B. S. 2000. Handbook an Formative and Sumative Evaluation of Student
Learning. USA: Mc Graw Hill.
Collis, B. 2003. Course Redesign For Blended Learning: Modern Optics for
Technical Professionals, International Journal of Continuing Engineering
Education and Lifelong Learning. Vol. 13, No.
Dimyati & Mujiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta
Ibrahim, M dan Nur, M. 2000. Pengajaran Berdasarkan Masalah. Surabaya:
Pusat Sain dan Matematika Sekolah. Program Pasca Sarjana Unesa,
University Press
Keller, J. M. 2008. First Principles Motivation to Learn and E-Learning. Journal
Distance Education. Vol. 29(2). Agustus 2008.
Poulsen, A. Larn, K. Cimeros, S & Trust, T. 2008. ARCS Model of Motivational
Design
Roosman, M. H. 1999. Successful Online Teaching Using an Arynchonea Learner
Discussion Forum. Journal of Asynchroneous Learning Network Vol 3,
No. 2, 1999, pp-91-97 (online, http://net.educause.eduir/library.pdf)
diakses tanggal 1 September 2013

11

Sanjaya, W. 2008.Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Prenada Media Group.


Stepp-Greany, J. 2000. Student Perception on Language Learning in a
Technological Environment: Implication for the New Milennium.
Language Learning and Technology, Vol. 6 No. 1
Sudjana, N. 1995. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT
Remaja Rosda Karya
Sugiharto, Bowo, dkk. 2010. Integrasi Pendekatan Konstruktivisme dalam Model
Problem Based Learning Berbasis Kooperatif untuk Meningkatkan
Kompetensi Mahasiswa pada Matakuliah Strategi Pembelajaran Biologi
Tahun Akademik 2009/2010. Semarang: FKIP Universitas Negeri
Semarang
Suprijono, A. 2011. Cooperative Learning: Teori & Aplikasi Paikem. Yogyakarta:
Pustaka Belajar.
Susilo, H. 2011. Blended Learning untuk Menyiapkan Siswa Hidup Di Abad 21.
Makalah disajikan dalam Seminar Nasional 2011 Pengembangan
Pembelajaran Berbasis Blended Learning. Perpustakaan UM, Malang
Thiagarajan, S., Dorothy, S,. Melvyn, I., & Semmel. 1974. Instruction
Development For Training Teachers of Exceptional Children. Blomington
Indiana: Indiana University