Anda di halaman 1dari 8

Kegiatan promotif belum dilakukan sebagaimana mestinya, sesuai dengan prinsip

dokter keluarga. Upaya promotif klinik dokter keluarga, lebih dominan dilakukan
terhadap pembinaan ke masyarakat seperti penyuluhan dan pembinaan lainnya.
Adapun terhadap individu pendidikan kesehatan hanya diberikan secara sekilas.
Itupun yang terkait dengan penyakit anggotanya saja. Terjadi duplikasi kegiatan
dengan puskesmas sehingga membingungkan pembagian kerja diantara mereka.
Kegiatan preventif mendekati kearah pelayanan dokter keluarga meski belum
semuanya dilakukan.
Upaya Preventif klinik dokter keluarga, lebih bervariasi, tidak semua klinik dapat
melakukan kegiatan sesuai dengan pedoman yang ada karena terbatasnya sarana
yang dimiliki. Disamping itu belum proaktif melakukan upaya pencegahan ke
lapangan seperti surveillance. Pemeriksaan Usila belum dilakukan, pemeriksaan
secara berkala terhadap bayi dan anak, wanita dilakukan oleh bidan, kecuali yang
terkait dengan upaya tindakan kuratif oleh dokter.

KEPUTUSAN

KONSIL

KEDOKTERAN

INDONESIA

NOMOR

21A/KKI/KEP/IX/2006 TENTANG PENGESAHAN STANDAR KOMPETENSI


DOKTER
STANDAR KOMPETENSI DOKTER
1. Komunikasi efektif
2. Keterampilan Klinis
3. Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran
4. Pengelolaan Masalah Kesehatan
5. Pengelolaan Informasi
6. Mawas Diri dan Pengembangan Diri
7. Etika, Moral, Medikolegal dan Profesionalisme serta Keselamatan Pasien
Area Komunikasi Efektif

1. Berkomunikasi dengan pasien serta anggota keluarganya


2. Berkomunikasi dengan sejawat
3. Berkomunikasi dengan masyarakat
4. Berkomunikasi dengan profesi lain
Area Keterampilan Klinis
5. Memperoleh dan mencatat informasi yang akurat serta penting tentang pasien
dan keluarganya
6. Melakukan prosedur klinik dan laboratorium
7. Melakukan prosedur kedaruratan klinis
Area Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran
8. Menerapkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip ilmu biomedik, klinik, perilaku,
dan ilmu kesehatan masyarakat sesuai dengan pelayanan kesehatan tingkat primer
9. Merangkum dari interpretasi anamnesis, pemeriksaan fisik, uji laboratorium dan
prosedur yang sesuai
10. Menentukan efektivitas suatu tindakan
Area Pengelolaan Masalah Kesehatan
11. Mengelola penyakit, keadaan sakit dan masalah pasien sebagai individu yang
utuh, bagian dari keluarga dan masyarakat
12. Melakukan Pencegahan Penyakit dan Keadaan Sakit
13. Melaksanakan pendidikan kesehatan dalam rangka promosi kesehatan dan
pencegahan penyakit
Area Pengelolaan Masalah Kesehatan
14. Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan derajat
kesehatan

15. Mengelola sumber daya manusia serta sarana dan prasarana secara efektif dan
efisien dalam pelayanan kesehatan primer dengan pendekatan kedokteran keluarga
Area Pengelolaan Informasi
16. Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu penegakan
diagnosis, pemberian terapi, tindakan pencegahan dan promosi kesehatan, serta
penjagaan, dan pemantauan status kesehatan pasien
17. Memahami manfaat dan keterbatasan teknologi informasi
18. Memanfaatkan informasi kesehatan
Area Mawas Diri dan Pengembangan Diri
19. Menerapkan mawas diri
20. Mempraktikkan belajar sepanjang hayat
21. Mengembangkan pengetahuan baru
Area Etika, Moral, Medikolegal dan Profesionalisme serta Keselamatan Pasien
22. Memiliki Sikap profesional
23. Berperilaku profesional dalam bekerja sama
24. Sebagai anggota Tim Pelayanan Kesehatan yang profesional
Area Etika, Moral, Medikolegal dan Profesionalisme serta Keselamatan Pasien
25. Melakukan praktik kedokteran dalam masyarakat multikultural di Indonesia
26. Memenuhi aspek medikolegal dalam praktik kedokteran
27. Menerapkan keselamatan pasien dalam praktik kedokteran

PRAKTEK DOKTER KELUARGA


Terlepas dari masih ditemukannya perbedaan pendapat tentang kedudukan dan
peranan dokter keluarga dalam sistem pelayanan kesehatan, pada saat ini telah
ditemukan banyak bentuk praktek dokter keluarga. Bentuk praktek dokter keluarga
yang dimaksud secara umum dapat dibedakan atas tiga macam :
1. pelayanan dokter keluarga sebagai bagian dari pelayanan rumah
sakit (hospital based)
pada bentuk pelayanan dokter keluarga diselenggarakan di rumah sakit.
Untuk ini dibentuklah suatu unit khusus yang diserahkan tanggung jawab
menyelenggarakan pelayanan dokter keluarga. Unit khusus ini dikenal
dengan nama bagian dokter keluarga (departement of family medicine),
semua pasien baru yang berkunjung ke rumah sakit, diwajibkan melalui
bagian khusus ini. Apabila pasien tersebut ternyata membutuhkan pelayanan
spesialistis, baru kemudian dirujuk kebagian lain yang ada dirumah sakit
2. Pelayanan dokter keluarga dilaksanakan oleh klinik dokter keluarga
(family clinic)
Pada bentuk ini sarana yang menyelenggarakan pelayanan dokter keluarga
adalah suatu klinik yang didirikan secara khusus yang disebut dengan nama
klinik dokter keluarga (family clinic/center). Pada dasarnya klinik dokter
keluarga ini ada dua macam. Pertama, klinik keluarga mandiri (free-standing
family clinic). Kedua, merupakan bagian dari rumah sakit tetapi didirikan
diluar komplek rumah sakit (satelite family clinic). Di luar negeri klinik dokter
keluarga satelit ini mulai banyak didirikan. Salah satu tujuannya adalah untuk
menopang pelayanan dan juga penghasilan rumah sakit.
Terlepas apakah klinik dokter keluarga tersebut adalah suatu klinik
mandiri atau hanya merupakan klinik satelit dari rumah sakit, lazimnya klinik
dokter keluarga tersebut menjalin hubungan kerja sama yang erat dengan
rumah sakit. Pasien yang memerlukan pelayanan rawat inap akan dirawat
sendiri atau dirujuk ke rumah sakit kerja sama tersebut.
Klinik dokter keluarga ini dapat diselenggarakan secara sendiri (solo
practice) atau bersama-sama dalam satu kelompok (group practice). Dari dua
bentuk klinik dokter keluarga ini, yang paling dianjurkan adalah klinik dokter
keluarga yang dikelola secara berkelompok. Biasanya merupakan gabungan
dari 2 sampai 3 orang dokter keluarga.

Pada klinik dokter keluarga berkelompok ini diterapkan suatu sistem


manajernen yang sama. Dalam arti para dokter yang tergabung dalam klinik
dokter keluarga tersebut secara bersama-sama membeli dan memakai alatalat praktek yang sama. Untuk kemudian menyelenggarakan pelayanan
dokter keluarga yang dikelola oleh satu sistem manajemen keuangan,
manajemen personalia serta manajemen sistem informasi yang sama pula.
Jika bentuk praktek berkelompok ini yang dipilih, akan diperoleh beberapa
keuntungan sebagai berikut (Clark, 1971) :
a. Pelayanan dokter keluarga yang

diselenggarakan

akan

lebih

bermutu
Penyebab utamanya adalah karena pada klinik dokter keluarga
yang dikelola secara kelompok, para dokter keluarga yang terlibat
akan dapat saling tukar menukar pengalaman, pengetahuan dan
keterampilan. Di samping itu, karena waktu praktek dapat diatur,
para dokter mempunyai cukup waktu pula untuk menambah
pengetahuan

dan

keterampilan.

Kesemuannya

ini,

ditambah

dengan adanya kerjasama tim (team work) disatu pihak, serta


lancarnya hubungan dokter-pasien di pihak lain, menyebabkan
pelayanan dokter keluarga yang diselenggarakan akan lebih
bermutu.
b. Pelayanan

dokter

keluarga yang

diselenggarakan

akan

lebih

terjangkau
Penyebab utamanya adalah karena pada klinik dokter keluarga
yang dikelola secara berkelompok, pembelian serta pemakaian
pelbagai peralatan medis dan non medis dapat dilakukan bersamasama (cost sharing). Lebih dari pada itu, karena pendapatan
dikelola bersama, menyebabkan penghasilan dokter akan lebih
terjamin.

Keadaan

kecenderungan

yang

seperti

penyelenggara

ini

pelayanan

akan
yang

mengurangi
berlebihan.

Kesemuanya ini apabila berhasil dilaksanakan, pada gilirannya akan


menghasilkan pelayanan dokter keluarga yang lebih terjangkau.
3. Pelayanan dokter keluarga dilaksanakan melalui praktek dokter keluarga
(family practice)
Pada bentuk ini sarana yang menyelenggarakan pelayanan dokter keluarga
adalah praktek dokter keluarga. Pada dasarnya bentuk pelayanan dokter
keluarga ini sama dengan pelayanan dokter keluarga yang diselenggarakan

melalui klinik dokter keluarga. Disini para dokter yang menyelenggarakan


praktek,

rnenerapkan

prinsip-prinsip

pelayanan

dokter

keluarga

pada

pelayanan kedokteran yang diselenggarakanya. Praktek dokter keluarga


tersebut dapat dibedaka pula atas dua macam. Pertama, praktek dokter
keluarga yang diselenggarakan sendiri (solo practice). Kedua praktek dokter
keluarga yang diselenggarakan secara berkelompok (group practice).

PEMBIAYAAN PELAYANAN DOKTER KELUARGA


Untuk dapat menyelenggarakan pelayanan dokter keluarga tentu diperlukan
tersedianya dana yang cukup. Tidak hanya untuk pengadaan pelbagai sarana dan
prasarana medis dan non medis yang diperlukan (investment cost), tetapi juga
untuk membiayai pelayanan dokter keluarga yang diselenggarakan (operational
cost) Seyogiyanyalah semua dana yang diperlukan ini dapat dibiayai oleh pasien
dan atau keluarga yang memanfaatkan jasa pelayanan dokter keluarga. Masalah
kesehatan seseorang dan atau keluarga adalah tanggung jawab masing-masing
orang

atau

keluarga yang

bersangkutan.

Untuk

dapat mengatasi

masalah

kesehatan tersebut adalah amat diharapkan setiap orang atau keluarga bersedia
membiayai pelayanan kesehatan yang dibutuhkannya.

Mekanisme pembiayaan yang ditemukan pada pelayanan kesehatan banyak


macamnya. Jika disederhanakan secara umum dapat dibedakan atas dua macam.
Pertama, pembiayaan secara tunai (fee for service), dalam arti setiap kali pasien
datang berobat diharuskan membayar biaya pelayanan. Kedua, pembiayaan melalui
program asuransi kesehatan (health insurance), dalam arti setiap kali pasien datang
berobat tidak perlu membayar secara tunai, karena pembayaran tersebut telah
ditanggung oleh pihak ketiga, yang dalam hat ini adalah badan asuransi.
Tentu tidak sulit dipahami, tidaklah kedua cara pembiayaan ini dinilai sesuai untuk
pelayanan dokter keluarga. Dari dua cara pembiayaan yang dikenal tersebut, yang
dinilai sesuai untuk pelayanan dokter keluarga hanyalah pembiayaan melalui

program asuransi kesehatan saja. Mudah dipahami, karena untuk memperkecil


risiko biaya, program asuransi sering menerapkan prinsip membagi risiko (risk
sharing) dengan penyelenggara pelayanan, yang untuk mencegah kerugian, tidak
ada

pilihanlain

bagi

penyelenggara

pelayanan

tersebut,

kecuali

berupaya

memelihara dan meningkatkan kesehatan, dan atau mencegah para anggota


keluarga yang menjadi tanggungannya untuk tidaksampai jatuh sakit. Prinsip kerja
yang seperti ini adalah juga prinsip kerja dokter keluarga.
BATASAN
Untuk dapat memahami apa yang dimaksud dengan program asuransi kesehatan
(health insurance) perlulah dipahami dahulu apa yang dimaksud dengan asuransi
(insurance). Pada saat ini batasan asuransi barlyak macamnya. Dua antaranya :
1. Asuransi adalah suatu upaya untuk memberikan perlindungan terhadap
kemungkinan-kemungkinan yang dapat mengakibatkan kerugian ekonomi (Breider
and Breadles,1972)
2. Asuransi adalah suatu perjanjian dimana si penanggung dengan menerima suatu
premi meningkatkan dirinya untuk memberi ganti rugi kepada si tertanggung yang
mungkin di derita karena terjadinya suatu peristiwa yang mengandung ketidak
pastian dan yang akan mengakibatkan kehilangan, kerugian atau kehilangan suatu
keuntungan (kitab UU Hukum dagang, 1987)
Untuk indonesia, sekalipun pengertian yang berlaku adalah sesuai dengan
ketentuan KUH Dagang, jadi hanya merupakan suatu perjanjian antara si
penanggung dengan si tertanggung, namun pada akhir-akhir ini mulai timbul
banyak pendapat seyogiyanya pengertian asuransi lebih diperluas. Pengertian
asuransi

tidak

terbatas

hanya

pada

memberikan

perlindungan

kepada

si

penanggung saja, melainkan juga kepada seluruh anggota masyarakat. Pengertian


asuransi yang seperti ini dikenal dengan nama asuransi sosial (socialin insurance),
yang asuransi kesehatan termasuk ke dalamnya.
BENTUK-BENTUK PEMBIAYAAN PRA-UPAYA
Mengingat bentuk pembayaran pra-upaya banyak menjanjikan keuntungan, maka
pad a saaat ini bentuk pembayaran pra-upaya tersebut banyak diterapkan. Pada

dasarnya ada tiga bentuk pembiayaan secara pra-upaya yang dipergunakan. Ketiga
bentuk yang dimaksud adalah:
1. sistem kapitasi (capitation system)
yang dimaksud dengan sistem kapitasi adalah sistem pembayaran dimuka
yang dilakukan oleh badan asuransi kepada penyelenggara pelayanan
kesehatan berdasarkan kesepakatan harga yang dihitung untuk setiap
peserta untuk jangka waktu tertentu. Dengan sistem pembayaran ini, maka
besarnya biaya yang dibayar oleh badan asuransi kepada penyelenggara
pelayanan yang tidak ditentukan oleh frekwensi penggunaan pelayanan
kesehatan oleh peserta, melainkan ditentukan oleh jumlah peserta dan
kesepakatan jangka waktu jaminan.
2. Sistem paket (packet system)
Yang dimaksud dengan sistem paket adalah sistem pembayaran di muka
yang dilakukan oleh badan asuransi kepada penyelenggara pelayanan
kesehatan berdasarkan kesepakatan harga yang dihitung untuk suatu paket
pelayanan kesehatan tertentu. Dengan sistem pembayaran ini, maka
besarnya biaya yang dibayar oleh badan asuransi kepada penyelenggara
pelayanan kesehatan tidak ditentukan oleh macam pelayanan kesehatan
yang diselenggarakan, melainkan oleh paket pelayanan kesehatan yang
dimanfaatkan. Penyakit apapun yang dihadapi, jika termasuk dalam satu
paket pelayanan yang sama, mendapatkan biaya dengan besar yang sama.
Sistem pernbiayaan paket ini dikenal pula dengan nama sistem pembiayaan
kelompok diagnosis terkait (diagnosis related group) yang di banyak negara
maju telah lama diterapkan.
3. Sistem anggaran (budget system)
Yang dimaksud dengan sistem anggaran adalah sistem pembayaran di muka
yang dilakukan oleh badan asuransi kepada penyelenggara pelayanan
kesehatan

berdasarkan

kesepakatan

harga,

sesuai

dengan

besarnya

anggaran yang diajukan penyelenggara pelayanan kesehatan. Sama halnya


dengan sistern paket, pada sistem anggaran ini, besarnya biaya yang dibayar
oleh badan asuransi kepada penyelenggara pelayanan kesehatan tidak
ditentukan

oleh

macam

pelayanan

kesehatan

yang

melainkan oleh besarnya anggaran yang telah disepakati.

diselenggarakan,