Anda di halaman 1dari 13

POTENSI DAN PERMASALAHAN DAERAH

A. POTENSI DAERAH
Pembangunan daerah merupakan rangkaian upaya pembangunan yang berkesinambungan
melalui pengembangan potensi yang dimiliki daerah. Potensi daerah merupakan modal
dasar bagi daerah dalam melaksanakan pembangunan untuk mewujudkan visi daerah.
1. Lingkungan Strategis
a. Letak wilayah
Kabupaten Sleman terletak di antara 1071503 - 1002930 bujur timur dan 73451
- 74703 lintang selatan. Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Magelang,
Kabupaten Boyolali, Propinsi Jawa Tengah; sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten
Klaten, Propinsi Jawa Tengah; sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Kulon Progo,
Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah;
dan sebelah selatan berbatasan dengan Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul, dan
Kabupaten Gunung Kidul Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
b. Luas wilayah
Luas Kabupaten Sleman lebih kurang 574,82 km2 atau sekitar 18% dari luas Propinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta. Jarak wilayah Kabupaten Sleman terjauh dari utara ke
selatan 32 km dan dari timur ke barat 35 km.
c. Topografi, klimatologi, dan penggunaan lahan
1). Topografi
Kondisi permukaan tanah Kabupaten Sleman di bagian selatan relatif datar, kecuali di
bagian tenggara Kecamatan Prambanan dan sebagian wilayah di Kecamatan Gamping
merupakan daerah perbukitan. Semakin ke utara kondisi permukaan tanah relatif miring
dan di bagian utara sekitar Lereng Merapi relatif terjal. Sebagian besar (72,11%) wilayah
Kabupaten Sleman mempunyai ketinggian antara 100 meter hingga 2.500 meter di atas
permukaan laut. Sisanya (27,89%) wilayah Sleman mempunyai ketinggian kurang dari
100 meter di atas permukaan laut. 7 Seri E Nomor 1 Lembaran Daerah Kabupaten
Sleman. Tahun 2005
2). Klimatologi
Kondisi iklim di sebagian besar wilayah Kabupaten Sleman termasuk tropis basah
dengan curah hujan rata-rata berkisar antara 2.206,6 mm/tahun sampai dengan 2.581
mm/tahun. Berdasarkan kondisi iklim tersebut, maka lahan di wilayah Kabupaten Sleman
sangat cocok untuk pengembangan pertanian.

3). Penggunaan lahan


Hampir setengah dari luas wilayah Kabupaten Sleman, yaitu di bagian barat dan selatan,
merupakan tanah pertanian yang subur dengan didukung oleh irigasi teknis. Pada tahun
2003, penggunaan lahan untuk persawahan mencapai 23.361 ha (40,64%), tegalan 6.440
ha (11,20%), pekarangan 18.832 ha (32,76%), dan lain-lain 8.849 ha (15,40%). Selama 5
tahun terakhir, luas lahan persawahan mengalami penyusutan rata-rata 0,41%/tahun, luas
lahan tegalan bertambah rata-rata 0,25%/tahun, luas lahan pekarangan bertambah ratarata 0,07%/tahun, dan luas lahan untuk lain-lain bertambah rata-rata 0,09%/tahun.
d. Sumberdaya alam (SDA)
Potensi SDA yang terdapat di Kabupaten Sleman meliputi SDA non-hayati yaitu air,
lahan, udara, dan SDA hayati yang terdiri dari flora dan fauna. Hingga akhir tahun 2003,
cadangan air bawah tanah secara statis mencapai 1.140.000.000 m3 , sementara
pemakaian air tanah per tahun sebanyak 37.527.246,31 m3 (3,29% dari cadangan air
bawah tanah), dengan alokasi rata-rata per tahun untuk pemakaian domestik sebanyak
32.935.996,24 m3 , hotel 1.245.071,87 m3 , rumahtangga 753.462,66 m3 , dan industri
2.592.715,54 m3 . Sumberdaya lahan berupa hutan negara, hutan rakyat, dan hutan kota.
Hutan negara seluas 1.728,91 ha (3,01% dari luas wilayah Sleman) terdiri dari 1.446,65
ha berupa hutan lindung, 118,61 ha taman wisata, dan 163,68 ha berupa cagar alam. Luas
hutan rakyat 3.360 ha (5,80% dari luas wilayah Sleman), sedangkan luas hutan kota 1,80
ha. Bahan galian di wilayah Kabupaten Sleman berupa bahan galian golongan C (BGCC)
yang meliputi cadangan pasir (35.247.600 m), sirtu (108.663.500 m), andesit
(55.272.300 m), tanah liat (11.478.223 m), kapur (2.500 m), dan breksi batu apung
(214.835.000 m). 8 Seri E Nomor 1 Lembaran Daerah Kabupaten Sleman. Tahun 2005
e. Lingkungan hidup
Perusahaan-perusahaan di Kabupaten Sleman masih ada yang belum memenuhi
kewajibannya berkaitan dengan pemeliharaan lingkungan hidup. Sampai dengan tahun
2004, dari 28 perusahaan yang termasuk dalam kelompok usaha wajib amdal, sebanyak
17 (60,71%) perusahaan telah memiliki dokumen amdal. Sedangkan dari 87 perusahaan
yang termasuk dalam kelompok usaha wajib Upaya Pengelolaan Lingkungan-Upaya
Pemantauan Lingkungan (UKL-UPL), baru 70 (80,46%) perusahaan yang telah memiliki
dokumen UKL-UPL. Perusahaan-perusahaan di Kabupaten Sleman juga berkewajiban
membangun Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL). Namun, dari 1.400 perusahaan yang
termasuk ke dalam kelompok usaha wajib membangun IPAL, baru 80 (5,71%)
perusahaan yang telah membangun IPAL. Sampai dengan tahun 2004, Kabupaten Sleman
memiliki kelompok/individu peduli lingkungan, yakni 347 orang kader lingkungan.
Kelompok/individu peduli lingkungan yang telah memperoleh penghargaan di bidang
lingkungan baik tingkat propinsi maupun tingkat nasional, terdiri atas 6 orang perintis

lingkungan, 5 kelompok penyelamat lingkungan, 5 orang pengabdi lingkungan, dan 5


orang pembina lingkungan. Sarana pengelolaan sampah di Kabupaten Sleman berupa
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) terdapat di Piyungan Bantul (kerjasama Kabupaten
Sleman, Bantul, dan Kota Yogyakarta). Sarana pengelolaan sampah lainnya yang dimiliki
Kabupaten Sleman adalah 7 Lokasi Daur Ulang Sampah (LDUS), 7 unit transfer depo, 34
unit container, dan 34 unit Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Sarana angkutan
sampah terdiri dari 11 dump truck dengan kapasitas angkut 330 m/hari, 6 unit armroll
dengan kapasitas angkut 108 m/hari, 2 unit pick up dengan kapasitas angkut 6 m/hari, 1
unit wheel loader, dan 1 unit buldozer. Saat ini timbulan sampah di Kabupaten Sleman
mencapai 1.613,40 m/hari, dikelola oleh masyarakat sendiri sebanyak 74,43% atau
1.200,90 m/hari, sedangkan sampah yang terangkut sebanyak 25,57% atau 412,5 m/hari
dengan rincian dibuang ke TPA 307 m/hari dan diolah di LDUS sebanyak 105,5 m/hari.
Lokasi pembuangan sampah di luar TPA yang telah ditentukan, seperti bantaran sungai
sebanyak 152 titik, dengan sumber yang paling dominan adalah masyarakat setempat
64%, pihak luar 27%, warung PKL setempat 7%, dan restoran/toko setempat 2%. 9 Seri
E Nomor 1 Lembaran Daerah Kabupaten Sleman. Tahun 2005 Cakupan pelayanan
persampahan meliputi 17 kecamatan yang terdiri dari 48 perumahan/permukiman, 4
fasilitas kesehatan, 6 fasilitas pendidikan, 5 fasilitas kesehatan, 17 perusahaan swasta,
dan 13 fasilitas umum. Adapun potensi flora dan fauna di kawasan cagar alam Plawangan
Turgo terdapat 88 species flora dan 30 famili (96 species) fauna (meliputi mamalia, reptil,
Ikan, serangga, burung).
f. Karakteristik wilayah
1). Berdasarkan karakteristik sumberdaya yang dimiliki, Kabupaten Sleman terbagi
menjadi 4 wilayah, yaitu:
a). Kawasan lereng Gunung Merapi, dimulai dari jalan yang menghubungkan kota
Kecamatan Tempel, Turi, Pakem, dan Cangkringan (ringbelt) ke utara sampai
dengan puncak gunung Merapi. Di kawasan ini terdapat sumberdaya air dan
ekowisata yang berorientasi pada kegiatan Gunung Merapi dan ekosistemnya,
b). Wilayah Timur meliputi Kecamatan Prambanan, sebagian Kecamatan Kalasan
dan Kecamatan Berbah. Di wilayah ini terdapat peninggalan purbakala (candi)
sebagai pusat wisata budaya dan merupakan daerah lahan kering, serta sumber
bahan batu putih.
c). Wilayah Tengah merupakan wilayah aglomerasi kota Yogyakarta, meliputi
Kecamatan Mlati, Sleman, Ngaglik, Ngemplak, Depok, dan Gamping. Wilayah
ini merupakan pusat pendidikan, perdagangan, dan jasa.

d). Wilayah Barat yang meliputi Kecamatan Godean, Minggir, Seyegan, dan
Moyudan, merupakan daerah pertanian lahan basah yang tersedia cukup air dan
sumber bahan baku untuk industri kerajinan mendong, bambu, serta gerabah.
2). Berdasar jalur lintas antardaerah, Kabupaten Sleman dilalui oleh jalur jalan
nasional sebagai jalur ekonomi yang menghubungkan Kabupaten Sleman dengan
kota-kota pelabuhan Semarang, Surabaya, dan Jakarta. Jalur ini melewati wilayah
Kecamatan Prambanan, Kalasan, Depok, Mlati, Tempel, dan Gamping. Wilayah
Kecamatan Depok, Mlati, dan Gamping dilalui jalan lingkar (ringroad) sebagai
jalan arteri primer di Daerah Istimewa Yogyakarta, sehingga kecamatankecamatan tersebut cepat berkembang.
2. Hukum, Penyelenggaraan Pemerintahan, dan Politik
a. Hukum 10 Seri E Nomor 1 Lembaran Daerah Kabupaten Sleman. Tahun 2005
Pembangunan hukum yang telah dilakukan belum menunjukkan hasil yang optimal. Hal
ini antara lain ditunjukkan oleh masih adanya warga masyarakat yang tidak mematuhi
peraturan dan perundang-undangan yang berlaku, seperti pelanggaran atas pemanfaatan
tanah, rendahnya disiplin berlalu lintas, penyalahgunaan ruangan publik untuk
kepentingan individu, dan pembuangan sampah secara liar.
b. Penyelenggaraan pemerintahan Pemerintah Kabupaten Sleman telah melakukan
reformasi birokrasi untuk memenuhi perkembangan kebutuhan dalam memberikan
pelayanan kepada masyarakat dan untuk mempermudah aparat pemerintah daerah dalam
melaksanakan tugas dan fungsinya. Reformasi birokrasi juga bertujuan untuk
menciptakan tata pemerintahan yang baik (good governance) dengan memperhatikan
kebutuhan kecamatan (desa), sehingga kecamatan (desa) yang terdapat di Kabupaten
Sleman masih merasa memperoleh manfaat berada dalam (orbit) Kabupaten Sleman.
1). Kelembagaan Sejak dilaksanakannya otonomi daerah berdasar Undang-Undang No.
22 Tahun 1999, sampai dengan tahun 2003 di Kabupaten Sleman telah dilakukan 2 kali
penataan struktur organisasi. Pada tahap pertama, berdasarkan Perda No. 12 Tahun 2000,
penataan kelembagaan yang dilakukan lebih mengetengahkan aspek penggabungan
berbagai organisasi kecil yang mempunyai karakter pekerjaan sejenis menjadi suatu
organisasi yang lebih besar dan kompak, dan mengakomodasi adanya penggabungan
antara induk organisasi yang telah ada dengan berbagai instansi vertikal yang diserahkan
oleh Pemerintah kepada pemerintah daerah. Struktur organisasi Pemerintah Kabupaten
Sleman hasil penataan tahap pertama terdiri dari 2 sekretariat, yakni Sekretariat Daerah
dan Sekretariat DPRD, 7 dinas, 4 badan, 3 kantor, dan 17 kecamatan. Penataan
kelembagaan tahap kedua dilaksanakan berdasar Perda No. 12 Tahun 2003. Struktur
organisasi Pemerintah Kabupaten Sleman terdiri dari 2 sekretariat, yakni Sekretariat
Daerah dan Sekretariat DPRD, 9 dinas, 5 badan, 1 RSUD (setingkat badan), 5 kantor, 1

balai (setingkat kantor), dan 17 kecamatan. Tujuan yang akan dicapai dalam penataan
tahap kedua mewujudkan organisasi yang dapat 11 Seri E Nomor 1 Lembaran Daerah
Kabupaten Sleman. Tahun 2005 menyesuaikan kebutuhan dan tuntutan perubahan
(organisasi yang fleksibel). Pemerintah Kabupaten Sleman melakukan pengembangan
kelembagaan secara terus menerus (continous improvement) agar dapat lebih
mengoptimalkan fungsi alokasi dan distribusi aset, regulasi pembentuk sistem, dan
pelayanan serta perlindungan masyarakat.
2). Aparatur Sumberdaya manusia (SDM) merupakan asset bagi suatu organisasi dan
sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan mewujudkan tujuan organisasi. Oleh
karena itu pemerintah Kabupaten Sleman selalu melakukan pengelolaan sumberdaya
manusia (aparatur) yang dimiliki secara komprehensif dan berkesinambungan. Pegawai
Negeri Sipil (PNS) di Kabupaten Sleman per Desember 2003 sebanyak 13.140 orang
dengan latar belakang pendidikan SD 378 orang, SLTP 547 orang, SLTA 4.390 orang, D1
212 orang, D2 2.533 orang, D3 792 orang, D4 27 orang, Sarjana Muda 861 orang, S1
3.300 orang, dan S2 100 orang. Berdasar kelompok umur, banyaknya pegawai yang
berumur kurang dari 26 tahun ada 36 orang, 26-30 tahun 253 orang, 31-35 tahun 927
orang, 36-40 tahun 2.265 orang, 41-45 tahun 3.325 orang, 46-50 tahun 2.909 orang, 5155 tahun 2.322 orang, dan lebih dari 55 tahun 1.103 orang.
c. Politik
Kesadaran masyarakat dalam berpolitik telah diwujudkan dalam kegiatan
pemilihan umum (pemilu) tahun 2004 yang diikuti oleh 594.040 orang pemilih (81,07%)
dari 732.698 orang pemilih yang terdaftar. Tingkat partisipasi masyarakat dalam
pemilihan umum lebih dari 80% tersebut menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat
terhadap politik sangat tinggi. Melalui pemilu tahun 2004, masyarakat Sleman telah
memilih 45 orang wakil-wakilnya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
(DPRD) dengan rincian: 10 orang dari PDIP, 7 orang dari PAN, 7 orang dari PKB, 6
orang dari Golkar, 4 orang dari PPP, 6 orang dari PKS, 3 orang dari Partai Demokrat, 1
orang dari PKPB, dan 1 orang dari PDS. Pemilihan presiden tahap pertama diikuti oleh
609.935 orang dan tahap kedua diikuti 574.573
orang pemilih 12 Seri E Nomor 1 Lembaran Daerah Kabupaten Sleman. Tahun 2005
3. Ekonomi
a. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) PDRB
atas dasar harga berlaku dari tahun 1999 sampai dengan 2003 mengalami kenaikan ratarata 11,66% per tahun, yaitu dari Rp 3.175,309 milyar pada tahun 1999 menjadi Rp
5.451,102 milyar pada tahun 2003. Sedangkan PDRB atas dasar harga konstan

mengalami kenaikan rata-rata 3,35% per tahun, yaitu dari Rp 1.403,780 milyar pada
tahun 1999 menjadi Rp 1.654,682 milyar pada tahun 2003.
b. Struktur Perekonomian Daerah
Struktur ekonomi Kabupaten Sleman dari tahun 1999 sampai dengan tahun 2003
menunjukkan perkembangan yang positif. Kegiatan ekonomi pada sektor sekunder dan
tersier memberikan nilai tambah (value added) yang lebih tinggi dibandingkan dengan
sektor primer. Adapun kontribusi sektor primer (pertanian dan pertambangan) dalam
PDRB Kabupaten Sleman pada tahun 1999 sebesar 19,30% menjadi 16,93% pada tahun
2003, sektor sekunder (industri, listrik-gas-air bersih, dan bangunan) sebesar 24,36%
pada tahun 1999 dan menjadi 29,37% pada tahun 2003, dan sektor tersier (perdagangan,
pengangkutan, keuangan dan jasa) sebesar 56,34% pada tahun 1999 menjadi 53,69%
pada tahun 2003.
c. PDRB per kapita
PDRB per kapitaAtas dasar harga berlaku selama 5 tahun meningkat ratarata 9,74% per
tahun, yaitu dari Rp 3.671.843 pada tahun 1999 menjadi Rp 5.803.066 pada tahun 2003.
PDRB per kapita atas dasar harga konstan meningkat rata-rata 1,57% per tahun, yatu dari
Rp 1.619.503 pada tahun 1999 menjadi Rp 1.755.738 pada tahun 2003.
d. Pertumbuhan ekonomi
Selama periode tahun 1999-2003, pertumbuhan perekonomian Kabupaten Sleman mulai
menunjukkan pertumbuhan yang positif setelah mengalami pertumbuhan negatif pada
masa krisis, yaitu sebesar 1,93% pada tahun 1999, 3,63% pada tahun 2000, 4,00% pada
tahun 2001, 4,74% pada tahun 2002, dan 4,80% pada tahun 2003.
e. Keuangan daerah
Selama periode tahun 2000 sampai dengan tahun 2003, Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Kabupaten Sleman meningkat rata-rata 43,61% per tahun, yaitu dari Rp17,889 milyar
pada tahun 2000 menjadi Rp52,979 milyar pada tahun 2003. Anggaran Pendapatan
Belanja Daerah (APBD) Kabupaten 13 Seri E Nomor 1 Lembaran Daerah Kabupaten
Sleman. Tahun 2005 Sleman meningkat dari Rp118,533 milyar tahun 2000 menjadi
Rp447,510 milyar tahun 2003 atau meningkat rata-rata 55,71% per tahun.
Sumbersumber keuangan daerah terdiri dari pendapatan asli daerah, dana perimbangan,
dan lain-lain pendapatan yang sah. Sampai dengan tahun 2004, pendapatan asli daerah
baru memberi kontribusi sebesar 12,13% dari total anggaran, sehingga dalam membiayai
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan masih sangat bergantung aliran dana
dari pusat berupa dana perimbangan.

f. Investasi
Investasi di Kabupaten Sleman terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA), Penanaman
Modal Dalam Negeri (PMDN), dan Non-Fasilitas. Nilai investasi tahun 2000 sebesar
Rp1.800,90 milyar dengan 20.749 unit usaha dan menyerap tenaga kerja sebanyak
96.762 orang. Nilai investasi pada tahun 2003 meningkat menjadi Rp2.398,33 milyar
dengan 21.828 unit usaha dan menyerap tenaga kerja 112.391 orang. Dengan demikian
nilai investasi selama periode tahun 2000 sampai dengan tahun 2003 mengalami
peningkatan rata-rata 10,02% per tahun, Banyaknya unit usaha dalam periode yang sama
meningkat rata-rata 1,70% per tahun dan penyerapan tenaga kerja meningkat rata-rata
5,12% per tahun. Kegiatan investasi di Kabupaten Sleman sebagian besar pada
komoditas hasil pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan, industri (pengemasan,
pengolahan logam, kayu, dan pengolahan bahan galian golongan C), dan pariwisata
(wisata alam, wisata agro, wisata candi, wisata museum, wisata budaya, wisata olah
raga, dan wisata pendidikan).
g. Prasarana dan sarana ekonomi
1). Sarana Jalan
Pada akhir tahun 2003, panjang jalan kabupaten mencapai 1.085,13 km, meliputi 338,80
km dalam kondisi baik, 465,13 km dalam kondisi sedang, dan 281,20 km dalam kondisi
rusak. Panjang jalan desa mencapai 2.764,13 km meliputi 150 km dengan kondisi sedang
dan 2.614,13 km dengan kondisi rusak. Banyaknya jembatan ada 462 buah, meliputi
jembatan dengan kondisi baik 197 buah, kondisi sedang 188 buah, dan kondisi rusak 77
buah.
2). Sarana Irigasi Sarana irigasi terdiri atas bendung sebanyak 1.043 buah, embung
sebanyak 2 buah, saluran pembawa sepanjang 299,80 km, bangunan 14 Seri E Nomor 1
Lembaran Daerah Kabupaten Sleman. Tahun 2005 pelengkap sebanyak 3.430 buah,
saluran pembuang sepanjang 4.662 km, dan tanggul banjir sepanjang 6,50 km.
3). Listrik Kebutuhan listrik masyarakat kabupaten Sleman berasal dari PT. Perusahaan
Listrik Negara (PLN). Daya terpasang 207.868 KVA dengan total pelanggan sebanyak
212.151 orang. Sebagian besar ruas jalan Kabupaten dan ruas jalan desa sudah
dilengkapi dengan lampu penerangan jalan umum (LPJU). Sampai saat ini jumlah LPJU
yang berijin dan biaya beban daya listriknya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah
sebanyak 4.342 buah, terdiri 2.632 buah lampu jenis mercuri/natrium, 1.241 buah lampu
TL, dan 469 buah lampu pijar.
4). Pos dan telekomunikasi Sarana pelayanan pos dan giro sebanyak 25 buah, sedangkan
sarana pelayanan telekomunikasi sebanyak 39.597 SST terdiri dari pelayanan instansi
pemerintah 5.492 SST, pelayanan swasta perorangan 32.866 SST, pelayanan telpon

umum koin 372 buah, pelayanan telepon umum kartu (TUK) dan telepon pin 210, dan
pelayanan wartel 657 buah.
5). Sarana perdagangan Sarana perdagangan di Kabupaten Sleman pada tahun 2003
terdiri dari 36 pasar pemerintah, 19 buah pasar desa, 52 mini market, 4 supermarket, 6
pasar hewan, dan 1 pasar buah. Pasar pemerintah di Kabupaten Sleman seluas 134.155
m2 , ditempati oleh 12.424 pedagang dan dilengkapi dengan 1.185 kios, 454 los, dan
1.615 bango.
6). Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM)
a). Koperasi
Pada tahun 2000, jumlah koperasi di Kabupaten Sleman berjumlah 476 unit,
meliputi kopersi produksi sebanyak 55 unit, koperasi konsumsi 387 unit, koperasi jasa 8
unit, koperasi simpan pinjam sebanyak 19 unit, dan koperasi pemasaran 7 unit, dengan
anggota 181.004 orang. Jumlah modal sendiri Rp23,05 milyar, simpanan sukarela
Rp19,11 milyar, sisa hasil usaha (SHU) yang dibagi Rp4,91 milyar, dan volume usaha
Rp109,62 milyar. 15 Seri E Nomor 1 Lembaran Daerah Kabupaten Sleman. Tahun 2005
Pada tahun 2003, koperasi yang aktif di Kabupaten Sleman sebanyak 511 unit, meliputi
koperasi produksi sebanyak 57 unit, koperasi konsumsi 417 unit, koperasi jasa 8 unit,
koperasi simpan pinjam sebanyak 22 unit, dan koperasi pemasaran 7 unit, dengan
anggota 183.517 orang. Jumlah modal sendiri Rp36,94 milyar, simpanan sukarela
Rp26,53 milyar, sisa hasil usaha (SHU) yang dibagi Rp7,51 milyar, dan volume usaha
Rp154,37 milyar. Selama tahun 2000 sampai dengan tahun 2003 terjadi penambahan
jumlah koperasi sebesar 7,35%, penambahan jumlah anggota sebesar 1,39%, jumlah
modal sendiri meningkat sebesar 60,23%, dan peningkatan volume usaha sebesar
40,82%. b). Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Sampai dengan tahun 2003, banyaknya
UKM mencapai 21.757 unit yang bergerak di berbagai bidang usaha, meliputi usaha
perindustrian sebanyak 14.764 unit dengan tenaga kerja 59.885 orang, dan sebanyak
6.993 unit bergerak di bidang perdagangan, jasa, dan lain-lain dengan tenaga kerja
52.506 orang. 7). Lembaga keuangan Lembaga keuangan bank yang terdapat di
Kabupaten Sleman pada tahun 2003 terdiri dari Kantor Cabang Bank BNI 46 sebanyak 1
buah dengan 7 buah kantor cabang pembantu dan 4 buah kantor kas, Kantor Cabang
Bank Pembangunan Daerah sebanyak 1 buah dengan 4 buah kantor cabang pembantu
dan 10 buah kantor kas, Kantor Cabang BRI sebanyak 1 buah dengan kantor kas 27
buah, Kantor Cabang Bank Danamon sebanyak 1 buah, Bank Mandiri 2 buah, Bank
Panin 1 buah, Bank Bukopin 2 kantor cabang pembantu, Bank Perkreditan Rakyat (BPR)
36 buah, dan Baitul Mal Wat Tamwil (BMT) 12 buah. Selain itu, terdapat lembagalembaga keuangan non-bank, antara lain pegadaian, jasa asuransi, dan lembaga-lembaga
keuangan tingkat desa seperti Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) 32 buah, Badan
Usaha Kredit Pedesaan 17 buah, Badan Kredit Desa 22 buah, Usaha Ekonomi Desa

(UED), Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (LUEP), dan Usaha Sosial dan Ekonomi
Pedesaan (USEP). Keberadaan lembaga keuangan tersebut ternyata dapat membantu
kelancaran kegiatan perekonomian masyarakat. 16 Seri E Nomor 1 Lembaran Daerah
Kabupaten Sleman. Tahun 2005 Simpanan masyarakat Kabupaten Sleman pada lembaga
keuangan terdiri dari giro, deposito, dan tabungan. Simpanan masyarakat pada tahun
2000 berjumlah Rp970,85 milyar dan pada tahun 2003 menjadi Rp1.463,20 milyar atau
meningkat rata-rata 10,80% per tahun. Secara rinci jumlah simpanan dalam giro sebesar
Rp125,11 milyar tahun 2000 menjadi Rp212,04 milyar tahun 2003 atau meningkat ratarata 14,10% per tahun, deposito sebesar Rp334,86 milyar tahun 2000 menjadi Rp346,51
milyar pada tahun 2003 atau meningkat rata-rata 0,86% per tahun, dan tabungan sebesar
Rp510,88 milyar tahun 2000 menjadi Rp904,65 milyar tahun 2003 atau meningkat ratarata 15,36% per tahun. Kredit yang disalurkan oleh lembaga keuangan kepada
masyarakat Kabupaten Sleman pada tahun 2000 sebesar Rp276,82 milyar, menjadi
Rp927,28 pada tahun 2003, atau meningkat rata-rata 49,62% per tahun. Secara rinci,
jumlah kredit menurut jenis penggunaannya adalah kredit modal kerja Rp112,57 milyar
pada tahun 2000, menjadi Rp320,98 milyar pada tahun 2003, atau meningkat rata-rata
41,80% per tahun, kredit investasi Rp45,97 milyar pada tahun 2000, menjadi Rp176,71
milyar tahun 2003, atau meningkat rata-rata 56,65% per tahun, dan kredit konsumsi
Rp118,28 milyar pada tahun 2000, menjadi Rp429,59 milyar tahun 2003, atau meningkat
rata-rata 53,71% per tahun. 8). Kepariwisataan Kekayaan alam dan keanekaragaman
budaya dalam pembangunan kepariwisataan dimanfaatkan untuk kegiatan wisata alam,
wisata budaya, dan wisata minat khusus. Wisata alam meliputi kawasan wisata
Kaliurang, kawasan Kaliadem, dan kawasan wisata Agro Salak Pondoh Turi. Wisata
budaya meliputi kawasan wisata candi, upacara adat, dan museum. Kawasan wisata
candi meliputi 10 buah candi (Prambanan, Kalasan, Sari, Gebang, Banyunibo,
Sambisari, Murangan, Barong, Ijo, Ratu Boko) dan 2 situs arkeologi (situs Watu Gudik
dan Kedulan). Selain itu, masih terdapat 56 situs dan 3 tempat penampungan benda cagar
budaya. Upacara adat yang terdapat di Kabupaten Sleman di antaranya Suran Kaliurang,
Suran Mbah Demang, Suran Batok Bolu, Merti Bumi Tunggularum, Saparan Ki Ageng
Wonolelo, Saparan Gamping, Merti Dusun Mbah Bregas, Tuk Sibeduk, Ki Ageng
Tunggul Wulung, dan Labuhan Merapi. 17 Seri E Nomor 1 Lembaran Daerah Kabupaten
Sleman. Tahun 2005 Selain itu terdapat 7 museum dan monumen (Jogja Kembali,
Dirgantara Mandala, Geologi dan Mineral UPN, Affandi, Nyoman Gunarsa, Ulen
Sentalu, Pancasila Sakti). Wisata minat khusus meliputi wisata pedesaan di 9 desa
budaya (Brayut, Tanjung, Sambi, Grogol, Mlangi, Candi Abang, Plempoh, Srowolan,
Pajangan), 3 desa pertanian (Jamur, Garongan, Bokesan), 4 desa agro (Gabugan, Jambu,
Trumpon, Kelor), desa fauna (Ketingan), 5 desa kerajinan (Sendari, Brajan, Gamplong,
Sangubanyu, Malangan), dan 4 desa wisata alam (Kaliurang Timur, Turgo, Kinahreja,
Tunggularum), wisata pendidikan di 5 perguruan tinggi negeri dan 28 perguruan tinggi
swasta serta wisata olah raga dengan fasilitas 3 lapangan golf, 2 stadion, 9 kolam renang,
dan jalur tracking di Lereng Merapi. Sarana pendukung pariwisata yang dapat berfungsi

sebagai tempat MICE (Meeting, Incentive Tour, Conference, dan Exhibition), yaitu 14
hotel berbintang (1.723 kamar), 85 hotel non-bintang (1.290 kamar), dan 127 pondok
wisata (564 kamar), 12 restoran (tipe talam gangsa 7 buah dan tipe talam seloka 5 buah),
98 rumah makan (kelas A 7 buah, kelas B 36 buah, dan kelas C 55 buah), 43 biro
perjalanan wisata, 19 cabang biro perjalanan wisata, dan 4 agen perjalanan wisata.
Sarana rekreasi dan hiburan umum meliputi 11 kafe, 8 balai pertemuan umum, teater
terbuka, teater tertutup, dan panggung terbuka. Banyaknya wisatawan yang berkunjung
ke obyek wisata di wilayah Kabupaten Sleman pada tahun 1998 mencapai 1.775.525
orang, menjadi 2.343.916 orang pada tahun 2003, atau meningkat rata-rata 5,71% per
tahun. 9). Air bersih Pemenuhan kebutuhan air bersih penduduk Kabupaten Sleman
berasal dari 2 mata air dan 18 sumur bor, dan dilayani melalui 12 kantor cabang
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), yaitu Kantor Cabang Sleman, Godean, Depok,
Pakem, Ngemplak, Tambakrejo, Mlati, Sidomoyo, Nogotirto, Ngaglik, Berbah, dan
Prambanan. Sampai dengan tahun 2004 banyaknya pelanggan 19.329 sambungan rumah
(SR) dengan cakupan pelayanan 13,11% dari jumlah penduduk. 4. Kondisi Sosial
Budaya a. Kependudukan 18 Seri E Nomor 1 Lembaran Daerah Kabupaten Sleman.
Tahun 2005 Dalam kurun waktu 1999 sampai dengan 2003, banyaknya penduduk
Kabupaten Sleman meningkat dari 838.628 orang pada tahun 1999 menjadi 884.727
orang pada tahun 2003, atau meningkat rata-rata 1,35% per tahun. Banyaknya pendatang
di Kabupaten Sleman selama 5 tahun terakhir 46.011 orang dan banyaknya penduduk
yang pindah 28.151 orang, sehingga terjadi migrasi masuk neto sebanyak 17.860 orang.
Pertambahan penduduk alami selama 5 tahun sebesar 28.239 orang. b. Kesehatan
Derajad kesehatan merupakan pencerminan kesehatan perorangan, kelompok, maupun
masyarakat yang digambarkan dengan usia harapan hidup, angka kematian bayi (per
1.000 kelahiran hidup), angka kematian ibu melahirkan (per 100.000 persalinan), dan
status gizi. Selama periode tahun 2000-2003, usia harapan hidup meningkat dari 71,50
tahun menjadi 72,84 tahun, angka kematian bayi (AKB) mengalami penurunan dari
11,25 per 1.000 menjadi 8,47 per 1.000, angka kematian ibu (AKI) mengalami
penurunan dari 84,60 per 100.000 menjadi 76,19 per 100.000. Proporsi penduduk
dengan gizi lebih mengalami penurunan dari 1,71% menjadi 1,24%; gizi baik meningkat
dari 85,92% menjadi 87,55%; gizi kurang menurun dari 11,47% menjadi 10,47%; dan
gizi buruk menurun dari 0,90% menjadi 0,74%. c. Pendidikan Perkembangan pendidikan
di Kabupaten Sleman dalam kurun waktu 5 tahun terakhir dapat dilihat dari beberapa
indikator, antara lain Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni
(APM). APK untuk SD 110,26% pada tahun 1999 menurun menjadi 109,17% pada tahun
2003, APK untuk SMP 97,02% pada tahun 1999 menurun menjadi 84,43% pada tahun
2003, APK untuk SMA/SMK 81,25% pada tahun 1999 menurun menjadi 74,28% pada
tahun 2003. APM untuk SD 96,02% pada tahun 1999 menjadi 93,51% pada tahun 2003,
untuk SMP 68,76% pada tahun 1999 menjadi 58,95% pada tahun 2003, dan untuk
SMA/SMK 53,45% pada tahun 1999 menjadi 52,12% pada tahun 2003. Selama periode
tahun 1999 sampai dengan tahun 2003, rata-rata lama sekolah mengalami peningkatan

dari 9,26 tahun pada tahun 1999 menjadi 10,25 tahun pada tahun 2003, sedangkan angka
melek huruf mengalami 19 Seri E Nomor 1 Lembaran Daerah Kabupaten Sleman. Tahun
2005 peningkatan dari 86,35% pada tahun 1999 menjadi 90,87% pada tahun 2003. Pada
tahun 2003, di Kabupaten Sleman terdapat 5 perguruan tinggi negeri dengan jumlah
mahasiswa 72.444 orang dan 30 perguruan tinggi swasta dengan jumlah mahasiswa
kurang lebih 69.406 orang. d. Generasi muda dan olah raga Pembinaan generasi muda
dilakukan melalui 13 organisasi kepemudaan tingkat Kabupaten dan 96 organisasi
tingkat desa. Sarana pembinaan generasi muda yang tersedia di wilayah Kabupaten
Sleman meliputi: 5 pondok pemuda, 1 buah youth center, 9 lokasi bumi perkemahan, 4
gelanggang mahasiswa, 3 padepokan, 1 sanggar kegiatan belajar (SKB), dan 75 gedung
serbaguna. Pembinaan olah raga dilakukan melalui 18 organisasi cabang olah raga dan
20 kelompok olah raga masyarakat tingkat Kabupaten serta 25 kelompok olah raga
masyarakat tingkat Kecamatan. Sarana pembinaan olah raga yang tersedia di wilayah
Kabupaten Sleman meliputi: 99 lapangan sepak bola, 423 lapangan bola volley, 374
lapangan bulu tangkis, 456 buah meja tenis, 86 lapangan tenis, 53 lapangan bola basket,
3 lapangan sepak takraw, 1 lapangan tembak, 3 lapangan golf, 4 lapangan panahan, 1
ring tinju, 11 kolam renang, 4 lokasi panjat tebing. e. Ketenagakerjaan 1). Penduduk usia
kerja Penduduk usia kerja (15-64 tahun) selama 5 tahun terakhir mengalami peningkatan
rata-rata 2,67% per tahun, yaitu dari 671.021 orang tahun 1999 menjadi 745.624 orang
tahun 2003. 2). Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Tingkat Partisipasi Angkatan
Kerja (TPAK) yaitu banyaknya angkatan kerja dari setiap 100 orang penduduk selama
kurun waktu 5 tahun terakhir mengalami perubahan yang bervariasi. Angka TPAK
menurun rata-rata 0,40% per tahun dari 61,25 pada tahun 1999 menjadi 60,27 pada tahun
2003. 3). Angka Beban Tanggungan Angka beban tanggungan menurun dari 44,46 pada
tahun 1999 menjadi 39,45 pada tahun 2003. Hal ini berarti bahwa pada tahun 2003,
setiap 100 orang penduduk Kabupaten Sleman yang berusia produktif 20 Seri E Nomor 1
Lembaran Daerah Kabupaten Sleman. Tahun 2005 (15-64 tahun) harus menanggung
kurang lebih 39 orang penduduk usia 0-14 tahun dan 65 tahun ke atas. Kondisi ini relatif
lebih baik dibandingkan pada tahun 1999, yakni setiap 100 orang penduduk Kabupaten
Sleman yang berusia produktif harus menanggung kurang lebih 44 orang penduduk. 4).
Penduduk bekerja menurut lapangan usaha utama Penduduk yang bekerja di Kabupaten
Sleman pada tahun 2003 sebanyak 434.490 orang tersebar di berbagai sektor. Sektor
tertinggi dalam menyerap tenaga kerja adalah sektor pertanian (28,99%), diikuti oleh
sektor jasa (22,77%), perdagangan (22,06%), industri pengolahan (11,82%), konstruksi
(4,38%), keuangan (3,94%), angkutan (3,76%), pertambangan (1,93%), listrik/gas/air
(0,26%), dan lain-lain (0,09%). 5). Pelatihan kerja Pelayanan pelatihan kerja bagi
masyarakat dilakukan oleh 1 Balai Latihan Kerja dan 32 Lembaga Pelatihan Kerja milik
swasta. Pelatihan yang diberikan meliputi berbagai induk kejuruan yaitu otomotif, listrik,
teknologi mekanik, bangunan, pertanian, aneka kejuruan, tata niaga, dan kewirausahaan.
Balai Latihan Kerja mampu memberi pelatihan 1.100 orang per tahun dengan sistem
institusional dan non-institusional. f. Kesejahteraan Sosial Berdasar kriteria keluarga

sejahtera, dari 226.230 kepala keluarga pada tahun 2003, 10,30% tergolong Keluarga Pra
Sejahtera, 26,70% tergolong Keluarga Sejahtera I, 23,93% tergolong Keluarga Sejahtera
II, 30,55% tergolong Keluarga Sejahtera III, dan 8,52% tergolong Keluarga Sejahtera III
Plus. Banyaknya pasangan usia subur (PUS) di Kabupaten Sleman meningkat rata-rata
4,36% per tahun, yaitu dari 130.409 PUS pada tahun 1999 menjadi 136.092 PUS pada
tahun 2003. Peserta KB aktif mengalami peningkatan rata-rata 3,54% per tahun, yaitu
dari 102.379 orang pada tahun 1999 menjadi 105.999 orang pada tahun 2003. Panti
sosial yang ada di Kabupaten Sleman pada tahun 2003 sebanyak 31 buah, terdiri dari 17
panti sosial asuhan anak, 1 panti sosial petirahan anak, 1 panti sosial bina remaja, 1 panti
sosial tresna wreda, 3 panti sosial bina daksa, 4 panti sosial bina grahita, 3 panti sosial
bina rungu wicara, dan 1 panti sosial karya wanita. Di samping panti sosial juga terdapat
tempat 21 Seri E Nomor 1 Lembaran Daerah Kabupaten Sleman. Tahun 2005 penitipan
anak (TPA) sebanyak 10 buah. Tenaga kesejahteraan sosial masyarakat (TKSM)
sebanyak 500 orang, sedangkan jumlah organisasi sosial 74 buah. Penyandang masalah
kesejahteraan sosial (PMKS) tahun 2003 meliputi: anak balita terlantar sebanyak 540,
anak terlantar 4.404, anak korban tindak kekerasan atau perlakuan salah sebanyak 21,
anak jalanan 249, wanita rawan sosial ekonomi 1.348 orang, wanita korban tindak
kekerasan 52 orang, lanjut usia terlantar 7.287 orang, penyandang cacat fisik 2.807
orang, penyandang cacat mental retardasi 1.057 orang, penyandang cacat mental psikotik
772 orang, penyandang cacat ganda 546 orang, penyandang cacat bekas penderita
penyakit kronis 62 orang, tuna susila 54 orang, pengemis 44 orang, gelandangan 9 orang,
bekas napi 363 orang, korban penyalahgunaan narkoba 61 orang, keluarga berumah tidak
layak huni 3.636 orang, keluarga bermasalah sosial psikologis 651 orang, pemulung 279
orang, dan masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana 6.972 orang. g. Kesenian
dan Kebudayaan Di Kabupaten Sleman terdapat beranekaragam seni sebagai perwujudan
dari hasil cipta, rasa, karsa, dan karya masyarakat yang meliputi: seni tari (265
kelompok), seni musik (331 kelompok), wayang (9 kelompok), sastra (5 kelompok),
teater tradisional (43 kelompok), dan drama tari (6 kelompok). Seni non-pertunjukan
meliputi: seni rupa (32 kelompok) dan seni kriya (40 kelompok). Upacara adat dan
tradisi budaya yang masih berkembang di masyarakat di antaranya 10 macam upacara
adat, 20 macam tradisi budaya, dan tradisi budaya perorangan yang berhubungan dengan
siklus kehidupan manusia. Esensi dari kegiatan ini adalah pelestarian nilai-nilai budaya
untuk membentuk jatidiri bangsa. Peninggalan sejarah dan purbakala berbentuk cagar
budaya (68 situs/candi), benda cagar budaya (3 tempat penampungan), makam/tempat
ziarah (7 tempat), pesanggarahan (3 tempat), museum (7 buah), dan monumen (32 buah).
Peninggalan sejarah dan purbakala tersebut dapat dijadikan sebagai obyek penelitian
arkeologi, arsitektur, geologi, ilmu humaniora, dan sejarah. Selain itu, peninggalan
sejarah dan purbakala merupakan bagian dari keanekaragaman budaya bangsa dalam
rangka memperkuat kepribadian bangsa. 22 Seri E Nomor 1 Lembaran Daerah
Kabupaten Sleman. Tahun 2005 h. Agama Kerukunan antarumat beragama di Kabupaten
Sleman sangat baik. Hal ini ditunjukkan oleh tidak adanya konflik antarpemeluk agama.

Komposisi penduduk menurut agama pada tahun 2003 adalah sebagai berikut: Islam
809.343 jiwa, Katolik 52.586 jiwa, Kristen 20.962 jiwa, Hindu 1.144 jiwa, dan Budha
692 jiwa. Sarana ibadah berupa masjid 1.773 buah, mushola 289 buah, langgar 1.066
buah, gereja Katolik 52 buah, gereja Kristen 40 buah, kapel 12 buah, rumah kebaktian 10
buah, pura 4 buah, dan vihara 1 buah.