Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH SISTEM HUKUM INDONESIA

PROBLEMATIKA HAK ATAS KEKAYAAN


INTELEKTUAL DI INDONESIA
Diajukan Sebagai Tugas Pra UTS Mata Kuliah
Sistem Hukum Indonesia
Dosen Pengampu
Aris Hardinanto, SH., MH.

Disusun Oleh:
Nama
NIM

: Shukron Fauzi
: 140521100048

PROGRAM STUDI SOSIOLOGI


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA

2014
i

KATA PENGANTAR
Puji syukur alhamdullilah saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
yang telah melimpahkan segala rahmad, hidayah dan inayah-Nya. Sehingga
penulisan makalah ini dapat diselesaikan dengan baik dan lancar.
Makalah dengan judul PROBLEMATIKA HAK ATAS KEKAYAAN
INTELEKTUAL DI INDONESIA sebagai tugas pra UTS mata kuliah Sistem
Hukum Indonesia. Dalam penulisan makalah ini saya banyak menerima bantuan
bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. Pada kesempatan kali ini saya tidak
lupa mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang
telah membantu agar penulisan makalah ini selesai tepat pada waktunya.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari
sempurna. Karena masih banyak kekurangan dan kesalahan, maka penulis
menerima kritik dan saran yang membangun untuk menyempurnakan makalah ini.
Dengan makalah ini penulis mengharapkan semoga makalah ini dapat
bermanfaat dan berguna bagi penulis serta pembaca pada umumnya.
Penulis

ii

DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ........................................................................................... i
KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii
BAB 1 PENDAHULUAN ......................................................................................1
1.1. Latar Belakang Masalah .............................................................................1
1.2. Rumusan Masalah .......................................................................................1
1.3. Tujuan .........................................................................................................1
BAB II KAJIAN TEORI .......................................................................................2
2.1. Pengertian Hak Atas Kekayaan Intelektual ................................................2
2.2. Konsep Hak Atas Kekayaan Intelektual .....................................................2
2.3. Pengertian Hak Cipta ..................................................................................3
2.4. Sejarah Hak Cipta di Indonesia...................................................................3
2.5. UU Hak Kepemilikan di Indonesia .............................................................3
BAB III PEMBAHASAN ......................................................................................5
3.1. Fungsi UU Hak Cipta..................................................................................5
3.2. Kasus Pelanggaran Hak Cipta di Indonesia ................................................5
3.2.1. Kasus 1: Gunakan Lagu Tanpa Izin, Inul Vizta Dilaporkan Tony Q
Rastafara ...........................................................................................5
3.2.2. Kasus 2: Pasang Foto Bu Ani, Dilaporkan ke Polisi ........................8
3.2.3. Kasus 3: Iwan Fals Dilaporkan Terkait Pelanggaran Hak Cipta ......9
3.3. Dampak Pelanggaran Hak Cipta ...............................................................10
3.4. Usaha Memberantas Pelanggaran Hak Cipta ............................................11
BAB IV PENUTUP ..............................................................................................12
4.1. Kesimpulan ...............................................................................................12
4.2. Saran .........................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................14

iii

BAB I
PENDAHULUAN
3.1. Latar Belakang Masalah
Hak cipta adalah hak eksklusif bagi penciptaan atau penerima hak
untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberi izin
untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan pembatasan-pembatasan
menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.1 Indonesia sebagai
negara kepulauan memiliki keanekaragaman seni dan budaya yang sangat
kaya. Hal itu sejalan dengan keanekaragaman etnik, suku bangsa, dan agama
secara keseluruhan merupakan potensi nasional yang perlu di lindungi.2
Namun, hingga saat ini masih banyak sekali terjadi pelanggaran hak
kekayaan intelektual yang terjadi di Indonesia. Beberapa contoh pelanggaran
hak kekayaan intelektual tersebut terjadi dalam bentuk pencurian ide ataupun
plagiat pada suatu produk maupun merk tertentu.
Maka dari itu makalah ini akan membahas mengenai tindakan
pelanggaran hak kekayaan intelektual yang terjadi di Indonesia.
3.2. Rumusan Masalah
a. Apa saja fungsi dari UU Hak Cipta?
b. Apa saja pelanggaran hak cipta yang terjadi di indonesia?
c. Bagaimana dampak dari pelanggaran hak cipta?
d. Bagaimana upaya untuk memberantas pelanggaran Hak Cipta?
3.3. Tujuan Penulisan Makalah
a.

Untuk mengetahui apa saja fungsi dari UU Hak Cipta.

b.

Untuk mengetahui Apa saja pelanggaran hak cipta yang terjadi di


indonesia.

1
2

c.

Untuk mengetahui apa dampak dari pelanggaran hak cipta.

d.

Untuk Mengetahui usaha untuk memberantas pelanggaran Hak Cipta.

C.S.T Kansil, Kitab Undang-Undang HaKI (Jakarta: Pradnya Paramita, 2004), Halaman 7
C.S.T Kansil, Kitab Undang-Undang HaKI (Jakarta: Pradnya Paramita, 2004), Halaman 4

1
iv

BAB II
KAJIAN TEORI
2.1. Pengertian Hak Atas Kekayaan Intelektual
Pengertian Hak kekayaan intelektual menurut Saidin, H. OK.
adalah hak kebendaan, hak atas sesuatu benda yang bersumber dari hasil
kerja otak, hasil kerja rasio. Hasil dari pekerjaan rasio manusia yang menalar.
Hasil kerjanya itu berupa benda immaterial, benda tidak berwujud.
HaKI ini berasal dari Intellectual Property Rights yang dibahas
oleh organisasi World Intellectual Property Organization (WIPO). WIPO
membagi hak kekayaan intelektual ini menjadi 2 bagian yaitu hak cipta
(copyright) dan hak kekayaan industri (industrial property right). Hak
kekayaan industri adalah hak yang mengatur segala sesuatu tentang milik
perindustrian terutama yang mengatur perlindungan hukum.
Dahulu secara resmi sebutan Intellectual Property Rights (IPR)
diterjemahkan dengan Hak Milik Intelektual atau Hak Atas Kekayaan
Intelektual yang di singkat HaKI.3 HaKI dapat diartikan sebagai hak atas
kepemilikan terhadap karya-karya yang timbul atau lahir karena ada
memampuan intelektual manusia dalam bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi.

Karya-karya

intelektual

tersebut,

apakah

dibidang

ilmu

pengetahuan, ataukah seni, sastra, atau teknologi, dilahirkan dengan


pengorbanan tenaga, waktu bahkan biaya.4
2.2. Konsep Hak Atas Kekayaan Intelektual
Perliondungan Hak atas Kekayaan Intelektual pada awalnya
merupakan bentuk perlindungan yang di berikan oleh negara atas ide atau
hasil karya warga negaranya, dan oleh karena itu maka Hak atas Kekayaan
Intelektual pada pokoknya bersifat teritorial kenegaraan.5 Adapun hukum
akan HaKI ini bersifat teritorial artinya jika didaftarkan di Indonesia maka
hukum hanya dapat melindungi hak nya jika ada pelanggaran di Indonesia.
3

Rachmadi Usman, Hukum HaKI (Bandung: Alumni, 2003), Halaman 1


Rachmadi Usman, Hukum HaKI (Bandung: Alumni, 2003), Halaman 2-3
5
Gunawan Widjaja, Seri Hukun Bisnis Lisensi (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2001), Halaman
11
4

2v

Hak atas kekayaan Intelektual ada dua yaitu Copyrights (Hak Cipta) dan
Industrial Property Rights (Hak Milik Industri).
2.3. Pengertian Hak Cipta
Hak cipta adalah hak eksklusif Pencipta atau Pemegang Hak Cipta
untuk mengatur penggunaan hasil penuangan gagasan atau informasi tertentu.
Pada dasarnya, hak cipta merupakan "hak untuk menyalin suatu ciptaan". Hak
cipta dapat juga memungkinkan pemegang hak tersebut untuk membatasi
penggandaan tidak sah atas suatu ciptaan. Pada umumnya pula, hak cipta
memiliki masa berlaku tertentu yang terbatas.
Dalam Undang-Undang Hak Cipta Nomor 19 Tahun 2002 pengertian
hak cipta adalah "Hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak untuk
mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk
itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan
perundang-undangan yang berlaku".6

2.4. Sejarah UU Hak Cipta di Indonesia


Di lihat dari perkembangan HaKI di tanah air, sistem hukum
intellectual propertyright yang pertama kali di terjemahkan menjadi hak
milik intelektual dan kemudian di terjemahkan menjadi hak atas kekayaan
intelektual atau HaKI telah di mulai sejak masa penjaajahan belanda.7
Pada tahun 1982, Pemerintah Indonesia mencabut pengaturan tentang
hak cipta berdasarkan Auteurswet 1912 Staatsblad Nomor 600 tahun 1912
dan menetapkan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta,
yang merupakan undang-undang hak cipta yang pertama di Indonesia.
Undang-undang tersebut kemudian diubah dengan Undang-undang Nomor 7
Tahun 1987, Undang-undang Nomor 12 Tahun 1997, dan pada akhirnya
dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 yang kini berlaku.
2.5. UU Hak Kepemilikan di Indonesia
6

C.S.T Kansil, Kitab Undang-Undang HaKI (Jakarta: Pradnya Paramita, 2004), Halaman 2
Yayasan Klinik HAKI, Kompilasi UU Hakcipta, Paten, Merek (HAKI) (Bandung: Citra Aditya
Bakti, 1999), Halaman ix
7

3
vi

Indonesia memiliki keanekaragaman seni dan budaya yang sangat


kaya sehingga sangat perlu adanya perlindungan dari negara dalam bentuk
undang-undang. Oleh karena itu melalui undang-undang yang diatur nomor
19 tahun 2002 tentang hak kepemilikan.
Pada BAB 1 dibahas mengenai ketentuan umum yang mengatur
mengenai undang-undang dari hak cipta, BAB 2 membahas mengenai fungsi
dan sifat hak cipta, BAB 3 mengatur mengenai masa berlaku hak cipta, BAB
4 mengenai pendaftaran ciptaan, BAB 5 tentang lisensi, BAB 6 mengenai
dewan hak cipta, BAB 7 Hak terkait, BAB 8 pengelolaan hak cipta, BAB 9
mengenai biaya, Sedangkan BAB 10 mengatur mengenai penyelesaian
sengketa, BAB 11 penetapan sementara pengadilan, BAB 12 penyidikan,
BAB 13 mengenai ketentuan pidana, BAB 14 ketentuan peralihan, dan BAB
15 adalah ketentuan penutup.

4
vii

BAB III
PEMBAHASAN
3.1. Fungsi Hak Cipta
Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang
Hak Cipta untukmengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya, yang
timbul secara otomatis setelahsuatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi
pembatasan menurut peraturan perundangundanganyang berlaku.
Pencipta dan/atau Pemegang Hak Cipta atas karya sinematografi dan
Program Komputermemiliki hak untuk memberikan izin atau melarang
orang lain yang tanpa persetujuannya menyewakan Ciptaan tersebut unt uk
kepentingan yang bersifat komersial.
Hak Cipta yang dimiliki oleh Pencipta, yang setelah Penciptanya
meninggal dunia, menjadi milik ahli warisnya atau milik penerima wasiat,
dan Hak Cipta tersebut tidak dapat disita, kecuali jika hak itu diperoleh
secara melawan hukum.
Hak Cipta yang tidak atau belum diumumkan yang setelah
Penciptanya meninggal dunia, menjadi milik ahli warisnya atau milik
penerima wasiat, dan Hak Cipta tersebut tidak dapat disita, kecuali jika hak
itu diperoleh secara melawan hukum.8

3.2. Kasus Pelanggaran Hak Cipta Di Indonesia


3.2.1. Kasus 1: Gunakan Lagu Tanpa Izin, Inul Vizta Dilaporkan
Tony Q Rastafara
Liputan6.com, Jakarta Inul Daratista selaku pemilik tempat
karaoke Inul Vizta kembali diadukan ke polisi terkait kasus hak cipta.
Kali ini giliran musisi reggae Tony Q Rastafara yang melaporkan Inul
Vizta ke Polda Metro Jaya. Inul dilaporkan Tony Q lantaran di tempat
karaokenya terdapat 10 lagu milik Tony tanpa izin.
"Kami

laporkan

Inul

Vista

Family KTV

(PT.

VIZTA

PRATAMA), Selasa (26/8/2014), dengan nomor Laporan Polisi, No:


8

C.S.T Kansil, Kitab Undang-Undang HaKI (Jakarta: Pradnya Paramita, 2004), Halaman 9

viii
5

LP/3006/VIII/2014/PMJ/Dit Reskrimsus," kata Kuasa Hukum Tony Q,


Ferry Aswan dalam rilisnya, Minggu (31/08/2014).
Tony Q mengetahui ada 10 lagu miliknya di Inul Vizta di Jalan
Melawai, Jakarta Selatan setelah beberapa orang sahabat Tony karaoke di
tempat tersebut pada 4 Desember 2013. Ke-10 lagu tersebut di antaranya,
Rambut Gimbal dengan Kode Lagu 89137; Cahayamu (10476); Kangen
(97790); Ngayogyakarta (97767); Om Fungky (100010); Pesta Pantai
(90214); Republik Sulap (90288); Tertanam (91703); Waiting Tresno
(90317) dan Woman (91662).
"Padahal Klien kami tidak pernah memberikan izin kepada Inul
Vista untuk menyiarkan, mempublikasikan atau mengkomersialkan lagulagu Ciptaan Klien kami," kata Ferry.
"Pihak Inul Vizta juga selama ini tidak pernah membayar atau
pun memberikan royalty kepada Klien kami sehingga pihak Inul Vista
Family KTV telah mengambil keuntungan terhadap lagu-lagu Ciptaan
Klien kami," sambung Ferry.
Sebelum melaporkan Inul Vizta ke Polda Metro Jaya, Ferry
mengaku telah memberikan somasi kepada Inul Vizta pada 4 Maret 2014.
"Dalam surat balasannya tertanggal 10 Maret 2014, H. Herman Kamal,
selaku Direktur Legal PT. VIZTA PRATAMA menanggapi Somasi,
menyatakan pihaknya tidak pernah melakukan pelanggaran Hak Cipta
dan akan menghapus semua lagu-lagu tersebut," jelas Ferry.
Ferry kemudian kembali memberikan surat balasan atas Jawaban
atas Surat Tanggapan Somasi pada 12 Maret 2014 kepada Inul Vizta
yang intinya telah ada pelanggaran hak cipta. Ferry kemudian
mengundang Inul Vizta untuk bertemu dan menyelesaikan masalah
bersama pada 17 Maret 2014 namun pihak Inul Vizta tidak hadir.

ix
6

Inul Vista diduga melakukan pelanggaran tindak pidana Pasal 72


ayat (1) dan ayat (2) UU RI No. 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta.
"Jika terbukti melakukan pelanggaran, PT. Vista Pratama dapat
dipidana dengan pidana penjara paling lama tujuh Tahun dan/atau denda
paling banyak Rp5 miliar," jelasnya.
Kasus pelanggaran hak cipta di Inul Vizta bukan kali ini saja
terjadi. Baru-baru ini, label Nagaswara melaporkan Inul Vizta karena
menggunakan lagu dari beberapa artis mereka tanpa izin. Band Radja
juga sempat melaporkan Inul Vizta karena memakai lagu mereka
berjudul Parah tanpa izin.
Jauh sebelumnya, sejumlah pencipta lagu lawas dan beberapa
penyanyi melaporkan Inul Vizta karena memakai lagu mereka tanpa izin
dan memberikan royalti.
3.2.1.1.

Undang-Undang Yang Berlaku


Dalam kasus di atas terkena UUHC Pasal 72 Ayat 1 dan 2

yang berbunyi:
1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan
perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau
Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana
penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau
denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau
pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda
paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan,
mengedarkan, atau menjualkepada umum suatu Ciptaan atau
barang

hasil

pelanggaran

Hak

Cipta

atau

Hak

Terkaitsebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan

7x

pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda


paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).9
3.2.1.2.

Hukuman Yang Berlaku


Dalam kasus ini Jika terbukti bersalah maka akan di

perjara paling lama 7 tahun dan denda maksimal Rp


5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
3.2.2. Kasus 2: Pasang Foto Bu Ani, Dilaporkan ke Polisi
SURABAYA - Jangan sembarang memasang foto orang dalam
sebuah brosur tanpa izin. Apalagi yang dipasang foto Ibu Negara Ani
Yudhoyono, istri Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono(SBY).
Kasus itulah yang dilaporkan Reno Halsamer, 50, warga
Mulyorejo, ke Polda Jatim. Awalnya, Reno yang menjadi pengelola
Museum D'topeng Kingdom di Bali mendapat teguran dari sekretariat
negara. Sebab, foto ibu negara yang berlatar belakang museum itu
disematkan dalam brosur sebuah kondotel di Jalan Setiabudi, Badung,
Bali. Brosur tersebut disebarkan saat pameran di sebuah mal di Surabaya
Timur.
M. Arifin, kuasa hukum Reno, menjelaskan, setelah ditelusuri,
ternyata pengelola kondotel itu adalah Steven Rusli alias Miki. Dia
mengungkapkan sudah ada usaha perdamaian agar Miki mau menarik
kembali brosur tersebut. Tetapi, permintaan itu tak dihiraukan Miki.
"Lalu, kami laporkan kasus itu ke Mapolda Jatim awal 2013.
Sekarang kasus itu sudah dilimpahkan ke kejati," ujar Arifin, Minggu
(29/9).
Dia menyebut laporan itu bernomor LP/ 01/I/2013/Sus/Jatim
bertanggal 7 Januari lalu. Penyelidikan di Polda Jatim telah sampai

C.S.T Kansil, Kitab Undang-Undang HaKI (Jakarta: Pradnya Paramita, 2004), Halaman 44

xi
8

pelimpahan tahap kedua pada Jumat lalu (26/9). "Pasal yang disangkakan
itu undang-undang tentang hak cipta," imbuhnya.
3.2.2.1.

Undang Undang Yang Berlaku


Dalam Kasus di Atas terkena UUHC Pasal 72 Ayat 2 yang

berbunyi:
Barangsiapa

dengan

sengaja

menyiarkan,

memamerkan,

mengedarkan, atau menjualkepada umum suatu Ciptaan atau


barang

hasil

pelanggaran

Hak

Cipta

atau

Hak

Terkaitsebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan


pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda
paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).10
3.2.2.2.

Hukum Yang Berlaku


Dalam kasus ini Jika terbukti bersalah maka akan di perjara

paling lama 5 tahun dan denda maksimal Rp 500.000.000,00


(lima ratus juta rupiah).
3.2.3. Kaus 3: Iwan Fals Dilaporkan Terkait Pelanggaran Hak Cipta
Kapanlagi.com - Iwan Fals kini harus menghadapi masalah
hukum. Penyanyi ini dilaporkan ke pihak kepolisian dengan tuduhan
melakukan pelanggaran hak cipta. Iwan dilaporkan dengan nomer laporan
LP/1299/IV/2010/Dit. Reskrim Sus. Pelapor adalah pencipta lagu Toto
Dwiarso Goenarto.
"Hari ini kami melaporkan terkait masalah pelanggaran hak cipta.
Yang

kami

laporkan

adalah Virgiawan

Listanto ,"

ujar

kuasa

hukum Toto, Jon Matias saat ditemui di SPK, Mapolda Metro Jaya, Selasa
(20/4) siang.
Ihwal mula pelaporan sendiri diceritakan oleh Toto ketika lagu
ciptaannya dinyanyikan oleh Iwan di sebuah TV swasta.
10

C.S.T Kansil, Kitab Undang-Undang HaKI (Jakarta: Pradnya Paramita, 2004), Halaman 44

9
xii

"Kejadiannya tanggal 16 Oktober 2009 saat dia manggung di TV


One. Saat itu lagu itu dicantumkan pencipta lagunya adalah Iwan Fals.
Padahal penciptanya adalah pak Toto," ujar Jon.
Pelantun lagu Bento dan Bongkar ini diduga telah melakukan
tindak pidana hak cipta Pasal 2 ayat 1 UU No. 19 tahun 2002 tentang hak
cipta.
3.2.3.1.

Undang Undang Yang Berlaku


Dalam kasus di atas terkena UUHC Pasal 2 ayat 1 yang

berbunyi:
Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau
Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak
Ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan
dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan
perundangundangan yang berlaku.11
3.2.3.2.

Hukuman Yang Berlaku


Dalam kasus ini Jika terbukti bersalah maka akan di perjara

paling lama 7 tahun dan denda maksimal Rp 5.000.000.000,00


(lima miliar rupiah).
3.3. Dampak Pelanggaran Hak Cipta
1. Sang pencipta menjadi takut untuk membuat sesuatu
2. Terciptanya hasil karya bajakan
3. Tidak dapat menghargai suatu ciptaan orang lain
4. Merugikan pencipta/pemegang hak cipta, misalnya mem-foto kopi
sebagian atau seluruhnya ciptaan orang lain kemudian dijual/belikan
kepada masyarakat luas;

11

C.S.T Kansil, Kitab Undang-Undang HaKI (Jakarta: Pradnya Paramita, 2004), Halaman 2

10
xiii

5. Merugikan kepentingan negara, misalnya mengumumkan ciptaan


yang bertentangan dengan kebijakan pemerintah di bidang pertahanan
dan keamanan.
6. Bertentangan dengan ketertiban umum dan kesusilaan, misalnya
memperbanyak dan menjual video compact disc (vcd) porno.
7. Pelanggaran hak cipta akan membawa dampak buruk bagi
pengembangan i1mu pengetahuan, teknologi, seni dan sastra.
3.3. Upaya Untuk Memberantas Pelanggaran Hak Cipta
1. Membangun budaya masyarakat untuk menghargai hasil karya orang
lain.
2. Pemerintah, baik instansi-instansi terkait, jajaran penegak hukum dan
segenap lapisan masyarakat hendaknya sepakat untuk secara bersamasama memerangi pembajakan terhadap karya-karya intelektual.
contoh: Pembajakan

perbuatan yang merugikan perekonomian

bangsa, menghancurkan kreativitas, dan merendahkan martabat


bangsa.
3. Alternatif lain untuk menggunakan program yang memiliki lisensi
Open Source.
4. Lisensi Open Source adalah lisensi di mana setiap orang yang
menggunakan perangkat lunak diperbolehkan membuat salinan tak
terbatas, menjual atau bahkan memberikan program komputer secara
bebas tanpa ada kewajiban membayar kepada siapapun.
5. Ketersediaan SourceCode dalam program dengan lisensi ini mejadi
syarat utama untuk dilakukan modifikasi dan perbaikan program.

xiv
11

BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa Hak Atas
Kekayaan Intelektual adalah hak kebendaan, hak atas sesuatu benda yang
bersumber dari hasil kerja otak, hasil kerja rasio. Hasil dari pekerjaan rasio
manusia yang menalar. Hasil kerjanya itu berupa benda immaterial, benda
tidak berwujud. Serta Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta
atau Pemegang Hak Cipta untukmengumumkan atau memperbanyak
Ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelahsuatu ciptaan dilahirkan
tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundangundanganyang
berlaku.
Hak Atas Kekayaan Intelektual merupakan sesuatu yang harus di
lindungi, dari banyaknya kasus pelanggaran yang terjadi di indonesia. Untuk
itu diperlukan upaya dari berbagai pihak agar pelanggaran hak cipta dapat di
minimalisir.
Peran

pemerintah

sangat

penting

karena

pemerintah

yang

mengendalikan peraturan tentang pelanggaran hak cipta tersebut, serta di


perlukan juga peran dari masyarakat untuk tidak melakukan pelanggaran
tersebut.
4.2. Saran
Pemerintah diharapkan dapat melakukan sosialisasi kepada masyarakat
mengenai hak kekayaan intelektual sehingga masyarakat dapat mengerti
hukum yang berlaku di Indonesia sekaligus memahami pentingnya hak
kekayaan intelektual setiap individu maupun organisasi. Selain itu
pelaksanaan dan pemberian ganjaran dilakukan dengan lebih tegas dan
pemerintah mempermudah akses pendaftaran HaKI.

xv
12

Masyarakat disarankan lebih peduli akan tindakan pelanggaran HaKI,


baik dari pengawasan akan adanya usaha yang melanggar HaKI juga
mempraktikkan tindakan menghargai HaKI dengan membeli produk yang asli.

xvi
13

DAFTAR PUSTAKA
Kansil, C.S.T dan Christine S.T Kansil. 2004. Kitab Undang Undang HAK
KEKAYAAN INTELEKTUAL (HAKI). Jakarta: Pradnya Paramita.
Maulana, Insan Budi. 1999. Kompilasi Undang-Undang Hak Cipta, Paten, Merek
Dan Terjemahan Konvensi-Konvensi di Bidang Hak Atas Kekayaan
Intelektual (HAKI). Bandung: Citra Aditya Bakti.
Usman, Rachmadi. 2003. HUKUM HAK Atas KEKAYAAN INTELEKTUAL,
Perlindungan dan Dimensi Hukum di Indonesia. Bandung: Alumni.
Widjaja, Gunawan. 2001. Seri Hukum Bisnis Lisensi. Jakarta: RajaGrafindo
Persada.

xvii
14