Anda di halaman 1dari 28

1

BAB I
PENDAHULUAN

Kejang demam terjadi pada 2-5% populasi anak. Tidak ada batasan usia
yang spesifik, sering terjadi pada usia 6 bulan sampai 3 tahun dengan insiden
puncaknya terjadi pada usia 18 bulan. Kejang demam terjadi pada 3%-5% anakanak di Amerika Timur dan Eropa serta sampai 14% anak-anak yang berasal di
Asia. Kejadian kejang demam ini di negara yang telah maju berkisar antara 2.5%,
di Jepang angka kejadian kejang ini lebih tinggi karena faktor infeksi yang masih
tinggi dan dapat menyebabkan peningkatan suhu. Pada kejang demam

tidak

didapatkan infeksi intrakranial ataupun kelainan lain di otak. Infeksi saluran


nafas akut merupakan penyebab yang banyak ditemui sebagai penyakit yang
menimbulkan kejang demam.
Kejang demam dibagi menjadi kejang demam simple dan kejang demam
komplek. Kejang demam simplek adalah utama umum, biasanya tonik klonik,
serangan yang berhubungan dengan demam, yang berlangsung selama maksimal 15
menit dan tidak berulang dalam waktu 24 jam. Kejang demam kompleks adalah
paling lama ( >15 menit) fokal dan atau berulang dalam waktu 24 jam.
Prognosis kejang demam baik, kejang demam bersifat benigna. Angka
kematian hanya 0,64% - 0,75%. Sebagian besar penderita kejang demam sembuh
sempurna, sebagian berkembang menjadi epilepsi sebanyak 2-7%. Walaupun
prognosis kejang demam baik,bangkitan kejang demam cukup mengkhawatirkan
bagi orang tuanya. Kejang demam juga dapat mengakibatkan gangguan tingkah
laku serta penurunan intelegensi dan pencapaian tingkat akademik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Definisi Kejang Demam


Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi karena kenaikan suhu
tubuh (suhu rektal di atas 38C) yang disebabkan oleh suatu proses
ekstrakranium, terjadi pada anak berusia lebih dari 3 bulan dan tidak ada riwayat
kejang tanpa demam sebelumnya. Kejang demam merupakan kelainan neurologis
yang paling sering dijumpai pada anak berusia sekitar 3 bulan sampai 5 tahun
tanpa disertai infeksi intrakranial, gangguan elektrolit, dan gangguan metabolik
lainnya (Waruiru & Appleton, 2008). Sekitar 30% sampai 40% dari anak-anak
yang mengalami kejang demam akan memiliki kambuh. Mayoritas kejang
demam terjadi dalam waktu 24 jam dari timbulnya demam.(jornal of pediatric health centre ,2007
http://www.jpedhc.org/article/S0891-5245(06)00687-0/fulltext,, Alexander K.C. Leung, MBBS, FRCPC, FRCP(UK & Irel), FRCPCH W.
Lane M. Robson, MD, FRCPC, FRCP(Glasg))

Menurut

ILAE, International League Against Epilepsy, anak yang

pernah mengalami kejang tanpa demam, kemudian mengalami kejang demam


tidak termasuk dalam kejang demam (Hardiono, et al., 2006). Kejang disertai
demam yang terjadi pada bayi berumur kurang dari 1 bulan juga tidak termasuk
dalam kejang demam. Para ahli sepakat bahwa bila anak yang berumur kurang
dari 3 bulan atau lebih dari 5 tahun mengalami kejang yang didahului demam,
harus dipikirkan kemungkinan lain misalnya infeksi SSP atau epilepsi yang
kebetulan terjadi bersama demam (Sunarka, 2009). Kejang demam harus
dibedakan dengan epilepsi, yaitu yang ditandai dengan kejang berulang tanpa
demam (Mansjoer, et al., 2000).
Definisi ini menyingkirkan kejang yang disebabkan penyakit saraf seperti
meningitis, ensefalitis atau ensefalopati. Kejang pada keadaan ini mempunyai
prognosis berbeda dengan kejang demam karena keadaan yang mendasarinya
mengenai sistem susunan saraf pusat

II.2. Epidemiologi
Kejang demam terjadi pada 2-5% populasi anak di Amerika Serikat dan
Eropa Barat. Insiden di dunia bervariasi antara 5%-10% di India, 8.8% di
Jepang, 14% di Guam, 0.35% di Hongkong dan 0.5%-1.5% di China. Kejang
demam tidak ada batasan usia yang spesifik, sering terjadi pada usia 6 bulan
sampai 3 tahun dengan puncak usia 18 bulan. Kejang demam jarang terjadi
pada usia < 1 bulan dan > 7 tahun. Sebagian besar kejang demam merupakan
kejang demam sederhana, kejang demam kompleks hanya berkisar 35%.
Anak-anak

dengan

kejang

demam

sederhana

tidak

mengalami

peningkatan risiko kematian. Namun, kejang yang kompleks, terjadi sebelum


usia 1 tahun, atau yang dipicu oleh suhu kurang dari 39 C dikaitkan dengan 2
kali lipat angka kematian meningkat selama 2 tahun pertama setelah terjadinya
kejang. Anak-anak dengan kejang demam insidennya lebih tinggi dari epilepsi
lebih tinggi dari epilepsi dibandingkan dengan populasi umum (2% : 1%).
Faktor risiko epilepsi di kemudian hari termasuk kejang demam kompleks,
riwayat keluarga epilepsi atau kelainan neurologis, dan keterlambatan
perkembangan. Pasien dengan 2 faktor risiko memiliki hingga 10%
kesempatan untuk mengembangkan kejang demam. Insidensi brdasarkan jenis
kelamin kejang demam sedikit lebih sering pada laki laki.(medscape, 2014)
II.3. Etiologi
Etiologi kejang demam hingga kini belum diketahui. Demamnya sering
disebabkan infeksi saluran pernapasan atas, otitis media, gastroenteritis,
pneumonia, bronkopneumonia, bronkhitis, tonsilitis, dan infeksi saluran kemih
Konvulsi jauh lebih sering terjadi dalam 2 tahun pertama dibanding
masa kehidupan lainnya. Cedera intrakranial saat lahir termasuk pengaruh
anoksia dan perdarahan serta cacat kongenital pada otak, merupakan penyebab
tersering pada bayi kecil. Pada masa bayi lanjut dan awal masa kanak-kanak,
penyebab tersering adalah infeksi akut. Penyebab yang lebih jarang pada bayi
adalah tetani, epilepsi idiopatik, hipoglikemia, tumor otak, asfiksia, perdarahan
intrakranial spontan serta trauma postnatal (Soetomenggolo, 2004).

Mendekati pertengahan masa kanak-kanak, infeksi ekstrakranial akut


semakin jarang menyebabkan konvulsi, tapi epilepsi idiopatik yang pertama
kali muncul sebagai penyebab penting pada tahun ketiga kehidupan, menjadi
faktor paling umum. Penyebab lain setelah masa bayi adalah kelainan
kongenital otak, sisa kerusakan otak akibat trauma, infeksi, dan tumor otak.
Demam yang disebabkan oleh imunisasi juga dapat memprovokasi
kejang demam. Anak yang mengalami kejang setelah imunisasi selalu terjadi
waktu anak sedang demam. Kejang setelah imunisasi terutama didapatkan
setelah imunisasi DTP (pertusis) dan morbili (campak) (Soetomenggolo, 2004).
Dari penelitian yang telah dilakukan Prof.Dr.dr.S.M.Lumbantobing
pada 297 penderita kejang demam, 66(22,2%) penderita tidak diketahui
penyebabnya (Baumann, 2002). Penyebab utama didasarkan atas bagian tubuh
yang terlibat peradangan. Ada penderita yang mengalami kelainan pada lebih
dari satu bagian tubuhnya, misalnya tonsilo-faringitis dan otitis media akut
(lihat tabel).
Tabel 1. Penyebab demam pada 297 anak penderita kejang demam
Penyebab demam
Tonsilitis dan/atau faringitis

Jumlah penderita
100

Otitis media akut (radang liang telinga tengah)

91

Enteritis/gastroenteritis (radang saluran cerna)

22

Enteritis/gastroenteritis disertai dehidrasi

44

Bronkitis (radang saiuran nafas)

17

Bronkopeneumonia (radang paru dan saluran

38

nafas)

12

Morbili (campak)

Varisela (cacar air)

Dengue (demam berdarah)

66

Tidak diketahui
Pernah dilaporkan bahwa infeksi tertentu lebih sering disertai kejang
demam daripada infeksi lainnya. Sekitar 4,8%-45% penderita gastroenteritis

oleh kuman Shigella mempunyai risiko mengalami kejang demam yang lebih
tinggi dibanding penderita gastroenteritis oleh kuman penyebab lainnya
(Waruiru & Appleton, 2008).
II.4. Faktor risiko
Faktor risiko kejang demam pertama adalah demam. Selain itu terdapat
faktor riwayat kejang demam pada orangtua atau saudara kandung, faktor
prenatal (usia ibu saat hamil, riwayat pre-eklampsi pada ibu, hamil
primi/multipara, pemakaian bahan toksik), faktor perinatal (asfiksia, bayi berat
lahir rendah, usia kehamilan, partus lama, cara lahir), faktor pasca natal
(trauma kepala), jenis kelamin, dan kadar natrium rendah (Staff Pengajar IKA
FKUI, 2005). Setelah kejang demam pertama kira-kira 33% anak akan
mengalami satu kali rekurensi (kekambuhan), dan kira kira 9 % anak
mengalami rekurensi 3 kali atau lebih, resiko rekurensi meningkat dengan usia
dini, cepatnya anak mendapat kejang setelah demam timbul, temperatur yang
rendah saat kejang, riwayat keluarga kejang demam, dan riwayat keluarga
epilepsi (Behrman, et al., 2000).
Kejang demam sangat tergantung pada umur, 85% kejang pertama
sebelum berumur 4 tahun, terbanyak di antara 17-23 bulan. Hanya sedikit yang
mengalami kejang demam pertama sebelum berumur 5-6 bulan atau setelah
berumur 5-8 tahun. Biasanya setelah berumur 6 tahun pasien tidak kejang
demam lagi, walaupun pada beberapa pasien masih dapat mengalami sampai
umur lebih dari 5-6 tahun. Kejang demam diturunkan secara autosomal
dominan sederhana (Behrman, et al., 2000).
Faktor risiko berulangnya kejang demam:
Kejang demam akan berulang kembali pada sebagian kasus. Faktor
risiko berulangnya kejang demam adalah:

Riwayat kejang demam dalam keluarga


Usia kurang dari 12 bulan
Temperatur yang rendah saat kejang

Cepatnya kejang setelah demam


Terdapat kelainan neurologis (meskipun minimal)
Kejang awal yang unilateral
Kejang berhenti lebih dari 30 menit
Kejang berulang karena penyakit yang sama.
Bila seluruh faktor di atas ada, kemungkinan berulangnya kejang

demam adalah 80 %, sedangkan bila tidak terdapat faktor tersebut


kemungkinan berulangnya kejang demam hanya 10 % - 15 %. Kemungkinan
berulangnya kejang demam paling besar adalah pada tahun pertama
(Lumbantobing, 2007).
II.5. Klasifikasi
Umumnya kejang demam ini dibagi menjadi dua golongan. Kriteria
untuk penggolongan tersebut dikemukakan oleh berbagai pakar. Dalam hal ini
terdapat beberapa perbedaan kecil dalam penggolongan tersebut, menyangkut
jenis kejang, tingginya demam, usia penderita, lamanya kejang berlangsung,
gambaran rekaman otak, dan lainnya (Lumbantobing, 2002).
Unit Kerja Koordinasi Neurologi IDAI 2006 membuat klasifikasi
kejang demam pada anak menjadi 2 yaitu: kejang demam sederhana (simple
febrile seizure) dan kejang demam kompleks (complex febrile seizure).
a. Kejang Demam Sederhana (Simple Febrile Seizure) merupakan 80% di
antara seluruh kejang demam.

Kejang demam berlangsung singkat

Durasi kurang dari 15 menit

Kejang dapat umum, tonik, dan atau klonik

Umumnya akan berhenti sendiri

Tanpa gerakan fokal

Tidak berulang dalam 24 jam


Pada kejang demam sederhana, kejang biasanya timbul ketika suhu

meningkat dengan mendadak, sehingga seringkali orang tua tidak mengetahui

sebelumnya bahwa anak menderita demam. Kenaikan suhu yang tiba-tiba


merupakan faktor yang penting untuk menimbulkan kejang (Hendarto, 2002).
Kejang pada kejang demam sederhana selalu berbentuk umum,
biasanya bersifat tonik klonik seperti kejang grand mal, kadang kadang
hanya kaku umum atau mata mendelik seketika. Kejang dapat juga berulang,
tapi sebentar saja, dan masih dalam waktu 16 jam meningkatnya suhu,
umumnya pada kenaikan suhu yang mendadak (Hendarto, 2002).
b. Kejang Demam Kompleks (Complex Febrile Seizure), 20% di antara
seluruh kejang demam.

Kejang lama dengan durasi lebih dari 15 menit.

Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang
parsial.

Berulang lebih dari 1 kali dalam 24 jam.


Kejang lama adalah kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit atau

kejang berulang lebih dari 2 kali dan di antara bangkitan anak tidak sadar.
Kejang lama terjadi pada 8% kejang demam (Pusponegoro, Widodo, Ismail,
2006). Kejang fokal adalah kejang parsial satu sisi, atau kejang umum yang
didahului kejang parsial. Kejang berulang adalah kejang 2 kali atau lebih
dalam 1 hari, di antara 2 bangkitan kejang anak sadar. Kejang berulang terjadi
pada 16 % di antara anak yang mengalami kejang demam (Pusponegoro,
Widodo, Ismail, 2006).
II.6. Patogenesis
Kejang merupakan manifestasi klinik akibat terjadinya pelepasan muatan
listrik yang berlebihan di sel neuron otak karena gangguan fungsi pada neuron
tersebut baik berupa fisiologi, biokimiawi, maupun anatomi. Sel syaraf, seperti
juga sel hidup umumnya, mempunyai potensial membran. Potensial membran
yaitu selisih potensial antara intrasel dan ekstrasel. Potensial intrasel lebih
negatif dibandingkan ekstrasel. Dalam keadaan istirahat potensial membran
berkisar antara 30-100 mV, selisih potensial membran ini akan tetap sama
selama sel tidak mendapatkan rangsangan.

Mekanisme terjadinya kejang ada beberapa teori yaitu :


- Gangguan pembentukan ATP dengan akibat kegagalan pompa Na-K,
misalnya pada hipoksemia, iskemia, dan hipoglikemia. Sedangkan pada
-

kejang sendiri dapat terjadi pengurangan ATP dan terjadi hipoksemia.


Perubahan permeabilitas sel syaraf, misalnya
hipokalsemia
dan

hipomagnesemia.
Perubahan relatif neurotransmiter yang bersifat eksitasi dibandingkan
dengan neurotransmiter inhibisi dapat menyebabkan depolarisasi yang
berlebihan. Misalnya ketidakseimbangan antara GABA atau glutamat
akan menimbulkan kejang.
Patofisiologi kejang demam secara pasti belum diketahui, diperkirakan

bahwa pada keadaan demam terjadi peningkatan reaksi kimia tubuh. Dengan
demikian reaksi-reaksi oksidasi terjadi lebih cepat dan akibatnya oksigen akan
lebih cepat habis, terjadilah keadaan hipoksia. Transport aktif yang
memerlukan ATP terganggu, sehingga Na intrasel dan K ekstrasel meningkat
yang akan menyebabkan potensial membran cenderung turun atau kepekaan sel
saraf meningkat. 9
Saat kejang demam akan timbul kenaikan konsumsi energi di otak,
jantung, otot, dan terjadi gangguan pusat pengatur suhu. Demam akan
menyebabkan kejang bertambah lama, sehingga kerusakan otak makin
bertambah. Pada kejang yang lama akan terjadi perubahan sistemik berupa
hipotensi arterial, hiperpireksia sekunder akibat aktifitas motorik dan
hiperglikemia. Semua hal ini akan mengakibatkan iskemi neuron karena
kegagalan metabolisme di otak. 9
Demam dapat menimbulkan kejang melalui mekanisme sebagai
-

berikut 9:
Demam dapat menurunkan nilai ambang kejang pada sel-sel yang belum

matang/immatur.
Timbul dehidrasi sehingga terjadi gangguan elektrolit yang menyebabkan

gangguan permiabilitas membran sel.


Metabolisme basal meningkat, sehingga terjadi timbunan asam laktat dan

CO2 yang akan merusak neuron.


Demam meningkatkan Cerebral Blood Flow (CBF) serta meningkatkan
kebutuhan oksigen dan glukosa, sehingga menyebabkan gangguan aliran
ion-ion keluar masuk sel.

Gambar 1. Mekanisme terjadinya kejang demam


II.7. Manisfestasi klinis
Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan
bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat yang
disebabkan oleh infeksi di luar susunan saraf pusat, misalnya tonsilitis, otitis
media akut, bronkitis, furunkulosis, dan lain-lain. Serangan kejang biasanya
terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam, berlangsung singkat dengan
sifat bangkitan kejang dapat berbentuk tonik-klonik bilateral, tonik, klonik,
fokal atau akinetik. Bentuk kejang yang lain dapat juga terjadi seperti mata
terbalik ke atas dengan disertai kekakuan atau kelemahan, gerakan semakin
berulang tanpa didahului kekakuan atau hanya sentakan atau kekakuan fokal
(Sastroasmoro, 2007).
Sebagian kejang berlangsung kurang dari 6 menit dan kurang dari 8%
berlangsung lebih dari 15 menit. Seringkali kejang berhenti sendiri. Setelah
kejang berhenti anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak, tetapi setelah
beberapa detik atau menit, anak kembali terbangun dan sadar kembali tanpa

10

defisit neurologis. Kejang dapat diikuti hemiparesis sementara (hemiparesis


Todd) yang berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari. Kejang unilateral
yang lama dapat diikuti oleh hemiparesis yang menetap. Bangkitan kejang
yang lama lebih sering terjadi pada kejang demam yang pertama. Jika kejang
tunggal berlangsung kurang dari 5 menit, maka kemungkinan cedera otak atau
kejang menahun adalah kecil (Saharso, 2006).
Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal pada
penderita yang sebelumnya normal. Kelainan neurologis terjadi pada sebagian
kecil penderita, ini biasanya terjadi pada penderita dengan kejang lama atau
berulang baik umum atau fokal. Gangguan intelek dan gangguan belajar jarang
terjadi pada kejang demam sederhana. IQ lebih rendah ditemukan pada
penderita kejang demam yang berlangsung lama dan mengalami komplikasi.
Risiko retardasi mental menjadi 5 kali lebih besar apabila kejang demam
diikuti terulangnya kejang tanpa demam (Saharso, 2006).
Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan
dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat yang disebabkan oleh
infeksi di luar susunan saraf pusat, misalnya tonsilitis, otitis media akut,
bronkitis, furunkulosis dan lain-lain (Rudolph, 2002).
Secara umum, gejala klinis kejang demam adalah sebagai berikut (Mary
& Malcolm, 2006):
Demam (terutama demam tinggi atau kenaikan suhu tubuh yang terjadi
secara tiba-tiba)
Kejang tonik-klonik atau grand mal
Penurunan kesadaran yang berlangsung selama 30 detik-5 menit (hampir
selalu terjadi pada anak-anak yang mengalami kejang demam)
Postur tonik
Gerakan klonik
Lidah atau pipi tergigit
Gigi atau rahang terkatup rapat

11

Inkontinensia
Gangguan pernafasan
Apneu
Cyanosis.
Setelah mengalami kejang biasanya (Mary & Malcolm, 2006) :
Akan kembali sadar dalam waktu beberapa menit atau tertidur selama 1 jam
atau lebih.
Terjadi amnesia dan sakit kepala.
Mengantuk
Linglung
Jika kejang tunggal berlangsung kurang dari 5 menit, maka kemungkinan
terjadinya cedera otak atau kejang menahun adalah kecil.
II.8. Diagnosis
Langkah diagnostik untuk kejang demam adalah (Pusponegoro, Widodo,
Ismael, 2006):
Anamnesis
-

Adanya kejang, sifat kejang, bentuk kejang, kesadaran selama dan setelah
kejang, durasi kejang, suhu sebelum/saat kejang, frekuensi, interval antara

2 serangan kejang, penyebab demam di luar susunan saraf pusat.


Riwayat demam sebelumnya (sejak kapan, timbul mendadak atau

perlahan, menetap atau naik turun).


Riwayat kejang sebelumnya (kejang disertai demam maupun tidak disertai

demam atau epilepsi).


Riwayat gangguan neurologis (menyingkirkan diagnosis epilepsi).
Riwayat trauma kepala.
Riwayat kejang demam atau epilepsi dalam keluarga.
Menentukan penyakit yang mendasari terjadinya demam (ISPA, OMA,
dan lain-lain).

Singkirkan penyebab kejang lainnya.


Pemeriksaan Fisik dan Neurologis

12

Pemeriksaan fisik yang harus dilakukan adalah:


a. Tanda vital terutama suhu tubuh
b. Manifestasi kejang yang terjadi
c. Pada kepala apakah terdapat fraktur, depresi atau molase kepala
berlebihan
d. Pemeriksaan untuk menentukan penyakit yang mendasari terjadinya
demam
e. Tanda peningkatan tekanan intrakranial
f. Tanda infeksi di luar SSP.
Pemeriksaan neurologis antara lain:
a. Tingkat kesadaran
b. Tanda rangsang meningeal
c. Tanda refleks patologis
Umumnya pada kejang demam tidak dijumpai adanya kelainan
neurologis, termasuk tidak ada kelumpuhan nervi kranialis
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang dilakukan sesuai indikasi untuk mencari
penyebab kejang demam, di antaranya (Taslim, 2004):
a. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan darah tepi lengkap, gula darah, elektrolit, kalsium serum,
urinalisis, biakan darah, urin atau feses.
b. Pungsi lumbal
Pungsi lumbal adalah pemeriksaan cairan serebrospinal yang dilakukan
untuk menyingkirkan meningitis, terutama pada pasien kejang demam pertama.
Pada bayi-bayi kecil seringkali gejala meningitis tidak jelas, sehingga pungsi
lumbal harus dilakukan pada bayi berumur kurang dari 6 bulan dan dianjurkan
untuk yang berumur kurang dari 18 bulan. Berdasarkan penelitian, cairan
serebrospinal yang abnormal umumnya diperoleh pada anak dengan kejang
demam yang:
- Memiliki tanda peradangan selaput otak (contoh: kaku kuduk)
- Mengalami komplex partial seizure
- Kunjungan ke dokter dalam 48 jam sebelumnya (sudah sakit dalam 48
-

jam sebelumnya)
Kejang saat tiba di IGD

13

Keadaan post ictal (pasca kejang) yang berkelanjutan. Mengantuk hingga

sekitar 1 jam setelah kejang demam adalah normal.


Kejang pertama setelah usia 3 tahun.
Pada anak dengan usia lebih dari 18 bulan, pungsi lumbal dilakukan jika

tampak tanda peradangan selaput otak, atau ada riwayat yang menimbulkan
kecurigaan infeksi sistem saraf pusat. Pada anak dengan kejang demam yang
telah menerima terapi antibiotik sebelumnya, gejala meningitis dapat tertutupi,
karena itu pada kasus seperti itu lumbal pungsi sangat dianjurkan untuk
dilakukan (American Academy of Pediatrics, 1999).
Pada bayi kecil, klinis meningitis tidak jelas, maka tindakan pungsi
lumbal dikerjakan dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Bayi < 12 bulan

: diharuskan.

2. Bayi antara 12 18 bulan


3. Bayi > 18 bulan

: dianjurkan.
: tidak rutin, kecuali bila ada tanda-tanda

meningitis.
Bila secara klinis yakin bukan meningitis, maka tidak perlu dilakukan pungsi
lumbal.
-

Indikasi Pungsi Lumbal:

Jika ada kecurigaan klinis meningitis

Kejang demam pertama

Pasien telah mendapat antibiotik

Adanya paresis atau paralisis

c. EEG
Dipertimbangkan pada kejang demam yang tidak khas. Misalnya kejang
demam kompleks pada anak usia lebih dari 6 tahun, atau kejang demam fokal.
EEG

adalah

pemeriksaan

gelombang

otak

untuk

meneliti

ketidaknormalan otak. Pemeriksaan ini tidak dianjurkan untuk dilakukan pada


kejang demam yang baru terjadi sekali tanpa adanya defisit neurologis
(American Academy of Pediatrics, 1999). Tidak ada penelitian yang
menunjukkan bahwa EEG yang dilakukan saat kejang demam atau segera

14

setelahnya atau sebulan setelahnya dapat memprediksi akan timbulnya kejang


tanpa demam di masa yang akan datang. Walaupun dapat diperoleh gambaran
gelombang yang abnormal setalah kejang demam, gambaran tersebut tidak
bersifat prediktif terhadap risiko berulangnya kejang demam atau risiko
epilepsi (Hendarto, 2002).
EEG dapat memperlihatkan gelombang lambat di daerah
belakang yang yang bilateral, sering asimetris, kadang-kadang unilateral.
Perlambatan ditemukan pada 88% pasien bila EEG dikerjakan pada hari
kejang dan ditemukan pada 33% pasien bila EEG dilakukan tiga sampai
tujuh hari setelah serangan kejang. Saat ini pemeriksaan EEG tidak dianjurkan
untuk pasien kejang demam sederhana (Hendarto, 2002).
Pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) tidak dapat memprediksi
berulangnya kejang, atau memperkirakan kemungkinan kejadian epilepsi pada
pasien kejang demam. Oleh karenanya, tidak direkomendasikan. Pemeriksaan
EEG masih dapat dilakukan pada keadaan kejang demam yang tidak khas.
Misalnya kejang demam kompleks pada anak usia lebih dari 6 tahun atau
kejang demam fokal (Hendarto, 2002).
d. Pencitraan
Foto X-Ray kepala dan pencitraan seperti Computed Tomography Scan
(CT-scan) atau Magnetic Resonance Imaging (MRI) jarang sekali dikerjakan,
tidak rutin dan hanya atas indikasi seperti :
Kelainan neurologik fokal yang menetap (hemiparesis)
Kemungkinan lesi struktural otak (mikrocephal, spastik)
Paresis nervus VI
Papil edema
Riwayat atau tanda klinis trauma
Diagnosis kejang demam ditegakkan berdasarkan kriteria Livingston
yang telah dimodifikasi, yang merupakan pedoman yang dipakai oleh Sub
Bagian Saraf Anak IKA FKUI-RSCM Jakarta, yaitu:
1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan 6 tahun
2. Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tidak lebih dari 15 menit
3. Kejang bersifat umum
4. Kejang timbul 16 jam pertama setelah timbulnya demam

15

5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal


6. Pemeriksaan EEG yang dibuat setidaknya 1 minggu setelah suhu normal
tidak menunjukan kelainan
7. Frekuensi bangkitan kejang dalam satu tahun tidak melebihi 4 kali
Secara klinis umumnya tidak sulit untuk menegakkan diagnosis kejang
demam, dengan adanya gejala kejang pada suhu badan yang tinggi serta tidak
didapatkan gejala neurologis lain dan anak segera sadar setelah kejang berlalu.
Tetapi perlu diingat bahwa kejang dengan suhu badan yang tinggi dapat pula
tejadi pada kelainan lain, misalnya pada radang selaput otak (meningitis) atau
radang otak (ensefalitis) (Duffer & Baumann, 1999).
Pemeriksaan cairan serebrospinal dapat dilakukan untuk menyingkirkan
kemungkinan meningitis, terutama pada pasien kejang demam yang pertama
dan dengan usia kurang dari 1 tahun. Elektroensefalografi (EEG) ternyata
kurang mempunyai nilai diagnostik, EEG tidak dapat digunakan untuk
memperkirakan kemungkinan terjadinya epilepsi atau kejang demam berulang
di kemudian hari. Saat ini pemeriksaaan EEG tidak dianjurkan untuk pasien
kejang demam sederhana. Pemeriksaan laboratorium tidak dianjurkan dan
dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi. Pasien dengan keadaan diare,
muntah dan gangguan keseimbangan cairan dapat diduga terdapat gangguan
metabolisme akut, sehingga pemeriksaan elektrolit diperlukan. Pemeriksaan
labratorium lain perlu dilakukan untuk mencari penyebab timbulnya demam
(Hendarto, 2002).
II.9. Diagnosa Banding
Menghadapi seorang anak yang menderita kejang dengan demam, harus
dipikirkan apakah penyebab dari kejang itu di dalam atau di luar susunan saraf
pusat (otak). Kelainan di dalam otak biasanya karena infeksi, misalnya
meningitis, ensefalitis, dan abses otak. Oleh karena itu perlu waspada untuk
menyingkirkan apakah ada kelainan organis di otak. Baru sesudah itu
dipikirkan apakah kejang demam ini tergolong dalam kejang demam sederhana
atau kejang demam kompleks. Infeksi susunan saraf pusat dapat disingkirkan

16

dengan pemeriksaan klinis dan cairan serebrospinal (Ikatan Dokter Anak


Indonesia, 2004).
Kejang demam yang berlangsung lama kadang-kadang diikuti
hemiparesis sehingga sukar dibedakan dengan kejang karena proses
intrakranial. Sinkop juga dapat diprovokasi oleh demam dan sukar dibedakan
dengan kejang demam. Anak dengan demam tinggi dapat mengalami delirium,
menggigil, pucat, dan sianosis, sehingga menyerupai kejang demam (Ikatan
Dokter Anak Indonesia, 2004).
Diagnosis Banding Kejang Demam:
1. Kelainan Intrakranium
o Meningitis
o Encephalitis
o Abses otak
2. Gangguan metabolik
o Hipoglikemi
o Gangguan elektrolit
o Sinkop
3. Epilepsi Epilepsi Triggered by Fever (ETOF)
Oleh karena cukup banyaknya diagnosis banding, sangat sulit bagi kita
untuk menentukan penyakit atau kelainan yang menyebabkan terjadinya
bangkitan kejang tersebut.
Tabel 2. Diagnosis banding infeksi susunan saraf pusat.
Klinis/Lab

Ensefalitis

Meningitis

Meningitis

Meningitis

Kejang

Herpes

Bacterial/

Tuberkulosa

Virus

Demam

Awitan

Simpleks
Akut

Purulenta
Akut

Kronik

Akut

Akut

Demam

< 7 hari

< 7 hari

>7 hari

< 7 hari

< 7 hari

Tipe kejang

Fokal/umum

Umum

Umum

Umum

Umum/fokal

17

Singkat/lama Singkat

Singkat

Singkat

Lama>15
menit

Kesadaran

Sopor-koma

Apatis-somnolen

Somnolen-sopor

Sadar-apatis

Somnolen

Lama

Cepat

Lama

Cepat

Cepat

Pemulihan
kesadaran
Tanda

rangsang

++/-

++/-

+/-

Normal

meningeal

Sangat

Meningkat

Sangat

Normal

Tekanan

meningkat

+/-

meningkat

Jernih

intrakranial

+++/-

Keruh/opalesen

+++

Jernih

Normal

Paresis

Jernih

Segmenter/limf

Jernih/xanto

Normal

Di luar SSP

Pungsi

Normal/limfo

Bakteri

Limfo/segmen

Virus

Penyakit dasar

lumbal

Virus HS

Etiologi

Antivirus

M.Tuberculosis
Antibiotik

Anti TBC

Simtomatik

Terapi

II.10. Tatalaksana
Dalam penanggulangan kejang demam ada 3 faktor yang perlu dikerjakan,
yaitu: pengobatan fase akut, mencari dan mengobati penyebab dan pengobatan
profilaksis terhadap berulangnya kejang demam (Tumbelaka, 2005).
1.Pengobatan Fase Akut
Seringkali kejang berhenti sendiri. Pada waktu kejang pasien dimiringkan
untuk mencegah aspirasi ludah atau muntahan. Jalan nafas harus bebas agar
oksigenasi terjamin. Perhatikan keadaan vital seperti kesadaran, tekanan darah,
suhu, pernafasan, dan fungsi jantung. Suhu tubuh yang tinggi diturunkan dengan
kompres air hangat dan pemberian antipiretik (Waruiru & Appleton, 2008).
Kejang demam terjadi akibat adanya demam, maka tujuan utama
pengobatan adalah mencegah terjadinya peningkatan demam oleh karena itu
pemberian obat obatan antipiretik sangat diperlukan. Obat obatan yang dapat
digunakan sebagai antipiretik adalah asetaminofen 10 - 15 mg/kgBB/hari setiap

18

4 6 jam atau ibuprofen 5 10 mg/kgBB/hari setiap 4 6 jam (American


Academy of Pediatrics, 1999).
Algoritma Penanganan Kejang Demam Akut dan Status Konvulsif

Tatalaksana penghentian kejang akut dapat dilaksanakan sebagai berikut/


(Pedoman Pelayanan Medis, IDAI, 2010):
1. Di Rumah (pre hospital):
Penanganan kejang di rumah dapat dilakukan oleh orangtua dengan
pemberian diazepam per rektal dengan dosis 0,3-0,5 mg/kg atau secara
sederhana bila berat badan kurang dari 10 kg diberikan 5 mg, sedangkan jika
berat badan lebih dari 10 kg diberikan 10 mg. Pemberian di rumah diberikan
maksimum 2 kali dengan interval 5 menit. Bila kejang masih berlangsung, bawa
pasien ke klinik atau rumah sakit terdekat.
2. Di Rumah Sakit
Saat tiba di klinik atau rumah sakit, bila belum terpasang cairan intravena,

19

dapat diberikan diazepam per rektal ulangan 1 kali, sambil mencari akses vena.
Sebelum dipasang cairan intravena, sebaiknya dilakukan pengambilan darah
untuk pemeriksaan darah tepi, elektrolit, dan gula darah sesuai indikasi.
Bila terpasang cairan intravena, berikan fenitoin i.v dengan dosis 20 mg/kg
dilarutkan dalam NaCl 0,9%, diberikan perlahan-lahan dengan kecepatan
pemberian 50 mg/menit. Bila kejang belum teratasi, dapat diberikan tambahan
fenitoin i.v 10 mg/kg. Bila kejang teratasi, lanjutkan pemberian fenitoin setelah
12 jam, kemudian dengan rumatan 5-7 mg/kg.
Bila kejang belum teratasi, berikan fenobarbital i.v dengan dosis maksimum
15-20 mg/kg dengan kecepatan pemberian 100 mg/menit. Awasi dan atasi
kelainan metabolik yang ada. Bila kejang berhenti, lanjutkan dengan pemberian
fenobarbital i.v rumatan 4-5 mg/kg setelah 12 jam kemudian.
3. Perawatan Intensif di Rumah Sakit
Bila kejang belum berhenti, dilakukan intubasi dan perawatan di ruang
intensif. Dapat diberikan salah satu dari obat berikut:

Midazolam 0,2 mg/kg diberikan bolus perlahan-lahan, diikuti infus


midazolam 0,01-0,02 mg/kg/menit selama 12-24 jam.

Propofol 1 mg/kg selama 5 menit, dilanjutkan dengan 1-5 mg/kg/jam dan


diturunkan setelah 12-24 jam.

Pentobarbital 5-15 mg/kg dalam 1 jam, dilanjutkan dengan 0,5-5


mg/kg/jam.

2. Mencari dan Mengobati Penyebab


Pemeriksaan

cairan

serebrospinal

dilakukan

untuk

menyingkirkan

kemungkinan meningitis, terutama pada pasien kejang demam yang pertama.


Walaupun demikian kebanyakan dokter melakukan lumbal pungsi hanya pada
kasus yang dicurigai mengalami meningitis, atau bila kejang demam
berlangsung lama. Pada bayi kecil manifestasi klinis meningitis sering tidak
jelas, sehingga pungsi lumbal harus dilakukan pada bayi berumur kurang dari 6

20

bulan dan dianjurkan pada pasien berumur kurang dari 18 bulan. Pemeriksaan
laboratorium lain perlu dilakukan (Tumbelaka, 2005).
3. Pengobatan Profilaksis
Pencegahan berulangnya kejang demam perlu dilakukan karena menakutkan
dan bila sering berulang menyebabkan kerusakan otak menetap. Ada 2 cara
profilaksis, yaitu:
a. Profilaksis intermiten pada waktu demam untuk kejang demam sederhana
Antikonvulsan hanya diberikan pada waktu pasien demam dengan
ketentuan orangtua pasien atau pengasuh mengetahui dengan cepat adanya
demam pada pasien. Obat yang diberikan harus cepat diabsorpsi dan cepat
masuk ke otak. Hal yang demikian sebenarnya sukar dipenuhi. Peneliti-peneliti
sekarang tidak mendapat hasil dengan fenobarbital intermiten. Diazepam
intermiten memberikan hasil lebih baik karena penyerapannya cepat. Dapat
digunakan diazepam intrarektal tiap 8 jam sebanyak 5 mg untuk pasien dengan
berat badan kurang dari 10 kg dan 10 mg untuk pasien dengan berat badan lebih
dari 10 kg, setiap pasien menunjukkan suhu 38,5o C atau lebih. Diazepam dapat
pula diberikan oral dengan dosis 0,3 mg/kg BB/hari setiap 8 jam pada waktu
pasien demam. Efek samping diazepam adalah ataksia, mengantuk dan
hipotonia.
Kepustakaan lain menyebutkan bahwa pemberian diazepam tidak selalu
efektif karena kejang dapat terjadi pada onset demam sebelum diazepam sempat
diberikan. Efek sedasi diazepam juga dikhawatirkan dapat menutupi gejala yang
lebih berbahaya, seperti infeksi sistem saraf pusat (Tumbelaka, 2005).
b. Profilaksis terus menerus dengan antikonvulsan tiap hari (rumatan) untuk
kejang demam kompleks.
Profilaksis terus menerus berguna untuk mencegah berulangnya kejang
demam berat yang dapat menyebabkan kerusakan otak, tapi tidak dapat
mencegah terjadinya epilepsi di kemudian hari. Profilaksis setiap hari terus

21

menerus hanya diberikan jika kejang demam mempunyai ciri sebagai berikut
(salah satu / lebih). (Pedoman Pelayanan Medis, IDAI, 2010):
1. Kejang lama lebih dari 15 menit
2. Kelainan neurologi yang nyata sebelum/sesudah kejang, seperti hemiparesis,
paresis Todd, serebal palsi, retardasi mental, hidrosefalus.
3. Kejang fokal.
Antikonvulsan yang dapat diberikan antara lain fenobarbital 3-4
mg/kgBB/hari dibagi dalam 1-2 dosis. Obat lain yang digunakan adalah asam
valproat dengan dosis 15-40 mg/kgBB/hari dibagi 2-3 dosis (Pedoman
Pelayanan Medis, IDAI, 2010).
Profilaksis terus menerus dapat dipertimbangkan jika. (Pedoman Pelayanan
Medis, IDAI, 2010):
1. Kejang berulang 2 kali atau lebih dalam 24 jam
2. Kejang demam terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan
3. Kejang demam lebih dari 4 kali dalam 1 tahun.
Antikonvulsan terus menerus diberikan selama 1-2 tahun setalah kejang
terakhir dan dihentikan bertahap selama 1-2 bulan. Pemberian obat ini efektif
dalam menurunkan risiko berulangnya kejang (Pedoman Pelayanan Medis,
IDAI, 2010).
Indikasi Rawat Inap:
Pasien kejang demam dirawat di rumah sakit pada keadaan berikut
(Pedoman Pelayanan Medis, IDAI, 2010):
a.

Kejang demam kompleks

b.

Hiperpireksia

c.

Usia di bawah 6 bulan

22

d.

Kejang demam pertama

e.

Dijumpai kelainan neurologis

J. Edukasi Pada Orang Tua


Kejang selalu merupakan peristiwa yang menakutkan bagi orang tua. Pada
saat kejang, sebagian besar orang tua beranggapan bahwa anaknya bisa
meninggal. Kecemasan ini harus dikurangi dengan cara (Lumbantobing, 2007):
1. Meyakinkan bahwa kejang demam umumnya benigna
2. Memberikan cara penanganan kejang
3. Memberikan informasi kemungkinan kejang kembali
4. Terapi memang efektif mencegah rekurensi tetapi mempunyai efek samping.
5. Tidak ada bukti bahwa terapi akan mengurangi angka kejadian epilepsi.
Beberapa Hal yang Harus Dikerjakan Bila Kembali Kejang
1. Tetap tenang dan tidak panik
2. Kendorkan pakaian yang ketat, terutama di sekitar leher
3. Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengan kepala miring.
Bersihkan muntahan atau lendir di mulut atau hidung. Walaupun
kemungkinan lidah tergigit, jangan memasukan sesuatu ke dalam mulut.
4. Ukur suhu, observasi, dan catat lama dan bentuk kejang
5. Tetap bersama pasien selama kejang
6. Berikan diazepam rectal, dan jangan diberikan bila kejang telah berhenti.
7. Bawa ke dokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit atau
lebih.
(Lumbantobing, 2007)
II.11. Prognosis

23

Dengan penanggulangan yang tepat dan cepat, prognosisnya baik dan tidak
menyebabkan kematian.
a. Kemungkinan mengalami kecacatan atau kelainan neurologis
Kejadian kecacatan sebagai komplikasi kejang demam tidak pernah
dilaporkan. Perkembanganmental dan neurologis umumnya tetap normal pada
pasien yang sebelumnya normal. Penelitianlain secara retrospektif melaporkan
kelainan neurologis pada sebagian kecil kasus, dan kelainanini biasanya terjadi
pada kasus dengan kejang lama atau kejang berulang baik umum atau fokal (4).
Kejang yang lebih dari 15 menit, bahkan ada yang mengatakan lebih dari 10
menit, diduga biasanya telah menimbulkan kelainan saraf yang menetap(5).
Apabila tidak diterapi dengan baik, kejang demam dapat berkembang menjadi
(3,13)

1. Kejang demam berulang dengan frekuensi berkisar antara 25 % - 50 %.


Umumnya terjadi pada 6 bulan pertama.
2. Epilepsi Resiko untuk mendapatkan epilepsi rendah.
3. Kelainan motorik
4. Gangguan mental dan belajar
b. Kemungkinan mengalami kematian
Kematian karena kejang demam tidak pernah dilaporkan (4).
c. Kemungkinan Berulangnya Kejang Demam (4)
Kejang demam akan berulang kembali pada sebagian kasus. Faktor
resiko berulangnya kejang demam adalah :

Riwayat kejang demam dalam keluarga

Usia kurang dari 12 bulan

Temperatur yang rendah saat kejang

Cepatnya kejang setelah demam

24

Bila seluruh faktor diatas ada, kemungkinan berulangnya kejang


demam adalah 80 %, sedangkan bila tidak terdapat faktor tersebut
kemungkinan berulangnya kejang demam hanya 10 % - 15 %.
Kemungkinan berulangnya kejang demam paling besar pada tahun pertama.
(4)

d. Faktor resiko menjadi epilepsi adalah :

Kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang


demam pertama.

Kejang demam kompleks.

Riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung


Masing masing faktor resiko meningkatkan kemungkinan kejadian

epilepsi sampai 4 % - 6 %, kombinasi dari faktor resiko tersebut


meningkatkan kemungkinan epilepsi menjadi 10 % - 49 %. Kemungkinan
menjadi epilepsi tidak dapat dicegah dengan pemberian obat rumat pada
kejang demam.

BAB III
KESIMPULAN
Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh
(suhu rektal diatas 38,5o C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium.
Kejang demam diklasifikasiakan menjadi kejang demam sederhana dan kejang
demam kompleks. Adapun penyebab kejang demam masih belum jelas, namun ada
beberapa faktor resiko untuk terjadi nya kejang demam. Diagnosis kejang demam
cukup dapat ditegakan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik. Penatalaksanaan
kejang demam hampir sama dengan penatalaksanaan kejang pada epilepsi, namun
pada kejang demam lebih menekankan pada edukasi kepada orang tuanya.

25

DAFTAR PUSTAKA
Asril Aminulah, Prof Bambang Madiyono. Hot Topik In Pediatric II : Kejang Pada
Anak. Cetakan ke-2. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2002.
Baumann Robert, MD. Febrile Seizures. 2002. Sumber Tulisan: http://www.
Emedicine.com/neuro/topic134.htm
Baumann RJ. Febrile Seizures. E Med J, March 12 2002, vol.2, No. 3 : 1 10.
Baumann RJ. Technical Report: Treatment of The Child with Simple Febrile
Seizures. 2004. http://www.pediatric.org/egi/content/full/103/e86.

26

Behrman dkk, (e.d Bahasa Indonesia), Ilmu Kesehatan Anak. Edisi 15, EGC, 2000.
Hal 2059-2007.
Behrman, Richard E., Robert M. Kliegman., Hal B. Jenson. Nelson Ilmu Kesehatan
Anak : Kejang Demam. 18 edition. Jakarta : EGC. 2007.
Campfield P, Camfield C. Advance in Diagnosis and Management of Pediatrics
Seizures Disorders in Twentieth Century. J Pediatrics 2000, 136 : 847 9.
Haslam Robert H. A. Sistem Saraf, dalam Ilmu Kesehatan Anak Nelson, Vol. 3,
Edisi 15. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. 2000; XXVII : 2059
2060.
Hendarto S. K. Kejang Demam. Subbagian Saraf Anak, Bagian Ilmu Kesehatan
Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, RSCM, Jakarta. Cermin
Dunia Kedokteran No. 27. 2002 : 6 8.
Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2004. Kejang Demam. Dalam : Standar Pelayanan
Medis Kesehatan Anak. Jakarta : Badan Penerbit IDAI : 209.
Jones & Jacobsen. 2007. Childhood Febrile Seizure: Overview and Implications.
International Journal Medical Science, 4 (2) : 110-12. Diakses 29
November

2015.

Available

from

URL
:http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1852399/pdf/ijmsv04p0110
.pdf/?tool=pmcentrez
Lumbantobing, S.M. Kejang Demam. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2007.

27

Mansjoer Arif, Suprohaita, Wardhani Wahyu Ika, et al. Neurologi Anak, dalam
Kapita Selekta Kedokteran, Edisi Ketiga Jilid Kedua. Media Aesculapius
FK Universitas Indonesia, Jakarta. 2000 : 48, 434 437.
Mardjono Mahar, dkk. Neurologi Klinis Dasar, PT. Dian Rakyat. Jakrta, 2006.
Mary Rudolf, Malcolm Levene. Pediatric and Child Health. Edisi ke-2. Blackwell
pulblishing, 2006. Hal 72-90.
Pusponegoro Hardiono D, Widodo Dwi Putro, Ismael Sofyan. Konsensus
Penatalaksanaan Kejang Demam. Unit Kerja Koordinasi Neurologi Ikatan
Dokter Anak Indonesia, Jakarta. 2006 : 1 14.
Pusponegoro, Hardiono D. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Jakarta:
Badan Penerbit IDAI. 2004.
Pusponegoro H.D dkk ; Standart Pelayanan Medis Kesehatan Anak, Kejang
Demam ; Penerbit : IDAI ; 2005, hal. 209-211.
Price, Sylvia, Anderson. Patofisiologi, Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. EGC,
Jakarta 2006.
Rudolph AM. Febrile Seizures. Rudoplh Pediatrics. Edisi ke-20. Appleton dan Lange,
2002.
Saharso Darto. Kejang Demam, dalam Pedoman Diagnosis dan Terapi Bag./SMF
Ilmu Kesehatan Anak RSU dr. Soetomo, Surabaya. 2006 : 271 273.
Sastroasmoro, S, dkk. Panduan Pelayanan Medis Departemen Ilmu Penyakit Anak.
Cetakan Pertama. RSUP Nasional Dr.Ciptomangunkusumo. Jakarta: 2007;
Hal 252.
Soetomenggolo, S. Kejang Demam. Dalam Buku Neurologi UI. Jakarta: Penerbit
FKUI. 2004. H 244-251.

28

Staf Pengajar IKA FKUI. 2005. Kejang Demam. Dalam : Ilmu Kesehatan Anak.
Jakarta : Bagian IKA FKUI : 847-8.
Tumbelaka, Alan R, Trihono, Partini P, Kurniati, Nia, Putro Widodo, Dwi. Penanganan
Demam Pada Anak Secara Profesional: Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan
Ilmu Kesehatan Anak XLVII. Cetakan pertama. FKUI-RSCM. Jakarta. 2005.
Waruiru & Appleton. Febrile Seizure: An Update. Arch Dis. 2008.
Diakses

29

November

2015.

Available

from

URL:

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1720014/pdf/v089p00751.p
df/?tool=pmcentrez.
Haslam Robert H. A. Sistem Saraf, (2000) dalam Ilmu Kesehatan Anak Nelson,
Vol. 3, Edisi 15. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Fuadi, F., (2010), Faktor Risiko Bangkitan Kejang Demam pada Anak, (Tesis),
Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah.