Anda di halaman 1dari 5

BAB VI

PEMBAHASAN
6.1 Metode Penugasan dan Uraian Tugas
Pada saat pengkajian tanggal 27-29 Juli 2015 didapatkan hasil bahwa unit Perinatologi
masih belum menggunakan metode penugasan yang jelas. Selain itu, 10 orang perawat
yang diwawancarai mengatakan tidak mengetahui secara rinci uraian tugasnya masingmasing. Belum adanya penggunaan metode penugasan yang jelas dikarenakan adanya
kesepakatan perawat unit perinatologi dan kebijakan dari rumah sakit bahwa penerapan
metode tim akan dilaksanakan mulai tanggal 1 September 2015.
Kemudian dilakukan diseminasi awal dan hasilnya akan dilakukan diskusi bersama
dengan perawat terkait pemecahan masalahnya. Pemecahan masalah yang disepakati
bersama perawat adalah dengan melaksanakan roleplay metode tim, pembuatan buku
saku, dan papan struktur penugasan perawat. Selama roleplay peran sebagai kanit, katim
dan PP dilaksanakan sesuai dengan metode tim. Hal ini bertujuan untuk mempermudah
perawat dalam memahami pelaksanaan metode tim. Sedangkan pengadaan buku saku
bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan perawat menganai uraian tugasnya masingmasing. Selain itu untuk memperjelas pembagian tugas perawat, disediakan media berupa
papan struktur penugasan perawat sesuai metode tim.
Pada saat dilakukan implementasi (3-26 Agustus 2015) didapatkan rata-rata
pelaksanaan roleplay metode tim sebesar 100%, sedangkan saat evaluasi tidak dapat
dilakukan evaluasi secara observasi dikarenakan adanya kesepakatan perawat unit
perinatologi dan kebijakan dari rumah sakit bahwa penerapan metode tim akan
dilaksanakan mulai tanggal 1 September 2015, sehingga evaluasi hanya dapat dilakukan
berdasarkan pengetahuan perawat mengenai uraian tugasnya masing-masing. Pada saat
implementasi, untuk meningkatkan pengetahuan perawat mengenai uraian tugas dilakukan
melalui pembagian buku saku. Hasil evaluasi menunjukkan, dari 12 perawat yang mengisi
lembar kuisioner didapatkan skor rata-rata pengetahuan perawat tentang uraian tugasnya
masing-masing adalah 82. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan pengatahuan, karena
pada saat pengkajian dari 10 orang perawat yang diwawancarai mengatakan tidak
mengetahui uraian tugasnya masing-masing. Dengan demikian program penyelesaian
masalah kurangnya pengetahuan perawat tentang uraian tugasnya terlaksana sesuai
rencana dan hasilnya sesuai harapan.
Rata-rata penggunaan papan struktur penugasan selama implementasi sebesar 100%.
Sedangkan dari hasil evaluasi secara observasi penggunaan papan struktur penugasan
sebesar 0% dikarenakan perawat tidak mengganti nama sesuai pembagian tugas setiap
harinya. Hambatan yang menyebabkan terjadinya penurunan adalah kurangnya kesadaran
dari perawat untuk mengganti nama sesuai pembagian tugas setiap harinya. Sebagai tindak

lanjut, kanit diharapkan dapat memberikan motivasi pada perawat untuk mengganti nama
sesuai pembagian tugas.
6.2 Pre-conference, Operan, dan Post-conference
a. Pre-Conference dan Post-conference
Pre conference adalah komunikasi katim dan perawat pelaksana setelah selesai operan
untuk rencana kegiatan pada shift tersebut yang dipimpin oleh ketua tim atau penanggung
jawab tim. Jika yang dinas pada tim tersebut hanya satu orang, maka pre conference
ditiadakan. Isi pre conference adalah rencana tiap perawat (rencana harian), dan tambahan
rencana dari katim dan PJ tim sedangkan Post conference adalah komunikasi katim dan
perawat pelaksana tentang hasil kegiatan sepanjang shift dan sebelum operan kepada shift
berikutnya. Isi post conference adalah hasil askep tiap perawatan dan hal penting untuk
operan (tindak lanjut). Post conference dipimpin oleh katim atau Pj tim (Yulia dan Ratna,
2006).
Pada saat pengkajian tanggal 27-29 Juli 2015, didapatkan hasil bahwa pre dan post
conference belum dilakukan (0%) di Unit Perinatologi. Salah satu penyebabnya adalah
perawat belum mengetahui tentang mekanisme pre dan post conference. Setelah
melakukan pengkajian, mahasiswa menyampaikan hasil identifikasi masalah kepada
perawat ruangan, menyampaikan alternative masalah, dan memberikan pemahaman akan
pentingnya pre dan post conference. Pada tanggal 3-26 Agustus 2015, mahasiwa
melakukan implementasi role play pre dan post conference. Sebagian mahasiswa berperan
menjadi Karu, Katim 1, Katim 2, perawat pelaksana 1 dan perawat pelaksana 2. Selama role
play, pre conference dilakukan sebanyak 100% dan post conference dilakukan sebanyak
85%. Pelaksaan post conference bersama perawat ruangan tidak dapat dilakukan 100%
dikarenakan banyaknya tindakan yang dilakukan, misalnya banyaknya pasien yang pulang
pada jam tersebut.
Saat evaluasi selama 3 hari (27-29 Agustus 2015) pre conference dan post conference
belum dilakukan dengan baik, hal ini dikarenakan adanya kesepakatan perawat ruangan
untuk melaksanakan metode tim mulai tanggal 1 September 2015. Selain itu pada tanggal
tersebut banyak perawat yang cuti karena mengikuti pelatihan di luar kota. Hal ini
menyebabkan pelaksanaan evaluasi pre dan post conference belum maksimal (preconference 67% dan post conference 56%).
b. Operan
Timbang terima (operan) merupakan teknik atau cara untuk menyampaikan dan
menerima sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan keadaan klien. Operan merupakan
suatu timbang terima tugas dari shift satu ke shift lain dengan waktu, isi dan strategi yang
telah ditentukan. Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan agar operan efektif:

1. Operan dilaksanakan tepat waktu pada saat pergantian dinas yang telah disepakati
2. Operan diipimpin oleh karu/katim
3. Operan diikuti dan didengarkan secara seksama oleh semua perawat yang akan dan
telah selesai berdinas.
Pada saat pengkajian tanggal 27-29 Juli 2015, kegiatan operan yang sudah dilakukan
sesuai dengan prosedur sebanyak 60%. Hal ini dikarenakan kegiatan operan meja tidak
dilakukan, perawat ruangan setelah menyampaikan jumlah pasien pada hari itu langsung
melakukan operan keliling. Penyebabnya adalah perawat belum mengetahui urutan operan
sesuai prosedur. Setelah melakukan pengkajian, mahasiswa menyampaikan hasil
identifikasi masalah kepada perawat ruangan, menyampaikan alternative masalah, dan
memberikan pemahaman akan pentingnya operan yang sesuai prosedur. Pada tanggal 3-26
Agustus 2015, mahasiwa melakukan implementasi role play operan. Sebagian mahasiswa
berperan menjadi Karu, Katim 1, Katim 2, perawat pelaksana 1 dan perawat pelaksana 2.
Selama role play, operan dilakukan sebanyak 100%.
Saat evaluasi selama 3 hari (27-29 Agustus 2015) operan sudah dilakukan dengan baik
dan mengalami peningkatan sebesar 21%, hal ini dikarenakan perawat ruangan memiliki
kemauan untuk belajar dan memahami prosedur operan yang benar.
6.3 Cuci Tangan oleh Perawat
Pada saat pengkajian (27-29 Juli 2015), penerapan cuci tangan 6 langkah pada 7
perawat tidak memenuhi 6 langkah yang telah ditetapkan seperti perawat tidak menggosok
sela-sela jarinya dan menggosok-gosok ujung jarinya. Kemudian cuci tangan hanya
dilakukan setelah kontak dengan pasien. Padahal di Unit perinatologi telah memiliki ritual
bernyanyi sambil cuci tangan bersama-sama sebelum dilaksanakan operan keliling. Padahal
diketahui cuci tangan merupakan cara yang

efektif

untuk mencegah penyebaran

penyakit dikarenakan tangan sering terpajan oleh mikroorganisme germs seperti bakteri
dan virus (CCOHS, 2014). Sehingga untuk memperbaiki 6 langkah cuci tangan dan 5
moment yang kurang maksimal tersebut maka dibentuklah program pekan cuci tangan yang
dilaksanakan pada tanggal 17-22 agustus 2015 dan pemilihan Duta Cuci Tangan di Unit
Perinatologi.
Pada saat pekan cuci tangan dilakukan pengamatan cuci tangan oleh mahasiswa. Satu
mahasiswa mengamati satu perawat, lalu dipilih perawat yang aktif melakukan cuci tangan
dan diberikan reward sebagai Duta Cuci Tangan di Unit Perinatologi. Selama dilakukan
implementasi, terdapat kemajuan yaitu perawat lebih sering menerapkan 6 langkah cuci
tangan dan 5 moment dengan benar. Perawat lebih termotivasi dengan adanya pekan cuci
tangan, hal ini dapat terlihat di level 1 dengan rata-rata nilai sebesar 92, 41, level 2 dengan
rata-rata nilai nilai sebesar 89,16 dan level 3 dengan nilai rata-rata sebesar 89,5.

Pada saat evaluasi didapatkan data bahwa terdapat 8 perawat yang melakukan cuci
tangan sebelum menyentuh pasien, tidak ada yang tidak mencuci tangan pada moment
tersebut. 4 perawat yang melakukan cuci tangan sebelum tindakan aseptic dan 4 perawat
yang tidak mencuci tangan pada moment tersebut. 4 perawat yang melakukan cuci tangan
sesudah terkena cairan tubuh pasien, dan 4 perawat yang tidak mencuci tangan pada
moment tersebut. 2 perawat yang melakukan cuci tangan sesudah menyentuh pasien, dan 6
perawat yang tidak mencuci tangan pada moment tersebut. Serta 2 perawat yang
melakukan cuci tangan sesudah menyentuh lingkungan pasien dan 6 perawat yang tidak
mencuci tangan pada moment tersebut.
Menurut hasil wawancara, hal ini disebabkan karena perawat belum terbentuk
kebiasaan cuci tangan 6 langkah 5 moment yang baik dan benar sehingga masih sering
dilupakan. Maka dari itu perlu ada tindak lanjut berupa sosialisasi cuci tangan secara
berkelanjutan agar terbentuk kebiasaan cuci tangan 6 langkah 5 moment. Selain itu,
memaksimalkan peran Duta Cuci Tangan untuk memotivasi, mengingatkan, dan sebagai
contoh bagi perawat yang lain dalam menerapkan perilaku cuci tangan, dan menerapkan
sistem kesadaran diri untuk cuci tangan pada diri perawat itu sendiri.
6.4 Pendidikan Kesehatan kepada Keluarga
Pada saat pengkajian (27-29 Juli 2015) didapatkan hasil bahwa perawat sudah
melakukan pendidikan kesehatan. Namun, pendidikan kesehatan yang diberikan perawat ke
pasien selama ini dalam bentuk discharge planning secara individu ke pasien dengan waktu
yang terbatas dan belum maksimal sehingga perawat memberikan penkes dengan terburuburu dan tidak ada feedback untuk mengetahui apakah pasien dapat menerima informasi
yang telah disampaikan oleh perawat. Hal ini disebabkan pula oleh jumlah pasien pulang di
Unit Perinatologi cukup tinggi serta keterbatasan jumlah perawat yang memberikan penkes.
Pada saat implementasi/role play (22-26 Agustus 2015) didapatkan hasil bahwa
pendidikan kesehatan yang dilakukan dengan media flipchart lebih efektif dikarenakan
mampu mempersingkat waktu pemberian pendidikan kesehatan yang dilakukan secara
berkelompok pada pasien yang direncanakan pulang. Selain itu, dengan media flipchart
didapatkan bahwa kemampuan kognitif peserta pendidikan kesehatan dapat meningkat dan
semuanya mampu mempraktikkan kembali terkait tata cara perawatan tali pusat bayi baru
lahir.
Hasil evaluasi selama 3 hari (27-29 Agustus) menunjukkan bahwa perawat pada
dasarnya mampu meyampaikan materi penyuluhan kepada setiap pasien yang rencana
pulang. Dengan adanya flipchart diharapkan PKRS dapat tetap dilakukan kepada pasien
secara berkelompok dengan waktu yang lebih panjang sehingga pemberian penkes dan
pemahaman pasien bisa lebih maksimal. Hal tersebut terlihat dari hasil pre-test dan post test
yang diberikan kepada pasien. Terlihat peningkatan pengetahuan yang lebih tinggi pada
pasien yang diberikan materi penkes dengan bantuan media flipchart daripada yang tidak.

Kemudian, dari tingkat psikomotor semua pasien yang diberikan penkes dengan flipchart
mampu melakukan penggantian kassa tali pusat dengan benar. Berbeda dengan pasien
yang tidak diberikan penkes dengan flipchart, ketika di evaluasi terkait kemampuan untuk
mengganti kassa tali pusat, semua pasien tidak dapat melakukannya dengan benar. Salah
satu hambatan yang muncul dalam pemberian flipchart adalah belum adanya pengawasan
dari kepala unit atau kebijakan tertulis dari tim PKRS terkait dilakukannya pendidikan
kesehatan pasien dengan menggunakan media flipchart.