Anda di halaman 1dari 20

Kulit Dan Kelamin

Balai Kesehatan Kulit, Kelamin dan


Kosmetik (BK.4)
Fajrul Siyam Ansar
Dr.dr.Hj Musafirah. M.Kes.Sp.KK

Histamin
Histamin dan serotonin (5-hydroxytryptamine) : amin biologik yang terdapat dalam
berbagai macam jaringan yang penting dalam fungsi fisiologik.
Efek histamin timbul melalui aktivasi reseptor histaminergik H 1, H2 dan H3.

Reseptor-H1 : sel otot polos, endotel dan otak.

Reseptor-H2 : mukosa lambung (pada sel parietal),otot jantung, sel mast, dan otak.

Reseptor-H3 : presinaptik (di otak, pleksus mienterikus dan saraf lainnya).

Farmakodinamik
Kelenjar
eksokrim

Ujung saraf
sensoris

Sistem
kardiovaskuler

histamin
Non
kardiovaskuler

Medulla
adrenal &
gangglia

MEKANISME KERJA

Sistem kardiovaskuler. Dilatasi kapiler. Efek histamine pada manusia ialah dilatasi
kapiler (arteriol dan venul) dengan akibat kemerahan dan rasa panas pada wajah (blushing
area), menurunnya resistensi perifer dan tekanan darah.

Permeabilitas kapiler. Histamine meningkatkan permeabilitas kapiler dan ini merupakan


efek sekunder terhadap pembuluh darah kecil

Triple respons.
1. Bercak kemerahan, bercak merah seempat beberapa mm yang timbul beberapa detik
setelah suntikan. Hal ini disebabkan oleh dilatasi local kapiler, venul dan arteriol
terminal akibat efek langsung histamine.
2. Flare, kemerahan yang lebih terang dengan bentuk tidak teratur dan menyebar kurang
lebih 1-3 cm sekitar bercak awal.
3. wheal (edema setempat), dapat di lihat setelah 1-2 menit pada daerah bercak awal. Edema
ini menunjukkan meningkatnya permeabilitas kapiler.

Pembuluh Darah Besar. Histamin justru cenderung menyebabkan konstriksi pembuluh


darah besar yang intensitasnya berbeda antar spesies.

Jantung. Histamin mempengaruhi langsung kontraktilitas dan elektrisitas jantung.


Pemberian histamin sebagai obat dapat mempercepat depolarisasi diastol di nodus SA
sehingga frekuensi denyut jantung meningkat. Juga, memperlambat konduksi AV,
meningkatkan automoatisitas sehingga pada dosis tinggi dapat menyebabkan aritmia.

Tekanan darah. Penurunan resistensi perifer dapat menyebabkan penurunan tekanan


darah.

Otot Polos Nonvaskuler. Jika berikatan dengan reseptor H1, Histamin akan menyebabkan
kontraksi otot polos sedangkan aktivasi reseptor H2 akan menyebabkan relaksasi otot polos. Pada
pasien asma dan penyakit paru, dapat terjadi bronkokonstriksi akibat histamine.

Kelenjar Endokrin. Kelenjar lambung. Perangsangan langsung pada sel parietal melalui reseptor
H2 akan memicu sekresi asam lambung oleh histamin.

Kelenjar lain. Histamin meninggikan sekresi kelenjar liur, pankreas, bronkus dan air mata tetapi
umumnya efek ini lemah dan tidak tetap.

Ujung Saraf Sensoris. Nyeri dan gatal. Histamin dapat menstimulasi rasa nyeri dan gatal. Flare
pada histamin disebabkan oleh pengaruhnya pada ujung saraf yang menimbulkan refleks akson.
Hal tersebut merupakan kerja histamin merangsang reseptor H1 di ujung saraf sensoris

Medula Adrenal dan Ganglia. Selain merangsang ujung saraf sensoris, histamin dosis besar
juga langsung merangsang sel kromafin medula adrenal dan sel ganglion otonom. Pada pasien
feokromositomia, pemberian histamin IV akan meningkatkan tekanan darah.

Obat AntiHistamin

Anti Histamin 1

Anti Histamin
Anti Histamin 2

AH 1

Antagonisme terhadap histamine. Ah1 menghambat efek histamine pada pembuluh darah, bronkus dan
bermacam macam otot polos, selain itu ah1 bermanfaat untuk mengobati reaksi hipersensivitas atau keadaan
lain yang disertai penglepasan histamine endogen berlebihan.

Otot polos. Secara umum ah1 efektif menghambat kerja histamine pada otot polos usus dan bronkus.

Permeabilitas kapiler. Peninggian permeabilitas kapiler dan edema akibat histamine, dapat dihambat dengan
efektif ah1.

Reaksi anafilaktif dan alergi. Reaksi anafilaksis dan beberapa reaksi alergi refrakter pemberian ah1. efektifitas
ah1 melawan beratnya reaksi hipersensitivitas berbeda-beda, tergantung beratnya gejala akibat histamine.

Kelenjar endokrin. Efek perangsang histamine terhadap sekresi cairan lambung tidak dapat dihambat oleh ah1.

Susunan saraf pusat. Ah1 dapat merangsang maupun menghambat ssp. Efek perangsang yang kadang-kadang
terlihat dengan dosis ah1 biasanya ialah insomnia, gelisah dan eksitasi. Dosis terapi ah1 umumnya
menyebabkan penghambatan ssp dengan gejala kantuk, berkurangnya kewaspadaan dan waktu reaksi yang
lambat

Antikolinergik. Banyak ah1 bersifat mirip atropine. Efek ini tidak memadai untuk terapi, tetapi efek
antikolinergik ini dapat timbul pada beberap pasien berupa mulut kering, kesukaran miksi dan impotensi

Sistem kardiovaskuler. Dalam dosis terapi, ah1 tidak memperlihatkan efek yang bearti pada system
kardiovaskuler

Penyakit alergi ah1 berguna untuk menobati alergi tipe eksudatif akut misalnya
pada polinosis dan urtikaria. Efeknya bersifat paliatif, membatasi dan
menghambat efek histamine yang dilepaskan sewaktu reaksi antigen-antibody
terjadi. Ah1 efektif untuk mengatasi urtikaria akut, seangkan pada urikaria
kronik hasilnya kurang baik. Kadang kadang ah1 dapat mengatasi dermatitis
atopic, dermatitis kontak, dan gigitan serangga. Demikian juga reaksi alerg
seperti agatal-gatal, urtikaria dan angioedema umumnya dapat diobati dengan
ah1.

AH2

Ah2 bekerja menghambat sekresi asam lambung. Antagonis reseptor h2 yang ada dewasa ini adalah
simetidin, ranitidine, famotidine, dan nizatidin.

Simetidin dan ranitidine. Menghambat reseptor H2 secara selektif dan reversible. Perangsang reseptor
h2 akan merangsang sekresi asam lambung, sehingga pemberian simetidine atau ranitidine sekresi
asam lambung dihambat. Bioavailabilitas oral simetidin skitar 70%, sma dengan setelah pemberian iv
atau im. Absorsi simetidi diperlambat oleh makanan, sehingga simetidin diberikan bersama atau
segera setelah makan dengan maksus untuk memperpanjang efek pada periode pascamakan.

Indikasi. Simetidin dan ranitidine dan antagonis reseptor h2 lainnya efektif untuk mengatasi gejala
akut tukak duedonus dan mempercepat penyembuhannya.

Famotidin. Seperti halnya dengan simetidin dan ranitidine, famotidine merupakan ah2 sehingga
menghambat sekresi asam lambung pada keadaan basal, malam dan akibat distimulasi oleh
pentagastrin

Antihistamin H1 Generasi I
Gol dan cth obat

Dosis obat

Masa kerja

Aktivitas
antikolinergik

Etanolamin
Karbinoksamin
Difenhidramin
dimenhidrinat

4-8 mg
25-50 mg
50 mg

3-4 jam
4-6 jam
4-6 jam

+++
+++
+++

Sedasi ringan sampai sedang


Sedasi kuat, anti motion sickness
Sedasi kuat, anti motion sickness

Etilenediamin
Pirilamin
tripelenamin

25-50 mg
25-50 mg

4-6 jam
4-6 jam

+
+

Sedasi sedang
Sedasi sedang

Piperazin
Hidroksizin
Siklizin
meklizin

25-100 mg
25-50 mg
25-50 mg

6-24 jam
4-6 jam
12-24 jam

?
-

Sedasi kuat
Sedasi ringan, anti motion sickness
Sedasi ringan, anti motion sickness

Alkilamin
Klorfeniramin
bromfeniramin

4-8 mg
4-8 mg

4-6 jam
4-6 jam

+
+

Sedasi ringan, komponen obat flu


Sedasi ringan

Derivat fenotiazin
prometazin

10-25 mg

4-6 jam

+++

Sedasi kuat, antiemetik

Lain-lain
Spiroheptadin
Mebhidrolin napadisilat

4 mg
50-100 mg

6 jam
4 jam

+
+

Sedasi sedang, antiserotoni

Komentar

Antihistamin H2 Generasi II

Antihistamin H2

No

Golongan

Antihistamin

Sedatif

Antikolinergik

Antiemetik

Efek samping saluran cerna

1.

Etanolamin

+ sd +

+ sd +++

+++

++ sd ++++

2.

Etilendiamin

+ sd +

+ sd ++

+++

3.

Alkilamin

++ sd +++

+ sd ++

++

4.

Piperazin

++ sd +++

+ sd +++

+++

5.

Fenotiazin

+ sd +++

+++

+++

++++

6.

Antihistamin
nonsedatife

++ sd +++

- Sd +

- Sd +

Sd : sampai dengan
- : tdk ada
+ sd ++++ : menggmbarkan tingginya
intesitas efek secara relatif

Pemilihan sediaan

Banyak golongan ah1 yang digunakan dalam terapi, tetapi efektifitasnya tidak berbeda, perbedaan
antar jenis obat hanya dalam hal potensi, dosis, efek samping dan jenis sediaan yang ada.
Sebaiknya dipilih ah1 yang efek terapinya paling besar dengan efek samping seminimal mungkin,
tetapi belum ada ah1 yang ideal seperti ini. Selain ditentukan berdasarkan potensi terapeutik dan
beratnya efek samping.

Pehatian. Sopir atau pekerjaan yan memerlukan kewaspadaan yang menggunakaan ah1 harus
diperingatkan tentang kemunginan timbulnya kantuk. Juga ah1 sebagai campuran pada resep, harus
digunakan dengan hati-hati karena efek ah1 bersifat aditif dengan alcohol, obat peneng atau
hipnotik sedative.

Anda mungkin juga menyukai