Anda di halaman 1dari 9

ARIANISME

Arianisme adalah sebuah pandangan kristologis yang dianut oleh para pengikut
Arius, seorang presbiter Kristen yang hidup dan mengajar di Alexandria, Mesir,
pada awal abad ke-4. Arius mengajarkan bahwa berbeda dengan Allah Bapa,
Allah Anak tidak sama-sama kekal dengan Sang Bapa. Ia mengajarkan bahwa
Yesus sebelum menjelma adalah makhluk ilahi, namun ia diciptakan oleh Sang
Bapa pada suatu saat tertentu -- dan oleh karenanya statusnya lebih rendah
daripada Sang Bapa. Sebelum penciptaan-Nya itu, Sang Putra tidak ada. Dalam
bahasa yang lebih sederhana, kadang-kadang dikatakan bahwa kaum Arian
percaya bahwa Yesus, dalam konteks ini, adalah suatu "makhluk". Kata yang
digunakan dalam pengertian aslinya adalah "makhluk ciptaan."

Konflik antara Arianisme dan keyakinan Trinitarian adalah konfrontasi doktriner


besar pertama dalam Gereja setelah agama Kristen dilegalisasikan oleh Kaisar
Konstantin I. Kontroversi tentang Arianisme ini meluas hingga sebagian besar
dari abad ke-4 dan melibatkan sebagian terbesar anggota gereja, orang-orang
percaya yang sederhana dan para biarawan, serta para uskup dan kaisar.
Sementara Arianisme memang selama beberapa dasawarsa mendominasi di
kalangan keluarga Kaisar, kaum bangsawan Kekaisaran dan para rohaniwan
yang lebih tinggi kedudukannya, pada akhirnya Trinitarianismelah yang menang
secara teologis dan politik pada akhir abad ke-4. dan sejak saat itu telah menjadi
doktrin yang praktis tidak tertandingi di semua cabang utama Gereja Timur dan
Barat. Arianisme, yang diajarkan oleh misionaris Arian Ulfilas kepada suku-suku
Jermanik, memang bertahan selama beberapa abad di antara sejumlah suku
Jermanik di Eropa barat, khususnya suku-suku Goth dan Longobard tetapi sejak
itu tidak memainkan peranan teologis yang penting lagi.Daftar isi [sembunyikan]
1 Keyakinan
2 Konsili Nicea dan sesudahnya
3 Lihat pula
4 Bibliografi
5 Pranala luar

Keyakinan

Karena kebanyakan bahan tertulis tentang Arianisme pada masa itu ditulis oleh
lawan-lawannya, terdapat kesulitan untuk menetapkan sifat ajaran-ajaran Arius
dengan persis sekarang. Surat Auxentius[1], seorang uskup Milano Arianis pada
abad ke-4, mengenai misionaris Ulfilas, memberikan gambaran yang paling jelas
tentang keyakinan Arianis tentang sifat Tritunggal: Allah Bapa ("yang tidak
dilahirkan"), selamanya ada, terpisah dari Yesus Kristus yang lebih rendah
("anak tunggal"), yang dilahirkan untuk memberitakan kuasa Bapa. Sang Bapa,
yang bekerja melalui Sang Anak. Bapa dianggap sebagai "Allah sejati satu-
satunya." 1 Korintus 8:5-6 dikutip sebagai ayat buktinya:
"Sebab sungguhpun ada apa yang disebut "allah", baik di sorga, maupun di bumi
— dan memang benar ada banyak "allah" dan banyak "tuhan" yang demikian —
namun bagi kita hanya ada satu Allah (theos) saja, yaitu Bapa, yang dari pada-
Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan
(kurios) saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan
dan yang karena Dia kita hidup." (TB)

Konsili Nicea dan sesudahnya

Pada 321 Arius ditolak oleh sebuah sinode di Alexandria dengan tuduhan
mengajarkan sebuah pandangan yang heterodoks tentang hubungan antara
Yesus dengan Allah Bapa. Karena Arius dan para pengikutna mempunyai
pengaruh yang besar di kalangan sekolah-sekolah di Alexandria — yang
sebanding dengan universitas-universitas atau seminari-seminari modern —
pandangan-pandangan teologis mereka pun berkembang luas, khususnya di
daerah Mediterania bagian timur. Pada 325 pertikaian ini telah berkembang
menjadi cukup penting sehingga Kaisar Konstantin mengumpulkan para uskup
dalam apa yang kemudian dikenal sebagai Konsili Nicea Pertama di Nicea (kini
Iznik, Turki), yang mengutuk doktrin Arius dan merumuskan Pengakuan Iman
Nicea, yang hingga kini masih diucapkan dalam kebaktian-kebaktian di Gereja-
gereja Katolik, Ortodoks, dan sebagian Protestan. Tema sentral Pengakuan
Iman Nicea, yang digunakan untuk menggambarkan hubungan antara Allah
Bapa dan Allah Anak, adalah homoousios, yang berarti"sehakikat" atau
"mempunyai zat yang sama". ( Pengakuan Iman Athanasius lebih jarang
digunakan namun lebih jelas merupakan pernyataan anti-Arianis tentang
Tritunggal.)

Konstantin mengasingkan mereka yang menolak untuk menerima Pengakuan


Iman Nicea — Arius sendiri, diaken Euzoios, dan para uskup Libya Theonas dari
Ptolemais dan Secundus dari Mamarica — dan juga para uskup yang
menandatangani pengakuan iman itu namun menolak untuk bergabung dalam
pengutukan terhadap Arius, Eusebius dari Nikomedia dan Theognis dari Nicea.
Kaisar juga memerintahkan semua salinan dari Thalia, buku yang ditulis Arius
untuk menguraikan ajaran-ajarannya dibakar. Hal ini mengakhiri perdebatan
teologis terbuka selama beberapa tahun, meskipun di bawah permukaan
perlawanan terhadap Pengakuan Iman Nicea tetap berlanjut.

Keyakinan-keyakinan agama berikut yang telah dibandingkan atau pernah dicap


-- sebagian mungkin keliru -- sebagai Arianisme, termasuk:
Unitarian, yang percaya bahwa Allah itu satu dalam pengertian berlawanan
dengan Tritunggal, dan banyak dari mereka yang percaya akan otoritas moral
Yesus, namun bukan keilahiannya.
Saksi Yehuwa, yang percaya bahwa Yesus memiliki pra-eksistensi manusiawi
sebagai Logos.
Christadelphia, yang percaya bahwa keberadaan Yesus sebelum kelahirannya
harus dipahami dalam pengertian konseptual, sebagai "Logos", dan bukan
secara harafiah.
Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir dan kelompoknya,
yang percaya akan "keesaan maksud" atau "kehendak" Ilahi tetapi Yesus adalah
suatu makhluk ilahi yang terpisah dan lebih rendah kedudukannya daripada Allah
Bapa.
Islam, yang percaya bahwa Yesus (Isa), adalah seorang nabi dari Allah yang
tunggal, namun tidak bersifat ilahi.
Isaac Newton, seorang Arianis tersembunyi; hal ini ironis karena ia adalah
seorang fellow dari Trinity College di Cambridge, Inggris.

Bibliografi
Athanasius of Alexandria, History of the Arians Part I Part II Part III Part IV Part V
Part VI Part VII Part VIII
Ivor J. Davidson, A Public Faith, Volume 2 of Baker History of the Church, 2005,
ISBN 0-8010-1275-9
J.N.D. Kelly, Early Christian Doctrines, 1978, ISBN 0-06-064334-X
William C. Rusch, The Trinitarian Controversy, (Sources of Early Christian
Thought), 1980, ISBN 0-8006-1410-0
John Henry Newman, Arians of the Fourth Century, 1871
Schaff, Philip Theological Controversies and the Development of Orthodoxy,
History of the Christian Church, Vol III, Ch. IX
Williams, Rowan, Arius: Heresy and Tradition, edisi revisi, 2001, ISBN 0-8028-
4969-5

GNOSTIK

Gnostik (Yunani. gnosis, harfiah : pengetahuan). Secara tradisional


mengacu pada ajaran sesat yang aktif bergerak pada abad 2 sM, yang tegas
ditolak oleh gereja. Tapi sejak abad 20 ini istilah Gnostik digunakan secara luas
terhadap bentuk-bentuk kepercayaan agama apa saja, dimana dualisme dan
penguasaan pengetahuan adalah penting; sebab itu agama Soroaster, ajaran
Mandae, sastra Hermes, Gulungan Laut Mati dan PB pun dicap sebagai
‘gnostis’.
Penggunaan istilah itu sedemikian rupa menyebabkab cakupannya terlalu
luas dan terlalu berubah-ubah sehingga sukar dinalar. Tetapi karena istilah
gnostik – oleh persetujuan bersama – dapat digunakan bagi bidat-bidat Kristen
tertentu, penggunaannya itu dapat dijadikan patokan dalam menentukan segi-
seginya yang khas. Meskipun terdapat perbedaan-perbedaan besar dalam isi
intelektual dan moral, dan dalam hal dekatnya dengan pusat Kekristenan, adalah
mungkin menemukan di dalam ajaran bidat ini beberapa gagasan yang umum.
Bapa-bapa gereja, lawan-lawan Gnostik itu, dengan leluasa mengutip tulisan-
tulisan Gnostik, dan penemuan-penemuan yang baru misalnya di Chenoboskion
memberi kesan bahwa bapa-bapa Gereja itu, disamping tajam terhadap ajaran-
ajaran Gnostik, mereka juga memahami ajaran tentang Gnostik itu.
I. SIFAT-SIFATNYA
Dasar pikiran Gnostik adalah pengetahuan; yaitu memiliki rahasia-rahasia yang
akhirnya dapat menjamin kesatuan jiwa dengan Tuhan. Jadi, tujuan
pengetahuan adalah keselamatan, meliputi penyucian dan kekekalan, dan dibuat
dalam kerangka yang bertalian dengan konsepsi filsafat, mitologi, atau astrologi
yang kontemporer; Unsur-unsur yang berbeda itu berlaku dalam sistem-sistem
yang berbeda. Dalam hal ini pemisahal Allah mutlak dari zat (menurut dogma
Yunani, zat mempunyai pembawaan anasir jahat) diterima, dan drama
penyelamatan diperankan oleh banyak makhluk perantara.
Jiwa dari manusia yang dapat diselamatkan adalah suatu percikan dari keilahian
yang terkurung dalam tubuh; penyelamatan berarti kelepasan jiwa dari
kecemaran badaniah, dan penyerapannya ke dalam Sumbernya.

Hampir setiap doktrin utama Kristen menentang pemikiran seperti itu.


Pandangan mitologis tentang penyelamatan tidak mempunyai kaitan hubungan
dengan PL (yang ditolak atau diabaikan), dan mengurangi pengertian dari fakta-
fakta historis tentang jabatan pelayanan, kematian dan kebangkitan Tuhan
Yesus Kristus. Dan pandangan tentang Allah dan manusia yang dinyatakan
Gnostik sering menuntun pada penyangkalan terhadap kenyataan penderitaan
kristus, dan kadang-kadang juga terhadap inkarnasi. Penciptaan adalah sesuatu
yang kebetulan, suatu kesalahan, bahkan suatu tindakan kedengkian dari
sesuatu yang anti-allah.

Kebangkitan dan pengadilan diartikan kembali untuk memperhalus 'kekasaran'


mereka. Dosa menjadi suatu pencemaran yang dapat ditanggalkan; Gereja
diganti dengan suatu perkumpulan orang-orang yang memiliki kelimpahan
intelektual dan spiritual khusus (illuminati) yang memiliki rahasia-rahasia yang
tersembunyi dari orang-orang yang belum 'diterangi' yang menyatakan mengakui
Penyelamat yang sama. Etika dipusatkan pada ihwal mempertahankan kesucian
atau kemurnian; hal itu sering berarti penolakan nafsu seksual dan keinginan-
keinginan badaniah lainnya, tetapi sering juga berarti (atas alasan yang sama)
kegemaran yang tidak terkendalikan.

II. PERKEMBANGANNYA
Sinkretisme dan penyesuaian diri adalah ini Gnostik. Utang – sangat tidak
langsung – kepada filsafat Yunani adalah nyata, namun Gnostik adalah lebih
daripada ’pen-yunani-an (helenisasi) penuh dari Kekristenan’. Sebelum
kedatangan Kristus, kebatinan dari Timur, asketisme, dan astrologi telah masuk
ke dalam dunia Yunani-Romawi yang dirasuki oleh ketakutan terhadap kematian.
Dan pada waktu itu terjadilah 'Kegagalan Semangat' ('The failure of nerve', Reff :
Gilbert Murray, Five Stages of Greek Raligion, c. 4) .
Rasionalisme yang begitu berani menyerah pada usaha mencari keselamatan.
Bentuk-bentuk pemikiran yang memberi ciri kepada banyak bidat Kristen dapat
dilihat dalam beberapa agama Yunani (helenistik) sebelum Kristen.
Dikemukakanbahwa pemikiran keagamaan Gnostik timbul dan dipengaruhi oleh
unsur-unsur Yunani dan Timur, sebagai perangsang atau pemancar, dari
diaspora (penyebaran Yudaisme). Dukungan terhadap gagasan ini telah diambil
dari dokumen-dokumen Chenoboskion. Walaupun hal ini tidak pasti, namun
perlu diperhatikan bahwa bagian terbesar ajaran-ajaran berbentuk Gnostik yang
disebut dalam PB (lihat dibawah ini) mempunyai unsur-unsur Yudaisme, bahwa
jemaat-jemaat Kristen purba seringkali adalah orang-orang yang mewarisi rumah
ibadah (sinagoge) Penyebaran, dan bahwa para Bapa Gereja melihat bidat-bidat
itu hampir sebagai turunan dari Simon Magus.

Ada pula ahli yang memandang Kekristenan sebagai sudah menafsirkan kembali
suatu bualan Penyelamatan Gnostik (misalnya R Bultmann, dalam bukunya :
Primitive Christianity in its Contemporary Setting, p 167 ), tapi belum
diperlihatkan bualan sedemikian itu adalah bagian yang integral dari
pemandangan Gnostik sebelum Kristus; juga dokumen Mandean (anggota sekte
Gnostik purba) atau sekte-sekte ’babtis’ Palestina yang primitif, karena mereka
telah memperoleh pengaruh-pengaruh kemudian yang lebih kuat.

III. GNOSTIK DALAM PERJANJIAN BARU (PB)


"Bidat Kolose" menggabungkan spekulasi-spekulasi filosofis, kuasa
perbintangan, ketakutan pada malaikat-malaikat perantara, tabu terhadap
makanan, dan praktik-praktik bertapa, dengan unsur-unsur yang dipinjam dari
Yudaisme (Kolose 2:8-23). Surat-surat penggembalaan mencela pengajaran
yang dicampurkan dengan mitologi dan silsilah ,1 Timotius 4:3 dab ; ’Dongeng-
dongeng Yahudi’ Titus 1:14; Spiritualisasi dari kebangkitan, 2 Timotius 2:18; dan
disertai dengan moral yang rusak, 2 Timotius 3:5-; 7.Semuanya apa yang
disebut pengetahuan (Gnosis) dalam 1 Timotius 6:20.

Bidat yang berbahaya yang ditentang dalam surat-surat Yohanes ( 1 Yohanes


4:3; 2 Yohanes 1:7), mengenai guru-guru palsu di Asia, ungkapan yang berbunyi
Gnostik 'seluk beluk Iblis' digunakan dalam Wahyu 2:24.

Beberapa diantara ciri kehidupan gereja di Korintus yang kurang memuaskan,


memantulkan istilah-istilah dan gagasan yang lain mempersoalkan pernikahan (1
Korintus 6:13 dst sampai pasal 7) dan menyangkal kenyataan kebangkitan ( 1
Korintus 15:12).
Hal hal ini hanyalah berupa gejala-gejala; tidak merupakan suatu sistem; tapi
memperlihatkan sarata tempat sistem-sistem Gnostik bertumbuh subur. Dan
Paulus dalam menjawab mereka memakai perbendaharaan kata yang digunakan
dalam Gnostik dan 'membersihkan'-nya ( 1 Korintus 2:6 dst); Demikian juga
Paulus merombak gagasan Gnostik tentang suatu pleroma (penuh/kepenuhan)
makhluk-makhluk perantara dengan menyatakan bahwa seluruh pleroma adalah
dalam Kristus (Kolose 1:19).
Hal memakai istilah-istilah keagamaan saman itu, yanga dalah khas dalam PB,
terkait dengan mereka yang mengertinya tanpa menyerahkan sesuatu apapun
kepada pemikiran yang non-alkitabiah. Kerangka pemikiran PB nbaik tentang hal
pemilihan, atau pengetahuan tentang Allah, atau tentang Firman, atau tentang
penyelamat – diberikan oleh pernyataan PL, darimana istilah-istilah itu berasal.

Gnostik dengan unsur-unsur Yunani, unsur-unsur Timur, dan unsur-unsur


Yahudi, apakah itu dilihat sebagai agama dunia ataupun hanya kecenderungan
terhadapnya, adalah tetap agama kafir. Ia melekat bagaikan parasit terhadap
kekristenan, dan mengambil bentuk-bentuk tertentu dengan menyedot makanan
daripadanya. Ia ingin mencapai sasaran Kristen dengan cara kafir. Dan pada
akhirnya Kekristenan harus memilih antara Injil atau terpengaruh Gnosis dan
menjadi Gnostik.

Kepustakaan,

W Foerster, Gnosis, a selection of Genostic TextI, Patristis Evidence, 1972; II,


Coptic and Mandaic Source, 1974.
JM Robinson, The Nag Hammadi Library in English, 1977
DM Scholer, Nag Hammady Bibliography, 1971, etc.
Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, Jilid I, p. 333-335.

Montanisme

Montanisme adalah sebuah gerakan sektarian Kristen perdana pada


pertengahan abad ke-2 Masehi, yang dinamai seturut pendirinya Montanus.
Gerakan ini berkembang umumnya di daerah Frigia dan sekitarnya; di sini
sebelumnya pengikutnya disebut Katafrigia. Namun gerakan ini merebak cepat
ke wilayah-wilayah lain di Kekaisaran Romawi, dan pada suatu masa sebelum
agama Kristen ditolerir atau dianggap legal. Meskipun Gereja Kristen arus utama
menang atas Montanisme dalam beberapa generasi, dan mencapnya sebagai
sebuah ajaran sesat, sekte ini bertahan di beberapa tempat terisolir hingga abad
ke-8. Sebagian orang membuat paralel antara Montanisme dan Pentakostalisme
(yang disebut sebagian orang Neo-Montanisme). Montanis yang paling terkenal
jelas adalah Tertulianus, yang merupakan penulis gereja Latin paling terkemuka
sebelum ia beralih ke Montanisme. Penganut paham Montanisme disebut
dengan Montanis.
1 Sejarah
2 Perbedaan antara Montanisme dan Kekristenan ortodoks
3 Lihat pula
4 Pranala luar
5 Sumber
6 Rujukan
7 Bacaan lebih lanjut

Sejarah

Montanus mengunjungi pemukiman-pemukiman pedesaan di Asia Kecil setelah


pertobatannya, dan mengajar serta memberikan kesaksian tentang apa yang
dikatakannya sebagai Firman Allah. Namun, ajaran-ajarannya dianggap sesat
oleh Gereja yang ortodoks karena sejumlah alasan. Ia mengklaim bukan saja
telah menerima serangkaian wahyu langsung dari Roh Kudus, tetapi juga secara
pribadi merupakan penjelmaan dari roh penghibur yang disebutkan dalam Injil
Yohanes 14:16. Montanus disertai oleh dua orang perempuan, Priska, kadang-
kadang disebut Priskila, dan Maksimila, yang juga mengklaim sebagai
penjelmaan dari Roh Kudus yang menggerakkan dan mengilhami mereka. Ke
manapun mereka pergi, "Ketiganya" demikian mereka disebut, berbicara dengan
penglihatan ekstatis dan mendesak pengikut-pengikut mereka untuk berpuasa
dan berdoa, sehingga mereka pun akan dapat memperoleh wahyu pribadi ini.
Pemberitaan Montanus menyebar dari tempat kelahirannya Frigia (dan di sini ia
menyatakan bahwa desa Pepuza adalah tempat untuk Yerusalem Baru) hingga
ke dunia Kristen saat itu, ke Afrika dan Gaul.

Pada umumnya disepakati bahwa gerakan ini diilhami oleh pembacaan Injil
Yohanes oleh Montanus— "Aku akan mengutus kepadamu seorang advocate
parakletos, roh kebenaran" (Heine 1987, 1989; Groh 1985). Tanggapan terhadap
wahyu yang berlanjut ini memecah komunitas-komunitas Kristen, dan para
rohaniwan yang lebih ortodoks umumnya berjuang untuk menekannya. Uskup
Apolinarius menemukan gereja di Ancyra terpecah menjadi dua, dan ia
menentang "nubuat palsu" (dikutip oleh Eusebius 5.16.5). Tetapi ada keragu-
raguan yang sungguh-sungguh di Roma, dan Paus Eleuterus bahkan menulis
surat-surat untuk mendukung Montanisme, meskipun ia belakangan menariknya
kembali (Tertulianus, "Adversus Praxean" c.1, Trevett 58-59).

Priska mengaku bahwa Kristus menampakkan diri kepadanya dalam rupa


seorang perempuan. Ketika ia dikucilkan, ia berseru, "Aku diusir seperti serigala
dari antara domba-domba. Aku bukan serigala: Aku adalah firman dan roh dan
kuasa."

Pembela kaum Montanis yang paling terkenal jelas adalah Tertulianus, seorang
bekas pembela keyakinan ortodoks, yang percaya bahwa nubuat yang baru itu
memang tulen dan mulai meninggalkan apa yang disebutnya sebagai “gereja
dengan banyak uskup" (On Modesty).

Meskipun gereja Kristen yang ortodoks menang atas Montanisme dalam


beberapa generasi saja, prasasti-prasasti di lembah Tembris di Frigiia utara,
yang bertanggal antara 249 dan 279, secara terbuka menyatakan kesetiaan
mereka kepada Montanisme.
Sepucuk surat dari Hieronimus kepada Marsela, yang ditulis pada 385,
menyangkal klaim kaum Montanis yang telah mengganggunya (surat 41) [1].

Sebuah kelompok "Tertulianis" terus hadir di Kartago. Pengarang Praedestinatus


yang anonim mencatat bahwa seorang pengkhotbah datang ke Roma pada 388
ketika ia menghasilkan banyak pengikut dan memperoleh izin penggunaan
sebuah gereja bagi jemaatnya dengan alasan bahwa para martir yang
kepadanya gereja itu dipersembahkan adalah Montanis.[1] Ia terpaksa melarikan
diri setelah kemenangan Teodosius I. Augustinus mencatat bahwa kelompok
Tertullianis melorot hingga hampir tidak tersisa pada masanya sendiri, dan
akhirnya didamaikan dengan gereja dan menyerahkan basilika mereka.[2] Tidak
jelas apakah para Tertulianis itu Montanis atau bukan.

Pada abad ke-6, atas perintah Kaisar Yustinianus, Yohanes dari Efesus
memimpin ekspedisi ke Pepuza untuk menghancurkan tempat-temapt suci
Montanis di sana, yang berbasis di sekitar makam Montanus, Priskila dan
Maksimilia.

Sekte ini bertahan hingga abad ke-8. Columbia Encyclopedia mengklaim bahwa
“di tempat-tempat terpencil dari Frigiia, di mana [Montanisme] terus bertahan
hingga abad ke-7.”

Beberapa penulis modern mengusulkan bahwa sebagian dari penekanan pada


pengalaman pribadi yang langsung dan ekstatis dengan Roh Kudus mempunyai
kemiripan dengan semua bentuk Pentakostalisme. “Ia [Montanisme] mengklaim
dirinya sebagai agama Roh Kudus dan ditandai oleh ledakan-ledakan ekstatis
yang dianggapnya sebagai satu-satunya bentuk Kekristenan yang sejati.” [3]
Sementara memang ada banyak kesamaan antara Montanisme dengan
Pentakostalisme modern, tampaknya tidak ada hubungan histories antara
keduanya, karena kebanyakan kaum Pentakostal mengklaim otoritasnya
berdasarkan Kisah para Rasul (pasal 2).
[sunting]
Perbedaan antara Montanisme dan Kekristenan ortodoks

Keyakinan-keyakinan Montanisme berbeda dengan Kekristenan ortodoks dalam


hal-hal berikut:
Keyakinan bahwa nubuat-nubuat kaum Montanis mengalahkan dan menggenapi
doktrin-doktrin yang diberitakan oleh para Rasul.
Dorongan untuk bernubuat secara ekstatis, membedakannya dengan
pendekatan teologi yang dominan yang lebih berdisiplin dan penuh
pertimbangan di kalangan Kekristenan yang ortodoks pada saat itu hingga
sekarang.
Pandangan bahwa orang-orang Kristen yang jatuh dari anugerah tidak dapat
ditebus, juga bertentangan dengan pandangan Kristen yang ortodoks bahwa
penyesalan dapat mengembalikan orang berdosa ke dalam gereja.
Nabi-nabi Montanisme tidak berbicara sebagai utusan-utusan Allah:
"Demikianlah firman Tuhan," melainkan lebih menggambarkan dirinya dikuasai
oleh Allah, dan berbicara atas namanya. "Akulah Bapa, Firman, dan Sang
Penghibur," kata Montanus (Didymus, De Trinitate, III, xli); Kerasukan roh ini,
yang berbicara sementara nabi itu tidak mampu menolaknya, digambarkan oleh
roh Montanus: "Lihatlah manusia itu bagaikan sebuah lyre, dan aku melesat
seperti plectrum. Orang itu tidur, dan aku terjaga" (Epifanius, "Panarion", xlviii, 4).
Penekanan yang lebih kuat untuk menghindari dosa dan disiplin gereja daripada
di kalangan Kekristenan ortodoks. Mereka lebih menekankan upaya menghindari
dosa dan disiplin gereja daripada di kalangan Kekristenan ortodoks. Mereka
menekankan kesucian seksual, termasuk melarang pernikahan kembali..
Sebagian Montanis juga "Quartodesiman" ("yang 14"), artinya mereka lebih suka
merayakan Paskah pada tanggal 14 bulan Nisan menurut kalender Ibrani, tak
peduli hari apapun dalam suatu minggu tanggal itu jatuh. Ajaran ortodok
berpendapat bahwa Paskah harus dirayakan pada hari Minggu setelah tanggal
14 Nisan. (Trevett 1996:202)

Hieronimus dan para pemimpin gereja lainnya mengklaim bahwa kaum Montanis
di masa mereka menganut keyakinan bahwa Tritunggal terdiri atas satu pribadi
saja, serupa dengan Sabelianisme, jadi berlawanan dengan pandangan ortodoks
bahwa Tritunggal adalah satu Allah dengan tiga pribadi, yang juga dianut oleh
Tertulianus. Ada beberapa orang yang memang adalah pemeluk monarkian
modalistik (Sabelian) dan beberapa lainnya yang lebih dekat dengan doktrin
Tritunggal. Dilaporkan bahwa para modalis ini membaptiskan dengan
meyebutkan nama Yesus Kristus, bukannya menyebutkan nama Tritunggal.
Kebanyakan dari kaum Montanis di kemudian hari berasal dari kubu modalistik.