Anda di halaman 1dari 32

ANALISIS PERHITUNGAN PERSEDIAAN MENURUT PSAK DAN PERPAJAKAN SERTA DAMPAKNYA TERHADAP LAPORAN RUGI LABA PADA PT. MENARA TIGA (M3) KOTA GORONTALO

Sitty Zochra Yahya

Skripsi Sarjana Ekonomi UNG

ABSTRAK

Sitty Zochra Yahya, NIM 921409158. Skripsi. 2013. “Analisis perhitungan persediaan Menurut PSAK dan Perpajakan serta Dampaknya terhadap Laporan Laba Rugi”.Program studi S1 Akuntansi. Di bawah bimbingan Bapak Imran R. Hambali S.Pd., SE, MSA selaku pembimbing I dan Bapak Rio Monoarfa SE.Ak, M.Si selaku pembimbing II.

Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif komparatif dengan pendekatan kuntitatif, yakni membandingkan perhitungan persediaan menurut PSAK dengan mengggunakan metode LCM (Lower of Cost Market) dan menurut Perpajakan dengan menggunakan metode FIFO dan Average dan menjelaskan dampak dari kedua metode tersebut terhadap laporan laba rugi. Hal yang mendorong peneliti untuk melakukan perhitungan persediaan menurut PSAK dan Perpajakan, karena perusahaan ini menggunakan metode LIFO yang tidak sesuai dengan PSAK dan Perpajakan. Sedangkan penggunaan metode LCM (Lower of Cost Market) menurut PSAK karena terjadi penurunan nilai persediaan pada akhir tahun.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan metode LCM (Lower of Cost Market) menurut PSAK untuk menghitung persediaan akhirnya, lebih rendah dibandingkan dengan yang menggunakan metode menurut Perpajakan yaitu FIFO dan Average. Metode LCM tidak sesuai dengan ketentuan Perpajakan. Karena itu perusahaan harus memilih antara menggunakan FIFO dan Average. Dalam hal ini perusahaan sebaiknya menggunakan metode Average yang PPh nya sedikit lebih rendah dibandingkan dengan metode FIFO dan tidak lebih tinggi dibandingkan

dengan

ketentuan perpajakan

metode

LCM.

Namun

metode

Average

sudah

sesuai

dengan

Kata Kunci: Persediaan, PSAK, Perpajakan, LCM (lower of cost market) FIFO, average

1. PENDAHULUAN

Perusahaan merupakan usaha yang didirikan untuk menghasilkan

suatu atau beberapa barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Perusahaan yang menghasilkan barang pastilah membutuhkan yang

namanya persediaan. Dalam pengelolaan bidang usahanya, perusahaan

yang menghasilkan barang dapat dibagi menjadi 2 yaitu perusahaan

dagang dan perusahaan tekstil (manufaktur ).

Perusahaan

dagang

adalah

suatu

perusahaan

yang

aktivitas

usahanya membeli dan menjual langsung persediaan tanpa mengalami

proses lebih lanjut. Maka persediaan sering dikelompokkan sebagai

persediaan

barang

dagangan

(merchandise

inventory).

Sedangkan

perusahaan tekstil adalah perusahaan yang aktivitas usahanya adalah

membeli bahan baku (raw material) kemudian diproses lebih lanjut untuk

menjadi barang jadi (finishied good) dan kemudian dijual (Santoso, 2007:

239).

Persediaan merupakan aspek terpenting bagi perusahaan dagang dan

perusahaan manufaktur. Karena sumber utama pendapatan perusahaan

terdapat pada persediaan guna merealisasikan laba perusahaan. Sistem

pencatatan persediaan dapat dilakukan dengan 2 cara yakni, fisik dan

perpetual. Penggunaan metode fisik mengharuskan adanya perhitungan

barang yang masih ada pada tanggal penyusunan laporan keuangan.

Sedangkan penggunaan metode perpetual, dibuatkan rekening sendiri-

sendiri

yang

merupakan

buku

pembantu

persediaan.

Dibandingkan

dengan metode fisik, maka metode perpetual merupakan cara yang lebih

baik untuk mencatat persediaan yaitu dapat membantu memudahkan

penyusunan neraca dan laporan laba rugi, juga dapat digunakan untuk

mengawasi barang-barang dalam gudang (Baridwan, 2010: 151-152).

Persediaan

baru

akan

diakui

sebagai

hak

milik

apabila

hak

kepemilikan barang secara sah telah berpindah. Dua syarat penyerahan

barang dalam perjalanan berkaitan dengan berpindahnya hak milik atas

barang

yang

diperjualbelikan

adalah

Destination (Suhadimanto, 2005: 6).

FOB

Shiping

Point

dan

FOB

Menurut Baridwan (2010), dalam menghitung persediaan akhir ada

berbagai metode yang dapat dipilih. Yang antara lain yaitu metode

Identifikasi khusus, Masuk Pertama Keluar Pertama (FIFO), Rata-rata

tertimbang (Weighted Average), dan Masuk Terakhir Keluar Pertama

(LIFO), Persediaan Minimum, Biaya Standar, Harga Beli Terakhir, Metode

Nilai

Penjualan Relatif, dan Metode Biaya Variabel. Ada juga cara

perhitungan persediaan berdasarkan metode taksiran yaitu Laba Bruto

dan Metode Harga Eceran. Penggunaan metode-metode ini disesuaikan

dengan kondisi persediaan perusahaan.

Menurut ketentuan PSAK 14 tahun 2012 ada beberapa metode yang

diperkenankan untuk digunakan dalam menghitung nilai persediaan, yang

antara lain: LCM (Lower of Cost Market) atau harga terendah antara

biaaya dan nilai realisasi neto, metode harga eceran, identifikasi khusus,

FIFO dan Average.

Perhitungan Persediaan menurut UU PPh No. 36 Tahun 2008 pasal

10 ayat 6 dalam Zain (2010: 150) menyatakan bahwa, “persediaan dan

pemakaian

persediaan

untuk

penghitungan

harga

pokok

dinilai

berdasarkan

harga

perolehan

yang

dilakukan

secara

rata-rata

atau

dengan cara mendahulukan persediaan yang diperoleh pertama”.

Pencatatan

persediaan

menurut

perpajakan

lebih

dianjurkan

menggunakan system perpetual. Karena

dalam penyusunan laporan

keuangan

fiskal

ditegaskan

agar

pencatatannya

sedapat

mungkin

dilakukan dengan system perpetual. Namun bukan berarti pencatatan

secara fisik tidak boleh digunakan. Pencatatan persediaan secara fisik

boleh digunakan tetapi hanya sebagai pelengkap dan untuk membuktikan

apakah informasi persediaan akhir yang tercatat pada laporan laba rugi

sama dengan persediaan yang terdapat dalam gudang atau sesuai

dengan kenyataan. Pemilihan metode tersebut harus dilakukan secara

taat azas, artinya sekali wajib pajak memilih salah satu cara peniliaian

pemakaian persediaan untuk penghitungan HPP, maka untuk selanjutnya

harus dilakukan cara yang sama pula (Agus dan Estralita 2012: 32).

PT.

Menara

Tiga

(M3)

Kota

Gorontalo

merupakan

perusahaan

dagang

yang menjual barang-barang meubel dan keramik. Barang-

barang yang dijual tersebut berasal dari pulau Jawa. Syarat penyerahan

barang dalam perjalanan menggunakan FOB Shipping point yaitu barang

dalam perjalanan sampai berada di gudang PT. Menara Tiga menjadi

tanggung jawab perusahaan ini sebagai pembeli.

Persediaan

pada

perusahaan

ini

merupakan

unsur

yang

sangat

mempengaruhi

laporan laba rugi. Oleh karena itu, persediaan yang

dimiliki selama satu periode harus dapat dipisahkan mana yang sudah

dibebankan sebagai biaya yang akan dilaporkan pada laporan laba rugi

dan mana yang belum terjual yang akan menjadi persediaan dalam

laporan neraca.

Metode perhitungan persediaan yang digunakan PT. Menara Tiga

(M3) adalah metode LIFO untuk memberikan suatu laporan laba rugi yang

perspektif artinya laba bersih diukur dengan menggunakan LIFO yang

menggabungkan harga jual sekarang dan biaya akuisisi yang sekarang.

Metode ini juga menghasilkan suatu gambaran laba yang cenderung

hanya

melaporkan

laba

operasi

dan

menanggguhkan

pengakuan

keuntungan pemilikan persediaan sampai harga atau kuantitas menurun

dan juga untuk tujuan pajak jika laba bersih rendah maka pajak yang akan

dibayarkan juga rendah.

Penggunaan metode LIFO ini juga dapat dilihat

dari kartu persediaanya selama tahun 2009. Sistem pencatatan yang

digunakan oleh PT. Menara Tiga (M3) adalah system perpetual.

Oleh karena itu pada peneltian ini dilakukan perhitungan persediaan

menurut PSAK dan Perpajakan. Sehingga akan menghasilkan laporan

keuangan dalam hal ini laporan Laba Rugi yang semestinya. Pada

penelitian

ini

dalam

menghitung

persediaan

akhir

menurut

PSAK

menggunakan metode LCM (Lower of Cost Market). Baridwan (2010: 185)

mengungkapkan bahwa LCM digunakan apabila perusahaan mengalami

kerugian karena turunnya harga persediaan. Pada PT Menara Tiga (M3)

ini sendiri berlaku hal yang sama. Terjadi penurunan harga persediaan

pada akhir tahun. Hal ini terlihat pada laporan persediaan perusahaan

tersebut.

Karena itu peneliti lebih memilih menggunakan metode LCM

(Lower of Cost Market) menurut PSAK sedangkan berdasarkan aturan

perpajakan menggunakan metode FIFO dan Average.

Sehubungan

dengan

pola

pemikiran

tersebut

diatas

peneliti

mengambil judul ”Analisis Perhitungan Persediaan Menurut PSAK dan

Perpajakan Serta Dampaknya Terhadap Laporan Laba Rugi Pada PT.

Menara Tiga (M3) Kota Gorontalo”.

2. KAJIAN TEORI Persediaan merupakan salah satu aktiva yang paling penting dalam

operasi kegiatan perusahaaan dagang. Sebagaian besar sumber daya

perusahaan sering kali diinvestasikan dalam bentuk barang-barang

yang dibeli atau diproduksi. Biaya barang-barang ini harus dicatat,

dikelompokkan, dan diikhtisarkan selama periode akuntasi. Pada akhir

periode, biaya dialokasikan di antara aktivitas periode berjalan dan

aktifitas

periode

mendatang, yaitu

di

antara

barang-barang

yang

berada dalam persediaan untuk dijual periode mendatang. Persediaan

juga merupakan aktiva lancar terbesar dari perusahaan manufaktur

maupun dagang. Pengaruh persediaan terhadap laba lebih mudah

terlihat ketika kegiatan bisnis berfluktuasi. Selama iklim usaha baik,

penjualan menjadi tinggi dan persediaan bergerak lebih cepat dari

pembelian ke penjualan. Namun ketika kondisi ekonomi menurun,

tingkat penjualan juga menjadi menurun, persediaan bertumpuk dan

perlu

dilakukan

penjualan

meskipun

mengalami

kerugian.

Untuk

memperoleh gambaran yang jelas mengenai persediaan, pada bagian

ini

diberikan

persediaan.

batasan

maupun

kriteria

mengenai

pengertian

Biaya-Biaya Yang Berhubungan Dengan Persediaan

Mulyadi

(2002:

8)

mengatakan

“biaya

dalam

arti

luas

adalah

pengorbanan sumber ekonomi, yang ditukar dalam satuan uang,yang

telah terjadi untuk tujuan tertentu”. 4 unsur pokok dalam defenisi biaya

tersebut adalah:

1. Biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomi

2. Diukur dalam satuan uang

3. Yang telah terjadi atau yang secara potensial akan terjadi

4. Pengorbanan tersebut untuk tujuan tertentu

Biaya-biaya persediaan meliputi biaya pembelian, biaya konversi dan

biaya lain-lain. Biaya ini muncul pada saat persediaan berada dalam

kondisi yang siap untuk dipakai atau dijual.

Adapun biaya-biaya persediaan menurut Standar Akuntansi Keuangan

14 Tahun 2012 adalah sebagai berikut: biaya persediaan meliputi semua

biaya pembelian, biaya konversi, dan biaya lain yang timbul sampai biaya

berada dalam kondisi dan lokasi saat ini”.

1. Pembelian

Biaya pembelian meliputi harga pembelian, bea masuk/pajak lainnya,

biaya pengangkutan dan lain-lain. Adapun yang mempengaruhi biaya

pembelian adalah:

a. Barang dalam perjalanan, Suhadimanto (2005: 9) mengungkapkan

bahwa persediaan barang akan diakui sebagai hak milik apabila hak

kepemilikan barang secara sah telah berpindah. Syarat penyerahan

barang dalam perjalanan yang lazim terjadi adalah sebagai berikut:

1) FOB Shipping point

Dengan syarat ini barang yang diperjual belikan menjadi milik

pembeli pada saat barang sudah diatas kapal. Kemudian segala

risiko dalam perjalanan laut sampai ke gudang pembeli menjadi

tanggung jawab pembeli. Jika dengan syarat penyerahan barang

FOB Shipping point, maka:

a) Untuk

penjual

barang dikirim.

nilai

persediaan

akan

berkurang

pada

saat

b) Untuk pembeli nilai persediaan akan bertambah ketika barang

telah dikirim.

2) FOB Destination

Dengan syarat ini barang yang sudah diperjualbelikan menjadi milik

pembeli pada saat barang sudah diterima pembeli dari pengangkut.

Segala

resiko

selama

dalam

perjalanan

dari

gudang

penjual

sampai tiba di pelabuhan pembeli menjadi tanggung jawab penjual,

selanjutnya

ongkos

angkut

darikapal

menuju

gudang

pembeli

menjadi tanggung jawab pembeli. Jika dengan syarat penyerahan

barang FOB Destination, maka:

a) Untuk

penjual

nilai

persediaan

akan

barang sudah diterima pembeli.

berkurang

pada

saat

b) Untuk pembeli nilai persediaan akan bertambah ketika barang

sudah diterima pembeli.

b. Diskon dagang, yaitu suatu potongan yang merupakan suatu cara

untuk menentukan berapa sebenarnya harga yang harus dibayar oleh

pembeli.

c. Potongan pembelian, yaitu potongan yang diperoleh oleh pembeli

apabila ia mampu membayar faktur terhutang atas pembelian tersebut

sebelum masa potongan berakhir.

d. Retur pembelian, timbul karena barang yang diterima rusak atau tidak

sesuai

dengan

perjanjian

ataupun

mungkin

karena

adanya

penyesuaian harga yang diperlukan, total retur pembelian selama satu

periode

akan

mengurangi

pembelian

perusahaan

pada

periode

tersebut dan disajikan dalam laporan laba rugi.

e. Pajak pertambahan nilai (PPN)

Pajak pertambahan nilai ditujukan pada mereka orang pribadi maupun

badan yang menghasilkan/memproduksi barang, mengimpor barang,

memperdagangakan barang dan ataupun menyerahkan jasa yang

dilakukan

dalam

lingkungan

perusahaan.

PPN

timbul

kerana

digunakannya factor-faktor produksi pada setiap jalur perusahaan

dalam

menyiapkan,

menghasilkan,

menyalurkan

dan

memperdagangkan barang ataupun pemberian pelayanan jasa pada

konsemun. Semua biaya untuk mendapatkan dan mempertahankan

laba termasuk bunga modal, sewa, tanah, upah kerja, dan laba

perusahaan merupakan unsure pertambahan nilai yang menjadi dasar

pengenaan PPN.

f. Biaya pengangkutan

Biaya pengangkutan yang terjadi dalam kaitannya dengan pembelian

harus ditambahkan ke dalam perhitungan biaya persediaan. Namun

biaya ini sering dicatat dalam pos khusus seperti ongkos angkut yang

dilaporkan

sebagai

tambahan

harga

pokok

penjualan

pada

perusahaan

dagang

dan

biaya

bahan

yang

digunakan

oleh

perusahaan manufaktur.

 

g. Biaya

penyimpanan,

yaitu

biaya

yang

terjadi

dalam

rangka

melaksanakan kegiatan penyimpanan bahan sebelum diproduksi.

2. Biaya Konversi

Biaya konversi persediaan meliputi biaya yang secara langsung terkait

dengan unit yang diproduksi dan biaya overhead produksi tetap dan

variable yang dialokasikan secara sistematis, yang terjadi dalam proses

konversi bahan menjadi barang jadi. Biaya overhead tetap adalah biaya

produksi tak langsung yang relative konstan tanpa memperhatikan volume

produksi

yang

dihasilkan,

seperti

penyusutan

dan

pemeliharaan

bangunan

dan

peralatan

pabrik

dan

juga

biaya

manajemen

dan

administrasi pabrik. Biaya overhead variable adalah biaya produksi yang

berubah

secara

langsung

atau

hampir

secara

langsung,

mengikuti

perubahan volume produksi, seperti bahan tak langsung dan Proses

produksi mungkin menghasilkan lebih dari satu jenis produk secara

serentak. Hal tersebut terjadi misalnya, bila dihasilkan produk gabungan

(joint product) atau bila terdapat produk utama dan produk sampingan.

Bila biaya konversi tidak dapat diidentifikasikan secara terpisah, biaya

tersebut dialokasikan antar produk secara rasional dan konsisten.

3. Biaya Lain-lain

Biaya lain-lain, yaitu biaya yang dikeluarkan untuk menempatkan

persediaan barang jadi berada dalam kondisi dan tempat yang siap dijual

atau dipakai. Misalnya dalam keadaan tertentu diperkenankan untuk

membebankan biaya overhead non produksi atau biaya perancangan

produk untuk pelanggan khusus sebagai biaya persediaan.

Contoh-contoh biaya yang dikeluarkan dari biaya persediaan dan

diakui sebagai beban dalam periode terjadinya adalah:

1) Jumlah pemborosan bahan, tenaga kerja atau biaya produksi lainnya

yang tidak normal;

2) Biaya penyimpanan, kecuali biaya tersebut diperlukan dalam proses

produksi sebelum dilanjutkan pada tahap produksi berikutnya;

3) Biaya administrasi dan umum yang tidak memberikan kontribusi untuk

membuat persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat ini; dan

4) Biaya penjualan.

Kerangka Berfikir

PT. Menara Tiga (M3) merupakan jenis perusahaan

dagang yang

menjual berbagai jenis barang meubel dan keramik. Dimana persediaannya

merupakan

aktiva

lancar

yang

paling

utama.

Setiap

perusahaan

yang

didirikan pastilah diwajibkan membayar pajak atas penghasilannya. Karena

itu perusahaan tidak hanya menghitung persediaan berdasarkan PSAK

tetapi juga berdasarkan perpajakan. Terdapat perbedaan antara keduanya

dalam perhitungan persediaan akhir. Maka yang perlu diperhatikan disini

apakah

kedua

metode

tersebut

perusahaan PT. Menara Tiga (M3).

3.METEDOLOGI PENELITIAN

Tekhnik Pengumpulan Data

berdampak

pada

laporan

laba

rugi

Dalam penelitian ini peneliti mengumpulkan data yang berhubungan

dengan topic pembahasan yaitu berupa data sekunder yang merupakan data

yang dikumpulkan oleh penulis berupa data laporan keuangan terutama yang

berhubungan dengan persediaan tahun 2009 yang menjadi objek penelitian.

Tekhnik Analisis Data

Tekhnik analisis data dalam penelitian ini menggunakan tekhnik

deskriptif komparatif yakni membandingkan perhitungan persediaan menurut

PSAK dan Perpajakan serta menjelaskan dampak dari kedua cara

perhitungan persediaan tersebut terhadap laporan rugi laba.

Tahapan dalam menganalisis data dalam penelitian ini,dilakukan

dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Memperoleh laporan persediaan barang dagang dan laporan keuangan

PT. Menara Tiga (M3) Kota Gorontalo

2.

Melakukan

perhitungan

persediaan

menurut

Peraturan

Standar

Akuntansi Keuangan (PSAK)

 

3.

Melakukan perhitungan Laba Rugi menurut Peraturan Standar Akuntansi

Keuangan (PSAK) yang menggunakan metode nilai terendah antara biaya

dan nilai realisasi neto.

 

4.

Melakukan Perhitungan Laba Rugi menurut PSAK dengan menggunakan

metode LCM (Lower of Cost Market).

 

5.

Melakukan

perhitungan

persediaan

menurut

Perpajakan

dengan

menggunakan metode FIFO dan Average

 

6.

Melakukan peritungan Laba Rugi menurut Perpajakan

 

7.

Mendeskripsikan perbandingan Laporan Laba Rugi secara PSAK dan

Perpajakan.

4.

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN

 

Perhitungan

Persediaan

Menurut

Pernyataan

Standar

Akuntansi

Keuangan menggunakan Metode Nilai Terendah antara Biaya dan Nilai

realisasi Bersih.

Seperti yang telah diketahui sebelumnya bahwa PT. Menara Tiga (M3)

dalam menghitung persediaan akhir menggunakan metode LIFO yang tidak

sesuai baik secara PSAK dan Perpajakan. Pada poin ini akan menjabarkan

perhitungan persediaan sesuai PSAK dengan menggunakan metode nilai

terendah antara biaya dan nilai realisasi neto. Berikut tabel perhitungannya.

Tabel 10 Perhitungan Persediaan Menggunakan Nilai Terendah antara

Biaya dan Nilai Realisasi Bersih

Barang

Jumlah

harga /

NRN / unit

 

Total

Nilai terendah antara biaya & NRN

akhir

unit

 
   

Biaya

 

NRN

 

W Rp

165

3,874,

Rp 3,398

Rp

639,210

Rp

560,670

Rp

560,670

X Rp

112

448,3

Rp

319,4

Rp

50,209,6

Rp

35,772,8

Rp

35,772,8

Y Rp 7,494,

18

Rp 5,848,4

Rp

134,892

Rp

105,278,4

Rp

105,271,2

Z Rp

35

6,000

Rp 7,000

Rp 210,000

Rp

245,000

Rp

210,000

 

Rp1,034,311,6

 

Rp

911,714

 

Rp

947,686

Metode yang digunakan pada tabel di atas menjelaskan bahwa barang W,

X, dan Y mengalami penurunan pada nilai realisasi neto sedangkan barang Y

mengalami peningkatan nilai realisasi bersihnya. Adapun cara perhitungan

nilai realisasi bersih yaitu:

1) Persediaan

akhir

barang

W

pada

saat

dibeli

harganya

sebesar

Rp.3.874.400 dan pada akhir tahun mengalami penurunan harga sebesar

Rp.3.636.000 (harga pasar barang bisa dilihat pada Tabel 8). Jadi beban

penjualannya adalah Rp.238.000. Penilaian harga pokok barang tersebut

berdasarkan nilai realisasi bersih adalah:

Rp.3.636.000 - Rp.238.000 = Rp.3.398.000

2) Persediaan akhir barang X pada saat dibeli harganya sebesar Rp.448.300

dan pada akhir tahun mengalami penurunan harga sebesar Rp.383.850

(harga pasar barang bisa dilihat pada Tabel 8). Maka beban penjualannya

adalah Rp.64.450. Penilaian harga pokok barang tersebut berdasarkan

nilai realisasi bersih adalah:

Rp.383.850 - Rp.64.450 = Rp.319.400.

3) Persediaan

akhir

barang

Y

pada

saat

dibeli

harganya

sebesar

Rp.7.494.000 dan pada akhir tahun mengalami penurunan harga sebesar

Rp.6.671.200 (harga pasar barang bisa dilihat pada Tabel 8). Jadi beban

penjualannya adalah Rp.822.800. Penilaian harga pokok barang tersebut

berdasarkan nilai realisasi bersih adalah:

Rp.6.671.200 - Rp. 822.800 = Rp.5.848.400.

4) Persediaan akhir barang Z

pada saat dibeli harganya sebesar Rp.

6.000.000 dan pada akhir tahun mengalami peningkatan

harga sebesar

Rp.6.500.000 (harga pasar barang bisa dilihat pada Tabel 8). Maka beban

penjualannya adalah Rp.500.000. Penilaian harga pokok barang tersebut

berdasarkan nilai realisasi bersih adalah:

Rp.6.500.000 + Rp.500.000 = Rp.7.000.000

Contoh di atas berdasarkan metode tersebut mengungkapkan adanya

selisih

sebesar

Rp.122.597

600

dari

perbedaan

total

biaya

sebesar

Rp.1.034.311.600 dan harga terendah antara nilai realisasi bersih dan biaya

sebesar

Rp.911.714.000.

Penurunan

biaya

sebesar

Rp.122.597 600

disebabkan karena penggunaan metode nilai terendah antara biaya dan nilai

realisasi bersih dapat dilaporkan secara terpisah (dibuat akun tersendiri)

dalam laporan rugi laba atau langsung dimasukan kedalam HPP.

Laporan Laba Rugi Menurut PSAK dengan menggunakan metode LCM

(Lower of Cost market )

Laporan laba rugi untuk menurunkan nilai persediaan berdasarkan

individual item basis yakni:

1. Menggunakan akun tersendiri untuk mencatat kerugian penurunan nilai

persediaan yang dilaporkan pada laporan Laba Rugi.

Jurnal penyesuaian untuk menurunkan nilai persediaan yaitu:

Kerugian karena penurunan nilai persediaan

Persediaan

Rp.122.597.600

Rp.122.597.600

Penggunaan akun tersendiri dalam Laporan Laba Rugi dapat di lihat

pada tabel di bawah ini.

Tabel 11 Laporan Laba Rugi dengan menggunakan akun tersendiri

untuk mencatat kerugian

URAIAN

 

NILAI (Rupiah)

NILAI (Rupiah)

 

PENJUALAN BERSIH

 

Rp 21,414,840,400.00

HARGA POKOK PENJUALAN:

   

SALDO BARANG DAGANG AWAL

Rp 2,188,248,000.00

   

PEMBELIAN

Rp 2,349,782,900.00

   

BARANG YANG TERSEDIA UNTUK DIJUAL

Rp 4,538,030,900.00

 

SALDO BARANG DAGANG AKHIR:

   

BIAYA

Rp 1,034,311,600.00

   

HARGA POKOK PENJUALAN

 

Rp 3,503,719,300.00

 

LABA KOTOR

 

Rp 17,911,121,100.00

KERUGIAN PENURUNAN NILAI PERSEDIAAN

Rp

121,625,600.00

 

BEBAN OPERASIONAL PERUSAHAAN:

   

BEBAN PENJUALAN

Rp

254,903,175.00

 

BEBAN UMUM,ADMINISTRASI & BUNGA BANK

Rp

756,162,391.00

 

JUMLAH BEBAN OPERASIONAL

 

Rp 1,132,691,166.00

 

LABA USAHA

 

Rp16,778,429,934.00

 

PENGHASILAN LAIN (KONTRAKTOR)

 

Rp

254,508,555.00

LABA BERSIH SEBELUM PPH

 

Rp 17,032,938,489.00

PAJAK PENGHASILAN

 

Rp 4,7692,222,776.92

LABA BERSIH SETELAH PAJAK

 

Rp 12,263,715,712.08

1) Menggunakan metode dengan langsung memasukan kerugian penurunan

nilai barang ke dalam HPP yang seharusnya Rp.1.034.311.600 diturunkan

menjadi Rp.911.714.000 Pada saat dilakukan jurnal penyesuaian akun

persediaan harus dikredit sebesar Rp.122.597.600 dan di debet ke Harga

Pokok Penjualan.

Adapun jurnalnya dan laporan laba ruginya sebagai berikut:

Harga Pokok Penjualan

Persediaan

Rp.122.597.600

Rp.122.597.600

Tabel 12 Laporan Laba Rugi dimana Kerugian langsung di masukkan ke

dalam HPP

URAIAN

 

NILAI (Rupiah)

 

NILAI (Rupiah)

PENJUALAN BERSIH

 

Rp

21,414,840,400.00

HARGA POKOK PENJUALAN:

   

SALDO BARANG DAGANG AWAL

Rp

2,188,248,000.00

 

PEMBELIAN

Rp

2,349,782,900.00

 

BARANG YANG TERSEDIA UNTUK DIJUAL

Rp

4,538,030,900.00

 

SALDO BARANG DAGANG AKHIR:

   

LCM

Rp

911,714,000.00

 

HARGA POKOK PENJUALAN

 

Rp

3,626,316,900.00

LABA KOTOR

 

Rp

17,788,523,500.00

BEBAN OPERASIONAL PERUSAHAAN:

   

BEBAN PENJUALAN

Rp

254,903,175.00

 

BEBAN UMUM, ADMINISTRASI & BUNGA BANK

Rp

756,162,391.00

 

JUMLAH BEBAN OPERASIONAL

 

Rp

1,011,065,566.00

LABA USAHA

 

Rp

16,777,457,934.00

PENGHASILAN LAIN (KONTRAKTOR)

 

Rp

254,508,555.00

LABA BERSIH SEBELUM PPH

 

Rp

17,031,966,489.00

PAJAK PENGHASILAN

 

Rp

4,768,950,616.92

LABA BERSIH SETELAH PAJAK

 

Rp

12,263,015,872.08

Perhitungan

Persediaan

Menurut

Ketentuan

Perpajakan

dengan

menggunakan Metode FIFO dan Average

1. Metode FIFO (First In First Out)

Harga pokok persediaan akan dibebankan sesuai dengan urutan

terjadinya transaksi jual beli. Harga pokok yang dibebankan adalah harga

pokok

yang

terdahulu.

Kemudian

disusul

dengan

yang

berikutnyadan

persediaan akhir akan dibebankan harga pokok terakhir. Penjabarannya

dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 13 Perhitungan Persediaan dengan menggunakan Metode FIFO

(First In First Out)

   

Pembelian

 

Penjualan

   

Saldo

 

Bulan

Unit

harga/unit

Jumlah

Unit

harga/unit

Jumlah

Unit

harga/unit

 

Jumlah

(dalam ribuan)

 

2009

Januari

                 

292

Rp 7,494

Rp 2,188,248

Februari

149

Rp 3,574,7

Rp 532,630,3

     

292

Rp 7,494

Rp 2,188,248

149

Rp 3,574,7

Rp

532,630,3

     

100

Rp 7,494

Rp 749,400

192

Rp 7,494

Rp 1,438,848

149

Rp 3,574,7

Rp

532,630,3

Maret

     

90

Rp 7,494

Rp 674,460

102

Rp 7,494

Rp

764,388

149

Rp 3,574,7

Rp

532,630,3

April

100

Rp2,214,45

Rp 221,445

     

102

Rp 7,494

Rp

764,388

149

Rp 3,574,7

Rp

532,630,3

100

Rp 2,214,45

Rp

221,445

     

102

Rp 7,494

Rp 764,388

     

58

Rp 3,574,7

Rp 207,332,6

91

Rp 3,574,7

Rp 325,297,7

Rp

100

2,214,45

Rp 221,445

Mei

     

64

Rp 3,574,7

Rp 228,780,8

27

Rp 3,574,7

Rp

96,516,9

100

Rp 2,214,45

Rp

221,445

Juni

372

Rp 448,3

Rp 166,767,6

     

27

Rp 3,574,7

Rp

96,516,9

100

Rp 2,214,45

Rp 221,445

372

Rp

448,3

Rp 166,767,6

     

27

Rp 3,574,7

Rp 96,516,9

     

18

Rp 2,214,45

Rp 39,860,1

82

Rp 2,214,45

Rp

181,584,9

372

Rp

448,3

Rp

166,767,6

Juli

     

82

Rp 2,214,45

Rp 181,584,9

     

18

Rp

448,3

Rp

8,069,4

354

Rp

448,3

Rp

158,698,2

Agustus

310

Rp 3,874

Rp 1,200,940

     

354

Rp

448,3

Rp

158,698,2

310

Rp

3,874

Rp 1,200,940

September

     

200

Rp

448,3

Rp 89,660

154

Rp

448,3

Rp

69,038,2

 

310

Rp

3,874

Rp 1,200,940

Oktober

     

109

Rp

448,3

Rp 48,864,7

45

Rp

448,3

Rp

20,173,5

             

310

Rp

3,874

Rp 1,200,940

November

38

Rp 6,000

Rp 228,000

     

45

Rp

448,3

Rp

20,173,5

310

Rp

3,874

Rp 1,200,940

38

Rp

6,000

Rp

228,000

Desember

     

45

Rp

448,3

Rp 20,173,5

     

18

Rp 3,874

Rp

69,732

292

Rp

3,874

Rp 1,131,208

 

38

Rp

6,000

Rp

228,000

Seperti yang telah dijelaskan pada tabel di atas maka dapat diketahui

persediaan barang akhir sebesar:

a) 292 unit @ Rp.3.874.000 = Rp.1.131.208.000

b) 38 unit @ Rp.6.000.000 = Rp.228.000.000

Maka

total

persediaan

Rp.1.359.208.000.

akhirnya

adalah

330

unit

dengan

nilai

2) Metode Rata-rata bergerak (moving average)

Dalam metode ini harga pokok rata-rata dicatat setiap ada penjualan

barang. Maka diperlukan untuk menghitung harga pokok rata-rata setiap kali

terjadi

pembelian barang.

Sehingga dalam satu

periode

akan terdapat

beberapa harga pokok. Berikut penjabarannya pada tabel di bawah ini.

Tabel 14 Perhitungan Persediaan dengan menggunakan Metode Rata-

rata Bergerak (moving average)

 

Bulan

 

Pembelian

 

Penjualan

   

Saldo

Unit

harga/unit

Jumlah

Unit

harga/unit

Jumlah

Unit

harga/unit

 

Jumlah

 

(dalam ribuan)

 

2009

Januari

                 

292

Rp 7,494

Rp 2,188,248

Februari

149

Rp 3,574,7

Rp 532,630,3

           

441

Rp 6,169,7

Rp 2,720,878,3

     

100

Rp 6,169,7

Rp 616,979,2

     

341

Rp 6,169,7

Rp 2,103,899,

Maret

     

90

Rp 6,169,7

Rp 555,281,2

     

251

Rp 6,169,7

Rp 1,548,617,7

April

100

Rp 2,214,45

Rp 221,445

           

351

Rp 5,042,9

Rp 1,770,062,7

     

160

Rp 5,158,1

Rp 825,311,36

     

191

Rp 5,158,1

Rp

985,215,4

Mei

     

64

Rp 5,158,1

Rp 330,124,5

127

Rp 5,158,1

Rp

655,090,8

Juni

372

Rp

448,3

Rp 166,767,6

           
 

499

Rp 1,647

Rp

821,858,4

     

45

Rp 1,907,5

Rp

85,841,1

     
 

454

Rp 1,907,

Rp

866,041,7

Juli

     

100

Rp 1,907,5

Rp 190,758,1

     

354

Rp 1,907,5

Rp

675,283,6

Agustus

310

Rp 3,874

Rp 1,200,940

           

664

Rp 2,825,6

Rp 1,876,223,6

September

     

200

Rp 2,773,4

Rp 554,695,2

     

464

Rp 2,773,4

Rp 1,286,892,8

Oktober

     

109

Rp 2,773,4

Rp 302,308,8

     

355

Rp 2,773,4

Rp

984,583,9

November

38

Rp 6,000

Rp 228,000

           

393

Rp 3,085,4

Rp 1,212,583,9

Desember

     

63

Rp 3,056,6

Rp 192,568,

     

330

Rp 3,056,6

Rp 1,008,689,5

Informasi di atas menjelaskan bahwa persediaan akhir sebesar 330 unit

senilai Rp.1.008.689.550

Terdapat

perbedaan

nilai

persediaan

akhir

pada

perhitungan

persediaan yang menggunakan metode FIFO dan Rata-rata bergerak. Pada

metode FIFO persediaan akhirnya senilai Rp.1.359.208.000 dan untuk Rata-

rata bergerak senilai Rp.1.008.689.550.

Laporan Laba Rugi Menurut Perpajakan

Tabel 15 Laporan Laba Rugi yang persediaannya dihitung

menggunakan metode FIFO

URAIAN

 

NILAI (Rupiah)

 

NILAI (Rupiah)

PENJUALAN BERSIH

 

Rp 21,414,840,400.00

HARGA POKOK PENJUALAN:

 

SALDO BARANG DAGANG AWAL

Rp 2,188,248,000.00

 

PEMBELIAN

Rp 2,349,782,900.00

 

BARANG YANG TERSEDIA UNTUK DIJUAL

Rp 4,538,030,900.00

 

SALDO BARANG DAGANG AKHIR:

   

BIAYA

Rp 1,359,208,000.00

 

HARGA POKOK PENJUALAN

 

Rp

3,178,822,900.00

LABA KOTOR

 

Rp 18,236,017,500.00

BEBAN OPERASIONAL PERUSAHAAN:

   

BEBAN PENJUALAN

Rp

254,903,175.00

 

BEBAN UMUM, ADMINISTRASI DAN BUNGA BANK

Rp

756,162,391.00

 

JUMLAH BEBAN OPERASIONAL

 

Rp

1,011,065,566.00

LABA USAHA

 

Rp 17,224,951,934.00

PENGHASILAN LAIN (KONTRAKTOR)

 

Rp

254,508,555.00

LABA BERSIH SEBELUM PPH

 

Rp 17,479,460,489.00

PAJAK PENGHASILAN

 

Rp

4,894,248,936.92

LABA BERSIH SETELAH PAJAK

 

Rp 12,585,211,552.08

Tabel 16 Laporan Laba Rugi yang persediaannya dihitung

menggunakan metode Rata-rata Bergerak

URAIAN

 

NILAI (Rupiah)

 

NILAI (Rupiah)

PENJUALAN BERSIH

 

Rp 21,414,840,400.00

HARGA POKOK PENJUALAN:

 

SALDO BARANG DAGANG AWAL

Rp 2,188,248,000.00

 

PEMBELIAN

Rp 2,349,782,900.00

 

BARANG YANG TERSEDIA UNTUK DIJUAL

Rp 4,538,030,900.00

 

SALDO BARANG DAGANG AKHIR:

   

BIAYA

Rp 1,008,689,550.00

 

HARGA POKOK PENJUALAN

 

Rp

3,529,341,350.00

LABA KOTOR

 

Rp 17,885,499,050.00

BEBAN OPERASIONAL PERUSAHAAN:

   

BEBAN PENJUALAN

Rp

254,903,175.00

 

BEBAN UMUM, ADMINISTRASI DAN BUNGA BANK

Rp

756,162,391.00

 

JUMLAH BEBAN OPERASIONAL

 

Rp

1,011,065,566.00

LABA USAHA

 

Rp 16,874,433,484.00

PENGHASILAN LAIN (KONTRAKTOR)

 

Rp

254,508,555.00

LABA BERSIH SEBELUM PPH

 

Rp 17,128,942,039.00

PAJAK PENGHASILAN

 

Rp

4,796,103,770.92

LABA BERSIH SETELAH PAJAK

 

Rp 12,332,838,268.08

 

Kedua tabel di atas menjelaskan bahwa terjadi perbedaan pada laba

bersih setelah pajaknya. Tabel pertama yang persediaanya menggunakan

metode FIFO laba bersih setelah pajaknya sebesar

Rp.12.585.211.552,08

sedangkan

yang

menggunakan

metode

Rata-rata

bergerak

sebesar

Rp.12.332.838.268,08

hal

ini

dikarenakan

oleh

persediaan

akhir

yang

berbeda pula. Perhitungan persediaan akhir yang menggunakan metode

FIFO lebih tinggi persediaan akhir, laba bruto dan laba bersih setelah pajak

dibandingkan dengan metode Rata-rata bergerak.

Perbandingan Laporan Laba Rugi Menurut PSAK dengan menggunakan

LCM (Lower of Cost Market) dan Perpajakan dengan menggunakan FIFO

dan Average

Seperti yang telah dijabarkan pada tabel-tabel di atas bahwa terdapat

perbedaan-perbedaan

pada

laporan

laba

rugi

menurut

PSAK

dan

Perpajakan. Adapun perbandingan dari ketiga laporan laba rugi di atas

adalah sebagai berikut.

Tabel 17 Perbandingan dari ketiga laporan laba rugi yang

menggunakan metode LCM (Lower of Cost Market) menurut PSAK dan

FIFO serta Average menurut Perpajakan

Keterangan

 

PSAK

 

Perpajakan

 
 

LCM

 

FIFO

 

AVERAGE

Persediaan Akhir HPP Laba Kotor Laba bersih sebelum PPh PPh Laba bersih setelah PPh

Rp

911,714,000

Rp

1,359,208,000

Rp

1,008,689,550

Rp

3,626,316,900

Rp

3,178,822,900

Rp

3,529,341,350

Rp

17,788,523,500

Rp

18,236,017,500

Rp

17,885,499,050

Rp

17,031,966,489

Rp

17,479,460,489

Rp

17,128,942,039

Rp

4,768,950,616.92

Rp

4,894,248,936,92

Rp

4,796,103,770,92

Rp

12,263,015,872.08

Rp

12,585,211,552.08

Rp

12,332,838,268.08

Tabel di atas menjelaskan bahwa jika persediaan akhir jumlahnya

kecil, maka dapat menyebabkan HPP menjadi lebih besar. Sehingga laba

kotor menjadi lebih kecil yang akan berdampak pada laba bersih sebelum

pajak yang menjadi kecil pula. Rendahnya laba bersih dapat mempengaruhi

beban pajak yang akan dibayar. Hal ini dapat merugikan pihak pajak itu

sendiri.

Pada perbandingan laporan laba rugi di atas jelas terlihat bahwa

penggunaan metode perhitungan persediaan akhir menurut PSAK yang

menggunakan metode LCM (Lower of Cost Market) lah yang memperoleh

laba bersih terendah dibandingkan dengan metode FIFO dan Average. Untuk

kepentingan internal perusahaan, metode LCM (Lower of Cost Market) bisa

diterapkan jika dilihat dari sisi besarnya PPh yang dibayarkan. Namun jika

dilihat dari sudut pandang laba usahanya metode ini tidak menguntungkan

baik bagi pihak internal perusahaan maupun dalam perspektif perpajakan.

Karena menghasilkan laba yang relatif rendah.

Oleh karena itu metode ini tidak sesuai dengan ketentuan perpajakan.

Maka dari itu perusahaan harus menggunakan metode yang sesuai dengan

ketentuan perpajakan.

Perusahaan dapat memilih

antara

menggunakan

metode FIFO atau Average. Dalam menggunakan metode FIFO bisa dilihat

pada tabel di atas memang menghasilkan laba yang relative lebih tinggi

dibandingkan dengan metode LCM (Lower of Cost Market) dan Average.

Namun

jika

dilihat

dari

besarnya

PPh

yang

dibayar,

metode

ini

tidak

menguntungkan bagi pihak internal perusahaan. Namun menguntungkan

bagi pihak pajak karena menghasilkan PPh yang lebih besar dari kedua

metode

tersebut.

Sedangkan

jika

menggunakan

metode

Average

jelas

terlihat memang menghasilkan laba usaha yang lebih rendah dibandingkan

dengan menggunakan metode FIFO dan lebih tinggi

jika dibandingkan

dengan metode LCM (Lower of Cost Market). Jadi metode ini bisa digunakan

baik untuk kepentingan internal perusahaan maupun perpajakan. Meskipun

metode FIFO lebih menguntungkan bagi pihak pajak. Namun metode ini

sudah sesuai dengan ketentuan perpajakan.

Pengaruh Perhitungan Persedaan terhadap Neraca, Laporan Laba Rugi

dan perpajakan.

Yusuf (2001: 114-115) mengungkapkan bahwa:

1) Pengaruh Terhadap Neraca

FIFO akan terasa pada masa inflasi. Karena pemakaian FIFO pada masa

seperti itu akan menghasilkan nilai persediaan yang lebih mencerminkan

harga yang berlaku pada tanggal neraca. Pada metode FIFO harga

perolehan

dan

pembeian

yang

lebih

akhir

akan

dialokasikan

pada

persediaan.

Oeh

karena itu harga

perolehan

yang ditetapkan

pada

tanggal neraca akan mendekati harga saat itu. Akibat yang sebaliknya

akan terjadi jika metode LIFO digunakan pada saat inflasi. Dengan LIFO,

harga perolehan persediaan pada tanggal neraca akan didasarkan pada

harga perolehan barang yang dibeli lebih awal, atau bahkan harga

perolehan barang yang berasal dari periode sebelumnya. Akibatnya,

harga perolehan persediaan tidak mencerminkankeadaan pada tanggal

neraca, dan aktiva lancar serta total aktiva akan dilaporkan lebih rendah

dari harga yang berlaku pada tanggal neraca.

2) Pengaruh terhaadap Laporan Rugi-Laba

Perbedaan setiap rupiah dalam persediaan akhir akan mengakibatkan

perbedaan yang sama jumlahnya dalam laba bersih sebelum pajak. Pada

masa inflasi FIFO akan menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi karena

yang ditandingkan dengan pendapatan adalah harga perolehan yang

berasal dari pembelian dengan harga yang lebih rendah. Tingkat laba

bersih yang lebih tinggi bagi manajemen mungkin merupakan hal yang

lebih menguntungkan. Karena pihak luar akan memberikan penilaian yang

positif terhadap perusahaan. Selain itu jika manajemen diberi bonus yang

besarnya ditentukan atas dasar laba bersih maka bonus yang diterima

manajemen juga akan semakin tinggi.

3) Pengaruh Pajak

Meskipun jumlah rupiah persediaan laba bersih selama masa inflasi pada

metode FIFO lebih besar dibandingkan dengan LIFO namun dewasa ini

banyak perusahaan yang berpindah ke metode LIFO. Hal ini disebabkan

karena perhitungan laba bersih dengan metode LIFO akan menghasilkan

pajak penghasilan yang lebih rendah bila dibandingkan dengan metode FIFO

atau rata-rata.

Simpulan

Berdasarkan uraian di atas maka dapat diambil beberapa kesimpulan

sebagai berikut:

1.

Perusahaan tidak menggunakan metode perhitungan nilai persediaan

yang

sesuai

dengan

PSAK

dan

Perpajakan.

Karena

menggunakan

metode LIFO (Last in First Out) yang jelas-jelas bertentangan dengan

PSAK

dan

Perpajakan

itu

sendiri.

Untuk

system

pencatatan

persediaannya menggunakan perpetual. Hal ini sudah sesuai dengan

PSAK dan Perpajakan.

 

2.

Perhitungan persediaan akhir

PT. Menara Tiga (M3) menggunakan

metode LCM (Lower of Cost Market) menurut PSAK

dan menggunakan

metode FIFO (First in First Out) dan Average menurut Perpajakan. Untuk

PSAK, penggunaan LCM digunakan karena adanya penurunan harga

barang pada akhir tahun yang menyebabkan kerugian pada perusahaan.

3.

Hasilnya menunjukkan bahwa laba yang diperoleh perusahaan dengan

menggunakan metode LCM (Lower of Cost Market) dalam perhitungan

persediaan menurut PSAK,

lebih rendah dibandingkan dengan yang

menggunakan metode perhitungan persediaan berdasarkan Peraturan

Perpajakan dengan metode FIFO (First in First Out) dan Average. Hal ini

jelas merugikan pihak pajak. Karena rendahnya laba perusahaan dapat

memperkecil beban pajak yang akan dibayarkan. Karena itu metode ini

tidak sesuai dengan ketentuan perpajakan.

4.

Untuk

kepentingan

internal

perusahaan

dan

perpajakan

dapat

menggunakan

metode

Average.

Meskipun

metode

FIFO

lebih

menguntungkan bagi pihak pajak itu sendiri. Karena menghasilkan laba

yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan metode Average. Namun

metode ini sudah sesuai dengan ketentuan Perpajakan yang berlaku.

Daftar Pustaka

Agus,

Sukrisno

dan

Trisnawati,

Jakarta: Salemba Empat

Estralita.

2012.

Akuntansi

Perpajakan.

Baridwan, Zaki. 2010. Intermediate Accounting. Yogyakarta: BPFE

Gunadi. 2007. Akuntansi Pajak Sesuai dengan Undang-Undang Pajak Baru. Jakarta: PT Gramedia

Ikatan

Akuntansi

Indonesia. 2012.

Standar

Akuntansi Keuangan

Revisi

Tahun 2012. Jakarta: Salemba Empat

Jauhari,

Setia

Heri.2009.

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Bandung: Pustaka

Jusup, Haryono. 2001. Dasar-dasar Akuntansi. Yogyakarta: STIE YKPN

Kieso, Weygandt, Warfield. 2002. Akuntansi Intermediate. Jakarta: Erlangga

Mardiasmo. 2011. Perpajakan. Yogyakarta: ANDI

Mursidi. 2008. Akuntansi Biaya. Bandung: PT Refika Aditama

Santoso,

Iman.

2007.

Akuntansi

keuangan

Menengah

Accounting). Bandung: PT Refika Aditama

(Intermediate

Republik Indonesia. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan

Sekaran, Uman. 2006. Metode Penelitian untuk Bisnis. Jakarta: Salemba Empat

Silalahi, Ulber. 2012. Metode Penelitian Sosial. Bandung: PT Refika Aditama

Soemarso. 2004. Akuntansi Suatu Pengantar. Jakarta: Salemba Empat

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta

Suhadimanto, Amir. 2005. Akuntansi. Jakarta: Yudistira

Suharli, Michell. 2006. Akuntansi. Yogyakarta: Graha Ilmu

Suhayati,

Keuangan.

Ely

dan

Anggadini,

Sri

Dewi.

2009.

Akuntansi

Yogyakarta: Graha Ilmu

Widjaya, Siana Murti. 2002. Penilaian Persediaan Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dan Undang-Undang Perpajakan. Jurnal. Surabaya: Universitas Pelita Harapan.

Yahya, Johannes. 2012. Akuntansi Perpajakan. Jakarta: Mitra Wacana Media

Zain, Mohammad dan Hermana, Suryo. 2010. Himpunan Undang-Undang Perpajakan 2010. Jakarta: PT Indeks

2009. Buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Gorontalo: UNG