Anda di halaman 1dari 8

KASUS 7 : PENGAMATAN ATAS PERHITUNGAN FISIK PERSEDIAAN

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Praktikum Auditing


Asisten Dosen : Devi Nurcahya

Disusun oleh :
Decha Kusumaning Tyas

(125020307111032)

Galuh Ayu Maharani

(125020307111046)

Elok Hendiono

(125020307111050)

Dina Andri Tri R.

( 125020307111063)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis


Universitas Brawijaya
S1 Akuntansi
2015

1. Langkah-langkah program audit untuk Yudi Prakoso sehingga dia dapat mencapai
ketiga sasaran audit tersebut, di antaranya:
a. Meminta daftar rincian persediaan kepada klien secara lengkap
b. Jika kuantitas sediaan hanya ditentukan melalui penghitungan fisik, maka perlu
bagi auditor untuk melakukan pengamatan, pengujian dan permintaan keterangan
memadai tentang efektivitas metode penghitungan fisik sediaan dan mengukur
keandalan kuantitas dan kondisi fisik sediaan.
c. Jika catatan mutasi sediaan (perpetual inventory record) yang diselenggarakan dengan
baik maka auditor dapat mengecek melalui pembandingan dengan hasil
penghitungan fisik prosedur pengamatan penghitungan fisik sediaan.
d. Lakukan perhitungan nilai persediaan pada laporan penerimaan barang dan
perhatikan cut-off nya.
e. Lakukan perhitungan nilai persediaan pada catatan bill of lading dan perhatikan
cut-off nya.
f. Lakukan pemeriksaan terhadap catatan persediaan perpetual perusahaan meliputi
persediaan barang masuk dan keluar.
g. Lakukan pengecekan ulang mengenai baik persediaan yang diterima maupun yang
dikirim pada awal bulan januari atau periode setelah neraca.
h. Hitung dan periksa diskon pembelian yang diberikan samsang dengan
menyampling beberapa item persediaan
i. Periksa ketepatan pemberian nomor label dan nomor seri yang dilakukan klien
j. Lakukan perhitungan kembali dengan cara memfooting maupun crossfooting atas
catatan persediaan fisik-gudang yang dimiliki klien

2. Program Audit Persediaan PT Maju Makmur


PT. MAJU MAKMUR
Pengujian Fisik Saldo Persediaan
3 Januari 2011
Dokumen Audit No. O-1
No.
Label

Prosedur Audit

116
124
102
138
130
150
127
142
113
126
104
137
147
132

!"$
!"$
!"$
!"$ A
!"$
!"$
!"$
!"$
!"$
!"$
!"$
!"$
!"$
!"$

Laporan penerimaan barang


Seri
Kuantitas Biaya/unit
Total
IB23-D
75
705.6
Rp52,920.00
VD34L
40
987.2
Rp39,488.00
KZ54T
50
2159.92
Rp107,996.00
JB45-H
20
3854.96
Rp77,099.20
KJ32K
40
256
Rp10,240.00
RX04L
10
2287.92
Rp22,879.20
Rp310,622,400.00
1 JANUARI sd 2 JANUARI
Rp110,218,400.00

Seri
SA36-H
ZN56M
XX99-T
BC76W
XY76-R
BM09H
AB15M
JH88-A
CS33-P
AR65-C

Bill of lading
Kuantitas Biaya/unit
5
2928

Total
Rp14,640.00

20
5

439.92
4320

Rp8,798.40
Rp21,600.00

4
20

5506.56
1759.6

Rp22,026.24
Rp35,192.00

10

6498.8

Rp64,988.00

20
12
10
6

2055.84
2592
5591.84
10552

Rp41,116.80
Rp31,104.00
Rp55,918.40
Rp63,312.00

BF23-G

1 JANUARI sd 2 JANUARI

3752

Rp30,016.00
Rp388,711,840.00
Rp321,647,200.00

Sasaran Audit:
- Untuk menguji kesesuaian antara perhitungan fisik yang dilakukan dengan daftar
persediaan yang ada.
- Untuk menguji kewajaran penyajian saldo biaya pada daftar persediaan.
- Untuk menguji validitas dan kelayakan item yang direkonsiliasi.
Keluasan:
a) Populasi Semua jenis persediaan yang terdapat di toko-toko PT Maju Makmur
b) Sampel Diputuskan untuk semua persediaan sampai tanggal Neraca yaitu 31
Desember 2013
Prosedur Audit:
! Telah diperiksa perhitungan biaya total berdasarkan kuantitas dikali biaya/unit yang ada
pada laporan persediaan fisik dan dilakukan pengecekan kebenaran jumlah biaya total
persediaan kebawah yang ada pada laporan persediaan fisik
Telah diperiksa kebenaran perhitungan nominal laporan penerimaan barang dan bill of
lading sesuai nomor seri barang dengan jumlah yang dikurangkan dan ditambahkan di
rekonsiliasi persediaan fisik
Mengecek jumlah kebenaran perhitungan terkait diskon persediaan dan penyesuaian
diskon 3% untuk semua barang yang dibeli
$ Memeriksa catatan persediaan terkait apakah benar keberadaan persediaan itu dimiliki
oleh PT Maju Makmur
Komentar:
A : Item Stereo Systems fu87-R untuk urutan ke 59 dan 60 bukan milik PT Maju Makmur
sehingga harus dikeluarkan dari jumlah persediaan milik PT Maju Makmur sebesar Rp
8.000.000,00. Item tersebut adalah item milik pelanggan dengan Memo Perbaikan.
Kesimpulan Audit:
Semua item (kecuali item bukan milik PT Maju Makmur atau catatan A) telah dihitung
dengan benar dan tidak ada item yang dilebih-lebihkan dan atau dihilangkan. Tidak ada
item yang rusak atau usang ketika auditor mengobservasi ke gudang.
RISET KELOMPOK

ANALISIS KASUS PT. KIMIA FARMA Tbk.


TERKAIT PROSEDUR AUDIT PERSEDIAAN
PT. Kimia Farma Tbk. adalah sebuah perusahaan farmasi yang sedang mengalami masalah
karena telah ditemukan fakta bahwa perusahaan ini melakukan penggelembungan pada unitunit bisnisnya dengan melakukan penggunaan 2 master prices yang keduanya telah
diotorisasi pihak direksi. Hal ini jelas dapat dinyatakan bahwa PT. Kimia Farma melakukan
kecurangan terhadap laporan keuangan. Jika kita sebagai rekan dari KAP Hans Tuanakota
dan Mustofa maka langkah prosedur audit persediaan yang dapat kita lakukan antara lain:
1. Memastikan terlebih dahulu master price mana yang akan digunakan oleh PT. Kimia
Farma untuk melakukan setiap penilaian persediaan perusahaan.
2. Menentukan resiko pengendalian dari perusahaan kliennya terutama tentang prosedur
persediaan PT. Kimia Farma.
3. Jika resiko pengendalian yang telah ditentukan rendah maka langsung lanjut ke pengujian
substantif namun jika sebaliknya maka langsung dilakukan prosedur analitis.
4. Pada pengujian substantif itu, seorang auditor menentukan komponen dari resiko. Ketika
resiko pengendalian dan bawaan berada pada tingkat maksimum maka dapat dipastikan
tingkat resiko deteksi yang diterima auditor sangat rendah. Hal ini membuat auditor untuk
melakukan pangujian substantif dengan sample yang lebih besar. Begitu pula sebaliknya.
5. Selanjutnya saat melakukan prosedur analistis serta prosedur audit lainnya, seorang auditor
harus membuatnya sesuai dengan sasaran audit yang diinginkan serta disesuaikan dengan
tujuan audit yang berdasarkan asersi manajemen kliennya.
6. Selanjutnya auditor membuat program audit yang berisikan prosedur audit dengan cara
memberikan kata-kata perintah pada junior auditor sesuai dengan SPAP.
7. Selanjutnya auditor menentukan sample dari populasi yang ada guna dilakukan langkah
penelitian selanjutnya sambil membuat kertas kerja guna hasil pertanggung jawaban auditor
dalam melakukan kegiatan audit persediaan ini.
8. Jika terdapat suatu risiko salah saji material sebagai akibat dari fraud dalam persediaan,
pelaksanaan review terhadap catatan sediaan entitas dapat membantu mengidentifikasi lokasi,

bidang, atau unsur untuk mendapatkan perhatian khusus selama atau setelah pengamatan
terhadap penghitungan fisik persediaan serta melakukan prosedur tambahan lain yang dapat
memberikan keyakinkan pada auditor bahwa samplingnya telah cukup untuk kegiatana
auditnya.
Seorang auditor itu harus bisa merancang audit program yang mampu mendeteksi adalah
salah saji dan fraud seperti kasus diatas. Serta bertanggung jawab merencanakan dan
melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan memadai tentang laporan keuangan klien
bebas dari salah saji material, baik yang disebabkan oleh kekeliruan dan kecurangan.
Kecurangan dapat disembunyikan dengan memalsukan dokumentasi, termasuk pemalsuan
tanda tangan. Manajemen yang melakukan kecurangan dalam pelaporan keuangan dapat
mencoba menyembunyikan salah saji dengan menciptakan faktur fiktif. Audit yang
dilaksanakan berdasarkan SPAP jarang memiliki keterkaitan dengan keaslian dokumentasi.
Auditor tidak dapat memperoleh keyakinan absolut bahwa salah saji material dalam laporan
keuangan akan terdeteksi, sebab (1) kegiatan kecurangan seringkali mencakup kolusi atau
pemalsuan dokumentasi, dan (2) kebutuhan untuk menerapkan pertimbangan profesional
dalam mengidentifikasi dan mengevaluasi faktor risiko, walaupun audit yang direncanakan
dan dilaksanakan dengan baik, sulit untuk mendeteksi salah saji material yang diakibatkan
oleh kecurangan.
Dari kasus ini pula sebenarnya telah dijelaskan bahwa yang salah adalah pihak direksi dari
PT. Kimia Farma yang dengan sengaja melakukan overstated pada laporan keuangan
sehingga mengakibatkan overstated laba pada laba bersih untuk tahun yang berakhir 31
Desember 2001 sebesar Rp 32,7 miliar yang merupakan 2,3% dari penjualan dan 24,7% dari
laba bersih PT Kimia Farma Tbk.
Kesalahan penyajian tersebut, dilakukan oleh Direksi periode 1998Juni 2002 dengan cara:
Membuat 2 (dua) daftar harga persedian (master prices) yang berbeda masing-masing
diterbitkan pada tanggal 1 Pebruari 2002 dan 3 Pebruari 2002, dimana keduanya merupakan
master prices yang telah diotorisasi oleh pihak yang berwenang yaitu Direktur Produksi PT
KAEF. Master prices per 3 Pebruari 2002 merupakan master prices yang telah disesuaikan
nilainya (penggelembungan) dan dijadikan dasar sebagai penentuan nilai persediaan pada unit
distribusi PT KAEF per 31 Desember 2001.

Melakukan pencatatan ganda atas penjualan pada unit PBF dan unit Bahan Baku.
Pencatatan ganda tersebut dilakukan pada unit-unit yang tidak disampling oleh Akuntan.
Dengan hal ini jelas dapat dinyatakan kalau sebenarnya auditor telah bekerja sesuai dengan
SPAP dan bahkan tetap menjaga kode etiknya. Hanya saja, kekurangan dari auditor yaitu
kurang luas dalam pengambilan sample sehingga terjadi pencatatan ganda akan sample yang
telah ditentukan. Kesalahan auditor yang seperti itu harus dibayar mahal dengan membayar
denda sebesar Rp 100.000.000,- untuk disetor ke kas negara sedangkan pihak direksi yang
terkait akan kasus ini harus membayar denda Rp 1.000.000.000,Bila kita telaah lebih jauh lagi, sebenarnya kesalahan atau kecurangan yang dilakukan oleh
pihak direksi perusahaan tersebut karena lemahnya moral yang mereka miliki sehingga
mereka melanggar kode etik yang justru hal ini malah menghancurkan reputasi merek sendiri
dan pastinya perusahaan tempat mereka bekerja. Ketidak etisan yang dilakukan oleh pihak
direksi ini sangatlah merugikan, terlebih bagi pihak seperti auditor ini yang sebenarnya tak
tahu apa-apa. Hanya karena keserakahannya mereka tega membiarkan auditornya terkena
ganjarannya, padahal si auditor telah melakukan kegiatannya sesuai dengan aturan yang
berlaku di Indonesia, dalam hal ini SPAP. Serta, si auditor juga telah melakukan atau
melaksanakan kode etiknya dengan baik. Dari kasus ini, sebenarnya juga perlu dilihat bahwa
tanggung jawab yang diemban auditor itu sebesar apa. Sebab, dengan menelaah tanggung
jawab auditor maka dapat mengerti siapa yang akan disalahkan atau dimintai keterangan
ketika ada permasalahan dalam kegiatan auditnya.
Dari kasus ini, kami dapat menarik kesimpulan bahwa memang kegiatan audit sangatlah tidak
mudah seperti yang kita bayangkan saat duduk di bangku kuliah ini. Banyak hal yang perlu
kita ketahui terutama tentang keterkaitan dokumen-dokumen penting maupun pendukung
yang dapat memberikan bantuan secara langsung pada auditor dalam melakukan kegiatan
auditnya. Namun, masalahnya bila memang dokumen tersebut di manipulasi (curang) oleh
pihak manajemen atau bahkan direksi dari pihak klien maka auditor harus mencari kevalidan
dokumen tersebut terhadap pihak ketiga, begitu seterusnya sampai si auditor merasa cukup
dan valid dalam mengumpulkan data atau dokumen yang Ia inginkan.
Mengenai pengumpulan dokumentasi untuk kegiatan audit sebaiknya auditor juga harus
mengacu pada UU tentang dokumentasi. Sebab di sini dijelaskan secara lengkap bahwa
auditor dapat melakukan pengumpulan serta penggunaan dokumentasi. Kecurangan memang
tak mudah dihapus begitu saja, perlu ada dorongan atau motivasi tersendiri dari pihak yang

berkepentingan tersebut untuk tidak melakukan hal-hal tercela tersebut. Dorongan itu akan
muncul bila mereka memiliki moral dan akhlak yang baik sesuai dengan ajaran Agama serta
norma-norma yang berlaku di masyarakat